Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tiroidektomi merupakan sebuah operasi yang melibatkan operasi pemindahan semua atau
sebagian dari kelenjar tiroid (Wikipedia). Dilakukan telaah retrospektif terhadap semua operasi
tiroid yang dilakukan oleh residen bedah RSUD. Dr. Soetomo Surabaya selama 5 tahun (Januari
2000 s/d Desember 2005). Dalam periode tersebut didapatkan 762 penderita (106 pendrita lakilaki dan 656 penderita perempuan) berusia antara 5-85 tahun.
Indikasi opersai yang paling banyak adalah kosmetik, selanjutnya disusul dengan keganasan,
penekanan dari hipertiroid. Macam tindakan operasi yang dilakukan Wall 470 lobektomi sub
total, 164 tiroidektomi sub total, 88 tiroidektomi total, 11 tiroidektomi hampir total dan 9
lobektomi total.
Dalam persiapan untuk tiroidektomi, seorang dokter akan malakukan tindakan fisik secara
lengkap dan mengambil riwayat kesehatan yang komprehensif. Seperti KG, X-ray dada dan tes
jantung lainnya dapat dilakukan terutama pada pasien di atas usia 45 tahun atau orang-orang
yang mempunyai riwayat penyakit jantung (Reksa Prawiro, 2002)
Semua hal tentang tiroidektomi akan dibahas lebih luas dalam makalah ini, termasuk tentang
asuhan keperawatan tiroidektomi.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1

Bagaimana anatomi fisiologi tentang kelenjar tiroid ?

1.2.2

Apa pengertian dari tiroidektomi ?

1.2.3

Apasaja indikasi dilakukannya tiroidektomi ?

1.2.4

Bagaimana patofisiologi dari tiroidektomi ?

1.2.5

Bagaimana manifestasi klinisnya dari tiroidektomi ?

1.2.6

Apasaja klasifikasi dari tiroidektomi ?

1.2.7

Apa komplikasi dari tirodektomi ?

1.2.8

Bagaimana penatalaksanaan dari tiroidektomi ?

1.2.9

Bagaimana pendidikan kesehatan yang diberikan ?

1.2.10 Bagaimana proses asuhan keperawatan dari tiroidektomi ?

1.3 Tujuan
1.3.1

Untuk mengetahui anatomi fisiologi dari tiroidektomi.

1.3.2

Untuk mengetahui pengertian tentang tiroidektomi.

1.3.3

Untuk mengetahui apa saja indikasi dilakukannya tiroidektomi.

1.3.4

Untuk mengetahui bagaimana patofisiologi dari tiroidektomi

1.3.5

Untuk mengetahui manifestasi klinis dari tiroidektomi.

1.3.6

Untuk mengetahui klasifikasi dari tiroidektomi.

1.3.7

Untuk mengetahui komplikasi dari tiroidektomi.

1.3.8

Untuk mengetahui penatalaksanaan dalam tiroidektomi.

1.3.9

Untuk mengetahui pendidikan kesehatan yang dapat diberikan.

1.3.10 Untuk mengetahui proses asuhan keperawatan dari tiroidektomi.

BAB II

TINJUAN TEORI
2.2 Anatomi Fisiologi
2.2.1 Letak
Kelenjar thyroid berada di bagian anterior leher, di sebelah ventral bagian caudal
larynx dan bagian cranial trachea, terletak berhadapan dengan vertebra C 5-7 dan vertebra Th 1.
Kedua lobus bersama-sama dengan isthmus memberi bentuk huruf U. Ditutupi oleh m.
sternohyoideus dan m.sternothyroideus. Ujung cranial lobus mencapai linea obliqua cartilaginis
thyreoideae, ujung inferior meluas sampai cincin trachea 5-6. Isthmus difiksasi pada cincin
trachea 2,3 dan 4. Kelenjar thyroid juga difiksasi pada trachea dan pada tepi cranial cartilago
cricoidea oleh penebalan fascia pretrachealis yang dinamakan ligament of Berry. Fiksasi-fiksasi
tersebut menyebabkan kelenjar thyroid ikut bergerak pada saat proses menelan berlangsung.
2.2.2 Topografi
Topografi kelenjar thyroid adalah sebagai berikut:
a.

Di sebelah anterior terdapat m. infrahyoideus, yaitu m. sternohyoideus, m. sternothyroideus, m.

b.

thyrohyoideus dan m. omohyoideus.


Di sebelah medial terdapat larynx, pharynx, trachea dan oesophagus, lebih ke bagian profunda
terdapat nervus laryngeus superior ramus externus dan di antara oesophagus dan trachea berjalan
nervus laryngeus recurrens. Nervus laryngeus superior dan nervus laryngeus recurrens
merupakan percabangan dari nervus vagus. Pada regio colli, nervus vagus mempercabangkan
ramus meningealis, ramus auricularis, ramus pharyngealis, nervus laryngeus superior, ramus
cardiacus superior, ramus cardiacus inferior, nervus laryngeus reccurens dan ramus untuk sinus

c.

caroticus dan carotid body.


Di sebelah postero-lateral terletak carotid sheath yang membungkus a. caroticus communis, a.
caroticus internus, vena jugularis interna dan nervus vagus. Carotid sheath terbentuk dari fascia
colli media, berbentuk lembaran pada sisi arteri dan menjadi tipis pada sisi vena jugularis
interna. Carotid sheath mengadakan perlekatan pada tepi foramen caroticum, meluas ke caudal
mencapai arcus aortae. Fascia colli media juga membentuk fascia pretrachealis yang berada di
bagian profunda otot-otot infrahyoideus. Pada tepi kelenjar thyroid, fascia itu terbelah dua dan
membungkus kelenjar thyroid tetapi tidak melekat pada kelenjar tersebut, kecuali pada bagian di
antara isthmus dan cincin trachea 2, 3 dan 4.8

2.2.3 Vaskulerisasi

Kelenjar thyroid memperoleh darah dari arteri thyroidea superior, arteri thyroidea
inferior dan kadang-kadang arteri thyroidea ima (kira-kira 3 %). Pembuluh darah tersebut
terletak

antara

kapsula

fibrosa

dan

fascia

pretrachealis.

Arteri thyroidea superior merupakan cabang pertama arteri caroticus eksterna, melintas turun ke
kutub atas masing-masing lobus kelenjar thyroid, menembus fascia pretrachealis dan membentuk
ramus glandularis anterior dan ramus glandularis posterior.
Arteri thyroidea inferior merupakan cabang truncus thyrocervicalis, melintas ke
superomedial di belakang caroted sheath dan mencapai aspek posterior kelenjar thyroid. Truncus
thyrocervicalis merupakan salah satu percabangan dari arteri subclavia. Arteri thyroidea inferior
terpecah menjadi cabang-cabang yang menembus fascia pretrachealis dan memasok darah ke
kutub bawah kelenjar thyroid.
Arteri thyroidea ima biasanya dipercabangkan oleh truncus brachiocephalicus atau
langsung dipercabangkan dari arcus aortae. Tiga pasang vena thyroidea menyalurkan darah dari
pleksus vena pada permukaan anterior kelenjar thyroid dan trachea. Vena thyroidea superior
menyalurkan darah dari kutub atas, vena thyroidea media menyalurkan darah dari bagian tengah
kedua lobus dan vena thyroidea inferior menyalurkan darah dari kutub bawah. Vena thyroidea
superior dan vena thyroidea media bermuara ke dalam vena jugularis interna, dan vena thyroidea
inferior bermuara ke dalam vena brachiocephalica.

2.2 Definisi
Menurut Kamus Keperawatan Dinamika (2013) Tiroidektomi adalah operasi untuk
mengangkat sebagian dan seluruh kelenjar tiroid. Tiroidektomi adalah sebuah operasi yang
melibatkan operasi pemindahan semua atau sebagian dari kelenjar tiroid. (Rumahorbo, 1999)
2.3 Indikasi
1. Klien dengan karsinoma tiroid
2. Klien dengan gondok

3. Klien dengan hipertiroidisme


4. Klien dengan hiperparatiroidisme
(Rumahorbo, 1999)
2.4 Patofisiologi
Indikasi dilakukan tindakan tiroidektomi adalah gondok, hipertiroidisme, kanker tiroid,
hiperparatiroidisme. Tindakan pembedahan yang dilakukan adalah membuat sayatan dileher
bagian depan atau bagian kelenjar tiroid dihilangkan. Dalam membuat sayatan harus berhati-hati
untuk menghindari kerusakan saraf di sekitarnya atau pembuluh darah di leher. Apabila terjadi
kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan pendarahan udem laringeal yang akan
meningkatkan terjadinya resiko tinggi penurunan curah jantung. Selain itu pernafasan menjadi
stidor, obstruksi jalan nafas yang akhirnya mambuat pembersihan jalan napas tidak efektif. Nyeri
dapat terjadi dari edema jaringan yang disebabkan karena terputusnya saraf simpatis dari
kerusakan jaringan yang terjadi akibat tindakan tiroidektomi. Dari insisi yang dilakukan pada
tindakan ini akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit. Kurangnya pengetahuan pasien dan
keluarga dapat terjadi karena kurangnya informasi dalam perawatan luka setelah tindakan
pembedahan dilakukan. Seseorang yang telah melakukan tiroidektomi akan mengalami
hambatan dalam berkomunukasi karena terjadi kerusakan pada langireal yang menyebabkan
perubahan tekanan atau penyaringan suara, suara menjadi lemah, ketidakmampuan untuk
berbicara. Resiko cedera dapat terjadi akibat gangguan produksi hormon yang menurun. Tucker
(1998), Doengoes (2000:720), Tamboyang (2000).

2.5 Manifestasi Klinis


Manifestasi klinis dari tiroidektomi adalah suara serak, lemah, perdarahan, tempat insisi
kemerahan, sesak tenggorokan, pernafasan stidor, sianosis.
2.6 Klasifikasi
1. Tiroidektomi Subtotal
Tiroidektomi subtotal yaitu mengangkat sebagian kelenjar tiroid. Lobus kiri atau kanan
yang mengalami pembesaran diangkat dan diharapkan kelenjar yang masih tersisa masih dapat
memenuhi kebutuhan tubuh akan hormone-hormon tiroid sehingga tidak diperlukan terapi
penggantian hormon (Rumahorbo,1999).
2. Tiroidektomi Total

Tiroidektomi total yaitu mengangkat seluruh kelenjar tiroid. Klien yang menjalani
tindakan ini harus mendapat terapi hormone pengganti yang besar dosisnya beragam pada setiap
individu dan dapat dipengaruhi oleh usia, pekerjaan, dan aktifitas (Rumahorbo,1999).
2.7 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi dari tiroidektomi adalah pembekakan atau pendarahan, serak
atau suara lemah, kerusakan pada kelenjar paratiroid, hipokalsemia, distangia, hipertiroidisme,
hipoparatiroid, keloid. (Rumahorbo,1999).
2.8 Penatalaksanaan
1. Perawatan Pre Operasi
a. Sebelum tindakan operasi, kadar hormone tiroid harus diupayakan dalam keadaan noemal untuk
b.

mencegah tirotoksikosis pada saat operasi yang dapat mengancam hidup klien.
Pemberian obat antitiiroid masih tetap dipertahankan disamping menurunkan kadar hormone
darah juga dimaksudkan untuk mencegah perdarahan pada saat operasi karena obat ini

c.

mempunyai efek mengurangi vaskularisasi darah ke kelenjar tiroid.


Kondisi nutrisi harus optimal oleh karena itu diet tinggi protein dan karbohidrat sangat

dianjurkan.
d. Latih klien batuk secara efektif dan latih nafas dalam.
e. Ajarkan cara mengurangi peregangan pada luka operasi akibat rangsangan batuk dengan menahan
dibawah insisi dengan kedua tangan.
f. Beritahukan klien kemungkinan suara menjadi serak setelah operasi akibat penggunaan ETT pada
saat operasi. Jelaskan bahwa itu adalah hal yang wajar dan dapat kembali seperti semula.
(Rumahorbo, 1999)
2. Perawatan Post Operasi
a. Monitor tanda-tanda vital setiap 15 menit sampai stabil dan kemudian setiap 30 menit selama 6
jam.
b. Gunakan bantal atau bantal tambahan untuk menahan posisi kepala tetap ekstensi sampai klien
sadar penuh.
c. Bila klien sudah sadar, berikan posisi semifowler. Apabila memindahkan klien hindarkan
d.
e.
f.
g.

penekanan pada daerah insisi.


Berikan obat analgetik sesuai program terapi.
Bantu klien batuk dan nafas dalam setiap 30 menit sampai 1 jam.
Gunakan pengisap oral atau trakea sesuai kebutuhan.
Monitor komplikasi antara lain :
1). Perdarahan
2). Distress pernafasan

3). Hipokalsemi akibat pengangkatan paratiroid yang ditandai dengan tetani


4). Kerusakan saraf laryngeal (Rumahorbo, 1999)
2.9 Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan diberikan baik kepada klien maupun keluarganya mencakup :
1. Pemberian obat-obatan. Konsistensi waktu sangat perlu diperhatikan.
2. Gunakan kipas angin atau ruangan ber-AC agar klien dapat beristirahat.
3. Dapat terjadi alergi pada penggunaan PTU berupa kulit kemerahan dan timbul gatal-gatal.
4. Pada klien dengan tiroidektomi total atau pada penggunaan obat antitiroid, jelaskan tanda
hipotiroidisme dan hipertiroidisme.
5. Jelaskan pada keluarga penyebab emosi yang labil pada klien dan bantu mereka untuk dapat
menerima dan mengadaptasinya.
6. Anjurkan untuk follow up secara teratur ke tempat pelayanan terdekat. (Rumahorbo, 1999)

BAB III
PROSES ASUHAN KEPERAWATAN
4.1 Pengkajian
Pengkajian secara pasien bedah saat kembali ke unit terdiri atas :
1. Respirasi
a. Kepatenan jalan napas
b. Kedalaman
c. Frekuensi
d. Bunyi napas
2. Sirkulasi
a. Tanda tanda vital , suhu, nadi
b. Kondisi kulit : dingin, basah
c. Sianosis
3. Neurologi
a. Tingkat respon
b. Neurosensory
c. Fungsi bicara
d. Kualitas dan tonasi
4. Drainase
a. Mengantisipasi perdarahan :
Perhatikan cairan drainase yang keluar khususnya 24 jam pertama pasca operasi.
b. Inspeksi balutan luka
5. Kenyamanan
a. Tipe nyeri dan lokasi
b. Mual dan muntah
c. Perubahan posisi yang dibutuhkan

6.
a.
7.
a.

Keselamatan
Kebutuhan akan pagar tempat tidur
Peralatan
Diperiksa untuk fungsi yang baik

4.2 Pathway

4.3 Diagnosa Keperawatan


1. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan obstruksi akibat perdarahan atau edema
2.
3.
4.
5.

daerah insisi; kerusakan saraf laring, terangkatnya kelenjar paratiroid.


Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan perdarahan postoperasi.
Nyeri berhubungan dengan insisi pada kelenjar tiroid.
Resiko cedera berhubungan dengan penurunan produksi hormon.
Gangguan Komunikasi verbal berhubungan perubahan tekanan suara

6.
7.
4.4
1.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat dalam perawatan luka
Kerusakan Integritas kulit berhubungan dengan luka insisi
Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1 : Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan obstruksi akibat perdarahan

a.
1)
2)
3)
b.
1)
2)

atau edema daerah insisi; kerusakan saraf laring, terangkatnya kelenjar paratiroid.
Tujuan :
Paru-paru mengembang optimal
Pola pernafasan kembali normal
Dapat berbicara seperti sebelum sakit
Kriteria hasil :
Mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan bunyi nafas jelas/bersih
Menunjukkan status pernapasan : ventilasi tidak terganggu, ditandai dengan indicator sebagai
berikut : kedalaman inspirasi dan kemudahan bernafas, ekspansi dada simetris, tidak ada
penggunaan otot bantu, bunyi nafas tambahan tidak ada, nafas pendek tidak ada. (Doengoes,

1999)
c. Intervensi :
1) Pantau tanda-tanda distress pernafasan, sianosis, takipnea, dan nafas berbunyi.
2) Periksa balutan luka setiap 1 jam selama periode pertama postoperasi kemudian dilakukan setiap
4 jam.
3) Periksa sensasi disekitar area insisi.
4) Pertahankan posisi semifowler.
5) Gunakan kirbat es untuk mengurangi edema didaerah sekitar insisi (ingat jangan sampai
6)
7)
8)
9)
2.

mengenai luka atau balutan).


Kaji kualitas suara klien setiap 2 jam, catat perubahan intonasi.
Kaji adanya tanda Chvosteks dan tanda Trousseau.
Identifikasi kemungkinan adanya hilang rasa dan kesemutan pada ekstremitas.
Siapkan suction set, trakeostomi dan ETT set disamping tempat tidur klien
Diagnosa 2 : Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan perdarahan

a.
1)
2)
b.
1)
2)
c.
1)
2)

postoperasi
Tujuan
Orientasi dan kesadaran klien baik
Tanda-tanda vital dalam batas normal
Kriteria hasil:
Menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal pasien
Mendemonstrasikan peningkatan toleransi aktifitas (Doengoes, 1999)
Intervensi :
Identifikasi tanda perubahan fungsi kardiovaskuler
Pantau tanda vital setiap 15 menit pada periode pertama pasca operasi dan selanjutnya setiap 1-4

jam.
3) Pantau irama jantung, catat adanya takikardi dan ketidakteraturan irama jantung.
4) Periksa balutan terhadap kemungkinan perdarahan, periksa dari depan ke belakang
5) Identifikasi perubahan kesadaran dan orientasi klien

6) Berikan obat-obatan sesuai program


3. Diagnosa 3 : Nyeri berhubungan dengan insisi pada kelenjar tiroid.
a. Tujuan :
Klien mengalami nyeri yang minimal.
b. Kriteria hasil :
1) Melaporkan/menunjukkan nyeri hilang/terkontrol
2) Menunjukkan nyeri hilang/ketidaknyamanan dengan menurunnya tegangan dan rileks,
c.
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

tidur/istirahat dengan tepat (Doengoes, 1999)


Intervensi :
Kaji tingkat nyeri dengan menggunakan skala penilaian nyeri.
Bantu klien dalam mempertahankan posisi kepala dan leher dengan benar.
Klien dengan posisi semifowler dengan meletakkan bantal pasir dibawah leher.
Ajarkan klien cara menopang leher dan kepala saat merubah posisi.
Berikan obat analgesic sesuai program.
Pantau respon klien terhadap pengobatan
Tempatkan bel pemanggil di sisi klien agar mudah digunakan.
Pertahankan lingkungan yang tenang, kurangi stressor.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Tiroidektomi adalah operasi untuk mengangkat sebagian dan seluruh kelenjar tiroid.
Tiroidektomi dapat dilakukan pada klien dengan hipertiroidisme, hiperparatiroidisme, ataupun
kepada pasien dengan adanya ca. tiroid ataupun gondok yang menyerang kelenjar tiroidnya.
Tanda dan gejala yang dapat ditimbulkan dari tiroidektomi adalah suara serak, perdarahan dan
luka akibat adanya tindakan insisi, selain itu penurunan produksi hormone juga dapat terjadi
sehingga dapat menyebabkan manusia yang terganggu tersebut memiliki resiko cedera. Tindakan
tiroidektomi juga dapat menyebabkan komplikasi penyakit yang dapat timbulkan, yakni
perdarahan , hipokalsemia, distangia. Sehingga agar tidak timbul komplikasi tersebut ada
perawatan yang harus dilakukan saat melakukan tindakan tiroidektomi, yakni perawatan
preoperasidan perawatan postoperasi. Dari tanda dan gejala yang ditimbulkan banyak diagnose
keperawatan yang dapat diangkat dalam kasus pembuatan asuhan keperawatan tiroidektomi,
yakni bersihan jalan nafas tidak efektif, resiko tinggi penurunan curah jantung, gangguan rasa
nyaman nyeri, kerusakan integritas kulit, gangguan komunikasi verbal, dan lain sebagainya.
4.2 Saran
Dari segala uraian yang telah diberikan, penulis berharap mahasiswa / mahasiswi lebih
memahami tentang tiroidektomi, termasuk dalam pembuatan asuhan keperawatannya. Sehingga
pada nantinya, mahasiswa / mahasiswi dapat mengimplementasikan dalam lapangan secara baik
dan benar.
DAFTAR PUSTAKA

http://fayldestu.blogspot.com/2010/04/askep-tiroidektomi.html
http://shintaindaharininindyanto.blogspot.com/2010/12/tiroidektomi.html
http://vialingluing.blogspot.com/2012/01/pulau-jeju-is-beautiful.html
http://fedri-hidayat.blogspot.com/2010/06/komplikasi-pada-tiroidektomi.html

https://sp1r1tgr4zy.wordpress.com/2013/04/page/2/
http://bijibintanghs.blogspot.com/2014/04/askep-tiroidektomi.html