Anda di halaman 1dari 77

DATABASE PROFIL DAERAH

KABUPATEN BANTUL
TAHUN 2013

Pemerintah Kabupaten Bantul 2013

Kata Pengantar
Puji dan Syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
RahmatNya sehingga kami dapat menyelesaikan Buku Profil Kabupaten Bantul 2013 ini dengan
baik. Kegiatan Penyusunan Profil Daerah merupakan bagian dari upaya untuk melaksanakan
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undangundang tersebut mensyaratkan bahwa perencanaan pembangunan daerah haruslah
berdasarkan data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk keluaran
Tahun 2013, produk buku ini telah dilakukan pemutakhiran data-data berupa kondisi terkini
dari seluruh potensi yang mencangkup aspek wilayah, demografi, sosial budaya, ekonomi dan
infrastruktur dan disertai penyajian gambar/visual yang mengalami pengembangan dari tahuntahun sebelumnya. Diharapkan buku ini dapat dijadikan referensi dan masukan tentang capaian
kinerja, serta sumber data bagi kebutuhan perumusan kebijakan, penyusunan evaluasi dan
penelitian di Kabupaten Bantul.
Tentunya perlu diakui bahwa dalam penyusunan buku ini dijumpai sejumlah keterbatasan,
namun sudah menjadi tekad kami untuk semakin meningkatkan kualitas hasil penyusunan di
masa mendatang. Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada tim penyusun dan semua pihak
yang telah turut membantu dalam penyelesaiannya.
Akhirnya, kita berharap buku ini dapat mencapai sasaran dan tujuannya, serta bermanfaat
bagi kita semua.

Bantul, Agustus 2013


Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA)
Kabupaten Bantul
Kepala,

Drs. TRISAKTIYANA, M.Si.


NIP. 196602191993031005

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2012

Daftar Isi
Kata Pengantar

Daftar Isi

iii

Daftar Tabel

vii

Daftar Peta

xi

BAB I. PENDAHULUAN

I.1.
I.2.
I.3.
I.4.
I.5.
I.6.
I.7.

Latar Belakang
Dasar Hukum
Maksud dan Tujuan
Sasaran
Manfaat
Ruang Lingkup
Sistematika

1
1
2
2
2
2
2

BAB II. SEJARAH KABUPATEN BANTUL


II.1.
II.2.
II.3.

Letak dan Keadaan Bantul


Historis Kabupaten Bantul
Nama-nama Bupati Kabupaten Bantul

4
4
8

BAB III. PEMERINTAH KABUPATEN BANTUL


III.1. Bentuk dan Isi Lambang Daerah
III.2. Arti dan Makna Lambang Daerah
III.3. Warna dan Artinya
III.4. Makna Lambang
III.5. Visi dan Misi
III.6. City Brand Bantul

9
9
9
10
10
11
13

BAB IV. DATA UMUM

16

IV.1.
IV.2.
IV.3.
IV.4.
IV.5.
IV.6.
IV.7.
IV.8.
IV.9.
IV.10.
IV.11.

16
17
25
26
27
28
29
29
30
33
33

Letak Geografis
Pembagian Administratif
Ketinggian Tempat
Kemiringan Lahan
Jenis Tanah
Geologi
Pola Curah Hujan
Daerah Aliran Sungai
Penggunaan Lahan
Potensi Wilayah
Wilayah Rawan Bencana

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2012

iii

BAB V. KESEJAHTERAAN MASYARAKAT


V.1.
Kesejahteraan dan Pemerataan
a. Pertumbuhan PDRB
b. PDRB Per Kapita
c. Tingkat Inflasi
d. Distribusi Pendapatan
V.2.
Kesejahteraan Sosial
a. Angka Melek Huruf
b. Angka Partisipasi Murni (APM)
c. Angka Partisipasi Kasar (APK)
d. Angka Kelangsungan Hidup Bayi dan Angka Kematian Ibu
e. Angka Usia Harapan Hidup dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
f. Balita Gizi Buruk
g. Kemiskinan
h. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial
i. Kesempatan Kerja (Rasio Penduduk Yang Bekerja)
j. Kriminalitas (Angka Kriminalitas Yang Tertangani)
V.3.
Seni Budaya dan Olah Raga

35
35
35
36
37
37
38
38
38
39
39
40
41
41
43
44
45
45

BAB VI.PELAYANAN UMUM

49

VI.1.

iv

Fokus Layanan Urusan Wajib


a. Pendidikan
1. Ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah
2. Jumlah guru/murid
b. Kesehatan
1. Rasio pos pelayanan terpadu (posyandu) per satuan balita
2. Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatan
c. Lingkungan Hidup
1. Penanganan sampah
2. Pengelolaan air limbah
3. Kualitas Air Sungai
4. IPAL Biogas
d. Pekerjaan Umum
1. Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik
2. Jaringan Irigasi
3. Penduduk berakses air minum
4. Rasio Tempat Ibadah per Satuan Penduduk
5. Persentase rumah tinggal bersanitasi
6. Tempat pemakaman umum per satuan penduduk
7. Rumah layak huni
8. Drainase dalam kondisi baik
e. Penataan Ruang
1. Perencanaan Tata Ruang
2. Pengendalian Pemanfaatan Ruang
3. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
f. Perumahan
1. Rumah tangga pengguna air bersih
2. Rumah tangga pengguna listrik
3. Permukiman Kumuh
4. Rumah layak huni
g. Kepemudaan dan Olahraga

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2012

49
49
49
50
51
51
52
53
53
55
55
56
57
57
57
58
58
59
59
60
61
61
61
62
62
62
62
63
63
64
64

VI.2.

h. Penanaman Modal
i. Koperasi dan Usaha Kecil Menengah
1. Persentase koperasi aktif
2. Jumlah UKM dan BPR/LKM
j. Kependudukan dan Catatan Sipil
1. Pertumbuhan penduduk
2. Pengelompokan penduduk
k. Ketenagakerjaan
1. Angkatan Kerja
2. Kesempatan kerja
3. Pengangguran
l. Ketahanan Pangan
1. Ketersediaan pangan dan Cadangan Pangan
2. Distribusi dan Akses Pangan
3. Penganekaragaman dan Keamanan Pangan
4. Lumbung Pangan
5. Desa Mandiri Pangan
m. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
1. Persentase Partisipasi perempuan di lembaga pemerintah
2. Rasio Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Indeks Gender
n. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera
1. Rasio akseptor KB
o. Perhubungan
1. Jumlah Penumpang Angkutan Umum
2. Jumlah Ijin Trayek
3. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus
p. Komunikasi dan Informatika
1. Jumlah surat kabar nasional/lokal
2. Penyiaran radio/TV
3. Hasil Kerjasama Perguruan Tinggi
4. Penggunaan Teknologi Informasi oleh Pemerintah
q. Pertanahan
1. Penggunaan Tanah
2. Penyelesaian Ijin Lokasi
r. Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri
1. Penyelenggaraan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat
2. Legislatif
s. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
1. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM)
2. Jmlah kelompok binaan PKK
t. Perpustakaan
FOKUS LAYANAN URUSAN PILIHAN
a. Kelautan dan Perikanan
b. Pertanian dan Peternakan
c. Kehutanan
1. Lahan Kritis
2. Penghijauan
d. Energi dan Sumberdaya Mineral
e. Pariwisata
f. Industri
g. Perdagangan
h. Transmigrasi

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2012

65
66
66
67
68
68
68
71
71
72
72
76
76
76
77
78
78
78
78
79
79
79
80
80
81
82
82
83
83
84
84
86
86
87
87
87
88
88
88
89
90
91
91
92
95
95
95
95
96
97
97
98

Daftar Tabel
BAB VII. DAYA SAING DAERAH
VII.1.

VII.2.

VII.3.

VII.4.

Kemampuan Ekonomi Daerah


a. Produktivitas Total Daerah
b. Pendapatan dan Belanja
Fasilitas Wilayah/Infrastruktur
a. Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum
b. Ketersediaan restoran dan penginapan
c. Aksesibilitas Daerah (panjang jaringan jalan dalam kondisi baik)
d. Penataan wilayah
e. Fasilitas Ibadah
f. Ketersediaan Air Bersih
g. Fasilitas Listrik
Fokus Iklim Berinvestasi
a. Perkembangan investasi
b. Keamanan dan ketertiban
1. Angka kriminalitas
2. Jumlah Demonstrasi
3. Kemudahan perijinan
4. Peraturan Daerah yang mendukung Iklim Usaha
Fokus Sumber Daya Manusia

BAB VIII. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BENCANA


VIII.1. Bencana yang Terjadi dan Penanggulangannya
VIII.2. Antisipasi Daerah Dalam Menghadapi Bencana
a. Pra Bencana, Meliputi Kegiatan Preventif, Mitigasi, dan Kesiapsiagaan
b. Saat Bencana
c. Pasca Bencana
d. Rehabilitasi

99
99
99
99
101
102
102
103
103
103
103
103
103
103
104
104
104
105
106
106
108
108
109
109
110
110
110

BAB IX. PENUTUP

112

LAMPIRAN

113

vi

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2012

Tabel
Tabel 1
Tabel 2
Tabel 3
Tabel 4
Tabel 5
Tabel 6
Tabel 7
Tabel 8
Tabel 9
Tabel 10
Tabel 11
Tabel 12
Tabel 13
Tabel 14
Tabel 15
Tabel 16
Tabel 17
Tabel 18
Tabel 19
Tabel 20
Tabel 21
Tabel 22
Tabel 23
Tabel 24
Tabel 25
Tabel 26
Tabel 27
Tabel 28
Tabel 29
Tabel 30
Tabel 31
Tabel 32
Tabel 33
Tabel 34
Tabel 35
Tabel 36
Tabel 37
Tabel 38
Tabel 39
Tabel 40
Tabel 41
Tabel 42
Tabel 43
Tabel 44
Tabel 45
Tabel 46
Tabel 47
Tabel 48
Tabel 49
Tabel 50

Halaman
Pembagian Wilayah Distrik Di Masa Lalu
Jumlah Desa, Dusun dan Luas Kecamatan Tahun 2013
Desa Tertinggal Tahun 2012
Status Desa (Pedesaan/Perkotaan) dan Nama Dusun Tahun 2012
Tinggi, Suhu dan Jarak Pusat Kota Kecamatan dengan Ibukota Kabupaten/Provinsi Tahun 2012
Kelas Ketinggian dan Luas Wilayah Tahun 2012
Luas Wilayah Menurut Ketinggian dari Permukaan Laut Tahun 2012
Luas Wilayah Berdasarkan Kemiringan Tanah Tahun 2012
Hubungan Formasi Geologi dengan Luas Penyebarannya
Data Curah Hujan 2008-2012 di Kabupaten Bantul
Daerah Aliran Sungai Tahun 2012
Penggunaan Lahan Tahun 2012 (Ha)
Luas Rencana Kawasan Lindung Tahun 2012
Luas Rencana Kawasan Budidaya Tahun 2012
Kawasan Rawan Bencana Menurut Perda Nomor 4 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten
Bantul Tahun 2010-2030
Distribusi Presentase Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar
Harga Konstan Tahun 2000 Tahun 2010-1012
Distribusi Presentase Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar
Harga Berlaku Tahun 2010-1012
Pertumbuhan PDRB Menurut Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2000 Tahun 2010-2012
Perkembangan PDRB Per Kapita Kabupaten Bantul Tahun 2007-2012
Perkembangan Laju Inflasi Kabupaten Bantul, DIY, dan Nasional Tahun 2008-2012
Perkembangan Indeks Gini Ratio Tahun 2008-2012
Angka Melek Huruf Tahun 2008-2012
Angka Melek Huruf Tahun 2012 Menurut Kecamatan
Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun 2008-2012
Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2008-2012
Perkembangan Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Tahun 2009-2012
Perkembangan Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun 2008-2012
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2008-2011 Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta, dan Nasional
Balita Gizi Buruk Tahun 2009-2012
KK Miskin dan Jiwa Miskin Tahun 2010-2012
Prosentase Jiwa dan Keluarga Miskin Tahun 2012
Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Tahun 2011-2012
Jumlah PMKS Tahun 2012
Rasio Penduduk Yang Bekerja Dengan Angkatan Kerja Tahun 2008-2012
Jumlah Angkatan Kerja Tahun 2011-2012
Angka Kriminalitas Tahun 2009-2012
Seni, Budaya, dan Olahraga Tahun 2012
Lembaga Budaya Tahun 2012
Prestasi dan Penghargaan Bidang Pemuda dan Olahraga
Ketersediaan Sekolah Tahun 2008-2012
Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2012 Menurut Kecamatan
Banyaknya Sekolah, Murid, Guru tahu 2012
Jumlah Guru dan Murid di Kabupaten Bantul Tahun 2008-2012
Jumlah Guru Berdasarkan Jenjang Pendidikan Tahun 2012
Jumlah Posyandu dan Balita Tahun 2008-2012
Jumlah Posyandu dan Balita Tahun 2012
Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tahun 2012
Jumlah Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Pemerintah Tahun 2011-2012
Jumlah Puskesmas, Poliklinik, dan Pustu Tahun 2012 Menurut Kecamatan
Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun 2011-2012

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2012

7
17
17
18
25
25
26
26
28
29
30
30
31
31
34
35
35
36
37
37
37
38
38
39
39
40
40
40
41
41
42
43
44
44
44
45
45
46
48
49
49
50
50
50
51
51
52
52
53
53

vii

Tabel
Tabel 51
Tabel 52
Tabel 53
Tabel 54
Tabel 55
Tabel 56
Tabel 57
Tabel 58
Tabel 59
Tabel 60
Tabel 61
Tabel 62
Tabel 63
Tabel 64
Tabel 65
Tabel 66
Tabel 67
Tabel 68
Tabel 69
Tabel 70
Tabel 71
Tabel 72
Tabel 73

Data Bank Sampah dan Kelompok Pengelola Sampah Tahun 2012


Volume Sampah dan Sampah Terangkut per Hari Tahun 2012
Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun 2012
Daftar Lokasi IPAL Biogas Tahun 2012
Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun 2008 sd 2012
Target dan Capaian DI yang Terlayani Air Irigasi Tahun 2008-2012
Target dan Capaian Saluran Irigasi dalam Kondisi Baik Tahun 2008-2012
Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapat Air Minum PDAM
Rasio Tempat Ibadah Tahun 2010-2012
Jumlah Tempat Ibadah Per Kecamatan Tahun 2012
Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Tahun 2011-2012
Tempat Pemakaman Umum Menurut Kecamatan Tahun 2012
Rasio Rumah Layak Huni Tahun 2011-2012
Rusunawa yang telah dibangun di Kawasan Perkotaan Yogyakarta
Data Banjir Genangan Akibat Curah Hujan Tinngi tahun 2008-2012
Produk Perencanaan Tata Ruang
Persentase Penduduk Berakses Air Bersih
Jumlah KK yang Belum Berlistrik Tahun 2012
Jumlah Rumah Layak Huni Tahun 2011-2012
Jumlah Kegiatan Kepemudaan Tahun 2011-2012
Jumlah Kegiatan Olahraga Tahun 2010 s.d 2012
Nilai Investasi Tahun 2012
Perkembangan Penanaman Modal Asing (PMA) & Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
Tahun 2005-2012
Tabel 74 Persentase Koperasi Aktif Tahun 2008 sd 2012
Tabel 75 Jumlah UKM non BPR/LKM Tahun 2010-2012
Tabel 76 Koperasi Berbadan Hukum Tahun 2010-2012
Tabel 77 Jumlah Koperasi Menurut Jenis Tahun 2010-2012
Tabel 78 Perkembangan Industri Kecil Menengah Tahun 2010-2012
Tabel 79 Estimasi Penduduk Kabupaten Bantul Tahun 2012 per Kelompok Umur
Tabel 80 Kepadatan Penduduk Geografis per Kecamatan Tahun 2012
Tabel 81 Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KTP dan KK Tahun 2012
Tabel 82 Akta Catatan Sipil kepada Masyarakat di Kabupaten Bantul Tahun 2010-2012
Tabel 83 Perkembangan Pelayanan Administrasi Kependudukan Tahun 2010-2012
Tabel 84 Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010-2012
Tabel 85 Rasio Penduduk yang Bekerja dengan Angkatan Kerja Tahun 2012
Tabel 86 Penduduk Usia 15 Tahun Keatas dirinci Menurut Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja
serta Jenis Kelamin Tahun 2012
Tabel 87 Penduduk Angkatan Kerja Tahun 2012
Tabel 88 Penduduk Bekerja menurut Lapangan Usaha Tahun 2012 per Kecamatan Kabupaten Bantul
Tabel 89 Jumlah Angkatan Kerja Tahun 2010-2012
Tabel 90 Jumlah Penganggur Terbuka Berdasarkan Tingkat Pendidikan Di Kabupaten Bantul Tahun
2010-2012
Tabel 91 Ketersediaan Energi dan Protein (KEP) untuk dikonsumsi Tahun 2011-2012
Tabel 92
Perkembangan Ketersediaan Beras Tahun 2011-2012
Tabel 93 Daftar Gapoktan Pelaksana LDPM Tahun 2012
Tabel 94 Perkembangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Tahun 2011-2012
Tabel 95 Desa Rawan Pangan Tahun 2011-2012
Tabel 96 Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun 2009 s/d 2012
Tabel 97 Rasio KDRT Tahun 2010-2012
Tabel 98 Perkembangan Indeks Pemberdayaan Gender dan Indeks Pembangunan Gender l Tahun
20102011
Tabel 99 Hubungan Pasangan Usia Subur dan Kepesertaan Aktif Dalam Program KB Terhadap Angka
Kelahiran
Tabel 100 Akseptor KB Tahun 2009 s.d 2012

viii

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2012

Halaman
54
55
56
56
57
57
58
58
58
59
59
60
60
61
61
61
63
63
64
64
65
65
66
66
67
67
68
68
69
69
70
70
71
72
73
74
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80

Tabel
Tabel 101
Tabel 102
Tabel 103
Tabel 104
Tabel 105
Tabel 106
Tabel 107
Tabel 108
Tabel 109
Tabel 110
Tabel 111
Tabel 112
Tabel 113
Tabel 114
Tabel 115
Tabel 116
Tabel 117
Tabel 118
Tabel 119
Tabel 120
Tabel 121
Tabel 122
Tabel 123
Tabel 124
Tabel 125
Tabel 126
Tabel 127
Tabel 128
Tabel 129
Tabel 130
Tabel 131
Tabel 132
Tabel 133
Tabel 134
Tabel 135
Tabel 136
Tabel 137
Tabel 138
Tabel 139
Tabel 140
Tabel 141
Tabel 142
Tabel 143
Tabel 144
Tabel 145
Tabel 146
Tabel 147
Tabel 148
Tabel 149
Tabel 150
Tabel 151
Tabel 152
Tabel 153

Halaman
Jumlah Penumpang Angkutan Umum di Bantul
Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul
Jumlah Ijin Trayek Tahun 2008 sd 2012 Kabupaten Bantul
Jumlah Ijin Trayek Menurut Kecamatan Tahun 2012
Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus
Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Tahun 2009-2012
Jumlah Penyiaran Radio/TV Tahun 2009-2012
Jumlah Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Hasil Kerjasama dengan Perguruan
Tinggi dan Lembaga Survey Tahun 2012
Sistem Informasi
Media Komunikasi Pemerintah dan Masyarakat
Teknologi Tepat Guna dan Penemu
Persentase Jumlah Izin lokasi tahun 2010-2012
Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Tahun 2009-2012
Jumlah Petugas Linmas Tahun 2009-2012
Kelompok Binaan LPM Tahun 2009-2012
Kelompok Binaan PKK Tahun 2009-2012
Jumlah Perpustakaan Tahun 2010-2012
Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun 2009-2012
Produksi Perikanan Budidaya menurut Jenis Ikan Tahun 2011-2012
Produksi Benih Ikan dari UPR dan BBI Tahun 2010-2012
Perkembangan Sarpras Perikanan pada Tahun 2010-2012
Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Padi Sawah, Padi, Ladang, Jagung,
Kacang Tanah, Kedelai Tahun 2011-2012
Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Bawang Merah, Cabai Merah, Cabai Rawit, Kacang
Panjang dan Jamur Tahun 2011-2012
Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tembakau, Mete, Tebu, dan Kelapa Tahun 2011-2012
Produksi Daging, Telur, dan Susu Tahun 2011-2012
Luas Lahan Kritis Tahun 2011-2012
Pengadaan Bibit Jati dan Buah Tahun 2012
Target dan Capaian Reklamasi Lahan Bekas Tambang
Potensi Energi Baru Terbarukan
Potensi Pariwisata Tahun 2010-2012
Prasarana Wisata Tahun 2010-2012
Perkembangan Industri Kecil Menengah Tahun 2011-2012
Perkembangan Ekspor Tahun 2011-2012
Penempatan Transmigran Tahun 2012
Produktivitas Per Sektor
Realisasi dan Proyeksi/Target Pendapatan Tahun 2010 s.d tahun 2014
Realisasi dan Proyeksi Belanja Daerah Tahun 2010 s.d Tahun 2014
Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum
Jenis, Kelas,dan Jumlah Restoran
Jenis, Kelas, dan Jumlah Penginapan/Hotel
Angka Kriminalitas Tahun 20112012
Jumlah Demonstrasi

Perkembangan Kontribusi PAD terhadap Pendapatan Daerah Tahun 2008-2012


Jumlah Perda yang Telah Diterbitkan
Jumlah Lulusan S1/S2/S3 Pegawai
Kejadian Bencana Alam Tahun 2012
Jumlah Kejadian Bencana Yang Terjadi Menurut Jenis Bencana Tahun 2012
Potensi Bencana
Kondisi Pendidikan Anak Usia Dini Tahun 2012
Kondisi Data Lembaga PNF Tahun 2012
Data Program Kesetaraan Tahun 2012
Hasil Ujian Kesetaraan 2012
Persentase Kelulusan Ujian Nasional Tahun 2008-2012 (dalam %)

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2012

80
81
81
81
82
83
83
84
84
85
86
87
87
88
89
90
91
91
91
92
92
92
93
94
94
95
95
95
96
96
97
97
97
98
99
100
101
102
102
102
104
105
106
106
107
108
108
109
115
115
115
115
115

ix

Daftar Gambar
Tabel
Tabel 154
Tabel 155
Tabel 156
Tabel 157
Tabel 158
Tabel 159
Tabel 160
Tabel 161
Tabel 162
Tabel 163
Tabel 164
Tabel 165
Tabel 166
Tabel 167
Tabel 168
Tabel 169
Tabel 170
Tabel 171
Tabel 172
Tabel 173
Tabel 174
Tabel 175
Tabel 176
Tabel 177
Tabel 178
Tabel 179
Tabel 180
Tabel 181
Tabel 182
Tabel 183
Tabel 184
Tabel 185
Tabel 186
Tabel 187
Tabel 188
Tabel 189
Tabel 190

Halaman
Daftar Perguruan Tinggi Tahun 2012
Jumlah Posyandu Menurut Strata, Kecamatan, dan Puskesmas Tahun 2012
Nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Terhadap Layanan Kesehatan Tahun 2012
Data Jaminan Kesehatan Tahun 2012
Jumlah Pasien Rawat Inap Menurut Pembayaran Tahun 2010-2012
Jumlah Pasien Rawat Jalan Menurut Pembayaran Tahun 2010-2012
Indikator Rawat Inap RSUD Panembahan Senopati
Data 10 Besar Penyakit Rawat Inap Tahun 2012
Data 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2012
Jumlah Tenaga Keperawatan di Sarana Kesehatan Tahun 2012
Jumlah Tenaga Medis di Sarana Kesehatan Tahun 2012
Kelas Rumah Sakit Tahun 2012
Puskesmas dengan Standarisasi Pengembangan Mutu Pelayanan Tahun 2012
Puskesmas dengan Layanan Unggulan Tahun 2012
Tempat Pembuangan Sampah Menurut Kecamatan Tahun 2012
Klasifikasi Koperasi Tahun 2010-2012
Jumlah Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin Tahun 2012
Program PNMD -Mpd Tahun 2012
Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB 2008-2012 Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan
Harga Konstan (Hk) Tahun 2000
Desa Pesisir Tahun 2012
Kegiatan Restocking dan Bantuan Benih 2012
Produksi Perikanan Budidaya menurut Jenis Usaha Tahun 2010-2012
Produksi Perikanan Tangkap Tahun 2010-2012
Sekolah Lapangan dan SRI Tahun 2010-2012
Populasi Ternak Tahun 2010-2012
Kejadian Penyakit Avian Influenza Tahun 2010-2012
Data Pengguna Straw dan Kelahiran Inseminasi Buatan Tahun 2010-2012
Daftar Kelompok Penangkar Benih Padi Tahun 2012
Daftar Kelompok Penangkaran Benih Bawang Merah Tahun 2012
Produksi Benih Padi Berlabel Bantul Seed Center Tahun 2010-2012
Stimulasi Pestisida kepada Masyarakat Tahun 2010-2012
Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Pisang, Rambutan dan Mangga Tahun 20102012
Bantuan Benih ke Masyarakat Tahun 2010-2012
Hasil Produksi Hutan tahun 2010-2012
Target dan Capaian Pencegahan Kerusakan Akibat Penambang
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tahun 2012
Pajak dan Retribusi Daerah

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

116
117
118
118
119
119
119
120
120
121
123
125
125
126
126
127
128
129

Gambar
Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3
Gambar 4
Gambar 5
Gambar 6
Gambar 7
Gambar 8
Gambar 9
Gambar 10
Gambar 11
Gambar 12
Gambar 13
Gambar 14
Gambar 15

Halaman
Peta Wilayah Administrasi DIY
Tangga Menuju Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri
Bupati Bantul Sri Suryawidati
Lambang Daerah
Hubungan Prioritas Pembangunan dengan Misi Kabupaten Bantul
Peta Batas Wilayah Kabupaten Bantul
Hubungan Jenis Tanah dengan Luas Penyebaran Tahun 2012
Peta Penggunaan Lahan
Pergeseran Struktur Ekonomi Tahun 2010-2012
Prosentase Penduduk di atas Garis Kemiskinan Tahun 2010-2012
Jiwa miskin di Kabupaten Bantul Tahun 2012
Jiwa miskin dan Rumah Tangga Miskin Tahun 2012
Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Bantul Tahun 2008-2012
Angkatan Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2012
Peta Penganggur Tahun 2012

4
5
6
7
8
16
28
32
36
41
42
43
68
72
73

129
129
130
130
130
131
131
131
131
132
132
133
133
133
133
134
134
135
136

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2012

xi

BAB I
PENDAHULUAN

I.1.

LATAR BELAKANG
Dalam era desentralisasi sekarang, proses perencanaan pembangunan sudah mengalami
pergeseran paradigma. Dalam hal ini, sudah mulai dilakukan proses bottom up planning secara
lebih intensif dibandingkan masa sebelumnya. Tataran pelaksanaan pembangunan juga sudah
lebih melihat kepentingan daerah dan lebih banyak melibatkan masyarakat dan dunia usaha.
Orientasi demikian diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pemerintah daerah pada
pemerintah pusat. Selain itu, juga akan menumbuhkan kemandirian dalam pendanaan dan
pelaksanaan pembangunan. Inti dari perencanaan adalah bagaimana mengantisipasi masa depan
berdasarkan tujuan yang ditetapkan dengan melakukan persiapan yang didasarkan data dan
informasi yang tersedia saat ini. Peran pemerintah daerah yang semakin besar dalam perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan di daerah harus diikuti dengan ketersediaan data dan informasi
yang lengkap sehingga dalam pelaksanaan pembangunan, kebijakan yang diambil pada setiap
tahapannya dapat dilandasi data yang lebih aktual.
Penyediaan data dan informasi dikemas dalam bentuk database profil daerah Kabupaten
Bantul yang disertai juga dengan aplikasi Sistem Informasi Profil Daerah (SIPD) yang berlaku
secara nasional yang merupakan data pembangunan daerah yang diperbaharui secara realtime dan
yang dapat diakses secara online melalui www.sipd.bangda.kemendagri.go.id. Berkaitan dengan
pentingnya upaya menempatkan data pada posisi yang sangat strategis dalam perumusan berbagai
kebijakan maka diperlukan pengelolaan data yang harus didukung sistem dan kelembagaan yang
kuat serta sumber daya manusia yang profesional.

I.2.

DASAR HUKUM
a. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (SPPN);
b. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah
diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;
c. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan,
Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;
d. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Peraturan Pelaksanaan PP No.
8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan Daerah;
e. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 14 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Kabupaten Bantul Tahun 2006-2025 yang diperbaharui dengan Peraturan
Daerah Kabupaten Bantul Nomor 12 Tahun 2010 tentang Perubahan atas Peraturan Daerah
Kabupaten Bantul Nomor 14 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Kabupaten Bantul Tahun 2006-2025;
f. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 13 Tahun 2007 tentang Penetapan Urusan
Pemerintahan Wajib dan Pilihan Kabupaten Bantul;
g. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 01 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bantul Tahun 2011-2015;
h. Peraturan Daerah Kabupaten Bantul Nomor 04 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten Bantul Tahun 2010-2030.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

I.3.

MAKSUD DAN TUJUAN


Penyusunan Database Profil Daerah Kabupaten Bantul mempunyai maksud untuk
menghimpun semua data fisik dan data sosial ekonomi dari kegiatan sektoral di kabupaten Bantul
sebagai upaya penyediaan sarana yang dapat dipakai dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan,
monitoring, evaluasi serta pengawasan pembangunan.
Adapun tujuan penyusunan database profil daerah tersebut agar tersedia sumber data/bank
data yang dapat digunakan untuk kebutuhan perencanaan dan penyusunan kebijakan serta
memudahkan koordinasi pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi program pembangunan di
Kabupaten Bantul secara terpadu. Selain itu dapat mengembangkan sistem informasi pengelolaan
database profil daerah yang baik dan akurat.

I.4.

SASARAN

a. Tersedianya data dan informasi yang akurat secara cepat dan mudah bagi pengambilan
keputusan dan penyusunan kebijakan di daerah.
b. Tersedianya data dasar yang mudah diakses oleh berbagai pihak yang memerlukan.
I.5.

BAB III : Pemerintahan Kabupaten Bantul, berisi tentang lambang daerah dan visi misi Kabupaten
Bantul;
BAB IV : Data Umum, berisi data umum Kabupaten Bantul meliputi letak secara geografis,
topografi, geologi, hidrologi, klimatologi, dan penggunaan lahan serta potensi wilayah;
BAB V : Kesejahteraan Masyarakat, yang meliputi penjelasan tentang kesejahteraan penduduk
dan pemerataan pendapatan serta kesejahteraan sosial;
BAB VI : Pelayanan Umum, berisi penjelasan dan data yang fokus pada layanan urusan wajib dan
urusan pilihan;
BAB VII : Daya Saing Daerah, meliputi kemampuan ekonomi daerah, fasilitas daerah/infrastruktur,
iklim berinvestasi dan sumber daya manusia;
BAB VIII: Pencegahan dan Penanggulangan Bencana, meliputi bencana yang terjadi dan
penanggulangannya serta antisipasi dalam menghadapi kejadian bencana yang tidak
terduga;
BAB IX : Penutup;
Lampiran Data Pendukung Lainnya.

MANFAAT
Buku Database Profil Daerah kabupaten Bantul yang disusun dapat dimanfaatkan sebagai:
a. Bank Data dan Informasi dari hasil pelaksanaan program dan kegiatan pembangunan
diberbagai sektor di lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul;
b. Dukungan data dan informasi bagi pengambil keputusan dalam menetapkan kebijakan dan
strategi pembangunan serta skala prioritas pembangunan;
c. Komitmen pemerintah daerah untuk membangun pola kerjasama berbasis data dan informasi;
d. Sarana pemantauan, pengendalian, dan pelaporan sehingga data/fakta untuk perencanaan
selanjutnya dapat dilakukan sesuai dengan keadaan di lapangan;
e. Gambaran kondisi dan potensi serta sumber daya yang dimiliki daerah sehingga perencanaan
pembangunan menjadi lebih terpadu;
f. Informasi bagi investor agar terdorong untuk menanamkan modalnya di Kabupaten Bantul;
dan
g. Sumber data untuk pelaporan dan pertanggungjawaban penyelenggaraan pemerintahan
daerah.

I.6.

RUANG LINGKUP
Database Profil Daerah mencakup seluruh wilayah Kabupaten Bantul dengan menampilkan
data fisik dan data sosial ekonomi. Data dalam buku ini disajikan dalam bentuk tabel, grafik, dan
peta yang terangkum dalam sektor-sektor pembangunan.

I.7.

SISTEMATIKA
Buku Database Profil Daerah Kabupaten Bantul ini disusun dengan sistematika:
: Pendahuluan, berisi latar belakang, dasar hukum, maksud dan tujuan, sasaran, manfaat,
ruang lingkup, dan sistematika;
BAB II : Sejarah Kabupaten Bantul, berisi tentang riwayat perkembangan awal berdirinya
Kabupaten Bantul sampai sekarang (Tahun 2013);
BAB I

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

BAB II
SEJARAH KABUPATEN BANTUL

II.1. LETAK DAN KEADAAN BANTUL


Kabupaten Bantul secara geografis terletak di bagian selatan wilayah Daerah Istimewa
Yogyakarta, dengan luas wilayah 506,85 km atau 50.685 ha. Secara administratif di sebelah timur
berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul, di sebelah utara berbatasan dengan Kota Yogyakarta
dan Kabupaten Sleman, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo, di bagian
selatan Kabupaten Bantul berakhir dengan garis pantai Samudra Indonesia.

kabupaten serta perubahan-perubahan masyarakatnya merupakan proses kelangsungan dan


perubahan sejarah yang tak terpisahkan satu sama lain. Dengan demikian kelahiran daerah Bantul
tidak dapat dipisahkan dari proses kesejarahannya. Jejak dan bekas-bekas masa lampau yang
diwariskannya baik fisik maupun non-fisik merupakan saksi perjalanan dan buah pengalaman
masa lampaunya.
Secara fisik masih dapat dikenali bangunan-bangunan monumental, petilasan, tempattempat atau situs bersejarah, kompleks permukiman, nama-nama tempat atau kampung,
bangunan rumah, pakaian, dan lainnya, yang berasal dari berbagai perkembangan jaman.
Bangunan bekas istana atau bagian dari kompleks istana Mataram dari masa Senopati sampai
Sultan Agung dan Amangkurat I di Kota Gede, Kerta, dan Pleret. Bekas istana juga makam-makam
raja dan keluarganya yang ada di Kota Gede dan Imogiri yang sampai sekarang masih diabadikan
sebagai peninggalan sejarah. Peninggalan kompleks keraton berupa perkampungan dan petilasan
dengan nama-namanya yang mencerminkan sebagai bekas lokasi istana dan pusat kerajaan yang
ada di Kota Gede atau Pasar Gede, Kerta, dan Pleret. Dari masa kasultanan mungkin masih dapat
dijumpai bekas-bekas bangunan tempat kediaman pejabat pemerintah kabupaten dari Bupati
sampai bawahannya, atau bekas lokasi kompleks pemerintahan dan tempat-tempat penting
lainnya. Peninggalan masa kolonial, bekas-bekas tempat perjuangan Pangeran Diponegoro
melawan pemerintahan Belanda yang ada di sekitar Bantul, seperti bekas pertanahannya di
Selarong dan markas pasukannya di beberapa pedesaan di daerah Bantul bekas bangunan pabrik
gula atau tembakau beserta lokasi perkebunannya, bekas jalan kereta api dan stasiunnya, jaringan
jalan darat, pasar dan tempat lainnya. Peninggalan masa romusha itu masih dapat ditemukan di
salah satu tempat di dekat pedesaan pantai selatan Bantul. Secara non fisik terdapat rekaman
pengalaman masa lampau yang masih lestari hingga masa kini, antara lain ialah bahasa, tradisi,
tata-nilai, kepercayaan, pandangan hidup, mitos, legenda, dan cerita-cerita rakyat baik yang
tersimpan secara lisan maupun tertulis.

Gambar 1
Peta Wilayah Administrasi DIY

Kabupaten Bantul merupakan daerah yang subur, baik karena jenis lapisan tanahnya,
pengairannya, kedataran wilayahnya maupun karena letaknya yang ada di penghujung selatan
tempat sungai-sungai bermuara dan menumpuk lumpur vulkanik beserta endapan-endapan
humus dari daerah utara. Keadaan alam yang sangat cocok untuk bidang pertanian maka sebagian
besar masyarakat Bantul bermata pencaharian sebagai petani.
II.2. HISTORIS KABUPATEN BANTUL
Proses perubahan dan perkembangan kehidupan masyarakat penghuni lembah Opak-Progo
dalam usaha untuk menguasai alam sekitarnya dari masa awal sampai masa berikutnya merupakan
proses sejarah masyarakat lembah Opak-Progo. Kondisi alam seperti tersebut di atas itulah telah
terjadi silih berganti peristiwa-peristiwa penting yang bermakna bagi sejarah kehidupan
masyarakat di lembah Opak-Progo umumnya dan Bantul pada khususnya. Lahirnya pedesaan kuno,
kerajaan kuno, kerajaan Islam Mataram, Kasultanan Yogyakarta hingga munculnya pemerintahan

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Gambar 2
Tangga Menuju Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri

Berakhirnya perang Diponegoro pada sekitar bulan Maret 1830 membawa perubahan
penting bagi peta kehidupan kerajaan kejawen (Vorstenlanden). Pihak Belanda mempunyai alasan
untuk memperluas jangkauan kekuasaan dan pengawasan pemerintahannya terhadap
pemerintahan kedua kerajaan Surakarta dan Yogyakarta beserta kawulanya di daerah pedesaan.
Selain itu pemerintah Belanda juga mempunyai alasan untuk mempersempit dan mengecilkan

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

daerah wilayah kedua kerajaan tersebut. Semuanya ini dapat dicapai oleh pemerintah Belanda
dengan jalan memaksakan kehendak melalui penandatanganan kontrak-kontrak perjanjian antara
kedua penguasa kerajaan Jawa, yaitu Sultan dan Sunan di satu pihak dan pemerintah Belanda yang
diwakili oleh residen setempat di lain pihak. Maka dari itu secara berturut-turut kontrak-kontrak
yang penting ditandatangani antara lain pada tanggal 22 Juni 1830, tanggal 27 September 1830,
tanggal 3 Nopember 1830 dan penetapan-penetapan lainnya pada tanggal 26 dan 31 Maret 1831.
secara singkat dapat disebutkan bahwa akibat dari penandatanganan kontrak-kontrak itu antara
lain ialah bahwa kedua kerajaan telah kehilangan wilayahnya di daerah Mancanegara, Pajang, dan
Sukawati dimasukkan wilayah Kasunanan, dan Gunung Kidul dimasukkan ke wilayah Kasultanan.
Selain itu juga ditetapkan perlunya dilakukan reorganisasi atau pembagian wilayah administratif
baru dengan kemauan pemerintah kolonial.
Diantaranya ialah tentang pembagian wilayah pemerintahan Kabupaten (Regentschap)
dengan pengangkatan Kepala Daerah yang baru (Inlandsche Rechtban). Di wilayah Kasultanan
penanganan keamanan dan pemerintahan, serta pembagian wilayah administrasi distrik dan
pengangkatan kepala distriknya, semuanya harus sepersetujuan pihak pemerintah Belanda.
Rentetan pelaksanaan perubahan penting di Kasultanan Yogyakarta dilakukan pada tahun 1831.
Dalam rangka melaksanakan tindak lanjut dari ketentuan-ketentuan tersebut, maka Sultan
Hamengkubuwana V melakukan usaha-usaha pembaharuan administrasi pemerintahan dan
perangkat-perangkatnya secara bertahap sejak awal tahun 1831, yaitu sesudah diselesaikannya
penandatanganan kontrak-kontrak dan pembahasannya dengan pihak penguasa kolonial, dan
setelah situasi dan kondisi istana tenang kembali sesudah perang selesai. Pada saat itulah maka
mulai dilakukan pembagian wilayah baru daerah Kasultanan Yogyakarta atas tiga wilayah
Kabupaten, yaitu: (1) Kabupaten Bantul Karang, dibagian selatan; (2) Kabupaten Denggung di
bagian utara; dan (3) Kabupaten Kalasan di bagian timur. Pembagian wilayah ini diikuti dengan
pengangkatan atau wisuda Bupati sebagai Kepala Daerah masing-masing. Kemudian juga
dilakukan pengangkatan Kepala Distrik di daerah masing-masing dengan gelar Mantri,
Tumenggung atau Rangga.
Menindaklanjuti pembagian wilayah baru Kasultanan Yogyakarta, pada tanggal 20 Juli 1831
atau Rabu Kliwon 10 Sapar tahun Dal 1759 (Jawa) secara resmi ditetapkan pembentukan
Kabupaten Bantul yang sebelumnya dikenal bernama Bantul Karang. Seorang Nayaka Kasultanan
Yogyakarta bernama Raden Tumenggung Mangun Negoro kemudian dipercayai Sri Sultan
Hamengkubuwono V untuk memangku jabatan sebagai Bupati Bantul.
Tanggal 20 Juli inilah yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Jadi Kabupaten Bantul.
Selain itu tanggal 20 Juli tersebut juga memiliki nilai simbol kepahlawanan dan kekeramatan bagi
masyarakat Bantul mengingat perang Diponegoro dikobarkan tanggal 20 Juli 1825. Pada masa
pendudukan Jepang, pemerintahan berdasarkan pada Usamu Seirei Nomor 13 sedangkan
stadsgemente ordonantie dihapus. Kabupaten memiliki hak mengelola rumah tangga sendiri
(otonom).
Kemudian setelah kemerdekaan, pemerintahan ditangani oleh Komite Nasional Daerah
untuk melaksanakan UU No. 1 tahun 1945. Tetapi di Yogyakarta dan Surakarta undang-undang
tersebut tidak diberlakukan hingga dikeluarkannya UU Pokok Pemerintah Daerah No. 22 tahun
1948, dan selanjutnya mengacu UU Nomor 15 tahun 1950 yang isinya tentang Pembentukan
Pemerintahan Daerah Otonom di Seluruh Indonesia.
Beberapa waktu setelah Kabupaten Bantul berdiri yaitu setelah 1831, struktur administrasi
di bawah Bupati yang masih meneruskan pola kademangan ini diubah kedudukannya sebagai
kesatuan wilayah administrasi distrik, sesuai dengan reorganisasi pemerintah baru. Pola
kademangan yaitu pola administrasi Bupati yang diurus oleh seorang demang. Kedudukan demang
dipilih oleh seorang patuh. Tugasnya ialah mengurus penarikan pajak dan penyediaan tenaga kerja.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Dalam menjalankan tugasnya para demang dibantu oleh beberapa bekel. Bekel ini diangkat oleh
demang, yang mungkin mereka itu berasal dari kepala desa setempat. Kewajiban demang ialah
menyerahkan hasil produksi pertanian daerah kademangannya kepada pemegang patuh dua kali
setiap tahun. Para petani yang ada di tanah lungguh yang menggarap tanah itu mendapat dua
perlima bagian dari hasil panennya. Para bekel mendapat seperlima dan yang dua per lima
diserahkan ke atas lewat demang dan patuh, sampai ke kantor perbendaharaan kerajaan.
Dalam struktur semacam itu wilayah Bantul sebelumnya masuk dalam lingkup wilayah
Negara Agung. Dengan demikian selama pemerintahan kabupaten berdiri, daerah Bantul terbagi ke
dalam sejumlah daerah kademangan. Tiap-tiap kademangan memiliki sejumlah kabekelan yang
terdiri dari beberapa pedesaan. Setelah pola kademangan berubah menjadi wilayah distrik maka
pada waktu itu daerah Bantul terbagi menjadi 13 wilayah distrik, yang masing-masing distrik
membawahi sejumlah desa. Reorganisasi wilayah distrik terjadi lagi sekitar tahun 1878 dan 1900.
Pada tahun 1878 wilayah distrik diperkecil menjadi delapan dan pada tahun 1900 menjadi tujuh
wilayah distrik. Wilayah distrik dengan jumlah desanya disajikan pada Tabel 1.
Reorganisasi wilayah administrasi tingkat distrik itu terus menerus terjadi dengan
pembagian kecamatan pada masa kemudian. Demikian juga halnya dengan reorganisasi wilayah
pedesaan terjadi dengan jalan penggabungan-penggabungan wilayah desa-desa. Pada masa kini
wilayah kabupaten Bantul memiliki 17 kecamatan yaitu Bambanglipuro, Bantul, Dlingo, Imogiri,
Jetis, Kasihan, Kretek, Pajangan, Pandak, Piyungan, Pleret, Pundong, Sanden, Sedayu, Sewon,
Srandakan, dan Banguntapan. Dengan demikian di antara 17 kecamatan itu ada beberapa
kecamatan yang telah lama ada pada abad ke-19, misalnya Lipuro, Kretek, Sewon, dan Srandakan.
Penduduk Kabupaten Bantul pada masa awalnya tentu masih kecil, misalnya pada tahun 1832, jadi
setahun sesudah berdiri, memiliki jumlah penghuni sebanyak 47.615 jiwa. Pada tahun 1840
tercatat sebanyak 51.602 jiwa dan pada tahun 1845 tercatat sebanyak 53.279 jiwa. Pada tahun
2008 tercatat sebanyak 909.812 jiwa dan pada tahun 2012 sebanyak 930.276 jiwa.
Tabel 1
Pembagian Wilayah Distrik Di Masa Lalu
1868

1878

1900

Distrik: 13

Desa

Distrik: 8

Desa

Distrik: 7

1. Celep
2. Samin
3. Dungkus
4. Pucangan
5. Panggang
6. Lipuro
7. Cepit
8. Soka
9. Pekoja
10. Kretek
11. Kuwarasan
12. Gabusan
13. Pandes

33
37
48
58
56
46
60
39
96

1. Pasar Gede
2. Kretek
3. Srandakan
4. Sewon
5. Cepit
6. Pandak
7. Panggang
8. Canden

60
101
126
118
117
226
137
120

1.Kretek
2.Srandakan
3.Sewon
4.Cepit
5.Pandak
6.Panggang
7.Canden

Desa

48
50
38

Sumber: Regering Almanah 1868-1900.

Dalam perkembangan sosial ekonomi kabupaten Bantul mengalami perubahan-perubahan


terutama setelah masuknya perkebunan-perkebunan tebu, indigo, dan tembakau di beberapa
tempat. Demikian juga pertambahan dan perkembangan kehidupan ikut berkembang sesuai
dengan perkembangan lalu lintas jalan raya maupun jalan kereta api. Perkembangan dalam bidang
pertanian dan perindustrian serta kegiatan perdagangan membawa dampak penting bagi
kehidupan rakyat Bantul.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

II.3. NAMA-NAMA BUPATI KABUPATEN BANTUL


Berdasarkan sumber-sumber yang dapat dikumpulkan maka nama-nama bupati Bantul
semenjak awal sampai masa kini (tahun 2013) antara lain ialah sebagai berikut:
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25

Raden Tumenggung Mangun Negoro


Raden Tumenggung Jayadiningrat
Raden Tumenggung Tirtonegara
Raden Tumenggung Nitinegara
Raden Tumenggung Danukusuma
Raden Tumenggung Djojowinoto
Raden Tumenggung Djojodipuro
Raden Tumenggung Surjokusumo
Raden Tumenggung Mangunyudo
K.R.T. Purbadiningrat
K.R.T. Dirdjokusumo
K.R.T. Djojodiningrat
K.R.T. Tirtadiningrat
K.R.T. Purwaningrat
K.R.T. Partaningrat
K.R.T. Wiraningrat
Setyosudono
K.R.T. Sosrodingrat
K.R.T. Prodjohardjono (pejabat)
R. Sutomo Mangkusasmito SH
Suheram Partasaputro
Moerwanto Soeprapto (KRT. Suryopadmo Hadiningrat)
Sri Roso Sudarmo
Idham Samawi
Sri Suryawidati

20 Juli 1831 - 1845


1845 - 1851
1851 - 1852
1852 - 1855
1855 -1878
1878 1878 ------------1899 - 1913
1913 - 1918
1918 - 1943
1943 - 1947
1947 - 1951
1951 - 1955
1955 - 1958
1958 - meninggal
1958 - 1960
1960 - 1969
1969 - 1970
1970 - 1980
1980 - 1985
1986 - 1990
1991 - 1998
1999 - 2010
2010 - sekarang

BAB III
PEMERINTAH KABUPATEN BANTUL

III.1. BENTUK DAN ISI LAMBANG DAERAH

Gambar 4
Lambang Daerah
Bentuk dasar lambang daerah Kabupaten Bantul adalah ellipse (bulat panjang) yang
merupakan gabungan Teratai Berkelopak Lima. Di bawah lukisan bentuk dasar terdapat gambar
pita bertuliskan KABUPATEN BANTUL. Di dalam bentuk ellipse berisi lukisan yang
menggambarkan:
a. Keadaan alam;
b. Kekayaan alam;
c. Latar belakang sejarah;
d. Semangat dan cita-cita;
e. Persatuan/kesatuan.
Ukuran lambang daerah Kabupaten Bantul adalah garis tengah horisontal sepanjang 30 unit
dan garis tengah vertikal sepanjang 40 unit.
III.2. ARTI DAN MAKNA LAMBANG DAERAH

Gambar 3
Bupati Bantul Sri Suryawidati

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

a. Landasan idiil Pancasila;


b. Gambar bintang emas bersegi lima menggambarkan Ketuhanan Yang Maha Esa;
c. Gambar pohon kelapa menggambarkan kemanusiaan yang adil dan beradab;
d. Lukisan dalam warna merah dan putih dari roda bergerigi menggambarkan Persatuan
Indonesia;
e. Lukisan dalam gambar sungai menggambarkan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan;
f. Lukisan dalam gambar padi dan kapas menggambarkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia;
g. Landasan struktural Undang-Undang Dasar 1945 dilukiskan dalam gambar ukiran persegi
empat (linggir Jawa) dan keris berlekuk (luk Jawa) lima;
h. Tata kehidupan gotong royong ke arah ketentraman dan kemakmuran dilukiskan dalam tulisan
huruf Jawa berbunyi Hamamayu Hayuning Bawono;

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

i. Nilai-nilai keagamaan dilukiskan dalam gambar bintang emas bersegi lima;


j. Semangat perjuangan dan kepahlawanan dilukiskan dalam gambar keris dan gunung yang
mengingatkan perjuangan Pahlawan Nasional Pangeran Diponegoro yang bermarkas di Gua
Selarong pada waktu melawan penjajah Belanda;
k. Semangat pembangunan dilukiskan dalam gambar roda bergerigi dan untuk mencapai
kemakmuran perlu dibangun industri-industri.
Sejarah pembentukan Daerah Otonom Kabupaten Bantul dilukiskan dalam gambar
serangkai kapas dengan lima belas buah serta daunnya dan setangkai padi dengan lima puluh
butir biji menunjukan bahwa Daerah Otonom Kabupaten Bantul dibentuk berdasarkan UndangUndang Nomor 15 tahun 1950.
Keadaan alam dilukiskan dalam warna hijau muda, gambar pegunungan, sungai, dan laut.
Persatuan dan kesatuan dilukiskan dalam gambar tepi ellipse yang merupakan Bunga Teratai
berkelopak lima dengan tiada terputus.
Pemerintahan dalam melaksanakan pengabdiannya kepada masyarakat mempunyai tiga
bidang, yaitu:
a. Bidang Legislatif;
b. Bidang Eksekutif;
c. Bidang Yudikatif.
Gambar pohon kelapa dengan tiga pelepah dan empat butir buah kelapa melambangkan
bahwa pemerintah mengikutsertakan rakyat untuk melakukan:
a. Social Control;
b. Social Support;
c. Social Participation;
d. Social Responsibility.
Hasil produksi daerah Kabupaten Bantul dilukiskan dalam gambar roda bergerigi yang
menunjukan adanya pabrik, daun tembakau yang merupakan bahan ekspor, dan pohon kelapa
yang berbuah menunjukan bahwa Kabupaten Bantul mempunyai hasil spesifik (yaitu geplak) dari
buah kelapa.

b.

Ijo Royo-Royo
Dalam arti tidak ada sejengkal tanah pun yang ditelantarkan sehingga baik di musim hujan
maupun di musim kemarau di manapun akan tampak suasana yang rindang, perlu diingatkan
kepada masyarakat Bantul bahwa bagaimanapun Bantul tumbuh terlebih dahulu sebagai
kawasan agronomi yang tangguh dalam rangka mendukung tumbuh berkembangnya sektor
industri yang kuat di masa mendatang.

c.

Tertib
Dalam arti bahwa setiap warga secara sadar menggunakan hak dan kewajibannya dengan
sebaik-baiknya sehingga terwujud kehidupan pemerintahan dan kemasyarakatan yang
tertib semuanya secara pasti, berpedoman pada sistem ketentuan hukum/perundangundangan yang esensial untuk terciptanya disiplin nasional.

d.

Aman
Dalam arti bahwa terwujudnya tertib pemerintahan dan tertib kemasyarakatan akan sangat
membantu terwujudnya keamanan dan ketentraman masyarakat, kondisi aman ini perlu
ditunjang demi terpeliharanya stabilitas daerah.

e.

Sehat
Dalam arti bahwa tertibnya lingkungan hidup yang akan dapat menjamin kesehatan jasmani
dan rohani bagi masyarakat/manusia yang menghuninya.

f.

Asri
Dalam arti bahwa upaya pengaturan tata ruang di desa dan di kota dapat serasi, selaras, dan
seimbang dengan kegiatan-kegiatan manusia yang menghuninya sehingga akan
menumbuhkan perasaan kerasan, asri tidak harus mewah tetapi lebih cenderung
pemanfaatan potensi lingkungan yang bersandar pada kreatifitas manusiawi.

III.5. VISI DAN MISI


III.3. WARNA DAN ARTINYA
a. Warna dasar hijau berarti kesuburan dan kemakmuran;
b. Warna lukisan hitam berarti keabadian;
c. Warna biru berarti kesetiaan;
d. Warna kuning dan kuning emas berarti keluhuran, keagungan, dan kemasyuran;
e. Warna merah berarti keberanian;
f. Warna putih berarti kesucian;
g. Warna hijau muda berarti kesuburan dan harapan.
III.4. MAKNA LAMBANG
a.

10

Produktif-Profesional
Dalam arti bahwa semua potensi daerah baik sumber daya alam maupun sumber daya
manusianya dapat berproduksi sehingga mampu memberikan andil terhadap pembangunan
daerah, juga harus profesional dalam arti kata penekanan kepada setiap warganya dari
berbagai profesi, agar mereka betul-betul matang dan ahli dibidangnya masing-masing.
Tolok ukur profesionalisme ini dapat dilihat dari kualitas hasil kerjanya dihadapkan dengan
efisien penggunaan dana, sarana, tenaga serta waktu yang diperlukan.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

a.

Visi
Visi pembangunan Kabupaten Bantul adalah Bantul Projotamansari Sejahtera,
Demokratis, dan Agamis. Visi tersebut mengandung pengertian bahwa kondisi Kabupaten
Bantul yang ingin diwujudkan di masa yang akan datang adalah Bantul yang produktifprofesional, ijo royo-royo, tertib, aman, sehat dan asri, sejahtera, dan demokratis, yang
semuanya itu akan diwujudkan melalui misi.

b.

Misi
Empat misi Kabupaten Bantul yang terdapat di dalam RPJMD Tahun 2011-2015 adalah
sebagai berikut:
1. Meningkatkan kapasitas pemerintah daerah menuju tata kelola pemerintah yang
empatik;
2. Meningkatkan kualitas hidup rakyat menuju masyarakat Bantul yang sehat, cerdas,
berakhlak mulia, dan berkepribadian Indonesia dengan memperhatikan pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi;
3. Meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan kualitas pertumbuhan
ekonomi, pemerataan pendapatan berbasis pengembangan ekonomi lokal, dan
pemberdayaan masyarakat yang responsif gender;
4. Meningkatkan kewaspadaan terhadap resiko bencana dengan memperhatikan penataan
ruang dan pelestarian lingkungan.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

11

c.

III.6.

Prioritas Pembangunan

Prioritas Pembangunan
1. Tata kelola pemerintahan yang
empatik dan bertanggung jawab

2. Pendidikan

3. Kesehatan

4. Pengembangan ilmu pengetahuan


dan teknologi

5. Pengentasan kemiskinan dan


penanganan
6. Pertanian dalam arti luas
7. Industri kecil dan koperasi
8. Perdagangan dan pasar tradisional

9. Pariwisata

10. Lingkungan hidup dan pengelolaan


bencana
11. Infrastruktur, penataan ruang dan
permukiman

CITY BRAND BANTUL

MISI 1
Meningkatkan
kapasitas pemerintah
daerah menuju tata
kelola pemerintahan
yang empatik
MISI 2
Meningkatkan
kualitas hidup rakyat
menuju masyarakat
Bantul yang sehat,
cerdas, berakhlak
mulia, dan
berkepribadian
Indonesia dengan
memperhatikan
pengembangan ilmu
pengetahuan dan
teknologi
MISI 3
Meningkatkan
kesejahteraan rakyat
melalui peningkatan
kualitas pertumbuhan
ekonomi, pemerataan
pendapatan berbasis
pengembangan
ekonomi lokal dan
pemberdayaan
masyarakat yang
responsive gender

a.

Pendahuluan
Dalam memasuki era pasar bebas, Kabupaten Bantul turut mengambil inisiatif dalam
mempromosikan potensi daerah dan keunggulan wilayahnya demi memajukan kehidupan
masyarakat. Usaha promosi ini merupakan usaha memasarkan Kabupaten Bantul dengan target
market yang meliputi (1) penduduk dan masyarakat daerah yang membutuhkan layanan publik
yang memadai: (2) TTI (trader, tourist dan investor) baik yang berasal dari dalam maupun dari luar
daerah; dan (3) TDO yang terdiri dari talent (SDM berkualitas), developer (pengembang), organizer.
Untuk mendukung upaya promosi dan pemasaran ini, Kabupaten Bantul membutuhkan sebuah
ikon grafis berupa City Brand yang dapat mencerminkan ciri-ciri, potensi, sejarah dan budaya
masyarakat Kabupaten Bantul. Tema dari City Brand ini adalah membangun citra Bantul yang
memiliki visi Bantul Projo Tamansari Sejahtera, Demokratis dan Agamis.
Untuk mewakili Kabupaten Bantul dalam makna yang seluas mungkin namun cukup spesifik
mengetengahkan ciri yang dominan maka City Brand Kabupaten Bantul ini diabstraksikan melalui
penterjemahan kondisi lingkungan Kabupaten Bantul. Konsep lingkungan merupakan konsep yang
luas yang terdiri dari gabungan konsep lingkungan abiotik (fisik), lingkungan biotik (makhluk
hidup) dan lingkungan budaya (manusia dan aktifitasnya). Abstraksi dari konsep lingkungan di
Kabupaten Bantul ini diharapkan mewakili citra Bantul dalam sebuah rancangan identitas visual
dalam bentuk City Brand.

b.

Proses Abstraksi Ide


City Brand ini dirancang untuk mewakili Kabupaten Bantul melalui visualisasi kondisi geografis
dan potensi unggulan wilayah. Dengan penggambaran ini, pembaca atau pengamat logo dapat
mengasosiasikannya dengan Kabupaten Bantul dengan atribut-atribut fisik, lingkungan hidup,
ekonomi, sosial dan budayanya.

MISI 4
Meningkatkan
kewaspadaan
terhadap resiko
bencana dengan
memperhatikan
penataan ruang dan
pelestarian
lingkungan

Gambar 5
Hubungan Prioritas Pembangunan dengan Misi Kabupaten Bantul

12

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

13

c.

Aspek Lingkungan Fisik


Kabupaten Bantul terletak di bentang alam yang sebagian besar terdiri dari dataran aluvial dan
beberapa perbukitan di sebelah Timur wilayah kabupaten. Wilayah Kabupaten Bantul merupakan
bagian dari geoekosistem yang lebih besar, di mana termasuk di dalamnya Kabupaten Sleman dan
Kota Yogyakarta. Geoekosistem ini terdiri dari ekosistem kerucut gunungapi, lereng dan kaki
gunungapi serta dataran aluvial yang berujung di sebelah Selatan yaitu ekosistem pantai dan
perairan laut. Kabupaten Bantul menempati wilayah yang dicirikan dengan dataran yang relatif
landai dengan beberapa variasi relief bumi yang berbukit. Wilayah ini memiliki kelimpahan sumber
daya air yang memadai untuk mendukung keberlangsungan lingkungan hidup di dalamnya.
Lingkungan fisik ini merupakan potensi yang sangat kuat sebagai obyek kunjungan wisata.
Lingkungan ini menghadirkan berbagai pilihan wisata alam seperti sungai, hutan dan pantai.

f.

Arti Warna dan Bentuk


1. Warna
Dominan hijau: mewakili ide ijo royo-royo yang melambangkan kehidupan yang Dominan
hijau: mewakili ide ijo royo-royo yang melambangkan kehidupan yang berkelanjutan di
Kabupaten Bantul; warna ini berasosiasi pada konsep pembaharuan, pergantian yang lebih baik
dan harmonis.
Warna biru: berasosiasi pada air dan bahari yang merupakan pelengkap yang ideal dari
kehidupan agraris; biru dapat juga berarti ketenangan.
Warna coklat: berasosiasi pada potensi tanah yang baik untuk berbagai kegiatan produksi
baik tanaman maupun olahan industri; warna coklat juga berhubungan dengan stabilitas,
berkaitan dengan kebumian, keutuhan dan keteraturan.
Warna abu-abu: berasosiasi pada dinamika dan harapan.
[http://www.sensationalcolor.com/color-meaning-symbolism-and-psychology/]

2. Bentuk
Logo branding Kabupaten Bantul dirancang menggunakan bentuk-bentuk plastis, non-formal
dan dinamis. Pemilihan ini bertujuan, pertama: menggambarkan dinamika masyarakat Bantul
yang senantiasa bergerak menuju perbaikan; kedua: secara visual bentuk plastis yang dibangun
dari kurva-kurva yang halus memberikan kualitas estetika dan mempengaruhi persepsi ke arah
keindahan, keluhuran dan keagungan.
g.

14

d.

Aspek Lingkungan Hidup


Lingkungan fisik yang ada menjadi wadah untuk hidup yang ideal
dari beberapa jenis produk unggulan di Kabupaten Bantul,
termasuk sejumlah besar potensi pertanian, perkebunan,
kehutanan, dan juga peternakan serta perikanan.
Kabupaten Bantul juga memiliki kawasan lindung yang
merupakan kawasan yang ditetapkan untuk fungsi utama
melindungi kelestarian lingkungan hidup untuk menjamin
berlangsungnya pembangunan yang berkelanjutan.

e.

Aspek Sosial Ekonomi & Budaya


Mayoritas masyarakat Kabupaten Bantul bekerja di bidang pertanian,
perdagangan, industri (kecil dan menengah) dan jasa. Hal ini
menggambarkan pergeseran dari budaya subsistence menuju
masyarakat industri. Pergeseran ini ditandai dengan mulai
beragamnya kegiatan industri kecil dan menengah di samping
kegiatan agraris yang dominan.
Kegiatan industri menjadi wahana masyarakat Bantul untuk
mengekspresikan kemampuan olah rasa dan olah pikir dalam
menghasilkan karya-karya budaya yang berkualitas. Karya-karya ini
merupakan hasil budaya yang adi luhung dengan berbagai fungsi dan makna serta
didasari cita rasa seni yang tinggi.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Muatan Visi dan Misi Kabupaten Bantul


Bentuk gentong gerabah menggambarkan hasil dari sebuah usaha budi daya akal dan pikiran
yang ditopang oleh usaha bekerja dalam sebuah proses mencipta (karsa dan karya). Ini merupakan
manifestasi dari konsep produktif dan profesional dalam visi dan misi Kabupaten Bantul.
Konsep ijo royo-royo dan asri disimbolkan dalam bentuk dan warna pada bagian tengah logo
yang berbentuk dan berwarna menyerupai tanaman/pohon. Simbol ini mewakili ide tentang
kesinambungan kehidupan atau kehidupan yang berkelanjutan (sustainable). Konsep aman, tertib
dan sehat tergambar melalui urutan simbol yang mengikuti pola teratur dari model lingkungan fisik
yang ada, yang mengikuti arah pergerakan air mulai dari hulu hingga ke hilir (pantai). Keteraturan
yang mendasari kinerja alam tentu akan menghasilkan lingkungan yang lebih sehat, berkualitas dan
berkelanjutan.
Karakter bentuk yang plastis dan dinamis namun mengikuti kaidah atau order tertentu
memberikan kesan luasnya keterlibatan semua lapisan masyarakat Bantul dalam membangun
wilayahnya, bukan bentuk Top-Down yang rigid melainkan Bottom-Up yang fleksibel; bukan
birokratis yang kaku melainkan partisipatif yang akomodatif. Ini merupakan simbolisasi dari
konsep demokratis.
Logo ini merupakan abstraksi dari konsep lingkungan alam (fisik, hayati dan budaya) yang
semuanya merupakan obyek yang tercipta dari hasil karya Tuhan Yang Maha Esa. Logo ini
diharapkan akan menjadi pengingat bagi masyarakat Bantul agar dengan sadar senantiasa
mensyukuri nikmat kekayaan sumberdaya alam ini melalui kegiatan berbudaya dan pengelolaan
sumberdaya dengan sebaik-baiknya.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

15

BAB IV
DATA UMUM

IV.1.

LETAK GEOGRAFIS
Wilayah Kabupaten Bantul merupakan salah satu wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang
terletak paling selatan di mana secara geografis, Kabupaten Bantul terletak antara 0744'04"0800'27" Lintang Selatan dan 11012'34"-11031'08" Bujur Timur, dengan batas-batas wilayah
sebagai berikut:
Sebelah Utara
:
Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman;
?
Sebelah Selatan :
Samudera Indonesia;
?
Sebelah Barat
:
Kabupaten Kulonprogo dan Kabupaten Sleman;
?
Sebelah Timur
:
Kabupaten Gunungkidul.
?

IV.2.

PEMBAGIAN ADMINISTRATIF
Luas wilayah Kabupaten Bantul adalah 506,85 Km2 dan secara administratif terdiri dari 17
kecamatan yang dibagi menjadi 75 desa dan 933 pedukuhan (Tabel 2). Kecamatan Dlingo adalah
kecamatan yang mempunyai wilayah paling luas, yaitu 55,87 km2 sementara Kecamatan
Srandakan adalah kecamatan dengan wilayah paling sempit, yaitu 18,32 Km2. Sedangkan jumlah
desa dan pedukuhan yang terbanyak terdapat di Kecamatan Imogiri dengan delapan desa dan 72
pedukuhan.
Tabel 2
Jumlah Desa, Dusun dan Luas Kecamatan Tahun 2013

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Kecamatan
Srandakan
Sanden
Kretek
Pundong
Bambanglipuro
Pandak
Pajangan
Bantul
Jetis
Imogiri
Dlingo
Banguntapan
Pleret
Piyungan
Sewon
Kasihan
Sedayu
Jumlah

Jumlah Desa

Jumlah Dusun

Luas (Km2)

2
4
5
3
3
4
3
5
4
8
6
8
5
3
4
4
4
75

43
62
52
49
45
49
55
50
64
72
58
57
47
60
63
53
54
933

18,32
23,16
26,77
23,68
22,70
24,30
33,25
21,95
24,47
54,49
55,87
28.48
22,97
32,54
27,16
32,38
34,36
506,85

3,61
4,57
5,28
4,67
4,48
4,79
6,56
4,33
4,83
10,75
11,02
5,62
4,53
6,42
5,36
6,39
6,78
100,00

Sumber: Bagian Tata Pemerintahan , 2013

Desa-desa di Kabupaten Bantul dibagi lagi berdasarkan statusnya menjadi desa pedesaan
(rural area) dan desa perkotaan (urban area). Secara umum jumlah desa yang termasuk dalam
wilayah perkotaan sebanyak 41 desa, sedangkan desa yang termasuk dalam wilayah perdesaan
sebanyak 34 desa. Kabupaten Bantul masih mempunyai desa tertinggal sebanyak 15 desa dan
satu desa sangat tertinggal (Tabel 3 dan 4).
Tabel 3
Desa Tertinggal Tahun 2012

Gambar 6
Peta Batas Wilayah Kabupaten Bantul
Apabila dilihat dari bentang alamnya, wilayah Kabupaten Bantul terdiri dari daerah dataran
yang terletak pada bagian tengah dan daerah perbukitan yang terletak pada bagian timur dan
barat, serta kawasan pantai di sebelah selatan. Kondisi bentang alam tersebut relatif membujur
dari utara ke selatan.

No.

Nama Desa

Status

Skor

Keterangan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Seloharjo
Triharjo
Argosari
Jatimulyo
Poncosari
Gadingsari
Caturharjo
Selopamioro
Mangunan
Muntuk
Terong
Segoroyoso
Bawuran
Wonolelo
Triwidadi
Guwosari

Perkotaan
Perkotaan
Perkotaan
Pedesaan
Perkotaan
Perkotaan
Perkotaan
Pedesaan
Pedesaan
Pedesaan
Pedesaan
Perkotaan
Pedesaan
Pedesaan
Pedesaan
Perkotaan

31
35
36
36
37
37
37
37
37
37
37
37
37
37
37
37

Sangat tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal
Tertinggal

Sumber: BPS Bantul, 2013

16

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

17

Tabel 4
Status Desa (Pedesaan/Perkotaan) dan Nama Dusun Tahun 2012

Status Desa/Kelurahan
No. Kecamatan
Pedesaan

Nama Dusun

Perkotaan

Nama Dusun

Status Desa/Kelurahan
No. Kecamatan
Pedesaan
1

18

Srandakan

Sanden

Kretek

Poncosari

Sri Gading

Nama Dusun
Singgelo; Talkondo;
Godekan; Wonotinggal;
Bayuran; Polosiyo;
Gunturgeni; Besole;
Sambeng I; Sambeng II;
Sambeng III; Jragan I;
Jragan II; Bibis; Kokap;
Koripan; Jopaten;
Bodowaluh; Karang;
Babagan; Krajan;
Ngentak; Kuwaru;
Cangkring .
Gedongan; Ceme; Celep;
Tinggen; Bonggalan;
Kalijurang; Ngunanunan;Wuluhadeg;
Wirosutan; Srabahan;
Gokerten; Sangkeh;
Malangan; Dengokan;
Dodogan; Ngemplak;
Ngepet; Tegalrejo; Cetan;
Sogesanden

Tirtohargo

Baros; Muneng; Gunung


Kunci; Gegunung;
Kalangan; Karang

Parangtritis

Kretek; Sono; Samiran;


Bungkis; Depok;
Duwuran; Grogol VII;
Grogol VIII; Grogol IX;
Grogol X; Mancingan.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Perkotaan

Nama Dusun

Trimurti

Srandakan; Greso; Klurahan;


Prokerten; Jetis; Sawahan;
Puron; Puluhan Kidul; Puluhan
Lor; Pedak; Gunungsaren;
Gunung Saren Lor; Nengahan;
Lopati; Bendo; Celan;
Cangunan; Mangiran;
Sapuangin .

Tirtosari

4
Gadingsari

Tirtomulyo

Plesan; Paliyan; Karen;


Gondangan; Kergan;
Bracan; Tokolan; Tluren;
Gaten; Jebugan;
Karangwaru; Genting;
Soropadan; Jetis;
Punduhan.

Seloharjo

Dukuh; Nambangan;
Pentung; Dermojurang;
Bobok tempel; Geger;
Soka; Karangasem;
Ngentak; Biro;
Kalipakem; Blali; Ngreco;
Poyahan; Jelapan;
Kalinampu .

Panjangrejo

Grudo; Jamprit; Nglembu;


Tarungan; Gedangan;
Badan; Panjang;
Soronanggan; Gedong;
Watu; Jetis; Nglorong;
Semampir; Krapyak
Kulon; Krapyak Wetan;
Gunung Puyuh.

Sumbermulyo

Tangkilan; Kutu; Kedon;


Kaligondang; Gedogan;
Gunungan; Jogodayoh;
Plumbungan; Caben;
Samen; Gersik;
Bondalem; Kintelan;
Cepoko.

Dayu; Kenteng; Ketalo; Klatak;


Soka; Sorobayan; Bongos I;
Bongos II; Klakaran; Tegesan;
Nampan; Nanggulan; Demakan;
Wonorejo I; Wonorejo II;
Patihan; Wonoroto; Demangan

Gadingharjo

Kalimundu; Daleman; Merten;


Ngunjung; Pranti; Karanganyar.

Murtigading

Ngentak; Pucang Anom I;


Trisigan I; Trisigan II; Dagan;
Sanggrahan; Kurahan I;
Kurahan II; Piring I; Piring II;
Mayungan I;Mayungan II;
Pucung Anom II; Pucung Anom
III; Sanden; Bongoskenthi;
Peciro; Kranggan

Donotirto

Pundong

Bambang
lipuro

Mulekan I; Mulekan II;


Pangkah; Cimpon;
Tegaltapen; Buruhan;
Galan.

Kalipakel; Gading daton;


Palangjiwan; Gading lumbung;
Gadingharjo; Mersan; Colo;
Busuran; Sruwuh; Tegalsari;
Metuk; Greges; Mriyan.
6

Pandak

Caturharjo

Bayuurip; Gluntung Lor;


Gluntung Kidul; Gumulan;
Tegalsempu; Tunjungan;
Krapakan; Samparan;
Tegallayang 9;
Tegallayang 10;
Kuroboyo; Korowelang;
Glagahan; Bogem.

Srihardono

Sawahan; Candi; Monggang;


Tangkil; Baran; Piring;
Pundong; Jonggrangan; Gulon;
Paten; Pranti; Potrobayan;
Tulung; Klisat; Nangsri;
Seyegan; Ganjuran.

Sidomulyo

Ngajaran; Cangkring; Palihan;


Sirat; Ngireng-ireng; Tempel;
Prenggan; Selo; Plematung;
Plebengan; Pongok; Pinggir;
Turi; Glodongan; Kuwon.

Mulyodadi

Mejing; Paker; Wonodoro;


Destan; Kraton; Bregan;
Plumutan; Cangkring; Tulasan;
Jomblang; Ngambah; Kepuh;
Warungpring

Wijirejo

Pandak; Bajang; Gesikan III;


Gesikan IV; Bergan; Ngeblak;
Pedak; Kauman; Gedongsari;
Kwalangan.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

19

Status Desa/Kelurahan

Status Desa/Kelurahan

No. Kecamatan
Pedesaan
Triharjo

Bantul

Imogiri

Kadisoro; Jodog;
Karangasem; Daleman;
Jomboran; Kauman;
Bongsren; Kadekrowo;
Gunting; Depok;
Tegallurung; Banjarwaru;
Krekah.

Sabdodadi

Neco; Manding; Kadibeso;


Dukuh; Keyongan.

Selopamiro

Perkotaan

Nama Dusun

Siangan; Juwono;
Ngabean; Gunturan;
Ciren; Jalakan; Jigudan;
Tirto; Jaten; Nglarang.

Gilangharjo

Sriharjo

20

Nama Dusun

No. Kecamatan

Palbapang

Ringin harjo

Gemahan; Deresan; Gumuk;


Soropaten; Mandingan; Bantul
Karang.

Bantul

Kurahan; Bantul Warung;


Gandekan; Nyangkringan;
Babadan; Badengan; Teruman;
Bejen; Geblag; Karanggayam;
Grujugan; Serayu.

Trirenggo

Gempolan; Sragan; Klembon;


Priyan; Pasutan; Bogoran; Pepe;
Nogosari; Gedongan;
Gandekan; Manding; Kweden;
Sumberbatikan; Bakulan;
Cepoko; Karangmojo; Bantul
Timur.

Lanteng I; Lanteng II;


Lemah Rubuh; Jetis;
Kedung Jati; Nogosari;
Nawungan I; Nawungan
II; Kajor Wetan; Kajor
Kulon; Siluk I; Siluk II;
Pelemantung; Putat;
Kalidadap I; Kalidadap II;
Srunggo I; Srunggo II.

Kebonagung

Miri; Jati; Majohuro;


Pelemadu; Sungapan;
Gondosuli; Trukan;
Dogongan; Ketos;
Ngrancah; Pengkol;
Sompok; Wunut.

Karangtalun

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Kadirojo; Karasan; Sumurn;


Taskombang; Dagaran;
Ngringinan; Bolon; Peni;
Karangasem; Serut.

Mandingan; Kanten; Jayan;


Kalangan; Tlogo

Dlingo

Pedesaan

Nama Dusun

Perkotaan

Karangteng
ah

Kemasan; Karang Tengah;


Pucung Rowong;
Karangrejek; Mojolegi;
Numpukan.

Imogiri

Mangunan

Muntuk

Cempluk; Mangunan;
Sukorame; Lemahbang;
Kediwung; Kanigoro.

Nama Dusun
Dukuh; Kertan; Paduresan;
Imogiri.

Wukirsari

Singosaren; Bendo; Mangung;


Sindet; Taliman; Pundung;
Karang Kulon; Giriloyo;
Cangkehan; Nogosari I;
Nogosari II; Karangasem;
Jatirejo; Karangtalun;
Dengkeng.

Girirejo

Dronco; Kradenan; Pajimatan;


Banyusumurup; Tegalrejo.

Dlingo

Seropan III; Dlingo I; Dlingo II;


Karipan I; Karipan II; Pokoh I;
Pokoh II; Pakis I; Pakis II;
Kebosungu I; Kebosungu II.

Gunung cilik; Muntuk;


Sanggrahan I; Sanggrahan
II; Banjarharjo I;
Banjarharjo II; Tangkil;
Karangasem; Seropan I;
Seropan II.

Temuwuh

Tekik; Temuwuh; Salam;


Klepu; Kapingan;
Nglampengan;
Jambewangi; Jurug;
Tanjung; Lungguh;
Ngunu; Tanjan

Jatimulyo

Maladan; Tegallawas;
Gayam; Bandean;
Semuten; Banyuurip;
Loputih; Kedug ayak;
Rejosari; Dodongan

Karangtalun; Setran;
Bandungan; Sareyan; Salaman .

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

21

Status Desa/Kelurahan

Status Desa/Kelurahan

No. Kecamatan

10

Jetis

Pedesaan

Nama Dusun

Terong

Kebo kuning; Saradan;


Pancuran; Rejosari;
Terong I; Terong II;
Pencitrejo; Sendangsari;
Ngenep
Bakulan Kulon; Bakulan
Wetan; Ngaglik; Gelangan;
Jetis; Tanjung Lor;
Tanjung Karang; Gaduh;
Patalan; Panjangjiwo;
Karangasem; Daleman;
Sulang Lor; Garselo;
Sulang Kidul; Dukun
Sukun; Butuh; Boto;
Kategan; Ketandan;
Bobok.
Gadungan Kepuh;
Gadungan Pasar; Jayan;
Wonolopo; Kiringan;
Banyudonom; Suren
Kulon; Suren Wetan;
Gaten; Beran; Kralas;
Plembutan; Canden; Pulo
Kadang; Ngibikan
Tegalrejo; Bawuran I;
Bawuran II; Jambon;
Kedungpring; Sentulrejo;
Sanan

Patalan

Canden

11

Pleret

Bawuran

Wonolelo

Segoroyoso

12

22

Piyungan

Sitimulyo

Kedungrejo; Cegokan;
Majasari; Depok;
Guyangan; Ploso;
Purworejo; Bojong
Srumbung; Jembangan;
Kloron; Segoroyoso I;
Segoroyoso II; Trukan;
Karanggayam; Dahromo I;
Dahromo II;
Babatan; Karanganom;
Karangtengah; Mojosari;
Karangplosos; Nglengis;
Madugondo; Somokaton;
Monggang; Karanggayam;
Kunden; Cepokojajar;
Padangan; Ngampon;
Pagergunung I;
Pagergunung II;
Nganyang; Banyakan I;
Banyakan II; Banyakan III;
Ngablak

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Perkotaan

Trimulyo

Nama Dusun

Blawong I; Blawong II;


Bembem; Kemdnag Songo;
Sindet; Cembing; Bulu; Karang
Semut; Puton; Denokan;
Penggok I; Penggok II.

No. Kecamatan

13

Banguntapan

Pedesaan

Tamanan

Jagalan

Sumberagung

Wonokromo

Sawahan; Balakan; Ngentak;


Paten; Bungas; Barongan;
Kiyaran; Pangkah; Medelan;
Cangkring; Beji; Turi; Kertan;
Bulus Kulon; Manggung; Titang;
Nogosari.

Pandes I; Pandes II; Jejeran I;


Jejeran II; Wonokromo I;
Wonokromo II; Brajan;
Karanganom; Ketonggo; Jati;
Demangan; Sareyan

Pleret

Gunungan; Trayeman; Kauman;


Gunungkelir; Kedaton;
Pungkuran; Karet; Kerto;
Kanggotan; Bedukan; Keputren

Srimulyo

Bangkel; Klenggotan; Payak


Cilik; Payak Tengah; Payak
Wetan; Onggopatran;
Kabrengan; Sandeyan;
Pledesan; Duwet Gentong;
Ngijo; Jombor; Bintaran Kulon;
Bintaran Wetan; Cikal;
Kradenan; Jolosutro; Prayan;
Ngelosari; Jasem; Padeyan;
Kaligatuk

14

Sewon

Nama Dusun

Kragilan; Tamanan;
Kauman; Krobokan;
Nglebeng; Grojogan;
Glagah Lor; Glagah Kidul;
Sokowaten.
Sayangan; Bodon.

Singosaren

Singosaren I; Singosaren
II; Singosaren III

Wirokerten

Grojogan; Botokenceng;
Sampangan; Tobratan;
Kepuh Wetan; Kepuh
Kulon; Kertopaten;
Mutihan

Jambidan

Ponegaran; Bintaran;
Joho; Dhuku; Kretek;
Pamotan; Combongan.

Potorono

Potorono; Salakan;
Prangwedanan;
Condrowangsan; Nglaren;
Mertosanan Wetan;
Mertosanan Kulon;
Balong lor; Banjardadap .

Pendowoharjo Dagen; Cepit; Sawhan;


Krandohan; Ngimbag;
Miri; Bandung; Ngaglik;
Monggang; Kaliputih;
Blunyahan; Pucung; Diro;
Rogoitan; Banyon;
Pendowo.
Timbulharjo

Perkotaan

Nama Dusun

Srimartani

Mandungan; Piyungan; Pos


Piyungan; Wanujoyo Lor;
Wanujoyo Kidul; Munggur;
Mutihan; Daraman; Kwasen;
Mojosari; Kmbnagsari; Petir;
Sanansari; Bulusari; Rejosari;
Kemloko; Umbulsari
Pelem; Mantup; Kalangan;
Wiyor; Giang; Ngipak; Plakaran;
Manggisan .

Baturetno

Banguntapan

Tegal Tandan; Jaranan;


Jomblangan; Wonocatur;
Karangjambe; karangbendo;
Sorowajan; Plumbon;
Pelemwulung; Pringgolayan;
Modalan.

Bangunharjo

Jotawang; Salakan;
Randubelang; Wojo; Tanjung;
Saman; Druwo; Tarudan;
Ngoto; Pandeyan; Bakung;
Semail; Mredo; Gatak; Widoro;
Jurug; Demangan .

Dadapan; Tembi; Gatak;


Panggungharjo Garon; Cabean; Ngireng-ireng;
Balong; Gabusan; Dagan;
Geneng; Jaranan; Glondong;
Sewon; Mriyan; Kowen I;
Pandes; Sawit; Kweni;
Kowen II; Dobalan;
Pelemsewu; Glugo; Dongkelan;
Sudimoro; Bibis; Ngasem;
Krapyak Kulon; Krapyak Wetan.
Kepek; Ngentak.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

23

Jarak kota-kota kecamatan terhadap desa terjauh, ibukota kabupaten, dan ibukota provinsi
adalah Kecamatan Dlingo, sedangkan jarak Kecamatan terdekat dengan ibukota kabupaten adalah
Kecamatan Bantul dan jarak Kecamatan terdekat dengan ibukota provinsi adalah Kecamatan
Sewon dan Kasihan (Tabel 5).

Status Desa/Kelurahan
No. Kecamatan
15

Kasihan

Pedesaan

Nama Dusun

Perkotaan

Nama Dusun

Tamantirto

Geblagan; Gatak; Ngebel;


Ngrame; Jetis; jadan;
Brajan; Gonjen; Kasihan;
Kembaran.

Tirtonirmolo

Kalipakis; Kersan : Jeblog;


Plurugan; Padokan Lor;
Padokan Kidul; Dongkelan;
Jogonalan Lor; Jogonalan Kidul;
Glondong; Mrisius; Beton.

Ngestiharjo

Bangunjiwo

16

Pajangan

Guwosari

Tambak; Sumberan;
Soragan; Cungkuk;
Kadipiro; Sonosewu;
Jomegaten; Janten;
Senopakis Lor; Senopakis
Kidul; Onggobayan;
Sidorejo.
Gendeng; Ngentak;
Donotirto; Lemahdadi;
Salakan; Sambikerep;
Petung; Kenalan; Sribitan;
Kalirandu; Bangen; Bibis;
Jipangan; Kalangan;
Kalipucung; Gedongan;
Kasongan; Tirto;
Sembungan .
Kembang Putihan;
Kentholan Lor; Kentholan
Kidul; Gandekan; Dukuh;
Iroyudan; Kembang gede;
Kadisono; Karangber;
Santan; Kalakijo; Kedung;
Bungsing; Watu Gedog;
Pring Gading

Triwidadi

Sendangsari

17

Sedayu

Argodadi

Argomulyo

Dumpuh; Dingkikan;
Ngepak; Cawan Bakal;
Demangan; Bakal Dukuh;
Sukohardjo; Sumbera;
Selogedong; Sungapan
Dukuh; Sungapan;
Kadibeso; Brongkol
Puluhan; Kemusuk Lor;
Kemususk Kidul;
Srontakan; Samben;
Sengon karang; Watu;
Panggang; Karanglo;
Pedes; Plawonan;
Surobayan; Kaliurang;
Kaliberot.

Argosari

Argorejo

Guwo; Jojoran Wetan; Jojoran


Kulon; Nanggul; Kersan;
Sabrang Lor; Gampeng;
Pajangan; Kadireso; Blabak;
Polaman; Butuh Kidul; Butuh
Lor; Kalisoko; Ngincep;
Jogonandan; Jambean; Kayuhan
Wetan; kayuhan Kulon;
Plambongan; Trucuk.
Benyo; Jetis; Panjangan : Kayen;
Beji Wetan; Beji wetan;
Gupakwarak; Dadapbong;
Krebet; Kabrokan Wetan;
Kabrokan Kulon; Kamijoro;
Kunden; Manukan; Jaten;
Minggir Lor; Mangir tengah;
Mangir Kidul .
Kalijoho : Klangen; Tapen;
Batokan; Gunung Mojo;
Jambon; Tonalan; Gayam; Jaten;
Jurug; Gubug; Sedayu; Padusan.

Kalakan; Semampir; Kepuhan;


Polaman; Senowo; Gunungpolo;
Sundikidul; Badut Lor; Badut
Kidul; Metes; Pendul; Pereng
wetan; Ngentak

Tabel 5
Tinggi, Suhu dan Jarak Pusat Kota Kecamatan dengan Ibukota Kabupaten/Provinsi Tahun 2012
Suhu

No.

Kecamatan

Tinggi Pusat
Pemerintahan

maks

min

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Srandakan
Sanden
Kretek
Pundong
Bb. Lipuro
Pandak
Pajangan
Bantul
Jetis
Imogiri
Dlingo
Banguntapan
Pleret
Piyungan
Sewon
Kasihan
Sedayu

8
10
15
20
23
27
100
45
45
25
320
100
60
80
59
70
87,5

37
35
32
30
32
20
32
32
30
36
32
37
34
32
30
34
32,5

22
25
28
24
23
32
23
23
25
23
24
24
22
23
25
22
24,5

Jarak Pusat Pem. Wil Kec dengan


Desa/Kel
Terjauh
4
4
4
12
4
3
6
4
4
6
14
4
3
5.5
3
5
4

Ibu kota
Kabupaten
13
15
15
10
10
5
9
0.4
6
8
23
15
7
25
8
9
20

Ibu kota
Provinsi
23
24
28
18
19
16,5
22
12
15
17
33
10
13
14
7
7
12

Sumber: Bagian Tapem, 2013

IV.3.

KETINGGIAN TEMPAT
Berdasarkan elevasi lahan daratan dari permukaan air laut ketinggian tempat atau elevasi
dapat ditentukan di mana permukaan air laut dianggap mempunyai elevasi 0 meter. Ketinggian
tempat Kabupaten Bantul dibagi menjadi empat kelas dan hubungan kelas ketinggian dengan luas
sebarannya secara spasial ditunjukkan pada Tabel 6.
Tabel 6
Kelas Ketinggian dan Luas Wilayah Tahun 2012

No.

Kelas Ketinggian (dpl) m

Luas (ha)

(%)

07

3.228

6,37

7 25

8.948

17,65

25 100

27.709

54,67

100 - 500

10.800

21,31

> 500

50.685

100

Jumlah
Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul , 2013

Sumber: Bagian Tapem, Rekapitulasi Data Monografi Kota Ibukota Kabupaten dan Ibukota Kecamatan se-Kabupaten Bantul, 2013

24

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

25

Kelas ketinggian tempat yang dimiliki Kabupaten Bantul penyebaran paling luas adalah
elevasi antara 25 -100 meter (27.709 Ha atau 54,67%) yang terletak pada bagian utara, bagian
tengah, dan bagian tenggara Kabupaten Bantul. Wilayah yang mempunyai elevasi rendah (elevasi
<7 meter) seluas 3.228 Ha (6,37%) terdapat di Kecamatan Kretek, Kecamatan Sanden, dan
Kecamatan Srandakan. Wilayah dengan elevasi rendah umumnya berbatasan dengan Samudera
Indonesia. Untuk wilayah yang mempunyai elevasi di atas 100 meter terdapat di sebagian
Kecamatan Dlingo, Imogiri, Piyungan, dan Pajangan.
Ketinggian wilayah per kecamatan di Kabupaten Bantul (Tabel 7), memperlihatkan bahwa
kecamatan Srandakan dan Sanden merupakan daerah terendah di antara kecamatan-kecamatan
lain di Kabupaten Bantul, yaitu berkisar dari 0 sampai 25 meter dari permukaan laut, mencakup
areal seluas 4.161 Ha (8,2% dari seluruh luas kabupaten).

Luas kemiringan tanah/lereng (ha)

Tabel 7
Luas Wilayah Menurut Ketinggian dari Permukaan Laut Tahun 2012
Luas (Ha) dan Ketenggian tempat (dpl)
No.

Kecamatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Srandakan
Sanden
Kretek
Pundong
Bambanglipuro
Pandak
Pajangan
Bantul
Jetis
Dlingo
Banguntapan
Pleret
Piyungan
Sewon
Kasihan
Sedayu
Imogiri
Total

0-7m

7 - 25m

25 - 100m

100 - 500m

>500m

1.058
1.246
924
3.228

776
1.081
1.335
1.938
1.494
1.312
221
791
8.948

190
239
788
1.117
2.646
2.199
2.549
815
2.154
1.783
1.965
2.676
2.608
3.262
2.718
27.709

101
199
452
11
4.819
475
345
1.347
630
149
2.272
10.800

Jumlah
1.834
2.327
2.550
2.376
2.282
2.429
3.319
2.199
2.560
5.634
2.629
2.128
3.312
2.676
3.238
3.411
5.781
50.685

Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul , 2013

IV.4.

KEMIRINGAN LAHAN
Klasifikasi kemiringan lahan di Kabupaten Bantul dibagi menjadi enam kelas dan hubungan
kelas kemiringan/lereng dengan luas sebarannya, ditunjukkan pada Tabel 8.
Tabel 8
Luas Wilayah Berdasarkan Kemiringan Tanah Tahun 2012

No.

Kecamatan

7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Pajangan
Bantul
Jetis
Dlingo
Banguntapan
Pleret
Piyungan
Sewon
Kasihan
Sedayu
Imogiri
Total

0-2%

2-8%

8-15%

15-25%

25-40%

>40%

815
2.184
2.305
1.768
72
2.629
704
2.187
2.668
2.312
2.513
31.421

661
81
585
1.993
431
702
227
5.898

990
279
268
365
598
300
2.800

162
15
144
900
572
55
8
182
138
2.293

394
954
1.433
547
423
161
233
4.264

247
30
1.295
1.296
26
35
4.009

Jumlah
3.269
2.199
2.560
5.781
5.634
2.629
2.128
3.312
2.676
3.288
3.411
50.685

Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul, 2013

Wilayah Kabupaten Bantul pada umumnya berupa daerah dataran (kemiringan kurang dari
2%) dengan penyebaran di wilayah selatan, tengah, dan utara dari Kabupaten Bantul dengan luas
sebesar 31,421 Ha (61,96%). Untuk wilayah timur dan barat umumnya berupa daerah yang
mempunyai kemiringan 2,1 - 40,0% dengan luas sebesar 15.148 Ha (30%). Sebagian kecil wilayah
timur dan barat seluas 4.011 Ha (8%) mempunyai kemiringan lereng di atas 40,1%. Apabila
dilihat per wilayah kecamatan terlihat bahwa wilayah kecamatan yang paling luas memiliki lahan
miring terletak di Kecamatan Dlingo dan Imogiri, sedangkan wilayah kecamatan yang didominasi
oleh lahan datar terletak di Kecamatan Sewon dan Banguntapan.
IV.5.

JENIS TANAH
Kabupaten Bantul mempunyai tujuh jenis tanah yaitu tanah Rendzina, Alluvial, Grumosol,
Latosol, Mediteran, Regosol, dan Litosol. Jenis tanah Regosol merupakan jenis tanah yang dominan
di wilayah Kabupaten Bantul. Jenis tanah ini tersebar pada Kecamatan Kasihan, Sewon,
Banguntapan, Jetis, Bantul, dan Bambanglipuro. Tanah Regosol adalah tanah yang berasal dari
material gunung berapi, bertekstur kasar bercampur dengan pasir, dengan solum tebal dan
memiliki tingkat kesuburan rendah. Tanah Litosol berasal dari batuan induk batu gamping,
batupasir, dan breksi/konglomerat, tersebar di Kecamatan Pajangan, Kasihan, dan Pandak.
Tanah Mediteran berasal dari batugamping karang, batugamping berlapis, dan batupasir,
tersebar di Kecamatan Dlingo dan sedikit di Sedayu. Tanah Latosol berasal dari batuan induk
breksi, tersebar di Kecamatan Dlingo, Imogiri, Pundong, Kretek, Piyungan, dan Pleret. Tanah
Grumosol berasal dari batuan induk batu gamping berlapis, napal, dan tuff, terdapat di
Kecamatan Sedayu, Pajangan, Kasihan, Pandak, Sanden, Bambanglipuro, dan Srandakan.
(Gambar 7)

Luas kemiringan tanah/lereng (ha)

26

No.

Kecamatan

1
2
3
4
5
6

Srandakan
Sanden
Kretek
Pundong
Bambanglipuro
Pandak

0-2%

2-8%

8-15%

15-25%

25-40%

>40%

1.680
2.100
1.756
1.395
2.210
2.123

154
227
288
171
72
306

27
90
-

11
108
-

468
612
-

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Jumlah
1.834
2.327
2.550
2.376
2.282
2.429

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

27

IV.7.
Renzina
14%

2% 2%
15%

Aluvial

Grumusol
13%

Tabel 10
Data Curah Hujan 2008-2012 di Kabupaten Bantul

Latosol

Mediteran
3%

Regosol

Lithosol

51%

Sumber: Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul, 2013

Gambar 7
Hubungan Jenis Tanah dengan Luas Penyebaran
Tahun 2012

IV.6.

GEOLOGI
Formasi adalah suatu susunan batuan yang mempunyai keseragaman ciri-ciri geologis yang
nyata, baik terdiri dari satu macam jenis batuan, maupun perulangan dari dua jenis batuan atau
lebih yang terletak di permukaan bumi atau dibawah permukaan. Geologi menunjukkan
kelompok-kelompok bantuan yang berguna sebagai indikator terdapatnya suatu bahan tambang.
Jenis batuan yang terdapat di Kabupaten Bantul secara umum terdiri dari tiga jenis batuan
yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan endapan. Berdasarkan sifat-sifat batuannya dapat
diperinci menjadi tujuh formasi yaitu Formasi Yogyakarta (46%), Formasi Semilir-Nglanggran
(24%), Formasi Sentolo (18%), Formasi Wonosari (8%), Formasi Sambipitu (3%) dan gumuk
pasir (1%). Formasi adalah suatu susunan batuan yang mempunyai keseragaman ciri-ciri geologis
yang nyata, baik terdiri dari satu macam jenis batuan, maupun perulangan dari dua jenis batuan
atau lebih yang terletak di permukaan bumi atau di bawah permukaan (Tabel 9).
Tabel 9
Hubungan Formasi Geologi dengan Luas Penyebarannya
No.

Formasi Geologi

1
2
3
4
5
6

Jenis Batuan

F. Yogyakarta
Pasir vulkanik klastik, lanau, gravel
F. Semilir-Nglanggran
Breksi, batupasir, tuff
F. Sentolo
Batu gamping berlapis, napal, tuff
F. Wonosari
Batugamping karang lagoon
F. Sambipitu
Konglomerat, batupasir
F. Gumuk Pasir
Pasir tersortasi
Jumlah
Sumber: Bappeda Kabupaten Bantul, 2013

Luas (Ha)

23.316
12.164
9.123
4.055
1.520
507
50.685

46
24
18
8
3
1
100

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

No.

Bulan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah
Rata-rata

2008
MM
649
365
350
163
20
4
0
0
0
162
372
276
2.361
197

HH
31
29
31
21
7
1
0
0
0
19
27
27
193
16

2009
MM
188
194
109
129
0
45
0
0
0
0
196
225
1.086
91

HH
17
12
10
10
0
16
2
0
0
0
8
10
85
7

2010
MM
181
193
136
143
39
41
1
0
0
0
167
211
1.111
93

HH
17
13
10
12
6
4
3
0
0
0
9
13
87
7

2011
MM
178
317
146
111
135
43
6
0
0
7
527
396
1.865
155

HH
15
8
15
13
4
4
2
0
0
2
16
14
91
8

2012
MM
182
128
153
127
21
31
4
0
0
0
233
211
1.090
91

HH
18
9
12
11
3
3
2
0
0
0
7
14
79
7

Sumber: Dipertahut, 2013


Keterangan:
- Bulan basah: curah hujan lebih dari 100 mm
- Bulan lembab: curah hujan antara 60-100 mm
- Bulan kering: curah hujan kurang dari 60 mm

Untuk mengetahui pola curah hujan pada suatu wilayah tertentu diperlukan parameter data
minimal berupa banyaknya hari hujan dan intensitas curah hujan yang secara spasial tertuang
dalam Peta Intensitas Curah Hujan Tahunan.
V.8.

Geologi menunjukkan kelompok-kelompok batuan yang berguna sebagai indikator


terdapatnya suatu bahan tambang. Untuk mengetahui jumlah cadangan bahan galian dan prospek
pengembangannya memerlukan penanganan lebih lanjut dari dinas/instansi terkait.

28

POLA CURAH HUJAN


Secara umum iklim di wilayah Kabupaten Bantul dapat dikategorikan sebagai daerah
beriklim tropis basah (humid tropical climate) karena termasuk tipe Af sampai Am dari klasifikasi
iklim Koppen. Pada musim hujan, secara tetap bertiup angin dari Barat Laut yang membawa udara
basah dari Laut Cina Selatan dan bagian Barat Laut Jawa. Pada musim kemarau, bertiup angin
kering bertemperatur relatif tinggi dari arah Australia yang terletak di Tenggara. Data curah hujan
disajikan sebagai perbandingan adalah data pada Tahun 2008-2012 (Tabel 10).

DAERAH ALIRAN SUNGAI


Kabupaten Bantul terdapat tiga daerah aliran sungai (DAS) yaitu DAS Progo, DAS Opak, dan
DAS Oya. DAS Oya mempunyai satu sub-DAS yaitu sub-DAS Oya. Untuk DAS Opak mempunyai 12
sub-DAS yaitu sub-DAS Opak, Gawe, Buntung, Tepus, Kuning, Mruwe, Kedung Semerengan, Code,
Gajah Wong, Winongo, Bulus, Belik, dan Plilan. DAS Progo mempunyai satu sub-DAS yaitu sub-DAS
Bedog. Secara keseluruhan DAS di wilayah Kabupaten Bantul menempati lahan seluas 4.819,83
Ha. Sungai-sungai tersebut merupakan sungai yang berair sepanjang tahun (permanen),
meskipun untuk sungai yang kecil pada musim kemarau debit airnya relatif sedikit.
Salah satu fungsi dari masing-masing DAS adalah untuk mengairi areal pertanian. Untuk DAS
Opak menempati areal paling luas adalah 3.380,30 Ha dan untuk DAS Progo menempati luas
1.454,40 Ha. Di samping itu air sungai juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari
(Tabel 11).

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

29

Tabel 11
Daerah Aliran Sungai Tahun 2012
No.
1
2

Nama Sub-DAS

Luas (Ha)

Luas Lahan yang diairi


Ha

Oya
Kali Gawe
Kali Buntung
Kali Tepus
Kali Kuning
Kali Mruwe
Kali Kedung Semerengan
Kali Code
Kali Gajah Wong
Kali Winongo
Kali Bulus
Kali Belik
Kali Plilan
Kali Bedog
14 Sub Das

57,00
178,00
108,18
68,14
141,11
642,51
278,25
277,96
287,00
910,58
185,30
133,82
97,58
1.454,40
4.819,83

15,00
178,00
119,70
74,10
132,10
653,90
382,60
865,40
246,80
2.110,50
96,30
117,40
97,34
1.528,44
6.617,58

Nama Sub-DAS
Oya
Opak

Progo
JUMLAH

PENGGUNAAN LAHAN
Penggunaan lahan adalah informasi yang menggambarkan sebaran pemanfaatan lahan yang
ada di Kabupaten Bantul. Berdasarkan kondisi lahan di Kabupaten Bantul terdapat luas lahan
506,85 Km2 yang terbagi dalam beberapa klasifikasi penggunaan lahan yang terdiri dari
pekarangan, sawah, tegal, dan kebun campur (Tabel 12).

Permukiman

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Bambanglipuro
Banguntapan
Bantul
Dlingo
Imogiri
Jetis
Kasihan
Kretek
Pajangan
Pandak
Piyungan
Pleret
Pundong
Sanden
Sedayu
Sewon
Srandakan
Jumlah
Persentase

175,09
456,35
174,20
121,57
239,06
407,34
565,19
39,23
118,40
90,10
336,57
235,63
82,81
51,64
275,41
483,74
75,32
3.927,61
7,75

Tegalan

Kebun
campuran

Hutan

Tanah
tandus

Tambak

Lain-lain

Jumlah

1.164,61
0
1.299,83
7,68
1.210,99
2,00
261,00 1.705,39
922,85 2.128,00
1.346,91
105,00
840,97
107,15
953,84
209,45
280,67
424,72
44,00
984,84
551,16
1.324,18
634,91
715,78
456,00
875,41
123,00
836,08
72,20
978,72
2,00
1.398,26
53,00
484,46
15.879,40 6.625,67
13,07
31,33

819,00
655,01
688,92
1.460,00
1.186,00
513,00
1.567,61
470,00
2.295,00
1.063,00
717,00
356,00
733,50
896,00
1.840,49
645,42
693,88
16.599,84
32,75

0
0
0
1.198
187
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
1.385
2,73

0
0
0
0
23
0
0
302
0
0
0
0
0
119
0
0
99
543
1,07

0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
30
30
0,06

123,31
210,13
122,90
888,04
1.095,09
187,76
157,08
575,48
200,21
247,07
383,09
185,68
228,28
301,28
244,18
146,59
398,34
5.694,48
11,24

2.282
2.629
2.199
5.634
5.781
2.560
3.238
2.550
3.319
2.429
3.312
2.128
2.376
2.327
3.411
2.676
1.834
50.685
100,00

Sawah

Luas (Ha)
1.041
1.001
2.805
123
1.578
11

Rencana pengembangan Kawasan Lindung Kabupaten meliputi;


a. Kawasan hutan lindung
Penyebaran kawasan hutan lindung meliputi Desa Dlingo, Desa Mangunan, Desa Muntuk,
Desa Jatimulyo, Desa Temuwuh, Desa Terong Kecamatan Dlingo, Desa Wonolelo Kecamatan
Pleret, Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri, dan Desa Srimulyo Kecamatan Piyungan.
b. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya
Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya yaitu kawasan
resapan air.
c. Kawasan perlindungan setempat
Kawasan perlindungan setempat adalah kawasan sempadan sungai, kawasan sempadan
pantai, kawasan sekitar mata air, dan ruang terbuka hijau perkotaan kabupaten.
d. Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya
e. Kawasan rawan bencana
Kawasan rawan bencana meliputi kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan longsor,
kawasan rawan banjir, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan kekeringan.
2. Kawasan budidaya Kabupaten (Tabel 14)
Tabel 14
Luas Rencana Kawasan Budidaya Tahun 2012

Tabel 12
Penggunaan Lahan Tahun 2012 (Ha)
Kecamatan

Kawasan
Kawasan Hutan Lindung
Kawasan Resapan Air
Kawasan Sempadan Sungai
Kawasan Sampedan Pantai
Kawasan Sekitar Mata Air
Kawasan Suaka Alam dan Cagar Alam

Sumber : Bappeda Sarpras, 2013

Keseluruhan DAS di wilayah Kabupaten Bantul menempati lahan seluas 4.819,83 ha. DAS
yang menempati areal paling luas adalah DAS Opak dengan luas 3.308,43 ha. DAS Progo
menempati luas 1454,40 ha. Sungai-sungai tersebut merupakan sungai yang berair sepanjang
tahun (permanen), meskipun untuk sungai yang kecil pada musim kemarau debit airnya relatif
sedikit.

No.

Tabel 13
Luas Rencana Kawasan Lindung Tahun 2012
No
1
2
3
4
5
6

Sumber: Dinas SDA, Desember 2013

IV.9.

Berdasarkan Perda Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Bantul
Tahun 2010-2030 rencana pola ruang Kabupaten Bantul terdiri atas:
1. Kawasan Lindung Kabupaten (Tabel 13)

No
1
2
3
4
5

Kawasan
Kawasan Peruntukan Hutan Rakyat
Kawasan Pertanian Lahan Basah
Kawasan Pertanian Lahan Kering
Kawasan Peruntukan Permukiman Perkotaan
Kawasan Peruntukan Permukiman Perdesaan

Luas (Ha)
8.545
13.324
5.247
5.434
5.737

Sumber: Bappeda Sarpras, 2013

Rencana pengembangan kawasan budidaya Kabupaten terdiri atas:


a. Kawasan peruntukan hutan rakyat
Kawasan peruntukan kehutanan (hutan rakyat) direncanakan seluas kurang lebih 8.545
Hektar atau 16,86% dari luas wilayah Kabupaten Bantul.
b. Kawasan peruntukan pertanian
Kawasan peruntukan pertanian meliputi kawasan pertanian lahan basah, kawasan
pertanian lahan kering, dan kawasan peternakan. Kawasan pertanian lahan basah di
Kabupaten direncanakan seluas kurang lebih 13.324 Hektar atau 26,29%. Kawasan
pertanian lahan kering di Kabupaten direncanakan seluas kurang lebih 5.247 Hektar atau
10,35% dari luas wilayah Kabupaten Bantul. Kawasan peternakan di Kabupaten
direncanakan sebagai berikut:

Sumber: Kantor BPN, 2013

30

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

31

c.
d.
e.
f.
g.
h.

1) Peternakan itik di Kecamatan Kretek, Kecamatan Bantul, dan Kecamatan Sanden;


2) Peternakan sapi perah di Kecamatan Srandakan, Kecamatan Banguntapan, Kecamatan
Jetis, dan Kecamatan Sedayu;
3) Peternakan sapi potong tersebar di hampir seluruh kecamatan;
4) Peternakan babi di Kecamatan Srandakan dan Kecamatan Kasihan;
5) Peternakan kambing tersebar di hampir seluruh kecamatan;
6) Peternakan kerbau di Kecamatan Sanden dan Kecamatan Banguntapan;
7) Peternakan kelinci di Kecamatan Sanden
Kawasan peruntukan perikanan
Kawasan peruntukan pertambangan
Kawasan peruntukan industri
Kawasan peruntukan pariwisata
Kawasan peruntukan permukiman
Kawasan peruntukan lainnya

Sumber: Bappeda Kabupaten Bantul, 2013 (data diolah)

Gambar 8
Peta Penggunaan Lahan

Pada peta penggunaan lahan diatas ditampilkan bahwa penggunaan lahan terbesar adalah
untuk kebun campur sebesar 32,75% dan sawah sebesar 31,33%, sedangkan yang terkecil adalah
tambak sebesar 0,06%. Terlihat bahwa pemanfaatan kebun campur terbesar ada di Kecamatan
Pajangan yaitu seluas 2.295,00 Ha. Adapun persawahan terluas terdapat di Kecamatan Sewon
dengan luas 1.398,26 Ha. Sementara itu, pemanfaatan tambak hanya berada di wilayah Kecamatan
Srandakan seluas 30 Ha.

32

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

IV.10. POTENSI WILAYAH


Secara geografis dan administratif Kabupaten Bantul memiliki potensi pengembangan, hal
ini berdasarkan:
1. Batas wilayah yang tidak berbatas secara fisik, meski terdapat ring road namun
perkembangan saat ini telah melewati batas tersebut,
2. Topografi kawasan yang relatif datar,
3. Tidak terdapat kendala terhadap kawasan resapan air,
4. Banyaknya daerah wisata yang belum tergarap secara optimal untuk pengembangan
sektor hotel dan restoran.
Sesuai Perda Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2011 Tentang RTRW Kabupaten Bantul
Tahun 2010-2030, potensi pengembangan kawasan di Kabupaten Bantul dilakukan dengan
penetapan kawasan strategis kabupaten yang meliputi kawasan strategis ekonomi, kawasan
strategis sosio-kultural, dan pengembangan kawasan strategis lingkungan hidup.
1. Kawasan strategis ekonomi kabupaten meliputi:
a. Kawasan Strategis Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY);
b. Kawasan Strategis Bantul Kota Mandiri (BKM);
c. Kawasan Strategis Pantai Selatan,Pengembangan Pesisir dan Pengelolaan Hasil Laut
Pantai Depok, Pantai Samas, Pantai Kuwaru, dan Pantai Pandansimo;
d. Kawasan Strategis Industri Sedayu; dan
e. Kawasan Strategis Industri Piyungan.
2. Kawasan strategis sosio-kultural kabupaten meliputi Kawasan Strategis Desa Wisata dan
Kerajinan Gabusan-Manding-Tembi (GMT) dan Kasongan-Jipangan-Gendeng-Lemahdadi
(Kajigelem).
3. Kawasan strategis lingkungan hidup kabupaten meliputi:
a. Kawasan Strategis Agrowisata di Kecamatan Dlingo dan Agropolitan di Kecamatan
Sanden, Kecamatan Kretek, Kecamatan Pundong, Kecamatan Imogiri, dan Kecamatan
Dlingo; dan
b. Kawasan Strategis Gumuk Pasir Parangtritis yang berfungsi untuk pengembangan
ilmu pengetahuan dan penelitian.
IV.11. WILAYAH RAWAN BENCANA
Wilayah Kabupaten Bantul merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi
rawan bencana alam seperti: rawan banjir, bencana tanah longsor, gempa bumi, tsunami, dan
kekeringan. Bencana gempa tanggal 27 Mei 2006 terjadi hampir di seluruh Kabupaten Bantul.
Bencana air pasang merupakan bencana yang mengikuti bencana gempa bumi tahun 2006 dan
terjadi di kawasan pantai selatan Kabupaten Bantul meliputi Kecamatan Kretek, Sanden, dan
Srandakan. Kekeringan di Kabupaten Bantul hampir terjadi setiap tahun dan terjadi di Kecamatan
Dlingo, Piyungan, Pajangan, Pleret, Imogiri, dan Pundong. Kawasan rawan bencana sebagaimana
dimaksud dalam Perda Kabupaten Bantul Nomor 4 Tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Bantul
Tahun 2010-2030 meliputi kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan longsor, kawasan rawan
banjir, kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan kekeringan (Tabel 15).

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

33

Tabel 15
Kawasan Rawan Bencana Menurut Perda Nomor 4 Tahun 2011
tentang RTRW Kabupaten Bantul Tahun 2010-2030
No

Lokasi yang berpotensi

Jenis Bencana

1.

Kawasan rawan gempa bumi

Di seluruh kecamatan

2.

Kawasan rawan longsor

Imogiri, Dlingo, Pleret, Piyungan, Pundong.

3.

Kawasan rawan banjir

Kretek, Srandakan, Sanden, Pandak, Jetis, Pundong,


Pleret.

4.

Kawasan rawan gelombang pasang

Kretek, Srandakan,Sanden, sebagian Pandak,


sebagian Pundong, sebagian Imogiri, sebagian Jetis,
sebagian Bambanglipuro.

Kawasan rawan kekeringan

Dlingo, sebagian Piyungan, sebagian Pajangan,


sebagian Pleret, sebagian Imogiri, sebagian Pundong,
sebagian Sedayu, sebagian Kasihan, dan sebagian
Kretek.

5.

BAB V
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

V.1. KESEJAHTERAAN DAN PEMERATAAN


Kesejahteraan merupakan tujuan pembangunan di mana pembangunan yang dilakukan
diharapkan mampu mensejahterakan masyarakat secara menyeluruh. Pembangunan ekonomi
adalah serangkaian usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup
masyarakat, memperluas lapangan kerja, serta meratakan pembagian pendapatan masyarakat.
Salah satu cara untuk mengetahui peningkatan kesejahteraan penduduk adalah dengan melihat
hasil perhitungan Produk Domestik Regional Bruto yang ditetapkan berdasarkan pada Harga
Berlaku dan Harga Konstan.
Ada dua komponen utama dalam penyusunan PDRB, yaitu pertumbuhan PDRB dan PDRB per
kapita yang dijelaskan di bawah ini:
a. Pertumbuhan PDRB
Tabel 16
Distribusi Presentase Produk Domestik Regional Bruto
Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000
Tahun 2010-1012

Sumber: Bappeda, 2013

Upaya penanggulangan bencana dilakukan dengan penghijauan di kawasan rawan longsor


dan sekitar pantai, pembangunan talud, drainase, pembangunan prasarana air bersih, droping air,
dan sebagainya.
Pembangunan berbasis pengurangan risiko bencana:
1. Pada daerah-daerah sesar/wilayah rawan tinggi bencana gempa bumi tidak dibangun
untuk permukiman dan fasilitas umum,
2. Pada daerah-daerah sesar/wilayah rawan sedang, permukiman haruslah mempunyai
struktur bangunan yang kuat, begitu pula sekolah, puskesmas, tempat ibadah dan tokotoko,
3. Pada daerah-daerah sesar/wilayah rawan gempa, disiapkan sekolah siaga bencana, desa
siaga bencana, bahkan kantor siaga bencana.

PDRB
(Juta Rp)

Th
2010

PDRB
(Juta Rp)

Pertanian
Pertambangan &
Penggalian
Industri
Pengolahan
Listrik, Gas, dan
Air Bersih

933,259

23.52

920,457

22.03

955,730

21.72

36,525

0.92

38,782

0.92

39,568

0.90

647,939

16.33

690,977

16.54

692,762

15.74

36,289

0.91

37,969

0.91

40,373

0.92

Konstruksi

454,479

11.45

486,930

11.65

511,749

11.63

789,789

19.90

839,997

20.11

901,754

20.49

287,236

7.24

311,285

7.45

333,271

7.58

252,015

6.35

279,556

6.70

305,347

6.94

Lapangan
Usaha

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Perdagangan,
Hotel & Restoran
Pengangkutan &
Komunikasi
Keuangan, Sewa,
& Jasa
Perusahaan
Jasa-jasa
Jumlah

Th 2011*)

PDRB
(Juta Rp)

Th 2012**)

530,397

13.37

571,248

13.67

619,758

14.08

3,967,928

100.00

4,177,204

100.00

4,400,313

100.00

Sumber: BPS, 2013


*) : angka sementara
**) : angka sangat sementara

Tabel 17
Distribusi Presentase Produk Domestik Regional Bruto
Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2010-1012
Lapangan Usaha

No.

PDRB
(Juta Rp)

Th 2010

PDRB
(Juta Rp)

Th 2011*)

PDRB
(Juta Rp)

Th 2012**)

1.834.746

20.22

2.006.932

19.88

2.239.466

19.92

85.445

0.94

94.174

0.93

98.745

0.88

1.750.151

19.28

1.991.819

19.73

2.142.812

19.06

Pertanian

Pertambangan & Penggalian

Industri Pengolahan

Listrik, Gas, dan Air Bersih

108.148

1.19

114.736

1.14

124.112

1,10

Konstruksi

1.104.073

12.16

1.206.859

11.95

1.333.501

11.86

Perdagangan, Hotel & Restoran

1.602.662

17.66

1.799.008

17.82

2.055.059

18.28

Pengangkutan & Komunikasi

623.940

6.87

691.451

6.85

770.174

6.85

Keuangan, Sewa, & Jasa Perusahaan

615.172

6.78

698.763

6.92

787.194

7.01

Jasa-jasa

1.352.064

14.90

1.493.604

14.79

1.691.088

15.04

Jumlah

9.076.401

100.00

10.097.345

100.00

11.242.151

100.00

Sumber: BPS, 2013


*) : angka sementara
**) : angka sangat sementara

34

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

35

Dari Tabel di atas dapat dilihat bahwa empat sektor yang memiliki kontribusi terbesar
adalah pertanian; perdagangan, hotel dan restoran; industri pengolahan; dan jasa-jasa. Berdasarkan data perkembangan PDRB tahun 2010, 2011, dan 2012 dapat dilihat bahwa kondisi
perekonomian Kabupaten Bantul relatif stabil. Di sisi lain, laju pertumbuhan PDRB Kabupaten
Bantul pada tahun 2012 berdasarkan harga konstan adalah sebesar 5,34% sedangkan tahun
2011 sebesar 5,27% dan tahun 2010 sebesar 4,97% (Tabel 18).
Tabel 18
Pertumbuhan PDRB Menurut Harga Berlaku dan
Harga Konstan Tahun 2000 Tahun 2010-2012
No.

Tahun

Pertumbuhan
ADHB (%)

Pertumbuhan
ADHK (%)

1
2
3

2010
2011
2012

11,40
11,25
11,54

4,97
5,27
5,34

Sumber : BPS, 2013

Dinamika perkembangan perekonomian Kabupaten Bantul tersebut di atas mengakibatkan terjadinya transformasi struktural ekonomi Kabupaten Bantul yaitu dari sektor primer ke
sektor sekunder dan sektor tersier. Sektor primer terdiri dari lapangan usaha pertanian, pertambangan, dan penggalian. Sektor sekunder terdiri dari lapangan usaha industri pengolahan;
listrik, gas dan air bersih; dan bangunan. Sektor tersier terdiri dari lapangan usaha perdagangan,
hotel dan restoran; pengangkutan dan komunikasi; keuangan, persewaan, jasa perusahaan; dan
jasa-jasa. Sektor primer mempunyai peranan sebesar 21,02%, lebih kecil dari share sektor
sekunder yang memberikan kontribusi sebesar 31,97% dan sektor tersier sebesar 47,00%.
Kontribusi sektor primer yang mengalami penurunan dari tahun ke tahun adalah dari sektor
pertanian. Hal ini diakibatkan karena tingginya alih fungsi lahan pertanian.

50
40
20
10
0
Th 2010

Th 2011

Th 2012

Struktur primer

21.15

20.81

21.02

Struktur sekunder

32.63

32.82

31.97

Struktur tersier

31.31

46.38

47

Tahun

1
2
3
4
5
6

2007
2008
2009
2010
2011*
2012**

Penduduk
pertengahan
tahun
872.866
886.061
899.312
911.503
921.263
930.276

Harga Berlaku

Harga Konstan Tahun 2000

Nilai (Rp)

Pertumbuhan

Nilai (Rp)

Pertumbuhan

7.343.221
8.371.861
9.060.104
9.957.620
10.982.908
12.114.961

10,32
14,00
8,22
9,96
10,07
10,30

3.951.293
4.083.309
4.203.156
4.353.170
4.543.555
4.741.942

2,95
3,34
2,93
3,56
4,16
4,36

Sumber: BPS, 2013


*angka sementara

c. Tingkat Inflasi
Laju inflasi tahun 2012 di Kabupaten Bantul berada pada angka 4,13 persen meningkat
0,40 poin dari tahun 2011, namun lebih rendah apabila dibandingkan dengan laju inflasi
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang mencapai 4,31 persen dan laju inflasi nasional sebesar 4,30 persen. Kondisi inflasi tersebut berada di level rendah dikarenakan kestabilan harga
bahan pangan yang didukung oleh kebijakan pemerintah dalam menjaga kecukupan pasokan
dan kelancaran distribusi. (Tabel 20)
Tabel 20
Perkembangan Laju Inflasi Kabupaten Bantul, DIY, dan Nasional Tahun 2008-2012
No.

Tahun

Laju Inflasi
Kab. Bantul

Laju Inflasi
Prov Yogyakarta

Inflasi
Nasional

1
2
3
4
5

2008
2009
2010
2011
2012

10,26
2,99
6,56
3,73
4,13

10,80
2,93
7,38
3,88
4,31

11,06
2,78
6,96
3,79
4,30

d. Distribusi Pendapatan
Koefisien Gini Ratio merupakan salah satu indikator untuk mengetahui distribusi dan
ketimpangan pendapatan penduduk di Kabupaten Bantul. Koefisien Gini Kabupaten Bantul
pada tahun 2011 sebesar 0,2488 dan pada tahun 2012 diprediksikan sebesar 0,239. Koefisien
Gini tahun 2012 merupakan prediksi yang didasarkan pada penurunan persentase angka
kemiskinan pada tahun 2012, peningkatan laju pertumbuhan PDRB tahun 2012, dan kondisi
perekonomian Kabupaten Bantul yang relatif stabil (Tabel 21).
Tabel 21
Perkembangan Indeks Gini Ratio Tahun 2008-2012

Gambar 9
Pergeseran Struktur Ekonomi Tahun 2010-2012

b. PDRB Per Kapita


Produk Domestik Regional Bruto perkapita merupakan salah satu indikator produktivitas
penduduk dihitung dengan cara membagi PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun
yang bersangkutan. Produk Domestik Regional Bruto perkapita dapat dihitung atas dasar berlaku maupun atas dasar konstan. Perkembangan PDRB perkapita Kabupaten Bantul, baik atas
dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan selama lima tahun terakhir menunjukkan
peningkatan (Tabel 19).

36

No.

Sumber :BPS, 2013

30

Sumber : BPS,2013

Tabel 19
Perkembangan PDRB Per Kapita Kabupaten Bantul Tahun 2007-2012

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

No.
1
2
3
4
5

Tahun
2008
2009
2010
2011
2012)*

Gini Ratio
0,2536
0,2473
0,2469
0,2488
0,2390

Sumber : Bappeda, 2013


*) : angka sementara

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

37

Tabel 24
Perkembangan Angka Partisipasi Murni (APM) Tahun 2008-2012

V.2. KESEJAHTERAAN SOSIAL


a. Angka Melek Huruf
Angka melek huruf adalah proporsi penduduk berusia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dalam huruf latin atau lainnya. Angka melek huruf didapat dengan membagi
jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis dengan jumlah
pendu-duk usia 15 tahun ke atas kemudian hasilnya dikalikan dengan seratus. Angka melek
huruf di Kabupaten Bantul tahun 2008-2012 disajikan pada Tabel 22.
Tabel 22
Angka Melek Huruf Tahun 2008-2012
Uraian
Jumlah Melek Huruf (orang)
Persentase Melek Huruf (%)

2008
690.526
84,09

2009
720.624
87,44

2010
750.540
89,82

2011
760.000
90,91

2012
908.268
97,5

Sumber: Dinas Pendidikan dan Non Formal, 2013

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa presentase melek huruf di Kabupaten Bantul
pada tahun 2012 mengalami kenaikan menjadi 97,5%. Hal ini menunjukkan bahwa minat belajar masyarakat Kabupaten Bantul cukup tinggi.
Tabel 23
Angka Melek Huruf Tahun 2012 Menurut Kecamatan

No. Kecamatan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Bantul
Sewon
Kasihan
Sedayu
Pajangan
Pandak
Srandakan
Sanden
Kretek
Bambanglipuro
Pundong
Imogiri
Jetis
Pleret
Piyungan
Banguntapan
Dlingo
Jumlah

Jumlah Penduduk
di atas 15 tahun
yang bisa membaca
dan menulis

Jumlah Penduduk
Usia 15 tahun keatas

Angka
Melek Huruf

Buta Huruf

41,406
71,373
75,433
30,078
21,789
32,860
19,840
20,785
20,610
26,030
22,286
38,220
35,629
27,628
31,029
80,812
23,532
619,340

41,751
72,851
76,956
30,624
22,578
33,822
20,422
21,309
21,172
26,556
22,692
39,803
36,393
28,815
32,293
82,398
24,785
635,220

99,17
97,97
98,02
98,22
96,51
97,16
97,15
97,54
97,35
98,02
98,21
96,02
97,90
95,88
96,09
98,08
94,94
97,50

345
1.478
1.523
546
789
962
582
524
562
526
406
1.583
764
1.187
1.264
1.586
1.253
15.880

Sumber: Dinas Pendidikan Menengah dan NF, 2013

b. Angka Partisipasi Murni (APM)


APM merupakan indikator yang digunakan untuk menentukan tingkat partisipasi murni
penduduk usia sekolah. Keberhasilan program wajib belajar sembilan tahun dapat dilihat dari
indikator angka partisipasi kasar dan angka partisipasi murni. APM menunjukkan perbandingan antara jumlah siswa yang berasal dari Kabupaten Bantul dengan jumlah penduduk
Kabupaten Bantul pada usia sekolah. (Tabel 24)

38

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

No

Jenjang Pendidikan

2008

2009

2010

2011

2012

1.

APM SD/MI

91,27

92,12

89,03

81,76

80,24

2.

APM SMP/MTs

74,55

73,94

74,63

62,09

63,45

3.

APM SMA/MA/SMK

58,30

59,98

43,80

50,27

51,57

Sumber: Dinas Pendidikan Dasar & Dinas Pendidikan Menengah dan NF, 2013

Realisasi APM SD/MI pada tahun 2012 adalah 80,24%, adapun APM SMP/MTs tahun 2012
adalah 63,45%. Capaian APM seperti di atas bukan berarti bahwa anak usia 7-12 tahun dan anak
usia 13-15 tahun tidak bersekolah, akan tetapi dimungkinkan dari kelompok umur tersebut ada
yang bersekolah di luar Kabupaten Bantul atau sudah masuk di jenjang yang lebih tinggi.
Sedangkan untuk SMA/MA/SMK mencapai 51,57%. Angka ini lebih tinggi daripada tahun 2011
yang mencapai 50,27%.
c. Angka Partisipasi Kasar (APK)
APK adalah perbandingan jumlah siswa pada tingkat pendidikan SD/SLTP/SLTA dibagi
dengan jumlah penduduk berusia 7 hingga 18 tahun atau rasio jumlah siswa, berapapun
usianya, yang sedang sekolah di tingkat pendidikan tertentu terhadap jumlah penduduk
kelompok usia yang berkaitan dengan jenjang pendidikan tertentu. APK pada setiap jenjang
pendidikan di Kabupaten Bantul pada tahun 2008-2012 disajikan pada Tabel 25.
Tabel 25
Perkembangan Angka Partisipasi Kasar (APK) tahun 2008-2012
No

Jenjang Pendidikan

1.

APK SD/MI

2.
3.

2008

2009

2010

2011

2012

104,64

104,99

91,48

92,39

93,15

APK SMP/MTs

96,22

96,41

91,66

87,97

90,58

APK SMA/MA/SMK

78,13

80,53

65

69,88

71,04

Sumber: Dikdas dan Dikmenof, 2013

Dari tabel di atas terlihat bahwa nilai APK SD/MI dan SMA/MA/SMK tahun 2012
mengalami kenaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah siswa yang bersekolah di jenjang
pendidikan tersebut pada tahun 2012 semakin banyak yang sesuai dengan usia sekolah (banyak
sekolah yang memberlakukan minimal usia sekolah), sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya
masih banyaknya siswa yang bersekolah tidak pada usia sekolah. Hal ini juga dikarenakan
adanya perbedaan jumlah penduduk antara proyeksi dan hasil sensus.
d. Angka Kelangsungan Hidup Bayi dan Angka Kematian Ibu
Upaya mempercepat penurunan kematian bayi memerlukan keterpaduan lintas program
antara lain program pencegahan penyakit melalui imunisasi pada bayi dan program perbaikan
gizi masyarakat. Angka kematian bayi (AKB) pada tahun 2012 sebesar 8,6 per 1000 kelahiran
hidup lebih tinggi daripada tahun 2011 yaitu sebesar 8,5 per 1000 kelahiran hidup.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

39

Tabel 26
Perkembangan Angka Kelangsungan Hidup Bayi (AKHB) Tahun 2009-2012
No

Uraian

1.

Jumlah kematian bayi usia dibawah 1 th

2.

Jumlah kelahiran hidup

AKB

4.

AKHB

2009

2010

2011

2012

142

120

114

116

11.984

12.185

13.446

13.464

11,8

9,8

8,5

8,64

988,2

990,2

991,5

991,36

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul (AKHB = 1000 AKB)

f. Balita Gizi Buruk


Persentase balita gizi buruk adalah persentase balita dalam kondisi gizi buruk terhadap
jumlah balita. Keadaan tubuh anak atau bayi dilihat dari berat badan menurut umur. Status gizi
balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut
umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan.
Pada tahun 2012, terjadi penurunan status gizi buruk pada balita, yaitu angka balita gizi
buruk sebesar 0,32% dari seluruh balita (target DIY <1) lebih baik dari capaian tahun 2011 yaitu
sebesar 0,42% .
Tabel 29
Balita Gizi Buruk Tahun 2009-2012

Program peningkatan dan keselamatan ibu bertujuan untuk meningkatkan derajat


kesehatan masyarakat melalui upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI). Capaian angka
kematian ibu pada tahun 2012 sebesar 52,2 per 100.000 kelahiran hidup, berarti terjadi
penurunan dibandingkan dengan tahun 2011 yaitu sebesar 111,2 per 100.000 kelahiran hidup.
Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan ibu sudah cukup baik.

Uraian
Jumlah balita gizi buruk (jiwa)
Jumlah balita (jiwa)

Tabel 27
Perkembangan Angka Kematian Ibu (AKI) Tahun 2008-2012

Persentase balita gizi buruk

2010

2011

2012

203

286

261

215

57.785

63.321

60.968

66.369

0,35

0,45

0,42

0,32

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, 2013

2008

2008

2009

2010

2011

2012

Bantul

140,13

158,29

82,07

111,2

52,2

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul,2013

e. Angka Usia Harapan Hidup dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)


Angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam
meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan
pada khususnya. Pada tahun 2011 usia harapan hidup (UHH) Kabupaten Bantul mencapai 71,33
tahun. Angka tersebut lebih tinggi dari 2010 yaitu sebesar 71,31 tahun dan melebihi target
RKPD tahun 2012 sebesar 71,30 tahun. Angka UHH tahun 2012 dihitung akhir tahun 2013.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kualitas kesehatan penduduk Kabupaten Bantul
sudah meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dari sisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI), yaitu
suatu ukuran untuk menilai keberhasilan pembangunan dari segi pendidikan, kesehatan, dan
ekonomi, kondisi di Kabupaten Bantul dari tahun 2010-2011 cenderung mengalami
peningkatan, dimana pada tahun 2010 sebesar 74,53 menjadi 75,05 pada tahun 2011.
Tabel 28
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tahun 2008-2011
Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Nasional

g.

Kemiskinan
Persentase penduduk di atas garis kemiskinan dihitung dengan menggunakan formula
100 angka kemiskinan. Angka kemiskinan adalah persentase penduduk yang masuk kategori
miskin terhadap jumlah penduduk. Penduduk miskin dihitung berdasarkan garis kemiskinan.
Garis kemiskinan adalah nilai rupiah pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi
standar minimum kebutuhan-kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan yang dibutuhkan
oleh individu untuk hidup layak. Dari Tabel 28 dapat dilihat bahwa angka kemiskinan Kabupaten
Bantul pada tahun 2012 adalah 14,27% sehingga persentase penduduk diatas garis kemiskinan
sebesar 85,73%. Angka ini lebih baik daripada tahun 2011 dimana persentase jiwa miskin
terhadap jumlah jiwa total sebesar 15,02%.
Tabel 30
KK Miskin dan Jiwa Miskin Tahun 2010-2012
Tahun

Jumlah KK
Total

Jumlah KK
Miskin

Jumlah Jiwa
Total

Jumlah Jiwa
Miskin

2010

256.463

41.480

16,17

842.928

129.614

15,37

2011

258.294

40.321

15,61

848.608

127.479

15,02

2012

273.563

40.551

14,82

889.647

126.980

14,27

Sumber : BKK PP dan KB Kabupaten Bantul, 2013


120

Uraian

2008

2009

2010

2011

100

Kabupaten Bantul

73,38

73,75

74,53

75,05

60

Provinsi DIY

74,88

75,23

75,77

76,32

Nasional

71,17

71,76

72,27

72,77

No.

2009

84.63

84.98

85.73

80
40
20

Prosentase penduduk diatas


garis kemiskinan

15.37

15.02

14.27

Persentase kemiskinan

Sumber: BPS Kabupaten Bantul, 2012

2010

2011

2012

Sumber :BKK PP KB, 2013

Gambar 10
Prosentase Penduduk di atas Garis Kemiskinan Tahun 2010-2012

40

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

41

RT Miskin

31951

KK Gakin

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

Kretek
Sanden
Srandakan
Pandak
Bambanglipuro
Pundong
Imogiri
Dlingo
Jetis
Bantul
Pajangan
Sedayu
Kasihan
Sewon
Piyungan
Pleret
Banguntapan
Jumlah

9.659
10.054
9.150
15.621
12.381
10.367
20.571
12.062
17.552
17.958
9.741
16.152
30.403
26.375
14.521
12.993
28.003
273.563

1.542
1.322
1.267
2.641
1.604
1.968
3.278
2.405
3.100
2.010
1.528
2.497
3.777
3.744
2.248
1.837
3.783
40.551

15,96
13,15
3,85
16,91
12,96
18,98
15,94
19,94
17,66
11,19
15,69
15,46
12,42
14,20
15,48
14,14
13,51
14,82

Jiwa
Miskin
4.267
4.262
4.109
8.302
4.967
5.880
9.815
7.260
8.735
5.604
4.526
9.583
12.454
11.937
6.455
6.658
12.166
126.980

% Jiwa
Miskin
14,61
13,76
13,69
16,48
12,55
17,25
14,51
19,47
15,59
9,85
14,00
18,82
12,66
13,41
13,75
15,86
12,41
14,27

Gambar 11
Jiwa miskin di Kabupaten Bantul Tahun 2012

Berdasarkan data dari TNP2K kecamatan yang mempunyai angka kemiskinan tertinggi yaitu
kecamatan Kasihan, Sewon, Pandak dan Imogiri. Adanya perbedaan ini dikarenakan perbedaan
indikator yang berbeda dalam penentuan kriteria miskin.

20893

23251

20481

20757

da

ng

Se

ja

yu

5566

an

n
ha
si

6155

Pa

un

Se

an
ta
p

ng
yu

7999

Ba

ng

Pi

8640

on

7416

an

6085

er
et

6109

Pl

lin

go

6374

iri

tis

7849

Im
og

7307

Je

nt
ul

ak
Pa

nd

pu
Li

on

ng

6469

Ba

8836

ro

6803

Gambar 12
Jiwa miskin dan Rumah Tangga Miskin Tahun 2012

h. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial


Sampai dengan tahun 2012 tingkat perkembangan kesejahteraan keluarga di Kabupaten
Bantul mengalami perkembangan yang fluktuatif. Hal tersebut disebabkan adanya krisis faktor
ekonomi yang cukup berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Dampak sosial
akibat tidak terpenuhinya kesejahteraan keluarga dapat dilihat pada Tabel 32.
Tabel 32
Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Tahun 2011-2012
Jenis PMKS

No.
1
2
3

Jumlah
2011
2012

Anak Balita Terlantar


Anak Terlantar
Anak Nakal

311
4,668
149

297
4,658
120

4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Anak Jalanan
Wanita Rawan Sosial Ekonomi
Korban Tindak Kekerasan
Lanjut Usia Terlantar
Penderita Cacat
Tuna Susila
Pengemis
Gelandangan
Korban Penyalahgunaan Napza
Rumah Tidak Layak Huni

78
2,752
650
6,083
7,836
41
76
33
449
2,924

107
2,893
527
8,025
5,981
46
68
29
376

14

671

677

15
16
17

Keluarga Bermasalah Sosial


Psikologis
Pekerja Migran Bermasalah
Keluarga Fakir Miskin
Keluarga Miskin

359
6,474
20,646

202
112,300

18

Keluarga Rentan

19,438

19
20
21
22

Korban Bencana Alam


Korban Bencana Sosial
ODHA (Penyandang HIV/AIDS)
Bekas Warga Binaan Lembaga
Kemasyarakatan
Jumlah

n
pa

Ba

ng

un

ta

er
et
Pl

w
on
Pi
yu
ng
an

Se

Ka

da

si
ha

yu

n
Se

ga

ul

ja
n

nt

Pa

Ba

Je
t

is

iri

lin
g

og
Im

nd

on

ro
ng

ba
m

Pu

lip
u

ak
nd
Pa
Ba

Sr

an

da

ka

en
nd

Sa

Kr

et

ek

13000
12000
11000
10000
9000
8000
7000
6000
5000
4000
3000
2000
1000
0

31074

27461
22649

Ba

Jiwa
Total
29.212
30.972
30.009
50.386
39.573
34.079
67.624
37.296
56.042
56.912
32.322
50.917
98.365
88.983
46.948
41.986
98.021
889.647

Sumber: BKK PP dan KB Bantul 2013

Sumber : BKK PP KB, 2013

6155

4441

nd

Sa

nd

n
ka
da

KK Total

27674

m
ba

5180

en

4916

31875
25829

22502

14410

Pu

17232

Kr
et
ek

17117

Sr
an

Kecamatan

23146

21263

Tabel 31
Prosentase Jiwa dan Keluarga Miskin Tahun 2012
No.

Individu Miskin

Ka

Upaya pemerintah dalam rangka penanggulangan kemiskinan adalah melalui


pembentukan lembaga TKPKD (Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah) sampai
ditingkat kecamatan, program pemberdayaan masyarakat, pengurangan beban KK Miskin,
penguatan kelembagaan, serta validasi data keluarga miskin. Program kegiatan penanganan
kemiskinan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul dari tahun ke tahun telah
menunjukan hasil yang cukup baik, hal ini tercermin dari semakin berkurangnya jumlah Kepala
Keluarga (KK) miskin. Dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Bantul, angka kemiskinan
tertinggi ada pada kecamatan Banguntapan, Kasihan, Sewon dan Imogiri.

Keterangan

Tahun 2012 AN menjadi ABH


(anak berhadapan dg
hukum)

Tahun 2012 RTLH tidak


termasuk PMKS

Tahun 2012 KM tidak


termasuk PMKS
Tahun 2012 KM tidak
termasuk PMKS

272
196
865

412
0
312
945

74,971

137,975

Sumber : Dinas Sosial, 2013

42

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

43

Untuk tahun 2012, jumlah PMKS menjadi 25 jenis, dengan penambahan sebagaimana
disajikan pada Tabel 33.
Tabel 33
Jumlah PMKS Tahun 2012
No.

Jenis PMKS

Jumlah
940

Angkatan Kerja
No.

Tahun 2011

Kecamatan

Tahun 2012

Bekerja

Penganggur

Bekerja

Penganggur

11

Pleret

25.410

2.886

29.540

2.072

12

Piyungan

20.514

588

27.371

3.051

13

Banguntapan

51.992

1.432

55.192

958

14

Sewon

43.828

2.645

43.456

1.309

15

Kasihan

47.709

2.801

46.237

2.463

20.809

701

21.091

309

Anak Dengan Kedisabilitasan

Anak Yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan

63

Anak Yang memerlukan Perlindungan Khusus

63

Kelompok Minoritas

Korban Trafficking

16

Pajangan

Pemulung

19

17

Sedayu

27.257

1.121

27.505

1.098

Jumlah

476.567

29.219

501.993

28.075

1,085

Jumlah
Sumber : Dinas Sosial, 2013

5,8%

Persentase

i. Kesempatan Kerja (Rasio Penduduk Yang Bekerja)


Kesempatan kerja merupakan hubungan antara angkatan kerja dengan kemampuan
penyerapan tenaga kerja. Pertambahan angkatan kerja harus diimbangi dengan investasi yang
dapat menciptakan kesempatan kerja. Dengan demikian, dapat menyerap pertambahan
angkatan kerja. Sedangkan rasio penduduk yang bekerja adalah perbandingan jumlah
penduduk yang bekerja terhadap jumlah angkatan kerja. Rasio penduduk yang bekerja
Kabupaten Bantul pada tahun 2012 mencapai 0,947. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa 94,7% dari angkatan kerja yang ada di Kabupaten Bantul memperoleh kesempatan kerja
sedangkan 5,3%-nya masih mencari kerja atau pengangguran.

Sumber: Disnakertrans, 2013

j. Kriminalitas (Angka Kriminalitas Yang Tertangani)


Pemerintah daerah dapat terselenggara dengan baik apabila pemerintah dapat
memberikan rasa aman kepada masyarakat, menjaga ketertiban dalam pergaulan masyarakat,
serta menanggulangi kriminalitas Angka kriminalitas yang tertangani merupakan jumlah
tindak kriminal yang ditangani selama 1 tahun terhadap 10.000 penduduk. Angka kriminalitas
Kabupaten Bantul tahun 2012 mencapai 7,07.
Tabel 36
Angka Kriminalitas Tahun 2009-2012

Tabel 34
Rasio Penduduk Yang Bekerja Dengan Angkatan Kerja Tahun 2008-2012
2008

2009

2010

2011

2012

Uraian
Jumlah Penduduk Yang Bekerja

430.771

440.259

451.281

476.467

501.993

Jumlah Angkatan Kerja

466.136

471.112

481.420

505.786

530.068

Rasio Penduduk Yang Bekerja

0,92

0,93

0,94

0,94

0,947

No.

5,3%

Uraian
Jumlah tindak kriminal tertangani

2010

2012

1.560

2011
434

899.312

911.503

921.263

930.276

11,24

17,11

4,72

7,07

658

dalam 1 th (kasus)
Jumlah penduduk
Angka kriminalitas

Sumber: Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Bantul,2013

2009
1.011

Sumber: Polres Bantul ,2013

Jumlah angkatan kerja di Kabupaten Bantul pada Tabel 35 menunjukkan bahwa secara
proporsional, jumlah penganggur menurun dari 5,8% menjadi 5,3%.
Tabel 35
Jumlah Angkatan Kerja Tahun 2011-2012

V.3. Seni Budaya dan Olah Raga


Seni budaya dan olahraga mencakup jumlah kelompok seni budaya dan jumlah gedung olah
raga. Seni, budaya, dan olahraga di Kabupaten Bantul tahun 2012 disajikan pada Tabel 37.
Tabel 37
Seni, Budaya, dan Olahraga Tahun 2012

Angkatan Kerja
No.

Tahun 2011

Kecamatan
Bekerja

44

Tahun 2012

Penganggur

Bekerja

Penganggur

No.

Seni, Budaya, dan Olahraga

2010

2011

2012

695

805

708

372

372

372

Srandakan

17.666

267

19.931

1.853

Jumlah grup kesenian

Sanden

16.192

2.497

18.805

2.415

Jumlah gedung kesenian

Kretek

18.680

615

17.210

1.844

Jumlah klub olahraga

Pundong

15.748

386

15.772

362

Jumlah gedung olahraga

52

52

52

Bambanglipuro

24.685

2.361

22.249

1.674

Pandak

29.471

1.984

32.500

870

Jumlah cabang olahraga

39

39

39

Bantul

32.396

4.286

36.841

3.804

Organisasi kepemudaan

274

274

274

Jetis

25.064

2.007

25.090

1.793

Imogiri

36.198

1.466

34.444

1.335

10

Dlingo

22.948

1.176

28.759

865

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Sumber: Kantor Pora dan Disbudpar, 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

45

Kebudayaan merupakan penunjang sektor pariwisata di Kabupaten Bantul. Hal ini


disebabkan karena pilar pariwisata di Kabupaten Bantul bertumpu pada wisata budaya dan wisata
alam. Potensi bidang kebudayaan di Kabupaten Bantul ditunjukkan dengan adanya sejumlah
lembaga budaya yang terus menerus melaksanakan peran pelestarian Lembaga budaya yang ada di
Kabupaten Bantul.
Tabel 38
Lembaga Budaya Tahun 2012
No.

Nama

Bentuk
Organisasi

Bidang

Nama

Alamat

Bentuk
Organisasi

Bidang

14

Lembaga Rumah
Dongeng
Indonesia

Saman RT 4 RW 15,
Bangunharjo
Telp 387292

Yayasan

Musik kontemporer, teater kontemporer, teater


boneka kontemporer, teater anak (wayang kardus
kontemporer), seni lukis kontemporer, fotografi,
sastra, tradisi lisan, permainan dan maianan anak

15

Lembaga Studi
Kajian Desain

Jl Sonopakis Lor No 15
Telp 378276

Lembaga

Desain

16

Lembaga Studi
Pengembangan
Musik

Perumahan Sewon Indah A-15


Kode Pos 55188 Telp 389522

Yayasan

musik klasik barat, musikologi

17

Ngudya Wirama
Paguyuban

Gedongkuning RT 04 / 03
Kode Pos 55198

Organisasi
informal

musik tradisional

18

Orkes
Mahasiswa ISI
Yogyakarta

ISI Yogayakrta
Telp 3791333 fax 371233
JL Parangtritis km 6 PO BOX
1210

Organisasi
informal

musik kontemporer dan klasik

19

Paguyuban Seni
Kasanggit

Perum Perndowo Harjo Indah


Jl Nakula 14 Sewon

Organisasi
informal

musik tradisional, teater boneka tradisional, teater


kontemporer, tari tradisionasal

Jl Ringin putih 500 B Perum


Depag Kotagede telp 378620

Organisasi
informal

Teater kontemporer

Badan Seni
Mahasiswa
Indonesia (BSMI)

Purek III ISI Yogayakrta Telp


3791333 fax 371233
JL Parangtritis km 6 PO BOX
1210

Organisasi
informal

Musik tradisional, musik kontemporer, teater, tari,


tari kontemporer, seni lukis tradisional dan
kontemporer, seni patung tradisional dan
kontemporer, fotografi, animasi desain, sastra

Dagelan
Mataram Baru
(DMB)

Desa Kerajinan Keramik


Kasongan

Organisasi
informal

Teater tradisional

Forum Kesenian
Indonesia

Jotawang, Bangunharjo
Telp 385137

Yayasan

Teater kontemporer, pendamping dan pelatihan


sastra

20

Tirto Bangunjiwo Telp 370542

Organisasi
informal

seni kriya

Institut Seni
Indonesia

ISI Yogayakrta
Telp 3791333 fax 371233
JL Parangtritis km 6 PO BOx
1210

Organisasi
informal

Musik tradisional, musik kontemporer, teater


tradisional, tari tradisional, tari kontemporer, seni
lukis tradisional dan kontemporer, seni patung
tradisional dan kontemporer, fotografi, animasi
desain, sastra, tradisi lisan, etnomusikologi, etnologi
tari, sejarah seni, antrpologi

PAKRIYO
(Paguyuban
Kriyawan
Indonesia)

21

Pardiman
Acapella

Organisasi
informal

musik tradisional dan kontemporer

Kelompok
Jendela

Kersan No 211 RT 08 / 05
Tirtonirmolo Telp08122965526

Organisasi
informal

Seni lukis kontemporer, seni patung kontemporer,


instalasi, sastra, tradisi lisan, sejarah seni,
antrpologi, lingkungan, hukum, politik dan social

Desa Kersa, Tirtonirmolo


surat da Yayasan Galang
Jl Bakung Baru 13 Yogyakarta
55225 Telp 376554, 375039
Fax 520105

22

Petak Umpet
Rancang Grafis

Sorowajan 316 RT 12 / 29
Panggungharjo

Organisasi
informal

Desain, ilustrasi, animasi

Keroncong
Sinten Remen

Desa Kersa, Tirtonirmolo


surat da Yayasan Galang
Jl Bakung Baru 13 Yogyakarta
55225 Telp 376554, 375039
Fax 520105

Organisasi
informal

musik tradisional dan kontemporer

23

Pracabaan Ki
Pudjo

Gendeng RT 04 / 02
Bangunjiwo
Kode Pos 55181

Organisasi
informal

musik tradisional, teater boneka tardisional, wayang


kulit purwa

24

Sanggar Kereta

Komunitas
Angkringan

Jl Nitiprayan 50 Ngestiharjo
RT 01/RW 01 Kode pos 55182

Organisasi
informal

Musik kontemporer, teater kontemporer, tari


kontemporer, sastra, tradisi lisan, entomusikologi,
etnologi tari,sejarah seni, antropologi

Jeblog Rt o1 / 06 Ds III
Tirtonirmolo Kode Pos 55181

Lembaga

Musik tradisional, musik kontemporer, teater


tradisional, tari tradisional, tari kontemporer, seni
lukis tradisional dan kontemporer, seni patung
tradisional dan kontemporer, sastra, tradisi lisan

Gentong Potters

Soboiman Gg Kemuning no
232
RT 06 / 29 Ngestiharjo 55182
Telp 418261 Fax 381217

Organisasi
informal

Keramik

25

Sanggar/Balai
Tari Wasana
Nugraha

Dagaran, Jurug Bangunharjo


RT 06 / 45 Sewon

Organisasi
informal

musik tardisional, tari tradisional dan kontemporer,


tradisi lisan etnomusikologi, etno tari

26

Komunitas
Kethoprak
Lesung
Yogyakarta

Perum Sewon Indah C-17


Kode Pos 55188

Organisasi
informal

Teater tradisional

Sekolah
Mengengah
Musik Negeri 2
(SMKN 2
Kasihan)

Jl PG Madukismo Bugisan
Telp 374627, 380720

Instansi
Pemerintah

musik universal

11

12

KUA Etnika
Komunitas Seni

Desa Kersa, Tirtonirmolo


surat da Yayasan Galang
Jl Bakung Baru 13 Yogyakarta
55225 Telp 376554, 375039
Fax 520105

Organisasi
informal

Muasik tradisional dan kontemporer

27

SENI : Jurnal
Pengetahuan dan
Pencipataan Seni

Jl Parangtritis km 6 PO BOX
1210

Instansi
Pemerintah

sastra, tardisi lisan, etnomusikologi, etnologi tari,


sejarah seni, estetika kritik seni

28

Jl PG Madukismo Bugisan
Telp 374947

Lembaga

Jl Parangtritis km 65 Telp
379935
Fax 371233

Lembaga

SMK Negeri 3
Kasihan (SMSR
Yogakarta

Seni lukis tradisional dan kontemporer, seni patung


tradisonal dan kontemporer, fotografi kriya kayu dan
keramik

29

SMKN I Kasihan
(SMKIN YK)

Jl PG Madukismo Bugisan
Telp 374467

Instasi
Pemerintah

Musik tradisional, teater tradisional, teater


kontemporer, teaater boneka tradisional, sastra,
etnologi tari dan sejarah seni

13

46

Bintang Mataram

Alamat

No.

Lembaga
Penelitian Institut
Seni Indonesia
Yogyakarta

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

musik tradisional dan kontemporer, teater tardisional


dan kontemporer, pedalangan, seni grafis dan seni
kriya

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

47

No.

Nama

Alamat

Bentuk
Organisasi

Bidang

30

Studio ISI

Jurusan Teater FSP ISI


Yogyakarta Jl Parangtritis km
65 Perum Puspa Indah Sito 18
- 20 Kasongan Kode Pos
375380

Yayasan

teater tradisional dan kontemporer

31

Study Sastar dan


Teater Sila

Jotawang, Bangunharjo
Sewon Kode Pos 55187 Telp
387534

Lembaga

teater tradisional, kontemporer dan sastra

32

Teater Alam

Jl Sawo No 6 Perum
Wirokerten Indah Telp 377861

Organisasi
informal

teater kontemporer

33

Teater Gandrik

Desa Kersa, Tirtonirmolo


surat da Yayasan Galang
Jl Bakung Baru 13 Yogyakarta
55225 Telp 376554, 375039
Fax 520105

Organisasi
informal

teater kointemporer

34

Teater Garasi
Yogayakarta

Jl Bugisan Selatan Tegal


Kenongo
RT 01/08 No 36A Telp 415844

Lembaga

teater kontemporer, fotografi, film, video, sastra,


tradisi lisan, sejarah seni, antropogi, gagasan teater

35

Teater Gema

STIE Kerjasama
Jl Parangtritis km 35

Lemabaga

musik kontemporer, teater kontemporer, musik


klasik, puisi, seni lukis kontemporer

36

Teater Pelopor

Panggung, Argomulyo Kode


Pos 55752

Organisasi
informal

Teter kontemporer, sastra, sejarah seni, teater dan


biografi

38

Yayasan
Padepokan Seni
Bagong
Kusudiharjo

Kemabaran RT 04/21 No 146


Tamantirto 55183 Telp 376394

Yayasan

Musik tradisional, musik kontemporer, teater


tradisional, tari tradisional, tari kontemporer, seni
lukis tradisional dan kontemporer, sejarah seni

Yayasan Peduli
Tekstil Tradisional
Indonesia
(PETTRII)

Karangnongko RT 10/42
Panggungharjo Telp/fax
415177

Yayasan

39

seni kerajinan tekstil, seni kriya tekstil, sastra, tradisi


lisan, etnologi tari, sejarah seni, antropologi, sejarah
tekstil tradisional

BAB VI
PELAYANAN UMUM

VI.1. FOKUS LAYANAN URUSAN WAJIB


Aspek pelayanan umum menjelaskan tentang kondisi pelayanan umum di Kabupaten Bantul
sebagai bagian dari indikator kinerja pembangunan secara keseluruhan, salah satunya ditinjau dari
fokus layanan urusan wajib.
a. Pendidikan
1. Ketersediaan sekolah/penduduk usia sekolah
Peningkatan jumlah sarana sekolah dari tahun 2008-2012 menunjukkan bahwa sarana
pendidikan dasar dan menengah secara kuantitas cukup memadai.
Tabel 40
Ketersediaan Sekolah Tahun 2008-2012
No. Jenjang Pendidikan
1
2
3

Jumlah gedung sekolah SD/MI


Jumlah gedung sekolah SMP/MTs
Jumlah gedung sekolah SMA/MA/SMK

Tabel 39
Prestasi dan Penghargaan Bidang Pemuda dan Olahraga
No.

Uraian

Program

Kegiatan

Prestasi/Penghargaan

Atlet berprestasi TK Internasional


dan Nasional

Pembinaan dan
pemasyarakatan OR

Penyelenggaraan
kompetisi OR

Atlet tenis lapangan, catur, panahan, atletik


dan sepakbola

Dalam rangka untuk menyiapak


pasukan pengibar bendera dalam
rangka HUT kemerdekaan RI. Baik
pelaksanaan di kabupatgen, DIY,
maupun nasional

Peningkatan
peran serta
kepemudaan

Pendidikan dan
pelatihan dasar
kepemimpinan

Pelaksanaan atau rekruitmen,


seleksi pemilihan pemuda pelopor
tk. kab., DIY,

Peningkatan
peran pemuda

Pembinaan
pemuda
pelopor
keamanan

Kegiatan ini dalam bentuk pendidikan dan pelatihan


dasar kepemimpinan. Dalam pembentukan
Paskibraka, Bantul mengirimkan delapan orang
wakil, yaitu:
1. Axel Rizky Herdana
2. Fajar Rahmanto
3. Fitraramadhanu
4. Fanji Acfa Amara
5. Anindya Mareta
6. Anisa Asri Aprilia
7. Gracia Oktavia
8. Wahyu Reni Perwitasari
Kegiatan Pemuda pelopor dan wirausaha
diselenggarakan oleh Kemenegpora dan
BPO DIY, Kab. Bantul

dan nasional

Pelaksanaan seleksi Musabaqoh


Tilawatil Qur'an yang diikuti oleh
pelajar umum se Kabupaten Bantul
dan pemenangnya mewakili
Kabupaten untuk maju ke tk. DIY.

mengririmkan Dedy Prasetiawan Bid.


Wirausaha dan Umi Kasanah Bid. Pendidikan,
dan mendapat juara nasional II yaitu Dedy Setiawan
Pengembangan
dan Keserasian
Kebijakan
Pemuda

Peningkatan
keimanan dan
ketaqwaan
pemuda

Kegiatan ini dalam bentuk kompetisi MTQ pelajar


umum se Kab. Bantul, akan diperoleh Kafilah
Pelajar untuk kompetisi di tk. DIY dan Kabupaten
Bantul keluar sebagai Juara Umum II

2009

2010

2011

2012

372
106
79

372
107
79

376
107
79

380
107
86

382
110
90

Sumber: Dikdas & Dikmenof Kabupaten Bantul,2013

Sarana pendidikan yang memadai akan memacu peningkatan kualitas sumber daya
manusia terutama bagi generasi muda dalam menghadapi era globalisasi. Tabel di bawah ini
menunjukkan tabel ketersediaan sekolah dan penduduk usia sekolah menurut Kecamatan
pada tahun 2012.
Tabel 41
Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2012 Menurut Kecamatan

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bantul, 2013

Keberhasilan pembangunan di bidang pemuda dan olahraga di Kabupaten Bantul dapat


dilihat dari banyaknya prestasi olahraga yang dicapai oleh Kabupaten Bantul baik tingkat DIY
maupun nasional. Hal ini didukung dengan adanya klub olahraga dan pembangunan gedung olah
raga di Kabupaten Bantul (Tabel 39).

2008

SD/MI
No.

Kecamatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Sewon
Pandak
Pundong
Bantul
Sanden
Kretek
Sedayu
Dlingo
Jetis
Pajangan
Bambanglipuro
Piyungan
Srandakan
Banguntapan
Imogiri
Kasihan
Pleret
Jumlah

jumlah
gedung
sekolah
28
24
20
25
16
16
23
27
22
16
17
20
16
31
25
36
20
382

SMP/MTs

SMA/MA/SMK

jumlah
jumlah
jumlah
jumlah
jumlah
penduduk gedung penduduk gedung penduduk
usia 7-12 th sekolah usia 13-15 th sekolah usia 16-19 th
8.429
4.595
2.883
4.998
2.773
2.585
3.815
3.716
4.943
3.289
3.380
4.769
2.608
9.795
5.293
9.472
4.365
81.708

10
6
4
13
6
3
4
9
5
3
7
7
3
9
6
9
6
110

4.317
2.353
1.476
2.560
1.420
1.324
1.954
1.903
2.532
1.684
1.731
2.442
1.336
5.017
2.711
4.851
2.235
41.849

10
3
2
16
3
3
7
3
2
2
5
8
3
7
5
7
4
90

5.456
2.229
1.438
2.763
1.309
1.295
2.077
1.579
2.390
1.502
1.631
2.462
1.348
6.227
2.514
5.869
2.188
44.277

Sumber: Dinas Pendidikan Dasar & Dinas Pendidikan Menengah dan Non Formal, 2013

Sumber: Kantor Pora, 2013

48

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

49

b. Kesehatan
1. Rasio pos pelayanan terpadu (posyandu) per satuan balita
Posyandu merupakan wadah peran serta masyarakat untuk menyampaikan dan
memperoleh pelayanan kesehatan dasarnya, maka diharapkan pemeliharaan dan perawatan
kesejahteraan ibu dan anak secara dini dapat dilakukan di setiap posyandu. Pembentukan
Posyandu sebaiknya tidak terlalu dekat dengan Puskesmas agar pendekatan pelayanan
kesehatan terhadap masyarakat lebih tercapai dan idealnya satu Posyandu melayani 100
balita (Permendagri 54 Tahun 2010).

2. Jumlah guru/murid
Jumlah ketersediaan tenaga pengajar seharusnya sesuai dengan jumlah murid. Tabel
dibawah ini menyajikan jumlah sekolah, murid dan guru (Tabel 42 dan 43).
Tabel 42
Banyaknya Sekolah, Murid, Guru tahu 2012
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Jenis Sekolah

Sekolah

TK Negeri
TK Swasta
SD Negeri
MI Negeri
SD Swasta
MI Swasta
SLTP Negeri
MTs Negeri
SMPT
SLTP Swasta
MTs Swasta
SMA Negeri
MA Negeri
SMU Swasta
MA Swasta
SMK Negeri
SMK Swasta
Jumlah Total

1
523
279
3
76
24
47
9
2
41
13
19
4
16
7
13
31
1.106

Tabel 45
Jumlah Posyandu dan Balita Tahun 2008-2012
No.
1
2
3

Uraian

2008

2009

2010

2011

2012

Jumlah posyandu
Jumlah balita
Rasio (per 1000 balita)

1.113
59.097
18,83

1.123
57.785
19,43

1.123
63.321
17,73

1.123
74.275
15,12

1.127
64.853
17,38

Sumber : Dinkes 2013

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2012 rasio Posyandu per 1000 balita
sebesar 17,38. Hal ini dapat diartikan bahwa 1 posyandu melayani 57 balita. Rasio tersebut
menunjukan bahwa dari segi kuantitas jumlah Posyandu di Kabupaten Bantul sudah
mencukupi. Sesuai dengan tingkat penyebarannya jumlah Posyandu hampir merata di 17
kecamatan (Tabel 46).
Tabel 46
Jumlah Posyandu dan Balita Tahun 2012

Sumber: Dinas Dikdas & Dikmenof, 2013

Tahun 2011

Tabel 43
Jumlah Guru dan Murid di Kabupaten Bantul Tahun 2008-2012
No.

Jenjang
Pndidikan

1
1.1.
1.2.
2
2.1.
2.2
3
3.1
3.2.

SD/MI
Jumlah Guru
Jumlah Murid
SMP/MTs
Jumlah Guru
Jumlah Murid
SMA/SMK
Jumlah Guru
Jumlah Murid

2008

2009

2010

2011

2012

5.439
70.264

5.549
73.382

5.219
74.057

5.500
74.324

5.450
74.656

3.224
29.155

3.359
35.020

3.198
32.678

3.187
34.206

3.196
35.119

3.062
24.081

3.215
24.769

3.189
27.778

3.334
29.478

3.358
30.437

Selain jumlah guru, kualitas guru juga harus ditingkatkan. Pada tabel berikut disajkan
jumlah guru menurut jenjang pendidikan dan yang telah bersertifikasi.
Tabel 44
Jumlah Guru Berdasarkan Jenjang Pendidikan Tahun 2012
No.

Jenjang

<S1

S1

S2

S3

Jumlah

Sertifikasi

1
2
3

SD/MI
SMP/Mts
SMA/SMK

1.325
376
216

4.068
2.668
2.895

57
152
246

0
0
1

5.450
3.196
3.358

2.472
1.992
1.753

No.

Kecamatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Sewon
Pandak
Pundong
Bantul
Sanden
Kretek
Sedayu
Dlingo
Jetis
Pajangan
Bambanglipuro
Piyungan
Srandakan
Banguntapan
Imogiri
Kasihan
Pleret
Jumlah

Tahun 2012

Posyandu

Balita

Rasio

117
52
55
89
63
53
67
74
72
36
45
38
44
120
69
95
34
1123

8482
3569
2386
4692
2236
3013
3573
2726
4238
2727
2904
4159
2137
10629
4593
9173
4059
74275

13.79
14.57
23.05
18.97
28.17
17.59
18.75
27.15
16.99
13.20
15.49
9.14
20.59
11.29
15.02
10.36
8.38
15.12

Balita
dilayani/ Posyandu
Posyandu
72.49
68.63
43.38
52.72
35.49
56.85
53.33
36.84
58.86
75.75
64.53
109.45
48.57
88.57
66.56
96.56
119.38
66.14

95
51
55
62
63
53
67
62
75
60
45
74
44
105
78
86
52
1127

Balita

Rasio

Balita
dilayani/
Posyandu

6138
3459
2350
4485
2242
2231
3484
2587
4250
2488
2609
3650
2120
7781
4204
7832
2943
64853

15,48
14,74
23,40
13,82
28,10
23,76
19,23
23,97
17,65
24,12
17,25
20,27
20,75
13,49
18,55
10,98
17,67
17,38

64,61
67,82
42,73
72,34
35,59
42,09
52,00
41,73
56,67
41,47
57,98
49,32
48,18
74,10
53,90
91,07
56,60
57,54

Sumber: Dinas Kesehatan, 2013

Sumber: Dinas Pendidikan Dasar dan Dinas Pendidikan Menengah dan NF, 2013

50

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

51

2. Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatan


Hasil Program Pengembangan Fasilitas Pelayanan Kesehatan dapat diketahui dengan
semakin meningkatnya kuantitas dan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah
seperti Rumah Sakit Umum, Rumah Sakit Khusus (KIA, Bedah), Puskesmas, Puskesmas
Pembantu, Sarana Puskesmas Keliling, Balai Pengobatan dan Balai Pengobatan-Rumah
Bersalin Selain fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah, fasilitas pelayanan
kesehatan milik swasta juga mengalami perkembangan yang cukup pesat pada tahun 2012.
Tabel 47
Jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tahun 2012
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Umum

2009
(unit)

2010
(unit)

2011
(unit)

2012
(unit)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Rumah Sakit Umum


Rumah Sakit Bersalin
Rumah Sakit Khusus (Bedah) KIA)
Balai Pengobatan
Rumah Bersalin
Apotek
Klinik Rawat Inap Pelayanan Medik Dasar
Toko Obat
Industri Peracik Batra
Laboratorium
Optik
Posyandu
Puskesmas Rawat Inap
Puskesmas Non Rawat Inap
Puskesmas Pembantu
Puskesmas Keliling

5
3
2
66
27
72
9
1.123
16
11
67
27

9
0
3
78
32
100
4
13
4
8
1.123
16
11
67
27

9
0
23
70
33
108
3
13
4
11
1.123
16
11
67
27

10
0
3
55
22
100
3
2
13
3
12
1.127
16
11
67
27

Sumber:Dinas Kesehatan, 2013

Fasilitas pelayanan kesehatan yang semakin meningkat juga diikuti dengan


bertambahnya jumlah tenaga kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan pada fasilitas kesehatan
pemerintah disajikan pada Tabel 48.
Tabel 48
Jumlah Tenaga Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Pemerintah Tahun 2011-2012
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Jenis
Dokter Spesialis
Dokter Umum
Dokter Gigi Spesialis
Dokter Gigi
Perawat
Perawat Gigi
Bidan
Kefarmasian
Kesehatan Masyarakat
Sanitarian
Gizi
Keterapian Fisik
Teknis Medis
Tenaga Non Medis

Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, 2013

52

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Tabel 49
Jumlah Puskesmas, Poliklinik, dan Pustu Tahun 2012 Menurut Kecamatan
No. Kecamatan

No.

No.

Sarana kesehatan milik Pemerintah di Kabupaten Bantul Tahun 2012 meliputi Puskesmas
sebanyak 27 unit, Puskesmas Pembantu sebanyak 67 unit, 70 unit poliklinik dan 1 Rumah
Sakit Umum Daerah, yaitu Rumah Sakit Umum Panembahan Senopati Bantul. Adapun
persebaran Puskesmas, poliklinik dan Pustu di masing-masing kecamatan yang ada di
Kabupaten Bantul dapat dilihat pada Tabel 49.

2011

2012

40
101
3
55
467
87
251
60
51
57
64
31
106
511

45
114
5
56
579
82
312
83
71
58
66
30
141
498

Tahun 2011

Puskesmas
1 Sewon
2
2 Pandak
2
3 Pundong
1
4 Bantul
2
5 Sanden
1
6 Kretek
1
7 Sedayu
2
8 Dlingo
2
9 Jetis
2
1
10 Pajangan
1
11 Bambanglipuro
1
12 Piyungan
1
13 Srandakan
3
14 Banguntapan
2
15 Imogiri
2
16 Kasihan
1
17 Pleret
27
Jumlah
Sumber: Dinas Kesehatan, 2013

Poliklinik
6
2
1
8
4
4
3
3
6
5
4
4
4
3
4
7
2
70

Tahun 2012
Pustu
4
3
3
5
3
4
5
5
3
4
3
3
2
7
7
2
4
67

Puskesmas
2
2
1
2
1
1
2
2
2
1
1
1
1
3
2
2
1
27

Poliklinik
6
2
1
8
4
4
3
3
6
5
4
4
4
3
4
7
2
70

Pustu
4
3
3
5
3
4
5
5
3
4
3
3
2
7
7
2
4
67

c. Lingkungan Hidup
1. Penanganan sampah
Pengelolaan sampah di Kabupaten Bantul dilaksanakan dengan prinsip mengurangi,
memanfaatkan, dan mendaur ulang sampah. dengan cara setempat, cara komunal dan
pengolahan sampah mandiri. Pengelolaan sampah pada tempat penampungan sampah
sementara ditetapkan tersebar di seluruh kecamatan sesuai dengan tingkat pelayanannya.
Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah yaitu di desa Sitimulyo kecamatan Piyungan seluas
kurang lebih 12 hektar, yang dikelola dengan sanitary landfill untuk sampah residu akhir.
Jumlah volume produksi sampah di Kabupaten Bantul pada Tahun 2012 sebesar 2.190,43
m3/hari dengan jumlah sampah yang ditangani sebesar 131,37 m3/hari (UPTD KP3 DPU,
2013). Hal ini menunjukkan bahwa masalah sampah di Kabupaten Bantul masih harus
ditangani dengan lebih baik agar tidak menyebabkan penumpukan volume sampah dan
pencemaran lingkungan. Sebagian sampah yang tidak terlayani dilakukan pengelolaan oleh
masyarakat, antara lain dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.
Tabel 50
Jumlah Volume Sampah dan Produksi Sampah Tahun 2011-2012
Uraian
No.
1
Jumlah sampah yang ditangani (m3/hari)
2
Jumlah volume produksi sampah (m3/hari)
Sumber: DPU, 2013

2011

2012

113,33
2.142,04

131,37
2.190,43

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

53

Layanan sampah terpusat yang cukup besar berdasarkan data pada tabel di bawah ini
adalah kecamatan-kecamatan yang termasuk kawasan perkotaan yaitu Kecamatan Bantul,
Banguntapan, Sewon, dan Kasihan. Sedangkan Kecamatan Dlingo sepenuhnya belum
terlayani oleh layanan sampah terpusat. Berdasarkan jumlah volume terangkut, volume
terkecil yaitu sampah dari TPS di pasar.

Dengan semakin meningkatnya jumlah jejaring sampah dan bank sampah menjadi icon
nasional dan program-program penanganan persampahan diharapkan pada tahun
mendatang volume persampahan akan semakin tertangani dengan baik.
Tabel 51
Data Bank Sampah dan Kelompok Pengelola Sampah Tahun 2012
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38

Tabel 52
Volume Sampah dan Sampah Terangkut per Hari Tahun 2012

Kelompok
KPS "Mekar Abadi" Metes, Argorejo, Sedayu
KPS & Bank Sampah "Gemah Ripah" Badegan, Bantul
KPS "Uwuh Muter" Sedayu
Bank Sampah "sri Asih" Sribitan, Bangunjiwo, Kasihan
KPS "Sampah Berkah" Argosari, Sedayu
KPS " Sumber Rejeki", Bulus Wetan, Jetis. Bantul
KPS "Bersih Membuat Indah" Salakan, Potorono, Banguntapan
KPS "Soragan bersih" Soragan, Ngestiharjo, Kasihan
KPS "Sehat Ceria" Dusun Gatak II, Tamantirto, Kasihan, Bantul
Bank Sampah "Sehat Ceria" Dusun Gatak, Tamantirto, Kasihan, Bantul
Bank Sampah "Standart" Pleret
KPS "Azola" Serut, Palbapang, Bantul
KPS "Ngundi Mandiri" Serut, Palbapang, Bantul
KPS & Bank Sampah "Milah Rejeki" Sabrang, Sumbermulyo, Bambanglipuro
Bank Sampah "Kembang Kenanga" Gunungan. Bambanglipuro
Bank Sampah "Puspa" Cempoko, Bambanglipuro
Bank Sampah "Gresik" Gresik, Bambanglipuro
Bank Sampah "mandiri" Terong, Dlingo
Bank Sampah "Dadi Arto" Semoyan, Singsaren, Banguntapan
Bank Sampah "Resik" Saman, Sewon
KPS "Insan Madani: Pleret
KPS "Janten" Kasihan
Bank Sampah "Kenalan" Tamantirto, Kasihan
KPS "Radite" Metes, Argorejo, Sedayu
Bank Kredit Sampah "Mekar Abadi" Metes, Argorejo, Sedayu
KPS "Semoyan" Singosaren, Banguntapan
KPS & Bank Sampah "Sri Mulyo" Piyungan
KPS & bank Sampah "Onggopatran" Srimulyo, Piyungan
KPS DusunNgijo, Srimulyo, Piyungan
KPS " Timbul Berseri" Dobalan, Timbulharjo, Sewon
Bank Sampah "Kauman Berseri" Kauman, Pleret
KPS BMT "Saka Mandiri" Kweni, Panggungharjo, Sewon
KPS "Asri Setiti" Pokoh I, Dlingo
KPS "Ngudi Asri" Pedukuhan, Ngestiharjo, Sewon
Bank Sampah "Salim Sari" Ngijo, Srimulyo, Piyungan
Bank Sampah "Giat Barokah" Wonolelo, Pleret
Bank Sampah "Kuncup Mekar" Dusun Dayu, Gading Sari, Sanden
Bank Sampah "Kukun Agawe Santoso" Dusun Dayu, Gading Sari, Sanden

No.

Kecamatan

Jml TPS
dan
Kontainer

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Srandakan
Sanden
Kretek
Pundong
Bambanglipuro
Pandak
Bantul
Jetis
Imogiri
Dlingo
Pleret
Piyungan
Banguntapan
Sewon
Kasihan
Pajangan
Sedayu
Jumlah

1
2
3
2
5
3
27
4
2
3
4
8
26
14
5
6
111

Jumlah
Ritasi Truk
Sampah

Volume
Sampah
perhari (m3)

Volume
Sampah
Terangkut
perhari (m3)

Volume
Sampah Tidak
Terangkut
perhari (m3)

1
1
1
1
1
1
1
1
1

78,59
91,14
80,69
82,36
111,97
128,66
155,51
130,09
154,17
105,67
105,2
103,46
227,33
203,92
230,58
83,10
117,43
2.190,43

1,00
2,05
5,35
1,35
3,71
1,60
33,09
1,48
6,25
1,20
4,50
30,06
17,70
14,88
3,34
3,79
131,37

77,59
89,08
75,34
81,01
108,26
127,06
122,42
129,08
147,92
105,67
104,12
98,96
197,26
186,22
215,69
79,76
113,64
2.059,06

1
1
1
1
1
1
1
16

Sumber: DPU 2013

2. Pengelolaan air limbah


Penanganan pengelolaan air limbah diupayakan dengan sistem pengelolaan air limbah
domestik setempat dan terpusat. Sistem pengolahan air limbah domestik setempat meliputi
pembuangan air limbah domestik ke dalam tangki septik individual, tangki septik komunal
atau Instalasi Pengolah Air Limbah (IPAL) Komunal. Sistem pengolahan air limbah domestik
terpusat adalah pembuangan air limbah domestik ke dalam jaringan air limbah terpusat yang
disediakan oleh Pemerintah di IPAL Sewon.
3. Kualitas Air Sungai
Koordinasi pengelolaan program Kali Bersih/Surat Pernyataan Program Kali Bersih
(Prokasih/Superkasih) meliputi pemantauan sebanyak 15 titik di lima sungai dengan
frekuensi dua kali dalam satu tahun. Hasil pemantauan kualitas air sungai tahun 2012
disajikan pada Tabel 53.

Sumber : BLH, 2013

54

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

55

Tabel 53
Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Tahun 2012

d. Pekerjaan Umum
Urusan Pekerjaan Umum dilaksanakan untuk menyediakan dan memenuhi pelayanan yang
mendasar dan mutlak yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam kehidupan sosial, ekonomi, dan
pemerintahan seperti sumberdaya air, jalan, air minum, dan sanitasi lingkungan (air limbah,
drainase, dan persampahan) yang berhak diperoleh setiap warga secara minimal.

Fecal Coli

Total Coli

BOD

COD

DO

Phospat

Sulfida

Minyak
lemak

Fenol

Parameter yang melebihi baku mutu air kelas II* (%)

1.Gumuk-Kasihan

100

100

100

76

100

2.Kweni-Panggungharjo

100

100

100

82

100

100

3.Manding-Sabdodadi

100

100

86

100

100

100

4.Gadingdaton-Donotirto

100

100

100

98

100

100

5.Nyemengan-Tirtonirmolo

100

100

100

100

66

100

6.Bodon-Jagalan

100

100

100

50

100

7.Wonokromo-Pleret

100

100

100

100

8.Ngoto-Bangunharjo

100

100

100

38

100

100

9.Kembangsongo-Trimulyo

100

100

100

100

100

10.Klenggotan-Sitimulyo

100

100

100

42

100

100

100

11.Kloron-Segoroyoso

100

100

100

100

100

12.Putat-Selopamioro

100

100

100

13.Menayu-Kasihan

100

100

84

100

100

14.Iroyudan-Guwosari

100

100

86

100

100

100

15.Siyangan-Triharjo

100

100

82

100

100

Lokasi titik pemantauan

1. Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik


Panjang jaringan jalan tahun 2012 beraspal dengan kondisi baik sepanjang 417.405 km.
Namun demikian masih terdapat ruas-ruas jalan kabupaten dengan kondisi sedang, rusak,
ataupun rusak berat di mana proporsinya menurun dari tahun ke tahun. Panjang jaringan
jalan berdasarkan kondisi di Kabupaten Bantul ditunjukkan pada Tabel 53.
Tabel 55
Panjang Jaringan Jalan Berdasarkan Kondisi Tahun 2008 sd 2012

Sungai Winongo

Sungai Gajah Wong

Sungai Code

Sungai Opak

No. Kondisi Jalan


1
2
3
4
5

Kondisi Baik
Kondisi Sedang
Kondisi Rusak
Kondisi Rusak Berat
Jalan Kabupaten
Jalan Propinsi
Jalan Nasional
Jumlah Jalan secara
keseluruhan

Panjang jalan (km)


2008
328,610
316,870
209,650
44,700
899,830
146,000
42,240
1.088,070

2009
365,560
295,070
195,200
44,000
899,830
146,000
42,240
1.088,070

2010
386,250
285,580
180,900
43,000
895,730
136,050
30,580
1.062,36

2011
407,250
285,580
159,900
43,000
895,7250
136,050
30,580
1.062,360

2012
417,405
244,020
171,900
40,000
873,325
122,975
74,465
1.070,770

Sumber: DPU, 2013

Sungai Bedog

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang jalan, maka jalan
dikelompokkan menurut fungsi, status, dan kelas. Berdasarkan statusnya, jalan yang ada di
Kabupaten Bantul terdiri dari jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, dan jalan desa.
Total panjang jalan di Kabupaten Bantul pada Tahun 2012 lebih kurang 1.070,77 km. Di
Kabupaten Bantul terdapat 11 ruas jalan yang berstatus sebagai jalan provinsi. Kondisi jalan
provinsi di Kabupaten Bantul hampir seluruhnya dalam kondisi mantap. Adapun jalan
provinsi yang berada di wilayah Kabupaten Bantul antara lain Jalan Palbapang-Samas, Jalan
Sedayu-Pandak, dan lainnya.

Sumber: BLH Kab. Bantul, 2013.

4. IPAL Biogas
Pengembangan produksi ramah lingkungan (pembuatan teknologi IPAL Biogas) untuk
sepulih unit/sepuluh kelompok ternak sapi. Daftar lokasi IPAL Biogas TA 2012 disajikan pada
Tabel 54.
Tabel 54
Daftar Lokasi IPAL Biogas Tahun 2012

No.

Kelompok Ternak

Alamat

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Ngudi Lestari
Andini Lestari
Andini Mekar
Andini Rejo
Lembu Suro
Danu Mulyo
Sido Maju
Ngudi Mulyo
Guyup Rukun
Pandan Mulyo

Jerukan, Sidomulyo, Bambanglipuro


Paker, Mulyodadi, Bambanglipuro
Paker, Mulyodadi, Bambanglipuro
Bibis, Bangunjiwo, Kasihan
Celep, Srigading, Sanden
Celep, Srigading, Sanden
Prancak Dukuh, Glondong, Sewon
Ganjuran, Srihardono, Pundong
Plembutan, Canden, Jetis
Ngentak, Poncosari, Srandakan

2. Jaringan Irigasi
Pemenuhan air irigasi pada lahan daerah irigasi meningkat pada tahun 2012 dengan
target 82% (13.229,10 ha) dapat tercapai 84% (13.551,76 ha), melebihi 2% dari target. Data
series pemenuhan air irigasi meningkat selama lima tahun terakhir.
Tabel 56
Target dan Capaian DI yang Terlayani Air Irigasi Tahun 2008-2012
Tahun
2008
2009
2010
2011
2012

Saluran irigasi (Primer dan Sekunder) dalam kondisi baik


Rencana (Ha)
12.074,81
12.237,98
12.645,92
12.890,67
13.229,10

%
74
75
77,5
79
82

Realisasi (Ha)
12.074,81
12.401,16
12.727,50
13.380,19
13.551,76

%
74
76
78
82
84

Sumber: Dinas SDA, 2013.

Sumber: BLH Kab. Bantul, 2013

56

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

57

Mayoritas penduduk Bantul beragama Islam, karena itu persebaran tempat ibadah masjid
di masing-masing kecamatan hampir merata. Tempat ibadah gereja juga tersebar di masingmasing kecamatan. Di samping itu sudah terdapat pura 33 unit dan vihara 2 unit, namun
untuk fasilitas klenteng masih belum ada.

Pada tahun 2012, kondisi jaringan irigasi primer dan sekunder yang berfungsi baik
tercapai 85,5% (353.550,97 m) dari target 82,5% (341.145,68 m) atau melebihi dari target
sebesar 3%. Pelaksanaan pola dan tata tanam berjalan dengan baik, dan tidak ada
kekurangan air yang tidak terselesaikan. Secara series data kondisi saluran selalu meningkat.
Tabel 57
Target dan Capaian Saluran Irigasi dalam Kondisi Baik Tahun 2008-2012

Tabel 60
Jumlah Tempat Ibadah Per Kecamatan Tahun 2012

Target dan Capaian

Tahun

Target*) (m)
304.382,65
308.495,93
329.062,33
335.232,25
341.145,68

2008
2009
2010
2011
2012

%
74
75
80
81,5
82,5

No.

Capaian (m)
304.382,65
312.609,21
339.345,53
341.402,17
353.550,97

%
74
76
82,5
83
85,5

Sumber: Dinas SDA, 2013


Catatan: Panjang total saluran primer-sekunder kewenangan pemerintah adalah 413.509,91m.

3. Penduduk berakses air minum


Sumber air minum sebagian besar berasal dari air tanah, baik air tanah dangkal yang
berupa sumur gali maupun sumur dalam. Sebagian besar penduduk menggunakan sumur
gali, mencapai lebih dari 80% dan hanya sebagian kecil menggunakan air dari PDAM yang
bersumber dari sumur dalam (lebih kurang 19,92%).
Tabel 58
Proporsi Jumlah Penduduk yang Mendapat Air Minum PDAM
No.
1
2
3

Uraian

2009

2010

2011

2012

Jumlah penduduk yg mendapatkan akses


air minum (jiwa)
Jumlah penduduk (jiwa)
Persentase penduduk berakses air bersih (%)

143.678

181.754

184,568

185,270

899.312
15,97

911.503
19,94

921.263
20,03

930.276
19,92

Sumber: PDAM Bantul, 2012.

4. Rasio Tempat Ibadah per Satuan Penduduk


Sarana tempat ibadah di Kabupaten Bantul meliputi: Masjid, Gereja, dan Pura. Rasio
tempat ibadah per satuan penduduk di Kabupaten Bantul Tahun 2010, 2011 dan 2012
disajikan dalam Tabel 59.
Tabel 59
Rasio Tempat Ibadah Tahun 2010-2012
No.

Bangunan
Tempat
Ibadah

1
2
3
4
5
6

Masjid
Gereja
Pura
Vihara
Kelenteng
Lain-Lain

2010
Jumlah Jumlah
(unit) pemeluk

1.715
44
2
-

2011
Rasio

846.850 1 :493
37.462 1 : 851
667 1 : 333
-

Jumlah Jumlah
(unit) pemeluk

1.719
46
2
-

846.850
37.999
677
370
-

2012
Rasio

1:493
1:826
1:339
-

Jumlah Jumlah
(unit) pemeluk

1.853
13
33
2

Kecamatan Masjid Pemeluk Katolik Pemeluk

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

111
36.289
Sanden
1
57
34.275
Srandakan
70
49.927
Pandak
67
32.755
Pajangan
2
90
43.654
Sedayu
206
79.765
Kasihan
1
112
59.296
Bantul
1
74
30.777
Kretek
3
84
42.107
Bb.lipuro
75
32.380
Pundong
166
51.118
Jetis
1
105
80.698
Sewon
2
112
61.590
Imogiri
2
219
86.477
Bg.tapan
97
42.533
Dlingo
64
42.591
Pleret
144
41.363
Piyungan
13
1.853 847.595
JUMLAH
Sumber : Kementerian Agama Bantul, 2013

255
216
1.101
457
3.227
4.751
2.587
1.060
1.091
502
470
1.495
697
2.804
31
62
847
21.653

Kristen
1
3
2
2
7
2
1
1
2
3
1
7
1

33

Pemeluk
138
105
431
475
1.547
4.642
859
769
1.622
364
1.324
1.120
230
2.095
22
10
771
16.524

Pura

Pemeluk

Vihara

Pemeluk Lainnya Pemeluk

15

10

22

277

255

43

75

39

243

88

30

20
2

695

401

5. Persentase rumah tinggal bersanitasi


Rumah tinggal berakses sanitasi sekurang-kurangnya mempunyai akses untuk
memperoleh layanan sanitasi yaitu fasilitas air bersih, air limbah domestik, drainase, dan
persampahan. Untuk mengatasi permasalahan di sektor sanitasi, pemerintah Kabupaten
Bantul pada tahun 2010 ikut serta dalam Program Percepatan Pembangunan Sanitasi
Permukiman (PPSP), melakukan penilaian risiko kesehatan lingkungan (Environmental
Health Risk Assessment/EHRA), menyusun Buku Putih Sanitasi, menyusun dokumen
Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) pada tahun 2011, dan menyusun Memorandum Program
Sektor Sanitasi (MPSS) tahun 2012-2016. Pada tahun 2012 persentase rumah tinggal
bersanitasi meningkat 14.98 persen dibanding tahun sebelumnya (Tabel 61).
Tabel 61
Persentase Rumah Tinggal Bersanitasi Tahun 2011-2012
No.
1
2
3

Uraian

2011

2012

Jumlah rumah tinggal berakses sanitasi


Jumlah rumah tinggal
Persentase

109.224
213.532
51,15

143.687
217.296
66,13

Sumber: Dinkes,2013

Rasio

847.595 1 : 457
21.653 1 : 1.666
16.524 1 : 501
695 1 : 348
401
32

6. Tempat pemakaman umum per satuan penduduk


Pemerintah Kabupaten Bantul menyediakan fasilitas pemakaman yaitu tempat
pemakaman umum (TPU) di Desa Wukirsari Kecamatan Imogiri yang dikelola oleh
pemerintah daerah diperuntukkan bagi masyarakat umum di antaranya warga perumahan
yang ada di Kabupaten Bantul. Tabel berikut menyajikan temat pemakaman umum menurut
kecamatan.

Sumber: Kementerian Agama Kab Bantul, 2013

58

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

59

Tabel 62
Tempat Pemakaman Umum Menurut Kecamatan Tahun 2012

No.

Kecamatan

Tempat
Pemakaman
Umum (TPU)
Jmh

Luas
(m2)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Tempat
Pemakaman
Bukan Umum
(TPBU)
Jmh

Sewon
189 255.270
Pandak
144 170.815
Pundong
112
64.665 7
Bantul
180 184.180 14
Sanden
81
28.931
Kretek
120 288.000
Sedayu
119 340.650 7
Dlingo
27 143.530
Jetis
169 129.812 1
Pajangan
83 899.460
Bbnglipuro
140 178.500
Piyungan
60 980.550 2
Srandakan
81
75.200
Banguntapan
163 148.037 6
Imogiri
121 179.450 6
Kasihan
115 362.460 13
Pleret
53 141.371 9
Jumlah
1.957 4.570.881 65
Sumber: Kecamatan, 2013

Tempat
Pemakaman
Khusus (TP)

Tabel 64
Rusunawa yang telah dibangun di Kawasan Perkotaan Yogyakarta
Jumlah
Total

Lain-lain

Luas
(m2)

Jmh

Luas
(m2)

Jmh

Luas
(m2)

Tempat
Pemakaman

Luas
(m2)

700
7.325
4.500
1.000
15.000
1.620
54.800
17.135
1.917
103.997

1
1
6
2
1
1
1
3
3
3
22

210
100
1.500
450
1.500
950
2.500
4.700
1.200
835
13.945

2
1
5
8

250
40
7.650
7.940

190
144
120
196
81
126
126
27
173
88
141
62
82
170
130
131
65
2.052

255.480
170.815
65.465
191.755
28.931
289.500
345.150
143.530
131.302
907.110
180.000
995.550
76.150
152.157
238.950
380.795
144.123
4.696.763

7. Rumah layak huni


Pada tahun 2012, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bantul sebanyak 40.551 KK.
Tingginya tingkat kemiskinan berkaitan erat dengan ketidakmampuan masyarakat untuk
memiliki rumah layak huni. Di samping itu, banyak satu rumah ditempati oleh lebih dari satu
kepala keluarga. Rasio rumah layak huni terhadap jumlah penduduk di Kabupaten Bantul
dapat dilihat pada Tabel 61.
Tabel 63
Rasio Rumah Layak Huni Tahun 2011-2012
No.

Jenis Rumah

Tahun 2011

Tahun 2012

1
2
3

Jumlah rumah layak huni (rumah)


Jumlah penduduk (jiwa)
Rasio

192.300
921.263
0,2087

199.335
930.276
0,2143

No.
1
2
3

60

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Jumlah

Panggungharjo (2009)
Dusun Tambak Desa Ngestiharjo Kecamatan Kasihan (2011)
Dusun Pringgolayan Desa Banguntapan Kecamatan Banguntapan
(2012)

2 Twin Blok / 198 unit


1 Twin Blok / 98 unit
2 Twin Blok / 198 unt

Sumber: DPU, 2013

8. Drainase dalam kondisi baik


Drainase merupakan pembuangan air permukaan baik secara gravitasi maupun dengan
pompa dengan tujuan untuk mencegah terjadinya genangan, menjaga dan menurunkan
permukaan air sehingga genangan air dapat dihindarkan. Kondisi sistem drainase di
Kabupaten Bantul masih merupakan drainase gabungan di mana pembuangan air limbah
dan air hujan serta air kotor disalurkan dalam satu saluran. Sebagian besar sistem drainase
yang ada merupakan sistem drainase terbuka.
Tabel 65
Data Banjir Genangan Akibat Curah Hujan Tinngi tahun 2008-2012
No.

Tahun

Potensi Banjir Genangan akibat curah hujan tinggi (Ha)

1
2
3
4
5

2008
2009
2010
2011
2012

3.093,33
2.685,42
1.071,66
1.025,99
907,40

Sumber: Dinas SDA 2013

e. Penataan Ruang
Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang. Permasalahan penataan ruang di Kabupaten Bantul saat ini
adalah meningkatnya alih fungsi lahan. Hal ini dikarenakan Kabupaten Bantul merupakan
bagian pengembangan Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY) yang mendorong masuknya
kegiatan investasi di berbagai sektor.
1. Perencanaan Tata Ruang
Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola
ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Produk perencanaan
tata ruang yang telah dimiliki Kabupaten Bantul sampai dengan tahun 2012 dapat dilihat
pada Tabel 66.
Tabel 66
Produk Perencanaan Tata Ruang

Sumber: Bappeda 2013

Sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas kawasan perumahan dan permukiman


sederhana sehat, Pemerintah Kabupaten Bantul telah membangun Rumah Susun Sederhana
Sewa (Rusunawa) dan bantuan stimulan pembangunan sarana prasarana lingkungan seperti
jalan lingkungan, drainase dan jembatan.

Lokasi

No.

Produk Perencanaan Tata Ruang

Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2011 Kabupaten Bantul tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Kabupaten Bantul Tahun 2010-2030
Peraturan Daerah No. 5 Tahun 2011 tentang Bangunan Gedung
Peraturan Daerah No. 33 Tahun 2008 tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Sewon
Peraturan Bupati Bantul Nomor 34 Tahun 2011 tentang Izin Mendirikan Bangunan
Peraturan Bupati Bantul Nomor 35 Tahun 2011 tentang Garis Sempadan

2
3
4
5

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

61

No.

Produk Perencanaan Tata Ruang

Peraturan Bupati Bantul Nomor 36 Tahun 2011 tentang Pedoman Pembangunan Perumahan di
Kabupaten Bantul
Peraturan Bupati Bantul Nomor 37 Tahun 2011 tentang Pengaturan Bangunan Bukan Gedung
Dokumen Rencana Detail Tata Ruang (RDTR), 17 Kecamatan
Dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Paseban Bantul
Dokumen Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) Kawasan Strategis Gabusan-Manding-Tembi
(GMT)
Dokumen Rencana Tindak Kawasan GMT
Studi Rencana Pengembangan dan Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman (RP3KP)
DED Kawasan Paseban Bantul
DED Kawasan Pantai Kuwaru
DED Kawasan Kotagede

7
8
9
10
11
12
13
14
15

Sumber: Bappeda Bantul, 2013

2. Pengendalian Pemanfaatan Ruang


Dalam rangka menserasikan dan mensinergikan penataan ruang daerah serta
menindaklanjuti Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2009 tentang Pedoman
Koordinasi Penataan Ruang Daerah, maka Bupati Bantul melalui Surat Keputusan Bupati
Bantul No. 106 A Tahun 2012 tentang Perubahan atas Surat Keputusan Bupati Bantul No. 101
E Tahun 2011 telah membentuk Badan Koordinasi (BKPRD), Sekretariat, dan Kelompok
Kerja Penataan Ruang Daerah Kabupaten Bantul. BKPRD Kabupaten Bantul rutin melakukan
koordinasi dalam rangka penanganan dan penyelesaian permasalahan pemanfaatan ruang.
3. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Ruang Terbuka Hijau adalah area memanjang/jalur dan atau mengelompok, yang
penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh tanaman
secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. RTH terdiri dari RTH publik (taman kota,
hutan kota, jalur hijau jalan, sempadan rel kereta api, jalur hijau jaringan listrik tegangan
tinggi, sempadan sungai, sempadan pantai, pengamanan sumber air baku/mata air, dan
pemakaman) dan RTH privat (pekarangan rumah tinggal; halaman perkantoran, pertokoan,
dan tempat usaha; taman atap bangunan). Rasio RTH per satuan luas wilayah di wilayah
Perkotaan (Kecamatan Kasihan, Banguntapan, Sewon, Bantul, Pajangan, Piyungan, dan
Pleret) di Kabupaten Bantul tahun 2012 adalah 26,98%.
f. Perumahan
1. Rumah tangga pengguna air bersih
Penyediaan Pengelolaan Air Bersih dilaksanakan Dinas PU bekerjasama dengan PDAM
Kabupaten Bantul. Dalam rangka penanganan di lokasi rawan kekeringan dan belum
terjangkau jaringan PDAM, selama lima tahun terakhir telah dibangun Hidran Umum (HU),
pembangunan Sistem Instalasi Perpipaan Air Sederhana (SIPAS). Selain itu, untuk
mendukung kawasan siap bangun/lingkungan siap bangun (Kasiba/Lisiba) Bantul Kota
Mandiri dibangun sistem pengolahan air minum (SPAM) di IKK Pajangan. Proporsi jumlah
penduduk yang mendapat air bersih disajikan pada Tabel 67.

62

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Tabel 67
Persentase Penduduk Berakses Air Bersih
Uraian
No.
1 Jumlah penduduk yang mendapatkan akses air bersih
2 Jumlah penduduk
3 Persentase penduduk berakses air bersih (%)

2009

2010

2011

2012

667.209
899.312
74,19

686.449
911.503
75,31

690.947
921.263
75

725.615
930.276
78

Sumber : DPU,2013

2. Rumah tangga pengguna listrik


Berdasarkan data berbasis dusun, semua dusun (933 dusun) telah terlayani listrik.
Namun, belum seluruh rumah dalam satu dusun terjangkau oleh pelayanan listrik, hal ini
disebabkan oleh letak geografis rumah tersebut jauh dari jaringan listrik. Di samping itu,
perhitungan berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK) belum mencerminkan jangkauan
pelayanan listrik, hal ini dikarenakan dalam satu rumah/pelanggan bisa dihuni oleh lebih
dari satu KK.
Tabel 68
Jumlah KK yang Belum Berlistrik Tahun 2012
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Kecamatan
Srandakan
Sanden
Kretek
Pundong
Bambanglipuro
Pandak
Bantul
Jetis
Imogiri
Dlingo
Pleret
Piyungan
Banguntapan
Sewon
Kasihan
Pajangan
Sedayu
Total

Jumlah KK yang Belum Berlistrik


86
837
1.240
2.957
130
624
5.856
5.180
449
35
423
273
2.957
116
14
21.177

Sumber : Dinas SDA 2013

3. Permukiman Kumuh
Kebutuhan rumah yang terus meningkat tiap tahun khususnya di wilayah perkotaan yang
jumlah penduduknya relatif banyak dan padat, sempitnya lahan dan mahalnya harga tanah di
wilayah perkotaan mendorong munculnya permukiman kumuh. Permukiman kumuh di
Kabupaten Bantul teridentifikasi berada di Kawasan kumuh tepi sungai yaitu di Desa Jagalan
dan Desa Potorono (Kecamatan Banguntapan) dan Desa Pendowoharjo (Kecamatan Sewon);
kawasan kumuh sekitar pusat kegiatan yaitu di Desa Bantul (Kecamatan Bantul), Desa
Tirtonirmolo (Kecamatan Kasihan), dan Desa Singosaren (Kecamatan Banguntapan); serta
Kawasan kumuh pinggiran kota yaitu di Desa Ringinharjo dan Desa Trirenggo (Kecamatan
Bantul).

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

63

4. Rumah layak huni


Jumlah rumah tidak layak huni dengan kriteria rumah berlantai tanah, berdinding bambu
atau beratap rumbia, pada tahun 2012 berjumlah 17.961 rumah turun dibanding pada tahun
2011 sebanyak 21.234 rumah. Penurunan ini di antaranya dikarenakan Pemerintah
Kabupaten Bantul mendapatkan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS)
sejak tahun 2008 dari Kementerian Perumahan Rakyat, stimulan bantuan material dan dana
tukang dari APBD DIY, serta stimulan partisipasi masyarakat dari APBD Kabupaten.
Tabel 69
Jumlah Rumah Layak Huni Tahun 2011-2012
Jenis Rumah

Tahun 2011

Tahun 2012

192.300
213.532
90,06

199.335
217.296
91,73

Jumlah rumah layak huni (unit)


Jumlah rumah (unit)
Persentase
Sumber: Bappeda, 2013

g. Kepemudaan dan Olahraga


Kegiatan kepemudaan adalah kegiatan atau event kepemudaan yang diselenggarakan
dalam bentuk pertandingan, perlombaan dan upacara serta kejadian atau peristiwa sejenis
Kepemudaan sendiri bermakna segala hal tentang kepemudaan.
Pada tahun 2012 mentargetkan sebanyak 20 cabang olah raga terealisir 27 cabang olah raga,
cabang olah raga yang menjalankan kompetisi secara teratur meliputi Atletik, PSSI, PBVSI,
Percasi, IPSI, dansa, tenis lapangan, angkat besi/berat, PERBASI, bulutangkis, tenis meja, yudo,
karate, hoki, gulat, PORDASI, taekwondo, sepak takraw, tarung drajad, dan senam.
Tabel 70
Jumlah Kegiatan Kepemudaan Tahun 2011-2012
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Kecamatan
Sewon
Pandak
Pundong
Bantul
Sanden
Kretek
Sedayu
Dlingo
Jetis
Pajangan
Bambanglipuro
Piyungan
Srandakan
Banguntapan
Imogiri
Kasihan
Pleret
Jumlah

2011*)

2012*)

16
15
16
20
15
15
14
14
17
16
15
16
16
15
17
17
16
270

14
13
14
20
13
13
13
11
15
15
13
12
13
13
14
15
15
221

Tabel 71
Jumlah Kegiatan Olahraga Tahun 2010 s.d 2012
No.

Kecamatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Kec. Sewon
Kec. Pandak
Kec. Pundong
Kec. Bantul
Kec. Sanden
Kec. Kretek
Kec. Sedayu
Kec. Dlingo
Kec. Jetis
Kec. Pajangan
Kec. Bambanglipuro
Kec. Piyungan
Kec. Srandakan
Kec. Banguntapan
Kec. Imogiri
Kec. Kasihan
Kec. Pleret
Jumlah

2010*)

2011*)

2012*)

8
7
5
10
8
11
7
7
8
6
8
8
6
10
9
8
8
134

11
8
8
12
10
12
8
9
10
8
11
12
8
13
11
12
12
175

15
13
12
16
13
14
11
10
12
9
12
14
10
16
14
15
15
221

*)Diisi sesuai dengan ketersediaan data


sumber: Kantor Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Bantul

h. Penanaman Modal
Penanaman modal di Kabupaten Bantul difokuskan pada peningkatan iklim investasi dan
promosi investasi. Pada tahun 2012 investasi di Kabupaten Bantul lebih didominasi oleh
investor asing sejumlah 28 unit usaha, dibandingkan dengan investor dalam negeri yang
sejumlah lima unit usaha. Nilai investasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada tahun 2012
sebesar Rp22.564.051.772,- dan $17,106,488.- dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 8.013
orang yang terdiri dari 58 warga negara asing dan 7.955 warga negara Indonesia. Sementara
nilai investasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp246.782.863.739,23 dengan
jumlah unit usaha sebanyak lima unit usaha, dan penyerapan tenaga kerja sejumlah 3.418 orang
Warga Negara Indonesia (WNI) (Tabel 72-73).
Bila dibandingkan dengan kondisi tahun 2011, maka terjadi penurunan jumlah unit usaha
baik untuk PMA maupun PMDN. Namun demikian dari sisi nilai investasi dan jumlah
penyerapan tenaga kerja mengalami peningkatan.
Tabel 72
Nilai Investasi Tahun 2012
Investasi
Pemerintah
Masyarakat
PMDN
PMA
Total Investasi

Tahun2012
153.262.752.810,00
49.000.000.000,00
246.782.863.739,23,00
188.496.985.372,00
637.542.601.921,00

Sumber: Dinas Perindakop, AP, DPPKAD Tahun 2013

*)Diisi sesuai dengan ketersediaan data


sumber: Kantor Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Bantul

64

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

65

Tabel 73
Perkembangan Penanaman Modal Asing (PMA) & Penanaman Modal
Dalam Negeri (PMDN) Tahun 2005-2012
JENIS
NO TAHUN
INVESTASI
1

2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

41

PMDN

13

PMA

43

PMDN

13

PMA

48

PMDN

14

PMA

53

PMDN

14

PMA

54

PMDN

14

PMA

51

PMDN

13

PMA

2012

PMA
PMDN

TENAGA
KERJA

AKTIF PASIF TOTAL WNI WNA

PMA

PMDN
8

JUMLAH INVESTOR

30

23

53

15

27/28

26

54

10

15

NILAI INVESTASI AKTIF


KETERANGAN
US$

80 4.763 23.165.328
4 3.714
85 4.903 24.045.328
5 3.851
112 8.333 27.525.328
5 3.890
121 9.451 29.575.328
5 4.190
123 9.615 30.625.328
5 4.390
117 9.513 29.730.328
5 3.510
56 6.913 17.719.988
3.260

Rp
266.278.885.773,00

Rencana &

102.909.476.000,00

Realisasi

266.278.885.773,00

Rencana &

103.130.101.000,00

Realisasi

266.278.885.773,00

Rencana &

117.130.101.000,00

Realisasi

266.278.885.773,00

Rencana &

121.130.101.000,00

Realisasi

266.278.885.773,00

Rencana &

181.630.101.000,00

Realisasi

266.278.885.773,00

Rencana &

173.438.101.000,00

Realisasi

10.863.379.840,00
200.172.644.150,71

58 7.955 17.106.488
3.418

22.564.051.772,00
246.782.863.739,23

Uraian
Jumlah seluruh UKM
Jumlah BPR/LKM
Jumlah UKM non BPR/LKM

2009

2010

2011

2012

278
100
378
73%

322
85
407
79%

358
85
443
81%

380
78
458
83%

393
70
463
85%

2012

44.778
15
44.763

44.778
15
44.763

44.778
15
44.763

Tabel 76
Koperasi Berbadan Hukum Tahun 2010-2012

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

2008

2011

Upaya yang telah dilakukan antara lain fasilitasi UMKM; pelatihan manajemen ekspor, impor,
pelatihan TI; kerjasama dengan Kementerian Luar Negeri, serta mengadakan pendataan secara
langsung ke eksportir maupun importir.

Rencana &
Realisasi

2010

Sumber: Dinas Perindustrian,perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul


Ket.: LKM yang menjadi binaan

No.

Tabel 74
Persentase Koperasi Aktif Tahun 2008 sd 2012
Koperasi aktif
Koperasi kurang aktif
Jumlah koperasi
Persentase koperasi aktif

No.
1
2
3

Realisasi

i. Koperasi dan Usaha Kecil Menengah


1. Persentase koperasi aktif
Sampai dengan tahun 2012, koperasi yang ada di Kabupaten Bantul berjumlah 463 unit,
semuanya telah berbadan hukum. Jenis usaha yang dikelola oleh koperasi-koperasi tersebut
meliputi perdagangan umum, simpan pinjam, pertokoan, dan sebagainya.

Uraian

2. Jumlah UKM dan BPR/LKM


Pembangunan koperasi dan UKM di Kabupaten Bantul dilaksanakan dengan
mengembangkan koperasi dan UKM menjadi unit usaha yang kuat, maju, dan mandiri serta
memiliki daya saing, sehingga secara makro mampu mendukung pembangunan ekonomi di
Kabupaten Bantul. Perkembangan jumlah UKM dan BPR di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada
Tabel 75.
Tabel 75
Jumlah UKM non BPR/LKM Tahun 2010-2012

Rencana &

Sumber: Dinas Perindagkop, 2013

No.
1
2
3
4

Tabel di atas menunjukkan persentase koperasi aktif semakin meningkat, upaya yang telah
dilakukan antara lain melaksanakan pendidikan dan pelatihan bagi pengelola koperasi dengan
lebih intensif, penguatan permodalan koperasi baik melalui perbankan maupun non perbankan
serta keterpaduan program melalui bantuan permodalan baik dari APBD kabupaten, provinsi
maupun dari pemerintah pusat serta memfasilitasi pertemuan antara pengusaha besar dan
koperasi.

Kecamatan
Kasihan
Sewon
Banguntapan
Pundong
Dlingo
Piyungan
Pajangan
Bantul
Srandakan
Pandak
Imogiri
Sanden
Kretek
Sedayu
Jetis
Pleret
Bambanglipuro
Jumlah

2010

2011

2012

36
57
40
11
16
20
8
85
16
13
30
21
9
13
29
21
18
443

36
60
41
11
16
20
9
87
17
13
31
24
9
14
29
22
19
458

37
60
41
11
16
20
9
87
18
14
31
25
9
14
29
22
20
463

Sumber: Dinas Perindagkop, 2013

Sumber: Dinas Perindakop, 2013

66

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

67

Tabel 77
Jumlah Koperasi Menurut Jenis Tahun 2010-2012
No.
1
2
3

Tabel 79
Estimasi Penduduk Kabupaten Bantul Tahun 2012 per Kelompok Umur

Tahun

Uraian

2010
3
423
17
443

Koperasi Sekunder
Koperasi Primer
KUD
Jumlah

2011
3
438
17
458

No.

2012
3
443
17
463

Sumber: Dinas Perindagkop, 2013

Tabel 78
Perkembangan Industri Kecil Menengah Tahun 2010-2012
Tahun

Uraian

2010
18.119
81.705
799.540.000
509.261.000
488.675.000

Unit Usaha
Tenaga Kerja
Nilai Produksi (Rp ribuan)
Nilai Tambah (Rp ribuan)
Nilai Investasi (Rp ribuan)

2011
18.158
81.805
800.105.000
509.266.780
488.715.800

2012
18.235
81.938
800.295.400
509.495.600
488.862.200

Sumber: Dinas Perindagkop, 2013

Jumlah Penduduk

j. Kependudukan dan Catatan Sipil


1. Pertumbuhan penduduk
Pertumbuhan penduduk Kabupaten Bantul pada tahun 2012 ini mengalami penurunan,
yaitu sebesar 0,98% ( 921.263 jiwa menjadi 930.276 jiwa) sedangkan pada tahun 2011
pertumbuhan penduduk sebesar 1,07% (911.503 jiwa menjadi 921.263 jiwa). Angka laju
pertumbuhan penduduk menurun dari tahun ke tahun sehingga kondisi ini menunjukkan
keberhasilan dalam pengendalian pertumbuhan penduduk.
940.000
930.000
920.000
910.000
900.000
890.000
880.000
870.000
860.000
Jumlah Penduduk

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Estimasi 2012 (jiwa)*)

KELOMPOK
UMUR

Laki-laki

Perempuan

0-4
5-9
10 - 14
15 - 19
20 - 24
25 - 29
30 - 34
35 - 39
40 - 44
45 - 49
50 - 54
55 - 59
60 - 64
65 - 69
70 - 74
75 +
Jumlah

38.089
35.685
34.550
37.221
37.024
39.463
37.918
35.323
36.928
33.338
29.062
20.368
12.649
12.370
10.139
13.922
464.049

35.835
33.477
33.258
35.942
35.346
38.182
36.997
35.381
38.193
34.790
28.446
18.560
15.086
14.333
13.050
19.351
466.227

Laki +
Perem
73.924
69.162
67.808
73.163
72.370
77.645
74.915
70.704
75.121
68.128
57.508
38.928
27.735
26.703
23.189
33.273
930.276

%
7,946
7,435
7,289
7,865
7,779
8,346
8,053
7,600
8,075
7,323
6,182
4,185
2,981
2,870
2,493
3,577
100

Sumber: BPS, 2013


*) : Estimasi penduduk dengan laju pertumbuhan SP2000-SP2010, angka sementara

Kepadatan penduduk kelompok umur adalah jumlah penduduk berdasarkan kelompok


umur pada suatu daerah setiap kilometer persegi. Kepadatan penduduk kelompok umur
menunjukkan proporsi umur. Berdasarkan kelompok umur terbesar yaitu pada umur 25-29
tahun (8,346%), 40-44 tahun (8,075%) dan 30-34 tahun (8,053%).
Pengelompokan penduduk berdasarkan persebaran penduduk/geografis menunjukkan
penyebaran penduduk dan tingkat kepadatan penduduk di suatu daerah setiap kilometer
persegi. Penyebaran penduduk di Kabupaten Bantul tidak merata, daerah yang mempunyai
kepadatan penduduk geografis tinggi terletak di wilayah Kabupaten Bantul yang berbatasan
dengan kota Yogyakarta yang meliputi kecamatan Banguntapan (4.383 jiwa/km2), Sewon
(3.937 jiwa/km2), dan Kasihan (3.533 jiwa/km2), sedangkan kepadatan penduduk geografis
terendah terletak di Kecamatan Dlingo (641 jiwa/km2).. Kepadatan penduduk geografis
Kabupaten Bantul Tahun 2012 mencapai 1,835 jiwa per km2.
Tabel 80
Kepadatan Penduduk Geografis per Kecamatan Tahun 2012
No.

2008
2009
2010
2011
2012
886.061 899.312 911.503 921.263 930.276

Sumber : BPS 2013 (Estimasi Jumlah Penduduk Berdasarkan Hasil SP 2010)

Gambar 13
Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Bantul Tahun 2008-2012

2. Pengelompokan penduduk
Pengelompokan penduduk dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, antara lain
berdasarkan persebaran penduduk/geografis, berdasarkan kelompok umur dan
berdasarkan jenis kelamin. kepadatan penduduk agraris, kepadatan penduduk daerah
terbangun, kepadatan penduduk kelompok umur, dan sebagainya.

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Kecamatan

Srandakan
Sanden
Kretek
Pundong
Bambanglipuro
Pandak
Bantul
Jetis
Imogiri
Dlingo
Pleret
Piyungan
Banguntapan
Sewon
Kasihan
Pajangan
Sedayu
Jumlah

Kepadatan Penduduk
Luas (Km2)
18,32
23,16
26,77
23,68
22,70
24,30
21,95
24,47
54,49
55,87
22,97
32,54
28,48
27,16
32,38
33,25
34,36
506,85

Jlm Penduduk
28.755
29.814
29.470
31.881
37.617
48.104
60.192
52.667
56.823
35.817
44.155
50.137
124.838
106.929
114.412
33.549
45.116
930.276

Kepadatan/Km2
1.570
1.287
1.101
1.346
1.657
1.980
2.742
2.152
1.043
641
1.922
1.541
4.383
3.937
3.533
1.009
1.313
1.835

Sumber : BPS, 2013

68

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

69

Tabel 81
Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan KTP dan KK Tahun 2012
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Kabupaten/Kota
Kec. Sewon
Kec. Pandak
Kec. Pundong
Kec. Bantul
Kec. Sanden
Kec. Kretek
Kec. Sedayu
Kec. Dlingo
Kec. Jetis
Kec. Pajangan
Kec. Bambanglipuro
Kec. Piyungan
Kec. Srandakan
Kec. Banguntapan
Kec. Imogiri
Kec. Kasihan
Kec. Pleret
Jumlah

Tabel 83
Perkembangan Pelayanan Administrasi Kependudukan Tahun 2010-2012

Jumlah Penduduk Menurut Kepemilikan


KTP
KK
64.183
25.847
34.993
14.232
23.633
9.440
41.626
17.804
22.341
9.126
21.091
8.814
30.162
12.271
25.459
10.320
38.892
15.461
22.262
8.316
27.837
11.794
32.380
13.471
21.598
8.626
66.883
28.591
41.369
17.158
65.007
27.000
29.383
12.535
609.099
250.806

Sumber: Dinas Kependudukan dan Catatan sipil Kabupaten Bantul, 2013


Tabel 82
Akta Catatan Sipil kepada Masyarakat di Kabupaten Bantul Tahun 2010-2012
No.
1

5
6
7
8
9
10
11

12
13

Jenis Pelayanan
Akta Kelahiran
-Umum
-Terlambat
Akta Perkawinan
-Umum
-Terlambat
Akta Perceraian
-Umum
-Terlambat
Akta Kematian
-Umum
-Terlambat
Pengakuan Anak
Pengesahan Anak
Pengangkatan Anak
Perubahan Nama
Salinan Akta (Kelahiran,Perkawinan,
Perceraian,Kematian)
Surat Keterangan
-Srt ket perset Pcttn terlambat
Surat tanda bukti pelaporan
-Belum Nikah
-Pencatatan Kelahiran di LN
-Pencatatan kematian di LN
-Pencatatan Perkawinan di LN
Pembatalan akta lahir
Pembatalan akta kematian
- Kutipan II
- Legalisasi

Jumlah
2010

2011

2012

10.036
11.232

10.018
5.999

7.993
3.629

250
6

229
2

181
2

19
6

22
4

30
5

650
3.301
4
14
69
6

488
3.386
1
1
15
42
4

647
3.595
1
10
28

Sumber: Disdukcapil, 2013


2.739
417
3

546
32.132

3.342
3
77
2

2.670

5
1

332
25.555

453
22.326

123

k. Ketenagakerjaan
1. Angkatan Kerja
Secara struktural, angkatan kerja merupakan bagian dari penduduk usia kerja, sehingga
jumlah angkatan kerja sangat tergantung pada jumlah penduduk usia kerja yang masuk ke
dalam angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja setiap tahunnya mengalami peningkatan
sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk usia kerja. Pada tahun 2011 angkatan kerja di
Bantul sebanyak 505.786 orang menjadi 530.068 orang pada tahun 2012 atau naik sekitar
4,8%. Jumlah penduduk angkatan kerja Kabupaten Bantul tahun 2012 dapat dilihat pada
Gambar 14.

Sumber: Disdukcapil, 2013

70

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

71

JUMLAH PENDUDUK
947,878
L:
465,739
P:
482,139

BUKAN PENDUDUK USIA KERJA


63,556
L:
29,117
P:
34,439

PENDUDUK USIA KERJA


734,630
L:
362,577
P:
372,053

ANGKATAN KERJA
530,068
L:
276,307
P:
253,761

PENGANGGUR
28,075
L:
13,572
P:
14,503

STGH PENGANGGUR
70,034
L:
32,781
P:
37,253

sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Jumlah pengangguran di Kabupaten
Bantul pada Tahun 2012 sebesar 28.075 orang atau sebesar 5,3% dari jumlah penduduk
angkatan kerja (501.993 orang). Prosentase pengangguran tahun 2012 ini mengalami
penurunan dari tahun 2011 yang mencapai 5,8%. Upaya yang telah dilakukan untuk
mengurangi pengangguran ini di antaranya melalui program kerja sama penempatan tenaga
kerja di Malaysia, inkubasi bisnis, uji coba wirausaha, subsidi program, padat karya produktif
dan infrastruktur serta perluasan lapangan kerja.

ANAK < 15 TAHUN


149,692
L:
74,045
P:
75,647

BUKAN ANGKATAN KERJA


204,562
L:
86,270
P:
118,292

BEKERJA
431,959
L:
229,954
P:
202,005

SEKOLAH
115,003
L:
57,421
P:
57,582

MENGURUS RT
52,010
L:
9,542
P:
42,468

PENERIMA PDPT LAIN


37,549
L:
19,307
P:
18,242

Sumber : Disnakertrans,2013

Gambar 14
Angkatan Kerja Berdasarkan Jenis Kelamin Tahun 2012

2. Kesempatan kerja
Kesempatan kerja adalah suatu keadaan yang menggambarkan ketersediaan pekerjaan.
Jumlah penduduk yang ada dalam suatu wilayah kemudian dikelompokkan berdasarkan
lapangan usaha yang ada. Komposisi penduduk yang bekerja di sektor pertanian masih
cukup mendominasi dalam penyerapan tenaga kerja dibandingkan dengan sektor lainnya.
Meskipun komposisi penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha menunjukkan jumlah
penduduk yang bekerja di sektor angkutan, perdagangan, jasa mengalami peningkatan,
namun karakter Negara Indonesia masih tergolong agraris. Keadaan tersebut dapat terlihat
bahwa komposisi penduduk yang bekerja di sektor pertanian masih cukup mendominasi
dalam penyerapan tenaga kerja dibandingkan dengan sektor yang lain, meskipun jumlahnya
cenderung menurun sekitar 6,5%. Menurunnya proporsi jumlah penduduk yang bekerja di
sektor pertanian diduga karena para pencari kerja lebih memilih untuk bekerja di sektor non
pertanian.
Tabel 84
Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010-2012

Sumber : Disnakertrans,2013

Lapangan Usaha

Tahun 2010

Tahun 2011

Tahun 2012

Pertanian
Pertambangan dan Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas dan Air
Bangunan
Perdagangan,Hotel dan Restoran
Angkutan dan Komunikasi
Keuangan Persewaan dan jasa Perusahaan
Jasa Lainnya
Jumlah

179.040
7.419
35.979
5.526
50.446
52.398
11.504
16.761
41.215
400.289

167.192
5.213
38.232
5.771
55.021
58.600
15.540
16.986
45.135
407.691

156.932
9.109
35.590
5.762
55.247
61.739
19.975
23.961
63.644
431.959

Sumber : Disnakertrans 2013

3. Pengangguran
Penganggur di Kabupaten Bantul dari tahun ke tahun bersifat fluktuatif. Penganggur
terbuka terdiri atas mereka yang mencari pekerjaan, mereka yang mempersiapkan usaha,
mereka yang tidak bekerja karena tidak mungkin mendapatkan pekerjaan, dan mereka yang

72

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Gambar 15
Peta Penganggur Tahun 2012

Aspek ketenagakerjaan merupakan salah satu potensi pembangunan yang sangat penting
dalam menentukan keberhasilan proses pembangunan itu sendiri. Permasalahan yang
ditimbulkan dalam aspek ketenagakerjaan adalah apabila ternyata SDM di usia produktif
menjadi pengangguran. Hal ini tentunya dapat menimbulkan terbentuknya permasalahan
sosial yang memerlukan perhatian tersediri. Sementara itu, untuk menangani masalah
pengangguran yang muncul akibat krisis yang mengenai semua lini kehidupan, dibutuhkan
suatu pendekatan multidimensional pada semua sektor. Data mengenai aspek
ketenagakerjaan di Kabupaten Bantul disajikan pada Tabel 85.
Tabel 85
Rasio Penduduk yang Bekerja dengan Angkatan Kerja Tahun 2012
Uraian

Tahun 2012

Jumlah Penduduk yang Bekerja


Jumlah Angkatan Kerja

431.959
530.068

Sumber: Disnakertrans, 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

73

Tabel 86
Penduduk Usia 15 Tahun Keatas dirinci Menurut Angkatan Kerja
dan Bukan Angkatan Kerja serta Jenis Kelamin Tahun 2012
No.
I

II

III
IV

Uraian
Angkatan Kerja
Bekerja
Penganggur
Jumlah Penduduk Angkatan Kerja (I)
Bukan Angkatan Kerja
Sekolah
Mengurus Rumah Tangga
Lainnya
Jumlah Penduduk Bukan Angkatan Kerja (II)
Jumlah Penduduk Usia Kerja (I) + (II)
TPAK
Tingkat Pengangguran Terbuka

Tabel 89
Jumlah Angkatan Kerja Tahun 2010-2012

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

262.735
13.572
276.307

239.258
14.503
253.761

501.993
28.075
530.068

57.421
9.542
19.307
86.270
362.577

57.582
42.468
18.242
118.292
372.053

115.003
52.010
37.549
204.562
734.630

76 %
13.572

68 %
14.503

72 %
28.075

Sumber: Disnakertrans, 2013

Golongan
Umur
15 - 19
20 - 24
25 - 34
35 +
Total

Tabel 87
Penduduk Angkatan Kerja Tahun 2012
Angkatan Kerja
Setengah
Bekerja
Penganggur
Penganggur
14.081
45.936
5.674
14.271
70.464
5.766
15.948
122.011
6.429
25.734
193.548
10.206
70.034
431.959
28.075

Jumlah

Sumber: Disnakertrans, 2013

Tabel 90
Jumlah Penganggur Terbuka Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Di Kabupaten Bantul Tahun 2010-2012

530.068

Sumber: Disnakertrans, 2013

Tabel 88
Penduduk Bekerja menurut Lapangan Usaha Tahun 2012 per Kecamatan Kabupaten Bantul
LAPANGAN USAHA
NO

KECAMATAN

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.

KASIHAN
SEWON
BANGUNTAPAN
BANTUL
PAJANGAN
SEDAYU
PANDAK
SRANDAKAN
SANDEN
BAMBANGLIPURO
PUNDONG
KRETEK
JETIS
IMOGIRI
DLINGO
PLERET
PIYUNGAN
JUMLAH

SEKTOR
SEKTOR
SEKTOR
SEKTOR
PERDAGANGAN
SEKTOR
SEKTOR
PERTAMBANGAN
INDUSTRI
LISTRIK, GAS
HOTEL DAN
BANGUNAN
PERTANIAN
& PENGGALIAN PENGOLAHAN
DAN AIR
RESTORAN
6.896
9.914
12.605
8.131
6.261
11.710
12.489
3.747
7.105
9.858
8.039
5.308
5.047
16.561
13.063
7.675
12.523
156.932

528
61
4.273
111
1.295
52
813
284
111
32
501
8
105
209
18
410
298
9.109

4.290
1.895
8.321
2.534
1.513
1.087
2.008
1.149
256
289
1.674
1.069
676
2.085
2.896
3.256
592
35.590

1.249
283
1.572
330
336
434
376
152
140
32
205
27
51
233
81
171
90
5.762

6.258
9.484
5.786
5.494
2.271
2.723
2.434
1.433
1.048
1.458
1.172
869
5.633
2.585
1.171
2.799
2.629
55.247

5.436
6.292
7.825
3.074
1.592
4.890
3.372
4.441
1.812
2.176
1.123
1.114
2.892
4.641
3.181
5.594
2.284
61.739

SEKTOR
PENGANGKUTAN
DAN
KOMUNIKASI
3.901
1.506
1.807
2.165
860
1.441
1.747
1.409
399
131
342
842
904
794
684
534
509
19.975

SEKTOR
KEUANGAN
JASA
PERSEWAAN DAN
LAINNYA
JASA
PERUSAHAAN
1.709
9.640
3.883
6.777
1.768
8.771
2.550
2.672
1.800
4.373
1.714
626
4.343
2.678
1.525
1.028
1.290
422
2.517
1.451
1.322
460
2.367
875
4.012
1.172
2.435
1.474
4.389
1,084
3.130
647
2.367
334
63.644
23.961

JUMLAH

39.907
40.095
52.728
27.061
20.301
24.677
30.260
15.168
12.583
17.944
14.838
12.479
20.492
31.017
26.567
24.216
21.626
431.959

Sumber: Disnakertrans, 2013

Sumber : Disnakertrans, 2013

74

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

75

Tabel 93
Daftar Gapoktan Pelaksana LDPM Tahun 2012

l. Ketahanan Pangan
Peran pemerintah kabupaten dalam mewujudkan ketahanan pangan diamanatkan dalam
Pasal 13 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2002 bahwa pemerintah bertanggung jawab
terhadap penyelenggaraan ketahanan pangan di wilayah masing-masing dan mendorong
keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan ketahanan pangan.
1. Ketersediaan pangan dan Cadangan Pangan
Ketersediaan pangan dapat dilihat dari ketersediaan energi protein per kapita dan dari
cadangan pangan masyarakat dan pemerintah. Dalam rangka meningkatkan ketersediaan
pangan masyarakat, Bupati Bantul telah mengeluarkan Instruksi Bupati Nomor 03 Tahun
2012 tentang Optimasi Pemanfaatan Pekarangan. Ketersediaan energi protein pada tahun
2012 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2011 masing-masing sebesar 34,99%
dan 20,15%. Ketersediaan pangan dalam bentuk energi dan protein pada tahun 2011-2012
seperti terlihat pada Tabel 91.
Tabel 91
Ketersediaan Energi dan Protein (KEP) untuk dikonsumsi Tahun 2011-2012

Sumber: BKPPP, 2013

Ketersediaan pangan juga dapat dilihat dari cadangan pangan masyarakat dan
pemerintah. Cadangan pangan merupakan salah satu komponen penting dalam ketersediaan
pangan, karena cadangan pangan merupakan sumber pasokan untuk mengisi kesenjangan
antara produksi dan kebutuhan pangan dari waktu ke waktu. Cadangan pangan masyarakat
pada rahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 2% dibandingkan tahun 2011. Data
perkembangan ketersediaan beras disajikan pada Tabel 92.
Tabel 92
Perkembangan Ketersediaan Beras Tahun 2011-2012

Sumber: BKPPP, 2013

3. Penganekaragaman dan Keamanan Pangan


Pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah pangan yang dikonsumsi
seseorang atau kelompok pada waktu tertentu. Pola konsumsi pangan menunjukkan tingkat
keberagaman pangan masyarakat yang ditunjukkan dengan indikator Pola Pangan Harapan
(PPH). Pada tahun 2012 terjadi kenaikan jumlah skor PPH dibandingkan tahun 2011.
Kenaikan terjadi pada konsumsi padi padian, pangan hewani, minyak dan lemak, dan gula,
sedangan penurunan konsumsi terjadi pada umbi-umbian dan biji berlemak.
Tabel 94
Perkembangan Skor Pola Pangan Harapan (PPH) Tahun 2011-2012

Sumber: BKPPP, 2013

Cadangan pangan pemerintah merupakan cadangan pangan yang diusahakan oleh


pemerintah. Cadangan pangan pemerintah baru terwujud pada tahun 2012 sebanyak lima
ton.
2. Distribusi dan Akses Pangan
Distribusi pangan yang lancar dan merata akan mempermudah masyarakat untuk
mengakses pangan. Adapun daftar Gapoktan pelaksana lembaga distribusi pangan
masyarakat dapat dilihat pada Tabel 93.

Sumber: BKPPP, 2013

76

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

77

2. Rasio Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Indeks Gender


Kasus KDRT di Kabupaten Bantul belum dapat dipantau secara keseluruhan dikarenakan
belum semua korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) mau melaporkan kasusnya ke
pihak yang berwenang. Diharapkan dengan adanya pemberian pelayanan dan perlindungan
terhadap perempuan dan anak yang bersedia melaporkan kasus dan mengalami tindak
kekerasan/KDRT akan menjadi solusi yang tepat.

4. Lumbung Pangan
Lumbung pangan berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan pangan. Tahun 2012
terjadi peningkatan jumlah lumbung pangan sebanyak 14% dibandingkan tahun 2011.
Bertambahnya jumlah lumbung pangan merupakan implementasi dari program
peningkatan Ketahanan Pangan salah satunya adalah digalakkannya lumbung-lumbung
pangan masyarakat dan pemerintah terutama di daerah rawan bencana.
5. Desa Mandiri Pangan
Dalam rangka meningkatkan ketersediaan pangan di daerah rawan pangan, dilakukan
intervensi dengan kegiatan desa mandiri pangan untuk meningkatkan usaha produktif yang
dikelola kelompok afinitas dan masyarakat. Lokasi desa rawan pada tahun 2012 mengalami
perubahan, sedangkan jumlahnya tetap. Adapun desa yang berkategori desa rawan pangan
dapat dilihat pada Tabel 95.
Tabel 95
Desa Rawan Pangan Tahun 2011-2012

Tabel 97
Rasio KDRT Tahun 2010-2012

No.

Uraian

2010
47

2011

2012

59

120

Jumlah KDRT

Jumlah Rumah Tangga

256.463

258.294

273.563

Rasio KDRT

0,0183

0,0228

0,0439

Sumber: BKKPP & KB Kabupaten Bantul, 2013

Pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang kesetaraan gender masih kurang. Hal
ini dapat dilihat dari Indeks Kesetaraan Gender (IKG) dan Indeks Pemberdayaan Gender
(IDG) serta Indeks Pembangunan Gender (IPG) yang masih relatif cukup rendah. Solusi yang
dilakukan di antaranya yaitu dengan memfasilitasi terbentuknya Pokja PUG di Kabupaten
Bantul serta melaksanakan sosialisasi dan diklat tentang PUG bagi stakeholder.
Tabel 98
Perkembangan Indeks Pemberdayaan Gender dan Indeks Pembangunan Gender l Tahun 2010 2011

Sumber: BKPPP, 2013

m. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak


1. Persentase Partisipasi perempuan di lembaga pemerintah
Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah adalah proporsi perempuan
yang bekerja pada lembaga pemerintah terhadap jumlah seluruh pekerja perempuan.
Tabel 96
Persentase Partisipasi Perempuan di Lembaga Pemerintah Tahun 2009 s/d 2012
No.

Uraian

2009

2010

2011

2012*)

1
2
3
4
5
6
7

Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon II


Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon III
Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon IV
Jumlah perempuan yang menempati jabatan eselon V
Pekerja perempuan di pemerintah
Jumlah pekerja perempuan
Persentase pekerja perempuan di lembaga pemerintah

2
36
161
0
6.161
6.360
50

2
43
189
0
6.330
6.564
52

2
43
217
0
6.224
6.486
53

3
40
221
5
6.004
6.273
53

Sumber: BKKPP & KB kabupaten Bantul, 2012

Indeks pemberdayaan gender dan indeks pembangunan gender setiap tahun semakin
meningkat, hal ini disebabkan berkurangnya kesenjangan pembangunan manusia antara
laki-laki dan perempuan.
n. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera
1. Rasio akseptor KB
Keluarga Berencana (KB) merupakan salah satu usaha untuk merencanakan jumlah anak
serta jarak kehamilan menggunakan alat kontrasepsi. KB bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan NKKBS (Normal Keluarga Kecil
Bahagia Sejahtera) yang menjadi dasar terwujudnya masyarakat sejahtera dengan
mengendalikan kelahiran sekaligus menjamin terkendalinya pertambahan penduduk. Pada
tabel di bawah ini menyajikan data mengenai Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera di
Kabupaten Bantul

*) Data per 01 Desember 2012


Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Bantul

78

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

79

Tabel 102
Jumlah Penumpang Angkutan Umum Menurut Kecamatan Tahun 2012 Kabupaten Bantul

Tabel 99
Hubungan Pasangan Usia Subur dan Kepesertaan Aktif Dalam Program KB Terhadap Angka Kelahiran

Jumlah Penumpang
No.

Bis

Sumber: BKK PP dan KB, 2013

Tabel 100
Akseptor KB Tahun 2009 s.d 2012
No.

Uraian

2010

2011

2012*)

1
2
3

Jumlah akseptor KB Baru (PB)


Jumlah akseptor KB Aktif (PA)
Jumlah pasangan usia subur

16.192
120.583
151.654

15.493
120.697
151.998

17.016
122.697
152.277

*) Diisi sesuai dengan ketersediaan data


Sumber: BKK,PP, dan KB, 2013

o. Perhubungan
1. Jumlah Penumpang Angkutan Umum
Angkutan umum yang ada di Kabupaten Bantul berupa armada bis. Angkutan umum yang
lain seperti kereta api, kapal laut, dan pesawat udara tidak terdapat di Kabupaten Bantul.
Adapun jumlah penumpang angkutan umum bis di Kabupaten Bantul dari tahun 2008-2012
cenderung mengalami penurunan.
Tabel 101
Jumlah Penumpang Angkutan Umum di Bantul
No.
Uraian
1 Jumlah penumpang Bus
2 Jumlah penumpang
Kereta api
3 Jumlah penumpang
Kapal laut
4 Jumlah penumpang
Pesawat udara
5 Total Jumlah Penumpang

2008
3.150.908

2009
3.054.892

2010
2.963.296

2011
1.531.094

2012
1.068.480

3.150.908

3.054.892

2.963.296

1.531.094

1.068.480

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Bantul
Sewon
Kasihan
Sedayu
Pajangan
Srandakan
Pandak
Sanden
Bambanglipuro
Pundong
Kretek
Imogiri
Jetis
Dlingo
Pleret
Banguntapan
Piyungan
Jumlah

80

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Kapal Laut

Pesawat Udara

9.000
146.520
3.600
340.920
68.400
321.840
43.920
89.280
45.000
1.068.480

9.000
146.520
3.600
340.920
68.400
321.840
43.920
89.280
45.000
1.068.480

Sumber : Dinas Perhubungan, 2013

2. Jumlah Ijin Trayek


Ijin Trayek adalah ijin untuk mengangkut orang dengan mobil bus dan/atau mobil
penumpang umum pada jaringan trayek. Trayek adalah lintasan kendaraan umum untuk
pelayanan jasa angkutan orang dengan mobil bus, yang mempunyai asal dan tujuan
perjalanan tetap, lintasan tetap dan jadwal tetap maupun tidak berjadwal. Jaringan Trayek
adalah kumpulan dari trayek-trayek yang menjadi satu kesatuan jaringan pelayanan
angkutan orang Jumlah ijin trayek di Kabupaten Bantul disajikan pada Tabel 101.
Tabel 103
Jumlah Ijin Trayek Tahun 2008 sd 2012 Kabupaten Bantul

Sumber: Dinas Perhubungan, 2013

Penurunan penggunaan angkutan umum di masyarakat terjadi karena beberapa faktor,


antara lain karena pesatnya tingkat pertumbuhan kendaraan pribadi, pelayanan angkutan
umum yang belum memenuhi standar pelayanan, berkurangnya jumlah angkutan karena
keterbatasan biaya operasional dan rute/trayek yang belum menjangkau wilayah sesuai
kebutuhan masyarakat. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini adalah
manajemen penataan dan pemerataan trayek angkutan umum pada pusat-pusat kegiatan
yang belum tersentuh oleh angkutan umum, sosialisasi penggunaan angkutan umum pada
masyarakat dan sosialisasi peningkatan pelayanan angkutan umum pada penyelenggara
angkutan umum.

Kereta Api

Jumlah
Total

Kecamatan

Sumber: Dinas Perhubungan, 2013

Tabel 104
Jumlah Ijin Trayek Menurut Kecamatan Tahun 2012
Jumlah Ijin Trayek
No.
1
2
3
4
5
6

Jumlah

Kecamatan
Bantul
Sewon
Kasihan
Sedayu
Pajangan
Srandakan

Perkotaan

Perdesaan

1
1
1
-

1
1
1
-

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

81

Jumlah Ijin Trayek


No.
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Jumlah

Kecamatan
Pandak
Sanden
Bambanglipuro
Pundong
Kretek
Imogiri
Jetis
Dlingo
Pleret
Banguntapan
Piyungan
Jumlah

Perkotaan

Perdesaan

2
1
6

2
1
6

1. Jumlah surat kabar nasional/lokal


Surat kabar merupakan penerbitan yang berupa lembaran yang berisi berita-berita
karangan, iklan yang dicetak dan diterbitkan secara tetap atau periodik dan untuk dijual
kepada umum. Lingkup berita dapat menyangkut berita internasional, nasional, maupun
berita daerah (lokal). Fungsi dari surat kabar itu sendiri adalah untuk memberikan informasi
yang beragam bagi masyarakat luas.
Jumlah surat kabar nasional/lokal adalah banyaknya jenis surat kabar terbitan nasional
atau terbitan lokal yang masuk ke daerah. Semakin banyak surat kabar di daerah
menunjukkan bahwa semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan komunikasi massa
berupa media cetak sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan pemerintahan
daerah.
Tabel 106
Jumlah Surat Kabar Nasional/Lokal Tahun 2009-2012

Sumber : Dinas Perhubungan, 2013

3. Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus


Pelabuhan laut diartikan sebagai sebuah fasilitas di ujung samudera, sungai, danau untuk
menerima kapal dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke dalamnya. Di
Kabupaten Bantul pelabuhan laut dikembangkan dengan mengoptimalkan Kawasan
Pandansimo di Desa Poncosari Kecamatan Srandakan sebagai pelabuhan perikanan dan
pendukung wisata pantai. Pelabuhan udara/bandara bisa diartikan sebagai sebuah fasilitas
untuk menerima pesawat dan memindahkan barang kargo maupun penumpang ke
dalamnya. Terminal bus dapat diartikan sebagai prasarana transportasi jalan untuk
keperluan menurunkan dan menaikkan penumpang, perpindahan intra dan/atau antar
moda transportasi serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum.
Adapun jumlah terminal bus sampai tahun 2012 sebanyak lima terminal (Tabel 105).
Tabel 105
Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus

Sumber: Bagian Humas Kabupaten Bantul, 2013

2. Penyiaran radio/TV
Penyiaran adalah pancaran melalui ruang angkasa oleh sumber frekuensi dengan sinyal
yang mampu diterima di telinga atau didengar dan dilihat oleh publik. Media penyiaran
sebagai salah satu bentuk media massa yaitu radio dan televisi. Jumlah penyiaran radio/TV
lokal adalah banyaknya penyiaran radio/TV nasional maupun radio/TV lokal yang masuk ke
daerah. Semakin banyak jumlah penyiaran radio/TV baik di daerah maupun nasional di
daerah maka menggambarkan semakin besar ketersediaan fasilitas jaringan komunikasi
massa berupa media elektronik sebagai pelayanan penunjang dalam menyelenggarakan
pemerintahan daerah.
Tabel 107
Jumlah Penyiaran Radio/TV Tahun 2009-2012

Sumber: Dinas Perhubungan, 2013

Sistem transportasi darat (sebagaimana dimaksud dalam Perda Kabupaten Bantul Nomor
4 tahun 2011 tentang RTRW Kabupaten Bantul Tahun 2010-2030 Pasal 13 ayat 2) untuk
pergerakan lokal maupun regional didukung oleh pengembangan fasilitas angkutan darat di
Kabupaten yang meliputi:
a. terminal penumpang tipe B di Desa Imogiri (Kecamatan Imogiri) dan di Desa Palbapang
(Kecamatan Bantul);
b. terminal angkutan barang di Desa Argosari (Kecamatan Sedayu);
c. stasiun penumpang dan stasiun barang serta pergudangan di Stasiun Sedayu; dan
d. terminal angkutan barang di Desa Srimulyo (Kecamatan Piyungan).
p. Komunikasi dan Informatika
Penyebarluasan informasi kepada masyarakat umum dapat dilakukan dengan menggunakan
media cetak maupun elektronik, selain itu dapat memanfaatkan media informasi internet.

82

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Sumber: Bagian Humas Kabupaten Bantul, 2013

Berdasar tabel di atas sampai dengan tahun 2011 penyiaran radio dan televisi nasional
belum terdata dan pada tahun 2012 mulai tercatat masuk ke kabupaten Bantul. Hal ini
diharapkan dengan adanya penyiaran radio dan televisi nasional jangkauan informasi bagi
masyarakat akan lebih luas. Di samping itu penyiaran radio dan televisi lokal harus
ditingkatkan kualitasnya agar tidak kalah bersaing dengan penyiaran radio dan televisi
nasional.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

83

3. Hasil Kerjasama Perguruan Tinggi


Mengingat perubahan paradigma pembangunan tidak lagi menempatkan pemerintah
sebagai satu-satunya aktor pembangunan, kerjasama dengan berbagai kalangan mutlak
diperlukan. Pemerintah daerah dituntut untuk jeli dan proaktif dalam membangun
kerjasama dalam berbagai aspek pembangunan diantaranya dengan Perguruan Tinggi
terkait penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Berikut hasil kerja sama dengan
beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta (Tabel 108).
Tabel 108
Jumlah Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Hasil
Kerjasama dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga Survey Tahun 2012

Sumber: KPDT Kab. Bantul, 2013


Sumber: Bappeda, 2013

4. Penggunaan Teknologi Informasi oleh Pemerintah


E-government (e-gov) dan online government telah berjalan di Kabupaten Bantul. Egovernment telah diaplikasikan didukung dengan sarana dan prasarana pengembangan
jaringan internet yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi internal pemerintahan,
menyampaikan pelayanan publik, atau proses kepemerintahan yang demokratis. Selain
penyajian informasi dan aplikasi e-gov melalui website, Pemerintah Kabupaten Bantul juga
sudah menerapkan 35 sistem informasi, baik yang bersifat intranet, desktop, maupun online
(Tabel 109).
Tabel 109
Sistem Informasi

Perbaikan sistem manajemen pemerintahan berkaitan manajemen kinerja antara lain


diterapkan pada pengadaan barang dan jasa menggunakan Layanan Pengadaan Secara
Elektonik (LPSE). Pengumuman pengadaan barang dan jasa untuk tahun 2012 bisa diakses
melalui http://eproc.jogjakarta.go.id.
Pemanfaatan IT oleh Pemerintah Kabupaten Bantul juga berfungsi sebagai sarana
komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, di antaranya melalui:
a. Pemanfaatan media telematika (Tabel 103), seperti: SMS Center, Website daerah
(www.bantulkab.go.id), Website tiap SKPD, Warintek (Warung Informasi dan Teknologi),
dan Telekompres (rapat komprehensif dan rapat muspida);
b. Pemanfaaatan media elektronika, seperti siaran informasi dan komunikasi melalui
televisi (Taman Gabusan dan Gardu Projotamansari) serta dialog interaktif di Radio RRI
dan Radio Bantul FM;
c. Pemanfaatan media cetak, seperti Jurnal Riset Daerah, buletin serta beberapa leaflet
program-program kegiatan dari setiap SKPD.
Tabel 110
Media Komunikasi Pemerintah dan Masyarakat

Sumber: Bappeda, 2013 (data diolah)

Peran masyarakat dalam pengembangan inovasi dan penerapan IPTEK cukup besar.
Banyak ide kreatif muncul dari masyarakat hingga menjadi sebuah industri kreatif dengan
sentuhan inovasi dan IPTEK. Industri kreatif yang berkembang di masyarakat berupa wisata
kuliner, produk kerajinan, seni pertunjukan, desain produk, pasar barang dan seni (Pasar
Seni Gabusan), hingga berkembang sampai pengembangan bersama kawasan GMT

84

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

85

(Gabusan, Manding Tembi) dan Kawasan Kajigelem (Kasongan, Jipangan, Gendeng,


Lemahdadi).
Peran teknologi tepat guna sangat besar dalam mendukung berkembangnya industri
kerajinan. Teknologi tepat guna adalah teknologi yang dirancang untuk masyarakat yang
disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan dan ekonomi, dengan menerapkan metode
yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan berdampak polutif minimal. Beberapa TTG
telah ditemukan oleh warga Bantul dan SMK/SMA di Kabupaten Bantul (Tabel 111).

2. Penyelesaian Ijin Lokasi


Perijinan terkait pemanfaatan ruang berdasarkan Perda No. 4 tahun 2011 tentang RTRW
kabupaten Bantul yaitu persetujuan prinsip, kesesuaian aspek tata ruang, ijin perubahan
penggunaan tanah (IPPT), perijinan klarifikasi/perijinan lokasi, perijinan mendirikan
bangunan, perijinan gangguan, dan perijinan teknis operasional. Perijinan lokasi di
peruntukan untuk ijin pemanfaatan ruang dengan luasan lahan di atas satu hektar.

Tabel 111
Teknologi Tepat Guna dan Penemu

Tabel 112
Persentase Jumlah Izin lokasi tahun 2010-2012

Sumber: Dinas Perijinan 2013


*)persentase kecil dikarenakan sebagian masih dalam proses

r. Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri


1. Penyelenggaraan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat
Rasio jumlah polisi pamong praja menggambarkan kapasitas pemda dalam memelihara
dan menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum, menegakkan Peraturan Daerah
dan Keputusan Kepala Daerah. Ketersediaan polisi pamong praja yang dimiliki pemerintah
daerah dalam memberikan pelayanan penunjang penyelenggaraan pemerintahan daerah
dapat dilihat pada Tabel 113.
Tabel 113
Rasio Jumlah Polisi Pamong Praja Tahun 2009-2012
No.

Sumber: Bappeda, 2013

q. Pertanahan
1. Penggunaan Tanah
Urusan wajib pertanahan masih menjadi kewenangan pemerintah pusat dan sampai
tahun 2012 belum diserahkan untuk menjadi kewenangan daerah, sehingga program dan
kegiatan anggaran masih bersumber dari APBN dan dilaksanakan oleh Kantor Pertanahan
Kabupaten Bantul. Sedangkan fungsi kabupaten dalam urusan pertanahan bersifat
koordinasi.
Terkait penerbitan ijin penggunaan tanah, pada tahun 2012 telah diterbitkan ijin
pertimbangan teknis pertanahan sebanyak 477 buah dengan total luasan tanah 656.836 m2
berupa:
a) Ijin klarifikasi tanah sebanyak 275 ijin dengan total luas tanah 355.167 m2;
b) Ijin Perubahan Penggunaan Tanah (IPPT) sebanyak 180 ijin dengan total luas tanah
57.213 m2;
c) Ijin lokasi sebanyak 11 ijin dengan total luas tanah 165.279 m2; dan
d) Ijin penetapan lokasi sebanyak 11 ijin dengan total luas tanah 79.177 m2.
Penerbitan ijin penggunaan tanah di Kabupaten Bantul setiap tahun mengalami
peningkatan. Kondisi ini dipengaruhi antara lain dengan adanya pertumbuhan penduduk
dan perkembangan wilayah sehingga masyarakat membutuhkan suatu area untuk
bermukim atau melaksanakan kegiatan usahanya

86

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

1
2
3

Uraian
Jumlah polisi pamong praja
Jumlah penduduk
Rasio jumlah polisi pamong praja per
10.000 penduduk

2009

2010

2011

2012

75
899.312
0,834

81
911.503
0,889

79
921.263
0,858

74
930.276
0,795

Sumber: Satuan Pol PP, 2013

Berdasarkan tabel rasio di atas menunjukkan bahwa jumlah ketersediaan polisi pamong
praja di kabupaten Bantul masih kurang memadai.
Selain polisi pamong praja dalam memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat
ada petugas Linmas. Petugas perlindungan masyarakat (Linmas) merupakan satuan yang
memiliki tugas umum pemeliharaan ketentraman dan ketertiban masyarakat dalam upaya
mengkondisikan lingkungan yang kondusif dan demokratif sehingga tercipta kehidupan
strata sosial yang interaktif. Ketersediaan kapasitas pemda dalam memberdayakan
masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam pemeliharaan ketentraman dan ketertiban
masyarakat serta keamanan lingkungan dapat dilihat pada Tabel 114.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

87

Tabel 114
Jumlah Petugas Linmas Tahun 2009-2012

Tabel 115
Kelompok Binaan LPM Tahun 2009-2012

Sumber: Kantor Kesbangpolinmas, 2013

2. Legislatif
DPRD merupakan lembaga yang memegang kekuasaan legislatif pada tingkat daerah dan
juga merupakan mitra kerja pemerintah yang bertuas mengawasi jalannya pemerintahan.
Anggota DPRD merupakan perwakilan dari partai politik yang dipiih melalui pemilihan
umum. Berikut adalah Struktur dan karakteristik DPRD Kabupaten Bantul :
a. Supra Struktur dan Infrastruktur Politik
1. Supra Struktur Politik
a). Jumlah Anggota DPRD 45 orang
b). Jumlah Fraksi DPRD
7 fraksi
c). Jumlah anggota per fraksi
1. PDIP
14 orang
2. Golkar
5 orang
3. PPP
4 orang
4. PAN
7 orang
5. PKS
5 orang
6. Karya Bangsa
5 orang
7. Partai Demokrat 5 orang
d). Jumlah anggota berdasarkan partai politik
1. PDIP
11 orang
2. Golkar
5 orang
3. PPP
4 orang
4. PAN
7 orang
5. PKS
5 orang
6. Partai Demokrat 5 orang
7. PKB
3 orang
8. PKPB
2 orang
9. Gerindra
3 orang

Sumber: Kantor PMD Kabupaten Bantul, 2013

2. Jmlah kelompok binaan PKK


Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) adalah gerakan nasional dalam
pembangunan masyarakat yang tumbuh dari bawah yang pengelolanya dari, oleh dan untuk
masyarakat. Kelompok binaan PKK adalah kelompok-kelompok masyarakat yang berada di
bawah Tim Penggerak PKK Desa/Kelurahan, yang dapat dibentuk berdasarkan kewilayahan
atau kegiatan seperti kelompok dasawisma dan kelompok sejenis. Jumlah kelompok binaan
PKK dari tahun 2009 meningkat, hal ini membuktikan bahwa keaktifan masyarakat Bantul
dalam pembangunan daerah semakin besar melalui PKK.

b. Karakteristik Politik Masyarakat


1. Komposisi Anggota DPRD Berdasarkan Jenis Kelamin
a). Pria
38 orang
b). Perempuan
7 orang
s. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa
1. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM)
Lembaga Pemberdayan Masyarakat (LPM) adalah lembaga atau wadah yang dibentuk
atas prakarsa masyarakat sebagai mitra pemerintahan desa atau kelurahan dalam
menampung dan mewujudkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat di bidang pembangunan.

88

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

89

Tabel 116
Kelompok Binaan PKK Tahun 2009-2012

2009
No

Kecamatan

Jmlh
PKK

Jmlh
Kelom
pok
Binaan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

Sewon
Pandak
Pundong
Bantul
Sanden
Kretek
Sedayu
Dlingo
Jetis
Pajangan
Bambanglipuro
Piyungan
Srandakan
Banguntapan
Imogiri
Kasihan
Pleret
Jumlah

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
17

83
54
50
48
60
86
66
121
77
98
98
131
67
70
159
87
47
1.402

2010
Jmlh
PKK

Jmlh
Kelom
pok
Binaan

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
17

103
142
86
88
101
78
102
99
127
112
116
166
124
133
160
94
95
1.926

2011
Jmlh
Kelom
Jmlh
pok
PKK
Binaa
n
1
103
1
142
1
86
1
88
1
101
1
78
1
102
1
99
1
127
1
112
1
116
1
166
1
124
1
133
1
160
1
94
1
95
17
1.926

Tabel 117
Jumlah Perpustakaan Tahun 2010-2012

2012
Jmlh
PKK

Jmlh
Kelom
pok
Binaan

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
17

103
142
86
88
101
78
102
99
127
112
116
166
124
133
160
94
95
1.926

Sumber: Kantor PMD,2013

t. Perpustakaan
Peningkatan pelayanan perpustakaan dilakukan dengan pelayanan perpustakaan di
Kantor Perpustakaan dan layanan perpustakaan keliling. Layanan perpustakaan keliling
mencakup 17 kecamatan dan 75 desa yang ada di Kabupaten Bantul. Ada 102 titik lokasi
layanan keliling yang terdiri dari 18 titik lokasi layanan peminjaman di tempat dan ada 84
titik lokasi layanan peminjaman paket buku. Pelayanan perpustakaan keliling didukung oleh
12 unit armada, terdiri dari tujuh unit mobil roda empat dan lima unit sepeda motor roda tiga.
Pelaksanaan perpustakaan keliling setiap hari Senin sampai dengan Kamis, dengan sasaran
keliling meliputi perpustakaan masjid, perpustakaan pondok pesantren, perpustakaan
komunitas masayarakat, perpustakaan desa dan perpustakaan khusus (dinas/instansi). Dari
semua unit armada yang ada, tiga unit armada di antaranya sudah menerapkan IT dengan
sistem automasi perpustakaan.
Koleksi bahan pustaka yang dimiliki oleh Perpustakaan Umum Kabupaten Bantul yang
ada saat ini sebanyak 47.707 buku dengan jumlah judul bahan koleksi yang tersedia
sebanyak 22.781 judul. Pada tahun 2012 jumlah pengunjung perpustakaan daerah
berjumlah 108.432 orang. Adapun pengunjung tersebut terdiri dari pelajar/mahasiswa,
pegawai negeri sipil/karyawan, maupun masyarakat umum. Dengan adanya peningkatan
pelayanan perpustakaan diharapkan dapat meningkatkan pula minat baca masyarakat.
Pada tabel berikut disajikan data mengenai jumlah perpustakaan dan jumlah pengunjung
di perpustakaan Tahun 2012 (Tabel 117-118).

90

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

*) Diisi sesuai dengan ketersediaan data


Sumber: Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Bantul, 2013

Tabel 118
Jumlah Pengunjung Perpustakaan Tahun 2009-2012

*) Diisi sesuai dengan ketersediaan data


Sumber: Kantor Perpustakaan Daerah Kabupaten Bantul, 2013

VI.2. FOKUS LAYANAN URUSAN PILIHAN


Aspek pelayanan umum ditinjau dari fokus layanan urusan pilihan adalah sebagai berikut:
a. Kelautan dan Perikanan
Upaya pengembangan sumberdaya kelautan dan perikanan diantaranya Perikanan budidaya
yang telah dikembangkan berbagai macam jenis ikan, sebagaimana disajikan pada Tabel 119.
Tabel 119
Produksi Perikanan Budidaya menurut Jenis Ikan Tahun 2011-2012

Sumber: DKP, 2013

Jenis ikan yang dominan dibudidayakan adalah lele, nila dan gurami. Lele paling banyak
dibudidayakan karena memiliki umur panen relatif lebih cepat, padat tebarnya lebih banyak,
dan lebih tahan terhadap penyakit.
Pengembangan budidaya perikanan juga didukung dengan pengembangan benih ikan
melalui empat Balai Benih Ikan (BBI) yakni BBI Barongan, Sanden, Gesikan, dan Krapyak, dan

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

91

melalui Unit Pembenihan Rakyat (UPR). Produksi benih yang dihasilkan pada tahun 2011 dan
2012 disajikan pada Tabel 120.
Tabel 120
Produksi Benih Ikan dari UPR dan BBI Tahun 2010-2012

No.

Komoditas

Tahun
2011

2012

Ket.

Sumber: DKP, 2013

Produksi perikanan tangkap juga dikembangkan di Kabupaten Bantul, pada tahun 2012
meningkat sebesar 15,92% dibanding tahun 2011. Peningkatan juga terjadi pada jumlah
nelayan sebesar 17,66%, jumlah KUB sebesar 45%, jumlah perahu motor tempel sebesar 2,25%
dan jumlah kapal motor 28,57%. (Tabel 118). Peningkatan produksi tersebut didukung dengan
adanya fasilitasi berupa bantuan kapal 30 GT kepada nelayan, pelatihan operasional kapal,
termasuk pemetaan fishing ground berupa informasi titik-titik lokasi yang berpotensi untuk
penangkapan ikan sebanyak 70 titik untuk memudahkan nelayan dalam mencari ikan.
Tabel 121
Perkembangan Sarpras Perikanan pada Tahun 2010-2012

Sumber: Dipertahut, 2013

Tabel 123
Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Bawang Merah,
Cabai Merah, Cabai Rawit, Kacang Panjang dan Jamur Tahun 2011-2012

Sumber: DKP, 2013

b. Pertanian dan Peternakan


Urusan pertanian yang dilaksanakan meliputi pertanian tanaman pangan, hortikultura,
perkebunan, dan peternakan.
Tabel 122
Perkembangan Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Padi Sawah, Padi, Ladang,
Jagung, Kacang Tanah, Kedelai Tahun 2011-2012

No.

1
2
3
4

92

Komoditas

Luas Panen
Produktivitas (GKG)
Produksi (GKG )
Produksi beras

Tahun
2011
Padi Sawah
31.047
63,53
197.241,59
124.656,68

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

2012
30.064
68,17
204.959
128.591,28

Ket.

ha
ku/ha
ton
ton

Sumber: Dipertahut, 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

93

Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Bawang Merah, Cabai Merah, Cabai Rawit, Kacang
Panjang dan Jamur Tahun 2011-2012 .Beberapa komoditas perkebunan juga menjadi andalan di
Kabupaten Bantul. Data statistik menunjukkan bahwa pada tahun 2012 terjadi kenaikan
produksi komoditas tembakau rakyat (15,45%), kelapa (18,55%), mete (17,72%), dan tebu
(20,42%) dibandingkan tahun 2011. Peningkatan produksi komoditas perkebunan, sangat
didukung kondisi cuaca. Curah hujan yang tidak terlalu tinggi akan meningkatkan produksi hasil
perkebunan. Penurunan produksi terjadi pada komoditas tembakau virgina sebesar 314,58%
yang disebabkan bergesernya minat masyarakat dalam budidaya tembakau.
Tabel 124
Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tembakau, Mete, Tebu, dan Kelapa Tahun 2011-2012

Pada tahun 2012 terjadi kenaikan produksi daging, telur, dan susu dibanding tahun 2011,
masing-masing sebesar 8,90% untuk daging, 7,78% untuk telur, dan 16,06% untuk produksi
susu. Peningkatan produksi hasil peternakan dilakukan antara lain melalui: pembibitan dan
perawatan ternak, pengawasan mutu pakan ternak, bimbingan dan pemberdayaan kelompok,
dan peningkatan mutu genetic sapi.
c. Kehutanan
1. Lahan Kritis
Pada tahun 2012 lahan sangat kritis telah meningkat menjadi lahan potensial kritis
sebesar 100%. Untuk lahan kritis turun sebesar 3,48%, sedangkan lahan potensial kritis
mengalami kenaikan sebesar 158,52% dibanding tahun 2011.
Tabel 126
Luas Lahan Kritis Tahun 2011-2012

Sumber: Dipertahut, 2013

2. Penghijauan
Pengadaan bibit untuk penghijauan lingkungan tahun 2012 sebanyak 6.678 batang yang
terdiri dari beberapa jenis tanaman, antara lain bibit glodogan tiang, mangga, rambutan,
klengkeng, jati, karet, sengon, durian, kepel, nyamplung, trembesi, ketapang, keben, tanjung,
jati APB, kenari, cemara, kaliandra, sawo, dan mahoni. Bibit-bibit tersebut diberikan kepada
masyarakat dan kelompok masyarakat yang memerlukan untuk ditanam.
Tabel 127
Pengadaan Bibit Jati dan Buah Tahun 2012

2.085

2.610

2.340

2.865

2.150

2.675

4.175

4.700
1.050

2.625
Sumber: Dipertahut, 2013

Produksi komoditas peternakan daging terdiri dari daging sapi, kuda, kambing/domba,
ayam, dan itik. Produksi telur terdiri dari telur ayam buras, ayam ras petelur, dan itik, sedangkan
produksi susu berasal dari sapi perah seperti terlihat pada Tabel 125.
Tabel 125
Produksi Daging, Telur, dan Susu Tahun 2011-2012

Sumber: Dipertahut, 2013

94

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

3.150

Sumber: Dipertahut, 2013

d. Energi dan Sumberdaya Mineral


Pembangunan bidang energi dan sumberdaya mineral di Kabupaten Bantul salah satunya
dengan meningkatkan kualitas lingkungan sebagai hasil dari berkurangnya penambangan di
dekat bangunan vital dan reklamasi lahan bekas tambang.
Tabel 128
Target dan Capaian Reklamasi Lahan Bekas Tambang

Sumber: Dinas SDA, 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

95

Tabel 131
Prasarana Wisata Tahun 2010-2012

Berkaitan dengan energi baru terbarukan (EBT), peranan sumber energi ini makin tinggi
seiring disahkannya Undang-undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan yang
menempatkan sumber EBT sebagai energi prioritas. Menurut pengelompokannya, EBT terdiri
dari panas bumi, bioenergi, hidro, sinar matahari, angin, dan samudra. Pemerintah Kabupaten
Bantul dalam RPJMD Tahun 2011-2015 telah menetapkan salah satu strategi pengembangan
Iptek adalah pengembangan teknologi EBT. Adapun jenis potensi EBT dan lokasinya bisa dilihat
pada Tabel 129.
Tabel 129
Potensi Energi Baru Terbarukan

Sumber: Disbudpar, 2013

f. Industri
Secara umum industri yang terdapat di Kabupaten Bantul merupakan industri kecil,
sedangkan untuk industri besar jumlahnya tidak banyak. Perkembangan Industri Kecil
Menengah di Kabupaten Bantul tahun 2011-2012 dapat dilihat pada Tabel 132.
Tabel 132
Perkembangan Industri Kecil Menengah Tahun 2011-2012
Sumber: Bappeda dan BLH, 2013

e. Pariwisata
Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor strategis di Kabupaten Bantul. Selain sebagai
lokomotif penggerak peningkatan perekonomian masyarakat, sektor ini juga memberikan
kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten
Bantul pada tahun 2012 mencapai 2.356.578 orang, meningkat 35,40% dari tahun 2011
sebanyak 1.740.417 orang.
Sedangkan dari sisi kontribusi PAD mencapai Rp8.306.795.116,00, meningkat 57,05% dari
perolehan tahun 2011 sebesar Rp5.289.407.718,00. Peningkatan tersebut di atas selain
didukung oleh keanekaragaman obyek wisata yang meliputi obyek wisata alam,
budaya/religius, dan minat khusus/buatan, juga didukung oleh pengembangan desa-desa
wisata sebagai alternative tourism di Kabupaten Bantul, sehingga dapat memberikan pilihanpilihan destinasi wisata bagi wisatawan.
Tabel 130
Potensi Pariwisata Tahun 2010-2012

Tahun

No.

Uraian

1
2
3
4
5

Unit Usaha
Tenaga Kerja
Nilai Produksi (Rp 000000ribuan)
Nilai Tambah (Rp ribuan)
Nilai Investasi (Rp ribuan)

2011
18.158
81.805
800.105.100
509.266.780
488.715.800

2012
18.235
81.938
800.295.400
509.495.600
488.862.200

Sumber: Dinas Perindagkop, 2013

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa unit usaha, tenaga kerja nilai produksi dan nilai
investasi pada tahun 2012 mengalami peningkatan dibanding pada tahun 2011.
g. Perdagangan
Potensi perdagangan di Kabupaten Bantul diprioritaskan pada pengembangan pasar
tradisional. Pada tahun 2012 terdapat 29 pasar desa, 27 pasar kabupaten, dan satu pasar seni.
Potensi pasar kabupaten yang cukup memadai untuk menuju pasar tradisional yang modern ada
empat yaitu pasar Bantul, pasar Imogiri, pasar Niten, dan pasar Piyungan.
Perdagangan diarahkan untuk mengembangkan negara tujuan ekspor, meningkatkan
keuntungan, dan agar dapat langsung berhubungan dengan buyer. Pada tahun 2012, nilai ekspor
mencapai US$44.582.627,05 dibanding tahun 2011 yang mencapai US$41.570.984,00
sebagaimana terlihat dalam Tabel 133.
Tabel 133
Perkembangan Ekspor Tahun 2011-2012

Sumber: Disbudpar, 2013

Sumber: Dinas Perindagkop, 2013 (data diolah)

96

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

97

h. Transmigrasi
Penyelenggaraan urusan Transmigrasi sebagai suatu pendekatan untuk mencapai tujuan
kesejahteraan, pemerataan pembangunan daerah, serta perekat persatuan dan kesatuan
bangsa. Pelaksanaan transmigrasi di Kabupaten Bantul sampai saat ini masih tergantung pada
kuota dari Pusat.
Untuk penempatan transmigran tahun 2012 ditargetkan sebanyak 100 KK. Dalam
realisasinya menempatkan sebanyak 80 KK, lebih banyak lima KK dibandingkan tahun 2011
sebanyak 75 KK. Hal itu disebabkan karena Pemerintah Pusat hanya memberikan quota
sebanyak 90 KK. Selanjutnya karena lokasi tujuan/lahan sampai dengan akhir Desember belum
siap untuk ditempati maka penempatan di Sumatera Barat yang direncanakan untuk 10 KK batal
dilaksanakan.
Tabel 134
Penempatan Transmigran Tahun 2012

BAB VII
DAYA SAING DAERAH

Daya saing daerah merupakan salah satu aspek tujuan penyelenggaraan otonomi daerah sesuai
dengan potensi, kekhasan, dan unggulan daerah. Suatu daya saing (competitiveness) merupakan salah
satu faktor kunci keberhasilan pembangunan ekonomi yang berhubungan dengan tujuan pembangunan
daerah dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan.
VII.1. Kemampuan Ekonomi Daerah
a. Produktivitas Total Daerah
Produktifitas daerah dihitung untuk mengetahui tingkat produktivitas tiap sektor per
angkatan kerja yang menunjukkan seberapa produktif tiap angkatan kerja dalam mendorong
ekonomi daerah per sektor. Kemampuan ekonomi daerah dalam kaitannya dengan daya saing
daerah adalah bahwa kapasitas ekonomi daerah harus memiliki daya tarik (attractiveness) bagi
pelaku ekonomi yang telah berada dan akan masuk ke suatu daerah untuk menciptakan multiplier
effect bagi peningkatan daya saing daerah.
Tabel 135
Produktivitas Per Sektor
2010
No.

Sektor

PDRB
Jumlah Angkatan Kerja
Pertanian
Pertambangan & Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas, dan Air Bersih
Konstruksi
Perdagangan, Hotel &
Restoran
9 Pengangkutan & Komunikasi
10 Keuangan, Sewa, & Jasa
Perusahaan
11 Jasa-jasa
1
2
3
4
5
6
7
8

Sumber: Disnakertrans, 2013

(Rp)

2011
%

3.967.928
481.420
93.3260
36.525
647.939
36.289
454.480
789.789

100

(Rp)

23,52
0,92
16,33
0,91
11,45
19,90

4.177.204
505.786
920.457
38.782
690.977
37.969
486.930
839.997

287.236
252.015

7,24
6,35

530.397

13,37

2012
%
100

(Rp)

22,04
0,93
16,54
0,91
11,66
20,11

4.400.313
581.785
957.730
39.568
701.762
40.373
511.749
893.854

100
21,77
0,90
15,95
0,92
11,63
20,32

311.285
279.556

7,45
6,69

333.688
305.347

7,59
6,94

571.248

13,68

614.888

13,98

Sumber: Bappeda , 2013

Produktifitas total daerah dapat diketahui dengan menghitung produktifitas daerah per
sektor (9 sektor) yang merupakan jumlah PDRB dari setiap sektor dibagi dengan jumlah angkatan
kerja dalam sektor yang bersangkutan.
b.

Pendapatan dan Belanja


Pendapatan daerah merupakan unsur penting dalam struktur APBD, karena besaran
pendapatan daerah sangat menentukan kemampuan daerah dalam membiayai penyelengaraan
tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan daerah. Sumber pendapatan daerah yang berasal
dari Pendapatan Asli Daerah meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan
daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah. Dana perimbangan terdiri dari Bagi Hasil
Pajak, Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber daya Alam), Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan
Dana Penyesuaian. Lain-lain Pendapatan yang sah meliputi dana hibah, dana darurat, serta bagi
hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya.a.

98

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

99

1.395.722.560.577,00
1.337.731.870.963,00
1.337.566.093.259,00

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Tabel 137
Realisasi dan Proyeksi Belanja Daerah Tahun 2010 s.d Tahun 2014
JUMLAH
No

1.180.547.112.432,41

8.840.427.930,00
27.889.027.930,00
15.437.520.000,00

2.1.
2.1.1
2.1.2
2.1.3
2.1.4
2.1.5
2.1.6
2.1.7

2.1.8

986.866.902.363,07

2.2
2.2.1
2.2.2
2.2.3
2.2.4

Sumber Data: DPPKAD Tahun 2011-2013


Keterangan: *Angka setelahdiaudit BPK-RI
**APBD Tahun Anggaran 2013
***Angka Proyeksi

18.395.631.000,00

15.437.520.000,00

205.719.691.000,00
141.403.889.400,00
205.719.691.000,00
138.429.422.694,00

243.734.530.400,00

64.463.325.000,00
12.144.280.000,00
62.705.636.000,00
64.463.325.000,00
17.169.480.000,00
42.558.702.674,00

53.144.140.000,00

854.810.634,00
53.306.341.974,00
279.023.443.930,00
854.810.634.000,00
47.196.880.000,00
244.142.833.330,00
768.034.584.000,00
63.281.450.000,00
285.620.536.000,00
573.512.337.000,00
60.565.500.000,00
216.553.236.368,00

625.060.827.000,00
45.919.200.000,00
334.527.406.400,00

929.692.329.208,00
21.575.353.234,00
923.582.867.234,00
21.575.353.234,00
885.352.411.354,00
54.036.377.354,00

1.2
Dana Perimbangan
1.2.1 Bagi Hasil Pajak & Bukan
Pajak
1.2.2 Dana Alokasi Umum
1.2.3 Dana Alokasi Khusus
1.3
Lain-Lain Pendapatan
Daerah Yang Sah
1.3.1 Pendapatan Hibah
1.3.2 Bagi Hasil Pajak dr Propinsi
atau Pemda Lainnya
1.3.3 Dana Penyesuaian dan
Otonomi Khusus
1.3.4 Bantuan Keuangan dr
Propinsi atau Pemda Lainnya
PENDAPATAN DAERAH
(1.1 +1.2+1.3)

688.676.566.702,00
54.598.729.702,00

717.123.249.859,00
46.143.222.859,00

85.098.271.500,00
77.362.065.000,00
86.045.431.820,99
41.692.495.183,49

68.738.330.385,16

187.006.787.438,90
64.946.200.000,00
27.044.860.392,00
9.917.455.546,90
170.006.170.399,00
59.042.000.000,00
24.586.236.720,00
9.015.868.679,00
166.593.145.905,00
51.768.352.231,00
20.595.098.751,00
8.184.263.102,01

Pendapatan Asli Daerah


Pajak Daerah
Retribusi Daerah
Pendapatan Hasil Pengel.
Kekayaan Daerah
1.1.4 Lain-lain Pendapatan Asli
Daerah yang Sah

81.637.099.293,07
16.541.249.955,00
15.978.422.097,00
7.424.932.057,58

128.896.456.173,41
35.068.591.776,50
17.798.603.458,00
7.290.930.553,75

Proyeksi
Tahun 2014***
Target
Tahun 2013**
Realisasi
Tahun 2012*

1.1
1.1.1
1.1.2
1.1.3

No

Uraian

Realisasi
Tahun 2010

Realisasi
Tahun 2011

JUMLAH

Tabel 136
Realisasi dan Proyeksi/Target Pendapatan Tahun 2010 s.d tahun 2014

100

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah sebagaimana telah diubah terakhir kalinya dengan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011, dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 22
Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun
Anggaran 2012, bahwa belanja daerah dibagi menurut kelompok belanja yang terdiri dari :
1. Belanja tidak langsung, yaitu belanja yang dianggarkan tidak terkait dengan pelaksanaan
program dan kegiatan yang terdiri dari belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan
sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga.
2. Belanja langsung, yaitu belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan
pelaksanaan program dan kegiatan untuk penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan dengan arah peningkatan proporsi belanja publik yang didukung oleh
efektivitas dan efisiensi belanja aparatur, yang terdiri dari belanja pegawai, belanja barang
dan jasa, belanja modal.
Selama kurun waktu tahun 2010-2014 porsi terbesar dari alokasi belanja daerah masih
didominasi belanja gaji pegawai, yaitu 60%-70% dari total belanja daerah. Hal ini tidak terlepas
dari adanya kenaikan gaji pegawai di mana kebutuhan gaji pegawai selalu mengalami kenaikan
akibat adanya kebijakan kenaikan gaji PNS, sementara kenaikan kebutuhan tersebut tidak
seimbang atau tidak signifikan dengan penambahan jumlah DAU yang diterima oleh daerah.

Uraian

Realisasi
Tahun 2010

Realisasi
Tahun 2011

Realisasi
Tahun 2012*

Anggaran
Tahun 2013**

Proyeksi
Tahun 2014***

BELANJA TIDAK LANGSUNG


Belanja Pegawai
Belanja Bunga
Belanja Subsidi
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bagi Hasil kpd Pem.
Prop/Kab/Kota dan Desa
Belanja Bantuan Keu kpd
Pem. Prop, Pemda dan
Pem. Bawahan
Belanja Tidak Terduga

725.484.515.717,49
640.523.590.297,00
65.234.566,49
17.408.153.945,00
32.612.761.782,00
1.776.309.327,00

817.126.901.965,97
723.599.430.041,00
51.506.911,97
23.888.751.500,00
36.168.122.552,00
1.906.274.600,00

885.971.127.287,48
818.671.801.730,00
37.873.282,48
14.952.495.000,00
6.895.326.112,00
1.949.182.600,00

920.524.996.390,00
816.967.660.335,00
51.506.900,00
28.468.250.000,00
24.651.500.000,00
1.949.182.600,00

944.225.953.445,00
869.224.729.935,00
10.500.000,00

29.751.529.000,00

30.446.501.000,00

43.254.230.563,00

39.335.571.500,00

43.269.128.650,00

3.346.936.800,00

1.066.315.361,00

210.218.000,00

9.101.325.055,00

3.000.000.000,00

BELANJA LANGSUNG
Belanja Pegawai
Belanja Barang dan Jasa
Belanja Modal
Belanja RSUD
TOTAL BELANJA
SURPLUS/DEFISIT

286.872.331.518,00
49.299.564.106,00
114.323.486.938,00
123.249.280.474,00

334.759.050.362,00
63.518.010.058,00
151.824.010.095,00
119.417.030.209,00

396.907.256.009,00
75.488.327.565,00
181.312.175.634,00
140.106.752.810,00

434.649.643.573,00
84.866.328.670,00
202.986.345.551,00
146.796.969.352,00

533.469.069.132,00

1.012.356.847.235,49

1.151.885.952.327,97

18.720.194.000,00
7.857.300.000,00
2.144.100.860,00

503.469.069.132,00

30.000.000.000,00
1.282.878.383.296,48 1.355.174.639.963,00 1.477.695.022.577,00
( 81.972.462.000,00)

Sumber Data: DPPKAD Tahun 2011-2013


Keterangan: *Angka per 21 Februari sebelum diaudit BPK-RI
**APBD Tahun Anggaran 2013
***Angka Proyeksi

VII.2. Fasilitas Wilayah/Infrastruktur


Suatu fasilitas wilayah atau infrastruktur menunjang daya saing daerah dalam hubungannya
dengan ketersediaannya (availability) dalam mendukung aktivitas ekonomi daerah di berbagai
sektor di daerah dan antar-wilayah.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

101

a.

Jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum

c.

Aksesibilitas Daerah (panjang jaringan jalan dalam kondisi baik)


Panjang jaringan jalan tahun 2012 beraspal dengan kondisi baik di Kabupaten Bantul
sepanjang 417.405 km (telah dijelaskan pada Bab VI). Jalan sebagai bagian prasarana
transportasi mempunyai peran penting dalam bidang ekonomi, budaya, lingkungan hidup,
politik, pertahanan dan keamanan. Jalan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa
merupakan urat nadi kehidupan masyarakat, bangsa, dan Negara.

d.

Penataan wilayah
Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatanruang,
dan pengendalian pemanfaatan ruang. Permasalahan penataan ruang di Kabupaten Bantul
saat ini adalah meningkatnya alih fungsi lahan. Hal ini dikarenakan Kabupaten Bantul
merupakan bagian pengembangan Kawasan Perkotaan Yogyakarta (KPY) yang mendorong
masuknya kegiatan investasi di berbagai sektor.

e.

Fasilitas Ibadah
Sarana tempat ibadah di Kabupaten Bantul meliputi: masjid, gereja, danpura. Mayoritas
penduduk Bantul beragama Islam, karena itu persebaran tempat ibadah masjid di masingmasing kecamatan hampir merata. Tempat ibadah gereja juga tersebar di masing-masing
kecamatan. Di samping itu sudah terdapat pura 33 unit dan vihara 2 unit, namun untuk
fasilitas klenteng masih belum ada.

f.

Ketersediaan Air Bersih


Rumah tinggal berakses sanitasi sekurang-kurangnya mempunyai akses untuk
memperoleh layanan sanitasi yaitu fasilitas air bersih, air limbah domestik, drainase, dan
persampahan. Untuk mengatasi permasalahan di sektor sanitasi, pemerintah Kabupaten
Bantul pada tahun 2010 ikut serta dalam Program Percepatan Pembangunan Sanitasi
Permukiman (PPSP), melakukan penilaian risiko kesehatan lingkungan (Environmental
Health Risk Assessment/EHRA), menyusun Buku Putih Sanitasi, menyusun dokumen Strategi
Sanitasi Kabupaten (SSK) pada tahun 2011, dan menyusun Memorandum Program Sektor
Sanitasi (MPSS) tahun 2012-2016.

g.

Fasilitas Listrik
Berdasarkan data berbasis dusun, semua dusun (933 dusun) telah terlayani listrik.
Namun, belum seluruh rumah dalam satu dusun terjangkau oleh pelayanan listrik, hal ini
disebabkan oleh letak geografis rumah tersebut jauh dari jaringan listrik. Di samping itu,
perhitungan berdasarkan jumlah kepala keluarga (KK) belum mencerminkan jangkauan
pelayanan listrik, hal ini dikarenakan dalam satu rumah/pelanggan bisa dihuni oleh lebih
dari satu KK.

Tabel 138
Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum

Sumber: Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul,2013

Jumlah orang yang terangkut angkutan umum semakin berkurang karena sebagian besar
telah memiliki kendaraan pribadi sebagai akibat adanya kemudahan fasilitas kredit
kepemilikan kendaraan.
b.

Ketersediaan restoran dan penginapan


Kunjungan wisatawan ke beberapa obyek wisata di Kabupaten Bantul menunjukkan trend
peningkatan dalam lima tahun terakhir. Pada tahun 2012 jumlah kunjungan mencapai
2.356.578 wisatawan dan merupakan jumlah kunjungan tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Peningkatan jumlah wisatawan tersebut harus didukung dengan peningkatan jumlah
prasarana wisata di Kabupaten Bantul. Perkembangan prasarana wisata di Kabupaten
Bantul signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Diperlukan upaya-upaya yang lebih intensif
dan optimal untuk bisa mendorong peningkatan sarana prasarana wisata di Kabupaten
Bantul di masa-masa mendatang.
Tabel 139
Jenis, Kelas,dan Jumlah Restoran
2010
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Uraian
Usaha restoran golongan tertinggi
Usaha restoran golongan menengah
Usaha restoran golongan terendah
Usaha rumah makan kelas A
Usaha rumah makan kelas B
Usaha rumah makan kelas C
Usaha rumah makan kelas D
Usaha rumah makan kelas
Jenis Usaha Restoran
Jenis Usaha Rumah Makan
JUMLAH

2011
Jmlh
kursi
820
312
181
12
-

Jmlh
usaha
5
1
2
-

Jmlh
kursi
108
16
23
-

Jmlh
usaha
4
10
8
4
-

Jmlh
kursi
445
418
210
-

21

1.325

147

26

1.073

Sumber: Disbudpar, 2013

Tabel 140
Jenis, Kelas, dan Jumlah Penginapan/Hotel

Sumber: Disbudpar,2013

102

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

2012

Jmlh
usaha
5
8
7
1
-

VII.3. Fokus Iklim Berinvestasi


a. Perkembangan investasi
Perkembangan investasi di Kabupaten Bantul menunjukkan perkembangan yang cukup
baik. Hal ini merupakan hasil dari upaya pemerintah dalam menciptakan iklim yang
kondusif, misalnya penyederhanaan prosedur birokrasi, perbaikan /pengembangan
infrastruktur pasca gempa, sistem informasi serta promosi investasi daerah yang lebih
intensif serta membuat pelayanan perijinan satu pintu.
Investasi memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembangunan karena
menentukan dinamika dan akselerasi pembangunan yang secara langsung maupun tidak
langsung dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Penanaman modal di Kabupaten Bantul

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

103

difokuskan pada peningkatan iklim investasi dan promosi investasi. Jika proses investasi
berlangsung baik maka perekonomian akan tumbuh dengan baik selama proses investasi
tersebut menghasilkan output yang efisien.
Selain investasi dari pihak ketiga, peningkatan investasi masyarakat dalam bentuk
swadaya ikut berperan dalam membangun daerahnya masing-masing yang secara langsung
maupun tidak langsung memberikan pengaruh terhadap perkembangan perekonomian
daerah. Dengan melihat kecenderungan perkembangan ekonomi masyarakat yang terkait
dengan kemampuan masyarakat dalam berinvestasi, maka diperkirakan laju pertumbuhan
investasi masyarakat akan setara dengan laju pertumbuhan PDRB.
b.

Keamanan dan ketertiban


1. Angka kriminalitas
Dalam mendukung terciptanya iklim berinvestasi di Kabupaten Bantul maka
pemerintah daerah bersama dengan instansi vertikal (kepolisian dan kejaksaan) harus
berupaya meningkatkan keamanan yang kondusif di masyarakat, menjaga ketertiban
dalam pergaulan masyarakat, serta menanggulangi kriminalitas sehingga kuantitas dan
kualitas kriminalitas dapat diminimalisir.
Angka kriminalitas yang tertangani adalah penanganan kriminal oleh aparat penegak
hukum (polisi/kejaksaan). Angka kriminalitas yang tertangani merupakan jumlah tindak
kriminal yang ditangani selama 1 tahun terhadap 10.000 penduduk. Indikator ini berguna
untuk menggambarkan tingkat keamanan masyarakat, semakin rendah tingkat
kriminalitas, maka semakin tinggi tingkat keamanan masyarakat.
Tabel 141
Angka Kriminalitas Tahun 20112012

x 10.000

4,71

Sumber: Polres Bantul, 2013

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa angka kriminalitas di Kabupaten Bantul tahun
2012 cenderung mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2011. Peningkatan
angka kriminalitas ini disebabkan meningkatnya jenis kriminal Narkoba, kejahatan
seksual, pencurian dan penipuan. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya pencegahan untuk
meminimalisir tindak kriminal.
2. Jumlah Demonstrasi
Salah satu yang harus dikendalikan dalam mendukung iklim investasi yang
kondusif adalah demonstrasi/unjuk rasa. Demonstrasi atau unjuk rasa adalah sebuah
gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya
dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut.

104

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Tabel 142
Jumlah Demonstrasi

Sumber: Polres Bantul, 2013

Berdasar tabel di atas jumlah demonstrasi/unjuk rasa tahun 2012 dibandingkan


dengan tahun 2011 meningkat tajam. Hal ini harus diwaspadai apabila demonstrasi/
unjuk rasa mulai menyimpang dan anarkis, perlu dilakukan langkah-langkah antisipasi
dan kesiapan SDM agar keamanan tetap terjaga.
3. Kemudahan perijinan
Investasi yang akan masuk ke suatu daerah bergantung kepada daya saing investasi
yang dimiliki oleh daerah yang bersangkutan. Pembentukan daya saing investasi,
berlangsung secara terus-menerus dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh banyak
faktor, salah satunya kemudahan perijinan. Kemudahan perijinan adalah proses
pengurusan perijinan yang terkait dengan persoalan investasi relatif sangat mudah dan
tidak memerlukan waktu yang lama. Pada tahun 2012, Dinas Perijinan telah melayani 113
jenis ijin dan non ijin yang terdiri dari:
a) Perijinan dasar
: 4 ijin
b) Perijinan perdagangan dan industri
: 12 ijin
c) Perijinan usaha dan jasa konstruksi
: 2 ijin
d) Perijinan bidang pariwisata
: 41 ijin
e) Persetujuan prinsip bidang pariwisata : 4 ijin
f) Perijinan angkutan
: 3 ijin
g) Perijinan bidang kesehatan
: 33 ijin
h) Perijinan bursa kerja luar negeri
: 1 ijin
i) Perijinan air tanah
: 13 ijin
Dengan adanya penyederhanaan pelayanan dan efisiensi waktu, proses penyelesaian
ijin dapat diselesaikan paling lama 12 hari jika syarat administrasi dan teknisnya lengkap,
jelas, dan benar. Di samping itu, di Kabupaten Bantul pengurusan ijin dapat dilaksanakan
secara paralel (sekali mengajukan untuk beberapa jenis ijin dalam obyek ijin yang sama).
Selama tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Perijinan menerima
permohonan ijin sebanyak 6.128 dan dapat diselesaikan/ditetapkan sebanyak 5.089 atau
83,05%. Selain itu Pemerintah Kabupaten Bantul mampu menyelesaikan pengaduan
masyarakat yang berkaitan dengan pelayanan perijinan dengan baik dan memuaskan.
Untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Bantul
menyebarkan kuesioner kepada pemohon dan pemilik ijin. Selanjutnya data kuesioner
diolah menjadi Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) berdasarkan rumus Kepmen PAN.
Implementasi kemudahan perijinan dapat ditunjukkan dengan peningkatan PAD yang
diterima, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 143.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

105

Tabel 143
Perkembangan Kontribusi PAD terhadap Pendapatan Daerah Tahun 2008-2012

Sumber: DPKAD Kabupaten Bantul, 2013

4. Peraturan Daerah yang mendukung Iklim Usaha


Peraturan Daerah merupakan sebuah instrumen kebijakan daerah yang sifatnya
formal, melalui perda inilah dapat diindikasikan adanya insentif maupun disinsentif
sebuah kebijakan di daerah terhadap aktivitas perekonomian Perda yang mendukung
iklim usaha dibatasi yaitu perda terkait dengan perijizinan, perda terkait dengan lalu
lintas barang dan jasa, serta perda terkait dengan ketenagakerjaan
Tabel 144
Jumlah Perda yang Telah Diterbitkan

Tabel 145
Jumlah Lulusan S1/S2/S3 Pegawai

Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Bantul, 2013

Tabel di atas menunjukkan jumlah tingkat pendidikan pegawai pemerintah daerah di


Kabupaten Bantul, di mana sejak tahun 2009 jumlahnya selalu meningkat. Hal ini merupakan
investasi SDM sekaligus bukti bahwa pemerintah daerah kabupaten Bantul sangat mendukung
bidang pendidikan dengan terlaksananya program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur
yang bertujuan agar pegawai pemda mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kualitas SDMnya sehingga dapat menjadi tenaga kerja yang handal, berdaya saing dan dapat menjadi pemimpin
yang cerdas dan bijak dalam mengambil keputusan dalam penyelenggaraan pembangunan
daerah.

Sumber: Bagian Hukum Kabupaten Bantul, 2013

VII.4. Fokus Sumber Daya Manusia


Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan kunci keberhasilan
pembangunan nasional dan daerah. Hal ini dapat disadari oleh karena manusia sebagai subyek
dan obyek dalam pembangunan. Mengingat hal tersebut, maka pembangunan SDM diarahkan
agar benar-benar mampu dan memiliki etos kerja yang produktif, terampil, kreatif, disiplin dan
profesional. Disamping itu juga mampu memanfaatkan, mengembangkan dan menguasai ilmu
dan teknologi yang inovatif dalam rangka memacu pelaksanaan pembangunan nasional.
Kualitas sumberdaya manusia juga memiliki peranan penting dalam meningkatkan daya
saing daerah dan perkembangan investasi di daerah. Indikator kualitas sumberdaya manusia
dalam rangka peningkatan daya saing daerah dapat dilihat dari kualitas tenaga kerja dan tingkat
ketergantungan penduduk untuk melihat sejauh mana beban ketergantungan penduduk.
Salah satu faktor penting yang tidak dapat diabaikan dalam kerangka pembangunan daerah
adalah menyangkut kualitas sumber daya manusia (SDM). Kualitas SDM ini berkaitan erat dengan
kualitas tenaga kerja yang tersedia untuk mengisi kesempatan kerja di dalam negeri dan di luar
negeri. Kualitas tenaga kerja di suatu wilayah sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan. Artinya
semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk suatu wilayah maka semakin baik
kualitas tenaga kerjanya. Kualitas tenaga kerja pada suatu daerah dapat dilihat dari tingkat
pendidikan penduduk yang telah menyelesaikan S1, S2 dan S3.

106

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

107

BAB VIII
PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN BENCANA

Fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini semakin memperburuk kondisi kehidupan
masyarakat, keadaan ini menjadi perhatian serius pemerintah. Berdasarkan pengalaman dan data
yang ada serta hasil monitoring oleh instansi terkait, potensi bencana yang diperkirakan terjadi di
wilayah Kabupaten Bantul seperti pada Tabel berikut

VIII.1 Bencana yang Terjadi dan Penanggulangannya


Bencana yang terjadi hampir setiap tahun di Kabupaten Bantul adalah banjir, tanah longsor,
angin ribut, dan kekeringan. Sepanjang tahun 2012 wilayah yang dilanda banjir meliputi sebagian
Tirtonirmolo (Kasihan), Bangunharjo (Sewon), Trimulyo (Jetis), Wukirsari dan Girirejo (Imogiri),
Sumbermulyo (Bambanglipuro), dan Sitimulyo (Piyungan). Hampir seluruh wilayah di Kabupaten
Bantul dilanda angin ribut (badai Narelle). Untuk bencana tanah longsor sepanjang tahun 2012
melanda sebagian wilayah Pundong, Piyungan, Dlingo, dan Imogiri (di dominasi wilayah
perbukitan), sedangkan untuk bencana kebakaran, 90% merata di seluruh wilayah Kabupaten
Bantul.

Tabel 148
Potensi Bencana

Tabel 146
Kejadian Bencana Alam Tahun 2012

Sumber: BPBD 2013

VIII.2. Antisipasi Daerah Dalam Menghadapi Bencana


Untuk mengatasi berbagai hal tersebut perlu tindakan yang bertujuan untuk mengurangi
risiko bencana, yaitu dengan meningkatkan kewaspadaan serta keterlibatan (peran aktif)
masyarakat dalam penanggulangan bencana. Kegiatan pengurangan risiko bencana yang
dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul pada tahun 2012 sebagai berikut:

Sumber: BPBD, 2013

Tabel 147
Jumlah Kejadian Bencana Yang Terjadi Menurut Jenis Bencana Tahun 2012

108

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

a. Pra Bencana, Meliputi Kegiatan Preventif, Mitigasi, dan Kesiapsiagaan


Kegiatan preventif (pencegahan) merupakan kegiatan yang dititikberatkan pada upaya
penyebarluasan informasi tentang peraturan perundangan dan kebijakan yang berkaitan
dengan kebencanaan. Langkah mitigasi merupakan kegiatan yang lebih dititikberatkan pada
upaya secara fisik untuk mengurangi dampak yang timbul akibat bencana alam. Tindakan
kesiapsiagaan merupakan kegiatan untuk menyiapkan kualitas dan kuantitas bantuan fisik
dan non fisik termasuk jaringan infokom serta personil penanggulangan bencana alam baik
aparat pemerintah maupun unsur masyarakat.
Dalam rangka untuk pengurangan risiko bencana, pada tahun 2012 Pemerintah
Kabupaten Bantul melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut:
1) Penyusunan dokumen Rencana Penataan Permukiman (RPP) di 75 desa bekerjasama
dengan Java Reconstruction Fund (JRF). Dokumen RPP disusun secara partisipatif di
tingkat desa, yang dipersiapkan dan disusun oleh Tim Inti Perencana (TIP) desa dengan
didampingi oleh kelompok kerja (Pokja) kabupaten dan fasilitator yang direkrut oleh
pemerintah kabupaten. Dokumen RPP merupakan dokumen perencanaan jangka
menengah (PJM) desa yang memuat unsur penataan permukiman, berbasis mitigasi
bencana dan tata ruang desa. Dokumen RPP merupakan pelengkap terhadap dokemen
perencanaan yang telah ada dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan Musrenbangdes.
2) Upaya lain untuk mitigasi bencana adalah menyusun Rencana Aksi Daerah Pengurangan
Risiko Bencana (RAD-PRB) yang melibatkan para pemangku kepentingan baik dari SKPD,
masyarakat, dan LSM. Pada tahun 2011 telah disusun pula Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten (RTRW Kabupaten) berbasis mitigasi bencana mengacu UU Nomor 24 Tahun
2007 tentang Penanggulangan Bencana dan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang.

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

109

3)

4)

5)

6)
7)

8)
9)

Pada tahun 2010 telah dilakukan kajian resiko tanah longsor di tiga desa rintisan yakni
Desa Wukirsari (Kecamatan Imogiri), Desa Srimartani (Kecamatan Piyungan), dan Desa
Wonolelo (Kecamatan Pleret), dilanjutkan dengan kegiatan relokasi dengan sumber dana
dari Java Reconstruction Fund (JRF). Sedangkan pada tahun 2011, Pemerintah Kabupaten
Bantul bekerjasama dengan Global Facility Disaster Reduction Recovery (GFDRR) dari
Bank Dunia melakukan kajian risiko tanah longsor di delapan lokasi di wilayah Kabupaten
Bantul, yaitu di Desa Seloharjo (Kecamatan Pundong), Desa Selopamioro (Kecamatan
Imogiri), Desa Karangtengah (Kecamatan Imogiri), Desa Girirejo (Kecamatan Imogiri),
Desa Sriharjo (Kecamatan Imogiri), Desa Mangunan (Kecamatan Dlingo), Desa Muntuk
(Kecamatan Dlingo), dan Desa Srimulyo (Kecamatan Piyungan) untuk rencana tindak
lanjut mitigasi tanah longsor.
Di tahun 2012 mengadakan pelatihan bagi anggota Forum Pengurangan Resiko Bencana
(FPRB) se Kabupaten Bantul yang diikuti oleh perwakilan masing masing desa/
kelurahan.
Meningkatkan kapasitas masyarakat untuk menjadi desa tangguh dan desa siaga bencana
(desa Wonolelo di Kecamatan Pleret, desa Mulyodadi di Kecamatan Bambanglipuro, desa
Gadingsari di Kecamatan Sanden, dan Desa Poncosari di Kecamatan Srandakan).
Sosialisasi tentang peraturan perundangan kebencanaan dan daerah rawan bencana di 17
kecamatan.
Penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana yang dibiayai oleh Badan
Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang berisikan tentang kajian potensi
bencana di wilayah Kabupaten Bantul beserta potensi-potensi yang dimiliki, dan rencanarencana strategis yang dapat dilakukan dalam upaya pencegahan dan kesiapsiagaan.
Penambahan sarana dan prasarana pendukung kegiatan penanggulangan bencana.
Di tahun 2012 juga telah diselenggarakan gladi Posko penanggulangan bencana banjir
dan angin ribut yang diikuti oleh SKPD terkait, rumah sakit, TNI/POLRI, LSM/NGO,
Kecamatan Imogiri, Kecamatan Banguntapan, Kecamatan Sewon, dan Kecamatan
Kasihan.

menggunakan dana DIPA BNPB tahun 2011 No. 0091/99908.1.04/00/2011 dengan


perencanaan dan hasil pembangunan sebagai berikut:
1) Bidang infrastruktur jalan
a) Rehab jalan Mojohuro-Kedungmiri, Wunut Sriharjo (Imogiri);
b) Rehab jalan Mojohuro-Kedungmiri, Sompok Sriharjo (Imogiri); dan
c) Rehab jalan Siluk-Kretek, Seloharjo (Pundong).
2) Bidang infrastruktur sumber daya air
a) Rehab Bendung Kklegen, Panjangrejo (Pundong);
b) Rehab tebing sungai Winongo, Pendowoharjo (Sewon);
c) Rehab tebing sungai Winongo, Timbulharjo (Sewon);
d) Rehab tebing sungai Winongo, Trirenggo (Bantul);
e) Rehab tebing sungai Winongo, Donotirto (Kretek);
f) Rehab tebing sungai Opak, Seloharjo (Pundong);
g) Rehab tebing sungai Celeng, Wukirsari (Imogiri)
h) Rehab tebing sungai Celeng, Girirejo (Imogiri);
i) Rehab tebing sungai Celeng, Karangtalun (Imogiri);
j) Rehab tebing sungai Winongo Kecil, Sumbermulyo Tirtomulyo (Kretek);
k) Rehab tebing sungai Gajah Wong, Wonokromo (Pleret);
l) Rehab tebing sungai Bedog Pandak, Wijirejo (Pandak);
m)Rehab afvour Colo, Panjangrejo (Pundong); dan
n) Rehab afvour Sono, Parangtritis (Kretek).

b. Saat Bencana
Saat bencana kegiatan yang dilaksanakan yaitu tanggap darurat yang menitikberatkan
pada upaya pengerahan seluruh potensi penanggulangan bencana alam guna mencari,
menolong, dan menyelamatkan korban bencana serta melakukan assessment atau kaji cepat
sebagai acuan dalam memberikan pelayanan bantuan darurat secara cepat, tepat, dan
terkoordinir.
c. Pasca Bencana
Pasca bencana kegiatan yang dilaksanakan mencakup rehabilitasi fisik, sosial, dan
pemberdayaan. Rehabilitasi fisik dititikberatkan pada upaya pemenuhan kebutuhan fisik
(seperti tempat tinggal). Rehabilitasi sosial dititikberatkan pada upaya pemulihan kembali
kondisi korban seperti semula atau lebih baik lagi dibanding sebelum bencana. Langkah
pemberdayaan dititikberatkan pada upaya peningkatan kemampuan atau keterampilan dalam
bidang usaha ekonomi produktif agar fungsi ekonomi keluarga korban dapat dipulihkan
kembali.
d. Rehabilitasi
Dalam fase pasca bencana di tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Bantul telah
melaksanakan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam bentuk pembangunan fisik

110

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

111

BAB IX
PENUTUP

Penyusunan Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013 merupakan sumber data/bank
data yang dapat digunakan untuk kebutuhan perencanaan dan penyusunan kebijakan serta
memudahkan koordinasi pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi program pembangunan di Kabupaten
Bantul secara terpadu.
Dalam proses pembuatan buku ini tim penyusun telah berusaha dengan sebaik-baiknya namun
disadari masih banyak kekurangan, oleh karena itu sangat diharapkan masukan saran dan kritikan dalam
upaya penyempurnaan penyusunan Database Profil Daerah Kabupaten Bantul untuk tahun-tahun
berikutnya dan dapat mengembangkan sistem informasi pengelolaan database profil daerah yang lebih
baik dan akurat.
Dokumen ini diharapkan menjadi media komunikasi secara berkelanjutan antar semua pelaku
pembangunan dan sebagai media informasi mengenai Database Profil Daerah mencakup seluruh wilayah
Kabupaten Bantul.

LAMPIRAN

112

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

1. PENDIDIKAN
Tabel 149
Kondisi Pendidikan Anak Usia Dini Tahun 2012

Tabel 153
Persentase Kelulusan Ujian Nasional Tahun 2008 - 2012 (dalam %)

SD
SMP
SMA

2008
99,57
91,21
95,88

2009
99,98
93,14
97,18

2010
99,98
93,62
98,70

2011
99,99
99,16
99,70

2012
99,99
99,66
99,75

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

115

116
Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013
Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

117

KASIHAN
PAJANGAN
SEDAYU

15
16
17

3,90

SEWON
14

44

PLERET
PIYUNGAN
BANGUNTAPAN
11
12
13

Sumber: Dinkes,2013

JUMLAH (KAB/KOTA)
RASIO POSYANDU PER 100 BALITA

DLINGO
10

13,88

IMOGIRI

JETIS
8
9

BANTUL
7

32,00

2,43

14,70

13,88
12,12

j
3,44

13,20

0
0
7
0
0
0
0
1
0
0
5
4
0
0
5
0
0
1
0
0
0
0
16
0
0
0
5

3
Srandakan
Sanden
Kretek
Pundong
Bambanglipuro
Pandak I
Pandak II
Bantul I
Bantul II
Jetis I
Jetis II
Imogiri I
Imogiri II
Dlingo I
Dlingo II
Pleret
Piyungan
Banguntapan I
Banguntapan II
Banguntapan III
Sewon I
Sewon II
Kasihan I
Kasihan II
Pajangan
Sedayu I
Sedayu II

%
SRANDAKAN
SANDEN
KRETEK
PUNDONG
BAMBANGLIPURO
PANDAK

JUMLAH

PRATAMA

1
2
3
4
5
6

PUSKESMAS
1

KECAMATAN

NO

0
13
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
356

JUMLAH

14
44
63
53
55
45
26
25
29
33
39
36
33
45
28
34
52
74
41
40
24
43
52
50
36
60
31
31,59

MADYA

27
15
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100

JUMLAH

61,36
13
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
36

PURNAMA

POSYANDU

38,63
33,33
20,75
34,00
6,66
15,30
60,00
13,79
15,15
25,64
19,44
72,72
6,66
10,71
0,00
25,00
39,18
9,75
15,00
37,50
0,00
11,53
8,00
36,11
31,66
12,90
0,00
100,00

100

11

%
17
21
11
17
3
4
15
4
5
10
7
24
3
3
0
14
29
4
6
9
0
6
4
13
19
4
0

10

JUMLAH

MANDIRI

1.127

44
63
53
55
45
26
25
29
33
39
36
33
45
28
34
52
74
41
40
24
43
52
50
36
60
31
36

12

JUMLAH

1.127

100,00

14

JUMLAH
44
63
53
55
45
26
25
29
33
39
36
33
45
28
34
52
74
41
40
24
43
52
50
36
60
31
36

13

100,00

100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00

15

POSYANDU
AKTIF

100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00
100,00

JUMLAH

Tabel 155
Jumlah Posyandu Menurut Strata, Kecamatan, dan Puskesmas Tahun 2012

118

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

119

Tabel 162
Data 10 Besar Penyakit Rawat Jalan Tahun 2012
19.643
12.063
7.845
6.018
4.773
4.096
3.885
3.873
3.482
2.835

120

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

121

122

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

123

124

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

125

126

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

127

6. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN DESA

12.907
17.515

15.869
15.743

9.334

7. STATISTIK
12.292

12.180

12.036

13.935
15.689
14.164

12.403

17.944
17.835
15.644

15.373

13.561
13.322
10.664

9.828

9.806
9.248
6.424

6.055

8.591
7.543
6.943

7.895

11.340
12.583
9.878

8.066

10.107
11.113
6.958

5.625

11.224
10.560
7.898

7.270

16.059
17.311

14.270
14.333

14.394
15.866

12.397

12.280

10.284
11.116
10.639

9.662

19.141
21.504
15.381

11.680

27.874
28.276
26.661

26.067

18.085
26.680
15.766
24.329

25.936
18.271
21.636

Tabel 170
Jumlah Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin Tahun 2012

22.764

Tabel 171
Program PNMD-MPd Tahun 2012

Tabel 172
Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2008 - 2012
Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun 2000
2008

No

Sektor

Pertanian

Pertambangan &

2009

2010

2011

2012*

Hb

Hk

Hb

Hk

Hb

Hk

Hb

Hk

Hb

Hk

21,40

24,33

20,94

24,32

20,21

23,52

19,88

22,04

20,15

21,77

0,97

0,99

0,93

0,95

0,94

0,92

0,93

0,93

0,87

0,90

Penggalian
3

Industri Pengolahan

18,75

16,48

18,75

16,16

19,28

16,33

19,73

16,54

19,61

15,95

Listrik, Gas, dan Air

1,13

0,88

1,21

0,91

1,19

0,91

1,14

0,91

1,10

0,92

Bersih
5

Konstruksi

12,83

12,08

12,13

11,49

12,16

11,45

11,95

11,66

11,26

11,63

Perdagangan, Hotel & 17,38

19,41

17,85

19,76

17,66

19,90

17,82

20,11

18,25

20,32

Pengangkutan &

6,87

6,88

6,88

7,09

6,87

7,24

6,85

7,45

6,85

7,59

Keuangan, Sewa, &

6,19

5,88

6,47

6,11

6,78

6,35

6,92

6,69

6,99

6,94

14,48

13,07

14,86

13,21

14,90

13,37

14,79

13,68

14,91

13,98

100

100

100

100

100

100

100

100

100

100

Restoran
Komunikasi
Jasa Perusahaan
9

Jasa-jasa
PDRB

Sumber: BPS, 2013


*Angka sementara

8. KELAUTAN DAN PERIKANAN

5.

Tabel 173
Desa Pesisir Tahun 2012

Sumber: DKP, 2013

128

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

129

Tabel 174
Kegiatan Restocking dan Bantuan Benih 2012

9. PERTANIAN

Tabel 177
Sekolah Lapangan dan SRI Tahun 2010-2012

Tabel 178
Populasi Ternak Tahun 2010-2012

Tabel 175
Produksi Perikanan Budidaya menurut Jenis Usaha
Tahun 2010-2012

Tabel 179
Kejadian Penyakit Avian Influenza Tahun 2010-2012

Tabel 176
Produksi Perikanan Tangkap Tahun 2010-2012

Tabel 180
Data Pengguna Straw dan Kelahiran Inseminasi Buatan Tahun 2010-2012

130

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

131

Tabel 181
Daftar Kelompok Penangkar Benih Padi Tahun 2012

Tabel 183
Produksi Benih Padi Berlabel Bantul Seed Center Tahun 2010-2012

Tabel 184
Stimulasi Pestisida kepada Masyarakat Tahun 2010-2012

Tabel 185
Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Tanaman Pisang,
Rambutan dan Mangga Tahun 2010-2012

Tabel 182
Daftar Kelompok Penangkaran Benih Bawang Merah Tahun 2012

Tabel 186
Bantuan Benih ke Masyarakat Tahun 2010-2012

132

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

133

10. KEHUTANAN

12. PARIWISATA
Tabel 189
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tahun 2012

Tabel 187
Hasil Produksi Hutan tahun 2010-2012

m3
428,000
24,200

550,000
60,000

340,800
80,400

11. ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL


Tabel 188
Target dan Capaian Pencegahan Kerusakan Akibat Penambang

134

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

135

13. PAJAK DAN RETRIBUSI


Tabel 190
Pajak dan Retribusi Daerah

51.768.352.231,50
823.428.554,00
2.855.070.517,40
440.593.360,00
2.718.571.111,00
16.460.816.329,00
70.833.088,40
446.594.700,00
2.100.000,00
27.746.383.080,70
203.961.491,00
20.595.098.751,00
8.294.966.776,00
4.391.334.450,00
461.312.970,00
8.270.000,00
17.970.000,00
1.898.948.930,00
563.184.280,00
14.785.000,00
939.161.146,00
10.118.380.850,00
1.815.668.300,00
35.171.450,00
69.840.000,00
117.023.100,00
8.080.678.000,00
2.181.751.125,00
1.233.771.839,00
893.385.536,00
1.700.000,00
52.893.750,00
-

136

Database Profil Daerah Kabupaten Bantul Tahun 2013

Beri Nilai