Anda di halaman 1dari 2

Bencana yang menimpa kita, menggambarkan siapa kita

Negeri yang berlangganan bencana. Seperti itulah istilah yang kusematkan


untuk negeri ini, yaa walaupun saya yakin kita tidak pernah meminta untuk
berlangganan bencana tersebut. Namun karena begitu seringnya bencana menimpa
negeri kita tercinta ini, seolah-olah kita berlangganan. Apapun instilahnya, yang
terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi bencana tersebut.
Melihat kondisi geografis dan geologis Negara kita, tampaknya memang
wajar jika negeri kita ini selalu ditimpa oleh bencana. Kondisi pemukiman yang
terletak di tepian bukit tentunya beresiko mengalami longsor. Seperti yang terjadi
baru-baru ini di Banjarnegara. Indonesia yang juga terletak dipertemuan lempeng
tektonik dunia memungkinkan Indonesia sering dilanda gempa bumi. Jumlah
gunung berapi aktif yang banyak juga dapat menyebabkan gempa vulkanik dan
letusan yang bisa datang kapan saja. Belum lagi ditambah dengan potensi-potensi
bencana lainnya.
Namun kita jangan melupakan bahwa dibalik itu semua banyak nikmat
ALLAH yang dilimpahkan oleh-Nya untuk negeri kita ini. Kondisi tanah di Indonesia
yang rata-rata subur menjadi keuntungan tersendiri bagi kita. Jika dibandingkan
dengan Negara kawasan arab maka akan sangat jauh berbeda. Seorang ustadz
pernah menganalogikan seperti ini : Menanam tongkat di tanah Indonesia bisa
tumbuh menjadi pohon singkong, namun menanam pohon singkong di Arab akan
berubah jadi tongkat saking panas dan keringnya daerah tersebut.
Saya sendiri menganalogikan hidup di Indonesia ini seperti hidup di
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Nuklir memiliki keuntungan yang besar
untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi, tapi bahaya radiasi yang mengintai
juga sangat besar dan bahaya ini bisa datang kapan saja. Sama dengan Indonesia
yang merupakan Negara dengan kekayaan alam yang besar namun potensi
bencana yang juga sangat besar. Bencana yang bisa datang kapan saja dan dimana
saja menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Indonesia, namun hal ini
tertutupi dengan banyaknya kekayaan alam Indonesia.
Dalam sudut pandang Islam, dapat dikatakan bahwa sebenarnya yang
meminta untuk banyak diturunkan bencana adalah kita sendiri. Lha, kok gitu ?? Bisa
kita pahami pada QS Asy-Syuura ayat 30 yang berbunyi : Dan musibah apa saja
yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan
Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Jelas dikatakan
bahwa bencana (musibah) yang menimpa kita merupakan akibat ulah tangan kita
sendiri. Jadi sebenarnya tidak layak untuk menyalahkan bahwa kondisi alam
Indonesialah yang menjadi penyebab utama kita mendapatkan bencana. Kita bisa
ambil contohnya pada kisah Banjir pada zaman Nabi Nuh as, diceritakan bahwa
anaknya Nabi Nuh naik ke gunung untuk menghindari banjir tersebut. Dapat kita

simpulkan bahwa disekitar tempat tinggal nabi Nuh terdapat gunung yang secara
logika tidak mungkin ada banjir disana. Tetapi kembali lagi kepada kehendak ALLAH.
Bahkan gunung pun bisa tenggelam ketika azab ALLAH SWT datang akibat maksiat
yang manusia lakukan.
Kembali lagi ke analogi PLTN, sebuah PLTN akan dapat memberikan manfaat
bagi kita tanpa memberikan efek radiasi yang berbahaya bagi kita. Bagaimana
caranya? Caranya dengan tetap mematuhi aturan pengoperasian dan keamanan
(safety) yang telah ditetapkan. Kita masyarakat Indonesia sebenarnya bisa
menikmati apa yang telah diberikan oleh ALLAH SWT tanpa perlu sekaligus
menikmati bencana. Bagaimana caranya? Caranya kita kembalikan kepada Al
Quran. Di QS. Adz-Dzariyat ayat 56 dijelaskan bahwa tujuan penciptaan jin dan
manusia adalah untuk beribadah kepada ALLAH SWT. Nah, otomatis kita harus
senantiasa beribadah kepada ALLAH SWT agar bencana tidak menimpa kita. Ibadah
disini bukan dalam artian sholat, zakat, pasa dan sebagainya. Tapi dalam artian
luas, termasuk bersyukur, sabar, tolong menolong, dsb. Penjelasan tentang ibadah
ini banyak dalam sunnah Rasulullah SAW.
Oleh karena itu, kita sebagai bagian dari masyarakat muslim Indonesia.
Hendaknya tetap berusaha untuk menjalankan apa yang telah ALLAH SWT
perintahkan dan menjauhi apa yang telah Dia larang. Jangan lupa pula, kita
senantiasa mengingatkan orang-orang yang belum paham akan hal ini. Semakin
banyak orang yang paham, InsyaALLAH akan semakin banyak orang yang akan
menjalankannya.
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS. Ali
Imron: 110)
Wallahualam bish showab.