Anda di halaman 1dari 26

A.

PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang
Beton memadat mandiri Self Compacting Concrete (SCC) merupakan

beton yang mampu mengalir sendiri yang dapat dicetak pada bekisting (formwork)
dengan tingkat penggunaan alat pemadat yang sangat sedikit atau bahkan tidak
dipadatkan sama sekali. Beton ini, memanfaatkan pengaturan ukuran agregat,
porsi agregat dan bantuan cairan kimia khusus berupa admixture superplasticizer
untuk mencapai kekentalan yang sesuai sehingga memungkinkannya mengalir
sendiri tanpa bantuan alat pemadat. Sekali dituang ke dalam cetakan, beton ini
akan mengalir sendiri mengisi semua ruang mengikuti prinsip grafitasi, termasuk
pada pengecoran beton dengan tulangan pembesian yang sangat rapat. Beton ini
akan mengalir ke semua celah di tempat pengecoran dengan memanfaatkan berat
sendiri campuran beton. (Ladwing,II.et.al.2001).
Penelitian ini didasarkan oleh buku hasil tugas akhir yang telah
diselesaikan oleh mahasiswa tamatan S-1 Universitas Pendidikan Indonesai (UPI)
Ilfan Irawan, mengenai "Pengaruh Silica Fume Terhadap Beton Mutu Tinggi SelfCompacting Concrete", dimana pada penelitiannya digunakan variasi penggunaan
silica fume sebanyak 1,5%, 1,8%, 2%, dan 2,8% hasil akhir penelitian didapatkan
kuat tekan maksimum yang dihasilkan dengan menggunakan 2% Silica Fume dan
1,1% superplasticizer pada umur 28 hari dihasilkan 55,079 Mpa. (Ilfan Irawan.
2014)
Berdasarkan penelitian tersebut, tujuan penelitian ini, untuk mendapatkan
kadar optimum silica fume agar mendapat kuat tekan maksimumnya.

2.

Rumusan Masalah
Agar penelitian menjadi fokus dan tertuju pada pokok penelitian maka

direncanakan rumusan masalah penelitian sebagai berikut :


1. Mengetahui pengaruh silica fume terhadap kuat tekan beton Self
Compacting Concrete (SCC) dengan variasi hari pada umur beton 3, 7, 14
dan 28 hari
2. Menentukan persentase kadar silica fume optimum sebagai additve pada
Self Compacting Concrete (SCC)
3. Membandingkan kuat tekan beton SCC dengan campuran menggunakan
silica fume dan beton SCC tanpa menggunakan silica fume.
3.

Tujuan dan Ruang Lingkup


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan beton untuk

mengalir dan mengisi formwork tampa bantuan penggetar dengan tambahan


admixture berupa superplasticizer untuk mengetahui kuat tekan yang
dihasilkan.
Untuk menghindari kendala yang dihadapi nantinya, dikarenakan luasnya
lingkup yang akan dikaji, maka penelitian yang akan dilakukan akan dibatasi
dengan kajian sebagai berikut ;
1. Kuat Tekan beton rencana (fc) 25 Mpa pada umur 28 hari
2. Mix Desain memakai metode SNI 03-2834-2000 Tata Cara Pembuatan
campuran beton Normal dengan menambahkan syarat-syarat beton
self compacting dari The European Guidelines for SCC,2005.
3. Variasi untuk komposisi additive sebagai bahan tambah berupa Silica fume
adalah, 0%, 1,9%, 2% dan 2,1%. Persentase dari jumlah filler merupakan
variabel bebas yang akan diambil dari mix design;

4. Jumlah sampel untuk tiap variasi additive adalah 5 sampel;


5. Menganalisis kuat tekan beton untuk mendapat kadar optimum silica fume
yang dapat digunakan pada beton Self Compacting Concrete (SCC);
6. Penambahan admixture superplasticizer sebesar 1,1%;

B.

TINJAUAN PUSTAKA

1.

Pengertian Beton
Beton dalam konstruksi teknik didefinisikan (dibataskan) sebagai batu

buatan yang dicetak pada suatu wadah atau cetakan dalam keadaan cair atau
kental, yang kemudian mampu untuk mengeras secara baik. Beton terdiri dari
agregat halus, agregat kasar dan suatu bahan pengikat. Bahan pengikat yang lazim
dipakai umumnya adalah bahan pengikat yang bersifat hidrolik dalam arti akan
mengikat dan mengeras secara baik kalau dicampur dengan air. (Soetjipto,
Ismoyo; 1978;Konstruksi Beton 1)
2.

Material Pembentuk Beton Self Compacting Concrete


1) Semen
Semen merupakan bahan hidrolis yang dapat bereaksi secara kimia dengan
air, sehingga membentuk material yang padat. Secara umum, komposisi
kimia semen Portland adalah seperti yang diperlihatkan pada tabel 2.1.
Oksida
Komposisi (% berat)
CaO (kapur)
60 67
SiO2 (Silika)
17 25
Al2O3 (Alumina)
38
Fe2O3 (Besi)
0,5 6
MgO (Magnesia)
0,1 5,5
Alkalis
0,2 1,3
SO3 (Sulfur)
13
Tabel 2.1 Komposisi limit semen Portland
Sumber : A.M. Nneville, Concrete Technology, 1987

2) Agregat
Penjelasan didalam SNI-15-1991-03, agregat didefinisikan sebagai
material granular, misalnya pasir, kerikil dan batu pecah yang dipakai
bersama-sama dengan satu media pengikat untuk membentuk beton semen
hidrolik atau adukan. Dalam struktur beton biasanya agregat biasa
menempati kurang lebih 70 % 75 % dari volume beton yang telah
mengeras.
Pada umumnya, semakin padat agregat-agregat tersebut tersusun, semakin
kuat pula beton yang dihasilkannya, daya tahannya terhadap cuaca dan
nilai ekonomis dari beton tersebut. Atas dasar inilah gradasi dari ukuranukuran partikel dalam agregat mempunyai peranan yang sangat penting
untuk menghasilkan susunan beton yang padat.
Faktor penting yang lainnya ialah bahwa permukaannya haruslah bebas
dari kotoran seperti tanah liat, lumpur dan zat organik yang akan
memperoleh ikatannya dengan adukan semen dan juga tidak boleh terjadi
reaksi kimia yang tidak diinginkan diantara material tersebut dengan
semen.
Agregat yang digunakan untuk beton harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
a.

Ketentuan dan persyaratan dari SII 0052-80 Mutu dan Cara Uji
Agregat Beton. Bila tidak tercangkup dalam SII 0052-80 maka agregat
harus memenuhi ASTM C33 Specification for Structural Concrete
Agregattes.

b.

Ketentuan dari ASTM C330 Specification for Light Weight


Agregattes for Structural Concrete , untuk agregat dan struktur beton.

Berdasarkan ukurannya, agregat dapat dibedakan menjadi :


Agregat halus, diameter 0 5 mm disebut pasir, yang

dibedakan Pasir halus

Pasir kasar

0 1 mm

1 5 mm

Agregat kasar, diameter 5 mm, biasanya berukuran


antara 5 40 mm yang disebut kerikil.

3) Air
Air yang dimaksud disini adalah air yang digunakan sebagai campuran
bahan bangunan, harus berupa air bersih dan tidak mengandung bahanbahan yang dapat menurunkan kualitas beton.
Menurut SNI 7974:2013, Syarat-syarat dari air yang dapat digunakan
sebagai campuran bahan bangunan adalah sebagai berikut :
a. Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung
minyak, asam alkali, garam-garam, bahan-bahan organik atau bahan
lain yang dapat merusak daripada beton.
b.

Apabila dipandang perlu maka contoh air dapat dibawa ke


Laboratorium Penyelidikan Bahan untuk mendapatkan pengujian
sebagaimana yang dipersyaratkan.

c. Jumlah air yang digunakan adukan beton dapat ditentukan dengan


ukuran berat dan harus dilakukan setepat-tepatnya.

4) Bahan Tambah
a. Bahan Tambah Mineral (Additive)
Jenis bahan tambah mineral (additive) yang ditambahkan pada
beton dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja kuat tekan beton dan lebih
bersifat penyemenan. Beton yang kekuarangan butiran halus dalam agregat
menjadi tidak kohesif dan mudah bleeding. Untuk mengatasi kondisi ini
biasanya ditambahkan bahan tambah additive yang berbentuk butiran
padat yang halus. Penambahan additive biasanya dilakukan pada beton
kurus, dimana betonnya kekurangan agregat halus dan beton dengan kadar
semen yang biasa tetapi perlu dipompa pada jarak yang jauh. Bahan
tambahan ini dapat digolongkan berdasarkan sifatnya seperti tertera pada
tabel dibawah ini :

Tipe
I

Tipe
II

Inert atau semi

Pozzolanik

inert

Hidrolik

Mineral filler

(limestone,dolomite dll)
Ground glass filler
Pigmen
Fly ash
Silica fume
Granulated blastfurnace slag

(GGBS)
Tabel 2.3 Bahan Pengisi (Filler) Berdasarkan Sifatnya
Sumber: Efnarc Association, The European Guideliness For Self Compacting
Concrete.

Silica fume merupakan serbuk halus yang terdiri dari amarphous


microsphere dengan diameter berkisar antara 0,1-1,0 micron meter,
berperan penting terhadap pengaruh sifat kimia dan mekanik beton.
Penggunaanya telah diatur dalam peraturan SNI 03-2495-1991 mengenai

"Bahan Tambahan Untuk Beton". Ditinjau dari sifat mekanik, secara


geometrikal silica fume mengisi rongga-rongga di antara bahan semen
(grain of cement), dan mengakibatkan pore size distribution (diameter
pori) mengecil serta total volume pori juga berkurang (Subakti, 1995:
269).
Berikut adalah tabel spesifikasi dari Silica Fume yang akan digunakan
dalam penelitian nantinya;
Oksida

Komposisi (% berat)
>88.9%

SiO 2
Alkalis like Na 2 O
Free CaO
Free SI
Free Cl%
SO3
L.O.I (incl. carbon)
Moisture
Specific surface
Size

<0.5%
<0.1%
0.14%
0.02%
<0.25%
<4.5%
<0.57%
~20m2/gr
~0.15microns

Tabel 2.2 Sifat fisis dan kandungan Sikafume dari SIKA GROUP.
Sumber : ( Sikafume.doc, Densified Silica Fume )

4) Bahan Tambah Kimia (Admixtures)


Menurut ASTM C.494, admixture dibedakan menjadi tujuh jenis, yaitu :
1) Tipe A : Water Reducing Admixture (WRA)
Bahan tambah yang berfungsi untuk mengurangi penggunaan air pengaduk
untuk

menghasilkan

beton

dengan

konsistensi

tertentu.

Dengan

menggunakan jenis bahan tambah ini akan dapat dicapai tiga hal, yaitu :

a. Hanya menambah/meningkatkan workability.

Dengan menambahkan WRA ke dalam beton maka dengan fas (kadar air
dan semen) yang sama akan didapatkan beton dengan nilai slump yang
lebih tinggi. Dengan slump yang lebih tinggi, maka beton segar akan lebih
mudah dituang, diaduk dan dipadatkan. Karena jumlah semen dan air tidak
dikurangi dan workability meningkat maka akan diperoleh kekuatan tekan
beton keras yang lebih besar dibandingkan beton tanpa WRA.
b. Menambah kekuatan tekan beton.
Dengan mengurangi/memperkecil fas (jumlah air dikurangi, jumlah semen
tetap) dan menambahkan WRA pada beton segar akan diperoleh beton
dengan kekuatan yang lebih tinggi. Dari beberapa hasil penelitian ternyata
dengan fas yang lebih rendah tetapi workability tinggi maka kuat tekan
beton meningkat.
c. Mengurangi biaya (ekonomis).
Dengan menambahkan WRA dan mengurangi jumlah semen serta air,
maka akan diperoleh beton yang memiliki workability sama dengan beton
tanpa WRA dan kekuatan tekannya juga sama dengan beton tanpa WRA.
Dengan demikian beton lebih ekonomis karena dengan kekuatan yang
sama dibutuhkan jumlah semen yang lebih sedikit.
2) Tipe B : Retarding Admixture
Bahan tambah yang berfungsi untuk memperlambat proses waktu
pengikatan beton. Biasanya digunakan pada saat kondisi cuaca panas,
memperpanjang waktu untuk pemadatan, pengangkutan dan pengecoran.

10

3) Tipe C : Accelerating Admixtures


Jenis bahan tambah yang berfungsi untuk mempercepat proses pengikatan
dan pengembangan kekuatan awal beton. Bahan ini digunakan untuk
memperpendek

waktu

pengikatan

semen

sehingga

mempecepat

pencapaian kekuatan beton. Yang termasuk jenis accelerator adalah :


kalsium klorida, bromide, karbonat dan silikat. Pda daerah-daerah yang
menyebabkan tinggi tidak dianjurkan menggunakan accelerator jenis
kalsium klorida. Dosis maksimum yang dapat ditambahkan pada beton
adalah sebesar 2 % dari berat semen.
4) Tipe D : Water Reducing and Retarding Admixture
Jenis bahan tambah yang berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi jumlah
air pengaduk yang diperlukan pada beton tetapi tetap memperoleh adukan
dengan konsistensi tertentu sekaligus memperlambat proses pengikatan
awal dan pengerasan beton. Dengan menambahkan bahan ini ke dalam
beton, maka jumlah semen dapat dikurangi sebanding dengan jumlah air
yang dikurangi. Bahan ini berbentuk cair sehingga dalam perencanaan
jumlah air pengaduk beton, maka berat admixture ini harus ditambahkan
sebagai berat air total pada beton.
5) Tipe E : Water Reducing and Accelerating Admixture
Jenis bahan tambah yang berfungsi ganda yaitu untuk mengurangi jumlah
air pengaduk yang diperlukan pada beton tetapi tetap memperoleh adukan
dengan konsistensi tertentu sekaligus mempercepat proses pengikatan awal

11

dan pengerasan beton. Beton yang ditambah dengan bahan tambah jenis
ini akan dihasilkan beton dengan waktu pengikatan yang cepat serta kadar
air yang rendah tetapi tetap workable. Dengan menggunakan bahan ini
diinginkan beton yang mempunyai kuat tekan tinggi dengan waktu
pengikatan yang lebih cepat (beton mempunyai kekuatan awal yang
tinggi).
6) Tipe F : Water Reducing, High Range Admixture
Jenis bahan tambah yang berfungsi untuk mengurangi jumlah air
pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi
tertentu, sebanyak 12 % atau lebih. Dengan menmbahkan bahan ini ke
dalam beton, diinginkan untuk mengurangi jumlah air pengaduk dalam
jumlah yang cukup tinggi sehingga diharapkan kekuatan beton yang
dihasilkan tinggi dengan jumlah air sedikit, tetapi tingkat kemudahan
pekerjaan (workability beton) juga lebih tinggi. Bahan tambah jenis ini
berupa superplasticizer. Yang termasuk jenis superplasticizer adalah :
kondensi sulfonat melamine formaldehyde dengan kandungan klorida
sebesar 0,005 %, sulfonat formaldehyde, modifikasi lignosulphonat tanpa
kandungan klorida. Jenis bahan ini dapat mengurangi jumlah air pada
campuran beton dan meningkatkan slump beton sampai 208 mm. Dosis
yang dianjurkan adalah 1% - 2% dari berat semen.

12

7) Tipe G : Water Reducing, High Range Retarding Admixtures


Jenis bahan tambah yang berfungsi untuk mengurangi jumlah air
pencampur yang diperlukan untuk menghasilkan beton dengan konsistensi
tertentu, sebanyak 12 % atau lebih sekaligus menghambat pengikatan dan
pengerasan beton. Bahan ini merupakan gabungan superplasticizer dengan
memperlambat waktu ikat beton. Digunakan apabila pekerjaan sempit
karena keterbatasan sumberdaya dan ruang kerja.
Self Compacting Concrete (SCC) memerlukan admixtures yang bersifat
mengurangi air dalam jumlah besar, High Range Reduce Water (HRWR)
dan mampu menghasilkan beton dengan tingkat Fluiditas yang tinggi
dengan tetap mempertahankan viscositas dan homogenitasnya. SikamentNN merupakan Superplasticizer yang diproduksi PT.Sika Group, yaitu
admixtures

yang

mampu

meningkatkan

workability

dikarenakan

kemampuannya untuk menghilangkan reaksi tegangan permukaan air, dan


mempengarui konsistensi tertentu higga mencapai 25% serta menciptakan
faktor air semen rendah untuk menghasilkan kekuatan awal beton yang
tinggi dalam waktu yang singkat.

3.

Self Compacting Concrete


Self Compacting Concrete adalah suatu beton yang ketika masih berbentuk

beton segar mampu mengalir melalui tulangan dan memenuhi seluruh ruang yang
ada didalam cetakan secara padat tanpa ada bantuan pemadatan manual atau
getaran mekanik. (Tjaronge et.al 2006 dan Hartono, et.al 2007).

13

Silica Fume yang bereaksi dengan pasta semen untuk membentuk kuat
tambahan Kalsium Silikat Minum (CSH) memberikan kekuatan yang lebih tinggi.
Silica Fume dapat meningkatkan ikatan pasta semen dengan agregat. Berkat
pozzolanic efek (reaksi dengan Ca (OH) 2), dapat meningkatkan kekuatan beton,
Silica Fume dapat digunakan untuk mengurangi jumlah semen pada campuran.
Selain itu dapat menghemat biaya, manfaat lain adalah mengurangi total panas
hidrasi dan dapat meningkatkan kinerja yang nyata dalam hal perlawanan
terhadap serangan kimia. Superplaticizer yang berfungsi untuk menghilangkan
tegangan permukaan air serta membantu meningkat konsentrasi semen hingga
pada tingkat tertentu. Berikut reaksi kimia yang terjadi dari pengaruh Self
Compacting Concrete;
a. Pengaruh hidarsi antara semen dan air
Mekanisme hidrasi silicate (C3S dan C2S)
2(3CaO.SiO2) + 6 H2O 3CaO.SiO2.3 H2O + 3Ca(OH)2
2(2CaO.SiO2) + 4 H2O 3CaO.SiO2.3 H2O + Ca(OH)2
b. Pengaruh hidarsi antara semen dan air + Silica Fume
Mekanisme hidrasi Aluminat (C3A)
3CaO.Al2O3+ CaSO4.2H2O + 10 H2O 3CaO.Al2O3.CaSO4+ 12 H2O
3CaO.Al2O3+ Ca(OH)2+ 12 H2O 3CaO.Al2O3.Ca(OH)2.12 H2O
c. Pengaruh hidarsi antara semen dan air + Silica Fume + Superplaticizer
Mekanisme hidrasi tetracalsium aluminoferrit (C4AF)
4CaO.Al2O3.Fe2O3+ 2Ca(OH)2+ 10H2O 64CaO.Al2O3.Fe2O3.12
H2O
Secara umum Self Compacting Concrete merupakan varian beton yang
memiliki tingkat derajat pengerjaan (workability) tinggi dan juga memiliki

14

kekuatan awal yang besar, sehingga membutuhkan faktor air semen yang rendah.
(Sugiharto et.al 2001 dan 2006).
Untuk mendapatkan campuran beton dengan tingkat workabilitas dan kekuatan
awal yang tinggi, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1) Agregat kasar dibatasi jumlahnya sampai kurang lebih 50% dari campuran
beton.
2) Pembatasan jumlah agregat halus kurang lebih 40% dari volume beton.
3) Penggunaan superplasticizer pada campuran beton untuk tingkat
workability yang tinggi sekaligus menekan factor air semen

untuk

mendapatkan kekuatan awal yang besar.


Konsep dasar yang diterapkan dalam pelaksanaan metode SCC ditunjukkan
pada skema berkut.

Pembatasan jumlah dan ukuran agregat

Workabiliy & Flowability

Self compactability

Batas Minimum Binder

Efek dari Superplasticizer


High Segregation Resistance
Pengurangan W/C

Keterangan :
: Saling mempengaruhi
: Kemampuan berdasarkan
: Berpengaruh pada
Gambar 1. Konsep Dasar Proses Produksi Self-Compacting Concrete (Dehn dkk, 2000)
Sumber : (Himawan, A., & Darma, D.S., Penelitian awal mengenai self compacting
concrete. 2000)

4.

Workability

15

Workability merupakan kemudahan dalam pengerjaan beton, Untuk


pengujian workability digunakan Slump cone. Pengujian dengan alat ini dilakukan
untuk mengatahui bagaimana kondisi slump flow dari beton tersebut. Metode
untuk pengujian dengan slump cone ini berbeda dengan pengujian slump pada
beton bertulang konvensional biasa. (Himawan,A., & Darma,D.S., Penelitian
Mengenai Awal Self Compacting Concrete ,2000).
Nilai Slump minimal untuk Self Compacting Concrete adalah >650 mm
atau >65 cm sebagai acuannya.
5.

Flowability
Flowability adalah kemampuan beton segar untuk melewati tulangan dan

mengisi Formwork dengan lebih cepat tanpa terjadi segregasi dan bleeding,untuk
pengujian flowability digunakan L-Shaped box. Alat ini berbentuk huruf L dan
terbuat dari kayu plywood ataupun dari Kaca. Pada alat ini, antara arah horizontal
dengan vertikal dipasang pintu penutup yang cara membukanya dengan menarik
kearah atas dan diberikan tulangan baja, saringan ini berfungsi untuk
mengkondisikan sesuai dengan keadaan dilapangan, dengan persentase tertahan
maksium <0,8%. (Himawan,A., & Darma,D.S., penelitian Awal Mengenai Self
Compacting Concrete ,2000).

16

6.

Mix Design

Mix Desain dalam penelitian ini memakai metode SNI 03-2834-2000 Tata
Cara Pembuatan campuran beton Normal dengan menambahkan syarat-syarat
beton self compacting dari The European Guidelines for SCC,2005.
dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Tahap 1 :

Diperlukan informasi material;

Tahap 2 :

Pemilihan slump;

Tahap 3 :

Ukuran agregat maksimum;

Tahap 4 :

Perhatikan tabel kandungan udara;

Tahap 5 :

Perhatikan tabel faktor air semen pada umur 28 hari;

Tahap 6 :

Perhitungan kebutuhan semen, didasarkan pada hasil tahap 4 dan 5


adalah 165/0,4 = 413 kg/m3 ( 280/0,4 = 700 lb/yd2);

Tahap 7 :

Perhatikan tabel volume dari agregat kasar per unit volume beton;

Tahap 8 :

Mencari kebutuhan agregat halus dengan menggunakan metode


berat;

Tahap 9 :

Penyesuaian kelembapan pada agregat karena agregat tidak pasti


SSD atau OD (Open Dry) di lapangan, maka hal ini perlu
penyesuaian berat agregat karena sejumlah kandungan air didalam
agregat (catatan: bahwa agregat yang sangat kering akan menyerap
air dari campuran yang telah ditentukan) hanya air permukaan
perlu dipcrhatikan, sedang air serapan pada agregat bukan menjadi
air cumpuran sebab telah tercakup pada kelembapan penyesuaian
berat pada agregat;

17

Tahap 10 :

Percobaan suatu campuran yaitu mempergunakan dalam bentuk


hitungan. Jika beberapa dari mutu beton yang diinginkannya tidak
tercapai, maka beton harus disesuaikan seperti petunjuk di atas.
Apabila penyesuaian tampaknya terlalu besar yang ditunjukkan
mungkin hal ini lebih untuk mendesain kembali campuran
keseluruhannya, diharapkan mengubah materialnya.

7.

Pengujian Kuat Tekan


Setelah menyelesaikan tahap curing maka beton harus di uji kekuatanya

yang dapat dilakukan dengan rumus :


P
A .....................................................................................................

(2.1)

1
2
A= . d ..............................................................................................
4

(2.2)

f c=

Ket.
f c = Kuat Tekan

A = Luas
P = Beban

8.

Analisis Data
Evalusi statistik dimaksudkan untuk melihat hasil pengujian data melalui

survei sampel ataupun pengujian langsung di laboratorium dengan pendekatan


atau kaidah-kaidah statistik. Pengujian statistik umumnya memerlukan deskripsi

18

numerik yang tepat. Landasan dasar statistik deskriptif adalah kecendrungan atau
lokasi pusat dan ukuran-ukuran simpangan data. (Tri Mulyono. Teknologi Beton.
2007)
Analisis data dilakukan dengan menggunakan rumus :
f cn
f cr=
n ...................................................................................................
Ket.

f cr
n

fc
n

= Kuat tekan rata-rata


= Total kuat tekan sampel

= Jumlah sampel

(2.3)

C.
1.
a)

METODOLOGI PENELITIAN
Material dan Peralatan
Material
Material yang dipergunakan dalam penelitian ini terdiri dari :
1) Semen Portland yang akan digunakan adalah semen Tipe I yang
merupakan semen tanpa kemampuan khusus yang mengacu pada
standar ASTM C150-83a. Semen yang digunakan dalam penelitian ini
adalah semen Padang (dapat berubah, tergantung ketersediaan bahan
atau kenaikan harga) dengan mengacu pada standar ASTM C150-83a.
2) Agregat kasar yang akan digunakan adalah Crushed stone.
Ukuran nominal agregat maksimum 15 mm (1/2 inch). Agregat kasar
yang digunakan berasal dari tempat Stone Cruser milik PT.Krueng Meuh
Kab.Aceh Utara.
3) Agregat halus yang akan digunakan berasal dari Krueng Ara kundo,
Kec. Simpang Ulim, Kab. Aceh Timur.
4) Air yang akan digunakan adalah Air yang disediakan Lab.Bahan
Fakultas Teknik Sipil Politeknik Negeri Lhokseumawe mengacu pada
Standar Nasional Indonesia (SNI) 04-1989-F tentang Spesifikasi Air
Pada Campuran Beton.
5) Superplasticizer yang akan digunakan adalah jenis Sikament-NN
dari PT.SIKA Indonesia.
6) Silica fume yang akan digunakan adalah Sika Fume dari PT.SIKA
Indonesia.

19

20

b)

Peralatan
Peralatan

penelitian

yang

mungkin

akan

di

perlukan

untuk

melaksanakan berbagai pengujian dalam penelitian nantinya terdiri dari :


1. Timbangan analitis 25 kg dengan skala 100 gram.
Digunakan unuk menimbang berat material benda uji dan berat
sampel beton.
2. Oven yang suhunya dapat diatur sampai (110 5)0 c
Digunakan mengeringkan agregat kasar dan

agregat

halus

untuk mengetahui berat kering oven material.


3. Gelas ukur 1000cc
Digunakan untuk melakukan pengujian kadar lumpur agregat kasar
dan agregat halus.
4. Takaran berbentuk silinder dengan volume 5 liter.
Digunakan untuk melakukan pengujian berat volume agregat kasar
dan agregat halus.
5. Satu set ayakan dengan ukurun lubang yang diatur ASTM C 33-03.
Digunakan untuk pengujian gradasi agregat halus dan agregat
kasar.
6. Alat penggetar ayakan.
Digunakan untuk menggetarkan ayakan pada pengujian gradasi
Agregat.
7. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram.
Digunakan untuk menimbang berat material benda uji.
8. Piknometer atau labu ukur dengan kapasitas 500 ml.
Digunakan untuk pengujian berat jenis dan penyerapan air pada
agregat halus.
9. Kerucut terpancung (cone)
Digunakan untuk mengetahui keadaan jenuh permukaan (SSD)
pada pengujian berat jenis dan penyerapan air pada agregat halus.
10. Thermometer.
Untuk mengukur suhu pada pengujian berat jenis dan penyerapan air
pada agregat halus.
11. Penggaris alat ukur panjang
Digunakan untuk mengukur tinggi nilai slump.

21

12. Mesin aduk beton


Digunakan untuk mengaduk bahan penyusun beton dalam trial mix
beton.
13. Kerucut Alir (Slump Cone)
Digunakan dalam pengujian beton segar SCC yang dipakai
dalam pengujian filling ability.
14. Cetakan beton silinder 15x30 cm
Digunakan untuk membuat sampel benda uji.
15. Mesin kuat tekan
Digunakan untuk pengujian kuat tekan sampel benda uji.

22

2.

Metode Penelitian
Penelitian ini tentang beton SCC yang menggunakan bahan tambah

kimia superplasticizer tipe Sikament-NN dan addtive berupa silica


fume dengan panduan job mix dari Mix Desain SNI 03-2834-2000 Tata
Cara Pembuatan campuran beton Normal dengan menambahkan syarat-syarat
beton self compacting dari The European Guidelines for SCC,2005.
Penambahan admixture superplasticizer sebesar 1,1% sebagai variabel
bebas terhadap berat semennya dan penambahan silica fume 1,9%, 2% dan
2,1% sesuai variasi yang ditentukan terhadap berat semen. Pengujian pada
beton membandingkan hasil pengujian antara beton tanpa menggunakan
silica fume sebagai sampel kontrol dengan beton yang ditambah silica
fume sebagai sampel eksperimen. Berikut tabel matriks uraian pembuatan benda
uji menggunakan tabung silinder:

N
o
1
2
3
4

Variasi Beton

Total Sampel
Benda Uji

Jumlah Sampel (unit)


3 hari

SCC + SF 0 %
5
SCC + SF 1,9%
5
SCC + SF 2,0%
5
SCC + SF 2,1%
5
Jumlah Total

7 hari

14 hari

28 hari

5
5
5
5

5
5
5
5

5
5
5
5

Tabel 3.1 Matriks Pembuatan Benda Uji

20
20
20
20
80

23

3.

Metode Analisis Data


Perhitungan dan evaluasi hasil penelitian nantinya akan dilakukan dengan

menggunakan metode statistik dengan mengumpulkan data-data konkrit.


Evalusi statistik dimaksudkan untuk melihat hasil pengujian data melalui
survei sampel ataupun pengujian langsung di laboratorium dengan pendekatan
atau kaidah-kaidah statistik. Pengujian statistik umumnya memerlukan deskripsi
numerik yang tepat. Landasan dasar statistik deskriptif adalah kecendrungan atau
lokasi pusat dan ukuran-ukuran simpangan data. (Tri Mulyono.Teknologi
Beton.2007)

D.

LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN

1.

Lokasi penelitian
Lokasi penelitian direncanakan di Laboratorium Bahan dan Konstruksi

Fakultas Teknik Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Lhokseumawe, Jalan


Banda Aceh - Medan, Km. 280, Bukitrata, Lhokseumawe.
2.
Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan untuk penelitian ini direncankan dimulai tanggal 21
Maret 2016 s.d. sebelum akhir semester. Dengan scedul rencana pelaksanaan yang
dilampirkan bagian belakang.

24

DAFTAR PUSTAKA

---------. 2012. Densifiled Silica Fume. Katalog Produk, Surabaya;Sika Group.


Ardiansyah,
Rony.
Apakah
Silica
Fume Itu?
.https://ronymedia.wordpress.com
/2010/05/
26/apakah-silica-fumeitu.html
EFNARC et.al. May 2005. The European Guidelines for Self-Compacting
Concrete, Jurnal Konstruksi, European Constuction.
Himawan,A., & Darma, D.S., 2000. Penelitian Awal Mengenai Self Compacting
Concrete. Bandung;Ilmu.
Irawan, Ilfan. 2014. Pengaruh Silica Fume Terhadap Beton Mutu Tinggi Self
Compacting Concrete. Laporan Tugas Akhir, Universitas Pendidikan
Indonesia. http://repository. upi.edu.html
Kartini, Wahyu. 2012. Penggunaan Fly Ash Pada Self-Compating Concrete
(SCC). Jurnal Konstruksi, Jawa timur; UPN Jurusan Teknik Sipil.
Mulyono, Tri. 2003. Teknologi Beton. Cetakan Kedua, Yogyakarta;
ANDI.
Purnama, Insan. "Penulisan Singkatan". 22 September 2010.
http://insanpurnama.blogspot
.co.id/2010/09/penulisansingkatan.html.
Standar Nasional Indonesia, Cara Uji Slump Beton (SNI-1972-2008)
Standar Nasional Indonesia, Spesifikasi Air Yang Diguanakan Dalam Campuran
Beton (ASTM C1602-06, IDT)
Standar Nasional Indonesia, Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton
Normal (SNI 03-2834-2000)
Tjaronge,et.al. 2006. Pengenalan Self Compacting Concrete. Jurnal Konstruksi.
Bandung; Assoiation Civil Construction

25

Widodo, Slamet et.al. 2007. Pemanfaatan Limbah Abu Batu Sebagai Bahan
Pengisi Dalam Produksi Self-Compacting Concrete. Jurnal Konstruksi,
Yogyakarta; Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.

26