Anda di halaman 1dari 14

ANATOMI

Sistem mata terbagi atas :


1. Rongga Orbita
2. Bola Mata
3. Adneksa yang terdiri atas kelopak mata dan sistem air mata (sistem lakrimal)

RONGGA ORBITA
Rongga orbita merupakan suatu rongga yang dibatasi dinding tulang dan berbentuk
seperti piramida berisi empat dengan puncak menuju ke arah foramen optik. Masing-masing
sisi tulang orbita berbentuk lengkung seperti buah peer (jambu) yang menguncup ke arah
apeks dan kanal optik. Dinding medial rongga orbita kanan berjalan kurang lebih sejajar
dengan dinding medial rongga orbita kiri dan berjarak sekitar 25 mm pada orang dewasa. Di
bagian belakang dari ronggaorbita terdapat tiga lubang :
-

Foramen optik yang merupkan ujung bagian orbita kanal optik memberikan jalan

kepada sarf optik,arteri oftalmik dan saraf simpatik


Fisura orbita superior yang dilalui oleh vena oftalmik, saraf-saraf untuk otot-otot mata

(N III, N IV, dan N VI) serta cabang pertama saraf trigeminal


Fisura orbita inferior yang dilalui cabang ke-II N V, saraf maksila serta arteri
infraorbita yang merupakan sensorik untuk daerah kelopak mata bawah, pipi, bibir
atas dan gigi bagian atas.

Sekitar tulang orbita didapatkan ruangan-ruangan seperti rongga hidung dan beberapa sius
yaitu sinus etmoid, sfenoid, frontal, dan maksila.
Isi rongga orbita terdiri atas bola mata dengan saraf optiknya, 6 otot penggerak bola mata,
kelenjar air mata, pembuluh darah cabang arteri oftalmik, saraf kranial III, IV, VI, lemak dan
fasia yang merupakan bantalan untuk bola mata.
Periosteum dinding rongga orbita (periorbita), berjalan dari tepi rongga orbita ke arah kedua
tarsus palpebra bersama dengan ligamen kantus lateral dan medial membentuk septum orbita
yang menutup lubang rongga orbita di bagian depan.
Kapsul Tenon merupakan suatu lapis fasia yang merupakan suatu lapis fasia yang
menyelubungi bola mata dari tepi kornea ke belakang memisahkan bola mata dengan lemak
orbita.

Arteri rongga orbita berasal dari arteri oftalmik sedang venanya masuk ke dalam vena
oftalmik yang melalui fisura orbita superior masuk ke dalam sinus kavernosa.
Saraf orbita bersifat motorik dan sensorik: saraf kranial III, IV dan VI adalah motorik dan
mempersarafi otot pergerakan bola mata.
Saraf sensorik adalah cabang pertama dan kedua saraf kranial V. Ganglion siliar terletak di
sebelah luar saraf optik, menerima serabut-serabut motorik saraf kranial III, sensorik saraf
kranial V dan serabut saraf simpatik.

BOLA MATA
Bola mata terdiri atas :
-

Dinding Bola Mata


Isi Bola Mata

1. Dinding Bola Mata


Dinding bola mata terdiri atas:
- Sklera
- Kornea
SKLERA
Sklera merupakan jaringan ikat kolagen, kenyal dan tebalnya kira-kira 1 mm. Di bagian
belakang bola mata saraf optik menembus sklera dan tempat tersebut disebut lamina
kribosa. Bagian luar sklera berwarna putih dan halus dilapisi oleh kapsul tenon dan di
bagian depan oleh konjungtiva. Di antara stroma sklera dan kapsul tenon terdapat
episklera. Bagian dalamnya berwarna coklat dan kasar dan dihubungkan dengan koroid
oleh filamen-filamen jaringan ikat yang berpigmen, yang merupakan dinding luar ruang
suprakoroid.

KORNEA
Dinding bola mata bagian depan ialah kornea yang merupakan jaringan yang jernih dan
bening, bentuknya hampir sebagain lingkaran dan sedikit lebih lebar pada arah transversal
(12mm) dibanding arah vertikal. Batas kornea dan sklera disebut limbus.
Tebal kornea (0,6-1,0)mm terdiri atas lima lapisan :
-

Epitel
Epitel kornea merupakan lapis paling luar kornea dan berbentuk epitel gepeng
berlapis tanpa tanduk. Bagian terbesar ujung saraf kornea berakhir pada epitel ini.
Setiap gangguan epitel akan memberikan gangguan sensibilitas kornea berupa rasa
sakit atau mengganjal. Daya regenerasi epitel cukup besar sehingga apabila terjadi

kerusakan, akan diperbaikan dalam beberapa hari tanpa membentuk jaringan parut.
Membran Bowman
Membran bowman yang terletak di bawah epitel merupakan suatu membran tipis
yang homogen terdiri atas susunan serat kolagen kuat yang mempertahankan bentuk
kornea. Bila terjadi kerusakan pada membran bowran maka akan berakhir dengan

terbentuknya jaringan parut.


Stroma
Merupakan lapisan yang paling tebal dari kornea dan terdiri atas jaringan kolagen
yang tersusun dalam lamel-lamel dan berjalan sejajar dengan permukaan kornea. Di
antara serat-serat kolagen ini terdapat matriks. Stroma bersifat higroskopis yang
menarik air dari bilik mata depan. Kadar air di dalam stroma kurang lebih 70%. Kadar
air dalam stroma relatif tetap yang diatur oleh fungsi pompa sel endotel dan
penguapan oleh epitel. Apabila fungsi sel endotel kurang baik maka akan terjadi
kelebihan kadar air sehingga timbul sembab kornea (edema kornea). Serat di dalam
stroma demikian teratur sehingga memberikan gambaran kornea yang transparan atau
jernih. Bila terjadi gangguan dari susunan serat di dalam stroma seperti edema kornea
dan sikatriks kornea akan mengakibatkan sinar yang melalui kornea terpecah dan

kornea terlihat keruh.


Membran Descemet
Merupakan suatu lapisan tipis yang bersifat kenyal, kuat, tidak berstruktur dan
bening; terletak di bawah stroma, lapisan ini merupakan pelindung atau barier infeksi

dan masuknya pembuluh darah.


Endotel
Terdiri atas satu lapis sel yang merupakan jaringan terpenting untuk mempertahankan
kejernihan kornea. Sel endotel adalah sel yang mengatur cairan di dalam stroma

kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi sehingga bila terjadi kerusakan,
endotel tidak akan normal lagi. Endotel dapat rusak atau terganggu fungsinya akibat
trauma bedah, penyakit intraokular. Usia lanjut akan mengakibatkan jumlah endotel
berkurang.
Kornea tidak mengandung pembuluh darah, jernih dan bening selain sebagai dinding, juga
berfungsi sebagai media penglihatan dipersarafi N V.
2. Isi Bola Mata
Isi bola mata terdiri atas lensa, uvea, badan kaca, dan retina.
-

Lensa
Merupakan badan yang bening, bikonveks dengan ketebalan sekitar 5 mm dan
berdiameter 9 mm pada orang dewasa. Permukaan lensa bagian posterior lebih
melengkung dibanding bagian anterior. Kedua permukaan tersebut bertemu pada tepi
lensa yang dinamakan ekuator. Lensa mempunyai kapsul yang bening dan pada
ekuator difiksasi oleh zonula zinn pada badan siliar. Lensa pada orang dewasa terdiri
atas bagian inti(nukleus) dan bagian tepi (korteks). Nukleus lebih keras dibanding
korteks. Dengan bertambahnya umur, nukleus makin membesar sedang korteks makin
menipis, sheingga akhirnya seluruh lensa mempunyai konsistensi nukleus. Fungsi
lensa adalah untuk membias cahaya, sehingga difokuskan pada retina. Peningkatan

kekuatan pembiasan lensa disebut akomodasi.


Uvea
Walaupun dibicarakan sebagai isi, sesungguhnya uvea merupakan lapisan dinding
kedua dari bola mata setelah sklera dan tenon. Uvea merupakan jaringan yang lunak,
terdiri atas 3 bagian, yaitu iris, badan siliar, dan koroid. Iris merupakan membran yang
berwarna, berbentuk sirkular yang ditengahnya terdapat lubang yang dinamakan
pupil. Berfungsi mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk ke dalam mata. Iris
berpangkal pada badan siliar merupakan pemisah antara bilik mata depan dengan bilik
mata belakang. Permukaan depan iris warnanya sangat bervariasi dan mempunyai
lekukan-lekukan kecil terutama sekitar pupil yang disebut kripti.
Jaringan otot iris tersusun longgar dengan otot polos yang berjalan melingkari pupil
(sfringter pupil) dan radial tegak lurus pupil (dilatator pupil). Iris menipis didekat
perlekatannya di badan siliar dan menebal di dekat pupil. Pembuluh darah di
sekeliling pupil disebut sirkulus minor dan yang berada dekat badan siliar disebut

sirkulus mayor. Iris dipersarafi oleh nerus nasosiliar cabang dari saraf kranial III yang
bersifat simpatik untuk midriasis dan parasimpatik untuk miosis.
Badan siliar dimulai dari pangkal iris ke belakang sampai koroid terdiri atas otot-otot
siliar dan prosesus siliaris. Otot-otot siliaris berfungsi untuk akomodasi; jika otot-otot
ini berkontraksi ia menarik proses siliar dan koroid ke depan dan ke dalam,
mengendorkan zonula zinn sehingga lensa menjadi lebih cembung. Fungsi proses
siliar adalah suatu memproduksi cairan mata Humor Akuos. Koroid adalah suatu
membran yang berwarna coklat tua, yang terletak diantara sklera dan retina terbentang
dari ora serata sampai papil saraf optik. Koroid kaya pembuluh darah dan berfungsi
-

terutama memberi nutrisi kepada retina bagian luar.


Badan kaca
Mengisi sebagian besar bola mata di belakang lensa, tidak bewarna, bening dan
konsistensinya lunak. Bagian luar merupakan lapisan tipis (membran hialoid). Badan
kaca di tengah-tengah ditembus oleh suatu saluran yang berjalan dari papil saraf optik
ke arah kapsul belakang lensa yang disebut saluran hialoid yang dalam kehidupan
fetal berisi arteri hialoid. Struktur badan kaca tidak mempunyai pembuluh darah dan

menerima nutrisinya dari jaringan sekitarnya: koroid, badan siliar dan retina.
Retina
Adalah suatu membran yang tipis dan bening, terdiri atas penyebaran serabut-serabut
saraf optik letaknya antara badan kaca dan koroid. Bagian anterior berakhir pada ora
serata. Di bagian retina yang letaknya sesuai dengan sumbu penglihatan terdapat
makula lutea terdapat bercak mengkilat yang merupakan refleks fovea.
Kira-kira 3 mm ke arah nasal katub belakang bola mata terdapat daerah bulat putih
kemerah-merahan, disebut papil ekskavasi faali. Arteri retina sentral bersama venanya
masuk ke dalam bola mata di tengah papil saraf optik. Arteri retina merupakan
pembuluh darah terminal.
Retina yang mempunyai ketebalan sekitar 1 mm terdiri atas 10 lapisan :
o Membran limitan dalam, merupakan lapisan paling dalam.
o Lapisan serabut saraf, dalam lapisan ini terdapat cabang-cabang utama
o
o
o
o
o

pembuluh retina
Lapisan sel ganglion, merupakan suatu lapisan sel saraf bercabang
Lapisan pleksiform dalam
Lapisan nukleus dalam, terbentuk dari badan dan nukleus sel-sel bipolar
Lapisan pleksiform luar
Lapisan nukleus luar, terutama terdiri atas nuklei sel-sel visual atau sel kerucut

dan batang
o Membran limitan luar
o Lapisan batang dan kerucut, merupakan lapisan penangkap sinar
o Lapisan epitel pigmen

Sel batang lebih banyak dibanding sel kerucut, kecuali di daerah makula, dimana sel
kerucut lebuh banyak. Daerah papil saraf optik terutama terdiri atas serabut saraf
optik dan tidak mempunyai daya penglihatan (bintik buta)

Gerakan Bola Mata


Bola mata digerakan oleh enam otot yang disebut otot luar mata (ekstrinsik) terdiri atas empat
otot rektus dan dua otot oblik. Otot rektus terdiri atas otot rektus medial, rektus lateral, rektus
superior dan rektur inferior. Origonya adalah suatu tendon yang melingkari foramen optik
pada puncak orbita, yang disebut anulus zinn. Otot penggerak bola mata dari anulus zinn
menuju kemuka untuk bernserasi pada sklera. Tempat jarak insersinya dari limbus tidak
sama. Rektus medial 5 mm,rektus inferior 6 m, rektus lateral 7mm dan rektus superior 8 mm.
Origo otot oblik superior terletak pada anulus zinn di atas origo otot rektus superior. Otot
oblik ini menuju ke arah bagian nasal atas orbita, melalui troklea kemudian membelok ke
belakang, di bawah otot rektus superior selanjutnya berinserasi pada sklera di belakang
ekuator. Origo otot oblik inferior terletak pada dinding nasal orbita, menyilang bawah otot
rektus dan berinserasi pada sklera kwardan belakang lateral inferior bola mata di bawah otot
rektus lateral.

ADNEKSA
Kelopak Mata
Kelopak mata mempunyai fungsi :
-

Dalam keadaan menutup kelopak mata melindungi bola mata terhadap trauma dari

luar yang bersifat fisik atau kimiawi.


Dapat membuka diri untuk memberi jalan masuk sinar ke dalam bola mata yang

dibutuhkan untuk penglihatan.


Pembasahan dan pelicinan seluruh permukaan bola mata terjadi karena pemerataan air

mata dan sekresi berbagai kelenjar sebagai akibat gerakan buka tutup kelopak mata.
Kedipan kelopak mata sekaligus menyingkirkan debu yang terdapat pada permukaan
bola mata.

Dari luar ke dalam kelopak mata terdiri atas kulit, jaringan longgar, jaringan otot tarsus, fasia
dan paling dalam konjungtiva.
Membuka dan menutupnya kelopak mata dilaksanakan oleh otot tertentu dengan
persarafannya masing-masing. Menutup mata adalah pekerjaan otot orbikular yang
dipersarafi saraf fasial (N.VII). Otot kelopak mata berfungsi untuk mengedipkan mata.
Otot orbikular jalannya melingkari celah kelopak mata dan bagian yang letaknya di dalam
kelopak mata berfungsi untuk menutup mata. Membuka mata dikerjakan otot levator palpebra
yang dipersarafi saraf okulomotor (N.III). Otot ini menempel pada batas atas tarsus dan pada
kulit di bagian tengah kelopak mata atas. Di lapisan otot polos dengan insersi pada batas
proksimal tarsus.
Tarsus berperan sebagai kerangka kelopak mata, merupakan suatu keping jaringan tipis, tetapi
padat, tarsus pada kelopak mata atas lebih besar dibanding pada kelopak mata bawah. Di
dalam tarsus terdapat kelenjar meibom yang mengandung sekresi berlemak dan bermuara
pada margo palpebra.
Walaupun merupakan lapisan dalam kelopak mata, konjungtiva menduduki tempat yang agak
khusus, karena meluas dan juga melapisi bila mata bagian luar. Konjungtiva terdiri atas tiga
bagian, yaitu konjungtiva palpebra yang merupakan lapisan terdapat kelopak mata atas,
konjungtiva bulbi melapisi bola mata bagian luar dan forniks konjungtiva, yang merupakan
suatu lipatan peralihan konjungtiva palpebra ke konjungtiva bulbar.

SISTEM AIR MATA (LAKRIMAL)


Terbagi menjadi dua bagian: bagian sekresi yang memproduksi air mata yaitu kelenjar air
mata dan bagian eksresi yang memberi jalan kepada air mata kedalam rongga hidung.
Kelenjar air mata terletak di daerah supero-lateral rongga orbita. Sepanjang forniks terdapat
juga kelenjar-kelenjar yang sangat kecil, dinamakan kelenjar Krause. Bagian eksresi terdiri
atas pungtum lakrimal, kanakuli lakrimal, sakus lakrimal dan duktus nasolakrimal.

TRAUMA TUMPUL PADA MATA

DEFINISI
Trauma tumpul mata adalah trauma pada mata yang diakibatkan benda yang keras atau benda
yang tidak keras, dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan keras(kencang)
ataupun lambat.

EPIDEMIOLOGI
Trauma mata dapat menimbulkan keluhan nyeri dan dapat menyebabkan kehilangan
penglihatan. Dampak trauma mata dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar akibat
hilangnya penglihatan, hilangnya waktu kerja, dan kerugian dalam hal besarnya biaya yang
dikeluarkan.
Di Amerika Serikat dilaporkan kira-kira 2000 orang pekerja per hari mengalami trauma mata
yang berhubungan dengan pekerjaan dan membutuhkan pengobatan. Sepertiga dari kasus
trauma memerlukanpengobtan ke bagian gawat darurat rumah sakit, dan lebih dari 100 orang
diantara yang mengalami trauma kehilangan 1 atau lebih dari satu hari kerja. Benda asing di
dalam mata merupakan jenis yang paling sering terjadi 32 (80%) di antara trauma mata secara
keseluruhan yang diantaranya disebabkan oleh benda asing logam.
Trauma mata dapat menyebabkan kebutaan pada anak dan dewasa muda. Berdasarkan studi
Schein pada the Massachusetts eye and ear infirmary, 8% dari populasi yang mengalami
trauma tumpul pada mata cukup berat adalah anak dibawah usia 15 tahun. Studi Israel
menerangkan bahwa 47% dari 2500 kejadian trauma mata terjadi pada usia dibawah 17
tahun.

JENIS-JENIS TRAUMA TUMPUL PADA MATA


Trauma Orbita
Perdarahan Retrobulbar
Perdarahan pada retrobulbar sering disebabkan oleh trauma tumpul, dapat mengakibatkan
sindrom akut kompartemen orbita, suatu kedaruratan pada mata.
Sindrom kompartemen orbita dapat menyebabkan cairan diruang ketiga masuk kedalam orbit.
Gejala dan tanda pada sindrom ini adalah penglihatan berkurang, nyeri pada bagian mata,
sakit kepala, proptosis, peningkatan TIO (> 40 mmHg), kerusakan pupil, ophtalmoplegia, dan
perdarahan kemosis.
Selain dari gejala klinis, pemeriksaan penunjang untuk membuktikan sindrom kompartemen
dengan Ct scan.
Penatalaksanaan:
-

Kantotomi lateral dan kantolisis inferior.

Trauma pada Palpebra


Hematoma Palpebra
Merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit kelopak akibat pecahnya
pembuluh darah palpebra.
Biasanya disebabkan oleh pukulan tinju, atau benda-benda keras lainnya. Keadaan ini dapat
tidak berbahaya ataupun sangat berbahaya karena mungkin ada kelainan lain dibelakangnya.
Dapat menyebabkan terbentuknya hematoma kaca mata, yaitu bila perdarahan terletak lebih
dalam dan mengenai kedua kelopak dan berbentu kacamata dan menunjukkan keadaan gawat.
Hematoma kacamata ini terjadi akibat pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda
fraktur basis kranii, sehingga menyebabkan darah masuk ke dalam kedua rongga orbita
melalui fisura orbita, darah tidak dapat menjalar lanjut karena dibatasi septum orbita kelopak
mata akan berbentuk gambaran hitam pada kelopak seperti sedang memakai kacamata.

Pemeriksaan pada trauma kelopak mata harus dilakukan secara teliti mengenai luas dan
dalamnya lesi (luka), karena lesi yang tampaknya kecil di kelopak mata kemungkinan disertai
suatu lesi yang luas di dalam rongga orbita bahkan sampai ke dalam bola mata.
Penatalaksanaan:
-

Kompres dingin untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi rasa sakit


Bila perdarahan telah lama: untuk memudahkan absorpsi darah dapat dilakukan
kompres air hangat pada kelopak mata.

Edema Konjungtiva
Jaringan Konjungtiva yang bersifat selaput lender dapat menjadi kemotik pada setiap
kelainannya. Bila kelopak terpajan ke dunia luar dan konjungtiva secara langsung kena angin
tanpa dapat mengedip, sehingga mengakibatkan edema pada konjungtiva.
Keadaan ini tidak menyebabkan gangguan penglihatan. Epitel konjungtiva mudah mengalami
regenerasi sehingga luka pada konjungtiva penyembuhannya cepat.
Penatalaksanaan:
-

Diberikan kongestan untuk mencegah pembendungan cairan di dalam selaput lender

konjungtiva.
Pada kemotik konjungtiva berat dapat dilakukan insisi dehingga cairan konjungtiva
kemotik keluar melalui insisi tersebut.

Hematoma Subkonjungtiva

Hematoma subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada atau
di bawah konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera. Pecehnya pembuluh
darah ini dapat akibat batuk rejan, trauma tumpul basis kranii (hematoma kaca mata), atau
pada keadaan pembuluh darah yang rentan dan mudah pecah (seperti pada usis lanjut,
hipertensi, arteriosklerosis, konjungtivitis, anemia, dan obat-obatan).
Pemeriksaan funduskopi perlu dilakukan pada setiap penderita dengan perdarahan
subkonjungtiva akibat trauma.
Penatalaksanaan:
-

Dini dengan kompres air hangat


Perdarahan subkonjungtiva akan hilang atau diabsorpsi dalam 1-2 minggu tanpa
diobati. Lama kelamaan perdarahan ini mengalami perubahan warna menjadi
membiru, menipis.

Trauma pada Kornea


Edema Kornea
Edema pada kornea akan memberikan keluhan penglihatan kabur dan terlihatnya pelangi
sekitar bola lampu atau sumber cahaya yang dilihat. Kornea akan terlihat keruh, dengan uji
plasido yang positif.
Edema kornea yang berat dapat mengakibatkan masuknya serbukan sel radang dan
neovaskularisasi ke dalam jaringan stroma kornea.
Penatalaksanaan:

Larutan hipertonik seperti NaCl 5% atau larutan garam hipertonik 2-8%, glukosa 40%

dan larutan albumin.


Bila terdapat peninggian tekanan bola mata maka diberikan asetazolamida
Pengobatan untuk menghilangkan rasa sakit dan memperbaiki tajam penglihatan
dengan lensa kontak lembek dan mungkin akibat kerjanya menekan kornea terjadi
pengurangan edema kornea.

Erosi Kornea
Merupakan keadaan terkelupasnya epitel kornea yang dapat diakibatkan oleh gesekan keras
pada epitel kornea. Erosi dapat terjadi tanpa cedera pada membrane basal. Dalam waktu
yang pendek epitel sekitarnya dapat bermigrasi dengan cepat dan menutupi defek epitel
tersebut.
Keluhan yang dapat ditimbulkan sperti:
-

Sakit sekali
Mata berair
Lakrimasi
Fotofobia
Penglihatan akan terganggu.

Pada pemeriksaan akan tampak suatu defek epitel kornea yang bila diberi pewarnaan
fluoresein akan berwarna hijau.
Penatalaksanaan:
-

Anestesi topical dapat diberikan untuk memeriksa tajam penglihatan dan

menghilangkan rasa sakit.


Epitel yang terkelupas atau terlipat sebaiknya dilepas atau dikupas.
Untuk mencegah infeksi bakteri diberikan antibiotika seperti antibiotika spectrum luas

Neosporin, kloramfenikol, sulfasetamid tetes mata.


Akibat rangsangan yang mengakibatkan spasme siliar maka diberikan siklopegik aksi

pendek seperti tropikamida.


Dibebat tekan selama 24 jam, erosi yang kecil biasanya akan tertutup kembali setelah
48 jam.

Erosi Kornea Rekuren


Biasanya tejadi akibat cedera yang merusak membrane basal atau tukak metaherpetik. Epitel
yang menutupi kornea akan mudah lepas kembali diwaktu bangun pagi.

Terjadi erosi kornea berulang akibat epitel tidak dapat bertahan pada defek epitel kornea.
Sulitnya epitel menutupi kornea diakibatkan oleh terjadinya pelepasan membrane basal epitel
kornea. Biasanya membrane basal yang rusak akan kembali normal setelah 6 minggu.
Penatalaksanaan:
-

Siklopegik untuk menghilangkan rasa sakit ataupun mengurangi gejala radang uvea

yang mungkin timbul.


Antibiotic diberikan dalam bentuk tetes dan mata ditutup untuk mempercepat tumbuh

epitel baru dan mencegah infeksi sekunder.


Pemakaian lensa kontak lembek pada pasien dengan eoris rekuran sangat bermanfaat,
karena dapat mempertahankan epitel berada di tempat dan tidak dipengaruhi kedipan
kelopak mata.