Anda di halaman 1dari 39

Fabrikasi dan Karakterisasi Preform Fiber Optik TZBN : Nd

Disusun Oleh :
RATNA DWI SEJATI
M0211063

SKRIPSI

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
September, 2015

Fabrikasi dan Karakterisasi Preform Fiber Optik TZBN : Nd

Disusun Oleh :
RATNA DWI SEJATI
M0211063
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi sebagian
persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Sains

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
September, 2015

ii

HALAMAN PERSETUJUAN
PENELITIAN S1

Fabrikasi dan Karakterisasi Preform Fiber Optik TZBN : Nd

Oleh:
RATNA DWI SEJATI
M0211063

Telah Disetujui Oleh:


Pembimbing I

Dra. Riyatun, M.Si.

Tanggal :

NIP 19680226 199402 2 001


Pembimbing II

Lita Rahmasari,S.Si., M.Sc

Tanggal :

NIP 19800707 201012 2 001

HALAMAN PENGESAHAN
iii

Skripsi dengan judul

: Fabrikasi dan Karakterisasi Preform Fiber Optik


TZBN : Nd
Yang ditulis oleh
:
Nama
: Ratna Dwi Sejati
NIM
: M0211063
Telah diuji dan dinyatakan lulus oleh dewan penguji pada
Hari
: Selasa
Tanggal
: 8 September 2015
Anggota Tim Penguji
:
1. Ketua Penguji
Ahmad Marzuki., S.Si., Ph.D

()

NIP. 19680508 199702 1 001


2. Sekretaris Penguji
Dr. Eng. Risa Suryana, S.Si., M.Si

()

NIP. 19710831 200003 1 005


3. Anggota Penguji I
Dra. Riyatun., M.Si

()

NIP. 19680226 199402 2 001


4. Anggota Penguji II
Lita Rahmasari., S.Si., M.Sc

()

NIP. 19800707 201012 2 001

Disahkan pada tanggal


Oktober 2015
Kepala Program Studi Jurusan Fisika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Dr. Fahru Nurosyid., S.Si., M.Si
NIP. 19721013 200003 1 002

iv

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa isi intelektual skripsi saya yang
berjudul FABRIKASI DAN KARAKTERISASI PREFORM FIBER OPTIK
TZBN : Nd adalah hasil kerja saya dan sepengetahuan saya hingga saat ini isi
dari Skripsi tidak berisi materi yang telah dipublikasikan atau ditulis oleh orang
lain atau materi yang telah diajukan untuk mendapatkan gelar kesarjanaan di
Universitas Sebelas Maret atau di Perguruan Tinggi lainnya kecuali telah
dituliskan di daftar pustaka skripsi ini dan segala bentuk bantuan dari semua pihak
telah ditulis dibagian ucapan terimakasih. Isi Skripsi ini boleh dirujuk atau di
perbanyak secara bebas tanpa harus memberitahu penulis.

Surakarta, 31 Agustus 2015


Ratna Dwi Sejati

MOTTO

Sesungguhnya bersama kesukaran itu ada keringanan. Karena itu bila kau sudah
selesai (mengerjakan yang lain). Dan berharaplah kepada Tuhanmu. (Q.S Al
Insyirah : 6-8)

"Pendidikan merupakan senjata paling ampuh yang bisa kamu gunakan untuk
merubah dunia" (Nelson Mandela)
Percaya bahwa apapun yang diterima saat ini adalah yang terbaik dari Allah dan
percaya Dia akan selalu memberikan yang terbaik pada waktu yang telah Ia
tetapkan

PERSEMBAHAN

Karya ini saya persembahkan kepada :


Ayah Tercinta
Anggar Dian Pahlevianto
FISIKA FMIPA UNS
INDONESIA

vi

FABRIKASI DAN KARAKTERISASI PREFORM FIBER OPTIK TZBN:Nd


Ratna Dwi Sejati
Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sebelas Maret, Surakarta 57126
E-mail : sejatiratna92@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan fabrikasi preform kaca tellurite
berbentuk kotak dan core serta melakukan karakterisasi pada kaca yang dihasilkan
berupa densitas kaca, indeks bias, absorbsi dan transmitansi dan kebocoran berkas
cahaya pada preform sampel kaca. Kaca tellurite yang digunakan adalah TZBN
(Tellurium Zinc Bismuth Natrium Oksida) dengan komposisi (%mol) 60TeO 2
(34-x) ZnO 2 Bi2O3 4Na2O xNd2O3 (dengan variasi % mol x=0 ; 0.5 ; 1 ;
1.5). Fabrikasi telah berhasil dilakukan dengan menggunakan metode melt
quenching. Rapat massa kaca telah diukur menggunakan metode Archimedes
diperoleh hasil (5.45 5.58) gram/cm 3. Indeks bias kaca diukur menggunakan
metode sudut Brewster pada panjang gelombang 746.191 nm menghasilkan
indeks bias (1.81-19.2). Absorbsi diukur menggunakan UV-Vis spektrometer
Perkin Elmer Lambda 25 dengan panjang gelombang (200-800) nm. Kebocoran
berkas cahaya pada preform diukur menggunakan laser merah dengan panjang
gelombang 746.191 nm. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa rapat massa dan
indeks bias kaca mengalami kenaikan seiring dengan kenaikan konsentrasi dadah
ion Nd pada kaca TZBN:Nd. Melalui pengukuran spektrum UV-Vis menunjukkan
bahwa terjadi penyerapan dengan intensitas yang tinggi pada panjang gelombang
vii

431 nm, 473 nm, 515 nm, 527 nm, 586 nm, 628 nm, 684 nm, dan 749 nm dan
penyerapan tertinggi berada pada panjang gelombang 586 nm.
Kata kunci : Preform, TZBN:Nd, rapat massa, indeks bias, Spektroskopi UV-Vis.

FABRICATION AND CHARACTERIZATION OF OPTICAL FIBER


PREFORM TZBN:Nd

Ratna Dwi Sejati


Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sebelas Maret, Surakarta 57126
E-mail : sejatiratna92@gmail.com
ABSTRACT
This research aims to do the fabrication of tellurite glass box-shaped
preform and core as well as perform characterization of glass produced in the
form of glass density, refractive index, the absorption and transmitansi and the
leakage of beam of light on the sample glass preform. Tellurite glass was TZBN
(Sodium Bismuth Tellurium Oxide Zinc) with composition (% mol) 60TeO 2 (34x) ZnO 2 Bi2O3 4Na2O xNd2O3 (with variation% mol x = 0.5; 0; 1; 1.5).
Fabrication has been successfully performed using melt quenching method. Glass
density had measured using Archimedes method obtained result (5.45 5.58)
gram/cm3 . Refractive index of glass had measured using Brewster angle method
at 746.191 nm wavelength generated a refractive index (1.81-19.2). Absorption
was measured using an Uv-Vis spectrophotometer Perkin Elmer Lambda 25 with
a wavelength of (200-800) nm. Loss of light beam on preform was measured
using a red laser with a wavelength of 746.191 nm. Characterization of the results
showed that density and the refractive index of glass increased along with the
increase concentration of ionic doped Nd on glass TZBN: Nd. UV-Vis spectra
measurement indicate that absorption occurs at wavelength of 436 nm, 470 nm,

viii

532 nm, 530 nm, 595 nm, 590 nm, 700 nm, and 750 nm and the highest
absorption at 589 nm wavelength.
Keywords: Preform, TZBN: Nd, density, refractive index, UV-Vis
Spectroscopy.

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji Syukur Kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Fabrikasi Dan Karakterisasi
Preform Fiber Optik TZBN : Nd . Setelah sekitar lebih dari satu semster penulis
berjuang untuk bisa menyelesaikan skripsi. Dengan Segala suka dukanya, pada
akhirnya skripsi ini terselesaikan juga. Penulis secara khusus menyampaikan
ucapan terimakasih kepada beberapa pihak yang tlah membantu penulisan skripsi
ini. Ucapan terimakasih secara khusus penulis sampaikan kepada :
1. Dra. Riyatun, M.Si, selaku Pembimbing I yang telah memberikan
bimbingan, motivasi, dan mengingatkan dalam menulis serta nasehat
kepada penulis
2. Lita Rahmasari, S.Si, M.Si, selaku Pembimbing II yang telah memberikan
motivasi, bimbingan, ide serta saran dalam penyusunan skripsi ini.
3. Ahmad Marzuki, S.Si, Ph. D., selaku ketua Lab. Optik & Photonik yang
telah memberikan bimbingan serta masukan kepada penulis.
4. Drs. Suharyana, M.Sc, selaku pembimbing akademik yang telah
memberikan bimbingan, arahan, dan motivasi kepada penulis.
5. Bapak Ibu dosen serta staff di Jurusan Fisika FMIPA UNS.
6. Ayah tercinta Bapak Kirmadi yang telah memberikan kasih sayang dan
perhatian yang luar biasa kepada penulis.
7. Mas Kusnanto, Mbak Evi Nurliana, Yarti dan Agung Prasetyo Utomo yang
telah banyak membantu penulis dalam melakukan eksperimen dan
pengolahan data.

ix

8. Kekasih tercinta Anggar Dian Pahlevianto yang telah memberikan


semangat, cinta, kasih sayang dan motivasi kepada penulis.
9. Teman teman di Lab. Optik & Photonik Mas Edi, Mas Giovano, Mas
Ghosan, Adi Maulana, dan William Yohanes yang telah memberikan
bantuan dan inspirasi bagi penulis.
10. Ryma, Dinasty, Ari Maya, Dini, Lidya, Endang dan teman-teman fisika
angkatan 2011 yang senantiasa menemani dan memotivasi.
11. Semua pihak yang telah membantu penulis sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik.
Semoga amal mereka mendapat balasan dari Allah SWT dengan berlipat
ganda.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini banyak kekurangan,
akan tetapi penulis senantiasa berharap karya ini dapat bermanfaat bagi
penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Surakarta, 31 Agustus 2015


Penulis

PUBLIKASI
No
Judul
1 Fabrikasi dan
Karakterisasi

Penulis
Ratna Dwi Sejati,
Agung Prasetyo
x

Jenis Publikasi
Seminar Nasional HFI Cabang
Jateng-DIY, Universitas Sanata

Preform Fiber
Optik Berbasis
Kaca Tellurite
(TeO2)
Fabrikasi dan
Karakterisasi
Preform Fiber
Optik TZBN:Nd

Utomo, Riyatun

Dharma, Yogyakarta, 25 April


2015 (oral presentation,
repository)

Ratna Dwi Sejati,


Riyatun, Lita
Rahmasari

http://digilib.mipa.uns.ac.id/deta
ilartikel2167
(Accepted/Published)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..........
HALAMAN PERSETUJUAN..
HALAMAN PENGESAHANAN..............................................................
HALAMAN PERNYATAAN ...
HALAMAN MOTTO....................
HALAMAN PERSEMBAHAN....
HALAMAN ABSTRAK............................................................................
HALAMAN ABSTRACT..
KATA PENGANTAR
HALAMAN PUBLIKASI..

xi

Halaman
i
iii
iv
v
vi
vii
viii
ix
x
xii

DAFTAR ISI...
DAFTAR TABEL..
DAFTAR GAMBAR..
DAFTAR LAMPIRAN .........
DAFTAR SIMBOL .......
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang...
1.2. Batasan Masalah................................
1.3. Perumusan Masalah...
1.4. Tujuan Masalah..
1.5. Manfaat Penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..
2.1. Kaca .........................................
2.2. Melt Quenching Tecnique .....................................................
2.3. Glass Rorming Range ...........
2.4. Energi Fonon pada Kaca .......
2.5. Kaca Telluirite ...................
2.6. Fabrikasi kaca Tellurite .........
2.7. Sifat Optis Kaca Tellurite .
2.7.1. Indeks Bias ......................................
2.7.2. Spektrum Serapan dan Transmitansi ..................
2.8. Kerapatan Massa Kaca .................................
2.9. Aplikasi Fotonik dan Tellurite ..........
2.9.1. Fiber Optik ......................................
2.9.2. Pembangkit Laser ...........................
2.10. Kaca TZBN:Nd ...............................................................

xiii
xvi
xvii
xviii
xix
1
1
3
3
3
3
4
6
7
7
9
10
11
11
15
16
16
16
18
20

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ..


3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ...
3.2. Alat dan Bahan Penelitian .................
3.2.1. Alat-Alat Penelitian ...............................
3.2.2. Bahan-Bahan Penelitian ....
3.3. Metode Penelitian ...
3.3.1. Menentukan Komposisi Bahan .....
3.3.2. Fabrikasi Kaca TZBN:Nd ........
3.3.3. Karakterisasi Kaca .......
3.3.3.1. Densitas Kaca .............
3.3.3.2. Indeks Bias .........................
3.3.3.3. Pengujian Serapan pada Daerah UV- Vis

22
22
22
22
23
23
24
25
26
26
27

....................................................................

28

3.3.3.4. Uji Kebocoran Sampel Preform .................


3.4. Analisis ......................................

28
29

xii

3.5. Kesimpulan ...............................

30

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN..


4.1. Hasil Fabrikasi ................
4.2. Hasil Karakterisasi...........................
4.2.1. Kerapatam Massa Kaca ...........................................

31
31
33

4.2.2. Indeks Bias ...................................


4.2.3. Spektrum Asorbsi .............................
4.2.4. Intensitas Kebocoran Berkas pada Prefrom
TZBN:Nd ..................................................................
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.........................
5.1. Kesimpulan..
5.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA.....................
LAMPIRAN

xiii

33
35
39
43
46
46
46
48
53

DAFTAR TABEL
Halaman
8

Tabel 2.1.
Tabel 2.2.

Energi fonon dari berbagai jenis host kaca......


Karakteristik fisik dari kaca tellurite, silika dan
fluorid .....
Beberapa jenis kaca tellurite yang telah dibuat oleh

Tabel 2.3.

10

Tabel 4.1.

peneliti ............................................................
Komposisi preform Kaca TZBN : Nd dalam %
mol ...............................................................................

31

Tabel 4.2.

......
Komposisi preform kaca TZBN : Nd dalam massa
(gram)...........................................................................
Data pengukuran kerapatan massa preform core kaca

32

Tabel 4.3.
Tabel 4.4.
Tabel 4.5.

TZBN:Nd ........................................................
Indeks bias hasil perhitungan dan pengukuran....
Validasi panjang gelombang puncak penyerapan kaca

34
38

TZBN:Nd kaca TpbLi:Nd ...


Transmitansi dari sampel kaca K4 pada jangkauan

40

Tabel 4.6.

panjang gelombang .........................................

41

xiv

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1.

Ilustrasi skematik dua dimensi pada susunan atom (a)


kristal (b) kaca...............................................................
Kurva pengaruh temperatur terhadap entalpi dari glass

Gambar 2.2.
Gambar 2.3.

forming melt ,,,.


Glass forming range beberapa kaca tellurite.

5
7

Gambar 2.4.
Gambar 2.5.

Skema proses pemantulan dan pembiasan ......


Struktur dasar fiber optik yang terdiri dari core dan

12

Gambar
Gambar
Gambar
Gambar

2.6.
3.1.
3.2.
3.3.

cladding ....................................................................
Laser empat level .........................................................
Diagram alir eksperiman .....................
Diagram alir fabrikasi kaca ......
Skema alat pengukuran indeks bias metode sudur

17
18
24
25

Brewster ...........................
Skema pengujian kebocoran cahaya di sepajang

27

Gambar 3.4.

29

Gambar 4.1.

preform ........
Sampel preform core kaca TZBN:Nd (a) Sampel
persegi, (b) sampel silinder .....................................
Pengukuran refkektansi mode TE dan TM pada K1

33

Gambar 4.2.

.....................................................................................
Penentuan sudut Brewster pada K1 dari reflektansi

35

Gambar 4.3.

37
dengan mode TM skala (a) 10o, (b) 1o, (c)

.....

Gambar 4.4.

Karakteristik puncak penyerapan kaca TZBN : Nd


.....................................................
Skema pengukuran kebocoran berkas cahaya pada

39

Gambar 4.5.

preform .......................................................
Grafik kebocoran berkas cahaya pada Preform core

43

Gambar 4.6.

Kaca TZBN:Nd ...............................

43

DAFTAR LAMPIRAN

Tabel A
Tabel B

Gambar alat dan bahan ..................................


Data pengukuran kerapatan massa kaca
xv

Halaman
53

menggunakan piknometer ............


Data pengukuran indeks bias menggunakan metode

57

Tabel C

59

Tabel D

sudut brewster ......................................................


Hasil perhitungan rentang transmitansi pada panjang
gelombang (400-800) nm .........................................
Data kebocoran berkas cahaya pada preform

66

Tabel E

core ..............................................................................

73

......

DAFTAR SIMBOL
Simbol
T
= Temperatur

Satuan
C
3
cm /mol

= Volume molar
E

= Medan listrik

V/m

xvi

B
h
c

= Medan magnet
= Konstanta Plack
= Kecepatan cahaya

Tesla
(6,626 x 10-34) J.s
(3 x 108) m/s
(8,854 x 10 -12 ) C2/N. m2

= Permitivitas ruang hampa

(6,022 x 1023) partikel / mol


M

NA = Bilangan Avogadro

= Panjang gelombang
n = Indeks bias

Derajat ()

= Sudut polarisasi

Derajat ()

= Sudut
R
T
A
d

= Reflektansi
= Transmitansi
= Absorbansi
= Ketebalan kaca

%
Cm
cm-1

= Koefisian absorbtivitas
TE
TM

= Transverse Electric
= Transverse Magnetic
= Intensitas cahaya
cm3/mol

Refraksi molar

= Polarisabilitas molekul

gram/cm3

Densitas

gram

Massa

xvii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bahan tellurite merupakan material yang menjanjikan untuk aplikasi
fotonik. Kaca tellurite memiliki puncak energi fonon yang rendah (850 Joule)
dibandingkan dengan kaca fosfat yang memiliki puncak energi fonon yang
relatif tinggi (1200 Joule). Kaca tellurite juga mampu melarutkan ion tanah
jarang dalam konsentrasi yang tinggi (10 21 ion/cm3) (Ghos and Debnath,
2009)
Kaca tellurite memiliki jangkauan transmisi yang baik pada daerah
cahaya tampak dan dekat inframerah yang mencapai (0,4-6,0) m (Kaur
et.al., 2010). Jangkauan transmisi ini lebih lebar dibandingkan kaca silika
yang berada pada jangkauan ultra violet dan cahaya tampak (0,25-2,5) m
(El-Deen et.al.,2008). Selain memiliki jangkauan transmisi yang lebar, kaca
tellurite juga memiliki indeks bias lebih tinggi (berkisar antara 1,9-2,25
bergantung pada komposisinya) dibandingkan kaca silika (1,458), fosfat
(1,507), maupun fluoride (1,499) (Massera,2009).
Dari berbagai kelebihan dari kaca tellurite tersebut mendukung
penggunaan kaca tellurite dalam bentuk aplikasi fotonik misalnya untuk
pembangkit laser dan fiber optik.
Penelitian tentang kaca tellurite telah banyak dikembangkan oleh para
peneliti. Penelitian Sidebotton et.al., (1997) menunjukkan bahwa kaca zinctellurite sangat baik sebagai bahan dasar optik aktif (optically-active) jika
didadah dengan ion tanah jarang karena mampu meminimalkan kebocoran
nonradioactive sehingga memiliki ketahanan kimia dan sifat optik yang baik.
Kaca tellurite dengan komposisi penyusun TZBN (TeO2-ZnO-Bi2O3Na2O), memiliki banyak kelebihan, seperti halnya: titik leleh yang relatif
rendah, memiliki transparansi optis yang lebar, memiliki energi fonon yang
rendah. (Halimah et.al., 2010). Jenis kaca ini telah dikembangkan di
Laboratorium Optik dan Photonik Prodi Fisika Universitas Sebelas Maret
Surakarta. Perkembangan terkini, fabrikasi telah sukses dilakukan dengan

karakteristik sifat fisik dan optis yang memuaskan, tetapi dalam bentuk kaca
persegi. (Nurliana,2013).
Dari hasil penelitian selanjutnya, Yuliastuti (2014) menyimpulkan
bahwa material kaca tellurite yang didadah ion Neodymium berpotensi untuk
dikembangkan menjadi material aktif dalam laser inframerah dan devais lain
dengan keunggulan tertentu diantaranya memiliki puncak absorbansi yang
tinggi (585 nm) pada daerah serapan UV, memiliki nilai radiatif waktu hidup
(lifetime) yang tinggi yaitu antara 693-711 s sehingga dapat diprediksi akan
menghasilkan emisi dengan energi yang tinggi, karena banyak atom yang
tinggal pada level metamantap.
Menurut Dai, et al (2004) kaca tellurite yang didadah ion tanah jarang
Nd merupakan bahan yang menjanjikan untuk aplikasi laser dan penguat optis
yang bekerja pada jangkauan 1,3 m dalam bentuk fiber optik yang
memerlukan preform berbentuk silinder untuk core. Untuk membuat fiber
optik dapat dilakukan dengan metode melt quenching.
Penelitian ini akan mengerjakan fabrikasi dan karakterisasi kaca
tellurite berbentuk persegi dan silinder dari kaca TZBN:Nd sebagai bahan
yang mampu mendukung sifat kaca tellurite sebagai aplikasi fotonik dilihat
dari hasil pengujian indeks bias, spektrum absorbsi, transmitansi, rapat massa
kaca (densitas kaca).
Perlakuan khusus antara kaca berbentuk persegi dengan silinder
berbeda pada bentuk cetakan serta parameter penuangannya. Untuk kaca
TZBN optimasi sudah ditemukan dalam penelitian sebelumnya, yakni titik
leleh bahan kaca sekitar 900oC, suhu cetakan 250oC dan didiamkan secara
alami mencapai suhu ruang (Riyatun et. al., 2012)
Untuk itulah pada penelitian ini akan dilakukan fabrikasi preform kaca
kaca TZBN:Nd. Pada fabrikasi ini sampel preform akan dibuat silinder dari
kaca TZBN:Nd dengan komposisi 60TeO2 (34-x) ZnO 2 Bi 2O3 4Na2O
xNd2O3 (dengan x=0; 0,5:1;1,5).
1.2. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini meliputi :

1. Pada fabrikasi kaca tellurite dilakukan dengan metode melt-quenching


dimana metode ini sudah dilakukan sebelumnya untuk beberapa jenis
kaca persegi yang lain di Laboratorium Optik Jurusan Fisika UNS.
2. Karakterisasi TZBN : Nd mencakup beberapa cara peninjauan. Pada
penelitian ini dibatasi pada sifat fisik kerapatan massa kaca (densitas
kaca) dan sifat optik yang meliputi karakteristik indeks bias, spektrum
absorbsi, transmitansi dan kebocoran berkas cahaya sepanjang preform
sampel kaca yang dihasilkan untuk penggunaan kaca tellurite dalam
bidang fotonik.
1.3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana fabrikasi preform core kaca TZBN:Nd ?
2. Bagaimana karakterisasi sifat fisik dan optis dari preform kaca
TZBN:Nd yang dihasilkan ?
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk melakukan fabrikasi preform kaca
tellurite berbentuk persegi dan core (silinder) serta melakukan karakterisasi
pada kaca TZBN : Nd berupa densitas kaca, indeks bias, spektrum absorbsi
dan transmitansi serta kebocoran berkas cahaya pada preform sampel kaca
tellurite untuk mengetahui kualitas kaca sebagai preform yang akan
dimanfaatkan dalam bidang fotonik.
1.5. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini yaitu dapat
menghasilkan preform kaca TZBN:Nd berupa silinder dengan karakterisitik
sifat optisnya serta memberikan hasil penelitian mengenai kaca TZBN:Nd
untuk pemanfatan dalam bidang fotonik yang dapat digunakan sebagai
referensi bagi penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kaca
Menurut definisi American Society for Testing and Materials (ASTM) kaca
adalah produk anorganik dari suatu peleburan yang didinginkan ke kondisi keras
tanpa pengkristalan. Jadi menurut definisi tersebut, kaca adalah material non
kristal yang diperoleh dengan proses melt-quenching. Penelitian tentang teknologi
pembuatan kaca untuk berbagai aplikasi dalam kehidupan sehari-hari telah banyak
dilakukan. Pada perkembangan berikutnya kaca dimanfaatkan untuk aplikasi
bahan optik dan fotonik dengan teknik tertentu.
Kaca memiliki beberapa sifat unik seperti tingkat kekerasan yang tinggi dan
transparan pada suhu ruang, memiliki ketahanan korosi yang baik (Halimah et.al.,
2010).

Gambar 2.1. Ilustrasi skematik dua dimensi pada susunan atom, (a) kristal (b)
kaca.
(Yamane dan Ashara, 2000)
Susunan atom dari kaca berbeda dengan susunan pada material kristal dan
ketiadaan keteraturan jangka panjang, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.1.
Hal ini hampir menyerupai dengan susunan atom pada cairan (Yamane dan
Asahara, 2000).

Setiap material yang menunjukkan perilaku transformasi kaca (glass


transformation) adalah kaca. Perilaku glass transformation yakni keadaan
keseimbangan dari cairan dan dari keaadaan padatan beku. Proses transformasi
kaca akan terjadi pada saat kaca dipanaskan. Pada saat suhu rendah, kaca yang
berwujud amorf akan mengeras, kemudian setelah dipanaskan kaca akan meleleh
dan membentuk cairan. Glass transformation secara tradisional didasarkan pada
diagram entalpi terhadap temperatur, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.2.
Ketika cairan didinginkan, struktur atom dari lelehan secara bertahap akan
berubah dan akan terkarakterisasi dari suhu yang tepat dimana lelehan terjadi.
Pendinginan ke suhu berapapun di bawah suhu leleh kristal biasanya akan
mengubah suatu material ke keadaan kristal.
Atom tersusun secara periodik dengan pembentukan jangka panjang. Jika
hal ini terjadi, entalpi akan menurun tiba-tiba ke keadaan yang sesuai untuk
terjadinya kristal. Pendinginan lanjutan dari kristal akan mengakibatkan
penurunan lebih lanjut entalpi karena kapasitas panas dari kristal.

Gambar 2.2. Kurva pengaruh temperatur terhadap entalpy dari glass forming melt
(Shelby, 2005)
Jika cairan bisa didinginkan di bawah suhu leleh kristal tanpa kristalisasi,
supercooled liquid diperoleh. Struktur cairan terus tersusun ulang selama suhu

menurun, tetapi tidak ada penurunan mendadak dalam entalpi karena penyusunan
ulang struktur terputus. Selama cairan didinginkan lebih lanjut, viskositas
meningkat. Kenaikan viskositas akhirnya menjadi begitu besar sehingga atom
tidak bisa lagi sepenuhnya menyusun ulang ke struktur cairan yang seimbang
selama waktu tertentu. Saat entalpi mulai menyimpang dari garis keseimbangan,
mengikuti kurva kemiringan menurun secara bertahap, sampai akhirnya
terpengaruh oleh kapasitas panas dari cairan beku mengakibatkan viskositas
menjadi begitu besar, sehingga struktur cairan menjadi tetap dan tidak lagi
bergantung pada suhu. Daerah suhu yang terletak di antara batas equilibrium
liquid dan frozen liquid, dikenal sebagai daerah transformasi kaca. Sehingga
cairan yang yang membeku tersebut adalah kaca.
2.2. Melt Quenching Technique
Fabrikasi kaca dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya adalah
Chemical Vapor Deposition (CVD), proses sol gel-formation dan melt quenching
technique. Melt quenching technique merupakan peleburan bahan kristal menjadi
lelehan yang diikuti oleh terbentuknya kaca dari lelehan (Yamane dan Asahara,
2000).
Pada proses melt quenching technique, bahan disiapkan dengan mencampur
semua bahan kemudian menggerus bahan untuk homogenitas yang tinggi. Hasil
gerusan kemudian diletakkan dalam crucible yang terbuat dari tanah liat, platina,
atau keramik, kemudian dimasukkan ke dalam furnace bersuhu (900-1100o)C
(Yamane dan Asahara, 2000).
Kelebihan dari metode melt quenching technique yaitu fleksibilitas
komposisi yang luas. Hal ini dikarenakan pendinginan yang cepat dari lelehan
tidak membutuhkan stokiometri dari masing-masing penyusun, selain itu
persiapan kaca dengan bermacam-macam komposisi sangat memungkinkan.
Bahkan sampai terdiri dari sepuluh jenis penyusun kaca yang dihasilkan memiliki
sifat yang khusus yaitu dengan pendadahan dari ion aktif seperti ion tanah jarang
atau logam transisi (Yamane and Asahara, 2000).

Kelemahan dari metode melt quenching technique ini diantaranya adalah


sangat sulit untuk membuat kaca dengan kemurnian yang sangat tinggi. Hal ini
dapat dipengaruhi oleh kemurnian komposisi bahan serta kontaminasi dari
crucible dan furnace (Yamane and Asahara, 2000).
Kebanyakan kaca yang dibentuk biasanya diberi perlakuan annealing pada
jangkauan suhu yang lebih tinggi dari suhu transisi kaca untuk mengurangi
tegangan suhu (thermal stress) yang dihasilkan selama proses pembentukan kaca,
dan kemudian didinginkan sampai suhu ruang. Sehingga kaca yang dihasilkan
tidak mudah patah.
2.3. Glass Forming Range
Setiap material yang menunjukkan perilaku glass transformation adalah
kaca. Perilaku glass transformation secara tradisional didasarkan pada diagram
entalpi atau volume terhadap temperatur, seperti pada Gambar 2.3 menunjukkan
bahwa tidak semua bagian dari diagram membentuk kaca, pembentukan kaca
diindikasikan oleh simbol G pada diagram.

Gambar 2.3. Glass forming range beberapa kaca tellurite


(El-Mallawany, 2002).
Penambahan unsur tertentu pada kaca tellurite akan menentukan kaca dapat
terbentuk atau tidak. Selain bergantung pada komposisi penyusunnya, hal lain
yang berpengaruh pada pembentukan kaca adalah laju pendinginan.
2.4. Energi Fonon pada Kaca

Fonon merupakan dasar dari vibrasi atomik. Dalam material padat dikenal
adanya kisi, bergetarnya kisi akibat energi gelombang cahaya disebut dengan
fonon. Energi yang dihasilkan akibat getaran kisi tersebut disebut dengan energi
fonon. Fonon dalam kaca akan berinteraksi dengan foton (cahaya) yang
diemisikan dan diserap oleh ion tanah jarang dalam kaca. Proses relaksasi ion
yang tereksitasi terjadi dalam dua cara yaitu emisi radiatif dan non radiatif. Pada
ion tanah jarang yang berada dalam host kaca yang energi fononnya rendah akan
menghasilkan efisiensi kuantum yang tinggi dan transisi yang terjadi adalah emisi
radiatif.
Kaca yang memiliki energi fonon tinggi menunjukkan material tersebut
memiliki vibrasi tinggi (karena fonon berhubungan dengan getaran kisi pada
material yang akan diberi doping), sehingga susunan atomnya susah untuk
didoping karena energi dari atom dopingnya akan habis terlebih dahulu di level
metastabil (level dimana atom dengan keadaan eksitasi yang berumur pendek),
sehingga emisinya non radiatif.
Energi fonon ini bergantung pada berat atom dalam kaca, kekuatan dan sifat
ikatan (ionik atau kovalen). Efisiensi transisi radiatif bergantung pada besarnya
energi fonon. Laju peluruhan multifonon antara dua tingkat energi secara
eksponensial bergantung pada nilai frekuensi fonon, dimana nilai frekuensi fonon
ini diperlukan untuk menjembatani energi band gap. Optical amplification
bergantung pada penguatan gelombang. Hal ini bagus untuk memperoleh host
kaca dengan energi fonon yang rendah.
Tabel 2.1 Energi fonon dari berbagai jenis host kaca (Soundarajan, 2009).
Jenis host Kaca

Energi fonon (J)

Chalcogenide (Seleneide)
Chalcogenide (Sulfide)
Heavy-metal Flouride
Tellurite
Germanate
Phospate
Silicate
Borate

350
450
500
700
900
1200
1100
1400

Untuk memperoleh jangkauan transmisi yang tinggi dapat dilakukan dengan


menempelkan ion pada kaca dengan energi fonon yang rendah seperti kalkogenik,
dan kaca logam berat. Jika ion yang sama menempel pada kaca dengan energi
fonon yang tinggi seperti silika dan fosfat, akan diperolah transisi tidak radiatif
pada suhu ruang (Soundarajan, 2009).
2.5. Kaca Tellurite
Salah satu bahan atau material fiber optik berbasis kaca adalah Tellurite.
Tellurium Oxide (TeO2) merupakan oksida paling stabil dari tellurium (Te) yang
memiliki

titik leleh 725oC. Kaca

tellurite

memiliki sifat unik yang

memungkinkannya diaplikasikan dalam sensor tekanan atau sebagai host laser


baru, dan aplikasi lainnya (El-Mallawany, 2002).
Tellurium oxide memiliki posisi transisi Te antara logam dan non logam.
Dilihat dari tingkat kestabilannya yang pertama adalah padatan kristal dan
kemudian kaca tellurite. Pada Tabel 2.2 menunjukkan perbandingan karakteristik
sifat fisik kaca tellurite dengan kaca silika dan fluorid. Kaca tellurite memiliki
puncak energi fonon yang lebih rendah dibandingkan dengan silika. Jangkauan
transmisi dari kaca tellurite jauh lebih panjang dan mencapai daerah mid infrared
(5000 nm). Energi fonon kaca tellurite lebih kecil dibandingkan silika.
Tabel 2.2. Karakteristik Fisik dari Kaca Tellurite, Silika dan Fluorid (Fusari, 2011)
Sifat Kaca
Indeks bias
Bilangan Abbe

Tellurite
2
10-20

Silika
1,46
80

Flourid
1,5
60-110

Indeks bias non linier

2,5 x 10-15

10-16

10-17

Puncak energi fonon

800

950

500

Jangkauan transmisi

350-5000

250-2500

200-7000

Kovalen-ionik

Ionik-kovalen

ionik

Karakter ikatan ion


fractional

Menurut Manning (2011) kaca tellurite memiliki karakteristik terpenting


yaitu memiliki polarisabilitas dan indeks bias yang tinggi, dimana dengan faktor

10

tersebut kaca tellurite dapat dimanfaatkan untuk berbagai aplikasi peralatan optik.
Besarnya nilai indeks bias ini dipengaruhi oleh polarisabilitas dari ion tellurium.
Kaca tellurite merupakan material yang bagus digunakan untuk laser dan aplikasi
nonlinear, aplikasi fotonik, dan aplikasi komunikasi. Penelitian yang dilakukan
Savelii et.al., (2011) juga menunjukkan bahwa kaca tellurite (TZN) memiliki
transmisi yang tinggi dan lebar pada jangkauan panjang gelombang (350-5000)
nm. Hal ini menunjukkan bahwa kaca TZN memiliki absorbsi yang rendah di
daerah cahaya tampak sampai dekat inframerah. Selain itu, tellurite memiliki
puncak energi fonon yang rendah dibandingkan silika dan fosfat (Halimah et.al.,
2010).
Penelitian tentang kaca tellurite telah banyak dikembangkan oleh para
peneliti. Penelitian Sidebotton et.al., (1997) menunjukkan bahwa kaca zinctellurite sangat baik sebagai bahan dasar optik aktif (optically-active) jika didadah
dengan ion tanah jarang karena mampu meminimalkan kebocoran nonradioactive
sehingga memiliki ketahanan kimia dan sifat optik yang baik.
2.6. Fabrikasi Kaca Tellurite
TeO2 membutuhkan kehadiran komponen-komponen atau ion dadah lain
untuk membentuk kaca (Golis et.al., 2008) karena TeO2 sendiri bukan merupakan
pembentuk kaca (glass former). Pada Tabel 2.3 terlihat beberapa jenis kaca
tellurite yang telah dibuat oleh para peneliti, dan kaca tellurite tersebut tersusun
dari bermacam-macam komposisi.
Tabel 2.3. Beberapa Jenis Kaca Tellurite yang telah dibuat oleh peneliti
Komposisi Kaca Tellurite
75TeO2-9ZnO-16ZnF2

Peneliti
Nazabal et.al. (2003)

(70-x)TeO2-14.5ZnO-15Na2O-0.5Er2O3 xNd2O3) Xiang et. al. (2007)


75TeO2-20ZnO-5Na2O

Feng et. al. (2008)

TeO2-Bi2O3-BaO
Xu et.al. (2011)
Pada tahun 1984 Lambson dan tim kerjanya menggunakan serbuk putih
kristal tetragonal TeO2 untuk membuat kaca tellurium oxide murni. Tellurium
oxide di furnace elektrik yang dipanaskan dulu hingga mencapai suhu 800 oC dan
dijaga pada temperatur ini selama 30 menit. Lelehan kemudian didinginkan

11

dengan rate 20oC/menit sampai temperatur 700oC, dimana lelehan tersebut masih
sangat kental. Lelehan dimasukkan dalam cetakan berbentuk kubus dari baja yang
sebelumnya telah dipanaskan sampai 400oC, kemudian hasil kaca sampel dianil
dalam furnace bersuhu 300oC selama 1 jam (El-Mallawany, 2002).
Pada tahun 2013 Evi Nurliana di Lab Optik Prodi Fisika FMIPA UNS membuat
kaca tellurite dengan melelehkan semua bahan TZBN:Nd (Tellurium Oxide,Zinc
Oxide,Bismuth Oxide, Natrium Dioxide,Neodymium Oxide) pada crucible platina
selama 30 menit di dalam furnace bersuhu 900oC. Kemudian lelehan bahan
dicetak dalam preheating mould yang sebelumnya telah dipanaskan pada suhu
sekitar 250oC.
2.7.

Sifat Optis Kaca Tellurite


Karakterisasi optis dari kaca dapat diperlihatka dengan beberapa parameter

optis, misalnya indeks bias kaca, absorbsi dan transmitansi, dan rapat massa kaca.
2.7.1. Indeks Bias
Indeks bias didefinisikan sebagai rasio atau perbandingan dari kecepatan
cahaya dalam ruang hampa udara dengan kecepatan cahaya di dalam medium
yang ditunjukkan oleh Persamaan:
(2.1)
Dengan n adalah indeks bias, c adalah kecepatan cahaya dalam ruang hampa
udara, dan v adalah kecepatan cahaya di dalam medium.
Rasio ini dapat diukur oleh penerapan hukum Snellius yang dinyatakan dengan
simbol n, dengan persamaan :
(2.2)
Dimana

= 1 merupakan indeks bias di udara dan

merupakan

indeks bias di medium. Indeks bias tidak benar-benar konstan, nilai indeks bias
dipengaruhi oleh panjang gelombang dan frekuensi cahaya yang melewatinya.
Indeks bias kaca ditentukan dari interaksi cahaya dengan elektron-elektron pada

12

atom pembentuk kaca. Meningkatnya kerapatan elektron atau polarisabilitas ionion meningkatkan indeks bias (Shelby, 2005).
Indeks bias menunjukkan kerapatan suatu material. Semakin rapat suatu
material, maka semakin tinggi nilai indeks biasnya sehingga kecepatan cahayanya
semakin rendah. Peristiwa reflektansi untuk menentukan besarnya sudut brewster
dapat dijelaskan dengan jalannya sinar pemantulan dan pembiasan yang
ditunjukkan pada Gambar 2.4.

Gambar 2.4. Jalannya sinar untuk pemantulan dan pembiasan. (a) Sinar
pantul dan sinar bias mengalami polarisasi sebagian. (b) Sinar
pantul mengalami polarisasi sempurna dengan sudut datang
merupakan sudut polarisasi (

. (Serway and Jewett, 2004)

Pada Gambar 2.4, seberkas sinar datangyang merupakan gelombang


elektromagnetik yang terdiri dari mode TE (transverse electric) (ditandai dengan
panah pada berkas sinar) dan mode TM (transverse magnetic) (ditandai dengan
titik hitam pada berkas sinar) mengenai suatu bahan (kaca) maka sinar pantulnya
bisa mengalami polarisasi sempurna, polarisasi sebagian dan tidak terpolarisasi
tergantung dari sudut datang. Jika sudut datang 0o, maka sinar pantul mengalami
tidak terpolarisasi. Untuk sudut datang lainnya sinar pantul mengalami tidak
terpolarisasi. Untuk sudut datang lainnya sinar pantul terpolarisasi sampai batas
tertentu dan untuk sudut datang tertentu, sinar pantul akan terpolarisasi sempurna.

13

Jika cahaya datang dengan sudut tertentu (p) mengenai suatu bahan dan
pada saat itu sinar pantul terpolarisasi sempurna dan sinar bias terpolarisasi
sebagian (Gambar 2.4b), maka sinar pantul dan sinar bias saling tegak lurus
(membentuk sudut 90o). Sudut datang p tersebut disebut sudut polarisasi.
Pada saat

hukum Snellius pada Persamaan (2.2) dapat diubah menjadi :


(2.3)

dan ketika

maka

= sin (

) = cos

Sehingga Persamaan (2.3) dapat diubah menjadi :


(2.4)
Persamaan (2.4) dapat dinyatakan dengan Persamaan (2.5).

(2.5)

Sehingga nilai indeks bias dapat ditentukan dengan Persamaan (2.6).


(2.6)

Karena n1 nilainya adalah 1 maka

Persamaan (2.6) dapat dinyatakan

menjadi :
(2.7)
Persamaan (2.7) inilah yang disebut sebagai persamaan Brewster (Serway
and Jewett, 2004).

14

Perbandingan antara intensitas cahaya yang dipantulkan dengan cahaya


yang datang disebut reflektansi (R), dan perbandingan intensitas cahaya yang
datang dengan cahaya yang ditransmisikan disebut transmitansi (T).

Jenis

polarisasi medan listrik (E) tegak lurus bidang datang dan medan magnet (B)
sejajar bidang datang yang disebut Transverse Electric (TE). Medan magnet (B)
yang tegak lurus bidang datang dan medan listrik (E) sejajar bidang datang
disebut dengan Transverse Magnetic ( TM ).
Sudut Brewster juga dapat ditentukan berdasarkan persamaan Fresnel yaitu
dengan menentukan besarnya koefisien refleksi (r) seperti diberikan oleh
persamaan (2.7) dan (2.8)
Mode TE:

(2.8)

Mode TM:

(2.9)

Dimana

= sudut datang, dan n = indeks bias sampel. Indeks bias sampel

menurut metode ini ditentukan oleh

yang membuat r = 0 (Pedroti, 1993)

Pada material amorf, nilai indeks bias dapat diprediksi menggunakan


persamaan Lorent-lorent :
(2.10)

Dimana

adalah molar refraction, dan

dapat dihitung dengan menggunakan data polarizability ion

. Nilai
, yaitu
(2.11)

15

Sedangkan untuk

= berat molekul (Mr) dan

dapat dihitung dengan persamaan

Dimana M

= densitas dari kaca (Shelby, 2005).

Dari persamaan 2.9, maka nilai indeks bias dapat ditentukan dengan
Persamaan 2.10 sebagai berikut
(2.12)

2.7.2 Spektrum Serapan dan Transmitansi


Sifat optis dari kaca pada umumnya memiliki transmitansi yang tinggi dan
absorbansi

yang

rendah.

Spektrometer

dengan

resolusi

tinggi

dapat

menggambarkan pada daerah spektrum manakah transmitansi kaca sangat tinggi


maupun absorbansi yang sangat rendah.
Spektrum absorbsi akan diperoleh ketika gelombang elektromagnetik
(GEM) memasuki suatu materi, maka gelombang elektromagnetik tersebut akan
mengalami tiga kemungkinan yaitu diserap, diteruskan maupun dipantulkan.
Rentang panajng gelombang yang diserap dari spektrum GEM inilah yang disebut
sebagai spektrum absorbsi (serapan). Cahaya yang diserap diukur sebagai
absorbansi (A) sedangkan cahaya yang dihamburkan diukur sebagai transmitansi
(T).
Hukum Lambert menyatakan bahwa berkas cahaya yang diabsorbsi atau
ditransmisikan oleh suatu bahan tidak bergantung pada intensitas cahaya (Maya,
2008). Cahaya akan diserap jika energi cahaya sesuai dengan energi yang
dibutuhkan untuk mengalami perubahan dalam molekul. (Maya, 2008). Intensitas
cahaya setelah memasuki bahan dinyatakan sebagai berikut :
(2.13)

16

Dimana I merupakan intensitas cahaya setelah memasuki bahan, I0 adalah


intensitas cahaya sebelum memasuki bahan, x adalah tebal material dan

adalah

koefisien absorbsi (Jacob, et.al.,2000).


Bila cahaya melewati suatu medium transparan misalnya kaca maka
besarnya absorbansi sebanding dengan minus log dari transmitansi. Transmitansi
adalah intensitas akhir ( ) dibagi intensitas awal

. Besarnya absorbansi

dinyatakan dalam Persamaan 2.14.


(2.14)

Pengukuran

absorbansi

dilakukan

dengan

menggunakan

alat

spektrofotometer UV-Vis pada daerah ultraviolet dan cahaya tampak. Prinsip kerja
spektrofotometer UV-Vis adalah cahaya dari dua sumber yaitu deuterium dan
tungsten diarahkan menuju cermin seleksi, ekmudian berkas ganda ini diteruskan
menuju cermin toroid dan filter. Cermin putar dan kolimator akan membuat
berkas menjadi sejajar, kemudian berkas terbagi menjadi dua. Berkas pertama
dilewatkan pada kuvet berisi sampel dan berkas kedua dilewatkan pada kuvet
referensi (blanko). Masing-masing berkas kemudian diarahkan menuju detektor,
sehingga diketahui besarnya intensitas yang melalui sampel (I) dan intensitas yang
melalui blanko (Io) dari sampel yang diuji.
2.8.

Kerapatan Massa Kaca


Rapat massa kaca didefinisikan sebagai massa per unit volum. Secara

matematis dituliskan oleh Persamaan (2.15) :

(2.15)
dimana adalah rapat massa, M adalah massa, dan V adalah volum dari sampel.
Kerapatan massa kaca atau densitas kaca disebut sifat fisik karena pengukurannya
langsung pada sampelnya (fisik) tanpa menggunakan cahaya (optis).

17

Jika sampel terbebas dari gelembung udara, tidak berlubang atau kerusakan
yang lain, penghitungan rapat massa dari bahan merupakan rapat massa yang
sesungguhnya. Jika sebaliknya, sampelnya mengandung gelembung udara maka
penghitungan rapat massa menjadi kurang dari hasil yang sesungguhnya dan dapat
dikatakan apparent density (Shelby, 2005).
2.9.

Aplikasi Fotonik dari Tellurite


Kaca tellurite dapat diaplikasikan dalam bidang optik fotonik diantaranya

sebagai berikut :
2.9.1.Fiber Optik
Serat optik (fiber optik) adalah suatu pemandu gelombang ( wave guide)
yang beroperasi pada frekuensi optik atau cahaya. Fiber optik berbentuk silinder
dan menyalurkan energi gelombang elektromagnetik dalam bentuk cahaya di
dalam permukaannya dan mengarahkan cahaya pada sumbu aksisnya (Walidaini,
2000). Fiber optik merupakan dielectric waveguide yang mana pemampang dari
silinder tersebut terdiri dari dua bagian, yaitu : bagian tengah yang disebut Core
dan bagian luar yang disebut Cladding. Cladding pada fiber optik membungkus
atau mengelilingi core. Adapun bentuk pemampang dari core dapat bermacammacam, antara lain : pipih, segi tiga, segi empat, segi banyak atau berbentuk
lingkaran. Gambar struktur dasar dari fiber optik ditunjukan pada Gambar 2.5
berikut ini :

Cladding

Core

Gambar 2.5. Struktur dasar fiber optik yang terdiri dari core dan cladding
(Crisp dan Elliot, 2006)
Gambar 2.5 merupakan struktur dasar dari fiber optik dimana terdiri dari 2
bagian : core (inti) dan cladding (selubung). Inti adalah sebuah batang silinder

18

yang terbuat dari bahan dielektrik (umumnya silika (SiO2), dan diberi doping
dengan germanium oksida (GeO2) atau fosfor penta oksida (P2O5) dengan indeks
bias n1. Inti diselubungi oleh lapisan material, disebut kulit / selubung, yang
terbuat dari bahan dielektrik (umumnya silika tanpa atau sedikit doping), kulit
indeks bias n2 yang besarnya sedikit lebih rendah dari n1 (Prasetya, 2009).
Pada fiber optik, indeks bias core lebih besar dari indeks bias cladding agar
memungkinkan terjadi pembiasan dalam total. Dengan demikian cahaya akan
selalu merambat dalam core hingga ujung fiber. Sinar-sinar yang akan dipandu
oleh fiber optik harus dimasukkan ke dalam core fiber optik melalui ujungnya,
dengan cara diusahakan sinar tersebut datang setegak lurus terhadap pemampang
core serat optik, agar sinar tersebut masuk kedalam core kemudian datang ke
cladding dengan sudut datang yang lebih besar dari sudut kritisnya, yang mana
akan menghasilkan pemantulan sempurna pada bidang batas core cladding.
Fiber optik difabrikasi dengan cara membuat preform core dan cladding
terlebih dahulu. Preform core difabrikasi dengan bentuk silinder, sedangkan untuk
preform cladding difabrikasi dengan bentuk silinder berongga. Dari hasil kedua
preform ini kemudian disatukan sehingga membentuk fiber optik dengan cladding
yang menyelimuti core.

2.9.2. Pembangkit Laser


Laser (Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation) adalah alat
yang dapat memproduksi gelombang elektromagnetik dengan intensitas cahaya
yang kuat, memiliki sifat monokromatik dan koheren. Pancaran terangsang
(stimulated emission) terjadi ketika atom berada pada keadaan tereksitasi
kemudian foton ditembakkan pada atom tersebut. Apabila energi foton sama
dengan selisih energi antara keadaan tereksitasi dan keadaan dibawahnya maka
atom akan bertransisi ke keadaan yang lebih rendah. Satu foton yang mengimbasi
satu atom akan memancarkan dua foton dengan energi, arah dan fasa yang sama
dengan foton perangsang. Masing-masing foton yang dihasilkan akan merangsang
atom lain sehingga dihasilkan empat buah foton, dan kelipatannya. Pada akhirnya
terjadilah proses pancaran berantai. Inilah yang dinamakan penguatan

19

(amplification). Gambar 2.6 menunjukkan skema dari laser empat level. Atom
pada keadaan dasar dipompakan ke keadaan tereksitasi yang memiliki energi yang
sangat tinggi

. Melalui transisi ion non radiatif atom meluruh dengan cepat

sekali ke suatu keadaan metamantap

Transisi non radiatif adalah transisi

dengan tidak memancarkan foton.

E3

Keadaan Singkat
Singkat

E2

Keadaan metamantap

Pemompaan
n
E4

Keadaan Singkat

E1

Keadaan Dasar
Gambar 2.6. Laser empat level (Beesley, 1972)

Pada transisi non radiatif beda energi

akan diubah menjadi fonon yang

berhubungan dengan getaran kisi suatu material host. Transisi pelaseran kemudian
berlanjut dari keadaan metamantap

ke keadaan eksitasi dibawahnya

20

Pada keadaan

, disinilah terjadi pembalikan populasi (population invertion).

Peristiwa lasing terjadi ketika atom-atom pada


kemudian atom meluruh dari

ke

ditembaki foton perangsang,


dengan memancarkan foton yang

energinya sama dengan foton perangsang.


Laser kaca memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan laser kristal. Kaca
memiliki struktur atom yang tidak teratur sehingga apabila ion aktif didadah pada
kristal maka ion aktif ini hanya akan menempati sebagian dari kisi kristal. Kaca
tellurite memiliki kekuatan mekanik yang baik dan transmisi pada panjang
gelombang 586 nm sehingga sangat baik untuk membangkitkan laser kaca pada
panjang gelombang merah (Sharaf et al., 2007).
Kaca tellurite yang didadah dengan ion aktif tanah jarang dapat digunakan untuk
pembangkit laser. Ion tanah jarang yang digunakan misalnya Nd 3+, Pb3+, Er3+,
Yb3+, Sm3+, dan Eu3+. Neodimyium sangat terkenal sebagai dopant aktif pada kaca,
misalnya YAG (Yttrium Alumunium Garnet) untuk laser zat padat (Righini and
Ferrari, 2006).
Dalam penentuan sifat lasing suatu bahan ada beberapa parameter yang harus
diukur diantaranya adalah sifat fisik dan sifat optik suatu bahan. Sifat fisik
misalnya indeks kerapatan sedangkan sifat optik yang diukur diantaranya adalah
reflektansi, indeks bias dan absorbansi. Penelitian mengenai kaca TZBN yang
didadah ion Nd untuk bahan material host laser ini telah dilakukan oleh Ike
Yuliastuti (2014) di Lab Optik Jurusan Fisika FMIPA UNS.
2.10. Kaca TZBN:Nd
Penelitian tentang kaca tellurite juga telah dikembangkan oleh Laboratorium
Optik Jurusan Fisika FMIPA UNS. Riyatun dkk, (2012) melakukan optimasi
fabrikasi kaca TZBN (60TeO2-(35-x)ZnO-2Bi2O3-(3x)Na2O) dengan memvariasi
komposisi dari Na2O. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa suhu

21

pelelehan dan suhu transisi dari kaca TZBN secara berturut-turut pada jangkauan
(463-481)oC.
Penelitian selanjutnya mengenai kaca tellurite yang telah dikembangkan adalah
fabrikasi kaca TZBN : Nd (60TeO2-(34-x)ZnO-2Bi2O3-4Na2O-xNd2O3 dengan
memvariasi komposisi Nd2O3. Hasil penelitian

tersebut menunjukkan bahwa

penambahan ion Nd mampu menaikkan nilai indeks bias. Ion Nd3+ memiliki jarijari yaitu (1,123 ) (El-Mallawany, 2008) yang lebih kecil dari jari-jari atom
tellurite yaitu (1,60) (Oo et.al., 2012) sehingga memungkinkan bagi ion Nd
untuk menyisip dalam struktur jaringan kaca TZBN.
Unsur tanah jarang memiliki peranan penting dalam industri manufaktur,
perkembangan teknologi, dan proses biologi. Aplikasi dari unsur tanah jarang
diantaranya adalah Ce dan Er digunakan dalam high performance alloys, Sm
sebagai magnet permanen (Joseph, 2009). Sedangkan untuk Nd digunakan
sebagai dopant aktif dari kaca untuk laser padatan. Unsur tanah jarang tidak
terlihat sendirian. Mineral murni dari tanah jarang tidak ada di alam, semua
mineral tersebut mengandung campuran dari unsur tanah (Righini and Ferarri,
2005).
Neodymium merupakan unsur tanah jarang yang merupakan bagian dari deret
lantanida pada tabel periodik unsur. Neodymium memiliki nomor atom 60 dengan
konfigurasi elektron sebagai berikut (Yang, 2010) :
1s2 2s2 2p63s23p64s23d104p65s24d105p64f46s2
Neodymium adalah ion tanah jarang yang digunakan secara luas untuk penguatan
optis. Ion pada keadaan Nd diperoleh dari lepasnya elektron pada kulit 6s2 dan
satu elektron dari kulit 4f, sehingga konfigurasi elektron pada keadaan terionisasi
yaitu :
1s2 2s2 2p63s23p64s23d104p65s24d105p64f4
Seluruh kulit, kecuali 4f telah terisi dan tidak memberikan kontribusi terhadap
orbital total dan momentum spin. Transmisi emisi tanpa kulit 4f dapat terjadi
untuk memadukan dengan transisi yang diizinkan. Seperti halnya keadaan
metastabil dimana elektron tinggal, memberikan kenaikan lifetime luminesensi
yang panjang dan koefisien absorpsi yang rendah (Yang, 2010). Ion Neodymium

22

termasuk pendadah aktif untuk solid-state laser (Swiderski et,al. 2004). Ion
neodymium memiliki ruang yang luas dan penyerapan yang intensif di daerah UV
dan dekat inframerah. Kaca tellurite yang didadah dengan ion Nd merupakan
material yang menjanjikan untuk pembuatan laser dan operating amplifier pada
rentang 1,3 m (Zhang et al., 2004). Laser kaca yang didadah Nd menghasilkan
laser kaca berenergi tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk keperluan medis.