Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN KASUS KEPANITERAAN KLINIK SENIOR DI FASILITAS

PELAYANAN KESEHATAN PRIMER PUSKESMAS KTK

IDENTITAS
Nama

: Zaki

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 16 tahun

Hari/Bulan/tanggal : Selasa, 10 Mei

Nama KK

: Riswandi

Pekerjaan

: Pelajar

Agama

: Islam

Alamat

: KTK

No. MR

:S

Tujuan Poli

: Poli PKPR

2016

JUDUL PENYAKIT : Scabies


No. ICD X : B86 Scabies

Masalah kesehatan :
Scabies adalah penyakit yang menyerang kulit, mudah menular dari manusia
ke manusia, dari hewan ke manusia atau sebaliknya, dapat mengenai semua ras dan
golongan di seluruh dunia yang disebabkan oleh tungau (kutu atau mite)
Sarcoptesscabiei. Faktor yang berperan dalam penularan penyakit ini adalah sosial
ekonomi yang rendah, hygiene perorangan yang buruk, perilaku yang tidak
mendukung kesehatan, serta kepadatan penduduk. Prevalensi penyakit scabies di
Indonesia adalah sekitar 6-27% dari populasi umum dan cenderung lebih tinggi pada
anak dan remaja.

ANAMNESA
Keluhan Utama :
Gatal di jari dan punggung tangan sejak 1 minggu yang lalu.
Riwayat Penyakit Sekarang :

Gatal di jari dan punggung tangan sejak 1 minggu yang lalu.


Gatal dirasakan pada bintik-bintik merah yang terdapat pada jari dan

punggung tangan kiri dan kanan sejak 1 minggu yang lalu.


Gatal dirasakan terutama pada malam hari.
Demam tidak ada.
Batuk tidak ada.
Pilek tidak ada.
BAB dan BAK biasa.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.


Riwayat DM tidak ada.
Riwayat alergi terhadap obat-obatan dan makanan tidak ada.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Anggota keluarga ada memiliki riwayat penyakit yang sama terhadap pasien

yaitu adik pasien pernah memiliki penyakit yang sama namun telah sembuh.
Riwayat alergi dalam keluarga tidak ada.
Riwayat DM dalam keluarga tidak ada.

Riwayat Kebiasaan dan Lingkungan :

Pasien adalah seorang pelajar.


Riwayat kontak dengan penderita yang memiliki penyakit yang sama (+),

yaitu adik pasien pernah memiliki penyakit yang sama namun telah sembuh.
Kebiasaan merokok, alkohol dan narkoba tidak ada.
Rumah permanen, milik sendiri, perkarangan kurang luas,

memiliki 2 kamar tidur.


Listrik ada.
Rumah berlantai semen.
Sumber air PDAM dan sumber air minum dimasak dari air
PDAM.

Jamban ada 1 buah, di dalam rumah.


Sampah dibuang ke tempat pembuangan sementara dan

diambil oleh petugas.


Ventilasi dan pencahayaan kurang memadai.
Jumlah penghuni 6 orang yaitu ayah, ibu, pasien, kakak, 2

orang adik.
Pasien tinggal di lingkungan yang cukup padat penduduk.
Kesan : higiene dan sanitasi kurang

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisata
- Kesadaran
- Tekanan Darah
- Nadi
- Napas
- Suhu
- BB
- TB
- Status Gizi

: Compos Mentis
: 110/70 mmHg
: 84 kali/menit, regular, teraba kuat.
: 18 kali/menit
: 36,4 OC
: 55 kg
: 155 cm
: baik

Status Internus
-

Kepala
Mata
Hidung
Mulut
Telinga
Leher
Thorak
o Cor,

: Normocephal
: Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik.
: Simetris, penciuman baik.
: Gigi lengkap, tidak ada karies, tidak pucat, lidah tidak kotor
: Simetris, bersih, tida ada serumen, pendengaran normal
: Tidak ada pembesaran KGB, JVP 5-2 cmH2O
I : iktus kordis tidak terlihat
P : iktus kordis teraba di LMCS RIC V
P : - Batas kanan atas, di LPSD RIC II
- Batas kanan bawah, di LPSD RIC IV
- Batas kiri atas, di LPSS RIC II
- Batas apeks jantung, di LMCS RIC V, 2 jari medial.
A : B.J I dan II regular, bising (-), gallop (-).

o Pulmo, I : Simetris kiri dan kanan, dalam keadaan statis dan dinamis.
P : Fremitus kiri sama dengan kanan.
P : Sonor dikedua lapangan paru.
A : Suara nafas vesikular, Ronkhi (-/-), Wheezing (-/-)
- Abdomen,

I : Perut membuncit (-), venektasi (-), jaringan parut (-)


P : Hepar tidak teraba, lien tidak teraba.

P : Tympani di 9 regio abdomen.


A : Bising usus, (+) normal.
- Ekstremitas : Akral hangat (+), sianosis (-), edema (-)
Kekuatan otot : ka
ki
555
555
555 555
- Kulit
: Turgor kulit normal.

Status Dermatologikus
- Lokasi
- Distribusi
- Bentuk/susunan
- Ukran
- Effloresensi

: Jari dan punggung tangan kiri dan kanan


: Difus
: Tidak khas
: Miliar retikuler
: Papul eritema, pustule, skuama

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Kerokan kulit
Kerokan kulit dapat dilakukan didaerah sekitar papula yang lama maupun
yang baru. Hasil kerokan diletakkan diatas kaca objek dan ditutup dengan kaca
penutup dan diperiksa dibawah mikroskop. Diagnosis scabies positif jika

ditemukan tungau, larva, telur atau kotoran S. scabiei.


Epidermal shave biopsy
Dengan membuat biopsy irisan, yaitu lesi dijepit dengan 2 jari kemudian
diperiksa dengan mikroskop cahaya.

DIAGNOSA
Scabies
DIAGNOSA BANDING
Prurigo
Penyakit kulit berupa papul disertai rasa gatal dan biasanya terdapat pada

bagian ekstensor ekstremitas.


Insect bite (gigitan serangga)
Urtikaria yang timbul setelah adanya gigitan serangga.

KOMPLIKASI
- Dermatitis akibat garukan
- Erupsi pada kulit yang berbentuk impetigo, ektima, selulitis, folikulitis, dan
furunkel.

PENATALAKSANAAN
I. Farmakoterapi
a. Sistemik
CTM tablet 4 mg diminum 3 x 1 tablet sehari, apabila gatal sudah hilang
maka obat tidak perlu diminum lagi, obat ini dapat menyebabkan kantuk.
b. Topikal
Mengoleskan salap 2-4 ke seluruh tubuh kecuali kepala setelah mandi sore
hari dan selanjutnya pasien tidak boleh mandi selama lebih kurang 24 jam
dilakukan selama 3 hari berturut-turut, bila terkena air maka ulangi
pengolesan.
II. Nonfarmakoterapi (Konseling dan Edukasi)
A. Promotif
- Melakukan penyuluhan kepada masyarakat dan komunitas kesehatan
tentang cara penularan, diagnosis dini dan cara pengobatan penderita
scabies.
- Edukasi kepada pasien dan keluarga pasien mengenai penyakit dan faktor
penyebab penyakit, bahwa penyakit ini merupakan penyakit kulit yang
disebabkan oleh sejenis tungau, adapun faktor yang menunjang
perkembangan penyakit diantaranya kebersihan diri dan lingkungan yang
kurang, cara penularan dapat berupa kontak langsung (kontak kulit

dengan kulit) misalnya berjabat tangan, tidur bersama, dan sebagainya.


Kontak tidak langsung melalui benda misalnya pakaian, handuk, sprai,
sarung bantal sehingga perlu dihindari pemakaian baju, handuk, sprai
secara bersama-sama.
- Edukasikan

kepada pasien dan keluarga pasien bahwa

penyakit ini

ditandai dengan rasa gatal yang meningkat pada malam hari, menyerang
manusia secara berkelompok sehingga semua anggota keluarga harus
diobati secara serentak. Biasanya muncul pada sela jari tangan,
pergelangan tangan, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, puting
susu (pada wanita), sekitar pusar, bokong, kemaluan, perut bagian bawah
(dewasa), atau pada kulit yang tipis, pada bayi, karena kulitnya masih
tipis, maka bisa mengenai seluruh tubuh, membentuk terowongan pada
tempat-tempat tadi.

- Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa kelainan kulit


yang disebabkan oleh penyakit ini tidak hanya karena tungau penyebab
namun juga akibat garukan yang berlebihan yang bisa menyebabkan
terjadinya penyebaran dan infeksi sekunder.

- Edukasikan kepada pasien dan keluarga pasien cara pemakaian obat yang
benar (salep 2-4) yakni digunakan setelah mandi sore selama 24 jam, di
seluruh tubuh kecuali kepala dan leher, jika kena air oleskan lagi,
dilakukan selama 3 hari berturut-turut.

- Edukasikan pada pasien dan keluarga pasien untuk pengobatannya, pada


pasien diberikan obat berbentuk salep dimana salep ini tidak efektif untuk
semua fase tungau terutama fase telur sehingga penggunaannya harus
selama 3 hari berturut-turut untuk memastikan semua telur yang belum
menetas pada akhirnya telah berubah menjadi tungau. Pengobatan dengan
salep ini tidak boleh lebih dari 3 hari dan bisa diulangi lagi seminggu
kemudian karena jika digunakan lebih dari 3 hari berturut-turut bisa
menyebabkan iritasi kulit. Salep 2-4 dapat menimbulkan bau tidak sedap

(bau belerang) dan mengotori pakaian. Pada pasien juga diberikan obat
yang diminum berupa anti gatal (CTM).

- Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien mengenai pentingnya


kepatuhan menggunakan obat karena penyakit ini memerlukan waktu
yang cukup lama untuk sembuh.

- Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa dengan


memperhatikan cara pemakaian obat, menghilangkan faktor-faktor
penyebab, memutus rantai penularan dengan pengobatan seluruh anggota
keluarga secara serentak maka penyakit ini dapat diberantas.
B. Preventif
1. Edukasi
Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga pasien tentang
penyakit nya, dimana penyakit ini berhubungan dengan higienitas yang
kurang dan perlu dijelaskan bahwa penyakit ini menular. Edukasi yang
diberikan dapat berupa:
Melakukan perbaikan higiene diri dan lingkungan.
Mengganti semua pakaian, handuk, sprai, dan sarung bantal, atau
semua yang digunakan oleh pasien selama seminggu terakhir, dicuci
dan kemudian direndam dengan air panas, dijemur di terik matahari

sampai kering dan disetrika.


Hindari menggaruk secara berlebihan karena bisa menyebabkan
terjadinya luka dan infeksi atau penyebaran ke tempat lain, bila gatal
cukup dengan menepuk-nepuk bagian yang gatal dengan lembut dan

mencuci tangan setelah itu.


Menjaga kebersihan badan dengan mandi 2x sehari dan keringkan

badan setelah mandi dengan handuk yang bersih.


Menghindari pemakaian baju, handuk, atau sprai secara bersama-

sama.
Mengganti sprai, sarung bantal, dan handuk secara rutin 1x seminggu.
Menjaga kebersihan kuku dan memotong kuku jika sudah mulai

panjang.
Mencuci tangan dengan sabun setelah bermain tanah, sebelum dan

sesudah makan, serta setelah buang air besar dan buang air kecil.
Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.

Menjaga untuk tidak berkontak atau seminimal mungkin berkontak


dengan lesi/bagian kulit yang sakit baik oleh pasien, keluarga, maupun
teman-teman pasien.

2. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan


Desinfeksi serentak
seluruh pakaian dan sprei yang digunakan dicuci dengan menggunakan
system pemanasan pada proses pencucian dan pengeringan. Hal ini
dapat membunuh kutu dan telur karena potensi untuk menular sangat
tinggi.
Penyelidikan terhadap penderita kontak dan sumber penularan
Temukan penderita yang tidak dilaporkan dan tidak terdeteksi diantara
teman dan anggota keluarga. Penderita tunggal jarang ditemukan.
Perbaiki sanitasi lingkungan
- Membuat ventilasi udara yang cukup agar sirkulasi udara bisa
maksimal.
- Pencahayaan yang cukup seperti selalu membuka jendela rumah
setiap pagi agar cahaya dapat masuk.
- Lantai harus memenuhi syarat, seperti lantai semen, ubin, keramik,
dll.
- Dianjurkan memiliki limbah/septic tank. Posisi septic tank dibuat
sejauh mungkin dengan pompa air.
- Tempat pembuangan sampah yang tertutup.
- Jamban, jarak dari sumur > 10 m.
3. Penanggulangan wabah
Pengobatan dilakukan secara massal kepada penderita dan orang yang
berisiko.
4. Meningkatkan gizi
Meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi gizi yang cukup
dan seimbang agar tubuh tidak rentan terhadap suatu infeksi.

C. Rehabilitatif
- Kontrol 1 minggu lagi ke Puskesmas, jika ada lesi baru obat topikal dapat
diulangi lagi setelah 1 minggu.
- Diingatkan pada pasien dan keluarga pasien bahwa yang paling penting
adalah pemakaian salep 2-4 yang benar, mengkonsumsi CTM bila gatal,
serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
Home Visite
Dilakukan kunjungan ke rumah pasien pada hari kamis 12 mei 2016, dengan kegiatan
sebagai berikut:
o Melakukan penyuluhan tentang penyakit scabies terhadap keluarga pasien.
o Melakukan pemeriksaan terhadap anggota keluarga pasien apakah adanya
penyakit scabies.
o Melakukan survey lingkungan rumah pasien untuk melihat keadaan sanitasi
lingkungan.

RENCANA TINDAK LANJUT


- Konsultasikebagiankliniksanitasi.
- Konsultasikebagiangizi.
- Rujukkedokterspesialiskulitdankelaminjikakeluhanmasihdirasakansetelah

1bulanterapi.

SARANADANPRASARANA
- Menyediakan sarana dan prasarana laboratorium untuk melakukan pemeriksaan
penunjang.
- Menyediakan peralatan penyuluhan seperti tempat dan bahan (brosur, liftlet,
poster, dan lain-lainnya).
PROGNOSIS
- Quo ad vitam
- Quo ad sanationam
- Quo ad fungtionam

: Bonam
: Bonam
: Bonam

Solok, Mei 2016

Dokter Muda

Pembimbing
Puskesmas KTK

(Putri Aliya)
NPM: 1010070100014

(dr. Pepy Ledy Soffiani)


NIP. 197908102007012006
Telah diperiksa oleh :

(dr. Hiddayaturrahmi, M.Kes)