Anda di halaman 1dari 27

TUGAS KHUSUS PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI

SOCHUNS FOLIUM (DAUN TEMPUYUNG)


Sochuns arvensis (Herba Tempuyung)

Disusun oleh :
Afdilah Irawati W.

1306413454

Arini Wulansari

1306413492

Elisa Nur Widiya

1306480023

Eninta Kartagena Ginting

1306412584

Ifani Pinto Nada

1306403535

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya, makalah

ini dapat

kami selesaikan

tepat pada

waktunya. Penulisan makalah ini disusun dalam rangka menyelesaikan tugas


khusus mata kuliah Praktikum Farmakognosi di Fakultas Farmasi Universitas
Indonesia. Selain itu juga untuk memberikan penjelasan dan informasi lebih
mengenai daun tempuyung. Materi - materi yang kami bahas dalam makalah ini
meliputi morfologi, habitat, identifikasi simplisia, kandungan kimia, serta cara
isolasi dari daun tempuyung.
Pada kesempatan ini kami juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih
kepada Prof. Dr. Berna Elya, M.Si, Apt selaku dosen pembimbing tugas khusus
Praktikum Farmakognosi yang telah membimbing kami dalam penulisan makalah
ini. Terima kasih juga kami berikan untuk teman-teman dan semua pihak yang
telah membantu dalam proses penyelesaian makalah ini baik secara langsung
maupun tidak langsung.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik
materi maupun cara penulisannya. Untuk itu, besar harapan kami kepada pembaca
agar dapat memberikan kritik dan saran yang dapat membangun kearah perbaikan
dan kesempurnaan dalam pembuatan makalah yang lebih baik nantinya. Kami
mohon maaf apabila terdapat kesalahan-kesalahan dalam penyusunan serta
penyampaian isi dalam makalah ini. Akhir kata, kami berharap agar makalah ini
dapat berguna dan bermanfaat bagi penulis maupun para pembaca.

Depok, Desember 2015

Penulis

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................v
BAB I .........................................................................................PENDAHULUAN
..................................................................................................................................1
1.1

Sejarah Tanaman

1.2

Tempat Tumbuh Tanaman

1.3

Budidaya Tanaman

1.4

Penggunaan Tanaman 3

BAB II KLASIFIKASI DAN TATA NAMA........................................................4


2.1

Klasifikasi

2.2

Nama Daerah 4

BAB III MORFOLOGI, HABITAT DAN PENYEBARAN TANAMAN, DAN


BUDIDAYA TANAMAN........................................................................................5
3.1

Morfologi Tanaman

3.2

Habitat dan Penyebaran Tanaman

3.3

Budidaya Tanaman

BAB IV IDENTIFIKASI SIMPLISIA...............................................................11


4.1

Makroskopik 11

4.2

Mikroskopik 13

4.3

Identifikasi

17

iii

BAB V KANDUNGAN KIMIA, CARA ISOLASI, PENGGUNAAN SECARA


TRADISIONAL, SERTA BERDASARKAN PENELITIAN...........................18
5.1

Kandungan Kimia

18

5.2

Cara Isolasi

5.3

Penggunaan Secara Tradisional

5.4

Penggunaan Berdasarkan Penelitian 20

18
19

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN..............................................................21


6.1

Kesimpulan

6.2

Saran 21

21

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................22
LAMPIRAN..........................................................................................................23

iv

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1. Tumbuhan Tempuyung .....................................................................6


Gambar 3.2. Daun Tempuyung ..............................................................................7
Gambar 3.3. Kuncup dan Daun Tempuyung .........................................................7
Gambar 3.4. Daun Berkumpul pada Pangkal Membentuk Roset ..........................8
Gambar 3.5. Perbungaan Tempuyung ....................................................................8
Gambar 3.6. Buah Tempuyung ..............................................................................8
Gambar 4.1. Tampak Depan dari Daun Tempuyung............................................12
Gambar 4.2. Tampak Belakang dari Daun Tempuyung .......................................13
Gambar 4.3. Pangkal Daun Tempuyung...............................................................13
Gambar 4.4. Makroskopik Daun Tempuyung......................................................13
Gambar 4.5. Penampang Melintang Sonchus Folium..........................................14
Gambar 4.6. Penampang Melintang Sonchus Folium..........................................15
Gambar 4.7. Penampang Membujur Sonchus Folium; Stomata tipe anisositik
pada epidermis atas................................................................................................15
Gambar 4.8. Penampang Membujur Sonchus Folium; urat daun silindris panjang
dan epidermis atas dengan lapisan sel poligonal....................................................16
Gambar 4.9. Penampang Membujur Sonchus Folium; Epidermis atas dengan sel
poligonal dan rambut kelenjar................................................................................16
Gambar 4.10. Penampang Membujur Sonchus Folium

17

Gambar 4.11. Mikroskopik Serbuk Sonchus Folium; epidermis atas bentuk sel
poligonal.................................................................................................................17

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Sejarah Tanaman


Sonchus arvensis spp. arvensis dilaporkan pertama kali pada tahun 1814 di
Pennsylvania. Koleksi pertama Sonchus arvensis ssp. glabrescens di Amerika
Utara berasal dari Maine pada tahun 1894. Koleksi tambahan dilaporkan
berasal dari Massachusetts dan Ohio di awal tahun 1902.
Tempuyung adalah herba menahun dari genus Sonchus. Tempuyung
dikenal sebagai tanaman pinggiran dan merupakan tanaman asli Eurasia
(Eropa dan Asia Barat) dan Afrika daerah tropis. Tempuyung diperkenalkan di
Amerika Utara sebagai pengotor biji-bijian (seed contaminant). Tanaman ini
ditemukan di kebanyakan area di bumi. Nama sonchus diturunkan dari bahasa
Yunani sonchos karena batangnya berlubang. Ada juga sumber yang
menyebutkan bahwa sonchos diturunkan dari kata dalam bahasa Yunani, soos,
safe, dan echein karena menghasilkan getah yang menyehatkan. Arvensis,
nama latin kedua tanaman ini menyatakan preferensinya untuk dibudidayakan
di atas tanah. Tempuyung (sow thistle) memiliki getah latex berwarna putih
seperti susu yang dikeluarkan pada saat bagian tanaman terpotong atau rusak.
Dari fakta inilah, tempuyung mendapat nama umum sow thistle karena
digunakan sebagai pakan sapi yang dipercaya dapat meningkatkan
produktivitas susu sapi.

1.2. Tempat Tumbuh Tanaman


Tanaman tempuyung tumbuh liar di area terbuka yang terkena paparan
sinar matahari atau sedikit terlindung, seperti daerah di tebing-tebing,
pematang, tepi saluran air yang baik tata airnya, atau tanah terlantar. Saat ini,
tempuyung tumbuh di kebanyakan daerah di permukaan bumi. Daerah dengan
curah hujan merata sepanjang tahun atau daerah dengan musim kemarau
pendek juga cocok sebagai tempat hidup tempuyung.
Di Indonesia, tempuyung tumbuh liar di Pulau Jawa terutama di area
terbuka dengan sedikit naungan. Tumbuhan ini ditemukan pada daerah yang
1

banyak turun hujan pada ketinggian 50 m hingga 1.650 m di atas permukaan


laut. Selain tumbuh liar, tempuyung juga bisa ditanam sebagai tanaman
pekarangan.

1.3. Budidaya Tanaman


Tanaman tempuyung dapat dibudidayakan melalui perbanyakan melalui
biji atau dikembangbiakkan secara vegetatif. Tempuyung dapat ditanam secara
tumpangsari dengan tumbuhan holtikultura lainnya. Tanaman ini dapat
dipanen setiap 2-3 bulan sekali. Secara umum, budidaya tempuyung dapat
dilakukan sebagai berikut :
a. Lahan yang akan digunakan, diolah dengan bedengan 20-30 cm. Panjang
bedengan disesuaikan dengan keadaan lahan, dan dipupuk dengan pupuk
b.

organik.
Pilih bibit yang baik, seragam dengan tinggi 10 cm, berdaun 4 (berumur
dua bulan), sebaiknya dipindahkan dari persemaian yang dibuat terlebih
dahulu. Tanamkan bibit tersebut ke dalam lubang-lubang yang tersedia
sedalam 5 cm. Padatkan tanah sekitar pangkal bibit, dengan jarak tanam

c.

30-40 cm.
Untuk mendapatkan hasil yang baik, diperlukan pemeliharaan yang
intensif, antara lain dengan penyiraman, penyulaman, penyiangan,

d.

pemupukan dan pengendalian hama.


Menurut Laporan Iptekda LIPI, waktu panen yang baik adalah sebelum
tanaman tersebut berbunga, sehingga diperoleh pertumbuhan vegetatif
yang optimal. Panen pertama dilakukan pada usia 2,5-3 bulan. Cara
memanen daun tempuyung yaitu dengan memotong daun dan batang
sampai pangkalnya dengan menggunakan gunting atau pisau tajam.
Tanaman tersebut akan segera tumbuh kembali dengan munculnya tunas
dan daun-daun baru. Panen kedua dilakukan dua bulan setelah panen
pertama, dan seterusnya. Tanaman tersebut dapat dipanen 4-5 kali.

1.4. Penggunaan Tanaman


Tempuyung telah lama berperan dalam dunia pengobatan tradisional.
Tempuyung memiliki rasa pahit dan dingin serta berkhasiat menghilangkan
panas dan racun, peluruh kencing (diuretik), penghancur batu (lipotriptik),

antiurolitiasis dan menghilangkan bengkak, dengan cara ditempelkan pada


bagian yang bengkak. Pemanfaatan daun tempuyung sebagai lipotriptika dan
pelancar air seni semakin berkembang dan meluas. Hal ini terbukti dari
beberapa jamu yang digunakan untuk pengobatan batu ginjal mencantumkan
tempuyung sebagai salah satu penyusunnya.
Di daerah Tawangmangu, daun tempuyung sudah lama dikenal dan
dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai jamu bagi wanita sehabis
melahirkan untuk memulihkan kembali kesahatan fisiknya. Sedangkan di
Cina, daun tempuyung selain digunakan sebagai obat juga digunakan sebagi
insektisida (Supriadi, dkk, 2001). Herba tempuyung berguna untuk mengobati
radang payudara, sedangkan daun tempuyung digunakan untuk mengobati
hipertensi, kencing batu, kandung kencing dan empedu berbatu, dan asam
urat.

BAB II
KLASIFIKASI DAN TATA NAMA

2.1. Klasifikasi
Sistematika tanaman tempuyung adalah sebagai berikut:
Dunia

: Plantae

Divisi

: Tracheophyta

Kelas

: Magnoliopsida

Bangsa

: Asterales

Suku

: Asteraceae

Marga

: Sonchus

Spesies

: Sonchus arvensis
(Itis.gov, 2010)

2.2. Nama Daerah


1. Jawa
2. Sunda
3. Lokal lainnya
4. New Zealand
5. Filipina
6. Inggris

: Tempuyung
: Rayana
: jombang, galibug, lalakina, lempung
: puha, rareke
: Lampaka
: field sowthistle field sow-thistle, sowthistle, creeping

sowthistle
7. Nama Prancis : Laitron des champs
8. Nama China : Niu she tou.

BAB III
MORFOLOGI, HABITAT DAN PENYEBARAN TANAMAN, DAN
BUDIDAYA TANAMAN

3.1. Morfologi Tanaman


Tempuyung (Sonchus arvensis L.) merupakan tumbuhan tak berkayu
(terna). Terna tahunan, tegak, tinggi 0,6 2 m, mengandung getah putih,
dengan akar tunggang yang kuat. Batang berongga dan berusuk (Dalimartha,
1999). Batang berbulu dan lunak (Sunanto, 2009).

Gambar 3.1. Tumbuhan Tempuyung


(Sumber: bugwoodcloud.org)
Daun tunggal, bagian bawah tumbuh berkumpul pada pangkal membenruk
roset akar. Helai daun berbentuk lanset atau lonjong, ujung runcing, pangkal
bentuk jantung, tepi berbagi menyirip tidak teratur, panjang 6 48 cm, lebar 3
12 cm, warnanya hijau muda. Daun yang keluar dari tangkai bunga
bentuknya lebih kecil dengan pangkal memeluk batang, letak berjauhan,
berseling (Dalimartha, 1999).

Gambar 3.2. Daun Tempuyung


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3.3. Kuncup dan Daun Tempuyung


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Gambar 3.4. Daun Berkumpul pada Pangkal Membentuk Roset


(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Perbungaan berbentuk bonggol yang tergabung dalam malai, bertangkai,
mahkota berbentuk jarum, warnanya kuning cerah, lama-kelamaan menjadi

merah kecokelatan. Buah kotak, berusuk lima, bentuknya memanjang sekitar 4


mm, pipih, berambut, cokelat kekuningan. (Dalimartha, 1999)

Gambar 3.5. Perbungaan Tempuyung


(Sumber: yorku.ca)

Gambar 3.6. Buah Tempuyung


(Sumber: keys.lucidcentral.org)
Ada keanekaragaman pada tumbuhan ini, yang berdaun kecil disebut
lempung, dan yang berdaun besar dengan tinggi mencapai 2 m disebut
rayanan. (Dalimartha, 1999)
3.2. Habitat dan Penyebaran Tanaman
Tempuyung tumbuh liar di tempat terbuka yang terkena sinar matahari
atau sedikit terlindung, seperti di tebing-tebing, tepi saluran air, atau tanah
terlantar, dan juga ditanam sebagai tumbuhan obat. Tumbuhan ini berasal dari
Eurasia dan dapat ditemukan pada daerah yang banyak turun hujan pada
ketinggian 50 1.650 mdpl (Dalimartha, 1999). Tempuyung dapat tumbuh di

berbagai jenis tanah dengan rentang pH yang bervariasi, tetapi umumnya


tumbuh di tanah kaya mineral dan lembab. Tempuyung merupakan tanaman
yang berasal dari Eropa dan saat ini sudah tersebar luas ke wilayah lain sepert
benua Amerika, Asia, Afrika, dan Australia (EPPO, 2014).

3.3. Budidaya Tanaman


Tanaman tempuyung (Sonchus arvensis L.) dapat dibudidayakan melalui
perbanyakan dengan menggunakan biji atau dikembangbiakkan secara
vegetatif. Tempuyung dapat ditanam secara tumpangsari dengan tumbuhan
holtikultura lainnya. Tanaman ini dapat dipanen setiap 2-3 bulan sekali. Secara
umum, budidaya tempuyung dapat dilakukan sebagai berikut (Priyadi, 2014):
a. Lahan yang akan digunakan, diolah dengan bedengan 20-30 cm. Panjang
bedengan disesuaikan dengan keadaan lahan, dan dipupuk dengan pupuk
organik.
b. Pilih bibit yang baik, seragam dengan tinggi 10 cm, berdaun 4 (berumur
dua bulan), sebaiknya dipindahkan dari persemaian yang dibuat terlebih
dahulu. Tanamkan bibit tersebut ke dalam lubang-lubang yang tersedia
sedalam 5 cm. Padatkan tanah sekitar pangkal bibit, dengan jarak tanam
30-40 cm.
c. Pemeliharaan tanaman tempuyung tidak terlalu sulit karena tanaman ini
dapat tumbuh liar di sembarang tempat. Untuk mendapatkan hasil yang
baik, diperlukan pemeliharaan yang intensif, antara lain dengan
penyiraman, penyulaman, penyiangan, pemupukan dan pengendalian
hama.
d. Menurut Laporan Iptekda LIPI, waktu panen yang baik adalah sebelum
tanaman tersebut berbunga, sehingga diperoleh pertumbuhan vegetatif
yang optimal. Panen pertama dilakukan pada usia 2,5-3 bulan. Cara
memanen daun tempuyung yaitu dengan memotong daun dan batang
sampai pangkalnya dengan menggunakan gunting atau pisau tajam.
Tanaman tersebut akan segera tumbuh kembali dengan munculnya tunas
dan daun-daun baru. Panen kedua dilakukan dua bulan setelah panen
pertama, dan seterusnya. Tanaman tersebut dapat dipanen 4-5 kali.

Perbanyakan tempuyung dapat menggunakan bibit dari biji, dapat juga


menggunakan bonggol akar dari tanaman yang daunnya habis dipanen.
Tumbuhan ini sangat mudah dibudidayakan dengan biji. Biji tempuyung
sangat halus, 1 gram biji berserat mengandung 2.500 biji, sedang biji tanpa
serat mengandung 3.000 biji. Daya kecambah biji cepat menurun, oleh karena
itu, sangat baik menggunakan biji yang baru yang disimpan paling lama 1
bulan (Priyadi, 2014).
Benih memerlukan penyemaian lebih dahulu agar tidak banyak yang mati
kekeringan, rusak oleh terik matahari, terlalu basah atau lembab dan pengaruh
keadaan lingkungan buruk yang lain. Persemaian dibuat dengan bedengan
yang diolah dengan baik, permukaan butir tanahnya dihaluskan dan sebaiknya
dilapisi pasir setebal 2 hingga 3 cm. Permukaan persemaian ditutup dengan
lembaran plastik. Persemaian diberi atap pelindung yang menghadap ke timur.
Untuk 1 hektar per tanaman diperlukan 100 g sampai 200 g biji tanpa serat
dengan luas persemaian 10m2 sampai 20m2. Benih disebar rata di persemaian
dan akan tumbuh 4 sampai 5 hari kemudian. Benih yang telah berumur 1
minggu mulai diperjarang dan dicabut untuk dipindahkan ke lubang sebesar
pensil yang dibuat di permukaan bumbungan tanah yang telah dicampur
pupuk kandang dan dibungkus dengan daun; tinggi bumbungan 5 cm dan garis
tengah 3 cm. Tiap bumbungan diisi dengan 1 bibit (Priyadi, 2014).
Pemeliharaan persemaian dilakukan dengan penyiraman pagi dan sore
hari, memperpanjang bibit dan memusnahkan bagian bibit yang mulai
terserang penyakit. Setelah berumur 2 bulan, bibit dalam bumbungan sudah
cukup besar dan kuat untuk ditanam di kebun; dua minggu sebelum ditanam,
bibit dalam bumbungan dipindahkan ke tempat yang lebih terang untuk
melatih tanaman terhadap terik matahari, ukuran bibit pada waktu dipindahkan
ke kebun mencapai 3 sampai 5 cm. Berdaun 4 sampai 5 helai, panjang daun 5
sampai 10 cm dan lebar 2 sampai 3 cm (Priyadi, 2014).
Pemeliharaan terdiri dari penyiraman bila 2 atau 3 hari tidak ada hujan,
menyulam 1 minggu sampai 2 minggu setelah tanam, menyiang 3 5 kali,
memupuk pada umur 3 dan 8 minggu setelah tanam serta memangkas batang
bunga agar pertumbuhan daun lebih banyak. Pemupukan dengan 34 kg
nitrogen tiap hektar pada umur 3 minggu setelah tanam dapat meningkat hasil

sebanyak 14%. Pemupukan kedua bila dipandang perlu diberikan pada umur 8
minggu setelah tanam dengan jumlah pupuk yang sama. Panen daun pertama
dilakukan pada umur 2 bulan setelah tanam; panen selanjutnya dilakukan tiap
bulan sampai 1 bulan sekali hingga tanaman berumur 3 bulan sampai 5
bulan setelah tanam. Hasil yang diperoleh adalah 970 kg sampai 1.200 kg
daun kering tiap hektar pada panen yang tidak terserang jamur karat (Puccinia
Sonchus arvensis) dan penyakit busuk pangkal batang atau busuk akar. Bila
terdapat serangan penyakit jamur karat, hasil yang diperoleh dapat berkurang
30% sampai 80%, yakni hanya dari panen pertama dan kedua. Penyakit karat
merupakan faktor penghambat bagi budidaya Sonchus. Daun yang terserang,
penuh bercak-bercak coklat kehitaman dan akhirnya mongering (Priyadi,
2014).

10

BAB IV
IDENTIFIKASI SIMPLISIA

4.1. Makroskopik
Daun tunggal, bagian bawah tumbuh berkumpul pada pangkal membentuk
roset akar. Helai daun berbentuk lanset atau lonjong, ujung runcing, pangkal
bentuk jantung, tepi berbagi menyirip tidak teratur, panjang 6-48 cm, lebar 312 cm, berwarna hijau muda. Terdapat daun dengan ukuran yang besar dan
kecil, daun yang keluar dari tangkai bunga bentuknya lebih kecil dengan
pangkal memeluk batang, letak berjauhan, dan berseling (Dalimartha, 1999).
Daun tempuyung memiliki permukaan atas agak kasar dan, tepi berombak,
dan bergigi tidak beraturan. Pada pangkal batang, daun bergigi tersebut
terpusat membentuk roset dan bagian atasnya memeluk batang secara
berselang-seling.

Gambar 4.1. Tampak Depan dari Daun Tempuyung

11

Gambar 4.2. Tampak Belakang dari Daun Tempuyung

Gambar 4.3. Pangkal Daun Tempuyung

Gambar 4.4. Makroskopik Daun Tempuyung

12

4.2. Mikroskopik
4.2.1 Penampang Melintang
Pada penampang melintang melalui tulang daun seharusnya
tampak epidermis atas terdiri dari satu lapisan sel berbentuk poligonal,
dinding samping agak lurus atau menggelombang, kutikula besar,
berbintik-bintik. Namun, dalam pengamatan, lapisan epidermis atas
tidak terlihat karena kemungkinan ada bagian yang terpotong atau
hilang. Rambut kelenjar sedikit, terdiri dari 1 sel tangkai pendek dan 1
sel kepala berbentuk bulat panjang. Stomata sedikit tipe anisositik.
Epidermis bawah terdiri dari sel pipih dengan dinding samping
bergelombang, kutikula berbintik-bintik, stomata lebih banyak pada
epidermis bawah. Namun pada pengamatan hanya terlihat sebagian
karena kemungkinan ada bagian yang terpotong sewaktu preparasi.
Jaringan palisade terdiri dari 1-2 lapis sel, sel palisade lapisan pertama
jelas berbentuk tabung yang besar dan panjang, sel palisade kedua jauh
lebih pendek, tebal lapisan palisade hampir setengah tebal daun,
jaringan bunga karang bersel lebih kecil dan berbentuk tidak beraturan,
di sekitar pembuluh terdapat beberapa saluran getah. Terdapat jaringan
kolenkim berbentuk silinder panjang di atas epidermis bawah dan
dapat terlihat berkas pembuluh dan pengangkut.

Gambar

4.5. Penampang

Melintang
Sumber:

Sonchus Folium.
Dokumentasi Pribadi.

13

Gambar 4.6. Penampang Melintang Sonchus Folium.


Keterangan: 1. Epidermis bawah; 2. Floem; 3. Xylem; 4. Lapisan bunga karang;
5. Kolenkim.

4.2.2 Penampang Membujur


Epidermis atas dengan lapisan sel poligonal, dapat ditemukan
stomata tipe anisositik. Terlihat lapisan sel silinder memanjang dari
urat daun.

Gambar
4.7.

Penampang membujur Sonchus Folium; Stomata tipe anisositik pada


epidermis atas.

Gambar 4.8.

Penampang

membujur

Sonchus

14

Folium; urat daun silindris panjang dan epidermis atas dengan lapisan sel
poligonal.

r.k
.

Gambar 4.9. Penampang membujur Sonchus Folium; Epidermis atas


dengan sel poligonal dan rambut kelenjar (r.k.)

(a)
(b)
Gambar 4.10 Penampang membujur Sonchus Folium.
Keterangan: (a) Stomata tipe anisositik. (b) Epidermis atas dengan
urat daun (b.1) dan lapisan sel epidermis poligonal (b.2).
4.2.3 Serbuk
Serbuk berwarna hijau tua. Fragmen pengenal adalah sel epidermis
bentuk tidak beraturan, rambut penutup pendek, rambut kelenjar sedikit,
terdiri dari 1 sel tangkai pendek dan 1 sel kepala berbentuk bulat
panjang, dan berkas pembuluh dengan penebalan spiral. Pada epidermis
15

bawah terdapat stomata tipe anisositik. (Departemen Kesehatan


Republik Indonesia, 1989)

Gambar 4.11. Mikroskopik Serbuk Sonchus Folium; epidermis atas


bentuk sel poligonal.
4.3. Identifikasi
4.3.1 Pemeriksaan Flavonoida
1. Sebanyak 1 ml larutan percobaan diuapkan hinga kering, sisanya
dilarutkan dalam 1-2 ml etanol 96%, ditambahkan 0,5 g serbuk
seng dan 2 ml asam klorida 2 N, didiamkan selama 1 menit.
Ditambahkan 10 ml asam klorida pekat, jika dalam waktu 2-5
menit terjadi waktu merah yang intensif, maka menunjukkan
adanya flavonoida.
2. Sebanyak 1 ml larutan percobaan diuapkan hingga kering, sisanya
dilarutkan dalam 1 ml etanol 96%, ditambahkan 0,1 g magnesium
dan 10 tetes asam klorida pekat. Jika terjadi warna merah jingga
sampai

warna

merah

ungu,

flavonoida. (Depkes RI, 1995).

16

maka

menunjukkan

adanya

BAB V
KANDUNGAN KIMIA, CARA ISOLASI, DAN PENGGUNAAN SISIK
NAGA SECARA TRADISIONAL SERTA BERDASARKAN PENELITIAN

5.1. Kandungan Kimia


Tempuyung mengandung -laktuserol, -laktuserol, mannitol, inositol,
silica, kalium, flavonoid, dan taraksasterol. Sriningsih dkk., (2012)
menyebutkan bahwa tempuyung mengandung banyak senyawa kimia, seperti
golongan flavonoid (kaemferol, luteolin-7-O-glukosida dan apigenin-7-Oglukosida), kumarin, taraksasterol.
Kandungan flavonoid total dalam daun tempuyung 0,1044%, akar tanaman
0,5% dengan jenis yang terbesar adalah apigenin-7-O-glikosida (3,4,5).
Sementara Pramono dkk., (1993) menyebutkan bahwa daun tempuyung
mengandung senyawa kimia antara lain luteolin, flavon, flavonol dan auron.
Di dalam tumbuhan, flavonoid ada dalam bentuk glikosida dan aglikon
flavonoid.
Xu dkk., (2008) melaporkan bahwa daun tempuyung mengandung ester
asam kuinat yang merupakan salah satu turunan asam fenolat. Asam fenolat
merupakan salah satu jenis metabolit sekunder yang banyak ditemukan dalam
berbagai jenis tumbuhan. Sriningsih dkk., (2012) menyebutkan bahwa
tempuyung mengandung asam fenolat bebas. Sedangkan menurut Winarto
dkk., (1999) asam fenolat dalam daun tempuyung terikat sebagai glikosida dan
ester.

5.2. Cara Isolasi


Daun tempuyung diisolasi dari alam. Kemudian daun tersebut dibersihkan,
dikeringkan, dan dihaluskan hingga berbentuk serbuk. Untuk membuat ekstrak
etnol daun tempuyung, yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut : serbuk
daun tempuyung dimaserasi dengan pelarut n-heksana selama 3x24 jam
17

hingga didapatkan fraksi n-heksan berwarna hijau kecoklatan. Tujuannya


untuk mengikat senyawa-senyawa non polar yang dapat mengganggu proses
selanjutnya.
Ampas daun tempuyung diangin-anginkan dan dimaserasi kembali dengan
etanol selama 3x24 jam. Setelah maserasi, dilakukan pemekatan dengan cara
evaporasi dengan alat rotary vacuum evaporator, kemudian diperoleh ekstrak
etanol berwarna hijau kecoklatan.

5.3. Penggunaan Secara Tradisional


Daun atau seluruh tumbuhan sebanyak 15-60 g direbus, lalu diminum.
Untuk pemakaian luar, herba segar digiling halus lalu ditempelkan ke tempat
yang sakit atau diperas dan airnya untuk kompres bisul, luka bakar, dan wasir.
Untuk radang payudara, daun tempuyung segar sebanyak 15 g direbus
dengan 3 gelas air bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, lalu
diminum sekaligus sebanyak 2-3 kali sehari.
Untuk bisul, batang dan daun tempuyung segar secukupnya dicuci bersih
lalu ditumbuk halus, kemudian air perasannya digunakan untuk mengompres
bisul. Untuk darah tinggi, kandung kencing, dan kandung empedu berbatu,
daun tempuyung segar sebanyak 5 lembar dicuci lalu diasapkan sebentar, lalu
makan sebagai lalap bersama makan nasi dan lakukan sebanyak 3 kali sehari.
Untuk kencing batu, bisa dilakukan dengan 3 metode. Yang pertama, daun
tempuyung kering sebanyak 250 mg direbus dengan 250 cc air bersih smpai
tersisa 150 cc. Setelah dingin disaring, dibagi untuk 3 kali minum, dihabiskan
dalam sehari, dan dilakukan setiap hari sampai sembuh. Yang kedua, daun
tempuyung, daun avokad, daun sawi tanah, seluruhnya bahan segar sebanyak
5 lembar, dan 2 jari gula enau dicuci bersih lalu direbus dalam 3 gelas air
bersih sampai tersisa 3/4 nya. Setelah dingin disaring, dan air yang
terkumpul diminum 3 kali sehari, masing-masing gelas. Yang ketiga, daun
tempuyung dan daun keji beling (Strobilanthes crispus) segar masing-masing
5 lembar, jagung muda 6 buah, dan 3 jari gula enau dicuci dan dipotongpotong seperlunya, setelah dingin disaring, lalu diminum 3 kali sehari,
masing-masing 3-4 kali sehari.

18

Untuk pendengaran berkurang (tuli), herba tempuyung segar dicuci bersih


lalu dibilas dengan air masak. Giling sampai halus, lalu diperas dengan kain
bersih. Airnya diteteskan pada telinga yang tuli, dan lakukan 3-4 kali sehari.
5.4. Penggunaan Berdasarkan Penelitian
Berdasarkan penelitian tahun 1988 oleh Giri Hardiyatno, daun tempuyung
tidak secara jelas mempunyai efek diuretik, namun mempunyai daya
melarutkan batu ginjal,dan daya melarutkan batu ginjal oleh ekstrak air lebih
baik daripada ekstrak alkohol. Berdasarkan penelitian tahun 1991 oleh Atiek
Liestyaningsih, daun tempuyung mampu menghambat hepatotoksis karbon
tetraklorida (CCl4).

19

5.5.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
a. Sonchus folium merupakan simplisia daun dari Sonchus arvenis yang
berasal dari family Asteraceae.
b. Simplisia sonchus folium ketika

diamati

di

bawah

mikroskop,

menunjukkan lapisan epidermis berbentuk polygonal. Stomata sedikit tipe


anisositik. Terdapat jaringan kolenkim berbentuk silinder panjang di atas
epidermis bawah dan berkas pengangkut.
c. Kandungan kimia yang terdapat di dalam daun tempuyung adalah ion-ion
mineral antara lain kalium, silika, magnesium, natrium, dan senyawa
organik misalnya falvonoid (kaempferol, luteolin-7-O-glukosida dan
apigenin-7-O-glukosida), kumarin (skopoletin), taraksasterol, inositol,
serta asam fenolat (sinamat, kumarat dan vanilat).
d. Sonchus folium secara trasisional telah banyak digunakan sebagai obat
radang payudara, bisul, darah tinggi, kandung kencing, dan kandung
empedu berbatu, kencing batu, serta tuli. Berdasarkan penelitian, daun
tempuyung dapat melarutkan batu ginjal.

6.2. Saran
Tempuyung adalah herba menahun. Kandungan dalam tempuyung sangat
kaya dan dapat diteliti lebih lanjut untuk menganalisis kegunaan daun
tempuyung dalam pengobatan. Sejauh ini, daun tempuyung terbukti dapat
melarutkan batu ginjal. Penelitian lebih mendalam terhadap daun tempuyung
sebaiknya dilakukan, sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan dengan lebih
baik.

20

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1995. Materia Medika Indonesia Jilid VI. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI hal 333-335.
Cybex.pertanian.go.id, (n.d.). Sejarah Tanaman Tempuyung. [online] Available at:
http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/detail/9039/sejarah-tanamantempuyung.
Dalimartha, Setiawan. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid I. Ungaran:
Trubus Agriwidaya hal 158- 159.
Digilib.unimus.ac.id,

(n.d.).

Tempuyung.

[online]

Available

at:

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/107/jtptunimus-gdl-gerhanahij-5315-2bab2.pdf
EPPO. 2014. PQR database. France: European and Mediterranean Plant.
Protection Organization. http://www.eppo.int/DATABASES/pqr/pqr.htm
Itis.gov, (2010). ITIS Standard Report Page: Sonchus arvensis. [online] Available
at: http://www.itis.gov/servlet/SingleRpt/SingleRpt?search_topic=TSN&search_value=3842
Plants.usda.gov, (n.d.). Plants Profile for Sonchus arvensis arvensis (field
sowthistle).

[online]

Available

at:

http://plants.usda.gov/core/profile?

symbol=SOARA2
Priyadi, I. 2014. Bududaya Tanaman Tempuyung. KEMENTERIAN PERTANIAN
BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA
MANUSIA

PERTANIAN.

Retrieved

25

November

2015,

from

http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/detail/9040/budidaya-tanamantempuyung
Sunanto, Hardi. 2009.100 Resep sembuhkan Hipertensi, Obesitas, dan Asam Urat.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Wulan Yuliarti, Enny Fach riyah, and Dewi Kusrini. ISOLASI, IDENTIFIKASI
DAN UJI ANTIOKSIDAN ASAM FENO LAT DALAM DAUN TEMPUYUNG (

21

Sonchus arvensis L.) DENGAN METODE 1,1- DIFENIL-2-PIKRILHIDRASIL


(DPPH) 1.1 (2013): 294-304. Web. 25 Nov. 2015.
LAMPIRAN

22