Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
Supositoria merupakan salah satu bentuk sediaan farmasi berbentuk
padat yang digunakan melalui dubur, umumnya berbentuk torpedo dan
meleleh pada suhu tubuh. Supositoria sangat berguna bagi pasien dengan
kondisi yang tidak memungkinkan dengan terapi obat secara peroral,
misalnya pada pasien muntah, mual, tidak sadar, anak-anak, orang tua yang
sulit menelan dan selain itu juga dapat menghindari metabolisme obat di
hati (Voigt, 1971).
Supositoria adalah sediaan padat yang digunakan melalui dubur,
umumnya berbentuk torpedo, dapat melarut, melunak atau meleleh pada
suhu tubuh (Anonim, 1979). Supositoria umumnya dimasukan melalui
rektum, vagina, kadang-kadang melalui saluran urin dan jarang melalui
telinga dan hidung (Ansel, 1989). Berat supositoria rektal untuk orang
dewasa kira-kira 2 gram dan lonjong seperti torpedo, umumnya pemberian
obat secara rektal adalah setengah sampai dua kali atau lebih dari dosis oral
yang diberikan untuk semua obat, kecuali untuk obat yang sangat kuat.
Penentuan rentang dosis tergantung pada avaibilitas obat, khususnya dalam
basis supositoria yang digunakan (Coben dan Lieberman, 1994), sedangkan
supositoria untuk anak anak beratnya kira-kira 1 gram dan ukurannya lebih
kecil (Ansel,1989). Dalam pembuatan sediaan supositoria, basis supositoria
diharapkan memiliki sifat-sifat sebagai berikut meleleh pada suhu tubuh,
melarut atau terdispersi dalam cairan rektum, tidak bersifat toksik, terutama
tidak mengiritasi mukosa rektal. Memiliki sifat lunak jika diraba, secara
fisiologis netral, artinya mempunyai efek terapi bila tidak dimaksudkan untuk

pengobatan
konsistensinya

misalnya
pada

sebagai
waktu

pencahar,

penyimpanan

dapat
dan

mempertahankan

stabil

pada

waktu

penyimpanan. Pada waktu pembuatan baik dengan cara pelelehan atau


cetak tekan dapat berbentuk baik, tidak menempel pada cetakan, dapat
campur dengan zat aktif yang ditambahkan. Dapat menyebabkan obat
secara homogen bercampur dan tidak adanya sedimentasi. Dalam hal
tertentu, mampu menyerap obat dalam larutan air. Pada penggunaan
sistemik harus dapat membebaskan obat dengan cepat dan sebanyak
mungkin untuk keperluan absorpsi. Jika dimaksudkan untuk aksi lokal, maka
harus membebaskan obat secara lambat agar aksi dari supositoria aksinya
lebih lama (Murrukmihadi, 1986).

Pada makalah ini akan dibahas jurnal

mengenai suppositoria yang berjudul Karakteristik Fisik dan Displacement


Value Suppositoria Neomisin Sulfat berbasis PEG

BAB II
PEMBAHASAN
1. FORMULASI
a. Bahan :
Neomisin sulfat, merupakan bahan aktif yang digunakan.
PEG 400, merupakan bahan tambahan yang digunakan untuk
membentuk supposotria.
PEG 4000, merupakan bahan tambahan yang digunakan
untuk membentuk supposotria
Parafin liquidium, merupakan bahan yang ditambahan yang
digunakan

untuk

memudahkan

suppositoria

keluar

dari

cetakan
b. Jumlah
Neomisin Sulfat @10= 2500 mg
PEG 400 : 4000 (40% : 60%) = 1100 mg dan 16500 mg
c. Optimasi
Neomisin

sulfat

dosis

250

mg

diformulasikan

dengan

basis

campuran PEG 400:4000 = 40%:60%. Basis supositoria memiliki


peranan penting dalam kecepatan pelepasan obat baik untuk
sistemik maupun lokal. Kemungkinan adanya interaksi antara basis
dengan zat aktif secara kimia dan atau fisika akan dapat
mempengaruhi stabilitas atau bioavaibilitas dari obat.

2. METODE PEMBUATAN
Pada sediaan suppositoria ini dilakukan metode pembuatan
dengan cara mencetak. Langkah-langkah dalam metode pencetakan
termasuk:

melebur basis, mencampurkan

bahan

obat

yang

diinginkan, menuang hasil leburan ke dalam cetakan, membiarkan


leburan menjadi dingin dan mengental menjadi suppositoria, dan
melepaskan

suppositoria.

Basis

oleum

cacao,

gelatin

gliserin,

polietilenglikol, dan banyak basis suppositoria lainnya yang cocok


dibuat dengan cara mencetak (Ansel, 1989). Cara mencetak juga
dikenal dengan cara penuangan (Voigt, 1984).
3. UJI SEDIAAN
a. Organoleptik
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan panca indera
untuk mengetahui bentuk, warna, rasa dan bau suppositoria. Dalam
hal ini didapatkan bentuk suppositoria yang berbentuk torpedo
berwarna putih.
b. Keseragaman bobot
Pengujian ini dilakukan dengan cara menimbang satu per satu
bobot suppositoria hingga sebanyak 10 buah.
Menurut Farmakope IV bobot suppositoria

tidak

boleh

menyimpang lebih dari 5% dari bobot rata-rata suppositoria. Dalam


hal ni Neomisin sulfat dengan basis PEG untuk replikasi I III tidak
menyimpang lebih dari 5% sehingga memenuhi persyaratan dan
bobot sediaan yang dihasilkan relative seragam.
c. Kekerasan
Pengujian ini diawali dengan pendiaman suppositoria pada suhu
pengamatan 25 1,5 . Suppositoria ditempatkan secara tegak
dengan bagian runcing menghadap ke atas, pada sample holder.
Pintu kaca ditutup dan selanjutnya bantalan digeser sehingga

batang pemberat dalam posisi menggantung bersamaan dengan


pencatatan waktu. Penambahan beban dengan berat masingmasing 200 gram dilakukan setiap 1 menit. Pencatatn waktu
dihentikan saat suppositoria hancur. Penentuan kekerasan diawali
dengan memberi beban menggunakan batang pemberat sebelum
ditambah beban yaitu 600 gram. Jika waktu yang dibutuhkan oleh
suppositoria untuk hancur, setelah penambahan beban terakhir
kurang dari atau sama dengan 20 detik maka beban terakhir tidak
diperhitungkan. Jika dibutuhkan waktu antara 20 sampai 40 detik,
maka beban terakhir dihitung 100 gram saja. Sementara jika waktu
yang dibutuhkan lebih dari 40 detik, maka beban terakhir dihitung
penuh yaitu 200 gram.
Menurut Lieberman kekerasan suppositoria tidak kurang dari 1,8
2,0 kg. Data yang diperoleh untuk suppositoria Neomisin sulfat
replikasi I, II, III dengan rata-rata 1,87 kg sehingga kekerasan
suppositoria yang dihasilkan telha cukup ideal.
d. Waktu Leleh
Penentuan titik leleh makro dan mikro

dilakukan

untuk

menentukan waktu dan suhu yang diperlukan suppositoria untuk


meleleh sempurna. Pengujian titik leleh makro untuk mendapatkan
waktu leleh diawali dengan membenamkan seluruh suppositoria
dalam waterbath dengan suhu konstan (37 ). Diukur waktu
yang diperlukan oleh suppositoria untuk meleleh atau tersdispersi
ke dalam air. Pengujian titik leleh makro dan mikro menggunakan
Fisher Johns Melting Point Apparatus. Pengujian diawali dengan
meletakkan sejumlah kecil suppositoria yang telah digerus halus
dan homogeny lalu dimasukkan ke dalam cover glass. Suhu diamati

saat suppositoria mulai meleleh sampai meleleh seluruhnya. Titik


leleh suppositoria yang diperoleh tidak melebihi 37 .
Pada umumnya titik leleh makro suppositoria tidak boleh lebih
dari 37

(Lachman dkk, 1994) dan waktu yang dibutuhkan

untuk sampai meleleh seluruhnya adalah kurang dari 30 menit.


Suppositoria Neomisini sulfat dengan basi PEG replikasi I, II, III
memberi gambaran titik leleh yang baik dengan rata-rata 17,63
menit. Sedangkan pengujian titik leleh mikro suppositoria Neomisin
sulfat PEG rata-rata senilai 36,67
e. Waktu mencair
Waktu mencair suppositoria ditentukan

dengan

Erweka

Suppository Liquefaction Tester. Suppositoria dimasukkan ke dalam


tabung yang ditahan ketat dalam sebuah sangkat (spiral glass),
dalam sebuah pipa penguji berskala, yang ditempatkan dalam
sebuah mantel gelas yang dialiri air hangat suhu
sebuah pipa kecil gelas

37 , melalui

yang sekaligus mencegah jatuhnya

suppositoria dari sangkarnya, kemudian diamati waktu suppositoria


mulai mencair sampa seluruhnya. Didapatkan bahwa suppositoria
Neomisin sulfat PEG
menit.

Waktu

mencair sempurna setelah rata-rata 18,93

tersebut

telah

memenuhi

persyaratan

dimana

mencair tidak lebih dari 30 menit untuk basis PEG (Lieberman,


1994).
f. Displacement value
Pengujian ini dilakukan dengan penimbangan bobot suppositoria
pada timbangan analitik Sartorius BP 10 dengan dan tanpa bahan
aktif sesuai (1, 3, 5) menggunakan perbandingan bobot obat dalam

suppositoria dengan bobot basis yang tergantikan oleh bahan aktif.


Perhitungan Displacement Value menggunakan metode Moody.
Hasil perhitungan Displacement Value dengan metode Moody untuk
Neomisin sulfat basis PEG 400 (40%) dan 4000 (60%) adalah
diperoleh nilai rata-rata 0,96. Penentuan Displacement Value
penting dalam proses produksi terutama produksi massal. Bahan
aktif dengan Displacement Value tersebut akan menggantikan
bobot basi 0,96 bagian.

BAB III
KESIMPULAN
Dari jurnal tersebut diketahui bahwa suppositoria Neomisin sulfat
memiliki karakteristik fisika yang sesuai dengan persyaratan dan dapat
dilakukan perhitungan Displacement value terhadap bahan aktif Neomisin
sulfat menggunakan kombinasi basis lain.