Anda di halaman 1dari 14

Apartemen Ikan (Fish Apartement)

Tanggal : 21-03-2014 15:02, dibaca 109 kali.

KERUSAKAN TERUMBU KARANG,


MANGROVE DAN PADANG LAMUN
ANCAMAN TERHADAP SUMBERDAYA
IKAN, APARTEMEN IKAN SOLUSINYA
Bobby N Tambunan, S.St.Pi
Penyuluh KP PPS Belawan **)

Abstrak
Ekosistem Terumbu Karang, ekosistem Padang Lamun dan ekosistem Mangrove
merupakan ekosistem yang paling menentukan dalam pengayan dan pemulihan ketersedian
sumberdaya ikan
di laut. Semua ekosistem tersebut merupakan tempat aktifitas ikan dan kaya akan unsurunsur yang
dibutuhkan oleh ikan dalam aktifitas hidup. Berfungsi sebagai daerah Pemijahan (Spawning
Ground), daerah asuhan atau pembesaran (Nursery Ground) dan daerah mencari makan
(Feeding Ground).
Kerusakan ekosistem tersebut telah hampir menyeluruh di semua wilayah di indonesia
akibat penggunaan bahan peledak, pencemaran lingkungan dan dijadikannya sebagai
kawasan tambak, kawasan industri serta pemukiman. Tentu mengancam ketersedian
sumberdaya ikan dan biota laut pada akhrnya nelayan yang menggantungkan hidup dari
usaha penangkapan juga terancam. Terlihat
dari semakin jauhnya daerah penangkapan, semakin sedikitnya hasil tangkapan dan semakin
kecilnya ukuran ikan yang tertangkap. Sehingga perlu langkah konkrit, salah satu langkah
saat ini sedang populer dan gencar dilakukan adalah pembuatan Apartemen Ikan (Fish
Apartemen).
Apartemen ikan merupakan suatu bangunan yang tersusun dari konstruksi partisi
plastik,shelter, dan pemberat yang ditempatkan di dasar perairan berfungsi sebagai tempat
berpijah bagi ikan-ikan dewasa (spawning ground) dan atau areal perlindungan, asuhan dan
pembesaran bagi telur dan serta anak-anak ikan (nursery ground) yang bertujuan
untuk memulihkan
ketersedian (stok) sumberdaya ikan.

Kata kunci : Kerusakan, Sumberdaya, Apartemen Ikan

1. PENDAHULUAN

Sebagaimana halnya kondisi kelautan dan perikanan global, di Indonesia pemanfaatan


sumberdaya ikan di perairan laut secara umum telah terjadinya fenomena lebih
tangkap(overfishing) yang mengarah pada penurunan stock ikan di daerah tertentu. Hal ini
dapat diamati dari semakin jauhnya daerah penangkapan, menurunnya hasil tangkapan dan
semakin mengecilnya ukuran ikan yang tertangkap. Kecenderungan ini menunjukan bahwa
laju usaha penangkapan telah melebihi kemampuan sumberdaya untuk melakukan sustainable
terhadap stock ikan. Kalau kondisi ini tidak segera dicarikan solusi maka kemungkinan suatu
saat tidak ada lagi ikan yang akan dimakan manusia karena punah.
Penurunan sumberdaya ikan merupakan dampak dari interaksi antara aktifitas
penangkapan yang semakin intensif sementara daya dukung perairan mengalami degredasi
akibat rusaknya terumbu karang, mangrove, padang lamun di perairan. Secara ekologis
habitat tersebut sangat dibutuhkan untuk penopang keberlanjutan sumberdaya ikan karena
berfungsi sebagai daerah pemijahan (spawning ground), daerah pembesaran dan asuhan
(nursery ground), dan daerah mencari makan (feeding ground).
Sehubungan kondisi tersebut upaya mengantisipasi kerusakan perairan, terumbu
karang, mangrove, padang lamun dan biota lainnya telah banyak dilakukan baik oleh
pemerintah, swasta maupun Lembaga Swadaya Masyarakat. Mulai pembelajaran pentingnya
memelihara lingkungan kepada sekolah dasar sampai perguruan tinggi hingga gerakan sosial
kepada kalangan generasi muda dan masyarakat telah gencar dilakukan. Berbagai slogan
muncul Selamatkan Terumbu Karang, Cinta Bahari,Gempita, ramai dipromosikan
bahkan secara nasional. Artinya sudah menjadi kewajiban bagi setiap anggota masyarakat
untuk ikut bertanggung jawab apabila aktifitasnya mengakibatkan pencemaran dan rusaknya
lingkungan. Pencemaran sungai yang pada akhirnya bermuara di laut dapat mengakibatkan
sakitnya ekosistem terumbu karang, mangrove dan padang lamun bahkan mematikan ikan
dan biota laut lainnya.
Tindakan nyata sudah banyak dilakukan untuk memperbaiki ekosistem terumbu karang,
hutan mangrove dan padang lamun. Diantaranya yang paling populer pembuatan dan
pemasangan terumbu karang (artificial reef) yang diprakarsai oleh Kementrian Kelautan dan
Perikanan. Penciptaan kawasan konservasi sumberdaya ikan dan perlindungan daerah
penangkapan ikan dari jenis-jenis alat tertentu sudah dilakukan dalam upaya rehabilitasi
perairan. (Bambang N, dkk, 2011). Kemudian melakukan konservasi terhadap lahan bekas
pembabatan hutan mangrove, bekas tambak udang yang tidak produktif lagi dan pembuatan
regulasi berupa peraturan-peraturan.
Salah satu strategi pemulihan potensi sumberdaya ikan yaitu pembuatan Rumah Ikan
(Fish Apartemen) yang merupakan salah satu bentuk pengayaan stock yang berkelanjutan

sebagai bentuk modifikasi generasi baru rumpon. Fish Apartemen memiliki fungsi yang
lebih komplek dibanding rumpon yang mampu berperan membentuk ekologis habitat alami
sumberdaya ikan. Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang, Ekosistem Mangrove, Padang
Lamun
A. Ekosistem Terumbu Karang
Terumbu Karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan tumbuhan
alga yang disebut zooxanhellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas
Anthozo yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu
Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia.
Ekosistem terumbu karang merupakan suatu ekosistem khas wilayah tropik yang
memiliki pesisir laut. Terumbu karang juga didefinisikan sebagai sumberdaya yang memiliki
konservasi tinggi karena memiliki keanekaragaman biologis yang tinggi, keindahan, dan
menyediakan cadangan sumber plasma nutfah (Sawyer; Dahuri, 2005). Ciri yang menonjol
ekosistem yaitu mempunyai produktifitas dan keanekaragaman jenis biota yang tinggi. Sifat
lain terumbu karang adalah nilai estetika yang tinggi dari perpaduan antara karang batu
(hermatific) dengan biota lain menjadikan ekosistem tersebut bernuansa keindahan yang
alami. Terumbu karang juga merupakan pondasi yang kokoh untuk melindungi pulau-pulau,
pantai dari badai dan gempuran ombak yang dahsyat.
Secara umum penyebaran terumbu karang di dunia banyak di daerah beriklim tropis
dibanding beriklim subtropis. Karena terumbu karang sangat tergantung pada keberadaan
sinar Matahari. Iklim tropis penyebaran sinar mataharinya berlangsung sepanjang hari dan
sepanjang masa sedangkan iklim subtropis dipengaruhi oleh musim. Di perairan, terumbu
karang dapat hidup hingga ke dalaman 40 meter dan juga tergantung kecerahan perairan
atau sejauh mana sinar Matahari dapat menembus. Terumbu karang sangat sensitif terhadap
pengaruh aktifitas manusia. Di Indonesia akibat pencemaran dan kerusakan lingkungan yang
pada akhirnya bermuara ke laut kondisi terumbu karang umumnya telah mengalami
penurunan kualitas.
Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi terumbu karang terbesar didunia.
Luas terumbu karang di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 60.000 km. Hal tersebut
membuat Indonesia menjadi negara pengekspor terumbu karang pertama di dunia. Dewasa
ini, kerusakan terumbu karang, terutama di Indonesia meningkat secara pesat. Terumbu
karang yang masih berkondisi baik hanya sekitar 6,2%. Kerusakan ini menyebabkan
meluasnya tekanan pada ekosistem terumbu karang alami. Meskipun faktanya kuantitas
perdagangan terumbu karang telah dibatasi oleh Convention on International Trade in
Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), laju eksploitasi terumbu karang masih
tinggi karena buruknya sistem penanganannya.
Aktifitas manusia yang menyebabkan rusaknya terumbu karang adalah penggunaan
bahan peledak, limbah, pembuangan jangkar, reklamasi pemungkinan, koleksi dan lain
sebagainya telah mengsengsarakan ekosistem terumbu karang,

Gambar Penggunaan Bahan Peledak dan Pengumpulan Terumbu Karang

Keberadaan terumbu karang sangat penting bagi kehidupan biota laut karena ribuan spesies
organisme dan ikan menggantungkan hidup pada ekosistem terumbu karang. Terumbu karang
berfungsi sebagai tempat hidup ikan-ikan tertentu dan berfungsi menaham abrasi pantai dari
gelombang dan ombak. Selain itu terumbu karang memiliki nilai keindahan alami sebagai
kekayaan alam yang dapat dijadikan sebagai primadona wisata bawah laut.
Sungguh sangat mengancam kehidupan organisme dan ikan apabila terjadi kerusakan
terumbu karang. Terancamnya kehidupan organisme dan ikan sama halnya akan mengancam
kehidupan manusia, karena manusia membutuhkan sumber pangan dari ikan yang salah satu
ekosistem pendukung ketersedian sumberdaya ikan adalah terumbu karang.

Gambar Kerusakan Terumbu Karang

Secara umum diberbagai wilayah diIndonesia umumnya kondisi terumbu karang telah
mengalami kerusakan yang mencapai pada tingkat memprihatinkan. Hal ini berakibat buruk
bagi ekosistem terumbu karang diIndonesia bila dibiarkan tanpa solusi. Untuk itu perlu
langkah penyelamatan dan usaha mencarikan solusi lain agar sumberdaya ikan yang
menggantungkan aktifitasnya di ekosistem terumbu karang. Akibat rusaknya terumbu
karang telah berakibat menurunnya ketersedian sumberdaya ikan dan menurunkan hasil
tangkapan nelayan.
B. Ekosistem Mangrove
Hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai komunitas yang hidup pada kawasan
lembab dan berlumpur yang dipengaruhi oleh gerak air laut pasang surut, berfungsi sebagai
tempat memijahnya berbagai spesies ikan, udang dan biota laut lainnya serta merupakan
habitat berbagai spesies burung, mamalia dan reptilia. (Kamal, dkk. 2005).
Hutan mangrove juga merupakan salah satu ekosistem utama di wilayah pesisir dan laut
yang tumbuh dan berkembang baik di Indonesia, merupakan salah satu sumberdaya alam
pesisir dan laut dapat pulih yang sangat kaya dan produktif. Hutan mangrove dengan
beragam vegetasi dan fauna asosiatifnya memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi.
Hutan mangrove berfungsi sebagai pelindung pantai dari gempuran atau hempasan ombak,
arus yang kuat dan abrasi pantai. Memiliki nilai ekonomis sebagai tempat penangkapan
dan budidaya berbagai jenis dan udang, selain dapat dimanfaatkan kayunya untuk bahan
bangunan, arang dan bahan baku kertas.
Adapun fungsi fisik mangrove untuk menjaga agar garis pantai tetap stabil, menyangga
terhadap rembesan air laut (intrusi)) dan sebagai penyaring (filter) polutan yang datang.
Tumbuhan mangrove mempuyai keistimewaan dibanding tumbuhan lain. Tumbuhan ini
memiliki daya adaptasi yang khas terhadap lingkungan sehingga memiliki arti yang sangat
penting bagi ekosistem pantai dan biota laut.
Hutan mangrove sebagai suatu ekosistem yang unik mempunyai fungsi
pokok sebagai berikut :

1. Fungsi fisik, menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dari gempuran
ombak dan abrasi, menjadi wilayah penyangga terhadap rembesan air laut (intrusi)
dan sebagai filter pencemaran yang masuk ke laut.
2. Fungsi biologis, sebagai daerah asuhan dan tempat pemijahan bagi ikan, udang,
kepiting, kerang dan biota perairan lainnya, tempat persinggahan burung-burung
yang bermigrasi serta tempat habitat alami berbagai jenis biota flora (anggrek) dan
fauna lainnya.
3. Fungsi ekonomis, sebagi sumber bahan bakar (arang dan kayubakar), bahan bangunan
(balok, atap rumah dan tikar), perikanan, pertanian, tekstil (serat sintetis), makanan,
obat-obatan, minuman (alkohol), bahan mentah kertas, bahan pembuat kapal
(gading-gading) dan lainnya. (Purwanto,1995; Kamal, 2005).
Bengen (2001; dalam Rochana, 2012), menguraikan adaptasi tumbuhan mangrove
bebagai berikut :
1. Adaptasi terhadap kadar oksigen rendah, menyebabkan mangrove memiliki bentuk
perakaran yang khas
- Bertipe akar cakar ayam yaitu jenis Avecennia spp, Xylocarpus spp dan
Sonneratia
spp.
- Bertipe penyangga/tongkat yaitu jenis Rhyzophora spp
Dengan jenis akar-akar tersebut memungkinkan tumbuhan mangrove untuk tetap berdiri
kokoh walau digempur badai dan gelombang sehingga dapat melindungi pulau atau pantai.
Kemudian dapat menahan abrasi dan menahan humus dan lumpur sehingga wilayah hutan
mangrove tersebut tetap subur.
2. Adaptasi terhadap kadar garam
Adanya sel khusus pada daun yang berfungsi menyimpan garam, daun yang tebal dan
memiliki struktur stomata khusus berfungsi mengurangi penguapan. Kondisi ini
menjadikan
tumbuhan mangrove mampu mencegah intrusi air laut yang asin ke daratan.
3. Adaptasi terhadap pasang surut melalui susunan struktur akar yang kokoh dan unik,
membuat unsur hara dan sendimen subur tetap tesedia dikawasan ini. Namun kondisi
hutan mangrove di Indonesia yang ada saat ini sangat memprihatinkan. Luas hutan

mangrove Indonesia turun dari 5,21 juta ha antara 1982-1987 menjadi 3,24 juta ha dan
makin menyusut menjadi 2,5 juta ha tahun 1993 (Widigdo, 2000; dalam Rochana,
2010).
Sedangkan Arabaya dan Wanna, 2006; dalam Santoso, 2008; luas hutan mangrove di
Indonesia 4,25 juta ha.
Walau terjadi perbedaan angka luasan mangrove, namun terlihat jelas bahwa hutan
mangrove telah berubah fungsi dari yang seharusnya. Sangat banyak sekali wilayah hujan
mangrove dijadikan sebagai lahan tambak, pemukiman pesisir pantai, kawasan wisata,
kawasan industri dan lain sebagainya.

Gambar kerusakan Mangrove dan dibabat dijadikan kayu bakar,arang dll

Kerusakan hutan mangrove ini berakibat terancamnya biota laut dan sumberdaya
ikan dan akan berpengaruh terhadap hasil tangkapan nelayan, karena hutan mangrove

yang berfungsi sebagai tempat daerah pemijahan (spawining ground), daerah pembesaran
dan asuhan (nursery ground) dan daerah mencari makan (feeding ground) telah rusak dan
tinggal sedikit. Untuk itu perlu solusi agar biota laut dapat terselamatkan dan pemulihan
sumberdaya ikan.

C. Ekosistem Padang Lamun


Padang lamun (sea grass) merupakan tumbuhan berbunga yang hidup terbenam di
dasar laut. Tumbuhan ini terdiri dari akar, batang (Rhizome) dan daun. Warna daun
kecoklatan sedang batang coklat tua, batangnya berbuku-buku dan berbunga.Tumbuh berdiri
tegak di dasar laut, akarnya menancap ke dalam pasir dengan kuat sehingga mampu berdiri
tegak walau dihempas gelombang dan
arus air. Biasa hidup pada perairan disekitar pulau-pulau,di perairan dangkal hingga sedang
dengan penetrasian sinar matahari.
Ekosistem lamun memiliki produktifitas organik tinggi karena itu juga berfungsi
sebagai feeding ground (daerah mencari makan), spawning ground (daerah pemijahan),
nursery ground (daerah pembesaran/asuhan). Beberapa jenis lamun digunakan sebagai
bahan makan, pupuk dan lain-lain. Di kepulauan Seribu bijinya digunakan sebagai bahan
makanan bagi masyarakat. Namun di Indonesia belum banyak penelitian tentang lamun
sehingga belum diketahui nilai ekonomi ekosistem padang lamun. Di negara-negara ASEAN
nilai ekonomi padang lamun juga belum diperhitungkan. Luas padang lamun di Indonesia
diperkirakan sekitar 30.000 km2 yang dihuni oleh 13 jenis lamun. Suatu padang lamun
dapat terdiri dari vegetasi tunggal yakni tersusun dari satu jenis lamun saja ataupun vegetasi
campuran yang terdiri dari berbagai jenis lamun. Di setiap padang lamun hidup berbagai
biota lainnya yang berasosiasi dengan lamun, yang keseluruhannya terkait dalam satu
rangkaian fungsi ekosistem. (Nondji,2010).
Di negara-negara maju lamun sudah sangat banyak dimanfaatkan bahkan memiliki nilai
ekonomi tinggi, dapat dijadikan sebagai suplai energi yang dihasilkan untuk budidaya kerang,
perikanan komersial olah raga pancing dan permainan air. Di Denmark, lamun digunakan
untuk menggantikan makanan bagi hewan dan komponen pupuk di daerah pesisir. Di
Jerman digunakan sebagai bahan baku kertas dan bahan pengganti dalam pabrik nitro
selulosa. Berbeda lagi di Amerika, Lamun kering digunakan bahan mencegah kebakaran
(Dahuri, 2005)

Gambar Padang Lamun

Akibat aktifitas penangkapan yang tidak ramah lingkungan dan pencemaran


lingkungan dari daratan, tumpahan minyak, penggunaan bahan peledak dan lain sebagainya
telah mengusik kesuburan dan keberadaan ekosistem padang lamun. Padahal ekosistem
ini sangat berguna bagi biota laut dan ikan. Akibat kerusakan ekosistem padang lamun
telah menyebabkan kondisi perairan disekitarnya kehilangan sumbedaya biota dan ikan.
Akibatnya hasil tangkap nelayan turut menurun karena ekosistem padang lamun tidak lagi
sebagai tempat mencari makan bagi ikan dan biota laut. Tentu saja akan mengancam
ketersedian sumberdaya ikan yang ada.
D. Apartemen Ikan Solusinya
Apartemen ikan (Rumah Ikan) adalah suatu bangunan berongga yang tersusun dari
konstruk partisi plastik, shelter, dan pemberat yang ditempaatkan di dasar perairan berfungsi
sebagai tempat berpijah bagi ikan-ikan dewasa (spawning ground) dan atau areal
perlindungan, asuhan dan pembesaran bagi telur,larva serta anak-anak ikan (nursery
ground) yang bertujuan untuk memulihkan ketersedian (stok) sumberdaya ikan (Bambang,
dkk, 2011).
Pengembangan Rumah Ikan merupakan bentuk kegiatan pengayaan stock yang ditujukan
untuk menjaga keberlajutan pemanfaatan sumberdaya ikan melalui introduksi buatan sebagai
area khusus, yang diharapkan mempengaruhi atau menggantikan sebagaian peran/fungsi
ekologis habitat alami sumberdaya ikan seperti Terumbu Karang, Mangrove dan Padang
Lamun.
Gagasan Rumah Ikan merupakan pengembangan dari pemasangan rumpon dasar yang
telah berhasil meningkatkan ketersedian stok ikan, hasil pengamatan menunjukkan bahwa
rumpon dasar telah berhasil mengumpulkan ikan-ikan dasar dan ikan pelagis (permukaan)
bahkan dijumpai juvenil biota laut menempel pada rumpon dasar tersebut sehingga sangat
bermanfaat bagi habitat biota laut.
Rumpon dasar atau disebut juga Rumah Ikan (setelah dimodifikasi) merupakan alat bantu
pengumpul ikan (fish agregatting device) yang terbuat dari ban-ban bekas yang dirangkai
sedemikian rupa dengan bentuk konstruksi tertentu dan dilengkapi rumbai-rumbai dari bahan
pita plastik. Metode ini telah berhasil meningkatkan produksi ikan di tempat-tempat yang
kurang produktif tanpa menggangu kelestarian sumberdaya.
Hasil pengamatan nelayan diwilayah perairan Kabupaten Brebes memperoleh hasil
tangkapan ikan teri dan bilis di lapisan atas perairan yang di bawahnya dipasang modulmodul rumpon dasar. Demikian juga nelayan di Pekalongan memperoleh hasil tangkapan
ikan Teri dan ikan Tenggiri di area rumpon dasar. Bahkan berhasil menangkap ikan kerapu
putih (Lates calkarifer). DiKecamatan Batangan Kabupaten Pati, yang semula perairannya
jarang tertangkap Udang Putih (Paneaus merguiensis), setelah dipasang rumpon dasar maka

udang putih banyak terdapat dan tertangkap oleh nelayan. Bahan Apartemen Ikan Bahan baku
utama yang digunakan untuk pembuatan kerangka apartemen ikan adalah bahan plastik jenis
Polyprophylene (pp). Dipilihnya bahan plastik karena mudah didapat dan dapat diproduksi
dalam jumlah yang sesuai dikehendaki, relatif aman (tidak beracun), tidak larut dalam air,
tahan lama, aman bagi manusia dan lingkungan (Life Cycle Assessment of PVC European
Commission; dalam Bambang, dkk, 2011)
Pertimbangan bahan plastik merupakan alternatif selain kayu, bambu, tembikar,
semen cor dan ban bekas. Karena seperti bahan ban bekas telah dilarang penggunaannya
oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan, sebab
dikhawatirkan akan mencemari lingkungan.
Plastik jenis Polyprophylene merupakan plastik transparan yang tidak jernih atau
berawan, sifatnya lebih kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah. Memiliki
ketahanan baik terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. Dengan
sifat-sifat tersebut plastik ini paling baik bila digunakan sebagai pembungkus makanan atau
minuman, Ummu Syifa (2008); dalam Bambang dkk, 2011).
Selanjutnya Imam Mujiarto (2005); dalam Bambang dkk (2011) menambahkan bahwa
plastik Polyprohylene memiliki titik leleh yang cukup tinggi (190-200 C) dan titik
kristalisasinya antara (130-135C) serta ketahanan terhadap bahan kimia sangat tinggi.
Konstruksi Apatemen Ikan konstruksi apartemen Ikan terdiri dari kerangka, shelter dan
pemberat. Kerangka merupakan komponen apartemen ikan yang tersusun dari rangkaian
partisi plastik (keping/lempengan cetakan) dan berfungsi sebagai tempat berlindung telur,
larva dan juvenil ikan. Shelter adalah komponen terbuat dari plastik/potongan
tali/potongan jaring atau bahan lainnya berfungsi sebagai media menempel
dan
berlindung telur, larva dan juvenil ikan. Pemberat merupakan komponen yang terbuat dari
beton cor berfungsi sebagai pemberat/stabilator agar kerangka apartemen ikan dapat berdiri
tegak.

Gambar Rangkaian Apartemen Ikan

Kesimpulan

Sebagai kesimpulan adalah :


1. Ekosistem terumbu karang, Mangrove dan Padang Lamun sangat menentukan dalam
ketersedian sumberdaya stok ikan dan biota laut. Karena berfungsi sebagai daerah
pemijahan, daerah perlindungan, asuhan, dan daerah mencari makan.
1. Akibat aktifitas penangkapan yang tidak ramah lingkungan dan pencemaran air telah
merusak ekosistem tersebut.
1. Kerusakan ekosistem tersebut mengancam ketersediaan sumberdaya ikan dan biota
laut.
1. Perlu langkah konkrit untuk menyelamatkan kerusakan ekosistem dengan program
penyadaran masyarakat untuk memelihara lingkungan.
1. Apartemen ikan salah satu solusi meningkatkkan ketersedian sumberdaya stok ikan
dan
biota laut. Apartemen Ikan sebagai penyedia benih alam.

Daftar Pustaka

Bambang, dkk. 2011. Apartemen Ikan (Fish Apartemen) Sebagai Pilar Pelestari
Sumberdaya Ikan. Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan
(BBPPI),

Direktorat Jenderal Perikanan

Tangkap, Kementerian

Kelautan dan Perikanan. Semarang


BBPPI. 2011. Panduan Pelaksanaan Pengembangan Rumah Ikan. Dalam Rangka
Pemulihan Sumberdaya Ikan. Semarang.
Dahuri, R. 2005. Keanekaragaman Hayati Laut. Aset Pembangunan Berkelanjutan
Indonesia. Jakarta.

Dewanto,

H. 2012. Hubungan
Mangrove,

Ekologis dan Biologis yang Terjadi Antara

Lamun,

dan

Terumbu

Karang.

http.//uripsantoso.wordpress.com
Husni, E. 2010. Pola Pertumbuhan Propagul Mangrove Jenis Rhizophoraceae di
Kawasan Pesisir Sumatera Barat. Jurnal Mangrove dan Pesisir.
Vol. X No. 1. Tahun 2010. Padang.
http://id.wikipedia.org/wiki/terumbu karang
http://id.wikipedia.org/wiki/padang_lamun
Kamal,

E. 2007. Struktur dan Komposisi

Hutan Mangrove

di Air Bangis,

Kabuapaten Pasaman Barat. Jurnal Mangrove dan Pesisir. Vol.


VII No. 1. Tahun 2007. Padang.
Kamal,

E dkk. 2005. Mangrove Sumatera

Barat. Pusat Kajian Mangrove dan

Kawasan Pesisir. Universitas Bung Hatta. Padang.


Nontji,2010. Pengelolaan dan Rehalibitasi Lamun
Rochana,

E. 2010.

Ekosistem

Mangrove dan Pengelolaanya

di Indonesia.

www.irwantoshut.com
Santoso,

U. 2008. Hutan Mangrove, Permasalahan dan Solusinya.


http.//uripsantoso.wordpress.com

Wiryono. 2009. Ekologi Hutan. Unib Press. Bengkulu. -----------. 2012. Pengantar Ilmu
Lingkungan.
Badan Penerbitan Fakultas Pertanian UNIB. Bengkulu

Pengirim : Bobby N Tambunan,S.St.Pi