Anda di halaman 1dari 16

Akuakultur Engineering

I.

PERENCANAAN UMUM DAN PEMILIHAN LOKASI AKUAKULTUR


1.1.

1.
2.

3.
4.
5.
6.
7.

STRATEGI MEMILIH LOKASI UNTUK KOLAM/TAMBAK

Keberhasilan suatu usaha akuakultur tergantung pada besarnya


lokasi yang tepat bisa dikembangkan untuk berbagai kegiatan
akuakultur (baik pembesaran maupun pembenihan). Berbagai tulisan
telah dipublikasikan terkait dengan kesesuaian lokasi akuakultur, baik
di air tawar maupu air payau/laut. Tulisan ini berusaha untuk
mengkombinasi dan meringkas faktor-faktor yang patut diperhatikan
saat melakukan pemilihan lokasi dalam sebuah proyek akuakultur.
Mendapatkan lokasi yang baik sangat penting dalam akuakultur,
karena sangat menentukan keberhasilan usaha nantinya. Tata letak
dan manajemen kegiatan akuakultur sangat dipengaruhi kondisi lokasi
yang dipilih. Di mana, lokasi tersebut akan mempengaruhi hal-hal
berikut ini :
Biaya konstruksi
Kemudahan dalam pengelolaan kolam
Jumlah ikan yang dapat diproduksi
Keadaan ekonomi usaha secara keseluruhan
Sebelum memulai untuk mencari lokasi, kita sudah harus memiliki
konsep yang jelas tentang tipe sistem akuakultur yang akan dibangun.
Berikut ini adalah hal-hal yang harus dipikirkan secara sistematis
(berurutan)1 sebelum memulai usaha akuakultur, yakni :
Level produksi yang ingin dicapai. Apakah hanya untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari (subsistence)? atau skala komersial ?.
Jika komersial, sistem akuakultur apa yang akan diadopsi ? apakah :
Ekstensif atau intensif ?
Satu atau beberapa spesies ?
Musiman atau sepanjang tahun?
Apakah nanti akan menggunakan pupuk atau pakan, atau keduaduanya?
Spesies ikan apa yang akan diproduksi ? dan ukuran berapa yang akan
di jual?
Apakah akan membeli bibit ? atau membenihkan sendiri ?
Apakah akan memadukannya dengan komoditas pertanian/peternakan
lainnya ?
Jika ya, area yang mana yang ingin lebih dahulu dikembangkan?
apakah pada fase berikutnya atau bersamaan?.
Jika kita tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di
atas, bisa meminta bantuan pada Dinas Perikanan terkait, atau ke
konsultan akuakultur, atau bertanya pada pembudidaya yang lain, apa
pilihannya ? dan mengapa ?.

1 FAO. 2006. Simple Methods for Aquaculture


Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

Gambar

1.
Siklus
metode
pengambilan
merencanakan lokasi akuakultur

keputusan

dalam

A. FAKTOR EKOLOGIS2
1. Ketersediaan Air
Memastikan suplai air yang cukup, baik kuantitas maupun
kualitasnya merupakan faktor yang paling penting ketika memutuskan
kesesuaian sebuah lokasi akuakultur. Oleh karena itu, survey
keberadaan sumberdaya air harus dilakukan secara menyeluruh di
sekitar lokasi. Sebaiknya harus ada ijin dari pihak berwenang terkait
dengan jumlah air yang akan digunakan.
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan pada saat melakukan
survey dalam memilih lokasi akuakultur, yakni :
1. Suplai air, kualitas tanah, dan topografi lokal
2. Jika karakteristik di atas tidak sesuai, maka kita harus tahu
apakah
bisa
dilakukan
perubahan
rencana
atau
rekayasa/modifikasi agar kondisi tersebut menjadi sesuai dengan
yang dikehendaki?
3. Penting untuk diketahui bahwa ketika melakukan survey yang
detail atas suatu lokasi, ada saja ditemukan hal-hal yang tidak
sesuai dengan yang direncanakan.
4. Untuk suplai air, penting sekali bagi sistem akuakultur untuk
mendapatkan air yang berkualitas baik dan tersedia sepanjang
tahun. Untuk itu ada 2 hal yang harus dipikirkan, yakni :

2 J. Kovari. 1984. Inland aquacultural engineering : Consideration in the


selection of sites for aquaculture. FAO. UN. Rome. Italy
Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

a. Berapa jumlah air yang diperlukan untuk menjalankan usaha


akuakultur, perkirakan juga jumlah air yang hilang karena
bocor/merembes (seepage losses) dan yang hilang karena
penguapan (evaporation).

b. Bagaimana menyediakan suplai air, jika memungkinkan


sebaiknya membuat tandon (reservoir) sendiri untuk
menampung air.
5. Akan lebih baik mendapatkan suplai air secara grafitasi. Jika
harus menggunakan pompa maka diupayakan dalam jarak yang
minimal, khususnya tinggi/kedalaman air yang harus dipompa
(semakin tinggi semakin besar daya yang dibutuhkan).
6. Sumber air harus bebas dari dedaunan, ranting-ranting kayu,
plastik, dan sampah lainnya. Selain itu, air harus bebas dari
kontaminasi pestisida yang mungkin berasal dari lahan
pertanian maupun bebas dari polutan lain yang berasal dari
industri lokal.
Sumber-sumber air untuk akuakultur bisa berasal dari kanal-kanal
irigasi, sungai, parit, waduk, danau, mata air, air hujan, runof, dan air
tanah. Air dapat dialirkan melalui saluran yang dibuat khusus, tandon,
dan pipa baik dialirkan secara grafitasi maupun dengan pompa, namun
sebaiknya secara grafitasi karena akan lebih ekonomis. Untuk kolah
tanah, aliran sumber air minimum adalah 5 L/detik/ha sepanjang
tahun.
Jika sumber air berasal dari runof atau air hujan, maka diperlukan
reservoir untuk menangkap dan menyimpan air, dengan perbandingan
10 15 ha catchment area untuk mengairi 1 ha kolam, sedikit lebih
tinggi untuk tanah yang masih hijau dan sedikit lebih rendah untuk
tanah yang baru ditanami (Hora, 1962 dalam FAO, 1984).
Untuk saluran air harus diinvestigasi lebih hati-hati selama
pemilihan lokasi akuakultur. Saluran drainase secara grafitasi akan
lebih baik. Untuk mengeringkan kolam secara grafitasi, bagian dasar
kolam harus lebih tinggi dari pada level maksimum permukaan air
diluar kolam, hal ini untuk memudahkan ketika panen.

2. Kualitas Air
Kualitas air adalah salah satu faktor yang paling signifikan untuk
diperhatikan dalam pemilihan lokasi akuakultur. Hal ini harus

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

diinvestigasi dengan mengambil sampel air dari sumber air yang sudah
ditentukan untuk dianalisis di laboratorium baik parameter fisik, kimia,
biologi, dan mikrobiologi, termasuk zat-zat yang membahayakan
kesehatan. Prosedur pengujian air harus berdasarkan pada klasifikasi
standar kualitas air yang ditetapkan oleh pemerintah, misalnya SNI
(Standar Nasional Indonesia) terkait dengan jenis ikan yang
dibudidayakan atau PP. No. 82 tahun 2001, tentang baku mutu air.
Untuk tujuan produksi, diharuskan untuk menguji parameter
kualitas air berikut ini :
Fisik : suhu, warna, bau, kekeruhan, kecerahan, dan Total
Suspended Sloid (TSS)
Kimia
: pH, Oksigen terlarut (DO), Biochemical
oxygen demand (BOD), karbon dioksida bebas,
alkalinitas, salinitas, TDS, ammonia, dan semua yang
sifatnya berguna maupun yang berracun (toksik). Serta
perlu juga mengamati apakah terdapat kemungkinan
adanya polutan dari kawasan pertanian dan industri.
Biologi
: kualitas dan kelimpahan plankton
Mikrobiologi : spesies dan jumlah parasit atau mikrobial merugikan
yang ada
3. Iklim
Faktor-faktor iklim yang penting untuk diperhatikan bisa diperoleh
dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) setempat, faktor tersebut
meliputi :

Rata-rata suhu bulanan

Rata-rata curah hujan bulanan

Rata-rata kelembaban udara bulanan

Rata-rata penguapan bulanan

Rata-rata cuaca cerah bulanan

Rata-rata arah dan kecepatan angin bulanan


Semakin lama periode data yang tercatat, akan semakin baik data
tersebut.

Informasi pola hujan (maksimum setiap 24 jam) dan kecelakaan


karena angin kencang, badai, dan topan harus pula diperhatikan.

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

Kecelakaan dan jumlah kerusakan karena badai atau gempa bumi di


lokasi akuakultur yang diinginkan harus pula dicatat.

4. Karakteristik Hidrologi
Pada umumnya, data hidrologi yang dibutuhkan untuk pemilihan
lokasi akuakultur ini dapat diperoleh dari Sub Dinas Irigasi dan
Pengairan Dinas Pekerjaan Umum. Data yang dibutuhkan, berupa ;
topografi lahan, aliran air keluar (discharge), banjir, kemiringan air
yang keluar dari sumbernya (sungai, saluran irigasi, waduk, mata air,
dll).
5. Karakteristik Tanah (Soil)
Survei lapangan untuk menentukan kondisi tanah di permukaan
maupun di bawah permukaan harus dilakukan seawal mungkin. Kondisi
tanah haruslah sesuai, baik untuk konstruksi kolam maupun untuk
operasionalnya.
Dalam memilih tanah yang baik untuk akuakultur, secara umum
faktor-faktor yang harus diperhatikan, antara lain :
a. Hindari lokasi yang berbatu-batu, berkerikil, batu pasir, dan
batu kapur.

b. Hati-hati dengan tanah berpasir dan termite mounds

Perlu dicatat bahwa meskipun sedikit, lapisan material seperti;


kerikil, pasir, dan tanah lempung yang asam bisa menjadi masalah.

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

Teknik yang digunakan untuk memeriksa keadaan tanah cukup


sederhana, melalui pemeriksaan visual dan uji laboratorium.
Pemeriksaan visual hanya langkah awal, untuk mendapatkan data
tanah di bawah permukaan (sub-surface) dilakukan penggalian dengan
ukuran lebar 0.80 1.50 m dan kedalaman 1.50 - 2.0 m, tergantung
pada bentuk tanah dan kemiringannya dari permukaan air.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk setiap hektar dari lokasi sehingga
memungkinkan untuk mendapatkan sampel tanah yang baik untuk
setiap lapisannya di dalam tanah.
Karakteristik tanah dengan mudah dapat diamati dan diraba. Uji
visual dilakukan pada laboratorium yang tepat untuk mendapatkan
contoh dari tanah dasar (basic soil properties). Tanah liat berpasir
sampai liat berlempung adalah tipe tanah terbaik, baik untuk
konstruksi maupun untuk menumbuhkan pakan alami di dasar kolam.
Area dengan lapisan tanah organik yang ketebalannya lebih dari
0.60 m tidak sesuai untuk semua jenis ikan. Hal itu akan sangat
menyulitkan untuk menjaga level air karena mudah merembes, juga
penting untuk memindahkan tanah yang sesuai untuk konstruksi
tanggul.
Secara umum, lokasi yang akan sesuai untuk konstruksi kolam
adalah jika tanah dasarnya memiliki ukuran butiran yang dapat
diplotkan ke kiri pada kurva A. dengan koefisien permeabilitas (k)
kurang dari 5 10-6 m/sec. Tanggul tanpa inti tanah liat bisa saja
dibangun dari tanah yang memiliki kurva ukuran butiran yang
diplotkan di antara kurva A dan B atau memiliki koefisien permeabilitas
antara k = 5 10-6 and 1 10-4 m/sec (MI., 1972 dalam FAO, 1984).
Tabel semilogaritma kurva ukuran butiran tanah

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

Tanah liat bisa digunakan sebagai inti penahan rembesan air di


tanggul dengan batas kadar air < 80 %, batas plastik < 20 %, dan
indeks plastisiti < 30 %. Cara lain adalah dengan menggunakan batas
klasifikasi, kelompok tanah berikut ini adalah yang sesuai untuk untuk
konstruksi tanggul. Plot karakteristik tanah sebagaimana ditampilkan
pada tabel di bawah ini.
Kode

Stabilitas Tanggul

Permeabilitas
cm/sec

GM

Sangat stabil; bisa digunakan untuk inti tanggul


dan lapisan luar kolam

10-3 to 10-6

GC

Cukup stabil; bisa digunakan untuk inti tanggul

10-6 to 10-8

SM

Cukup stabil; bisa digunakan untuk inti tanggul


atau tanggul

10-3 to 10-6

SC

Kurang stabil; digunakan untuk inti tanggul

10-6 to 10-8

ML, MI Tidak stabil; bisa digunakan untuk tanggul


dengan kontrol yang sesuai

10-3 to 10-6

CL, CI Stabil; bisa digunakan untuk inti tanggul dan


lapisan luar kolam

10-6 to 10-8

CH

Cukup stabil dengan kemiringan yang rata; bisa


digunakan untuk inti tanggul, lapisan luar
kolam, dan tanggul

10-6 to 10-8

Untuk tujuan pembesaran, analisis kimia tanah harus dilakukan


dengan menggunakan sampel yang bisa mewakili setiap lapisan tanah
yang berbeda. Secara umum; pH, nutrien seperti fosfor, potasium,
karbon organik, dan nitrat, dll dapat ditentukan dengan analisis kimia
tanah.
6. Kondisi Lahan (Land)/Topograf
Kondisi topografi lokal akan sangat mempengaruhi tipe kolam
yang akan dibangun. Hal ini berdasarkan atas studi profil longitudinal
dan cross-sectional area. Terkait dengan topografi, maka kriteria lahan
yang baik adalah :
a. Lahan agak miring (0,5 3 %), tapi tidak terlalu curam hingga
lebih dari 5 %, sehingga drainase air memungkinkan secara
grafitasi.
b. Untuk kolam yang dibangun pada dataran rendah (lembah),
maka lahan harus dipastikan bebas banjir, maksimum
ketinggian air dari data 10 tahun terakhir tidak melebihi tanggul
kolam.

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

c. Tidak terlalu banyak melakukan penggalian/pemindahan tanah


(earthwork)

d. Mudah menyeimbangkan antara lahan yang digali dengan lahan


yang ditimbun
e. Lahan dengan bentuk teratur (regular) dan cukup luas untuk
rencana perluasan kolam sangat cocok untuk lahan budidaya
ikan.
f. Penting untuk mengetahui rencana pengembangan kawasan
tersebut. jangan memilih kawasan budidaya ikan yang natinya
akan ada aktivitas industri atau lokasi padat penduduk yang
akan bisa mencemari air dan udara. Namun demikian, beberapa
limbah industri dan pertanian bisa dimanfaatkan untuk
akuakultur yang perlu juga dipertimbangkan.
g. Di bawah Lahan juga tidak boleh menjadi perlintasan pipa
minyak/gas, kabel listrik tegangan tinggi, dan tiang-tiang radio.
Karakteristik lain yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi
adalah :
7. Tutupan vegetasi.
Tipe dan kepadatan vegetasi tergantung pada elevasi lahan.
Vegetasi juga adalah indikator tipe tanah dan ketinggian dari
permukaan air. Tipe dan kepadatan vegetasi, ukuran dan sistem
perakaran tanaman besar menentukan metode pembersihan lokasi,

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

untuk itulah menjadi pertimbangan terkait dengan waktu dan biaya


konstruksi. Padang rumput, bekas sawah, tanah hutan, atau tanah
yang ditutupi semak belukar biasanya lebih murah daripada tanah
dengan hutan lebat atau daerah rawa dengan pepohonan yang tinggi.
Namun demikian, pada daerah dengan kondisi angin yang kencang
sangat diperlukan vegetasi yang tebal sebagai area penahan/pemecah
angin.
B. FAKTOR OPERASIONAL DAN BIOLOGIS
Sebelum lahan digunakan, hal-hal berikut ini harus ditentukan lebih
dahulu, yakni :
Spesies yang akan dibudidayakan
Sumber dan ketersediaan bahan (induk dan benih)
Tipe akuakultur yang akan dilakukan : skala kecil atau skala besar
Sistem budidaya yang diterapkan : extensif, semi-intensif, dan
intensif
Metode operasionalnya : monokultur, polikultur, terpadu.
Target produksi
Perkirakan ukuran lahan/area yang diperlukan.
C. FAKTOR SOSIAL DAN EKONOMI
Faktor sosial ekonomi yang harus dipertimbangkan adalah sebagai
berikut :
a. Rencana pengembangan kawasan kegiatan akuakultur
b. Kepemilikan, ketersediaan dan harga lahan, kepemilikan lahan dan
surat ijin usaha.
c. proximity to all-weather road connections
d. ketersediaan listrik, layanan dan suplai bahan/alat yang diperlukan
e. ketersediaan material konstruksi
f. lokasi pasar untuk menentukan produksi dan permintaan
g. ketersediaan pupuk organik dan buatan, obat-obatan dan bahan
kimia.
h. Ketersediaan pakan tambahan
i. Biaya peralatan, bahan, pakan, dll yang diperlukan untuk
menjalankan kegiatan akuakultur.
j. Ketersediaan sarana transportasi
k. Ketersediaan es untuk pemasaran
l. Ketersediaan staf dengan pengalaman yang cukup untuk
manajemen akuakultur
m. Ketersediaan tenaga teknis yang terlatih
n. Ketersediaan sarana pendukung staf seperti; sekolah, pasar, rumah
sakit, dll
o. Adanya informasi terhadap lembaga keuangan lokal
p. Ada Keinginan politik dari pemerintah, ini penting terkait dengan
subsidi, infrastruktur penunjang, dll.

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

1.2. EVALUASI POTENSI LOKASI YANG SUDAH DITENTUKAN


Berikut ini adalah metode cepat untuk mengetahui potensi lokasi
yang sesuai bagi kebutuhan akuakultur, yaitu :
1. Diperlukan informasi profil wilayah yang akan dibuat kolam
2. Survei di lapangan akan lebih mudah jika sebelumnya kita
memiliki studi awal dari peta topografi lokasi skala 1 : 500.000
sebagai contoh. Dari tipe lembah dan profil longitudinal kita
dengan cepat memutuskan tipe kolam yang akan dibangun
3. Jika kolam bendungan (barrage pond) yang ingin dibuat, maka
dapat diperkirakan area drainasenya dan sumber air dari
runof.
4. Tersedianya akses jalan. Jika sudah ada jalan, namun terlalu
jauh, maka potensi lokasi tersebut bisa berkurang karena
biaya pembangunan jalan.
5. Jika tersedia jenis peta yang lain seperti; peta tanah dan peta
hidrologis akan sangat berguna.

Contoh peta topografi skala 1 : 500.000. label merah menunjukkan


lokasi yang sesuai untuk membangun kolam.
Jika sudah ditemukan lokasi yang diinginkan, maka terdapat
beberapa hal yang harus kembali dievaluasi (reconnaissance survey),
yaitu :
1. Ketersediaan suplai air
2. Kualitas air yang disuplai
3. Kualitas tanah yang sesuai
4. Kesesuaian topografi

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

Keseluruhan survei yang diperlukan ini akan sangat tergantung


pada ukuran usaha akuakultur yang akan dibangun. Untuk kolam kecil
dengan area kurang dari 3.000 m2, cukup melakukan pengukuranpengukuran yang tidak terlalu detail sedangkan untuk kolam besar di
mana tata letak dan kemiringannya sangat penting, maka diperlukan
pengukuran yang lebih akurat.

Cek kualitas air

Cek debit air

Cek kualitas
tanah

Tujuan dari reconnaissance survey topografi adalah untuk


mengetahui apakah kolam yang akan dibangun ini sesuai baik secara
teknis maupun secara ekonomi.
Profil longitudinal dari anak sungai akan memberikan perbedaan
elevasi dari berbagai titik. Profil ini akan mengarahkan
bagaimana kolam harus dibangun.

Lokasi yang potensial

Profil longitudinal

Profil cross-section dari lokasi. Perpendicular atas profil


longitudinal. Di interval 20 50 m atau kurang untuk kolam kecil
dan pada area yang tidak teratur akan memberikan gambaran
tentang bentuk dan ukuran lokasi.

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

Lokasi potensial

Profil cross-section

Dari pengukuran tersebut dan observasi lainnya, bisa digunakan


untuk membuat evaluasi awal terhadap lokasi. Evaluasi ini harus dapat
menentukan bahwa lokasi tersebut diterima atau ditolak.
Sebagai contoh :
Jika ingin membuat kolam bendungan (barrage pond), harus segera
dilakukan studi kesesuaian dengan mengestimasi :
Area kolam
Volume kolam
Volume tanah bendungan (earthen dam)
Lalu bandingkan dua nilai terakhir, jika volume kolam lebih besar
dari 10 15 kali dari pada bendungan dan kemiringan longitudinal
lokasi kurang dari 2 3 %, maka lokasi tersebut dapat diterima.

Namun demikian, dalam membuat kolam bendungan (barrage


pond), harus coba untuk :
Membangun bendungan yang paling pendek

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

Pastikan terdapat material yang baik disekitar tempat membangun


bendungan
Hati-hati memeriksa kemungkinan banjir, semakin kecil area
drainase, semakin kecil banjirnya.

Jika mata air sebagai sumber untuk mensuplai air, jangan membuat
penghalang yang terlalu dalam di atasnya. Hal ini bisa dicoba
dengan membuat tanggul tanah di sekitar mata air, untuk
mengetahui seberapa tinggi tanggul tersebut menahan air. Jika
level ini masih kurang tinggi dari pada level air di kolam. Bisa juga
menggunakan pipa untuk mengetahui berapa banyak air yang akan
mengalir ke kolam.

Faktor-faktor lainnya yang juga penting untuk dipertimbangkan


ketika mensurvei lokasi yang potensial untuk akuakultur, yaitu :
a. Aksesibilitas. Untuk skala komersil, harus ada akses menuju
lokasi seperti jalan, hal ini untuk memudahkan dalam dalam
transportasi pakan, pupuk, benih, dan hasil panen. Untuk kolam
kecil skala rumah tangga, cukup hanya dengan jalan setapak
atau dilalui sepeda motor.
b. Tidak jauh dari rumah. Akan lebih baik tinggal dekat dengan
kolam, karena memudahkan pengelolaan dan pengawasan.
Untuk skala komersial biasanya disediakan rumah jaga di lokasi
akuakultur.
c. Kolam harus dapat multifungsi. Kolam yang dibuat kadangkadang bisa digunakan untuk kebutuhan lain, misalnya; sebagai
tandon untuk cadangan air, kegiatan pertanian lain, atau
kebutuhan domestik lainnya (misalnya dalam sistem terpadu).

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

d. Dekat dengan target pasar. Saat panen, ikan seharusnya


dengan segera dapat dijual segar dengan biaya transport yang
kecil.
e. Ketersediaan input. Jika kolam memerlukan input secara
reguler, seperti; bahan-bahan pakan, bibit, dan suku cadang
peralatan lainnya harus bisa tersedia secara lokal, serta tenaga
kerja yang tinggal disekitar lokasi akuakultur.
1.3.

MEMULAI RENCANA KONSTRUKSI KOLAM

Setelah
mendapatkan
lokasi
yang
sesuai,
kita
mulai
merencanakan pembangunan fasilitas budidaya, terdapat dua hal yang
harus direncanakan dengan baik, yakni :
a. Perencanaan Organisasi, bagian ini untuk memutuskan; di
mana dan bagaimana membangun usaha akuakultur
b. Perencanaan Fisik, meliputi; tata letak (lay out), desain yang
detail, dan penggalian tanah (earthworks)
Di bawah ini terdapat tata letak umum dari fasilitas akuakultur
skala kecil yang dipilih berdasarkan survei tanah dan topografi pada
lokasi yang telah dipilih.

Perencanaan fisik yang


langkah, sebagai berikut :

harus

dilakukan

meliputi

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

beberapa

Akuakultur Engineering

Diagram alir kesesuaian fish farm dengan layout lokasi akuakultur


a. Rincian Survey Topograf Lokasi
Survei ini harus dipersiapkan agar diperoleh rencana secara
topografi yang akurat dari lokasi yang ada, yang meliputi :
Peta topografi lokasi skala 1 : 10.000 (skala kecil) sampai 1 :
2.000 (untuk skala besar).
Kontur lahan dengan interval vertikal 0.20 0.50 m
Struktur yang ada (bangunan, tandon air, jaringan listrik, dll)
Akses jalan
Suplai air (mata air, anak sungai, kanal)
Batas-batas tanah lokasi
Keadaan lain (bebatuan, lubang, sarang semut, pepohanan, dll)
Tanda-tanda lokasi (bech mark) dan stasiun sampling
b. Rincian Survey Tanah Lokasi, meliputi :
Tujuan survey tanah
Sampel tanah yang diperlukan (disturbed atau undisturbed)
Kedalaman pengambilan sampel tanah
Hal yang perlu diperhatikan dalam mengumpulkan sampel
tanah
Analisis kimia tanah
Metode pengambilan sampel tanah
Metode open-pit
Metode bor augher
Metode thin-walled tube

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011

Akuakultur Engineering

Rincian survey tanah yang lebih lengkap akan dibahas pada bab lain.
c. Tata Letak (layout) Fish Farm
Berdasarkan atas informasi yang telah tersedia, seperti tipe kolam
yang paling baik untuk dibangun dan layout yang diadopsi, sangat
membantu untuk membuat satu atau lebih versi sederhana dari
rencana lokasi, dengan bagian-bagian utama yang sudah diidentifikasi,
dapat dibuat sketsa layout alternatifnya.
Setelah membuat layout yang diperlukan, dengan menggunakan
rencana topografi yang ada bisa dipersiapkan lebih rinci rencana
topografi dari fish farm yang akan menunjukkan jumlah kolam, ukuran
dan orientasinya, tanggul, sistem suplai air, sistem drainase, dan
struktur lainnya yang diperlukan. Layout diperiksa kembali untuk
melihat apakah harus menggali sejumlah tanah lagi untuk
membangunnya dan apakah level air di lokasi sudah sesuai, baik untuk
mengisi maupun mengeringkan kolam. Jika kedua hal ini tidak berjalan
sebagaimana mestinya, maka layout harus diubah kemudian
memeriksa kembali tanah dan level air. Jika sudah baik, maka bisa
dilanjutkan dengan rencana yang lebih detail.
Sebaiknya memulainya dengan mempelajari lebih banyak tentang
material, peralatan, berbagai struktur yang umum digunakan dalam
akuakultur, fungsinya dan bagaimana membuatnya. Selanjutnya mulai
merencanakan konstruksi fish farm dengan baik dan lebih detail sesuai
keinginan.

Sumoharjo, S.Pi., M.Si. J. Budidaya Perairan FPIK Unmul - 2011