Anda di halaman 1dari 20

REVIEW ARAHAN PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG

KAWASAN PELABUHAN KUALA TANJUNG KABUPATEN BATU BARA


Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Hukum dan Administrasi Perencanaan
TKP 432

Disusun Oleh:
Kelompok 7 Kelas B
Yeti Ulfah Tuzyahroya
21040113120042
Putri Andriansari Indra
21040113120024
Bayu Rizqi
21040113120050
Selviana Indira Wopari
21040113100072
Hanifah Marsha Mudita
21040113130084
Laras Kun Rahmanti P.
21040113130114
M. Hafidz Satria
21040113130118

Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota


Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
2016

A. LATAR BELAKANG
Menurut UU No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran, Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau
perairan dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan pengusahaan yang
dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang, dan/atau bongkar muat barang, berupa
terminal dan tempat berlabuh kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan
kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra-dan antarmoda transportasi. Kepelabuhan
adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran,
keamanan, dan ketertiban arus lalu lintas kapal, penumpang dan/atau barang, keselamatan dan keamanan berlayar,
tempat perpindahan intra-dan/atau antarmoda serta mendorong perekonomian nasional dan daerah dengan tetap
memperhatikan tata ruang wilayah. Salah satu fungsi pelabuhan adalah sebagai pendorong kegiatan perekonomian
nasional dan juga wilayah.
Hal ini juga diterapkan pada Peraturan Daerah Kabupaten Batu Bara Nomor 10 Tahun 2013 Tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah Kabupaten Batu Bara Tahun 2013-2033, yaitu akan dikembangkannya berbagai macam kegiatan
yang mendukung aktivitas pelabuhan, seperti pengembangan kawasan industri dan juga pengembangan transportasi
yang terintegrasi dengan pelabuhan, seperti pengembangan jalan, khususnya jalan kereta api. Selain itu, dinyatakan
bahwa kawasan strategis sosial budaya meliputi kawasan strategis Kuala Tanjung yang berbasis kegiatan industri,
jasa pelabuhan dan pergudangan. Kawasan strategis ini mencakup kawasan industri dan pelabuhan pengumpan
nasional dan regional Kuala Tanjung serta kawasan permukiman di sekitarnya. Berdasarkan arahan RTRW Provinsi
Sumatera Utara, arahan pengembangan dan pemanfaatan lahan Pelabuhan Kuala Tanjung sudah sesuai dengan
arahan kebijaksanaan RTRW Provinsi Sumatera Utara. Begitu juga dalam skala kabupaten, arahan pemanfaatan
lahan Pelabuhan Kuala Tanjung sudah sesuai dengan fungsi yang dituju, yaitu sebagai Pelabuhan Pengumpul
Nasional/Pelabuhan Nasional dengan skala pelayanan angkutan penumpang dan barang di Wilayah Pantai Timur
Sumatera Utara, yang mana juga menyatu dengan Kawasan Industri Kuala Tanjung.

Sumber: Dirjen Perhubungan Laut, 2011

Gambar 1
Pelabuhan Kuala Tanjung Kabupaten Batu Bara

B. TUJUAN KEBIJAKAN DAN STRATEGI


Tujuan
Tujuan Pelaksanaan penataan ruang adalah upaya pencapaian tujuan penataan ruang melalui pelaksanaan
perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Strategi
1. Kawasan hutan produksi terbatas di wilayah kabupaten adalah seluas kurang lebih 14.633,59 Ha (empat
belas ribu enam ratus tiga puluh tiga koma lima puluh sembilan hektar), menurut SK Menteri Kehutanan
Nomor 44 Tahun 2005.
2. Terhadap perkembangan pembangunan Kabupaten Batu Bara kedepan, luasan kawasan hutan produksi
terbatas pada ayat (1) di atas, akan menyesuaikan dengan hasil revisi SK Menteri Kehutanan Nomor 44
Tahun 2005 yang telah diusulkan oleh Pemerintah Daerah ke Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Rencana Pengembangan Kawasan Peruntukan Perikanan dan Kelautan Pasal 35):
1. Pengembangan kawasan peruntukan perikanan meliputi: perikanan tangkap dan budidaya perikanan serta
sentra produksi dan prasarana perikanan dan kelautan.
2. Pengembangan perikanan tangkap meliputi perairan Selat Malaka, perairan sekitar Pulau Salah Nama dan
Pulau Pandang;
3. Pengembangan kawasan budidaya perikanan keramba dan air payau/tambak ikan meliputi:

Kecamatan Medang Deras

Kecamatan Sei Suka

Kecamatan Lima Puluh

Kecamatan Talawi

Kecamatan Tanjung Tiram

Kecamatan Sei Balai

Kecamatan Air Putih


4. Pengembangan kawasan agromarinepolitan Pantai Timur
5. Pengembangan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) dan Pelabuhan Perikanan untuk mendukung kegiatan
perikanan tangkap tersebar di Pantai Timur Kabupaten Batu Bara meliputi: PPI Lalang/Perupuk, PPI
Pangkalan Dodek, PPI Tanjung Tiram dan Pelabuhan Perikanan di Kecamatan Tanjung Tiram.
C. ARAH PERENCANAAN RUANG
Perencanaan Tata Ruang
Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi
penyusunan dan penetapan rencana tata ruang.
Struktur Ruang
Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang
berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan
fungsional.
Rencana Struktur Ruang
Rencana struktur ruang wilayah kabupaten adalah rencana yang mencakup sistem perkotaan wilayah kabupaten
yang berkaitan dengan kawasan perdesaan dalam wilayah pelayanannya dan jaringan prasarana wilayah
kabupaten yang dikembangkan untuk mengintegrasikan wilayah kabupaten selain untuk melayani kegiatan skala
kabupaten yang meliputi sistem jaringan transportasi, sistem jaringan energi dan kelistrikan, sistem jaringan
telekomunikasi, dan sistem jaringan sumber daya air, termasuk seluruh daerah hulu bendungan atau waduk dari
daerah aliran sungai, serta prasarana lainnya yang memiliki skala layanan satu kabupaten.

Pola Ruang
Guna optimalisasi pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung serta kemudahan akses Kawasan Industri Sei.
Mangke dalam menuju pelabuhan Kuala Tanjung maka perlunya pembukaan beberapa akses menuju Pelabuhan
Kuala Tanjung, diantaranya:
1. Pelebaran dan peningkatan jalan ruas Simpang Sei Balai menuju Ujung Kubu;
2. Pelebaran dan peningkatan serta pembangunan jembatan ruas jalan Ujung Kubu menuju Kuala Tanjung
sepanjang 44.700 m;
3. Pelebaran dan Peningkatan Ruas Jalan Simp. Kedai Sianam menuju Rumah Sakit sepanjang 10,280 m;
4. Pelebaran dan Peningkatan Ruas Jalan Simpang Kedai Sianam menuju Simpang Gambus;
5. Pelebaran dan Peningkatan Ruas Jalan Tanjung Kubah menuju Kuala Indah;
6. Pelebaran Ruas Jalan Simpang Sipare-pare (depan Polsek Indrapura) menuju Kampung Lalang;
7. Pelebaran Ruas Jalan Desa Lalang menuju Pangkalan Dodek (Batas Sergai) sepanjang 12,700 m;
8. Pelebaran Ruas Jalan Tanjung Parapat menuju Laut Tador;
9. Pelebaran Dan Pembuatan Ruas Jalan Majin menuju Inalum sepanjang 5.000.
Berikut adalah peta pola ruang Kabupaten Batu Bara:

Sumber: Dirjen Perhubungan Laut, 2011

Gambar 2
Pola Ruang Kabupaten Batu Bara

Rencana Tata Ruang Wilayah Sumatera Utara


Rencana Induk Pelabuhan Kuala Tanjung disusun sejalan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
Sumatera sebagaimana diperlihatkan pada gambar dibawah ini, dimana Kuala Tanjung diarahkan dari pelabuhan
pengumpul/nasional menuju pelabuhan utama/internasional, dengan dua kawasan andalan di belakangnya, yaitu
kawasan Pematang Siantar dan sekitarnya serta kawasan Rantau Prapat dan sekitarnya. Terkait dengan
pengangkutan hasil produksi yang dihasilkan di Kawasan Industri Sei Mangke akan diangkut lewat Pelabuhan
Kuala Tanjung maka pengembangan akses jalan menjadi hal yang sangat penting.

Sumber: RTRW Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010-2030

Gambar 3
Peta Rencana Sistem Jaringan Transportasi Provinsi Sumatera Utara

Rencana aksi infrastruktur pendukung Klaster Industri Kelapa Sawit Sei Mangke, antara lain:
1. Jalan Negara
Pembangunan Jalan Tol Kuala Namu Tebing tinggi + 60 Km.
Peningkatan kapasitas Ruas Lima puluh Indrapura Simpang Kuala Tanjung + 25 Km.
Pembangunan Fly-Over Simpang Kuala Tanjung.
2. Jalan Provinsi
Peningkatan kapasitas Ruas Lima puluh - Perdagangan + 11 Km (Pembangunan Jalan Perdagangan Batas
Asahan (Indra pura) di Kabupaten Simalungun)
3. Jalan Kabupaten
Peningkatan kapasitas ruas Simpang Mayang Kecamatan Bosar Maligas +14 Km.
Peningkatan kapasitas ruas Simpang Mayang menuju Kawasan Industri Sei Mangke sepanjang + 2.5 Km.
4. Jalan Kereta Api
Pembangunan jalur rel kereta api dari Bandar Tinggi St. Pelabuhan Kuala Tanjung.
Pembangunan jalur rel kereta api dari St.Perlanaan - Kawasan Industri Sei Mangke.

Sumber: Rencana Induk Pelabuhan Kuala Tanjung

Gambar 4
Rencana Sistem Jaringan Transportasi Kereta Api Provinsi Sumatera Utara

Demikian pula dalam skala kabupaten, Arahan pemanfaatan lahan Pelabuhan Kuala Tanjung berdasarkan RTRW
Kabupaten Batu Bara, dimana Pelabuhan Kuala Tanjung diarahkan sebagai pelabuhan pengumpul/nasional
menuju pelabuhan utama/internasional, dengan dua kawasan andalan di belakangnya, yaitu kawasan Pematang
Siantar dan sekitarnya serta kawasan Rantau Prapat dan sekitarnya seperti yang tertuang dalam sistem pusatpusat RTRW Kabupaten Batubara (Perda Kabupaten Batu Bara No. 10 Tahun 2013).
Sistem
Pusat-Pusat
PKL

Lokasi dan Wilayah


Pelayanan
Kuala Tanjung (Kec. Sei
Suka)
Pengembangan dalam
satu koridor ekonomi
KEK Sei Mangke
(Simalungun)-IndrapuraKuala Tanjung dan
Koridor Kuala TanjungPerupuk-Tanjung Tiram.
Wilayah pelayanannya
adalah pusat-pusat
permukiman disekitarnya

Fungsi
Kawasan Industri dan
pelabuhan pengumpan
nasional dan regional
dalam satu sistem
kepelabuhan BelawanMedan
Pengembangan
permukiman perkotaan
Dalam jangka panjang
direncanakan sebagai
Kawasan Ekonomi
Khusus (KEK)

Orientasi
Pengembangan
Perkotaan Indrapura
Kota Medan
Pusat-pusat
pertumbuhan di Pulau
Jawa, Kalimantan dan
pusat-pusat
pertumbuhan dipesisir
Barat Malaysia (Port
Klang dan kawasan
Asean lainnya.

Prasarana Pendukung
Pengembangan Jalan
Kolektor Primer 2 dan
jalan/ Rel Kereta Api
Peningkatan
jalan
lokal eksisting
Penyediaan prasarana
energi/listrik,
air
bersih,
drainase,
limbah
dan
Telekomunikasi

D. ARAH PEMANFAATAN RUANG


Berdasarkan Peraturaran Daerah Kabupaten Batu Bara No. 10 Tahun 2013, kawasan strategis Kabupaten Batu
Bara ditetapkan secara serasi, selaras, dan terpadu dengan kawasan strategis Provinsi Sumatera Utara dengan
memperhatikan posisi strategis wilayah kabupaten pada lingkup regional, nasional, dan internasional. Pelabuhan
Kuala Tanjung dalam RTRW Kabupaten Batu Bara tersebut telah ditetapkan sebagai kawasan strategis sosial budaya,
yaitu kawasan strategis Kuala Tanjung berbasis kegiatan industri, jasa pelabuhan dan pergudangan. Kawasan
strategis ini mencakup kawasan industri dan pelabuhan pengumpan nasional dan regional Kuala Tanjung serta
kawasan permukiman disekitarnya.
Pelabuhan Kuala Tanjung memiliki posisi yang sangat strategis karena terletak pada jalur pelayaran dunia.
Dengan berada pada jalur pelayaran internasional (terletak di Selat Malaka), Pelabuhan tersebut diharapkan dapat
menjadi salah satu Pelabuhan Andalan serta mampu memberi nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi sehingga
daerah hiterlandnya berkembang lebih pesat lagi dimasa yang akan datang.
Sesuai dengan potensi Hinterlandnya, pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung diarahkan kepada
pengembangan terminal curah cair dan curah kering serta fasilitas pendukungnya. Dengan kondisi hiterland yang
cukup menunjang dimana perusahaan-perusahaan skala besar seperti PT. INALUM dan PT. Multimas Nabati Asahan
serta perusahaan lainnya berdiri. Dengan komoditi yang paling dominan adalah CPO dan turunannya serta ingot,
sehingga Pelabuhan Kuala Tanjung dapat menjadi Pelabuhan Alternatif selain Pelabuhan Belawan untuk pengiriman
hasil dari industri yang berada di Kabupaten Batubara dan sekitarnya keseluruh indonesia maupun ke luar negeri.
Berikut adalah lahan pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung, warna hijau adalah lahan eksisting dan warna biru
adalah perluasan lahan.

Sumber: Dirjen Perhubungan Laut, 2011

Gambar 5
Pola Ruang Kabupaten Batu Bara

Untuk menyelenggarakan kegiatan kepelabuhanan pada Pelabuhan Kuala Tanjung yang meliputi pelayanan jasa
kepelabuhanan, pelaksanaan kegiatan ekonomi dan pemerintahan lainnya, serta pengembangannya sesuai Rencana
Induk Pelabuhan Kuala Tanjung, dibutuhkan areal daratan seluas 1.400,12 Ha dan areal perairan seluas 2.670,75 Ha.
Berikut adalah kebutuhan lahan untuk Operasional Pelabuhan Kuala Tanjung:
No.
1
2
3
4
5

Infrastruktur Pelabuhan
Peti Kemas
Curah Air
Curah Kering
Warehouse
Perkantoran

Kebutuhan Lahan (Hektare)


1.373,52
8
10
5,5
3,1

Sumber: www.republika.co.id, 2016

Gambar 6
Kebutuhan Lahan Areal Operasional Pelabuhan Kuala Tanjung

Sedangkan kebutuhan areal peraiaran untuk mendukung operasional Pelabuhan Kuala Tanjung adalah sebagai
berikut:
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Areal Perairan
Area kapal mati
Area labuh karantina
Area percobaan berlayar
Area alih muat kapal
Area Pindah kabuh kapal
Area labuh kapal CO
Area keperluan darurat
Area labuh kapal peti kemas
Area pemeliharaan dan perbaikan
Area labuh kapal peti kemas transhipment
Area labuh kapal general kargo
Area labuh kapal curah kering
Area sandar kapal

Sumber: Dirjen Perhubungan Laut, 2016

Kebutuhan Lahan (Hektare)


182,45
182,45
85,31
101,04
182,45
24,71
91,22
21,90
85,31
85,31
24,89
25,64
1.578,07

Gambar 7
Kebutuhan Lahan Areal Perairan Pelabuhan Kuala Tanjung

Rencana pembangunan dan pengembangan fasilitas Pelabuhan Kuala Tanjung untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan jasa kepelabuhanan dilakukan berdasarkan perkembangan angkutan laut, sebagai berikut:
a. Jangka pendek, dari Tahun 2015 sampai dengan Tahun 2021
Pembangunan Pelabuhan Multi Purpose oleh Pelindo dan pada Tahap I juga dikembangkan Pelabuhan
Internasional. Pengembangan Pelabuhan Multi Purpose dimulai Tahun 2015 sedangkan Pelabuhan Hub
Internasional dimulai pada tahun 2017. Pada tahapan ini, Kapasitas kapal optimum adalah kapal Panamax (2000)
namun fasilitas pelabuhan juga dipersiapkan untuk melayani kapal-kapal Malacca Max dan Triple E-Class.
Pengembangan pada tahap ini dimaksudkan untuk melayani total demand 1,5 Juta TEUS yang diperkirakan akan
dicapai pada tahun 2021.
Rencana Pembangunan
Dermaga
Dermaga
Trestle
Lapangan Penumpukan
Fasilitas Curah Air
Fasilitas
pendukung+emplasmen KA +
IPAL dan Reception Facilities
Areal Perkantoran
Infrastructure
Dermaga
Lapangan Penumpukan
Trestle
Breakwater
Pengerukan Air
Access Road
Peralatan
Quay Crane Tipe Twin Lift
Yard Gantnry Crane Type RTG
Head Truck
Chasis
Reach Staker
Forklift

Kebutuhan
Fasilitas

Pengembangan
Fasilitas
Pelabuhan Multi Purpose
500 m
500 m
2.784 m
2.784 m
15,56 Ha
15,56 Ha
11,30 Ha
11,30 Ha
8,31 Ha
8,31 Ha

Kebutuhan Biaya
(Rp. M)

Skema
Pembiayaan
Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I

4,99 Ha
4,99 Ha
Pelabuhan Hub Internasional

Pelindo I

2.000 m
70 Ha
1.500 m
2.850 m

2.000 m
70 Ha
1.500 m
2.850 m

1.421,33
7.316,7
521
635,152

11.470 m

11.470 m

790,13

Investor
Investor
Pemerintah
Pemerintah
Pemerintah
Pemerintah

15 unit
49 unit
70 unit
89 unit
7 unit
13 unit

15 unit
49 unit
70 unit
89 unit
7 unit
13 unit

1.680
1.200,5
73,5
43,61
44,1
2,73

Investor
Investor
Investor
Investor
Investor
Investor

b. Jangka menengah, dari Tahun 2015 sampai dengan Tahun 2026


Pada tahapan ke dua Rencana Pengembangan Pelabuhan Hub Internasional dititikberatkan untuk menambah
dermaga. Pada tahapan ini pengembangan dilakukan untuk memenuhi demand sebesar 5,1 Juta TEUS. Dermaga
Multipurpose diperpanjang menjadi 1000 m pada tahapan ini dan lapangan penumpukan juga akan ditambah.
Meskipun demikian, pentahapan untuk Terminal Multi Purpose ini dapat dimajukan pada tahap I.
Rencana Pembangunan
Dermaga
Dermaga
Trestle
Lapangan Penumpukan
Fasilitas Curah Air
Fasilitas
pendukung+emplasmen KA +
IPAL dan Reception Facilities
Areal Perkantoran
Infrastructure
Dermaga
Lapangan Penumpukan
Trestle
Breakwater
Pengerukan Air
Access Road
Peralatan
Quay Crane Tipe Twin Lift
Yard Gantnry Crane Type RTG
Head Truck
Chasis
Reach Staker
Forklift

Kebutuhan
Fasilitas

Pengembangan
Fasilitas
Pelabuhan Multi Purpose
1000 m
500 m
2.784 m
0m
232,56 Ha
217Ha
11,30 Ha
0 Ha
8,31 Ha
0 Ha

Kebutuhan Biaya
(Rp. M)

Skema
Pembiayaan
Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I

4,99 Ha
0 Ha
Pelabuhan Hub Internasional

Pelindo I

4.000 m
140 Ha
1.500 m
4.600 m
715.540,6675 m3
11.470 m

2.000 m
70 Ha
0m
2.850 m
715.540,6675 m3
0m

1.421,33
6,913
391,181
50,87
790,13

Investor
Investor
Pemerintah
Pemerintah
Pemerintah
Pemerintah

32 unit
112 unit
160 unit
201 unit
15 unit
29 unit

17 unit
63 unit
90 unit
112 unit
8 unit
16 unit

1.904
1.543,5
94,5
54,88
50,4
3,36

Investor
Investor
Investor
Investor
Investor
Investor

c. Jangka panjang, dari Tahun 2015 sampai dengan Tahun 2031


Pada tahapan ini pengembangan dilakukan untuk melayani demand hingga 8,9 Juta TEUS. Sementara untuk
terminal Multi Purpose diprediksi sudah mencapai kondisi ultimate, dimana pengambangan sudah mencapai batas
maksimalnya. Pada tahapan ini di Terminal Multipurpose pengambangannya lebih diarahkan pada
pengembangan fasilitas pelabuhan curah cairnya saja. Sementara pada Pelabuhan Hub Internasional
pertumbuhan maksimal dicapai pada tahap ini.
Rencana Pembangunan
Dermaga
Dermaga
Trestle
Lapangan Penumpukan
Fasilitas Curah Air
Fasilitas
pendukung+emplasmen KA +
IPAL dan Reception Facilities
Areal Perkantoran
Infrastructure
Dermaga
Lapangan Penumpukan
Trestle
Breakwater
Pengerukan Air
Access Road
Peralatan
Quay Crane Tipe Twin Lift
Yard Gantnry Crane Type RTG
Head Truck
Chasis
Reach Staker
Forklift

Kebutuhan
Fasilitas

Pengembangan
Fasilitas
Pelabuhan Multi Purpose
1000 m
0m
2.784 m
0m
232,56 Ha
Ha
59,59 Ha
48,29 Ha
8,31 Ha
0 Ha

Kebutuhan Biaya
(Rp. M)

Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I

4,99 Ha
0 Ha
Pelabuhan Hub Internasional
5.500 m
192,5 Ha
1.500 m
6.100 m
4,23 million m3
11.470 m

1.500 m
52,5 Ha
0m
1.500 m
3,5 million m3
0m

43 unit
147 unit
210 unit
265 unit
20 unit
38 unit

11 unit
35 unit
50 unit
64 unit
5 unit
9 unit

Skema
Pembiayaan

Pelindo I
1.065,99
5.187,82
334,29
246,532
1.232
875,5
52,5
31,36
31,5
1,89

Investor
Investor
Pemerintah
Pemerintah
Pemerintah
Pemerintah
Investor
Investor
Investor
Investor
Investor
Investor

d. Tahap IV, (Tahun 2032-2041)


Pada tahap IV, demand diperkirakan akan mencapai 11,4 Juta TEUS pada tahun 2041. Meskipun asumsi demand
ini memerlukan review dengan melihat koreksi terhadap pertumbuhan pada kawasan dan regional. Namun dalam
RIP ini digunakan untuk memprediksi kebutuhan fasilitas pengembangan Pelabuhan Kuala Tanjung ini.
Rencana Pembangunan
Dermaga
Infrastructure
Dermaga
Lapangan Penumpukan
Trestle
Breakwater
Pengerukan Air
Access Road
Peralatan
Quay Crane Tipe Twin Lift
Yard Gantnry Crane Type RTG
Head Truck
Chasis
Reach Staker
Forklift

Kebutuhan
Pengembangan
Fasilitas
Fasilitas
Pelabuhan Hub Internasional
7.000 m
245 Ha
1.500 m
7.750 m
7,2 million m3
11.470 m

1.500 m
52,5 Ha
0m
1.650 m
3 million m3
0m

52 unit
182 unit
260 unit
327 unit
25 unit
47 unit

9 unit
35 unit
50 unit
62 unit
5 unit
9 unit

Kebutuhan Biaya
(Rp. M)
1.065,99
5.187,82
367,72
206,493
1.008
875,5
52,5
30,38
31,5
1,89

Skema
Pembiayaan
Investor
Investor
Pemerintah
Pemerintah
Pemerintah
Pemerintah
Investor
Investor
Investor
Investor
Investor
Investor

e. Tahap V, (setelah 2042)


Pada tahap V ini diasumsikan pelabuhan sudah mature, sehingga pertumbuhan demand tidak secepat fase-fase
sebelumnya. Pada tahapan ini pengembangan sepenuhnya akan ditangani oleh pihak swasta.
Rencana Pembangunan
Dermaga
Dermaga
Trestle
Lapangan Penumpukan
Fasilitas Curah Air
Fasilitas
pendukung+emplasmen KA +
IPAL dan Reception Facilities
Areal Perkantoran
Infrastructure
Dermaga
Lapangan Penumpukan
Trestle
Breakwater
Pengerukan Air
Access Road
Peralatan
Quay Crane Tipe Twin Lift
Yard Gantnry Crane Type RTG
Head Truck
Chasis
Reach Staker
Forklift

Kebutuhan
Fasilitas

Pengembangan
Fasilitas
Pelabuhan Multi Purpose
1000 m
2.784 m
232,56 Ha
59,59 Ha
8,31 Ha

Kebutuhan Biaya
(Rp. M)

Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I
Pelindo I

4,99 Ha
Pelabuhan Hub Internasional
9.500 m
320 Ha
5.742 m
9.750 m
11,4 million m3
11.470 m

2.500 m
75 Ha
4.242 m
2.000 m
4,3 million m3
2,479 m

76 unit
186 unit
380 unit
477 unit
26 unit
48 unit

24 unit
4 unit
120 unit
150 unit
1 unit
1 unit

Skema
Pembiayaan

Pelindo I
1.776,66
5.205,14
1.475,3
445,72
294,87
170,75
2.688
98
126
73,5
6,3
0,21

Investor
Investor
Pemerintah
Pemerintah
Pemerintah
Pemerintah
Investor
Investor
Investor
Investor
Investor
Investor

Dan berikut adalah DLKr dan DLKP Pelabuhan Kuala Tanjung:

E. ARAH PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG


Pengendalian pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan tertib tata ruang. Dasar pengendalian
pemanfaatan ruang di wilayah kabupaten meliputi penetapan peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan
disinsentif, serta pengenaan sanksi.
a. Peraturan Zonasi
Ketentuan umum peraturan zonasi adalah ketentuan umum yang mengatur pemanfaatan ruang dan unsur-unsur
pengendalian yang disusun untuk setiap klasifikasi peruntukan/fungsi ruang sesuai dengan rencana tata ruang.

Penyelenggaraan Penataan
Ruang

Pengaturan

Pembinaan

Perencanaan

Pelaksanaan

Pemanfaatan

Pengawasan

Pengendalian
Peraturan Zonasi
Perizinan
Insentif-Disinsentif
Sanksi

Sumber: Olah Data RTRW Kabupaten Batubara tahun 2013-2033

Gambar
Skema Peranan Peraturan Zonasi dalam Penataan Ruang

Peraturan zonasi untuk Pelabuhan Kuala Tanjung secara lebih rinci belum dapat dijelaskan pada pembahasan ini,
karena adanya keterbatasan data dan dokumen yang diperoleh. Berikut adalah ketentuan zonasi ruang kawasan
sekitar Pelabuhan Kuala Tanjung yang telah disesuaikan dengan RTRW Kabupaten Batubara tahun 2013-2033.
Tabel 1
Ketentuan Pengaturan Zonasi Ruang Pelabuhan Kuala Tanjung
Zona Berdasarkan Pola
No
Deskripsi
Ketentuan
Ruang Kabupaten
Kawasan Lindung
1
Sempadan Pantai
Kawasan sepanjang pinggir laut Pemanfaatan ruang untuk ruang terbuka hijau,
yang mempunyai manfaat penting ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali
untuk
mempertahankan bangunan untuk kepentingan Pelabuhan Kuala
kelestarian fungsi pantai dan laut Tanjung dan industri
yang menyebar di daerah pesisir Pendirian bangunan diatasi hanya untuk menunjang
timur,
termasuk
kawasan fungsi kegiatan industri dan pelabuhan
Pelabuhan Kuala Tanjung
2
Rawan
bencana Kawasan yang rawan bencana Penetapan batas dataran rawan gelombang
gelombang
abrasi dan akresi di wilayah pesisir pasang/abrasi/tsunami
pasang/abrasi/tsunami pantai timur.
Pemanfaatan
rawan
gelombang
pasang/abrasi/tsunami bagi ruang terbuka hijau dan
perlindungan mangrove
Ketentuan Pelarangan pemanfaatan ruang bagi
kegiatan permukiman dan fasilitas umum penting
lainnya.
Kawasan Budidaya
1
Kawasan
pertanian Kawasan lahan pertanian yang Pemanfaatan ruang untuk permukiman petani dengan
lahan basah
pengairannya dapat diperoleh kepadatan rendah
secara alamiah, terdapat di Kegiatan yang diizinkan adalah kegiatan budidaya
Kecamatan
Medang
Deras pertanian organik dan ramah lingkungan

No

Zona Berdasarkan Pola


Ruang Kabupaten

Deskripsi

Ketentuan

dimana menjadi lokasi Pelabuhan


Kuala Tanjung

Perubahan fungsi sawah hanya diizinkan pada


kawasan strategis industri dan pelabuhan
Pelarangan alih fungsi lahan budidaya non pertanian
kecuali untuk pembangunan sistem jaringan
transportasi, industri dan kawasan strategis yang telah
diatur dalam RTRW
Kegiatan yang diizinkan meliputi budidaya perikanan,
penelitian dan wisata
Pelarangan perusakan lingkungan hidup dalam
budidaya perikanan yang tidak ramah lingkungan
Kegiatan yang diizinkan kawasan peruntukan industri
adalah kegiatan industri yang tidak menimbulakn
dampak lingkungan
Kegiatan yang tidak diizinkan pada kawasan
peruntukan industri adalah pembangunan perumahan
baru, permukiman, perdagangan dan jasa
Prasarana lingkungan minimal yang harus disediakan
adalah unit pengolahan limbah, penyediaan ruang
terbuka hijau, penyediaan gudang dan lahan parkir
Lahan untuk bangunan fisik maksimal 70% dari luas
lahan

Kawasan
Perikanan dan kelautan

Kawasan yang diperuntukkan bagi


usaha perikanan laut.

Kawasan
Industri

Kawasan yang diperuntukkan


industri berdasarkan RTRW yang
ditetapkan oleh Pemerintah
Kabupaten

Sumber: Olah Data RTRW Kabupaten Batubara tahun 2013-2033

b. Ketentuan Insentif dan Disinsentif


Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Batubara No. 10 tahun 2013 tentang RTRW Kabupaten Batubara
tahun 2013-2033, bahwa ketentuan insentif dan disinsentif adalah perangkat atau upaya untuk memberikan
imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan dengan rencana tata ruang dan juga perangkat untuk
mencegah, membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang.
Berikut pada tabel, merupakan pokok pengembangan insentif-disinsentif pemanfaatan ruang di kawasan
Pelabuhan Kuala Tanjung.
Tabel 2
Pokok-Pokok Pengembangan Perangkat Insentif-Disinsentif Pemanfaatan Ruang di Kawasan Lindung
Arahan Kegiatan
Sub Kawasan
Diperbolehkan
Dilarang, Diperbolehkan Bersyarat
Sempadan Pantai
Kegiatan yang masih boleh diusahakan Kegiatan yang mengganggu kelestarian daya dukung
adalah perikanan, pariwisata yang hanya pantai seperti pendirian bangunan, permukiman dan
untuk menikmati pemandangan saja, penanaman tanaman semusim yang mempercepat
pemasangan
papan
pengumuman, proses abrasi dan akresi tidak diperkenankan dan
pemasangan pondasi dan rentang kabel, dilarang.
pondasi jembatan/jalan umum maupun Selain bangunan pengendali/pengukur volume air,
kereta api, bangunan lalu lintas air, serta yang diperkenankan adalah kegiatan yang berkaitan
pengambilan dan pembuangan air
dengan pembangunan pelabuhan, pelestarian hutan
mangrove, pariwisata seperti rumah makan, tempat
rekreasi, dengan tetap mengupayakan pembangunan
fisik yang tidak mengurangi luas hutan mangrove dan
ada kegiatan konservasi.
Rawan bencana
Penanaman dan reboisasi dengan Tertutup bagi kegiatan permukiman dan kegiatan
gelombang
tanaman mangrove setebal minimal 200 m budidaya lainnya yang berbahaya bagi keselamatan
pasang/abrasi/tsunami
manusia dan lingkungan. Kegiatan pengembangan
fasilitas umum seperti: pelabuhan diperbolehkan

Sub Kawasan

Diperbolehkan

Arahan Kegiatan
Dilarang, Diperbolehkan Bersyarat
dengan tetap menyediakan hutan mangrove pada
area yang dimungkinkan

Sumber: Olah Data RTRW Kabupaten Batubara tahun 2013-2033

Tabel 3
Pokok-Pokok Pengembangan Perangkat Insentif-Disinsentif Pemanfaatan Ruang di Kawasan Budidaya
Arahan Kegiatan
Sub Kawasan
Diperbolehkan
Dilarang, Diperbolehkan Bersyarat
Kawasan
pertanian Penanaman tanaman padi secara terus Pembangunan bangunan fisik dengan fungsi
lahan basah
menerus sesuai dengan pola tanam
yang tidak mendukung kegiatan pertanian
tertentu
Pemanfaatan lahan untuk kegiatan pertanian
Penanaman tanaman selain padi,
bukan lahan basah
dengan mempertimbangkan tingkat
ketersediaan air dan optimalitas
kemampuan produksi
Pemanfaatan
untuk pembangunan
infrastruktur
penunjang
kegiatan
pertanian (irigasi)
Kawasan
Kegiatan pemisahan, pemeliharaan dan Pemanfaatan lahan untuk fungsi-fungsi non
Perikanan dan kelautan
pendinginan ikan
perikanan
Pemanfaatan lahan untuk bangunan Pemanfaatan lahan untuk fungsi-fungsi yang
pendinginan ikan secara sementara,
berdampak negatif terhadap keseimbangan
penyimpanan pakan ikan dan bangunan
ekologis
penunjang kegiatan perikanan lainnya
Kawasan
Pemanfaatan
lahan
untuk Pemanfaatan lahan untuk fungsi-fungsi yang
Industri
pembangunan
bangunan
dan
berdampak negatif terhadap keseimbangan
infrastruktur yang menunjang kegiatan
ekologis
industri
Membangun/ mengembangkan kegiatan
Penguasaaan/pemilikan tanah yang
yang tidak sesuai dengan kegiatan industri
telah ada dan tidak sejalan sengan
kegiatan industri, dengan syarat tidak
diintensifkan ataupun diekstensifkan
(pada kawasan industri)
Penguasaan, pemilikan penggunaan dan
pemanfaatan tanah yang telah ada,
sepanjang mendukung kegiatan utama
diizinkan (pada wilayah industri)
Sumber: Olah Data RTRW Kabupaten Batubara tahun 2013-2033

Pada pengendalian pemanfaatan ruang juga terdapat ketentuan perizinan dan arahan sanksi. Ketentuan perizinan
adalah ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah sesuai kewenangannya yang harus dipenuhi
oleh setiap pihak sebelum pemanfaatan ruang, yang digunakan sebagai alat dalam melaksanakan pembangunan
keruangan yang tertib sesuai dengan rencana tata ruang yang telah disusun dan ditetapkan. Ketentuan perizinan harus
dipenuhi untuk mendapatkan tanda legal sehingga memenuhi syarat dalam pemanfaatan ruang, serta untuk
menghindari konflik yang kemungkinan terjadi pada masa yang akan datang.
Sementara itu, arahan sanksi adalah arahan untuk memberikan sanksi bagi siapa saja yang melakukan
pelanggaran pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang yang berlaku. Sanksi diperlukan untuk
mencegah dan mengatasi adanya kemungkinan muncul pelanggaran pemanfaatan ruang. Pada pembahasan ini
belum dapat dijelaskan mengenai sistem perizinan dan arahan sanksi dalam pengendalian pemanfaatan ruang,
dikarenakan adanya keterbatasan dokumen dan data yang diperoleh.

F. KELEMBAGAAN
Pelabuhan Kuala Tanjung terletak di Pantai Timur Provinsi Sumatera Utara dan secara administratif berada di
Kabupaten Batubara dengan letak geografis pada posisi 03 22 30 LU dan 99 26 00 BT. Beroperasi sejak tahun
1981 dan dibangun sebagai pelabuhan penunjang untuk kegiatan Pabrik PT. INALUM. Berdasarkan surat Direktru
Jenderal Perhubungan Laut Nomor PP.001/I/14DJPL-12 tanggal februari 2012 tentang Penetapan Rencana Induk
Pelabuhan Kuala Tanjung serta surat Gubernur Sumatera Utara No,or 552/6568 tanggal 21 September 2006 perihal
Rekomnedasi Master Plan Pelabuhan Kuala Tanjung dan Tanjungalai Asahan dan juga surat Bupati Asahan nomor
902/1935 tanggal 8 maret 2006 perihal Rekomendasi Rekomnedasi Master Plan Pelabuhan Bagan Asahan dan
Pelabuhan Kuala Tanjung Kabupaten Asahan Sumatera Utara. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggara urusan
pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bupati dan perangkat
daerah sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah dan Bupati Batu Bara serta Badan Usaha Pelabuhan
Milik Daerah, yang selanjutnya disebut BUP adalah Badan Usaha Pelabuhan Milik Pemerintah Daerah.
Perseroan Terbatas Pelabuhan Kuala Tanjung Indonesia yang untuk selanjutnya disebut PT. Pelabuhan Kuala
Tanjung Indonesia atau perseroan adalah Perusahaan terbatas Pelabuhan Kuala Tanjung Indonesia, yang merupakan
Badan Usaha Milik Daerah yang didirikan dan dimiliki oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Batu Bara, Pihak lain adalah
perorangan atau Badan Hukum Swasta, BUMN, dan/atau BUMD milik Pemerintah Provinsi/Pemerintah
Kabupaten/Kota lainnya, rapat umum Pemegang Saham, Dewan Komisaris, dan Direksi.
Dewan Komisaris adalah Organ Perseroan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus
sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasehat kepada Direksi. Komisaris Utama BUP PT. Pelabuhan Kuala
Tanjung Indonesia Kabupaten Batu Bara serta rapat Umum Pemegang Saham, yang selanjutnya disebut RUPS,
adalah Organ Perseroan BUP PT. Pelabuhan Kuala Tanjung Indonesia Kabupaten Batu Bara, yang memegang
kekuasaan tertinggi dalam Perseroan yang mempunyai wewenang yang tidak diberikan kepada Direksi atau Dewan
Komisaris dalam batas yang telah ditentukan dalam Anggaran Dasar Perseroan dan/atau undang-undang yang
mengatur tentang Perseroan Terbatas. Ruang lingkup kegiatan usaha PT. Pelabuhan Kuala Tanjung Indonesia
Kabupaten Batu Bara meliputi antara lain, sebagai berikut:
Penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untuk bertambat;
Pengelolaan ship to ship (STS) transfer area diperairan Kabupaten Batu Bara;
Tank cleaning;
Peralatan untuk lalu lintas dan berlabuhnya kapal;
Jasa-jasa yang berhubungan dengan pemanduan (pilotage) penundaan kapal;
Pergudangan dan tempat penimbunan barang, alat bongkar muat serta peralatan pelabuhan;
Penyediaan listrik bahan bakar minyak, air minum, instalasi limbah pembuangan dan kebutuhan kapal lainnya;
Dermaga dan fasilitas lainnya untuk bertambat bongkar muat barang termasuk hewan dan fasilitas naik dan
turunnya penumpang;
Jasa terminal, kegiatan konsolidasi dan distribusi barang termasuk hewan;
Pendidikan dan pelatihan yang berkaitan dengan kepelabuhanan ;
Jasa persewaan fasilitas dan peralatan bidang kepelabuhanan;
Jasa perbaikan dan fasilitas dan peralatan bidang kepelabuhanan;
Properti di daerah lingkungan pelabuhan;
Waralaba dan usaha restoran dilingkungan pelabuhan;
Jasa depo peti kemas;
Jasa konsultasi, komunikasi dan konstruksi dibidang kepelabuhanan;

Pengelolaan dan pengembangan badan usaha pelabuhan;


Jasa Pengerukan dan Reklamasi
Jasa Keagenan Kapal
Jasa Perawatan dan Perbaikan Kapal
Jasa Tempat tunggu Kendaraan Bermotor.
Anggaran Dasar adalah Anggaran Dasar PT. Pelabuhan Kuala Tanjung Indonesia Kabupaten Batu Bara serta
yang menjadi indikasi sumber pendanaan terdiri dari dana pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah
kabupaten, swasta, kerjasama pemerintah - swasta, dan masyarakat dan Indikasi pelaksana kegiatan terdiri dari
pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, swasta dan masyarakat dan juga Indikasi p rogram
utama jangka menengah lima tahunan, indikasi sumber pendanaan, indikasi pelaksana kegiatan, dan waktu
pelaksanaan secara lebih rinci disajikan pada Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Daerah ini.
Landasan hukum kegiatan penyusunan pedoman pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang
Pelabuhan Kuala tanjung adalah bedasarkan kebijakan sebagai berikut:
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 20 Tahun 2012: Rencana Induk Pelabuhan Kuala Tanjung.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan Peraturan Pemerintah
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Kepelabuhan, diatur bahwa untuk kepentingan
penyelenggaraan pelabuhan dan memberikan pedoman bagi pembangunan dan pemgembangan pelabuhan.
Peraturan Daerah Kabupaten Batu Bara Nomor 10 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Batu Bara Tahun 2013-2033.

DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Utara Nomor 7 Tahun 2003 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi
Sumatera Utara Tahun 2003-2018.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Pulau Sumatera.
Peraturan Daerah Kabupaten Batu Bara Nomor 10 Tahun 2013 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
Batu Bara Tahun 2013-2033.