Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN KUNJUNGAN PERUSAHAAN

ASPEK ERGONOMI DAN KESEHATAN KERJA


PT MARTINA BERTO TBK
Disusun untuk memenuhi salah satu syarat
Pelatihan HIPERKES dan Keselamatan Kerja

Disusun Oleh Kelompok 2:

Dr. Anay Tullah

Dr. Lucky Pratama

Dr. Arina Rizki Mujahid

Dr. Mauliadanti Rizdana

Dr. Binsardo P. Nababan

Dr. Mochammad Adam Eldi

Dr. Dyana Pastria Utami

Dr. Muhammad Dwi Rosid Setiawan

Dr. Fany Azhar Asistanti

Dr. Muhammad Ichsan

Dr. Irene Ratna Sari

Dr. Ricky Dosan

Dr. Jelita Tri Lestari

Dr. Vivi Anggelia

Dr. Jessica Stephanie


Dr. Ketut Bagus Deddy M. W.

PELATIHAN HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


PERIODE 25-30 JULI 2016
JAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang Masalah


Menghadapi

era

globalisasi,

ketenagakerjaan

semakin

diharapkan

kontribusinya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang akan


tercermin dengan meningkatnya profesionalisme, kemandirian, etos kerja, dan
produktivitas kerja. Untuk mendukung semua itu, diperlukan tenaga kerja dan
lingkungan kerja yang sehat, selamat, nyaman, dan menjamin peningkatan
produktivitas kerja. Setiap karyawan yang bekerja sangat membutuhkan perhatian,
salah satu contohnya adalah perhatian tentang kesehatan dan keselamatan kerja
karyawan

dalam

bekerja

agar

karyawan

dapat

terjamin

kesehatan

dan

keselamatannya pada saat bekerja, karena dengan terjaminnya rasa aman tersebut
maka karyawan dapat bekerja lebih baik sehingga produktivitas kerja dari karyawan
dapat meningkat.
Definisi kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah segala kegiatan untuk
menjamin dan melindungi keselamatan dan kesehatan tenaga kerja melalui upaya
pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK). Sedangkan
kecelakaan memiliki arti semua kejadian yang tidak direncanakan, tidak diinginkan,
menghentikan proses, dan menimbulkan cedera. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
kecelakaan kerja adalah segala kejadian di tempat kerja yang tidak direncanakan dan
diinginkan yang menimbulkan cedera terhadap tenaga kerja.
Pengembangan dan peningkatan K3 di sektor kesehatan perlu dilakukan
dalam rangka menekan serendah mungkin resiko kecelakaan dan penyakit yang
timbul akibat hubungan kerja untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja.
Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara
umum diperkirakan termasuk rendah. Kondisi tersebut mencerminkan kesiapan
daya

saing

perusahaan

Indonesia

di

dunia

internasional

masih

sangat

rendah. Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami


ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah).
Kondisi yang optimal untuk tenaga kerja tersebut diantaranya adalah
mengurangi

beban

kerja,

memperbaiki

sikap

kerja,

menyediakan

sarana
2

psikosensoral pada pemakaian instrumen, mencegah informasi yang tidak


diperlukan, dan menempatkan pekerja pada pekerjaan yang sesuai. Semua upaya
menciptakan kondisi optimal tersebut merupakan penerapan dari aspek ergonomi
dan kesehatan kerja.
I.2

Dasar Hukum
Dengan alasan untuk melindungi para tenaga kerja dan pengembangan usaha

demi tercapainya nihil kecelakaan dan penyakit akibat kerja maka ada beberapa
landasan yang digunakan oleh perusahaan, sebagai berikut :
A. UU No.I tahun 1970 tentang kesehatan dan keselamatan
kerja
B. UU No 13 tahun 2003 pasal 86 dan 87 tentang
ketenagakerjaan
C. UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan
D. UU No. 21 tahun 2003 tentang Pengesahan

ILO

Convention No. 81 concerning Labour Inspection in


Industry and Commerce
E. UU No 3 tahun 1992 tentang jaminan sosial tenaga kerja
F. UU No. 32 tahun 2004, Jo. PP No. 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan

Pemerintah

Dan

Kewenangan

Sebagai Daerah Otonom.


G. Permenakertrans No.03/Men/1982

tentang

Propinsi

pelayanan

kesehatan kerja
H. Kepres RI No.22 tahun 1993 tentang penyakit yang
disebabkan oleh pekerjaan atau lingkungan kerja
I. Kepmenakertrans No.68 tahun 2004 tentang pencegahan
dan penanggulangan HIV/AIDS di tempat kerja
J. Kepmenakertrans RI No. PER-15/MEN/VIII/2008 Tentang
P3K di tempat Kerja
K. Permenakertrans

No.11/Men/VI/2005

tentang

pencegahan penyalahgunaan narkoba, psikotropika dan


zat adiktif lainnya di tempat kerja
L. Permenakertrans No.01/Men/1976

tentang

kewajiban

pelatihan hiperkes bagi dokter perusahaan


M. Permenakertrans No.01/Men/1979 tentang

kewajiban

pelatihan hiperkes bagi paramedic perusahaan

N. Permenakertrans No.Per 03/Men/1983 tentang pelayanan


kesehatan kerja.
O. SE.Menakertrans No.SE.01/Men/1979 tentang pengadaan
kantin dan ruang makan
P. SE.Dirjen
binawas

No.SE.86/BW/1989

tentang

perusahaan catering yang mengelola makanan bagi


tenaga kerja

I.3

Profil Perusahaan

I.3.1

Sejarah dan Perkembangan Perusahaan


Martha

Tilaar

Group

merupakan

sebuah

perusahaan

kosmetika terkemuka yang memproduksi dan menyediakan produk


dan pelayanan kecantikan yang inovatif dan berkualitas tinggi.
Dengan produk-produk sub-brand berskala luas yang berada di
bawah

payung

Martha

Tilaar,

perusahaan

ini

menawarkan

rangkaian produk kecantikan yang dapat menjadi pilihan terbaik


setiap wanita dari segala kelompok usia dan penghasilan. Selain
menciptakan

produk-produk

perawatan

kecantikan

yang

memanfaatkan bahan-bahan herbal tradisional Indonesia dan


ekstrak

tanaman

alami

lainnya,

Martha

Tilaar

Group

juga

memproduksi produk-produk perawatan wajah, perawatan tubuh,


make up dekoratif, dan produk-produk perawatan rambut untuk
wanita modern.
Berawal dari sebuah langkah sederhana di awal tahun 1970,
perusahaan ini telah tumbuh dan terus berkembang menjadi
sebuah perusahaan kelas dunia yang terintegrasi dengan baik,
dengan omset tahunan sekitar Rp600 miliyar (US$75 miliyar) dan
telah mengekspor produk-produknya ke banyak negara di dunia.
Beberapa brand Martha Tilaar Group pun berhasil mendapatkan
penghargaan bergengsi dan secara konsisten berhasil meraih
peringkat tertinggi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat
terhadap

eksistensi

brand.

Hal

ini

sekaligus

menunjukkan

kesungguhan Martha Tilaar Group dalam menciptakan produkproduk kecantikan berkualitas, khususnya bagi para wanita Timur.
Martha Tilaar Group menjadi pemimpin kosmetika warna
(dekoratif dan make up dasar) dengan 10-18% kepemilikan saham,
dan menguasai sekitar 11% pasar produk perawatan wajah.
Cakupan produk-produk Martha Tilaar Group terdiri atas produkproduk kosmetik dan perawatan diri (produk dekoratif, make up
dasar,

perawatan

wajah,

perawatan

tubuh,

dan

perawatan

rambut), jamu, dan spa. Produk utama Martha Tilaar Group antara
lain: Sariayu, yang merupakan produk kecantikan yang telah ada di
pasar Indonesia sejak lama dan telah memiliki konter terbanyak
(produk dekoratif, make up dasar, perawatan wajah, perawatan
tubuh, perawatan rambut, dan jamu), Biokos (produk perawatan
wajah anti aging), Caring Colours (produk dekoratif, make up
dasar), Belia (splash cologne untuk remaja), Berto Tea, Dewi Sri
Spa (produk spa holistik), Professional Artist Makeup (PAC) (produk
dekoratif dan make up dasar), Jamu Garden (produk jamu,
perawatan wajah, perawatan tubuh, dan kesehatan), Mirabella
(produk dekoratif), dan Rudy Hadisuwarno Cosmetics (produk
perawatan rambut) yang berada di bawah lisensi Organisasi Rudy
Hadisuwarno.
Selain itu, Eastern Garden Spa, Martha Tilaar Salon and Day
Spa, dan Dewi Sri Spa adalah beberapa produk pelayanan Martha
Tilaar

Group

yang

merupakan

rantai

waralaba

perawatan

kecantikan dan spa dengan konsep tradisional Indonesia yaitu


Rupasampat Wahyabiantara, yang mendapat pengaruh dari ritual
kecantikan dan kesehatan kuno bangsa China dan India. Melalui
pendekatan ini, Martha Tilaar Group berupaya mengarahkan tren
dunia kecantikan menuju kecantikan berbasis alam (back to
nature) dan kebudayaan Timur. Martha Tilaar Group juga memiliki
pusat pelatihan kecantikan profesional, yaitu Puspita Martha

Beauty School, Bali Sari Spa Training Center, dan Cipta Busana
Martha yang memasarkan pakaian tradisional Indonesia.

I.3.2

Visi
Untuk menjadi salah satu perusahaan terkemuka dunia dalam perawatan
kecantikan dan industri spa dengan nuansa alam dan nilai timur, melalui
teknologi modern, penelitian dan pengembangan untuk mengoptimalkan
nilai tambah kepada konsumen dan stakeholder lainnya.

I.3.3

Misi
1. Untuk mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan produk-produk
perawatan kecantikan dan spa dengan nuansa alam & timur dan standar
kualitas internasional untuk memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai

segmen pasar dengan portofolio yang sehat mampu mencapai peringkat


tiga besar di setiap segmen di Indonesia.
2. Untuk menyediakan layanan pelanggan yang sangat baik untuk semua
pelanggan dalam proporsi seimbang, termasuk pelanggan konsumen dan
perdagangan.
3. Untuk menjaga kondisi keuangan yang sehat dan pertumbuhan yang
berkelanjutan.
4. Untuk merekrut, melatih, dan mempertahankan tenaga kerja yang
kompeten dan produktif sebagai bagian dari aktiva Perusahaan.
5. Untuk mempertahankan metode yang efisien dan efektif operasi, sistem,
dan teknologi di seluruh organisasi dan unit bisnis.
6. Untuk menerapkan Good Corporate Governance secara konsisten untuk
kepentingan semua stakeholder.
7. Untuk memberikan return atas investasi yang adil untuk pemegang
saham.
8. Untuk memperluas pasar internasional pada kosmetik dan produk herbal
dengan fokus jangka menengah pada kawasan Asia Pasifik dan fokus
jangka panjang di pasar global dengan produk yang dipilih dan merek.
Saat ini PT. Martina Berto Tbk. merupakan perusahaan kosmetik yang menguasai
pangsa pasar 95% di Indonesia dan 4-5% pangsa pasar luar negeri.
I.3.4 Nilai Utama
1. DISIPLIN, yaitu patuh terhadap peraturan dan standard kerja perusahaan;
2. JUJUR, yaitu tidak berbohong dalam menyampaikan informasi untuk
kepentingan perusahaan sesuai dengan fakta, dan tidak menyalahgunakan
wewenang/ jabatan/ pekerjaan dalam mengelola hak milik perusahaan
untuk kepentingan pribadi;
3. INOVATIF, yaitu proaktif untuk menciptakan/ mengembangkan dan
melakukan perbaikan yang berkesinambungan pada proses dan hasil
kerja;
4. TEKUN, yaitu bekerja dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh untuk
menyelesaikan pekerjaan secara tuntas;
5. ULET, yaitu bekerja keras dan pantang menyerah dalam menghadapi
tantangan pekerjaan.
I.3.5

Kegiatan Usaha
Kegiatan usaha utama Perseroan, yaitu:
1) Memproduksi barang-barang kosmetika dan obat tradisional (jamu);

2) Pemasaran dan perdagangan barang-barang kosmetika, perawatan


kecantikan dan obat tradisional.
Kegiatan usaha penunjang (dilakukan oleh anak perusahaan), yaitu:
1) PT. Cedefindo, yaitu jasa produksi atau makloon dalam produk
kosmetika kering, semi padat, cair dan aerosol, termasuk jasa
formulasi, registrasi, pengadaan bahan baku/kemas, proses produksi,
pengemasan sampai logistik secara one stop service bagi internal
Martha Tilaar Group maupun ekstenal dari perusahaan-perusahaan
lainnya. Cedefindo berdomisili di Bekasi dan berkedudukan di Graha
Cedefindo, Jl, Raya Narogong km.4, Bekasi Timur 17116.
2) Eastern Beautypelago Pte Limited (EB), yaitu anak perusahaan
yang

berkedudukan

di

Singapore

yang

dibentuk

untuk

mengembangkan pasar ekspor Perseroan, serta mengelola dan


mengembangkan Martha Tilaar Shop (MTS), yaitu unit retail milik
Perseroan di luar negeri. EB berdomisili di Singapore dan beralamat
di 1 RafflesPlace #44-02, Singapore 048616.
I.3.6

Hasil Usaha
1. Segment A Plus
Dewi Sri Spa Martha Tilaar, PAC Martha Tilaar, Martha Tilaar
Solutions, Jamu Garden Martha Tilaar.
2. Segment A
Biokos Martha Tilaar, Rudi Hadisuwarno Martha Tilaar.
3. Segment B
Sariayu Tilaar Martha, Martha Tilaar Caring Colours, Belia Martha
Tilaar.
4. Segment C
Mirabella, Cempaka,Pesona, Martina. Currently, Pesona Martina.

I.3.7

Jenis Produksi Kosmetik


Perseroan dan anak perusahaan memiliki fasilitas produksi yang
terbagi ke dalam empat kategori, yaitu:
1) Kosmetika cair, termasuk di dalamnya cairan pembersih muka,

pelembab, toner, alas bedak, body splash cologne, hair spray, dan
produk cair lainnya;
2) Kosmetika kering, termasuk di dalamnya eye shadow, blush on, loose
powder dan compact powder dan produk kering lainnya;

3) Kosmetika semi padat, termasuk didalamnya lipstik, creamy

foundation, dan lain-lain;


4) Obat Tradisional, termasuk di dalamnya masker, mangir, lulur, dan
teh herbal.
Selain pembagian kategori produk berdasarkan proses produksi,
Perseroan membagi produk-produk yang dimilikinya berdasarkan kategori
produk, yaitu: colour cosmetic, skin care, body care, hair care, jamu (obat
tradisional), dan lain-lain. Brand produk PT. Martina Berto Tbk antara lain:
1) PAC (Professional Artist Cosmetics) Martha Tilaar
2) Dewi Sri Spa Martha Tilaar
3) Sariayu Martha Tilaar
4) Caring Colours Martha Tilaar
5) Belia Martha Tilaar
6) Rudy Hadisuwarno Cosmetics
7) Biokos Martha Tilaar
8) Mirabella
9) Cempaka
10) Solusi
I.3.8

Jumlah Tenaga Kerja


Jumlah tenaga pekerja saat ini diestimasi sebanyak 1600 orang.
Jam kerja pegawai dibagi menjadi 2 shift:
o Shift I 07.30 14.30
o Shift II 15.30 22.00.

I.3.9

Jaminan Asuransi Kesehatan


Karyawan tetap : BPJS Kesehatan
Karyawan kontrak : BPJS Kesehatan.
Rumah sakit rujukan PT. Martindo adalah Rumah Sakit Jayakarta dan RS
Antam bila terjadi kecelakaan kerja yang tidak dapat ditangani di klinik
perusahaan

I.3.10 P2K3 di PT. Martina Berto Tbk.


Implementasi P2K3:
1) No accidents/ tidak ada kecelakaan
2) No harm to people/ tidak ada yang membahayakan orang
3) No damage to the environment/ tidak ada kerusakan lingkungan
I.3.11 Alur Produksi

10

I.4 Landasan Teori


I.4.1

ERGONOMI
Ergonomi menurut Badan Buruh Internasional (ILO=International Labor

Organization) adalah penerapan ilmu biologi manusia sejalan dengan ilmu rekayasa
untuk mencapai penyesuaian bersama antara pekerjaan dan manusia secara optimum
agar bermanfaat demi efisiensi dan kesejahteraan.

Pada prosesnya dibutuhkan

kerjasama antara lingkungan kerja ( ahli hiperkes), manusia (dokter dan paramedik)
serta mesin perusahaan (ahli tehnik). Kerjasama ini disebut segitiga ergonomi.
Tujuan dari ergonomi adalah efisiensi dan kesejahteraan yang berkaitan erat
dengan produktivitas dan kepuasan kerja. Adapun sasaran dari ergonomi adalah
seluruh tenaga kerja baik sektor formal, informal dan tradisional. Pendekatan
ergonomi mengacu pada konsep total manusia, mesin dan lingkungan yang
bertujuan agar pekerjaan dalam industri dapat berjalan secara efisien, selamat dan
nyaman. Dengan demikian dalam penerapannya harus memperhatikan beberapa hal
yaitu: tempat kerja, posisi kerja, proses kerja.
Adapun tujuan penerapan ergonomi adalah sebagai berikut:
1) Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, dengan meniadakan beban
kerja tambahan (fisik dan mental), mencegah penyakit akibat kerja, dan
meningkatkan kepuasan kerja.
2) Meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas
kerjasama sesama pekerja, pengorganisasian yang lebih baik dan
Menghidupkan sistem kebersamaan dalam tempat kerja.
3) Berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek-aspek teknik,
ekonomi, antropologi dan budaya dari sistem manusia-mesin untuk tujuan
meningkatkan efisiensi sistem manusia-mesin.
Adapun manfaat pelaksanaan ergonomi adalah menurunnya angka kesakitan
akibat kerja, menurunnya kecelakaan kerja, biaya pengobatan dan kompensasi
berkurang,

stress akibat kerja berkurang, produktivitas membaik, alur kerja

bertambah baik, rasa aman karena bebas dari gangguan cedera, kepuasan kerja
meningkat.

11

Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya, antara lain meliputi :


1. Teknik
2. Fisik
3. Pengalaman psikis
4. Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan kekuatan dan
gerakan otot dan persendian
5. Anthropometri
6. Sosiologi
7. Fisiologi, terutama berhubungan dengan temperatur tubuh,
Oxygen up take dan aktivitas otot.
8. Desain, dll.
Aplikasi/penerapan Ergonomik pada tenaga kerja:
1. Posisi Kerja
Terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri, posisi duduk dimana kaki
tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja. Sedangkan
posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu
secara seimbang pada dua kaki.
2. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi
waktu bekerja dan sesuai dengan ukuran anthropometrinya. Harus dibedakan
ukuran anthropometri barat dan timur.
3. Tata Letak Tempat Kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja.
Sedangkan simbol yang berlaku secara internasional lebih banyak digunakan
daripada

kata-kata.

4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala,
bahu, tangan, punggung, dll. Beban yang terlalu berat dapat menimbulkan cedera
tulang punggung, jaringan otot dan persendian akibat gerakan yang berlebihan.

12

Semua pekerja secara kontinyu harus mendapat supervisi medis teratur.


Supervisi medis yang biasanya dilakukan terhadap pekerja antara lain :
1. Pemeriksaan sebelum bekerja bertujuan untuk menyesuaikan dengan beban
kerjanya.
2. Pemeriksaan berkala bertujuan untuk memastikan pekerja sesuai dengan
pekerjaannya danmendeteksibila ada kelainan.
3. Nasehat harus diberikan tentang hygiene dan kesehatan, khususnya pada
wanita muda danyang sudah berumur.
I.4.2

KESEHATAN KERJA
Kesehatan kerja adalah upaya penyeserasian antara kapasitas kerja, beban

kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa
membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh
produktivitas kerja yang optimal (UU Kesehatan 1992 Pasal 23).Kesehatan kerja
bertujuan untuk memperoleh derajat kesehatan yang setinggi tingginya, baik fisik,
mental dan sosial bagi masyarakat pekerja dan masyarakat yang berada di
lingkungan perusahaan.Aplikasi kesehatan kerja berupa upaya promotif, preventif,
kuratif, rehabilitatif.
Promosi kesehatan merupakan ilmu pengetahuan dan seni yang membantu
seseorang untuk mengubah gaya hidup menuju kesehatan yang optimal, yaitu
terjadinya keseimbangan kesehatan fisik, emosi, spiritual dan intelektual. Tujuan
promosi kesehatan di tempat kerja adalah terciptanya perilaku dan lingkungan kerja
sehat juga produktivitas yang tinggi. Tujuan dari promosi kesehatan adalah:

Mengembangkan perilaku kerja sehat

Menumbuhkan lingkungan kerja sehat

Menurunkan angka absensi sakit

Meningkatkan produktivitas kerja

Menurunnya biaya kesehatan

Meningkatnya semangat kerja

13

Upaya preventif dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit akibat kerja


yang disebabkan oleh alat/ mesin dan masyarakat yang berada di sekitar lingkungan
kerja ataupun penyakit menular umumnya yang bisa terjangkit pada saat melakukan
pekerjaan yang diakibatkan oleh pekerja. Upaya preventif diperlukan untuk
menunjang kesehatan optimal pekerja agar didapat kepuasan antara pihak pekerja
dan perusahaan sehingga menimbulkan keuntungan bagi kedua belah pihak.Aplikasi
upaya preventif diantaranya pemakaian alat pelindung diri dan pemberian gizi
makanan bagi pekerja.
Gizi kerja adalah gizi /nutrisi yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk
memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaan dan beban kerja tambahan. Gizi
kerja menjadi masalah disebabkan beberapa hal yaitu rendahnya kebiasaan makan
pagi, kurangnya perhatian pengusaha, kurangnya pengetahuan tenaga kerja tentang
gizi, tidak mendapat uang makan, serta jumlah, kapan dan apa dimakan tidak
diketahui. Efek dari gizi kerja yang kurang bagi pekerja adalah :

Pekerja tidak bekerja dengan maksimal

Pertahanan tubuh terhadap penyakit berkurang

Kemampuan fisik pekerja yang berkurang

Berat badan pekerja yang berkurang atau berlebihan

Reaksi pekerja yang lamban dan apatis,

Pekerja tidak teliti

Efisiensi dan produktifitas kerja berkurang

Jenis pekerjaan dan gizi yang tidak sesuai akan menyebabkan timbulnya
berbagai penyakit seperti obesitas, penyakit jantung koroner, stroke, penyakit
degenerative, arteriosklerotik, hipertensi, kurang gizi dan mudah terserang infeksi
akut seperti gangguan saluran nafas. Ketersediaan

makanan bergizi dan peran

perusahaan untuk memberikan informasi gizi makanan atau pelaksanaan pemberian


gizi kerja yang optimal akan meningkatkan kesehatan dan produktivitas yang
setinggi tingginya.
Upaya kuratif merupakan langkah pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
bagi pekerja.Upaya penatalaksanaan penyakit yang timbul pada saat bekerja
merupakan langkah untuk meningkatkan kepuasan pekerja dalam bekerja, sekaligus
memberi motivasi untuk pekerja supaya memiliki kesehatan yang optimal.Penyakit
14

yang sering timbul dalam suatu lokasi pekerjaan dapat menjadi tolak ukur dalam
mengambil langkah promosi dan pencegahan, sehingga tujuan pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan kerja optimal dilaksanakan.
1.4.3. P3K
1.4.3.1. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) adalah upaya pertolongan dan
perawatan sementara terhadap korban kecelakaan sebelum mendapat pertolongan
yang lebih sempurna dari dokter atau paramedik. Ini berarti pertolongan tersebut
bukan sebagai pengobatan atau penanganan yang sempurna, tetapi hanyalah berupa
pertolongan sementara yang dilakukan oleh petugas P3K (petugas medik atau orang
awam) yang pertama kali melihat korban. Pemberian pertolongan harus secara cepat
dan tepat dengan menggunakan sarana dan prasarana yang ada di tempat kejadian.
Tindakan P3K yang dilakukan dengan benar akan mengurangi cacat atau
penderitaan dan bahkan menyelamatkan korban dari kematian, tetapi bila tindakan
P3K dilakukan tidak baik malah bisa memperburuk akibat kecelakaan bahkan
menimbulkan kematian.
Pertolongan pertama pada kecelakaan sifatnya semantara. Artinya kita harus
tetap membawa korban ke dokter atau rumah sakit terdekat untuk pertolongan lebih
lanjut dan memastikan korban mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan.
1.4.3.2. Pelaksanaan P3K
Sebelum melaksanakan Tindakan P3K maka perlu dilakukan tahapan awal
sebelum P3K yaitu:
1. Penolong mengamankan diri sendiri ( memastikan penolong telah aman dari
bahaya)
2. Amankan Korban ( evakuasi atau pindahkan korban ketempat yang lebih
aman dan
3. nyaman.
4. Tandai tempat Kejadian jika diperlukan untuk mencegah adanya korban
baru.
5. Usahakan Menghubungi Tim Medis
6. Tindakan P3K

15

1.4.3.3. Teknik Dalam P3K


A. Prioritas dalam P3K
Urutan tindakan secara umum:
1. Cari keterangan penyebab kecelakaan
2. Amankan korban dari tempat berbahaya
3. Perhatikan keadaan umum korban; gangguan pernapasan, pendarahan dan
kesadaran.
4. Segera lakukan pertolongan lebih lanjut dengan sarana yang tersedia.
5. Apabila korban sadar, langsung beritahu dan kenalkan.
Selain itu ada juga yang dinamakan prinsip life saving, artinya kita melakukan
tindakan untuk menyelamatkan jiwa korban (gawat darurat) terlebih dahulu, baru
kemudian setelah stabil disusul tindakan untuk mengatasi masalah kesehatan yang
lain. Gawat darurat adalah suatu kondisi dimana korban dalam keadaan terancam
jiwanya, dan apabila tidak ditolong pada saat itu juga jiwanya tidak bisa
terselamatkan.
1.4.3.4. Pembalutan
Tujuan dari pembalutan adalah untuk mengurangi resiko kerusakan jaringan
yang telah ada sehingga mencegah maut, menguangi rasa sakit, dan mencegah cacat
serta infeksi.
Kegunaan pembalutan adalah:
1. Menutup luka agar tidak terkena cahaya, debu, kotoran, dll.
2. Melakukan tekanan
3. Mengurangi atau mencegah pembengkakan
4. Membatasi pergerakan
5. Mengikatkan bidai.
Macam-macam pembalutan:
1. Pembalutan segitiga atau mitela
Pembalut segitiga dibuat dari kain putih yang tidak berkapur (mori),
kelihatan tipis, lemas dan kuat. Bisa dibuat sendiri, dengan cara memotong
lurus dari salah satu sudut suatu kain bujur sangkar yang panjang masingmasing sisinya 90 cm sehingga diperoleh 2 buah pembalut segitiga.

16

2. Pembalut Plester
Digunakan untuk merekatkan kain kassa, balutan penarik (patah tulang,
sendi paha/ lutut meradang), fiksasi (tulang iga patah yang tidak menembus
kulit), Beuton (alat untuk merekatkan kedua belah pinggir luka agar lekas
tertutup).
3. Pembalut Pita Gulung.
4. Pembalut Cepat.
5. Pembalut ini siap pakai terdiri dari lapisan kassa steril, dan pembalut gulung.
1.4.3.5. Indikasi Pembalutan:
Menghentikan pendarahan, melindungi bakteri/kuman pada luka, mengurang
rasa nyeri.
1.4.3.6. Bentuk dan Anggota Tubuh yang Dibalut:
1. Bundar, pada kepala.
2. Bulat panjang tapi lonjong, artinya kecil ke ujung, besar ke pangkal, pada
lengan bawah dan betis
3. Bulat panjang hamper sama ujung dengan pangkalnya, pada leher, badan,
lengan atas, jari tangan.
4. Tidak karuan bentuknya, pada persendian
1.4.3.7. Pembidaian
Bidai adalah alat yang dipakai untuk mempertahankan kedudukan (fiksasi)
tulang yang patah. Tujuannya, menghindari gerakan yang berlebihan pada tulang
yang patah. Syarat pemasangan bidai:
1. Bidai harus melebihi dua persendian yang patah
2. Bidai harus terbuat dari bahan yang kuat, kaku dan pipih.
3. Bidai dibungkus agar empuk.
4. Ikatan tidak boleh terlalu kencang karena merusak jaringan tubuh tapi jangan
kelonggaran.
1.4.3.8. Alat-alat bidai:
1. Papan, bamboo, dahan
17

2. Anggota badan sendiri


3. Karton, majalah, kain
4. Bantal, guling, selimut
1.4.3.9. Pernafasan Buatan
Sering disebut bantuan hidup dasar (BHD) atau resusitasi jantung paru (RJP) intinya
adalah melakukan oksigenasi darurat. Dilakukan pada kecelakaan:
1. Tersedak,
2. Tenggelam
3. Sengatan Listrik,
4. Penderita tak sadar,
5. Menghirup gas dan atau kurang oksigen,
6. serangan jantung usia muda, henti jantung primer tejadi.
1.4.3.10. Fase RJP:
A = Airway control (pengeuasaan jalan napas),
B = Breathing support (ventilasi buatan dan oksigenasi paru darurat)
C = Circulation (pengenalan ada tidaknya denyut nadi)
Untuk teknik RJP dapat dilihat pada lampiran gambar.
1.4.3.11. Evakuasi dan Transportasi
Evakuasi adalah kegiatan memindahkan korban dari lokasi kecelakaan ke
tempat lain yang lebih aman dengan cara-cara yang sederhana di lakukan di daerah
daerah yang sulit dijangkau dimulai setelah keadaan darurat. Penolong harus
melakukan evakuasi dan perawatan darurat selama perjalanan.
1.4.3.12. Cara pengangkutan korban:
1. Pengangkutan tanpa menggunakan alat atau manual
Pada umumnya digunakan untuk memindahkan jarak pendek dan korban
cedera ringan, dianjurkan pengangkatan korban maksimal 4 orang.
2. Pengangkutan dengan alat (tandu)
Rangkaian pemindahan korban:
1. Persiapan,
18

2. Pengangkatan korban ke atas tandu,


3. Pemberian selimut pada korban
4. Tata letak korban pada tandu disesuaikan dengan luka atau cedera.
Prinsip pengangkatan korban dengan tandu:
1. pengangkatan korban
Harus secara efektif dan efisien dengan dua langkah pokok; gunakan alat
tubuh (paha, bahu, panggul), dan beban serapat mungkin dengan tubuh
korban.
2. Sikap mengangkat.
Usahakan dalam posisi rapi dan seimbang untuk menghindari cedera.
3. Posisi siap angkat dan jalan.
Biasanya posisi kaki korban berada di depan dan kepala lebih tingi dari kaki,
kecuali;

Menaik, bila tungkai tidak cedera,

Menurun, bila tungkai luka atau hipotermia,

Mengangkut ke samping,

Memasukan ke ambulan kecuali dalam keadaan tertentu

Kaki lebih tinggi dalam keadaan shock.

19

BAB II
PELAKSANAAN

II.1

Tanggal dan Waktu Pengamatan


Kegiatan kunjungan identifikasi tempat kerja dalam hal ini PT. Martina Berto

Martha Tilaar Group dilakukan pada hari Kamis, tanggal 28 Juli 2016 mulai pukul
09.00 hingga pukul 12.30 WIB.
II.2

Lokasi Pengamatan
PT. Martina Berto Martha Tilaar Group yang merupakan perusahaan yang

bergerak di bidang Kecantikan ini berlokasi di Jl. Pulokambing II No. 1, Jakarta


Industrial Estate Pulo Gadung, Jakarta Timur.
II.3

Dokumen Pengamatan

20

BAB III
HASIL PENGAMATAN
III.1

Fasilitas Pelayanan Kesehatan


Berdasarkan hasil pengamatan serta wawancara kami dengan pihak HSE

(health safety environment) diketahui bahwa PT. Martina Berto Tbk. memiliki
fasilitas pelayanan kesehatan berupa poliklinik yang beroperasi khusus untuk
karyawan setiap Senin Jumat dengan jam operasional poliklinik adalah siang
pukul 09.00 12.00 WIB dan sore pukul 14.00 16.00 WIB. Dokter perusahaan
terbagi atas 3 jadwal kerja bergantian. Poliklinik juga dilengkapi dengan ruang
laktasi dan pelayanan KB. Untuk memenuhi kebutuhan obat-obatan, perusahaan
bekerja sama dengan apotek yang beroperasi setiap hari kerja. Apabila terdapat
kasus yang tidak dapat ditangani oleh dokter di poliklinik maka akan dirujuk ke

21

rumah sakit terdekat yang bekerja sama dengan perusahaan seperti RS Jayakarta dan
RS Antam.
III.2

Program Kesehatan
Promotif
Pada saat kunjungan dijelaskan bahwa sebagai tindakan promotif dalam
program kesehatan, PT. Martina Berto Tbk rutin melakukan penyuluhan,
pelatihan, serta seminar beberapa kali dalam setahun berkaitan dengan
penyakit yang dapat ditimbulkan pada saat kerja. Selain itu perusahaan
juga tidak jarang memberikan penyuluhan mengenai penyakit-penyakit
secara umum yang lain seperti kanker Serviks dan manfaat program KB
dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan para pekerja mengenai
kesehatan. Mengenai poster kesehatan, terdapat beberapa poster
mengenai pola hidup bersih dan sehat seperti cara mencuci tangan yang

baik.
Preventif
PT. Matrina Berto Tbk mengatakan bahwa perusahaan nya telah
melakukan kegiatan preventif sesuai dengan kewajiban dokter untuk
mencegah penyakit pada Permenaker no.3 tahun 1982. PT. Martina
Berto Tbk. mengharuskan dilakukannya pemeriksaan kesehatan awal
untuk mengetahui status kesehatan bagi calon tenaga kerja baik yang
baru, serta dilakukannya pemeriksaan berkala setiap 1 tahun sekali setiap

bulan November.
Kuratif
Perusahaan menyediakan

poliklinik

bagi

karyawan

yang

ingin

memeriksakan kesehatan serta kerja sama apotik untuk penyediaan obat


bagi karyawan. Selain itu untuk karyawan kontrak digunakan jaminan

kesehatan berupa BPJS kesehatan.


Rehabilitatif
Apabila terjadi kecelakaan kerja atau penyakit akibat kerja maka
karyawan tesebutakan diberikan kompensasi oleh perusahaan sesuai
dengan peraturan yang berlaku.

III.3

Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba


Dari hasil kunjungan perusahaan di PT. Martina Berto Tbk tidak

didapatkan upaya terkait pencegahan HIV/AIDS dan narkoba. Selain itu PT.
22

Martina Berto Tbk tidak memasukkan pemeriksaan HIV/AIDS dan narkoba


pada pemeriksaan fisik awal. PT. Martina Berto Tbk belum pernah melakukan
kegiatan penyuluhan berkenan dengan HIV/AIDS dan narkoba.
III.4 Pemeriksaan kesehatan kerja (awal, berkala, dan khusus)
a. Pemeriksaan Kesehatan Awal (Pre-Employment)
- PT. Martina Berto Tbk. melakukan pemeriksaan kesehatan awal pada
setiap calon tenaga kerja yang melamar pekerjaan ke perusahaan
-

tersebut.
Pemeriksaan kesehatan ini juga dilakukan pada pekerja yang hendak

dipindahkan ke lokasi kerja yang lain dengan risiko yang berbeda.


Pada pemeriksaan kesehatan awal ini dilakukan pemeriksaan berupa
wawancara tentang riwayat kesehatan pekerja, pemeriksaan fisik umum,
pemeriksaan status mental, rontgen toraks, laboratorium rutin, dan
pemeriksaan lain yang dianggap perlu.

23

b. Pemeriksaan Kesehatan Berkala


- PT. Martina Berto Tbk. melakukan pemeriksaan kesehatan berkala setiap
1 tahun sekali. Prinsip pemeriksaan kesehatan berkala sama dengan
-

pemeriksaan kesehatan awal.


Apabila ditemukan kelainan atau gangguan kesehatan pada para pekerja,

pihak manajemen akan menindak lanjut sesuai kebijakannya.


c. Pemeriksaan Kesehatan Khusus
PT. Martina Berto Tbk. akan melakukan pemeriksaan kesehatan khusus
terhadap tenaga kerja tertentu apabila dinilai membawa pengaruh dari
pekerjaan tertentu.
III.5

Kesesuaian pekerja dengan alat


Sikap Kerja
Hasil pengamatan mengenai sikap kerja dari tenaga kerja menunjukkan
sebagian tidak sesuai dengan aspek ergonomis, terbukti dengan adanya:
Pada karyawan di bidang laboratorium, didapatkan adanya kursi
yang tidak dapat dinaik-turunkan, tidak didapatkan sandaran yang
adekuat, bahkan terdapat beberapa kursi tanpa sandaran sehingga
pekerja terlihat membungkuk ketika mengamati pekerjaannya.
Beberapa ditemukan tenaga kerja yang mengangkat beban berat saat
kunjungan.
Bagian produksi, ditemukan beberapa mesin yang tidak sesuai

dengan ukuran tubuh rata - rata karyawan.


Pemakaian sarung tangan yang tidak sesuai dengan standar.
Cara Kerja
Hasil pengamatan mengenai cara kerja, tenaga kerja lebih banyak duduk,
berdiri, berjalan, membungkuk saat memindahkan bahan-bahan setengah
jadi dan packing. Cara kerja diamati dari 2 sisi, yaitu:
Posisi kerja di bagian laboratorium, sudah sesuai namun masih
sedikit ditemukan adanya karyawan yang duduk kurang tegak dan
rileks.
Beberapa bagian produksi bekerja dengan posisi berdiri karena tidak
disediakan kursi. Pada bagian lain yang terdapat kursi, kursi tersebut
tidak memiliki fungsi untuk dinaik-turunkan sehingga tidak dapat
disesuaikan dengan struktur tubuh petugas.

24

Proses kerja didapatkan adanya tangga pijakan untuk meletakkan


bahan dasar di mesin pengaduk. Akan tetapi, untuk beberapa
petugas, tangga tersebut tidak cukup tinggi untuk membantu petugas
sehingga posisi siku terdapat diatas bahu ketika menuangkan bahan
dasar.

Beban Kerja
Hasil pengamatan didapatkan, karyawan pabrik bekerja dari hari Senin
sampai Jumat dengan jam kerja: bagian office 08.00-16.30 dan bagian
factory dibagi 2, shift 1 07.30-14.30 WIB ; shift 2 15.30 22.00 WIB,
coffee break: 2x 15 pagi dan sore, serta istirahat makan siang 1x
(45). Aktivitas ini termasuk sedang karena aktivitas dilakukan 60%

duduk dan 40% berdiri.


Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja karyawan cukup luas sehingga karyawan dapat
bergerak leluasa dan efisien. Penempatan tempat duduk juga sudah
diatur dan sudah disediakan pendingin ruangan.

III.6

Program pemenuhan gizi pekerja, kantin atau ruang makan


Hasil penemuan kami di lapangan menunjukkan bahwa pemenuhan
gizi pekerja dilakukan oleh perusahaan, dimana perusahaan menyediakan
makanan dan tempat makan di dalam gedung yaitu di lantai dasar.
Penyelenggaraan gizi kerja di PT. Martina Berto Tbk., meliputi:
Pekerja sehari-hari diberi makan dari supplier catering dengan menu
utama dan extra fooding minimal 1400 kkal dengan diberikan extra

puding, kopi, dan teh manis.


Disediakan tempat makan yaitu ruang makan karyawan PT. Martina

Berto Tbk. yang terletak di lantai dasar.


Pekerja diberikan air minum dalam bentuk galon yang terletak di ruangan

kerja yang dapat diambil secara bebas.


Untuk mencuci tangan menggunakan tempat cuci tangan yang disediakan
di setiap lantai.

III.7

Sepuluh besar penyakit pada pelayanan kesehatan


Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber, didapatkan bahwa
penyakit terbanyak yang diderita oleh tenaga kerja di perusahaan PT. Martina
Berto Tbk., yaitu:
25

Apabila karyawan tersebut mengalami penyakit umum atau penyakit


akibat kerja maka karyawan dianjurkan untuk ke poliklinik di perusahaan.
Dari hasil wawancara dengan narasumber juga didapatkan bahwa penyakit
yang ditemukan setiap bulannya terkadang tidak sama dan hal itu didapatkan
menurut catatan asuransi yang bekerja sama dengan perusahaan.

26

III.8

Penyakit akibat kerja yang terjadi


Pada hasil kunjungan perusahaan PT. Martina Berto Tbk. Didapatkan
bahwa tidak ada kejadian Penyakit Akibat Kerja (PAK) yang terjadi. Hal ini
dinyatakan oleh pihak perusahaan dan dokter perusahaan bahwa selama ini
belum ada kejadian PAK pada seluruh karyawan perusahaan. Kebanyakan
penyakit yang sering terjadi adalah penyakit umum seperti ISPA, myalgia,
common cold, dsb. Pada beberapa kasus terjadi penyakit yang berhubungan
dengan pekerjaan, yang paling sering terjadi adalah alergi. Namum menurut
pernyataan perusahaan apabila didapatkan penyakit-penyakit yang dicurigai
akibat pekerjaan pihak perusahaan akan melakukan pemeriksaan khusus
yang hingga saat ini menunjukkan bahwa tidak adanya PAK. Pihak
perusahaan tetap menerapkan pemeriksaan rutin/berkala setiap 1 tahun untuk
mendeteksi adanya kejadian-kejadian PAK.

5. Sarana P3K
Pada hasil kunjungan perusahaan PT. Martina Berto Tbk., terdapat
sarana P3K yang berupa lemari kotak kaca di dalam setiap ruang produksi.
Lemari tersebut terpasang pada dinding setiap ruang dengan posisi yang
mudah terjangkau. Sarana P3K diberikan tanda palang merah agar dapat
dikenali setiap tenaga kerja di ruang tersebut dengan mudah.
6. Personil Kesehatan
Adapun penanggulangan apabila terjadi kecelakaan dalam kerja, PT.
Martina Berto memiliki sekitar total 25 orang tenaga medis dan paramedis
yang bersertifikasi P3K. Jumlah tenaga kesehatan tersebut terdiri dari 3
orang dokter perusahan, 1 perawat dan sisanya berupa petugus K3. Petugas
K3 berupa petugas PMI dan petugas ahli K3. Petugas tersebut telah dilatih
khusus untuk menangani kecelakaan yang terjadi di lingkungan kerja. Semua
dokter perusahaan sudah mendapatkan sertifikasi Hiperkes.

BAB IV
PEMECAHAN MASALAH

27

No Unit Kerja
1
Cara Kerja

Permasalahan
Pada karyawan di
bidang laboratorium,
didapatkan adanya
kursi yang tidak
dapat dinaikturunkan, tidak
didapatkan sandaran
yang adekuat, bahkan
terdapat beberapa
kursi tanpa sandaran
sehingga pekerja
terlihat membungkuk
ketika mengamati
pekerjaannya.
Beberapa ditemukan
tenaga kerja yang
mengangkat beban
berat saat kunjungan.
Bagian produksi,
ditemukan beberapa
mesin yang tidak
sesuai dengan ukuran
tubuh rata - rata
karyawan.
Pemakaian sarung
tangan yang tidak
sesuai dengan
standar.

Penanganan
Pekerja diberi
waktu untuk
melakukan
stretching
untuk
mengobati
kelelahan otot
saat 2 jam
sekali, selama
5 menit.

Saran
1.Dilakukan pergantian
kursi dengan kursi yang
memiliki
sandaran,
sehingga pekerja bisa
meluruskan punggungnya
dan tidak membungkuk.
2. Tenaga kerja diberikan
pelatihan
tentang
kesesuaian posisi dalam
mengangkat beban dan
menambah jumlah troli.
3.Dilakukan
rolling
sehingga pekerja dengan
tinggi yang cukup dapat
berikan tugas penuangan
bahan dasar.
4. Tenaga kerja di berikan
sarung
tangan
yang
sesuai standar.

Tidak memiliki data


yang valid mengenai
penyakit
tersering
ataupun penyakit akibat
kerja yang didata oleh
perusahaan sendiri.
Penyuluhan Kurangnya
kegiatan
HIV/ AIDS promosi
tentang
dan
penyakit HIV/ AIDS
Narkoba
dan Narkoba

Membuat
data
atau
keeping
record
dari
pekerja yang
berobat
Dokter
perusahaan
terlibat aktif
untuk
melaksanakan
upaya
pencegahan
dan promotif
terhadap
HIV/AIDS
dan Narkoba.

Dibuatkan
keeping
record dan pelaporan
setiap tahun (yearly
report).

Klinik

Dapat
dilakukan
pemberian informasi dan
pendidikan
terhadap
tenaga kerja, seperti
penyuluhan/pemasangan
poster untuk dibagikan ke
semua tenaga kerja.

28

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

29

Kesimpulan mengenai aspek ergonomis dan kesehatan kerja di PT Martina


Berto Martha Tilaar Group adalah:
1. Aspek ergonomi dalam sikap kerja rata rata cukup baik, hanya beberapa ada
yang tidak disiplin.
2. Aspek ergonomi dalam cara kerja rata rata cukup baik, hanya beberapa
pekerja ada yang salah dalam posisi kerja sementara proses pembuatan
produk karena dukungan alat kurang memadai (Kursi yang tidak memiliki
sandaran yang panjang dan lurus, kursi yang tidak memiliki fungsi untuk
dinaik-turunkan, serta tangga yang tidak memiliki fungsi untuk dinaikturunkan sesuai tinggi badan pekerja).
3. Pencegahan HIV AIDS dan Narkoba perlu di jadwalkan berupa kegiatan
penyuluhan yang rutin.
4. Penyakit akibat kerja yang terjadi perlu didatakan dengan lebih baik.
5. Penyakit myalgia yang pada urutan ke 3 PT. martina Berto termasuk dalam
kasus ergonomic ( kesesuaian alat) dan juga disebabkan oleh sifat kerja
repetitive.
6. Program Kesehatan, Pemeriksaan kesehatan kerja (awal, berkala, dan
khusus), Program pemenuhan gizi pekerja, dan pendataan sepuluh besar
penyakit pada pelayanan kesehatan sudah cukup baik terlaksanakan.
7. Personil Kesehatan dan penyediaan Sarana P3K sudah cukup baik untuk
menangani masalah kesehatan pada perusahaan.
Saran
1. Pengadaan Edukasi ulang kepada para pekerja atau training ulang tentang
sikap kerja dan cara kerja yang ergonomis.
2. Pemberian sanksi kepada para pekerja yang melanggar aturan atau tidak
disiplin.
3. Diperlukan adanya pemeriksaan khusus misalnya noting body scale untuk
kasus myalgia. Dan diperlukan hirarki pengendalian untuk kasus myalgia.
4. Diperlukan adanya survailance K3, misalnya seperti penyakit alergi yang
dihubungan dengan unit produksi untuk mengetahui mencari allergen.
Sehingga pekerja yang alergi diunit produksi dapat dipindahkan ke bagian
lain.

30

5. Pengawasan ketat pada para pekerja agar tidak terjadi kesalahan.


6. Pembenahan sistem admisitratif dalam distribusi pekerja dan shift.
7. Pembenahan fasilitas yang memadai seperti kursi untuk menunjang
kenyamanan pekerja dalam bekerja.
8. Demikian saran yang dapat kami berikan, semoga dapat berkenan dan
memberikan dampak positif bagi produktivitas tenaga kerja PT Martina
Berto Martha Tilaar Group. Kami sadar banyak kekurangan dalam
penyusunan laporan ini. Kami mohon maaf kepada semua pihak jika ada
yang tidak berkenan. Terima kasih.

31

BAB VI
PENUTUP

Semoga dengan disusunnya laporan ini, dapat kita jadikan pedoman


pembelajaraan dalam menambah wawasan mengenai Hiperkes bagi para Dokter
Perusahaan atau Instansi, dalam melaksanakan tugasnya. Semoga apa yang kami
sampaikan diatas mengenai aspek Ergonomi di lingkungan kerja PT .Martina Berto
Martha Tilaar Group dapat bermanfaat bagi kita semua. Jika suatu saat kita
menjumpai kendala dalam mengelola kesehatan di lingkungan kerja, baik itu dalam
suatu perusahaan atau Instansi, maka kita sudah dapat mengambil langkah-langkah
antisipasi bagaimana cara menyelesaikan permasalahan tersebut.

32

Pertanyaan :
1. Kelompok 1 ( dr. kevin).
Q: Dari 10 penyait yang [paling banyak adalah myalgia, apakah
penyebabnya? Apakah ada factor penyebab tertentu dari sisi ergonomic
dan bagaimana pencegahannya?
A( dr. M. Adam) : ada, sisi ergonomic dilihat dari tempat kerja, misalnya
karyawan yang mengangkat beban. Disarankan memakai troli saat
mengangkat beban dan dilakukan perbaikan ergonomic.
2. Kelompok 3 ( dr. Susanti)
Q: apakah fasilitas kesehatan sesuai standard? Apakah perlu adanya
perbaikan untuk Pt. Martina Berto?
A ( dr. Jessica) : jika diamati,fasilitas kesehatan masih kurang sesuai
sehingga diperlukan diperlukan adanya program kesehatan berupa
promotif dan preventif sehingga bias mencegah ISPA dan myalgia.

33