Anda di halaman 1dari 12

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 1 KOTA

BENGKULU
MAKALAH PANTUN
BAHASA INDONESIA

DAFTAR ISI :

Pantun
Pengertian pantun
Struktur pantun
Ciri-ciri pantun
Ciri kebahasaan
Jenis-jenis pantun
Daftar pusaka

DI SUSUN OLEH : XI Pemasaran2

Aurillia cahyani
Yesi dwitami putri
Vadilla bunga anggraini
Fitri haryani
Putri lestari
Firen puspita sari

TAHUN AJARAN 2015/2016


PANTUN

Orang dahulu hidup di goa

Biawak hidup di dalam rawa


Turuti perintah orang tua
Tiap sholat tak lupa berdoa
Elok berjalan kota tua,
Kiri kanan berbatang sepat,
Elok berbini orang tua,
Perut kenyang ajaran dapat
orang kaya naik suzuki
pulang kerumah goyang kaki
orang miskin jalan kaki
pulang kerumah setengah mati
Jika kamu pergi ke dusun
Jangan lupa bawa beras
Belajarlah dengan tekun
Agar kita naik kelas

Merpati terbang ke jalan,


Ikan belaka makan karang.
Bunda Mati, bapak berjalan,
Melarat anak tinggal seorang.

PENGERTIAN PANTUN

Pantun adalah bentuk puisi lama yang terdiri atas empat larik, berima
silang (a-b-a-b). Larik pertama dan kedua disebut sampiran atau bagian
objektif. Dengan kata lain, Pantun adalah bentuk puisi Indonesia (melayu),
tiap bait (kuplet) biasanya terdiri dari empat baris yang bersanjak (a-b-ab), tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris
kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja sedangkan pada baris
ketiga dan keempat merupakan isi
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 1016). Semua bentuk pantun
terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris
pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris
masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan
bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan
rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari
pantun tersebut.
Pantun menurut ahli :

Pantun merupakan salah satu jenis dari puisi rakyat. Puisi


rakyat dapat berbentuk macam-macam, antara lain dapat
berbentuk ungkapan tradisional (Peribahasa), pertanyaan
tradisional (Teka-teki), cerita rakyat, dan kepercayaan rakyat
yang berupa mantra-mantra.
Berbalas pantun termasuk puisi yang lebih menggunakan
keterampilan suara. Pada kesenian ini, dua kelompok anak
muda saling berbalas mengutarakan pantun. Pantun-pantun
yang dikembangkan adalah pantun-pantun lama dengan
berbagai jenis, seperti pantun nasihat, pantun teka-teki, atau
pantun
berkasih
kasihan.
Pantun
ini
biasanya
dibawakan/ditampilkan dalam upacara upacara perkawinan

STRUKTUR PANTUN
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama
menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami
isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi kadangkadang bentuk sampiran membayangkan isi.

Struktur pantun adalah bentuk atau pola yang membentuk


susunan pantun.
Strukturnya dibangun oleh dua aspek, yakni sampiran dan
isi. Yaitu :

1.Bait, Bait (dibaca "ba-it"), adalah banyaknya baris dalam sebuah


pantun, misalnya (2 Baris, 4 Baris, 6 Baris, 8 Baris, dst).

2. Baris/Larik, Baris atau Larik adalah kumpulan beberapa kata


yang memiliki arti dan bisa membentuk sampiran atau isi dalam sebuah
pantun.

3. Kata,

Kata adalah gabungan dari suku kata yang memiliki arti,


meski begitu, ada kata-kata tertentu yang hanya terdiri dari satu suku
kata seperti yang, byur, dan, ke. Sedangkan kata yang terdiri dari dua
suku kata atau lebih contohnya suka, rumah, pohon, awan, dll.

4. Suku Kata, Suku kata adalah penggalan-penggalan bunyi dari


kata dalam satu ketukan atau satu hembusan nafas. Kata rumah akan
diucapkan ru dan mah , kata berenang akan diucapkan be,re,nang jika
kedua kata itu diucapkan dengan cara sepenggal-sepenggal.

5. Rima,

Rima adalah Pola akhiran atau huruf vocal terakhir yang ada

pada pantun.

6. Sampiran, sampiran adalah bagian pantun yang terletak pada


baris 1-2 yang merupakan awal dari sebuah pantun atau sampiran
merupakan unsur/sketsa/pembayang suasana yang mengantarkan
menuju isi atau maksud pantun tersebut.

7. Isi,

Isi adalah bagian pantun yang terletak pada baris 3-4 yang
merupakan isi kandungan/pokok atau tujuan dari pantun tersebut.

CIRI-CIRI PANTUN
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pada pantun 4 baris ciri-cirinya adalah sebagai berikut:


Satu bait terdiri dari 4 baris
Baris 1 dan 2 merupakan sampiran atau pembayang
Baris 3 dan 4 merupakan isi
Satu baris terangkai dari 4 hingga 6 kata
Satu bait terdiri dari 8 hingga 12 suku kata
Bersajak a-a-a-a atau a-b-a-b

Abdul Rani (2006:23) mengatakan bahwa ciri-ciri pantun


sebagai berikut:
Terdiri atas empat baris.
Tiap baris terdiri atas 9 sampai 10 suku kata

Dua baris pertama disebut sampiran dan dua baris


berikutnya berisi maksud si pemantun. Bagian ini
disebut isi pantun

Penjelasan
Baris pertama dan kedua tersebut adalah sampiran. Fungsinya untuk
membentuk rima atau ada. Ciri khas dari sampiran pantun Melayu
adalah keterkaitannya dengan alam sekitar. Pada umumnya sampiran
tidak memiliki makna khusus. Namun pada pantun-pantun tertentu,
sampiran mengandung makna tersembunyi yang berkaitan dengan isi.
Baris ke-3 dan ke-4 merupakan isi atau pesan yang ingin disampaikan.
Pada pantun di atas, isi atau pesannya adalah bahwa apabila dada kita
terisi dengan iman kepada Allah, sebagai dampaknya hati kitapun dengan
sendirinya terasa lapang. Selain itu iman yang ada di dalam dada akan
membuat sebuah kehidupan yang menentramkan.
Dengan begitu, secara tersirat pantun tersebut menjelaskan bahwasannya
apabila iman kita tipis, maka hati kita terasa sempit. Hidup-pun hanya
berisikan kesulitan demi kesulitan.
Sebagaimana yang telah disebutkan di atas, dalam satu baris terdiri
dari 4 hingga 6 kata,Setiap baris pada pantun di atas terdiri dari 4 kata.
Kita juga bisa menemukan pantun-pantun yang satu barisnya terdiri lebih
dari 4 kata. Namun pada umumnya satu baris memang hanya terdiri dari
4 kata.

JENIS-JENIS PANTUN
Menurut Nursisto dalam buku Ikhtisar Kesusastraan Indonesia
(2000:11-14) membagi jenis-jenis pantun yakni :
a. Berdasarkan isinya, pantun dibagi menjadi tiga: (1)
Pantun kanak-kanak : pantun bersukacita dan pantun
berdukacita, (2) Pantun muda : Pantun nasib/dagang
dan pantun perhubungan. Pantun perhubungan
terbagi lagi menjadi pantun perkenalan, pantun
berkasih-kasihan, pantun perceraian, dan pantun
beriba hati. Dan (3) Pantun tua : pantun adat, pantun
agama, dan pantun nasihat.
b. Berdasarkan banyaknya baris tiap bait dibagi
menjadi: (1) Pantun dua seuntai atau pantun kilat, (2)
Pantun
empat
seuntai
atau
pantun
empat
serangkum, (3) Pantun enam seuntai atau delapan
seuntai, atau pantun enam serangkum, delapan
serangkum (talibun).

Menurut Suroto (1989:44-45), jenis jenis pantun terbagi menjadi dua


yaitu:
a. Menurut isinya, terdiri dari : pantun anak-anak
(biasanya berisi permainan), pantun muda mudi
(biasanya berisi percintaan), pantun orang tua
(biasanya berisi nasihat atau petuah), pantun jenaka
(biasanya berisi sindiran sebagai bahan kelakar), dan
pantun teka-teki
b. Menurut bentuk atau susunannya, terbagi dua
yakni
1. pantun berkait, yaitu pantun yang selalu berkaitan
antara bait pertama dengan bait yang kedua, bait
kedua dengan bait ketiga dan seterusnya. Adapun
susunan kaitannya adalah baris kedua bait pertama
menjadi baris pertama pada bait kedua, baris
keempat bait pertama dijadikan baris ketiga pada
bait kedua dan seterusnya.
2. Pantun kilat, sering disebut juga karmina, ialah
pantun yang terdiri atas dua baris, baris pertama
merupakan sampiran sedang baris kedua merupakan
isi. Sebenarnya asal mula pantun ini juga terdiri atas
empat baris, tetapi karena barisnya pendek-pendek
maka seolah-olah kedua baris pertama diucapkan
sebagai sebuah kalimat, demikian pula kedua baris
yang terakhir.

Dilihat Dari Bentuknya


Pantun Biasa
Contoh :
Malam hari main kulintang
Ditemani sobat tersayang
Bagaimana hati tidak bimbang
Kepala botak minta dikepang

Pantun Seloka (pantun berkait)


Seloka ialah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja,
karena pantun berkait merupakan jalinan atas beberapa bait.
Ciri-ciri seloka :
1. Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris
pertama dan ketiga di bait kedua.

2. Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris
pertama dan ketiga di bait ketiga.
3. Dan seterusnya.

Talibun
Talibun adalah pantun yang jumlah barisnya lebih dari 4 baris dan
satu bait pantun talibun harus genap tiap barisnya, misalnya 6, 8,
10 dan seterusnya.
Dengan catatan :
JIka satu bait berisi 6 baris, maka 3 baris pertama ialah sampiran
dan 3 baris sisanya ialah isi. Sedangkan untuk sajaknya menjadi ab-c-a-b-c.
Jika satu bait berisi 8 baris, maka 4 baris pertama ialah sampiran
dan 4 baris sisanya ialah isi. Sedangkan untuk sajaknya menjadi ab-c-d-a-b-c-d.

Contoh pantun seloka 6 baris:


Kalau anak pergi ke pekan
Yuk beli belanak pun beli
Ikan panjang beli dahulu

Kalau anak pergi berjalan


Ibu cari sanak pun cari
Induk semang cari dahulu

Pantun Kilat (karmina)


Ciri-cirinya :
1. Setiap bait terdiri dua baris.
2. Baris pertama merupakan sampiran, baris kedua merupakan isi.

3. Bersajak a-a.
4. Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata.
Contoh:
Dahulu parang, sekarang besi
Dahulu sayang, sekarang benci

Dilihat Dari Isinya


Pantun Anak-anak
Contoh :
Elok Rupa kembang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang

Pantun Orang Muda / Remaja


Contoh:
Naik Motor merknya Honda
Pergi sebentar kerumah Hanapi
Bila cinta mekar di dada
Siang terkenang malam termimpi

Pantun Orang Tua


Contoh:
Supaya tangan tidak terluka
Jangan dikepit hulunya kapak
Supaya Tuhan tidak murka
Jangan sakiti Ibu dan Bapak

Pantun Jenaka
Contoh:
Ikan gabus di rawa-rawa
Ikan sepat nyangkut dijaring

Perut sakit menahan tawa


Melihat gigi asu loncat ke piring

Pantun Teka-teki
Contoh:
Tuan puteri belajar menari
Diajari oleh pak Harun
Kalau tuan bijak bestari
Apa yang naik tapi tak bisa turun

Pantun agama

Pantun Agama adalah pantun yang mengandung kata-kata atau kalimat


berisi wejangan atau pemahaman berkaitan dengan hukum agama atau
bisa juga berupa nasehat yang berpedoman sesuai aturan-aturan dalam
agama.
Contoh :
Sebatang pohon daunnya rimbun
Lebat daunnya tiada buahnya
Walaupun hidup seribu tahun
Kalau tak sembahyang apa gunanya
PANTUN ADAT

Pantun adat adalah adalah pantun yang penuh pesan bermakna atas adat
istiadat yang dijunjung. Dalam beberapa tradisi budaya masyarakat,
pantun adat sering dibunyikan orang ketika mengadakan perhelatan yang
berkenaan dengan suatu ritual adat istiadat setempat misalnya pada
acara kenduri adat atau acara pernikahan adat.

Contoh:

Menanam kelapa di pulau Bukum


Tinggi sedepa sudah berbuah
Adat bermula dengan hukum
Hukum bersandar di Kitabullah

PANTUN DAGANG
Pantun Dagang merupakan rangkaian kata-kata yang
merefleksikan nasib atau keadaan orang.pantun ini
biasanya dibacakan oleh orang-orang yang berada di
perantauan jika mereka ingat kampung halamannya atau
nasibnya yang taka seberuntung temannya
Contoh:
Dari malak ke negeri Pahang
Singgah ke kedai beli kuini

Saya ini dagang menumpang


Mengharap belas orang yang ada disini

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puji
bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
dapat menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya
mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya
dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan
kepada baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu
tentang PANTUN yang kami sajikan berdasarkan pengamatan
dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun
dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri
penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh
kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang PANTUN pembelajaran bagi
pelajar,pantun sudah dipelajari dari tingkat
SD,SMP,SMA/SMU,sampai sekolah perguruan tinggi.
Walaupun makalah ini kurang sempurna dan memerlukan
perbaikan tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi
pembaca.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada guru
bahasa Indonesia yaitu bapak Robert yang telah membimbing
penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara
menyusun karya tulis ilmiah yang baik dan sesuai kaidah.
Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang
lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki
kelebihan dan kekurangan. Penyusun membutuhkan kritik dan
saran dari pembaca yang membangun. Terima kasih.

Bengkulu,08 Desember 2015


Penyusun
(XI
PEMASARAN
2)

DAFTAR PUSTAKA
1. Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas < Subjek:Bahasa
Indonesia
2. http://matsugino.blogspot.co.id/2012/10/jenis-jenipantun.html
3. pemantun@pantun.com

4. Trianto, Agus. 2007. Pembahasan Tuntas Bahasa Indonesia. Penerbit :

Erlangga.
5. Waridah, Ernawati. 2012. Pedoman Umum EYD. Jakarta : Cmedia.
6. Tim Guru Indonesia. 2011. Target Menguasai Pelajaran SD Kelas 4. Jakarta :
Cmedia.