Anda di halaman 1dari 18

1

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK


INDONESIA
BADAN PEMBINAAN KEAMANAN
DIREKTORAT POLISI PERAIRAN

PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS


FUNGSI POLAIR DALAM RANGKA MENDUKUNG
PROGRAM POLMAS

I.

PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
a.

Kebijakan dan strategi Kapolri tentang percepatan


pencapaian sasaran prioritas tahun 2005 di bidang
Operasional telah menetapkan antara lain untuk lebih
mengutamakan pemberdayaan peran serta masyarakat
di dalam Pembinaan Kamtibmas yang lebih dikenal
dengan istilah perpolisian masyarakat. Di sisi lain juga
menetapkan
peningkatan
kehadiran
Polisi
di
masyarakat.

b.

Kecepatan kehadiran dan kemampuan Operasional


merupakan upaya prevensi dan preemtif yang
membawa dampak terhadap kepercayaan pemerintah
dan masyarakat kepada Polri.

c.

Direktorat Polair Babinkam Polri dan jajaran Polair


kewilayahan sebagai unsur pelaksana dilapangan dalam
rangka mendukung program perpolisian masyarakat
( Polmas ) sesuai tugas pokok, fungsi dan peranannya
secara konseptual akan melakukan kegiatan nyata
secara terprogram dan berlanjut.

d.

Untuk dapat mengaktualisasikan konsepsi dimaksud


dalam tataran operasional dilapangan maka perlu
disusun
Petunjuk
Lapangan
tentang
pedoman
pelaksanaan tugas Fungsi Polair dalam rangka
mendukung program Polmas, sebagai acuan umum
yang tentunya akan disesuaikan dengan sistem budaya,
adat istiadat, nilai nilai sosial dan berbagai aspek
kehidupan sosial budaya lokal masing masing wilayah
dalam hal ini wilayah perairan.
/ 2. Dasar.........

2.

Dasar
a. Undang Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian
Negara Republik Indonesia.
b. Keputusan Presiden Nomor 70 tahun 2002 tentang
Organisasi dan Tata cara kerja Kepolisian Negara
Republik Indonesia.
c. Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep / 53 / X / 2002 tanggal 17
Oktober 2002 tentang Organisasi dan Tata cara kerja
Satuan satuan Organisasi pada tingkat Markas Besar
Kepolisian Negara Republik Indonesia.
d. Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep / 54 / X / 2002 tanggal 17
Oktober 2002 tentang Organisasi dan tata cara kerja
satuan satuan organisasi Kepolisian Negara Republik
Indonesia pada tingkat kewilayahan.
e. Buku Petunjuk Lapangan Kapolri No. Pol. : Bujuklap / 17 /
VII / 1997 tanggal 18 Juli 1997 tentang Bintara Polri
Pembina Kamtibmas.
f. Direktif Kapolri No. Pol. : R / DIR / 726 / IX / 2004 tanggal
15 September 2004 tentang pelaksanaan tugas Fungsi
Bimmas Polri oleh Fungsi Operasional Kepolisian
lainnya.
g. Kebijakkan dan strategi Kapolri tentang
pencapaian sasaran prioritas tahun 2005.

II.

percepatan

KONSEPSI DASAR PERPOLISIAN MASYARAKAT


1.

Latar Belakang
a. Sebelum
konsep
Community
Policing
diluncurkan
tertutama di negara negara maju, penyelenggaraan
tugas tugas Kepolisian baik dalam pemeliharaan
keamanan dan ketertiban maupun penegakkan hukum,
dilakukan secara konvensional. Polisi cenderung melihat
dirinya semata mata sebagai pemegang otoritas dan
institusi Kepolisian dipandang semata mata sebagai
alat negara sehingga pendekatan kekuasaan bahkan
tindakan represif seringkali mewarnai pelaksanaan
tugas dan wewenang Kepolisian.

/ Walaupun........
Walaupun prinsip prinsip melayani dan melindungi
( to serve and to protect ) ditekankan, pendekatan
pendekatan yang birokratis, sentralistik, serba sama /
seragam mewarnai penyajian layanan kepolisian.Gaya
Perpolisian
tersebut
mendorong
Polisi
untuk
mendahulukan mandat dari pemerintah pusat dan
mengabaikan persetujuan masyarakat lokal yang
dilayani. Selain itu Polisi cenderung menumbuhkan
sikap yang menampilkan dirinya sebagai sosok yang
formal, dan eksklusif dari anggota masyarakat lainnya.
Pada akhirnya semua itu berakibat pada memudarnya
legitimasi Kepolisian di mata publik bagi pelaksanaan
tugas Kepolisian maupun buruknya citra Polisi pada sisi
lain.
b. Kondisi seperti diutarakan pada huruf a, juga terjadi di
indonesia, lebih lebih ketika Polri dijadikan sebagai
bagian integral ABRI dan Polisi merupakan Prajurit ABRI
yang dalam pelaksanaan tugasnya diwarnai sikap dan
tindakan yang kaku bahkan militeristik yang tidak
prioposional. Perpolisian semacam itu juga ditandai
antara lain oleh pelaksanaan tugas Kepolisian,
utamanya penegakkan hukum, yang bersifat otoriter,
kaku, keras, dan kurang peka terhadap kebutuhan rasa
aman masyarakat. Disisi lain pelaksanaan tugas
Kepolisian sehari hari, lebih mengedepankan
penegakkan hukum utamanya untuk menanggulangi
tindak kriminal. Berdasarkan Tap MPR Nomor : II / MPR /
1993 tentang Garis Besar Haluan Negara yang
berkaitan dengan sistem keamanan dan ketertiban
masyarakat swakarsa, Polri dibebani tugas melakukan
pembinaan
Kamtibmas
yang
diperankan
oleh
Babinkamtibmas sebagai ujung tombak terdepan.
Pendekatan
demikian
memposisikan
masyarakat
seakan akan hanya sebagai obyek dan Polisi sebagi
subyek yang serba lebih sehingga dianggap figur
yang mampu menangani dan menyelesaikan segenap
permasalahan Kamtibmas yang dihadapi masyarakat.
c. Sejalan dengan pergeseran peradaban umat manusia,
secara universal terutama di negara negara maju,
masyarakat cenderung semakin Jenuh dengan cara
cara lembaga pemerintah yang birokratis, resmi, formal /
kaku, general / seragam dan lain lain dalam menyajikan
layanan
publik.
Terdapat
kecenderungan
bahwa
masyarakat lebih menginginkan pendekatan yang

4
personal dan menekankan pemecahan masalah dari pada
sekedar terpaku pada formalitas hukum yang kaku.

/ Dalam.........

Dalam bidang penegakan hukum terutama yang


menyangkut pertikaian antar warga, penyelesaian
dengan mekanisme informasl dipandang lebih efektif
dari proses sistem peradilan pidana formal yang acap
kali kurang memberikan peranan yang berarti bagi
korban dalam pengambilan keputusan penyelesaian
masalah yang dideritanya.
d.

Kondisi sebagaimana diutarakan diatas mendorong


diluncurkannya program program baru dalam
penyelenggaraan tugas Kepolisian terutama yang
disebut Community Policing. Lambat laun, Community
Policing tidak lagi hanya merupakan suatu program dan
/ atau strategi melainkan suatu falsafah yang
menggeser paradigma konvensional menjadi suatu
model perpolisian baru dalam masyarakat madani.
Model ini pada hakekatnya menempatkan masyarakat
bukan semata mata sebagai obyek tetapi mitra
Kepolisian dan pemecahan masalah (Pelanggaraan
hukum) lebih merupakan kepentingan dari pada
sekedar proses penanganan yang formal / prosedur.

e.

Dalam kehidupan bermasyarakat bangsa Indonesia nilai


nilai yang terkandung dalam konsep Community
Policing pada hakekatnya bukan merupakan hal asing.
Kebijakan Siskamswakarsa diangkat dari nilai nilai
sosial kultural masyarakat Indonesia, yang lebih
menjunjung nilai nilai sosial dari pada individu.
Pelaksanaan pengamanan lingkungan secara swakarsa
pernah / masih efektif berjalan. Pada bagian bagian
wilayah / etnik tertentu nilai nilai kultural masih efektif
(bisa diefektifkan) dalam penyelesaian masalah sosial
pada tingkat lokal. Nilai nilai saling memaafkan
dijunjung tinggi dalam masyarakat Indonesia yang
religius. Pada zaman dahulu dikenal hanya Hakim
Perdamaian desa. Kondisi itu semua merupakan
modal awal yang dapat berperan sebagai faktor
pendukung
yang
efektif
dalam
pengembangan
Community Policing Ala . Indonesia, jika dikelola
secara tepat sesuai ke kini an dan sejalan dengan
upaya membangun masyarakat madani khususnya

5
Kepolisian Sipil yang menekankan pada pendekatan
kemanusiaan khususnya perlindungan hak hak azasi
manusia dalam pelaksanaan tugas Kepolisian.

/ 2. Pengertian.......

2.

Pengertian
a. Konsep Polmas mencakup 2 ( dua ) unsur : Perpolisian dan
masyarakat.
Secara
harfiah,
perpolisian
yang
merupakan terjemahan dari kata Policing berarti
segala hal ihwal tentang penyelenggaraan fungsi
kepolisian. Dalam konteks ini kepolisian tidak hanya
menyangkut operasionalisasi ( taktik / tehnik ) fungsi
kepolisian tetapi juga pengelolaan fungsi kepolisian
secara menyeluruh mulai dari tataran manajemen
puncak sampai manajemen lapis bawah, termasuk
pemikiran

pemikiran
filsafati
yang
melatar
belakanginya.
b.

Masyarakat yang merupakan terjemahan dari kata


Community ( komunitas ) dalam konteks polmas
berarti :
1)

Warga masyarakat atau komunitas yang berada di


dalam satu wilayah kecil yang jelas batas
batasnya
( geographic - community ).
Batas wilayah komunitas ini harus dilakukan
dengan memperhatikan keunikan karakteristik
geografis dan sosial dari suatu lingkungan dan
terutama keefektifan pemberian layanan kepada
warga masyarakat. Wilayah tersebut dapat
berbentuk RT, RW, desa, kelurahan, ataupun
berupa pasar / pusat belanja / mall, kawasan
industri, pusat / kompleks olah raga, stasiun bus /
kereta dan lain lain.

2)

Dalam pengertian yang diperluas masyarakat


dalam pendekatan Polmas juga bisa meliputi
sekelompok orang yang hidup dalam suatu
wilayah yang lebih luas seperti kecamatan bahkan
kabupaten / kota, sepanjang mereka memiliki
kesamaan kepentingan. Sebagai contoh kelompok
berdasar etnis / suku, kelompok, berdasar agama,
kelompok
berdasar
potensi,
Hobby
dan

6
sebagainya. Kelompok ini dikenal dengan nama
Komunitas berdasar kepentingan (Community of
Interest).
c.

Sebagai suatu strategi, Polmas berarti : model


perpolisian yang menekankan kemitraan yang sejajar
antara petugas Polmas dengan masyarakat lokal dalam
menyelesaikan dan mengatasi setiap permasalahan
sosial yang mengancam keamanan dan ketertiban
masyarakat serta ketenteraman kehidupan masyarakat
setempat dengan tujuan untuk mengurangi kejahatan
dan rasa ketakutan akan kejahatan serta meningkatkan
kualitas hidup warga setempat.
1)

d.

/ 1) Dalam..........
Dalam pengertian ini, masyarakat diberdayakan
sehingga tidak lagi semata mata sebagai obyek
dalam
penyelenggaraan
fungsi
Kepolisian
melainkan sebagai subyek yang menentukan
dalam mengelola sendiri upaya penciptaan
lingkungan
yang
aman
dan
tertib
bagi
ketentraman dan keselamatan kehidupan bersama
mereka yang difasilitasi oleh petugas kepolisian
yang bertugas sebagai petugas polmas dalam
suatu kemitraan.

2)

Dalam pengertian pengelolaan terkandung makna


bahwa
masyarakat
berusaha
menemukan,
mengidentifikasi, menganalisa dan mencari jalan
keluar pemecahan masalah masalah gangguan
keamanan dan ketertiban termasuk pertikaian
antar warga serta penyakit masyarakat dan
masalah sosial lain yang bersumber dari dalam
kehidupan mereka sendiri bagi terwujudnya
suasana kehidupan bersama yang damai dan
tentram.

3)

Operasionalisasi konsep Polmas pada tataran lokal


memungkinkan masyarakat setempat untuk
memelihara dan menumbuh kembangkan sendiri
pengelolaan keamanan dan ketertiban yang
didasarkan atas norma norma sosial dan atau
peraturan peraturan hukum yang bersifat
nasional dan menjunjung tinggi prinsip prinsip
HAM ( Hak Asasi Manusia ) dan kebebasan individu
yang bertanggung jawab dalam kehidupan
masyarakat yang demokratis.

Polmas pada dasarnya sejalan dengan nilai nilai yang


terkandung dalam konsep Siskamswakarsa yang dalam

7
pengembangannya disesuaikan dengan ke kini an
penyelenggaraan fungsi kepolisian dalam masyarakat
madani, sehingga tidak semata mata merupakan
pengadopsian dari konsep Community Policing.
e.

Mengacu pada uraian diatas, Polmas pada hakekatnya


mengandung 2 ( dua ) unsur utama yaitu :
1)
Membangun
masyarakat.
2)

kemitraan

antara

Menyelesaikan berbagai masalah


terjadi dalam masyarakat lokal.

Polisi

dan

sosial

yang

/ f. Sebagai.......
f.

3.

Sebagai salah satu falsafah, Polmas mengandung


makna suatu model pemolisian yang menekankan
hubungan yang menjunjung nilai nilai soaial /
kemanusiaan dan menampilkan sikap santun dan saling
menghargai antara Polisi dan warga dalam rangka
menciptakan kondisi yang menjunjung kelancaran
penyelenggaraan fungsi kepolisian dan peningkatan
kualitas hidup masyarakat.

Perwujudan Polmas
a.

b.

Model Polmas dapat mengambil bentuk :


1)

Model wilayah yaitu yang mencakup satu atau


gabungan beberapa area / kawasan pemukiman
( RW / RT / Dusun / Kelurahan). Pembentukan
Polmas model ini harus lebih didasarkan pada
keinginan masyarakat itu sendiri, walaupun proses
ini bisa saja dilatarbelakangi oleh dorongan Polisi.

2)

Model kawasan yaitu satu kesatuan area kegiatan


bisnis dengan pembatasan yang jelas ( mall /
pusat perdagangan / pertokoan / perkantoran /
kawasan industri ). Pembentukan Polmas model ini
dapat dilakukan atas inisiatif bersama.

Pembentukan Polmas mempersyaratkan :


1)

Adanya seorang petugas Polmas yang ditugaskan


secara tetap untuk model kewilayahan dan

8
sejumlah petugas yang ditugaskan secara tetap
untuk model kawasan.
2)

Model kawasan mempersyaratkan adanya Pos (


balai) sebagai pusat layanan kepolisian sedangkan
model wilayah dapat memanfaatkan fasilitas yang
tersedia pada kantor desa /
kelurahan atau
tempat tinggal petugas Polmas.

3)

Adanya
satuan
forum
kemitraan
yang
keanggotaannya
mencerminkan
keterwakilan
semua unsur dalam masyarakat termasuk petugas
Polmas dan pemerintah setempat.

/ c. Perwujudan........

c.

Perwujudan Polmas sebagai suatu falsafah merasuk


dalam sikap dan perilaku setiap anggota Polri yang
mencerminkan pendekatan kemanusiaan baik dalam
pelaksanaan tugas pelayanan kepolisian maupun dalam
kehidupan sosial kemasyarakatan.

d.

Prinsip prinsip Operasionalisasi Polmas meliputi :


1)

Transparansi dan Akuntabilitas


Operasional Polmas oleh petugas Polmas dan
Forum Kemitraan harus dilakukan secara terbuka
dan dapat dipertanggung jawabkan kepada
masyarakat setempat.

2)

Partisipasi dan Kesetaraan


Operasional Polmas harus dibangun atas dasar
kemitraan yang setara dan saling mendukung
dengan menjamin keikutsertaan warga dalam
proses pengambilan keputusan dan menghargai
perbedaan pendapat.

3)

Personalisasi
Petugas Polmas dituntut untuk memberikan
layanan kepada setiap warga dengan lebih
menekankan pendekatan pribadi dari pada
hubungan formal yang kaku dengan menciptakan

9
hubungan yang dekat dan saling kenal diantara
mereka.
4)

Penugasan Permanen
Penempatan anggota Polri sebagai anggota
polmas merupakan penugasan yang permanen
untuk jangka waktu yang cukup lama, sehingga
memiliki
kesempatan
untuk
membangun
kemitraan dengan warga masyarakat dalam
wilayah yurisdiksi yang jelas batas batasnya.

5)

Desentralisasi dan Otonomisasi


Opersionalisasi Polmas mensyaratkan adanya
desentralisasi
kewenangan
yang
meliputi
pemberian tanggung jawab dan otoritas kepada
petugas Polmas dan Forum Kemitraan Polisi
Masyarakat ( FKPM )
/ Sehingga.......
Sehingga merupakan pranata yang bersifat
otonom alam mengambil langkah langkah
pemecahan masalah termasuk penyelesaian
konflik antara warga maupun antar warga dengan
Polisi / Pejabat setempat.

III.

ARAH DAN KEBIJAKAN


1.

Tujuan Penerapan Polmas


a. Tujuan penerapan Polmas adalah terwujudnya kerjasama
polisi dan masyarakat lokal ( komunitas ) untuk
menanggulangi kejahatan dan ketidaktertiban sosial
dalam rangka menciptakan ketentraman umum dalam
kehidupan masyarakat setempat.
b. Menanggulangi kejahatan dan ketidaktertiban sosial
mengandung makna bukan hanya mencegah timbulnya
tetapi
juga
mencari
jalan
keluar
pemecahan
permasalahan yang dapat menimbulkan gangguan
terhadap keamanan dan ketertiban yang bersumber
dari komunitas itu sendiri serta dalam batas batas
tertentu mengambil tindakan pertama jika terjadi
kejahatan atau bahkan menyelesaikan pertikaian antar
warga sehingga tidak memerlukan penanganan melalui
proses formal sistem peradilan pidana.

10
c. Menciptakan ketentraman umum mengandung makna
bahwa yang dituju oleh Polmas bukan hanya sekedar
ketiadaan gangguan faktual terhadap keamanan dan
ketertiban tetapi juga perasaan takut warga dalam
kehidupan bersama dalam komunitas mereka.
d.

Kerjasama Polisi dan masyarakat mengandung makna


bukan sekedar bekerja bersama dalam operasionalisasi
penanggulangan kejahatan dan ketidaktertiban sosial
tetapi juga meliputi mekanisme kemitraan yang
mencakup keseluruhan proses manajemen, mulai dari
perencanaan sampai pengawasan / pengendalian dan
analisasi / evaluasi atas pelaksanaannya. Karena itu,
sebagai suatu tujuan, kerjasama tersebut merupakan
proses yang terus menerus tanpa akhir.

/ 2. Sasaran.......

2.

3.

Sasaran Penerapan Polmas


a.

Untuk memungkinkan terbangunnya kerjasama yang


menjadi tujuan penerapan Polmas maka sasaran yang
harus dicapai adalah membangun komunitas yang siap
bekerjasama dengan Polri dalam meniadakan gangguan
terhadap keamanan dan ketertiban serta menciptakan
ketentraman warga setempat.

b.

Polri yang dapat dipercaya tercermin dari sikap dan


perilaku dari segenap personil Polri, baik dalam
kehidupan pribadi sebagai bagian dari komunitas
maupun dalam pelaksanaan tugas mereka, yang
menyadari bahwa warga komunitas adalah stockholder
kepada siapa mereka dituntut untuk menyajikan
layanan Kepolisian sebagaimana mestinya.

c.

Komunitas yang siap bekerjasama adalah kesatuan


kehidupan bersama warga yang walaupun dengan latar
belakang kepentingan yang berbeda memahami dan
menyadari bahwa kepentingan penciptaan situasi
keamanan dan ketertiban umum merupakan tanggung
jawab bersama antar warga dan antara warga dengan
Polisi.

Kebijakan Penerapan Polmas

11
a.

Sebagaimana diutarakan sebelumnya, polmas bukan


hanya semacam program dalam penyelenggaraan
fungsi Kepolisian tetapi merupakan suatu metafora
yang menuntut perubahan yang mendasar ke arah
personalisasi penyaji layanan Kepolisian. Perubahan
demikian sudah barang tentu akan membawa
konsekwensi dalam pelaksanaan tugas Polri sebagai
aparat penegak hukum dalam suatu masyarakat
demokratis yang menjunjung supremasi hukum seperti
di Indonesia. Oleh karena itu kebijakan dasar yang
harus diletakkan adalah bahwa penerapan Polmas
hanya direalisasikan pada level lokal terutama
lingkungan komunitas yang mencerminkan kehidupan
bersama yang komunitarian.

b.

Penerapan Polmas secara lokal tidak berati bahwa


prosesnya hanya dilakukan terbatas pada tataran
operasional tetapi harus berlandaskan pada kebijakan
yang komprehensif mulai dari tataran konseptual pada
level manajemen puncak.

/ c. Sebagai........
c.

Sebagai suatu pendekatan yang bersifat komprehensif,


maka kebijakan penerapan Polmas menyangkut bidang
bidang organisasi / kelembagaan, manajemen sumber
daya manusia, manajemen logistik dan manajemen
anggaran / keuangan serta manajemen operasional
Polri.

d.

Dalam bidang organisasi / kelembagaan, kebijakan yang


digunakan meliputi :
1)

Penyelenggaraan fungsi pembinaan Polmas harus


distrukturkan dalam suatu wadah organisasi
tersendiri yang dapat dihimpun bersama fungsi
fungsi terkait, mulai dari tingkat Markas Besar
sampai sekurang kurangnya pada tingkat Polres.

2)

Petugas Polmas merupakan ujung tombak


(Community Officer) yang berperan sebagai
fasilisator yang memungkinkan beroperasinya
Polmas sekaligus penghubung antara kesatuan
Polri dan komunitas setempat.

12

e.

IV.

3)

Penilaian keberhasilan pimpinan satuan organisasi


pada tingkat operasional (Dit Polair Polda / Unit
Polair) lebih ditekankan pada kemampuannya
untuk mengembangkan dan menjamin keefektifan
Polmas disamping aspek aspek lainnya.

4)

Penerapan Polmas mempersyaratkan adanya


kesamaan komitmen dan kerjasama dengan
segenap instansi terkait terutama pemerintah
daerah sebagai pihak yang bertanggung jawab
dalam pengelolaan sumber daya lokal dan yang
pada gilirannya ikut memetik manfaat dari
keberhasilan
Polmas
dalam
peningkatan
kesejahteraan warganya.

Dalam bidang operasional


1)

Penerapan
Polmas
sebagai
suatu
strategi
diimplementasikan hanya pada tataran lokal
dimana model perpolisian dioperasionalisasikan.

2)

Penerapan
Polmas
sebagai
suatu
falsafah
diimplementasikan dalam pelaksanaan tugas
masing masing satuan fungsi operasional Polri
termasuk tampilan setiap personil Polri dalam
kehidupan sosial kemasyarakatan.

PROGRAM PENERAPAN POLMAS


1.

/ IV. PROGRAM......

Pentahapan Penerapan
a.

Tahap Persiapan
1)

2)

Tingkat Polda ( Dit Pol Air )


a)

Sosialisasi internal

b)

Penyiapan Sumber daya Manusia

c)

Pendidikan dan Pelatihan

Tingkat Polres / Sat Pol Air


a)

Sosialisasi internal dan eksternal

b)

Pengembangan
kerjasama
dengan
pemerintah daerah dan instansi terkait

13
c)
3)

b.

Penentuan Unit / Pos Pol Air Polsek yang


akan dijadikan program Polmas

Tingkat Polsek ( Unit / Pos Pol Air )


a)

Ka Unit bersama dengan anggotanya


membahas gagasan penerapan program
Polmas.

b)

Pendekatan dengan tokoh masyarakat dan


pihak pihak terkait guna membangun
persepsi dan komitmen agar masyarakat
memahami dan menginginkan diterapkan
Polmas.

c)

Pembentukan Forum Kemitraan Polisi


Masyarakat
(FKPM)
oleh
masyarakat
setempat yang difasilitasi oleh Ka Sat Pol
Air / Ka Unit / Ka Pos Pol Air / Petugas Polmas.

Tahap Operasional
Forum Kemitraan Polisi Masyarakat bersama segenap
warganya melakukan kegiatan yang meliputi :

/ 1) Audit........

V.

1)

Audit internal terhadap masalah masalah yang


dihadapi dilingkungannya melalui survei berkala.

2)

Penyusunan
forum.

3)

Pembahasan dan pemecahan masalah masalah


kamtibmas / sosial yang terjadi.

4)

Penyelesaian konflik / pertikaian antar warga yang


difasilitasi oleh Petugas Polmas.

6)

Penetapan dan penegakan peraturan lokal yang


mengacu pada nilai nilai tradisi / adat setempat.

dan

pelaksanaan

program

kerja

PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS FUNGSI POLAIR DALAM


RANGKA MENDUKUNG PROGRAM POLMAS
1.

Tugas pokok, fungsi dan peranan Polisi Perairan.

14
a.

Tugas pokok Polair


Dit Polair sesuai Kep Kapolri No. Pol. : Kep / 53 / x / 2002
tanggal 17 Oktober 2002 adalah membina Fungsi Polair
Kepolisian yang meliputi antara lain kegiatan tugas
Polisi Umum dan Pemeliharaan Ketertiban umum.

b.

Fungsi Polair antara lain :


1)

Menyelenggarakan Fungsi Polair Pol bagi seluruh


jajaran Polri.

2)

Menyelenggarakan pembinaan Teknis tugas umum


patroli perairan termasuk pengamanan, obyek
vital dan periwisata serta event event penting di
wilayah perairan.

3)

Menyelenggarakan pembinaan teknis penyidikan


di
perairan
termasuk
pembinaan
dan
pengembangan
Satuan
Cadangan
Pusat,
negosiator dan tindak pidana di wilayah perairan.

/ c. Peranan.......

c.

2.

Peranan Polisi Perairan secara berjenjang dilaksanakan


oleh :
1)

Direktur Pol Air Babinkam Polri

2)

Dir Pol Air Polda

3)

Kasat Pol Air Polres

4)

Kanit Pol Air

5)

Pos Pol Air.

Peranan Pol Air yang bersifat khas


a.

Tampilan sosok simpatik, bermoral dan berkualitas


sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat
dalam membantu masyarakat (to support).

b.

Mampu berperan sebagai pengemban tugas Polisi


Umum diwilayah yang Profesional.

15

3.

c.

Kehadirannya dibutuhkan oleh masyarakat perairan /


memenuhi harapan masyarakat ( Public acuntability )
baik produk ( rasa aman, kepastian hukum) dan proses
(cepat, adil).

d.

Titik berat kegiatan Polisi Perairan adalah patroli


perairan dengan maksud memberikan rasa aman dan
nyaman kepada seluruh pengguna di atau diatas air
secara umum baik Warga Negara Asing maupun Warga
Negara Indonesia, serta penertiban dan melaksanakan
penegakan hukum di wilayah perairan dengan
menindak tegas setiap pelaku tindak pidana termasuk
18 komoditi strategis. Dan memberikan kesadaran akan
hukum dalam upaya mengurangi atau bahkan
mencegah berkembangnya Police Hazard ( PH ) menjadi
ancaman faktual ( AF ).

Kegiatan pengamanan jajaran Polisi Perairan sebagai Satuan


Polisi Berseragam.
Kegiatan pengamana masyarakat meliputi : penjagaan,
patroli, pengawalan termasuk pengaturan dan pengawasan
dalam implementasinya dapat dibedakan Polmas sebagai
strategi dan Polmaas sebagai falsafah.

/ Polmas.......
Polmas
sebagai
strategis
lebih
ditekankan
kepada
kemampuan pendekatan komunikasi antar budaya dalam
tataran lokal. Sedangkan Polmas sebagai falsafah lebih
ditekankan pendekatan tugas dalam menitikbertakan pada
hubungan kemitraan, manusiawi, santun dan saling
menghargai.
a.

Penjagaan : Kegiatan yang dilaksanakan oleh petugas


untuk memelihara dan mencegah terjadinya kasus yang
mengancam jiwa dan harta benda dalam rangka
melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat.
Bentuk penjagaan : Markas, tahanan, kapal, Police
Hazard ( di sekitar pelabuhan baik umum / khusus ),
tempat keramaian di pantai wisata dan seluruh kegiatan
di perairan yang menyangkut kepentingan khalayak
ramai.

b.

Patroli : kegiatan bergerak / dinamis di wilayah perairan


dari suatu tempat ke tempat tertentu dengan
mempergunakan Kapal Patroli Polisi guna mencegah
terjadinya suatu tindak pidana ataupun pelanggaran,

16
memberikan rasa aman melindungi dan mengayomi
kepada masyarakat perairan yang bersifat multifungsi.

4.

c.

Pengawalan : kegiatan yang dilakukan oleh petugas


maupun kapal untuk menjaga keamanan, keselamatan
di jalan atas jiwa dan harta benda dari satu tempat ke
tempat lain dengan jalan kaki, kendaraan bermotor.
Bentuk pengawalan : tahanan, orang, VIP, harta benda,
barang berharga, barang berbahaya, pengawalan unjuk
rasa.

d.

Pengaturan : Kegiatan yang dilakukan oleh petugas


untuk mengatur kegiatan masyarakat, lokasi / tempat
supaya aman dan tertib. Contoh : Pengaturan pintu
keluar masuk pentas dangdut, pengaturan gudang
barang berbahaya, pengaturan lantas dan lain lain.

Pelayanan Unjuk Rasa


Dalam pelayanan unjuk rasa dilaksanakan melalui upaya
menjaga hubungan yang baik dan seimbang antara tuntutan
tugas melayani dan melindungi dengn tugas penegakan
hukum.
Pelayanan unjuk rasa damai, tidak tertib dilaksanakan
melalui upaya negoisasi, tetapi jika kelompok unjuk rasa
sudah anarkis dan upaya negoisasi tidak ada respon maka
harus dilakukan tindakan hukum.
/ 5. Patroli.......

5.

Patroli Multifungsi
Merupakan tulang punggung pelayanan Polri dalam rangka
antisipasi Police Hazard (PH), dimana dalam pelaksanaan
dilapangan lebih bersifat pendekatan pencegahan (preventif)
melalui upaya komunikasi dengan masyarakat tentang
pentingnya peran serta masyarakat untuk mencegah
gangguan kamtibmas dilingkungannya. Dalam pelaksanaan
patroli dapat dilihat dari sifatnya sebagai berikut :
a.

Sesuai Undang Undang Nomor 2 Tahun 2002 Pasal 15


huruf (1) point g merupakan kewenangan umum
Kepolisian dan legitimasi dari tindakan yang dilakukan
oleh
Kepolisian
di
tempat
kejadian
untuk
mengamanankan tempat kejadian dan barang bukti
sehingga pemasangan Police Line yang dipasang di TKP
apabila dilewati oleh siapa saja tanpa ijin dari petugas
Polri dapat dikenankan sangsi hukum / tindakan

17
Kepolisian karena disadari bahwa kegiatan TPTKP
merupakan pangkal gerak dimulainya penyilidikan dan
penyidikan sehingga harus tetap dipertahankan status
quo dan pengamanan bukti segi tiga (saksi, alat bukti
dan tersangka).
b.

6.

Kegiatan pokok dalam melakukan TPTKP adalah


memberikan perlindungan dan pertolongan pertama
kepada korban, menutup dan mengamankan TKP,
amankan barang bukti dan pembuatan BAP TPTKP yang
selanjutnya akan diserahkan kepada petugas oleh TKP
untuk penyelidikan dan penyidikan selanjutnya.

Kegiatan Represif / Penegakan Hukum diwilayah Perairan.


a.

Kita harus menyadari bahwa suatu permasalahan yang


besar karena terjadi diakibatkan adanya permasalahan
kecil yang terabaikan. Dampak pengabaian / pembiaran
masalah yang dianggap sepele dan kecil atau
berkembang menjadi masalah yang besar dan pada
akhirnya
akan
mengganggu
situasi
lingkungan
masyarakat itu sendiri. Untuk mengantisipasi hal
tersebut perlu upaya terpadu antara Polisi Perairan dan
masyarakat Perairan.

b.

Fungsi
Polisi
Perairan
mempunyai
wewenang
melaksanakan penegakkan Hukum diwilayah perairan
atas segala tindak pidana maupun pelanggaran yang
terjadi diwilayah tersebut.

/ 7. Peningkatan........
7.

Peningkatan kecepatan kehadiran Polair Polri dalam rangka


quick Respon.
Merupakan upaya pencegahan yang membawa dampak
terhadap kepercayaan pemerintah dan masyarakat kepada
Polri untuk itu diperlukan langkah langkah konkrit sebagai
berikut :
a.

Melakukan pelatihan, pendidikan dan Coaching Clinic


kepada seluruh Polisi Berseragam untuk menyikapi
permasalahan yang terjadi dilingkungan masyarakat.

b.

Membuka akses Call Center Community / SMS, Public


Compalin, Kotak pos dan Kotak kotak pengaduan
masyarakat.

18

VI.

c.

Pembinaan terhadap Tomas, Toga dan Toda dalam


upaya menciptakan Pemolisian Masyarakat (Community
Policing).

d.

Pembentukan pos pos Polisi sebanyak mungkin


dengan melibatkan partisipasi masyarakat terutama Pos
Polair bergerak.

e.

Meningkatkan pemberdayaan Babinkamtibmas dengan


pola satu Polisi satu desa.

RENCANA TINDAK LANJUT


1.

Pedoman pelaksanaan tugas fungsi Polair dalam rangka


mendukung tugas Polmas merupakan acuan awal sebagai
jabaran kebijakan dan strategi Kapolri tentang percepatan
pencapaian sasaran prioritas tahun 2005 di bidang
operasional.

2.

Selanjutnya akan dilakukan sosialisasi baik dilingkungan


Mabes Polri maupun Satuan Kewilayahan.

VII. PENUTUP
Demikian naskah pedoman pelaksanaan tugas fungsi Polair dalam
rangka mendukung tugas Polmas dibuat sebagai langkah konkrit.
Jakarta,

Nopember 2005

DIREKTUR POLAIR BABINKAM


POLRI

Drs. I NENGAH SUTISNA, MBA


BRIGADIR JENDERAL POLISI