Anda di halaman 1dari 100

ii

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kami ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
kemudahan, kesabaran, serta kekuatan kepada penulis dalam menyusun produk mata kuliah
Studio Perencanaan ini. Dalam menyelesaikan produk mata kuliah Studio Perencanaan ini tidak
lepas dari pihak-pihak yang telah mendukung, membantu, serta memberi masukan untuk
menjadikan produk mata kuliah Studio Perencanaan ini lebih baik. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr. Fajar Hari Mardiansyah, Dr. Ing. Wisnu Pradoto, Dr. Ing. Wiwandari Handayani,
Sariffuddin, MT, dan Anang Wahyu Sejati, MT selaku tim dosen pengampu yang telah
memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan laporan akhir ini;
2. Orang tua yang selalu memberikan dukungan dalam semangat dan doa untuk
kelancaran penyusunan produk mata kuliah Studio Perencanaan ini;
3. Pak Komaris yang telah meminjamkan rumahnya sebagai tempat tinggal sementara
kelompok Bondokenceng selama satu minggu di Kabupaten Kendal;
4. Serta masih banyak lagi pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan
akhir ini yang tidak dapat disebut satu per satu.
Dalam penyusunan produk mata kuliah Studio Perencanaan ini, penulis menyadari
bahwa produk yang telah tersusun ini masih jauh dari sempurna. Namun penulis berharap,
produk perencanaan yang telah disusun dapat bermanfaat untukbekal pembelajaran
kedepannya.
Semarang, 6 Januari 2016

Penulis
Kelompok 2B Studio Perencanaan

STUDIO PERENCANAAN
BONDOKENCENG, KABUPATEN KENDAL
(TKP 437P)

Kelompok 2B
Septian Edo A P
Arief Adhika Widyatama
Sari Sadtyaningrum
Kiki Andriani
Guntur Pamungkas
Ahmad Dayrobi
Halimatussadiah
Putri Auliza Wulandari
Rizka Nur Oktafiani
Aida Ulfa Faza
Deanira Chikita Edelweis
Dhita Mey Diana
Aqib Abdul Aziz
Bayu Rizqi
Nafisah Anas
Intan Hasiani Pasaribu

21040113130136
21040112170001
21040112170002
21040113120006
21040113120010
21040113120012
21040113120016
21040113120018
21040113120020
21040113120028
21040113120034
21040113120038
21040113120040
21040113120050
21040113120054
21040113120056

Siti Kurniawati
Godlive Handel Immanuel
Intan Hapsari Hasmantika
Brillian Syafiria
Iswahyudi Anton
Mazaya Ghaizani N
Noval Pinasthika
Artha Segnita
Sally Indah N
Ayu Setya Kemalasari
Nurul Almira
Yoshe Rezky A M P
Laras Kun Rahmanti
Yoga Bagas Saputra
Ahmad Aulia Nur Haq

21040113120062
21040113120064
21040113130068
21040113140076
21040113130082
21040113140086
21040113130090
21040113130094
21040113130096
21040113140102
21040113130104
21040113130106
21040113130114
21040113130116
21040113130120

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

iii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan dan Sasaran
1.3.1 Tujuan
1.3.2 Sasaran
1.4 Ruang Lingkup Perencanaan
1.4.1 Ruang Lingkup Substansi
1.4.2 Ruang Lingkup Wilayah
1.5 Kerangka Pikir
1.6 Sistematika Penulisan
BAB II PROFIL WILAYAH
2.1 Konstelasi Wilayah
2.2 Aspek Keruangan
2.2.1 Karakteristik Fisik Lahan
2.2.2 Infrastruktur
2.2.3 Karakteristik Keruangan Wilayah
2.3 Aspek Non-Fisik
2.3.1 Kependudukan
2.3.2 Perekonomian
2.3.3 Kebijakan Pemerintah
BAB III POTENSI DAN PERMASALAHAN
3.1 Potensi Wilayah
3.2 Masalah Wilayah
BAB IV TUJUAN DAN KONSEP PERENCANAAN
4.1 Tujuan
4.2 Konsep Perencanaan Wilayah
4.2.1 Justifikasi Konsep
4.2.2 Best Practice Smart Growth
4.3 Sasaran
BAB V STRATEGI DAN INDIKASI PROGRAM
5.1 Sasaran 1
5.1.1 Strategi 1
5.1.2 Strategi 2
5.2 Sasaran 2
5.2.1 Strategi 1
5.3 Sasaran 3
5.3.1 Strategi 1
5.4 Sasaran 4
5.4.1 Strategi 1
5.5 Sasaran 5

ii
iii
v
vii
1
1
2
3
3
3
3
3
3
5
5
7
8
8
8
12
24
26
26
30
36
41
41
44
51
51
52
54
55
56
57
57
57
59
60
60
63
63
66
66
67

iv
5.5.1 Strategi 1
5.5.2 Strategi 2
5.6 Sasaran 6
5.6.1 Strategi 1
5.6.2 Strategi 2
5.6.3 Strategi 3
5.6.4 Strategi 4
BAB VI STRUKTUR DAN POLA RUANG
6.1 Dasar Penyusunan Rencana Struktur dan Pola Ruang
6.1.1 Proyeksi Penduduk Bondokenceng
6.1.2 Rencana Pusat Permukiman
6.2 Rencana Struktur Ruang
6.3 Rencana Pola Ruang
DAFTAR PUSTAKA

67
67
68
68
69
70
71
73
73
73
73
75
78
81

v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1
Gambar 1.2
Gambar 2.1
Gambar 2.2
Gambar 2.3
Gambar 2.4
Gambar 2.5
Gambar 2.6
Gambar 2.7
Gambar 2.8
Gambar 2.9
Gambar 2.10
Gambar 2.11
Gambar 2.12
Gambar 2.13
Gambar 2.14
Gambar 2.15
Gambar 2.16
Gambar 2.17
Gambar 2.18
Gambar 2.19
Gambar 2.20
Gambar 2.21
Gambar 2.22
Gambar 2.23
Gambar 2.24
Gambar 2.25
Gambar 2.26
Gambar 2.27
Gambar 2.28
Gambar 2.29
Gambar 2.30
Gambar 2.31
Gambar 2.32
Gambar 2.33
Gambar 2.34
Gambar 2.35
Gambar 2.36
Gambar 2.37
Gambar 2.38
Gambar 2.39
Gambar 2.40
Gambar 2.41

Peta Administrasi Bondokenceng


Kerangka Pikir
Konstelasi Wilayah
Peta Hidrogeologi Bondokenceng
Peta Hidrologi Bondokenceng
Peta Rawan Bencana Banjir Bondokenceng
Peta LP2B Bondokenceng yang Rawan Bencana Banjir
Peta Daya Dukung Lahan Bondokenceng
Peta Penggunaan Lahan Bondokenceng
Peta Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Bondokenceng
Peta Kesesuaian Lahan Bondokenceng
Peta Jalan Berdasarkan Fungsi di Bondokenceng
Peta Jalan Rusak Berdasarkan Fungsidi Bondokenceng
Kondisi Jalan Rusak Berat dan Sedang di Bondokenceng
Peta Trayek Kurus dan Trayek Gemuk di Bondokenceng
Peta Trayek Angkutan Umum Bondokenceng
Peta Lokasi Stasiun Kalibodri di Kelurahan Tegorejo
Presentase Pengguna Air Bersih Bondokenceng
Drainase Sekunder Kecamatan Cepiring
TPS di Kelurahan Ketapang, Kota Kendal
Jamban pada Pinggir Sungai
Ketersediaan Infrastruktur Pendidikan di Bondokenceng
Peta Jangkauan Sarana Pendidikan di Bondokenceng
Peta Jangkauan Sarana Kesehatan di Bondokenceg
Peta Jangkauan Sarana Peribadatan di Bondokencengg
Sarana Peribadatan di Bondokenceng
Kantor Kelurahan dan Kantor Urusan Agama di Bondokenceng
Peta Pusat Kawasan Permukiman Bondokenceng
Struktur Ruang Eksisting Bondokenceng
Pola Ruang Eksisting Bondokenceng
Grafik Jumlah Penduduk Bondokenceng Tahun 2005-2014
Peta Kepadatan penduduk Penduduk Bondokenceng Tahun 2014
Piramida Penduduk tiap kecamatan di Bondokenceng Tahun 2014
Presentase Jumlah Penduduk menurut Tingkat Pendidikan Bondokenceng
Grafik Jumlah Pengangguran di Bondokenceng Tahun 2014
Presentase Jumlah Pengangguran di Bondokenceng terhadap Kabupaten
Kendal Tahun 2014
Grafik Jumla Keluarga Miskin di Bondokenceng Tahun 2014
Presentase Jumlah Penduduk Miskin di Bondokenceng terhadap
Kabupaten Kendal Tahun 2014
Peta Sebaran UMKM
UMKM Unggulan di Bondokenceng
Kegiatan Pertanian di Bondokenceng
Peta Prioritas Pengembangan Komoditas Padi Sawah Sektor Pertanian di
Bondokenceng
Peta LP2B di Bondokenceng

4
5
7
8
8
9
9
10
11
11
11
13
14
14
15
15
16
17
18
19
19
20
21
21
21
22
23
24
25
25
26
26
27
28
28
28
29
29
30
30
32
33
33

vi
Gambar 2.42
Gambar 2.43
Gambar 2.44
Gambar 2.45
Gambar 3.1
Gambar 3.2
Gambar 3.3
Gambar 3.4
Gambar 4.1
Gambar 5.1
Gambar 5.2
Gambar 5.3
Gambar 5.4
Gambar 5.5
Gambar 5.6
Gambar 5.7
Gambar 5.8
Gambar 5.9
Gambar 5.10
Gambar 5.11
Gambar 5.12
Gambar 5.13
Gambar 5.14
Gambar 5.15
Gambar 5.16
Gambar 5.17
Gambar 5.18
Gambar 5.19
Gambar 5.20
Gambar 6.1
Gambar 6.2
Gambar 6.3
Gambar 6.4

Produksi Hasil Perikanan Air Tawar Bondokenceng


Produksi Hasil Perikanan Air Payau Bondokenceng
Peta Potensi Wisata Alam di Bondokenceng
Pantai Kartikajaya dan Pantai Muara Kencana
Peta Potensi Bondokenceng
Skema Potensi Bondokenceng
Skema Masalah Bondokenceng
Skema Tantangan Bondokenceng
Skema Konsep Bondokenceng
Dokumentasi Gerakan Sejuta Biopori Kota Bandung
Peta Rencana Persebaran Embung Bondokenceng
Peta Rencana Jaringan Persampahan Bondokenceng
Pasar Segaman Purbalingga
Peta Rencana Persebaran SMP di Bondokenceng
Peta Rencana Persebaran SMA di Bondokenceng
Peta Rencana Persebaran Puskesmas di Bondokenceng
Peta Rencana Persebaran Perbaikan Jalan Rusak Bondokenceng
Multmodal Mexico City
Metro di Las Vegas
Peta Rencana Trayek Angkutan Umum Bondokenceng
Electronic Road Pricing di Singapura
Tampilan Menu Website Pemerintahan Korea Selatan
Pertanian di Kota Chendu, Tiongkok
Sentra Industri Batik di Kota Pekalongan
Peta Rencana Pengembangan Sentra industri Bondokenceng
Taman Raya Ngurah Rai, Bali
Rencana Sentra Industri Kendal
Taman Raya Ngurah Rai, Bali
Desain 3D Lokasi Wisata Bondokenceng
Grafik Proyeksi Penduduk 2005-2035
Peta Rencana Pusat Permukiman 2035
Peta Rencana Struktur Ruang Tahun 2035
Peta Rencana Pola Ruang Tahun 2035

34
34
35
36
43
44
48
49
52
58
58
60
61
62
62
63
64
64
64
65
65
66
68
68
69
70
70
70
71
73
74
76
78

vii
DAFTAR TABEL
Tabel II.1
Tabel II.2
Tabel II.3
Tabel II.4
Tabel II.5
Tabel II.6
Tabel II.7
Tabel II.8
Tabel III.1
Tabel III.2
Tabel III.3
Tabel VI.1
Tabel VI.2
Tabel VI.3

Tabel Skoring Daya Dukung Lahan Bondokenceng


Panjang Jalan Rusak per Kecamatan Bondokenceng
Penyediaan Prasarana Persampahan Bondokenceng
Presentase Besaran Daya Listrik yang Digunakan Oleh Penduduk
Bondokenceng
Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Wilayah
Bondokenceng Tahun 2014
UMKM Unggulan di Bondokenceng
Tinggkat Prioritas Padi Sawah Bondokenceng Tahun 2010-2014
Status Dan Peran Organisasi di Kabupaten Kendal
Potensi, Kendala dan Tantangan di Bondokenceng
Masalah dan Fakta
Tantangan
Penambahan Sarana
Kebutuhan Infrastruktur
Sistem Pusat Pelayanan dalam Struktur Ruang

10
13
18
20
27
31
32
38
41
44
49
74
75
76

1
BAB I
PENDAHULUAN

Sumber:www.2indonesia.com

1.1 Latar Belakang


Perencanaan
adalah
suatu
proses
menentukan apa yang ingin dicapai di masa
yang akan datang serta menetapkan tahapantahapan
yang
dibutuhkan
untuk
mencapainya (Alder, 1999). Perencanaan
wilayah dan kota merupakan salah satu
cabang perencanaan yang berkaitan dengan
perancangan dan penempatan kegiatankegiatan dan infrastruktur secara efisien
pada suatu lahan yang luas (Wahyono,
2007:30).
Dalam laporan ini, yang menjadi wilayah
perencanaan ialah wilayah Bondokenceng
yang mencakup lima kecamatan di
Kabupaten Kendal yaitu Kecamatan Patebon,
Pegandon, Kota Kendal, Cepiring, serta
Ngampel. Kelima kecamatan tersebut
dibedakan menjadi Area Regional serta
Fokus Area. Terdapat 2 fokus area yakni
Fokus Area Kota Kendal dan Fokus Area
Pegandon-Ngampel. Penetapan fokus area
didasarkan dari isu-isu yang ada di masa
sekarang dan berdampak di masa depan.
Adapun isu-isu strategis tersebut ialah
adanya pembangunan KIK (Kawasan Industri
Kendal) dan Trans Tol Jawa. Fokus Area Kota
Kendal dipilih karena pada wilayah ini perlu
dilakukan peningkatan fungsi dan kapasitas
terkait fungsinya sebagai ibukota Kabupaten
Kendal untuk memberikan pelayanan kepada

masyarakat. Selain itu, letaknya yang dekat


dengan kawasan industri di Kaliwungu juga
membuat fokus area ini perlu direncanakan
sebagai permukiman baru bagi para tenaga
kerja industri. Adapun Fokus Area PegandonNgampel dipilih untuk menghadapi rencana
pembangunan pintu keluar jalan Tol Trans
Jawa. Kedua fokus area ini perlu
direncanakan agar tidak berkembang
menjadi permukiman sprawl, serta harus
saling terhubung dan terintegrasi sebagai
satu kesatuan yang saling mendukung dalam
satu kawasan Bondokenceng.
Dari sudut pandang permasalahan, kawasan
Bondokenceng
memiliki
permasalahan
utama yaitu:
Belum optimalnya Bondokenceng dalam
menjalankan peran dan fungsinya sebagai
pusat pelayanan (ibukota) Kabupaten
Kendal.
Dari permasalahan ini, dirumuskan tujuan
perencanaan yaitu:
Mewujudkan Bondokenceng sebagai
pusat pelayanan dan permukiman,
terintegrasi dan berdaya saing pada tahun
2035.
Melihat dari isu dan permasalahan ini, maka
diusunglah suatu konsep perencanaan yang
dapat
menyelesaikan
permasalahan
perencanaan dan mewujudkan tujuan
perencanaan. Konsep tersebut ialah konsep
Smart Growth. Konsep ini memusatkan
pertumbuhan suatu kota hanya pada pusat
kota untuk menghindari urban sprawl serta
berkaitan juga dengan pengembangan
transportasi publik dan juga mixed-use land.
Sedangkan untuk Fokus Area Kota Kendal
mengusung konsep Superblock dan Fokus
Area Pegandon-Ngampel mengusung konsep
New Urbanism. Kedua konsep tersebut
merupakan implementasi dari konsep Smart
Growth,
tetapi
disesuaikan
dengan

2
permasalahan dan tujuan dari masingmasing fokus area.

Bondokenceng
Bondokenceng./Bon.do.ken.ceng/(n.)
merupakan wilayah perencanaan yang
terdiri dari lima kecamatan, yaitu
Kecamatan Patebon, Kecamatan Pegandon,
Kecamatan Kota Kendal, Kecamatan
Cepiring, dan Kecamatan Ngampel, yang
memiliki luas wilayah 166,87 km2, dimana
berbatasan langsung dengan Kawasan
Industri Kendal (KIK) yang berada di
Kaliwungu. Bondokenceng sebagai orde 1
di Kabupaten Kendal memiliki dua fokus
area yaitu Fokus Area Kota Kendal dengan
konsep perencanaan superblock dan Fokus
Area Pegandon-Ngampel dengan konsep
perencanaan new urbanism.
Setelah menentukan semua kebutuhan
terkait perencanaan baik Regional maupun
Fokus Area, kemudian dibentuk sasaransasaran serta indikasi-indikasi program dari
tiap sasaran. Selain itu, ditentukan pula
jangka waktu pelaksanaan tiap program
serta pihak-pihak terkait sesuai dengan
perannya
agar
perencanaan
dapat
dilaksanakan dengan sistematis, terorganisir,
efektif, dan efisien. Hasil dari perencanaan ini
kemudian divisualisasikan ke dalam Rencana
Strukur Ruang, Rencana Jaringan, Rencana
Pola Ruang, serta Rancangan Desain
Perkotaan bagi masing-masing Fokus Area.

1.2 Rumusan Masalah


Perencanaan wilayah bukanlah suatu hal
yang mudah untuk dilakukan. Selalu ada
permasalahan dan tantangan yang akan
dihadapi, baik di masa sekarang ataupun di
masa yang akan datang. Permasalahan utama
yang ada di wilayah Bondokenceng adalah
belum optimalnya Bondokenceng dalam
menjalankan peran dan fungsinya sebagai
pusat pelayanan (ibukota) di Kabupaten
Kendal. Hal ini dibuktikan oleh beberapa hal
seperti pelayanan sarana penunjang yang
belum
menjangkau
seluruh
wilayah,
rendahnya kualitas SDM, kinerja ekonomi

yang belum optimal, sistem jaringan


infrastruktur yang belum terintegrasi dan
lahan terbangun yang tidak kompak.
Ironisnya, Bondokenceng yang seharusnya
menjadi pusat keramaian dan pusat
pelayanan justru masih kalah bersaing
dengan wilayah lain seperti Kaliwungu.
Selain permasalahan utama tersebut,
Bondokenceng memiliki sejumlah isu yang
sedang berkembang, yaitu isu pembangunan
KIK di Kaliwungu dan pembangunan Tol
Trans Jawa. Dengan adanya pembangunan
KIK di Kaliwungu tentu saja akan
berpengaruh besar terhadap Bondokenceng.
Kaliwungu akan menjadi suatu tujuan baru
bagi sejumlah tenaga kerja industri dan
otomatis akan mengalami ledakan penduduk
terkait pembangunan KIK. Jika kapasitas
Kaliwungu sudah tidak mencukupi tentu saja
Bondokenceng menjadi tujuan baru bagi para
pendatang tersebut. Pendatang tersebut
tentunya membutuhkan tempat untuk
bertempat tinggal. Hal inilah yang nantinya
akan menimbulkan titik-titik permukiman
baru di Bondokenceng dan berpotensi untuk
terjadi urban sprawl. Sedangkan untuk
pembangunan jalan Tol Trans Jawa ini
berdampak pada Bondokenceng karena
menurut rencana, pintu keluar Tol Trans
Jawa berada di Kelurahan Margomulyo,
Kecamatan Pegandon. Dengan adanya pintu
keluar tol ini, tentu saja akan mendorong
munculnya pusat-pusat permukiman baru di
sekitarnya. Hal inilah yang nantinya juga
berpotensi untuk mendorong terjadinya
urban sprawl di Bondokenceng.
Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu konsep
perencanaan yang tepat dan sesuai untuk
mengembangkan wilayah Bondokenceng.
Konsep
ini
harus
mampu
untuk
mengembangkan fungsi perkotaan dari
Bondokenceng agar dapat menjalankan
fungsinya sebagai ibukota Kabupaten, tetapi
tidak menghilangkan peran Bondokenceng
sebagai salah satu wilayah ketahanan pangan

3
(LP2B). Selain itu konsep tersebut nantinya
diharapkan mampu untuk mengatasi semua
permasalahan yang ada di masa sekarang
serta dapat menjawab tantangan-tantangan
di masa mendatang yang ada di Bondokenceng.

1.3 Tujuan dan Sasaran


1.3.1 Tujuan
Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah
untuk
menjelaskan
karakteristik
Bondokenceng
beserta
isu-isu
dan
permasalahan yang ada di dalamnya. Dari isu
dan permasalahan tersebut, dapat dijelaskan
tujuan perencanaan yang berpedoman pada
konsep perencanaan yang dipilih. Tujuan
tersebut kemudian dijabarkan ke dalam
sasaran-sasaran dan indikasi program,
jangka waktu pelaksanaan program, serta
pihak-pihak terkait sesuai dengan perannya.
Dengan begitu, kegiatan perencanaan ini
nantinya diharapkan akan mampu untuk
mengatasi permasalahan yang ada serta
mengembangkan potensi yang ada, hingga
akhirnya akan mampu memajukan wilayah
studi tersebut.

1.3.2 Sasaran
Untuk mencapai tujuan diperlukan beberapa
sasaran, yaitu:
1. Menyusun profil wilayah secara lengkap
dan
benar,
sehingga
mampu
menggambarkan kondisi wilayah dengan
tepat pada tiga aspek utama, yaitu
ekonomi dan sosial, keruangan, dan
kelembagaan;
2. Menentukan isu-isu strategis dan
permasalahan yang ada di wilayah
perencanaan;
3. Membagi
ruang
lingkup
wilayah
perencanaan menjadi ruang lingkup
Regional dan Fokus Area;
4. Menentukan tujuan perencanaan;
5. Merumuskan konsep perencanaan;
6. Menyusun sasaran serta indikasi
program;
7. Menentukan jangka waktu pelaksanaan
program dan pihak pelaksana;

8. Memetakan hasil perencanaan berupa

Rencana
Strukur
Ruang,
Rencana
Jaringan, Rencana Pola Ruang, serta
Rancangan Desain Perkotaan bagi masingmasing Fokus Area.

1.4 Ruang Lingkup Perencanaan


1.4.1 Ruang Lingkup Substansi
Ruang lingkup substansi pada laporan akhir
ini meliputi kondisi eksisting wilayah,
analisis kondisi eksisting dan perencanaan
wilayah Regional dan Fokus Area Kota
Kendal dan Fokus Area Pegandon-Ngampel.
Adapun konsep yang diterapkan pada
regional adalah konsep Smart Growth, Fokus
Area Kota Kendal dengan konsep Superblock
dan Fokus Area Pegandon-Ngampel dengan
konsep New Urbanism. Adapun aspek-aspek
yang dikaji adalah sebagai berikut:
Aspek karaktersitik fisik alamiah, yang
mencakup fisik lahan; daya dukung lahan;
penggunaan lahan; dan kesesuaian lahan.
Aspek infrastruktur, yang mencakup
jaringan
transportasi;
jaringan
permukimaan perkotaan; serta jaringan
fasilitas umum dan fasilitas sosial.
Aspek keruangan, yang meliputi
kawasan pusat permukiman.
Aspek kependudukan, yang meliputi
jumlah penduduk; kepadatan penduduk;
dan proyeksi penduduk.
Aspek perekonomian, yang mencakup
tipologi klassen; komoditas unggulan; dan
potensi lokal.
Aspek kebijakan pemerintah, yang
mencakup arahan kebijakan dan strategi;
kemitraan pemerintah dan swasta; serta
persepi masyarakat terhadap pelayanan
pemerintah.

1.4.2 Ruang Lingkup Wilayah


Ruang lingkup wilayah studi aspek Regional
bertindak sebagai ruang lingkup wilayah
makro. Wilayah studi makro terdiri dari lima
kecamatan, yaitu Kecamatan Patebon,
Kecamatan Pegandon, Kecamatan Kota
Kendal, Kecamatan Cepiring, dan Kecamatan

Ngampel. Wilayah makro ini disebut


Bondokenceng, yang memiliki luas
wilayah 166,87 km2, dimana sebelah utara
berbatasan dengan Laut Jawa; dan sebelah
barat berbatasan dengan Kecamatan
Kangkung; sebelah timur berbatasan deng-

an Kecamatan Brangsong dan Kecamatan


Kaliwungu
Selatan;
sebelah
selatan
berbatasan dengan Kecamatan Patean dan
Kecamatan Singorojo.

Sumber: Bappeda Kabupaten Kendal, 2011

Gambar 1.1
Peta Administrasi Bondokenceng

5
1.5 Kerangka Pikir
Berikut merupakan alur atau proses perencanaan di wilayah Bondokenceng guna mengatasi
permasalahan serta mengembangkan potensi yang ada.

Sumber: Bappeda Kabupaten Kendal, 2011

Gambar 1.2
Kerangka Pikir

1.6 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan dari penyusunan
laporan ini adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang, ruang lingkup
perencanaan (ruang lingkup substansi dan
ruang lingkup wilayah), kerangka pikir, dan
sistematika
penulisan laporan
yang
digunakan sebagai landasarn dalam
mencapai hasil penyusunan laporan
berdasarkan masalah dan potensi yang ada.
BAB II PROFIL WILAYAH
Bab ini berisi penjelasan tentang konstelasi
wilayah perencanaan baik makro maupun
mikro; aspek keruangan yang meliputi

karakteristik fisik alamiah, infrastruktur,


dan karakteristik keruangan wilayah; dan
aspek
non
fisik
yang
meliputi
kependudukan,
perekonomian,
dan
kebijakan pemerintah. Untuk wilayah
makro merupakan kawasan Regional yaitu
Bondokenceng,
BAB III POTENSI DAN PERMASALAHAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai potensi
dan permasalahan di Bondokenceng.
Potensi dan permasalahan Bondokenceng
ditinjau dari aspek fisik dan sumber daya
alam,
penggunaan
lahan,
populasi/demografi, ekonomi, infrastruktur
dan fasilitas, kelembagaan masyarakat,
serta
aspek
sosial.
Penstrukturan

6
permasalahan ditinjau dari hubungan
antara satu aspek dengan aspek lain serta
prioritasi permasalahan.
BAB IV TUJUAN DAN KONSEP PERENCANAAN
Bab ini berisi tentang tujuan perencanaan di
Bondokenceng serta konsep yang akan di
terapkan guna untuk mencapai tujuan
dalam perencanaan.
BAB V STRATEGI DAN INDIKASI
PROGRAM
Bab ini berisi tentang strategi dan indikasi
program
dalam
perencanaan
di
Bondokenceng yang didapatkan.
BAB VI STRUKTUR DAN POLA RUANG
Bab ini berisi tentang Struktur Ruang
berdasarkan Permen 17 Tahun 2009 serta
Pola Ruang berdasarkan Permen 17 Tahun
2009 dan PP No 8 Tahun 2013.

There are fashions in building. Behind


the fashions lie economic and
technological reasons, and these
fashions exclude all but a few
genuinely different possibilities in city
dwelling construction at any one
time.- Jane Jacobs

Sumber: www.pinterest.com

7
BAB II
PROFIL WILAYAH

2.1 Konstelasi Wilayah


Konstelasi wilayah yang dibahas adalah
hubungan antara kawasan Bondokenceng
sebagai wilayah studi mikro dengan
Kabupaten Kendal. Kabupaten Kendal
merupakan salah satu kabupaten yang
termasuk dalam rencana pembangunan
tingkat nasional. Hal tersebut ditunjukkan
dengan masuknya Kabupaten Kendal ke
dalam Kawasan Perkotaan Kedungsepur
(Kendal Demak Ungaran Semarang Purwodadi) yang menjadi Pusat Kegiatan
Nasional. Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
memiliki fungsi untuk melayani kegiatan
skala internasional, nasional, atau beberapa
provinsi sekitarnya. Kawasan Kedungsepur
ini memiliki sektor unggulan pertanian,
industri, pariwisata, dan perikanan.

Wilayah studi mikro pada laporan ini terdiri


dari lima kecamatan, yaitu Kecamatan
Patebon, Kecamatan Pegandon, Kecamatan
Kota Kendal, Kecamatan Cepiring, dan
Kecamatan Ngampel. Kecamatan Kota
Kendal sebagai ibukota dari Kabupaten
Kendal memiliki fungsi pelayanan yang
lebih besar dari kecamatan-kecamatan
lainnya di Kabupaten Kendal. Kecamatan
Kota
Kendal
membentuk
kawasan
perkotaan dengan wilayah sekitarnya, yaitu
Kecamatan Patebon, Pegandon, Cepiring,
dan Ngampel yang menjadi kawasan
perkotaan. Wilayah Bondokenceng memiliki
fungsi sebagai pusat pelayanan skala
kabupaten (orde 1) yang secara langsung
melayani Kawasan PKL Weleri dan PKL
Kaliwungu yang berada pada orde di
bawahnya, yakni orde 2.

Provinsi Jawa
Tengah
Kabupaten
Kendal

Wilayah
Bondokenceng
Sumber: Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 2.1
Konstelasi Wilayah

8
2.2 Aspek Keruangan
Pembahasan aspek keruangan meliputi karakteristik fisik alamiah, infrastruktur, dan
karakteristik keruangan wilayah.

2.2.1 Karakteristik Fisik Lahan


A. Hidrogeologi
Wilayah
Bondokenceng
memiliki
persediaan air tanah yang mencukupi
karena memiliki variasi akuifer yang
termasuk produktif. Hidrogeologi di
wilayah Bondokenceng didominasi oleh
akuifer produktif dengan penyebaran
yang luas. Kondisi ini mampu memenuhi
kebutuhan air bersih harian masyarakat
setempat di mana masyarakat dapat
mendapatkan pasokan air baku dari
daerahnya sendiri, tanpa harus mengimpor dari daerah lain.

B. Hidrologi
Pada Bondokenceng, terdapat tiga sub
daerah aliran sungai, yaitu sub DAS

Sumber : Bappeda Kabupaten Kendal, 2013 (Olah Data)

Gambar 2.2
Peta Hidrogeologi Bondokenceng

Blorong, sub DAS Bodri, dan sub DAS


Lutut. Seluruh wilayah Bondokenceng
mendapat pasokan air dari sungai
Blorong, Bodri, dan Lutut, yang
mengindikasikan bahwa sistem jaringan
irigasi yang menunjang pertanian dapat
dikelola di wilayah Bondokenceng.
Bondokenceng dilewati oleh Sub Das
Bodri yang dominan, dimana daerah
aliran sungai Bodri ini yang menjadi
sangat bermanfaat bagi sebagian besar
masyarakat di Bondokenceng dalam
pemenuhan kebutuhan pengairan sawah
irigasi. Sungai Bodri menjadi salah satu
potensi di wilayah Bondokenceng.

Sumber : Bappeda Kabupaten Kendal, 2013 (Olah Data)

Gambar 2.3
Peta Hidrologi Bondokenceng

9
C. Rawan Bencana Banjir
Terdapat 44% luas lahan dari wilayah
Bondokenceng yang merupakan daerah
rawan bencana banjir. Presentase
tersebut
tergolong
dalam
angka
kerawanan banjir yang tinggi. Daerah
rawan bencana banjir tersebar di bagian
utara Bondokenceng yang merupakan
daerah pusat perkembangan Kabupaten
Kendal.
Berdasarkan
hasil
observasi
dan
wawancara, penyebab bencana banjir di
Bondokenceng adalah masih buruknya
sistem drainase yakni adanya sedimentasi
dan
pencemaran
sungai
oleh
sampah.Kerawanan
bencana
banjir
menjadi salah satu pertimbangan
perencanaan pengembangan wilayah

Sumber: Bappeda Kabupaten Kendal, 2013 (Olah Data)

Gambar 2.4
Peta Rawan Bencana Banjir Bondokenceng

Bondokenceng.Pertimbangan
tersebut
ditujukan agar pengembangan wilayah
Bondokenceng dapat memberikan solusi
terhadap kerawanan banjir.
LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan) merupakan lahan pertanian
pangan yang menjadi salah satu potensi
dalam mewujudkan ketahanan pangan di
Bondokenceng. Namun, jika melihat peta
dalam Gambar 2.4, terlihat bahwa
terdapat LP2B yang termasuk dalam
daerah rawan bencana banjir. Hal ini
berdampak pada kemungkinan gagal
panen oleh para petani. LP2B yang rawan
banjir ini menjadi salah satu masalah
yang
dapat
menggangu
rencana
pengembangan pertanian yang ada di
Bondokenceng.

Sumber: Bappeda Kabupaten Kendal, 2013 (Olah Data)

Gambar 2.5
Peta LP2B Bondokenceng yang Rawan
Bencana Banjir

10
D. Daya Dukung Lahan
Berdasarkan hasil skoring antara
topografi, klimatologi, dan litologi
Bondokenceng didominasi oleh kawasan
budidaya. Sehingga seluruh Bondokenceng dapat dimanfaatkan untuk
aktivitas manusia, baik aktivitas per-

tanian maupun permukiman. Skoring


daya dukung lahan dan persebaran dari
kawasan penyangga dan kawasan
budidaya dapat dilihat pada Tabel II.1.

Tabel II.1
Tabel Skoring Daya Dukung Lahan Bondokenceng
Topografi
Litologi
Klimatologi
KemiJenis
Curah
Kelas
Skor
Kelas
Skor
Kelas
Skor
ringan
Tanah
Hujan

Jumlah

Fungsi

0-8%

20

Aluvial

15

20,8
mm/thn

III

30

65

Kawasan
budidaya

8-15%

II

40

Latosol

II

30

21,7
mm/thn

III

30

100

Kawasan
budidaya

Medite
ran

III

45

22
mm/thn

III

30

Sumber : SK Mentri Kehutanan No.873//UM/II/1980 dan No.683/KPTS/UM/1981

Berdasarkan data skoring pada Tabel


II.1, didapat persebaran fungsi kawasan
atau peta daya dukung lahan di
Bondokenceng yang didominasi oleh
kawasan budidaya. Analisis daya dukung
lahan ini memberikan informasi tentang
fungsi kawasan yang memungkinkan di
suatu wilayah. Kawasan budidaya
Bondo-kenceng ini dapat dimanfaatkan
untuk budidaya kawasan permukiman,
kawa-san budidaya tanaman tahunan
atau tanaman musiman.

Gambar 2.6
Peta Daya Dukung Lahan
Bondokenceng

Sumber : Bappeda Kabupaten Kendal, 2013 (Olah Data)

Kawasan
budidaya

11
E. Penggunaan Lahan
Berdasarkan karakteristik penggunaan
lahan, mayoritas lahan di Bondokenceng
dimanfaatkan untuk kegiatan agraris,
seperti pertanian, perkebunan, dan
tegalan. Hal tersebut dapat dilihat dari
persentase penggunaan lahan mayoritas
yaitu sawah irigasi sebanyak 37%. Sesuai
dengan
karakteristik
aktivitasnya,
Bondokenceng didominasi lahan non
terbangun. Hal tersebut dibuktikan
dengan perbandingan persentase lahan
terbangun dan lahan non terbangun
meliputi pertanian dan pertambakan
yang cukup besar, yaitu 20,90%
berbanding 79,10%. Pemanfaatan lahan
sebagai pertambakan terdapat pada
bagian utara karena lokasinya yang
berdekatan dengan laut. Lahan pertanian
tersebar secara merata di wilayah
Bondokenceng dengan berbagai macam
komoditas. Kecamatan Kota Kendal,

Kecamatan Patebon, dan Kecamatan


Cepiring lebih dimanfaatkan untuk
pertanian padi. Sedangkan Kecamatan
Pegandon dan Kecamatan Ngampel lebih
dimanfaatkan untuk pertanian bawang
dan tembakau.
Persebaran lahan pertanian pangan
berkelanjutan yang ada di Bondokenceng
mencapai 40% dari luas wilayah (lihat
Gambar 2.8). Pemerintah Kabupaten
Kendal telah menetapkan Perda No.13
tahun 2013 tentang Perlindungan Lahan
Pertanian Pangan Berkelanjutan, dimana
lahan pertanian tersebut tidak dapat
dialihfungsikan menjadi lahan terbangun. Pada kondisi eksisting, para
petani LP2B melakukan rotasi tanam
antara 3-4 kali dalam setahun. Tanaman
yang ditanam antara lain padi dan
tembakau.

Sumber: Bappeda Kabupaten Kendal, 2013(Olah Data)

Sumber: Bappeda Kabupaten Kendal, 2013 (Olah Data)

Gambar 2.7
Peta Penggunaan Lahan Bondokenceng

Gambar 2.8
Peta Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
(LP2B) Bondokenceng

12
F. Kesesuaian Lahan
Berdasarkan penggunaan lahan yang ada,
tidak ada lahan terbangun yang terdapat di
kawasan penyangga ataupun kawasan
lindung sehingga persentase lahan yang
tidak sesuai adalah 0%. Dari hasil analisis
ini dapat disimpulkan bahwa di wilayah
Bondokenceng dalam penggunaan lahannya
sudah sesuai dengan karakteristik fisik
wilayah.

Sumber: Bappeda Kabupaten Kendal, 2013 (Olah Data)

Gambar 2.9
Peta Kesesuaian Lahan Bondokenceng

Kesesuaian Lahan merupakan hasil penggabungan atau


overlay dari penggunaan lahan dengan daya dukung lahan. Jika
lahan terbangun terdapat di kawasan penyangga atau kawasan
lindung, maka kawasan tersebut dapat dikategorikan sebagai
kawasan yang membahayakan aktivitas yang ada, dan masuk
dalam kategori penggunaan lahan yang tidak sesuai.

2.2.2 Infrastruktur

A.
Jaringan Transportasi
Pembahasan mengenai jaringan transportasi meliputi jaringan jalan dan sistem transportasi
umum.
1. Jalan
lebih cepat pada kecamatan yang dilewati
Jenis Jalan Berdasarkan Fungsi Jalan
Berdasarkan
fungsinya,
jalan
di
jalan Pantura (Kecamatan Kota Kendal,
Bondokenceng terdiri atas jalan arteri
Patebon serta Cepiring) dibandingkan 2
primer, jalan kolektor, jalan lokal, serta
kecamatan yang tidak dilewati jalur
jalan
lingkungan
(Gambar
2.10).
pantura, yaitu Kecamatan Pegandon dan
Keberadaan jalan arteri primer atau jalan
Ngampel. Aktivitas yang berkembang pada
Pantura ini telah berpengaruh terhadap
daerah yang dilewati jalan Pantura lebih
perkembangan
Kabupaten
Kendal,
condong pada aktivitas perdagangan,
khususnya Bondokenceng. Hal tersebut
pelayanan dan jasa, pendidikan skala
ditunjukkan dengan perkembangan yang
regional, kesehatan skala regional,dan

13

industri. Kawasan tersebut merupakan


kawasan padat penduduk dan menjadi
pusat aktivitas di Bondokenceng.

Jalan Berdasarkan Kondisinya

Secara umum, dapat disimpulkan bahwa


kondisi jalan yang ada di Bondokenceng
cukup baik, dengan 86,6% jalan sedang
dan baik, sedangkan 13,4% mempunyai
kondisi jalan rusak. Kondisi jalan rusak
di
Bondokenceng
diklasifikasikan
menjadi 2, yaitu jalan rusak sedang
(jalan dengan perkerasan mengelupas
hanya sebagian dari total badan jalan)
dan jalan rusak berat (jalan dengan
perkerasan aspal berlubang pada hampir
seluruh
bagian
badan
jalan).
Rekapitulasi
kerusakan
jalan
Bondokenceng pada Tabel II.2.

Sumber: Bappeda Kabupaten Kendal, 2011 (Olah Data)

Gambar 2.10Peta Jalan Berdasarkan Fungsi di Bondokenceng

Tabel II.2
Panjang Jalan Rusak Per Kecamatan Bondokenceng
Panjang jalan
Panjang jalan
Panjang jalan
rusak sedang(km)
rusak berat(km)
total (km)

Kota Kendal

7,86

84,2

Persentase
jalan rusak (%)
9,33

Patebon

11,8

0,8

140,7

8,95

Cepiring

9,4

4,7

85,4

16,51

Pegandon

1,3

12,2

43

31,39

Ngampel

0,7

6,6

74,59

9,78

Total

31,06

24,3

427,89

13,4

Kecamatan

Sumber:Observasi Lapangan Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

14
Berdasarkan Gambar 2.11, dapat dilihat
bahwa jalan rusak berat terpanjang ada di
Kecamatan Pegandon, yaitu
Jalan
Pegandon Raya. Jalan kolektor ini
memiliki kondisi jalan yang berlubang
serta perkerasan aspal yang mengelupas
menyebabkan adanya genangan air saat
musim
hujan.
Berdasarkan
hasil
wawancara dari masyarakat sekitar,
pengaduan masyarakat terkait kerusakan
jalan belum dapat dipenuhi dengan
maksimal dan cepat karena terbatasnya
dana APBD.

Sumber: Bappeda Kabupaten Kendal, 2011 (Olah Data)

Gambar 2.11
Peta Jalan Rusak Berdasarkan Fungsi di
Bondokenceng

(a)

Sumber: Observasi Lapangan Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

(b)

Gambar 2.12Kondisi jalan rusak berat di Jalan Pegandon Raya (a); dan Kondisi jalan rusak sedang
di Jalan Lokal Penghubung Donosari-Bulugede (b)

Sementara itu, kondisi jalan rusak sedang ditemui di jalan lokal penghubung desa di Kecamatan
Patebon bagian barat, yaitu Desa Bulugede, Margosari, Tambakrejo, maupun Donosari. Kondisi
jalan lokal penghubung desa-desa tersebut bergelombang, berlubang serta perkerasannya
mengelupas. Jalan rusak menyebabkan mobilitas masyarakat menjadi terhambat, kegiatan
pengangkutan hasil komoditas pertanian terganggu, resiko kecelakaan hingga menyebabkan
trayek kurus. Trayek yang melewati jalan-jalan rusak tersebut memiliki pelayanan yang tidak
optimal serta jam operasinya hanya setengah hari.

15
Sistem Transportasi Umum
Terdapat total 7 trayek angkutan umum
dengan 3 di antaranya merupakan trayek
kurus, yaitu trayek dengan frekuensi
perjalanan dan jumlah armada yang
rendah. Ketiga trayek tersebut adalah
trayek 1 di Kecamatan Ngampel, trayek 7
di Kecamatan Cepiring, dan trayek 20 di
Kecamatan Pegandon-Ngampel (Gambar
2.13). Ketiga trayek kurus tersebut
berada pada jalan dengan kondisi rusak
berat, hal tersebut dapat menjadi penyebab
rendahnya frekuensi perjalanan dan
jumlah armada yang melayani trayek.
Pelayanan trayek angkutan umum yang
terbatas tersebut mengakibatkan belum
puasnya masyarakat terhadap pelayanan
angkutan umum.

Selain itu, hasil survei menunjukkan bahwa


masyarakat belum puas terhadap pelayanan
angkutan umum dikarenakan lama waktu
tunggu angkutan umum yang rata-rata
masih di atas 15 menit. Sebesar 55%
responden harus menunggu lebih dari 15
menit, 32,5% responden menungguantara 510 menit dan selebihnya, sebesar 12,5%
menunggu kurang dari 5 menit. Pada tiga
kecamatan dengan trayek kurus, persentase
tersebut berubah menjadi 69% menunggu
lebih dari 15 menit, 28% menunggu antara 5
hingga 15 menit sementara hanya 3% di
antaranya menunggu selama kurang dari 5
menit.
Belum puasnya masyarakat terhadap
pelayanan angkutan umum berpengaruh
pada keengganan masyarakat untuk
menggunakan
angkutan
umum
dan
preferensi masyarakat terhadap penggunaan
kendaraan
pribadi.
Hal
tersebut
menunjukkan bahwa
perjalanan yang
dilakukan oleh masyarakat Bondokenceng
masih sangat tergantung pada kendaraan
pribadi. Kondisi tersebut berpotensi
menimbulkan terjadinya kesenjangan akibat
dari
kemudahan
dalam
mengakses
transportasi umum dan kesempatan untuk
melakukan perjalanan serta kesenjangan
secara spasial dalam hal pemerataan
fasilitas.

Sumber: Hasil Observasi Kelompok 2B Studio


Perencanaan, 2015

Gambar 2.13 Peta Trayek Kurus dan Trayek


Gemuk di Bondokendeng

Sumber: www.pinterest.com

16

Fasilitas Transportasi Umum: Stasiun

Berdasarkan observasi lapangan, terdapat


stasiun Kalibodri di Kelurahan Tegorejo,
Kecamatan Pegandon. Secara eksisting,
stasiun ini berfungsi sebagai stasiun barang,
yaitu pengangkutan material bangunan
seperti kerikil dari Batang-Weleri-KalibodriKaliwungu-Demak-Grobogan.
Sebelumnya, stasiun ini pernah beroperasi
sebagai stasiun penumpang. Akan tetapi di
tahun 2010 kegiatan angkut penumpang
ditutup karena kurangnya minat penduduk
sehingga
pihak
pengelola
cenderung
rugi.Secara umum, kondisi stasiun ini bersih
dan terawat. Terdapat beberapa fasilitas
umum seperti ruang tunggu, toilet umum,
tempat parkir serta loket. Berdasakan
analisis lokasi, keberadaan stasiun Kalibodri
ini cukup strategis, hanya berjarak sekitar
100 meter dari Jalan Raya Pegandon.
Sumber: Hasil Observasi Kelompok 2B Studio
Perencanaan, 2015

Gambar 2.14 Peta Trayek Angkutan Umum


Bondokenceng

(b)

(a)

Sumber: Observasi Lapangan kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

(b)

Gambar 2.15 Peta Lokasi Stasiun Kalibodri di Kelurahan Tegorejo, Pegandon (a); dan Stasiun
Kalibodri di Kelurahan Tegorejo, Pegandon (b)

17
B. Analisis Jaringan Infrastruktur
Analisis jaringan permukiman perkotaan
meliputi jaringan air bersih, jaringan
drainase, jaringan persampahan, jaringan
sanitasi,
jaringan
listrik,
dan
telekomunikasi.
Jaringan Air Bersih
Sumber air bersih di Bondokenceng
adalah PDAM dan sumur gali. Menurut
telaah dokumen dari setiap kelurahan,
diketahui bahwa persentase pengguna
air bersih dari PDAM dibandingkan
dengan sumur gali, yaitu 52% dan 48%.
Sementara, berdasarkan konsep RPAM,
diharapkan dapat tercapai pelayanan air
minum yang memiliki syarat kualitas,
yaitu standar air minum yang sesuai
dengan Permenkes No. 429/Menkes/
Per/V/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, kemudian secara
kuantitas pasokan air minum mengacu
pada Standar Kebutuhan Pokok Air

Minum
mengacu
pada
standar
Kebutuhan Pokok Air Minum sebesar 10
m3 per kepala keluarga per bulan atau
60 liter per orang per hari (Kementrian
PU, 2013). Jaringan permukiman
perkotaan yang ideal memiliki jaringan
air bersih yang aman dan berkelanjutan.
Setiap rumah tangga yang mengakses
air minum dari sistem perpipaan,
karena sumber air melalui sistem
perpipaan memiliki keunggulan pada
aspek
kuantitas
dan
kualitas
penyediaan air yang dapat diandalkan.
Keunggulan sumber air perpipaan
adalah dapat meminimalisasi efek dari
perubahan cuaca dan iklim serta faktor
lainnya di luar kontrol manusia yang
dapat mempengaruhi kuantitas dan
kualitas air dengan perencanaan teknik
yang baik. Sehingga, kondisi yang ada
saat ini belum menunjukkan kondisi
jaringan perpipaan yang ideal untuk
permukiman perkotaan.

Persentase Pengguna Air Bersih di Bondokenceng

48%

PDAM
52%

Sumur Gali

Sumber: Analisis Telaah Dokumen Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 2.16
Presentase Pengguna Air Bersih Bondokenceng

18

Jaringan Drainase

Berdasarkan hasil observasi, kondisi


jaringan
drainase
di
Wilayah
Bondokenceng secara keseluruhan
masih buruk. Adapun buruknya
jaringan
drainase
di
Wilayah
Bondokenceng
ditunjukkan
oleh
adanya sampah di jaringan drainase
primer, sekunder, dan tersier sehingga
menghambat aliran air. Berdasarkan
hasil observasi, 71,43% saluran
drainase di Wilayah Bondokenceng
dicemari oleh sampah yang berdampak
pada memburuknya kualitas saluran
drainase. Hal tersebut ditunjukkan
dengan pendangkalan sungai oleh
material pasir dan sampah yang pada
akhirnya akan memperkecil kemampuan sungai dalam mengalirkan run off
air hujan dan memberikan dampak
berupa resiko banjir.

Sumber: Hasil Observasi Kelompok 2B Studio


Perencanaan, 2015

Gambar 2.17Drainase Sekunder Kecamatan


Cepiring

Jaringan Persampahan
Berdasarkan analisis standar pelayanan persampahan dari data sekunder BPS Kabupaten
Kendal (2013), pelayanan TPS di Wilayah Bondokenceng belum menjangkau keseluruhan
wilayah. Hanya terdapat 26 TPS di Wilayah Bondokenceng. Pola persebaran TPS
cenderung terkonsentrasi di Kecamatan Kota Kendal. Mengacu pada ketentuan SNI
Nomor 2003-1733 Tahun 2004, kinerja jaringan persampahan di Wilayah Bondokenceng
dapat dilihat pada Tabel II.3.

Tabel II.3
Penyediaan Prasarana Persampahan Bondokenceng
Jumlah
Kecamatan
Ketersediaan TPS
TPS berdasarkan SNI
Penduduk
Kota Kendal
55.518
26 (tidak merata)
27
Cepiring
28.929
0
14
Patebon
50.534
0
25
Pegandon
37.193
0
19
Ngampel
34.564
0
17
Sumber : Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

19
Gambar 2.18 memperlihatkan kondisi TPS
yang ada pada Kecamatan Kota Kendal.
Terlihat pada foto tersebut TPS tidak mampu
menampung volume sampah yang ada.

Sumber: Hasil Observasi Kelompok 2B


Studio Perencanaan, 2015

Gambar 2.18 TPS di Kelurahan


Ketapang, Kota Kendal

Jaringan Sanitasi
Pada wilayah Bondokenceng, terdapat 17.63% penduduk yang belum memiliki jamban
pribadi dan belum ada IPAL serta Bio Digester sebagai sarana sanitasi.Hal tersebut juga
didukung oleh data hasil observasi dan wawancara mengenai perilaku masyarakat dimana
masih ada yang membuang air limbah di sungai karena kurangnya suplai air bersih dan
tidak memiliki jamban pribadi serta ketidakterjangkauan MCKumum pada seluruh wilayah
Bondokenceng khususnya di Kecamatan Cepiring dan Kecamatan Pegandon. Kondisi
tersebut mengindikasikan bahwa sarana infrastruktur permukiman perkotaan belum layak
pada kawasan perencanaan.

(a)

Sumber: Hasil Observasi Kelompok 2B Studio Perencanaan

(b)

Gambar 2.19
(a) dan (b) Jamban pada Pinggir Sungai

Jaringan Listrik
Berdasarkan hasil survei, seluruh wilayah Bondokenceng 100% sudah terlayani oleh
jaringan listrik dari PLN dengan aliran daya sebesar 450 Watt, 900 Watt, dan juga 1.300
Watt. Tabel II.4 adalah data hasil survei terkait presentasi daya listrik yang digunakan
oleh penduduk di Bondokenceng.

20
Tabel II.4
Persentase Besaran Daya Listrik Yang
Digunakan Oleh Penduduk Bondokenceng
Indikator
Kondisi
(Persentase terhadap total KK) eksisting
Pengguna daya listrik 450 Watt
34%
Pengguna daya listrik 900 Watt

46%

Pengguna daya listrik 1300 Watt

20%

Sumber: Data Survei Kelompok


Perencanaan, 2015 (Olah Data)

2B

Studio

Berdasarkan pengolahan hasil survei,


diketahui bahwa mayoritas penduduk di
wilayah Bondokenceng adalah pengguna
daya listrik 900 watt. Mayoritas penduduk
dengan daya listrik 900 watt menunjukkan
bahwa sebagian penduduk Bondokenceng
cenderung membutuhkan banyak energi
listrik untuk aktivitas komersil.
Jaringan Telekomunikasi
Berdasarkan
hasil
survei,
wilayah
Bondokenceng sudah 80% terlayani oleh
jaringan telekomunikasi berupa jaringan
telekomunikasi nirkabel dan 100% sudah
terlayani oleh jaringan telekomunikasi nonnirkabel. Hal tersebut diketahui dari
seluruh masyarakat yang sudah mengakses
televisi dan radio.

mengindikasikan
adanya
kesulitan
masyarakat untuk mengakses pendidikan
lanjutan setelah SD. Sulitnya akses tersebut
akan berdampak pada tingkat pendidikan
akhir masyarakat dan dayasaing SDM di
Bondokenceng. Selain dampak terhadap
kualitas masyarakat di Bondokenceng,
belum menjangkaunya pelayanan fasilitas
pendidikan SMP mengindikasikan bahwa
Wilayah Bondokenceng belum mampu
menjalankan fungsinya sebagai pusat
pelayanan yang mampu memberikan
kemudahan akses terhadap pendidikan.

Sumber: BPS Kabupaten Kendal, 2014 (Olah Data)

Gambar 2.20 Ketersediaan Infrastruktur Pendidikan di


Bondokenceng

C. Analisis Jangkauan Pelayanan Fasilitas Umum dan Sosial


Analisis jangkauan pelayanan fasilitas
umum dan sosial meliputi sarana
pendidikan, sarana peribadatan, sarana
perekonomian dan sarana pemerintahan
a. Sarana Pendidikan
Berdasarkan
peta
persebaran
dan
jangkauan pelayanan sarana pendidikan di
Bondokenceng (lihat Gambar 2.21), dapat
dilihat bahwa fasilitas pendidikan SMP
belum dapat menjangkau seluruh kawasan
pemukiman. Masih banyaknya area yang
belum
terlayani
pendidikan
SMP
Sumber: www.pinterest.com

21

(a)

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

(b)

(c)

Gambar 2.21 Peta Jangkauan Sarana Pendidikan di Bondokenceng

b. Sarana Kesehatan
Wilayah Bondokenceng memiliki fasilitas
kesehatan berupa rumah sakit, puskesmas,
posyandu,
klinik
bersalin,
balai
pengobatan, dan apotek.
Berdasarkan peta jangkauan sarana
kesehatan dapat disimpulkan bahwa
jangkauan pelayanan sarana kesehatan
berupa puskesmas belum menjangkau
seluruh masyarakat yang ada di Bondokenceng. Hal tersebut diketahui dari
belum terjangkaunya beberapa kawasan
permukiman oleh eksisting puskesmas
dan rumah sakit, khususnya di bagian
selatan Bondokenceng. Belum terjangkaunya pelayanan puskesmas di Bondokenceng menunjukkan adanya ketimpangan dalam akses infrastruktur kesehatan
yang mengindikasikan belum baiknya
pelayanan kesehatan Bondokenceng yang
dalam hal ini menunjang permukiman di
Bondokenceng.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 2.22
Peta Jangkauan Sarana Kesehatan di Bondokenceng

22
c. Sarana Peribadatan
Pemenuhan kebutuhan sarana peribadatan didasarkan oleh ketentuan standar penyediaan
sarana peribadatan dan disesuaikan oleh karakteristik agama dari masyarakat yang
bersangkutan. Sarana peribadatan di Wilayah Bondokenceng adalah masjid, musholla, dan
gereja. Hal tersebut dikarenakan karakter agama dari masyarakat yang dominan adalah
penduduk dengan agama Islam, Kristen, dan Katolik. Adapun berdasarkan analisis
jangkauan pelayanan, sarana peribadatan di di Bondokenceng sudah menjangkau seluruh
wilayah.

(a)

(b)

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 2.23Peta Jangkauan Sarana Peribadatan di Bondokenceng

d.

(a)

(b)

(c)

Sumber: Dokumentasi Kelompok, 2015

Gambar 2.24 Masjid di Kecamatan Kota Kendal; (b) Gereja di Kecamatan Patebon; (c) Masjid di
Kecamatan Ngampel

23
d. Sarana Pemerintahan
Kebutuhan
ruang
untuk
sarana
pemerintahan dalam hal ini kantor desa
minimal adalah 1000 m2 dengan luas
lantai minimal 500 m2 dengan lokasi
yang dapat dijangkau oleh kendaraan
umum dan berada di tengah hunian
warga, dapat diakses keluar/masuk
bangunan dan dapat berintegrasi
dengan bangunan yang ada di
sekitarnya. Sarana pemerintahan yang
tersedia di Bondokenceng berupa
kantor kecamatan dan untuk sarana
pemerintahan
di
masing-masing
kelurahan di Bondokenceng berupa
kantor kelurahan atau kantor desa.

(a)

Sumber: Dokumentasi Kelompok, 2015

Kondisi kantor kelurahan di setiap


kecamatan di Bondokenceng tergolong
baik, yakni bangunan sudah merupakan
bangunan permanen dengan kondisi
kantor kelurahan yang bersih. Selain
kantor kecamatan maupun kantor
kelurahan, di Bondokenceng terdapat
berbagai macam sarana pemerintahan
seperti Kantor Urusan Agama, Dinas
Pertanian, Peternakan, Perkebunan, dan
Kehutanan, dan lain-lain yang terletak
di Kelurahan Jambearum, Kecamatan
Patebon. Kondisi sarana pemerintahan
tersebut baik dan terawat, lokasinya
strategis dengan aksesibilitas tinggi.

(b)

Gambar 2.25
(a) Kantor Kelurahan Korowelang Kulon, Kecamatan Cepiring; (b) Kantor Urusan Agama
di Kecamatan Patebon

Menurut SNI 03-1733-2004 pengertian sarana


pemerintahan dan pelayanan umum adalah
kantor-kantor
pelayanan/administrasi
pemerintahan dan administrasi kependudukan
serta pos-pos pelayanan keamanan dan
keselamatan.
Dasar
penyediaan
sarana
pemerintahan dan pelayanan umum serta
fasilitas sosial untuk melayani setiap unit
administrasi pemerintahan baik yang informal
(RT dan RW) maupun yang formal (kelurahan
dan kecamatan), dan bukan didasarkan pada
jumlah penduduk yang dilayani oleh sarana
tersebut. Dasar penyediaan sarana juga
mempertimbangkan
pendekatan
desain
keruangan unit-unit atau kelompok lingkungan
yang ada.

24
e. Sarana Perekonomian
Sarana perekonomian merupakan indikator kualitas pelayanan dari fungsi penunjang
permukiman. Sarana perekonomian dapat menjadi trigger dari aktivitas-aktivitas
masyarakat. Adapun dasar penyediaan selain berdasarkan jumlah penduduk yang akan
dilayani juga mempertimbangkan bentukan grup sesuai konteks lingkungannya.
Penempatan sarana perekonomian mempertimbangkan jangkauan radius area layanan
terkait dengan kebutuhan dasar sarana yang harus dipenuhi untuk melayani area
tertentu. Sarana perekonomian yang tersedia di Bondokenceng berupa bank, pasar,
pertokoan, mini market, dan lain lain.
2.2.3 Karakteristik Keruangan Wilayah
A. Identifikasi Kawasan Pusat Permukiman
Berdasarkan hasil analisis sistem pusat
pemukiman di wilayah Bondokenceng
menggunakan
analisis
skalogram,
terdapat beberapa wilayah sebagai
pusat permukiman dengan hirarki
pelayanan yang berbeda-beda.
Pusat
permukiman
di
wilayah
Bondokenceng dibagi menjadi tiga orde,
orde 1 merupakan daerah yang
memiliki kelengkapan sarana yang
paling lengkap dibandingkan wilayah
lainnya sehingga mampu melayani
wilayah di sekitarnya, yang termasuk
orde 1 yaitu Kelurahan Kebondalem.
Pusat Permukiman orde 2 meliputi
Kelurahan
Pegandon,
Kelurahan
Tegorejo, dan Kelurahan Penanggulan.
Orde 3 meliputi Kelurahan Purokerto,
Kelurahan
Cepiring,
Kelurahan
Buganging, Kelurahan Pakauman, dan
Kelurahan Langenharjo.
Interaksi antar pusat pelayanan orde 1,
orde 2, dan orde 3 dipengaruhi oleh
aksesibilitas. Interaksi tersebut dihubungkan melalui jaringan jalan arteri
yaitu Jalan Pantura serta jalan lokal
yaitu Jalan Patebon-Pegandon yang
didukung kondisi jalan yang baik serta
ketersediaan angkutan umum yang
mudah dijangkau sehingga akan
memberikan kemudahan bagi masya-

rakat untuk mengakses sarana-sarana


antar pusat permukiman.

Sumber: Hasil Analisis


Perencanaan 2015

Kelompok

2B

Studio

Gambar 2.26
Peta Pusat Kawasan Permukiman
Bondokenceng

B. Struktur Ruang
Dalam beberapa tahun ke depan, terdapat
beberapa tantangan yang akan dihadapi
Bondokenceng yaitu pembangunan Trans Tol
Jawa Semarang-Batang dengan pintu keluar
masuk di Kelurahan Margomulyo, Kecamatan
Pegandon serta penyediaan permukiman dan
layanan penyediaan permukiman akibat adanya
isu pembangunan KIK di Kaliwungu. Gambar
2.27 adalah rencana struktur ruang Bondokenceng tahun 2015-2035:

25

Sumber: Hasil Analisis


Perencanaan 2015

Kelompok

2B

Studio

Gambar 2.27
Struktur Ruang Eksisting Bondokenceng

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan 2015

C. Pola Ruang
Berdasarkan pola ruang eksisting, wilayah
Bondokenceng memiliki 13 peruntukan
kawasan yang terdiri dari 12 Kawasan
Budidaya berupa Kawasan Permukiman,
Kawasan Perkantoran, Kawasan Pemerintahan, Kawasan HANKAM, Kawasan
Peruntukkan Industri, Kawasan Perdagangan dan Jasa, Kawasan Tambak, Kawasan
Hutan Produksi Tetap, Kawasan Rawa
Budidaya, Kawasan Perkebunan, Kawasan
Pertanian Beririgasi dan Kawasan Pertanian
Pangan Lahan Kering serta 1 Kawasan
Lindung berupa RTH Kota. Dari 13
peruntukkan kawasan tersebut dapat
dilihat bahwa wilayah Bondokenceng
didominasi oleh kawasan pertanian
beririgasi, pertanian lahan kering serta RTH
Kota sehingga berpotensi untuk dilakukan
pembangunan di masa depan.
Menurut PERMEN 17
Tahun 2009, Pola
ruang adalah
distribusi
peruntukanruang
dalam suatu

wilayah yang meliputi


peruntukkan
ruang
untuk fungsi lindung
dan
peruntukkan
ruang untuk fungsi
budidaya.

Gambar 2.28
Pola Ruang Eksisting Bondokenceng

Jika diperhatikan kawasan pemukiman


yang ada di wilayah Bondokenceng
memiliki kesamaan pola persebaran
yaitu
mengikuti
jalan
(jaringan
transportasi) yang menyebar dan tidak
kompak sehingga masih terdapat
kawasan permukiman yang belum
terintegrasi
dengan
permukiman
lainnya. Oleh karena itu, diperlukan
adanya arahan peruntukkan pola ruang
yang kompak untuk memudahkan
koordinasi serta pelayanan fasilitas
pada pusat permukiman lainnya.
Selain itu, adanya potensi kawasan
peruntukkan
industri
mendukung
pengolahan
komoditas-komoditas
pertanian yang dihasilkan sehingga
menjadikan sektor industri penyumbang PDRB tertinggi dan berdaya saing
serta potensial untuk dikembangkan di
wilayah Bondokenceng.

26
2.3 Aspek Non-Fisik
Aspek non-fisik membahas berkaitan
dengan kependudukan, perekonomian, dan
kebijakan pemerintah.
2.3.1 Kependudukan
A. Jumlah Penduduk
Pada aspek kependudukan wilayah
Bondokenceng,
jumlah
penduduk
mengalami fluktuasi. Umumnya setiap
tahun jumlah penduduk di wilayah
Bondokenceng meningkat, hanya saja
pada tahun 2010 dan 2013 mengalami
penurunan dari tahun sebelumnya,
kemudian jumlahnya meningkat kembali di tahun 2014. Kenaikan jumlah
penduduk dari tahun 2013 ke tahun
2014 mengindikasikan bahwa adanya
jumlah
kematian
yang
semakin
berkurang sehingga dapat menunjukkan bahwa kualitas kesehatan di
wilayah Bondokenceng sudah mulai
mengalami peningkatan, dan disertai
dengan peningkatan kuantitas dan
kualitas jumlah fasilitas kesehatannya.

Selain itu, migrasi masuk juga menjadi


salah satu faktor penyebab meningkatnya jumlah penduduk di tahun 2013.
Migrasi masuk ini disebabkan oleh
adanya industri KIK di Kaliwungu yang
membuat para pencari kerja di luar
Kabupaten Kendal berpindah ke
wilayah Bondokenceng dan sekitarnya
untuk tempat tinggal. Gambar 2.29
adalah jumlah penduduk wilayah
Bondo-kenceng tahun 2005-2014.

Sumber: BPS Kabupaten Kendal, 2015 (Olah Data)

Gambar 2.29 Grafik Jumlah Penduduk


Bondokenceng Tahun 2005-2014

B. Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk merupakan salah satu unsur
penting dalam perencanaan wilayah, yakni berkaitan
dengan skenario pengembangan suatu wilayah.
Berdasarkan peta kepadatan penduduk (Gambar
2.28), kepadatan penduduk di Bondokenceng terpusat di Kecamatan Kota Kendal serta sebagian di
Kecamatan Patebon, dan KecamatanCepiring.
Pemusatan kepadatan penduduk tersebut dikarenakan ketiga kecamatan tersebut merupakan
pusat kegiatan Bondokenceng yang juga dilalui oleh
jalur Pantura. Secara eksisting banyak lahan
terbangun di wilayah dengan kepadatan tinggi, yakni
Kecamatan Kota Kendal, Patebon, dan Cepiring,
khususnya di sekitar jalur pantura. Adapun wilayah
dengan kepadatan terendah yakni Kecamatan
Pegandon secara eksisting masih didominasi oleh
lahan non terbangun berupa sawah.

Sumber: BPS Kabupaten Kendal, 2015 (Olah Data)

Gambar 2.30
Peta Kepadatan Penduduk Bondokenceng Tahun 2014

27
C. Jumlah Penduduk
Kelompok Umur

menurut

Berdasarkan grafik piramida penduduk


wilayah Bondokenceng (Gambar 2.29)
terlihat bahwa grafik berbentuk
piramida ekspansif (piramida penduduk
muda), dimana menggambarkan angka
kelahiran yang lebih tinggi daripada
angka kematiannya.
Dengan tingginya angka kelahiran dan
rendahnya angka kematian pada
wilayahBondokenceng, pertumbuhan
penduduk dapat dikatakan cepat.
Piramida penduduk (Gambar 2.31)
dapat menunjukkan bahwa usia
produktif, yaitu usia 15-64 tahun di
wilayah Bondokenceng masih relatif
tinggi dibandingkan dengan usia

lainnya.
Hal
tersebut
dapat
menyebabkan adanya bonus demografi
di wilayah Bondo-kenceng.

Sumber: BPS Kabupaten Kendal, 2015 (Olah Data)

Gambar 2.31
Piramida Penduduk tiap Kecamatan di
Bondokenceng Tahun 2014

D. Kualitas Sumber Daya Manusia


a. Tingkat Pendidikan
Rendah dan tingginya tingkat pendidikan ini dapat diukur melalui banyaknya tingkat
pendidikan terakhir yang ditempuh oleh masyarakat wilayah Bondokenceng dalam
kurun waktu 1 tahun.
Tabel II.5
Jumlah Penduduk berdasarkan Tingkat Pendidikan Wilayah Bondokenceng Tahun 2014
No.

Kecamatan

Tidak/Belum
Tamatan SD
Tamat SD
Sederajat
1.
Patebon
11.307
13.660
2.
Pegandon
13.236
11.692
3.
Kota Kendal
10.714
11.876
4.
Cepiring
8.229
11.115
5.
Ngampel*
12.072
16.636
Sumber: BPS Kabupaten Kendal, 2015 (Olah Data)

Tingkat Pendidikan
Tamatan SMP
Tamatan SMA
Sederajat
Sederajat
12.570
10.722
9.970
6.469
9.400
11.168
7.192
7.392
8.173
6.406

Tamatan
Akademi/PT
3.319
1.522
3.907
1.332
1.407

Keterangan: Data jumlah penduduk berdasarkan tamatan pendidikan di Kecamatan Ngampel


menggunakan data tahun 2013. Berdasarkan tabel di atas, maka tingkat pendidikan di wilayah
Bondokenceng dapat dihasilkan diagram seperti pada Gambar 2.32.

28

Gambar 2.32
Persentase Jumlah Penduduk menurut
Tingkat Pendidikan
di Bondokenceng Tahun 2014
Sumber: BPS Kabupaten Kendal, 2015 (Olah Data)

Berdasarkan diagram persentase jumlah


penduduk menurut tingkat pendidikan
diketahui bahwa penduduk Bondokenceng
masih didominasi oleh tamatan SD
sederajat, yaitu sebesar 29,34%. Untuk
tingkat tamatan Akademik/PT hanya
sebesar 5,19%. Hal tersebut menandakan
bahwa tingkat pendidikan di wilayah
Bondokenceng masih rendah sehingga
dapat dikatakan bahwa kualitas SDM di
Bondokenceng masih jauh di bawah
standar.
Standar pendidikan yang dicanangkan oleh
pemerintah sendiri adalah program wajib
belajar 12 tahun. Kualitas SDM di wilayah
Bondokenceng harus ditingkatkan melalui
program
pendidikan
dan
pelatihan
keterampilan untuk mempersiapkan diri
dalam menghadapi persaingan kerja di
industri KIK yang berlokasi diKaliwungu.
b. Pengangguran
Pengangguran adalah orang yang masuk
dalam angkatan kerja yang sedang mencari
pekerjaan dan belum mendapatkannya.
Pengangguran
umumnya
disebabkan
karena jumlah angkatan kerja tidak
sebanding dengan lapangan pekerjaan yang
ada.

Sumber: BPS Kabupaten Kendal, 2015 (Olah Data)

Gambar 2.33
Grafik Jumlah Pengangguran di
Bondokenceng Tahun 2014

Sumber: BPS Kabupaten Kendal, 2015 (Olah Data)

Gambar 2.34
Persentase Jumlah Pengangguran di
Bondokenceng terhadap Kabupaten Kendal
Tahun 2014

29
Berdasarkan Gambar 2.33, diketahui bahwa pada tahun 2014 jumlah pengangguran
paling banyak terdapat di Kecamatan Kota
Kendal, yaitu sebesar 18.585 jiwa. Sedangkan jumlah pengangguran paling rendah
terdapat di Kecamatan Patebon, yaitu
sebesar 0 jiwa. Hal itu dikarenakan jumlah
penduduk yang bekerja lebih banyak
daripada jumlah penduduk usia kerja.
Sedangkan Kecamatan Ngampel tidak
terdapat data penduduk menurut mata
pencaharian. Jumlah pengangguran di
Bondokenceng berkontribusi sebanyak
36,05% dari jumlah pengangguran di

Kabupaten Kendal, yaitu sebanyak 128.280


jiwa. Angka tersebut tentunya sangat
berpengaruh bagi kondisi perekonomian
Kabupaten Kendal, karena hal tersebut
dapat mengakibatkan kurangnya pendapatan daerah yang seiring dengan berkurangnya pendapatan masyarakat.

c. Angka Kemiskinan
Jumlah kemiskinan di Bondokenceng dapat
digunakan
untuk
mengukur
tingkat
kesejahteraan yang ada di wilayah tersebut.
Tingkat kemiskinan yang tinggi di suatu
daerah akan menimbulkan permasalahan
yang terkait dengan kualitas sumber daya
manusia. Gambar 2.35 adalah diagram
jumlah keluarga miskin di Bondokenceng
tahun 2014 pada tiap kecamatan.

tertinggi terdapat di Kecamatan Cepiring


dengan total 5.200 jiwa. Persentase dari
jumlah penduduk total penduduk miskin di
Bondokenceng sebesar 20,20%, meningkat
0,15% dari tahun sebelumnya. Angka
tersebut merupakan angka yang cukup
berpengaruh pada banyaknya jumlah
penduduk miskin yang ada di Kabupaten
Kendal. Perbandingan jumlah penduduk
miskin
di
Bondokenceng
terhadap
Kabupaten Kendal pada tahun 2014 dapat
dilihat pada Gambar 2.36.

Sehingga dapat dikatakan bahwa pengangguran akan menyebabkan timbulnya


kemiskinan di wilayah Bondokenceng,
bahkan di Kabupaten Kendal.

Sumber: BPS Kabupaten Kendal, 2015 (Olah Data)

Gambar 2.35
Grafik Jumlah Keluarga Miskin di
Bondokenceng Tahun 2014

Berdasarkan grafik jumlah keluarga miskin


pada tiap kecamatan dapat dilihat rata-rata
jumlah keluarga miskin pada masing-masing
kecamatan masih cukup tinggi. Kecamatan
yang memiliki jumlah penduduk miskin

Sumber: BPS Kabupaten Kendal, 2015 (Olah Data)

Gambar 2.36
Persentase Jumlah Penduduk Miskin di
Bondokenceng
Terhadap Kabupaten Kendal Tahun 2014

30
2.3.2 Perekonomian
A. Usaha Mikro Kecil Menengah
Terdapat berbagai jenis Usaha Mikro Kecil
Menengah (UMKM) yang tersebar di
Bondokenceng. Adapun jenis UMKM yang
berpotensi untuk dikembangkan tersebut
meliputi industri batik Jambe Kusuma,
industri makanan ringan, industri batu
bata, dan industri hasil pengolahan ikan.
Pertama
industrybatik
Jambe
Kusuma,pada awalnya digagas oleh Dinas
Perindustrian
dan
Perdagangan
(Disperindag) melalui pelatihan keterampilan
membatik
yang
kemudian
dikembangkan oleh salah satu warga, Ibu
Lestari, pada tahun 2010. Industri ini
dianggap potensial karena beberapa kali
telah mengikuti pameran karya di
berbagai kota serta mendapatkan
penghargaan dari ajang-ajang yang
diadakan oleh pemerintah setempat.

Namun, promosi mengenai batik khas


Kendal ini masih sangat terbatas. Kedua,
industri kerupuk petis di Kelurahan Jotang.
Usaha kerupuk petis memang sudah
tersebar di beberapa kelurahan di Bondokenceng, seperti Kelurahan Jotang,
Tunggulrejo, dan Sijeruk. Harga dari satu
kemasan kerupuk petis dijual oleh
produsen sebesar Rp3.500 yang kemudian
dijual di pedagang retail dengan harga
Rp5.000.
Proses pembuatan kerupuk petis ini terdiri
dari pembuatan adonan, pemotongan,
penjemuran, pemberian bumbu, hingga
pengemasan. Kendala yang dihadapi oleh
pelaku industri kerupuk petis adalah pada
pemasaran, dimana belum ada sentra
pusat oleh-oleh di Bondokenceng sebagai
tempat pemasaran lokal. Para pelaku
industri juga masih bekerja masing-masing
tanpa adanya paguyuban yang menaungi
usaha mereka.

Sumber: Hasil Observasi Kelompok 2B Studio


Perencanaan, 2015

Gambar 2.38
UMKM Unggulan di Bondokenceng

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B StudioPerencanaan,


2015

Gambar 2.37
Peta Sebaran UMKM

31
Ketiga, industri batu bata di sempadan
Sungai Bodri, Kelurahan Ketapang.
Pelaku usaha industri batu bata
tersebut memanfaatkan tanah endapan
Sungai Bodri sebagai bahan baku
pembuatan batu bata. Meski telah
mendapatkan dukungan serta bantuan
dari Dinas PSDA, tetapi para pelaku
usaha masih menemui kendala pada
proses penjemuran batu bata yang
masih membutuhkan waktu yang lama.
Terakhir, industri bandeng presto di

No

Jenis
UMKM

Lokasi

Kelurahan
Bandengan.
Lokasi
Kelurahan Bandengan yang berbatasan
langsung dengan laut membuat
keberadaanbudidaya tambak menjamur dan menjadi salah satu peluang
usaha.

Tabel II.6
UMKM Unggulan di Bondokenceng
Tenaga Kerja
Tahun
Asal Bahan
Berdiri
Baku
Jumlah
Asal

Batik
Jambe
Kusuma

Kelurahan
Jambearum

2010

15

Warga
setempat

Pekalongan

Kerupuk
Petis

Kelurahan
Jotang

2000

12

Warga
setempat

Kendal

Batu
Bata

Kelurahan
Ketapang

2005

10

Tersebar
di Kab.
Kendal

Tanah dari
Kali Bodri

Bandeng
Presto

Kelurahan
Bandengan

2003

Warga
setempat

Kelurahan
Bandengan

Alat
Produk
si

Lokasi
Pemasaran

Kab. Kendal
Semarang
Wajan
Jakarta
Canting
Surabaya
Malam
Hongkong
Kompor
Korea
Malaysia
Kab. Kendal
Tungku Semarang
Cetakan Pemalang
Kalimantan
Cetakan
batu
Kab. Kendal
bata
Semarang
Tungku
Kab. Kendal
Dandan
Semarang
g preto
Sidoarjo
Kompor
Bandung

Sumber: Hasil Wawancara Pelaku UMKM Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

B. Pertanian
Komoditas sektor pertanian di Bondokenceng merupakan komoditas utama yang
menyumbangkan
kontribusi
pada
perekonomian wilayah, tergambar pada
PDRB Bondokenceng dengan kontribusi
sebesar 18%. Komoditas sektor pertanian
tersebut terdiri dari penggunaan

lahan yang masih didominasi oleh sawah


irigasi, yaitu 37% yang menyebabkan
sektor pertanian memberikan kontribusi
yang cukup besar di Bondokenceng.
Komoditas sektor pertanian tersebut
berupa padi, jagung, bawang, kacang hijau,
kacang kedelai, kacang tanah, dan ubi kayu.

32

Sumber: Hasil Dokumentasi Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 2.39
Kegiatan Pertanian di Bondokenceng

Komoditas padi merupakan komoditas yang paling besar disumbangkan oleh sektor
pertanian dengan penggunaan lahan sebesar 54,29%. Produksi pertanian padi ini menyebar
ke lima kecamatan di Bondokenceng.
Tabel II.7
Tingkat Produktivitas Padi Sawah Bondokenceng tahun 2010 - 2014
Tahun
Uraian
2010
2011
2012
2013

2014

Padi Sawah
Luas Areal

(Ha)

9.412

9.664

9.781

10.360

10.082

Produksi

(Ton)

52.465

57.011

57.235

55.381

56.564

Produktivitas

(Ton/Ha)

55,74

58,99

58,52

53,46

56,1

Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Ketuhanan Kabupaten Kendal, 2015

Spesialisasi wilayah pada sektor


pertanian di Bondokenceng umumnya
di sektor pertanian padi sawah, dimana
dari lima kecamatan di Bondokenceng,
hanya Kecamatan Pegandon yang
memiliki spesialisasi wilayah pada
sektor pertanian jagung dengan
produksi 6.144,14 ton. Sedangkan
untuk
prioritas
pengembangan
komoditas padi sawah, berdasarkan
produktivitas didapatkan prioritas
pengembangan pertama yang berada di
Kecamatan
Cepiring,
prioritas
pengembangan kedua berada di
Kecamatan Kota Kendal, serta prioritas
pengembangan 3 dan 4 berada di
Kecamatan Patebon dan Ngampel.

Kabupaten Kendal merupakan salah


satu kabupaten di Jawa Tengah yang
telah ditetapkan sebagai kawasan
pangan berkelanjutan, dimana 55%
dari total wilayah di Bondokenceng
ditetapkan sebagai kawasan Lahan
Pertanian
Pangan
Berkelanjutan
(LP2B), Penetapan kawasan pangan
berkelanjutan ini di Bondokenceng
bertujuan
untuk
pembentukan
Bondokenceng
yang
swasembada
pangan berkelanjutan, peningkatan
diversifikasi
pangan, peningkatan
kesejahteraan petani serta peningkatan
nilai tambah daya saing dan ekspor.

33

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio


Perencanaan, 2015

Gambar 2.40
Peta Prioritas Pengembangan
Komoditas Padi Sawah Sektor
Pertanian di Bondokenceng

Sumber: www.pinterest.com

Dari total luas Lahan Pertanian Pangan


Berkelanjutan (LP2B) di Bondokenceng,
yaitu 455,3 Ha, daerah yang merupakan
kawasan pangan berkelanjutan tetapi
rawan banjir adalah seluas 292,2 Ha atau
dapat dikatakan bahwa sekitar 64% dari
total Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
(LP2B) merupakan daerah rawan banjir.
Hal ini mengindikasikan bahwa sebagai
kawasan pangan berkelanjutan, Bondokenceng belum dapat optimal dalam
memproduksi pertanian pangan akibat
adanya daerah rawan banjir dan tingginya
alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian
sebagai akibat pertambahan penduduk
dilihat dari penurunan luas area pertanian.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio


Perencanaan, 2015

Gambar 2.41
Peta LP2B di Bondokenceng

34

C. Perikanan
Perikanan merupakan salah satu sektor yang cukup berkembang di Kecamatan
Bondokenceng. Terdapat tujuh jenis komoditas perikanan yang dihasilkan di Kecamatan
Bondokenceng diantaranya adalah lele, nila, gurame, patin, karper, bawal, dan tawes.
Gambar 2.42 merupakan grafik batang yang menggambarkan hasil perikanan di
Kecamatan Bondokenceng.

Jumlah (Kg)

Jumlah Produksi Hasil Perikanan Air Tawar


Bondokenceng Tahun 2014
41000

45000
40000
35000
30000
25000
20000
15000
10000
5000
0

33500
29000

29000

31000
Lele
Karper
Nila

1600
1000 650
Kota Kendal

900
Patebon

1500
600
Cepiring

200 500
Pegandon

Gurame
Bawal

Ngampel

Kecamatan
Sumber: Dinas Perikanan Kabupaten Kendal, 2015

Gambar 2.42
Produksi Hasil Perikanan Air Tawar Bondokenceng

Pada Gambar 2.43, dapat disimpulkan bahwa penghasil ikan air tawar yang paling banyak
di Wilayah Bondokenceng adalah Kecamatan Kota Kendal dengan 41.000 ekor ikan lele. Hal
ini ditandai dengan banyaknya budidaya ikan oleh masyaakat Bondokenceng. Berdasarkan
hasil kegiatan lapangan, ikan lele merupakan ikan yang cepat untuk berkembang biak
dengan 45 hari dan waktu yang dibutuhkan untuk budidaya ikan lele dari kecil hingga
dewasa. Selain itu, pembudidayaannya juga mudah karena bibit ikan nya murah dan banyak
yang jual serta makanan ikan lele (pellet) mudah dibuat. Sedangkan ikan karper merupakan
ikan tawar yang paling sedikir di Bondokenceng.

Jumlah (Kg)

Jumlah Produksi Hasil Perikanan Air Payau


Kabupaten Kendal Tahun 2014
1000000
900000
800000
700000
600000
500000
400000
300000
200000
100000
0

867671
649300
538700
Kota Kendal

327500

171814
1400
10400
49000
3000

Bandeng

U. Windu

U.
Vannamel

Ikan Payau

Patebon
5000 0
Nila

Cepiring
4850 4450 510
Kepiting
Sumber: Dinas Perikanan
Kabupaten Kendal, 2015

Gambar 2.43
Produksi Hasil Perikanan
Air Payau Bondokenceng

35
Pada hasil Gambar 2.43, dapat disimpulkan bahwa penghasil ikan payau yang paling
banyak di Bondokenceng adalah ikan bandeng 1.515.500 ekor. Penghasil ikan bandeng
terbesar terdapat di Kecamatan Kota Kendal. Hal ini ditandai oleh banyaknya lahan di Kota
Kendal yang dijadiin sebagai daerah tambak. Akan tetapi pada Kecamatan Pegandon dan
Ngampel tidak terdapat hasil ikan payau karena kecamatan tersebut tidak memilki daerah
tambak.
D. Pariwisata
Berdasarkan hasil observasi, Bondokenceng memiliki tiga wisata alam yang berpotensi
untuk dijadikan obyek pariwisata. Potensi alam tersebut berupa pantai dan bendungan. Titik
lokasi wisata alam yang terdapat di Bondokenceng dapat dilihat pada Gambar 2.42.
Pantai yang berpotensi menjadi objek
pariwisata adalah Pantai Kartikajaya
dan Pantai Muara Kencana yang
terdapat di Kecamatan Patebon.
Vegetasi yang terdapat di pantai
tersebut adalah tanaman cemara,
mangrove,
bakau,
dan
sangon.
Ketersediaan tempat parkir juga hanya
terdapat di Pantai Muara Kencan
dengan harga 2000 rupiah untuk motor
dan 3000 rupiah untuk mobil.
Sementara di Pantai Kartikajaya tidak
terdapat tempat parkir. Kondisi kedua
pantai ini tidak terawat, ditandai
dengan tidak tersedianya tempat
sampah dan kondisi toilet umum yang
kotor.

Sumber: Hasil Observasi


Perencanaan, 2015

Kelompok

2B

Studio

Gambar 2.44
Peta Potensi Wisata Alam diBondokenceng

Kondisi
tersebut
mengindikasikan
bahwa kedua pantai ini belum
dikatakan layak untuk dijadikan obyek
pariwisata saat ini. Padahal, kedua
pantai ini sangat berpotensi untuk
dijadikan obyek pariwisata hanya saja
perlu adanya rencana pengembangan
untuk memperbaiki kondisi Pantai
Kartikajaya dan Pantai Muara Kencana.

36

(a)

(b)

Sumber: Hasil Dokumentasi Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 2.45
(a) Pantai Kartikajaya, (b) Pantai Muara Kencana

Potensi alam selanjutnya yaitu berupa Bendungan Kedung Pengilon yang terdapat di Kecamatan
Ngampel. Bendungan Kedung Pengilon ini berfungsi sebagai pintu air dan tempat untuk
menampung air hujan sehingga meminimalisir kemungkinan banjir di daerah sekitarnya. Pada
mulanya, Kedung Pengilon dijadikan obyek wisata warga setempat karena terkenal banyak
ditumbuhi pohon jambu mete. Banyak pemuda-pemudi yang mengunjungi tempat ini selain
suasana alamnya yang indah juga karena buah jambu mete yang mudah didapatkan di sekitar
Bendungan. Meskipun pohon jambu mete sudah ditebangi oleh warga, kondisi Bendungan
Kedung Pengilon cukup bersih dan memiliki pemandangan yang alami, tumpukan sampah
hanya berupa daun pepohonan yang gugur bukan sampah masyarakat sehingga lokasi ini masih
menarik pengunjung. Karena berpotensi sebagai obyek wisata, warga setempat mengusulkan
kepada Pemerintah Daerah untuk mengembangkan Bendungan Kedung Pengilon sebagai obyek
wisata yang resmi di Kabupaten Kendal. Namun, pemerintah belum memberikan respon dan
dana pembangunan terkait pengembangan pariwisata di Bendungan Kedung Pengilon. Selain
itu, penyediaan insfrastruktur penunjang untuk lokasi wisata seperti aksesibilitas, tempat
parkir, dan toilet umum perlu dikembangkan.

2.3.3 Kebijakan Pemerintah


A. Arahan Kebijakan dan Strategi
AntarDaerah
Kabupaten Kendal bersamaan dengan
kota-kota lainnya yang tergabung dalam
Kawasan Perkotaan Kedungsepur seperti
yang ditetapkan pada Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional memiliki kawasan
andalan yang menjadi unggulan kawasan
perkotaan tersebut. Berdasarkan amanat

tersebut, terjadilah penyesuaian pada


Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten

Kendal. Sesuai dengan RTRW Kabupaten


Kendal, Kecamatan Kota Kendal, Cepiring,
Patebon, Pegandon, dan Ngampel yang
tergabung dalam Kawasan Perkotaan
Kendal (Bondokenceng) memiliki arahan
kebijakan tersendiri.

37
1. Kecamatan Kota Kendal
Kecamatan Kota Kendal merupakan
kecamatan yang menjadi Ibukota
Kabupaten Kendal. Senada dengan itu
Kecamatan Kota Kendal pun ditetapkan
sebagai Pusat Kegiatan Lokal (PKL). Kota
Kendal yang berfungsi sebagai PKL
diharuskan untuk dapat melayani seluruh
Kabupaten Kendal. Bentuk pelayanan
yang
diberikan
berbentuk
pusat
pelayanan pemerintah tingkat daerah,
pusat perdagangan dan jasa yang dapat
melayani regional, dan pendidikan.
Sementara itu, dalam bentuk arahan
kebijakan terkait dengan kegiatan yang
dapat dilakukan di Kecamatan Kota
Kendal adalah:

Kegiatan perdagangan modern


dengan tetap mempertimbangkan
usaha kecil dan pasar tradisional
agar dapat tumbuh dan berjalan
secara
serasi
serta
saling
menguntungkan;
Kegiatan
pembangunan
perumahan baru, pertokoan, pasar
negeri, usaha perdagangan dan
jasa skala kecil yang bertujuan
untuk memenuhi fasilitas yang
diperlukan permukiman baru
pada Kecamatan Kota Kendal;
Kegiatan berupa jasa keuangan
berupa unit bank umum, BPR, dan
Baitul Mal wa Tanwil (BMT); serta
Kegiatan
berupa
fasilitas
pendidikan pra sekolah hingga
pendidikan tingkat menengah.

2. Kecamatan Cepiring dan Patebon


Kecamatan Cepiring dan Patebon
merupakan kecamatan yang terletak
berdampingan dan berbatasan secara
langsung. Baik Kecamatan Cepiring
maupun Patebon memiliki karakteristik
yang cenderung mirip, kedua kecamatan
ini berfokus pada pertanian dan

pertambakan hanya saja terdapat


industri yang cukup besar di Kecamatan
Cepiring berupa pabrik gula. Akibat dari
karakteristik yang cenderung sama,
kedua kecamatan ini ditetapkan sebagai
Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL).
Sebagai kecamatan yang berfungsi
sebagai PKL baik Cepiring maupun
Patebon dalam pelaksanaan kegiatan
yang
berlangsung
di
dalamnya
diharuskan dapat melayani antar desa
yang
dimilikinya.
Bentuk
arahan
kebijakan terkait dengan kegiatan yang
dilakukan Kecamatan Cepiring dan
Patebon adalah kegiatan pengembangan
fasilitas perkotaan berupa:
Perdagangan dan jasa skala kecil,
yang dapat melayani tiap desa yang
dimiliki sehingga dapat saling
terhubung;
Pendidikan tingkat pra sekolah
hingga tingkat dasar pada tiap desa;
Kesehatan, yang dapat melayani
seluruh desa berupa puskesmas dan
puskesmas pembantu;
Olah raga; serta
Peribadatan.
3. Kecamatan Ngampel
Kecamatan
Ngampel
merupakan
kecamatan yang memiliki fokus utama
pada sektor pertanian dan tanaman
pangan
hortikultura.
Kecamatan
Ngampel ditetapkan sebagai Pusat
Pelayanan Lingkungan (PPL). Senada
dengan Kecamatan Cepiring dan Patebon,
Ngampel pun memiliki arahan kebijakan
yang sama dengan kedua kecamatan
tersebut hanya saja Kecamatan Ngampel
memiliki karakteristik yang berbeda.
4. Kecamatan Pegandon
Kecamatan Pegandon adalah kecamatan
yang dikenal dengan Sentra Keripik
Rambak dan pertanian tanaman pangan

38
hortikultura yang berkembang cukup
pesat. Kecamatan Pegandon ditetapkan
sebagai Pusat Pelayanan Kawasan (PPK).
Sebagai
PPK,
Pegandon
dalam
pelaksanaan kegiatan yang berlangsung
di dalamnya diharuskan untuk melayani
kegiatan skala kecamatan. Bentuk arahan
kebijakan terkait dengan kegiatan yang
dilakukan Kecamatan Pegandon adalah
kegiatan
pengembangan
fasilitas
perkotaan berupa:
Perdagangan
dan
jasa
skala
menengah yang dapat melayani
secara
keseluruhan
Kecamatan
Pegandon;

Perumahan, terkait dengan rencana


akan dibangunnya Trans Tol Jawa
(TTJ) pada Kecamatan Pegandon
sehingga diprediksi akan ada pusatpusat permukiman baru pada
kecamatan ini;
Pendidikan, meningkatnya jumlah
perumahan yang akan terbangun
juga akan diiringi dengan kebutuhan
pendidikan di Kecamatan Pegandon;
Kesehatan, yang dapat melayani
seluruh desa berupa puskesmas dan
puskesmas pembantu;
Olah raga; serta
Peribadatan

B. Kelembagaan Pemerintah dan Masyarakat


Kabupaten Kendal memiliki sejumlah lembaga dengan berbagai tujuan, yang
dikelompokkan ke dalam lembaga pemerintah dan non pemerintah. Secara umum,
organisasi pemerintahan memiliki beberapa tujuan yaitu untuk meningkatkan pelayanan
kepada masyarakat, memuaskan masyarakat, dan memberi legitimasi terhadap organisasi
pemerintah. Organisasi non-pemerintahan sebenarnya memiliki tugas dan tujuan yang
hampir sama dengan organisasi pemerintah, namun hanya berbeda dari segi pelaksana dan
ruang lingkupnya.
Tabel II.8
Status dan Peran Organisasi di Kabupaten Kendal
No

Nama Organisasi

Status

Peran

Bappeda
Kabupaten Kendal

Pemerintah

Pembuat kebijakan dan pelaksana kegiatan terkait


fungsi sebagai lembaga teknis daerah yang
bertanggung jawab terhadap perencanaan
pembangunan.

BPS
Kabupaten
Kendal

Pemerintah

Sebagai fasilitator dengan menyediakan data yang


mendukung tujuan pembangunan, dianataranya
meningkatkan kesejahteraan rakyat, dapat dicapai
dengan efektif.

Dinas
Pertanian,
Perkebunan, dan
Kehutanan

Pemerintah

Pembuat kebijakan dan pelaksana kegiatan terkait


pengembangan bidang pertanian Kabupaen
Kendal.

Dishubkominfo

Pemerintah

Sebagai mediator antara pihak pembuat kebijakan


dengan pihak pelaksana kegiatan terkait program
pembangunan yang terdapat di Kabupaten Kendal.

Dinas
Umum

Pemerintah

Pembuat kebijakan dan pelaksana kegiatan teknis


di bidang pekerjaan umum, perumahan, penataan
ruang, tata kota, serta energi dan sumber daya
mineral.

Pekerjaan

39
No

Nama Organisasi

Status

Peran

Dinas Sosial dan


Kebudayaan

Pemerintah

Pembuat kebijakan dan pelaksana kegiatan teknis


di bidang kebudayaan, pariwisata, pemuda dan
olahraga.

Ciptaru

Pemerintah

Dinas Cipta Karya dan tata Ruang mempunyai


tugas pokok melaksanakan urusan Pemerintah
daerah di bidang Pekerjaan Umum sub bidang
Cipta Karya dan tata Ruang.

Dispendukcapil

Pemerintah

Pembuat kebijakan dan pelaksana kegiatan teknis


di bidang kependudukan dan catatan sipil.

Disperindag

Pemerintah

Pembuat kebijakan dan pelaksana kegiatan teknis


di bidang perindustrian, perdagangan, pasar,
koperasi dan usaha mikro kecil dan menengah.

10

DinasKetenagakerjaan

Pemerintah

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi mempunyai


tugas
Pokok
merencanakan,
mengatur
penempatan, pelatihan, menyelesaikan sengketa
tenaga kerja, memperluas kesempatan kerja,
melakukan pengawasan terhadap kegiatan
ketenagakerjaan,
merencanakan
dan
mempersiapkan beserta sarana dan prasarana
transmigrasi, menerima dan menempatkan
transmigrasi, mengkoordinir pembinaan serta
melakukan perencanaan dan pendataan mobilitas
transmigrasi.

11

LSM Gerakan Moral


Bangsa

Non Pemerintah

Penerima manfaat, mediator, & advokasi dalam


pelaksanaan peran terkait penyantunan rakyat
miskin dan yatim piatu.

12

Gerakan Pemuda
Ansor Kabupaten
Kendal

Non Pemerintah

13

Forum
Pemberdayaan
Perempuan
Indonesia
Kabupaten Kendal

15

Lembaga
Penelitian
Pengembangan dan
Konservasi
Lingkungan Hidup

Non Pemerintah

Non Pemerintah

Mediator dalam perwujudan visi Kabupaten


Kendal untuk menjadi kabupaten yang agamis.
Advokasi dalam mewujudkan kesejahteraan,
keseteraan dan keadilan gender dengan prinsip
kepada nilai anti diskriminasi, anti sub ordinasi,
anti marjinalisasi, termasuk anti kekerasan dalam
rumah tangga, serta doubleburden/beban ganda.
Advokasi terkait program yang diadakan oleh
pemerintah dan pelaksana kebijakan dengan
memberdayakan masyarakat.

Sumber: www.kabkendal.go.id

C. Presepsi antara Pemerintah Terhadap Pelayanan Pemerintah


Kepuasan masyarakat merupakan suatu
tingkatan dimana kebutuhan, keinginan,
dan harapan dari konsumen (masyarakat) dapat terpenuhi, hal tersebut
akan mengakibatkan masyarakat merasa puas terhadap dipenuhinya
kebutuhan dan harapan. Kepuasan

masyarakat terbentuk dari penilaian


masyarakat terhadap kinerja aparat
dalam melayani kebutuhan masyarakat.
Indeks Kepuasan Masyarakat adalah
data dan informasi tentang tingkat
kepuasan masyarakat yang diperoleh
dari hasil pengukuran secara kuantitatif
dan kualitatif atas pendapat masyarakat
dalam mem-peroleh pelayanan dari

40
aparatur penyelenggara pelayanan
publik dengan membandingkan antara
harapan dan kebutuhannya (Keputusan
MENPAN
Nomor
25/2004).
Berdasarkan hasil wawancara dengan
sampel random, tingkat kepuasan
masyarakat terhadap pelayanan publik
yaitu 35,27% menyatakan puas, 24,11%
menyatakan cukup puas, serta 40,63%
menyatakan tidak puas.
Tabel II.9
Respon dari Pelayanan Pemerintah
Kategori
Frekuensi
Presentase

Ketidakpuasan masyarakat terhadap


pelayanan pemerintah dikarenakan
pemerintah yang kurang responsif,
birokrasi yang berbelit-belit, serta
pelayanan yang tidak sesuai dengan
kebutuhan masyarakat. Selain itu, perlu
diketahui juga kinerja pelayanan
pemerintah dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat. Pada Tabel II.10 adalah
persentase kinerja pemerintah:
Tabel II.10
Respon Pemerintah dalam Pelayanan
Kebutuhan Masyarakat
Kategori
Frekuensi Persentase

Puas

79

35,27

Cukup Puas

54

24,11

Sudah Memenuhi

135

60,27

Tidak Puas

91

40,63

Belum Memenuhi

89

39,73

Total

224

100,00

Total

224

100,00

Sumber: Hasil Survey Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Old ideas can sometimes


use new bulidings. New
ideas must use olde
buildings Jane Jacobs

If plan A didnt

work, the Alphabet


has

25 more
letters.

Sumber: www.pinterest.com

Sumber: Hasil Rekapitulasi Kuesioner Kelompok 2B


Studio Perencanaan, 2015

41
BAB III
POTENSI DAN PERMASALAHAN
3.1 Potensi Wilayah
Berdasarkan
hasil
survei
lapangan,
didapatkan beberapa hal yang potensial
untuk dikembangkan yang mendukung
tujuan Bondokenceng, yaitu sebagai pusat
aktivitas dan permukiman yang terintegrasi
dan berdaya saing. Potensi yang dimiliki
Bondokenceng meliputi adanya lahan LP2B,
peran Kota Kendal sebagai ibukota
kabupaten, keberadaan pasar induk di Kota

Kendal, adanya potensi alam (pantai dan


bendungan) yang dapat dikembangkan
sebagai tempat wisata, serta UMKM
unggulan sebagai upaya peningkatan
perekonomian masyarakat Bondokenceng.
Potensi-potensi tersebut dikaitkan dengan
kendala yang terjadi saat ini serta tantangan
yang mungkin akan dihadapi di masa yang
akan datang.

Tabel III.1
Potensi, Kendala, dan Tantangan di Bondokenceng
No

Potensi

Kendala

Tantangan

LP2B sebagai potensi


ketahanan pangan
Pertumbuhan
penduduk yang tinggi
Banyak lahan yang terkena banjir dan
sehingga menyebabkan
kekeringan sehingga lahan kurang
terjadinya
konversi
produktif
lahan yang mengancam
keberadaan LP2B

Adanya pasar induk


sebagai pusat sarana
perekonomian wilayah
Pasar induk belum dapat menjadi Adanya pasar Weleri
pemasok untuk pasar lain
dengan tingkat
Lokasinya yang berada di Jalan Pantura
pelayanan yang setara
sehingga mengurangi rasa aman dan
dengan Pasar Induk
nyaman masyarakat dalam menjangkau
Kendal

Terdapat berbagai
UMKM di
Bondokenceng seperti
industri makanan
ringan, industri batik,
industri bata, dan
industri tambak

Belum adanya organisasi/paguyuban


UMKM untuk mengembangkan industri Adanya persaingan
rumah tangga
(kompetisi) antara
Belum adanya peralatan modern
UMKM yang sejenis
sehingga mempengaruhi hasil produksi
sehingga sulit bertahan
Belum adanya brand UMKM sehinggga
di pasar
sulit dalam proses pemasaran

42
No

Potensi

Kendala

Bendungan Kedung
Pengilon sebagai objek
wisata dan sumber air
cadangan

Kapal yang digunakan belum nyaman


dan tidak sesuai standar keamanan
(tidak ada pelampung)

Terdapat obyek wisata


Pantai Muara Kencana

Terdapat obyek wisata


Pantai Kartika Jaya

Kota Kendal sebagai


ibukota Kabupaten
Kendal

Fasilitas pendukung (kamar mandi


umum, mushola, tempat makan, tempat
parkir) kurang terawat
Kurangnya promosi mengenai wisata
pantai muara kencana
Tidak terjangkau dengan transportasi
umum
Belum ada upaya pemerintah untuk
mengembangkan wisata pantai muara
kencana
Belum adanya petunjuk ke Pantai Muara
Kencana
Fasilitas pendukung (kamar mandi
umum, mushola, tempat makan, tempat
parkir) kurang terawat
Kurangnya promosi mengenai wisata
mangrove Kartika Jaya
Tidak terjangkau dengan transportasi
umum
Belum ada upaya pemerintah untuk
mengembangkan
wisata
mangrove
kartika jaya
Belum adanya jalur pejalan kaki untuk
menikmati wisata mangrove, hanya
dapat diakses melalui jalur air
Belum adanya fasilitas department store
yang melayani lingkup Kabupaten
Jaringan jalan dalam kota yang juga
berfungsi sebagai jalur pantura sehingga
menghambat pertumbuhan kota
Belum tersedianya terminal bus dan
tidak berfungsinya stasiun kereta api
penumpang

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Tantangan

Adanya rob
Adanya abrasi

Munculnya pusat-pusat
aktivitas baru disekitar
kawasan KIK
Terdapat stasiun
kereta api penumpang
di Weleri

43

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 3.1
Peta Potensi Bondokenceng

Adanya lahan LP2B dapat menjadi cadangan


bagi pemenuhan kebutuhan pangan
Bondokenceng, apalagi dengan adanya
rencana pintu Tol Trans Jawa yang akan
berdampak pada peningkatan jumlah
penduduk
yang
bermukim
di
Bondokenceng. Pertumbuhan penduduk
juga harus diimbangi dengan peningkatan
kinerja fasilitas kota yang ada, salah satunya
adalah objek wisata. Oleh karena itu,
potensi wisata di Bondokenceng harus
dikembangkan, mengingat permintaan akan
tempat wisata yang akan terus meningkat.
Di sisi lain, pengembangan UMKM juga
harus terus digalakkan sehingga akan
tercipta pengembangan ekonomi lokal di
Bondokenceng, baik dari segi wisata
maupun home industry. Fungsi Kota Kendal
sebagai ibukota kabupaten juga dapat
mendukung percepatan pembangunan yang
pada akhirnya bertujuan pada terwujudnya
regional Bondokenceng sebagai pusat

pelayanan dan permukiman, terintegrasi,


dan berdaya saing. Keterkaitan antar
potensi tersebut dapat dilihat pada gambar
3.2.

Sumber: Dokumentasi Kelompok 2B Studio


Perencanaan, 2015

Nature constantly offers us simple pleasures


to love. Opening ourselves up to the beauty
around us is a way to bring more happiness
and peace in our lives - Unknown.

44

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 3.2
Skema Potensi Bondokenceng

3.2 Masalah Wilayah


Berdasarkan hasil survei lapangan didapatkan 20 permasalahan eksisting yang ada di
Bondokenceng. Permasalahan yang ada tersebut didapatkan dari fakta-fakta kondisi eksisting
yang tidak sesuai dengan kondisi ideal, ditampilkan pada Tabel III.2.
Tabel III.2
Masalah dan Fakta
No

Masalah

Fakta

Nilai
Prioritas

13,4% jalan mengalami kerusakan

Resiko terhambatnya
aksesibilitas

20

44% wilayah Bondokenceng merupakan daerah rawan


banjir

Adanya resiko bencana


banjir di Bondokenceng

19

45
No

Masalah

Pelayanan transportasi
umum yang belum
maksimal

Ditemukannya trayek
kurus sehingga belum
mendukung konsep smart
growth (transportasi yang
terintegrasi)

Belum optimalnya LP2B


karena sistem irigasi
pertanian belum berfungsi
optimal

Terganggunya fungsi LP2B


akibat bencana banjir

Belum adanya fasilitas


pendukung transportasi
darat
Belum meratanya
kepemilikan jamban
pribadi

Persebaran TPS yang


belum menjangkau
seluruh wilayah

Fakta
Waktu tunggu yang mencapai 20 menit, biaya angkutan
umum yang dinilai mahal (Rp5.000), dan belum
terintegrasi dengan moda transportasi lain
Terdapat 3 dari 21 trayek merupakan trayek kurus
(trayek 1, trayek 7, dan trayek 20)

Nilai
Prioritas
19

19

81% masyarakat masih mengolah sampah cara


dengan dibakar
Keberadaan sungai Bodri, Bendungan Kedung
Pengilon, dan Bendungan Juwero hanya bisa
menjangkau 85% seluruh sawah petani, seperti di
Bulugede,
Margosari,
Wonosari,
Botomulyo.
Bendungan yang ada juga belum optimal dalam
menampung air, sehingga ketika hujan seringkali air
meluap bahkan meluber ke sawah petani hingga
setinggi lutut orang dewasa
16,8% wilayah dari LP2B terkena banjir

18

18

Belum terdapat terminal untuk tempat pemberhentian


transportasi darat angkutan kota, maupun antar kota

18

19% masyarakat belum memiliki jamban pribadi

17

67% daerah di Bondokenceng belum memiliki TPS

17

46
No

Masalah

Nilai
Prioritas

Fakta
Berdasarkan pendekatan supply-demand terdapat
ketimpangan antara jumlah penawaran dan
permintaan dari fasilitas pendidikan (kurang 68 SD
dan 32 SMP) dan fasilitas puskesmas (kurang 3
puskesmas)
Berdasarkan pendekatan spasial, jangkauan pelayanan
SMP, SMA dan puskesmas belum dapat melayani
seluruh wilayah di Bondokenceng

10

11

12

Jumlah penawaran
(supply) fasilitas
pendidkan (SD, SMP, SMA)
dan fasilitas kesehatan
(puskesmas) belum
mampu memenuhi
permintaan dari jumlah
penduduk yang ada

Minimnya sarana
perekonomian kebutuhan
tersier
Lambatnya respon
pemerintah terhadap
pengaduan masyarakat

16

Hanya terdapat satu buah department store kecil


45% masyarakat
pemerintah

belum

puas

terhadap

16
respon

14

13

Kurangnya lembaga
pelatihan keterampilan
dari pemerintah yang
mewadahi minat
masyarakat

Kurang meratanya pelatihan keterampilan masyarakat

14

14

Terdapatnya penduduk
yang kurang berdaya saing

26% penduduk usia kerja menganggur

14

15

Belum optimalnya kinerja


Pemerintah

58,6% masyarakat
pemerintah

16

Masih terdapatnya
penduduk miskin

8,76% penduduk merupakan penduduk miskin

belum

puas

dengan

kinerja

13

13

47
Fakta

Nilai
Prioritas

17

Produktivitas pertanian
(komoditas padi,
jagungdan tembakau)
rendah dan kurang
berdaya saing

Hanya terjadi maksimal 2 kali masa panen dalam


satu tahun
Rasio tanam (ton/ha) nunggu anak pereko yaaaa.
Harga
tembakau
Bondokenceng
berkisar
Rp20.000,00-Rp30.000,00

10

18

Potensi alam pariwisata


yang belum diolah secara
optimal

Belum dikelolanya destinasi pariwisata Pantai Muara


Kencana,Pantai Kartika Jaya dan Bendungan Kedung
Pengilon (Dinas Pariwisata Kabupaten Kendal)

10

Belum berkembangnya
UMKM yang ada
Resiko penurunan
produktivitas tambak
akibat adanya bencana rob

Kurangnya perhatian pemerintah terhadap UMKM dan


belum adanya organisasi/paguyuban UMKM

100 % area tambak merupakan daerah rawan rob

No

19
20

Masalah

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Dalam mengembangkan regional Bondokenceng sebagai ibukota yang dapat


melayani orde-orde kota dibawahnya,
terdapat masalah utama berupa belum
optimalnya Bondokenceng dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai pusat
pelayanan (ibukota) Kabupaten Kendal.
Masalah utama ini didapatkan dari
ditemukannya 20 permasalahan regional,
yang
digeneralisasikan
diantaranya
pelayanan infrastruktur penunjang belum
menjangkau seluruh wilayah dan kurang
berdaya saingnya Bondokenceng pada
beberapa ektor kehidupan yang dapat di
lihat pada Gambar 3.3.
Generalisasi
permasalahan
pelayanan
infrastruktur penunjang belum menjangkau
seluruh wilayah dapat dilihat dari
pertumbuhan penduduk tinggi yang tidak
diimbangi dengan adanya penawaran fasilitas pendidikan (SD, SMP, SMA) dan fasi-

litas kesehatan (puskesmas). Dimana jika


dilihat dari distribusi spasial, fasilitas SMP,
SMA, dan puskesmas belum menjangkau
seluruh wilayah Bondokenceng.
Kemudian generalisasi masalah selanjutnya
terdapat resiko terhambatnya aksesibilitas.
Hal ini diindikasikan dengan rendanya
produktivitas
masyarakat,
kurang
optimalnya kinerja pemerintah, rendahnya
kualita SDM, dan kurangnya usaha
pengembangan ekonomi lokal.
Selain itu kurangnya lembaga pelatihan
keterampilan dari pemerintah yang
mewadahi minat masyarakat, minimnya
sarana perekonomian kebutuhan tersier,
belum terdapat sistem persampahan yang
terpadu, dan belum meratanya kepemilikan
jamban pribadi merupakan masalahmasalah pendukung dari belum optimalnya
kinerja pemeintah sebagai eksekutor.

Sumber: www.pinterest.com

48

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 3.3
Skema Masalah Bondokenceng

49
3.3Tantangan
Tabel III.3
Tantangan
No
1

Tantangan

Driving Factors

Besarnya migrasi penduduk

Konversi lahan akibat tingginya


permintaan lahan permukiman

Meningkatnya permintaan sarana


penunjang aktivitas

Meningkatnya volume kendaraan

Tahun
Prediksi

Dasar Tahun
Prediksi

2025

KIK yang mulai


beroperasi tahun
2020

2020

Pembangunan Tol
Trans Jawa pada
tahun 2018

Pembangunan KIK
dan pembangunan
pintu
keluarmasuk Tol Trans
Jawa di Pegandon

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Adanya driving factors di Bondokenceng


berupa pembangunan KIK dan pembangunan pintu keluar masuk Tol Trans Jawa
di Pegandon akan menimbulkan beberapa
tantangan yang dapat dilihat pada Tabel
III.3.

Tantangan-tantangan tersebut berpotensi


sebagai ancaman dan hambatan Bondokenceng sebagai ibukota dan pusat pelayanan,
yang dijabarkan sebagai berikut:

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 3.4
Skema Tantangan Bondokenceng

50

Migrasi penduduk ke Bondokenceng


Hal ini terjadi karena banyaknya tenaga
kerja KIK yang membutuhkan tempat
tinggal kemudian bermigrasi ke wilayah
Bondokenceng, dimana diproyeksikan
pada tahun 2035 sebagian dari pekerja
di Kaliwungu akan bertempat tinggal di
Bondokenceng, dikarenakan wilayah
Bondokenceng berjarak sangat dekat
dengan KIK dan memiliki pelayanan
terpadu.

Meningkatnya permintaan sarana


penunjang aktivitas
Tantangan ini menyebakan diperlukannya pembangunan-pembangunan,
dimana fasilitas yang ada saat ini belum
mampu mencukupi kebutuhan di masa
depan agar jumlah permintaan dan
penawaran seimbang sehingga tidak
terjadinya kompetisi untuk mendapatkan pelayanan saranan penunjang
aktivitas.

Konversi lahan akibat tingginya


permintaan lahan permukiman
Konversi lahan ini terjadi karena
tingginya
permintaan
lahan
permukimanberbanding lurus dengan
tingkat migrasi di Bondokenceng.
Karena kebutuhan akan tempat tinggal
meningkat, maka diprediksikan akan
terjadi konversi lahan dari non
terbangun ke terbangun yaitu rumahrumah dan fasilitas.

Meningkatnya volume kendaraan


Penduduk
yang
bermukim
di
Bondokenceng tentu membutuhkan
fasilitas transportasi untuk melakukan
aktivitas dan menuju tempat kerja, baik
di dalam maupun luar Bondokenceng,
seperti KIK yang berbanding lurus
dengan tingkat migrasi dan konversi
lahan. Tantangan ini dapat diantisipasi
dengan membuat strategi dan program
pembangunan dan pengembangan
sarana dan prasarana jaringan jalan
dan
transportasi
publik
yang
terintegrasi sehingga volume kendaraan di Bondokenceng dapat dikurangi.

The mass of your visions


depends on the size of your
dreams and distance they can
cover within a given period of
your life.
Israelmore Ayivor

51
BAB IV
TUJUAN DAN KONSEP PERENCANAAN
4.1 Tujuan
Sebagai Ibukota Kabupaten Kendal, Wilayah
Bondokenceng
berpotensi
untuk
dikembangkan sebagai pusat pelayanan dan
permukiman
yang
dapat
memenuhi
kebutuhan masyarakat Bondokenceng.
Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan
adanya integrasi antara unsur-unsur
pembangunan. Hal tersebut dimaksudkan
agar tujuan perencanaan dapat tercapai.
Tujuan perencanaan pembangunan Bondokenceng adalah sebagai berikut:
Mewujudkan Bondokenceng sebagai pusat
pelayanan dan permukiman yang terintegrasi dan berdaya saing pada tahun
2035
Pada tujuan perencanaan Wilayah Bondokenceng tersebut, tedapat tiga kata kunci
sebagai target pencapaian perencanaan,
yaitu pusat pelayanan dan permukiman,
wilayah yang terintegrasi, dan Bondokenceng yang berdaya saing.
Pembangunan di Bondokenceng yang
berorientasi pada pembangunan pusat
pelayanan dan permukiman, terintegrasi,
dan berdaya saing diwujudkan dalam
perencanaan jangka panjang dengan kurun
waktu 20 tahun. Ketiga hal tersebut
dibutuhkan sebagai persiapan menghadapi
tantangan isu pembangunan KIK (Kawasan
Industri Kendal), Pelabuhan Niaga, dan Tol
Trans Jawa di Kabupaten Kendal.
Pusat pelayanan dan permukiman dibangun
guna
memenuhi
masyarakat
dalam
bermukim dan beraktivitas. Masyarakat yang
akan menggunakan pusat pelayanan dan
bertempat tinggal dalam permukiman ini
ialah masyarakat Bondokenceng sendiri yang
diprediksi akan terus meningkat serta

masyarakat sekitar Bondokenceng yang akan


bermigrasi ke dalam Wilayah Bodokenceng
seiring perkembangan kawasan sekitar
Bondokenceng seperti adanya rencana
pengembangan Kawasan Industri Kaliwungu
serta pembangunan pelabuhan Kabupaten
Kendal, dan pembanguan Jalan Tol Trans
Jawa yang akan mendorong adanya
kebutuhan
masyarakat
pusat-pusat
pelayanan, mengingat belum optimalnya
pelayanan wilayah Bondo-kenceng sebagai
orde 1 Kabupaten Kendal.
Selain itu, Wilayah Bondokenceng juga
diharapkan akan memiliki pusat-pusat
aktivitas yang terintegrasi yang satu dengan
pusat-pusat lainnya dan dapat dijangkau juga
oleh transportasi publik. Namun, bukan
hanya terintegrasi akan pusat aktivitas,
sistem regulasi yang terintegrasi di Wilayah
Bondokenceng juga diharapkan memiliki
kemampuan pemerintah maupun lembaga
dalam menyelaraskan, menyerasikan, mengharmoniskan kebijakan-kebijakan serta
program-program
dengan
fungsi
kawasan/container. Sehingga apa yang akan
diisi (content) akan sesuai dengan wadahnya
(container), saling mendukung, serta tidak
saling berbenturan. Hal demikian dapat
direalisasikan melalui kompetensi pemerintah untuk saling berkoodinasi dan
berkomunikasi agar terjadi keterpaduan
yang baik antar wilayah.
Diharapkan
dengan
integrasi
ini,
Bondokenceng secara internal maupun
secara eksternal dapat menjadi pusat
pelayanan dan permukiman yang dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat dan
handal.
Sedangkan untuk tujuan menjadikan Wilayah
Bondokenceng yang berdaya saing maka
diperlukan usaha dalam meningkat-kan

52
kemampuan Bondokenceng untuk turut
memiliki andil dalam persaingan kesempatan kerja yang lebih luas nantinya.
Hal tersebut dapat dilihat dari kebijakankebijakan yang diambil, implementasi
masing-masing kebijakan, serta kemampuan
dalam hal administratif dengan menggunakan teknologi.Kemudian masyarakat
yang berkompeten ialah masyarakat yang
memiliki pendidikan, kecerdasan, keterampilan, dan kemampuan mengorganisasi
pekerjaan yang tinggi sehingga masyarakat
dapat mempergunakan potensi lokal untuk
berproduksi.

4.2 Konsep Perencanaan Wilayah


Penentuan konsep pengembangan wilayah
Bondokenceng
didasarkan
dengan
pertimbangan
adanya
permasalahan
eksisting, potensi wilayah dan
driving
factors. Adapun masalah-masalah di
Bondokenceng antara lain: pelayanan sarana

penunjang yang belum menjangkau seluruh


wilayah, rendahnya kualitas SDM, kinerja
ekonomi yang belum optimal, sistem jaringan
infrastruktur yang belum terintegrasi, serta
lahan terbangun yang tidak kompak.
Sedangkan
driving
factors
pada
Bondokenceng ialah pembangunan KIK dan
jalan tol Trans Jawa. Potensi lokal
Bondokenceng adalah terdapatnya dua
pantai di kecamatan Cepiring dan Patebon
dan sebuah bendungan di Kecamatan
Ngampel yang berpotensi sebagai tempat
wisata serta UMKM yang tersebar di
Bondokenceng. Berdasarkan hal tersebut
dirumuskan tujuan perencanaan Bondokenceng yaitu: Terwujudnya Bondokenceng
sebagai Pusat Pelayanan dan Permukiman,
Terintegasi, dan Berdaya Saing pada Tahun
2035. Tujuan ini selanjutnya diturunkan
dalam tujuan Fokus Area dari Bondokenceng, yaitu Fokus Area PegandonNgampel dan Fokus Area Kota Kendal.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 4.1
Skema Konsep Bondokenceng

53
Dari masalah-masalah, driving factors, serta
potensi lokal yang ada, konsep yang diambil
dalam perwujudan tujuan tersebut ialah
pendekatan konsep smart growth. Beberapa
indikator dari konsep smart growth yang
dapat mendukung tujuan perencanaan ialah:
mixed use land, lahan terbangun yang
compact, walkable city (yang diterapkan di
Fokus Area), spesialisasi wilayah, preservasi
alam, pengembangan SDM, penyediaan
transportasi publik yang terintegrasi,
pembangunan yang efektif dan efisien, serta
menggandeng stakeholder.
Berikut adalah tujuan utama dan tujuan
khusus dari konsep Smart Growth:
Tujuan umum : Untuk mengantisipasi dan
mengatasi urban sprawl
a. Tujuan khusus :Menciptakan keunikan
suatu tempat (spesialisasi wilayah)
b. Memperbaikidan memperluas jaringan transportasi
c. Pemerataan pembangunan
d. Preservasi lingkungan
Secara teoritis, ada 9 prinsip Smart Growth:
1. Mixed use land, yakni penggunaan
lahan yang bervariasi, dimana dalam
satu zonasi, terdapat beberapa
penggunaan lahan yang bervariasi. Hal
demikian dapat memudahkan manusia
dalam
mendapatkan
pelayanan
dengan jarak terjangkau, sehingga
dapat mengurangi jarak tempuh dalam
menuju fasilitas dan mengefektifkan
transportasi.
2. Lahan terbangun yang compact,
yaitu lahan yang masih dapat dibangun
digunakan sebagai fungsi budidaya
permukiman sehingga masyarakat
tidak menempuh jalan yang jauh untuk
mendapatkan pelayanan suatu fasilitas
dan agar perkotaan yang ada menjadi
tidak terpencar (sprawl). Hal ini
terutama diterapkan pada fokus area.

3. Walkable city, yaitu desain perkotaan


yang akan diterapkan mendukung
pejalan kaki dimana penggunaan
transportasi pribadinya minim. Namun
prinsip ini tidak dapat diterapkan
dalam lingkup regional karena lingkup
regional luas dan tidak mungkin
ditempuh dengan berjalan kaki.
4. Spesialisasi wilayah, dimana setiap
wilayah dalam hal ini kecamatan akan
memiliki spesialisasi potensi ekonomi,
sehingga
dalam
satu
kawasan
Bondokenceng, setiap wilayah dapat
memberi kontribusi yang spesifik atau
terfokus.
5. Preservasi alam, yaitu prinsip yang
mempertahankan kelestarian alam.
Hal ini diterapkan dalam ruang lingkup
regional yang tetap mempertahankan
LP2B, tambak, dan hutan. LP2B dan
tambak terutama dimaksudkan untuk
ketersediaan pangan dan hutan untuk
menjaga keseimbangan ekologi.
6. Pengembangan SDM, yaitu lapisan
masyarakat baik pemerintah, petani,
maupun warga bukan petani dapat
mengelola
bidang
pekerjaannya
dengan baik, dapat mengoperasikan
alat komunikasi dan teknologi.
Dalam Bondokenceng, pengembangan
SDM pada pemerintah dilakukan agar
pemerintah
dapat
menerapkan
teknologi
komputer
untuk
penyimpanan basis data dan untuk
pelayanan kepada masyarakat agar
lebih efisien. Untuk petani, agar dapat
mengembangkan lahan pertanian dan
menggunakan
teknologi
agar
pekerjaan yang dilakukan lebih efektif.
7. Penyediaan transportasi publik
yang terintegrasi, yakni penyediaan
sarana-sarana transportasi yang
memadai dengan waktu tunggu,

54
kualitas, dan biaya yang memuaskan
sehingga pergerakan secara internal
dan eksternal dapat berjalan lancar.
Transportasi publik ini meliputi
angkot untuk pergerakan internal dan
sekitar meliputi seluruh wilayah
Bondokenceng termasuk fokus area,
serta bus untuk pergerakan antar
kabupaten.Penyediaan transportasi
publik ini tidak hanya pada moda
melainkan juga pada sarana dan
fasilitas
seperti
halte
dan
terminal.Setiap
angkutan
harus
melewati terminal agar dapat terjadi
pergantian antar moda dengan baik,
sehingga pergerakan akan lebih
mudah.
8. Pembangunan yang efektif dan
efisien, yaitu pembangunan yang
dilakukan sesuai dengan urgensi atau
prioritas dan dilaksanakan dengan
tidak membuang-buang sumber daya
(boros). Pembangunan ini meliputi
program-program
yang
akan
dilakukan untuk mewujudkan tujuan
perencanaan.
9. Menggandeng stakeholder, yakni
program-program pembangunan yang
dilakukan
dilaksanakan
dengan
kerjasama dengan stakeholder seperti
swasta melalui KPS (kerjasama
pemerintah-swasta) maupun dengan
masyarakat
melalui
kegiatan
partisipasi.
Sedangkan dalam fokus area, konsep ini
diterapkan dengan konsep Superblock untuk
fokus area Kota Kendal dan New Urbanism
untuk fokus area Pegandon-Ngampel.

Konsep Superblock dapat mendukung


tujuan Fokus Area Kota Kendal yaitu
Terwujudnya Kota Kendal yang Unggul
dan berdaya Saing sebagai Pusat
Pelayanan dan Regional (Kabupaten)
yang Atraktif dan Terintegarasi pada
Tahun 2035.Begitu pula konsep New
Urbanism yang dapat mendukung tujuan
Fokus Area Pegandon-Ngampel yaitu
Terwujudnya Pegandon-Ngampel yang
Terintegrasi dan Berdaya Saing sebagai
Pusat Permukiman yang Menghidupkan
Lansekap Lokal pada Tahun 2035.

4.2.1 Justifikasi Konsep


Smart growth adalah teori perencanaan
kota dan transportasi yang mengembangkan kota ke arah walkablecity dan
kompak untuk menghindari terjadinya
sprawl. Istilah smarth growth lebih dikenal di
Amerika Utara, sedangkan di Eropa dikenal
dengan kota yang kompak.
Berdasarkan permasalahan-permasalahan
yang ada pada Wilayah Bondokenceng,
konsep Smart Growth menjadi pendekatan
konsep
untuk
menyelesaikanberbagai
masalah yang ada. Selain itu, adanya
pertimbangan Driving Factors yaitu
pengaruh dari KIK (Kawasan Industri
Kendal) dan pembangunan jalan tol, dimana
salah satu dari pintu keluarnya berada di
kelurahan
Margomulyo,
Kecamatan
Pegandon, supaya tidak terjadi urban sprawl.
Untuk itu, dipilih konsep Smart Growth yang
diharapkan mampu memecahkan masalahmasalah
di Bondokenceng untuk
menghindari masalah yang lebih kompleks
serta menghadapi tantangkan yang akan
datang.

55

Sumber: www.pinterest.com

4.2.2 Best Practice Smart Growth

uritiba adalah ibu kota negara bagian


Brazil, Paran. Kota ini terletak di Brazil
bagian tenggara, sekitar 1.081 km dari ibu
kota
Brazil,
Brazilia.
Penduduknya
berjumlah 1.757.904 jiwa. Kota ini menjadi
tujuan untuk bertempat tinggal oleh para
imigran yang berasal dari Eropa sehingga
kota
ini
mengalami
pertambahan
penduduk yang sangat pesat. Pendekatan
yang dilakukan di Curitiba dalam hal
transportasi, konservasi ruang terbuka hijau,
pemukiman dan pengelolaan sampah telah
menjadi percontohan bagi kota-kota lain di
seluruh dunia. Dengan ruang terbuka hijau di
area publik seluas 52 meter persegiper
orang, lebih besar daripada kota manapun di
dunia.

Pertumbuhan Kota Curitiba menjadi


semakin cepat setelah tahun 1950
karenaCuritiba masih mengalami permasalahan berupa ancaman ledakan penduduk
yang menjadikan kota ini mengalami
fenomena kemacetan dan banjir.
Berdasarkan permasalahan yang ada, Kota
Curitiba mengambil konsep Smart Growth
untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

Adapun perubahan yang


Kota Curitiba yaitu :

dilakukan oleh

1. Memperbaiki Sistem Transportasi


Dalam mengatasi kemacetan, pemerintah
membangun jalan-jalan penghubung dari
tempat tinggal penduduk langsung menuju
pusat kota. Busway adalah alat transportasi
utama. Selain itu jalur khusus untuk sepeda
sepanjang 150 kilometer pun didirikan.
Dalam urusan transportasi, Curitiba
menerapkan trinary road system.Ini
adalahmodel jalanan yang menggunakan dua
jalur jalan besar yang berlawanan arah.
Namun yang istimewa, ada dua jalur
sekunder di tengah yang dimanfaatkan
sebagai jalur khusus untuk busway. Hampir
semua jalanan di curitiba menerapkan
sistem ini. Terdapat 12 terminal penumpang
di curitiba, yang tersebar di seluruh penjuru
mata angin.Terminal-terminal ini memberi
kemudahan,
yakni
memungkinkan
penumpang dapat meninggalkan dan
berganti bus tanpa harus membeli tiket baru.

56

2. Inovasi pengolahan sampah


Sebagaimana kota-kota besar lain diseluruh
dunia, Kota Curitiba juga mengalami berbagai permasalahan urban, antara lain pertambahan populasi dan sampah. Jumlah
penduduk Kota Curitiba yang besar
menghasilkan volume sampah yang besar
pula. Namun demikian Kota Curitiba tidak
terpuruk dalam permaslahan sampah.
Pada tahun 1989 kota Curitiba memulai
inovasi pengolahan sampah yang ekonomis
dan berwawasan lingkungan yang diberi
tajuk "Gerbage that is not Gerbage" (sampah
yang bukan sampah). Inovasi pengolahan
sampah tersebut dapat mendaur ulang 70%
sampah kota curitiba dan 90% penduduknya
berpartisipasi dalam program daur ulang
sampah.

Smart Growth
Dalam perkembangannya
telah terjadi peralihan dari
suatu upaya yang reaksioner
menjadi suatu upaya yang
proaktif membahas
bagaimana dan dimana
pembangunan baru perlu
diakomodasikan.
Berdasarkan konsep smart
growth ini pembangunan
dan implementasi dari
rencana-rencana lokal yang
komprehensif, akan
mengikuti prinsip-prinsip

smart growth

3. Konservasi Ruang Terbuka Hijau


Untuk mengatasi kerawanan banjir, Curitiba
melipatgandakan jumlah ruang tata hijau
(RTH)-nya agar terhindar dari banjir.
Curitiba menempuh segala cara untuk
memperbanyak
RTH.
Bekas
tempat
pembuangan akhir (TPA) disulap menjadi
taman-taman yang lebat dan asri. Danaudanau dibangun ditengah-tengah perkotaan.
Sementara RTH dilipatgandakan, bangunan
komersial terus dibangun. Dengan adanya
danau di tengah kota maka banjir dapat
diatasi, karena danau tersebut menampung
air sehingga air tersebut tidak naik dijalan.

yang tentunya disesuaikan


dengan kondisi-kondisi lokal,
misalnya: (i) guna lahan
campuran(ii) desain gedunggedung yang kompak (efisien
dan efektif); (iii) sejumlah
peluang-peluang dan pilihan
dalam hal
perumahan/permukiman; (iv)
lingkungan yang dapat
dicapai dengan berjalan; (v)
komunitas yang jelas dan
menarik, dan menciptakan
rasa lingkungan ang kuat
(sense of place); (vi) preserasi
ruang-ruang

terbuka lahan
pertanian,keindahan alam
dan pelestarian lingkungan
yang kritis; (vii)
pembangunan ang ditujukan
pada kbutuhan masarakat;
(vii) memberikan sejumlah
pilihan transportasi; (ix)
keputusan pembangunan
ang adil dan efektif biaya; (xi)
kerjasama antar pemangku
kepentingan dalam
pembuatan keputusan
pembangunan.
(sumber: smart growth
website)

57
4.3 Sasaran
Sasaran
dari
perencanaan
Wilayah
Bondokenceng dibuat dari kata kunci pada
tujuan perencanaan wilayah, yaitu sebagai
berikut:
A. Dari kata kunci pusat pelayanan dan
permukiman :
Sasaran untuk mewujudkan Wilayah
Bondokenceng sebagai pusat pelayanan dan
permukiman adalah sebagai berikut.
Terwujudnya penggunaan lahan yang
sesuai dengan karakteristik fisik wilayah
Secara fisik, setiap wilayah memiliki
karakteristik yang berbeda-beda.Karakteristik fisik ini dipengaruhi oleh kondisi
geologi seperti topografi, jenis tanah, curah
hujan, hidrogeologi, hidrologi, serta
kerawanan
terhadap
bencana.Setiap
penggunaan lahan harus mempertimbangkan faktor-faktor tersebut.Hal ini dilakukan
agar perwujudan dari setiap guna lahan
termasuk pusat pelayanan dan permukiman
dapat terhindar dari permasalahanpermasalahan fisik serta mampu melakukan
adaptasi terhadap permsalahan fisik yang
ada menggunakan strategi-strategi yang
ditetapkan.
Terciptanya pusat-pusat aktivitas yang
mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Bondokenceng dan sekitarnya
Saat ini Bondokenceng menghadapi isu-isu
pembangunan seperti Kawasan Industri
Kendal, Pelabuhan di Kaliwungu, serta
proyek pembangunan Tol Trans Jawa yang
melewati beberapa kelurahan di Kecamatan
Ngampel dan Kecamatan Pegandon.
Pembangunan KIK (Kawasan Industri
Kendal) akan berdampak pada peningkatan
kebutuhan akan service, perumahan,
perdagangan dan jasa, perhotelan, pusat
perbelanjaan dan sebagainya.

Pembangunan pusat-pusat aktivitas baru


perlu dibangun untuk memenuhi kebutuhan
yang meningkat tersebut. Selain itu, juga
untuk mengurangi kepadatan yang terjadi
pada pusat aktivitas eksisting.
B. Dari kata kunci terintegrasi:
Sasaran untuk mewujudkan Wilayah
Bondokenceng yang saling terintegrasi
adalah sebagai berikut.
Terwujudnya sistem transportasi publik
yang terintegrasi
Seiring dengan bertambahnya jumlah
penduduk, kebutuhan akan kendaraan
semakin meningkat. Untuk menghemat
energi dan meminimalisasi polusi serta
kemacetan, diperlukan adanya sistem transportasi publik yang terintegrasi antarmoda
antarwilayah. Transportasi tersebut diharapkan dapat memudahkan masyarakat
untuk melakukan mobilitas.
Perlu adanya institusi yang terkelola untuk
mewujudkan sistem transportasi tersebut
dengan baik. Ketepatan waktu, kenyaman,
serta kelengkapan fasilitas menjadi aspek
yang harus mencapai kondisi ideal. Sosialiasi
publik juga sangat diperlukan untuk
memperlancar program. Transportasi publik
dapat dikatakan berhasil jika ada sistem
yang jelas, pengelolaan institusi yang
terkontrol yang mampu melayani kebutuhan
mobilitas masyarakat.
Terwujudnya
terpadu

sistem

regulasi

yang

Untuk menjadi
Bondokenceng yang
terintegrasi, satu aspek yang penting untuk
dilakukan adalah mewujudkan sistem
regulasi yang terpadu. Regulasi yang
dimaksud cenderung kepada perencanaan
dan pengembangan wilayah, pengadaan
program-program
untuk
peningkatan
kualitas SDM, serta peningkatan ekonomi
lokal. Perlu adanya kerja sama yang solid

58
antar stakeholders agar dalam pembangunan
tidak terjadi hambatan yang memperlambat
pembangunan.

C. Dari kata kunci berdaya saing :


Sasaran untuk mewujudkan Wilayah
Bondokenceng yang berdaya saing adalah
sebagai berikut.
Terciptanya SDM yang Kompeten
Untuk menjadikan Bondokenceng agar
memiliki daya saing, hal pertama yang perlu
dilakukan adalah menciptakan SDM yang
berkompeten pelayanan dan industri
sehingga SDM yang berkompeten tersebut
dapat menekan angka kemiskinan Bondokenceng.
Adapun untuk menciptakan SDM yang
berkompeten, diperlukan adanya bantuan
dari
pemerintah
berupa
pengadaan
program-program pelatihan, pengadaan
sekolah-sekolah vokasi untuk mengembangkan kreatifitas penduduk sehingga mampu
mengangkat ekonomi kreatif yang ada di
wilayah yang bersangkutan, mampu memberi pelayanan mandiri dan siap terhadap
kebutuhan pekerja di Kawasan Industri
Kaliwungu.
Terwujudnya pengembangan ekonomi
lokal yang berdaya saing
Hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah
mengembangkan setiap ekonomi lokal
sehingga mampu menguatkan perekonomian Bondokenceng. Identifikasi persebaran usaha mikro kecil menengah dan
industri-industri kecil menengah setiap
daerah perlu dilakukan untuk mengetahui
lokasi serta jenis-jenis UMKM berdaya saing.
Selain itu, identifikasi terhadap potensi alam
setiap daerah juga perlu dilakukan untuk
mengembangkan pariwisata Bondokenceng
sehingga akan mengangkat potensi Bondokenceng untuk berkembang. Selain peran

dari pemerintah, pembangunan SDM yang


berkompeten juga diharapkan mampu
mengelola sendiri setiap ekonomi kreatif
yang ada, serta bisa memetik hasil dari
pengembangan ekonomi lokal di daerahnya
dengan arif.
Secara keseluruhan terbentuk enam sasaran
dalam mencapai tujuan perencanaan dengan
pendekatan konsep Smart Growth di Wilayah
Bondokenceng, yaitu:
1. Terwujudnya penggunaan lahan yang
sesuai dengan karakteristik fisik wilayah.
2. Terciptanya pusat-pusat aktivitas yang
mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Bondokenceng dan sekitarnya.
3. Terwujudnya sistem transportasi publik
yang terintegrasi.
4. Terwujudnya sistem regulasi yang terpadu.
5. Terciptanya SDM yang kompeten.
6. Terwujudnya pengembangan ekonomi
lokal yang berdaya saing.

Productivity is never an accident. It is always


the result of a commitment to excellence,
intelligent planning, and focused effort.
- Paul J. Meyer

57

BAB V
STRATEGI DAN INDIKASI PROGRAM
5.1 Sasaran 1 Terwujudnya Penggunaan Lahan yang Sesuai dengan
Karakteristik Fisik Wilayah
5.1.1 Strategi 1
Menciptakan Fungsi Kawasan Permukiman dan Pertanian yang
Berwawasan Lingkungan
Dasar penyusunan strategi 1 adalah adanya resiko banjir dan terganggunya fungsi LP2B akibat
bencana banjir.Terdapat dua indikator pencapaian dari strategi ini. Indikator pencapaian
pertama adalah mewujudkan kawasan permukiman dan pertanian yang terbebas dari bencana
banjir dengan meresapkan air hujan kedalam tanah yang dapat menjadi cadangan air. Indikator
pencapaian kedua ialah mengarahkan pengembangan kawasan permukiman ke pusat kota
(fokus area). Berikut merupakan program-program yang merealisasikan strategi 1.
A. Program Normalisasi dan Revitalisasi Saluran Drainase
Program ini dibagi menjadi dua subprogram yaitu program normalisasi dan
program revitalisasi saluran drainase.
Dalam
pelaksanaannya,
program
normalisasi sungai akan dilakukan
terlebih dahulu. Dengan adanya program
ini diharapkan resiko banjir dapat
diminimalisir. Karena idealnya tidak ada
wilayah yang ingin mengalami bencana
banjir. Program normalisasi saluran
drainase ini memiliki tujuan untuk
membersihkan saluran drainase dari
sedimentasi, sampah maupun tumbuhan
liar; yang lebih difokuskan untuk sungaisungai besar yang ada di Bondokenceng,
yaitu Bodri, Lutut dan Blorong. Kegiatan
dalam program ini berupa pengerukan
sedimentasi sungai, pembersihan saluran
drainase sekunder dan tersier dengan
metode partisipatif masyarakat, serta
pembuatan tanggul.
Selanjutnya program revitalisasi saluran
drainase merupakan upaya pengembalian fungsi saluran drainase sebagaimana mestinya dengan tujuan agar
saluran tersebut lebih optimal dalam
mengalirkan air limpasan. Program

normalisasi dan revitalisasi drainase ini


merupakan tanggung jawab dari Dinas
Pekerjaan Umum Kabupaten Kendal.
B. Program Sejuta Biopori
Program sejuta biopori merupakan
program yang melibatkan masyarakat
dalam pembuatan, pengelolaan maupun
pengawasan lubang-lubang resapan kecil
di lingkungan rumah. Program ini
bertujuan untuk menjaga kelestarian
sumberdaya. Program ini juga dinilai
sebagai bentuk konservasi air tanah dan
menjaga
kesuburan
tanah
yang
dihasilkan dari proses composting.
Lembaga yang akan bertanggung jawab
dalam program ini adalah Badan
Lingkungan Hidup Kabupaten Kendal.
Progam sejuta biopori diinspirasi dari
Gerakan Sejuta Biopori Kota Bandung,
yang digagas mulai tahun 2013. Best
practice ini merupakan gerakan gotong
royong untuk membuat Lubang Resapan
Biopori (LRB) yang melibatkan warga
Kota Bandung skala RT. Kegiatan yang
dilakukan dimulai dengan melakukan
sosialisasi akan manfaat biopori,

58
Dilanjutkan dengan aksi sejuta biopori yang dalam pelaksanaannya dilimpahkan kepada
tiap-tiap kelurahan. Harapannya setiap rumah memiliki minimal tiga lubang resapan
biopori.Sebagai contoh hasil penerapan biopori ini dapat dilihat pada Gambar 5.1.

Sumber : bioporibdg.wordpress.com

Gambar 5. 1
Dokumentasi Gerakan Sejuta Biopori Kota Bandung

C. Program Peningkatan Area Resapan


Salah satu kondisi buruk yang dihadapi
masyarakat Bondokenceng ialah dimana
ketika musim hujan bencana yang sering
kali terjadi adalah banjir dan ketika
musim
kemarau
panjang
warga
mengalami kesulitan dalam mendapatkan air untuk keperluan irigasi
pertaniannya. Oleh karena itu, diadakan
program peningkatan area resapan
melalui kegiatan pembangunan embungembung kecil yang tersebar di empat
kecamatan, yaitu Kecamatan Kota
Kendal, Patebon, Cepiring dan Ngampel.
Dengan pembangunan embung-embung
tersebut diharapkan resiko kemungkinan
bencana banjir bisa ditekan dan warga
akan mendapatkan cadangan air ketika
musim kemarau. Embung yang dibangun
berukuran 2 Ha dengan kapasitas
tampung sebesar 2.000 m3. Persebaran
lokasi dari embung-embung baru tdapat
dilihat pada peta dalam Gambar 5.2.
Penanggung jawab dari program ini
adalah
Dinas
Pekerjaan
Umum
Kabupaten Kendal.
D. Program
Penataan
dan
Optimalisasi Lahan Kawasan Pusat
Kota
Menurut RTR Pulau Jawa Bali Tahun
2011, Kabupaten Kendal bersama
dengan Kabupaten Grobogan dan Demak
difungsikan sebagai daerah untuk

Sumber : Hasil Analisis Kelompok 2B Studio


Perencanaan, 2015

Gambar 5.2
Peta Rencana Persebaran Embung
Bondokenceng

pengembangan
pertanian
pangan.
Sementara itu, 44% dari Bondokenceng
merupakan LP2B. Menyikapi hal
tersebut, perlu adanya perlindungan

59
terhadap kegiatan pertanian yang ada di
sana. Sampai dengan tahun 2035,
Kabupaten
Kendal
akan
terus
berkembang yang ditandai dengan
peningkatan jumlah penduduk akibat
driving factors berupa pembangunan KIK
di Kaliwungu dan Trans Tol Jawa dengan
salah satu pintu keluar masuk di
Margomulyo. Agar sejalan dengan RTR
Pulau Jawa Bali, adalah melakukan
pembangunan fisik perkotaan dengan
meminimalisir konversi LP2B dengan
men-konsentrasikan pembangunan fisik
di Fokus Area Kota Kendal dan Fokus
Area Pegandon Ngampel menjadi daerah
dengan kepadatan tinggi melalui konsep
vertical building. Program ini diwujudkan
dalam bentuk pembangunan rusunawa
yang menjadi tanggung jawab dari Dinas
Cipta Karya Kabupaten Kendal.

5.1.2 Strategi 2
Mewujudkan Sistem Irigasi
yang dapat Melayani Lahan
Pertanian Regional
Dasar penyusunan strategi 2 adalah dari
adanya permasalahan belum optimalnya
LP2B karena sistem irigasi pertanian yang
belum berfungsi optimal dan potensi LP2B
yang menjadi potensi ketahanan pangan.
Indikator pencapaiannya adalah terpenuhinya kebutuhan air bagi sawah-sawah
melalui sistem irigasi. Program-program
yang merupakan perwujudan dari strategi
ini berjumlah tiga program dengan
penjelasan sebagai berikut:

A. Program Normalisasi dan Revitalisasi


Saluran Irigasi
Program ini bertujuan untuk mengatasi
pendangkalan pada saluran irigasi sehingga
kapasitasnya kembali normal dan volume
air untuk kebutuhan irigasi dapat
meningkat secara kuantitas. Diharapkan
saluran-saluran irigasi dapat mengalirkan
air dari Kali Bodri menuju semua sawah
secara rata sehingga tanaman pada sawah
tumbuh dengan baik dan hasil panen
meningkat.
Adapun
kegiatan
yang
direncanakan dalam program ini adalah
pembuatan masterplan saluran irigasi dan
pemeli-haraan saluran irigasi. Penanggungjawab dari program ini adalah Dinas
Pertanian dan Dinas Pekerjaan Umum
Kabupaten Kendal.
B. Program Normalisasi dan Revitalisasi
Bendungan
Program ini bertujuan untuk mengatasi
pendangkalan pada bendungan sehingga
kapasitas bendungan dalam menahan dan
menyimpan cadangan air dapat meningkat
dan kembali normal. Bendungan yang
menjadi target dalam program ini ialah
Bendungan Kedung Pengilon. Diharapkan
bendungan dapat mencegah banjir karena
menahan dan mengurangi volume air yang
dialirkan ke daerah bawah, serta sebagai
pemenuh kebutuhan irigasi sawah-sawah.
Program ini didukung dengan kegiatankegiatan pengerukan, pembuatan masterplan saluran irigasi dengan penangggungjawab adalah Dinas Pertanian dan Dinas
Pekerjaan Umum Kabupaten Kendal.

C. Program Lahan Pertanian Abadi


LP2B merupakan lahan pertanian yang dimanfaatkan sebagai lahan produksi tanaman
pangan untuk tujuan ketahanan pangan. program ini bertujuan untuk mempertahankan
luasan LP2B sesuai peraturan. Alasan LP2B ini tetap dipertahankan karena lahan inilah yang
menjadi sumber produksi pangan tidak hanya bagi Kabupaten Kendal, tetapi juga untuk skala
nasional program ini direalisasikan melalui kegiatan sosialisasi akan LP2B, intensifikasi dan
perbaikan saluran irigasi.Penanggung-jawab dari program ini ialah Dinas Pertanian
Kabupaten Kendal. Harapan-nya program ini memberikan dampak positif terutama dalam
peningkatan
hasil
produksi
dan
dapat
menciptakan
ketahanan
pangan.

60
5.2 Sasaran 2 Terciptanya PusatPusat Aktivitas yang Mampu
Memenuhi Kebutuhan Masyarakat Bondokenceng dan Sekitar
5.2.1 Strategi 1
Mewujudkan jaringan sarana
dan prasarana wilayah yang
Terpadu
Dasar penyusunan strategi 2 adalah
jaringan sarana dan prasarana yang belum
terpadu serta belum menjangkau seluruh
wilayah. Indikator pencapaian strategi ini
adalah seluruh sarana dan prasarana
memiliki hirarki yang saling berhubungan
dan dapat menjangkau seluruh wilayah.
Berikut merupakan program-program yang
merealisasikan strategi 2

.
Sumber: Hasil Analisis
Perencanaan, 2015

Kelompok

2B

Studio

Gambar 5.3
Peta Rencana Jaringan Persampahan
Bondokenceng

A. Program Satu Rumah Satu Jamban


Program Satu Rumah Satu Jamban
merupakan salah satu upaya pewujudan
lingkungan permukiman yang sehat.
Sesuai dengan SPM Menteri Pekerjaan
Umum 01/PRT/M/2014, bahwa setiap 1

rumah harus memiliki 1 jamban pribadi.


Sebagian masyarakat Bondokenceng
masih melakukan MCK di sungai, hal
inilah yang membuat program satu
rumah satu jamban sangat penting untuk
dilaksanakan. Pelaksanaan program ini
diawali dengan kegiatan penyuluhan
tentang pentingnya jamban pribadi bagi
kesehatan lingkungan dan diikuti dengan
bantuan pengadaan jamban untuk warga
yang belum memiliki jamban pribadi di
rumahnya yang akan dilaksanakan oleh
Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten
Kendal. Diharapkan pada akhirnya 60%
masyarakat
Bondokenceng
akan
memiliki jamban pribadi di tiap rumah.
B. Program Pengembangan Jaringan
Jalan KaliwunguKendal-Weleri
Program pengembangan jaringan jalan
Kaliwungu-Kendal-Weleri ini ditujukan
untuk meningkatkan dan memudahkan
mobilitas masyarakat Bondokenceng dan
juga masyarakat di seluruh Kabupaten
Kendal. Mengingat Kota Kendal sebagai
ibukota Kabupaten Kendal, maka harus
ada hubungan yang sinergis dengan
pusat-pusat wilayah lain, seperti
Kaliwungu
dan
Weleri.
Dengan
berpedoman pada RTRW Kabupaten
Kendal tahun 2011-2031, program ini
diwujudkan dengan pembuatan Jalan
Arteri yang menghubungkan KaliwunguKendal-Weleri dan akan dilaksanakan
oleh Dinas Pekerjaan Umum. Diharapkan
nantinya akan tercipta sinergitas antara
3 pusat wilayah tersebut sehingga
mampu menggerakkan roda perekonomian,
mensejahterakan
dan
melayani masyarakat secara merata dan
terpadu.

61
C. Program Peningkatan Jangkauan Jalur
Kolektor
Penghubung
Perkotaan
Bondokenceng
Berdasarkan rencana, terdapat dua
kawasan perkotaan di Bondokenceng,
yakni kawasan Kota Kendal dan
Pegandon-Ngampel. Adapun Kota Kendal
berfungsi sebagai kawasan pusat
pelayanan
sedangkan
PegandonNgampel berfungsi sebagai kawasan
pusat permukiman. Pengembangan jalur
kolektor penghubung kawasan perkotaan di wilayah Bondokenceng, yakni
dari kawasan pusat pelayanan Kota
Kendal dan kawasan pusat permukiman
Pegandon-Ngampel dituju-kan untuk
mempermudah mobilitas dari dua
kawasan perkotaan tersebut.
Program ini direalisasikan melalui
beberapa tahap, yaitu penentuan jalan
yang semula jalan lokal maupun
lingkungan yang menghubungkan kedua
pusat perkotaan, kemudian jalan
tersebut ditingkatkan kelasnya menjadi
jalan kolektor. Selain itu, pengembangan
jalur kolektor penghubung Kota Kendal
dan Pegandon-Ngampel yang akan
dinaungi oleh Dinas Perhubungan ini
juga ditujukan untuk menghubungkan
kedua kawasan perkotaan tersebut
secara lebih tegas sehingga dapat
mempermudah mobilisasi masyarakat.
D. Program Revitalisasi Pasar
Program revitalisasi pasar dilakukan
untuk memperbaiki kualitas serta
kuantitas. Peremajaan dalam hal kualitas
yaitu untuk meningkatkan kebersihan
sehingga pembeli nyaman berbelanja di
pasar tersebut. Pengadaan fasilitas
khusus untuk pengolahan sampah
organik menjadi pupuk organik cair atau
meggunaka pendekatan pengelolaan 3R.
Sedangkan untuk peningkatan kuantitas
yaitu penambahan jumlah kios atau loslos yang ada. Program ini akan
dilaksanakan di Kelurahan Pegulon

dengan menggunakan best practice Pasar


Segaman Purbalingga yang mengacu
kepada Peraturan Menteri Perdagangan
Republik Indonesia Nomor 70/MDAG/PER/12/2013 tentang Pedoman
Penataan
dan
Pembinaan
Pasar
Tradisonal.
Penerapan dilaksanakan sesuai best
practice yang telah ada adalah citra pasar
dirubah menjadi pasar yang mudah
dijangkau, bersih, dan tertata rapi dan
pasar tradisional berkonsep modern
dilengkapi dengan fasilitas pengolahan
sampah dan penyediaan jumlah kios
yang mencukupi. Sehingga dari program
ini diharapkan dapat menampung lebih
banyak pedagang dan tidak terjadi pasar
tumpah yang dapat menjadi hambatan
samping jalan.

Sumber : jateng.tribunews.com

Gambar 5. 4
Pasar Segaman Purbalingga

E. ProgramPembangunan
Sarana
Perekonomian Tersier
Berdasarkan
hasil
observasi,
Bondokenceng belum memiliki sarana
perekonomian tersier seperti department
store.
Program pengembangan sarana perekonomian tersier di wilayah Bondokenceng ditujukan untuk mendukung
pemenuhan kebutuhan masyarakat akan
sarana perekenomian di dalamnya.

62
Berdasarkan
hasil
survei,
70%
masyarakat di Bondokenceng setuju
terhadap rencana pengadaan sarana
perekonomian tersier berupa pusat
perbelanjaan seperti department store.
Hal tersebut
menandakan bahwa
rencana program pengembangan sarana
perekonomian tersier telah mendapatkan dukungan dari masyarakat dan
masyarakat membutuhkan pusat per-

belanjaan tersebut. Adapun pelak-sanaan


program ini dimulai dengan kegiatan
sosialisasi kepada masyarakat, penentuan lokasi, dan kerjasama pemerintah swasta. Program ini akan dibawahi oleh
Dinas Perindustrian dan Perdagangan,
ditujukan untuk mendu-kung peran
Bondokenceng sebagai wilayah dengan
orde pertama di Kabupaten Kendal yang
memiliki fungsi sebagai pusat pelayanan.

F. Program Peningkatan Pelayanan Sarana Pendidikan Menengah


Program peningkatan pelayanan sarana pendidikan menengah ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat akan pendidikan SMP dan SMA. Berdasarkan analisis spasial
jangkauan pelayanan sarana pendidikan SMP dengan radius 1.000 meter, terdapat beberapa
kawasan permukiman yang belum terjangkau.
Berdasarkan analisis spasial jangkauan pelayanan sarana pendidikan SMA dengan radius
3000 meter, Adapun secara jangkauan kuantitas berdasarkan SNI 03-1733-2004 tentang tata
cara perencanaan lingkungan perumahan di perkotaan dengan standar 1 unit sarana
pendidikan menegah/4.800 jiwa, masih terdapat 72% wilayah Bondokenceng yang belum
terjangkau oleh pelayanan sarana pendidikan menegah. Program ini direalisasikan dalam
kegiatan penentuan lokasi agar menjangkau seluruh wilayah, pembebasan lahan (jika
dibutuhkan) dan kemudian pembangunan sekolah. Peta rencana lokasi-lokasi SMP,
jangkauan pelayanannya, serta cakupan wilayah yang telah terlayani oleh titik-titik SMP
dapat dilihat pada Gambar 5.5. Sedangkan peta rencana lokasi fasilitas SMA ini dapat dilihat
pada Gambar 5.6.

Sumber: Hasil Analisis


Perencanaan, 2015

Kelompok

2B

Gambar 5.5
Peta Rencana Persebaran SMP di
Bondokenceng

Studio

Sumber: Hasil Analisis


Perencanaan, 2015

Kelompok

2B

Gambar 5.6
Peta Rencana Persebaran SMA di
Bondokenceng

Studio

63
G. Program Peningkatan Fasilitas
Kesehatan
Program
peningkatan
pelayanan
puskesmas ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat akan fasilitas
kesehatan skala puskesmas. Berdasarkan
analisis spasial jangkauan pelayanan
puskesmas, masih ada sekitar 12.50%
wilayah yang belum terjangkau dalam
pelayanan puskesmas. Adapun secara
jangkauan kuantitas berdasarkan SNI 031733-2004
tentang
tata
cara
perencanaan lingkungan perumahan di
perkotaan dengan standar 1 unit
puskesmas/30.000 jiwa. Program ini
direalisasikan dalam kegiatan penentuan
lokasi agar menjangkau seluruh wilayah,
pembebasan lahan (jika dibutuhkan) dan
pembangunan fasilitas. Peta rencana
lokasi fasilitas puskesmas ini dapat
dilihat pada Gambar 5.7.

Sumber : Hasil Analisis


Perencanaan, 2015

Kelompok

2B

Studio

Gambar 5.7
Peta Rencana Persebaran Puskesmas di
Bondokenceng

5.3 Sasaran 3 Terwujudnya sistem transportasi publik yang terintegrasi


5.3.1 Strategi 1
Meningkatkan pelayanan transportasi untuk memperlancar mobilitas masyarakat
Dasarpenentuan strategi ini adalah adanya permasalahan aksesibilitas, belum tersedianya
fasilitas pendukung transportasi darat, adanya trayek kurus dan pelayanan transportasi umum
yang belum maksimal. Terciptanya sarana dan prasarana pelayanan transportasi umum yang
menyelesaikan masalah kemacetan merupakan indicator pencapaian dar strategi ini. Programprogram di bawah ini merupakan bentuk perwujudan dari strategi 1.
A. Program Pengembangan Sistem Jaringan Jalan
meningkatkan mobilitas masyarakat Kendal.
Program pengembangan sistem jaringan
Prioritas penanganan jalan rusak berat
jalan ditujukan untuk meningkatkan fungsi
jalan, sebagai prasarana distribusi sekaligus
(prioritas I) dan jalan rusak sedang
(prioritas II) yang dapat dilihat pada
pembentuk struktur ruang wilayah yang
Gambar 5.8. Dalam penentuan prioritas
harus dapat memberikan pelayanan
transportasi secara efisien (lancar), aman
penanganan jalan rusak, dipilih berdasarkan
(selamat), dan nyaman.
fungsi dan jangka waktu jalan tersebut telah
rusak.
Program pengembangan sistem jaringan
jalan ini merupakan program urgensi
Negara yang maju bukanlah tempat
melihat jalan di Bondokenceng berada
dimana orang miskin bisa memiliki mobil.
dalam kondisi buruk dengan presentase
Melainkan tempat dimana orang miskin
dan kaya duduk berdampingan
mencapai
13,4%.
Program
ini
menggunakan
transportasi umumditanggungjawabi oleh Dinas Bina Marga
Anonim
Kabupaten Kendal dengan harapan akan

64
kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi
tujuan program ini adalah dengan
melakukan pembangunan halte dan
terminal pada jalan yang menghubungi
antar kawasan strategis.

Sumber : www.wricities.org

Gambar 5.9
Multimodal Mexico City

Sumber : Hasil Analisis


Perencanaan, 2015

Kelompok

2B

Studio

Gambar 5.8
Peta Rencana Perbaikan Jalan Rusak
Bondokenceng

B. Program Public Transport Development (PTD)


Program public transport development
(PTD) adalah program pengembangan
transportasi umum sebagai perwujudan
transportasi intermodal (angkutan kota
kereta apiBRT) di Bondokenceng yang
bertujuan untuk memingkatkan angka
wilayah yang terlayani oleh prasarana halte
dan terminal. Program ini ditanggungjawabi
oleh Dinas Bina Marga Kabupaten Kendal
yang harapannya dapat mewujudkan sistem
transportasi publik yang terintegrasi antar
satu moda dengan moda lainnya. Bentuk

C.
Program Optimalisasi Stasiun
Kalibodri
Program optimalisasi Stasiun Kalibodri
ditujukan untuk wujud nyata pelayanan
integrasi
transportasi
publik
di
Bondokenceng, yang merupakan lanjutan
dari program sebelumnya (PTD). Stasiun
Kalibodri sebagai titik potensial, dijadikan
sebagai simpul utama dalam pengintegrasian transportasi publik di Bondokenceng. Optimalisasi stasiun kalibodri yang
ditanggungjawabi oleh Dinas Bina Marga
Kabupaten Kendal dan PT. KAI ini meliputi
peremajaan penyediaan prasarana perkeretaapian seperti jalur, stasiun dan fasilitas
operasi kereta rencananya akan dibangun
dalam satu tahapan. Pada tahapan
pengoptimalan ini dilakukan pengembangan jaringan dan layanan kereta api
yang menghubungkan Bondokenceng dan
wilayah sekitar Kabupaten Kendal.

Sumber : www.matthewweathers.com

Gambar 5.10
Metro di Las Vegas

65
D. Program Peningkatan Jangkauan
Trayek Angkutan Umum
Program
pengembangan
trayek
angkutan umum ditujukan untuk
mewujudkan rencana sistem transportasi Bondokenceng. Program yang
ditanggung-jawabi oleh Dinas Bina
Marga Kabupaten Kendal ini targetnya
akan menyediakan tiga moda angkutan
massal
transportasi
yang
akan
dikembangkan di Bondokenceng.
Pertama, angkutan kota yang menjangkau dan terintegrasi antar wilayah,
memberikan kenyamanan, keamanan,
serta ketepatan waktu. Kedua, Bus Rapid
Transi (BRT) yang diberi nama Trans
Kendal terdiri dari 2 koridor (Koridor
Weleri Kota Kendal Kaliwungu dan
Koridor Cepiring - Purwosari Lanji
Penanggulan Pegandon -Tegorejo)
dilengkapi dengan halte-halte tempat
pemberhentian
dan
pengangkutan
penumpang di tempat strategis, dapat
dilihat pada Gambar 5.11. Ketiga, yaitu
kereta api yang menghubungkan

E. Electronic Road Pricing (ERP)


Sistem ERP akan dijadikan program
terakhir untuk mencapai sasaran 3 berupa
pemberlakuan pada kendaraan pribadi di
Singapura. Singapura telah memberlakukan
jalan berbayar dengan tujuan untuk
mengurangi kemacetan di jalan raya.
Program yang ditanggung-jawabi Dinas
Bina Marga ini efektif memindahkan
pengguna kendaraan pribadi ke angkutan
umum. Sehingga jalan raya menjadi jarang
macet. Program jalan berbayar elektronik
adalah pungutan untuk jalan di tempattempat tertentu dengan cara membayar
secara elektronik. Tempat dilakukannya
pungutan jalan biasa disebut restricted

terminal angkutan kota, yang nantinya


akan dikembangkan menjadi Komuter
Kendal (Kendal, Pegandon-Ngampel,
Kaliwungu, Weleri).

Sumber : Hasil Analisis


Perencanaan, 2015

Kelompok

2B

Studio

Gambar 5.11
Peta Rencana Trayek Angkutan Umum
Bondokenceng

area. Bila menggunakan kendaraan, setiap


kali melewati restricted area tersebut
pengguna kendaraan harus membayar.
Bentuk kegiatan yang dilakukan dalam
proses pengadaan ERP ini adalah dengan
melakukan pendataan terlebih dahulu
terhadap seluruh pemilik kendaraan, lalu
dilanjutkan dengan pemberian chip khusus
yang dapat dideteksi oleh mesin yang
mengambil saldo pada pengguna kendaraan
pribadi yang melintasi restricted area.

Gambar 5.12
Electric Road Pricing di Singapura
Sumber : www.weltrekordreise.ch

66
5.4 Sasaran 4 Terwujudnya sistem
Regulasi yang Terpadu
5.4.1 Strategi 1
Mewujudkan good governance
Penyusunan strategi tersebut didasarkan
oleh permasalahan yang ada, yakni
lambatnya respon pemerintah terhadap
pengaduan masyarakat serta belum
optimalnya kinerja pemerintah. Iindikator
dari strategi ini ialah pemerintah memiliki
daya tanggap yang tinggi terhadap
pengaduan masyarakat serta meningkatnya
kinerja
aparatur
pemerintah
(profesionalisme dan kompetensi). Berdasarkan hal tersebut disusunlah indikasi
program berdasarkan strategi yang ada
untuk mencapai sasaran.
A. Program e-government
Program e-government merupakan bentuk
layanan untuk mendapatkan data dinas di
pemerintahan, akses peman-tauan proses
pembuatan dokumen sipil dan laporan
pengaduan terhadap permasalahan yang
ada secara online seperti yang di terapkan di
Korea Selatan. Setiap masyarakat yang
memiliki KTP dapat meregistrasikan nomor
KTP-nya kemudian log in untuk mendapatkan akses tersebut. Hal ini dilakukan untuk
membuka kesempatan yang sebesarbesarnya
bagi
masyarakat
dalam
menyampaikan aspirasinya secara cepat
sehingga mampu mengatasi permasalahan
lambatnya respon pemerintah terhadap
pengaduan, seperti pengaduan jalan rusak
di Kendal yang hingga 15 tahun belum
mendapat perhatian.
Program ini akan dinaungi oleh Sekda,
dengan dilaksanakannya program ini
diharapkan akan terbentuknya sistem
pemerintahan yang responsif terhadap
pengaduan masyarakat sehingga dapat
melayani masyarakat secara maksimal
dalam mewujudkan sistem regulasi yang
terpadu. Ilustrasi contoh penerapan e-

government dapat dilihat pada Gambar


5.13.

Sumber: www.epeople.go.kr

Gambar 5.12
Tampilan Menu Website Pemerintahan
Korea Selatan (versi Google Translate)

B. Program Insentifikasi dan Disinsentifikasi Jam Kerja


Program insentif dan disinsentif merupakan
program yang dinaungi oleh Sekretaris
Daerah pada setiap desa/kelurahan untuk
memotivasi agar capaian kinerja aparat
pemerintahan dalam melaksanakan tugas
utamanya yaitu melayani penduduk,
mengelola wilayah, dan menyelenggarakan
pemerintahan
benar-benar
optimal
sehingga terbentuknya sistem pemerintahan yang profesional dalam masyarakat
seperti yang terjadi di Korea Selatan.
Bentuk insentif tersebut dapat berupa
tambahan gaji, bonus maupun tunjangan
dan bentuk disinsentif ialah pemotongan
bonus, tunjangan maupun gaji. Hal ini
dilakukan atas dasar permasalahan kurang
profesionalnya aparat pemerintah yaitu
perangkat desa/kelurahan dalam hal
menyediakan dan melakukan pendataan
desa/kelurahan serta jam kerja yang belum
mengikuti peraturan dimana jam kerja ini
sudah berakhir pukul 12.00.

67
5.5 Sasaran 5 Terwujudnya SDM
yang kompeten
5.5.1 Strategi 1
Mewujudkan good governance
Penyusunan strategi tersebut didasarkan
oleh permasalahan yang ada, yakni
kurangnya lembaga pelatihan keterampilan
dari pemerintah yang mewadah minat
masyarakat. Indikator dari strategi ini ialah
pelayanan pemerintah yang responsif
terkait kondisi kualitas SDM. Berdasarkan
hal tersebut disusunlah indikasi program
berdasarkan strategi yang ada untuk
mencapai sasaran.
A. Program
Perlindungan
dan
Pengembangan Lembaga Ketenagakerjaan
Program perlindungan dan pengembangan
lembaga
ketenaga-kerjaan
merupakan
program yang dinaungi oleh Dinas Tenaga
Kerja dan Transmigrasi untuk membentuk
LKP pada 52% desa/kelurahan yang belum
memilikinya. Selain itu akan ditingkatkannya standar kesehatan dan keselamatan
bagi pekerja serta menjaga lembaga
keterampilan dan pendidikan yang ada dan
yang akan diadakan menjadi rutin
dilaksanakan pada seluruh desa/kelurahan
sehingga
setiap
generasi
memiliki
kesempatan yang sama untuk memperoleh
keterampilan.
B.

Program Penyediaan Pendidikan


Vokasi
Program penyediaan pendidikan vokasi
merupakan program yang dinaungi oleh
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi untuk
membentuk sekolah vokasi sesuai kriteria
masyarakat setempat seperti pendidikan di
bidang pertanian, industri dan perikanan.
Hal ini dilakukan dikarenakan pada lokasi
perencanaan belum terdapat sekolah vokasi
dan tingkat pendidikan masyarakat masih
rendah dimana kondisi awal terdapat 57%
penduduk usia produktif berpendidikan
dibawah SMA sehingga dibutuh pendidikan

untuk meningkatkan keahlian masyarakat,


dengan
disediakan-nya
fasilitas
ini
diharapkan masyarakat akan memiliki
keterampilan yang mampu membuka usaha
bagi dirinya maupun orang lain yang
berdampak menurunnya pengangguran dan
meningkatnya pendapatan masyarakat.

5.5.2 Strategi 2
Mengadakan dan meningkatkan efektivitas program pelatihan
Penyusunan strategi tersebut didasarkan
oleh permasalahan dan potensi yang ada,
yakni banyaknya UMKM yang ada namun
memiliki penduduk yang kurang berdaya
saing. Indikator dari strategi ini ialah
peningkatan
intensitas
pelaksanaan
program pelatihan keterampilan bagi
masyarakat. Berdasarkan hal tersebut
disusunlah indikasi program berdasarkan
strategi yang ada untuk mencapai sasaran.
A. Fasilitasi Bisnis Inkubator (Pembinaan Pelaku Usaha Kecil Menengah)
Program
fasilitasi
bisnis
inkubator
merupakan program yang berangkat dari
potensi banyaknya UMKM yang ada di
Bondokenceng namun pelaku usaha yang
kurang berdaya saing. Program ini akan
dinaungi oleh Dinas Tenaga Kerja dan
Transmigrasi untuk membentuk dan
meningkatkan program pelatihan yang akan
dilakukan secara rutin pada seluruh
desa/kelurahan dimana kondisi awal
terdapat 32% kelurahan belum memiliki
program pelatihan rutin dari pemerintah.
Pelatihan tersebut
dimulai dari tahap
pelatihan (materi), evaluasi kelayakan ide
bisnis, fasilitasi investasi, manajemen,
membangun
kemitraan
hingga
pengendalian dan penciptaan atmosfir
kewirausahaan di lingkungan.
Pembentukan pelatihan ini sesuai dengan
potensi UMKM yang ada di wilayah studi,
dengan disediakannya fasilitas ini

68
diharapkan masyarakat akan memiliki
keterampilan yang mampu membuka usaha
bagi dirinya maupun orang lain serta
meningkatkan kualitas dan kuantitas dari
produksi
UMKM
yang
ada
untuk
didistribusikan keluar Bondokenceng.

membangun
jejaring
pasar
guna
memperlancar penjualan produk pertanian.
Dalam perencanaannya, akan disediakan
koperasi dan spesialisasi wilayah yang
dapat dilihat pada peta dalam Gambar
5.15.

5.6 Sasaran 6 Terwujudnya


pengembangan ekonomi lokal yang
berdaya saing
5.6.1 Strategi 1
Meningkatkan kualitas komoditas unggulan untuk menjaga
kestabilan harga komoditas
Dasar penyusunan strategi 1 adalah
rendahnya dan kurang berdaya saingnya
produktivitas komoditas padi, jagung, dan
tembakau. Indikator pencapaian dari
strategi ini adalah peningkatan kualitas
komoditas unggulan agar berdaya saing dan
harga komoditas menjadi stabil. Programprogram yang merealisasikan strategi 1
antara lain:

Sumber: www.chinadaily.com, 2015

Gambar 5.13
Pertanian di Kota Chendu, Tiongkok

A. Program Peningkatan Produktivitas


Komoditas Unggulan
Program
peningkatan
produktivitas
komoditas unggulan merupakan salah satu
program yang bertujuan untuk mewujudkan
pengembangan ekonomi lokal yang berdaya
saing. Adanya program ini diharapkan dapat
mengatasi masalah rendahnya produktivitas
komoditas
unggulan
di
Bondokenceng, khususnya komoditas padi,
jagung, dan tembakau serta dapat
memenuhi kebutuhan pangan, khushsnya di
Bondokenceng.
Pengadaan program ini berkaca dari
kesuksesan Kota Chengdu, Tiongkok dalam
mengelola pertanian secara modern dengan
mendorong otomatisasi dan mekaniasi
peralatan pertanian, membangun kelembagaan pertanian yang terpadu, serta

Sumber : Hasil Analisis


Perencanaan, 2015

Kelompok

2B

Studio

Gambar 5.14
Peta Rencana Pengembangan Komoditas
Padi dan Jagung dan Persebaran Koperasi
Bondokenceng

69
B. Program Koperasi Usaha Pertanian
(KUP)
Program KUP ini bertujuan agar nilai
komoditas hasil produksi pertanian tetap
stabil dan tidak lagi dikontrol oleh para
tengkulak yang merugikan para petani.
Dengan menciptakan 2 unit koperasi (untuk
padi dan jagung) pada tahun 2016
harapannya para petani dapat mencapai
kesejahteraannya secara bersama dan dapat
mewujudkan pengembangan ekonomi lokal
yang berdaya saing. Khusus untuk KUP
komoditas padi diletak di Kecamatan
Cepiring dan komoditas jagung di
Kecamatan Pegandon. Salah satu contoh
program KUP berhasil diterapkan di
Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes.
Kabupaten Brebes masuk menjadi salah
satu nominasi peraih prestasi penghargaan
sebagai Kabupaten Penggerak Koperasi dari
Kementerian Koperasi dan UKM RI tahun
2015 (dikutip dari brebesnews.com).

Sentra industri makanan ringan di


Jalan Tentara Pelajar; serta
Sentra produksi perikanan tambak di
kawasan wisata Pantai Muara Kencan
dan Pantai Kartika Jaya.
Program ini mengacu pada perkem-bangan
klaster industri di Kota Pekalongan, yang
telah berkembang pesat. Sentra pemasaran
batik di Pasar Sentono telah menjadi wadah
para perajin batik untuk dapat memasarkan
produknya.

Sumber: www.imagesdetik.com, 2015

5.6.2 Strategi 2
Meningkatkan
kompetensi
pelaku usaha mikro menengah

Gambar 5.15
Sentra Industri Batik di Kota Pekalongan

Dasar penyusunan strategi 2 adalah belum


berkembangnya
UMKM
yang
ada
danpotensi bahwa terdapat beragam UMKM
di Bondokenceng. Indikator pencapaian dari
strategi ini adalah adanya peningkatan
kualitas dari pelaku usaha UMKM agar
dapat mengembangkan dan meningkatkan
hasil produksi UMKM yang ada. Programprogram yang merealisasikan strategi 2
ialah:
A. Program Sentra Industri Kendal
Program sentra industri Kendal merupakan
salah satu program yang diinisiasi Program
ini bertujuan untuk memusatkan kawasan
industri
kecil-menengah
berdasarkan
produk yang dihasilkan dengan rincian,
sebagai berikut:
Sentra batubata di Botomulyo;
Sentra Batik Jambekusuma di
Jambearum;

Sumber:

Hasil Analisis Kelompok


Perencanaan, 2015

2B

Studio

Gambar 5.16
Peta Rencana Pengembangan Sentra Industri
Bondokenceng

70
B. Program Fasilitasi Bisnis Inkubator
Program Fasilitasi Bisnis Inkubator
merupakan program yang diinisiasi
untuk membina para pemilik usaha
secara berkala untuk meningkatkan
kompetensi
pemilik
usaha.
Pada
pelaksanaannya, kemampuan pelaku
UMKM ditingkatkan baik dari segi
keterampilan, pengelolaan usaha, maupun financialmisalnya dengan pinjaman
modal sehingga dapat me-ngembangkan
dan meningkatkan hasil produksi UMKM
yang ada pada Kawasan Perkotaan
Kendal. Program inkubator bisnis dapat
dilakukan melalui kerjasama antara
pemerintah dengan pihak akademisi
(perguruan
tinggi).
Program
ini
diharapkan dapat meningkatkan kinerja
usaha UKM sehingga mampu berkembang secara mandiri, berkembang dan

berdaya saing dalam rangka menghadapi


masyarakat ekonomi Asean (MEA).
Target yang diharapkan pada tahun 2035
adalah sebanyak 50% pemilik usaha
dapat terfasilitasi melalui program ini.
Contoh program fasilitasi inkubator
adalah Incubie LPPM IPB yang
menanungi 45 UMKM di Jawa Barat.

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio


Perencanaan, 2015

Gambar 5.18
Rencana Sentra Industri Kendal

5.6.3 Strategi 3
Mengoptimalkan tanaman mangrove untuk mengatasi rob
Dasar penyusunan strategi 3 adalah terdapatnya resiko penurunan produktivitas tambak akibat
adanya bencana rob. Indikator pencapaian dari strategi ini adalah terealisasinya penanaman
mangrove untuk mencegah rob di daerah tambak agar nantinya produktivitas tambak dapat
meningkat. Program yang merealisasikan strategi 3 ialah:
A. Program Sejuta Mangrove
Program Sejuta Mangrove merupakan salah
satu solusi permasalahan rob pada area
tambak. Penanaman sejuta mangrove pada
area pesisir Bondokenceng diharapkan
dapat maminimaslisasi adanya ancaman rob
di masa yang akan datang. Pada tahun 2035
diharapkan lahan tambak yang aman ndari
ancaman rob meningkat menjadi 60% dari
luas tambak yang ada. Program ini dikelola
oleh dinas kehutanan. Contoh program
mangrove berhasil diterapkan di Taman
Hutan Raya Ngurah Rai, Bali. Taman
tersebut menjadi kawasan wisata hutan
mangrove yang banyak dikunjungi wisatawan.

Sumber: www.imagesdetik.com

Gambar 5.19
Taman Raya Ngurah Rai, Bali

71
5.6.4 Strategi 4
Meningkatkan pengelolaan potensi wisata dengan menarik investasi dari
swasta serta memberdayakan masyarakat
Dasar penyusunan strategi 4 adalah terdapatnya obyek wisata Pantai Kartika Jaya dan Muara
Kencana serta Bendungan Kedung Pengilon sebagai objek wisata dan sumber air cadangan,
tetapi di sisi lain potensi tersebut belum diolah secara optimal. Indikator pencapaian dari
strategi ini adalah adanya pengelolaan potensi wisata alam dengan menarik investasi dari pihak
swasta dan memberdayakan masyarakat agar potensi wisata alam dapat berkembang secara
optimal. Program yang merealisasikan strategi 4 ialah :

A. Program Kelompok Sadar Wisata


Program
Kelompok
Sadar
Wisata
merupakan upaya dalam pengembangan
potensi wisata pantai yang ada di
Bondokenceng. Potensi wisata di Pantai
Muara Kencana dan Pantai Kartika Jaya
merupakan aset lokal yang dapat
dikembangkan oleh masyarakat sekitar agar
memiliki nilai ekonomis.
Pengembangan tersebut dilakukan dengan
masyarakat
menyediakan
kebutuhankebutuhan bagi wisatawan seperti tempat
penginapan, tempat makan, tempat oleholeh, kios-kios untuk membeli baju dan
peralatan mandi, serta penyewaan alat-alat
outdoor. Selain pengembangan sumber daya

alam yang ada, masyarakat setempat juga


perlu mendapatkan pelatihan sehingga
memiliki kompetensi dalam pengembangan
objek
wisata.
Pembentukan
kelompok sadar wisata atau asosiasi telah
sukses diterapkan di Pulau Weh, yakni
Asosiasi Pariwisata Pulau Weh - Sabang
(Pulau
Weh
Sabang
Tourism
Association/PWSTA). Asosiasi tersebut
memiliki
peranan
penting
dalam
mempromosikan kerja sama pemerintah
dan dunia usaha dalam menangani masalah
pemasaran, pelatihan serta masalah
pembangunan lainnya terkait dengan
pengembangan
pariwisata.

B. Program Pengembangan Sarana Transportasi Publik


Keberadaan Pantai Muara Kencana, Pantai
pantai dan Bendungan Kedungpengilon
Kartika Jaya, dan Bendungan Kedung
dengan
mudah.
Penyediaan
sarana
Pengilon masih sulit dijangkau oleh
transportasi publik yang dimakud juga
wisatawan karena belum adanya sarana
harus memiliki sistem yang terintegrasi
transportasi yang menjangkau lokasi objek
antara satu moda dengan moda lainnya.
wisata tersebut. Oleh karena itu, dengan
Selain itu, upaya yang dapat dilakukan
adanya program penyediaan sarana
adalah dengan membentuk suatu travel
transportasi
publik
ini,di
harapkan
agency yang menawarkan paket wisata.
wisatawan dapat mengakses objek wisata

C. Program Visit Kendal


Program Visit Kendal merupakan salah satu upaya promosi untuk dapat meningkatkan eksitensi
objek wisata yang ada di Bondokenceng. Promosi wisata dapat dilakukan melalui media cetak
ataupun media social pemerintah kabupaten, serta dalam pameran-pameran skala provinsi atau
nasional. Visit Kendal juga dapat dijadikan tagline pariwisata Bondokenceng sehingga dapat
menarik minat para wisatawan untuk dapat berkunjung ke objek wisata, baik itu wisata pantai
maupun wisata air di Kedung Pengilon. Dalam pelaksanaannya, paket wisata diterap-kan

72
sehingga para wisatawan mendapatkan kemudahan dalam mengujungi obyek-obyek wisata
tersebut. Program ini serupa dengan program city branding yang diterapkan oleh Kota Batu,
yakni Kota Wisata Batu. Adapun desain 3D lokasi wisata Bondokenceng dapat dilihat pada
Gambar 5.20.

(a)

(b)

(c)
Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

Gambar 5.20
Desain 3D Lokasi Wisata Bondokenceng (a) Pantai Kartika Jaya; (b) Pantai Muara Kencana;
dan (c) Wisata Kedung Pengilon

Without leaps of imagination, or dreaming, we lose the excitement of possibilities. Dreaming,


after all, is a form of planning - Gloria Steinem

73
BAB VI
STRUKTUR DAN POLA RUANG
6.1 Dasar Penyusunan Rencana Struktur dan Pola Ruang

6.1.1Proyeksi Penduduk Bondokenceng

Selain
mempertimbangkan
potensi,
permasalahan dan tantangan di masa
mendatang, rencanastruktur dan pola ruang
Bondokenceng tahun 2015-2035 disusun
berdasarkan beberapafaktor, seperti proyeksi
penduduk, rencana pusat permukiman,
kebutuhan infrastruktur serta kebutuhan
lahan. Berikut adalah penjabaran faktorfaktor yang mendasari penyusunan rencana
struktur dan pola ruang Bondokenceng :

Jumlah penduduk selalu mengalami kenaikan


tiap tahunnya. Besaran jumlah penduduk
tersebutakan berpengaruh terhadap luasan
kebutuhan lahan untuk permukiman. Untuk
mengetahui estimasi kebutuhan lahan
permukiman di masa mendatang, perlu
dilakukan proyeksi jumlah penduduk sampai
dengan tahun 2035.

343,126
294,651
253,024

245,007

233,436

222,713

r = 3,093

r = 0,411

Jumlah Penduduk

Gambar 6.1
Grafik Proyeksi Penduduk 2005-2035

Berdasarkan data dari BPS, diketahui bahwa


jumlah penduduk Bondokenceng tahun 2013
adalah sebesar 233.436 jiwa. Menggunakan
data dasar tahun 2035, didapati proyeksi
penduduk sampai dengan tahun 2025 sebesar
253.024 jiwa, dengan rata-rata pertumbuhan
penduduk sebesar 0,411. Selanjutnya,
berdasarkan informasi yang dikumpulkan
megaproyek KIK akan mulai beroperasi mulai
tahun 2020. Sebagai kecamatan yang
langsung berbatasan dengan Kaliwungu,
diperkirakan
dampak
pertambahan
penduduk akibat KIK akan sampai di
Bondokenceng pada tahun 2025 (5 tahun
setelah KIK beroperasi). Melihat practice

pertumbuhan penduduk di kecamatan


terdampak Jababeka Bekasi, didapatkan
pertumbuhan penduduk sebesar 3,093 selang
5 tahun industri beroperasi. Menggunakan
data tersebut, maka akan diketahui jumlah
penduduk tahun 2035 sebesar 343.126 jiwa.

6.1.2Rencana Pusat Permukiman


Identifikasi pusat permukiman dapat
diketahui
melalui
analisis
Skalogram
berdasarkan beberapa indikator ketersediaan
sarana penunjang permukiman perkotaan
yaitu
sarana
pendidikan,
kesehatan,
perekonomian dan transportasi. Berikut
adalah
rencana
pusat
permukiman
Bondokenceng sampai dengan 2035.

74
6.1.3Kebutuhan Infrastruktur
Menggunakan data jumlah penduduk tahun
2035 hasil proyeksi, akan diketahui permintaan
kebutuhan tiap sarana penunjang masyarakat.
Setelah didapatkan permintaan kebutuhan
sarana penunjang, kemudian didapatkan
kebutuhan penambahan tiap saana yang
didapat dari selisih permintaan sarana tahun
2035 dengan ketersediaan saat ini. Identifikasi
kebutuhan struktur ini akan berkontribusi
dalam penentuan kebutuhan luas lahan di pola
ruang. Berdasarkan perhitungan, sampai
dengan tahun 2035 dibutuhkan penambahan
jumlah beberapa sarana penunjang, seperti :

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B, 2015

Gambar 6.2
Peta Rencana Pusat Permukiman 2035

Sampai dengan tahun 2035, orde I pusat


permukiman adalah kelurahan-kelurahan
yang termasuk ke dalam Fokus Area Kota
Kendal dan Fokus Area Pegandon Ngampel.
pusat pertumbuhan di Bondokenceng yang
memiliki ciri kelengkapan sarana penunjang
aktivitas masyarakat yang lengkap.
Selanjutnya, orde II pusat permukiman
Bondokenceng dengan ketersediaan sarana
penunjang yang cukup lengkap direncanakan
di sepanjang arteri dan jalan kolektor menuju
Pegandon, kelurahan yang termasuk ke dalam
orde II ini adalah Penanggulan, Cepiring,
Langenharjo, Bugangin dan Purokerto.
Sedangkan orde III akan direncanakan di
beberapa daerah dengan warna kuning di
peta, yaitu Kelurahan Lanji, Donosari, Jetis,
Sukolilan, Damarsari, Karangayu dan lainnya.

Tabel VI. 1
Penambahan Sarana
Sarana
Penambahan Sarana
Pendidikan
SD
64
SMP
40
SMA
40
Kesehatan
Puskesmas
3
Peribadatan
Masjid
12
Gereja
7
Penunjang lain
TPS
10
Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B, 2015

Menggunakan data jumlah penduduk tahun


2035 hasil proyeksi, akan diketahui Dalam
pembuatan pola ruang, perlu dilakukan
perhitungan luasan kebutuhan lahan tiap zonasi
penggunaan lahan. Klasifikasi zonasi dilakukan
berdasarkan Permen PU No. 20 Tahun 2011.
Berikut
adalah
rekapitulasi
kebutuhan
penggunaan lahan Bondokenceng sampai
dengan tahun 2035 sebagai berikut.

diketahu

75
Tabel VI.2
Kebutuhan Infrastruktur
A. Kriteria Pengklasifikasian Zona dan Subzona Kawasan Lindung
No
1
1.a
1.b
1.c
1.d
2

Penggunaan Lahan
Perlindungan Setempat
Garis Sempadan Sungai
Garis Sempadan Pantai
Garis Sempadan Rel KA
Garis Sempadan SUTET
RTH Kota
Total Luas Penggunaan Lahan

Eksisting
4.870
4.870

Rencana
12.235.130
8.424.835
2.381.258
733.917
695.120
4.870
12.240.000

Perubahan
Lahan
12.235.130
8.424.835
2.381.258
733.917
695.120
4.870
12.235.130

B. Kriteria Pengklasifikasian Zona dan Subzona Kawasan Budidaya


No
1
1.a
1.b
1.c
2
3
4
5
5.a
5.b
5.c
6c
6
6.a
6.b
6.c
6.d
6.e
6.f
6.g
7
7.a
7.b

Penggunaan Lahan
Zona Perumahan
Rumah Kepadatan Tinggi
Rumah Kepadatan Sedang
Rumah Kepadatan Rendah
Zona Perdagangan dan Jasa
Zona Perkantoran
Zona Industri
Zona Sarana Pelayanan Umum
Pendidikan
Kesehatan
Olahraga
Peribadatan
Zona Peruntukan Lainnya
Pariwisata
Pertanian
Perkebunan
Pertambakan
Hutan
Semak Belukar
Tegalan
Zona Peruntukan Khusus
Pertahanan dan Keamanan
TPA
Total Luas Penggunaan Lahan

Eksisting

Rencana

30.615.896
721.913
57.425
351.433
624.476
426.955
48.350
53.041
96.130
125.247.697
252.845
58.686.890
25.244.127
18.899.190
8.688.079
1.218.005
12.258.561

38.601.879
8.714.978
4.144.867
25.742.034
2.220.000
57.425
980.714
1.457.145
1.120.819
51.071
53.041
232.214
102.016.547
890.000
57.287.392
13.503.071
14.730.000
8.688.079
1.218.005
5.700.000
60.209
10.209
50.000
157.633.919

10.209
157.633.919

Perubahan
Lahan
12.193.940
8.710.000
7.179.836
26.920.000
1.498.087
0
629.281
832.669
693.864
2.721
0
136.084
-23.231.150
890.000
443.110
-23.894.127
-4.169.190
0
-1.218.005
-6.558.561
50.000
0
50.000
23.231.250

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

6.2 Rencana Struktur Ruang


Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan
sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara
hierarkis memiliki hubungan fungsional. Rencana struktur ruang Bondokenceng disusun
berdasarkan pertimbangan faktor-faktor eksternal yang ikut berpengaruh terhadap perkembangan
kawasan (driving factors).

76
Dalam beberapa tahun ke depan, terdapat beberapa tantangan yang akan dihadapi Bondokenceng
yaitu pembangunan Trans Tol Jawa Semarang-Batang dengan pintu keluar masuk di Margomulyo,
Pegandon serta penyediaan permukiman dan layanan akibat adanya isu pembangunan KIK di
Kaliwungu. Berikut adalah rencana struktur ruang Bondokenceng tahun 2015-2035 :

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B, 2015

Gambar 6.3
Peta Rencana Struktur Ruang Tahun 2015-2035

Struktur ruang terdiri atas sistem pusat pelayanan dan sistem jaringan prasarana.
1. Sistem Pusat Pelayanan
Berikut adalah penjelasan sistem pusat pelayanan dalam struktur ruang Bondokenceng tahun
2015-2035 :
Sistem Pusat Pelayanan
Pusat Pelayanan Lokal

Pusat Pelayanan
Kawasan
Pusat Kegiatan
Lingkungan

Tabel VI.3
Sistem Pusat Pelayanan dalam Struktur Ruang
Kecamatan
Unit Pelayanan
Fungsi Kawasan
Kota Kendal
Satu kabupaten Kendal Pusat pemerintahan, perdagangan dan
jasa, pendidikan, dan pelayanan publik
lainnya
Pegandon
Kecamatan Pegandon,
Pusat pertumbuhan baru, pusat
Ngampel, Gemuh
permukiman, perdagangan jasa,
pelayanan publik lainnya
Cepiring
Seluruh kelurahan di
Pertanian, industri, perdagangan dan
Kecamatan Cepiring
jasa, pelayanan publik lainnya
Patebon
Seluruh kelurahan di
Pertanian, peternakan, pelayanan publik
Kecamatan Patebon
lainnya
Ngampel
Seluruh kelurahan di
Pertanian, pelayanan publik lainnya
Kecamatan Ngampel

Sumber: Hasil Analisis Kelompok 2B Studio Perencanaan, 2015

77
Rencana sistem
pusat pelayanan
Bondokenceng terbagai atas Pusat
Kegiatan Lokal, Pusat Pelayanan Kawasan
dan Pusat Kegiatan Lingkungan.
a. Pusat Kegiatan Lokal (PKL)
Pusat kegiatan lokal adalah kawasan
perkotaan yang berfungsi untuk melayani
kegiatan skala kabupaten/kota atau
beberapa kecamatan. PKL Kota Kendal ini
berfungsi sebagai pusat pemerintahan
daerah
skala
Kabupaten,
pusat
perdagangan dan jasa skala Kabupaten
serta sebagai pusat pendidikan. Sebagai
poros aktivitas manusia dan poros
perekonomian di Kabupaten Kendal,
secara eksisting Kota Kendal dianggap
belum menjalankan perannya dengan
baik. Hal ini dibuktikan dengan buruknya
infrastruktur yang ada, pelayanan
transportasi yang masih belum optimal,
kinerja Pasar Induk Kota Kendal yang
kurang
optimal,
serta
minimnya
ketersediaan
sarana
penunjang
kebutuhan tersier. Sebagai Pusat Kegiatan
Lokal skala Kabupaten, Kota Kendal ini
akan
direncanakan sebagai
pusat
pemerintahan terpadu, permukiman
skala besar, penambahan fasilitas-fasilitas
penunjang kebutuhan sekunder maupun
tersier, pembuatan sentra industri
makanan ringan, serta peningkatan
kapasitas pelayanan dari sarana-sarana
skala regional seperti Rumah Sakit.
b. Pusat Pelayanan Kawasan
Pusat
pelayanan
kawasan
adalah
kawasan perkotaan yang berfungsi untuk
melayani kegiatan skala kecamatan atau
beberapa
desa.
Secara
eksisting,
penggunaan lahan yang ada di Kecamatan
Pegandon ini didominasi oleh sawah.
Namun melihat adanya tantangan masa
depan bahwasannya akan dibangun pintu
keluar masuk di Margomulyo, Pegandon
ini akan difungsikan sebagai Pusat

Pelayanan Kawasan yang akan melayani


Kecamatan Pegandon, Ngampel serta
Gemuh. Dampak akibat pembangunan
pintu keluar tol adalah perubahan
penggunaan lahan akibat permintaan
akan kebutuhan lahan permukiman yang
meningkat di area tersebut karena faktor
aksesibilitas. Dampak selanjutnya adalah
tantangan penyediaan berbagai sarana
prasarana publik untuk menunjang
permukiman. Melihat tantangan tersebut,
Pegandon ini akan difungsikan sebagai
pusat pertumbuhan baru di Bondokenceng, dengan fungsi utama kawasan
berupa permukiman, perumahan besar
dan perdagangan jasa. Untuk mendukung
Pegandon
sebagai
PPK,
nantinya
kapasitas Kalibodri akan ditingkatkan
sebagai stasiun penumpang.
c. Pusat Kegiatan Lingkungan
Pusat kegiatan lingkungan adalah pusat
permukiman yang berfungsi untuk
melayani kegiatan skala antar desa.
Rencana pusat kegaiatan lingkungan di
Bondokenceng
terdiri
atas
tiga
kecamatan, yaitu Kecamatan Cepiring,
Patebon dan Ngampel. Ketiga kecamatan
ini mempunyai fungsi dan peran sebagai
penyokong aktivitas perkotaan, berupa
pertanian, pertambakan, perkebunan
ataupun rekreasi. Kecamatan Cepiring
dan
Patebon
selanjutnya
akan
dikembangkan sebagai daerah prioritas
pengembangan
komoditas
padi.
Kecamatan Ngampel bersama Pegandon
selanjutnya akan dikembangkan sebagai
daerah
prioritas
pengembangan
komoditas jagung. Permukiman yang
akan berkembang di daerah-daerah ini
merupakan permukiman perdesaan.
Sarana
prasarana
yang
akan
dikembangkan adalah sarana berskala
lokal untuk pelayanan permukiman
perdesaan.

78
2. Sistem Jaringan Prasarana
Secara eksisting, jaringan jalan yang ada di
Bondokenceng terdiri atas jalan arteri yang
membujur dari barat ke timur, jalan kolektor,
jalan lokal dan jalan lingkungan. Selanjutnya,
akan direncanakan pula pusat pertumbuhan
baru di Pegandon. Sehingga, nantinya akan
ada dua pusat pertumbuhan di Bondokenceng, yaitu di Kota Kendal dan di
Pegandon. Maka dari itu, agar kedua pusat ini
bisa terintegrasi dengan baik, jalan lokal yang
saat ini menghubungkan dua area tersebut
akan ditingkatkan kapasitasnya menjadi jalan
kolektor.Nantinya jalan tersebut juga akan
menjadi salah satu koridor BRT.
Selanjutnya melihat beberapa tantangan di
masa
depan,
sebagai
upaya
dalam
peningkatan
kapasitas
transportasi
Bondokenceng akan dibangun Terminal Tipe
C di Cepiring. Penempatan terminal di lokasi
tersebut dikarenakan letaknya yang strategis,
sebagai nodes dari beberapa titik baik dari
arah Kota Kendal, Cepiring, Patebon maupun
ke Pegandon dan Ngampel. Saat ini, di
Pegandon juga terdapat stasiun Kalibodri
yang beroperasi sebagai stasiun bongkar
muat barang. Karena nantinya Pegandon akan
dijadikan sebagai pusat pertumbuhan baru,
stasiun ini kemudian akan ditingktkan
kapasitasnya sebagai stasiun penumpang.

6.3 Rencana Pola Ruang


Pola ruang adalah distribusi peruntukan
ruang dalam suatu wilayah yang meliputi
peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan
peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.
Penentuan pola ruang ini didasarkan pada
rencana struktur ruang. Penyusunan pola
ruang ini dibuat berdasarkan konsep
pengembangan yaitu Smart Growth City,
dengan intervensi fisik melalui lahan
terbangun yang lebih kompak dan mix useland. Berikut adalah rencana pola ruang
Bondokenceng tahun 2015-2035 :

Sumber: Hasil Analisis Kelompok, 2015

Gambar 6. 4
Peta Rencana Pola Ruang

Berikut penjelasan dari rencana pola ruang


Bondokenceng tahun 2015-2035 :
1. Kawasan Budidaya
Kawasan budidaya adalah wilayah yang
ditetapkan dengan fungsi utama untuk
dibudidayakan atas dasar kondisi dan
potensi sumber daya alam, sumber daya
manusia, dan sumber daya buatan.
Berikut penjabaran zonasi kawasan
budidaya Bondokenceng :
a. Zona Perumahan
Zona perumahan ini terdiri atas kawasan
perumahan padat tinggi, perumahan
padat sedang, dan perumahan padat
rendah. Secara umum, pemenuhan
kebutuhan permukiman akan diarahkan
ke Fokus Area Kota Kendal dan Fokus
Area Pegandon Ngampel. Hal tersebut
dilakukan agar pembangunan akan lebih
kompak
di
kawasan
perkotaan
Bodokenceng, serta meminimalisasi
konversi lahan pertanian di wilayah
studi, mengingat Kendal merupakan
salah satu daerah yang difungsikan untuk

79
pengem-bangan
pertanian
pangan
menurut RTR Jawa Bali 2011 Perumahan
dengan
kepa-datan
tinggi
akan
direncanakan di Fokus Area Kota Kendal
dan Fokus Area Pegandon-Ngampel.
Karakteristik dari perumahan dengan
kepadatan tinggi ini adalah pembangunan vertical building sebesar 50% di
Fokus Area Kota Kendal dan Fokus Area
Pegandon Ngampel dengan ketinggian
bangunan maksimal 4 lantai. Luasan
perumahan kepadatan tinggi ini sekitar
871 ha. Selanjutnya, perumahan kepadatan sedang ini di rencanakan akan
berkembang secara linear di sepanjang
Jalan Arteri dan Jalan Kolektor (rencana)
menuju Pegandon.
Secara eksisting, permukiman yang saat
ini berkembang di sekitar jalan tersebut
memiliki kelengkapan fasilitas perkotaan
yang cukup lengkap. Luasan perumahan
dengan kepadatan sedang ini direncanakan sebesar 414 ha. Sedangkan untuk
perumahan dengan kepadatan rendah
akan tersebar di seluruh Bondokenceng,
dengan kecenderungan karakteristik
perdesaan. Luasan rumah kepadatan
rendah ini ditafsir sekitar 2.572 ha.
b. Zona Perdagangan dan Jasa
Rencana
pengembangan
zona
perdagangan jasa ini akan di arahkan di
sepanjang jalan arteri serta jalan
kolektor (rencana) menuju Pegandon.
Jenis service yang ditawarkan mulai dari
retail, grosir, pusat perbelanjaan,
pertokoan, tempat makan dan jasa-jasa
lainnya.
Luasan
perdagangan
ini
direncanakan sebesar 222 ha atau
bertambah 150 ha dari luasan eksting.
c. Zona Perkantoran
Zona perkantoran yang direncanakan
merupakan perkantoran pemerintahan.
Fungsi dari zona ini adalah pelayanan
terhadap publik, baik dari keperluan

administratif, kebutuhan data, maupun


aduan-aduan.
Secara eksisting, keberadaan dari kantorkantor dinas sudah dipusatkan di Kota
Kendal, namun pada kenyataannya
masih ada beberapa dinas yang belum
direlokasi. Selanjutnya, sampai dengan
tahun 2035, zona ini akan dipusatkan
satu lokasi yaitu di Pegulon dan
Patukangan
dengan
konsep
pengambangan Super Blok. Luasan zona
ini adalah 5,7 ha.
d. Zona Industri
Zona industri ini terdiri atas industri
besar serta industri kecil. Secara eksting,
terdapat sebuah industri gula besar di
Cepiring. Kawasan tersebut akan
dipertahankan sampai dengan tahun
2035. Selanjutnya, untuk mewadahi
pengembangan sentra UMKM akan
ditetapkan beberapa daerah sentra,
diantaranya adalah sentra batu bata di
Boto Mulyo, sentra Batik Jambekususma
di Jambearum serta pembentukan wajah
Jalan Tentara Pelajar sebagai pusat oleholeh khas Kendal hasil pengembangan
UMKM. Luasan zona industri ini sebesar
98 ha bertambah sebesar 62 ha dari
eksiting.
e. Zona Sarana Pelayanan Umum
Zona pelayanan umum ini terdiri atas
sarana-sarana
penunjang
aktivitas
manusia
mulai
dari
pendidikan,
kesehatan dan olahraga. Secara eksisting,
penawaran yang diberikan oleh fasilitasfasilitas ini dinilai belum mampu
memenuhi permintaan penduduk, baik
secara spasial maupun perbandingan
dengan standar Indonesia. Sarana
tersebut diantaranya adalah SD, SMP,
SMA, dan puskesmas. Rencananya akan
ditambahkan beberapa fasilitas sehingga
kebutuhan masyarakat bisa terlayani.
Luasan zona ini akan direncanakan akan
bertambah sebesar 83,2 ha di tahun
2035.

80
f. Zona Peruntukan Lainnya
Zona ini terdiri dari peruntukan lahan
untuk
pertanian,
perkebunan,
pertambakan, hutan, tegalan serta
pariwisata.Berdasarkan RTR Pulau Jawa
Bali Tahun 2011,Kabupaten Kendal
bersama
Demak
dan
Grobogan
direncanakan sebagai kawasan sentra
pertanian pangan. Kawasan LP2B akan
tetap dipertahankan, kecuali di beberapa
spot yang produktivitasnya rendah.
Konversi untuk permukiman akan
dilakukan pada penggunaan lahan semak
belukar,
tegalan,
pertambakan,
perkebunan dan seikit sawah. Luas lahan
yang akan dikonversi adalah sebesar
2.498 ha. Selanjutnya, berdasarkan data
yang didapatkan, Cepiring adalah daerah
dengan produksi padi terbesar di
Bondokenceng. Sehingga, ke depannya
Cepiring ini akan dikembangkan sebagai
prioritas pengambangan padi dan akan
dibangun koperasi pertanian di sana.
Sedangkan
untuk
pengembangan
komoditas jagung akan dikembangkan di
Pegandon, hal ini dikarenakan produksi
jagung terbesar di Bondokenceng ada di
Kecamatan tersebut. Di Pegandon
nantinya juga akan dibangun koperasi
pertanian.
g. Zona Peruntukan Khusus
Zona peruntukan khusus ini terdiri atas
pertanahan dan keamanan dan TPA. TPA
Jatirejo yang telah ditutup di tahun 2012
ini rencananya akan reaktivasi kembali
sampai dengan tahun 2035. Luas lahan
yang dibutuhkan untuk zona ini adalah
sebesar 5 ha.
2. Kawasan Lindung
a. Perlindungan Setempat
Secara eksiting, upaya perlindungan
setempat ini belum diterapkan. Buktinya
adalah ada beberapa bangunan yang
ditemui di sempadan sungai. Semestinya,

daerah-daerah ini merupakan kawasan


konservasi
yang
tidak
bolek
diperuntukkan untuk lahan terbangun
karena bisa mengganggu keseimbangan
lingkungan
dan
membahayakan
masyarakat sekitar. Rencananya akan
dibuat kawasan pelindungan berupa
garis sempadan sungai, pantai, rel KA
serta SUTET dengan luasan sebesar
1.223 ha.
b. RTH Kota
RTH Kota ini berfungsi untuk menjaga
iklim makro perkotaan. Penyediaan RTH
Kota berupa alun-alun dan beberapa
taman kota yang disediakan dengan
luasan sebesar 0,48 ha.

Andai kota itu peradaban, rumah


kami adalah budaya, dan menurut
ibu, tiang serinyaadalah agama.
Faisal Tehrani

81
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
(n.d.-a).
Smart
Growth.
Retrieved
November
20,
http://www.smartgrowthpartnership.org/smart-growth-principles/
Anonim.
(n.d.-b).
Smart
Growth
Principle.
http://www.smartgrowth.bc.ca/Default.aspx?tabid=133

2015,

Retrieved

from
from

Anonim. (n.d.-c). Theoritical Background on Alternative Layout Proposals. Retrieved November


26,
2015,
from
http://dspace.nwu.ac.za/bitstream/handle/10394/9517/Lategan_LG_Chapter_3.pdf?seque
nce=4
Badan Kepegawaian Daerah. (n.d.). Kepegawaian Kabupaten Kendal. Retrieved November 5,
2015, from bkd.kendalkab.go.id
Bappeda Kabupaten Kendal. (2010). Laporan Akhir Kajian Potensi Ekonomi Kabupaten Kendal.
Kendal: Sigra Nitisara.
Bhatta, B. (2010). Analysis of Urban Growth and Sprawl from Remote Sensing Data. Retrieved from
http://www.springer.com/cda/content/document/cda_downloaddocument/9783642052
989-c1.pdf?SGWID=0-0-45-876948-p173940766
BPS Kabupaten Kendal. (2014). Kendal Dalam Angka 2014. Kendal: Badan Pusat Statistik.
Retrieved from http://kendalkab.bps.go.id/
BPS Kabupaten Kendal. (2015). Kecamatan Dalam Angka. Retrieved November 16, 2015, from
kendalkab.bps.go.id/
Dinas Pariwisata Kabupaten Kendal. (n.d.). Informasi Seputar Kepariwisataan Kabupaten Kendal.
Retrieved November 6, 2015, from infopariwisata.kendalkab.go.id
Haryadi, B. (2007). Kepadatan Kota dalam Perspektif Pembangunan (Transportasi)
Berkelanjutan. Jurnal Teknik Sipil Dan Perencanaan, 9.
Irham. (2014). Mengintip Curitiba, Kota Hijau Kelas Dunia. Retrieved November 2, 2015, from
https:www.kompasiana.com/irhamwp/mengintip-curitiba-kota-hijau-kelasdunia_54851ea33311855e8b4a17
Jaringan Dokumentasi & Informasi Hukum Kabupaten Kendal. (n.d.). Jaringan Dokumentasi &
Informasi Hukum Kabupaten Kendal. Retrieved November 6, 2015, from
jdih.kendalkab.go.id
Patricios, N. (2002). Urban Design Principles of the OriginalNeighborhood Concepts. Miami.
Retrieved
from
https://works.bepress.com/cgi/viewcontent.cgi?article=1028&context=nicholas_patricios
Pontoh, N. K. (2008). Pengantar Perencanaan Perkotaan. Bandung: Penerbit ITB.
Rahmana, R. M. (2012). Use Principles of New Urbanism Approach in Designing Sustainable Urban
Spaces Principles of New Urbanism. International Juournal of Applied Science and Technology,
2.
Rasyidi, A. (2004). Pembangunan Kota Berkelanjutan: Belajar dari Curitiba. Jurnal Perencanaan
Wilayah Dan Kota Institut Teknologi Bandung, 15, 1631.
Riyadi, B. D. S. (2003). Perencanaan Pembangunan Daerah Stategi Menggali Potensi dalam

82
Mewujudkan Otonomi Daerah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Sari, D. P. (n.d.). Konsep Smart Growth, Compact City dan Retrofitting sebagai Solusi Urban
Sprawl di Kota-kota Besar di Indonesia Kasus: Pusat Kota dan Pinggiran Kota di Yogyakarta.
Jurnal Arsitektur Dan Desain, 1.
Ubashshar,
S.
(n.d.).
Neighborhood
Unit.
Retrieved
https://www.academia.edu/8250532/NEIGHBOURHOOD_CONCEPT.

from

Anda mungkin juga menyukai