Anda di halaman 1dari 7

Dermatofitosis

Nama
Penyakit
Tinea
Kapitis

Lokasi infeksi/ciri tertentu


Kulit dan rambut kepala

Tinea favosa

*secara klinis berbentuk skutula dan


berbau seperti tikus (mousy odor)

Tinea
barbae

Dagu dan jenggot

Tinea
korporis

Pada permukaan kulit yang tidak


berambut kecuali telapak tangan,
telapak kaki dan bokong
*susunan skuama yang konsentris

Tinea
imbrikata
Tinea kruris

Bokong, genitalia, area pubis, perineal


dan perianal

Tinea pedis

Pada kaki

Tinea
manuum

Tangan

Tinea
unguium

Kuku jari tangan dan jari kaki

Jamur penyebab
Microsporum (beberapa
spesies)
Trichophyton (beberapa
spesies kecuali
T.consentricum)
T. schoenleinii
T. violaceum (jarang)
M. gypseum (jarang)
T. mentagrophytes,
T.rubrum, T violaceum,
T.verrucosum,
T.megninii, M.canis
T.rubrum,
T.mentagropnytes,
M.audouinii, M.canis
T. concentricum
E. floccosum
T. rubrum
T. mentagrophytes
T. rubrum
T. mentagrophytes
E. floccosum
T. rubrum
E. floccosum
T. mentagrophytes
T. rubrum
T. mentagrophytes

A. GEJALA KLINIS
Tinea Kapitis
Berdasarkan bentuk yang khas Tinea Kapitis dapat dibedakan atas
1. Bentuk yang tidak meradang
a. Grey patch ringworm
Penyebab : Mikrosporon kanis, M. ypseum
Lesi berupa suatu bercak pada kepala berambut, berwarna kelabu. Biasanya
beberapa buah berukuran 2-4 cm. rambut di daerah tersebut putus beberapa
millimeter di atas kulit, tertutup oleh sisik halus berwarna putih-kelabu sehingga

menyebabkan

alopesia

setempat.
Pada pemeriksaan dengan
lampu wood akan tampak
ujung-ujung rambut yang
putus

tersebut

berfluoresensi hijau
Dengan sediaan KOH 1020% dari rambut yang dicabut terlihat tumpukan spora diluar batan rambut
(infeksi ektotriks).
b. Black dot ringworm
Penyebab : trikofiton tonsurans, trikofiton violaseum. Lesi berupa bercak kecilkecil di kepala dengan rambut yang putus tepat dipermukaan kulit pada muara
folikel rambut dan yang tertinggal adalah ujung rambut yang penuh spora,
sehingga terlihat sebagai bintik-bintik hitam pada bercak tersebut yang disebut
black dots.
Pada pemeriksaan dengan lampu wood tidak timbul fluoresensi dan pada sediaan
KOH menunjukkan tumpukan spora di dalam dan di luar batang rambut (infeksi
endotriks dan eksotriks).
2. Bentuk yang meradang
Kerion selsi :
Penyebab : M.kanis, M. gipseum
Terlihat bercak yang kemerahan pada kepala, kadang-kadang eksudat dan tertutup krusta,
menyerupai sarang lebah, rambut biasanya rontok karena rusaknya folikel rambut
sehingga dapat terjadi alopesia areata yang permanen. Bila reaksi radang sangat hebat
bisa timbul abses dibawah lesi tersebut sehingga kulit tampak menonjol, basah dan teraba
lunak. Keadaan ini disebut kerion yang biasanya sangat gatal dan nyeri. Bila ditekan
tampak pus keluar lewat beberapa fistula.
3. Bentuk Favus
Penyebab T. Schoenleini Magypseum

Timbul bercak yang tertutup oleh krusta yang tebal dan berbentuk seperti cawan (skutula)
serta berbau seperti tikus (mousy odor). Kadang-kadang meluas sampai di luar daerah
rambut, bersifat progresif dan menimbulkan banyak sikatriks. Rambut jadi tidak
bercahaya, namun biasanya tidak terputus. Dengan lampu wood terlihat fluoresensi hijau
sepanjang rambut dan bila dibuat sediaan KOH tampak gambaran khas yakni adanya
gelembung-gelembung udara di dalam batang rambut disertai miselia dari jamur.
Tinea Barbae
Adalah infeksi jamur dermatofita pada daerah
janggut, cambang dan kumis.
1. Bentuk superfisial
Lesi eritro-papulo-skuamosa, mula-mua kecil
lalu melebar ke perifer dengan tepi polisiklis.
Bentuk ini sama dengan tinea korporis biasa.
2. Bentuk karion
Prosesnya sama dengan pembentukan kerion pada tinea kapitis. Timbul lesi yang basah
dengan perifolikkulitis dan abses.
3. Bentuk sikosis
Suatu bentuk yang jarang dijumpai, secara klinik tidak dapat dibedakan dengan folikulitis
bakteri yang kronis. Lesi berupa pustule yang folikuler dengan rambut dipusatnya. Bila
menyembuh terlihat krusta, rambut mudah dicabut (pada infeksi bakteri rambut sulit
dicabut).

Tinea Korporis (T. Sirsinata, T. glabrosa)

Adalah infeksi jamur dermatofita pada klit halus (glabrous skin) di daerah muka, leher,
badan, lengan dan pantat. Penyeba oleh T.rubrum, T.mentagrofites
Gejala
klinis :
-

Bentuk
klasik
biasanya
berupa lesi anuler dengan tepi polisiklis, bisa didapatkan vesikel kecil-kecil serta skuama
yang halus. Di daerah tengah biasanya mnipis dan terjadi penyembuhan, sementara
bagian tepi aktif dan malin meluas ke perifer. Kadang-kadang bagian tengahnya tidak
menyembuh tetapi tetap meninggi dan tertutup skuama sehingga menjadi bercak yang
besar.

Di daerah wajah kadang-kadang disebut juga T. fasei, sedangkan di daerah paha dan
gluteal menjadi bagian dari T. kruris

Disamping bentuk yang klasik bisa didapatkan variasi seperti bentuk eksematoid,
herpetiform dan lain-lain.

Tinea Kruris (Eczema marginatum, dhobie itch, jockey itch)2,4,5


Adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum dan sekitar anus.
Gejala Klinis :
-

Biasanya sebagai lesi yang simetris pada lipat paha kiri dan kanan. Mula-mula sebagai
bercak eritematosa yang gatal, kemudian dapat meluas sampai skrotum, pubis, gluteal
bahkan sampai ke paha. Tepi lesi sering aktif, berbentuk polisiklis kadang-kadang dengan
banyak vesikel-vesikel kecil.

Bila penyakit ini menjadi menahun, dapat berupa bercak hitam disertai sedikit sisik.

Dengan sediaan KOH dari kerokan bagian tepi lesi mudah ditemukan elemen-elemen
jamur.

Tinea

Pedis dan Tinea

Manum
Dikenal

yang sering

bentuk gejala klinis


dijumpai :

1. Intertriginosa
Manifestasi berupa maserasi, deskuamasi dan erosi pada sela-sela jari. Tampak berwarna
keputihan yang basah, bisa terjadi fisura yang nyeri bila disentuh. Infeksi sekunder dapat
menyertai fisura tersebut dan lesi dapat meluas sampai ke kuku dan kulit jari. Pada kaki
sering dimulai pada sela jari antara jari IV-V.
2. Vesikuler yang akut
Ditandai dengan terbentuknya vesikel atau bula yang terletak agak dalam di bawah kulit
(deep seated vesiculae). Biasanya akut dan sangat gatal. Lokasi yang sering adalah
telapak kaki bagian tengah dan kemudian melebar serta vesikelnya pecah. Infeksi sering
memperburuk keadaan ini. Jamur terdapat pada bagian atap vesikel atau bula untuk
diperiksa dengan sediaan langsung atau biakan.
3. Hiperkeratotik atau skuamosa yang kronis
Yang menonjol adalah terjadinya pengelupasan kulit yang terus menerus, kadang-kadang
dengan eritema dan hyperkeratosis. Lokalisasi yang sering yaitu pada telapak kaki, tepi
sampai punggung kaki, terlihjat kulit menebal dan bersisik, disebut moccasin foot. Bila
hiperkeratosisnya hebat terjadi fissure yang dalam. Sering kuku terkena bersama-sama.
Penyakit berlangsung kronis, bertahun-tahun diselingi masa tenang serta eksaserbasi.
Bentuk kronis ini sering disebabkan oleh T. rubrum yang sulit diobati.

Tinea Unguium
1. Bentuk subungual distalis
Bentuk ini mulai dari tepi distal atau distolateral kuku. Proses ini menjalar ke proksimal
dan di bawah kuku terbentuk sisa kuku yang rapuh yang disebut detritus. Kalau proses
berjalan terus maka permukaan kuku bagian distal akan hancur dan yang terlihat hanya
kuku rapuh yang menyerupai kapur.
2. Leukonika trikofita = leukonika mikotika

Kelainan kuku pada bentuk ini merupakan leukonika atau warna keputihan dipermukaan
kuku yang dapat dikerok untuk dibuktikan adanya elemen jamur. Kelainan ini
dihubungkan dengan T. mentagrofites sebagai penyebabnya.
3. Bentuk subungal proksimalis
Bentuk ini mulai dari pangkal kuku bagian proksimal terutama menyerang kuku dan
membentuk gambaran klinis yang khas, yaitu terlihat kuku dibagian distal masih utuh,
sedangkan bagian proksimal rusak.
Biasanya penderita tinea unguium mempunyai dermatofitosis ditempat lain yang sudah
sembuh atau belum. Kuku kaki lebih sering diserang dibandingkan kuku tangan.

Morfologi koloni

Gambaran mikroskopik

keterangan
Koloni :
seperti bulu datar dengan
lipatan central dan warna
kuning kehijauan, kuning
kecoklatan

Epidermophyton floccosum

Microsporum audounii

Gambaran mikrosopik :
tidak ada mikrokonidia,
beberapa dinding tipis dan
tebal. Makronidia berbentuk
gada
Koloni :
datar dan berwarna putih
keabuan dengan celah radial
yang lebar. Berwarna pink
salmon pada media PDA.
Gambaran mikroskopik :
terminal klamidoko-nidia dan
hifa berbentuk seperti sisir.

Koloni :
datar, warna putih hingga
kuning, kasar dan berambut,
dengan celah radial yang
rapat. Berwarna kuning pada
PDA.

M. canis

Gambaran mikroskopik :
beberapa mikrokonidia,
sejumlah dindint tebal dan
makrokonidia bergerigi
dengan knob pada ujungnya.
Koloni :
datar dan granuler dengan
pigmen coklat hingga
berwarna seperti kambing.
Gambaran mikroskopik :
beberapa mikrokonidia,
sejumlah makrokonidia
berdindint tipis tanpa knob.

M.gypseum