Anda di halaman 1dari 41

TUGAS MANAJEMEN BENCANA

KONSEP PPAM KESPRO DALAM SITUASI DARURAT BENCANA

DISUSUN OLEH :
TINGKAT II NON REGULER

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN TANJUNG KARANG
PROGRAM STUDI KEBIDANAN METRO
TAHUN 2013

KONSEP PPAM KESPRO DALAM SITUASI DARURAT BENCANA

I.

LATAR BELAKANG PENTINGNYA KESPRO DALAM SITUASI DARURAT


BENCANA
Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan terhadap semua jenis
bencana yang tidak semuanya dapat diperkirakan datangnya dan tidak semuanya
dapat dicegah. Bencana tersebut dapat berupa bencana alam maupun bencana akibat
perbuatan manusia. Konflik antar pemeluk agama maupun antar etnis telah beberapa
kali terjadi di Indonesia seperti konflik yang terjadi di Kabupaten Sampit dan Sambas
di Kalimantan, konflik antar agama di Ambon dan Sulawesi Tengah (Kota Palu dan
Kabupaten Poso), dll.
Diantara semua jenis bencana, bencana alam merupakan bencana yang paling
sering terjadi dan kerap menyebabkan korban jiwa dan dampak kerusakan yang hebat.
Tsunami yang melanda provinsi Nangroe Aceh Darusalam (NAD) dan Sumatera
Utara pada akhir tahun 2004 menyebabkan kematian lebih dari 160,000 orang, 37,000
orang hilang dan 500.000 penduduk kehilangan rumah. Menyusul Tsunami, Gempa
besar melanda Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng)
pada akhir bulan Mei 2006 dan merusak lebih dari 550.000 rumah penduduk, 5.760
korban jiwa dan 37,000 korban luka. Setelah kejadian dua bencana besar tersebut,
bencana lain datang silih berganti seperti tsunami di pantai selatan Pangandaran,
Cilacap sampai Yogyakarta, dan tanah longsor di Sumatera Barat dan beberapa
bencana di daerah lainnya .
Banyak pihak telah berupaya memberikan pelayanan kesehatan pada kondisi
krisis akibat bencana di atas, namun masih terbatas pada penanganan masalah
kesehatan secara umum; sedang kesehatan reproduksi masih belum menjadi prioritas
dan sering kali tidak tersedia. Padahal pada kondisi darurat, tetap saja ada ibu-ibu
hamil yang membutuhkan pertolongan, tetap ada proses kelahiran yang tidak bisa
ditunda ataupun adanya kebutuhan akan layanan keluarga berancana temasuk juga
kebutuhan khusus perempuan Dalam kondisi darurat resiko terjadinya kekerasan
berbasis jender cenderung untuk meningkat oleh karena itu perlu adanya upaya
pencegahan maupun penanganannya.
Guna mewujudkan tersedianya pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas pada
situasi apapun terutama situasi emergensi diperlukan kesiapsiagaan semua pihak lintas
sektor dan lintas program, baik dari pemerintah maupun non pemerintah.

Pelayanan kesehatan reproduksi pada kondisi darurat sering kali tidak tersedia
karena tidak dianggap sebagai kebutuhan yang mendesak dan bukan merupakan
prioritas. Padahal pada kondisi darurat bencana, tetap saja ada ibu hamil yang
membutuhkan pertolongan, tetap saja ada proses kelahiran yang tidak dapat ditunda
ataupun adanya kebutuhan alat kontrasepsi pada layanan keluarga berencana serta
layanan lainnya. Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap semua jenis
bencana, yang tidak semuanya dapat diperkirakan datangnya dan tidak semuanya
dapat dicegah, baik bencana alam maupun bencana akibat perbuatan manusia.
Pengalaman di Indonesia untuk penanganan permasalahan dalam situasi bencana di
lapangan yang paling krusial adalah ketidaksiapan lokal mulai dari pengurangan
dampak risiko melalui tahap kesiapsiagaan hingga rehabilitasi
II.

DEFINISI PPAM
Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) untuk Kesehatan Reproduksi adalah
seperangkat kegiatan prioritas untuk dilaksanakan selama berlangsungnya tahap-tahap
awal situasi darurat (konflik atau bencana alam). Apabila dilaksanakan di awal situasi
darurat, maka PPAM dapat menyelamatkan nyawa dan mencegah timbulnya penyakit,
terutama di antara wanita dan gadis. PPAM bukan hanya kit peralatan dan supply
tetapi merupakan seperangkat kegiatan yang harus dilaksanakan dengan cara yang
terkoordinasi oleh staf yang telah mendapat pelatihan yang sesuai di awal krisis.
Pelaksanaan dapat dilakukan tanpa assessment baru karena bukti
terdokumentasi sudah membenarkan penggunaannya. PPAM mencegah meningkatnya
kesakitan dan kematian maternal dan neonatal, mengurangi

penyebaran HIV,

mencegah dan menangani akibat kekerasan seksual dan mencakup perencanaan


penyediaan layanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif.
PPAM adalah standar dalam revisi 2004 dari Proyek Sphere: Piagam
Kemanusiaan dan

Standar-Standar Minimum dalam Dalam Respons Bencana.

Komponen PPAM merupakan persyaratan minimum dan layanan Kesehatan


Reproduksi Komprehensif harus disediakan segera setelah situasi memungkinkan.
III.

TUJUAN & KEGIATAN PPAM


Tujuan PPAM diantaranya yaitu:
A. Mengidentifikasi satu atau beberapa organisasi dan individu yang mampu
mengkoordinasi dan menyelenggarakan PPAM
B. Mencegah dan mengelola kekerasan seksual dan akibatnya
C. Menekan penularan HIV
D. Mencegah peningkatan morbiditas dan mortalitas maternal dan bayi baru
lahir

E.

Merencanakan pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif

A. Mengidentifikasi satu atau beberapa organisasi dan individu yang mampu


1.

mengkoordinasi dan menyelenggarakan PPAM


Koordinator Kesehatan Reproduksi harus:
a. Menjadi titik fokus bagi layanan Kesehatan Reproduksi dan memberikan
saran dan bantuan teknis mengenai Kesehatan Reproduksi kepada masyarakat
pengungsi internal dan seluruh organisasi yang bekerja di sektor kesehatan
dan sektor lainnya sesuai kebutuhan
b. Menjadi perantara dengan pihak berwenang di tingkat nasional dan regional
sewaktu merencanakan dan melaksanakan kegiatan Kesehatan Reproduksi di
pemukiman dan di antara populasi sekitar
c. Menjadi perantara dengan sektor lain (perlindungan, layanan masyarakat,
manajemen kamp/lokasi, pendidikan, dsb.) untuk menjamin pendekatan
multi-sektoral untuk Kesehatan Reproduksi
d. Memastikan bahwa Kesehatan Reproduksi menjadi butir baku pada agenda
rapat koordinasi kesehatan
e. Menyusun atau mengadaptasi dan memperkenalkan kebijakan nasional dan
kebijakan lain yang telah dibakukan yang mendukung PPAM dan
memastikan semua nya terintegrasi dengan perawatan kesehatan utama,
misalnya kebijakan yang terkait dengan perawatan obstetrik darurat atau
kekerasan berdasarkan gender
f. Memprakarsai dan mengkoordinasi sesi orientasi yang terkait khusus dengan
pemirsa mengenai MISP (misalnya untuk pekerja kesehatan, pejabat layanan
masyarakat,

populasi

penerima

manfaat,

personil

keamanan,

dsb.);

memperkenalkan protokol yang telah dibakukan untuk bidang terpilih (seperti


tanggap medis terhadap mereka yang selamat dari kekerasan seksual dan
rujukan darurat obstetrik; dan, sewaktu merencanakan layanan Kesehatan
Reproduksi lengkap: manajemen kasus sindrom Penyakit Menular Seksual
dan keluarga berencana)
g. Mengadaptasi dan memperkenalkan bentuk sederhana untuk memantau
kegiatan Kesehatan Reproduksi selama berlangsungnya tahap darurat yang
dapat menjadi lebih lengkap setelah program
h. Menggunakan petunjuk baku untuk memantau hasil PPAM
i. Mengumpulkan, menganalisa dan menyebarluaskan data untuk digunakan
j. Menyampaikan laporan rutin ke tim koordinasi kesehatan.
2. Koordinator Kesehatan Reproduksi perlu menetapkan prioritas

Tanpa perorangan atau instansi yang memimpin kegiatan Kesehatan


Reproduksi dalam situasi darurat, bukti menunjukkan bahwa Kesehatan
Reproduksi lazimnya digantikan oleh kepedulian darurat lain seperti
memastikan populasi mendapat akses ke makanan, air dan tempat berteduh
yang memadai. Koordinator Kesehatan Reproduksi mempunyai kemampuan
untuk menjadikan Kesehatan Reproduksi sebagai prioritas dan memfasilitasi
pelaksanaan MISP.
Diagram berikut memberikan contoh mengenai berbagai tingkat koordinasi
di lokasi/kamp, instansi, tingkat sub-regional, negara dan internasional dalam
tiga kondisi terpisah. Perlu diingat bahwa ini merupakan skenario ideal dan
dalam kenyataannya situasi mungkin tidak seperti yang ditata. Namun yang
penting dari contoh ini adalah untuk menunjukkan koordinasi di semua tingkat.
a. Tingkat Lokasi
Di tingkat lokasi, diagram memperlihatkan berbagai konfigurasi yang
menunjukkan berbagai cara di mana instansi kemanusiaan dapat ditata untuk
melayani kebutuhan populasi pengungsi internal yang tertampung dalam kondisi
seperti itu.
Lokasi A memiliki dua instansi kemanusiaan yang menyediakan layanan di
lokasi yang mencakup kesehatan, perlindungan/hukum, layanan masyarakat dan
manajemen lokasi (Untuk contoh ini, layanan dibagi menjadi empat bidang
utama, tetapi hal ini bisa saja bervariasi tergantung kondisi). Lokasi B memiliki
tiga instansi yang menyediakan layanan yang sama, sementara di Lokasi C
semua layanan disediakan oleh satu instansi.
Lokasi A : Instansi 1 yang mengelola sektor perlindungan/hukum, menerima
laporan mengenai insiden perkosaan dan membawa segera korban bersangkutan
yang selamat ke layanan kesehatan yang disediakan oleh Instansi 2.
Setelah kasus ini ditangani dan dikoordinasi di antara kedua instansi, korban
bersangkutan yang selamat dapat mengakses layanan klinik dan juga
mendapatkan bantuan hukum apabila ia memilih untuk berbuat demikian.
Lokasi B: Instansi 2 yang bertanggung-jawab atas layanan masyarakat,
bekerjasama dengan Instansi 1

yaitu penyedia layanan kesehatan, untuk

mendapatkan kondom. Manajer layanan masyarakat meletakkan kondom di


tempat yang sesuai seperti kantor dan ruang pertemuan masyarakat dan
menyebarluaskannya kepada stafnya untuk memastikan kondom gratis dan
terlihat oleh populasi pengungsi internal dan juga oleh staf instansi. Manajer

layanan masyarakat juga meminta Instansi 3, manajer lokasi, untuk meletakkan


kondom di tempat lain yang sesuai di mana staf dan pengungsi internal
berkumpul. Koordinasi dalam kondisi ini dapat menjadi upaya yang lebih
menantang

sehubungan

dengan

jumlah

instansi

yang

terlibat

dalam

menyediakan layanan kepada populasi pengungsi internal di lokasi ini.


Lokasi C: Instansi 4, meskipun merupakan penyedia layanan tunggal di
kamp/lokasi, dan dengan demikian yang menjadi masalah bukan koordinasi
dengan instansi lain, harus mengenal praktek yang baik dan perkembangan yang
terjadi di lokasi lain. Misalnya, instansi yang bekerja di Lokasi A dan B barubaru ini melaksanakan penilaian fasilitas kesehatan atas dua rumah sakit rujukan
setempat. Mereka menemukan bahwa satu fasilitas mengalami rusak berat
dalam konflik setempat sehingga mereka memutuskan untuk menutup fasilitas
ini dan terfokus pada memperlengkapi dan menyediakan staf penuh untuk
fasilitas lain yang juga lebih dekat ke lokasi. Hal ini merupakan informasi
penting untuk diketahui oleh Instansi 4 agar pihaknya dapat membawa pasien ke
fasilitas kesehatan yang paling tepat. pas dari konfigurasi yang berbeda-beda
dalam

contoh

kondisi

lokasi

ini,

tiap

instansi

bertanggung-jawab

mengkoordinasi kegiatan MISP/PPAM


b. Tingkat Sub-Regional:
Yang penting adalah semua instansi yang menanggapi situasi darurat
mengambil bagian dalam kegiatan koordinasi yang terjadi di antara lokasi, baik
berupa rapat mingguan, dua mingu sekali atau bulanan. Peran Koordinator
Kesehatan Reproduksi di tingkat ini adalah bekerjasama dengan MOH
pemerintah tuan rumah bila memungkinkan untuk memberikan bantuan teknis
Kesehatan Reproduksi kepada instansi-instansi ini memastikan bahwa
koordinasi berlangsung di antara berbagai sektor untuk memastikan pelaksanaan
multi-sektoral kegiatan MISP dan memberikan sesi orientasi khusus mengenai
MISP untuk staf instansi, yang dapat mencakup pekerja kesehatan, pejabat
layanan masyarakat, pejabat keamanan, pengungsi internal, dsb. Selain itu,
Koordinator Kesehatan Reproduksi dapat memastikan bahwa protokol yang
telah dibakukan digunakan oleh para instansi untuk memfasilitasi pelaksanaan
MISP/PPAM.
Meskipun kematian ibu dan bayi relatif jarang, kecuali jika telah didokumentasi,
namun kematian ibu dan bayi mungkin belum ditangani. Selain itu, Koordinator

Kesehatan Reproduksi bertanggung-jawab mengumpulkan informasi dari setiap


kondisi lokasi dan menghimpunnya dalam suatu laporan yang dapat digunakan
bersama di tingkat negara bersama PBB dan instansi pemerintah.
c. Tingkat Negara
Seperti yang ditunjukkan oleh diagram, Koordinator Kesehatan Reproduksi juga
harus ditunjuk di tingkat negara untuk mengumpulkan informasi dari seluruh
sub-wilayah. Personil ini memiliki gambaran lengkap mengenai persoalan
Kesehatan Reproduksi untuk populasi pengungsi internal di negara.
d. Tingkat Internasional:
Di tingkat internasional, IAWG merupakan mekanisme di mana terjadi
kerjasama di antara PBB dan instansi pemerintah, donor dan LSM. Kelompok
menyediakan forum di mana mitra lokal dan internasional dapat berbagi
kegiatan dan sumberdaya, memprakarsai upaya kolaborasi dan menganalisa
persoalan di lapangan yang harus ditangani. Untuk lebih jelasnya mengenai cara
bergabung dengan IAWG,
e. Tantangan dan Solusi
Kadang-kadang kurangnya pemahaman dan/atau penetapan prioritas
Kesehatan Reproduksi oleh para pelaku kemanusiaan dapat membuat koordinasi
berjalan sulit. Bagaimana mengatasi sikap apatis dan pengabaian persoalan
Kesehatan Reproduksi?
Dalam jangka-pendek, dapat ditunjuk fakta bahwa MISP adalah standar Sphere
dan, dengan demikian, merupakan standar minimum universal yang sudah
diakui di dunia internasional dalam tanggap bencana yang wajib dipatuhi oleh
setiap instansi kemanusiaan. Dapat ditekankan bahwa hal ini merupakan
intervensi yang menyelamatkan nyawa.
Dari sudut-pandang jangka-panjang, instansi harus didorong, berdasarkan
standar Sphere, untuk memprioritaskan

Kesehatan Reproduksi dalam

perencanaan kesiapan darurat mereka. Staf juga dapat didorong untuk


menyelesaikan modul MISP selain menggunakan modul untuk mendidik dan
mengadvokasi staf instansi terkait dan pihak lain mengenai pentingnya
pelaksanaan MISP.
B. Mencegah dan mengelola kekerasan seksual dan akibatnya
1.

Mencegah kekerasan seksual


Kekerasan seksual telah dilaporkan dari kebanyakan situasi darurat bencana,
termasuk yang disebabkan oleh bencana alam. Semua pelaku dalam situasi
kemanusiaan harus menyadari risiko kekerasan seksual dan mengkoordinasikan

kegiatan-kegiatan multisektoral untuk mencegah dan melindungi penduduk yang


terdampak, khususnya perempuan dan anak perempuan. Petugas kesehatan
reproduksi harus membahas masalah kekerasa seksual dalam rapat koordinasi
kesehatan. Dalam kolaborasi dengan mekanisme sektor/cluster kesehatan secara
keseluruhan, petugas kesehatan reproduksi dan staf program kesehatan
reproduksi harus :
a. Memastikan perempuan, pria, remaja dan anak-anak memiliki akses terhadap
layanan kesehatan dasar, termasuk layanan kesehatan seksual dan kesehatan
reproduksi
b. Mendesain dan menempatkan fasilitas

kesehatan untuk meningkatkan

keamanan fisik, melalui konsultasi dengan masyarakat, khususnya pada


perempuan dewasa dan remaja;
c. Berkonsultasi dengan penyedia layanan dan pasien tentang keamanan di
fasilitas-fasilitas kesehatan;
d. Menempatkan toilet dan tempat mencuci laki-laki dan perempuan secara
terpisah difasilitas kesehatan di tempat yang aman dengan penerangan jalan
yang memadai pada malam hari, dan memastikan bahwa pintu-pintu dapat
dikunci dari dalam
e. Memastikan bahwa semua bahasa sub-kelompok etnis terwakili di penyedia
layanan ata ada penerjemah
f. Memberitahu penyedia layanan mengenai pentingnya menjaga kerahasiaan dan
mereka harus menandatangani dan mentaati surat pedoman perilaku terhadap
eksploitasi dan penganiayaan seksual (SEA/Sexual Exploitation and Abuse)
g. Memastikan bahwa pedoman perilaku dan mekanisme pelaporan SEA oleh
stafkesehatan ada, serta langkah-langkah hukuman yang relevan untuk
menegakkan pedoman perilaku tersebut.
2. Kekerasan Berbasis Gender
Kekerasan berbasis gender terjadi dalam berbagai bentuk dan cakupan di
berbagai budaya,negara dan wilayah. Kekerasan berbasis gender yang terjadi
dalam situasi darurat kemanusiaan umumnya jarang dilaporkan, akan tetapi
kekerasan ini telah banyak didokumentasikan selama terjadinya krisis
kemanusiaan.Saat ini, penyusunan program dengan pendekatan multisektor
merupakancontoh yang terbaik dalam mencegah dan merespon kekerasan
berbasis gender dalam situasi kemanusiaan. Karakteristik utama model
multisektor adalah melibatkan seluruh komunitas yang terkena dampak,

kerjasama dan kolaborasi antar disiplin dan antar organisasi, serta koordinasi di
antara para pemberi layanan kesehatan, psikologis, hukum dan keamanan dalam
merespon kebutuhan-kebutuhan para korban/penyintas kekerasan berbasis
gender. Prinsip utama pendekatan ini adalah menghargai hak dan kebutuhankebutuhan utama para korban/penyintas kekerasan berbasis berbasis gender
dalam hal akses mendapatkan layanan dukungan dan menghormati, jaminan
kerahasiaan dan keamanan, serta kemampuan dalam menentukan tindakan untuk
menangani insiden kekerasan berbasis berbasis gender.
Karena kolaborasi multisektor sangat penting dalam program kekerasan berbasis
gender, para petugas dan program manajer kesehatan reproduksi harus aktif
terlibat dalam proses menjelaskan peran dan tanggung jawab serta kolaborasi di
dalam dan di antara sektor dalam mencegah dan merespon kekerasan berbasis
gender. Hasil dari proses ini kadangkala disebut sebagai Standard Operating
Procedures/SOP untuk kekerasan berbasis gender. Penyusunan SOP yang
disepakati harus merupakan suatu proses kolaborasi yang terjadi melalui
sejumlah konsultasi dengan para pemangku kepentingan dan aktor dalam situasi
tersebut. Semua sektor/cluster memiliki peran dalam mencegah dan merespon
kekerasan berbasis gender. Namun, proses ini setidaknya harus menyertakan
perwakilan dari sektor kesehatan, psikologis, keselamatan/keamanan dan legal/
kehakiman/perlindungan (badan-badan PBB, LSM nasional dan internasional,
organisasi-organisasi berbasis komunitas , serta badan-badan pemerintah jika
perlu).
Perwakilan dari sektor/cluster lain (termasuk pendidikan, pangan dan gizi,
manajemen kamp/shelter/perecanaan dan air/sanitasi) juga harus terlibat dalam
penyusunan SOP.
3. Tujuan mencegah dan menangani akibat-akibat kekerasan seksual.
Tindakan kunci apa yang harus ditempuh untuk mengurangi resiko kekerasan
seksual
a. Merancang dan menetapkan lokasi pemukiman untuk populasi pengungsi internal,
setelah berkonsultasi dengan populasi dan terutama wanita, untuk meningkatkan
keamanan fisik.

1) Menentukan lokasi kamar kecil, tempat higienis dan tempat air di tempat
yang aman dan dapat diakses.
2) Menyediakan palang untuk mengunci kamar kecil dan fasilitas cuci.
3) Menyediakan penerangan yang memadai di jalan yang digunakan di
malam hari.
4) Menyediakan patroli keamanan.
5) Menyediakan angkutan langsung ke tempat untuk mengumpulkan kayu
bakar atau melakukan patroli di rute pengumpulan kayu bakar dengan
bekerjasama erat dengan pengungsi internal wanita dan gadis.
6) Memastikan disertakannya pekerja wanita dalam distribusi makanan,
pendaftaran dan layanan lain.
7) Memastikan adanya petugas pelindung wanita.
8) Membahas persoalan kekerasan seksual selama berlangsungnya rapat
koordinasi kesehatan.
9) Mengidentifikasi perorangan atau kelompok yang mungkin terkena resiko
kekerasan seksual yang lebih tinggi (misalnya: rumah tangga yang
dikepalai oleh wanita sebagai orangtua tunggal, mereka yang berusia di
bawah umur yang tidak didampingi, dsb.) dan, setelah berkonsultasi
dengan mereka sendiri, menangani kebutuhan mereka akan perlindungan
dan bantuan. Misalnya, mengadakan pengaturan khusus untuk menampung
wanita yang tidak didampingi, gadis dan anak laki-laki, serta rumah tangga
yang dikepalai wanita.
10) Menjamin sistem pelaporan rahasia (sehingga berkesempatan melaporkan
perilaku yang dicurigai dan yang mengancam sebelum terjadi insiden).
b. Menanggapi dengan benar korban yang selamat
1) Memastikan tanggap medis baku terhadap mereka yang selamat dari
kekerasan seksual, termasuk pilihan kontrasepsi darurat, penanganan
pencegahan Penyakit Menular Seksual, prophylaxis pasca- paparan untuk
mencegah penyebaran HIV, dan vaksinasi tetanus serta hepatitis B dan
perawatan luka sebagaimana yang dianggap sesuai.
2) Menjamin privasi dan kerahasiaan mereka yang selamat.
3) Memastikan keberadaan pekerja kesehatan atau pendamping dengan
gender yang sama dan bahasa yang sama, dan apabila mereka yang
selamat menginginkannya, sahabat atau anggota keluarga yang hadir untuk
setiap pemeriksaan medis yang harus dijalaninya.
4) Memastikan keamanan fisik mereka yang selamat segera setelah terjadinya
insiden kekerasan seksual.

5) Memastikan populasi pengungsi internal diberitahu mengenai tersedianya


dan lokasi layanan bagi mereka yang selamat dari kekerasan seksual.
6) Memastikan ketersediaan dukungan psikososial yang tepat dan sesuai dari
segi budaya.
7) Memastikan lokasi di mana terjadi insiden kekerasan seksual sudah
teridentifikasi dan terdokumentasi dan langkah pencegahan terkait sudah
ditetapkan.
8) Sumberdaya yang bermanfaat yang memberikan panduan bagi para
penyedia perawatan kesehatan untuk manajemen medis setelah terjadi
perkosaan terhadap wanita, pria dan anak-anak adalah Clinical
Management of Rape Survivors: A guide to the development of protocols
for use in refugee and internally displaced person situations.
Guna mencegah eksploitasi dan pelecehan seksual, petugas dan manajer

kesehatan reproduksi harus:


Menciptakan dan mempertahankan lingkungan kerja yang mencegah
eksploitasi dan pelecehan seksual (SEA: Sexual Exploitation and

Abuse);
Memastikan bahwa semua staf (nasional dan internasional) menandatangani
dan mentaati suatu pedoman perilaku (CoC: Code of

Conduct)

menentang SEA.
Menyimpan dokumen asli dari masing-masing pernyataan di dalam
berkas pegawai-pegawai yang bersangkutan; memastikan bahwa
mekanisme-mekanisme pelaporan tentang SEA oleh penyedia

layanan

telah siap dan telah diketahui oleh masyarakat;


Mengambil tindakan yang tepat bilamana ditengarai bahwa telah

terjadi

pelanggaran terhadap standar manapun yang tercantum dalam

CoC, atau

bahwa perilaku pelecehan atau eksploitasi seksual lain

telah terjadi..

Contoh langkah untuk mencegah kekerasan seksual dan memberikan bantuan

kepada korban :
Memastikan bahwa dibuat mekanisme pencegahan dan respon untuk melindungi
korban dari kekerasan seksual
Memastikan bahwa pelayanan medis, termasuk dukungan psikososial
tersedia bagi korban

C. Mengurangi penyebaran HIV

Prioritas intervensi HIV dalam respon bencana adalah pencegah penularan


HIV dan termasuk di dalam PPAM Yaitu:
1. Memfasilitasi dan menekankan penerapan pencegahan standar
2. Menyediakan pencegahan pasca paparan (post exposure prophylaxis)
3. untuk mencegah penularan HIV (sebagai bagian dari perawatan klinis untuk
korban perkosaan dan paparan kerja).
4. Memastikan praktek transfusi darah yang aman.
5. Menjaga ketersediaan kondom gratis.
6. Juga memastikan ketersediaan antiretrovirals (ARV) untuk melanjutkan
pengobatan pada orang-orang yang sudah menjalani ARV sebelum bencana,
termasuk pencegahan penularan dari ibu ke anak
a. Pencegahan HIV
Sangat penting bagi para petugas dan manajer program
reproduksi

memahami

pengetahuan dan

karakteristik

tempat

mereka

kesehatan

bekerja

serta

perilaku populasi untuk menyesuaikan program HIV

dengan faktorfaktor tersebut. Dalam situasi darurat kemanusiaan, orangorang bisa terlibat

dalam perilaku yang menimbulkan resiko tinggi

terpapar HIV, sekalipun mereka tidak mengenali diri mereka termasuk


kelompok yang beresiko. elemen-elemen berikut ini konsisten dengan
semua program yang menargetkan kelompok kelompok rentan diantaranya:
1) Melibatkan kelompok rentan sejak awal disain program, implementasi dan
pemantauan.
2) Melokasikan kegiatan-kegiatan program di tempat-tempat yang kerap
dikunjungi kelompok minat (klub, permukiman, dll.).
3) Menciptakan ruang-ruang maya yang aman (sambungan telepon langsung)
atau fisik (pusat-pusat singgah) yang disesuaikan dengan masing-masing
kelompok agar mereka bisa dengan nyaman mencari informasi dan rujukan
tentang perawatan dan dukungan.
4) Mempromosikan pemakaian kondom laki-laki dan perempuan dengan
konsisten dan benar dan memastikan kondom selalu tersedia, terjangkau dan
supply yang dapat diandalkan
5) Melatih pekerja kesehatan dan pekerja sosial untuk menyediakan layanan
terkait HIV yang berkualitas tinggi, ramah terhadap klien, layanan HIV terkait
bagi ODHA , pasangan dan keluarga mereka serta keluarga mereka, termasuk
pengobatan infeksi menular seksual, VCT, PMTCT, keluarga berencana dan
pengobatan tuberkulosis (TB) dan AIDS.

6) Mengatasi hambatan-hambatan struktural, termasuk kebijakan, legislasi dan


praktekpraktek adat yang mendiskriminasikan kelompok dan mencegah akses
serta penggunaan layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV yang
sesuai
b. Mengurangi penularan HIV
Untuk mengurangi penularan HIV sejak permulaan respon bencana, petugas
kesehatan reproduksi harus bekerja dengan para mitra sektor/cluster kesehatan
untuk:
1. menetapkan praktik transfusi darah yangaman dan rasional;
2. memastikan penerapan tindakanpencegahan standar;
3. menjamin tersedianya kondom gratis.
Meskipun bukan komponen dari PPAM, adalah penting untuk membuat
antiretroviral (ARV)tersedia agar dapat melanjutkan pengobatanbagi orangorang yang masuk dalam program ARV sebelum keadaan darurat, termasuk
perempuan yang terdaftar dalam program PMTCT.
c.Transfusi darah yang aman
Penggunaan darah secara rasional dan aman untuk transfusi darah sangat
penting untukmencegah penularan HIV dan infeksi-infeksilain yang dapat
menular

melalui

transfusi

(TTI/TransfusionTransmissible

Infection)

sepertihepatitis B, hepatitis C dan sifilis. Jika darah yang tercemar HIV


ditransfusikan, maka penularan HIV kepada penerima hampir 100%.Transfusi
darah tidak boleh dilakukan jika fasilitas, perlengkapan dan staf yang terlatih
tidak ada.
1. Tindakan Pencegahan Standar
Tindakan pencegahan standar adalah langkahpengendalian infeksi yang
mengurangi risikopenularan patogen-patogen yang terbawa dalam darah melalui
paparan terhadap darah atau cairan tubuh di antara para pasiendan petugas
kesehatan. Menurut prinsippencegahan standar, darah dan cairan tubuhdari
semua

orang

harus

dianggap

sebagaiterinfeksi

HIV,

terlepas

dari

pengetahuanatau dugaan kita mengenai status orangtersebut. Tindakan


pencegahan standar dapatmencegah penyebaran infeksi seperti HIV,hepatitis B,
hepatitis C dan patogen-patogenlain di dalam lingkungan perawatan kesehatan.

Dalam suatu situasi darurat bencana,mungkin terjadi kekurangan supply


sektorkesehatan atau infrastruktur dan beban kerjayang meningkat. Staf yang
bekerja di sektorkesehatan mungkin akan terdorong untukmengambil jalan
pintas dalam melaksanakanprosedur, yang membahayakan keselamatanpara
pasien

maupun

staf

sendiri.

Oleh

karenaitu,

adalah

penting

untuk

menghormatitindakan-tindakan pencegahan standar.Pengawasan yang teratur


dapat membantumengurangi risiko terpapar infeksi di tempat kerja.
.
a. Tindakan pencegahan standar adalah:
1. Sering mencuci tangan: Cuci tangandengan sabun dan air sebelum dan sesudahkontak
dengan pasien. Membuat fasilitasdan perlengkapan untuk mencuci tanganmudah
didapat oleh semua penyedialayanan.
2. Mengenakan sarung tangan: Pakailahsarung tangan non-steril sekali pakai
untuksemua prosedur dimana diperkirakan akanada kontak dengan darah atau cairan
tubuhlain yang berpotensi terinfeksi virus: Cucitangan sebelum memakai dan
setelahmelepas sarung tangan. Buang sarungtangan segera setelah digunakan. Staf
yangmenangani bahan-bahan dan benda tajamwajib mengenakan sarung tangan yang
lebih kuat (sarung tangan khusus untukpekerjaan berat) dan harus menutupi lukadan
lecet dengan balutan/plester tahan air.Pastikan bahwa ada cukup persediaan.
3. Memakai pakaian pelindung, sepertibaju atau celemek tahan air, jika darahatau cairan
tubuh lain mungkin terpercik.Staf diwajibkan menggunakan masker danpelindung
mata di mana ada kemungkinan terpapar darah dalam jumlah banyak.
4. Penanganan aman terhadap benda-benda tajam:
Minimalkan perlunya menangani alatsuntik dan jarum suntik.
Gunakan alat suntik dan jarum suntiksekali pakai yang steril untuk

setiap injeksi.
Atur area kerja tempat penyuntikan untukmengurangi risiko cedera.
Gunakan botol dosis-tunggal daripadabotol multi-dosis.
Jangan menutup kembali jarum suntik.
Posisikan pasien dan beritahukan denganbenar mengenai

penyuntikan.
Buang jarum suntik dan benda-bendatajam di kotak pengaman

(safety
boxes)
5. Pembuangan limbah: Bakar semua sampah medis di area terpisah, sebaiknyamasih
pada lahan fasilitas kesehatan.Kubur benda-benda yang masih menjadiancaman,
seperti benda tajam, di sebuah lubang tertutup sedikitnya 10 meter darisumber air.

6. Pemrosesan Instrumen: Proses instrumeninstrumenbekas pakai dalam urutansebagai


berikut:
Dekontaminasi instrumen untukmembunuh virus (HIV dan hepatitis
B)dan menjadikan barang
lebih aman untukditangani.
Bersihkan instrumen sebelum melakukansterilisasi atau disinfeksi
tingkat tinggi(DTT) untuk
menghilangkan kotoran.
Sterilkan (menghilangkan semua patogen)instrumen-instrumen untuk
meminimalkanrisiko infeksi selama prosedur.
Dianjurkanmenggunakan steam autoclaving. DTT(melalui perebusan
atau perendaman
dalam larutan klorin) mungkin tidak dapatmenghilangkan semua
spora.
Gunakan atau

simpan

dengan

benar

alatalatsegera

setelah

disterilisasi.
A. Mencegah meningkatnya angka kesakitan dan kematian maternal dan
neonatal
Kegiatan prioritas untuk mencegah meningkatnya kesakitan dan kematian
maternal dan neonatal adalah:
1. Memastikan ketersediaan layanan kegawatdaruratan kebidanan dan perawatan
neonatal termasuk:
a. Di fasilitas kesehatan: penolong persalinan terlatih dan supply untuk
pertolongan persalinan normal dan penanganan komplikasi kebidanan dan
bayi baru lahir
b. Di rumah sakit rujukan: staf medis yang terampil dan supply untuk
penanganan kegawatdaruratan kebidanan dan bayi baru lahir.
2. Menjamin tersedianya layanan kegawatdaruratan kebidanan dan layanan perawatan
bayi baru lahir
Menurut Indikator-indikator Proses layanankegawatdaruratan kebidanan
dari PBB, diperkirakan 15% perempuan akan mengalami komplikasi yang
berpotensi mengancam nyawanya selama kehamilan atau pada saat kelahiran
dan 5% sampai 15% dari semua kelahiran akan memerlukan operasi caesar.
WHO memperkirakan bahwa 9% sampai 15% bayi yang baru lahir akan
memerlukan perawatan darurat untuk menyelamatkan nyawanya. Untuk
mencegah kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir akibat komplikasi,
petugas kesehatan reproduksi harus memastikan bahwa layanan PONED dan
PONEK tersedia 24 jam per hari, tujuh hari per minggu

3. Membangun sistem rujukan untuk keadaan darurat kebidanan dan bayi baru lahir
Membangun sistem rujukan untuk memfasilitasi transportasi dan
komunikasi darimasyarakat ke puskesmas dan antara puskesmas dan rumah
sakit. Berkoordinasi dengan sektor/cluster kesehatan dan pihak berwenang di
Negara yang bersangkutan untuk memastikan adanya sistem rujukan (termasuk
sarana komunikasi dan transportasi) sesegera mungkin di dalam situasi
bencana. Sistem rujukan ini harus mendukung penanganan komplikasi
kebidanan dan bayi baru lahir 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Sistem ini
harus memastikan bahwa perempuan, remaja perempuan dan bayi baru lahir
yang membutuhkan perawatan darurat dirujuk ke puskesmas di mana layanan
PONED dan perawatan bayi baru lahir tersedia. Pasien dengan komplikasi
kebidanan dan bayi baru lahir dalam kondisi darurat yang tidak dapat ditangani
di puskesmas harus distabilkan kondisinya dan dibawa ke rumah sakit yang
mempunyai layanan PONEK dan layanan perawatan bayi baru lahir.
Langkah-langkah yang akan dilakukan diantaranya adalah:
a. Tentukan kebijakan, prosedur dan praktik yang harus diikuti di puskesmas
dan rumah sakit untuk memastikan rujukan yang efisien.
b. Tentukan jarak dari masyarakat yang terdampak ke puskesmas yang
berfungsi dan ke rumah sakit, serta pilihan transportasi untuk rujukan.
c. Pasang protokol di setiap puskesmas, yang menyebutkan kapan, di mana
dan bagaimana merujuk pasien dengan kondisi darurat kebidanan ke tingkat
perawatan berikutnya.
d. Informasikan kepada masyarakat kapan dan di mana bisa mencari
perawatan darurat untuk komplikasi kehamilan dan melahirkan secepatnya.
Bertemu dan informasikan kepada tokoh masyarakat, dukun, dan lainlain
untuk

mendistribusikan

brosur-brosur

bergambar

atau

melakukan

pendekatan Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) yang kreatif. Tanpa


akses ke layanan kegawatdaruratan kebidanan dan perawatan bayi baru
lahir yang memadai
e. seorang perempuan dan bayi yang baru lahir bisa meninggal sia-sia. Oleh
karena itu adalah sangat penting untuk mencoba merundingkan akses ke
rumah sakit rujukan. Jika layanan rujukan 24/7 tidak mungkin
diselenggarakan, maka sangat penting bahwa staf yang kompeten ada setiap
saat di puskesmas untuk memberikan layanan PONED dan perawatan bayi
baru lahir Dalam situasi ini, akan sangat membantu bila ada sistem

komunikasi, seperti penggunaan radio atau telepon seluler, untuk


berkomunikasi dengan personel dengan kapasitas yang lebih tinggi untuk
meminta petunjuk dan dukungan medis.

4. Kit persalinan bersih


Menyediakan kit persalinan bersih untuk ibu hamil yang terlihat dan
penolong persalinan jika terpaksa melahirkan di rumah ketika akses ke fasilitas
Kesehatan tidak memungkinkan Dalam semua situasi darurat terdapat beberapa
perempuan dan gadis yang sedang hamil tua dan karena itu akan melahirkan
dalam kondisi darurat. Pada permulaan respon darurat, kelahiran sering terjadi
di luar puskesmas tanpa bantuan penolong persalinan. Sediakan kit persalinan
bersih untuk semua perempuan yang kehamilannya sudah tampak jelas jika
terpaksa melahirkan di rumah jika akses ke fasilitas kesehatan tidak
memungkinkan. Pendistribusiannya dapat dilakukan di lokasi pendaftaran,
misalnya. Dalam masyarakat di mana yang membantu kelahiran di rumah,
mereka dapat diberikan kit persalinan bersih dan perlengkapan dasar tambahan.
Hubungkan dukun bayi ini ke klinik kesehatan dengan penolong persalinan
terlatih dimana mereka dapat mendaftar dan meminta perlengkapan mereka. Ini
adalah langkah pertama untuk mengintegrasikan mereka ke dalam program
kesehatan reproduksi komprehensif, dimana mereka mungkin dapat berperan
sebagai penghubung antara keluarga, masyarakat dan otoritas setempat dan
layanan kesehatan reproduksi.
B. Perencanaan

pelayanan

kesehatan

reproduksi

komprehensif

yang

terintegrasi dalam pelayanan kesehatan dasar


1. Merencanakan penyediaan Pelayanan Kesehatan reproduksi komprehensif
terintegrasi pada Pelayanan Kesehatan Dasar setelah situasi mengijinkan,
dengan:
a) Mengumpulkan informasi dasar (lihat appendix A: monitoring dan
evaluasi)
b) Mengidentifikasi lokasi untuk penyediaan layanan kesehatan reproduksi
komprehensif di masa mendatang
c) Menilai staf dan mengidentifikasi protokol pelatihan
d) Mengidentifikasi jalur pengadaan barang dan menilai konsumsi obat
setiap bulan

2. Rencanakan penyediaan layanan Kesehatan Reproduksi lengkap, yang


menyatu ke dalam perawatan kesehatan utama, sesuai situasi di sini tercakup
a) mengumpulkan data latar-belakang yang ada mengenai kematian ibu dan
bayi, dominannya Penyakit Menular Seksual dan HIV, dominannya
kontrasepsi dan metoda yang dipandang baik, serta pengetahuan
mengenai Kesehatan Reproduksi, sikap dan perilaku dari populasi yang
terkena dampak, jika ada
b) mengidentifikasi lokasi yang sesuai untuk pengiriman layanan Kesehatan
Reproduksi lengkap di masa mendatang;
c) Menilai kapasitas staf dalam menyediakan layanan Kesehatan Reproduksi lengkap
dan rencana untuk melatih/melatih-ulang staf;
d) Memesan peralatan dan pasokan melalui jalur pasokan rutin, berdasarkan atau
konsumsi yang telah diestimasi dan diamati.
3. Perbedaan antara layanan Kesehatan Reproduksi minimum (MISP) dan lengkap
Diagram di halaman berikut menunjukkan kegiatan teknis Kesehatan Reproduksi
mana yang merupakan bagian dari MISP dan mana yang merupakan unsur dari perluasan
layanan Kesehatan Reproduksi.
Daerah subyek

Layanan Kesehatan

Layanan Kesehatan

Reproduksi Minimum

Reproduksi Lengkap

(MISP)
Tidak ada*

KELUARGA

BERENCANA

adakan pasokan
* Meskipun keluarga
berencana bukan

kontrasepsi
Tawarkan akses ke

bagian dari MISP, namun

beragam metoda

kontrasepsi

kontrasepsi
Berikan pelatihan

kepada staf
Berikan IEC kepada

masyarakat
Perluas perawatan

perlu disediakan jika diminta,


bila
memungkinkan.
KEKERASAN

Datangkan dan

BERDASARKAN
GENDER

Koordinasikan sistem
untuk mencegah

medis dan psikologi

kekerasan seksual
Pastikan layanan

serta hukum bagi

kesehatan tersedia bagi

mereka yang selamat


Cegah dan tangani

mereka yang selamat

bentuk lain dari

dari kekerasan seksual


Pastikan staf telah

Kekerasan
Berdasarkan Gender,
termasuk kekerasan

mendapat pelatihan

rumah tangga,
pernikahan yang

(pelatihan ulang)
dalam
hal sistem pencegahan

dipaksakan/dini,
pemotongan ala

dan respon terhadap

kelamin wanita,
perdagangan manusia,

kekerasan seksual

KEIBUAN YANG AMAN

Berikan kit melahirkan


yang bersih
Berikan kit melahirkan
kepada bidan
Tetapkan sistem

dsb.
Berikan IEC kepada

masyarakat
Berikan perawatan

sebelum melahirkan
Berikan perawatan

setelah melahirkan
Latih dukun bersalin

rujukan untuk keadaan


PENYAKIT MENULAR

SEKSUAL, TERMASUK
HIV, PENCEGAHAN

DAN PENANGANAN

darurat obstetrik
Sediakan akses ke
kondom gratis*
Pastikan dipatuhinya
tindak-pencegahan

tradisional dan bidan

Identifikasi dan
tangani Penyakit

universal
Pastikan transfusi

Menular Seksual
Tumbuhkan kesadaran
akan layanan
pencegahan dan

darah yang aman

penanganan untuk

* Meskipun pemrograman

Penyakit Menular

Penyakit Menular Seksual

Seksual/HIV
Datangkan dan

bukanlah bagian dari MISP,

adakan antibiotik dan

namun penanganan perlu

obat lain yang relevan

disediakan bagi pasien yang


datang untuk memperoleh
perawatan sebagai bagian
dari layanan klinis rutin.

yang dipandang sesuai


Berikan perawatan,
dukungan dan
penanganan bagi
mereka yang hidup

dengan mengidap

HIV/AIDS
Bekerjasama dalam
menetapkan
layanan HIV/AIDS

lengkap yang
dipandang sesuai
Berikan IEC kepada
masyarakat

Pengalaman menunjukkan bahwa selain menyediakan MISP, yang juga penting adalah
menanggapi kebutuhan populasi pengungsi internal dengan memprakarsai layanan kesehatan
reproduksi pelengkap, nila memungkinkan yang mencakup:
1. Antibiotik untuk mengobati masyarakat yang mengidap gejala Penyakit Menular Seksual
(Kit 5 Kesehatan Reproduksi Pengobatan Penyakit Menular Seksual)
2. Materi higienis dasar yang dipesan di tingkat lokal dan disediakan kepada semua wanita
dan gadis, termasuk pasokan materi sanitari, pakaian dalam, sabun dan handuk selama 3
bulan
3. ketersediaan kontrasepsi dasar untuk menanggapi permintaan dari wanita yang sudah
berpengalaman sebelumnya dengan kontrasepsi, yang tidak lagi dapat mengakses metoda
yang mereka pilih (Kontrasepsi Oral dan Suntik, Kit 4 Kesehatan Reproduksi AntarLembaga dan Kit 7 Spiral/IUD).
4. Ciri khas dari lokasi yang sesuai untuk menyediakan layanan Kesehatan Reproduksi yang
lengkap
Yang penting adalah memperhatikan sejumlah faktor berikut sewaktu memilih
lokasi yang sesuai:
a. keamanan baik di tempat penggunaan maupun selagi mengadakan perjalanan dari
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

rumah ke tempat penyediaan layanan


dapat tidaknya diakses oleh semua calon pengguna
privasi dan kerahasiaan selama konsultasi berlangsung
mudahnya akses ke air dan fasilitas sanitasi tempat yang tepat
kemungkinan mempertahankan kondisi aseptik
komunikasi dan transportasi untuk rujukan
piranti untuk menghimpun dan menganalisa data
fasilitas penyimpanan terkunci untuk pasokan dan berkas.

5. Staf dan pasokan

Penilaian kapasitas staf untuk melaksanakan layanan Kesehatan Reproduksi lengkap


harus dilaksanakan dan rencana harus dibuat untuk melatih/melatih ulang staf. Protokol
dan alat-bantu pekerjaan harus disediakan untuk mendukung penyediaan layanan
berkualitas sesuai dengan praktek terbaik berdasarkan bukti. Peralatan dan pasokan untuk
layanan Kesehatan Reproduksi lengkap harus dipesan melalui jalur pasokan rutin
berdasarkan konsumsi yang telah diestimasi dan diamati. Dengan ditempuhnya tindakan
ini, maka layanan lengkap dapat dimulai segera setelah situasi stabil dan seluruh
komponen MISP tersedia.
6. MISP Comprehensive RH Monitoring [Pemantauan Kesehatan Reproduksi Lengkap
MISP]
Petunjuk untuk memantau perencanaan koordinasi Kesehatan Reproduksi

lengkap:

a. Informasi latar-belakang dasar


b. Lokasi yang diidentifikasi untuk penyediaan layanan Kesehatan Reproduksi lengkap di
masa mendatang
c. staf dinilai, protokol pelatihan diidentifikasi
d. Jalur pengadaan diidentifikasi dan konsumsi obat tiap bulan dinilai
Pasokan mana yang dibutuhkan atau Kit Kesehatan Reproduksi Antar-Lembaga
mana yang dapat dipesan adalah:

IV.

Nomor

Nama

Warna

Kit 4:

Kit kontrasepsi oral dan suntik

Putih

Kit 5:

Kit STI (Penyakit Seksual Menular)

Kit 7:

Kit Spiral/IUD

HijauKebiruan
Hitam

SASARAN PPAM
Sasaran PPAM adalah mengurangi kematian, penyakit dan cacat di antara
populasi yang terkena dampak dari krisis, terutama wanita dan gadis. Populasi ini
dapat berupa pengungsi lintas batas, pengungsi internal (IDP) atau populasi yang
menampung pengungsi lintas batas atau IDP.
( http://misp.rhrc.org/pdf/ba/d.pdf , di akses pada tanggal 23 April 2013)
Pelayanan Kesehatan Reproduksi dalam Situasi Darurat Bencana dilaksanakan
melalui Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) yang berfokus pada :
A. Koordinasi lintas sector

B.
C.
D.
E.

Persalinan
Pencegahan dan penanganan kekerasan seksual
Pencegahan penularan IMS/HIV dan
Pada saat stabil Pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif diintegrasikan

pada pelayanan kesehatan dasar.


( http://www.dinkes.palembang.go.id, di akses pada tanggal 23 April 2013)
V. PPAM KESPRO
A. Rencana penyediaan layanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif, yang disatukan
ke dalam Perawatan Kesehatan dasar, apabila situasi memungkinkan, dengan :
1. Mengumpulkan informasi latar-belakang dasar yang mengidentifikasi lokasi
untuk penyampaian layanan Kesehatan Reproduksi lengkap di masa
mendatang.
2. Menilai staf dan mengidentifikasi protokol pelatihan mengidentifikasi jalur
pengadaan dan menilai konsumsi obat setiap bulan.
B. Kerangka acuan yang luas untuk koordinator kesehatan reproduksi berdasarkan
panduan kerangka koordinasi kesehatan keseluruhan, Koordinator Kesehatan
Reproduksi harus :
1. Menjadi focal point untuk layanan Kesehatan Reproduksi.
2. Memberikan saran dan bantuan teknis mengenai Kesehatan Reproduksi kepada
masyarakat pengungsi internal dan seluruh organisasi yang

bekerja di sektor

kesehatan dan sektor lain sesuai kebutuhan


3. Menjadi perantara dengan pihak berwenang di tingkat nasional dan
sewaktu merencanakan dan melaksanakan kegiatan Kesehatan
kamp, pemukiman dan di antara populasi sekitar
4. Menjadi perantara dengan sektor lain (perlindungan, layanan
manajemen kamp, pendidikan, dsb.) untuk memastikan

regional

Reproduksi

di

masyarakat,

pendekatan multi-sektoral

terhadap Kesehatan Reproduksi


5. Memastikan bahwa Kesehatan Reproduksi menjadi standar pada agenda rapat
koordinasi kesehatan
6. Menyusun atau menyesuaikan dan memperkenalkan kebijakan nasional dan
kebijakan

lain

yang

telah

dibakukan

yang

mendukung

PPAM

dan

memastikan semua itu menyatu dengan perawatan kesehatan utama,


misalnya kebijakan yang terkait dengan perawatan obstetrik darurat atau
kekerasan berdasarkan gender.
7. Mengadakan sesi orientasi mengenai PPAM dengan peserta khusus
untuk pekerja kesehatan, pejabat layanan masyarakat,
memperoleh manfaat, personil keamanan, dsb.)

populasi

(misalnya:
yang

8. Memperkenalkan protokol yang telah dibakukan untuk bidang terpilih

(seperti

respon medis bagi korban kekerasan seksual dan rujukan obstetrik

darurat

sewaktu merencanakan layanan Kesehatan

Komprehensif,

manajemen kasus sindrom Penyakit

Reproduksi
Menular

Seksual

berencana)
9. Mengadaptasi dan memperkenalkan formulir sederhana untuk

dan

dan

keluarga

memantau

kegiatan Kesehatan Reproduksi selama berlangsungnya tahap darurat yang dapat


menjadi lebih lengkap setelah program
diperluas.
10. Menggunakan petunjuk baku untuk memantau hasil PPAM.
11. Mengumpulkan, menganalisa dan menyebarluaskan data untuk
12. Menyampaikan laporan rutin ke tim koordinasi kesehatan

digunakan

C. Petunjuk PPAM
1. Memantau insiden kekerasan seksual
2. Memantau jumlah insiden kekerasan seksual yang dilaporkan tanpa
layanan kesehatan dan perlindungan serta pejabat keamanan
3. Memonitor jumlah korban kekerasan seksual yang

nama

mencari

memperoleh layanan kesehatan (pelaporan tanpa nama sangatlah


4. Memonitor koordinasi HIV
( http://misp.rhrc.org/pdf/ba/d.pdf, di akses pada tanggal 23 April 2013)

ke

dan

penting)

Memastikan tersedianya layanan kesehatan reproduksi dalam situasi darurat


bencana adalah sangat penting karena merupakan hak asasi manusia, dalam situasi
normalpun sudah banyak permasalahan di bidang kesehatan reproduksi dan kondisi
ini akan menjadi lebih buruk dalam situasi darurat bencana, kebutuhan akan
kesehatan reproduksi akan tetap ada dan kenyataannya justru meningkat di saat
bencana, saat darurat tetap ada ibu hamil yang membutuhkan layanan dan akan
melahirkan bayinya kapan saja, kurangnya akses ke layanan gawat darurat
kebidanan komprehensif akan meningkatkan risiko kematian ibu, kurangnya
pelayanan KB akan meningkatkan risiko kehamilan yang tidak dikehendaki yang
sering berakhir dengan aborsi yang tidak aman, risiko kekerasan seksual dapat
meningkat dalam keadaan sosial yang tidak stabil.
Risiko penularan Infeksi Menular Seksual (IMS)/ Human immunodeficiency
(HIV) dapat meningkat dengan kemungkinan bercampurnya populasi dengan
prevalensi HIV yang tinggi, serta meningkatnya risiko kekerasan seksual.
Pelayanan Kesehatan Reproduksi dalam Situasi Darurat Bencana dilaksanakan
melalui Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM) yang berfokus pada koordinasi
lintas sector, persalinan, pencegahan dan penanganan kekerasan seksual,

pencegahan penularan IMS/HIV, dan pada saat stabil Pelayanan kesehatan


reproduksi komprehensif diintegrasikan pada pelayanan kesehatan dasar.
Untuk kesiapsiagaan menghadapi bencana terkait dengan pelayanan kesehatan
pada pra, saat dan pasca bencana maka pemerintah Sulawesi barat melalui dinas
kesehatan terus meningkatkan capacity building diantaranya Rapid Health
Assestment (RHA) telah dilatih 42 orang, Rencana kontingensi telah dilatih 9
orang, Pelatihan Penanganan Gawat Darurat telah dilatih sebanyak 167 orang,
emergency nursing 70 orang, dan masih banyak program lain yang terkait dengan
penanganan bencana.
Hal yang terpenting disampaikan kepala dinas kesehatan provinsi (dr.
H.Achmad Azis, M.kes) dalam paparannya menekankan dalam penanggulangan
bencana adalah pembagian tugas pokok dan fungsi masing-masing sector baik di
tingkat pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten sampai pada
tingkat desa dipahami oleh semua pihak sehingga koordinasi bisa berjalan dengan
baik sehingga sasaran yang direncanakan dapat tercapai secara efektif, efisien, dan
harmonis.

VI.

1.
2.

Langkah-Langkah Penanganan Kespro Dalam Situasi Darurat Bencana


Menurut Undang Undang No. 24 Tahun 2007 tahapan bencana dibagi menjadi 3
tahap. Tahap tahap tersebut meliputi :
A. Pra Bencana
Tahap pra bencana, dibagi menjadi :
Fase kesiapan (situasi normal).
Fase kesiapsiagaan (situasi dimana dinyatakan adanya potensi bencana)
Perbedaan antara kedua situasi tersebut terletak pada kondisi masing-masing wilayah
pada suatu waktu. Ketika pihak yang berwenang menyatakan bahwa suatu wilayah
berpotensi akan terjadi suatu bencana maka situasi yang semula dinyatakan tidak terjadi
bencana akan secara otomatis berubah menjadi situasi terdapat potensi bencana.
B. Saat Bencana
Keadaan yang mengancam nyawa individu dan kelompok masyarakat luas sehingga
menyebabkan ketidakberdayaan yang memerlukan respon intervensi sesegera mungkin
guna menghindari kematian dan atau kecacatan serta kerusakan lingkungan yang luas.
(SK Menkes No.145 Tahun 2007, Pedoman Penanggulangan Bencana di bidang
kesehatan).

Pada masa tanggap bencana ditandai dengan besarnya angka kematian kasar di
daerah bencana sebesar 1 per 10.000 penduduk per hari. Status tanggap darurat akan
ditentukan oleh pemerintah berdasarkan rekomendasi dari Badan Penanggulangan
Bencana.
C. Pasca Bencana
Transisi dari fase tanggap bencana ke fase pasca bencana tidak secara tegas dapat
ditetapkan. Keadaan pasca bencana dapat digambarkan dengan keadaan :
1. Angka kematian sudah menurun hingga <1 per 10.000 penduduk/hari.
2. Ditandai dengan sudah terpenuhinya kebutuhan dasar dari penduduk, kondisi
keamanan sudah membaik dan pelayanan kesehatan sudah mulai kembali ke normal.
Tiap-tiap fase bencana memiliki karakteristik/kondisi yang tertentu. Oleh karena itu
diperlukan langkah-langkah yang berbeda untuk setiap tahapan bencana. Agar kegiatan
dapat berjalan dengan terarah, maka rencana yang disusun oleh Tim Siaga Kesehatan
Reproduksi harus bersifat spesifik untuk tiap tahapan bencana yaitu :
1. Pada Tahap Pra Bencana (baik dalam situasi normal dan potensi bencana)
Dilakukan penyusunan Rencana kesiapsiagaan yang dapat dipergunakan untuk segala
jenis bencana.
2. Pada Tahap Saat Bencana
Dilakukan pengaktifan Rencana Operasi (Operational Plan) yang merupakan
operasionalisasi Rencana Kesiapsiagaan.
3. Pada Tahap Pasca Bencana
Dilakukan Penyusunan Rencana Pemulihan (Recovery Plan) yang meliputi rencana
rehabilitasi dan rekonstruksi.
a. Tahap Pra Bencana
Tindakan yang dilakukan adalah penyusunan rencana kesiapsiagaan kesehatan
reproduksi pada setiap tingkat pemerintahan, mulai dari tingkat kabupaten atau kota,
propinsi dan tingkat pusat. Rencana Kesiapsiagaan adalah rencana kegiatan yang
dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah
yang tepat guna dan berdaya guna.
1) Tujuan Rencana Kesiapsiagaan
a) Membangun kesadaran stakeholder

agar

turut

penanganan bencana.
b) Memastikan koordinasi yang efektif dari respon bencana.

aktif

dalam

program

c) Memastikan respon bencana yang cepat, tepat dan efisien melalui


Paket Pelayanan Awal Minimum untuk Kesehatan Reproduksi

penerapan
sejak

fase

awal

bencana.
2) Waktu Penyusunan
a)
Pada kondisi normal sebelum terjadi bencana
Rencana kesiapsiagaan disusun pada kondisi normal sebelum terjadi bencana dan
harus direview dan direvisi secara berkala sesuai dengan perkembangan kondisi
daerah setempat (minimal 1 tahun sekali).
b)

Pada saat terdapat potensi bencana


Rencana kesiapsiagaan harus disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Pada saat
terdapat potensi bencana dimana sering terjadi perubahan kondisi daerah, maka
frekuensi review dan revisi rencana kesiapsiagaan harus ditingkatkan. Disamping itu
harus pula ditingkatkan persiapan operasionalisasi dari rencana kesiapsiagaan
tersebut.

3) Tahap Penyusunan Rencana Kesiapsiagaan


a) Tahap Persiapan
1) Pembentukan tim kesehatan reproduksi (telah dijelaskan pada bab III).
2) Mengadakan pertemuan/lokakarya untuk mendapatkan kesepahaman tentang
konsep PPAM (Paket Pelayanan Awal Minimum) dan penerapannya

dalam

penyusunan rencana kesiapsiagaan pada tahap berikutnya.

PPAM

Penjelasan

dapat dilihat pada apendiks 2 dan pada buku Pedoman Kesehatan Reproduksi
bagi Pengungsi.
b) Tahap Penyusunan Rencana Kesiapsiagaan
1) Identifikasi data-data kesehatan reproduksi (baik data cakupan maupun data
sarana yang ada), termasuk data kerentanan di wilayah tersebut.
2) Pembuatan peta.
3) Tindakan untuk mengurangi kerentanan dan risiko kesehatan reproduksi.
4) Penyiapan komponen rencana kesiapsiagaan. Proses identifikasi kerentanan
kesehatan reproduksi dalam masyarakat melalui langkah :
Menilai status kesehatan reproduksi setempat berdasarkan indikator

kesehatan reproduksi yang ada seperti angka kematian ibu, dll.


Mengenali faktor faktor kerentanan kesehatan reproduksi seperti faktor
kemiskinan,

akses

terbatas

ke

ketrampilan tenaga kesehatan dll.

pelayanan

kesehatan

reproduksi,

c) Peta Kerentanan dan Risiko


Peta adalah salah satu dari cara terbaik untuk mempresentasikan hasil dari penilaian
kerentanan dan analisa risiko.
Langkah Langkah Menggambar Peta :
1) Membuat simbol simbol yang menggambarkan :
Kelompok kelompok rentan seperti ibu hamil dan bayi.
Kelompok risiko tinggi kesehatan reproduksi pada populasi yang ada dalam

wilayah setempat seperti : wilayah dengan prevalensi HIV, IMS, dll.


Masalah kesehatan reproduksi pada masyarakat seperti tingginya jumlah

kematian ibu, bayi, dll.


Tenaga kesehatan khususnya dalam bidang kesehatan reproduksi.
Fasilitas kesehatan dan alur rujukan pelayanan kesehatan reproduksi

(puskesmas PONED dan Rumah sakit PONEK).


2) Menggambar alur yang menghubungkan antara populasi setempat dengan
layanan kesehatan reproduksi terdekat dan alur rujukan

antar

fasilitas

fasilitas
layanan

kesehatan reproduksi.

1)

d) Penyiapan Komponen Kesiapan Penanggulangan Bencana


Komponen kesiapan penanggulangan bencana meliputi :
Sumber daya manusia
Tim siaga kesehatan reproduksi bertanggung jawab untuk menyiapkan
kemampuan sumber daya manusia untuk pelaksanaan rencana

2)
3)

kesiapsiagaan sesuai bidangnya masing-masing.


Pengorganisasian: sesuai pengorganisasian pada bab II.
Fasilitas, alat dan bahan.

Langkah-langkah :
1)
2)
3)
4)

Mengidentifikasi kebutuhan logistik kesehatan reproduksi


Mengidentifikasi tempat penyimpanan logistik
Mengidentifikasi tempat pelayanan
Mengidentifikasi institusi/organisasi (nasional/internasional) yang memiliki potensi
dalam penyediaan logistik dan fasilitas kesehatan reproduksi. Penyediaan dan
penyiapan kebutuhan material Kesehatan Reproduksi yang terdiri dari :
RH kit.
Bidan kit (di luar paket RH kit).
Individual kit: hygiene kit, kit bayi, kit ibu hamil, kit ibu bersalin.
Peralatan penunjang Kesehatan Reproduksi: tenda, generator, lampu penerangan,

dll.
5) Perencanaan Anggaran

Tiap tingkatan pemerintahan perlu menyiapkan alokasi anggaran dan memobilisasi


anggaran untuk membiayai rencana kegiatan pada rencana kesiapsiagaan.
6) Komunikasi, Informasi dan Edukasi
Langkah yang dilakukan adalah Penyusunan materi KIE yang berkaitan dengan situasi
bencana seperti :
Bagaimana mendapatkan pelayanan dalam kondisi bencana
Tempat-tempat pelayanan yang tersedia dan menyebarkannya secara luas kepada
masyarakat.
7) Penyiapan Mekanisme Respon
Penyiapan mekanisme respon dapat dilakukan dengan melakukan gladi/simulasi
pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi dalam situasi tanggap bencana. Simulasi
pelaksanaan berdasarkan rencana kesiapsiagaan dan tindakan operasional yang akan
dibahas pada bagian berikutnya.
b. Tahap Saat Bencana
Tindakan yang Dilakukan adalah Operasionalisasi dari rencana kesipasiagaan
dibawah koordinasi koordinator tim siaga kesehatan reproduksi.
1. Tujuan Pelaksanaan Tindakan Operasional
Untuk memberikan respon yang cepat, tepat dan sistematis segera setelah dan selama
tanggap bencana, sehingga efek yang ditimbulkan bencana terhadap kesehatan
reproduksi dapat seminimal mungkin
2. Tahapan Tindakan Operasional
Tindakan operasional dari rencana kesiapsiagaan dibedakan menjadi respon
awal dan respon lanjutan.
1) Respon Awal
Penentuan

tingkat

wewenang

penanganan

bencana.

Kabupaten/Propinsi/Nasional :
a) Tim Siaga Kesehatan Reproduksi Propinsi PPK regional setempat
b) Tim Siaga Kesehatan Reproduksi Kabupaten
c) Tim Siaga Kesehatan Reproduksi PPK Pusat tidak tertangani
2) Mengintegrasikan tim siaga kespro ke dalam tim koordinasi
Penanggulangan Bencana.
3) Mobilisasi tim siaga kesehatan reproduksi untuk melakukan penilaian awal
kegiatan lain secara simultan sesuai fungsi dari masing-masing sub tim.

Tingkat

Badan
dan

c. Tahap Pasca Bencana


Kegiatan difokuskan pada upaya pemulihan kondisi kesehatan reproduksi. Secara
definisi pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi
masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali
kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi dan
rekonstruksi dan difokuskan pada perencanaan pelaksanaan kesehatan reproduksi
komprehensif.
1) Pelayanan Kespro Komprehensif
a) KIA
b) KB
c) IMS, HIV dan AIDS
d) Kespro Remaja
e) Kespro usia lanjut
f) Kasus kekerasan berbasis gender termasuk kekerasan seksual
2) Kegiatan Pemulihan
Melakukan assessment untuk menilai kesiapan pelayanan kesehatan reproduksi
sesuai kondisi normal penanggung jawab: Koordinator bidang data dan informasi.
Data yang dikumpulkan meliputi :
Validasi data penduduk pasca bencana.
Lihat data-data awal kesehatan reproduksi sebelum bencana.
Mengidentifikasi sarana dan pra sarana (fasilitas kesehatan, ketersediaan staff,
termasuk ketersediaan alat dan bahan) yang dapat direhabilitasi dan

dikembangkan untuk pelaksanaan pelayanan RH yang komprehensif terpadu.


Perencanaan pelaksanaan Kesehatan Reproduksi komprehensif terpadu.
Perencanaan disusun berdasarkan hasil dari proses assessment. Komponen
perencanaan meliputi : sumber daya manusia, fasilitas, alat dan bahan serta

anggaran.
Pelaksanaan Upaya Pemulihan Kesehatan Reproduksi Operasionalisasi dari
perencanaan pelaksanaan kespro komprehensif terpadu.

VII.

Komponen PPAM
A. Identifikasi organisasi dan individu untuk memfasilitasi koordinasi dan implementasi
PPAM Focal point ditunjuk untuk mengkoordinasikan kegiatan kesehatan reproduksi

sejak awal untuk mengatasi keadaan gawat darurat. Focal point akan bekerja dibawah
coordinator umum bidang kesehatan.
Semua organisasi pemberi bantuan harus bekerja sesuai dengan tugasnya dan siap
siaga terhadap keadaan darurat. Kepekaan terhadap aspek kesehatan reproduksi dan
gender harus selalu ditekankan dalam setiap pelatihan sumber daya manusia. Tenaga
kesehatan yang berpengalaman dalam bidang kesehatan reproduksi harus ditempatkan
paling sedikit selama 6 bulan, sesuai dengan waktu yang diperkirakan untuk
memantapkan pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif.
B. Pencegahan dan manajemen kekerasan seksual dan akibatnya semua petugas yang
terlibat dalam penggulangan keadaan darurat harus sensitif akan masalah kekerasan
seksual. Langkah-langkah untuk membantu korban kekerasan seksual, termasuk
perkosaan, harus telah disusun pada fase awal keadaan darurat. Korban kekerasan
seksual harus segera dirujuk ke fasilitas kesehatan dan pihak yang berwajib harus
terlibat untuk memberikan perlindungan dan dukungan hukum.
C. Menekan penularan HIV
1. Mematuhi dan melaksanakan kewaspadaan universal/universal precaution terhadap
HIV dan AIDS Tindakan kewaspadaan universal harus ditekankan pada pertemuan
pertama dengan para koordinator kesehatan. Dalam keadaan darurat, terdapat
kecenderungan

mengabaikan

tindakan

kewaspadaan

universal

sehingga

membahayakan pasien dan juga petugas kesehatan.


2. Menjamin ketersediaan kondom gratis.
Ketersediaan kondom harus dijamin sejak awal dalam jumlah cukup. Ketersediaan
kondom di fasilitas kesehatan dan fasilitas lainnya juga harus diinformasikan
kepada masyarakat.
D. Mencegah peningkatan morbiditas dan mortalitas maternal dan bayi baru lahir.
1. Penyediaan kit persalinan bersih untuk ibu dalam upaya meningkatkan persalinan
bersih di rumah.
Kit persalinan sederhana harus disediakan sehingga setiap saat dapat dipergunakan
untuk persalinan yang terpaksa dilakukan dirumah.
1. Penyediaan kit persalinan bidan untuk membantu persalinan bersih dan aman.Pada
fase awal keadaan darurat, persalinan sering terjadi diluar fasilitas kesehatan
sehingga kit persalinan bidan penting untuk menjamin persalinan yang bersih dan
aman.
2. Penyusunan sistem rujukan untuk mengelola gawat darurat kebidanan.
Diperkirakan 5% 10% persalinan akan membutuhkan bedah Caesar. Kasus
komplikasi lainnya seperti komplikasi aborsi juga harus di rujuk ke rumah

sakit yang mampu memberikan pelayanan darurat kebidanan komprehensif


(PONEK). Oleh karena itu, sistem rujukan yang mampu menangani
kebidanan 24 jam sehari harus segera tersedia. Untuk itu
pemerintah setempat mengenai kebijakan dan

diperlukan

prosedur

system

komplikasi

koordinasi
rujukan.

dengan
Alat

transportasi, tenaga yang terampil, alat dan suplai harus tersedia.


E. Perencanaan pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif yang terintegrasi dalam
pelayanan kesehatan dasar. Rencana pengintegrasian pelayanan kesehatan reproduksi
ke dalam pelayanan kesehatan dasar dilakukan sejak awal pelaksanaan PPAM,
meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut :
1. Pengumpulan informasi kematian maternal dan bayi mbaru lahir, prevalensi
IMS/HIV dan prevalensi pemakaian kontrasepsi.
2. Identifikasi fasilitas kesehatan yang memadai untuk pelayanan kesehatan
reproduksi

komprehensif

dengan

memperhatikan

faktor

keamanan,

keterjangkauan, privasi, ketersediaan alat dan suplai, ketersediaan air bersih dan
sanitasi serta kondisi asepsis.

VIII. Evaluasi PPAM Kesehatan Reproduksi


Langkah-langkah yang dilakukan :
1. Menetapkan ruang lingkup evaluasi
2. Melakukan evaluasi
3. Menganalisa
4. Mengambil Kesimpulan
5. Mendokumentasikan
6. Melaporkan Hasil
Berdasar profil kesehatan reproduksi tahun 2003, di Indonesia secara umum
didapatkan beberapa masalah kesehatan reproduksi yang membutuhkan penanganan
segera, antara lain :
1. Angka komplikasi dan angka kematian ibu yang masih tinggi.
2. Pelayanan serta perawatan selama masa kehamilan dan persalinan masih belum
optimal.
3. Sistem rujukan dan penanganan kegawatdaruratan obstetric yang masih sering
tertunda karena beberapa faktor.
4. Status kesehatan reproduksi dan akses pelayanan KB masih kurang terpenuhi dan
kurang terjangkau oleh sebagian wanita.
5. Resiko terjangkitnya IMS dan HIV dan AIDS meningkat baik pada wanita
maupun pria.

Adapun indikator kesehatan reproduksi meliputi :


Data Populasi Dasar
a. Total penduduk
b. Jumlah ibu hamil
c. Jumlah wanita usia subur
d. Jumlah ibu bersalin
e. Jumlah pria usia subur
f. Jumlah ibu menyusui
Kesehatan Ibu dan Anak
a. Angka kematian ibu.
b. Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih.
c. Angka kematian bayi.
d. Proporsi penanganan kasus komplikasi obstetri terhadap persalinan total.
Indikator lain :
a. Angka kelahiran kasar.
b. Cakupan perawatan postpartum.
c. Angka lahir mati.
d. Insidens komplikasi kebidanan.
e. Cakupan pelayanan Ante Natal Care/ANC K1 dan K4.
f. Insidens aborsi tidak aman dan spontan.
Keluarga Berencana
a. Unmet Need (Kebutuhan yang tidak terpenuhi) KB.
b. Cakupan pelayanan KB CPR/Contraceptive Prevalence Rate.
c. Persentase kegagalan dan komplikasi pemakaian kontrasepsi.
d. Persentase dari tiap jenis kontrasepsi yang digunakan.
Pencegahan dan Penanggulangan IMS, termasuk HIV dan AIDS :
a. Insidens kasus IMS
b. Insidens kasus HIV dan AIDS
GBV (Kekerasan Berbasis Jender)
Insidens kasus GBV (Kekerasan Berbasis Jender)
IX. Logistik RH Kit Untuk Situasi Darurat
A. LOGISTIK RH KIT UNTUK SITUASI DARURAT
Kelompok Kerja antar lembaga (IAWG) untuk RH dalam situasi pengungsian
1. Paket Pelayanan Awal Minimum (PPAM)
2. Manual lapangan antar lembaga dan pedoman lain
3. RH Kit untuk situasi darurat
RH kits untuk situasi darurat
a. Blok 1 (kit 0 sampai 5)
Layanan kesehatan primer/tingkat puskesmas

10 000 penduduk untuk 3 bulan


b. Blok 2 (Kit 6 sampai 10)
Tingkat puskesmas atau rujukan
30 000 orang untuk 3 bulan
c. Blok 3 (kit 11 dan 12)
Tingkat rujukan
150
0 orang untuk 3 bulan
Populasi Standard
a.
b.
c.

d.
e.
f.
g.
h.

Pria dewasa 20%


Wanita usia subur (WUS) 25%
Angka kelahiran kasar 4%
Jumlah ibu hamil
Jumlah persalinan
Aborsi/kehamilan dengan komplikasi 20%
Robekan vagina/persalinan 15%
Operasi sesar/persalinan 5%
WUS korban perkosaan 2%
WUS yg memakai kontrasepsi 15%
Kontrasepsi oral 30%
Suntikan 65%
IUD 5%

RHs kit untuk situasi darurat


Blok 1
Tingkat layanan kesehatan primer/puskesmas
10 000 orang untuk 3 bulan

Sub-kit
0
1 A& B
2 A& B
3A
3B

- Training & administrasi


- Kondom(pria & wanita)
- Persalinan bersih(individu & pendamping)
- Pasca perkosaan (Kondar & pencegahan IMS)
- Pasca perkosaan (PEP)

- Kontrasepsi oral & suntik

- Pengobatan IMS

Kit 3: Kit pengobatan korban pasca perkosaan

RH kits untuk situasi darurat


Blok 2
Tingkat puskesmas atau rujukan
30 000 orang untuk 3 bulan
Sub-kit
6

- Persalinan (fasilitas kesehatan)

- Pemasangan IUD

- Penanganan kpmplikasi aborsi

- Penjahitan robekan serviks dan vagina

10

- Ekstraksi vakum

Kit 6: Persalinan klinis (Fasilitas Kesehatan)

Kit 10: Ekstraksi vakum untuk persalinan (Manual)

RH kit
Blok 3
Tingkat rujukan
150 000 orang untuk 3 bulan
Sub -kit

11 A

- Bedah (alat pakai ulang)

11 B

- Bedah (bahan & obat habis pakai)

12

- Blood transfusion (HIV testing)

Kit 12: Blood Transfusion

Hygiene kit
a. Tidak ada kit umum
b. Untuk wanita:
1) Supply pembalut untuk 3 bulan
2) Celana dalam ( 3 besar)
3) Sabun, sabun bubuk, pasta gigi, sikat gigi, aspirin
4) Ember untuk mencuci
5) Apalagi? Tanya!
c. Untuk pria
1) Alat cukur, sabun, sikat gigi, pasta gigi
2) Kondom
3) Apalagi? Tanya
RH kit untuk situasi darurat
Isue logistik local
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Ijin beacukai
Memantau rantai dingin (bila perlu)
Rencana distribusi dalam negeri
Transport dalam negeri
Gudang dalam negeri
Koordinasi dengan partner lokal (Depkes, LSM dan badan PBB lain)

RH Kit di bandara Sri Lanka

Rencana distribusi

Transportasi dalam negeri

Transportasi dalam negeri


RH kit untuk kondisi darurat
Siapa melakukan apa?

1)
2)
3)
4)
5)

Tentukan kebutuhan dan membuat rencana distribusi


Kontak UNFPA Country Office atau HQ (HRU atau PSS)
Pendanaan: Dana NGO sendiri, Flash, CERF, CAP
UNFPA - HRU dapat membantu dalam menentukan kebutuhan
Layanan pengadaan UNFPA (PSS): membuat invoice performa, menghubungi

agen pengiriman, buatlah perjanjian pengiriman


6) Supplies akan dikirim dalam waktu 48 jam

Blok 1
Kit

Isi

Kode

Jumlah

Kit 0

Kit Administrasi

Warna
Oranye

Boks
1

Kit 1

Kondom

Merah

3) Kondom Pria

4) Kondom Wanita

Keterangan

Kit 2

Kit 3

Persalinan Bersih

Biru Tua

a. Individual

4/unit

b. Penolong Perasalinan

Kit Pengelolaan Perkosaan

Merah

50/box

1 unit/box

Jambu
Kit 4

Kit Alat Kontrasepsi Oral Putih

dan Injeksi
Kit 5

Kit Pengelolaan IMS

Turquoise/

Biru
Kehijauan
Blok 2
Kit
Kit 6

Isi
Kit

Kode
Persalinan

Warna
Klinis Coklat

Jumlah

Keterangan

Boks
6/unit

5/6 (disimpan

(dengan sterilisator)

disuhu dingin)

Kit 7

IUD Kit

Kit 8

Pengelolaan abortus dan Kuning

Kit 9

Hitam

1
2/unit

(disimpan

(tanpa sterilisator)

disuhu dingin)

Pengelolaan robekan jalan Ungu


dan
pervagina

Blok 3

cool

komplikasi pasca abortus

lahir (cerviks dan vagina)

Kit 10

2/2

pemerikasaan
(tanpa

sterilisator)
Kit vakum ekstraktor

Abu-abu

Kit
Kit 11

Isi
Kit

Kode
rujukan

Warna
kesehatan Hijau

reproduksi

Jumlah

Keterangan

Boks

terang

e. Pakai ulang

f. Obat-obatan dan alat

34

habis pakai

34/34
(disimpan
disuhu dingin)

Kit 12

Kit Transfusi Darah

Hijau Tua

2/2 (disimpan
disuhu dingin)

DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.com/#hl=id&sclient=....&fp=(71c554c366bfo45&biw.=1366&bih=635
www.kesehatanibudepkes.go.id/wp-content/plugins/.../download.php?id
Depkes RI dan UNFPA Pedoman praktis kesehatan reproduksi pada penanggulanagn bencana
di indonesia, 2008
Factsheet Direktorat Bina Kesehatan Ibu Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak,
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
http://misp.rhrc.org/pdf/ba/d.pdf, di akses pada tanggal 23 April 2013
http://www.dinkes.palembang.go.id, di akses pada tanggal 23 April 2013
Sumber: Womens Commission for Refugee Women and Children [Komisi Wanita untuk
Pengungsi Wanita dan Anak-Anak] (Komisi Wanita): Paket Layanan Awal Minimum (MISP)
untuk Kesehatan Reproduksi dalamSituasi Krisis, Tanggal Publikasi: September 2006
Direvisi: November 2007, Konsep, Desain & Produksi:Green Communication Design inc.
www.greencom.ca