Anda di halaman 1dari 52

MAKALAH SEMINAR MEDICAL EMERGENCY

TRAUMA ABDOMEN
Disusun untuk memenuhi tugas di blok Emergency Nursing Tahun Ajaran 2016/2017

Disusun Oleh :
KELOMPOK 5 K3LN
Abidah Rahmi Hilmy

135070207113017

Eko Hadi Prasetyo

135070201131002

Fitria Marina Sandy

135070218113021

Ila Nurul Lutfiati

135070207131013

Lintang Diah Yuniarti

135070218113029

Petrisia Ristantini

135070201131008

Shelly Leonia Sisca

135070200131002

Wiwid Suryadi

135070201131010

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Trauma merupakan keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera.
Trauma juga mempunyai dampak psikologis dan sosial. Pada kenyataannya,
trauma adalah kejadian yang bersifat holistik dan dapat menyebabkan hilangnya
produktivitas seseorang.
Pada pasien trauma, bagaimana menilai abdomen merupakan salah satu hal
penting dan menarik. Penilaian sirkulasi sewaktu primary survey harus mencakup
deteksi dini dari kemungkinan adanya perdarahan yang tersembunyi pada
abdomen dan pelvis pada pasien trauma tumpul. Trauma tajam pada dada di
antara nipple dan perineum harus dianggap berpotensi mengakibatkan cedera
intraabdominal. Pada penilaian abdomen, prioritas maupun metode apa yang
terbaik sangat ditentukan oleh mekanisme trauma, berat dan lokasi trauma,
maupun status hemodinamik penderita.
Cedera abdomen menduduki urutan ketiga penyebab kematian akibat trauma.
Cedera ini dilaporkan menyebabkan 13% hingga 15% kematian akibat trauma,
terutama disebabkan oleh pendarahan. Kematian yang terjadi lebih dari 48 jam
setelah cedera abdomen disebabkan oleh sepsis dan komplikasinya. Pada
trauma intra abdomen, jarang sekali terjadi hanya cedera pada satu organ saja.
Adanya trauma abdomen yang tidak terdeteksi tetap menjadi salah satu
penyebab kematian yang sebenarnya dapat dicegah. Sebaiknya jangan
menganggap bahwa ruptur organ berongga maupun perdarahan dari organ padat
merupakan hal yang mudah untuk dikenali. Hasil pemeriksaan terhadap abdomen
mungkin saja dikacaukan oleh adanya intoksikasi alkohol, penggunaan obat-obat
tertentu, adanya trauma otak atau medulla spinalis yang menyertai, ataupun
adanya trauma yang mengenai organ yang berdekatan seperti kosta, tulang
belakang, maupun pelvis. Setiap pasien yang mengalami trauma tumpul pada
dada baik karena pukulan langsung maupun deselerasi, ataupun trauma tajam,
harus dianggap mungkin mengalami trauma visera atau trauma vaskuler
abdomen.
Trauma tumpul cenderung menyebabkan kerusakan serius di organ padat
dan trauma tembus paling sering mencederai organ berongga. Kompresi dan

deselerasi pada trauma tumpul menyebabkan fraktur pada kapsul organ padat
dan parenkim, sementara organ berongga dapat kolaps dan menyerap gaya
tersebut. Namun usus yang menempati sebagian besar rongga abdomen
terpajan cedera yang disebabkan oleh trauma tembus. Umumnya organ padat
merespon

trauma

dengan

pendarahan.

Organ

berongga

rupture

dan

mengeluarkan isinya ke dalam ruang peritoneum yang menyebabkan peradangan


dan infeksi. (Morton, P.G. et.al. 2008)
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka penulis merumuskan beberapa rumusan
masalah yang akan dibahas pada bab selanjutnya yaitu:
1. Bagaimana Konsep Dasar Medis Trauma Abdomen?
2. Bagaimana Konsep Asuhan Keperawatan Trauma Abdomen?
1.3 Tujuan
Penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Kegawatdaruratan
dan meningkatkan pemahaman penulis maupun pembaca mengenai trauma
abdomen.
1.4 Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini adalah untuk meningkatkan pemahaman
mengenai trauma abdomen sehingga dapat diterapkan dalam menangani kasuskasus trauma abdomen di klinik sesuai kompetensi tenaga medis terutama
perawat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Abdomen adalah bagian tubuh yang berbentuk rongga terletak diantara
toraks dan pelvis. Rongga ini berisi viscera dan dibungkus dinding (abdominal
wall) yang terbentuk dari dari otot-otot abdomen, columna vertebralis, dan ilium.
Trauma adalah sebuah mekanisme yang disengaja ataupun tidak disengaja
sehingga menyebabkan luka atau cedera pada bagian tubuh. Jika trauma yang
didapat cukup berat akan mengakibatkan kerusakan anatomi maupun fisiologi
organ tubuh yang terkena. Trauma abdomen adalah terjadinya cedera atau
kerusakan pada organ abdomen yang menyebabkan perubahan fisiologi
sehingga terjadi gangguan metabolisme, kelainan imunologi dan gangguan faal
berbagai organ (MH Assiddqi, 2014).
2.2 Klasifikasi
Trauma pada dinding abdomen terdiri dari:
1. Trauma penetrasi: trauma tembak, trauma tusuk (MH Assiddqi, 2014).
Trauma penetrans merupakan 8-12% dari abdominal trauma yang datang ke
trauma center. Luka tembak merupakan penyebab yang sering pada trauma
penetrasi pada populasi anak dan menyebabkan kematian pada laki-laki kulit
hitam pada umur 15-24 tahun. Penyebab lain trauma penetrans adalah stab
wound, impalements, gigitan anjing, dan kecelakaan mesin. Oleh karena
kebanyakan trauma penetrans pada abdomen biasanya memerlukan tindakan
pembedahan maka persiapan di ruang operasi harus simultan dengan
assessment pasien (Pratama, 2014).
2. Trauma non-penetrasi atau trauma tumpul: diklasifikasikan ke dalam 3
mekanisme utama, yaitu tenaga kompresi (hantaman), tenaga deselerasi dan
akselerasi. Tenaga kompresi (compression or concussive forces) dapat berupa
hantaman langsung atau kompresi eksternal terhadap objek yang terfiksasi.
Misalnya hancur akibat kecelakaan, atau sabuk pengaman yang salah (seat
belt injury). Hal yang sering terjadi adalah hantaman, efeknya dapat
menyebabkan sobek dan hematom subkapsular pada organ padat visera.

Hantaman juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan intralumen pada


organ berongga dan menyebabkan rupture (MH Assiddqi, 2014).
Trauma tumpul abdomen lebih dominan pada populasi anak. Lebih dari
80% trauma pada anak adalah berupa trauma tumpul dan kebanyakan
berhubungan dengan kecelakan kendaraan bermotor. Cedera abdominal
dapat disebabkan juga oleh karena terjatuh dan langsung mengenai dinding
abdomen misalnya pada handlebar injuri (Pratama, 2014).
2.3 Etiologi
Penyebab trauma abdomen antara lain: trauma, iritasi, infeksi, obstruksi dan
operasi. Kerusakan organ abdomen dan pelvis dapat disebabkan trauma
tembus, biasanya tikaman atau tembakan dan trauma tumpul akibat kecelakaan
mobil, pukulan langsung atau jatuh. Luka yang tampak ringan bisa menimbulkan
cedera eksterna yang mengancam nyawa (MH Assiddqi, 2014).
2.4 Patofisiologi
Terlampir
2.5 Manifestasi Klinis
Secara umum manifestasi klinik trauma abdomen antara lain :
1. Nyeri
2. Nyeri

tekan

lepas

menandakan

iritasi

peritoneum

karena

cairan

gastrointestinal atau darah


3. Distensi abdomen
4. Demam
5. Anoreksia
6. Mual dan muntah
7. Takikardi
8. Peningkatan suhu tubuh
Sementara manifestasi berdasarkan etiologinya:
1. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi ke dalam rongga peritonium):

Manifestasi klinis dari trauma tembus tergantung pada berbagai faktor,


termasuk jenis objek yang menembus, area tempat cedera terjadi, organ yang
mungkin terkena, dan lokasi serta jumlah luka. Tanda dan gejala yang
seringkali muncul adalah:
a. Terdapat nyeri dan/atau nyeri tekan lepas serta perdarahan
Nyeri dapat menjadi petunjuk terjadinya kerusakan organ. Semisal, terdapat
nyeri bahu, mungkin nyeri tersebut merupakan akibat dari limpa yang rusak
dengan darah subphrenic
b. Biasanya disertai dengan peritonitis
Tanda-tanda peritoneal terjadi ketika katup peritoneal dan aspek posterior
dari dinding abdomen anterior mengalami inflamasi. Darah dan organ di
dalam peritoneal atau retroperineal terangsang oleh ujung saraf yang lebih
dalam (serabut visceral aferen nyeri) dan mengakibatkan rasa yang sangat
nyeri. Iritasi pada peritoneum parietal mengarah ke nyeri somatik yang
cenderung lebih terlokalisasi.
c. Distensi abdomen. Apabila distensi abdomen pada pasien tidak responsif,
hal tersebut dapat menunjukkan adanya perdarahan aktif.
d. Pada laki-laki, prostat tinggi-naik menunjukkan terjadinya cedera usus dan
cedera saluran urogenital. Jika ditemukan terdapat notasi darah di meatus
uretra juga merupakan tanda adanya cedera saluran urogenital.
e. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
Hilangnya fungsi organ dapat menjadi penanda terjadinya syok, karena
pada saat syok, darah akan dipusatkan kepada organ yang vital, sehingga
untuk organ yang tidak begitu vital kurang mendapatkan distribusi darah
yang mencukupi untuk dapat bekerja sesuai dengan fungsinya sehingga
kinerja organ dapat mengalami penurunan atau bahkan fungsi organ
menjadi terhenti (Offner, 2014).

2. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi ke dalam rongga peritonium)


Penilaian klinis awal pada pasien trauma abdomen tumpul seringkali sulit dan
akurat. Tanda dan gejala yang paling nampak antara lain:
a. Nyeri
b. Perdarahan gastrointestinal
c. Hipovolemia
d. Ditemukannya iritasi peritoneal
Sebagian besar darah dapat menumpuk di rongga peritoneal dan panggul
tanpa adanya perubahan signifikan atau perubahan awal dalam temuan
pemeriksaan fisik. Bradikardi dapat mengindikasikan adanya darah
disekitar intraperitoneal.

Pada pemeriksaan fisik, biasanya ditemukan:


a. Tanda lap belt: berhubungan dengan adanya ruptur usus kecil
b. Memar berbentuk kemudi, sering terjadi pada kecelakaan
c. Memar/ekimosis di sekitar panggul (Grey Turner sign) atau umbilikus
(cullen sign): mengindikasikan perdarahan retroperitoneal, tetapi biasanya
terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari
d. Distensi abdomen
e. Auskultasi bising usus dada: menunjukkan adanya cedera diafragma
f.

Bruit abdomen: mengindikasikan penyakit vaskular yang mendasari atau


trauma fistula arteriovena

g. Nyeri secara keseluruhan atau lokal, kekakuan, atau nyeri tekan lepas:
mengindikasikan adanya cedera peritoneal
h. Kepenuhan dan konsistensi pucat pada palpasi: mengindikasikan
perdarahan intra abdominal
i.

Krepitasi atau ketidakstabilan rongga dada bagian bawah: menunjukkan


potensi cedera limpa atau hati (Legome, 2016).

2.6 Pemeriksaan Diagnostik


Pengkajian diagnostic yang diperlukan selama kondisi preoperative di gawat
darurat, meliputi pemeriksaan darah (hemoglobin, leukosit, laju endap darah,
waktu perdarahan dan waktu pembekuan darah, serta hematokrit), serum
elektrolit, pemeriksaan USG, Foto polos (abdomen dan toraks), dan CT scan
(muttaqin, kumalasari, 2013).
Pemeriksaan diagnostic dapat mencakup sonografi abdomen terfokus untuk
trauma, (FAST, focused abdomen sonography for trauma), lavase peritoneum
diagnostic (DPL, diagnostic peritoneal lavage), foto toraks (untuk menentukan
kelainan makroskopik serta adanya pergeseran organ), dan CT scan abdomen.
1. Pemeriksaan FAST
-

Pemeriksaan

yang

relative

cepat

menyediakan

informasi

yang

bermanfaat dan banyak digunakan oleh pusat trauma


-

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menaruh ultrasound probe diatas


berbagai area abdomen yang menentukan apakah ada cairan bebas di
area tersebut. Area yang dievaluasi adalah kantong morison di kuadran
kanan atas, kantong pericardial, region splenorenal di kuadran kiri atas,
dan panggul (kantong douglas).

Jika hasil FAST positif dan hemodinamik pasien tidak stabil, maka
dilakukan laparotomi eksploratif.

2. Pemeriksaan DPL
-

Prosedur diagnostic cepat yang digunakan selama fase resusitasi pada


perawatan

pasien

trauma

hemodinamiknya

tidak

stabil

untuk

menegakkan diagnosa perdarahan intra-abdomen.


-

Indikasi: cedera tumpul abdomen dengan perubahan status mental,


hipotensi tidak jelas sebabnya, penurunan hematokrit, syok, hasil
pemeriksaan abdomen tidak jelas, cedera medulla spinalis, cedera alih
(fraktur tulang, trauma dada), trauma tembus abdomen (jika eksplorasi
tidak diindikasikan).

Kontraindikasi: riwayat pembedahan abdomen berulang, kehamilah


trimester tiga, sirosis hati lanjut, obesitas morbid, riwayat koagulopati, dan
riwayat pembedahan abdomen berulang kali (terdapat peningkatan resiko

laserasi omentum dan visera atau perforasi vascular jika DPL dilakukan
pada pasien yang menunjukkan temuan ini).
-

Teknik: masukkan kateter lavase ke ruang peritoneum melalui insisi 1 -2


cm, upayakan aspirasi cairan peritoneum, infusikan salin normal atau
ringer laktat mengggunakan gaya gravitasi, miringkan pasien ke kiri dan
kanan (kecuali kontraindikasi), Biarkan cairan masuk ke dalam kantong
melalui gravitasi, kirim specimen ke laboratorium.

Hasil positif: 10-20 ml darah makroskopik pada aspirasi awal, > 100.000
sel darah merah/mm3, lebih dari 500 sel drah putih/mm 3, kadar amylase
meningkat, adanya (empedu, bakteri, atau feses)

Jika hasil DPL positif dan hemodinamik pasien tidak stabil, dilakukan
laparotomi eksploratif.

Ketika melakukan DPL, penting terlebih dahulu memastikan bahwa


pasien terpasang kateter foley dan slang orogastrik atau nasogastrik
untuk mendekompresi lambung dan kandung kemih sehingga mencegah
terjadinya perforasi tidak sengaja saat memasang kateter lavase. Ketika
kateter foley dan slang orogastrik atau nasogastrik terpasang, katetter
lavase dimasukkan ke dalam ruang peritoneum. Jika darah makroskopi
yang kembali kurang dari 10 ml, kantong berisi satu liter kristaloid (larutan
RL atau NS 0,9%) hangat diinfuskan ke dalam peritoneum. Setelah infuse
selesai,

kantong

IV

diletakkan

pada

posisi

tergantung

guna

memungkinkan cairan keluar dari abdomen karena gravitasi.


3. CT Scan
-

Lebih sering digunakan pada pasien yang hemodinamiknya lebih stabil.

Sering dilakukan dengn kontras IV atau oral untuk melihat organ dan
mengetahui adanya gangguan.

CT scan memungkinkan visualisasi area peritoneum, retroperineum, dan


panggul serta memungkinkan perkiraan jumlah cairan di area ini.

CT scan juga digunakan untuk menentukan derajat cedera pada organ


padat

Keterbatasan penggunaan CT mencakup lama waktu yang diibutuhkan


untuk melakukan pemeriksaan, kebutuhan untuk memindahkan pasien
keluar dari area resusitasi, dan syarat bahwa pasien harus memiliki

hemodinamik yang stabil dan pergerakan dibatasi selama pemeriksaan.


(Morton ,2011)

2.7 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kegawatdaruratan Trauma Abdomen
1. Trauma Tumpul Abdomen
Hal umum yang perlu mendapat perhatian adalah atasi dahulu ABC bila pasien
telah stabil baru kita memikirkan penatalaksanaan abdomen itu sendiri. Pipa
lambung, selain untuk diagnostic, harus segera dipasang untuk mencegah
terjadinya aspirasi bila terjadi muntah. Sedangkan kateter di pasang untuk
mengosongkan kandung kencing dan menilai urin. Pada trauma tumpul, bila
terdapat kerusakan intra peritoneum harus dilakukan laparotomi, sedangkan
bila tidak, pasien diobservasi selama 24-48 jam.
Tindakan laparotomi dilakukan untuk mengetahui organ yang mengalami
kerusakan. Bila terdapat perdarahan, tindakan yang dilakukan adalah
penghentian perdarahan. Sedangkan pada organ berongga, penanganan
kerusakan berkisar dari penutupan sederhana sampai reseksi sebagian.

2. Trauma Tembus Abdomen


Hal umum yang perlu mendapat perhatian adalah atasi dahulu ABC bila
pasien telah stabil baru kita memikirkan penatalaksanaan abdomen itu sendiri.
Pipa lambung, selain untuk diagnostic, harus segera dipasang untuk
mencegah terjadinya aspirasi bila terjadi muntah. Sedangkan kateter di
pasang untuk mengosongkan kandung kencing dan menilai urin.
Peningkatan nyeri di daerah abdomen membutuhkan eksplorasi bedah.
Luka tembus dapat mengakibatkan renjatan berat bila mengenai pembuluh
darah besar atau hepar. Penetrasi ke limpa, pancreas, atau ginjal biasanya
tidak mengakibatkan perdarahan massif kecuali bila ada pembuluh darah
besar yang terkena. Perdarahan tersebut harus diatasi segera, sedangkan
pasien yang tidak tertolong dengan resusitasi cairan harus menjalani
pembedahan segera.

Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di


dada baian bawah atau abdomen berbeda-beda. Namun semua ahli bedah
sepakat semua pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus
menjalani eksplorasi bedah, tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa tandatanda sepsis dengan hemodinamik stabil.
Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih
dahulu. Bila luka menembus peritoneum maka tindakan laparatomi diperlukan.
Prolaps visera, tanda-tanda peritonitis, syok, hilangnya bising usus, terdapat
darah dalam lambung, buli-buli dan rectum, adanya udara bebas intera
peritoneal, dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi
melakukan laparotomi. Bila tidak ada, pasien harus diobservasi selama 24-48
jam. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan
laparotomi.

Menurut Catherino (2003), Penatalaksanaan kegawatdaruratan Trauma


Abdomen ialah :

Pasien yang tidak stabil atau pasien dengan tanda-tanda jelas yang
menunjukkan trauma intra-abdominal (pemeriksaan peritoneal, injuri
diafragma, abdominal free air, evisceration) harus segera dilakukan
pembedahan

Trauma tumpul harus diobservasi dan dimanajemen secara nonoperative berdasarkan status klinik dan derajat luka yang terlihat di CT

Pemberian obat analgetik sesuai indikasi

Pemberian O2 sesuai indikasi

Lakukan intubasi untuk pemasangan ETT jika diperlukan

Trauma penetrasi :

Dilakukan tindakan pembedahan di bawah indikasi tersebut di atas


Kebanyakan

GSW

membutuhkan

pembedahan

penetrasi dan keterlibatan intraperitoneal

tergantung

kedalaman

Luka tikaman dapat dieksplorasi secara lokal di ED (di bawah kondisi steril)
untuk menunjukkan gangguan peritoneal ; jika peritoneum utuh, pasien dapat
dijahit dan dikeluarkan
Luka tikaman dengan injuri intraperitoneal membutuhkan pembedahan
Bagian luar tubuh penopang harus dibersihkan atau dihilangkan dengan
pembedahan

Sedangkan menurut ENA (2000) penatalaksanaan kegawatdaruratan trauma


abdomen yaitu :

Monitor TTV

Monitor CVP

Monitor AGD

Berikan terapi oksigen sesuai indikasi

Berikan resusitasi cairan IV dengan cairan kristaloid, darah atau


komponen darah

Pasang kateter urine

Monitor pemasukan dan haluaran

Pasang NGT sesuai indikasi

Berikan analgesik jika diijinkan

Minimalkan rangsangan dari luar

Siapkan intervensi bedah sesuai indikasi

Monitor GCS

Monitor perfusi jaringan perifer

Antiembolic stoking untuk mencegah pembentukan trombus sekunder


untuk meningkatkan trombosit

Monitor tingkat kesadaran

Monitor CRT

Jelaskan prosedur dengan sederhana

Jawab pertanyaan pasien

Monitor serum amilase dan lipase

Monitor serum dan kadar gula dalam urine

Monitor suhu tubuh

Monitor serum amilase dan lipase

Monitor serum dan kadar gula dalam urine

Monitor tanda-tanda peritonitis : spasme otot/kekakuan abdomen,


penurunan sampai tidak ada bising usus.

Menurut Bambang Suryono (2008),pengelolaan trauma abdomen ialah :


Perawatan pasien dengan perdarahan abdomen difokuskan seputar
pencegahan dan penanganan syok. Pengobatan definitif untuk perdarahan
internal hanya dapat dilakukan di ruang operasi rumah sakit. Tanda-tanda syok
harus dinilai sejak dini, periksa periksa dengan cermat nadi penderita,
kesadaran dan warna kulit. Penurunan tekanan darah merupakan tanda yang
terlambat. Tanda-tanda itu akan muncul setelah perdarahan internal
menyebabkan kehilangan darah yang signifikan. Pasien yang diduga
mengalami perdarahan internal harus dianggap serius dan harus dirujuk ke
rumah sakit secepatnya.
Seperti semua pasien, prioritas pertama adalah ABC. Pastikan
pembukaan jalan nafas, pernafasan yang adekuat dan sirkulasi. Pasien
dengan perdarahan internal kemungkinan akan memburuk dengan cepat. ABC
dan tanda vital harus sering dimonitor. Persiapkan untuk mempertahankan
jalan nafas pasien, untuk memberikan ventilasi atau melakukan RJP jika
diperlukan.

2.8 Komplikasi Trauma Abdomen


Beberapa komplikasi yang dapat disebabkan karena trauma abdomen adalah:
1. Perforasi

Gejala perangsangan peritonium yang terjadi dapat disebabkan oleh zat kimia
atau mikroorganisme. Bila perforasi terjadi dibagian atas, misalnya lambung,
maka terjadi perangsangan oleh zat kimia segera sesudah trauma dan timbul
gejala peritonitis hebat. Bila perforasi terjadi di bagian bawah seperti kolon,
mula-mula timbul gejala karena mikroorganisme membutuhkan waktu untuk
berkembang biak. Baru setelah 24 jam timbul gejala-gejala akut abdomen
karena perangsangan peritoneum. Kolon merupakan tempat bakteri dan hasil
akhirnya adalah feses, maka jika kolon terluka dan mengalami perforasi perlu
segera dilakukan pembedahan. Jika tidak segera dilakukan pembedahan,
peritonium akan terkontaminasi oleh bakteri dan feses. Hal ini dapat
menimbulkan peritonitis yang bisa memberikan dampak yang lebih berat.
2. Perdarahan dan syok hipovolemik
Setiap trauma abdomen (baik trauma tumpul dan trauma tembus) dapat
menimbulkan perdarahan. Yang paling banyak terkena robekan pada trauma
adalah alat-alat parenkim, mesenterium, dan ligamenta; sedangkan alat-alat
traktus digestivus pada trauma tumpul biasanya tidak terkena. Diagnostik
perdarahan pada trauma tumpul lebih sulit dibandingkan dengan trauma tajam,
lebih-lebih pada taraf permulaan. Dalam taraf pertama darah akan berkumpul
dalam sakus lienalis, sehingga tanda-tanda umum perangsangan peritoneal
belum ada sama sekali. Apabila perdarahan tidak segera ditangani dengan
baik dan tepat maka dapat terjadi syok hipovolemik yang ditandai dengan
hipotensi, takikardia, dehidrasi, penurunan turgor kulit, oliguria, kulit dingin dan
pucat.
3. Menurunnya atau menghilangnya fungsi organ
Penurunan fungsi organ dapat disebabkan karena terjadinya perdarahan yang
masif tanpa penanganan yang adekuat sehingga pasokan darah ke organ
tertentu menjadi berkurang sehingga dapat mengakibatkan penurunan fungsi
organ, bahkan fungsi organ bisa menghilang.
4. Infeksi dan sepsis
Peradangan dan penumpukan darah dan cairan pada rongga peritoneal dapat
menyebabkan mudahnya bakteri untuk menginfeksi sehingga risiko terjadinya
infeksi sangat tinggi, dan apabila infeksi tak terkendali, mikroorganisme

penyebab infeksi dapat masuk ke dalam darah dan mengakibatkan syok


sepsis.
5. Komplikasi pada organ lainnya
a. Pankreas: pankreatitis, Pseudocyta formasi, fistula pankreas-duodenal, dan
perdarahan
b. Limfa: perubahan status mental, takikardia, hipotensi, akral dingin,
diaphoresis dan syok
c. Usus: obstruksi usus, peritonitis, sepsis, nekrotik usus, dan syok
d. Ginjal: Gagal ginjal akut (Legome, 2016).
2.9 Asuhan Keperawatan Berdasarkan Teori
Pengkajian
a. Pengkajian secara umum
Pada trauma abdomen pengkajian terdiri dari identitas klien dan
penanggung jawab, pengkajian darurat serta pengkajian lanjut. Pengkajian
darurat terdiri dari pengkajian primer dan skunder dimana perlu dilakukan
evaluasi cepat disertai resusitasi secara simultan. Pengkajian primer
dilakukan tanpa melakukan penilaian riwayat secara menyeluruh sampai
kondisi kegawatan teratasi. Namun untuk memprediksi pola cedera yang
lebih baik dan mengidentifikasi risiko yang lebih fatal maka perlu dipastikan
mekanisme cedera yang didapatkan dari berbagai elemen yang dapat
menjelaskan kronologi terjadinya trauma secara jelas dan ringkas baik dari
keluarga, saksi, pengantar atau pihak kepolisian.
Faktor penting yang berhubungan dengan pengkajian darurat,
khususnya dengan etiologi kecelakaan kendaraan bermotor meliputi hal-hal
berikut:

Tingkat kerusakan kendaraan.

Apakah ada penumpang lain yang terluka atau meninggal.

Penggunaan perangkat keselamatan seperti sabuk pengaman dan


helm.

Penggunaan alkohol atau penggunaan obat adiktif.

Adanya cedera kepala/otak dan cedera spina.

Apakah ada masalah kejiwaan yang jelas.


Untuk menentukan prioritas resusitasi dan diagnosis ditetapkan

berdasarkan stabilitas hemodinamik dan tingkat keparahan cedera.


Berdasarkan arahan protokol Advanced Trauma Life Support adalah untuk
mengidentifikasi dan melakukan pencegahan terhadap kondisi yang
mengancam jiwa. Protokol ini terdiri dari:

Airway, dengan tindakan pencegahan pada spina servikal.

Breathing.

Circulation.

Disability.

Expouse.
Selain prioritas resusitasi dilaksanakan, untuk melakukan pengkajian

riwayat cepat menurut Salomon (200) merekomendasikan pendekatan


AMPLE:

Allergies.

Medications.

Past medical history.

Last meal or other intake.

Event leading presentation.


Resusitasi dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan fisik sampai

kondisi kegawatan teratasi. Sementara pengkajian skunder dilanjutkan


untuk mengidentifikasi cedera melalui pemeriksaan head-to-toe. Selama
proses pengkajian pasien sampai saat memberikan intervensi kepada
pasien tenaga kesehatan yang bertugas perlu meningkatkan kewaspadaan
dengan menggunakan alat pelindung seperti cap, pelindung mata, masker,
gown, sarung tangan, dan sepatu penutup untuk mencegah terjadinya
kontaminasi cairan tubuh pasien.
Pada kondisi klinik, penilaian klinis awal pasien dengan trauma
abdomen seringkali silit dan tidak akurat. Pengkajian utama tetap dilakukan

terhadap status yang bisa menyebabkan kondisi disfungsi neurologis, yang


dapat disebabkan karena cedera kepala atau penyalahgunaan zat.
Pemeriksaan umum yang dapat diandalkan dan gejala pada pasien yang
masihh dalam kondisi sadar adalah nyeri, nyeri tekan abdomen, adanya
tanda perdarahan gastrointestinal, hipovolemia, dan bukti adanya iritasi
peritoneum. Sejumlah besar darah dapat terakumulasi di rongga peritoneal
dan pelvis tanpa adanya perubahan yang signifikan atau didapat pada fase
awal dalam temuan pemeriksaan fisik.

b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan abdomen harus sistematis, meliputi inspeksi,
auskultasi, palpasi, dan perkusi dengan hasil temuan sebagai berikut:

Inspeksi: Pada saat pemeriksaan dapat ditemukan adanya kondisi


lecet (abrasi) atau ekimosis. Tanda memar akibat sabuk pengaman,
yakni luka memar atau abrasi di perut bagian bawah sangat
berhubungan dengan kondisi patologis intraperitoneal. Inspeksi visual
sangat penting dilakukan untuk mendapatkan adanya distensi
abdomen yang mungkin dapat terjadi karena pneumoperitonium,
dilatasi lambung, atau ileus yang diproduksi oleh iritasi peritoneal.
Fraktur iga bagian bawah dapat berhubungan dengan cedera pada
limpa atau cedera hati.

Auskultasi:

Ditemukannya

bunyi

usus

pada

bagian

toraks

menunjukkan adanya cedera pada otot diafragma.

Palpasi: Palpasi dapat menemukan adanya keluhan tenderness (nyeri


tekan) baik secara lokal atau seluruh abdomen, kekakuan abdominal,
atau rebound tenderness yang menunjukkan cedera peritoneal.

Perkusi: untuk mendapatkan adanya nyeri ketuk pada organ yang


mengalami cedera.

Pemeriksaan rektal: Dilakukan untuk mencari bukti cedera penetrasi


akibat patah tulang panggul dan pada feses dievaluasi adanya darah
kotor.

Pemeriksaan fungsi perkemihan: Dilakukan terutama adanya tanda


dan riwayat trauma panggul yang dapat menyebabkan cedera pada
uretra dan kandung kemih. Palpasi kekencangan kandung kemih dan
kemampuan dalam melakukan miksi dilakukan untuk mengkaji
adanya ruptur uretra.

c. Pengkajian Psikososial
Pada pengkajian psikososial, pasien dan keluarga biasanya
mengalami

kecemasan

dan

pasien

memerlukan

pemenuhan

informasi tentang sesuatu yang berhubungan dengan kondisi klinis


dan rencana pembedahan darurat.
Apabila pasien trauma abdomen memiliki indikasi untuk
dilakukan prosedur pembedahan maka pada kondisi pascabedah
pasien akan mendapatkan perawatan di ruang intensif. Pada kondisi
ini perlakuan pengkajian disesuaikan dengan konteks keperawatan
kritis. Pengkajian lanjutan pada konteks keperawatan medikal-bedah
di ruang rawat inap bedah dilakukan secara anamnesis, pemeriksaan
fisik, pengkajian diagnostik, dan pengkajian penatalaksanaan medik.
Pada pasien pascabedah setelah dari ruang intensif di ruang bedah
hasil pengkajian yang dapat ditemukan:
1. Keluhan utama: Nyeri, keluhan yang berhubungan denga
penurunan motilitas usus.
2. Pengkajian riwayat penyakit: Merupakan pengkajian lanjutan
riwayat intervensi yang sudah didapat pasien selama di unit gawat
darurat,

kamar

bedah,

dan

ruang

intensif,

seperti

jenis

pembedahan, penggunaan cairan dan transfusi darah, fungsi


gastrointestinal, serta pengetahuan dalam mobilisasi pasca
bedah.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan disik yang didapatkan dapat sesuai dengan
manifestasi klinik. Pada survei umum, pasien terlihat lemah, TTV
bisa didapatkan adanya perubahan. Pada pemeriksaan fisik fokus
akan didapatkan hal-hal berikut:

Inspeksi: Kondisi yang paling sering adalah terdapat luka


pascabedah pada bagian abdomen dan terpasang Foley
kateter. Pada kondisi ini penting dikaji kondisi luka pascabedah
dan berbagai risiko yang meningkatkan masalah pada pasien,
seperti adanya infeksi luka operasi (ILO), risiko dehisens dan
eviserasi terutama pada pasien obesitas.

Auskultasi: Pada kondisi klinik sering didapatkan bising usus


tidak ada, terutama dengan pasien yang memiliki keterbatasan
mobilitas.

Palpasi: pemeriksaan ini sering tidak dilakukan karena akan


menjadi stimulus nyeri pada pasien.

Perkusi: Sering didapatkan adanya bunyi timpani akibat


abdomen mengalami kembung.

4. Pengkajian diagnostik lanjutan: Dilakukan di ruang rawat inap


bedah, meliputi: pemeriksaan darah rutin (hemoglobin, leukosit,
hematokrit, trombosit, dan LED), pemeriksaan serum elektrolit,
serta pemeriksaan fungsi hati dan fungsi ginjal.
5. Penatalaksanaan medis yang perlu dikaji: Adanya pemberian
antimikroba yang akan diberikan selama 5-7 hari pascabedah
terutama pada pasien trauma abdomen dengan kontaminasi
rongga peritoneal.
Analisa Data
Data
DS :

Etiologi
Etiologi dan faktor

Masalah Keperawatan
Risiko Syok Hipovolemik

Pasien mengeluh

predisposisi

kembung di area

Menyebabkan cedera

abdomen

abdomen

DO:
Pasien tampak lemah

Penurunan kesadaran

Perdarahan

Akral dingin

Penurunan volume darah

Hipotensi

Penurunan hematokrit

Penurunan perfusi perifer

Risiko syok hipovolemik


Etiologi dan faktor

DS :
Pasien sebelumnya

predisposisi

melakukan
penatalaksanaan yang

Menyebabkan cedera
abdomen

tidak tepat

Mengungkapkan tidak
pernah mendapatkan
informasi yang adekuat

Kurang paparan informasi

Defisiensi pengetahuan
Etiologi dan faktor

sebelumnya
DS :
Pasien mengeluh

predisposisi

kembung di area

Menyebabkan cedera

abdomen
Pasien mengeluh nyeri di

abdomen

area abdomen

Pasien mengatakan

Risiko trauma

terkena objek tertentu di


area abdomen
DO:
Terdapat
hematom

Defisiensi Pengetahuan

jejas

dan

Risiko Trauma

Peristaltik usus 7x/menit


Pekak
DS :

Etiologi dan faktor

Pasien mengeluh nyeri di

predisposisi

area abdomen

Menyebabkan cedera

DO:
Wajah

Nyeri Akut

pasien

tampak

abdomen

karena

menyeringai

Cedera organ

nyeri

intraabdomen

Pengkajian PQRST

Peningkatan TTV
Terdapat

jejas

hematom

di

dan
sekitar

abdomen
DS :
Pasien lemas
DO:

Distensi abdomen

Nyeri akut

Etiologi dan faktor


predisposisi
Menyebabkan cedera

Pasien tampak pucat

abdomen

Akral dingin

Perdarahan

Penurunan volume darah

Penurunan turgor kulit

Oliguria

Volume Cairan

Penurunan hematokrit

Bibir kering

ketidakseimbangan

Pasien tampak lemah

Penurunan kesadaran

Risiko

Kehilangan cairan dalam


tubuh

Risiko ketidakseimbangan

DS :
Pasien mengeluh demam
DO:

volume cairan
Etiologi dan faktor
predisposisi

Risiko Infeksi

Pasien tampak lemah


Peningkatan TTV
Kadar leukosit
abnormal/tinggi

Menyebabkan cedera
abdomen

Trauma jaring integumen:


abrasi dan ekimosis

Port de entree
mikroorganisme

DS :
Pasien mengeluh
kebingungan akan
kondisi tubuhnya saat ini
DO:
Pasien tampak bingung
Wajah pasien tegang
Akral dingin
Peningkatan TTV

Risiko infeksi
Etiologi dan faktor
predisposisi

Menyebabkan cedera
abdomen

Kurang paparan informasi

Defisiensi pengetahuan

Perubahan kondisi tubuh


dan hospitalisasi

Cemas akan kondisi yang


dialami

Ansietas

Ansietas

Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang dapat diangkat antara lain:
1. Risiko syok hipovolemik b.d penurunan volume darah, skunder dari cedera
vaskular intraabdominal
2. Defisiensi

pengetahuan

b.d

kurang

informasi

dan

kurang

sumber

pengetahuan ditandai dengan kurangnya pengetahuan terkait dengan


penyakit, penatalaksanaan, dan perawatan
3. Risiko trauma b.d akses pada senjata, alat rumah tangga yang rusak, bahaya
listrik (mis. salah stop kontak, kabel terkelupas, kotak sikring kelebihan
daya), bermain dengan objek berbahaya, jalan tidak aman, jarak yang
berdekatan dengan jalur kendaraan (mis. jalan raya, rel kereta api), kontak
dengan mesin berbahaya, lingkungan tempat tinggal kriminal, tidak
menggunakan sabuk pengaman, kurang pengetahuan tentang kewaspadaan
keselamatan, dan gangguan keseimbangan.
4. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (trauma) ditandai dengan
diaforesis, dilatasi pupil, ekspresi wajah nyeri, fokus menyempit, keluhan
tentang intensitas menggunakan standar skala nyeri, laporan tentang
perilaku nyeri/perubahan aktivitas, mengekspresikan perilaku (mis. gelisah,
merengek, menangis, waspada), perilaku distraksi, perubahan pada
parameter fisiologis (mis. TD, frekuensi jantung, frekuensi pernapasan,
saturasi oksigen, dan end tidal karbondioksida), perubahan posisi untuk
menghindari nyeri, perubahan selera makan, putus asa, dan sikap
melindungi area nyeri.
5. Risiko ketidakseimbangan volume cairan b.d ansietas, berkeringat, trauma,
obstruksi intestinal, sepsis, dan program pengobatan.
6. Risiko infeksi b.d kurang pengetahuan untuk menghindari pemajanan,
prosedur invasif, gangguan integritas kulit, statis cairan tubuh, penurunan
hemoglobin dan malnutrisi.
7. Ansietas b.d ancaman pada status terkini, krisis situasi, dan stresor ditandai
dengan gelisah, kontak mata yang buruk, ekspresi kekhawatiran karena
perubahan dalam peristiwa, penurunan produktivitas, distres, gugup, takut,
sangat khawatir, peningkatan ketegangan, peningkatan keringat, wajah
tegang, anoreksia, dilatasi pupil, gangguan pernapasan, jantung berdebar,

mulut kering, peningkatan denyut nadi, peningkatan RR, peningkatan TD,


mual, nyeri abdomen, dan gangguan konsentrasi.
Rencana Keperawatan
1. Masalah keperawatan: Risiko syok hipovolemik
Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan pasien tidak
mengalami syok hipovolemik. Didapatkan skor pada indikator NOC Shock
severity: Hypovolemic
Indikator
1
2
Penurunan TD sistolik
Penurunan TD diastolik
Peningkatan RR
Pengisian capillary reffil yang tertunda
Aritmia
Peningkatan nadi tetapi lemah
Penurunan oksigen
Peningkatan karcon dioksida
Kulit dingin
Dehidrasi
Penurunan output urin
Letargi
Asidosis metabolic
Hyperkalemia
Intervensi: NIC Bleeding Reduction: Gastrointestinal

1. Evaluasi respon psikologis klien terhadap pendarahan


2. Pertahankan patensi airway (bila perlu)
3. Monitor adanya tanda dan gejala adanya perdarahan persistent
4. Monitor adanya tanda dari syok hipovolemik
5. Minta pasien dan/atau keluarga untuk mempersiapkan replacement
darah

2. Masalah keperawatan: Defisiensi pengetahuan

Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan pengetahuan


pasien

tentang

penyakit

dan

prosedur

penatalaksanaan

meningkat.

Didapatkan skor pada indikator NOC: Knowledge: Pain Management


Indikator
Faktor penyebab dan pendukung

Tanda dan gejala nyeri


Strategi untuk mengontrol nyeri
Regimen pengobatan yang sesuai
Penggunaan obat yang tepat
Penggunaan obat secara aman
Efek terapeutik pengobatan
Efek samping obat
Efek tambahan obat
Pengurangan aktivitas
Teknik posisi yang efektif
Teknik relaksasi
Sumber pengontrol nyeri yang adekuat
Intervensi: NIC Pain Management
1. Memeriksa nyeri secara keseluruhan, meliputi lokasi, karakteristik,
onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri, dan
faktor yang mendukung terjadinya nyeri
2. Mengobservasi nyeri dari respon non-verbal pasien
3. Mengeksplorasi faktor yang menyebabkan nyeri semakin membaik
atau semakin parah
4. Memberikan informasi tentang nyeri secara adekuat dan memberikan
cara mengantisipasi ketidaknyamanan dari prosedur yang dilakukan
5. Mengontrol

lingkungan

yang

berpengaruh

terhadap

ketidaknyamanan pasien
6. Mengajarkan prinsip manajemen nyeri
7. Mengajarkan tentang obat yang bisa mengurangi nyeri
8. Mengajarkan penggunaan obat anti nyeri dengan tepat

respon

9. Memberikan waktu istirahat yang adekuat untuk mengurangi nyeri

3. Masalah keperawatan: Risiko trauma


Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan trauma pada
pasien berkurang. Didapatkan skor pada indikator NOC Physical Injury
Severity
Indikator

Abrasi kulit

Memar

Laserasi

Gangguan mobilitas

Penurunan kesadaran

Ruptur limpa

Perdarahan

Trauma abdomen
Intervensi: NIC Pressure Management
1. Memakaikan pakaian yang longgar kepada pasien
2. Memberikan

tempat

kepada

pasien

di

tempat

tidur

yang

sesuai/memberikan efek terapeutik


3. Mencegah dari penerapan tekanan kepada bagian tubuh yang
berkaitan dengan cedera atau trauma
4. Tidak melakukan mobilisasi kepada pasien tiap 2 jam, berdasarkan
jadwal yang dibuat
5. Memantau adanya kemerahan atau luka disekitar kulit
6. Memantau mobilisasi dan aktifitas pasien
4. Masalah keperawatan: Nyeri akut
Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan nyeri pada
pasien berkurang. Didapatkan skor pada indikator NOC Pain Level
Indikator

Pelaporan nyeri

RR

Ekspresi wajah nyeri

Tekanan darah

Lama episode nyeri

Intervensi: NIC Pain Management


1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor resipitasi
2. Monitor TTV
3. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
4. Control lingkungan yang dapat menpengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan kebisingan
5. Kurangi faktor presipitasi yg meningkatkan nyeri
6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
7. Berikan analgesic untuk mengurangi nyeri
8. Evaluasi keefektifan control nyeri
9. Tingkatkan istirahat
10. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri
tidak berhasil
Administrasi analgetik :.
1. Cek program pemberian analogetik; jenis, dosis, dan frekuensi.
2. Cek riwayat alergi..
3. Tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal.
4. Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetik.
5. Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul
5. Masalah keperawatan: Risiko ketidakseimbangan volume cairan
Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan cairan dalam
tubuh pasien seimbang. Didapatkan skor pada indikator NOC Fluid
Balance

Indikator
Tekanan darah

Nadi

Tekanan arteri

Tekanan vena sentral

Keseimbangan

intake

dan

output

cairan dalam waktu 24 jam

Turgor kulit

Kelembapan mukus membran

Serum elektrolit

Perdarahan

Edema

Dehidrasi
Intervensi: NIC Fluid Management
1. Memberikan catatan input dan output cairan yang akurat
2. Memantau status hidrasi seperti mukus membran, nadi yang adekuat
dan tekanan darah
3. Memantau TTV
4. Memeriksa lokasi edema
5. Memantau status nutrisi
6. Memberikan terapi IV
7. Memberikan intake cairan selama 24 jam
8. Memberikan terapi elektrolit
9. Memantau respon pasien terhadap terapi elektrolit yang diberikan
10. Menyiapkan tranfusi darah
11. Memberikan produk tranfusi darah jika diperlukan
6. Masalah keperawatan: Risiko infeksi
Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan pasien tidak
mengalami infeksi. Didapatkan skor pada indikator NOC Infection Severy

Indikator
Kemerahan

Perubahan bau tidak sedap

Drainase purulen

Demam

Nyeri

Letargi

Kehilangan nafsu makan

Jumlah sel darah putih


Intervensi: NIC Infection Control
1. Membersihkan lingkungan di sekitar pasien untuk meminimalisir
perkembangbiakan mikroorganisme penyebab infeksi
2. Membatasi kunjungan
3. Mengajarkan teknik membersihkan tangan dengan benar
4. Penggunaan masker, sarung tangan dan gown steril saat mengkaji
kondisi pasien
5. Memberikan terapi antibiotik dengan tepat
6. Mengajarkan kepada pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala
infeksi dan kapan harus segera lapor ke tenaga kesehatan
7. Mengajarkan pasien dan anggota keluarga untuk mencegas infeksi

7. Masalah keperawatan: Ansietas


Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan kecemasan
pada pasien dan keluarga pasien berkurang. Didapatkan skor pada indikator
NOC Anxiety Level
Indikator

Sikap gelisah

Distress

Wajah tegang

Sulit berkonsentrasi

Serangan panik

Laporan ansietas

Peningkatan TD

Peningkatan nadi

Peningkatan RR

Dilatasi pupil

Berkeringat
Intervensi: NIC Anxiety Reduction
1. Melakukan teknik relaksasi
2. Menjelaskan semua prosedur, termasuk sensasi yang akan dirasakan
ketika prosedur sedang berlangsung
3. Memberikan informasi faktual tentang diagnosis, pengobatan dan
prognosis
4. Mendampingi pasien untuk mengurangi kecemasan pasien
5. Mengenali pengungkapan perasaan ketakutan, persepsi dan ketakutan
pasien
6. Mengidentifikasi perubahan tingkat ansietas
7. Membantu pasien mengidentifikasi keadaan yang dapat menyebabkan
ansietas
8. Mendukung penggunaan strategi coping pasien

Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan adalah
sebagai berikut:
1. Tidak terjadi syok hipovolemik.
2. Informasi kesehatan terpenuhi.
3. Tidak mengalami injuri pascaprosedur bedah laparotomi.
4. Nyeri berkurang dan teradaptasi.

5. Tidak terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.


6. Infeksi luka operasi tidak terjadi.
7. Kecemasan berkurang.
8. Informasi prabedah terpenuhi.

BAB III
KASUS
TRIGGER: Trauma Abdomen

Tn. P umur 65 tahun bekerja sebagai wiraswata, pendidikan terakhir SD, dan
bertempat tinggal di Terusan Sigura-gura Blok E60 Kota Malang datang ke RS
minggu tgl 5 juni 2016, dengan keluhan sakit pada perut sebelah kanan. Riwayat

kesehatan Tn. P : 2 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit, ketika sedang
mengendarai sepeda motor, klien mengalami kecelakaan. Sepeda motor klien
menabrak truk yang ada di depannya. Klien terjatuh dengan posisi dada dan perut
kanan membentur aspal. Setelah kejadian, klien masih bisa pulang sendiri dengan
mengendarai sepeda motornya. Tapi setelah beberapa saat di rumah, klien merasa
tidak enak saat bernapas, perut sebelah kanan perlahan kembung sampai punggung
dan nyeri dibagian perut kanan bertambah parah, pasien mengatakan nyeri di
rasakan sejak terjadinya kecelakaan sampai saat ini. Oleh keluarga di antar ke IGD
Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang sesampainya di IGD di lakukan pengkajian
pada pukul 14.00. Pasien dan keluarga cemas akan kondisi yang terjadi saat ini.
Mereka memerlukan informasi terkait kondisi dan rencana pembedahan darurat.
Pada saat di lakukan pemeriksaan oleh perawat di temukan wajah klien tampak
tegang, akrak dingin, wajah tampak pucat, dan mukosa bibir tampak kering. Klien
juga mengeluh nyeri terus-menerus dengan skala nyeri 7/10. Saat dilakukan
primary survey ABCDE didapatkan data sebagai berikut :

Airway

: Bebas, tidak ada sumbatan, tidak ada secret

Breathing

: Klien bermafas secara spontan. Klien menggunakan O2

4L/menit, RR : 26x/menit. Pernafasan irreguler.

Circulasi
TD : 130/90 mmHg, N : 90x/menit, Capillary reffil : 3 detik

Disability
GCS : E4M5V6, Kesadaran : compos mentis

Exposure

: Terdapat luka lecet ,jejas dan hematoma pada abdomen

sebelah kanan
Saat dilakukan secondary survey, didapatkan data sebagai berikut:

Alergi

:Klien dan keluarga mengatakan klien tidak memiliki alergi, baik

makanan ataupun obat-obatan.

Medicasi :Klien

mengatakan

mengkonsumsi obat apapun.

sebelum

masuk

rumah

sakit

tidak

Pastillnes

:Klien sebelumnya pernah di rawat di RS Dr. Saiful Anwar

Malang dengan penyakit paru-paru.

Lastmeal :Klien mengatakan sebelum kecelakaan, klien hanya minum


segelas teh.

Environment : Klien tinggal di daerah yang padat penduduknya.


Pada saat perawat melakukan pemeriksaan fisik, didapatkan data bentuk

kepala: simetris, rambut dan kulit kepala tampak cukup bersih. Kepala dapat
digerakkan kesegala arah, pupil isokor, sklera tidak ikhterik, konjungtiva tidak
anemis. Hidung simetris tidak ada secret. Bagian leher : tidak ada kaku kuduk.
Bagian parubentuk simetris, gerakan antara kanan dan kiri sama, terdapat fremitus
vokal kanan dan kiri sama, saat dilakukan perkusi terdapat suara sonor, dan saat
auskultasi suara vesikuler. Bagian abdomen terdapat jejas dan hematoma pada
abdomen sebelah kanan, peristaltik usus 7x/menit, tidak ada pembesaran hati, dan
saat dilakukan perkusi terdapat pekak. Pada bagian ekstermitas atas dan bawah
tidak ada edema, turgor kulit baik. Kekuatan otot ektermitas atas dan bawah dalam
batas normal. Urin baik
Saat dilakukan pemeriksaan penunjang didapatkan hasil :

Hemoglobin

: 14,5 g/dl

Eritrosit

: 5,05 106/ul (n : 4,5-5,9 106/ul)

Leukosit

: 12,1 103/ul (n : 4,0-11,3 103/ul)

Hematokrit

: 36%

Trombosit

: 204

Gol darah

:O

HBSAG

:-

(n : 14-17,5 g/dl)

(n : 40-52%)

BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN BERDASARKAN KASUS
4.1

Pengkajian
A. Identitas Klien
Nama
Umur
Pendidikan
Pekerjaan

: Tn. P
: 65 tahun
: SD
: Wiraswasta

Agama
: Alamat
: Terusan Sigura-gura Blok E60 Kota Malang
Tangga&Jam Pengkajian
: 09 Juni 2016 & 12.31 WIB
B. Identitas Penanggung Jawab
Nama

: Tn. W

Umur

: 41 tahun

Alamat

: Terusan Sigura-gura Blok E60 Kota Malang

Hubungan dengan klien

: Anak

C. Riwayat Penyakit

Keluhan Utama
Sakit pada perut sebelah kanan.

Riwayat Penyakit Sekarang


2 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit, ketika sedang
mengendarai sepeda motor, klien mengalami kecelakaan. Sepeda motor
klien menabrak truk yang ada di depannya. Klien terjatuh dengan posisi
dada dan perut kanan membentur aspal. Setelah kejadian, klien masih
bisa pulang sendiri dengan mengendarai sepeda motornya. Tapi setelah
beberapa saat di rumah, klien merasa perut sebelah kanan ampeg
sampai punggung dan terasa sesak nafas. Oleh keluarga di antar ke IGD
Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang.

Riwayat Keluarga
Keluarga dan klien mengatakan anggota keluarga tidak ada yang
menderita penyakit serupa.

D. Primary Survay

Airway
Bebas, tidak ada sumbatan, tidak ada secret

Breathing
Klien bernafas secara spontan. Klien menggunakan O2 2 l/menitR :
26x/menit, pernafasan reguler

Circulasi
TD : 120/80 mmHg
N

: 90x/menit Capillary reffil : 3 detik

Disability
GCS : E4M5V6 Kesadaran : Compos Mentis

Exposure
Terdapat luka lecet ,jejas dan hematoma pada abdomen sebelah kanan

E. Secondary Survay

AMPLE
-

Alergi:
Klien dan keluarga mengatakan klien tidak memiliki alergi, baik
makanan ataupun obat-obatan.

Medicasi:
Klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit tidak mengkonsumsi
obat apapun.

Pastillnes:
Klien sebelumnya pernah di rawat di RS Dr. Saiful Anwar Malang
dengan penyakit paru-paru.

Lastmeal :
Klien mengatakan sebelum kecelakaan, klien hanya minum segelas
teh.

Environment
Klien tinggal di daerah yang padat penduduknya.

F. Pemeriksaan Fisik Head To Toe

Kepala
Bentuk simetris, rambut dan kulit kepala tampak cukup bersih. Kepala
dapat digerakkan kesegala arah, pupil isokor, sklera tidak ikhterik,
konjungtiva tidak anemis. Hidung simetris tidak ada secret.

Leher

Tidak ada kaku kuduk

Paru

Inspeksi

: bentuk simetris, gerakan antara kanan dan kiri sama

Palpasi

: fremitus vokal kanan dan kiri sama

Perkusi

: sonor

Auskultasi

: vesikuler

AbdomenInspeksi:
terdapat jejas dan hematoma pada abdomen sebelah kanan

Auskultasi

: peristaltik usus 7x/menit

Palpasi

: tidak ada pembesaran hati

Perkusi

: pekak

Ekstremitas
Ekstermitas atas dan bawah tidak ada edema, turgor kulit baik. Kekuatan
otot ektermitas atas dan bawah dalam batas normal.

G. Pemeriksaan Penunjang
-

Hasil laboratorium tanggal 15 -10-2009

Hemoglobin

: 14,5 g/dl

(n : 14-17,5 g/dl)

Eritrosit

: 5,05 10 /ul

(n : 4,5-5,9 106/ul)

Leukosit

: 12,1 103/ul

(n : 4,0-11,3 103/ul)

Hematokrit

: 43,8%

(n : 40-52%)

Trombosit

: 204

Gol darah

:O

- HBSAG

:-

4.2 Analisis Data

No
1. DS :
Klien

Data
mengatakan

Etiologi
Kecelakaan
tidak

nyaman

ketika bernapas
Klien

mengatakan

perut

sebelah

kanan terasa kembung


Klien

dan

motor

keluarga

Cedera intra
abdomen

mengatakan

Masalah
Pola nafas tidak
efektif

cemas akan kondisinya saat ini


DO :

Perdarahan

RR : 26x/menit

tertutup

Ritme pernafasan irreguler

Dalam waktu
lama
menyebabkan
kdar Hb turun

Proses
pengikatan
oksigen di paru
tidak maksimal

Respon paruparu bernafas


lebih cepat

Pola nafas
irregular

Ketidakefektifa
n pola nafas

2.

Kecelakaan

DS :
Klien

mengatakan

kanan nyeri

perut

sebelah

motor

Nyeri akut

DO :
P :-

Menyebabkan

Q : skor 7

cedera

R : perut sebelah kanan


S : nyeri tumpul
T : terus-menerus

abdomen

Terdapat jejas pada abdomen sebelah

Cedera organ

kanan

intra abdomen

Menyebabkan
nyeri

Nyeri terusmenerus

3.

Nyeri akut
Kecelakaan

DS : -

motor

DO :
Akral dingin

Mukosa bibir kering


Wajah tampak pucat
Terdapat luka lecet pada perut kanan
Terdapat jejas dan hematoma pada
abdomen sebelah kanan
Ht :36%

Menyebabkan
cedera
abdomen

Perdarahan

Leukosit : 12,1 10 /ul

tertutup

CRT : 3 detik

Resiko syok

Penurunan
volume darah

Penurunan
perfusi perifer

Risiko syok

4.3

Prioritas Diagnosa Keperawatan


1. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
2. Nyeri berhubungan adanya trauma abdomen atau luka penetrasi abdomen.
3. Resiko syok

4.4

Rencana Asuhan Keperawatan


Diagnosa 1
Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan penurunan ansietas, nyeri
ditandai dengan pola nafas abnormal
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam pola


napas klien menjadi normal

Kriteria Hasil : Pada evaluasi hasil didapatkan skor 5 pada indikator NOC dengan
penurunan ekspansi paru
NOC: Respiratory Status: Airway Patency
no
1

Indikator
RR

3
26x/m

5
1220x/m

Ritme respirasi

Iregule
r

reguler

Ansietas

Kliien &

Menjad

keluarg

a cemas

cemas

tidak

NIC: Respiratory Monitoring


1. Monitor ritme, kedalaman & RR
2. Monitor saturasi oksigen
3. Monitor apabila ada peningkatan ansietas
4. Monitor tanda tanda kelelahan otot diafragma
5. Monitor adanya dipsneu & kondisi yang memperburuk klien
Diagnosa 2
Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik ditandai dengan ekspresi wajah
nyeri, mengekspresikan perilaku
Tujuan

: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri


klien berkurang

Kriteria Hasil : Pada evaluasi hasil didapatkan skor pada indikator NOC

NOC : Pain Level

N
O
1

INDIKATOR

Pelaporan nyeri

Terus

Jarang

menerus

melaporkan

(sejak

nyeri

kecelakaan)
2

Respiratory Rate

Ekspresi wajah nyeri

26x/m

1220x/m

Skala

Skala

1-2

pada

pada

pengukuran

pengukuran

nyeri Wong

nyeri Wong

Baker

Baker

Tekanan darah

130/80
mmHg

Intervensi (NIC):
Pain Management
1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi, kualitas dan factor resipitasi
2. Monitor TTV
3. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
4. Control lingkungan yang dapat menpengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
5. Kurangi faktor presipitasi yg meningkatkan nyeri
6. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
7. Berikan analgesic untuk mengurangi nyeri
8. Evaluasi keefektifan control nyeri
9. Tingkatkan istirahat
10. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
Administrasi analgetik:

1. Cek program pemberian analogetik; jenis, dosis, dan frekuensi.


2. Cek riwayat alergi.
3. Tentukan analgetik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal.
4. Monitor TTV sebelum dan sesudah pemberian analgetik.
5. Berikan analgetik tepat waktu terutama saat nyeri muncul
Diagnosa 3
Resiko Syok
Masalah keperawatan: Risiko syok hipovolemik
Tujuan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan pasien tidak
mengalami syok hipovolemik.
NOC Shock severity: Hypovolemic
Indikator
Peningkatan RR

3
26x/

m
CRT

3s

Akral Dingin

5
1220x/m
1-2 S

Akral

Akral

dingin

hangat

Intervensi: NIC Bleeding Reduction: Gastrointestinal


1. Evaluasi respon psikologis klien terhadap pendarahan
2. Pertahankan patensi airway (bila perlu)
3. Monitor adanya tanda dan gejala adanya perdarahan tertutup dan persistent
4. Monitor adanya tanda dari syok hipovolemik
5. Minta pasien dan/atau keluarga untuk mempersiapkan replacement darah

NIC: Bleeding Precautions


1. Monitor perdarahan pasien (perdarahan dalam) hematoma
2. Catat kadar Hb dan HCT sebelum dan setelah kehilangan darah
3. Monitor TD pasien

4. Kolaborasi terkait pemberian obat (antacid) jika diperlukan


5. Bombing keluarga dan pasien untuk memberitahu perawat jika ada tanda dan
gejala perburukan pendarahan.
4.5

Tindakan resusitasi
A. Airway
Pasien merasa sesak dan tidak enak pada waktu bernafas
B. Breathing
Klien bernafas secara spontan. Klien menggunakan O2 2 l/menit
R : 26x/menit, pernafasan reguler
C. Circulation
TD: 120/80 mmHg
N : 90x/menit
Capillary reffil : 3 detik
No
1.

Tindakan resusitasi
Kaji pola napas klien

2.

Posisikan klien semifowler

keterangan
Klien bernafas secara spontan
R : 26x/menit, pernafasan reguler
Dengan posisi ini ekspansi paru
maksimal sehingga memudahkan

3.
4.

Beri nasal kanul


Monitor TTV

pernapasan
4 liter/menit
TD : 130/80 mmHg
N : 90x/menit

Airway
Menilai jalan nafas bebas. Apakah pasien dapat bicara dan bernafas dengan
bebas?
Jika ada obstruksi maka lakukan:

Chin lift / jaw thrust (lidah itu bertaut pada rahang bawah)

Suction / hisap (jika alat tersedia)

Guedel airway / nasopharyngeal airway

Intubasi trakhea dengan leher di tahan (imobilisasi) pada posisi netral

Breathing

Menilai pernafasan cukup. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas.
Jika pernafasan tidak memadai maka lakukan:

Dekompresi rongga pleura (pneumotoraks)

Tutuplah jika ada luka robek pada dinding dada

Pernafasan buatan Berikan oksigen jika ada

Penilaian ulang ABC harus dilakukan lagi jika kondisi pasien tidak stabil
Sirkulasi
Menilai sirkulasi / peredaran darah. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas
bebas dan pernafasan cukup. Jika sirkulasi tidak memadai maka lakukan:

Hentikan perdarahan eksternal

Segera pasang dua jalur infus dengan jarum besar (14 - 16 G)

Berikan infus cairan

Disability
Menilai kesadaran dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya respons terhadap
nyeri atau sama sekali tidak sadar. Tidak dianjurkan mengukur Glasgow Coma
Scale

AWAKE = A

RESPONS BICARA (verbal) = V

RESPONS NYERI = P

TAK ADA RESPONS = U

Cara ini cukup jelas dan cepat.

4.6

Implementasi
Nama pasien: Tn.P
N

Tanggal/jam

o
1

5 juni 2016/14.15

No dx
1

Implementasi
-

Mengkaji pola nafas klien

Memposisikan klien semi fowler

Memberikan nasal kanul 4L/menit

5 juni 2016/14.15

Evaluasi respon psikologis klien terhadap


pendarahan

Pertahankan patensi airway (bila perlu)

Monitor adanya tanda dan gejala adanya


perdarahan tertutup dan persistent

4.7

5 juni 2016/14.30

Monitor

hipovolemik
Mengkaji tingkat nyeri

Memberikan injeksi analgesik

Mengajarkan nafas dalam bila nyeri timbul

adanya

tanda

dari

syok

Discharge planning
Pola nafas tidak efektif
1. Evaluasi kesiapan klien untuk pulang
a. Tidak ada secret di saluran pernafasan
b. RR dalam rentan normal; (12-20 X/Menit)
c. Rencana Perawatan untuk di rumah:
- Keperluan perawatan di rumah dan istirahat disediakan
- Keluarga memiliki dukungan sosial yang dibutuhkan
- Keluarga memahami prosedur monitoring RR
- Keluarga memiliki sumber komunikasi dan akses ke pelayanan
kesehatan
2. Instruksi Pemulangan kepada keluarga:
a. Penjelasan tentang kondisi klien saat ini
b. Pemahaman bagaimana memantau tanda tanda distress pernafasan
c. Pemahaman kapan harus menghubungi tenaga kesehatan
Nyeri Akut
1. Evaluasi kesiapan klien untuk pulang
a. Tidak ada secret di saluran pernafasan
b. RR dalam rentan normal; (12-20 X/Menit)
c. Rencana Pengobatan untuk di rumah:
- Keperluan perawatan di rumah dan istirahat disediakan
- Keluarga memiliki dukungan sosial yang dibutuhkan
- Keluarga memahami prosedur monitoring RR

Keluarga memiliki sumber komunikasi dan akses ke pelayanan


kesehatan

2. Instruksi Pemulangan kepada keluarga:


a. Penjelasan tentang kondisi klien saat ini
b. Pemahaman bagaimana memantau tanda tanda distress pernafasan
c. Pemahaman kapan harus menghubungi tenaga kesehatan
Resiko Shock Hipovolemik
1. Evaluasi kesiapan klien untuk pulang
a. Tidak terjadi shock
b. Sirkulasi normal
c. Akral hangat
2. Rencana keperawatan dirumah
a. Keluarga mengerti dan memahami tanda-tanda syok
b. Keluarga mengetahui kapan harus menghubungi pelayanan kesehatan
c. Keluarga memiliki dukungan sosial yang dibutuhkan
3. Instruksi Pemulangan kepada keluarga:
a. Penjelasan tentang kondisi klien saat ini
b. Pemahaman bagaimana memantau tanda tanda syok pernafasan
c. Pemahaman kapan harus menghubungi tenaga kesehatan

BAB V
PEMBAHASAN
Perbedaan Teori dan Kasus

Indikator
Tanda dan Gejala

yang ditimbulkan

Askep Umum (Teori)


Tanda dan gejala berupa

Askep Kasus
Tanda hanya berupa

demam, anoreksia, mual

nyeri tekan dan perut

dan muntah, takikardi, dan

kembung saja

peningkatan suhu tubuh


(selain tanda utama nyeri
-

Penanganan

tekan)
Stop makanan dan

Tidak segera di bawa

pertama pada

minuman, imobilisasi

e rumah sakit, ketika

trauma abdomen

segera, dan kirim ke

sudah timbul ketidak

tumpul

rumah sakit.

nyamanan pada
pernapasan baru
dibawa ke rumah

Pengkajian

pemeriksaan darah

sakit.
hanya dilakukan

diagnostic

(hemoglobin,leukosit, laju

pemeriksaan darah

preoperative gawat

endap darah, waktu

saja, tidak ada

darurat setelah di

perdarahan dan waktu

informasi terkait hasil

RS

pembekuan darah, serta

pemeriksaan yang

hematokrit), serum

lain.

elektrolit, pemeriksaan
USG, Foto polos
(abdomen dan toraks),
-

Asuhan
keperawatan pre-

dan CT scan
Airway :
-

hospital

Control tulang belakang,

Airway :
-

Tidak ada sumbatan

buka jalan napas dengan

jalan napas, bersih

jaw trust (kasus trauma).

sehingga tidak

Periksa apakah ada benda

dilakukan jaw trust

asing yang mengakibatkan

dan pengeluaran

tertutupnya jalan napas

secret.

(muntahan, makanan,
darah atau benda asing).
Breathing :
-

Ventilasi adekuat,
menggunakan cara lihatdengar-rasakan tidak
lebih dari 10 detik atau
untuk memastikan ada
napas atau tidak (periksa

Napas klien cepat

status respirasi korban

sehingga dlakukan

(kecepatan,ritme dan

diberikan ventilasi

napas yang tidak

yang adekuat

adekuat).
Circulation :
-

Breathing :

Control perdarahan hebat,

jika pernapasan tersengalsengal, gunakan alat


bantu napas. Jika tidak
ada tanda sirkulasi
lakukan RJP (30 : 2)
Circulation :
-

Tekanan darah turun,


napas cepat,
menggunakan alat
bantu napas O2 21%.

BAB VI

PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Trauma abdomen yang disebabkan benda tumpul biasanya lebih banyak
menyebabkan kerusakan pada organ-organ padat maupun organ-organ berongga
pada abdomen dibandingkan dengan trauma abdomen yang disebabkan oleh benda
tajam.
6.2 Saran
Bagi seorang perawat dalam penanganan pasien yang mengalami trauma
abdomen

yaitu

perawat

harus

memperhatikan

atau

melakukan

tindakan

kegawatdaruratan yang cepat dan tepat, terutama pada kasus trauma abdomen
akibat cidera atau kecelakaan.
Untuk memudahkan pemberian tindakan darurat secara sepat dan tepat perlu
dilakukan prosedur tetap/protocol yang dapat digunakan setiap hari. Bila
memungkinkan, sangat tepat apabila pada setiap unit keperawatan di lengkapi
dengan buku-buku yang diperlukan baik untuk perawat maupun pasien.

Daftar Pustaka

Legome

EL.

2016.

Blunt

Abdominal

Trauma

Clinical

Presentation.

http://emedicine.medscape.com/article/1980980-clinical#b3
Morton, P.G, Fontaine, D, Hudak, C. M, Gallo, B. M. 2008. Keperawatan Kritis.
Jakarta: EGC
MH

Assiddqi.

2014.

Bab

II

Tinjauan

Pustaka.

http://eprints.undip.ac.id/44820/4/M.Hasbi_Asshiddiqi_22010110110072_Bab
2KTI.pdf. Diakses pada 8 Juni 2016.
Morton, Patricia Gonce.2011. Keperawatan kriris : pendekatan asuhan holistic.
Jakarta : EGC
Muttaqin, Arif. 2013. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta : Salemba Medika
Muttaqin A, Sari K. 2013.

Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan

Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika


Offner

P.

2014.

Penetrating

Abdominal

Trauma.

http://emedicine.medscape.com/article/2036859-overview.
Pratama,

Andi,

Djaja.

2014.

Trauma

Abdomen

pada

Anak.

http://www.academia.edu/9479086/TRAUMA_ABDOMEN_PADA_ANAK.
Diakses pada 8 Juni 2016.