Anda di halaman 1dari 36

Profil Dinas Kesehatan Kab.

Gunungkidul Tahun 2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten
Gunungkidul, Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan, dan Standar
Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan merupakan beberapa dokumen
yang memuat indikator pembangunan khususnya pembangunan dibidang
kesehatan yang akan dicapai dalam suatu kurun waktu tertentu.
Profil Kesehatan disusun sebagai potret kondisi kesehatan masyarakat di
wilayah Kabupaten Gunungkidul yang datanya berbasis fasilitas kesehatan
(facility base data) serta data hasil survey di masyarakat (community base
data) yang diharapkan bisa menjadi bahan evaluasi indikator pembangunan
dibidang kesehatan. Sumber data yang menjadi dasar pembuatan profil ini
berasal dari laporan hasil program yang dilaksanakan oleh masing-masing
bidang di Dinas Kesehatan dan laporan bulanan Puskesmas serta berbagai
sumber dari Lintas Sektor terkait.
1.2 Maksud dan Tujuan
Maksud disusunnya Profil ini adalah tersajinya data dan informasi
kesehatan beserta pendukungnya yang dideskripsikan dengan analisis dan
ditampilkan dalam bentuk tabel dan grafik.
Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah tersajinya dan tersebarnya
informasi
Kesehatan

kesehatan
di

yang merupakan

Kabupaten

Gunungkidul

pencapaian hasil Pembangunan


pada

tahun

2015

dan

tahun

sebelumnnya.
1.3. Sistematika Penyusunan
Sistematika Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Gunungkidul ini
disusun sebagai berikut:
Bab-I : Pendahuluan
Bab ini berisi tentang maksud dan tujuan serta sistematika penyajian profil
kesehatan.
Bab-II : Gambaran Umum
Bab ini berisi tentang letak geografis, administratif dan informasi umum
lainnya, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktorfaktor lainnya misal geografi, demografi, pendidikan, sosial budaya,
1

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

ekonomi, musim dan pola penyakit serta perkembangan nilai baru


(lingkungan internal dan eksternal).
Bab-III : Situasi Derajat Kesehatan
Bab ini berisi tentang angka kematian, angka kesakitan, dan angka status
gizi masyarakat.
Bab-IV : Situasi Upaya Kesehatan
Bab ini berisi tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan
rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit menular, pembinaan
kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat,
pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan, pelayanan kesehatan dalam
situasi bencana.
Bab-V : Situasi Sumber Daya Kesehatan
Bab ini berisi tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan, pembiayaan
kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya.
Bab-VI : Kesimpulan
Bab ini berisi hal-hal penting, dan perlu ditelaah lebih lanjut, keberhasilankeberhasilan yang perlu dicatat, hal-hal yang dianggap masih kurang dalam
rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

BAB II
GAMBARAN UMUM

2.1 Geografi
Kabupaten

Gunungkidul,

merupakan

salah

satu

bagian

wilayah

Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang secara geografis


berada di bagian Tenggara dari Pemerintah Daerah DIY dan berada kurang
lebih 40 km dari pusat ibukota Propinsi.
Luas wilayah Kabupaten

Gunungkidul 1.485,36 km 2 atau 46,63% dari

luas Pemerintah Daerah DIY, yang terbagi menjadi tiga wilayah menurut kondisi
tanahnya yaitu :
-

Zone Batu Agung di bagian utara, jenis tanah kapur dan liat/ tanah merah,
ketinggian 200-700 dpl.

Zone Ledok Wonosari di bagian tengah, jenis tanah kapur dan liat/tanah
merah, ketinggian 150-200 dpl dan

Zone Pegunungan Seribu di bagian selatan, jenis tanah kapur/batu muda,


ketinggian 100-300 dpl.

Batas-batas wilayah Kabupaten Gunungkidul sebelah :


-

Barat dengan Kabupaten Sleman dan Bantul, DIY.

Utara dengan Kabupaten Klaten dan Sukoharjo, Jateng.

Timur dengan Kabupaten Wonogiri, Jateng.

Selatan dengan Samudera Hindia.


Tipologi wilayah Kabupaten Gunungkidul berbukit-bukit, yang banyak

dikenal dengan istilah Pegunungan Seribu. Pegunungan Seribu merupakan


kawasan perbukitan batu gamping dan bentang karst tandus dan kurang
air permukaan, di bagian tengah merupakan Cekungan Wonosari yang
terbentuk

menjadi Plato Wonosari. Wilayah pegunungan ini memiliki luas

kurang lebih 1.485,4 km2 dengan ketinggian 150-700 m.


.

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Gambar 2.1 : Peta Wilayah Kab. Gunungkidul


Secara administratif wilayah di Kabupaten Gunungkidul terbagi menjadi 18
kecamatan, 144 desa. Wilayah terluas ada di Kecamatan Semanu yaitu
108,39km2 (7,3% luas Gunungkidul). Jarak Puskesmas ke ibukota Kabupaten
rata-rata 15 Km, sedangkan jarak rata-rata ke ibukota Propinsi 55 Km.
Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.1. berikut ini.
Tabel 2.1
Jarak Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten dan Ibukota Propinsi
No

Puskesmas

1 Nglipar I
2 Nglipar II
3 Gedangsari I
4 Gedangsari II
4 Patuk I
5 Patuk II
6 Rongkop
7 Girisubo
8 Ponjong I
9 Ponjong II
10 Wonosari I
11 Wonosari II
12 Karangmojo I
13 Karangmojo II
14 Panggang I
15 Panggang II
16 Purwosari
17 Tepus I
18 Tepus II
19 Tanjungsari
20 Paliyan
21 Saptosari
22 Ngawen I
23 Ngawen II
24 Semanu I
25 Semanu II
26 Semin I
27 Semin II
28 Playen I
29 Playen II
Kabupaten Gunungkidul

Kecamatan
Nglipar
Gedangsari
Patuk
Rongkop
Girisubo
Ponjong
Wonosari
Karangmojo
Panggang
Purwosari
Tepus
Tanjungsari
Paliyan
Saptosari
Ngawen
Semanu
Semin
Playen

Luas Wilayah
(Km2)
32,68
40,30
36,86
31,28
47,79
24,25
95,47
82,72
59,69
44,78
44,44
33,09
44,53
35,59
35,00
48,00
59,34
57,84
49,85
68,84
66,94
87,02
26,81
13,78
55,61
52,78
24,32
38,90
41,42
63,84
1485,36

Jarak
Ke Kab
11
24
22
25
20
28
35
48
15
23
3
5
9
13
40
30
48
22
32
18
16
23
34
59
7
10
24
41
11
16

Jarak Ke
Prop
50
46
50
55
26
46
70
85
50
58
40
40
45
50
40
30
40
58
65
55
40
42
70
40
45
50
60
75
37
37

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Sumber : BPS Kabupaten Gunungkidul

2.2 Demografi
Berdasar data dari kependudukan.jogjaprov.go.id

jumlah penduduk

Gunungkidul pada tahun 2015 sebanyak 755.744 jiwa yang terdiri dari laki-laki
sebanyak 375.217 jiwa dan perempuan sebanyak 380.527 jiwa. Laju
pertumbuhan penduduk Kabupaten Gunungkidul sebesar 2.21 %. (2014)
Jumlah rumah tangga terdaftar sebanyak 198.601 RT dengan rata-rata
jiwa per rumah tangga (family size) sebesar 3,81 jiwa yang berarti setiap rumah
tangga dihuni antara 3-4 orang. Adapun rata-rata kepadatan penduduk (Man
Land Ratio) di wilayah Kabupaten Gunungkidul adalah sebesar 509 jiwa/km
dengan angka kepadatan tertinggi berada di Kecamatan Wonosari (1.131
jiwa/km). Sedangkan jumlah penduduk paling sedikit berada di kecamatan
Purwosari dengan 20.703 jiwa.
Dependency Ratio penduduk Kabupaten Gunungkidul tahun 2015
sebesar 44%. Dependency Ratio merupakan Perbandingan antara penduduk
non produktif (belum dan tidak produktif) dengan penduduk produktif (usia 15
64 tahun). Berarti setiap 44 orang penduduk usia produktif (umur 1464 tahun )
menanggung 100 penduduk usia tidak produktif. Data indikator kependudukan
di Kabupaten Gunungkidul bisa dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.2.
Indikator Kependudukan Kabupaten Gunungkidul
Variabel Kependudukan
2015
Jumlah Penduduk
755.744
375.217

Laki-laki
380.527

Perempuan
Sex Ratio
98,60
Dependency Ratio
44
Man Land Ratio/ km2
509 jiwa/km
Jumlah jiwa setiap rumah tangga
3,81 jiwa / rumah tangga
Laju Pertumbuhan Penduduk
2.21 %
Sumber : BPS kabupaten Gunungkidul Tahun 2013

Jumlah kelahiran tahun 2015 tercatat 7.868, menurun dibanding tahun


2014 (8.223 kelahiran). Jumlah lahir mati tercatat 72 kasus atau dengan angka
lahir mati per 1.000 kelahiran. Angka kelahiran kasar (Crude Birth Rate) adalah
angka yang menunjukkan banyaknya kelahiran pada tahun tertentu per 1000
penduduk. CBR penduduk Kabupaten Gunungkidul pada Tahun 2015 sebesar
9.2/1000 penduduk, menurun dibanding Tahun 2014 (10 kelahiran bayi per
1000 penduduk). Angka Fertilitas Total (Total Fertility Rate) merupakan rata-rata
5

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

anak yang dilahirkan seorang wanita selama masa suburnya. TFR penduduk
kabupaten Gunungkidul berkisar antara 2 sampai 3 anak.
2.3 Sosial Ekonomi, Pendidikan dan Agama
Ekonomi Penduduk
Mata pencaharian penduduk di Kabupaten Gunungkidul sebagian besar
adalah petani. Jenis lapangan usaha pertanian menduduki 52.62% dan
selebihnya adalah industri pengolahan (7.13%), jasa-jasa (13.02%) serta
bidang lainya (14.06%).
Laju pertumbuhan ekonomi dapat dihitung berdasarkan nilai Produk
Domestik Regional

Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan. PDRB

merupakan salah satu pencerminan kemajuan perekonomian suatu daerah,


yang didefinisikan sebagai keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang
dihasilkan dalam waktu satu tahun. Berdasar data dari BPS Kabupaten
Gunungkidul,

laju

pertumbuhan

ekonomi

di

Kabupaten

Gunungkidul

kecenderung moderat dan pada kisaran 4.54 persen . PDRB per kapita sebagai
indikator kasar untuk mengukur pendapatan per kapita penduduk kabupaten
Gunungkidul menurut harga berlaku pada tahun 2014 secara kumulatif
meningkat 9,11 persen dari tahun 2013. Besaran PDRB per kapita kabupaten
Gunungkidul tahun 2014 senilai 217.97 juta rupiah. PDRB Kabupaten
Gunungkidul banyak ditopang dari lapangan usaha sektor pertanian (25.77%)
disusul oleh sektor konstruksi, industri pengolahan, administrasi pemerintahan,
dan perdagangan
Pola

konsumsi

rumah

tangga

merupakan

indikator

yang

dapat

memberikan gambaran kesejahteraan penduduk. Semakin tinggi pendapatan,


maka porsi pendapatan untuk pengeluaran akan bergeser dari pengeluaran
untuk makanan ke pengeluaran bukan makanan. Pola konsumsi rumah tangga
di kabupaten Gunungkidul pada tahun 2014 masih didominasi oleh kelompok
makanan sebesar 53,85%, dengan sumbangan terbesar pada kelompok
makanan dan minuman jadi (26,98%) dan kelompok tembakau dan sirih
menyumbang terbesar keempat (8,3%) terhadap total pengeluaaran (BPS,
Gunungkidul Dalam Angka 2013). Hukum Engel menyatakan bahwa dengan
meningkatnya tingkat pendapatan penduduk, maka porsi makanan akan
semakin berkurang. Hasil tersebut menunjukkan masyarakat masih belum
sejahtera, karena makin sejahtera masyarakat, konsumsi non pangan akan
6

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

lebih tinggi dari konsumsi pangan. Pola pembelanjaan yang lebih cenderung
untuk keperluan pangan disini mengindikasikan status ekonomi yang masih
rendah. Perilaku penggunaan anggaran rumah tangga

di Kabupaten

Gunungkidul tahun 2014 seperti pada tabel berikut :


Tabel 2.3
Konsumsi Pengeluaran Rumah Tangga Sebulan Lalu
di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2015
Kelompok Pengeluaran
1. Konsumsi pangan

Rumah Tangga (Rp.)

Padi-padian

203 259

Umbi-umbian

20 171

Ikan

60 172

Daging

114 920

Telur dan susu

71 192

Sayur-sayuran

113 587

Kacang-kacangan

58 924

Buah-buahan

60 709

Minyak dan lemak

50 855

Bahan minuman

63 951

Bumbu-bumbuan

19 703

Konsumsi lainnya

34 525

Makanan dan minuman jadi

283 029

Minuman yang mengandung alkohol


Tembakau dan sirih

163 383
1 308 835

2. Konsumsi bukan pangan


Perumahan dan Fasilitas Rumah Tangga

266 238

Aneka barang dan jasa

322 291

Biaya Pendidikan

47 629

Biaya Kesehatan

42 638

Pakaian dan Sandang Lainnya

65 911

Barang tahan lama

139 252

Pajak, Iuran, dan Asuransi

27 876

Keperluan pesta

236 344

Sumber Data : Gunungkidul Dalam Angka 2014

Konsumsi tembakau dan sirih masih cukup tinggi yang dipengaruhi


oleh jumlah perokok. Konsumsi ikan masih rendah meskipun Kabupaten
Gunungkidul berbatasan langsung dengan laut yang notabene merupakan
7

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

penghasil ikan laut. Alokasi biaya kesehatan tergolong sangat minim


dibandingkan dengan jenis konsumsi lain. Hal ini dimungkinkan karena
adanya jaminan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat khususnya
masyarakat miskin.

Pendidikan dan Agama


Masyarakat yang maju sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan
penduduk. Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2013/2014 memiliki jumlah
sekolah dasar sebanyak 485, Madrasah Ibtidaiyah 77 dengan peserta didik
yang tercatat sebanyak 51.851 murid, sedangkan jumlah siswa tercatat untuk
sekolah lanjutan pertama (SLTP) sebanyak 25.203 murid.
Agama yang dianut oleh penduduk di Kabupaten Gunungkidul terdiri dari
agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu dan Budha. Agama yang dianut sebagian
besar penduduk adalah Islam (96,76%) disusul dengan Kristen (1,53%) dan
Katholik (1,28%).

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
3.1 Umur Harapan Hidup (UHH)
Salah satu indikator derajat kesehatan masyarakat adalah umur harapan
hidup. Demikian pula untuk mengukur indikator Indek Pembangunan Manusia
(IPM) salah satu indikator yang mewakili bidang kesehatan adalah Umur
Harapan Hidup (UHH). UHH di Kabupaten Gunungkidul cukup baik jika
dibandingkan dengan Umur Harapan Hidup rata-rata di Indonesia.
UHH penduduk Gunungkidul pada tahun 2015 sebesar 73,69 tahun
sedikit meningkat dibanding tahun sebelumnya. Rata-rata UHH penduduk
Gunungkidul selama tiga tahun terakhir dipaparkan pada gambar berikut :
Gambar 3.1

Sumber : BPS
Rata-rata Umur Harapan Hidup Penduduk Gunungkidul menunjukkan
angka dibawah rata-rata propinsi DIY tetapi masih tergolong tinggi bila
dibanding dengan angka rata-rata UHH nasional.
3.2 Mortalitas
Jumlah kematian bayi di Kabupaten Gunungkidul pada Tahun 2015
sebanyak 81 kasus, menurun dibanding tahun 2014 (82 kematian) sedangkan
kematian neonatus sebanyak 104 kasus. Angka Kematian Bayi masih
tergolong tinggi bila dibanding dengan Kabupaten lain di DIY, walaupun telah
melampaui target Nasional/MDGs 2015 (17/1.000KH). Penyebab utama
kematian bayi adalah BBLR, premature, dan asfiksia. Jumlah kematian
selengkapnya bisa dilihat pada tabel 5 lampiran.
Kematian ibu merupakan kematian yang terjadi pada saat ibu hamil dan
ibu nifas. Kematian ibu pada tahun 2015 sebanyak 7 kasus (angka kematian
9

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

ibu 85,98/100.000 KH) menurun dibanding tahun 2014 (8 kasus). Penyebab


kematian ibu diantaranya adalah perdarahan dan lokasi kasus banyak terjadi di
rumah sakit. Selengkapnya disajikan pada tabel berikut :
Tabel 3.1
Angka Kematian Bayi dan Kematian Ibu di Kabupaten Gunungkidul
Tahun 2012 2014
Tahun

Mortalitas

Jumlah Kematian bayi


AK Bayi/1000 KH
Jumlah Kematian Ibu
AK Ibu/100.000 KH

2012

2013

2014

2015

Target

65
7,7
9
107

109
13,53
8
99,28

82
10
7
85,98

81
10
7
89,79

Menurun
Menurun
Menurun
150/100.000 KH

Sumber : Dinkes Gunungkidul


AK = Angka Kematian; KH = Kelahiran Hidup;

Gambar. 3.2
Angka Kematian Ibu (per 100.000 Kelahiran Hidup)
di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2005 2015

Bagan 1
Sumber : Dinkes Propinsi dan Dinkes Gunungkidul

Gambar. 3.3
Angka Kematian Bayi (per 1000 Kelahiran Hidup)
di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2006 2014

Sumber : Dinkes Gunungkidul

3.3 Morbiditas
10

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Berikut ini urutan 10 besar penyakit di Kabupaten Gunungkidul yang


tercatat di sistem pencatatan dan pelaporan Puskesmas.
Tabel 3.2
Sepuluh Besar Penyakit di Puskesmas
Kabupaten Gunungkidul Tahun 2015
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Nama Penyakit

Jumlah

J00 Common Cold / Nasopharingitis Akut


I10 Hipertensi Esensial Primer
J06 Infeksi akut lain pada saluran pernapasan bag.Atas
K29 Gastritis and duodenitis
M25 gangguan sendi, Athralgia
L23 Dermatitis Kontak Alergi
J45 Asma
M79 Gangguna jaringan lunak lainnya
K30 Dyspepsia
R50 Demam yang tidak diketahui sebabnya

45.045
35.040
27.351
17.992
14.382
13.443
11.555
8.008
7.494
5.699

%
17,03
13,24
10,34
6,80
5,44
5,08
4,37
3,03
2,83
2,15

Sumber : Rekap LB 1 Puskesmas

Tabel 3.3 menunjukan bahwa

pola penyakit degeneratif seperti

Hipertensi dan Rheumatoid Arthritis ternyata semakin menggeser urutan


penyakit-penyakit infeksi. Penyakit degeneratif banyak terjangkit pada golongan
umur Lansia. Umur harapan hidup yang panjang dan perilaku yang tidak sehat
bisa dimungkinkan ikut andil dalam meningkatnya kasus penyakti degeneratif.
Bila dibandingkan dengan hasil Riskesdas tahun 2010 angka Hipertensi
di Kabupaten Gunungkidul tercatat 12,21% (DIY sebesar 8,53%) dan penyakit
sendi sebesar 39,68% (DIY sebesar 27,03%). Hal ini berarti banyak kasus
penyakit sendi yang tidak berkunjung ke Puskesmas dibanding dengan
Hipertensi.
3.4 Status Gizi
Ada empat masalah gizi masyarakat yaitu : Kurang Energi Protein
(KEP), Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A (KVA), dan Gangguan Akibat
Kekurangan Yodium (GAKY). Cakupan Program Perbaikan Gizi di Kab.
Gunungkidul selama 3 tahun terakhir sebagai berikut:

Tabel 3.3
Cakupan Pemantauan Status Gizi (PSG), KEP, Anemia dan BBLR
di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2013-2015
INDIKATOR

Target
(%)

2013

2014

2015

1. Status Gizi Balita

11

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Buruk

<1%

0,52

0,48

0,52

Kurang

< 20 %

8,01

6,76

6,19

Baik

> 80 %

88,95

90,51

90,91

Lebih

< 3%

2,1

2,26

2,38

2. Kurang Energi Protein (KEP)

KEP Nyata (BGM)

<1%

0,52

0,48

1,69

KEP Total (kurang +buruk)

< 15 %

8,58

7,24

6,71

< 30 %

14,51

14,97

21,88

4. Bumil KEK
< 20 %
Sumber data : Seksi Gizi, Dinkes Gunungkidul

17,43

16,38

15,83

3. Anemia

Ibu Hamil

Berdasar tabel di atas terlihat bahwa Balita gizi buruk di Kabupaten


Gunungkidul Tahun 2014 mengalami penurunan, termasuk juga gizi kurang
menunjukkan angka yang lebih baik. Trend masalah gizi di Kabupaten
Gunungkidul memang menunjukkan penurunan angka, namun masih perlu
diwaspadai untuk gizi lebih dan masalah gizi lain diantaranya masalah gizi
mikro.
Prevalensi anemia ibu hamil dari tahun ke tahun masih belum banyak
mengalami perubahan kearah lebih baik, Pada tahun 2015 mengalami
peningkatan dari 14,97 % pada tahun 2014 menjadi 21,88 % ditahun 2015. Hal
ini menjadi bahan pertimbangan dalam program dan intervensi yang
dilaksanakan. Walaupun menunjukkan angka yang lebih rendah dari target
secara nasional, akan tetapi untuk masalah gizi pada ibu hamil perlu menjadi
perhatian karena bisa menjadi manifestasi berbagai masalah kematian ibu
(anemia, KEK WUS), kematian bayi (BBLR), kematian balita (Gizi Buruk,
penyakit infeksi), penyakit menular dan tidak menular, kecacatan (kurang Zinc,
asam folat, vit A, dll), serta kecerdasan (Yodiol, omega 3, 6 dan 9, dll).

12

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

BAB IV
SITUASI UPAYA KESEHATAN
4.1.

Upaya Kesehatan Ibu dan Anak


1. Upaya Kesehatan Ibu
Upaya kesehatan ibu dilaksanakan dengan sasaran utama adalah ibu
hamil, ibu nifas dan ibu menyusui. Selain itu juga pelayanan terhadap Wanita
Usia Subur (WUS) terutama pelayanan kontrasepsi (KB).
Kunjungan pertama ibu hamil (K1) merupakan kontak pertama ibu hamil
ke pelayanan kesehatan sedangkan K4 merupakan kunjungan minimal 4 kali
ke sarana pelayanan kesehatan yaitu pada trimister satu sebanyak 1 kali,
trimister dua sebanyak 1 kali dan pada kehamilan trimister ketiga sebanyak 2
kali. Cakupan program kesehatan ibu di Kabupaten Gunungkidul ditampilkan
dalam tabel berikut:
Tabel 4.1
Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu
di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2012-2014
Cakupan KIA

Target

2013
(%)

2014
(%)

2015
(%)

Kunjungan ibu hamil (K1)


Kunjungan ibu hamil (K4)

95%

100

100

100

94%

87,9

90,3

89,83

Pertolongan persalinan oleh Nakes

90%

99,8

99,9

99,9

Pelayanan ibu nifas

84%

90,5

92,0

92,6

Ibu hamil resiko tinggi ditangani

74%

82,0

74,9

80,73

Peserta KB aktif (PUS)

81%

78,1

79,0

76,9

Sumber data : Dinkes Gunungkidul


Cakupan kunjungan ibu hamil ke sarana pelayanan kesehatan pada
tahun 2014 mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Cakupan
pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi
kebidanan selama tiga tahun terakhir hampir mendekati angka 100% yang
artinya, sudah sangat jarang pertolongan persalinan yang dilakukan oleh
dukun.
Peserta KB aktif Tahun 2014 mengalami sedikit penurunan dibanding
tahun sebelumnya. Pasangan usia subur menjadi sasaran dalam kepesertaan
KB aktif. Dalam pelaksanaan program KB, fungsi Puskesmas adalah sebagai
pelayanan pemasangan alat kontrasepsi sedangkan ketersediaan alkon
menjadi tanggung jawab Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga
Berencana (BPMP-KB).
2. Upaya Kesehatan Anak
13

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

a. Pelayanan Kesehatan Neonatus, Bayi dan Balita


Sasaran

pelayanan

kesehatan

anak

diantaranya

adalah

neonatus (umur 0 - 28 hari), bayi (0-12 bulan), Balita dan anak prasekolah. Pelayanan dilaksanakan melalui kegiatan preventif, promotif
dan kuratif.
Pelayanan kesehatan Balita dan anak pra-sekolah biasa
dilakukan dengan kegiatan Deteksi Tumbuh Kembang Balita (DTKB)
yang dilaksanakan pada anak Balita dan anak pra-sekolah (PAUD).
Hasil DTKB yang mengalami kelainan/gangguan kesehatan bisa
dirujuk ke Puskesmas maupun Rumah Sakit.
Hasil kegiatan upaya pelayanan kesehatan anak ditampilkan
dalam tabel berikut:
Tabel 4.2
Cakupan Program Kesehatan Anak
di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2013-2015
Cakupan KIA
Kunjungan Neonatus 1 (KN 1)
Kunjungan Neonatus 3 kali (KN lengkap)
Kunjungan Bayi
Bayi diberi ASI ekslusif
Pelayanan anak Balita

2013
(%)
99
92,4
94
56,5
91,4

2014
(%)
99,5
94,5
91,75
59,5
90,0

2015
(%)
99,5
94,1
97,8
58,5
87,5

Sumber data : Dinkes Gunungkidul


Kunjungan neonatus menunjukkan angka yang cukup bagus
pada Tahun 2014 mengalami sedikit kenaikan dibanding Tahun 2013.
Hasil pelayanan kesehatan anak diantaranya, kunjungan bayi
minimal 4 kali pada tahun 2014 mengalami penurunan dibanding dua
tahun

sebelumnya.

Pelayanan

anak

balita

pada

tahun

2015

mengalami penurunan dibanding tahun 2014.


b. Pelayanan Anak Usia Sekolah (SD/MI)
Skrining atau penjaringan kesehatan untuk siswa Sekolah Dasar
dan sederajat dilakukan di seluruh SD/MI sebanyak 564 sekolah,
dengan sasaran utama adalah siswa kelas I SD/MI.

Cakupan

penjaringan kesehatan pada murid SD kelas 1 di Kabupaten


Gunungkidul pada Tahun 2014 sebesar 99,5% dengan rincian menurut
jenis kelamin, untuk laki-laki semua dilakukan skrining (99,6%) dan
cakupan skrining untuk anak perempuan (99,3%). Adanya dana
bantuan operasional kesehatan (BOK) dan dukungan dana dari APBD
sangat membantu capaian hasil skrining di Kabupaten Gunungkidul.
4.2.

Imunisasi.
14

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Sasaran program imunisasi meliputi bayi, anak sekolah dan ibu hamil
serta calon pengantin. Sebagai sasaran utama adalah bayi dengan indikator
Desa dengan UCI (Universal Child Imunization) merupakan target yang akan
dicapai dalam Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan. Desa UCI
adalah desa dengan cakupan imunisasi dasar >97%. Imunisasi dasar terdiri
dari imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatisis B dengan sasaran
utama adalah bayi. Cakupan Desa dengan UCI di Kabupaten Gunungkidul
pada tahun 2014 telah mencapai 100%.
Cakupan imunisasi dasar pada tahun 2014 yang dilaksanakan di
Puskesmas dan jaringannya untuk DPT1 + HB1 (98,9%), DPT3 + HB3
(98,9%) dan Campak (98,2%) dengan drop out rate (0,70%). Sedangkan
untuk BCG (99%). Cakupan imunisasi pada tahun 2014

mengalami

peningkatan. Hal ini dimungkinkan karena kelengkapan dan ketepatan


laporan dari sarana pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta yang
semakin baik. berdasar data dari Puskesmas dapat dilihat pada gambar
berikut :

Sumber : Seksi Surveilans dan Imunisasi Dinkes Gunungkidul


Jenis Imunisasi yang dilakukan pada ibu hamil adalah tetanus toksoid (TT). Cakupan
TT2+ pada ibu hamil pada tahun 2014 di Kabupaten Gunungkidul sebesar 91.5%.
.

PEMBERANTASAN PENYAKIT
1. Pemberantasan Penyakit Menular
a. Demam Berdarah (DB)
Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah endemis Demam
Berdarah.

Jumlah kasus Demam Berdarah di Kabupaten Gunungkidul

pada tahun 2014 sebanyak 379 kasus dan mengalami kenaikan dibanding
jumlah kasus tahun 2013 (310 kasus) maupun tahun 2012 (78 kasus).
15

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Kasus yang ditemukan sebagian berasal dari Rumah Sakit dan


Puskesmas. CFR 4,2%.
Jumlah kasus penyakit Demam Berdarah di Kabupaten Gunungkidul
mengalami fluktuasi pada tiap tahun. Berdasar data dari hasil pencatatan
dan pelaporan Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul selama sepuluh
tahun terakhir, fluktuasi kasus tertinggi terjadi di tahun 2010 (974 kasus)
sedangkan gambar grafik menunjukkan pola peningkatan kasus pada
setiap 3 tahun. Data selengkapnya tersaji dalam gambar 4.2 berikut:
Gambar 4.2
Jumlah Kasus dan Kematian Demam Berdarah
Di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2004-2015

Sumber : Dinkes Kabupaten Gunungkidul

Berdasar gambar 4.2 terlihat bahwa, terjadinya kenaikan jumlah kasus


DB di Kabupaten Gunungkidul yang sangat mencolok pada tahun 2010 dan
turun drastis pada Tahun 2013 dan naik kembali pada tahun 2014.
Peningkatan kasus maupun penurunan kasus mengindikasikan adanya
peran dari terdapatnya vector (nyamuk aedes aegypti), dan virus penyebab
penyakit DBD (virus Dengue) serta perilaku masyarakat yang tidak sehat
atau mungkin juga pemberantasan sarang nyamuk yang kurang berhasil.
Pola penyakit yang tidak menentu ini bisa menjadi bahan pertimbangan
dalam penyelidikan epidemiologi lebih lanjut.
Kasus Demam Berdarah menurut waktu (bulan) pada tiga tahun
terakhir disajikan pada gambar gambar berikut :

16

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Melihat gambar 4.3 dapat dilihat bahwa, pola kasus menurut waktu (bulan)
untuk penderita DBD di Kabupaten Gunungkidul ternyata kenaikan
bermakna terjadi pada Bulan Desember dan Januari.. Dengan demikian,
pada bulan-bulan tersebut perlu diwaspadai terjadinya KLB.
Kasus DBD sangat erat kaitannya dengan curah hujan. Selain itu,
masalah lingkungan, mobilisasi penduduk yang tinggi, serta kepadatan
penduduk juga sangat berperan dalam proses penularan penyakit Demam
Berdarah.
b. Malaria
Pada Tahun 2015 dan selama beberapa tahun terakhir di Kabupaten
Gunungkidul tidak ditemukan kasus baru penyakit Malaria. Berbeda dengan
tahun 2010 yang ditemukan sebanyak 4 kasus yang tersebar di Kecamatan
Karangmojo, Panggang dan Tepus. Kasus Malaria yang ada di Kabupaten
Gunungkidul hampir semua adalah import dari daerah lain.
Walaupun tidak ditemukan kasus Malaria, namun kegiatan surveilans
penyakit menular tetap dilaksanakan, karena mobilitas penduduk yang
berasal dari daerah kasus Malaria maupun tempat perindukan nyamuk
Malaria masih memungkinkan timbulnya kasus baru di Gunungkidul.
e. Kusta
Di Kabupaten Gunungkidul hampir setiap tahun ditemukan penderita
baru penyakit Kusta yang tersebar di beberapa Puskesmas. Ditemukannya
penderita baru sangat dimungkinkan adanya kontak dengan penderita lama.
Pada Tahun 2015 ditemukan kasus baru sebanyak 22 kasus dan tidak
ditemukan kasus baru yang cacat tingkat 2 maupun penderita yang berumur
<14 tahun.

17

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Pada tahun 2015 tercatat ada 22 penderita Kusta yang meliputi jenis
Kusta Multi Basiler (MB) atau Kusta basah sebanyak 20 kasus dan Pousi
Basiler (PB) atau Kusta kering sebanyak 2 kasus. Angka prevalensi per
10.000 penduduk sebesar 0,2. Berdasar jenis kelamin, ternyata kasus Kusta
lebih banyak ditemukan pada jenis kelamin perempuan dibanding laki-laki.
Jumlah penemuan Kusta baru untuk jenis MB tahun 2014 berdasar
jenis kelamin, ternyata didominasi oleh jenis kelamin laki-laki (14 kasus lakilaki dan 2 kasus perempuan).
Pencarian penderita diantaranya melalui kegiatan

kontak survey di

keluarga penderita dan case survey yang dilaksanakan di masyarakat


umum melalui kegiatan mini LEC dengan mengumpulkan masyarakat serta
penjaringan penderita yang datang ke Puskesmas. Gambaran kasus baru
ditemukan di Kabupaten Gunungkidul selama lima tahun terakhir sebagai
berikut:

f. TBC-Paru
Penanggulangan TBC-Paru merupakan salah satu sasaran yang akan
dicapai dalam target Mellenium Development Goals (MDGs) pada tahun
2015.

Penanggulangan

penyakit

TBC

di

Kabupaten

Gunungkidul

dilaksanakan dengan berbagai program yang melibatkan sarana pelayanan


kesehatan pemerintah, sarana kesehatan swasta dan masyarakat umum.
Prioritas program TBC-paru adalah pada golongan umur >15 tahun dengan
hasil pemeriksaan laboratorium dahak dengan BTA (+). Namun demikian,
bila ditemukan kasus TB pada anak tetap harus ditangani.
Case Detection Rate (CDR) atau Angka Penemuan Kasus merupakan
persentase jumlah pasien baru BTA (+) yang ditemukan dan diobati
dibanding jumlah pasien baru BTA (+) yang diperkirakan di suatu wilayah.
Pada tahun 2014, dari target penderita klinis TBC yang diperiksa dahaknya,
ditemukan jumlah kasus baru dengan baksil tahan asam atau BTA (+)
18

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

sebanyak 98 kasus, atau Case Detection Rate untuk BTA (+) tahun 2014
sebesar 4,90% naik dibanding tahun sebelumnya. Angka penemuan ini
masih jauh dibawah target nasional.
Dari 299 penderita TBC yang diobati pada tahun 2014, 249 penderita
dinyatakan sembuh (83,28%) dengan Angka kesuksesan pengobatan
(success rate) sebesar 89,97%
Angka kesembuhan (Cure Rate) adalah angka yang menunjukkan
persentase pasien baru TB dengan BTA (+) yang sembuh setelah selesai
masa pengobatan. Atau hasil pengobatan pada akhir fase pengobatan
lanjutan (2 bulan pengobatan intensif 4 bulan adalah fase lanjutan) diperiksa
dahaknya bila negatif dinyatakan sembuh. Bila penderita tidak bisa
diperiksa dahaknya maka dinyatakan sebagai pengobatan lengkap. Angka
kesembuhan yang baik adalah bila >85 %. Diperoleh angka kesembuhan
pengobatan penderita sebesar 86% dari target >85%. Angka kesembuhan
yang

kurang

dari

target

mengindikasikan

suatu

kegagalan

dalam

pengobatan sehingga berpotensi menimbulkan drop out ataupun resisten


terhadap obat TB.
Error

rate

yaitu

dengan

menghitung

tingkat

kesalahan

baca

pemeriksaan laboratorium sebagai pemantauan mutu pemeriksaan dahak.


Angka ini menggambarkan kualitas pembacaan slide secara mikroskopis
langsung laboratorium pemeriksa pertama. Standart error rate adalah < 5
%. Terjadi penurunan Error rate yang signifikan pada tahun 2015 sebesar 0
%.
Cakupan indikator program TBC Paru di Kabupaten Gunungkidul
selengkapnya sebagai berikut :
Tabel 4.3
Pencapaian Indikator Program TBC-Paru di Kabupaten Gunungkidul
Tahun 2013 2015
No.

Indikator

Case Detection Rate


(CDR)

Conversion Rate

Cure rate

Error Rate

Sukses Rate

2013
( %)
70

2014
( %)
70

42,45

44

Target

80

84

84

Realisasi

86

86

76

Target

85

85

85

77,04

77

83

<5

<5

<5

Realisasi

2,79

Target

> 85

> 85

> 85

84,24

86

86,53

Pencapaian
Target
Realisasi

Realisasi
Target

Realisasi

2015
(%)
70
44

19

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Hasil capaian indikator program TB tahun 2014 rata-rata terjadi


kenaikan kearah yang lebih baik dari pada tahun sebelumnya.
Pengobatan terhadap penderita TBC-Paru diberikan secara cumacuma melalui obat program TB dari Pusat. Keteraturan minum obat pada
penderita TB sangat mempengaruhi keberhasilan pengobatan penyakit
TBC.
g. Penyakit HIV-AIDS
Penyakit HIV-AIDS muncul pertama di Kabupaten Gunungkidul pada
tahun 2005 (1 orang) dan semakin meningkat pada tahun-tahun berikutnya.
Jumlah kasus HIV-AIDS di Gunungkidul yang tercatat pada tahun 2014
sebanyak 34 orang dengan kasus AIDS (15 orang) lebih kecil dibanding
kasus HIV (19 orang) dan jumlah kematian akibat AIDS sebanyak 0 kasus.
Data ini menunjukkan bahwa pasien HIV-AIDS datang ke sarana pelayanan
kesehatan sebagian besar sudah dalam keadaan terlambat.
Sebagian besar penderita telah mendapatkan pengobatan di Rumah
Sakit sedangkan pemantauan tetap dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan
beserta petugas Puskesmas di lokasi penderita.
Dari analisa data kelompok resiko tinggi penularan HIV-AIDS diketahui
bahwa, penyebaran HIV-AIDS banyak diakibatkan oleh perilaku yang tidak
sehat yang cenderung dilakukan oleh : PSK, homosek, pencandu narkoba.
Pada perkembangannya, saat ini penyakit HIV-AIDS ternyata juga banyak
ditemukan pada ibu rumah tangga. Hal ini juga dimungkinkan akibat tertular
dari suami pengidap HIV-AIDS.
Dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyebaran penyakit
HIV-AIDS ini, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul beserta masyarakat
dan swasta melakukan beberapa langkah, antara lain:
-

Melakukan KIE kepada masyarakat terutama kepada kelompok RISTI.

Penyululan melalui kegiatan ABAT (Aku Bangga Aku tahu)

Survielans HIV dengan kegiatan serro survey, untuk memantau


perkembangan kasus termasuk penyebarannya.

VCT di RSUD Wonosari

Pendampingan bagi pengidap HIV atau ODHA (Orang Dengan


HIV/AIDS), termasuk rujukan.

Menjaga

kerahasiaan

penderita

dari

kemungkinan

penolakan

masyarakat dan pelanggaran HAM.


20

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

i.

Membentuk Komisi Penanggulangan HIV-AIDS Daerah (KPAD).

PD3I (Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi)


Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yang dilaksanakan di
Puskesmas antara lain : Diptheri, Portusis, Tetanus Neonatorum, Campak,
Hepatitis B dan Polio.
Pada Tahun 2014 diKabupaten Gunungkidul ditemukan kasus AFP
(acut flacid parallisys) sebanyak 3 kasus, dan tidak ditemukan kasus
campak, diptheri maupun tetanus neonatorum.

2. Penyakit tidak menular.


Penyakit tidak menular banyak diderita oleh penduduk golongan umur
Lansia. Penyakit tidak menular pada tahun 2014 di Kabupaten Gunungkidul
diantaranya adalah: Hipertensi Primer, Gastritis, Asma, Rheumatoid Arthritis,
Gangguan sendi/Athralgia, Gastritis, dan Gangguan lain pada jaringan otot.
Penyakit tidak menular lain yang harus diwaspadai dan jumlah penderita
semakin terlihat mencolok adalah gangguan jiwa.
4.3.

PENYEHATAN LINGKUNGAN
1. Jamban Keluarga.
Sanitasi dasar berkaitan dengan kepemilikan jamban keluarga,
kepemilikan saluran pembuangan air limbah, tempat sampah maupun
penggunaan air bersih. Jenis kepemilikan jamban keluarga di Kabupaten
Gunungkidul terdiri dari sarana jamban komunal, leher angsa, plengsengan
dan cemplung. Jenis leher angsa dan cemplung menduduki urutan tinggi
dibanding jenis jamban yang lainnya.
Kepemilikan jamban keluarga di Kabupaten Gunungkidul pada tahun
2014 dapat dlihat pada gambar berikut:

21

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Gambar 4.5
Jumlah Jamban menurut Jenis Jamban yang Digunakan Keluarga
di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2015

berdasar gambar di atas menunjukkan bahwa semakin banyak rumah tangga


yang menggunakan fasilitas tempat buang air besar berupa WC (Water
Closed) berjenis leher angsa mengindikasikan bahwa kesadaran masyarakat
untuk menggunakan fasilitas tempat buang air besar yang lebih sehat
semakin meningkat.
Berdasar hasil survey BPS (2010) disebutkan bahwa rumah tangga di
Kabupaten Gunungkidul yang menggunakan kloset berjenis leher angsa
mencapai

65,23%.

Angka

ini

merupakan

persentase

terendah

jika

dibandingkan dengan kabupaten/kota se DIY.

3. Sarana Air Bersih dan Sumber Air yang Digunakan


Sumber air bersih dan air minum penduduk di Kabupaten Gunungkidul
terdiri dari ledeng, sumur pompa tangan, sumur gali, penampungan air
hujan (PAH), mata air dan air dalam kemasan. Berdasar hasil kegiatan
kesehatan lingkungan pada tahun 2014 diperoleh angka sebagai berikut :
Tabel 4.4
Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Keluarga
di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2015
No
1
2
3
4
5
6

Jenis Sumber Air


Sumur Gali
Sumur Bur dengan pompa
Terminal air
Mata Air
Penampungan Air Hujan (PAH)
Perpipaan

Jumlah Sarana
47.246
635
1.720
4.272
41.053
47.086

Sumber : Seksi penyehatan Lingkungan Dinkes Kab. Gunungkidul

Berdasar tabel di atas, sumber air yang digunakan keluarga di


Kabupaten Gunungkidul sebagian besar adalah perpipaan disusul dengan
22

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

sumur gali dan berikutnya PAH.


Berdasar data dari BPS (2010) yang menyebutkan bahwa sumur
merupakan sumber air minum yang paling banyak digunakan oleh rumah
tangga adalah sumur (43,36%) sedangkan yang lain rata-rata menggunakan
sumber air dari air hujan (17,50%), ledeng (14,09)% dan mata air (13,76%).
2. Rumah Sehat dan Tempat Umum Sehat
Rumah sehat dan tempat-tempat umum sehat merupakan salah satu
indikator dasar dari program kesehatan lingkungan. Hasil kegiatan program
kesehatan lingkungan di Gunungkidul berdasar data yang peroleh dari
Puskesmas disajikan pada tabel berikut :

Tabel 4.5
Rumah Sehat, TTU dan TPM Sehat di Kabupaten Gunungkidul
Tahun 2014
N
o
1
2
3

Jenis Sarana (target 60%)


Rumah Sehat
Tempat-tempat Umum sehat
(sarana pendidikan, kesehatan, hotel)
Tempat Pengelolaan Makanan
(Restoran/Warung Makan/makanan
jajanan)

2015
63.53%
78,9%
56,52%

Sumber : Seksi Penyehatan Lingkungan Dinkes Kab. Gunungkidul

Cakupan rumah sehat di Kabupaten Gunungkidul pada Tahun 2014


meningkat dibanding tahun sebelumnya, tetapi masih menunjukan angka
kurang dari target yang diharapkan. Perumahan penduduk pada umumnya
berkelompok. Jenis bangunan rumah penduduk umumnya berupa bangunan
perumahan yang permanen/tembok, dan sebagian semi permanen.
Tempat-tempat umum yang terdiri dari sarana pendidikan, sarana
kesehatan dan hotel yang memenuhi syarat kesehatan menunjukkan angka
yang lebih baik dibanding rumah sehat. Sedangkan

untuk tempat

pengelolaan makanan yang sehat masih jauh dari yang diharapkan.


4.5 PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
Bayi, Balita dan ibu hamil/nifas merupakan kelompok sasaran yang
sangat rentan terhadap penyakit dan masalah kesehatan, sehingga program
perbaikan gizi masyarakat banyak diarahkan pada kelompok tersebut.
23

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Program perbaikan gizi yang telah dilaksanakan di Kabupaten


Gunungkidul antara lain: Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI)
untuk anak umur 6 24 bulan, pemberian PMT untuk ibu hamil Kurang Energi
kronis (KEK) pemberitan Vit A, Fe dan Kapsul Iodium.
Pemberian Vitamin A pada Balita diberikan pada dua tahap, yaitu pada
Bulan Pebruari dan Agustus. Distribusi Vitamin A banyak dilakukan melalui
Posyandu. Cakupan pemberian Fe kepada ibu hamil sangat berkaitan
dengan banyaknya kasus anemia yang ada di Kabupaten Gunungkidul.
Bentuk pemberian Fe untuk ibu hamil/nifas berupa TTD (tablet tambah
darah).
Pemberian ASI Thok selama 6 bulan pertama pada bayi berkaitan
dengan perilaku ibu dan keluarga. Intervensi yang dilakukan di bidang
kesehatan lebih mengarah ke KIE (komunikasi, edukasi dan informasi). Data
selengkapnya sebagai berikut:
Tabel 4.6
Cakupan Pemberian Vit. A, Fe3 dan ASI Eksklusif
di Kabupaten Gunungkidul tahun 2012-2014
Intervensi Gizi
Cakupan Pemberian Vit. A pada :
anak Balita (1-4 tahun)

2013

2014

2015

(%)

(%)

(%)

100

100

98,90

86,82

90,22

88,77

56,5

59,5

58,5

Cakupan Bumil mendapat tablet Fe


Fe 3
Cakupan ASI Eksklusif
Sumber : Seksi Gizi, Dinkes Gunungkidul

Cakupan pemberian Vitamin A pada Balita dari tahun ke tahun


menunjukkan angka yang bagus. Cakupan pemberian Fe3 menunjukkan
angka yang semakin meningkat tetapi pada tahun 2013 mengalami
penurunan. Hal ini tidak lepas dari hasil Pemantauan Wilayah Setempat
(PWS) yang dilakukan oleh petugas/Bidan Puskesmas. Cakupan pemberian
Fe yang masih rendah perlu diwaspadai adanya peningkatan angka anemia
pada ibu hamil apabila kecukupan gizi ibu hamil kurang diperhatikan.
Cakupan ASI eksklusif yaitu ibu hanya memberikan ASI saja sampai
dengan umur 6 bulan (E6) atau ASI Thok, selama tiga terakhir menunjukkan
angka ke arah lebih baik.

4.6 PELAYANAN FARMASI


24

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Upaya pengobatan sebagai pelayanan penunjang kesehatan didalamnya


terdapat perlayanan kefarmasian yang meliputi permintaan, pengadaan,
penyimpanan, pemakaian dan distribusi obat,

serta pemusnahan obat

kadaluwarsa.
Dalam hal kecukupan obat di pelayanan kesehatan dasar (Puskesmas)
menurut jenisnya prioritas utama adalah memenuhi obat esensial, termasuk
didalamnya obat program, dan obat generik. Capaian pemenuhan obat di
Puskesmas secara rata-rata pada tahun 2014 telah mencapai >90%, namun
menunjukkan angka yang sangat bervariasi antar jenis obat.
4.7. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN
a. Akses Terhadap Pelayanan Kesehatan
1. Akses Pelayanan Kesehatan Bagi Gakin
Pelayanan kesehatan di Kabupaten Gunungkidul bisa diakses oleh
masyarakat miskin maupun non miskin yang bertempat tinggal di wilayah
Kabupaten

Gunungkidul

maupun

di

berbagai

wilayah

sekitar

Gunungkidul/daerah perbatasan.
Masyarakat miskin yang bisa mengakses pelayanan kesehatan di
instansi pemerintah adalah mereka yang terdaftar dalam Jamkesmas
sebanyak 442.720 jiwa. Bagi masyarakat miskin yang tidak tercakup dalam
Jamkesmas, maka melalui APBD Pemerintah Daerah DIY telah disediakan
dana Jamkesos (86.612 jiwa) dan sejak akhir tahun 2011 di Kabupaten
Gunungkidul telah dikembangkan Jaminan Pelayanan Kesehatan Semesta
(Jamkesta)

yang disediakan melalui dana APBD kabupaten. Sarana

pelayanan yang kerjasama dengan Jamkesta adalah Puskesmas dan


beberapa rumah sakit

di wilayah DIY. Jumlah kepesertaan jaminan

kesehatan masyarakat Kabupaten Gunungkidul tahun 2015 dapat disajikan


pada gambar berikut:

25

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Gambar 4.6
2. Kunjungan Puskesmas
Kunjungan Rawat Jalan
Kunjungan rawat jalan Puskesmas meliputi kunjungan aktif dan pasif.
Kunjungan aktif dilakukan Puskesmas melalui kegiatan Puskesmas Keliling
yang biasanya dipadukan dengan kunjungan ke Posyandu Balita, Posyandu
Usila, atau di Pos-pos tertentu yang telah ditentukan misalnya pos
pelayanan kesehatan di Pasar, Rumah tahanan, sekolah dan sebagainya.
Kunjungan pasien rawat jalan Puskesmas pada tahun 2014 sebanyak
890.174 kunjungan, naik dibanding tahun 2013 (602.176 kunjungan), dan
tahun tahun 2012 (724.798 kunjungan).
Kunjungan Rawat Inap
Jumlah pasien rawat inap di Puskesmas pada tahun 2013 sebanyak
4.422 pasien, naik dibanding tahun 2012 (3.449 pasien). Pasien rawat inap
Puskesmas di Kabupaten Gunungkidul diperoleh data BOR yang sangat
kecil. Hal ini bukan berarti semua puskesmas jumlah pasiennya kecil,
melainkan ada sebagian Puskesmas dengan rawat inap kurang optimal
penggunaanya dan juga ada 2 Puskesmas rawat inap yang dalam kondisi
sedang diadakan rehab berat.
Jumlah pasien yang dirawat di rawat inap di tiga Rumah Sakit Di
Gunungkidul (RSUD Wonosari, RSU Pelita Husada, RSU Nurrohmah) pada
tahun 2013 dan keluar baik hidup maupun mati sebanyak 17.144 atau turun
dari tahun 2012 (24.960 pasien) dan hampir sama dibanding tahun 2011
(17.390 pasien) dengan kunjungan terbesar terdapat pada RSUD Wonosari
dengan Bed Occupancy Rate (BOR) di RSUD Wonosari sebesar 86,11%
26

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

yang mendekati angka batas maksimal yang ditargetkan (85%), sedangkan


BOR di RS Nur Rohmah sebesar 54,88% dan RS Pelita Husada sebesar
37,40%.
b. Mutu Pelayanan
Mutu pelayanan merupakan hal pokok yang menentukan kepuasan
pelanggan. Pelanggan di Puskesmas meliputi pelanggan internal (kayawan
Puskesmas) dan pelanggan eksternal (masyarakat). Dalam rangka
memenuhi standar mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas, maka
beberapa Puskesmas telah diterapkan sistem ISO. Lima Puskesmas telah
memperoleh sertifikat ISO yaitu : Ponjong I, Nglipar I, Wonosari I, Patuk I
dan Panggang II. Untuk Puskesmas yang lain dirintis dengan penerapan
model ISO yaitu dipilih dua Puskesmas (Panggang I, Karangmojo II,
Rongkop dan Semin I).

27

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

BAB V
SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
5.1 SARANA KESEHATAN
Sarana Kesehatan merupakan input bagi berlangsungnya sistem
pelayanan kesehatan. Sarana pelayanan kesehatan meliputi : sarana
kesehatan yang dimiliki pemerintah, sarana kesehatan bersumberdaya
masyarakat dan sarana kesehatan swasta.
Sarana pelayanan kesehatan dasar di Kabupaten Gunungkidul telah
tersebar di seluruh kecamatan. Sarana pelayanan kesehatan pemerintah
yang ada di Kabupaten Gunungkidul terdiri dari 30 Puskesmas dan 110
Puskesmas Pembantu. Dari 30 Puskesmas tersebut, 14 diantaranya
merupakan Puskesmas dengan pelayanan rawat inap dan 16 Puskesmas
non perawatan dengan pelayanan persalinan normal. Sarana Kesehatan
pemerintah yang dimiliki pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dan
BUMN tidak ada di Gunungkidul.
Selain sarana pelayanan kesehatan pemerintah, di wilayah Kabupaten
Gunungkidul juga telah banyak berdiri sarana pelayanan kesehatan swasta
yang meliputi: Rumah Sakit swasta, Balai Pengobatan (BP), Bidan Praktek
swasta (BPS), Rumah Bersalin (RB) dan dokter praktek. Juga sarana
kesehatan penunjang seperti : apotik, laboratorium klinik, dan optical.
Sarana kesehatan yang bersumberdaya masyarakat meliputi Polindes
dan Posyandu (1.465 Posyandu).
5.2 TENAGA KESEHATAN
Tenaga kesehatan adalah mereka yang bekerja di instansi kesehatan
pemerintah dan berlatar belakang pendidikan kesehatan. Tenaga kesehatan
yang ada di Kabupaten Gunungkidul tersebar di Dinas Kesehatan, Rumah
Sakit Umum Daerah Wonosari, Puskesmas dan UPT Laboratorium. Jenis
tenaga kesehatan di Kabupaten Gunungkidul terdiri dari Dokter, Bidan,
Perawat, Nutrisionis, Sanitarian, Kesehatan Masyarakat, Analis Kesehatan,
dan Teknisi Kesehatan.

28

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Kecukupan tenaga dokter spesialis perbandingannya adalah 4,7 dokter


spesialis/100.000 penduduk. Rasio dokter yaitu 14,40 dokter/100.000
penduduk. Rasio dokter gigi yaitu 5,29 dokter gigi/100.000 penduduk. Rasio
tenaga dokter yang terhitung merupakan dokter yang bekerja di RSUD
Wonosari dan yang bekerja di Puskesmas. Rasio dokter dan dokter gigi
menurun dibanding tahun sebelumnya karena adanya beberapa dokter yang
pindah dari Gunungkidul sementara belum ada penggantinya.
Paramedis terdiri dari paramedis perawatan dan non perawatan.
Paramedis perawatan meliputi bidan dan perawat, sedangkan paramedis
non perawawatan meliputi tenaga gizi/nutrisionis, sanitarian, farmasi. Rasio
tenaga perawat pada tahun 2014 di Kabupaten Gunungkidul yaitu 58,49
perawat/100.000 penduduk. Rasio Bidan yaitu 48,36 bidan/100.000
penduduk. Rasio tenaga perawat mengalami penurunan dibanding tahun
sebelumnya. hal ini karena banyaknya perawat yang pensiun, tetapi sudah
beberapa tahun terakhir tidak ada recrutment pegawai. Data Rasio tenaga
paramedis selengkapnya terdapat pada lampiran tabel 74-76.
Tenaga kefarmasian di Puskesmas belum mencukupi (baru 26
Puskesmas) dan belum ada yang berlatar pendidikan tenaga Apoteker.
Rasio tenaga kefarmasian terhadap 100.000 penduduk di Kabupaten
Gunungkidul sebesar 6,91 orang/100.000 penduduk.
Tenaga Gizi menjadi hal penting dalam penyelenggaraan program
perbaikan gizi masyarakat di wilayah Puskesmas. Pemenuhan tenaga
nutisionis di Puskesmas Kab. Gunungkidul masih belum memenuhi target
(baru ada 27 Puskesmas yang ada tenaga nutrionis dari 30 Puskesmas).
Pemenuhan

tenaga

kesehatan

menjadi

agenda

dalam

upaya

pencapaian target-target program pembangunan kesehatan seperti yang


tercantum dalam target RPJM maupun target SPM Bidang Kesehatan dan
target program maupun kegiatan.
5.3 PEMBIAYAAN KESEHATAN
Biaya kesehatan yang bersumber dari pemerintah di Kabupaten
Gunungkidul bersumber dari APBD Kabupaten, APBD Provinsi dan APBN.
29

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Alokasi anggaran terbesar untuk biaya kesehatan berasal dari APBD


Kabupaten (83,14%)

dan hampir setengah biaya tersebut dipergunakan

untuk gaji pegawai/Belanja tidak langsung. Sumber dana berikutnya adalah


APBN yang terdiri dari dana dekonsentrasi yang diberikan melalui Provinsi,
dana Jamkesmas (APBN) dan dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)
melalui dana tugas pembantuan (APBN).
Walaupun demikian, pembayaran langsung dari masyarakat untuk
memperoleh pelayanan kesehatan yang dikenal dengan out of pocket
payment (OOP) tentu juga tidaklah sedikit.
5.4 SUMBER DAYA KESEHATAN LAINNYA.
1. Posyandu
Peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan bisa kita lihat
antara lain dari kegiatan Posyandu. Posyandu yang ada di masyarakat
adalah Posyandu Balita dan Posyandu Lansia. Kegiatan Posyandu yang
banyak dilakukan

di masyarakat adalah penimbangan Balita yang

didukung dengan program peningkatan Gizi berupa pemberian makanan


tambahan (PMT). Penjaringan

kasus gizi buruk pada Balita banyak

ditemukan melalui kegiatan penimbangan di Posyandu. Selain itu


kegiatan pemberian Vitamin A dan Fe juga banyak disalurkan melalui
Posyandu.
Jumlah Posyandu Balita aktif yang terdaftar di Kabupaten
Gunungkidul pada tahun 2014 sebanyak 1.285 Posyandu dari 1.465
Posyandu yang ada (87,71%).
Posyandu menurut strata dikelompokkan menjadi 4 strata meliputi
Posyandu

Pratama,

Madya,

Purnama

dan

Mandiri.

Tingkatan

perkembangan Posyandu yang menjadi harapan adalah tingkat Purnama


atau Mandiri dimana cakupan kegiatan Posyandu sudah mencapai > 50
% (KIA, KB, Imunisasi, cakupan D/S). Selain itu masih ada indikator
tambahan lain yaitu adanya program tambahan dan dana sehat. Data
selengkapnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

30

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Gambar 5.1
Strata Posyandu di Kabupaten Gunungkidul Tahun 2015

2. Desa Siaga
Desa siaga aktif menjadi salah satu indikator dari Standar
Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan, sejak ditetapkan SPM
tahun 2003 dan juga SPM Bidang Kesehatan tahun 2008. Untuk itulah
beberapa tahun terakhir diupayakan capaian target dari Desa Siaga di
Kabupaten Gunungkidul. Cakupan desa siaga di Kabupaten Gunungkidul
tahun 2014 sebesar 100% yang terdiri dari desa siaga Pratama 60,4%,
Madya 22,9%, Purnama 9,8%, Mandiri 6,9%.

31

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

BAB VI
KESIMPULAN
1.

Kondisi Umum Daerah


Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah pegunungan yang berbukitbukit dengan luas wilayah hampir setengah dari luas DIY(46,63%). Secara
administratif wilayah Gunungkidul terbagi menjadi 18 kecamatan dan 144
desa. Mata

pencaharian penduduk yang sebagian besar adalah petani

yang mengandalkan pengolahan tanah pertanian dengan air hujan.


2.

Angka Harapan Hidup


Angka Harapan Hidup penduduk Kabupaten Gunungkidul (71,04 tahun).
Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata nasional tetapi masih
dibawah angka rata-rata Pemerintah Daerah DIY.

3.

Angka Kematian ibu dan bayi


Angka kematian ibu pada tahun 2014 sebesar 7/100.000 KH dan Angka
Kematian Bayi sebesar 10/1.000 KH. Angka kematian ibu terjadi penurunan
dibandng tahun selemumnya sedangkan angka kematian bayi juga
mengalami penurunan.. Angka kematian ibu dan kematian bayi di
Kabupaten Gunungkidul masih termasuk tinggi dibanding rata-rata di DIY
tetapi tetapi masih dibawah angka Nasional.

4.

Angka Kesakitan
Dominasi penyakit yang terjangkit pada penduduk Kabupaten Gunungkidul
adalah Common Cold/nasopharing akut disusul dengan Hipertensi. Data
menunjukkan bahwa pola penyakit infeksi semakin tergeser oleh penyakit
non infeksi/penyakit degeneratif.

5.

Status Gizi
Persentase gizi buruk pada Balita di Kabupaten Gunungkidul pada tahun
2014 sebesar 0,48% sedangkan Gizi kurang sebesar 6,76%. Angka gizi
buruk sudah mencapai target dibawah standar nasional yaitu kurang dari
1%. Angka Gizi Buruk di Kabupaten Gunungkidul mengalami penurunan,
demikian pula Angka Gizi Kurang juga mengalami penurunan dibanding
tahun sebelumnya.

6.

Upaya Kesehatan Ibu


32

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Cakupan kunjungan ibu hamil K1 (100%) dan K4 (90,34%) sudah cukup


bagus, tetapi untuk K4 mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya.
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 99,93%
dan pelayanan ibu nifas sebesar 91,99%. Cakupan pelayanan kesehatan
ibu pada tahun 2014 tidak banyak mengalami peningkatan dibanding tahun
sebelumnya.
7.

Upaya Kesehatan Anak


Cakupan bayi diberi ASI ekslusif pada tahun 2013 (59,46%) dan cakupan
pelayanan anak Balita (90,0%) menurun dibanding tahun sebelumnya, tetapi
kunjungan bayi dan kunjungan Neonatus sedikit mengalami kenaikan.

8.

Imunisasi
Cakupan imunisasi dasar di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2014
menunjukkan kenaikan angka dibanding tahun sebelumnya, sedangkan
Desa UCI (Universal Child Imunization) bisa mencapai angka 100% .

9.

Pelayanan Pengobatan/perawatan
Angka kunjungan rawat jalan dan rawat inap Puskesmas mengalami
penurunan dibanding tahun sebelumnya. Kunjungan Puskesmas dan RSU
didominasi oleh pasien maskin yang ditanggung oleh jaminan kesehatan
(Jamkesmas, Jamkesos dan Jamkesta)

10.

Pemberantasan Penyakit Menular


Penyakit menular yang tepantau di Kabupaten Gunungkidul tahun 2014
meliputi: DBD, Malaria, Diare, Kusta, TBC Paru, HIV-AIDS, Filariasis, AFP,
Flu burung, dan ISPA khususnya Pneumonia.

Kasus DBD di Kabupaten Gunungkidul pada tahun 2014 (379 kasus)


dengan jumlah kematian kasus seabnyak 2 orang. Jumlah kasus DBD
tahun 2014 meningkat dibanding tahun sebelumnya.

Jumlah penemuan penderita baru TBC dengan BTA (+) pada tahun 2014
sebanyak 98 kasus, terjadi penurunan dibanding tahun 2013.

Kasus HIV-AIDS pada tahun 2014 sebanyak 34 orang dengan jumlah


kasus HIV lebih besar dibanding kasus AIDS. Hal ini menunjukkan
bahwa penderita sebagian besar datang ke sarana pelayanan kesehatan
lebih baik, dimana kasus AIDS lebih besar dari HIV pada tahun 2013.
33

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Penemuan kasus penyakit Kusta menunjukkan angka yang hampir sama


dengan tahun-tahun sebelumnya.

11.

Penyehatan Lingkungan
Jenis jamban yang digunakan oleh penduduk Gunungkidul sebagian besar
adalah jamban leher angsa dan amban cemplung, sedangkan sarana air
bersih yang banyak digunakan adalah jenis sarana berupa sumur gali dan
Penampungan Air Hujan (PAH).
Cakupan rumah sehat tahun 2014 sebesar 67,08%, tidak banyak
mengalami kenaikan dari tahun-tahun sebelumnya.

12.

Perbaikan Gizi Masyarakat


Cakupan pemberian Vit A pada Balita di Kabupaten Gunungkidul tahun 2014
menunjukkan angka 100% dan pemberitan Fe 3 pada ibu hamil sebesar
90,22%. Terjadi peningkatan cakupan pada pemberian ASI Eksklusif pada
tahun 201 (59,5%).

13.

Pelayanan Farmasi
Pelayanan farmasi berupa obat dan bahan medis habis pakai ke seluruh
Puskesmas menunjukkan angka cukup bahkan terjadi sisa stok yang masih
banyak pada beberapa jenis obat. Hal ini juga dipengaruhi adanya
penurunan jumlah kunjungan pasien ke Puskesmas pada tahun 2014.

14.

Akses dan Mutu Pelayanan


Akses pelayanan kesehatan dari segi biaya untuk penduduk Gunungkidul
tahun 2014 bisa difasilitasi dari Jamkesmas, Jamkesos, Jamkesta, dan
BPJS.
Peningkatan mutu pelayanan Puskesmas diterapkan dengan system
Puskesmas ISO di lima Puskesmas dan system manajemen mutu di di
beberapa Puskesmas.

15.

Sumberdaya Kesehatan
Sumberdaya kesehatan diantaranya adalah sumber daya manusia, sarana
prasarana dan dana.
beberapa tahun terakhir di Kabupaten Gunungkidul tidak ada rekrutment
pegawai sehingga Ratio SDM kesehatan dengan penduduk sebagian
tenaga belum tercukupi.
34

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

Demikian secara umum gambaran program pembangunan kesehatan di


Kabupaten Gunungkidul tahun 2014. Banyak hal yang belum tersajikan pada
lampiran guna memberikan gambaran pembangunan kesehatan yang lebih detil
karena keterbatasan data yang tersedia. Dari serangkaian data profil kesehatan
Gunungkidul yang disajikan dapat diringkas bahwa derajad kesehatan
masyarakat Gunungkidul yang ditunjukkan dengan indikator pokok : UHH, AKI,
AKB dan status gizi menunjukkan angka derajat kesehatan masyarakat yang
cukup baik. Namun Kabupaten Gunungkidul masih tetap harus waspada pada
beberapa capaian kesehatan tertentu di luar indikator pokok, maupun indikator
Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan indikator MDGs (Milenium Development
Goals ).
Akhirnya,

semoga

profil

ini

bermanfaat

bagi

pihak-pihak

yang

berkepentingan dan dapat dipakai sebagai referensi dalam perencanaan


maupun evaluasi hasil pembangunan kesehatan di Kabupaten Gunungkidul.

35

Profil Dinas Kesehatan Kab. Gunungkidul Tahun 2016

LAMPIRAN

36