Anda di halaman 1dari 143

LEMBARAN PENGESAHAN

BUKU AJAR

TEKNOLOGI BAHAN
PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Pontianak, Januari 2009


Ketua Jurusan Teknik Sipil
dan Perencanaan

Penulis Buku

Asmadi, ST,MT
Nip : 131926806

Susi Hariyani, ST,MT


Nip : 132230698

MENGETAHUI
DIREKTUR POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

MAHYUS, S.Pd, SE,MM


Nip : 132150371

Penyunting Bahasa dan Kependidikan


Penata Letak

: Susi Hariyani, ST,MT

Buku ini diterbitkan dalam rangka pengadaan buku ajar untuk


PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN

JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN


POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Hak Cipta pada Politeknik Negeri Pontianak, 2009

Data Katalog dalam Terbitan


Susi Hariyani, ST,MT

TEKNOLOGI BAHAN
Politeknik Negeri Pontianak
12a, 128 h, 18,5 cm

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

PRAKATA

Buku ajar ini dibuat untuk mendapatkan suatu bahan ajar yang sesuai
dengan silabus yang diinginkan. Ini dikarenakan begitu banyaknya buku tentang
bahan bangunan tetapi isinya tidak semuanya sesuai dengan silabus sehingga
dosen ataupun mahasiswa harus mengumpulkan buku-buku tersebut, tentu saja ini
kurang efektif. Hal ini yang mendorong penulis untuk membuat buku ajar dengan
judul TEKNOLOGI BAHAN.
Buku ini memberikan kemampuan mahasiswa dalam mengenal bahanbangunan untuk yang bisa digunakan dalam lingkup bidang teknik sipil.serta
mengembangkan kemampuan dalam menentukan bahan bangunan yang dipakai
untuk perencanaan perumahan dan pemukiman
Buku Teknologi Bahan ini diperuntukkan bagi mahasiswa pendidikan
tinggi jalur profesional D IV, terutama untuk mahasiswa Program Studi Teknik
Perencanaan Perumahan dan Pemukiman, Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan,
Politeknik Negeri Pontianak.
Dalam buku Teknologi Bahan ini berisi 11 bab, berisi tentang macammacam bahan bangunan yaitu batuan dan klasifikasinya, macam-macam bahan
pengikat (kapur dan pozzolan), aspal, kayu, bambu, bahan logam dan baja, bahan
non logam dan polymer serta rekayasa bahan yang isinya mengenalkan bahanbangunan baru dan juga ada bahan pembentuk beton, yang didalamnya membahas
tentang semen, agregat, air, tulangan dan bahan tambah. Buku ini juga
mengenalkan sifat-sifat dasar dari bahan bangunan serta mengenalkan macammacam peraturan tentang bahan bangunan yang digunakan.
Agar saudara mendapatkan pemahaman yang baik tentang buku ajar ini,
disarankan :
1. Baca petunjuk penggunaan buku ajar ini
2. Baca uraian teori, contoh-contoh, latihan-latihan dalam tiap sub bab
3. Kerjakan latihan setiap sub bab

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

4. Baca rangkuman pada akhir setiap bab, dan tandai kata-kata kuncinya.
5. Jawab latihan pada akhir setiap bab dan hasinya bisa dikonsultasikan
lepada dosen anda.

Penulis

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL 1a
HALAMAN PENGESAHAN .. 2a
HAK CIPTA ..................................................................................................... 3a
PRAKATA ... 12a
DAFTAR ISI 4a
DAFTAR G.AMBAR .. 8a
DAFTAR TABEL ... 11a

BAB I

SIFAT-SIFAT DASAR BAHAN BANGUNAN


Hasil Pembelajaran .

Kriteria Penilaian

Sumber Pustaka ..

Pendahuluan ..........................................................................................

Sifat- sifat Mekanis ................................................................................

Sifat Thermal

Sifat Listrik ...........................................................................................

Sifat Kimia ..........................................................................................

1.6. Rangkuman ..........................................................................................

1.7 Soal Pelatihan ....................................................................................... 9

BAB II

STANDAR-STANDAR PERATURAN MENGENAI


BAHAN KONSTRUKSI

Hasil Pembelajaran

10

Kriteria Penilaian 10
Sumber Pustaka .. 10
2.1 Dari Indonesia 11
2.2 Dari Luar Negeri 12
2.3 Rangkuman .. 13

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

2.4 Soal Pelatihan 13

BAB III

BATUAN DAN KLASIFIKASINYA

Hasil Pembelajaran . 14
Kriteria Penilaian 14
Sumber Pustaka .. 14
3.1 Batuan Beku

15

3.2 Batuan Metamorfosa

16

3.3 Batuan Sedimen ..

18

3.4 Testing Pada Batuan ...........................................................................

20

3.5 Rangkuman ........................................................................................

21

3.6 Soal Pelatihan .....................................................................................

21

BAB IV

AGREGAT UNTUK ADUKAN

Hasil Pembelajaran . 22
Kriteria Penilaian 22
Sumber Pustaka .. 22
4.1 Fungsi agregat ....................................................................................... 23
4.2 Pengelompokan Agregat ....................................................................... 23
4.3 Sifat Permukaan Agregat, Kekuatan, Kepadatan, dan Penyerapan Air... 27
4.4 Bahan-bahan merugikan yang terdapat didalam agregat ...................... 31
4.5 Susunan Butir Agregat .......................................................................... 33
4.6 Menggabungkan Agregat ...................................................................... 35
4.7 Rangkuman ........................................................................................... 40
4.8 Soal Pelatihan ........................................................................................ 40

BAB V

BAHAN PENGIKAT

Hasil Pembelajaran . 42

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Kriteria Penilaian 42
Sumber Pustaka .. 42
5.1 Kapur 43
5.2 Pozzolan ... 44
5.3 Rangkuman .. 45
5.4 Soal Pelatihan .. 45

BAB VI

BAHAN BANGUNAN KAYU DAN BAMBU

Hasil Pembelajaran

46

Kriteria Penilaian 46
Sumber Pustaka .. 46
6.1 Jenis-Jenis Kayu Yang Digunakan Untuk Bahan Bangunan 47
6.2 Mutu Kayu, Kelas Kayu, Sifat Kayu Dan Cara Pengawetan Kayu . 48
6.3 Bambu .. 51
6.4 Jenis Pengujian untuk Kayu dan Bambu .. 63
6.5 Rangkuman ... 65
6.6 Soal Pelatihan 65

BAB VII

BAHAN ASPAL

Hasil Pembelajaran . 66
Kriteria Penilaian 66
Sumber Pustaka .. 66
7.1 Pendahuluan .. 67
7.2 Aspal Alam Serta Penggunaannya 68
7.3 Aspal Buatan Serta Penggunaannya . 69
7.4 Jenis Pengujian Aspal 72
7.5 Rangkuman 73
7.6 Soal Pelatihan . 73

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB VIII

BAHAN LOGAM DAN BAJA

Hasil Pembelajaran . 74
Kriteria Penilaian 74
Sumber Pustaka .. 74
8.1 Unsur-Unsur Pembentuk Bahan Besi Dan Baja 75
8.2 Penggunaan Besi Dan Baja .. 79
8.3 Karat Pada Baja Dan Besi . 79
8.4 Rangkuman ... 84
8.5 Soal Pelatihan .... 85

BAB IX

BAHAN NON LOGAM DAN POLYMER

Hasil Pembelajaran . 86
Kriteria Penilaian 86
Sumber Pustaka .

86

9.1 Bahan Non Logam Yang Dapat Digunakan Sebagai Bahan


Bangunan .. 87
9.2 Bahan Polymer Yang Dapat Digunakan Sebagai Bahan Bangunan . 88
9.3 Rangkuman 90
9.4 Soal Pelatihan 91

BAB X

BAHAN PEMBENTUK BETON

Hasil Pembelajaran . 92
Kriteria Penilaian 92
Sumber Pustaka .. 92
10.1 Pengertian Beton . 93
10.2 Agregat 95
10.3 Air 95
10.4 Semen .. 96

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

10.5 Tulangan . 106


10.6 Bahan Tambah 112
10.7 Rangkuman . 113
10.8 Soal Pelatihan . 115

BAB XI

REKAYASA BAHAN BANGUNAN

Hasil Pembelajaran . 116


Kriteria Penilaian 116
Sumber Pustaka .. 116
11.1 Beton ringan . 117
11.2 Beton Massa . 117
11.3 Ferrosemen .. 121
11.4 Beton Serat ... 123
11.5 Beton Non Pasir 125
11.6 Beton Siklop . 127
11.7 Beton Hampa 127
11.8 Rangkuman .. 128
11.9 Soal Pelatihan .. 128

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Deformasi bahan ........................................................................... 4


Gambar 1.2 Diagram Tegangan dan regangan macam-macam material .......... 4
Gambar 3.1 Tekstrus dari batuan beku ..... 15
Gambar 3.2 Contoh batuan beku .. 16
Gambar 3.3 Tekstur dari batuan metamorfosa . 16
Gambar 3.4 Contoh batuan metamorf .. 17
Gambar 3.5 Tekstur dari batuan redimen . 18
Gambar 3.6 Contoh batuan redimen . 19
Gambar 4.1 Keadaan kandungan air dalam agregat ........................................ 31
Gambar 6.1 Gambar tegangan regangan berbagai jenis bambu dan baja ......... 50
Gambar 6.2 Umpak beton sebagai landasan (Bandara, 1990) .. 52
Gambar 6.3 Fondasi tiang (Bandara, 1990) ...................................................... 52
Gambar 6.4 Fondasi strip (Jayanetti dan Follet, 1998) ..................................... 53
Gambar 6.5 Fondasi komposit antara bambu dan beton (Janssen, 1995) 53
Gambar 6.6.Fondasi tiang pancang beton dengan tulangan bambu .. 53
Gambar 6.7 Lantai dari galar bambu dengan rangka penyangganya
(Siopongco et al, 1987) . 53
Gambar 6.8 Lantai dari bambu bilah dengan rangka penyangganya
(Janssen, 1995) 53
Gambar 6.9 Lantai dari bambu bulat dengan rangka penyangganya
(Janssen, 1995) 54
Gambar 6.10 Lantai dari bambu galar dengan rangka penyangganya
(Janssen, 1995) 54
Gambar 6.11 Contoh berbagai motif anyaman bamboo ... 55
Gambar 6. 12 Dinding bambu utuh (Janssen, 1995)

56

Gambar 6. 13 Dinding bambu setengah bulat (Bandara, 1990) ..

56

Gambar 6. 14 Dinding Bajareque (Janssen, 1995) ..

57

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Gambar 6. 15 Dinding Quincha (Siopongco et al, 1987) 57


Gambar 6. 16 Dinding anyaman bamboo (Sioponco et al, 1987) 57
Gambar 6. 17 Pintu sorong dari bambu (Siopongco et al, 1987) 59
Gambar 6.18 Pintu sorong dari bambu ( Siopongco et al, 1987) .. 59
Gambar 6.19 Atap bambu setengah bulat ( Mather et al, 1964) ..

59

Gambar 6.20 Berbagai bentuk rangka kuda-kuda bambu


(Tular et al, 1984 dan Janssen, 1995) 61
Gambar 6.21 King-post truss (Siopongco, 1987) . 62
Gambar 6,22 Fink truss (Punhani et al, 1989) ..... 62
Gambar 6.23 Truss (Janssen, 1995) . 62
Gambar 7.1

Destilasi Minyak Bumi Sumber : Sukirman ,S ... 66

Gambar 10.1 Ciri-ciri tampak baja beton ......................................................... 107


Gambar 10.2 Contoh Jaring pasaran yang tersedia . 110

10

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Daftar daya hantar panas beberapa material ..................................... 6
Tabel 1.2 Beberapa bahan keperluan teknik dengan tahanan listriknya ........... 8
Tabel 1.3 Kecenderungan Elektrolit bahan logam dan paduannya .................. 8
Tabel 4.1. Daftar ayakan standar ASTM, BS dan ISO .. 33
Tabel 4.2 Contoh perhitungan angka analis ayak untuk agregat kasar 34
Tabel 4.3 Contoh perhitungan angka analis ayak untuk agregat halus ............ 35
Tabel 4.4 Syarat gradasi agregat halus /pasir ... 38
Tabel 4.5 Gradasi kerikil menurut BS ... 39
Tabel 4.6

Syarat susunan butir agregat gabungan ... 39

Tabel 6.1

Berat jebis kayu berdasarkan kelas berat kayu ........... 49

Tabel 8.1

Standar jumlah rata-rata korosi baja karbon tanpa treantemnt


khusus : .... 82

Tabel 8.2

Jumlah rata-rata kehilangan oleh korosi untuk baja karbon tanpa


treatment .. 82

Tabel 9.1

Daftar Logam Bukan Besi (Non Ferro) .. 87

Tabel 9.2

Nilai kuat tarik tiap satuan berat : .. 90

Tabel 10.1 Mutu baja Tulangan (PBI, tabel 3.7.1) .. 107


Tabel 10.2 Mutu baja Tulangan . 107
Tabel 11.1 Batas-batas gradasi agregat kasar untuk beton massa ... 119
Tabel 11.2. Batas-batas gradasi agregat halus untuk beton massa ... 119
Tabel 11.3 Faktor air semen optimal, kebutuhan semen, dan kuat tekan beton
non-pasir dengan agregat pecahan genteng keramik .....126

11

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB I

SIFAT DASAR BAHAN BANGUNAN

Hasil Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu menjelaskan sifat-sifat dasar
dan jenis pengujian bahan bangunan dengan benar
Kriteria Penilaian
Keberhasilan saudara dalam menguasai bab ini, dapat diukur dengan kriteria
sebagai berikut:
1.

Mampu menjelaskan klasifikasi sifat fisik dan pengujiannya

2.

Mampu menjelaskan sifat kimia dan pengujiannya

3.

Mampu menjelaskan sifat thermal dan pengujiannya

4.

Mampu menjelaskan sifat mekanis dan pengujiannya


Sumber Pustaka

1.

_______. Teknologi Bahan II, PEDC , Bandung

2.

_______. KOnstruksi Kayu, PEDC , Bandung

3.

Heinz F. Ilmu Konstruksi Bangunan , 1981, Karisma, Bandung

4.

Luc Vasseur, Masory Construction No 95/75/21379

5.

Rosjid Sastraminarja, Ir, 1989, Bahan Perkerasan, Jakarta

Sifat Dasar Bahan Bangunan

12

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Secara umum bahan atau unsur-unsur bahan yang membentuknya bersifat stabil.
Suatu benda yang terkena pengaruh gaya luar atau energi dari luar akan
memberikan reaksi, untuk menekan gaya luar tadi. Terjadinya reaksi dari bahan
ini akan menimbulkan sifat-sifat tertentu
Pada umumnya bahan memiliki sifat-sifat :
1. Mekanis
2. Thermal
3. Listrik
4. Kimia
1.1 SIFAT MEKANIS
Suatu bahan atau benda apabila mendapat gaya luar akan memberikan suatu reaksi
akibat gaya tersebut dan akibat adanya gaya luar itu benda atau bahan dapat
berubah bentuknya dan akan timbul TEGANGAN
Adanya gaya luar dapat timbul perubahan bentuk/DEFORMASI. Besarnya
deformasi dibandingkan dengan ukuran benda semula disebut REGANGAN (
Strain)
1.1.1 Tegangan, Deformasi Dan Regangan
Tegangan adalah beban dibagi luas bidang, ditulis :

P
(kg / cm 2 , t / m 2 , N / mm 2
A

Arah tegangan pada suatu bahan dapat terjadi 3 :


a. Tegangan Axial : terjadi satu arah, misalnya pada pembebanan tarik atau
tekan
b. Tegangan Bi atau Tri axial : terjadi dua atau tiga arah pembebanan dimana
arahnya axial yang dua arah lainnya arahnya tegak lurus sumbu axial
Suatu bahan apabila mendapat beban akan mengalami perubahan bentuk
(deformasi). Perlawanan (reaksi) suatu benda akibat pembebanan dapat
menimbulkan 3 macam deformasi :

13

Susi Hariyani, ST,MT

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

a. Deformasi Elastis : Suatu deformasi yang akan dapat hilang lagi bila beban
yang diberikan kepada bahan tersebut dihilangkan.
Pada keadaan tersebut, besarnya regangan yang terjadi berbanding lurus
dengan besarnya tegangan.
Perbandingan antara tegangan dan regangan disebut MODULUS
ELASTISITAS ( atau Modulus Young).

Tegangan
Rcgangan

(kg / cm3 ) Regangan dinyatakan dalam persen

b. Deformasi plastis : suatu deformasi akibat pembebanan yang pembebanan


yang melampaui batas elastis. Disini bahan yang dibebani akan mencapai
kondisi plastis, sehingga meskipun beban dihilangkan, bahan tetap
berubah bentuk (deformasi/regangannya tidak hilang)
c. Deformasi Viscous/Patah : merupakan kelanjutan dari deformasi plastis,
dimana terjadi gejala mengalir
Untuk bahan yang bersifat liat, gejala mengalir ini dapat terlihat, dimana
meskipun beban yang diberikan pada bahan akan terus berubah bentuknya
sampai ia patah/putus atau hancur. Bagi bahan yang bersifat regas,
gejala ini tidak terlihat tetapi bagi logam murni misalny, gejala ini dapat
terlihat. Dari pengertian diatas hendaknya pemberian beban pada suatu
benda jangan sampai

besarnya beban tersebut melampaui sifat

elastisitasnya agar bahan tersebut awet dan aman


Suatu bahan diberi gaya tekan atau tarik, deformasi yang terjadi searah
dengan l, ukuran panjang/tinggi benda = L, panjang setelah
ditekan/ditarik = Lt, maka L = L Lt dan regangan.
E

L
L

14

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

d
L

Lt

tarik

Gambar 1.1 Deformasi bahan

1.1.2 Modulus Elastisitas


Suatu benda apabila diberi beban yang relatif rendah dan pembebanan itu
masih dalam batas elastis, besarnya regangan yang timbul akan sebanding dengan
tegangan yang diberika, serta konstan sifatnya. Dalam keadaan demikian berlaku
HUKUM HOOKE :

= Ex

atau E

Diagram Tegangan dan Regangan beberapa jenis material

Gambar 1.2 Diagram Tegangan dan regangan macam-macam material

15

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

a. Ketangguhan (toughness)
Diartikan bahwa kemampuan suatu bahan untuk dapat menyerap energi
sampai patah. Hal ini ditunjukkan oleh luas bidang tegangan-tegangan
bahan 1 (jenis logam dan tembaga) memiliki luas bidang OABC yang
lebih luas dari bahan no 2 (keramik) dengan luas OA1B1C1
b. Kelentingan
merupakan ukuran kemampuan suatu bahan dapat melenting tanpa
berubah sifatnya. Ini ditandai dengan tingginya tegangan dan regangan
pada batas elastis (Proposional). Ukuran kelentingan dapat dilihat dari
luasnya bidang OA2A2
c. Keuletan (ductility)
merupakan ukuran kemampuan suatu ukuran besarnya regangan suatu
bahan sebelum patah. Dari grafik diatas dapat dilihat, makin besar jarak ini
makin ulet bahannya atau sebaliknya bahan yang regas tegangannya kecil
d. Kekerasan (hardness)
adalah kemampuan bahan untuk menahan beban yang masuk dari
permukaan. Cara pengujian dilakukan dengan memberi beban dari
permukaan, lalu diukur berapa dalam masuknya beban tersebut. Cara uji
ini dilakukan terhadap bahan yang bersifat ulet (liat), misal : logam, karet,
plastic. Untuk bahan yang sifatnya regas, bahan keramik atau beton dan
batuan diuji dengan cara goresan/gesekan/geseran. Cara uji kekerasan
lain yaitu cara goresan dengan alat pembanding kekerasan yang telah
diketahui. Cara ini diciptakan oleh Fredirch Mohs tahun 1882 yang telah
menyusun suatu skala kekerasan berdasarkan berbagai kristal mineral yang
disebut skala kekerasan (Moh Scale Hardness) mulai dari 1 s.d 10.Benda
atau bahan yang memiliki angka kekerasan lebih tinggi akan dapat
menggores benda yang angka kekerasannya lebih rendah
Talk
Gips
Kalsit
Flourit
Apatit

;
:
:
:
:

1
2
3
4
5

Osthoklas
Quartz
Topaz
Korundum
Intan

:
:
:
:
:

6
7
8
9
10

16

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

1.2 SIFAT THERMAL


Suatu bahan bila terpengaruh panas dapat berubah keadaannya, dari
keadaan padat misalnya menjadi cair dan kemudian menguap. Perubahan dari
keadaan padat ke cair dan menjadi uap disertai dengan pemuaian. Secara umum
bahan yang terbentuk oleh ikatan ion yang kuat, memiliki titik leleh yang tinggi.
Bahan logam umunya memiliki titik leleh yang sedang dan dengan ikatan kovalen
titik lelehnya lebih rendah lagi.

1.2.1 Daya Hantar Panas


Daya hantar panas adalah kemampuan bahan menghantarkan panas dari
daerah panas tinggi ke panas yang l;ebih rendah. Kelompok bahan logam
merupakan bahan yang baik sebagai penghantar panas. Kelompok bahan keramik
lebih buruk (rendah) daya hantar panasnya.Kelompok bahan polymer (bahan
molekuler) buruk daya hantar panasnya.Daya hantar panas diukur dengan British
Thermal Unit (BTU), perjam penyaluran, per 1 ft persegi dari bahan setebal 1
inchi tiap perbedaan 1F atau ditulis : BTU/hr/sqft/ini/F. Bila suatu bahan titik
lelehnya tinggi, maka pemuaian thermalnya rendah dan sebaliknya. Berikut ini
tabel beberapa bahan keperluan teknik, sifat thermal, koefisisen thermal dan daya
hantar panasnya.
Tabel 1.1 Daftar daya hantar panas beberapa material
Kelompok
Logam

Keramik

Bahan
molekuler
Polymer

Jenis Bahan

Titik leleh (F)

Baja karbon
Baja stanless
Aluminium
Paduan Tembaga
Bata Merah
Beton
Plat kaca
Kayu
Plastik ABS
Plastik Acrylik
PlastikVinyl
Silicom

2700 28000
2700 28000
1100 12000
1800 - 2000
2000-500
3000
1500
400
200-300
200 300
200 300
400 - 600

Hantar
Koef. Muai
Panas
thermal
300 500
0,5
100 150
7
500 1500
9
500 2500
12,5
36
5 10
56
12
10 30
12
50
30 50
0,5 1
50
1
1 - 100

17

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

1.3 SIFAT LISTRIK


Daya hantar listrik suatu bahan disebabkan oleh adanya gerakan elektron
bebas. Pada bahan yang daya hantar listrik rendah tetapi didalamnya terselip
bahan logam atau ada zat pelarut yang memungkinkan terbentuknya terbentuknya
ion-ion dimana akan ada gerakan elektro, misalnya pada kayu basah, maka kayu
itu akan menghantarkan arus listrik, tapi bila kayu itu kering (tanpa air) tidak
menghantarkan listrik Logam memiliki tahanan listrik rendah atau daya hantar
listrik tinggi. Sebaliknya keramik mempunyai tahanan listrik tinggi, daya hantar
listrik rendah. Tahanan listrik dinyatakan dalam ohm/sqft

1.4 SIFAT KIMIA


Udara dan kelembaban dimana bahan bangunan akan dipengaruhi olehnya
mengandung sedikitnya bahan kimia aktif. Pada keadaan tertentu bahan kimia itu
dapat bereaksi dengan bahan tadi dan merusak. Kelompok bahan keramik dalam
keadaan normal dapat tahan terhadap pengaruh tersebut. Untuk bahan kelompok
logam, keadaan lebih rumit karena logam dapat rusak atau terkorosi, akibat terjadi
sejumlah kecil tenaga listrik dari salah satu daerah yang disebut Anoda ke
daerah lain yang disebut katoda. Unsur utama yang terjadi dalam sistem korosi
ialah anoda, katoda dan aliran yang menjadi media (elektrolit) yang
menghubungkan anoda dan katoda tadi
Tabel 1.2 beberapa bahan keperluan teknik dengan tahanan listrinya
Kelompok
Logam

Keramik

Polymer

Jenis Bahan
Baja karbon
Baja stanless
Paduan Aluminium
Paduan Tembaga
Bata Merah
Beton
Plat kaca
Plastik ABS
Plastik Acrylik
Plastik Vinyl
Silicom

Tahanan Listrik
(ohm/sqft)
6.10-6
2.10-3
10-4
5.10-3
4.106
4.106
10.1012
1015 0,1.1015
100.1012
100.109
1012

18

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Berikut ini tabel galvanis menurut tingkat kemungkinan terjadi anoda, dapat
dipakai untuk menduga kemungkinan terjadinya korosi pada bahan logam
Tabel 1.3 Kecenderungan Elektrolit bahan logma dan paduannya
Kecenderungan Elektrolit
Bersifat Anodik (naik)
Bersifat Katodik (turun)

Bahan Logam atau Paduan


Paduan magnesium
Seng (Zn)
Paduan aluminium
Baja karbon
Baja Stanless active
Timah hitam Pb
Timah putih Sn
Kuningan
Tembaga
Perunggu
Baja Stanless Passive
Emas

1.5 RANGKUMAN
1. Sifat mekanis suatu bahan atau benda adalah apabila mendapat gaya luar akan
memberikan suatu reaksi akibat gaya tersebut dan akibat adanya gaya luar itu
benda atau bahan dapat berubah bentuknya dan akan timbul tegangan juga
dapat menimbulkan perubahan bentuk/deformasi.
2

Sifat thermal suatu bahan adalah bila terpengaruh panas dapat berubah
keadaannya, dari keadaan padat misalnya menjadi cair dan kemudian
menguap.

3 Sifat listrik adalah gerakan elektron pada bahan logam memungkinkan panas
atau tenaga listrik disalurkan. Daya hantar listrik suatu bahan disebabkan oleh
adanya gerakan elektron bebas.
4 Sifat kimia Udara dan kelembaban dimana bahan bangunan akan dipengaruhi
olehnya mengandung sedikitnya bahan kimia aktif. Pada keadaan tertentu
bahan kimia itu dapat bereaksi dengan bahan tadi dan merusak.

19

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

1.6 SOAL PELATIHAN


1. Apa yang dimaksud dengan Modulus Elastisitas sutau bahan
2. Jelaskan jenis0jenis deformasi yang kalian ketahui dan berikan contohnya
3. Bagaimanakan sifat listrik dari bahan kayu
4. Bagaimanakah sifat termak bahan keramik
5. Bagaimanakah sifat kimia bahan logam

20

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB II

PERATURAN BAHAN BANGUNAN

Hasil Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu mengenal pedomanpedoman standar dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan bahan bangunan
dengan baik
Kriteria Penilaian
Keberhasilan saudara dalam menguasai bab ini, dapat diukur dengan kriteria
sebagai berikut:
1. Mampu menjelaskan peraturan mengenai bahan bangunan yang ada di
Inonesia
2. Mampu menjelaskan peraturan mengenai bahan bangunan yang diambil
dari luar negeri
Sumber Pustaka
1.

_______. Teknologi Bahan II, PEDC , Bandung

2. _______. KOnstruksi Kayu, PEDC , Bandung


3. Heinz F. Ilmu Konstruksi Bangunan , 1981, Karisma, Bandung
4. Luc Vasseur, Masory Construction No 95/75/21379

5. Rosjid Sastraminarja, Ir, 1989, Bahan Perkerasan, Jakarta

21

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Peraturan bahan bangunan merupakan hasil dari perjanjian-perjanjian dari


badan/lembaga yang terkait dengan kepentinga tersebut, yang antara lain :
1. perusaahan yang independen
2. serikat dagang berbagai produk
3. organisasi profesiaonal keteknikan
4. pemetintah

2.1 Di INDONESIA
Peraturan bahan bangunan yang biasa digunakan didalam negeri antara lain:
1. Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk masing-masing bahan
2. PUBI (Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia) 1982
3. PBI 1971 (Peraturan Beton Bertulang Indonesia)
4. PKKI 1961 (Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia)
5. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung1991 (SNI T-15-1991-03
6. PPBBI (Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia)
PUBI 1982
Berisikan ketentuan-ketentuan teknis bahan bangunan yang dapat
digunakan sebagai pedoman pada pelaksanaan pembangunan. Pada bahan tersebut
perlu diketahui persyaratan-persyaratan penggunaan, mutu dan jenis dari bahanbahan bangunan tersebut. Tiap-tiap bahann bangunan dibuatkan pasal yang
berisikan pengertian mengenai bahan itu sendiri, persyaratan mengenai ukuran,
mutu, referensi mengenai dari mana estndar pengujian diambil.

2.1.2 PBI 1971


PBI merupakan peraturan mengenai beton yang pertama ada di Indonesia,
yang diadopsi dari berbagai peraturan-peraturan beton yang ada di Eropa (Inggris,
Francis, Belanda dan Amerika Serikat). Yang disesuaikan dengan keadaan yang
ada di Inonesia. Isinya berupa penjelasan umum, bahan-bahan, pelaksanaan,
detail-detal konstruksi, dasar-dasar perhitungan dan syarat-syarat umum

22

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

konstruksi, perhitungan kekuatan, statika dan perhitungan kekuatan pada


konstruksi tertentu serta berisi syarat-syarat khusus

2.1.3 PKKI 1961


Peraturan ini tentang kayu, dimana didalam PPKI ini berisikan : peraturan
umum, peraturan pemeriksaan kayu (syarat umum, mutu kayu), peraturan
perhitungan

perencanaan

konstruksi

kayu,

tegangan-tegangan

yang

diperkenankan, penetapan usuran kayu, sambungan dan alat penyambung,


konstruksi

dengan

perekat,

pelaksanaan

pembangunan

dan

percobaab

pembebanan

2.1.4 Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan


Gedung
Estndar ini dibuat sebagai acuan bagi perencana dan pelaksana dalam
melakukan pekerjaan perencanaan dan pelaksanaan struktur beton dengan tujuan
untuk mengarahkan terciptanya pekerjaan perencanaan dan pelaksanaan beton
yang memenuhi ketentuan minimum serta mendapatkan hasil pekerjaan struktur
yang aman dan ekonomis.
Isinya tentang deskripsi, ppersyaratan, ketentuan-ketentuan dan cara
perencanaan.

2.2 DARI LUAR NEGERI


Sementara itu ada juga peraturan-peraturan dari luar negeri yang digunakan
masyarkat Inndonesia antara lain :
1. ASTM (American Society for Testing and Materials)
2. BS (Brithis Standard) Inggris
3. JIS (Japan Industrial Standard)
4. ACI ( American Concrete Institute)
5. NZS (Peraturan Beton New Zealand)
6. CEB (Comite European du Beton) Peraturan Beton Eropa

23

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

2.3 RANGKUMAN
Peraturan bahan bangunan yang biasa digunakan didalam negeri antara
lain: Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk masing-masing bahan, PUBI
(Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia) 1982, PBI 1971 (Peraturan
Beton Bertulang Indonesia), PKKI 1961 (Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia),
Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung-1991
(SNI T-15-1991-03 dan PPBBI (Peraturan Perencanaan Bangunan Baja
Indonesia)

2.4 SOAL PELATIHAN


1. Jelaskan untuk apa stndar/peraturan itu dibuat
2. Sebutkan perauran tentang bahan yang dipakai di Indonesia
2. Sebutkan isi dari peraturan bahan bangunan PKKI 1971

24

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB III

BATUAN DAN KLASIFIKASINYA

Hasil Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu Menjelaskan tentang batuan
dan klasifikasinya dengan benar
Kriteria Penilaian
Keberhasilan saudara dalam menguasai bab ini, dapat diukur dengan kriteria
sebagai berikut:
1.

Mampu menjelaskan batuan beku sebagai bahan bangunan

2.

Mampu menjelaskan batuan sedimen sebagai bahan bangunan

3.

Mampu menjelaskan batuan metamorf sebagai bahan bangunan

4.

Mampu menjelaskan pemilihan batuan untuk bahan konstruki

5.

Mampu menjelaskan jenis pengujian batuan


Sumber Pustaka

1.

_______. Teknologi Bahan II, PEDC , Bandung

2.

_______. Konstruksi Kayu, PEDC , Bandung

3.

Heinz F. Ilmu Konstruksi Bangunan , 1981, Karisma, Bandung

4.

Luc Vasseur, Masory Construction No 95/75/21379

5.

Rosjid Sastraminarja, Ir, 1989, Bahan Perkerasan, Jakarta

25

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

PENDAHULUAN
Bagian luar bumi tertutupi oleh daratan dan lautan dimana bagian dari
lautan lebih besar daripada bagian daratan. Akan tetapi karena daratan adalah
bagian dari kulit bumi yang dapat kita amati langsung dengan dekat maka banyak
hal-hal yang dapat pula kita ketahui dengan cepat dan jelas. Salah satu diantaranya
adalah kenyataan bahwa daratan tersusun oleh beberapa jenis batuan yang berbeda
satu sama lain. Dari jenisnya batuan-batuan tersebut dapat digolongkan menjadi 3
jenis golongan. Mereka adalah : batuan beku (igneous rocks), batuan sediment
(sedimentary rocks), dan batuan metamorfosa/malihan (metamorphic rocks).
Batuan-batuan tersebut berbeda-beda materi penyusunnya dan berbeda pula
proses terbentuknya.
3.1 BATUAN BEKU (igneous rocks)

Gambar 3.1 Tekstrus dari batuan beku


Batuan beku atau batuan igneus (dari Bahasa Latin: ignis, "api") adalah
jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan
atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif
(plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik).
Perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari besar mineral penyusun
batuannya. Batuan beku plutonik umumnya terbentuk dari pembekuan magma
yang relatif lebih lambat sehingga mineral-mineral penyusunnya relatif besar.
Contoh batuan beku plutonik ini seperti gabro, diorite, dan granit (yang sering
dijadikan hiasan rumah). Sedangkan batuan beku vulkanik umumnya terbentuk
dari pembekuan magma yang sangat cepat (misalnya akibat letusan gunung api)

26

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

sehingga mineral penyusunnya lebih kecil. Contohnya adalah basalt, andesit (yang
sering dijadikan pondasi rumah), dan dacite

Gambar 3.2 Contoh batuan beku

3.2 BATUAN METAMORFOSA/MALIHAN (METAMORPHIC ROCKS)

Gambar 3.3 Tekstur dari batuan metamorfosa


Batuan metamorf atau batuan malihan adalah batuan yang terbentuk
akibat proses perubahan temperature dan/atau tekanan dari batuan yang telah ada
sebelumnya. Akibat bertambahnya temperature dan/atau tekanan, batuan
sebelumnya akan berubah tektur dan strukturnya sehingga membentuk batuan
baru dengan tekstur dan struktur yang baru pula
Contoh batuan tersebut adalah batu sabak atau slate yang merupakan
perubahan batu lempung. Batu marmer yang merupakan perubahan dari batu
gamping. Batu kuarsit yang merupakan perubahan dari batu pasir.Apabila semua
batuan-batuan yang sebelumnya terpanaskan dan meleleh maka akan membentuk
magma yang kemudian mengalami proses pendinginan kembali dan menjadi
batuan-batuan baru lagi
Batuan metamorf yang biasa digunakan dalam bahan bangunan

27

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

a. Gneiss
cara pembentukannya sebagai hasil rekristalisasi di bawah tekanan tinggi.
b. Clay Shale
adalah batu lempung (clay rock) yang keras. Clay Shale terbentuk dari
lempung dimana terjadi proses pemampatan yang sangat tinggi dan
sebagian mengalami rekristalisasi oleh pengaruh tekanan tinggi. Clay shale
jauh lebih keras dari lempung, tidak dipengaruhi air apabila direndam
c. Batu pualam
Terdiri dari kristal-kristal kasar kalsit, kadang-kadang tercampur dengan
butir-butir dolomit. Kristal-kristal ini dapat terlihat dengan mata biasa dan
kristal tersebut terikat satu dengan lainnya dengan sangat kuat tanpa
adanya bahan pengikat.Batu pualam terjadi dari batu kapur, oleh pengaruh
tekanan dan temperatur yang sangat tinggi sehingga terjadi rekristalisasi.
Kuat tekan 1200 3000 kg/cm2
d. Quartzite
Batuan pasir silika yang mengalami metamorfose dimana kwarts
mengalami rekristalisasi.

Daya tahan terhadap pelapukan cukup baik,

kuat tekan mencapai 4000 kg/cm2


Contoh batuan metamorf

Gambar 3.4 Contoh batuan metamorf

28

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

3.3 BATUAN SEDIMENT (SEDIMENTARY ROCKS)

Gambar 3.5 Tekstur dari batuan sedimen


Batuan sedimen terbentuk melalui tiga cara utama: pelapukan batuan lain
(clastic); pengendapan (deposition) karena aktivitas biogenik; dan pengendapan
(precipitation) dari larutan. Batuan sediment ini biasa digolongkan lagi menjadi
beberapa bagian diantaranya batuan sediment mekanis, batuan sediment kimia,
dan batuan sediment organik.
A. . Batuan sedimen mekanis
Batuan sediment mekanis terbentuk melalui proses pengendapan dari materialmaterial yang mengalami proses transportasi. Besar butir dari batuan sediment
klastik bervariasi dari mulai ukuran lempung sampai ukuran bongkah.
Biasanya batuan tersebut menjadi batuan penyimpan hidrokarbon (reservoir
rocks) atau bisa juga menjadi batuan induk sebagai penghasil hidrokarbon
(source rocks).
a.Batuan pecah (lepas)
dibedakan berdasarkan besar batuan :
- butiran kasar > 2 mm sebagai kerikil
- butiran sedang 2,0 0,1 mm, misalnya pasir
- butiran halus 0,1 0,01mm, partikel berupa debu
- butiran halus sekali < 0,01 mm, lumpur yang sangat halus, deposit
sebagai hasil pencucian air, deposit sebagai hasil hembusan angin
b. Cemented rock
adalah batuan yang pecah-pecah (fragmental rock) yang oleh suatu bahan
pengikat (lempung, silika, kalsit, dll) terikat menjadi satu. Batu

pasir

(sand stone) adalah cemented quartz sand yang terikat menjadi satu.

29

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

B. Batuan sedimen organis


Batuan sediment organik terbentuk akibat aktivitas kehidupan dan
organisme-organisme yang mati yang berasal dari laut ataupun danau-danau
air tawar.
Contohnya adalah jenis-jenis batuan karbonat dan siliceus spot, batu kapur,
kapur kerang, karang, diatomit yang banyak dipakai dalam bangunan.

C. Batuan sedimen kimia


Batuan sediment kimia terbentuk melalui proses presipitasi dari larutan.
Biasanya batuan tersebut menjadi batuan pelindung (seal rocks) hidrokarbon
dari migrasi.
Contohnya :
-

Magnesium (MgCO) dipakai dalam pembuatan bahan-bahan tahan api

Dolbant (CaCO3MgCO3) dapat dipakai sebagai batu pecah dan


pembuatan bata tahan api

Gips (gypsum CaSO42H2O) dipakai dalam pembuatan gypsum binder


juga dalam pembuatan semen PC

Contoh batuan sedimen

Gambar 3.6 Contoh batuan redimen

3.4 TESTING PADA BATUAN


3.4 1 Untuk Testing Kekerasan
1. Gesekan antar fragmen/agregat satu sama lain. Apabila timbul bunga api,
atau bau seperti barang terbakar, jenis batuan beku tersebut relatif keras,
sangat baik untuk agregat, ataupun pavement rel kereta api atau jalan

30

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

2. Goreskan paku pada permukaan batuan, apabila pada paku berbekas,


artinya batuan lebih keras daripada paku. Artinya batuan mempunyai nilai
kekerasan kurang dari lebih tujuh, artinya sangat baik dimanfaatkan
sebagai agregat.

3.4.2 Untuk Testing Pelapukan


Agregat ditetesi dengan cairan asam clorida (HCL- 0,1 n), apabila pada
permukaan agregat terlihat ada buih, maka batuan tersebut mulai lapuk pada
bagian luarnya. Kemungkinan besar bagian dalam belum lapuk. Apabila terdapat
gejala seperti ini untuk menghilangkan lapisan yang lapuk, cukup dicuci dengan
air.
Petunjuk tersebut diatas, merupakan petunjuk praktis untuk mengetahui
apakah jenis batuan itu layak dimanfaatkan sebagai agregat atau tidak. Akan lebih
sempurna apabila penelitian lapangan dikombinasikan dengan penelitian
laboratorium antara lain
O kekuatan daya tekan
O kekuatan daya aus

31

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

3.5 RANGKUMAN

SOAL PELATIHAN
1 .Jelaskan proses terjadinya batuan metamorfosa
2. Batu kapur termasuk jenis batuan

endapan, bagaimanakah

proses

pembentukannya
3. Jelaskan macam-macam jenis batuan sedimen
4. Jelaskan pengujian batu dilapangan

32

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB IV

AGREGAT UNTUK ADUKAN

Hasil Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu Menjelaskan sifat-sifat


agregat untuk aduk beton dengan baik dan benar.
Kriteria Penilaian
Keberhasilan saudara dalam menguasai bab ini, dapat diukur dengan kriteria
sebagai berikut:
1.

Mampu menjelaskan fungsi agregat untuk adukan

2.

Mampu menjelaskan Pengelompokan Agregat

3.

Mampu menjelaskan Sifat Permukaan Agregat, Kekuatan, Kepadatan,


dan Penyerapan Air

4.

Mampu menjelaskan Zat-zat yang merugikan agregat

5.

Mampu menjelaskan Susunan Butir Agregat

6.

Mampu menjelaskan . penggabungan Agregat


Sumber Pustaka

1.

_______. Teknologi Bahan II, PEDC , Bandung

2.

_______. Konstruksi Kayu, PEDC , Bandung

3.

Heinz F. Ilmu Konstruksi Bangunan , 1981, Karisma, Bandung

4.

Luc Vasseur, Masory Construction No 95/75/21379

5.

Rosjid Sastraminarja, Ir, 1989, Bahan Perkerasan, Jakarta

33

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

4. 1 FUNGSI AGREGAT
Agregat ialah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi
dalam campuran beton. Agregat ini menempati 70% volume beton. Walaupun
sebagai bahan pengisi akan tetapi agregat sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat
betonnya, sehingga pemilihan agregat merupakan bagian penting dalam
pembuatan beton.Cara membedakan jenis agregat dilakukan dengan didasarkan
pada ukuran butirnya.
Fungsi agregat sebaga berikut :
a. sebagai bahan pengisi
b. menentukan kekuatan aduk/beton
c. membuat beton/adukan stabil terhadap pengaruh luar dan cuaca, memperendah
sifat susut dan muai
d. memperkecil pemakaian perekat

4.2 PENGELOMPOKAN AGREGAT / KLASIFIKASI


Dalam rekayasa beton agregat yang digunakan terdiri dari banyak
klasifikasi
4.2.1 Ditinjau Dari Asalnya
Pada dasarnya agregat aduk dan beton didapat dengan dua cara :
a. Agregat Alam
Agregat alam umumnya menggunakan bahan baku batu alam atau hasil
penghancurannya. Batu alam yang baik untuk agregat adalah batuan beku.
Agregat alam dapat dibedakan atas tiga kelompok :
1. Kerikil dan pasir alam
Merupakan hasil penghancuran oleh alam dari batuan induknya, terdapat
dekat atau jauh dari asalnya, karena terbawa oleh arus air atau angin dan
mengendap di suatu tempat.
2. Agregat batu pecah
Agregat batu pecah dibuat dari batuan alam yang dipecah.
3. Agregat batu apung

34

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Batu apung merupakan agregat alamiah yang ringan dan umum digunakan.
Penggunaan batu apung harus bebas dari debu vulkanis halus dan bahanbahan yang bukan vilkanis, misalnya lempung.
b. Agregat Buatan
Agregat buatan adalah agregat yang dibuat dengan tujuan penggunaan tertentu
atau karena kekurangan agregat batuan alam. Agregat buatan dibuat adalah
agregat ringan. Berikut adalah beberapa contoh agregat buatan :
1. Klinker dan breeze
Agregat

ini

banyak

dipergunakan

selama

bertahun-tahun

untuk

memproduksi blok dan pelat untuk partisi atau penyekat dalam dan
tembok interior lainnya.Sumber utama agregat jenis ini adalah stasiun
pembangkit tenaga dimana ketel uap dipanasi dengan bahan bakar padat.
2. Agregat yang berasal dari bahan-bahan yang mengembang
Agregat ini dibuat dari tanah liat biru jenis khusus, diproses, kemudian
mengembang jika dipanaskan. Bahan yang dihasilkan terdiri atas butiran
bulat, keras, kulit padat tetapi bagian dalam keropos. Bahan yang bersisi
tajam dapat diperoleh dengan memecah butiran-butiran yang terlalu besar.
3. Coke breeze
Coke breeze adalah hasil tambahan dari sisa bakaran bahan bakar batu
arang yang kurang sempurna pembakarannya, dan biasanya terdapat ada
dapur-dapur rumah tangga di negara Eropa.
4. Hydite
Agregat ini terbuat dari tanah liat (shale) yang dibakar dalam dapur
berputar, pada suhu tinggi. Sehingga bahan akan membengkak. Hasilnya
merupakan bongkahan tanah yang mengembang dan hampir leleh, lalu
dihancurkan dan diayak hingga mencapai susunan butir yang diperlukan.
5. Lelite
Lelite dibuat dari batu metamorf atau shale yang mengandung senyawa
karbon. Bahan dasarnya dipecah kecil-kecil, kemudian dibakar dalam
dapur vertikal pada suhu ( 1550C). Pada suhu ini butiran

35

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

mengembang,terkumpul

didasar

dapur

berupa

lempeng-lempeng,

kemudian lempeng ini dibuat bahan tambah dengan memecah dan


mengayak untuk mendapatkan butiran agregat yang diinginkan.

4.2.2 Ditinjau Dari Berat jenisnya.


Ditinjau dari berat jenisnya, agregat diibedakan atas tiga macam :
1. Agregat ringan
Agregat ringan yaitu agregat yang memiliki berat jenis kurang dari 2,0 (berat
sendiri yang rendah, sehingga strukturnya ringan) digunakan untuk beton non
struktural. Agregat ini dapat juga digunakan untuk beton struktural atau blok
dinding tembok.,contohnya agregat batu apung, hydite,rocklite,lelite,dsb.
2. Agregat normal
Agregat normal adalah agregat yang memiliki berat jenis antara 2,5 sampai
2,7. Agregat ini berasal dari batuan granit, basalt,kuarsa dsb, beton yang
dihasilkan dinamakan beton normal.
3. Agregat berat
Agregat berat memiliki berat jenis lebih dari 2,8. Contoh agregat ini :
magnetik (Fe3O4) dan barytes (BaSO4), atau serbuk besi. Beton yang
dihasilkan memiliki berat jenis yang tinggi juga (dapat sampai 5,0). Beton
jenis ini efektif digunakan sebgai dinding pelindung sinar radiadsi sinar X.

4.2.3 Ditinjau Dari Bentuknya


Agregat alam maupun batu pecah mempunyai berbagai bentuk butiran.
yaitu :
1. Bulat
Umumnya agregat jenis ini berbentuk bulat atau bulat telur. Pasir kerikil jenis
ini biasanya berasal dari sungai atau pantai dan mempunyai rongga udara
minimum 33%. Agregat seperti ini tidak cocok untuk beton mutu tinggi
maupun perkerasan jalan raya.
2. Bersudut

36

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Bentuk ini tidak beratruran, mempunyai sudut-sudut yang tajam dan


permukaannya kasar, Yang termasuk jenis ini adalah batu pecah semua jenis,
yaitu hasil pmecahan dengan mesin dari berbagai jenis batuan.Agregat ini baik
untuk membuat beton mutu tinggi maupun lapis perkerasan jalan.
3. Pipih
Agregat pipih ialah agregat yang memiliki perbandingan ukuran terlebar dan
tertebal pada butiran itu lebih dari 3. Agregat jenis ini berasal dari batu-batuan
yang berlapis.
4. memanjang
Butir Agregat dikatakan memanjang (lonjong) jika perbandingan ukuran yang
terpanjang (terbesar) dan terlebar lebih dari 3

4.2.4 Ditinjau dari Tekstur Permukaan


Jika ditinjau dari tekstur permukaannya agregat dapat dibedakan atas :
1. Agregat dengah permukaan seperti gelas, mengkilat,
Contohnya : flint hitam, obsidian
2. Agregat dengan permukaan kasar
Umumnya berupa pecahan batan, permukaan tampak kasar tampak jelas
bentuk kristalnya. Contohnya jenis ini, misalnya basalt, felsite, prophyry, batu
kapur
3. Agregat dengan permukakan licin
Agregat ini ditemukan pada batuan yang butiran-butirannya kecil (halus),
contohnya kerikil sungai, chart, batu lapis, marmer dan beberapa rhyolite
4. Agregat dengan permukaan berbutir
Pecahan dari batuan ini menunjukan adanya butir-butir bulat yang merata,
misalnya batuan pasir, colite
5. Agregat berpori dan berongga
Batuan ini mempunyai pori dan rongga yang mudah terliat. Contohnya batu
apung, batu klinker, tanah liat yang dikembangkan dan batuan dari lahar
gunung merapi.

37

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

4.2.5 Ditinjau dari Besar Butirannya


Ditinjau dari besar butirannya, maka agregat dapat dibedakan menjadi 3 :
1. Agregat halus
Agregat halus adalah agregat yang butirannya menembus ayakan 4,8 mm
terdiri dari 3 jenis yaitu :
a. Pasir galian
Pasir ini diperoleh langsung dari permukaan tanah, atau dengan cara
menggali dari dalam tanah.
b. Pasir sungai
Pasir ini diperoleh langsung dari dasar sungai
c. Pasir laut
Pasir ini adalah pasir yang diambil dari pantai
2. Agregat kasar
Agregat kasar adalah agregat dengan butiran-butiran tertinggal di atas ayakan
dengan lubang 4,8, tetapi lolos ayakan 40 mm
3. Batu
Batu adalah agregat yang besar butirnya lebih besar dari 40 mm.

4.3 SIFAT PERMUKAAN AGREGAT, KEKUATAN, KEPADATAN DAN


PENYERAPAN
4.3.1 Sifat Permukaan Agregat.
Keadaan permukaan agregat akan mempengaruhi sifat ikatan antara pasta
semen dan permukaan agregat. Ikatan antara pasta semen dan agregat merupakan
faktor penting terhadap kekuatan beton terutama kekuatan lenturnya. Agregat
yang permukaannya kasar atau berpori akan menghasilkan ikatan yang lebih baik
dari pada agregat yang licin. Batu pecah akan mempunyai ikatan yang lebih baik

dari kerikil sungai yang permukaannya licin. Bentuk butiran agregat mempunyai
hubungan erat dengan luas permukaan serta rongga yang ada pada agregat.
Agregat yang berbentuk bulat luas permukaannya lebih kecil dari yang
berbentuk pipih atau memanjang. Perbedaan luas permukaan mempengaruhi

38

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

jumlah air pengaduk yang diperlukan untuk pembuatan beton.Makin besar luas
permukaan makin banyak air yang dibutuhkan dan demikian sebaliknya.
Pada sejumlah tertentu agregat, perbedaan bentuk akan memberikan
perbedaan jumlah rongga yang terdapat didalammnya.Didalam beton rongga pada
agregat akan diisi pasta semen. Makin besar jumlah rongga akan makin banyak
pasta semen yang diperlukan mengisi rongga dan menutup permukaan agregat.
Berarti untuk suatu tingkat kelecakan (kemampuan dikerjakan) akan diperlukan
lebih banyak semen dan air pencampur.Bisa dilihat bila kita bandingkan dua
macam agregat yaitu pasir dan kerikil sungai dengan batu pecah dan pasir hasil
pemecahan batu.

4.3.2 Kekuatan Agregat


Kekuatan dan elastisitas agregat tergantung dari jenis batuannya, susunan
mineralnya tekstur butiran atau kristalnya. Kekuatan agregat sangat berpengaruh
terhadap kekuatan beton, agregat yang lemah tidak akan menghasilkan beton yang
kuat,Kekuatan agregat beton diperoleh dengan cara pengujian kekuatan secara
tidak langsung yaitu diuji sejumlah contoh yang dalam bentuk beberapa ukuran
butir pada volume tertentu (secara bulk).
Dalam pengujian kekuatan ini terdapat cara dan istilah yang dipergunakan,
kekuatan hancur, nilai kekuatan pukul (impact), ketahanan aus. Sebagai contoh
dapatlah disebutkan disini biasa digunakan :ASTM Standar C 131 dan C 5353
memakai cara pengujian geseran dengan mesin aus Los Angeles dan ketahanan
aus dinyatakan dengan persentase bagian yang aus dari contoh agregat kasar. Cara
ini dianut di Indonesia, dalam SII 0087-75.

4.3.3 Kepadatan Agregat


Berat jenis
Dalam hubungan dengan sifat agregat terdapat istilah-istilah berat jenis berikut :
a. berat jenis absolut,
ialah perbandingan antara berat suatu masa yang masip dengan berat air
murni pada volume yang sama pada suhu tertentu. Disini volume benda

39

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

adalah volume masip tidak termasuk pori-pori yang terdapat didalamnya.


Untuk menentukan berat jenis ini benda harus dibuat berbentu tepung,
sehingga pori-pori didalamnya dapat dihilangkan.
b. berat jenis nyata
seperti berat jenis absolut tetapi didalam volume benda termasuk pori-pori
yang tidak tembus air dan tidak termasuk volume pori-pori kapiler yang
yang dapat terisi oleh air.
c. berat jenis pada keadaan jenuh kering muka (s.s.d.condition)
ialah perbandingan antara berat pada keadaan jenuh atau kering muka
dengan berat air murni pada volume yang sama pada suhu tertentu. Disini
volume benda termasuk volume pori-pori yang tidak tertembus air
d. berat jenis dalam keadaan kering,
seperti pada berat jenis pada keadaan jenuh tetapi didalam volume benda
termasuk volume seluruh pori-pori yang terkandung dalam benda.
Didalam teknologi beton terutama dipergunakan istilah atau pengertian berat jenis
pada keadaan jenuh air kering muka (saturated and surface dry condition).
Berat jenis agregat berbeda satu sama lainnya tergantung dari jenis batuan,
susunan mineral, struktural butiran dan porositas batuannya.

Berat Isi Agregat (bulk density)


Berat isi adalah perbandingan antara berat suatu benda dan isinya, yang
biasanya dinyatakan dalam satuan kg per liter atau kg per meter kubik. Hal ini
secara angka sama dengan berat jenis, bila volume benda diukur atau ditentukan
bagi masing-masing butirannya. Tetapi tidak mungkin menghindari adanya
rongga-rongga antara butiran-butiran agregat bila kita mengisikan agregat
kedalam suatu tempat atau ruangan yang isinya tertentu. Berat agregat yang
mengisi suatu tempat atau ruang dalam satuan volume tertentu disebut isi atau
bulk density. Akan didapat angka yang berbeda dengan berat jenis, karena
ruangan tempat agregat terisi rongga antar partikel dari agregatnya.Contohnya :
kerikil sungai dari batuan andesit mempunyai berat jenis 2,60 sedangkan berat/

40

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

isinya 1,5 kg/liter.Pasir sungai berat jenisnya 2,25 kg/liter, dan berat / isinya
1,4 kg/liter.
Untuk agregat dengan berat jenis yang sama, dapat memberikan nilai berat
isi yang berbeda-beda tergantung bagaimana padatnya kita mengisikannya, bentuk
butiran dan susunan besar butirnya.
Nilai berat atau isi ini biasanya dipergunakan untuk mengkonversikan sesuatu
jumlah dalam satuan berat kepada satuan volume.

4.3.4 Penyerapan Air


Porositas dan daya serap air.
Pori-pori yang terdapat didalam agregat dapat berupa rongga yang tersebar
dibagian batuannya dan berupa pori-pori kapiler.Batuan mengandung pori atau
rongga yang terjadi dalam proses pembentukan batuan tersebutJumlah volume
rongga atau pori yang terdapat batuan disebut porositas dan biasanya dinyatakan
dalam prosen terhadap volume batunya.
Adanya rongga atau pori dalam agregat ini sangat erat hubungannya
dengan berat jenis, daya serap air, sifat kedap air, modulus elastisitas, ketahanan
aus dan stabilitas terhadap zat kimia dari beton yang dibuat dari agregat tersebut.
Bila semua pori terisi oleh air, keadaan ini disebut jenuh dan kering muka
(s.s.d).Bila keadaan ini dibiarkan mengering, sebagian air dalam pori menguap,
sehingga dia tidak jenuh lagi, maka keadaan ini disebut kering udara. Sedangkan
bila dikeringkan terus (didalam oven) sampai semua airnya menguap maka
disebut keadaan kering mutlak atau disebut juga kering oven. Pada keadaan
dimana permukaan butiran agregat mengandung air (biasanya disebut air
permukaan), maka agregat disebut basah. Jadi terdapat empat keadaan kandungan
air dalam agregat, yang dapat digambarkan sebagai berikut :

41

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Gambar 4.1 Keadaan kandungan air dalam agregat

Kadar air pada agregat


Dari empat kandungan air dalam agregat seperti tersebut diatas, dapatlah
dibedakan kadar air yang diserap (dinyatakan dalam proses perhitungan terhadap
berat agregat kering)dan kadar air bebas(dinyatakan dalam prosen terhadap berat
agregat jenuh kering muka). Kadar air total adalah kadar air yang diserap
ditambah kadar air bebas

Air bebas pada pasir


Pasir yang basah mengandung sejumlah air pada permukaannya. Air ini
mengisi ruangan antar partikel atau butiran pasir, sehingga pasir yang basah akan
mengisi ruangan yang lebih besar daripada pasir kering dari berat yang sama.
(volumenya lebih besar).

4.4

BAHAN-BAHAN YANG MERUGIKAN YANG TERDAPAT


DIDALAM AGREGAT
Agregat beton baik agregat kasar maupun agregat halus mengandung

beberapa macam bahan-bahan yang dapat berpengaruh jelek kepada beton.


Bahan-bahan tersebut adalah sebagai berikut :
a.

Zat organik
Zat organik ini biasanya berasal dari hasil penghancuran zat tumbuhan,
terutama asam tanin dan derivatnya, berbentuk humus dan lumpur organik.

42

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

b.

Tanah liat, lumpur dan debu dan sangat halus.


Tanah liat dalam agregat berbentuk gumpalan atau lapisan yang menutupi
permukaan butiran agregat. Tanah liat pada permukaan butiran agregat akan
mengurangi kekuatan ikatan antara pasta semen dan agregat, sehingga akan
mengurangi kekuatan dan ketahanan beton.
Selain tanah liat, terdapat pula lumpur dan debu halus dari hasil pemecahan
batu yaitu partikel berukuran antara 0,002 mm dan 0,006 m (2-6 micron).

c.

Garam chlorida dan sulfat


Pasir yang terdapat di pantai atau dimuara sungai yang berhubungan dengan
air laut, kemungkinan mengandung garam-garam chlorida dan sulfat antara
lain, Na, Mg, Ca, chlorida Na dan Mg sulfat.
Garam-garam ini dapat dihilangkan dengan cara mencuci pasirnya dengan
air tawar.Bila garam-garam ini tidak dihilangkan, dapat merusak konstruksi
beton yang dibuat memakai pasir ini. Adanya chlorida beton akan memberi
resiko berkaratnya baja tulangan yang selanjutnya memecah betonnya dan
tidak berfungsinya tulangan didalam konstruksi.
Sedangkan garam-garam sulfat, terutama garam Mg sulfat sangat agresif
terhadap semen, yang reaksinya dengan semen menghasilkan senyawasenyawa yang volumenya mengembang lalu sedikit merusak beton.
Disamping itu agregat dari pantai, juga mengandung kulit kerang. Jika
kadar karang ini cukup tinggi, dapat berakibat lebih rendahnya kekuatan dan
ketahanan beton.

d.

Partikel-partikel yang tidak kekal


Didalam agregat ada kemungkinan terdapat partikel-partikel yang ringan,
lunak dan dapat berubah komposisinya/hancur. Partikel ringan dapat berupa
arang, kayu dan mika. Partikel lunak yaitu lumpur dan tanah liat yang
mengeras yang kalau terendam air akan mengembang dan kemudian pecah.
Partikel ringan dan lunak ini akan mengurangi kekuatan dan ketahan beton,
dan menambah kebutuhan air pencampur pada waktu pembuatan beton.

43

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

4.5 SUSUNAN BUTIR AGREGAT


Dalam rekayasa beton, agregat beton secara grafis besarnya terbagi dalam 2
kelompok susunan butir yaitu : agregat halus dan agregat kasar. Disamping itu,
agregat dalam suatu timbunan terdiri dari butiran-butiran dengan berbagai ukuran,
dari ukuran yang terkecil sampai kemungkinan terbesar menurut batas
emakaiannya.Bila butiran-butiran tadi kita pisahkan kedalam beberapa ukuran
tertentu, akan diperoleh suatu pembagian fraksi butir. Untuk memisahkan butiranbutiran menurut fraksinya (kelompoknya) itu dipergunakan ayakan dengan
berbagai ukuran lubang yang oleh beberapa negara telah distandarkan. Pemisahan
fraksi-fraksi butir tadi dengan ayakan, kita sebut analisa ayak, dan dengan hasil
analisa ayak ini akan digambarkan suatu kurva susun butir dari agregat tersebut.

4.5.1 Analisa Ayak


Ayakan yang akan dipakai untuk menguji besar butir agregat beton
mempunyai lubang -lubang persegi. Ukuran lubang dinyatakan dengan satuan
inci, milimeter atau dengan nomor untuk ayakan yang besar lubangnya kurang 5
mm.
Ayakan-ayakan ini adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1. Daftar ayakan standar ASTM, BS dan ISO
Standard ASTM-E11-70
Lubang Ayakan dalam mm

152
76
38
19
9,5
4,75
2,36
1,18
0,60
0,30
0,15
0,075

Standard British BS 410-1969


Lubang ayakan dalam mm

150
75
37,5
20
10
5
2,36
1,18
0,60
0,30
0,15
0,075

Standard ISO
Lubang ayakan dalam mm

128
64
32
16
8
4
2
1
0,5
0,25
1,125
0,062

44

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

a. Jumlah contoh untuk analisa ayak


Dalam melakukan analisa ayak diperlukan sejumlah contoh yang diambil dari
suatu timbunan agregat. Contoh ini harus sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya dari timbunan tersebut dan dapat mewakili sifat-sifat dari sejunlah
besar agregat,
b. Contoh perhitungan hasil analisa ayak.
Contoh agregat dikeringkan dalam oven pada suhu 105C sampai berat tetap,
lalu dibiarkan sampai dingin. Kemudian diambil sejumlah contoh untuk
dilakukan analisa ayak sesuai dengan persyaratan standar. Agregat yang
tertinggal diatas masing-masing ukuran ayakan kemudian ditimbang.
1. Agregat kasar
Tabel 4.2 Contoh perhitungan angka analis ayak untuk agregat kasar
Lubang
ayakan, mm
75
50
37.5
30
25
19
12
9.5
4.75
2.36
1.18
0.60
0.30
0.15
van
jumlah

Berat ter
Persen
tinggal gram tertinggal
0
0
530
2,8
1680
8,8
2730
14,3
4410
23,1
6385
33,4
3152
16,5
175
0,9
25
0,13
13
0,07
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
19100
100

Angka kehalusan : 793,7 : 100

Persen terting
gal kumulatif
0
2,8
11,6
25,9
49
82,4
98,9
99,8
99,9
100
100
100
100
100
793,7

Persen tem
bus kumulatif
100
97,2
88,4
74,1
51,0
17,6
1,1
0,2
0,1
0
0
0
0
0
0

= 7,937

45

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

2. Agregat halus
Tabel 4.3Contoh perhitungan angka analis ayak untuk agregat halus
Lubang Berat
ayakan, tertinggal
mm
gram
9,5
0
4,75
9,0
2,36
13,2
1,18
140,0
0,60
209,0
0,30
103,9
0,15
32,5
0,15
6,0
jumlah
504,6

Persen
tertinggal

Persen
tertinggal
kumulatif
0
1,8
4,3
31,5
72,2
92,4
98,8
301,0

0
1,8
2,5
27,2
40,7
20,2
6,4
1,2
100

Angka kehalusan : 301,0 : 100

Persen tembus
kumulatif
100
89,2
95,7
68,5
27,8
7,6
1,2
-

= 3,010

4.6 MENGGABUNGKAN AGREGAT.


4.6.1 Cara Menggabungkan Dua Atau Lebih Jenis Pasir,
Misalnya kita mempunyai pasir jenis A, jenis B, jenis C dan pasir D, yang
masing-masing susunan butirnya tidak memenuhi syarat. Agar kita
mendapatkan pasir yang besar butirannya menuhi syarat, kita dapat
menggabungkan dua jenis pasir atau lebih dari pasir-pasir itu. Rumus yang
digunakan untuk menggabungkan beberapa jenis pasir adalah sebagai berikut :
Y

a
b
c
.Ya
.Yb
.Yc
100
100
100

a + b + c = 100%
Dimana :
Y = ordinat dari kurva susunan gabungan pada salah satu lbang ayakan
Ya = ordinat dari kurva susunan butir pasir jenis A pada salah satu
lubang ayakan yang sama pada lubnag ayakan pada Y
Yb = ordinat dari kurva susunan butir pasir jenis B pada salah satu
lubang ayakan yang sama pada lubnag ayakan pada Y

46

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Yc = ordinat dari kurva susunan butir pasir jenis C pada salah satu lubang
ayakan yang sama pada lubnag ayakan pada Y
a,b,c = perbandingan berat antara pasir jenis A, B dan C dan seterusnya.
Contoh
Ukuran ayakan

Persen Tembus

(mm)

Pasir A

Pasir B

9,5

100

100

4,75

89

100

2,36

74

99

1,19

46

95

0,60

19

88

0,30

49

0,15

Misalnya kita ingin menggunakan pasir zone 2 dari British Standard.


Tentukan satu atau dua titik persentase terbaik dari kurva pasir zone 2
pada garis lubang ayakan tertentu. Misal kita pilih ayakan 0,60 mm. Titik
persentase yang diisyaratkan adalah antara 35% - 59%. Pada ayakan 0,60
mm koordinat pasir A adalah 19 dan koordinat pasir B adalah 88. Kita
pilih titik atau ordinat 45%. Sehingga jika angka itu kita masukkan
kedalam rumus diatas, kita dapatkan persamaan
Y

a
b
c
.Ya
.Yb
.Yc
100
100
100

45

a
b
.19
.88
100
100

a + b = 100
Jadi didapat :
45

4500

100 a .88
a
.19
100
100
= 19.a + 8800 - 88.a

47

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

88.a 19.a = 8800 4500


69.a

= 4300

Didapat a = 64, dan

b = 100 64 = 36

Dengan demikian untuk membuat pasir zone 2, maka pasir gabungan


terdiri dari 64 %

pasir A dan 36% pasir B. Sesudah didapat komposisi

campurannya , kemudian masing-masing ayakan dicari harga Y nya. Untuk pasir


zone 2 dengan gabungan 64% pasir A dan 36% pasir B, didapat :
Ukuran
ayakan
(mm)

% tembus kumulatif

Gabungan 64% pasir A + 36% pasir B

Ya

Yb

64/100. Ya

36/100. Yb

Y gabungan

9,50

100

100

64

36

100

4,75

89

100

57

36

93

2,36

74

99

47

36

83

1,19

46

95

29

34

63

0,60

19

88

12

32

44

0,30

49

18

21

0,15

0,60

3,60

4.6.2 Cara Menggabungkan Agregat Kasar


Untuk menggabungkan du atau lebih jenis agregat kasar, dapat menggunakan
rumus yang digunakan untuk menggabungkan dua jenis atau lebih agregat halus :
Y

a
b
c
.Ya
.Yb
.Yc
100
100
100

dengan

a + b + c = 100%

Dimana :
Y = kordinat fraksi pada ayakan tertentu agregat gabungan
Ya = kordinat agregat A pada fraksi yang sama dengan Y
Yb = kordinat agregat B pada fraksi yang sama dengan Y
Yc = kordinat agregat C pada fraksi yang sama dengan Y
a,b,c = perbandingan berat antara pasir jenis A, B dan C dan seterusnya.

48

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

4.6.3 Menggabungkan Agregat Halus Dan Agregat Kasar


Menggabungkan agregat halus dan agregat kasar agar mendapatkan agregat
dengan kurva susunan butir yang sesuai dengan persyaratan, dapat dilakukan
dengan menggunakan rumus untuk menggabungkan dua jenis agregat halus
(pasir) atau dua jenis agregat kasar.
Y

a
b
.Ya
.Yb
100
100

dengan

a + b = 100%

Dimana :
Y = kordinat fraksi pada ayakan tertentu agregat gabungan
Ya = kordinat agregat halus pada fraksi yang sama dengan Y
Yb = kordinat agregat kasar pada fraksi yang sama dengan Y
a = persentase agregat halus
b = persentase agregat kasar

4.6.4 Persyaratan Persyaratan Susunan Besar Butir Agregat

Syarat-syarat susunan besar butir halus menurut British Standard BS 882-1965


dan Standard C 33 74
Tabel 4.4 Syarat gradasi agregat halus /pasir
Lubang
Ayakan B.S.
Dalam mm

Persentase tembus kumulatif (persen berat)


Menurut BS 882 : 1965
Zone 2
Zone 3
Zone 4
Zone 1

Menurut
ASTM
C 33 - 74

9,52

100

100

100

100

100

4,76

90-100

90-100

95-100

95-100

95-100

2,40

60-95

75-100

85-100

95-100

80-100

1,10

30-70

55-100

75-100

90-100

50-85

0,60

15-34

35-59

60-79

80-100

25-60

0,30

5-20

8-30

12-40

15-50

10-30

0,15

0-10

0-10

0-10

0-15

2-10

49

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Syarat-syarat susunan besar butir agregat kasar menurut British Standard BS


882-1973 (untuk graded aggregate)
Tabel 4.5 gradasi kerikil menurut BS
Lubang
Ayakan B.S
Dalam mm
79,2

Persentase tembus kumulatif (persen berat)


Ukuran butir normal
38,1 4,76 mm
19,0 4,76 mm
9,6 4,76 mm
100
-

38,1

95-100

100

19,0

30-70

95-100

100

9,52

10-35

25-55

50-85

4,76

0-5

0-10

0-10

Syarat susunan besar butir untuk agregat gabungan (agregat halus + agregat
kasar) menurut British Standard BS 882-1965 (untuk agregat gabungan)
Tabel 4.6 Syarat susunan butir agregat gabungan

Lubang ayakan B.S


dalam mm
76,2

Persentase tembus kumulatif untuk ukuran butir nominal


38,1 mm ( 1 in)
19,0 mm (3/4 in)
100

38,1

950 100

100

19,0

45 75

95 100

4,76

25 45

30 50

0,60

8 30

10 35

0,15

06

06

50

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

4.7 RANGKUMAN
Agregat ialah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi
dalam campuran mortar atau beton. Agregat ini kira-kira menempati banyak 70%
volume mortar atau beton.
Dalam

rekayasa

beton

agregat

dibedakan

atas

asalnya,

berat

jenisnya,bentukmnya , tekstur permukaannya dan besar butirannya.


Adapun sifat-sifat agregat yang berpengaruh kepada mutu dari beton
antara lain : Bentuk butir dan keadaan permukaannya,kekuatan agregat,berat jenis
dan berat isi,porositas dan daya serap air., kadar air pada agregat,air bebas pada
pasir,bahan-bahan yang merugikan yang terdapat didalam agregat,sifat kekal
agregat,reaksi alkali agregat, sifat-sifat thermal
Pemisahan fraksi-fraksi butir tadi dengan ayakan, kita sebut analisa ayak,
dan dengan hasil analisa ayak ini akan digambarkan suatu kurva susun butir dari
agregat tersebut.

4.8 SOAL PELATIHAN


1.Jelaskan maksud penggunaan agregat (pasir atau kerikil) didalam adukan beton
2.Tentukan persen tertingal, persen tertinggal kumulatif , persen tembus kumulatif
dan angka kehalusan dari data hasil anlaisa saringan agregat kasar berikut ini :
Lubang Berat
ayakan, tertinggal
mm
gram
37,5
1008
30
1870
25
4650
19
6655
12,5
2952
9,5
105
4,75
75
2,36
13
1,18
0
0,60
0
0,30
0
0,15
0
van
0

Persen
tertinggal

Persen
tertinggal
kumulatif

Persen tembus
kumulatif

51

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

3. Ada 3 jenis agregat A dan agregat B dan C , tentukan persentase susunan


butir gabungan 3 agregat itu dengan data analisa ayak sebagai berikut :
Susunan butir agregat tembus ayakan, %
Ayakan (mm)
38
19,2
9,6
4,8
2,4
1,2
0,6
0,3
0,15

100
100
99
90
86
57
39
15
8

100
89
56
13
5
2
0

100
76
50
23
10
0

52

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB V

BAHAN PENGIKAT

Hasil Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu menjelaskan bahan pengikat
yaitu kapur, dan pozzolan dengan baik
Kriteria Penilaian
Keberhasilan saudara dalam menguasai bab ini, dapat diukur dengan kriteria
sebagai berikut:
1. Mampu menjelaskan kapur sebagai bahan pengikat
2. Mampu menjelaskan pozzolan sebagai bahan pengikat
3. Mampu menjelaskan . jenis pengujian bahan pengikat
Sumber Pustaka
1. _______. Teknologi Bahan II, PEDC , Bandung
2. _______. KOnstruksi Kayu, PEDC , Bandung
3. Heinz F. Ilmu Konstruksi Bangunan , 1981, Karisma, Bandung
4. Luc Vasseur, Masory Construction No 95/75/21379

5. Rosjid Sastraminarja, Ir, 1989, Bahan Perkerasan, Jakarta

53

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

5.1 KAPUR
Kapur sebagai bahan bangunan digunakan sebagai bahan perekat terutama
untuk adukan atau untuk kapur pemutih, selain itu dapat dipakai pula sebagai
batuan alam untuk pondasi sebagai batu pecah atau sebagai kapur tohor atau kapur
padam untuk pengolahan air. Kapur bangunan dibuat dengan cara membakar batu
kapur sampai pada suhu kalsinasinya, untuk menguraikan atau melepaskan
karbonata yang terkandung, sehingga berubah menjadi oksida kalsium atau oksida
kapur yang biasa disebut kapur tohor. Kapur tohor ini kemudian direaksikan
dengan air akan berubah menjadi hidroksida kapur atau biasa disebut hydrat kapur
atau kapur padam yang dipakai sebagai bahan perekat dalam kapur bangunan

5.1.1 Bahan Pembentuk


Sebagai bahan pembuatan kapur bangunan, adalah batu kapur yaitu bahan
yang mengandung unsur utama kalsium (Ca) atau Mg. Di alam umumnya bahan
kapur yang berbentuk batu kapur, kandungan utamanya berupa senyawa kalsium
karbonat (CaCO3).Batuan kapur yang terdapat di Indonesia sebagian besar adalah
batu kapur kalsium. Kepadatan batuan kapur juga bervariasi dari mulai yang lunak
tercampur tanah sampai batuan yang cukup keras, sudah mencapai tingkat batuan
marmer
Untuk merubah batu kapur menjadi kapur tohor, batu ini perlu dilepaskan
karbonatnya, sehingga menjadi oksida kapur melalui proses pembakaran Peristiwa
penguraian karbonat dari batuan kapur akibat pembakaran :
CaCO3 + panas
CaCO3 MgCO3+ panas

CaO + CO2
CaO MgO+ CO2

Secara umum dalam praktek, pembakaran batu kapur dilakukan pada suhu
1000-1340C untuk kapur kalsium dan 940-1230C untuk kapor dolonit. Bila
suhu kurang dari itu banyak batu yang masih mentah

54

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

5.2 POZZOLAN
Pozolan bahan yang mengandung silika atau senyawanya dan alumina,
yang tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen, akan tetapi dalam bentuknya
yang halus dan dengan adanya air, senyawa tersebut akan bereaksi secara kimia
dengan kalsium hidroksida pada suhu kamar membentuk senyawa yang
mempunyai sifat seperti semen. Bahan pozolan itu sendiri dicampur air tidak
mengeras
Jenis pozolan terbagi menjadi :
1. Pozolan alam
Umumnya mengandung lapukan dari batuan yang mengandung senyawa
silika, sebagian besar berupa lapukan dari batuan gunung api atau batuan
beku, seperti : andesit, gabro, basalt
2. Pozolan buatan
Umunya bekas hasil bakaran dari tanah, abu batu bara dan sejenisnya,
dapat bersifat pozolan
gilingan tanah liat atau bekas bakaran benda keramik jika bakaranya cukup
tinggi dapat bersifat pozolan
Sifat pozolan

adalah bila gilingan bahan ini dicampur dengan kapur

padam dan air, dapat mengeras, membatu dan akan membentuk senyawa
monokalsium silikat. Bila dicampur dengan semen atau dipakai dalam beton,
pozolan akan mengikat kelebihan kapur yang ada dalam semen atau dibebaskan
oleh semen, adukan atau betonnya menjadi lebih rapat dan akan lebih tahan
terhadap rembesan air dan sulfat.

5.2.1 Identifikasi Pozolan


Cara identifikasi pozolan adalah mereaksikannya dengan kapur padam.
Campuran ini diaduk dengan air sampai lumat dan plastis, setelah itu adonan
tersebut direndam dalam air. Bila adonan itu mampu mengeras paling lama
setelah 4 hari direndam, maka bubuk yang diduga pozolan, tetapi bila mengeras
mengerasnya lebih dari 4 hari, sifat pozolannya kurang atau tidak baik

55

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

5.2.2 Pemakaian Pozolan


Karena sifatnya yang dapat mengeras dengan kapur, maka pozolan dipakai
terutama untuk adukan kapur, pembuatan bata kapur tras, dicampur dengan semen
portland, atau dicampur kedalam beton, dengan tujuan dapat mengikat kapur
bebas, dan mempertinggi kerapatan air dari aduk atau betonnya.. Pozolan juga
digunakan untuk bangunan air dan terutama bangunan dimana akan ada gangguan
sulfat (sebagai musuh utama beton)

5.3 RANGKUMAN
Kapur sebagai bahan bangunan digunakan sebagai bahan perekat terutama
untuk adukan atau untuk kapur pemutih, selain itu dapat dipakai pula sebagai
batuan alam untuk pondasi sebagai batu pecah atau sebagai kapur tohor atau kapur
padam untuk pengolahan air.
Pozzolan merupakan istilah bagi suatu bahan baik yang berasal dari alam
atau bahan buatan, yang apabila bahan itu dicampur dengan kapur padam dan air
akan mengeras.Bahan pozolan itu sendiri dicampur air tidak mengeras

5.4 SOAL PELATIHAN

1.

Jekaskan kegunaan kapur sebgai bahan bahan bangunan

2.

jelaskan kegunaan pozzoloan sebagai bahan bangunan

3.

jelaskan proses pengujian berat jenis untuk bahan pengikat

56

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB VI

BAHAN BANGUNAN KAYU DAN BAMBU

Hasil Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu menjelaskan kayu dan
bamboo sebagai bahan bangunan dengan baik dan benar.
Kriteria Penilaian
Keberhasilan saudara dalam menguasai bab ini, dapat diukur dengan kriteria
sebagai berikut:
1.

Mampu menjelaskan jenis-jenis kayu yang digunakan untuk bahan


bangunan

2.

Mampu menjelaskan mutu kayu, kelas kayu, sifat kayu dan cara
pengawetan kayu

3.

Mampu menjelaskan jenis pengujian untuk kayu dan bambu


Sumber Pustaka

1.

_______. Teknologi Bahan II, PEDC , Bandung

2.

_______. Konstruksi Kayu, PEDC , Bandung

3.

Heinz F. Ilmu Konstruksi Bangunan , 1981, Karisma, Bandung

4.

Luc Vasseur, Masory Construction No 95/75/21379

5.

Rosjid Sastraminarja, Ir, 1989, Bahan Perkerasan, Jakarta

57

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

6.1 JENIS-JENIS KAYU


Kayu merupakan bahan bangunan yang penting di Indonesia. Kurang lebih
dari 4000 jenis kayu yang ada baru 150 jenis yang telah diteliti dan dianggap
penting dalam perdagangan. Kayu untuk bangunan terutama terdiri dari 2 jenis
yang sangat penting, yaitu kayu lunak (soft wood) dan kayu keras (hard wood)
1. Kayu Konifera (soft wood)

Konifera berdaun jarum adalah sumber

penghasil kayu lunak dalam perdagangan, kira-kira ada 500 jenis pohon
Di Indonesia terdapat juga jenis pohon yang tergolng konifera, misalnya :
Pinus Merkusii, Agathis (damar) dan Darcydium
2. Kayu berdaun lebar (hard wood)
Hard wood atau kayu berdaun lebar adaalh kayu yang terdapat di hutan
Indonesia misalnya : kayu jati, rasamala, meranti dll.

6.1.1 Struktur Kayu


Kayu tersusun dari sel-sel dan sel-sel itu tersusun dari selulosa. Sel-sel ini
disatukan oleh lignin dan perbedaan-perbedaan susunan ini menyebabkan
perbedaan sifat-sifat dari beberapa jenis kayu
Bagian-bagian kayu :
1. Kambium
2. Kulit luar
3. Kayu bubal
4. Kayu teras/galih/heart wood
5. Pith (hati)
6. jari-jari teras
7. Kayu dini
8. Kayu akhir

6.1.2 Lingkaran Pertumbuhan


Lingkaran pertumbuhan tampak jelas, karena zat kayu yang terbentuk pada
permukaan akan berbeda dari pada yang terbentukl kemudian

58

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

6.2 MUTU KAYU, KELAS KAYU, SIFAT KAYU, DAN CARA


PENGAWETAN KAYU
6.2.1 Mutu Kayu
Mutu kayu ditentukan oleh :
a. kadar air
b. Cacat kayu
c. Arah miring serat
d. Retak-retak arah radial
Mutu kayu dibedakan dalam 2 macam mutu, yaitu :
a.

Mutu kayu A

b. Mutu kayu B

6.2.2 Sifat Fisis Kayu


Berat Jenis /Karapatan (Bj)
adalah angka perbandingan antara berat kayu (suhu 105C) dengan berat
air yang mempunyai volume sama dengan kayu (pada suhu 4C).
Berat suatu kayu tergantung dari jumlah zat kayu, rongga sel, kadar air dan zat
ekstraktif didalamnya. Berat suatu jenis kayu berbanding lurus dengan BJ-nya. Kayu
mempunyai berat jenis yang berbeda-beda, berkisar antara BJ minimum 0,2 sampai
1,28. Umumnya makin tinggi BJ kayu, kayu semakin berat dan semakin kuat pula

kekuatan kayu . Berdasarkan BJ kayu, jenis kayu digolongkan dalam kelas berat
kayu
Tabel 6.1 Berat jenis kayu berdasarkan kelas berat kayu
Kelas berat kayu

Berat Jenis

sangat berat

> 0,90

Berat

0,90 0,75

agak berat

0,75 0,60

Ringan

< 0,60

59

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Bobot Isi
Yaitu berat per satuan isi (gram/cm3, ton/m3). misal bobot isi kayu = 0,65,
berarti kayu tersebut beratnya 0,65 gr/cm3. Bobot isi kayu dinyataka dalam
keadaan kering udara 15-18 % karena bobot isi sangat tergantung pada kadar
air kayunya

Kadar Air Kayu


Kayu bersifat higroskopis, artinya mempunyai sifat menyerap air bila kayu
yang kering ditempatkan ditempat yang basah, dan sebaliknya. Makin
lembab udara disekitarnya makin tinggi pula kelembaban kayu sampai tercapai
keseimbangan dengan lingkungannya. Dalam kondisi kelembaban kayu sama dengan
kelembaban udara disekelilingnya disebut kandungan air keseimbangan (EMC =
Equilibrium Moisture Content). Jumlah uap air bergantung pada kadar kelembaban
udara disekitarnya. Untuk kelembaban tertentu jumlah air yang dikandung kayu
disebut kadar kesetimbangan. Pada kelembaban udara 0% kadar kesetimbangan air
kayu kurang lebih berkisar 0% juga. Sedangkan pada kadar kelembaban udara 100%,
kadar kesetimbangan air kayu hanya berkisar 30%. Keadaan tersebut dikenal dengan
istilah titik jenuh serat.

a. Penyebaran air didalam kayu


Air didalam kayu dapat dibedakan dalam 2 keadaan ;
1. sebagai air bebas (free water) : air ini terdapat didalam rongga sel kayu,
adanya air bebas ini sangat mempengaruhi bobot isi dari kayu
2. Sebagai air imbisisi (imbided water) : air ini terdapat dalam dinding sel
kayu, dan air ini tentunya sangat mempengaruhi sifat daripada kayu,
menguapnya air ambisisi mengakibatnya pengurangan berat dan
pengurangan volume
b. Penentuan kadar air kayu
Cara menentukan kadar air kayu adalah dengan jalan mengeringkan kayu
tersebut didalam oven pada temperatur 105C
Perhitungan kadar air adalah :

60

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

kadar air

BB BK
x100%
BK

Dimana :
BB = Berat kayu basah
BK = Berat kayu kering
Cara lain yaitu dengan menggunakan alat moisture meter

c. Penyusutan dan pengembangan


Kayu akan mengembangan bila menyerap air dan menyusut bila kehilangan air.
Pada dus keadaan kadar air yang berbeda, kayu mempunyai ukuran yang
berbeda pula dan apabila kadar airnya bertambah atau berkurang, maka
terjadilah peristiwa pengembangan dan penyusutan.
Terjadinya perubahan ukuran (dimensi) hanya dapat merupakan perubahan
volume ataupun perubahan pada satu arah tertentu
Penyusutan linier pada kayu dibedakan menjadi 3 :
penyusutan arah axial
Penyusutan arah radial
penyusutan arah tangensial
Penyusutan arah tangensial biasanya 2 kali lebih besar dibandingkan dengan
penyusutan radial

6.2.3 Sifat Mekanis Kayu


Ukuran yang dipakai untuk menjabarkan sifat-sifat kekuatan kayu atau sifat mekaniknya
dinyatakan dalam kg/cm2. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat mekanik kayu secara
garis besar digolongkan menjadi dua kelompok :
- Faktor luar (eksternal): pengawetan kayu, kelembaban lingkungan, pembebanan dan
cacat yang disebabkan oleh jamur atau serangga perusak kayu.
- Faktor dalam kayu (internal): BJ, cacat mata kayu, serat miring dsb.

61

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Sifat mekanis merupakan daya tahan kayu terhadap gaya yang diberikan kepadanya.
Gaya yang diberikan adalah gaya eksternal, seperti gaya tarik, gaya tekan, gaya geser,
gaya lentur.
(1) Keteguhan tarik
Keteguhan tarik adalah kekuatan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha menarik
kayu. Terdapat 2 (dua) macam keteguhan tarik yaitu :
a) Keteguhan tarik sejajar arah serat
b) Keteguhan tarik tegak lurus arah serat
Kekuatan tarik terbesar pada kayu ialah keteguhan tarik sejajar arah serat. Kekuatan tarik
tegak lurus arah serat lebih kecil daripada kekuatan tarik sejajar arah serat.
(2) Keteguhan tekan / kompresi
Keteguhan tekan/kompresi adalah kekuatan kayu untuk menahan muatan/beban. Terdapat
2 (dua) macam keteguhan tekan yaitu :
a) Keteguhan tekan sejajar arah serat
b) Keteguhan tekan tegak lurus arah serat.
Pada semua kayu, keteguhan tegak lurus serat lebih kecil daripada keteguhan kompresi
sejajar arah serat.
(3) Keteguhan Geser
Keteguhan geser adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang membuat
suatu bagian kayu tersebut turut bergeser dari bagian lain di dekatnya.
Terdapat 3 (tiga) macam keteguhan yaitu :
a) Keteguhan geser sejajar arah serat
b) Keteguhan geser tegak lurus arah serat
c) Keteguhan geser miring
Keteguhan geser tegak lurus serat jauh lebih besar dari pada keteguhan geser sejajar arah
serat.
(4) Keteguhan lengkung (lentur)
Keteguhan lengkung/lentur adalah kekuatan untuk menahan gaya-gaya yang berusaha
melengkungkan kayu atau untuk menahan beban mati maupun hidup selain beban
pukulan.
Terdapat 2 (dua) macam keteguhan yaitu :
a) Keteguhan lengkung statik, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya
secara perlahan-lahan.

62

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

b) Keteguhan lengkung pukul, yaitu kekuatan kayu menahan gaya yang mengenainya
secara mendadak.
c) Kekakuan
Kekakuan adalah kemampuan kayu untuk menahan perubahan bentuk atau lengkungan.
Kekakuan tersebut dinyatakan dalam modulus elastisitas.

(6) Keuletan / Kegetasan


Keuletan adalah kemampuan kayu untuk menyerap sejumlah tenaga yang relatif besar
atau tahan terhadap kejutan-kejutan atau tegangantegangan yang berulang-ulang yang
melampaui batas proporsional serta mengakibatkan perubahan bentuk yang permanen dan
kerusakan sebagian. Menentukan kegetasan sama dengan menentukan kekakuan, hanya
bedanya benda uji tidak diberi takikan dan diuji sampai pada pukulan yang terberat yang
membuat kayu sampai putus. Hal ini sama pentingnya dengan kayu yang akan mengalami
pukulan pada penggunaannya.
(7) Kekerasan
Kekerasan adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya yang membuat takik atau
lekukan atau kikisan (abrasi). Bersama-sama dengan keuletan, kekerasan merupakan
suatu ukuran tentang ketahanan terhadap pengausan kayu. Kekerasan ini terfantung pada
kerapatan sel kayu dan kadar air yang dikandungnya.
(8) Keteguhan Belah
Keteguhan belah adalah kemampuan kayu untuk menahan gaya-gaya yang berusaha
membelah kayu. Sifat keteguhan belah yang rendah sangat baik dalam pembuatan sirap
dan kayu bakar. Sebaliknya keteguhan belah yang tinggi sangat baik untuk pembuatan
ukir-ukiran (patung). Pada umumnya kayu mudah dibelah sepanjang jari-jari (arah
radial) dari pada arah tangensial.

6.2

BAMBU

6.3.1 Pengenalan Bambu


Bambu memiliki keunggulan antara lain bambu mempunyai sifat mekanik
yang bagus, kuat tariknya dapat dipersaingkan dengan baja,bentuk berongga
menjadikan momen kelembaman bambu tinggi,kulit bambu licin, bersih, dan kuat,
bambu mudah dikeringkan dengan alat sederhana, dan dapat diawetkan agar dapat
dipakai dalam waktu yang lama, bambu mudah dipecah dengan alat sederhana

63

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

serta Seluruh bagian bambu termasuk batangnya dapat dimanfaatkan, rebung


untuk dimakan, daun untuk makanan ternak, dan ranting dapat dipakai sebagai
bahan sapu atau kayu bakar.
Selain itu bamboo mempunyai kekuatan yang tinggi hal ini dapat dilhat pada
grafik dibawah ini, dimana macam-macam jenis bamboo dibandingkan dengan
baja

Gambar 6.1 Gambar tegangan regangan berbagai jenis bambu dan baja

Bambu memiliki peluang sebagai pengganti kayu, hal ini dapat dianalisa
dengan perkembangan jumlah penduduk yang mengakibatkan pesatnya
peningkatan kebutuhan kayu perumahan sementara deposit kayu makin lama
makin habis, disamping itu penebangan kayu berlebihan menimbulkan
kerusakan hutan tropis untuk kelestarian hutan, perlu dicari bahan pengganti
kayu bangunan
Namun dalam penggunaannya sebagai bahan bangunan bambu memilik
kendala antara laian,bambu perlu diawetakan agar dapat dipakai lama, bentuk pipa
mempersulit perangkaian batang disamping itu tampang bambu tidak sepenuhnya
bundar dan tidak prismatis

64

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Menurut Liese (1980), Bambu tanpa pengawetan langsung berhubungan


dengan tanah dan tidak terlindung terhadap cuaca kurang dari 1--3 th. Bambu
yang terlindung terhadap cuaca dapat tahan lebih dari 4--7 tahun. Tetapi untuk
lingkungan yang ideal, sebagai rangka, bambu dapat tahan lebih dari 10--15 th. Di
Temanggung Jawa Tengah rangka atap dari bambu yang diawetkan secara
tradisional, masih dapat bertahan pada umur lebih dari 20 tahun.
Upaya untuk memperoleh bambu yang awet dapat dilakukan denangan cara
mengatur waktu penebangan, dimana waktu penebangan yang baik adalah pada
musim kemarau dimana pada saat itu kandungan gula pada bambu lebih sedikit
dibandingkan ketika musim hujan. Disamping itu dapat juga dilakukan
prngawetan pada bambu antara lain dengan melakukan perendaman bambu
didalam air, ataupub pengawetan dengan pemakaian bahan kimia.

6.3.2 Bambu Sebagai Komponen Bangunan Rumah Tradisional


Pada bangunan perumahan, bambu dapat dipakai sebagai komponen struktural
maupun non struktural. Adapun komponen bangunan perumahan yang dapat
dibuat dari bambu antara lain adalah fondasi, lantai, dinding, atap, rangka atap,
pintu dan jendela
Fondasi
Berbagai macam fondasi bangunan yang menggunakan bambu antara lain
sebagai berikut:

Bambu berhubungan langsung dengan tanah

Bambu bertumpu di atas umpak batu atau fondasi telapak dari beton

Bambu menjadi satu kesatuan dengan fondasi beton sebagai tulangan

Kolom komposit bambu-beton

Tiang pancang bambu

Bambu yang bersentuhan dengan tanah, baik di permukaan maupun yang ditanam
dapat rusak dalam waktu enam bulan sampai dua tahun. Untuk memperoleh
kekuatan yang memadai, sebaiknya dipakai bambu berukuran besar, tebal, dan
jarak antar nodia pendek. Jika ukuran besar ini tidak dapat diperoleh, maka
beberapa bambu dengan diameter kecil dapat diikat dengan tali sebagai satu

65

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

kesatuan.Idealnya bambu yang dipakai untuk pemikul beban tidak bersentuhan


dengan tanah, diletakkan di atas umpak batu atau beton. Dalam hal ini harus
dipilihkan bambu dengan ukuran terbesar dan yang kaku.
Pendekatan berikutnya adalah menyatukan bambu dengan umpak beton
seperti diperlihatkan pada Gambar dibawah ini .Dalam hal ini perlu diperhatikan
bahwa elevasi bambu perlu diusahakan agar lebih tinggi dari permukaan lantai,
sehingga kalau ada genangan air di lantai pada saat mengepel tidak mengenai
bambu.

Gambar 6.2 Umpak beton sebagai landasan


(Bandara, 1990)

Gambar 6.3 Fondasi tiang


tunggal (Bandara, 1990)

1,00 m

Fondasi strip (Jayanetti dan Follet, 1998

Gambar 6.4 Fondasi strip

Gambar 6.5 Fondasi komposit antara

(Jayanetti dan Follet, 1998)

bambu dan beton (Janssen, 1995)

66

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Gambar 6.6 Fondasi tiang pancang beton dengan tulangan bambu

Lantai
Lantai dari suatu bangunan rumah bambu apabila terletak pada permukaan
tanah, dapat dibuat dari tanah dipadatkan tanpa penutup sama sekali, atau diberi
penutup yang dapat berupa anyaman bambu (gedek) atau lantai rabat. Pilihan lain,
lantai ini dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah, terdiri atas dek dan rangka
struktural yang dapat meningkatkan kenyamanan dan lebih sehat. Agar mudah
dilakukan pemeriksaan secara rutin, maka ketinggian lantai dibuat minimal
setengah meter. Bahan dek dan rangka struktural dapat dipilih dari bambu seperti
terlihat pada gambar dibawah ini

Gambar 6.7 Lantai dari galar bambu dengan


rangka penyangganya (Siopongco et al, 1987)

Gambar 6.8 Lantai dari bambu bilah


dengan rangka penyangganya
(Janssen, 1995)

Gambar 6.9 Lantai dari bambu bulat dengan

Gambar 6.10 Lantai dari bambu galar dengan

rangka penyangganya (Janssen, 1995)

rangka penyangganya (Janssen, 1995)

67

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Gedek
Gedek adalah anyaman bambu yang banyak dijumpai pada bangunan
pemukiman sebagai dinding, sekat, pintu, jendela, penutup lantai, dan langitlangit. Dinding gedek pada umumnya dijumpai pada rumah sederhana. Gedek
dipakukan pada rangka kayu atau bambu, dengan sisi kulit yang keras dan tahan
terhadap cuaca dihadapkan ke luar rumah, sedang bagian lunak menghadap ke
dalam.
Gedek dengan kualitas baik dapat dibuat dari kulit bambu. Gedek kulitan ini
cukup keras dan tidak banyak mengandung pati sehingga kumbang bubuk tidak
memakannya. Untuk memperoleh gedek dengan motif yang menarik, maka perlu
dikombinasi dua jenis bambu, bambu hitam dan bambu apus. Gedek semacam ini
cukup mahal, namun cukup artistik sehingga banyak dipakai pada bangunanbangunan wisata.
Untuk membuat gedek ini, mula-mula bambu dipecah memanjang menjadi empat.
Selanjutnya pecahan itu dibagi lagi dengan lebar yang sama. Kulit sisi dalam yang
lunak dibuang, sedang sisanya dibagi lagi secara tangensial, dengan tebal yang
sama 1 2 mm. Bahan ini biasanya dianyam secara manual. Untuk mempercepat
penganyaman ini sekarang sudah ada mesin penganyam bambu. Bambu bahan
gedek ini pada umumnya diawetkan secara tradisional dengan perendaman
didalam air. Pengawetan ini sangat diperlukan, khususnya untuk bambu bagian
dalam yang lunak, sedang untuk kulit perendaman ini tidak terlalu perlu.
Penganyaman dapat dilakukan secara seragam, semua kulit yang keras,
atau semua dari bagian dalam yang lunak tergantung keperluannya. Penganyaman
secara kombinasi antara bagian kulit dan bagian dalam juga sering dijumpai.
Kombinasi ini juga dapat dilakukan dari dua jenis bambu, misalnya bambu tali
yang berwarna keputihan dengan bambu hitam. Kombinasi ini dapat
menghasilkan motif-motif yang menarik, apalaigi kalau di diberi sentuhan seni.
Beberapa contoh motif gedek kulitan ini dapat dilihat pada Gambar 6.11.

68

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Gambar 6.11 Contoh berbagai motif


anyaman bambu
Dinding Bambu
Aplikasi bambu yang terbanyak adalah sebagai dinding atau partisi.
Komponen utama dinding bambu adalah tiang dan balok yang merupakan
rangkaian struktural. Rangka struktural ini diperlukan untuk memikul berat
sendiri, pengaruh angin, gempa, cuaca serta gaya-gaya tumbukan yang dapat
ditimbulkan oleh penghuni. Untuk memperoleh rangka struktural yang efisien,
peranan cara penyambungan batang-batang struktural sangat menentukan.
Pada umumnya dinding perlu diperlengkapi dengan bahan penutup lubang-lubang
sebagai pelindung terhadap hujan, angin, serangga, dan untuk menjaga privasi,
serta untuk menambah stabilitas struktur secara bidang. Penutup dirancang dengan
mempertimbangkan keperluan ventilasi, penerangan ruang, fungsi, serta
keindahan arsitektur. Penutup ini dapat dibuat dalam berbagai bentuk.
Menurut Jayanetti dan Follet (1998) dinding bambu dapat dibuat dalam
berbagai bentuk sebagai berikut ini:

69

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Bambu utuh bulat atau setengah bulat dengan arah vertikal atau horisontal,
dengan atau tanpa gedeg.

Bambu bilah atau galar, dengan gedeg atau diplester

Dinding Bajareque

Dinding Quincha

Anyaman bilah bambu dengan atau tanpa plester

Panel bambu

Dinding Bambu Utuh/Setengah Bulat


Bambu utuh bulat atau setengah bulat dengan arah vertikal akan mempunyai
kelebihan dalam ketahanan terhadap gaya geser, serta cepat kering apabila ada
hujan. Bambu vertikal dapat langsung ditimbris ke dalam tanah atau diikatkan
pada penggapit horisontal (Gambar 6.12 6.13).

Gambar 6. 12 Dinding bambu utuh


Dinding
Bajareque
(Janssen,
1995)

Gambar 6. 13 Dinding bambu setengah

bulat (Bandara, 1990)


Dinding Bajareque banyak dijumpai di Amerika Latin, terdiri atas bambu

bilah yang diikat atau dipakukan pada kedua permukaan kolom. Rongga yang
terjadi diisi dengan lumpur atau lumpur dan batu.(Gambar 6.14)

70

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

kolom
Bilah bambu

plester

Gambar 6. 14 Dinding Bajareque (Janssen, 1995)

a. Dinding Quincha
Dinding Quincha banyak dijumpai di berbagai daerah di India, Peru, dan Chili,
terdiri atas anyaman bambu bilah yang diperkuat dengan tiang-tiang bambu serta
diplester pada kedua permukaannya (Gambar 6.15). Bilah-bilah bambu horisontal
lebih dominan bila dibandingkan dengan bilah bambu vertikal.
Anyaman bilah bambu
plester

Gambar 6. 15 Dinding Quincha (Siopongco et al, 1987)

b. Dinding Anyaman Bambu Tebal


Anyaman bambu dengan arah vertikal lebih dominan seperti terlihat pada
Gambar 6.17, dapat juga dibuat dengan atau tanpa diplester. Plester dapat

71

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

merupakan komposisi dari lumpur, lempung, kapur, semen, pasir, serta serat
organik. Permukaan dapat dipoles dengan kapur untuk memperoleh tampilan
tipikal stucco (Jagadesh dan Ganapathy, 1995). Bahan pengawet dapat dipakai
namun untuk keamanan perlu dipertimbangkan aspek kesehatan dan lingkungan

Gambar 6. 16 Dinding anyaman bamboo (Sioponco et al, 1987)

Pintu dan Jendela


Secara tradisional pintu dan jendela dibuat sangat sederhana baik menyangkut
bentuk serta mekanisme kerjanya. Daun pintu dari bambu biasanya dibuat sebagai
pintu sorong yang terdiri atas rangka bambu dengan pengisi anyaman bambu
(gedek). Satu hal yang seringkali kurang diperhatikan adalah pemasangan batang
pengaku pintu, yaitu batang yang dipasang sedemikian sehingga membentuk
segitiga dengan batang yang lain seperti terlihat pada Gambar 6.17 dan 6.18

72

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Batang
pengaku

Gambar 6. 17 Pintu sorong dari


bambu (Siopongco et al, 1987)

Gambar 6.18 Pintu sorong dari bambu


( Siopongco et al, 1987)

Atap
Atap dari bambu dapat dibuat dengan dua lapis bambu setengah bulat. Lapis
pertama bagian kulit luar berada di bawah, sedang lapis kedua kulit luar berada di
atas (Gambar 6.19). Menurut Siopongco et al (1987) panjang maksimum atap
semacam ini adalah tiga meter.

73

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Gambar 6.19 Atap bambu setengah


bulat ( Mather et al, 1964)

Rangka Atap Tradisional


Struktur rangka atap dari bambu biasa dibuat secara tradisional, terdiri atas
bubungan, gording, dan balok kasau, menggunakan alat sambung tali ijuk dan
pasak dengan kekuatan rendah. Penyambungan dengan cara tradisonal ini
menggunakan peralatan sederhana dan tidak memerlukan tenaga kerja dengan
bekal pendidikan yang tinggi. Kekuatan sambungan sulit untuk dipertanggung
jawabkan karena tidak dapat dihitung dan sangat dipengaruhi oleh ketrampilan
serta pengalaman pelaksana. Sambungan yang dilaksanakan secara tradisional
perlu dicek secara berkala, karena sebagai akibat perubahan suhu dan kelembaban
udara, tali maupun pasak dapat kendor sehingga sambungan menjadi lemah
Untuk memperlebar atap, maka diperlukan tambahan tiang di tengah. Banyak
penelitian dan pengembangan telah dilakukan untuk memperoleh struktur yang
efisien. Hasil penelitian menyoroti sambungan yang relatif lemah serta tahanan
yang rendah terhadap gaya tekan tegak lurus serat. Lendutan yang besar terjadi
karena sambungan yang kurang baik. Berbagai bentuk rangka kuda-kuda dari
bambu yang sering dijumpai dapat dilihat pada Gambar 6.20.

74

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Gambar 6.20 Berbagai bentuk rangka kuda-kuda bambu


(Tular et al, 1984 dan Janssen, 1995)

Berdasarkan bentuk atap pelana dapat dibuat berbagai konfigurasi kuda-kuda.


Bentuk yang paling sederhana yaitu King-post dan Fink yang dapat dipakai mulai
bentang empat meter (Gambar 6.21 6.23).

75

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Gambar 6. 21 King-post truss (Siopongco, 1987)

4m
Gambar 6,22 Fink truss (Punhani et al, 1989)

8m

Gambar 6. 23 Truss (Janssen, 1995)

6.4 JENIS PENGUJIAN UNTUK KAYU DAN BAMBU


Sifat-sifat fisis dan mekanis kayu dan bambu ditentukan

berdasarkan

pengambilan contoh sepotong kayu kecil yang baik (tanpa cacat), dimana arah
seratnya sejajar dengan arah sumbu

76

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Pengujian dibedakan berdasarkan 3 arah utama :


a. Pengujian arah axial atau sejajar serat
b. Pengujian arah radial/transversal yang tegak lurus serat
c. Pengujian arah tangensial
Pengujian kayu meliputi beberapa macam :
1. Pengujian kuat lentur (bending strength)
2. Modulus elastisitas dan kekakuan
3. Daya tahan terhadap impact
4. Kuat tekan (compressive strength)
5. Kekerasan
6. Kekuatan geser (shear test)
7. Kuat tarik (tensile strength)
Penggolongan jenis kayu untuk bangunan menurut Lembaga Penelitian Hasil
Hutan (LPHH) Bogor, dibagi menurut :
1. Tingkat keawetan
Tingkat keawetan kayu dalam hal ini adalah keawetan alamiah. Yang
menentukan keawetan kayu adalah daya dukung kayu terhadap pengaruhpengaruh :
- alamiah : panas matahari, lembab, cuaca
- Perusakan oleh binatang-binatang kecil : rayap, serangga, kumbang dll
Kayu digolongkan dalam 5 jenis keawetan
2. Tingkat Kekuatan kayu
Untuk menentukan tingkat kekuatan kayu ada 3 faktor penting :
_ sifat anisotropis
_ keringnya kayu
_ berat jenisnya
LPHH Bogor telah menggolongkan kayu atas 5 kelas kekuatan berdasarkan
kekuatan lentur, kekuatan tekan dan berat jenis kayu
3. Tingkat Pemakaian kayu
Tingkat pemakaian kayu menyatakan kecakapan dari sebuah jenis kayu
untuk sesuatu konstruksi. Dalam menentukan tingkat pemakaian kayu tidak

77

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

dipandang tergantung mengerjakan kayu mudah atau sukarnya pengolahan


kayu dan kayu dalam keadaan biar tidak diawetkan

6.5 RANGKUMAN
Sifat mekanis kayu adalah kemampuan (daya tahan) kayu untuk menahan
gaya dari luar atau gaya yang diberikan padanya. Gaya-gaya luar tersebut adalah :
gaya tarik, tekan, geser, lentur, puntir. Daya tahan terhadap sifat-sifat mekanis tadi
perlu dibedakan berdasarkan arah dari gaya yang bekerja, besarnya kadar air dan
bobot isi kayu tersebut. Kayu adalah bahan yang anisotropis berarti sifatnya
tidak sama ke semua arah, karena itu daya tahan kayu terhadap suatu gaya yang
sama besarnya berbeda dan tergantung dari arah gaya tersebut terhadap arah serat
Pada bangunan perumahan, bambu dapat dipakai sebagai komponen struktural
maupun non struktural. Adapun komponen bangunan perumahan yang dapat
dibuat dari bambu antara lain adalah fondasi, lantai, dinding, atap, rangka atap,
pintu dan jendela
Pengujian kayu meliputi beberapa macam :pengujian kuat lentur (bending
strength), modulus elastisitas dan kekakuan, daya tahan terhadap impact, kuat
tekan (compressive strength), kekerasan , kekuatan geser (shear test), kuat tarik
(tensile strength)

6.6 SOAL PELATIHAN


1. Jelaskan jenis-jenis kayu yang saudara ketahui
2, Jelaskan sifa-sifat kayu yang mempengaruhi kekuatan dari kayu
3. Sebutkan elemen bangunan yang bias menggunakan bamboo sebagai bahan
bangunan
4. Jelaskan cara pengawetan bamboo
5. Jelaskan jenis pengujian pada kayu dan bambu

78

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB VII

BAHAN ASPAL

Hasil Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu menjelaskan bahan aspal
sebagai bahan pengikat dengan benar
Kriteria Penilaian
Keberhasilan saudara dalam menguasai bab ini, dapat diukur dengan kriteria
sebagai berikut:
1. Mampu menjelaskan aspal alam serta penggunaannya sebagai bahan
bangunan
2. Mampu menjelaskan aspal buatan serta penggunaannya sebagai bahan
bangunan
3. Mampu menjelaskan aspal beton sebagai bahan bangunan
4. Mampu menjelaskan . Jenis Pengujian untuk aspal
Sumber Pustaka
1. _______. Teknologi Bahan II, PEDC , Bandung
2. _______. Konstruksi Kayu, PEDC , Bandung
3. Heinz F. Ilmu Konstruksi Bangunan , 1981, Karisma, Bandung
4. Luc Vasseur, Masory Construction No 95/75/21379

5. Rosjid Sastraminarja, Ir, 1989, Bahan Perkerasan, Jakarta

79

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

7.1 PENDAHULUAN
Definisi asapal: adalah campuran yang terdiri dari bitumen dan mineral.
Bitumen adalah bahan yang berwarna coklat hingga hitam, berbentuk keras
hingga cair, mempunyai sifat lekat baik, leleh dalam CS2 dan CCl4 dan
mempunyai sifat lemak dan tidak larut dalam air . Aspal adalah material utama
pada konstruksi lapis perkerasan lentur (flexible pavement), jalan raya, yang
berfungsi sebagai campuran bahan pengikat agregat karena mempunyai daya lekat
yang kuat, mempunyai sifat adhesife, kedap air dan mudah dikerjakan
Aspal yang digunakan untuk material jalan terdiri dari beberapa jenis, yaitu :
- aspal alam
- aspal buatan (bitumen)
- ter
7.1.1 Proses Pembuatan Aspal

Gambar 7.1 Destilasi Minyak Bumi Sumber : Sukirman ,S

80

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Bahan dasar aspal diperoleh dari :


a. Tambang / alam
dapat terjadi dari aspal danau, batu kapur aspal dan batu pasir aspal serta
mastik aspal
b. Hasil sampingan dari proses pemurnian minyak
dalam proses pembuatan aspal minyak bumi, mula-mula dari suatu sumur
minyak yang masih bercampur pasir dan air. Minyak bumi disedot keluar,
ditempatkan dalam tanki lapanga, kemudian dialirkan ke gardu pompa
untuk selanjutnya dipompa ke dalam tangki pengilangan
Setelah bejana pipa dan bejana lain dengan pemanasan pada suhu tertentu
dalam proses yang kemudian dihasilkan destilat ringan, destilat sedang,
destilat berat dan destilat residu, dari destilat-destilat ini dalam suatu
prosesing dihasilkan :
-

Bensin, pelarut ringan

Minyak tanah, minyak bakar ringan

Minyak diesel

Minyak pelumas

Dari bahan residu dihasilkan minyak bakar residu. Bahan residu setelah
diproses lagi dihasilkan : aspal padat, semen aspal dengan penetrasi tertentu
Dari aspal residu akan dihasilkan bahan aspal cair, dialirkan ke instalasi
emulsi dihasilkan aspal emulsi

7.2 ASPAL ALAM SERTA PENGGUNAANNYA


Aspal alam di Indonesia ditemukan di pulau Buto, Sulawesi Tenggara dan
dikenal dengan sebutan Asbuto (aspa buton).
Dilihat dari bentuk fisik, maka aspal alam dapat ditemukan dalam bentuk
-

Padat atau batuan: disebut batu aspal (rock asphalt) ada di pulau Buton

Plastis : ada di Trinidad

Cair ; ditemukan di Bermuda, dikenal sebagai Bermuda Lake Asphalt

81

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

7.2.1 Sifat-Sifat Aspal Buton


Asbuton merupakan hasil endapan minyak bumi yang mengalami proses
destilasi lama dan kontinu sehingga kadar asphalnetenya jauh lebih tinggi dari
kadar maltenenya, lebih rendah dibandingkan dengan aspal buatan. Oleh karena
itu asbuton mempunyai pelekatan yang lebih baik dan kepekaan terhadap
perubahan suhu lebih kecil

7.2.2 Penggunaan Aspal Alam


Asbuton sudah banyak digunakan untuk pelapisan konstruksi perkerasan,
dimana yang sudah banyak digunakan adalah Lasbutag (lapis asbuton agregat)
dan latasbum (lapisan asbuton murni)

7.3 ASPAL BUATAN SERTA PENGGUNAANNYA


Aspal buatan adalah bitumen yang merupakan jenis aspal hasil
penyulingan minyak bumi yang mempunyai kadar parafin yang rendah dan
disebut dengan parafin base crude oil.Minyak bumi banyak mengandung
gugusan aromat dan alkilis sehingga kadar aspalnya tinggi dan kadar parafinnya
rendah. Aspal buatan terdiri dari berbagai bentuk, yaitu bentuk padat, cair dan
emulsi

7.3.1 Aspal Padat


Adalah aspal buatan atau bitumen yang merupakan hasil penyulingan
minyak bumi yang kemudian disulingkan sekali lagi pada suhu yang sama tetapi
dengan tekanan rendah (hampa udara) sehingga dihasilkan bitumen yang disebut
straightrun bitumen
Sifat aspal padat :
-

Untuk mencapai daya ikat yang baik, diperlukan daya lekat yang baik
dapat mencair

Dapat menjadi cukup keras kembali sehingga membentuk campuran batu


aspal yang merekat dengan baik

82

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Dapat menjadi cukup lunak sehingga campuran batu aspal tersebut tidak
menjadi rapuh

Jika aspal makin keras, maka kadar asphaltne akan naik tetapi daktilitas
akan turun

Penggunaan Aspal Padat


Dapat digunakan untuk hampir seluruh pekerjaan pelaksanaan lapisan
perkerasan perkerasan aspal, mulai dari pelapisan permukaan s/d pekerjaan
konstruksi pekerjaan jalan yang bermutu tinggi seperti lapisan aspal buton

7.2.2 Aspal Cair


Aspal cair adalah aspal keras yang dicampurkan dengan pelarut. Jenis
aspal ini tergantung dari jenis pengencer yang digunakan untuk mencampur aspal
keras tersebut.
Jenis Aspal Cair
1. Aspal RC (Rapid Curing) : aspal cair yang cepat mengeras yang
merupakan jenis aspal yang akan dengan cepat mengendap, merupakan
aspal keras yang dicampur dengan kerosin (bensin)
2. Aspal MC (medium Curing) : merupakan jenis aspal yang akan
mengendap dalam waktu sedang, merupakan aspal keras yang dicampur
dengan mineral diesel
3. Aspal SC (slow curing) : merupakan jenis aspal yang akan dengan lambat
mengendap, merupakan aspal keras yang dicampur dengan residu dari
pengilangan pertama

Sifat Aspal Cair


Aspal cair yang digunakan untuk mempermudah pelaksanaan pekerjaan
dan mempersingkat waktu pelaksanaan karena dengan kecairannya, aspal akan
lebih mudah mengalir diantara batuan dan menyelimutinya untuk menghasilkan
ikatan antara batu aspal

83

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Penggunaan Aspal Cair


Aspal cair dapat digunakan seperti halnya aspal padat
7.2.3 Aspal Emulsi
Aspal emulsi merupakan aspal cair yang lebih cair dari aspal cair
umumnya dan mempunyai sifat dapat menembus pori-pori halus dalam batuan
yang tidak dapat dilalui oleh aspal cair biasa
Aspal emulsi terdiri dari butir-butir aspal halus dalam air yang diberikan
muatan listrik, sehingga butir-butir aspal tersebut tidak bersatu dan tetap berada
pada jarak yang sama. Karena adanya perbedaan muatan listrik yang diberikan,
maka aspal emulsi dapat digolongkan menjadi 3 kategori yaitu :
1. Aspal emulsi anionik : aspal emulsi yang diberikan muatan listrik negatif,
terdiri dari ; RC, (labil) MS (agak stabil) dan MC (stabil)
2. Aspal emulsi kationik : aspal emulsi yang bermuatan listrik positif
sehingga baik untuk digunakan melapisi batuan netral dan alam seperti
batuan andesit. Terdiri dari : MCK (bekerja cepat), MSK (bekerja kurang
cepat), MLK (bekerja lamban)
3. Aspal emulsi nonionik : aspal emulsi yang tidak bermuatan listrik, karena
tidak mengalami proses ionisasi

Penggunaan Aspal Emulsi


Aspal emulsi dapat digunakan pada hampir semua kegunaan dari aspal padat
bahkan lebih luas dan dapat digunakan aspal padat. Secara umum aspal emulsi
direncanakan untuk penggunaan spesifik seperti :
a. Aspal emulsi RS (Rapid Setting) : direncanakan untuk bereaksi secara
cepat dengan agregat dan berubahnya emulsi ke aspal
b. Aspal emulsi MS (medium setting) : direncanakan untuk pencampuran
dengan agregat kasar, karena jenis ini tidak akan memecah jika
berhubungan dengan agregat sehingga campuran ini tetap dapat
dihamparkan dalam beberapa menit

84

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

c. Aspal emulsi SS (slow setting) : direncanakan untuk pencampuran dengan


stabilitas max, digunakan dengan agregat bergradasi padat dan
mengandung kadar agregat halus yang tinggi
TER
Ter adalah istilah umum untuk cairan yang diperoleh dari mineral organis
seperti kayu atau batu bara melalui proses pemijaran atau destilasi pada suhu
tinggi tanpa zat asam. Untuk konstruksi jalan dipergunakan hanya TER yang
berasal dari batu bara

7.4 JENIS PENGUJIAN UNTUK ASPAL


Aspal merupakan hasil produksi dari bahan-bahan alam, sehingga sifatsifat aspal harus selalu diperiksa di laboratorium dan aspal yang memenuhi syarat
syarat yang telah ditetapkan dapat diperguakan sebagai bahan pengikat
perkerasan lentur.
Pemeriksaan yang dilakukan untuk aspal keras adalah sebagai berikut :
1. Pemeriksaan Penetrasi , Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa
tingkat kekerasan aspal.
2. Pemeriksaan titik lembek,. Bertujuan untuk mengetahui pada suhu
berapakah aspal mulai melembek, titik lembek ialah suhu dimana suatu
lapisan aspal dalam cincin yang diletakkan horizontal didalam larutan air
atau gliserin, dipanaskan sampai turun menyentuh plat besi dibawahnya.
3. Pemeriksaan titik nyala dan titik bakar dengan cheveland open cup.
Bertujuan untuk mengetahui suhu bakar dari aspal
4. Pemeriksaan penurunan berat aspal (thick film test). Bertujuan untuk
mengetahui pengurangan berat akibat penguapan bahan-bahan yang
mudah menguap dalam aspal.
5. Kelarutan aspal dalam karbon tetraklotifda. Untuk mengetahui kemurnian
aspal
6. Daktilitas. Untuk mengetahui sifat kohesi dalam aspal itu sendiri
7. Berat jenis aspal keras
8. Viskositas kinematik. Bertujuan untuk memeriksa kekentalan aspal.

85

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

7.5

RANGKUMAN
Aspal: adalah campuran yang terdiri dari bitumen dan mineral. Bitumen

adalah bahan yang berwarna coklat hingga hitam, berbentuk keras hingga cair,
mempunyai sifat lekat baik, leleh dan mempunyai sifat lemak dan tidak larut
dalam air . Aspal adalah material utama pada konstruksi lapis perkerasan lentur
(flexible pavement), jalan raya, yang berfungsi sebagai campuran bahan pengikat
agregat karena mempunyai daya lekat yang kuat, mempunyai sifat adhesife, kedap
air dan mudah dikerjakan
Aspal alam di Indonesia ditemukan di pulau Buto, Sulawesi Tenggara dan
dikenal dengan sebutan Asbuto (aspa buton). Dilihat dari bentuk fisik, maka aspal
alam dapat ditemukan dalam bentuk padat atau batuan: disebut batu aspal (rock
asphalt)
Aspal buatan adalah bitumen yang merupakan jenis aspal hasil
penyulingan minyak bumi yang mempunyai kadar parafin yang rendah dan
disebut dengan parafin base crude oil.Minyak bumi banyak mengandung
gugusan aromat dan alkilis sehingga kadar aspalnya tinggi dan kadar parafinnya
rendah. Aspal buatan terdiri dari berbagai bentuk, yaitu bentuk padat, cair dan
emulsi
Pemeriksaan yang dilakukan untuk aspal keras adalah sebagai berikut :
pemeriksaan penetrasi, titik lembek, titik nyala dan titik bakar dengan cheveland
open cup, pemeriksaan penurunan berat aspal (thick film test), kalarutan aspal
dalam karbon tetraklotifda, daktilitas, berat jenis aspal keras dan viskositas
kinematik

7.6

SOAL PELATIHAN
1. jelaskan tentang aspal alam dan penggunaannya dalam konstruksi
2. Jelaskan tentang aspal buatan dan penggunanannya dalam konstruksi
3. jelaskan jenis-jenis pengujian yang biasa diguankan untuk bahan aspal

86

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB VIII

BAHAN LOGAM DAN BAJA

Hasil Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu menjelaskan bahan logam
dan baja sebagai bahan bangunan dengan benar
Kriteria Penilaian
Keberhasilan saudara dalam menguasai bab ini, dapat diukur dengan kriteria
sebagai berikut:
1.

Mampu menjelaskan unsur-unsur pembentuk bahan besi dan baja

2.

Mampu menjelaskan penggunaan besi dan baja

3.

Mampu menjelaskan . karat pada baja dan besi

4.

Mampu menjelaskan . cara pengujian logam dan baja


Sumber Pustaka

1.

_______. Teknologi Bahan II, PEDC , Bandung

2.

_______. Konstruksi Kayu, PEDC , Bandung

3.

Heinz F. Ilmu Konstruksi Bangunan , 1981, Karisma, Bandung

4.

Luc Vasseur, Masory Construction No 95/75/21379

5.

Rosjid Sastraminarja, Ir, 1989, Bahan Perkerasan, Jakarta

87

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

8.1 UNSUR-UNSUR PEMBENTUKAN BAHAN BESI DAN BAJA


Biji besi merupakan bahan baku dalam pembuatan besi yang dapat berupa
senyawa oksida, karbonat dan sulfida, serta tercampur dengan unsur lainnya
seperti silikan Bijih besi diolah dalam tanur atau dapur tinggi untuk menghasilkan
besi kasar. Besi kasar adalah bahan baku untuk pembuatan besi cor (cost iron),
besi tempa (wroght iron) dan baja (steel)

8.1.1 Jenis Bijih Besi


Jenis bijih besi dibagi dalam 3 kelompok :
1. Bijih besi oksida terdiri dari jenis :
2. Bijih besi hidrat (2Fe2O33H2O), mengandung kadar besi 20-55%
3. Bijih besi karbonat, berbentuk pasir, mengandung kadar besi
Baja adalah logam paduan antara besi dan karbon dengan kadar C max 1,7%
Besi cor adalah logam paduan antara besi dan karbon dengan kadar 1,7 3,5 %
Besi tempa adalah baja yang mempunyai kadar karbon rendah

8.1.2 Bahan Dasar Besi


Bahan dasar besi mentah adalah bijih besi yang persentase besinya harus
sebesar mungkin : Fe2O4 (besi oksida), FeCO2 (besi karbonat). Pengolahan besi
mentah pada dapur tingg dilakukan dengan mereduksi bijih besi menggunakan
kakas, bahan tambahan dan udara panas
Bahan bakar untuk peleburan bijih besi : arang, antrasit, kakas. Kakas
paling banyak digunakan karena mempunyai nilai kalor yang tinggi 8000
kal/kg. kakaks diperoleh dengan pembakaran batu bara secara tidak sempurna
didalam dapur kakas
Batu kapur digunakan sebagai bahan pengikat atau bahan imbuh dari
kotoran unsur-unsur yang tidak diinginkan
Udara panas yang dimasukkan kedalam dapur tinggi digunakan untuk
membakar kakas sehingga menghasilkan gas panas bertemperatur tinggi dan
karbon monoksida (CO). Gas panas digunakan untuk melebur bijih besi dan
mereduksi unsur-unsur yang terdapat didalam bijih besi yang telah cair.

88

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Dapur tinggi terdiri dari kerangka baja yang berdiri tegak lurus dan
mendekati bentuk silinder. Tinggi 30 m dan diameter 6 m. Pada bagian dalam
dapur disediakan batu tahan api dan dilengkapi dengan alat pemasukan bahanbahan pada bagian atas, sedangkan pada bagian bawah terdapat tempat
pengumpulan besi dan terak cair.
Hasil dapur tinggi yang utama yaitu : terak dan besi kasar, disamping itu di
bagian bawah menghasilkan gas dan debu.
a. Terak
Terak yang dihasilkan dari dapur tinggi volumenya 3x dari volume besi
kasar. Terak dapat diproses lebih lanjut menjadi : pupuk, pospat, batu
tegel, dll
b. Besi kasar
adalah logam campuran besi dan karbon yang mengandung unsur-unsur
campuran lainnya diatas 10% . Besi ini dapat dikatakan logam murni dari besi
tuang yang mempunyai komposisi : carbon 3-4 %, silikon (Si) 0,4 2,5 %,
sulfur (S) 0,02 0,2 %, pospor (P) 0,04 2,5 %, mangan (Mn) 0,4 2,7 %

8.2.2 Karakteristik Bahan Logam


1.

Sifat Mekanis, adalah kemampuan atau kelakuan logam untuk menahan


beban yang diberikan, baik beban statis atau dinamis pada suhu biasa, tinggi
atau dibawah 0C
Sifat-sifat mekanis logam antara lain : sifat pada beton tarik, sifat pada
pembebanan dinamis, sifat elastis/penjalaran, sifat terhadap beban yang
tiba-tiba, kekerasan logam, geser dan putir.

2.

Sifat fisik, adalah sifat bahan karena mengalami peristiwa fisika,seperti :


pengaruh panas dan listrik

3.

Sifat kimia, sifat kimia suatu bahan tersebut pada larutan basa atau garam
dan pengkondisian bahan tersebut,misalnya : serangan korosi

4.

Sifat pengerjaan, sifat suatu bahan yang timbul dalam proses pengolahannya.
Pengujian yang dilakukan antara lain : mampu dilas, mampu cor, keras.

89

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

8.2.3 Proses Pembuatan Baja Dan Paduannya


Baja dapat didefinisikan suatu campuran dari besi dan karbon, dimana
unsur karbon menjadi dasar campurannya. Disamping itu, mengandung unsur
dasar campuran lainnya seperti sulfur, pospor, silikon dan mangan yang
jumlahnya dibatasi. Kandungan karbon dalam baja sekitar 0,1 1,7 % sedangkan
unsur lainnya dibatasi
Unsur campuran dasar (karbon) Merupakan paduan yang paling banyak
dalam baja. Bila kadar karbon naik, maka sifat mekanik dan kekerasan akan naik,
tapi elastisitasnya, mampu tempa, mampu las dan mampu potongnya akan turun.
Unsur campuran lainnya itu adalah :
a. Sulfur (S) : memberikan sifat buruk waktu kena panas tinggi dan membuat
baja jadi getas. Baja mutu baik boleh mengandung S maks. 0,025 %
b. Pospor (P) : memberikan sifat buruk dan pengotor pada baja , oleh karena
itu baja bermutu tinggi maks mengandung P 0,03 0,5 %
c. Silikon (Si) : akan selalu ada dalam baja.yang dimaksud baja silikon harus
mengandung Si min 0,4 %. Silikon akan menaikkan kekuatan baja tapi
akan menaikkan kuat tarik dan batas mulur. Bila Si 1%, maka baja tadi
tahan terhadap korosi dan bahan kimia hanya tidak bisa ditempa
d. Mangan (Mn) : akan memperbaiki kekuatan dan kekerasan dari baja dan
hanya sedikit pengaruhnya pada elastisitas. Mempengaruhi sifat mampu
tempa dan mampu las. Dengan karbon akan sangat menaikkan kekuatan
tahan gesek dan kekerasan. Tiap Mn 1% akan naik kekuatan tarik 10
kg/mm2. Tetapi tidak boleh lebih dari 3% karena akan turun.

8.2.4 Proses Pembuatan Baja Secara Modern


Terdapat 3 proses dalam pembuatan baja secara modern yaitu :
1. Proses menggunakan konvertor
a. proses bessemer
b. proses thomas
c. proses siemens martin
2. Proses dapur listrik

90

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Jenis Baja Karbon


Baja karbon dapat diklasifikasikan berdasarkan jumlah kandungan karbonnya.
Terbagi menjadi 3 macam yaitu :
1. Baja karbon rendah
disebut juga baja ringan (mild steel) atau baja perkakas, bukan baja keras
kpat dijadiarena kandungan karbonnya <0,3 %. Baja ini dapat dijadikan
mur, baut, ulir sekrup, peralatan senjata dll
2. Baja karbon sedang
mengandung 0,3 - 0,6% dan kandungan karbonnya memungkinkan baja
untuk dikeraskan sebagian dengan pengerasan panas. Baja karbon sedang
digunakan untuk sejumlah peralatan mesin seperti roda gigi otomotif,
poros bubungan, poros engkol, skrup, alat angkat presisi
3. Baja karbon tinggi
mengandung karbon 0,6 1,5% dibuat dengan cara digiling panas.
Apabila baja ini digunakan untuk bahan produksi maka harus dikerjakan
dalam keadaan panas. Digunakan

untuk peralatan mesin berat, palu,

obeng, tang, kunci mur, pegas kumparan, peralatan pertanian

8.2.4.2 Baja Paduan


Baja paduan dihasilkan dengan biaya lebih mahal dari baja karbon,
karena,bertambahnya biaya untuk penambahan pengerjaan yang khusus. Baja
paduan didefinisikan sebagai suatu baja yang dicampur dengan satu atau lebih
unsur campuran seperti nikel, chromium, molibden, vanatium, mangar, wolfran,
yang berguna untuk memperoleh sifat-sifat baja yang dikehendaki (misal keras,
kuat, liat) tetapi unsur karbon tidak dianggap sebagai salah salah satu
campurannya.Vanatium mempertinggi sifat kekerasannya, wolfram dan molibden
membuat baja tahan api dan menambah kekerasannya dan kobalt menambah
kekenyalan dan tahan aus

91

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

8.2 PENGGUNAAN BESI DAN BAJA


Contoh pemakaian di lapangan
a. Baja/steel 37 : batang-batang profil,skrup,plat
b. Baja/steel 42 : plat-plat kapal, batang penggerak dan poros-poros
c. Baja/steel 70 : bangunan kapal, jembatan, konstruksi bangunan gedung
d. Baja khrom nikel : onderdil mobil, roda gigi
e. Baja stainless : pisau, sudu turbin
f. Baja keras : pesawat keruk,perkakas
g. Baja magnit : dinamo, induktor, mesin listrik
h. Baja wolfram : bor, pahat
i. Baja siemen martin : gunting, garpu , pisau, pahat

8.2.1 Proses Pembentukan Dan Bentuk-Bentuk Produk Baja


Pembentukan baja adalah tahap lanjutan dari proses pengolahan baja
dengan berbagai dapur baja. Baja yang telah cair dan ditambah dengan campuran
lain (sesuai dengan kebutuhan/sifat-sifat baja yang diinginkan) dituang kedalam
cetakan yang berlubang dan didinginkan sehingga menjadi padat. Batangan baja
yang masih panas dan berwarna merah dikeluarkan dari cetakan untuk disimpan
sementara dalam dapur bentuk kotak serta dijaga panasnya dengan temperatur
1100-1300C menggunakan bahan bakar gas atau minyak.

8.3 KARAT PADA BAJA DAN BESI


8.3.1 Karat
Karat besi/baja (rusting) terjadi disebabkan oleh peristiwa proses kimia
atau elektrokimia ada transfer elektron sehingga terbentuknya oksida dipermukaan
besi/baja. Reaksi kimianya :
Fe + O2 + 2CO2 + H2

Fe(HCO3)2 (ferro karbonat

Pada tingkat kedua ferro karbonat berubah menjadi Ferri Bikarbonat sesuai
dengan reaksi sbb:
4Fe (HCO3)2+ O2

Fe(OH)CO3 + 4CO2 + 2H2O

92

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Akhirnya ferri bikarbonat berubah menjadi ferri hidroksida =karat merah (red
rust) dan karbondioksida menguap (keluar)
Fe (OH)CO3+ H2O

Fe(OH) 3 + CO2

8.3.2 Korosi
Korosi (corrosion) adalah permukaan dari besi dan baja yang dimakan
habis oleh karat, atau permukaan besi berkarat secara perlahan-lahan, teratur,
berangsur-angsur besi kehilangan berat dan dapat menyebabkan besi hancur. Ini
adalah penyebab mula-mula berkaratnya logam. Permukaan baja secara luas
kelihatan tertutup oleh sisik-sisik oksida
Kelembaban dan polusi mempercepat proses perkaratan. Oleh karena polusi di
kota sangat besar dibandingkan dengan polusi di pedesaan, maka perkaratan besi
dikota umumnya sangat besar dan cepat

8.3.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Korosi


8.3.3.1 Lingkungan
lingkungan : air, air laut, udara dan tanah. Kecepatan korosi dilingkungan
ini ditentukan oleh kecepatan oksigen mencapai permukaan besi/baja secara difusi
Bila oksigen yang terlarut dalam air besar, maka jumlah difusi oksigen
akan naik sehingga perkembangan karat pada permukaan besi/baja dapat
dihindari/dikurangi dengan memperhatikan difusi oksigen. faktor-faktor

utama

difusi oksigen antara lain konsentrasi oksigen dalam air, kecepatan pengaliran,
dan suhu lingkungan

8.3.3.2 Sifat-Sifat Logam


Diudara dan didalam air laut, untuk bahan unsur paduan (alloying
elementer) yang tepat ialah : pospor, tembaga, chroium yang dapat memberikan
ketahanan terhadap korosi hingga 2 3 kali baja biasa.

Bila

baja

paduan

rendah mulai korosi maka bahan campuran menjadi bagian karat. Hubungan
antara ketebalan karat dengan ketebalan baja yang hilang :
y

D.S . X
100. A

93

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Dimana : Y = tebal baja yang hilang


D = berat jenis karat
S = kandungan besi dalam karat (%)
X = keadaan karat
A = berat jenis besi (7,85)
Tebal karat lebih besar 3-4 kali tebal baja yang hilang

8.3.3.3 Lingkungan Dan Korosi


Korosi Didalam Air Laut
Akibat kandungan garam dalam air yang cukup tinggi. Air laut
mempunyai koduktifitas yang lebih tinggi daripada air biasa. Tingkat kecepatan
korosi (corrosion rate)baja di air laut 0,1 mm/thn, kira-kira 2x tingkat kecepatan
korosi di dalam air biasa
Korosi Di Udara Bebas (Atmosfire)
Mekanismenya sama dengan korosi didalam air.Korosi terjadi bila
permukaan baja basah dan kelembaban relatif yang tinggi lebih dari 70%.
Berulangnya antara basah dan kering dalam udara akan menyebabkan
terbentuknya lapisan karat pada. permukaan baja. Ketahanan terhadap korosi baja
karbon di udara dapat ditingkatkan dengan memberikan sedikit unsur-unsur :
tembaga, chrom, pospor, nikel, atau molibdenum
Korosi Di Dalam Tanah
Ditentukan oleh faktor-faktor yang ada didalam tanah yaitu:
a. Ketahanan listrik tanah
b. Permeabilitas/porositas tanah
c. Kelembaban tanah
d. Keasaman tanah
e. Garam-garam dalam tanah

94

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Tabel 8.1 Standar jumlah rata-rata korosi baja karbon tanpa treantemnt khusus :
ZONE

LINGKUNGAN

JMLH RATA-RATA
(mm/thn)

Daerah laut

Daratan

diatas ketinggian muka air


maks
diantara ketinggian muka
air dan dasar laut
lapisan Lumpur dasar laut
diatas tanah (udara bebas)
dibawah tanah (diatas
m.a.t)
dibawah tanah (dibawah
m.a.t)

0,3
0,1
0,03
0,1
0,03
0,02

Korosi Oleh Daerah Lingkungan Sekitarnya


Tabel 8.2 jumlah rata-rata kehilangan oleh korosi untuk baja karbon tanpa
treatment
LINGKUNGA N

JUMLAH RATA-RATA KEHILANGAN


OLEH KOROSI UNTUK BAJA KARBON
TANPA TREATMENT

Pedesaan dan pegunungan


dengan udara bersih
Perkotaan
dan
daerah
perindustrian sedang
Tepi laut dan derah industri
Daerah industri kimia

0,01 0,03

0,03 0,06

0,06 0,12
- 0,12 0,90

Tingkat korosi baja terutama baja karbon banyak bervariasi oleh daerah sekitar
lingkungan lokasi bangunan

8.3.4 Melindungi Dan Memelihara Besi/Baja Terhadap Korosi


Melindungi baja/besi ialah memberi perlakuan terhadap besi itu untuk
memelihara terhadap perkaratan dan korosi. Ada beberapa metode perlindungan
terhadap korosi untuk suatu konstruksi baja :
1. Metode perlindungan tingkat ke satu

95

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

metode ini umunya mahal, dimana ditambahkan elemen (unsur) paduan


terhadap baja untuk meningkatkan ketahanan produk konstruksinya misalnya ;
pemakaian baja stainless dan baja tahan cuaca (weather steel)
2. Metode perlindungan tingkat ke dua
a. metode pelapisan (coathing method)
Pelapisan ini terbentuk di permukaan baja untuk menutup/mengisolasi
besi terhadap pengaruh air yang mengandung oksigen. Pelapisan ini
ada beberapa cara :
a.1 perminyakan (oiling) : perlindungan sementara dengan minyak yang
tidak mudah kering (non drying oil), memberi vaselin , dll
a.2 pengeteran (coaltaving) : digunakan ter batubara, cara ini sederhana,
murah dan efektif. Umunya penggunaan terbatas untuk komponen besi
dibawah tanah karena warnanya hitam. Komponen besi tersebut
dicelupkan kedalam larutan ter atau dikuaskan
a.3 Pengecatan (painting) : metode ini sangat umum dilakukan dengan catcat jenis khusus. Dapat digunakan untuk pemeliharaan jembatan,
menara, dll
a.4 Pelapisan logam (metal coating)
a.4.1 Pelapisan dengan pencelupan panas (hot dip plating)
a.4.1.1 Pelapisan dengan logam seng : benda yang akan dilapis
dibersihkan dahulu kemudian dimasukkan kedalam tanur
dengan suhu yang diamati dengan berisi seng cair
a.4.1.2 Pelapisan dengan logam timah (tim plating) : permukaan
benda yang akan dilapis dibersihkan dahulu kemudian
dicelupkan kedalam cairan timah
a.4.1.3 Pelapisan dengan semprot (melt spraying) : dengan logam
cair. Logam yang digunakan seng dan aluminium yang
dicairkan. Benda yang akan dilapisi dibersihkan dahulu,
lapisan logam akan terbentuk pada permukaan baja/besi
a.4.1.4 Pelapisan dengan bahan kimia: bahan pelapis ini dalam
bentuk tepung. Permukaan benda yang akan dilapis

96

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

dibersihkan terlebih dahulu kemudian dicelupkan ke dalam


cairan panas tepung bahan kimia
a.4.2 Pelapisan dengan cara elektris (elektro plating)
Ketika aliran listrik dilewatkan melalui larutan diantara 2 elektroda,
larutan terpisah menjadi ion-ion yang mengendap di sebuah elektroda.
Benda pelapis yang dapat dijadikan katoda : nikel, chromium,
tembaga, seng. Proses ini mahal.
a.5 Pelapisan khusus (lining) : bahan pelapis digunakan karet, plastik, kaca,
porselin. Pelapisan ini digunakan untuk perabotan rumah tangga, papan
tanda etalase, dll. Permukaan benda yang akan dilapis dibersihkan
dahulu kemudian bahan pelapis yangs sesuaidicairkan diatasnya.

b. metode elektrik (elektrical method)


Ini merupakan cara perlindungan baja/besi untuk konstruksi dengan teknik
arus listrik. Cara ini dipergunakan apabila diperlukan ketahanan terhadap
korosi yang cukup tinggi atau untuk konstruksi tiang pancang baja yang tidak
dapat atau sulit perawatannya.
Ada 2 cara pelaksanaannya yaitu :
1. Perlindungan sistem katodik (cathodic protection). Benda/objek
dibersihkan dan dijadikan sebagai katoda
2. Perlindungan sistem anodic (anodic protection). Cara ini disebut
galvanisasi (galvanishing). Benda/objek dibersihkan dan dijadikan
anoda dalam rangkaian arus listrik pada larutan. Permukaan benda akan
memperoleh benda akan memperoleh pelapisan sehingga terlindung dari
oksida. Sebagai pelapis digunakan logam seng, magnesium, aluminium

97

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

RANGKUMAN
Biji besi merupakan bahan baku dalam pembuatan besi yang dapat berupa
senyawa oksida, karbonat dan sulfida, serta tercampur dengan unsur lainnya
seperti silikan Bijih besi diolah dalam tanur atau dapur tinggi untuk menghasilkan
besi kasar. Besi kasar adalah bahan baku untuk pembuatan besi cor (cost iron),
besi tempa (wroght iron) dan baja (steel)
Pembentukan baja adalah tahap lanjutan dari proses pengolahan baja
dengan berbagai dapur baja. Baja yang telah cair dan ditambah dengan campuran
lain (sesuai dengan kebutuhan/sifat-sifat baja yang diinginkan) dituang kedalam
cetakan yang berlubang dan didinginkan sehingga menjadi padat. Batangan baja
yang masih panas dan berwarna merah dikeluarkan dari cetakan untuk disimpan
sementara dalam dapur bentuk kotak serta dijaga panasnya dengan temperatur
1100-1300C menggunakan bahan bakar gas atau minyak.
Karat besi/baja (rusting) terjadi disebabkan oleh peristiwa proses kimia atau
elektrokimia ada transfer elektron sehingga terbentuknya oksida dipermukaan
besi/baja
Korosi (corrosion) adalah permukaan dari besi dan baja yang dimakan
habis oleh karat, atau permukaan besi berkarat secara perlahan-lahan, teratur,
berangsur-angsur besi kehilangan berat dan dapat menyebabkan besi hancur. Ini
adalah penyebab mula-mula berkaratnya logam. Permukaan baja secara luas
kelihatan tertutup oleh sisik-sisik oksida

SOAL PELATIHAN
1. Sebutkan baha baku dari pembuatan besi dan baja
2. jelkaskan perbedaan antara karat dan korosi
3. jelaskan cara mengatasi karat dan korosi

98

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB X

BAHAN NON LOGAM DAN POLIMER

Hasil Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu menjelaskan bahan non
logam dan polymer sebagai bahan bangunan

Kriteria Penilaian
Keberhasilan saudara dalam menguasai bab ini, dapat diukur dengan kriteria
sebagai berikut:
1.

Mampu menjelaskan bahan non logam yang dapat digunakan sebagai


bahan bangunan

2.

Mampu menjelaskan Bahan polymer yang dapat digunakan sebagai


bahan bangunan n
Sumber Pustaka

1.

_______. Teknologi Bahan II, PEDC , Bandung

2.

_______. Konstruksi Kayu, PEDC , Bandung

3.

Heinz F. Ilmu Konstruksi Bangunan , 1981, Karisma, Bandung

4.

Luc Vasseur, Masory Construction No 95/75/21379

5.

Rosjid Sastraminarja, Ir, 1989, Bahan Perkerasan, Jakarta

99

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

9.1 BAHAN NON LOGAM DAN POLYMER YANG DAPAT DIGUNAKAN


SEBAGAI BAHAN BANGUNAN
9.1.1 Logam Bukan Besi (Non Ferro)
Adalah semua jenis logam yang tidak termasuk kelompok logam besi.
Logam-logam ini terbagi atas 2 kelompok, yaitu : logam non ferro berat dan
Logam non ferro ringan. Dasar pengelompokannya adalah berat jenis logam
tersebut, dimana :

logam non ferro berat

logam non ferro ringan

Bj > 3500 kg/cm3


Bj < 3500 kg/cm3

Tabel 9.1 Daftar Logam Bukan Besi (Non Ferro)


LOGAM
Emas
Wolfram
Air raksa
Timbale
Molybdenum
Perak
Bismuth
Uranium
Tembaga
Cobalt
Nikel
Timah putih
Mangan
Seng
Khrom
Antimon
Zirconium
Aluminium
Magnesium
Kalsium
Natrium
Kalium

SIMBOL
Au
W
Hg
Pb
Mo
Ag
Bi
U
Cu
Co
Ni
Sn
Mn
Zn
Cr
Sb
Zr
Al
Mg
Ca
Na
K

BJ (Kg/m3)
19300
19300
13550
11340
10200
10500
9832
9000
8920
8900
8900
7300
7200
7140
7100
6700
6390
2700
1740
1550
970
860

TITIK CAIR (C)


1063
3370
-38,87
327,5
262,0
960,5
271
1132
1083
1480
1452
231,85
1260
419,4
1615
631
2350
660
650
810
97,5
62,3

9.1.2 Bahan Non Ferro Dan Paduan


Yang dimaksud dengan logam-logam tersebut yaitu : Logam non ferro yang tidak
dipadu artinya logam non ferro murni.

100

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

a. Aluminium (Al)
sehubungan dengan berat jenisnya yang ringan dan sifat-sifatnya yang
tahan akan perubahan cuaca, Al diharapkan menjadi material untuk
konstruksi. Kekurangannya adalah Al termasuk logam lunak dan lemah,
sulit dikerjakan secara mekanis, maka Al dalam pemakaiannya
kebanyakan berupa paduan
b. Tembaga (Cu)
Tembaga murni dapat dibentuk dalam keadaan dingin, misal ditempa, dirol
dan ditarik. Sifatnya akan lebih baik bila dipadu dengan Sn, Zn dan Al.
Cu mempunyai sifat penghantar listrik dan panas yang baik.
c. Nikel (Ni)
Nikel termasuk logam yang mempunyai kekuatan tinggi dan cukup keras,
mempunyai keliatan yang tinggi, mudah dibentuk dalam keadaan dingin
atau panas. Ni tahan akan korosi bukan terhadap air laut, oleh karena itu
banyak digunakan sebagai lapisan pelindung atau sebagai unsur paduan
baja
d. Seng (Zn)
Zn murni sukar larut dalam asam. Zn tahan akan udara lembab, maka Zn
baik untuk pelapis material (logam) yang berada di udara bebas.Dapat
digunakan sebagai plat seng atap rumah, pipa-pipa pembuang

9.2 BAHAN POLYMER YANG DAPAT DIGUNAKAN SEBAGAI BAHAN


BANGUNAN
Plastik adalah bahan organis yang dapat dengan mudah dicetak (moulding)
atau dibentuk (shaping) dengan cara mekanis maupun kimia untuk menghasilkan
substansi yang liat dan non kristalin yang pada temperatur kamar berada dalam
keadaan padat. Plastik dapat digolongkan dalam :

Thermoplastis

Thermosetting

9.2.1 Thermoplastis
Bahan ini sensistif terhadap pengaruh temperatur.

101

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Beberapa jenis plastik pada golongan ini :


a. Polyethylen (P.E); hasil polimerisasi gas-gas ethylen yang dapat dilakukan
dengan bermacam-macam cara menghasilkan plastik yang disebut
polyethylen. Polyethylen mempunyai sifat tahan pengaruh-pengaruh zat
kimia, tetapi tidak tahan terhadap pengaruh zat kimia bila disertai suatu
tekanan tinggi. Polyethylen foil, sheet atau pipa sangat banyak dipakai
dalam industri bangunan
b. Polyvinyl Chlorida (PVC) : PVC sangat banyak jenisnya dan banyak
dipakai sebagai bahan bangunan, misalnya : seng plastik, pipa plastik,
listrik dll. Kekurangannya bila kena panas akan menjadi lunak dan kuat
tariknya menurun dengan cepat. PVC akan tahan pada suhi 65-175C.
c. Polyvinyl Acetat (PVA); jenis ini dipakai dalam bentuk emulsi terutama
sebagai bahan perekat dan cat. Juga dipakai sebagai bahan aditif untuk
adukan semen, beton untuk mendapatkan kuat tarik yang lebih baik dan
juga sifat-sifat tahan terhadap korosi dan sifat kedap airnya.

9.2.2 Thermosetting
Kekerasan plastik jenis ini tidak begitu dipengaruhi oleh perubahan
temperatur.Umumnya plastik ini tidak dapat jadi lembek atau leleh
Beberapa jenis plastik pada golongan ini :
a. Polyether: resin epoxy, terkenal karena sifat tahan airnya. Umumnya
epoxy resin dijumpai dalam bentuk cair yang dapat dipakai sebagai bahan
perekat semen, coating. Epoxy resin mempunyai sifat tahan terhadap zatzat kimia yang baik, juga tahan terhadap minyak-minyak, lemak dan alkali
tetapi epoxy dapat dirusak oleh beberapa asam organis seperti asam cuka.
b. Polyester ; resin golongan ini disebut juga alkid resin, dihasilkan dengan
jalan mereaksikan alkohol polyhidris denganasam polybasisi. Plastikplastik yang termasuk dalam golongan ini dapat dibagi menjadi 2
golongan yaitu : Polyester jenuh dan Polyester tak jenuh.

102

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

9.2.3 Sifat-Sifat Plastik


Sifat-sifat dari plastik sebenarnya tergantung pada komposisinya, tetapi
faktor-faktor lainnya seperti cara prosesing, misalnya injection, press vacuum,
moulding, lamination, extrusion dll, temperatur, lamanya eaktu pemanasan dan
pendingin, tekanann yang dipakai mempengaruhi sifat plastic. Kuat tarik plastik
tergantung dari jenisnya, mulai dari 100 lb/m2 s/d 200000 lb/m2, misalnya epoxy.

Tabel 9.2 nilai kuat tarik tiap satuan berat :


BAHAN

BJ

Magnesium Alloy
Stainless Steel
Plastik
Kayu
Nylon
Resin Fenol
Plastik Polyethylen
Plastik Polyester

1,81
7,85
1,50
1,30
1,12
1,36
0,92
0,02

KUAT TARIK
lb/m2
46000
185000
35000
30000
11200
8500
1600
100

KUAT TARIK/BJ
lb/m2
25400
23600
23300
23000
10000
6200
1750
5000

Kuat tekan semua jenis plastik dapat ditekan atau menjadi leleh (flow)
bila mengalami tekanan.Peristiwa flow ini juga dipengaruhi oleh temperatur
Modulus elastisitas (e) plastik akan digunakan dalam konstruksi yang
memikul beban defleksi dan creep dapat dikurangi dengan menambahkan dengan
cra penulangan menggunkan glass fibre
Sifat isolasi thermis pada umumnya cukup baik. Terlebih plastik busa
harganya berkisar antara 0,2 0,52/BTU/ft2/jam/inch

9.3 RANGKUMAN
Logam Bukan Besi (Non Ferro) Adalah semua jenis logam yang tidak
termasuk kelompok logam besi. Logam-logam ini terbagi atas 2 kelompok, yaitu :
logam non ferro berat dan Logam non ferro ringan. Dasar pengelompokannya
adalah berat jenis logam tersebut, dimana : logam non ferro berat Bj > 3500
kg/cm3, logam non ferro ringan Bj < 3500 kg/cm3

103

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Plastik adalah bahan organis yang dapat dengan mudah dicetak (moulding)
atau dibentuk (shaping) dengan cara mekanis maupun kimia untuk menghasilkan
substansi yang liat dan non kristalin yang pada temperatur kamar berada dalam
keadaan padat. Plastik dapat digolongkan dalam : Thermoplastis dan
Thermosetting

9.4 SOAL PELATIHAN

1. Jelaskan bahan non logam yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan
2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Thermoplastis dan Thermosetting
3. Jelaskan bahan polymer yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan

104

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB XI

BAHAN PEMBENTUK BETON

Hasil Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu menjelaskan bahan-bahan


pembentuk beton dengan baik dan benar
Kriteria Penilaian
Keberhasilan saudara dalam menguasai bab ini, dapat diukur dengan kriteria
sebagai berikut:
1. Mampu menjelaskan definisi dari beton
2. Mampu menjelaskan agregat sebagai pembentuk beton
3. Mampu menjelaskan air sebagai pementiuk beton
4. Mampu menjelaskan semen sebagai pementiuk beton
5. menjelaskan tulangan sebagai pementiuk beton
6. menjelaskan bahan tambah sebagai pementiuk beton
7. menjelaskan cara pengujian beton
Sumber Pustaka
1. _______. Teknologi Bahan II, PEDC , Bandung
2. _______. Konstruksi Kayu, PEDC , Bandung
3. Heinz F. Ilmu Konstruksi Bangunan , 1981, Karisma, Bandung
4. Luc Vasseur, Masory Construction No 95/75/21379

5. Rosjid Sastraminarja, Ir, 1989, Bahan Perkerasan, Jakarta

105

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

10.1 Pengertian Beton


Beton sangat banyak dipakai secara luas sebagai bahan bangunan. Bahan
tersebut diperoleh dengan cara mencampurkan semen Portland air, dan agregat
(dan kadang-kadang bahan tambah, yang sangat bervariasi mulai dari bahan kimia
tambahan, serat, sampai bahan buangan non-kimia) pada perbandingan tertentu.
Jika campuran dituang dalam cetakan lau dibiarkan,akan mengeras seperti batuan.
Pengerasan terjadi oleh peristiwa reaksi kimia antara air dan semen, yang
berlangsung lama dan akibatnya campuran itu selalu bertambah keras setara
dengan umurnya. Beton yang sudah keras dapat dianggap sebagai batu tiruan
dengan rongga-rongga antara butiran yang besar (agregat kasar, kerikil atau batu
pecah) diisi oleh butiran yang lebih kecil (agregat halus, pasir), dan pori-pori
antara agregat halus ini diisi oleh pasta yang disebut pasta semen yang selain
mengisi pori-pori diantara butiran-butiran agregat halus juga bersifat sebagai
perekat/pengikat dalam proses pengerasan, sehingga butiran-butiran agregat saling
terekat dengan kuat dan terbentuklah suatu massa yang kompak/padat.
Kemajuan pengetahuan tentang teknologi beton telah dapat memenuhi
berbagai tuntutan tertentu, misalnya pemakaian bahan local yang dapat diperoleh
di suatu daerah tertentu dengan mengubah perbandingan bahan dasar yang sesuai,
maupun cara pengerjaan yang cocok dengan kemampuan pekerja, serta kebutuhan
penampilan yang sesuai. Saat ini pengetahuan cara pembuatan beton tampaknya
lebih popular darpada pengetahuan tentang bahan-bahan dasarnya, mungkin
karena pemakai beton lebih tertarik pada tuntutan sifat beton daripada pemilihan
bahan dasarnya, Hal ini mengakibatkan munculnya banyak pabrik beton jadi
(ready mixed concrete), dimana pemakai beton tinggal menyebutkan saja
spesifikasi dari beton yang diinginkan, dan kini bahkan muncul pula pabrik beton
pracetak (precast concrete), dimana pemesan menginginkan suatu elemen struktur
yang sudah siap pakai lengkap dengan spesifikasi yang diinginkan.
Beton dapat mempunyai kekuatan yang sangat tinggi, tetapi kuat tariknya
sangat rendah. Kondisi yang demikian, pada elemen struktur yang betonnya
mengalami tegangan tarik diperkuat dengan baja tulangan sehingga terbentuk

106

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

struktur komposit yang dikenal dengan sebutan beton bertulang. Khusus beton
saja yang tidak bertulang disebut beton tanpa tulangan (plain conctere). Untuk
struktur tertentu yang tidak menginginkan retak tarik pada beton misalnya,
dilakukan manipulasi (strategi) dengan memberikan tegangan tekan awal sebelum
struktur dibebani, yaitu pada struktur beton prategang (prestressed concrete).
Dari uraian sekilas diatas maka dapatlah diketahui kebaikan dan kejelekan
beton dibandingkan dengan bahan bangunan lain.
Kebaikan beton antara lain :
1. Harganya relative murah karena menggunakan bahan-bahan dasar dari bahan
local,
2. Beton termasuk bahan yang berkekuatan tekan tinggi, serta mempunyai sifat
tahan terhadap pengkaratan,pembusukan oleh kondisi lingkungan.
3. Beton segar dapat dengan mudah diangkut naupun dicetak dalam bentuk
apapun dan ukuran seberapapun tergantung keinginan.
4. Kuat tekannya yang tinggi mengakibatkan jika dikombinasikan dengan baja
tulangan (yang kuat tariknya tinggi) mampu dibuat untuk struktur berat.
5. Beton termasuk tahan aus dan tahan kebakaran,
Kekurangan beton antara lain:
1. Beton mempunyai kuat tarik yang rendah, sehingga mudah retak.
2. Beton segar mengerut saat pengiringan dan beton keras mengembang jika
basah,
3. Beton sulit untuk kedap air secara sempurna, sehingga selalu dapat dimasuki
air, dan air yang membawa kandungan garam dapat merusak beton.
4. Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan daktail secara
detail dan seksama agar setelah dikompositkan dengan haja tulangan menjadi
bersifat daktail, terutama pada struktur tahan gempa.
Karena itu seiring kebutuhan konstruksi modern dan perkembangan teknologi
beton, banyak kinerja beton yang dibutuhkan untuk ditingkatkan, yang memang
diperlukan untuk memberikan nilai tambah dalam penggunaannya sebagai
material konstruksi modern, untuk itulah mereka mulai melakukan rekayasa
terhadap beton untuk mendapatkan mutu beton serta sifat-sifat yang diinginkan

107

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

10.2 Agregat
Agregat telah dibahas pada bab iv
10.3 Air
Air merupakan bahan dasar pembuat beton yang penting namun harganya
paling murah . Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen serta untuk menjadi
bahan pelumas antara butir-butir agregat agar mudah dikerjakan dan dipadatkan.
Untuk bereaksi dengan semen, air yang diperlukan hanya sekitar 25 persen berat
semen saja, namun dalam kenyataannya nilai factor air semen yang dipakai sulit
kurang lebih 0,35. Kelebihan air ini yang dipakai sebagai pelumas. Tetapi perlu
dicatat bahwa tambahan air untuk pelumas ini tidak boleh terlalu banyak karena
kekuatan beton akan rendah serta betonnya porous. Apabila ada kebocoran
cetakan air bersama-sama semen juga dapat keluar, sehingga terjadilah sarangsarang kecil. Air yang memenuhi persyaratan sebagai air minum memenuhi
syarat pula untuk bahan campuran beton (tetapi tidak berarti air pencampur beton
harus memenuhi standar persyaratan air minum).
Secara umum, air yang dapat dipakai untuk bahan pencampur beton ialah
air yang bila dipakai akan dapat menghasilkan beton dengan kekuatan lebih dari
90% kekuatan beton yang memakai air suling.
Dalam hal terdapat kesulitan air didaerah terpencil misalnya yang tidak
terdapat air minum atau air untuk pengunaan umum, dan kualitas air yang ada
dikhawatirkan, maka perlu dilakukan pengujian kualitas air.
Kekuatan beton dan daya tahannya berkurang jika air mengandung
kotoran. Pengaruh pada beton diantaranya pada lamanya waktu ikatan awal
adukan beton, serta kekuatan betonnya setelah mengeras. Adanya butiran
melayang (Lumpur) dalam air di atas 2 gram/liter bisa mengurangi kekuatan beton

10.3.1 Persyaratan Air Untuk Beton


Untuk pegangan yang lebih jelas bagi pada pembuat beton, dianjurkan untuk
menggunakan persayaratan air untuk pembetonan khusus, yaitu syarat air sebagai
tercantum dalam American Concrete Institute Code n0. 318-83 yaitu :

108

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

a. Air yang dipakai untuk pengaduk beton harus bersih, dan bebas dari bahan
yang merugikan seperti minyak,alkali, garam, bahan organik, yang dapat
membahayakan bagi beton dan tulangannya.
b. Air untuk beton pratekan dan atau beton yang dilekati aluminium, termasuk
air yang terkandung dalam agregat, tidak boleh mengandung chlorida ion.
Untuk mencegah terjadinya korosi, kadat chlorida pada beton setelah
berumur 28 hari, termasuk chlorida yang terdapat dari agregat, air, bahan
tambah, dan bahan beton lainnya tidak boleh melebihi jumlah dihitung
terhadap presentase jumlah semen sebagai berikut :
Bentuk Konstruksi

Maksimum % Cl ion dihitung


terhadap berat % semen
0,06

1. Beton pratekan
2

Beton

bertulang

yang

berhubungan

denganchlorida dalam pemakaiannya

0,15

3. Beton bertulang yang akan terus kering,


atau dilindungi dari kelembaban selama

1,0

pemakaian
4. Beton bertulang umum lainnya

0,30

c. Bukan air minum tidak boleh dipakai untuk pembetonan bila :


1. Pemilihan perbandingan campuran beton didasarkan pada penggunaan
air dari sumber yang sama
2. Uji adukan standar yang dilakukan seperti cara tersebut dalam ASTM C
109 kuat tekan umur 7 dan 28 hari, tidak kurang dari 90% dibanding
kuat tekan kubus yang dibuat dengan air minum.

10.4 Semen
Semen porland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara
menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang
bersifat hidrolis dengan gips sebagai bahan tambahan (PUBI 1982)
Fungsi semen ialah untuk merekatkan butir-butir agregat agar terjadi suatu
massa yang kompak/padat. Selain itu juga mengisi rongga-rongga di antara

109

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

butiran agregat. Walaupun semen hanya kira-kira mengisi 10 persen saja dari
volume beton, namun karena merupakan bahan yang aktif maka perlu dipelajari
maupun dikontrol secara ilmiah.
10.4.1 Bahan Mentah Semen Portland
Bila ditinjau dari susunan oksida semen portland, maka bahan mentahnya
perlu mengandung CaO, SiO2, Al2O3 dan Fe2O3.
Secara umum bahan mentah yang dipakai ialah :
1. Batu kapur sebagai unsur utama
Batu kapur dapat juga terkotori oleh tanah yang mengandung SiO2, Al2O3
dan Fe2O3.
2. Tanah liat sebagai sumber SiO2, Al2O3 dan Fe2O3
Sebagai bahan koreksi, ditambahkan bila perlu
3. Pasir kwarsa atau batu silika, sebagai penambahan kekurangan terutama
SiO2
4. Pasir atau bijih besi, sebagai penambahan kekurangan Fe2O3.
Pemakaian atau penambahan bahan koreksi ini hanya dilakukan apabila
dengan 2 bahan utama (batu kapur dan tanah liat) belum dicapai susunan
semen yang baik.
Jumlah pemakaian batu kapur dan tanah liat, secara garis besar kurang
lebih 70% batu kapur + 30% tanah liat (perbandingan berat).
Karena bahan mentah yang diambil dari alam, itu juga mengandung oksida atau
kotoran yang lain, yang tidak penting atau dapat mengganggu sifat semen
portland, maka jumlah benda asing tadi dibatasi, sehingga susunan semen yang
dihasilkannya, setelah mengalami pembakaran tinggi kurang lebih menjadi
sebagai berikut:

110

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Perkiraan susunan oksida semen portland


Oksida

Jumlah %

CaO

60 -67

SiO2

17 25

Al2O3

38

Fe2O3

0,5 6

MgO

0,1 4

Alkali (K20 + Na2O)

0,2 1,3

10.4.2 Proses Pembuatan Semen Portland


Semen Portland dibuat dengan melalui beberapa langkah, sehingga sangat
halus dan memiliki sifat adhesive maupun kohesif, yaitu :
1. Penambangan
2. Pemecahan
3. Penggilingan
4. Pencampuran
5. Pembakaran
6. Penggilingan
7. Penambahanan bahan penghambat ikatan
8. Pengepakan
Semen Portland diperoleh mengiling bahan mentahnya kemudian mencampur
bahan-bahan tersebut dalam perbandingan tertentu kemudian membakar secara
bersamaan dengan 1550C dan menjadi klinker. Setelah itu kemudian
dikeluarkan, didinginkan dan dihaluskan sampai halus seperti bubuk. Biasanya
lalu ditambahkan gips atau kalsium sulfat (CaSO4) kira-kira 2 sampai 4 persen
sebagai bahan pengontrol waktu pengikatan. Bahan tambah lain kadang-kadang
ditambahkan pula untuk membentuk semen khusus, misalnya : kalsium klorida
ditambahkan untuk menjadikan yang cepat mengeras. Kemudian dimasukan ke
dalam kantong dengan berat tiap-tiap kantong 50 kg.

111

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Pencampuran dapat dilakukan dalam keadaan kering lalu dalam keadaan


basah, tergantung batu yang sedang dioleh. Oleh karena itu kita mengenal
pembuatan semen portland ada dua proses yaitu proses basah dan proses kering.
Proses basah
Proses basah pada umumnya dilaksanakan jika yang diolah itu adalah
bahan-bahan lumak seperti bahan mentah yang berupa tanah liat, diaduk bersama
air dengan perbandingan-perbandingan tertentu sehingga menjadi bubur cair,
didalam suatu oven berbentuk silinder /bejana terbuat dari beton dan dilapisi
bahan yang sukar menjadi cair dan diaduk-aduk secara terus menerus.
Pembakaran didalam oven biasanya dilaksanakan dengan menggunkaan serbuk
arang batu, selain itu dapat digunakan pula gas atau minyak.
Oven sillinder ini mempunyai diameter 3,50 m, panjang 150 m dan kapasitas 700
ton semen setiap hari. Bubur yang dihasilkan dimasukkan melalui bagian atas atau
klinker yang dihasilkan dihasilkan dikeluarkan melalui bagian bawah dari oven,
denga suhu yang sedikit demi sedikit dinaikkan, bubur mengalami perubahan
demi perubahan selama perjalanannya didalam oven. Pada suhu 100C air
menguap, pada suhu kira-kira 850C keluar karbondioksida dan pada suhu kirakira 1400C berlangsung permulaan perpaduan didaerah pembakaran, dimana
terbentuk kalsiumsilikat dan kalsiumaluminat dalam klinker yang dihasilkan .
Selanjutnya klinker didinginkan dan kemudian digiling sambil dibubuhi gips
sampai mencapai kehalusan butiran yang disyaratkan.
Berbagai jenis semen portland dapat dibuat dengan cara merubah perbandinganperbandingan bahan-bahan bakunya, suhu pembakaran, serta kehalusan
penggilingan klinkernya.
Batu tahu atau gips dibutuhkan untuk mengontrol waktu pengikatan semen, sebab
jika tidak, semen akan terlalu cepat mengikat untuk penggunaan biasa (umum).
Untuk membuat semen khusus dapat pula ditambahkan bahan pembantu
umpamanya, kalsiumchlorida, untuk memperoleh semen yang cepat mengeras.
Untuk penjualan eceran atau kemudahan pemakaian semen dikeluarkan
dari pabrik dengan dimasukkan dalam kantong. Cara penggantongan dilakukan

112

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

mekanis, sehingga tiap harinya dapat dihasilkan puluhan atau ratusan ribu kantong
semen untuk perdagangan diIndonesia, telah ditetapkan, 40 kg bersih.

Proses Kering
Proses kering atau semi kering digunkan jika harus dioleh batuan yang
keras atau lebih keras daripada batuan yang diolah pada proses basah
Dalam hal ini biasanya bahan mentahnya batu kapur dan batu tulis jenis shale.
Bahan-bahan mentah dihancurkan sampai menjadi serbuk dan dengan campuran
sedikit air dimasukkkan kedalam sebuah wadah yang berbuncak )berbengolbenggol), berputar dan diletakkan miring. Hasilnya berupa tepung kasar,
dimasukkan kedalam oven dan proses selanjutnya sama dengan proses basah
seperti telah diuraikan diatas.
Namun dalam proses kering ini digunakan oven silinder yang lebih
pendek, dalam proses ini oenggilingan klinker menghasilkan serbuk dahului
menjadi dingin sebelum meninggalkan pabrik semen.

10.4.3 Sifat-Sifat Semen Portland


Sifat-Sifat Kimia
Syarat syarat susunan kimia semen portland,. Lihat SII 0013 81
Didalam syarat kimia bagi semen portland, terlihat adanya persyaratan mengenai :
a. MgO, dibatasi maksimum 5,0%
Oksida ini mungkin semula terbawa dalam bahan mentah. Dalam tungku
pembakaran, oksida ini tetap bebas, dan telah menjadi MgO, melampaui angka
5% itu, semen dapat mengembang dikemudian hari, bila ia telah mengeras
akibat perubahan MgO menjadi Mg(OH)2 yang membesar volumenya.Untuk
menjaga keamanan semen dari sifat mengembang, harus pula dibuktikan
dengan pengujian kemungkinan mengembang ini, yaitu yang dilakukan
dengan pengujian sifat fisis. (lihat sifat fisis semen)

113

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

b. Kadar SO3
Kadar SO3 dalam semen portland dibatasi menurut jenis semennya, dan
tergantung kepada kandungan C2A dakam semen itu.
SO3, terutama dihasilkan dari penambahan gips (CaSO4 2H2O).
Dengan pembatasan SO3 ini sebenarnya untuk menjaga keamanan semen
terhadap reaksi yang merugikan antara gips dan C3A, sebab hasil reaksinya
akan membuat semen juga tidak kekal sebab volume reaksi antara C3A dengan
gips, lebih besar dari sebelum terjadinya reaksi.
c. Kadar C3S
Batas akan kadar C3S hanya diperuntukkan bagi semen tipe IV yang
merupakan semen dengan panas hidrasi rendah. Kalau bagi itu tidak dibatasi
(maks 35%) dikhawatirkan panas hidrasi semen ini akan terlalu tinggi,
sehingga kurang berfungsi dalam pemakaiannya.
d. Kadar C2S
Batas akan kadar ini juga hanya bagi tipe IV, agar kadar C2S tidak kurang dari
40%, untuk memberikan fungsi semen sebagai perekat hidrolis, mengingat
kadar C3S nya telah dibatasi.
e. Kadar C3A
Karena sifat C3A yang tidak memiliki sifat semen, serta dapat bereaksi negatif
dengan SO3, maka bagi semen tipe II dan terutama V dibatasi jumlah
mksimumnya untuk menjaga timbulnya reaksi mengembang dengan
SO3.Pembatasan bagi semen tipe III dan dan IV, untuk menjaga semen itu
jangan mengeluarkan panas tinggi, yang akan mengakibatkan retak. Panas
hidrasi C3A tinggi. (270 cal/gram)
f. Kadar C4AF dan C2F
Pembatasan akan kadar kedua mineral tersebut khususnya untuk semen tipe V
terutama untuk membatasi agar senyawa itu tidak terlalu banyak sebagai
benda yang tidak berarti, sebab kedua senyawa itu tidak memiliki sifat semen
meskipun tidak membahayakan (pasif), tetapi bila terlalu banyak, berarti mutu
semen akan rendah.
g. Pembatasan terhadap bagian yang larut dan hilang pada pemijaran

114

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Kedua macam benda itu merupakan ketidak murnian semen atau


pembuatan semen kurang baik. Bila semen disusun atau dibakar kurang baik,
kadar tak larut (dalam HCL) akan tinggi. Demikian pula bila semen portland
dicampur benda anorganik lain yang sewarna (misalnya gilingan batu), akan
terlihat tinggi kadar tak larutnya.Kadar hilang pijar mencakup terutama air,
dan CO2. Bila semen kadar kandungannya tinggi, berarti semen itu telah
mengikat air dari udara dan menyerap CO2 dari udara. (sebagian telah
mengeras)
h. Pembatasan alkali
Alkali dalam semen terdapat terutama sebagai Na2O dan K2O. Bila oksida ini
ada, kemungkianan terjadi dari sari sisa abu bahan bakar (bila pakai batu
bara). Karena berdasarkan pengalaman semen berkadar alkali lebih lebih dari
0,6% memungkinkan terjadinya reaksi didalam beton dengan butir angregat
kasar yang mengandung atau terdiri dari silika amorph, dan reaksi ini
membengkak (mengembang) maka sejak diketahui reaksi ini (1949) kadar
alkali dalam semen dibatasi. Bila dijamin bahwa agregat kasarnya tidak relatif,
adanya alkali dalam semen tak membahayakan.
i. Pembatasan kapur bebas CaO
Dalam standar memang tidak pernah tercantum, batas kapur bebas ini (CaO
bebas), sebab biasanya begitu klinker keluar dari tungku CaO bebasnya
diudara biasa akan bereaksi dengan air diudara membentukCa(OH)2. demikian
pula bila partikel CaO bebas ini berada dalam semen. Begitu semen kena air,
yang akan bereaksi dulu CaO membentuk Ca(OH02).
Tetapi pemakai perlu mengetahui, bila ada semen yang diberi air langsung
kena panas (mengeluarkan panas) kemungkinan semen itu banyak
mengandung CaO bebas.

115

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Sifat-Sifat Fisis
Sifat sifat fisis ini, yang penting diketahui seperti tertera pada syarat sifat fisis
dalam standar SII-0013-81, Sifat ini banyak sekali hubungannya dengan
pemakaian, oleh karen itu dengan serba singkat akan diterangkan dibawah ini :
a. Kehalusan butiran semen
Untuk dapat berfungsi dengan baik, hasil bakaran yang berupa klinker semen
dan berupa batu batu kerikil, perlu dihaluskan.
Tujuan menghaluskan ini, agar butir semen mudah bereaksi dengan air, dari
bentuk padat menjadi bentuk gel (agar-agar). Makin halus butiran semen,
semakin cepat bereaksi dengan air. Untuk mengukur kehakusan butir semen,
biasanya dipakai alat yang disebut Blaine Permeability apparatus, (ditemukan
oleh Dr.Blaine, dari NBS di Amerika Serikat) dan satu alat lagi, ciptaan Lea
dan Nurse dari Inggris. (alat ini dipakai didalam British Standard no. 12
Standard Semen Portland).
b. Berat jenis semen, dan berat volume
Berat jenis semen portland pada umumnya berkisar 3,10 sampai 3,30. Angka
rata-rata dipakai 3,15. Berat jenis semen ini, jauh lebih besar dari berat jenis
batuan alam pada umumnya, kecuali batu bijih logam, Oleh karena itu, apabila
ada semen portland yang berat jenisnya kurang atau lebih daripada berat jenis
umumnya, dapat diduga bahwa semen itu telah tidak murni lagi.
Berat isi semen tergantung sangat kepada cara penentuannya. Bila bubuk
semen dalam keadaan diisi gembur, beratnya kurang lebih sekitar 1,1 kg/liter,
dan bila cara pengisiannya dikocok sampai padat, beratnya mencapai 1,5 kg/l.
Untuk praktek, bila pengukuran semen dilakukan dengan perbandingan
volume, agar tetap, biasanya dipakai angka 1,25 kg/liter. Sebenarnya
pemakaiannya semen dengan cara pengukuran volume ini lebih banyak
merugikan daripada menguntungkan.
c. Waktu pengikatan semen

116

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Yang dimaksud dengan waktu pengikatan semen, ialah perkiraan kepada suatu
semen, mulainya mengadakan pengikatan, setelah ia diberi air. Jadi biasanya
dicari mulainya pengerasan awal, semen itu mulai mengeras.
Dalam SII 0013 dapat dipakai 2 macam alat, yaitu dengan alat Vicat atau alat
Gillmore.Dengan alat Vicat, pengikatan awal diukur, dibagian dalam dari
suatu pasta semen, sedang dengan alat gillmore yang diukur dipermukaan
pasta semen. Pengerasan semen awal, dibatasi tidak boleh kurang dari 45
menit atau 1 jam, dengan maksud agar tidak terlalu cepat.
d. Pengikatan semu
Pengikatan semu, disebut juga pengikatan palsu (false setting time), ialah
suatu keadaan bila semen diberi air akan segera menjadi kaku, tetapi bila pasta
semen diaduk kembali, akan cair lagi, dan setelah itu mulai mengeras.
Pengikatan ini karena adanya pengikatan yang terjadi pada gips dalam semen.
Pengaruh pengikatan semu terhadap kekuatan semen, tidak ada.
e. Kekekalan bentuk
Semen portland, setelah mengeras, seharusnya tetap kekal bentuknya/hasil
pengerasannya. Arti kekal disini dimaksud tidak mengambang dan atau tidak
menyusut, yang berarti atau tidak menimbulkan hal yang merugikan.
f. Kekuatan semen
Kekuatan mekanis dari semen portland, merupakan sifat yang perlu diketahui
didalam pemakaian, karena dengan kekuatannya itu merupakan pemberian
gambaran mengenai kemampuannya sebagai perekat. Sifat kekuatan ini biasa
diisyaratkan didalam standar semen portland.

10.4.4 Jenis jenis Semen Portland


Perubahan komposisi kimia semen yang dilakukan dengan cara mengubah
persentase 4 komponen utama semen dapat menghasilkan beberapa jenis semen
sesuai dengan tujuan pemakaiannya.

117

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Disesuai dengan tujuan pemakaiannya, semen Portland di Indonesia (SII


001381) dibagi menjadi 5 jenis seperti telah diuraikan diatas, masing tipe-tipe
tersebut berbeda dalam penggunaannya yaitu :

Jenis I

adalah Semen Portland untuk penggunaan umum yang tidak

memerlukan persyaratan-persyaratan khusus seperti yang diisyaratkan


pada jenis-jenis lain

Jenis II : adalah semen ini mempunyai sifat ketahanan sedang terhadap


garam-garam sulfat didalam air. Semen portland jenis ini dalam
penggunaannya memerlukan ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi
sedang,

Jenis III

: adalah semen yang cepat mengeras atau semen yang

mempunyai

kekuatan

tinggi

pada

umur

muda.Jenis

ini

dalam

penggunaannya menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi setelah


pengikatan terjadi

Jenis IV :

adalah semen dengan panas hidrasi rendah. Semen jenis ini

pengerasan serta perkembangannya lambat. Semen Portland ini dalam


penggunaannya menuntut persyaratan panas hidrasi yang rendah

Jenis V

: adalah Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut

persyaratan sangat tahan terhadap sulfat.


Semen jenis (type) I dipergunakan untuk pekerjaan bangunan dan beton
secara umum, yang untuk pemakaiannya atau lingkungannya tidak diperlukan
persyaratan khusus.
Semen jenis (type) II dipergunakan untuk konstruksi bangunan dan beton yang
berhubungan terus menerus dengan air kotor dan air tanah. Umpamanya untuk
pondasi bangunan yang tertanam didalam tanah yang mengandung larutan garamgaram sulfat, untuk pembuatan saluran air buangan dan untuk bangunan yang
berhubungan dengan air rawa.
Semen jenis (type) III dipergunakan untuk pekerjaan beton didaerah yang
bersuhu rendah (mempunyai musim dingin), terutama didaerah yang beriklim

118

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

dingin. Ini disebabkan oleh karena semen akan lambat mengeras bilamana suhu
udara dingin, apalagi bila suhu sampai didaeah titik beku air.
Semen jenis (type) IV dipergunakan untuk pembuatan beton atau bangunan
yang berukuran besar dengan tebal lebih dari 2,00 m, umpamanya untuk
pembuatan bendung (dam), pondasi jembatan yang besar atau landasan mesin
berukuran besar.
Semen jenis (type) V dipergunakan untuk bangunan yang berhubungan
dengan air laut, air buangan industri, bangunan yang terkena pengaruh gas atau
uap kimia yang agresif serta untuk bangunan yang selalu berhubungan dengan air
tanah yang mengandung garam-garam sulfat dalam persentase yang tinggi.
Selain daripada itu, semen Portland dapat pula diperdagangkan dengan
mencampur bahan lain, yang lebih memberikan sifat tertentu, untuk sesuatu tujuan
. Semen semen semacam itu didalam perdagangannya, masih selalu menggunakan
nama Semen Portland dengan tambahan nama, mengenai benda yang
ditambahkan, dengan maksud agar sipemakai (pembeli) langsung mengetahui
bahwa yang dibeli itu bukan semen portland murni.

10.5 Tulangan
Baja tulangan beton adalah baja yang berbentuk batang yang digunakan
untuk penulangan beton. Dalam perdagangan disebut juga besi beton.Seperti
diketahui bahwa kekuatan tarik beton kira-kira 10% sampai 15% kekuatan
tekannya, karena itu diperlukan baja tulangan untuk memikul beban tarik yang
terjadi.Baja tulangan perlu dilindungi terhadap serangan karat, dengan membuat
beton penutup atau selimut beton dengan ketebalan tertentu, atau dengan
memberikan lapisan anti karat pada baja tulangan sebelum dipasang.

10.5.1 Klasifikasi Baja Tulangan


Pada umunya setiap baja mempunyai standar mutu dan jenis baja sesuai
dengan yang berlaku di negara yang bersangkutan, namun demikian, pada

119

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

uimumnya baja tulangan yang terdapat dipasaran indonesia dapat dibagi dalam
mutu-mutu tercantum dalam tabel
Tabel 10.1Mutu baja Tulangan (PBI, tabel 3.7.1)

Mutu

Sebutan

U 22

Baja lunak

Tegangan leleh karakteristik atau tegangan karakteristik


yang memberikan regangan tetap 0,2% (kg/cm2)
2200

U 24

Baja lunak

2400

U 32

Baja sedang

3200

U 39

Baja khas

3900

U 48

Baja keras

4800

Tabel 10.2 Mutu baja Tulangan


Bentuk

Mutu Baja

Polos

Bj.Tp 24

Deform Bj.Td 40

Batas luluh MPa Kuat tarik MPa Regangan


pada
2
2
(kg/cm )
(kg/cm )
beban maksimal
240
390
3%
(2400
(3900)
400

500

(4000)

(5000)

5%

(sumber Gideon Kusuma, pedoman pengerjaan beton)

Baja beton dikodekan berurutan dengan huruf Bj, Tp dan Td,


Bj berarti baja
Tp berarti Tulangan Polos
Td berarti Tulangan deform
Angkanya menyatakan batas luluh karakteristik yang dijamin.
Ciri khas dari baja beton adalah :
Kuat tarik
Batas luluh/leleh
Regangan pada beban maksimal
Modulus elastisitas (konstanta material)
Sifat-sifat ini dapat ditentukan secara pengujian tarik.

120

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Baja tulangan menurut bentuknya dibagi dalam baja tulangan polos dan
baja tulangan yang diprofilkan (deform). Yang dimaksud dengan baja
tulangan polos adalah batang prismatis berpenampang bulat, persegi, lonjong
dan lain-lain, dengan permukaan licin, sedangkan yang dimaksud dengan baja
tulangan yang diprofilkan adalah batang prismatis yang bersirip/berulir teratur
untuk mendapatkan pelekatan (bonding) pada beton yang lebih baik dari baja
tulangan polos dengan luas penampang yang sama.
Baja beton Bj. Tp 24 dipasok sebagai baja polos (gambar 3.5). bentuk dari
beton Bj. Td 40 adalah deform atau dipuntir.

a. Baja beton polos

c. Baja segi empat dengan punggung-punggung (baja Johson)

d. Baja segi empat dibubut (baja Ransome)

e. Baja isteg
g. Baja grip

f. Baja silang yang disolder

Gambar 10.1 Ciri-ciri tampak baja beton

121

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

10.5.2 Pengontrolan Baja Beton


Pengontrolan Batang-batang Tulangan Beton
Batang-batang dengan kepanjangan 6 m, 9 m dan 12 m biasanya sudah
tersedia (dinamakan panjang dipasarkan). Pemesanan panjang dan diameter yang
menyimpang daripada panjang yang dipasarkan, bila pembelian cukup banyak
biasanya pengusaha penggilasan mau menerima. Perlu diperhatikan bahwa ini
memakan waktu yang lebih lama dan meningkatkan biaya perlu disesuaikan.
Diameter terdapat dalam seri 6 8 (9) 12 (13) 14 16 (18) 19
20 22- 25 28 32. Sedangkan diameter 36 40 50 dapat khusus dipesan.
Norma dari baja beton dapat digunakan baik untuk menilai sekelompok
produksi baja beton(pengontrolan dalam segi sistem sertifikasi) maupun sebagai
pengontrolan praktek ) pengontrolan sekelompok baja beton yang tak
bersertifikasi dalam partai individu).
Pada batang-batang baja beton penyimpangan yang diizinkan dapat dilihat
pada tabel dibawah ini :
Tabel 10.3 penyimpangan yang diizinkan untuk panjang batang
Panjang
Dibawah 12 meter

Mulai 12 meter ke atas

Toleransi
Minus

0 mm

Plus

40 mm

Minus

0 mm

Plus

50 mm

Tabel 10.4 Penyimpangan/tolerasi yang diizinkan untuk massa


teoritis
per panjang
Diameter
Toleransi (%)
Kurang dari 10 mm

7%

10 mm s/d 16 mm

6%

16 mm s/d 28 mm

5%

dari 28 mm

4%

122

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Tabel 10 .5 Penyimpangan/tolerasi yang diizinkan untuk berat teoritis


Diameter

Toleransi (%)

Kurang dari 10 mm

6%

10 mm s/d 16 mm

5%

16 mm s/d 28 mm

4%

dari 28 mm

3%

Tabel 10 .6 Penyimpangan/tolerasi yang diizinkan dari diameter


nominal
Diameter mm

Toleransi (%)

Penyimpangan kebundaran

Sampai dengan 14 mm

0,4 %

Maksimum 70 % dari batas

16 mm s/d 25 mm

0,5 %

toleransi

28 mm s/d 34 mm

0,6 %

36 mm s/d 50 mm

0,8 %

Keprofilan/deform
Rusuk melintang dari baja deform harus dipasang sedemikian hingga :
-

Letak miring terhadap poros batang

Mempunyai lintasan berbentuk sabit yang rata

Tinggi rusuk 0,05

Jarak sumbu kesumbu rusuk 0,7

Sudut antara rusuk dengan poros batang 45

Uji tarik
Untuk mengertahui kuat tarik suatu baja tulangan dapat dilakukan
pengujian tarik.

Pengontrolan Jaring-jaring Tulangan


Pemeriksaan batang-batang memanjang dan melintang dari jaring-jaring
tulangan sesuai dengan cara pemeriksaan baja beton . Juga dituntut syarat-syarat

123

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

terhadap pengelasann bintik (persilangan).Jaring tulangan dengan las bintik dibuat


dari baja beton ditarik dingin yang mempunyai batas leleh sebesar 500 Mpa.
Jaring-jaring batang melintang dan memanjangnya saling bersilangan dilas bintik,
dapat dipasok berupa diameter jaringan 4 sampai dengan 10. jaring tulangan
biasanya digunakan untuk struktur lantai dan dinding.
Jaring-jaring yang dipasarkan (gambar 3.6);.Ukuran luar jaring adalah 2100 x
54000 mm2. Standar ukuran sumbu ke sumbu 100 120 atau 200 mm.

Gambar 10.2 Contoh Jaring pasaran yang tersedia


Jaring-jaring yang dipesan. Pemakai memesan besar dan berat jaring yang
mungkin dapat dipabrikasikan. Pemakai kecuali bergantung pada waktu
pemasokan juga dari jumlah minimal per tipe serta satu kali pemesanan.
Jaringan bergulung. Jaring-jaring tulangan dengan maksimal diameter
tulangan utama 6 mm dapat diasok tergulung (panjang maksimal 54 m dan
lebar 2,1 m). Ukuran sumbu ke sumbu bentang melintang dan memanjang
tergantung dari kemungkinan pabrikasinya.

10.6

BAHAN TAMBAH

Yang

dimaksud

dengan

tambahan/pembantu

untuk

beton

(concrete

admixtures),yang selanjutnya disebut ADMIXTURE, adalah bahan atau zat

124

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

kimia yang ditambahkan sewaktu beton sedang diaduk atau pada tahap permulaan
sewaktu beton masih segar untuk suatu tujuan tertentu.
Tujuan penggunaan bahan tambah untuk beton secara umum adalah untuk
memperoleh sifat-sifat beton yang diinginkan, sesuai dengan tujuan keperluannya.
Sifat-sifat beton yang dapat diperbaiki antara lain:
1. Memperbaiki kelecakan beton segar
2. Mengatur faktor air semen pada beton segar
3. Mengurangi penggunaan semen
4. Mencegah terjadinya segregasi dan bleeding
5. Mengatur waktu pengikatan aduk beton
6. Meningkatkan kuat desak beton keras
7. Meningkatkan sifat tahan lama pada beton keras(lebih awet) sifat tahan lama
ini dapat berhubungan dengan tahan terhadap pengaruh zat kimia, tahan
terhadap gesekan dan sebagainya.

10.6.1 Penggolongan Dan Fungsi Admixture


Secara garis besar, admixtures, dapat dibagi dalam beberapa golongan dan
masing-masing golongan itu, terdiri dari beberapa kelompok yang fungsinya
berbeda-beda .
Jika ditinjau dari fungsinya, ASTM membagi bahan tambah untuk beton
menjadi 7 jenis :
1. Tipe A : Water Reducing Admixture
Bahan tambah yang berfungsi untuk mengurangi penggunaan air pengaduk
untuk menghasilkan beton dengan konsistensi tertentu. Dengan pemakaian
bahan tambah ini, faktor air semen menjadi rendah pada tingkat kelecakan
(workability) yang sama, Dengan demikian kekuatan beton dapat meningkat.
2. Tipe B : Retarding Admixture
Bahan tambah yang dapat memperlambat proses pengerasan aduk beton
3. Tipe C : Accelerating Admixture
Jenis ini dapat mempercepat proses pengikatan dan pengerasan adukan beton

125

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

4. Tipe D : Water Reducing and Retarding Admixture


Jenis bahan tambahan yang berfungsi ganda, yaitu untuk mengurangi
penggunaan air tetapi tetap memperoleh adukan beton dengan konsistensi
tertent, dan memoperlambat proses pengikatan dan pengerasan adukan beton.
5. Tipe E : Water Reducing and Accelerating Admixture
Jenis ini yang berfungsi ganda, yaitu untuk mengurangi penggunaan air dalam
adukan dan mempercepat proses pengikatan dan pengerasan adukan beton
6. Tipe F : Water Reducing ,High Range Admixture
Bahan tambah ini yaitu bahan tambah yang digubnakan untuk menghasilkan
adukan beton dengan konsistensi tertentu sebanyak 12% atau lebih.
7. Tipe G : Water Reducing
Bahan tambah ini berfungsi mengurangi penggunaan air pencampur adukan
yang diperlukan , untuk menghasilkan adukan beton dengan konsistensi
tertentu sebanyak 12% atau lebih serta untuk menghambat pengikatan beton,

10.7 Rangkuman
Beton sebagai material bangunan, mempunyai keunggulan dibanding
bahan yang lain, antara lain : bahan pembentuknya mudah didapat, kekuatan
(terutama tekan ) yang memadai, cenderung tinggi, kekakuan yang baik,
ketahanan terhadap panas, harga yang relatif ekonomis,
Semen porland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara
menghaluskan klinker yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang
bersifat hidrolis dengan gips sebagai bahan tambahan. Secara umum bahan
mentah yang dipakai ialah :batu kapur sebagai unsur utama,tanah liat sebagai
sumber SiO2, Al2O3 dan Fe2O3 ,pasir kwarsa atau batu silika,pasir atau bijih besi.
Pembuatan semen portland ada dua proses yaitu proses basah dan kering.
Disesuai dengan tujuan pemakaiannya, semen Portland di Indonesia (SII
001381) dibagi menjadi 5 jenis , masing tipe tersebut berbeda dalam
penggunaannya yaitu :

126

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Jenis I

: adalah Semen Portland untuk penggunaan umum yang tidak


memerlukanpersyaratan-persyaratan khusus

Jenis II

: adalah semen ini mempunyai sifat ketahanan sedang


terhadap garam-garam sulfat didalam air.

Jenis III : adalah semen yang cepat mengeras atau semen yang
mempunyai kekuatan tinggi pada umur muda

Jenis IV : adalah semen dengan panas hidrasi rendah.

Jenis V : adalah Semen Portland yang dalam penggunaannya menuntut


persyaratan sangat tahan terhadap sulfat.

Tulangan merupakan suatu fungsi yang sangat penting untuk struktur beton
karena daya dukung struktur beton bertulang didapatkan dari hasil kerja sama
matara beton dan tulangan.

Baja tulangan beton adalah baja yang berbentuk

batang yang digunakan untuk penulangan beton. Dalam perdagangan disebut juga
besi beton.
Yang

dimaksud

dengan

tambahan/pembantu

untuk

beton

(concrete

admixtures),yang selanjutnya disebut ADMIXTURE, adalah bahan atau zat


kimia yang ditambahkan sewaktu beton sedang diaduk atau pada tahap permulaan
sewaktu beton masih segar untuk suatu tujuan tertentu.
Jika ditinjau dari fungsinya, ASTM membagi bahan tambah untuk beton
menjadi 7 jenis :
1. Tipe A : Water Reducing Admixture
2. Tipe B : Retarding Admixture
3. Tipe C : Accelerating Admixture
4. Tipe D : Water Reducing and Retarding Admixture
5. Tipe E : Water Reducing and Accelerating Admixture
6. Tipe F : Water Reducing ,High Range Admixture
7. Tipe G : Water Reducing

127

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

10.8 Soal Pelatihan


1. Apakah yang dimaksud dengan kekuatan tekan beton ?
2. Sbutkan syarat-syarat air untuk pembuatan dan perawatan beton.
3. Terangkan fungsi semen porland sebagai komponen beton.
4. Jelaskan mengenai pengaruh karat-karat lepas dan karat-karat tipis yang
terjadi pada baja tulangan
5. Apakah gunanya bahan tambah untuk beton?

128

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

BAB XI

REKAYASA BAHAN BANGUAN

Hasil Pembelajaran
Setelah mempelajari bab ini anda diharapkan mampu Menjelaskan rekayasa bahan
dengan benar
Kriteria Penilaian
Keberhasilan saudara dalam menguasai bab ini, dapat diukur dengan kriteria
sebagai berikut:
1.

Mampu menjelaskan tentang Beton ringan

2.

Mampu menceritakan tentang Beton Massa

3.

Mampu mendefinisikan tentang Ferrosemen

4.

Mampu menjelaskan tentang Beton segar

5.

Mampu menceritakan tentang Beton Non Pasir

6.

Mampu menjelaskan tentang Beton Siklop

7.

Mampu menceritakan tentang Beton Hampa

Sumber Pustaka
1.

_______. Teknologi Bahan II, PEDC , Bandung

2.

_______. Konstruksi Kayu, PEDC , Bandung

3.

Heinz F. Ilmu Konstruksi Bangunan , 1981, Karisma, Bandung

4.

Luc Vasseur, Masory Construction No 95/75/21379

5.

Rosjid Sastraminarja, Ir, 1989, Bahan Perkerasan, Jakarta

129

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Rekayasa bahan bangunan adalah materi yang mengetengahkan penemuan bahan


bangunan baru hasil dari rekayasa baik itu bahan, teknologi dan lain sebagainya

11.1 Beton Ringan


Beton biasa merupakan bahan yang cukup berat, dengan berat 2400 kg/m3 dan
menghantarkan panas. Untuk mengurangi beban mati suatu struktur beton atau
mengurangi sifat penghantaran panasnya maka telah banyak dipakai beton atau
mengurangi sifat penghantaran panasnya maka telah banyak dipakai beton ringan.
Beton disebut sebagai beton ringan jika beratnya kurang dari 1800 kg permeter
kubik. Pada dasarnya, beton ringan diperoleh dengan cara pemberian gelembung
udara ke dalam campuran betonnya. Oleh karena itu pembuatan beton ringan
dapat dilakukan dengan cara-cara berikut:
a. Dengan membuat gelembung gelembung gas/udara dalam adukan
semen. Dengan demikian akan terjadi banyak pori-pori udara di dalam
betonnya. Bubuk aluminium ditambahkan ke dalam semen dan akan
timbul gelembung-gelembung udara.
b. Dengan menggunakan agregat ringan, misalnya tanah liat bakar, batu
apung. Dengan demikian beton yang terjadipun akan lebih ringan daripada
beton biasa.
c. Pembuatan beton dengan tanpa butir-butir agregat halus. Dengan demikian
beton ini disebut beton non pasir dan hanya dibuat dari semen dan
agregat kasat saja (dengan butir maksimum agregat kasar sebesar 20 mm
atau 10 mm). Beton demikian mempunyai pori-pori yang hampir seragam.
Sebagai bahan batuan kasar yang dipakai antara lain: kerikil alami (batu
apung), terak tungku tinggi, tanah liat bakar.

11.2 Beton Massa


Beton massa ialah beton yang dituang dalam volume besar, yaitu
perbandingan antara volume dan luas permukaan besar. Biasanya dianggap beton
massa jika dimensinya lebih dari 60 cm. Beton massa biasanya dibuat untuk

130

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

pondasi besar, pilar, bendungan dan sebagainya. Pada bendungan, biasanya


dibedakan antara beton massa dalam dan beton massa luar. Beton massa dalam
tidak terpengaruh cuaca, adapun beton massa luar yang tebalnya sekitar 2 meter
terpengaruh cuaca sehingga ada persyaratan nilai faktor air semen maksimum agar
lebih tahan cuaca.
Pada pembuatan beton massa, salah satu faktor yang amat penting untuk
diperhatikan adalah perbedaan temperatur yang terjadi akibat adanya panas
hidrasi. Pada saat penuangan adukan beton hal ini memang tidak nampak, namun
dalam beberapa waktu berikutnya panas mulai timbul di dalam betonnya. Panas
yang timbul ini apabila tidak dihilangkan akan membuat beton mengembang dan
terjadilah kecenderungan timbul retak-retak. Proses retak-retak ini berlangsung
bersamaan dengan proses pengerasan beton.
Pada tahap proses pengerasan tersebut, beton massa berlaku sama seperti
logam besar yang dituang (dicor) dalam temperatur dingin. Lapisan luar
mendingin dan menyusut dahulu, sedangkan lapisan dalam masih sedikit panas
yang berarti belum susut, maka terjadilah perbedaan volume, yang menimbilkan
kecenderungan untuk retak. Tahap berikutnya, lapisan bagian dalam mendingin,
dan menyusut, sehingga menarik lapisan luar yang sudah berhenti menyusut.
Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbulnya retakretak akibat pengaruh temperatur tersebut pada beton massa yaitu :
1. Digunakan semen (karena semen adalah sumbernya panas) sesedikitsedikitnya dengan cara :
a. Ukuran butir agregat kasar (kerikil) yang sebesar-besarnya (sebatas
yang diizinkan, yaitu 75 m atau150 mm), karena makin besar
ukuran agregat maksimum yang dipakai makin sedikit semen yang
diperlukan. Bila diguanakn diameter agregat kasar 75 atau 150 mm
maka radasi agregat kasarnya harus memenuhi Tabel 2.1, dan
gradasi agregat halus (pasir) seperti tabel 2.2

131

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Tabel 11.1 batas-batas gradasi agregat kasar untuk beton massa


Lolos ayakan (% berat)
Lubang ayakan

Butir maks.75 mm

Butir maks. 150 mm

150

100

100

75

100

65 80

40

60 80

33 60

20

30 40

20 35

10

10 15

8 15

4,8

Tabel 11.2. batas-batas gradasi agregat halus untuk beton massa


Lubang ayakan

Lolos ayakan(% berat)

10

100

4,8

92 100

2,4

75 90

1,2

50 70

0,6

35 50

0,3

17 30

0,15

3 10

b. Memakai perbandingan berat agregat halus dan agregat kasar yang


paling tepat, agar hanya diperlukan semen yang

minimum

walaupun kuat tekan betonnya sama.


Jika digunakan ukuran maksimum agregat kasar 150 mm maka
berat pasirnya antara 25 sampai 30 persen dari keseluruhan berat
pasir dan agregat kasarnya.
c. Gunakan air sedikit-sedikitnya (sebats yang memungkinkan, hanya
untuk keenceran adukan saja dalam proses pemdatan), karena
untuk memperoleh mutu beton yang sama diperlukan faktor air

132

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

semen sama, berarti akan dipakai semen sedikit jika airnya sedikit.
Pemakaian air yang sedikit mempunyai konsekuensi adukan beton
lebih kentak, sehingga sering hanya mempunyai slam 25 mm saja
sehingga pemadatannya dilakukan dengan compacted roller.
Perbandingan antara berat air dan berat semen antara 0,50 sampai
0,70. Jika digunakan ukuran maksimum agregat kasar 75 mm,
maka :
Wp k
antara 6 sampai 9
Wsmn

Jika digunakan ukuran maksimum agregat 150 mm, maka :


Wp k
antara 8 sampai 15
Wsmn

dengan Wp + k = berat pasir dan agregat kasar


Wsmn = berat semen portland

2. Digunakan semen khusus yang mempunai panas hidrasi rendah, misalnya :


a. semen portland tipe IV
b. semen portland tipe II
c. semen portland yang dicampur dengan pozzolan, mosalnya trass,
abu terbang (fly ash)
3. Tuang beton dalam blok-blok dengan ukuran terbatas
a. tebal tiap lapis antara 40 60 cm
b. tiap lapis harus masih lunak ketika lapisan berikutnya ditabarkan.
4. Berikan aliran air dingin melalui pipa-pipa yang terpendam,agar panas
hidrasi selalu terdistribusi secara merata didalam betonnya. Perbedaan
temperatur terbesar dapat dijaga agar sesuai dengan keinginan kita dengan
cara menentukan jarak ipa, lama pengaliran air, temperatur air yang
dimasukkan dan debit air yang dialirkan. Ukuran arah horizontal
ditetapkan sedemikian rupa sehingga retak susutan dengan blok lain
disebelahnya akan cukup lebar untuk dimasuki bahan gruoting, agar antar

133

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

blok menjadi satu kesatuan yang utuh. Antara 6 sampai 20 meter


tampaknya cukup membuat celah susutan tersebut.
Sebagai contoh, misalnya pada waktu pembuatan Dam Hoover (Gilkey, 1962),
digunakan untuk satu penuangan beton setinggi 1,50 meter dengan ukuran
horizontal berkisar antara 8 meter dan 20 meter.Digunakan pipa dengan diamter
25 mm, yang dipasang berkelok-kelok seperti huruf S dengan jarak as ke as
sekitar 1,50 meter arah horizontal. Pipa-pipa tersebut diletakkan horizontal di atas
hamparan adukan setelah adukan mencapai tebal 1,50 meter. Air dingin (pada
temperatur air sungai) dialirkan ke dalam pipa tersebut segera setelah selesai
penuangan beton. Panas beton akan berradiasi sampai lapisan berikutnya setelah
laposan berikutnya dituang. Lapisan berikutnya baru boleh dituang setelah lapisan
tersebut berumur 72 jam (3x24 jam). Tebal seluruh lapisan beton tidak boleh
dituang lebih dari 10,5 meter dalam 30 hari.
Meskipun dipakai semen jenis panas hidrasi rendah dan campurannya juga
dengan jumlah air dan semen sedikit (lean mixture), beton yang dibiarkan dulu
berhubungan dengan udara terbuka serta disemprotkan air selama 3 hari pertama,
suhu beton tetap masih naik sekitar 25C selama 6 sampai 12 bulan. Kenaikan
suhu tersebut akan lebih besar jika digunakan semen portland biasa.
Jika permukaan beton dibiarkan berhubungan dengan udara terbuka selama 10
hari pertama, maka selama 6 sampai 12 bulan kenaikan suhunya sekitar 15C.
Penelitian lanjutan dari pembuatan Dam Hoover mendapatlan kenaikan suhu
beton massa dengan berbagai jenis semen tertentu.

11.3 Ferrosemen
Ferrrosemen (ferrocement) ialah suatu bahan gabungan yang diperoleh
dengan cara memberikan kepada mortar semen suatu tulangan yang berupa
anyaman lewat baja. Mortar semen berfungsi sebagai massa dan kawat baja
sebagai pemberi kekuatan tarik dan daktilitas. Secara lebih teliti, ferrosemen dapat
diartikan sebagai beton bertulang dengan bentuk khusus, yaitu dengan tulangan
lebih rapat bagai beton bertulang. Walaupun demikian ferrosemen mempunyai

134

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

sifat yang berbeda dengan beton bertulang, terutama pada tingkat tegangan yang
sedang. Karena distribusi dari tulangan yang kecil-kecil tapi lebih merata maka
memperkecil kemungkinan mortar untuk retak-retak. Selain itu beberapa sifat lain
misalnya ketahanan terhadap pecah, ketahanan terhadap patah lelah, ketahanan
terhadap kelolosan air (kedap air) lebih baik.
Ferrosemen merupakan mortar semen yang banyak menggunakan semen,
dengan tebal diantara 10 mm sampai 60 mm dengan volume tulangan sekitar 6
sampai 8 persen, dengan bentuk tulangan satu lapis atau lebih. Tulangan itu dapat
berupa kawat silang yang dilas atau batang-batang baja tulangan dengan diameter
yang kecil.Perbandingan volume antara semen dan pasir antara 1:1 dan 1 : 2.
Kadang-kadang dipakai pula dengan perbandingan semen : pasir sebesar 1 : 3.
Pemakaian bahan kimia tambahan untuk membuat adukan mortar lebih encer
dapat dipakai juga.
Jumlah air yang dipakai, yang sangat berpengaruh terhadap kekuatan dan
kelecakan mortar, pertama-tama tergantung pada ukuran butir maksimum,
modulus halus butir dan variasi besar butiran pasirnya. Air yang dipakai harus
bebas dari kotoran, misalnya tanah liat, asam , garam-garaman, zat organik.
Batuan yang dipakai, yaitu pasir halus, yang berfungsi sebagai bahan
pengisi merupakan sekitar 60 sampai 75 persen volume mortarnya. Pasir itu juga
seperti airnya harus bersih, tidak mengandung kotoran, misalnya tanah liat, asam,
garam-garaman, zat organik. Besar butir pasir yang lebih besar daripada 2,40 mm
sebaiknya tidak dipakai, karena akan mengakibatkan mortar berpori. Akan tetapi,
pemakaian butir-butir yang terlalu halus mrngakibatkan membutuhkan air yang
lebih banyak untuk mencapai tingkat kelecekan yang sama, jadi mengurangi
kekuatan. Oleh karena itu sebaiknya besar butir pasir dibuat antara 0,20 mm dan
2,40 mm. Sebagai tulangan ferrosemen ini dipakai baja diameter sekitar 3 sampai
8 mm untuk skeleton (rangka) dan kawat ayam dengan diameter kawat sekitar 0,5
mm sampai 1,5 mm.
Baja skeleton merupakan rangka yang berfungsi untuk membentuk secara
tepat bentuk ferrosemen yang akan dibuat, dan skeleton sekitar 70 sampai 100
mm. Untuk menempelkan antara batang vertikal dan horizontal dapat dipakai

135

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

kawat ikat atau las. Untuk membuat skeleton ini dapat pula dipakai kawat ayam
yang berdiameter antara 3 sampai 4 mm yang dijadikan satu dengan las, dan
mempunyai jarak antar batang kawat sekitar 80 sampai 100 mm. Kawat skeleton
semacam ini memudahkan pelaksanaan karena umunya buatan pabrik, akan tetapi
harganya sedikit lebih mahal jika dibandingkan dengan baja beton yang diikat.
Kawat ayam dengan diameter sekitar 0,5 mm dan 1,5 mm yang disambung
dengan sambungan las, atau dipuntir, dengan jarak antara batang-batang sekitar 6
sampai 20 mm.
Akibat besarnya persentasi tulangan terhadap mortarnya, dan distribusi
tulangan yang lebih merata dan lebih menerus dibandingkan dengan beton
bertulang, maka ferrosemen dapat bersifat seperti plat baja. Oleh karena itu
ketahanan terhadap retakan, daktilitas fleksibilitas, benturan dan kelelahan
dipunyai ferrosemen dengan lebih baik daripada beton bertulang, selain itu
ferrosemen lebih kedap air dari pada beton biasa.
Kebaikan kebaikan ferrosemen ialah :
1. Struktur yang dibuat dari ferrosemen dapat tipis dan ringan. Oleh karena
itu dapat terjadi penghematan pada tiang pendukungnya maupun pada
fondasinya. Pengalaman menunjukan bahwa pengurangan berat sendiri
struktur sekitar 30 persen, pemakaian baja berkuarang sekitar 15 persen,
dan biaya pembuatan atap sebesar 10 persen dibandingkan dengan struktur
beton biasa.
2. karena berat sendiri yang lebih ringan, maka amat memungkinkan untuk
dibuat pabrikasi (dicetak di pabrik).
3. Cara pengerjaannya sederhana sehingga tidak memerlukan pekerja yang
terlatih baik. Dapat dikerjakan oleh pekerja yang belum terlatih baik.
4. Penghematan bahan cetakan dapat dilakukan.

11.4 Beton Serat


Beton serat (fibre concrete) ialah bagan komposit yang terdiri dari beton
biasa dan bahan lain yang berupa serat. Serat pada umumnya berupa batang-batan

136

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

dengan diameter antara 5 dan 500 um (mikro meter), dan panjang sekitar 25 mm
sampai 100 mm. Bahan serat dapat berupa : serat asbestos, serat tumbuh-tmbuhan
(rami, bambu, ijuk), serat plastik (polypropylene), atau potongan kawat baja.
Dalam hal ini serat dapat dianggap sebagai agregat yang bentuknya sangat
tidak bulat.. Adanya serat mengakibatkan berkurangnya sifat kemudahan
dikerjakan dan mempersulit terjadinya segregasi. Serat dalam beton itu berguna
untuk mencegah adanya retak-retak, sehingga menjadikan beton serat lebih daktail
dari pada beton biasa.
Jika serat yang dipakai mempunyai modulus elastisitas lebih tinggi
daripada beton, misalnya kawat baja, maka beton serat akan mempunyai kuat
tekan, kuat tarik, maupun modulus elastisitas yang sedikit lebih tinggi daripadam
beton biasa. Hasil penelitian oleh Sudarmoko (1993) yang menggunakan kawat
bendrat dengan panjang 60 mm, 80 mm dan 100 mm menunjukan bahwa
tambahan 1% volume beton mampu menaikkan kuat tekan beton sekitar 25%,
kuat tarik sekitar 47% , beton serat juga bersifat lebih tahan benturan dan lenturan.
Jika modulus elastisitas sera rendah , misalnya rami atau plastik, hanya membuat
beton lebih tahan benturan saja. Karena sifatnya yang lebih tahanbenturan dariapa
benton biasa maka sering dipakai pada bangunan hidrolik, landasan pesawat
udara, jalan raya, lantai jembatan.

Volume
No Serat
(%)

Panjang
Serat

Modulus
Kuat tekan

Kuat tarik

Elastis
(104 Mpa)

(mm)
(Mpa)

(%)

(Mpa)

(%)

34,22

100

3,34

100

3,978

60

41,66

121,7

4,72

141,2

4,463

80

42,85

125,5

4,93

147,6

4,563

100

42,79

125,0

4,91

147,2

4,625

137

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

11.5 Beton Pasir


Beton non pasir (no-fines concrete) ialah suatu bentuk sederhana dari jenis
beton ringan yang diperoleh dengan cara menghilangkan bagian halus agregat
pada pembuatan beton. Todak adanya agregat halus dalam campuran
menghasilkan suatu sistem berupa keseragaman rongga yang terdistribusi di
dalam massa beton, serta berkurangnya berat jenis beton. Rongga didalam beton
tersebut mencapai sekitar 20 sampai 25 persen. Kelebihan utama dari pemakaian
beton non pasir ini adalah :
a. kebaikannya sebagai bahan isolasi panas
b. pembuatan beton yang lebih cepat dan sederhana
c. bobotnya yang ringan
d. serta susutnya yang hanya sedikit
e. tidak ada kecenderungan untuk bersegregasi sehingga dapat dijatuhkan
dengan tinggi jatuh yang lebih tinggi
f. kebutuhan semen sedikit (karena tidak ada pasir maka luas permukaan
butir agregat berkurang sehingga kebutuhan pasta semen yang dipakai
untuk menyelimuti butir pasir tidak diperlukan lagi, sehingga kebutuhan
semen hanya sedikit) sehingga harganya lebih murah.
Pada umumnya agregat kasar yang dipakai berukuran 10 sampai 20 mm,
walaupun ukuran yang lain dapat pula dipakai. Pemakaian agregat dengan gradasi
dengan gradasi rapat dan bersudut tajam (batu pecah) akan menghasilkan beton
non pasir yang kuat tekan dan berat jenisnya sedikit lebih tinggi daripada yang
memakai agregat seragam dan bulat (kerikil).
Berat jenis beton non pasir tergantung pada jenis dan gradasi agregat kasar
yang dipakai, dan pada umumnya berkisar antara 60 75 persen dari beton biasa.
Hasil penelitian Kardiyono (1994) yang menggunakan kerikil alami dari Sungai
Progo dengan butiran seragam (ukuran 10 20 mm ) menghasilan beton non-pasir
dengan berat jenis sekitar 1,87.
Beton non pasir ini akan mempunyai berat jenis yang lebih ringan lagi jika
agregat kasar yang dipakai dari jenis agregat ringan, Misalnya, beton non pasir

138

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

yang menggunakan agregat pecahan genteng (yang berat jenis 1,80) berat jenisnya
sekitar 1,60, jika diggunakan agregat yang lebih ringan, misalnya lempung bekah
(hasil pembakaran shale, yang berat jenisnya 1,20) diperoleh beton non pasir yang
berat jenisnya sekitar 1,20.
Beton non pasir terbuat dari air, semen, dan agregat kasar. Perbandingan
volume antara agregat semen berkisar antara 6 sampai 10, dan faktor air semen
berkisar antara 0,35 dan 0,45. Perkisaran faktor air semen tidak dapat terlalu besar
karena jika faktor air semen terlalu rendah maka pasta semennya tidak cukup
menyelimuti butir-butir agregat kasarnya, dan jika faktor air semen terlalu tinggi
maka pasta semen akan terlalu encer sehingga pada waktu pemadatan pasta semen
mengalir ke bawah (tidak lagi menyelimuti butir-butir semen). Dengan demikian
ada suatu nilai faktor air semen optimum yang menghasilkan kuat tekan
maksimum untuk suatu nilai perbandingan agregat semen tertentu. Hasil
penelitian Kardiyono (1992) yang membuat beton non pasir dari pecahan genteng
keramik diperoleh faktor air semen sekitar 0,40 dengan kuat tekan antara 5 Mpa
sampai 10 Mpa untuk perbandingan volume agregat semen 10 sampai 6
sebagaimana tampak pada tabel dbawah ini :
Tabel 11.3 Faktor air semen optimal, kebutuhan semen, dan kuat tekan beton
non-pasir dengan agregat pecahan genteng keramik (Kardiyono,1992)
Perbandingan

Faktor air semen

Kebutuhan semen

Kuat tekan

volume

optimal

Portland per M3

beton non

beton (kg)

pasir (Mpa)

agregat semen
6

0,38

211

10,3

0,40

185

8,3

0,38

170

7,2

0,42

140

6,3

10

0,44

127

5,8

Karena kuat tekan tekannya relatif rendah maka sampai saat ini beton non pasir
hanya dipakai untuk bagian non struktur, misalnya tembok atau dibentuk bata

139

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

beton,namun kadang dipakai pula untuk bagian struktur. Jika dipakai untuk
struktur maka diberi baja tulangan, untuk mencegah terjadinya karat pada bajanya
maka baja dapat dilapisi dengan pasta semen dahulu atau bahan pelapis lain. Agar
balok beton yang dibuat dari beton non-pasir ini bersifat daktail maka digunakan
tulangan tekan sama banyak dengan tulangan tarik (Tjokromuljo, 1995).

11.6 Beton Siklop


Beton jenis ini sama dengan beton normal/biasa, perbedaannya ialah pada
beton ini digunakan ukuran agregat yang relatif besar-besar. Ukuran agregat kasar
dapat sampai sebesar 20 cm, namum proporsi agregat yang lebih besar dari
biasanya ini sebaiknya tidak lebih dari 20 persen agregat seluruhnya. Beton ini
digunakan pada pembuatan bendungan, pangkal jembatan dan sebagainya.

11.7 Beton Hampa (Vacuum Concrete)


Seperti telah diuraikan didepan bahwa hanya kira-kira separuh air yang
dicampurkan saja yang dipakai untuk bereaksi dengan semen, adapun separuh
sisanya untuk mengencerkan adukan. Beton jenis ini diaduk dan dituang serta
dipadatkan sebagaimana beton biasa, namun setelah beton tercetak padat
kemudian air sisa reaksi disedot dengan khusus, disebut cara vakum (vacuum
method). Dengan kemudian air yang tinggal hanya air yang dipakai untuk reaksi
dengan semen sehingga beton yang diperoleh sangat kuat.

11.8 Rangkuman
Yang dimaksud dengan jenis dan macam-macam beton ialah nama beton
yang tergantung dari bahan perekatnya, berat volumenya, cara pengerjaannya,
derajat kecairannya adonan beton, banyak sedikitnya bahan perekat dan lain
sebagainya.
Beton ringan adalah beton dengan beratnya kurang dari 1800 kg /m3
Beton massa ialah beton yang dituang dalam volume besar, yaitu
perbandingan antara volume dan luas permukaan besar.

140

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

Ferrrosemen (ferrocement) ialah suatu bahan gabungan

yang diperoleh

dengan cara memberikan mortar semen suatu tulangan anyaman baja.


Beton serat (fibre concrete) ialah bagan komposit yang terdiri dari beton biasa
dan bahan lain yang berupa serat.
Beton non pasir (no-fines concrete) ialah suatu bentuk sederhana dari jenis
beton ringan yang diperoleh dengan cara menghilangkan bagian halus agregat
pada pembuatan beton.
Beton ini menggunakan ukuran agregat yang relatif besar-besar. Ukuran
agregat kasar dapat sampai sebesar 20 cm
Beton hampa diaduk dan dituang serta dipadatkan sebagaimana beton biasa,
namun setelah beton tercetak padat kemudian air sisa reaksi disedot dengan
khusus, disebut cara vakum (vacuum method).

11.9 Soal Pelatihan


1. Jelaskan pengertian dan penggunaan dari Beton ringan
2. Jelaskan pengertian dan penggunaan dari Beton Massa
3. Jelaskan pengertian dan penggunaan dari Ferrosemen
4. Jelaskan pengertian dan penggunaan dari Beton segar
5. Jelaskan pengertian dan penggunaan dari Beton Non Pasir
6. Jelaskan pengertian dan penggunaan dari Beton Siklop
7. Jelaskan pengertian dan penggunaan dari Beton Hampa
8. Jelaskan pengertian dan penggunaan dari mortar

141

PROGRAM STUDI TEKNIK PERENCANAAN PERUMAHAN DAN


PEMUKIMAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

142