Anda di halaman 1dari 15

RADIOGRAFI TUMOR RONGGA MULUT

Tumor secara umum adalah suatu pertumbuhan jaringan yang abnormal yang tidak
terkendali dan tidak berguna bagi tubuh. Tumor rongga mulut adalah suatu pertumbuhan
abnormal di dalam dan di sekitar rongga mulut yang pertumbuhannya tidak dapat
dikendalikan dan tidak berguna bagi tubuh. Jaringan tersebut dapat tumbuh pada bibir, pipi,
dasar mulut, palatum, lidah, dan di dalam tulang rahang. Penyebab tumor sampai saat ini
belum diketahui. Kombinasi kelainan genetik, Oral hygiene yang buruk serta nikotin
merupakan hal yang mendukung terjadinya tumor ganas rongga mulut. Seperti halnya
dibagian tubuh lainnya tumor rongga mulut dapat di golongkan menjadi tumor ganas dan
tumor jinak. Tumor pada rongga mulut dapat terjadi pada lapisan epidermis mukosa mulut,
otot, tulang rahang, kelenjar ludah, kelenjar getah bening.
Tanda-tanda tumor ganas : Pertumbuhannya cepat, menyebar dan menekan sehingga
menibulkan rasa sakit, pada rongga mulut dapat berupa ulkus yang tidak sembuh2. Biasanya
diikuti gejala sistemik berupa penurunan berat badan yang cepat, keringat malam, panas
badan dan kelemahan.
Tanda-tanda tumor jinak : Tumbuh lambat, tidak sakit, tidak menimbulkan gangguan fungsi
pada jaringan sekitarnya, pertumbuhannya terbatas biasanya berkapsel, tidak bermetastase
pada organ lain.
Tindakan pembedahan sangat bervariasi tergantung stadium tumor pada saat tumor
ditemukan. Prosedur awal dilakukan biopsy, atau pengangkatan sebagian masa tumor untuk
diperiksa secara histopatologis sehingga dapat diketahui jenis sel tumor apakah tergolong
ganas atau jinak. Prosedur selanjutnya berupa tindakan eksisi atau pengangkatan jaringan
tumor disertai pengangkatan jaringan sehat di sekitarnya. Pada tumor ganas prosedur ini
dapat diikuti pengangkatan kelenjar getah bening leher dan radiasi ataupun khemotherapi.
Prosedur terakhir adalah rekonstruksi baik berupa bedah atau alat yang digunakan untuk
memperbaiki fungsi dan estetik rongga mulut.

Tumor odontogenik
1. Ameloblastoma
Ameloblastoma seluruhnya adalah tumor epitelial yang muncul dari lamina dentalis,
berkas Hertwig, enamel organ, atau lapisan folikel dentalis atau kista dentigerous.
Ameloblastoma merupakan tumor odontogenik epitelial yang paling umum. Ameloblastoma
biasanya terjadi pada individu yang berusia 20-40 tahun, bagaimanapun, jenis kista tunggal
lebih sering terjadi pada orang dewasa . Lesi ini terjadi baik pada rahang atas maupun rahang
bawah, tetapi rahang bawah posterior merupakan lokasi yang paling umum, hanya 20% dari
lesi ini yang ditemukan pada rahang atas. Lesi ini terjadi secara seimbang pada laki-laki dan
perempuan.
Meskipun ameloblastoma secara umum tidak diklasifikasikan sebagai lesi ganas
(jarang terdapat jenis yang ganas), jenis ini sangat agresif dan infiltratif. Beberapa orang
menduga bahwa lesi ini harus dimasukkan kedalam jenis keganasan derajat rendah atau
kurang aktif, sama dengan karsinoma sel basal. Banyak kesamaan histologi dan kebiasaan
yang ditemukan pada kedua jenis lesi ini. Secara umum lesi ini tidak bermetastase tapi
bertumbuh secara lambat, persisten, dan susah untuk dimusnahkan. Jika ameloblastoma tidak
tercatat ditemukan sebagai temuan insidental dari gambaran radiograf untuk tujuan lain, maka
gejala pertamanya biasanya adalah perluasan tulang tanpa rasa sakit.
Temuan radiografik: Ameloblastoma khususnya muncul sebagai suatu radiolusensi
multilokular yang meluas di daerah molar ketiga rahang bawah, tetapi lesi ini dapat
ditemukan dibagian manapun pada rahang. Lesi ini dapat berbentuk unilokular jika kecil, dan
seringkali meresorbsi gigi yang berkontak dengannya. Lesi ini tidak pernah tampak radiopak.
Perawatan : Perawatan ameloblastoma adalah eksisi bedah dengan free margin yang
luas. Rekonstruksi yang tepat dapat dilakukan pada waktu yang sama. Seluruh pasien dengan
ameloblastoma, dengan tanpa melihat metode perawatan bedah atau jenis gambaran histologi,
harus dimonitor secara radiografi sepanjang hidupnya. Jika eksisi tidak adekuat, umumnya
menjadi rekuren.

Gambaran klinis dan radiografi Ameloblastoma


Ameloblatoma dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yaitu ameloblastoma
multikistik atau solid , ameloblastoma unikistik, ameloblastoma periferal.
a. Ameloblastoma multikistik (solid)
Gambaran Klinis:
- Usia lanjut (laki-laki dan perempuan),
- Perkembangan lambat,
- asymptomatis,
- Pembesaran tumor menyebabkan ekspansi rahang tidak sakit

Gambaran klinis ameloblastoma pada rahang bawah


kanan

Gambaran Radiografi :
Pada ameloblastoma
khas

pada

lesi-lesi

multikistik :
yang

gambaran,

radiolusen

radiografi sangat
multikistik,

jika

berkembang menjadi lokus yang besar digambarkan seperti buih sabun


(soap bubble) & jika lokus masih kecil digambarkan seperti honey
combed,

terlihat

bukal dan

lingual korteks terekpansi, resorbsi

akar gigi, pada beberapa kasus berhubungan dengan erupsi M3.

Pada ameloblastoma solid: menunjukkan adanya radiolusen yang


unilokuler,

sebagian

besar

menyerupai

tipe

multikistik.

Gambaran Radiolusen berbentuk skallop tidak teratur.

b. Ameloblastoma unikistik
Gambaran Klinis:
- Pada umumnya pada usia muda,
- asymptomatik,
- menimbulkan pembengkakan pada rahang, pertumbuhan lambat,
- lokalis.
Rontgenologis:
- Tampak gambaran radiolusen berbatas jelas mengelilingi mahkota M3
yang tidak erupsi.
- DD: kista primordial, kista radikuler, dan kista residual.
c. Ameloblastoma periferal
Gambaran Klinis:
- Muncul dari sisa-sisa epitelial odontogen di bawah mukosa rongga

mulut atau dari epitel basal.


Secara klinis simptomatis,

bertangkai, ulserasi atau berupa lesi

mukosa alveolar.
Diameter lesi <1,5cm,
Ditemukan pada pasien usia lanjut.
DD: fibroma
Gambaran Radiografi :
Tampak radiolusen, permukaan tulang alveolar sedikit erosi.

2. Odontogenik Fibroma
Odontogenik Fibroma adalah tumor dari jaringan ikat fibroblas yang berasal dari
komponen mesenkim jaringan odontogenik yaitu ligamen periodontal, papilla interdental,
dan folikel gigi. Tumor ini terdiri dari serabut-serabut kolagen yang bercampur dengan
sejumlah kecil sel jaringan ikat muda yanng lunak. Tumor ini tidak sering, tumbuh lambat
dan merupakan lesi non-agresif. Biasanya terjadi pada usia 9 hingga 80 tahun dan wanita
dibanding pria yaitu 4 : 1.

Secara klinis bentuknya kecil dan tidak bergejala, apabila lebih besar akan terjadi

ekspansi tukang yang terlokalisasi atau goyangnya gigi.


Secara radiografis, lesi yang kecil cenderung lebih mudah diidentifikasi, unilokular,
lesi radiolusen sering dihubungkan dengan area apical dari gigi yang erupsi. Lesi yang
lebih besar multilokular radiolusen. Banyak lesi memiliki tepi sklerotik. Resorpsi akar

sering pada lesi ini.


Perawatan dan prognosis : fibroma odontogen biasanya dirawat dengan enukleasi dan
kuretase. Meskipun tumor ini tidak mempunyai kapsul yang jelas tetapi kelihatannya
potensial pertumbuhannya terbatas terutama pada bagian anterior rahang. Ada
sebagian kecil kasus menunjukkan kekambuhan setelah perawatan, tetapi secara umum
mempunyai prognosis yang baik.

Gambaran klinis dan radiografi


3. Odontogenik Mixoma
Lesi ini merupakan jenis lesi infiltratif jinak yang secara klinis tidak dapat dibedakan
dengan ameloblastoma. Lesi ini ditemukan di daerah bantalan gigi, dan hal ini lebih sering
terjadi pada rahang bawah. Hal ini secara umum nampak pada awal dekade ke-3 dan ke-4
dari kehidupan sebagai lesi yang meluas dengan pertumbuhan yang lambat, serta
melibatkan maxilla dan mandibula baik korpus maupun ramus. Jika miksoma odontogenik
dibiarkan tanpa perawatan, lesi ini invasif dan merusak. Lesi ini bermula dari dental
mesenkim (papilla) atau folikel dental. Merupakan suatu neoplasia odontogen yang
tumbuh lambat, terlokalisir tapi mempunyai sifat invasive dan agresif . dalam
pertumbuhannya didalam rahang dapat menyebabkan gigi-gigi yang disekitar lesi dan
tulang kortikal mengalami displacement dan ekspansi serta menipis.
- Temuan radiografik
Gambaran radiografik dari lesi ini tidak berbeda. Gambaran ini sangat mirip dengan
ameloblastoma (misalnya; radiolusensi multilokular), meskipun beberapa peneliti percaya
bahwa lokulasi individual agak lebih kecil pada miksoma odontogenik (miksofibroma).
- Perawatan

Sebagaimana dengan ameloblastoma, lesi ini dirawat dengan eksisi blok. Rekurensi terjadi
meskipun dengan frekuensi yang lebih sedikit dibandingkan dengan ameloblastoma.
4. Sementoma
Sementoblastoma, yang dibedakan dari sementoma, merupakan neoplasma sejati dari
sementum. Neoplasma jinak ini jarang dan biasanya diamati pada pasien yang lebih muda
dari 25 tahun. Paling sering ditemukan dalam hubungannya dengan akar dari gigi molar
pertama rahang bawah (50% dari lesi), dan tidak pernah ditemukan berhubungan dengan
gigi geligi anterior.
-

Secara klinis Lesi ini biasanya tidak bergejala, meskipun kadangkala gigi yang

bersangkutan agak sensitive terhadap perkusi.


Temuan radiografik : Diamati adanya suatu massa seperti semburat matahari
dikelilingi oleh gambaran opak yang terdapat pada akar gigi yang terdermakasi dengan
baik dan dikelilingi oleh rim radiolusen yang tipis. Lesi ini mengaburkan lamina dura.
Para pelajar kadangkala bingung dengan osteitis yang padat, suatu lesi yang umum
dihasilkan dari iritasi periapikal derajat rendah yang merangsang pertumbuhan tulang.
Meskipun lokasi yang paling umum dari kedua lesi ini adalah sama, osteitis padat
tidak mengaburkan ruang ligament periodontal (PDL) dan cenderung memiliki garis
tepi yang lebih irregular. Sementoma yang matang, yang juga diketahui sebagai
displasia

semental

membingungkan

periapikal,

para

pelajar

merupakan
jika

lesi

umum

dibandingkan

lainnya

dengan

yang

dapat

sementoblastoma.

Bagaimanapun, sementoma biasanya bertempat di rahang bawah region anterior dan


tidak mengaburkan rongga PDL. Sementoma biasanya memiliki 3 tahapan
perkembangan:
-

osteolitik

(dimana

titik

lesi

nampak

sebagai

radiolusensi),

sementoblastik (campuran radiolusen/radiopak), dan matang (radiopak).


Perawatan : Pengankatan gigi yang terkena dan tumor adalah metode perawatan dari
lesi ini. Tidak dilaporkan adanya rekurensi.

Gambaran Radiografis Sementoma


5. Odontoma
Odontoma merupakan tumor odontogenik tersering dan prevalensinya melebihi semua
jenis tumor odontogenik setelah digabungkan. Tumor ini merupakan jaringan yang secara
utuh berdiferensiasi menjadi enamel dan dentin.
a. Odontoma kompleks
Lesi odontoma kompleks memperlihatkan diferensiasi histologi lebih lanjut dari
epitelium pluripotensial odontogenik. Temuan dari lesi ini menyerupai ameloblastik
fibroodontoma tetapi dengan perluasan yang selangkah lebih maju. Epitelium pada lesi
ini tidak memiliki bentuk seperti ombak, meninggalkan jaringan keras gigi yang rusak
pada tempatnya. Hal ini merupakan lesi yang umum dan bertahan sepanjang hidup
seseorang. Lesi ini umumnya dideteksi pada remaja dan memiliki kecenderungan
untuk tumbuh pada regio molar rahang bawah, bagaimanapun, lesi ini dapat ditemukan
pada daerah lain pada rahang.
- Temuan radiografi : Lesi ini secara umum digambarkan sebagai radiolusensi seperti
sinar matahari yang dikelilingi oleh pinggiran yang tipis, seragam dan radiolusen.
Meskipun penggambaran ini dapat memiliki kemiripan dengan gambaran radiografik
osteosarkoma, hubungannya dengan gigi, demarkasi yang jelas dari tepi lesi, dan tidak
adanya rasa nyeri atau pembengkakan sehingga menunjukkan bahwa lesi ini merupakn
lesi yang sangat jinak jika dibandingkan dengan osteosarkoma.
- Perawatan : Pengangkatan sederhana atau obsrvasi radiografik merupakan metode
perawatanya. Lesi ini tidak rekuren.
b. Odontoma campuran
Ini merupakan tumor odontogenik yang paling umum. Lesi ini menggambarkan hasil
dari histodiferensiasi dan morfodiferensiasi jaringan odontogenik, menghasilkan
gambaran seperti seikat gigi abortif jamak . paling umum ditemukan pada tulang
alveolar anterior rahang atas tetapi dapat berlokasi dimana saja pada daerah bantalan
gigi di rahang. Lesi ini seringkali bertanggungjawab dalam hal mencegah erupsi
normal

dari

gigi,

dan

biasanya

ditemukan

pada

masa

remaja.

- Temuan radiografi : Struktur kecil menyerupai gigi yang jamak ditemukan dalam tepi
radiolusen yang runcing.

Gambaran Klinis dan Radiografis Odontoma


6. Calcifying Ephitelial Odontogenic Tumor (Pinborg Tumor)

Gambaran Klinis :
Jarang ditemukan, tidak ada faktor predileksi, kebanyakan pada

regio

posterior

madibula,

symptomatis

berupa

sakit

ringan,

terdapat pembengkakan, terlokalisir, pertumbuhan lambat.

Gambaran Radiografi :
Dijumpai lesi unilokuler, tetapi juga ditemukan multilokuler lebih

sering dari pada skallop.


Adanya strktur berkalsifikasi dengan ukuran dan densitas yg variatif.
Berhubungan dengan adanya impaksi pada gigi M3. Campuran antara
radiolusen dan radiopak, denga pulau-pulau padat banyak tersebar dan
bervariasi di seluruh bagian.

Tumor non-odontogenik

1. Squamous Cell Carcinoma


Prevalensi kasus karsinoma sel skuamous ( squamous cell carcinoma) di Indonesia
sebesar 90% dari 3,75% kasus tumor ganas yang ada.

Diagnosis:
Squamous Cell Carcinoma (SCC) merupakan kanker yang sering tejadi pada rongga
mulut biasanya secara klinis terlihat sebagai plak keratosis, ulserasi, tepi lesi yang indurasi,
kemerahan, di mana SCC dapat terjadi pada seluruh rongga mulut. Lokasi paling sering pada
sepertiga lateral tengah (46%), sepertiga depan (14%), sepertiga posterior (6%), dan dorsum
(4%). Karsinoma sel skuamosa paling mudah terlihat pada dua pertiga bagian anterior.
Sifat metastasis :
Metastasis ke kelenjar getah bening regional. Pada tumor bagian depan lidah,
bermetasatasis ke kelenjar getah bening submentalis, submaksilaris, supraklavikular. Pada
tumor bagian belakang lidah bermetastasis ke kelenjar getah bening samping leher sepanjang
m. Sternokleidomastoideus. Kelenjar getah bening yang mengandung metastasis biasanya
keras, tidak nyeri, dan membesar. Selanjutnya dapat menyebar ke metastasis jauh ke paruparu, hati, tulang, dan anggota tubuh lain.
Etiologi:
-

Multifaktorial disebabkan oleh faktor ekstrinsik dan intrinsik


Faktor ekstrinsik : merokok, alkohol, sifilis, radiasi, sinar matahari
Faktor intrinsik : penyakit sistemik seperti malnutrisi, anemia,dan defisiensi vitamin A.

Manifestasi klinis:
-

Tidak ada nyeri pada pada awal perkembangan tumor dan permukannya sering

berulserasi dan tumor teraba keras pada perabaan.


Kerusakan tulang, bila ada, dapat nyeri atau tidak.

Gambaran radiografi:
-

Sebagai gambaran radiolusen moth-eaten

Treatment dan Prognosis


-

Treatment biasanya mengandalkan bedah dan radioterapi atau kombinasi keduanya


Rencana tatalaksana sangat bergantung dari staging tumornya.

Gambaran
Carcinoma

Klinis

2. Osteogenik Sarcoma
Merupakan jenis tumor
odontogenik
sel-sel

yang

mesodermal

berasal

Squamous Cell

malignan

non

dari proliferasi

dan

pertumbuhannya sangat cepat.


- Tanda dan gejala klinis: Perubahan letak gigi, ulserasi, parastesiaa bagian yang
-

terkena.
Terdapat dua tipe:
1. Osteolitik : dapat terjadi pelarutan pada korteks (sering)
2. Osteoblastik : terjadi pembentukan tulang.
Gambaran Radiografis :
Dini: pelebaran space membran periodonsium, radiolusen di sekeliling 1 gigi atau
lebih tanpa ada kerusakan pada gigi tersebut.
Lanjut : sunrays, ada kerusakan kortek.

Gambaran Radiografis Osteogenik Sarcoma


3.

Osteoma
Merupakan tumor non odontogenik jinak dan dapat tumbuh membesar, bisa
melekat pada kortek dan menekan kortek sehingga terlihat pembesaran tulang rahang.
Sering terjadi pada mandibula, terdapat 2 tipe :
1. Intra osseus
2. Ekstra osseus

Pemeriksaan radiografis pada tumor ini bertujuan untuk besar kecilnya dan batasbatasnya.
Gambaran radiografi: menunjukkan masa radiopak

Gambaran Radiografi Osteoma


4.

Neuro fibroma
Neoplasma saraf perifer yang paling sering terjadi yang berasal dari pencampuran
beberapa tipe selmeliputi sel schwan dan perineural fibroblast.dapat berkembang sebagai
tumor soliter atau merupakan bagian dari neurofibromatosis.
Neoplasia ini berkembang dari berkas saraf dan batang saraf yang besar,
menghasilkan pembesaran tumor. Neurofibroma lunak pada pemeriksaan palpasi.
Tumor soliter paling sering terdapatpada dewasa muda dantampil sebagai lesi yang
berkembang lambat, lunak, tidak nyeri. Lesi ini sering terdapat pada lidahdan mukosa
bagian bukal.

Gambaran Klinis Neurofibroma

Tumor Jinak Kelenjar Ludah


A. Adenoma Plemorfik
Pleomorphic adenoma atau mixed tumor merupakan tumor jinak yang berasal
dari kelenjar ludah yang dapat tumbuh dari kelenjar ludah minor maupun mayor.
Tumor ini tumbuh lambat, tidak menimbulkan rasa sakit, dapat digerakan, dan
konsistensi kenyal dengan permukaan yang halus. Tumor dapat membesar mendesak
jaringan sekitarnya (Syafriadi, 2008)
Adenoma Pleomorfik adalah tumor kelenjar saliva dan paling umum di jumpai
pada kelenjar parotis. Tumor ini merupakan tumor campuran (benign mixed tumor),
yang terdiri dari komponen epitel, mioepitel dan mesenkim dan tersusun dalam
beberapa variasi komponennya

Gambaran klinis
Tumor ini berasala dari kelenjar ludah baik minor maupun mayor.

Tumor ini tidak menyebabkan rasa sakit,dapat digerakan, pertumbuhannya


lambat, dan memiliki konsistensi kenyal dengan permukaan halus. Tumor ini
dapat mendesak jaringan sekitarnya apabila tumor ini membesar.
B. Limfomatosum Adenokistoma Papilar (Tumor Warthin)
Tumor jinak kelenjar liur lain yang relative sering. Tumor ini paling
sering terjadi pada pria usia 50-60 tahun dan ada hubunganya dengan faktor
resiko merokok. Tumor ini juga merupakan tumor yang paling sering terjadi
bilateral.
Tumor ini berasal dari epitel duktus ektopik. CT-Scan dapat
menunjukkan suatu massa dengan batas jelas pada bagian postero-inferior dari
lobus superficial parotis. Jika pemeriksaan radiosialografi dilakukan maka
dapat dilihat peningkatan aktivitas yang berhubungan dengan adanya onkosit
dan peningkatan isi dari mitokondrianya. Diagnosis ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan histology.
Gejala klinis:
Pada umumnya penderita tumor warthin mengeluh adanya benjolan
yang tidak nyeri dan lambat pertumbuhannya.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan pada angulus
mandibula atau sedikit didepan atau di belakang telinga dengan konsistensi
padat kenyal, permukaan licin dan mudah digerakkan. Bila tumor ini sukar

digerakkan maka perlu dipikirkan adanya suatu proses keradangan atau suatu
keganasan.tumor ini dapat di temukan bilateral.pada tumor ini tidak ditemukan
paresis fasialis
PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK
1. Biopsi aspirasi jarum halus (BAJAH)
Pemeriksaan pada tumor kelenjar liur adalah suatu pemeriksaan yang sederhana dan
cukup akurat. Informasi dari pemeriksaan sitologi dapat membantu menerangkan keadaan
tumor pada pasien dan rencana tindakan selanjutnya.
Keakuratan pemeriksaan ini tergantung dari keterampilan ahli sitopatologi, karena
tidak mudah memperkirakan letak tumor sehingga dapat terbawa sewaktu aspirasi.16 Orell
melaporkan sensitivitas pemeriksaan BAJAH 85,5-99% dengan spesifitas 96,3-100%.17
2.Radiologi
Tomografi komputer (TK) dan pencitraan resonansi magnetik (PRM) tidak dapat
membedakan antara tumor jinak atau ganas. TK dan PRM berguna untuk menentukan
perluasan tumor serta
memperlihatkan keterlibatan ruang parafaring sehingga dapat dibedakan tumor yang
berasal dari lobus dalam kelenjar parotis yang melibatkan ruang parafaring dengan tumor
yang berasal dari struktur parafaring sendiri.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan tumor Warthin dengan pembedahan. Pembedahan yang dilakukan
dapat dengan eksisi, parotidektomi superfisial, parotidektomi profunda dan enukleasi.
Parotidektomi superfisial adalah pengangkatan tumor parotis dengan mengangkat seluruh
lobus superfisial parotis dengan pengangkatan saraf fasialis atau dengan preservasi saraf
fasialis. Teknik ini digunakan pada tumor parotis yang hanya mengenai lobus superfisial.
Parotidektomi profunda adalah pengangkatan tumor parotis dengan mengangkat lobus
profunda parotis. Parotidektomi total adalah mengangkat kedua lobus dari parotis yaitu lobus
profunda dan lobus superfisial.
Enukleasi merupakan suatu teknik pengangkatan tumor tanpa melakukan
pengangkatan terhadap kelenjar parotis.
trauma pada nervus fasialis.

Teknik ini tepat dilakukan untuk menghindari

KESIMPULAN
1. Macam-macam tumor odontogen
:
Ameloblastoma
Pinbarg Tumor
Odontoma
Odontogenik Fibroma
Odnotogenik Myxoma
Cementoblastoma
Neurofibroma
2. Macam macam tumor jinak non odontogen
a. Tumor jinak non odontogen yang berasal dari epitel mulut

3. Macam macam tumor jinak pada kelenjar ludah


a. Adenoma Pleomorfik
b. Warthin Tumor

DAFTAR PUSTAKA
Guyton, Arthur C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta : EGC
Harty, F.J dan R. Ogston. 1995. Kamus Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC
Robbins. 1995. Buku Ajar Patologi I. Alih bahasa : Staff Pengajar Laboratorium Patologi
Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya. Jakarta : EGC
Sukardja, I Dewa Gede. 2000. Onkologi Klinik Ed-2.Surabaya : Airlangga University Press
Syafriadi, Mei. 2008. Patologi Mulut Tumor Neoplastik & Non Neoplastik Rongga Mulut
Ed-1. Yogyakarta: Andi
Muhammad Abduh Firdaus,Hidayatul Fitria. Penatalaksanaan Tumor Warthin Parotis
. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas : Padang