Anda di halaman 1dari 5

11 Nasehat Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Kepada Pengemban Dakwah

11:21 PM | Author: el-Hafiy

Cinta Allah
GEMA Pembebasan. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani adalah seorang lim allmah
(berilmu dan sangat luas keilmuannya). seorang mujtahid mutlak abad ini. Beliau
adalah pendiri Hizbut Tahrir. Nama lengkapnya adalah Syaikh Taqiyuddin bin Ibrahim
bin Mushthafa bin Ismail bin Yusuf an-Nabhani. Nasab beliau bernisbat kepada
kabilah Bani Nabhan, salah satu kabilah Arab Baduwi di Palestina yang mendiami
kampung Ijzim, distrik Shafad, termasuk wilayah kota Hayfa di Utara Palestina.
beliau memberikan 11 nasehat Kepada Pengemban Dakwah agar selalu istiqomah
dan istimror di jalan dakwah ini :
1. Ketahuilah, kaum muslim tidak pernah mundur dari posisinya sebagai
pemimpin dunia selama berpegang teguh kepada agamanya.
2. Patut diperhatikan dengan seksama bahwa usaha mengemban qiyadah
fikriyah Islam adalah dalam rangka membangkitkan kaum muslim.
3. Dalam mengembangkan dakwah Islam hendaknya kita berpegang kepada
satu prinsip, yaitu menyebarluaskannya sebagai qiyadah fikriyah bagi seluruh
dunia.
4. Mengemban dakwah saat ini hendaknya dikembangkan dengan metode yang
sama dengan masa sebelumnya, yakni dengan menjadikan metode dakwah
rasul sebagai suri teladan.
5. Mengemban dakwah membutuhkan sikap terus terang dan keberanian,
kekuatan dan pemikiran.
6. Mengemban dakwah Islam harus meletakkan kedaulatan secara mutlak
hanya untuk mabda Islam.
7. Mengemban dakwah Islam hendaknya dilakukan secara serius. Seorang
pengemban dakwah tidak akan mengambil jalan kompromi.
8. Mengemban dakwah mengharuskan setiap langkah memiliki tujuan dan
mengharuskan pengemban dakwah senantiasa memperhatikan tujuan itu.
9. Pengemban dakwah hendaknya mengemban dakwah Islam dengan
menyajikan peraturan-peraturan yang dapat memecahkan problematika
manusia.
10.Ketahulah dan pahamilah: pengemban dakwah tidak akan mampu memikul
tanggung jawab dan kewajiban-kewajibannya tanpa menanamkan pada
dirinya cita-cita untuk mengarah kepada jalan kesempurnaan, selalu
mengkaji dan mencari kebenaran.
11.Para pengemban dakwah harus menunaikan kewajibannya sebagai sesuatu
yang dibebankan Allah dipundak mereka. Hendaknya mereka melakukannya
dengan gembira dan mengharapkan ridha Allah.

Semoga nasehat dan wasiat kedua Imam ini semakin membakar ghirah juang kita
agar khilafah segera tegak dengan ijinNya. sebagaimana Imam Hasan Al-Banna
berkata Mengembalikan eksistensi daulah Islam kepada umat Islam dengan
membebaskan
negaranya,
menghidupkan
keagungannya,
mendekatkan
peradabannya, menghimpun kalimatnya hingga semua itu mengantarkan
kembalinya khilafah islamiyah yang telah hilang dan persatuan yang dicita-citakan.
dan juga perkataan dari Syaikh Taqiyudin an nabhani bahwa Khilafah adalah
kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia, untuk menegakkan
hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islamiyah ke seluruh dunia.
Definisi inilah yang telah dirumuskan oleh Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani (w. 1398
H/1977 M) dalam kitab-kitabnya, misalnya kitab Al-Khilafah (hal. 1), kitab
Muqaddimah Ad-Dustur (bab Khilafah) hal. 128, dan kitab Asy-Syakshiyyah AlIslamiyah, Juz II hal. 9 .

Merindukan Halaqoh
3:28 AM | Author: el-Hafiy
Copas dari Ust. Iwan Januar :
Merindukan Halaqoh
Pernahkah Anda merasa jenuh mengikuti perhalaqohan? Untuk membenarkan
kebosanan itu orang sering mencari pembenaran untuk tidak mengikutinya.
Meriang sedikit minta izin dengan alasan tidak enak badan. Gerimis dibilang hujan,
ustadz, afwan tidak bisa hadir. Si kecil rewel menjadi alasan ada urusan keluarga
mendesak. Masya Allah ada saja seribu satu alasan bagi kita untuk menjadi budak
nafsu
kemalasan.
Apalagi bila musrif yang mengajarkan tidak berkenan menurut selera kita. Gaya
bicaranya tidak menarik, status sosialnya tidak meyakinkan, ditambah lagi
tsaqofahnya terbatas. Kian memberatkan hati dan langkah untuk hadir ke majlis
halaqoh. Bila pun hadir halaqoh hanya sebagai pertemuan menjemukan yang ingin
cepat diselesaikan. Atau menjadi ajang untuk tertidur hingga doa penutup majlis
dibacakan.
Padahal perhalaqohan adalah pilar dari sebuah aktifitas dakwah. Satu motor dari
mesin perubah masyarakat. Halaqoh adalah kesempatan mentransfer pemahaman
dari kitab pembinaan kepada para peserta halaqoh. Mungkinkah melakukan
perubahan di tengah masyarakat tanpa mengurai konsep perubahan itu sendiri?
Duhai jiwa yang malas, inginkah mendengar bagaimana para salafus soleh yang
telah menegakkan peradaban ini begitu merindu pada halaqoh bersama guru-guru
mereka? Baiklah kunukilkan beberapa kisah semangat jiwa orang-orang alim dalam
meniti jalan menggapai ilmu. Sebutlah Ibnu Jandal al-Qurthuby Rahimahullah yang
berjuang untuk bisa menghadiri majlis ilmu Ibnu Mujahid. Beliau bercerita : Saya
pernah belajar kepada Ibnu Mujahid. Suatu hari saya mendatanginya sebelum fajar
agar saya bisa duduk lebih dekat dengan nya. Ketika saya sampai di gerbang pintu
yang menghubungkan ke majelisnya, saya dapati pintu itu tertutup dan saya
kesulitan membukanya. Saya berkata : Subhanallah, saya datang sepagi ini, tetapi
saya tetap saja tidak bisa duduk didekatnya. Kemudian saya melihat sebuah
terowongan disamping rumahnya. Saya membuka dan masuk kedalamnya. Ketika
sampai di pertengahan terowongan yang semakin menyempit, saya tidak bisa
keluar ataupun kembali. Saya membuka terowongan selebar lebarnya agar bisa
keluar. Pakaian saya terkoyak, dinding terowongan membekas ditubuh saya, dan
sebagian daging badan saya terkelupas. Allah Subhanahu wa taala menolong saya
untuk bisa keluar darinya, mendapatkan majelis Syaikh dan menghadirinya,
sementara saya dalam keadaan yang sangat memalukan seperti itu. Sudahkah kita
berkorban harta untuk menghadiri perhalaqohan? Ongkos naik angkot agar bisa
hadir ke majlis halaqoh atau membeli bensin agar motor bisa kita pakai menuju
tempat ilmu tersebut? Simaklah kisah Imam Abu Hatim Ar-Razi Rahimahullah
niscaya kita akan merasa malu. Beliau berkata : Saya tinggal di Bashrah selama
delapan bulan pada tahun 241 H. Didalam hati saya ingin tinggal selama setahun

(agar bisa berlajar ilmu lagi), tetapi saya kehabisan nafkah. Maka saya menjual
pakaian-pakaian saya sedikit demi sedikit, sampai saya betul-betul tidak memiliki
nafkah lagi.
Bagaimana pengorbanan dan kecintaan kita pada majlis halaqoh? Sudahkah seperti
para salafus soleh yang senantiasa haul ilmu dan dimabuk ilmu? Masihkah kita
meragukan janji Allah bahwa Ia akan mengangkat derajat orang-orang yang
berilmu?
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah
dalam majlis, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. Dan apabila dikatakan: Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.(al-Mujadilah: 11).
Maukah kita dimohonkan ampunan oleh semua mahluk di langit, di bumi bahkan
oleh ikan-ikan di dasar samudera? Mereka hanya memanjatkan permohonan doa
kepada orang-orang yang berilmu? Apakah kita merasa malu menerima keridloan
para malaikan dimana mereka mengembangkan sayapnya bagi para pencari ilmu?
Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya bukti keridloannya pada
penuntut ilmu, dan sesungguhnya orang yang alim akan dimintakan ampunan oleh
penghuni langit dan bumi serta ikan-ikan dilautan.(HR. Abu Daud)
Benar, bahwa orang yang menukil isi kitab kepada peserta halaqoh haruslah orang
yang berkompeten. Tapi seringkali ukuran kompeten atau tidak kompeten itu lebih
dikuasai oleh hawa nafsu kita sebagai peserta halaqoh. Ego kita mengalahkan
keimanan sehingga menghilangkan ketawadluan diri di hadapan sesama muslim,
apalagi di depan seorang guru. Hingga muncul sikap merendahkan kemampuan
orang lain. Kita pun beringsut-ingsut menarik diri dari halaqoh dengan alasan
pembina
tidak
memuaskan.
Seorang pembina memang harus selalu meningkatkan kualitas diri, akan tetapi itu
bukan alasan bagi seorang muslim untuk meninggalkan majlis ilmu. Karena sekecil
apapun, ilmu akan tetap bermanfaat. Lupakah kita dengan kemuliaan Umar bin
Abdul Aziz rahimahullah yang terdiam saat seorang remaja dari Hijaz memberinya
nasihat? Remaja itu berkata, Sesungguhnya nilai seseorang itu ditentukan oleh
hati dan lidahnya
Duduk di hadapan guru yang kemampuannya tidak seperti yang kita harapkan, lalu
mendengarkan pembicaraannya, sebenarnya adalah bagian dari pembelajaraan
yang mendasar dari sebuah majlis ilmu; keikhlasan dan kesabaran. Tanpa kedua
sifat itu tidak mungkin seorang murid akan mendapatkan kemanfaatan dalam majlis
ilmu.
Maka, sudahkah kita merindukan hadir di majlis halaqoh? Ataukah kita masih sibuk
mencari-cari pembenaran ketidakhadiran kita? Semoga Allah memberikan hidayah
untuk kita semua agar menjadi insan yang cinta ilmu, majlis ilmu, dan para pemberi
ilmu. Agar kita senantiasa merindukan halaqoh, darah kita bergelora untuk hadir di

dalamnya, dan jantung kita berdegup kencang setiap kali mata ini menatap kalam
demi kalam dari kitab-kitab kajian.