Anda di halaman 1dari 20

INTERAKSI SOSIAL PADA

BENCANA ALAM GUNUNG


MELETUS
KELOMPOK 4
FARHAN ABDUL HAKIM
ISMI HERDIAYANTI
NUR GHAFFAR
PERIS GULTOM
PUTRI AULIA
RADEN RAFDHILLAH
KUSTIYAWAN
SARAH MAULINA

XII-5
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SMAK

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang INTERAKSI SOSIAL PADA BENCANA ALAM GUNUNG MELETUS ini
dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima
kasih pada Ibu Yuyun Yuningsih, S.Pi., M.Si. selaku guru mata pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai keadaan sosial dari masyarakat korban
bencana alam. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap
adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di
masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Bogor, Agustus 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................2
DAFTAR ISI..................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................4
I. 1

LATAR BELAKANG..................................................................................................4

I. 2

RUMUSAN MASALAH.............................................................................................5

I. 3

TUJUAN.....................................................................................................................5

I. 4

MANFAAT...................................................................................................................6

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................7
II.1

TEORI.........................................................................................................................7
II.1.1 Pengertian Gunung Meletus......................................................................7
II.1.2 Interaksi Sosial............................................................................................8
II.1.3 Ciri-ciri Interaksi Sosial...............................................................................9
II.1.4 Syarat Terjadinya Interaksi Sosial..........................................................10
II.1.5 Bentuk dan Sifat Interaksi Sosial............................................................11
II.1.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial.............................13

II.2

PEMBAHASAN.......................................................................................................15
II.2.1 Kronologi Kejadian....................................................................................15
II.2.2 Dampak Kejadian......................................................................................16
II.2.3 Interaksi Sosial yang Terjadi....................................................................17
II.2.4 Penyebab Gunung Sinabung Meletus...................................................17

BAB III PENUTUP......................................................................................................20


III.1

KESIMPULAN.........................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................21

BAB I
PENDAHULUAN

I. 1 LATAR BELAKANG
Manusia senantiasa melakukan hubungan dan pengaruh
timbal balik dengan manusia yang lain dalam rangka memenuhi
kebutuhan dan mempertahankan kehidupannya. Bahkan, secara
ekterm manusia akan mempunyai arti jika ada manusia yang lain
tempat ia berinteraksi. Interaksi sosial adalah hubungan timbal
balik yang saling mempengaruhi. Ada aksi dan ada reaksi.
Pelakunya lebih dari satu. Individu vs individu. Individu vs
kelompok. Kelompok vs kelompok dll. Contoh guru mengajar
merupakan

contoh

interaksi

sosial

antara

individu

dengan

kelompok. Interaksi sosial memerlukan syarat yaitu Kontak Sosial


dan Komunikasi Sosial.
Kontak sosial dapat berupa kontak primer dan kontak
sekunder. Sedangkan komunikasi sosial dapat secara langsung
maupun tidak langsung. Interaksi sosial secara langsung apabila
tanpa melalui perantara. Misalnya A dan B bercakap-cakap
termasuk contoh Interaksi sosial secara langsung. Sedangkan
kalau A titip salam ke C lewat B dan B meneruskan kembali ke A,
ini termasuk contoh interaksi sosial tidak langsung.
Faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial meliputi
imitasi, sugesti, identifikasi, indenifikasi, simpati dan empati Imitasi
adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor meniru orang lain.
Contoh anak gadis yang meniru menggunakan jilbab sebagaimana
ibunya memakai. Sugesti adalah interaksi sosial yang didasari oleh
adanya pengaruh. Biasa terjadi dari yang tua ke yang muda, dokter
ke pasien, guru ke murid atau yang kuat ke yang lemah. Atau bisa
juga dipengaruhi karena iklan.
Indentifikasi adalah interaksi sosial yang didasari oleh faktor
adanya individu yang mengindentikkan (menyadi sama) dengan

pihak

yang

lain.

Contoh

menyamakan

kebiasaan

pemain

sepakbola idolanya. Simpati adalah interaksi sosial yang didasari


oleh foktor rasa tertarik atau kagum pada orang lain.
Empati adalah interaksi sosial yang disasari oleh faktor
dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, lebih dari
simpati. Contoh tindakan membantu korban bencana alam.
Interaksi

sosial

mensyaratkan

adanya

kontak

sosial

dan

komunikasi sosial. Kemudian membuat terjadinya proses sosial.


Proses sosial dapat bersifat asosiatif dan disasosiatif Asosiatif
meliputi

akomodasi,

difusi,

asimilasi,

akulturasi,

kooperasi

(kerjasama) (Intinya interaksi sosial yang baik-baik, kerjasama,


rukun, harmonis, serasa dll).
Disasosiatif meliputi konflik, kontravensi dan kompetensi
(Intinya interaksi sosial yang tidak baik, penuh persaingan, perang
dingin, bertengkar dll). Contoh Bapak memukul anaknya karena
tidak

mendengarkan

nasihatnya.

Menyuruh

pergi

seorang

pengemis dengan cara membentak.

I. 2 RUMUSAN MASALAH
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Apakah yang dimaksud gunung meletus?


Apa pengertian interaksi sosial?
Seperti apa ciri-ciri interaksi sosial?
Apa syarat terjadinya interaksi sosial?
Faktor apa saja yang mempengaruhi interaksi sosial?
Apa saja bentuk interaksi sosial?

I. 3 TUJUAN
1. Mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan gunung
meletus.
2. Mengerti dan memahami apa yang dimaksud dengan interaksi
sosial.
3. Untuk mengetahui proses interaksi sosial yang terjadi pada
masyarakat pasca maupun pra bencana alam .
4. Untuk mengetahui pengaruh interaksi sosial tersebut.
5. Untuk menambah wawasan tetang bagaimana interaksi sosial
berlangsung.

6. Sebagai persyaratan mendapatkan nilai kelompok.


I. 4 MANFAAT
Diharapkan manfaat yang dapat diambil dari makalah ini yaitu
kita sebagai makhluk sosial dapat berinteraksi dan peka terhadap
sesama

manusia

terutama

mereka

yang

membutuhkan

pertolongan, contohnya yaitu para korban erupsi Gunung Sinabung


ini.

BAB II
PEMBAHASAN
II.1 TEORI
II.1.1 Pengertian Gunung Meletus
Gunung meletus adalah peristiwa alam dimana endapan
magma yang berada di dalam perut bumi didorong keluar oleh gas
yang mempunyai tekanan tinggi. Gunung meletus merupakan
gejala alam vulkanik. Letusan yang terjadi berasal dari gunung
berapi yang masih aktif. Letusan gunung berapi biasanya diikuti
oleh berterbangannya abu yang mengakibatkan udara menjadi
kotor. Magma yang keluar dari gunung berapi dapat merusak
daerah yang dilewatinya dan terkadang mengeluarkan racun yang
dapat membahayakan kehidupan manusia.
Magma adalah cairan pijar yang terdapat di dalam lapisan
bumi dengan suhu yang sangat tinggi, yakni diperkirakan lebih dari
1.000 C. Cairan magma yang keluar dari dalam bumi disebut lava.
Suhu lava yang dikeluarkan bisa mencapai 700-1.200 C. Letusan
gunung berapi yang membawa batu dan abu dapat menyembur
sampai sejauh radius 18 km atau lebih, sedangkan lavanya bisa
membanjiri sampai sejauh radius 90 km.
Proses sebelum meletusnya gunung berapi biasanya bisa
diketahui dari awal oleh masyarakat yang berada disekitar gunung
berapi tersebut. Jadi, seandainya gunung berapi tersebut akan
meletus, masyarakat siap untuk mengungsi. Kesiapan masyarakat
dikarenakan adanya pantauan aparat pemerintah terhadap gunung
berapi aktif. Alat untuk memantau keadaan gunung berapi aktif
disebut dengan seismograf dan seismometer.

II.1.2 Interaksi Sosial


Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik antara individu

dan individu, antara individu dengan kelompok atau antara


kelompok dengan kelompok dalam berbagai bentuk seperti
kerjasama,

persaingan

ataupun

pertikaian.

Atau

Interaksi

sosial merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa


tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku
dan diterapkan di dalam masyarakat.
1. Interaksi antara individu dengan individu
Interaksi antara individu dengan individu adalah individu
yang satu memberikan pengaruh, rangsangan/stimulus kepada
individu lainnya dan sebaliknya, individu yang terkena pengaruh
itu akan memberikan reaksi, tanggapan atau respon.
2. Interaksi antara individu dengan kelompok
Secara konkret bentuk interaksi sosial antara individu
dengan kelompok bisa digambarkan seperti seorang guru yang
sedang berhadapan dan mengajari siswa-siswinya didalam
kelas/seorang penceramah yang sedang berpidato didepan
orang banyak. Bentuk interaksi semacam ini juga menunjukkan
bahwa kepentingan seseorang individu berhadapan/bisa ada
saling keterkaitan dengan kepentingan kelompok.
3. Interaksi antar kelompok dengan kelompok
Bentuk interaksi antara kelompok dengan kelompok
saling berhadapan dalam kepentingan, namun bisa juga ada
kepentingan individu disitu dan kepentingan dalam kelompok
merupakan satu kesatuan, berhubungan dengan kepentingan
individu dalam kelompok lain.
Menurut Para Tokoh:
1. SOERJONO SOEKANTO
Interaksi sosial merupakan dasar proses sosial yang terjadi
karena

adanya

hubungan-hubungan

sosial

yang

dinamis

mencakup hubungan antarindividu, antarkelompok, atau antara


individu dan kelompok
2. KIMBALL YOUNG & RAYMOND W. MACK
Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis dan
menyangkut hubungan antar individu, antara individu dengan

kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok lainnya


3. BONNER
Interaksi sosial adalah suatu hubungan antara dua individu atau
lebih yang saling mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki
kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.

II.1.3 Ciri-ciri Interaksi Sosial


Sistem sosial dalam masyarakat akan membentuk suatu
pola hubungan sosial yang relatif baku/tetap, apabila interaksi
sosial yang terjadi berulang-ulang dalam kurun waktu relatif lama
dan diantara para pelaku yang relatif sama. Pola seperti ini dapat
dijumpai dalam bentuk sistem nilai dan norma. Sejarah pola yang
melandasi interaksi sosial adalah tujuan yang jelas, kebutuhan
yang jelas dan bermanfaat, adanya kesesuaian dan berhasil guna,
adanya kesesuaian dengan kaidah sosial yang berlaku dan dapat
disimpulkan bahwa interaksi sosial itu memiliki karakteristik
sebagai berikut :
1. Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu orang.
2. Interaksi sosial selalu menyangkut komunikasi diantara dua
pihak yaitu pengirim (sender) dan penerima (receiver).
3. Interaksi sosial merupakan suatu usaha untuk menciptakan
pengertian diantara pengirim dan penerima.
4. Ada tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya
tujuan tersebut. Interaksi sosial menekankan juga pada tujuan
mengubah tingkah laku orang lain yang meliputi perubahan
pengetahuan, sikap dan tindakan dari penerima.
Arah Komunikasi dalam Interaksi Sosial Menurut Gibson (1996)
desain organisasi harus memungkinkan terjadinya komunikasi 4
arah yang berbeda :
1. Komunikasi ke bawah (down ward communication) adalah
komunikasi yang mengalir dari tingkat atas ke tingkat bawah dalam
sebuah

organisasi

seperti

kebijakan

pimpinan,

instansi/memoresmi.
2. Komunikasi keatas (up ward communication) adalah komunikasi
yang mengalir dari tingkat bawah ke tingkat atas sebuah organisasi
seperti kotak saran, pertemuan kelompok dan prosedur keluhan.

3. Komunikasi

horizontal

(horizontal

communication)

adalah

komunikasi yang mengalir melintasi berbagai fungsi dalam


organisasi.
4. Komunikasi diagonal (diagonal communication) adalah komunikasi yang
bersifat melintasi fungsi dan tingkatan dalam organisasi.
II.1.4 Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Syarat terjadinya interaksi sosial yang pokok ada 3 yaitu :
1. Kontak Sosial
Merupakan awal dari terjadinya interaksi sosial dan
masing-masing pihak saling berinteraksi meskipun tidak saling
bersentuhan secara fisik. Jadi kontak tidak harus selalu
berkomunikasi. Dalam kehidupan sehari-hari dikenal beberapa
macam kontak sosial yaitu :
a. Menurut cara yang dilakukan
Kontak langsung dan kontak tidak langsung.
b. Menurut proses terjadinya/tingkat hubungannya
Kontak primer dan kontak sekunder.
c. Menurut sifat
Kontak positif dan kontak negatif.
2. Komunikasi
Merupakan pengiriman pesan dan penerimaan pesan
dengan maksud untuk dapat dipahami. Proses komunikasi
terjadi pada saat kontak sosial berlangsung.
3. Tindakan Sosial
Adalah tindakan yang mempengaruhi individu yang
mempengaruhi individu lain dalam masyarakat dan merupakan
tindakan bermakna yaitu tindakan yang dilakukan dengan
mempertimbangkan keberadaan orang lain. Berdasarkan cara
dan tujuan yang akan dilakukan, maka tindakan sosial dapat
dibedakan menjadi 4, yaitu :
a. Tindakan rasional instrumental
Adalah tindakan sosial yang dilakukan oleh seorang dengan
memperhitungkan kesesuaian cara yang digunakan lalu
tujuan apa yang hendak dicapai dalam tindakan itu.
b. Tindakan rasional berorientasi nilai

10

Merupakan tindakan yang begitu memperhitungkan cara.


c. Tindakan tradisional
Merupakan

tindakan

yang

tidak

memperhitungkan

pertimbangan rasional. Tindakan ini dilaksanakan karena


pertimbangan adat dan kebiasaan.
d. Tindakan efektif
Tindakan

efektif

seringkali

dilakukan

tanpa

suatu

perencanaan matang dan kesadaran penuh. Tindakan ini


muncul karena dorongan perasaan atau emosi dalam diri
pelaku.
II.1.5 Bentuk dan Sifat Interaksi Sosial
Dalam proses interaksi sosial menghasilkan 2 bentuk yaitu
proses sosial asosiatif dan disosiatif.
1. Proses/interaksi Sosial Asosiatif
Asosiatif adalah proses sosial yang membawa ke arah
persatuan dan kerja sama. Proses ini disebut juga sebagai
proses yang positif. Beberapa proses sosial yang bersifat
asosiatif adalah :
a. Akulturasi (acculturation)
Merupakan proses sosial yang timbul akibat suatu
kebudayaan asing/kebudayaan lain tanpa menyebabkan
hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri.
b. Asimilasi
Proses asimilasi terjadi apabila dalam masyarakat
terdapat perbedaan kebudayaan diantara kedua belah
pihak, ada proses saling menyesuaikan, ada interaksi
intensif antara kedua belah pihak.
c. Kerja sama (cooperation)
Merupakan bentuk yang paling utama dalam proses
interaksi sosial karena interaksi sosial yang dilakukan oleh
seorang/kelompok

11

orang

bertujuan

untuk

memenuhi

kepentingan/kebutuhan bersama.
d. Akomodasi
Sebagai

proses

usaha-usaha

yang

dilakukan

manusia untuk meredakan atau memecahkan konflik dalam


rangka mencapai kestabilan.
2. Proses/interaksi sosial disosiatif
Merupakan interaksi sosial yang membawa ke arah
perpecahan. Ada beberapa bentuk interaksi sosial disosiatif
yaitu :
a. Konflik Sosial/pertentangan
Dapat diartikan sebagai suatu proses antara dua
orang

atau

lebih,

maupun

kelompok

berusaha

menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau


membuatnya tidak berdaya.
b. Persaingan (competition)
Merupakan suatu proses sosial yang melibatkan
mencapai keuntungan melalui bidang kehidupan yang pada
suatu saat tertentu menjadi pusat perhatian umum, tanpa
ancaman/kekerasan.
c. Kontrovensi
Merupakan suatu proses sosial yang posisinya berada
diantara persaingan dan konflik. Kontrovensi dapat berwujud
sikap

tidak

senang,

baik

secara

terbuka/sembunyi-

sembunyi.
II.1.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial
Interaksi sosial dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Faktor yang dapat mempengaruhi interaksi sosial dapat dibagi
menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor Internal
1. Dorongan untuk

meneruskan/mengembangkan

keturunan.

Secara naluriah, manusia mempunyai dorongan nafsu birahi

12

untuk saling tertarik dengan lawan jenis. Dorongan ini bersifat


kodrati artinya tidak usah dipelajaripun seseorang akan
mengerti sendiri dan secara sendirinya pula orang akan
berpasang-pasangan untuk meneruskan keturunannya agar
tidak mengalami kepunahan.
2. Dorongan untuk memenuhi

kebutuhan

Dorongan

untuk

memenuhi kebutuhan manusia memerlukan keberadaan orang


lain yang akan saling memerlukan, saling tergantung untuk
saling melengkapi kebutuhan hidup.
3. Dorongan untuk mempertahankan hidup Dorongan untuk
mempertahankan

hidup

ini

terutama

dalam

menghadapi

ancaman dari luar seperti ancaman dari kelompok atau suku


bangsa lain, ataupun dari serangan binatang buas.
4. Dorongan untuk berkomunikasi dengan sesama Secara naluriah, manusia
memerlukan keberadaan orang lain dalam rangka saling berkomunikasi untuk
mengungkapkan keinginan yang ada dalam hati masing-masing dan secara
psikologis manusia akan merasa nyaman dan tentram bila hidup bersamasama dan berkomunikasi dengan orang lain dalam satu lingkungan sosial
budaya.
Faktor Eksternal
1. Imitasi
Imitasi dapat diartikan sebagai suatu perbuatan atau tindakan
seseorang untuk meniru sesuatu yang ada pada orang lain.
Contoh

anak

gadis

yang

meniru

menggunakan

jilbab

sebagaimana ibunya memakai.


2. Identifikasi
Merupakan kecenderungan/keinginan dalam diri seseorang
untuk menjadi sama dengan pihak lain. Contoh menyamakan
kebiasaan pemain sepakbola idolanya.
3. Sugesti
Merupakan cara pemberian suatu pandangan/pengaruh oleh
seseorang kepada orang lain dengan cara tertentu sehingga
seseorang tersebut mengikuti pandangan atau pengaruh yang
diberikan tanpa berpikir panjang. Biasa terjadi dari yang tua ke

13

yang muda, dokter ke pasien, guru ke murid atau yang kuat ke


yang lemah. Atau bisa juga dipengaruhi karena iklan.
4. Simpati
Merupakan sikap keterkaitan terhadap orang lain. Sikap ini
timbul karena adanya kesesuaian antara nilai yang dianut oleh
kedua belah pihak.
5. Empati
Merupakan proses sosial yang hampir sama dengan simpati,
hanya perbedaannya adalah bahwa empati lebih melibatkan
emosi atau lebih menjiawai dalam diri seoang yang lebih
daripada simpati. Contoh tindakan membantu korban bencana
alam.
6. Motivasi
Adalah suatu dorongan atau rangsangan yang diberikan
seseorang kepada orang lain sedemikian rupa sehingga orang
yang diberi motivasi tersebut menuruti atau melaksanakan yang
dimotivasikan kepadanya.

II.2 PEMBAHASAN
II.2.1 Kronologi Kejadian
Gunung
sinabung,

mengutip

wikipedia, Gunung

Sinabung (bahasa Karo: Deleng Sinabung) adalah gunung api di


Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia.
Sinabung bersama Gunung Sibayak di dekatnya adalah dua
gunung berapi aktif di Sumatera Utara dan menjadi puncak
tertinggi di provinsi itu. Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter.
Gunung ini tidak pernah tercatat meletus sejak tahun 1600,
tetapi mendadak aktif kembali dengan meletus pada tahun 2010.
Letusan terakhir gunung ini terjadi sejak September 2013 dan
berlangsung hingga kini.
Pada 27 Agustus 2010, gunung ini mengeluarkan asap dan
abu vulkanis. Pada tanggal 29 Agustus 2010 dini hari sekitar pukul
00.15 WIB , gunung Sinabung mengeluarkan lava. Status gunung
ini dinaikkan menjadi Awas. Dua belas ribu warga disekitarnya

14

dievakuasi dan ditampung di 8 lokasi. Abu Gunung Sinabung


cenderung

meluncur

dari

arah

barat

daya

menuju

timur

laut.Sebagian Kota Medan juga terselimuti abu dari Gunung


Sinabung.
Pada tanggal 3 September, terjadi 2 letusan. Letusan
pertama terjadi sekitar pukul 04.45 WIB sedangkan letusan kedua
terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Letusan pertama menyemburkan
debu

vuklkanis

setinggi

kilometer.Letusan

kedua

terjadi

bersamaan dengan gempa bumi vulkanis yang dapat terasa hingga


25 kilometer di sekitar gunung ini.
Pada tanggal 7 September, Gunung Sinabung kembali
metelus. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung ini menjadi
aktif pada tanggal 29 Agustus 2010. Suara letusan ini terdengar
sampai jarak 8 kilometer. Debu vulkanis ini tersembur hingga 5.000
meter di udara.
Pada tahun 2013, Gunung Sinabung meletus kembali,
sampai 18 September 2013, telah terjadi 4 kali letusan. Letusan
pertama terjadi ada tanggal 15 September 2013 dini hari, kemudian
terjadi kembali pada sore harinya. Pada 17 September 2013,
terjadi 2 letusan pada siang dan sore hari. Letusan ini melepaskan
awan panas dan abu vulkanik.Tidak ada tanda-tanda sebelumnya
akan peningkatan aktivitas sehingga tidak ada peringatan dini
sebelumnya. Hujan abu mencapai kawasan Sibolangit dan
Berastagi. Tidak ada korban jiwa dilaporkan, tetapi ribuan warga
pemukiman sekitar terpaksa mengungsi ke kawasan aman.
Akibat peristiwa ini, status Gunung Sinabung dinaikkan ke
level 3 menjadi Siaga. Setelah aktivitas cukup tinggi selama
beberapa hari, pada tanggal 29 September 2013 status diturunkan
menjadi level 2, Waspada. Namun demikian, aktivitas tidak berhenti
dan kondisinya fluktuatif.
Memasuki bulan November, terjadi peningkatan aktivitas
dengan letusan-letusan yang semakin menguat, sehingga pada
tanggal 3 November 2013 pukul 03.00 status dinaikkan kembali
menjadi Siaga. Pengungsian penduduk di desa-desa sekitar
berjarak 5 km dilakukan.

15

Letusan-letusan terjadi berkali-kali setelah itu, disertai


luncuran awan panas sampai 1,5 km. Pada tanggal 20 November
2013 terjadi enam kali letusan sejak dini hari. Erupsi (letusan)
terjadi lagi empat kali pada tanggal 23 November 2013 semenjak
sore, dilanjutkan pada hari berikutnya, sebanyak lima kali.
Terbentuk kolom abu setinggi 8000 m di atas puncak gunung.
Akibat rangkaian letusan ini, Kota Medan yang berjarak 80 km di
sebelah timur terkena hujan abu vulkanik. Pada tanggal 24
November 2013 pukul 10.00 status Gunung Sinabung dinaikkan ke
level tertinggi, level 4 (Awas). Penduduk dari 21 desa dan 2 dusun
harus diungsikan.
II.2.2 Dampak Kejadian
a. Munculnya simpati pada tiap individu.
b. Menguatkan tali kekeluargaan.
c. Munculnya

sifat

kemanusiaan

bahwa

setiap

manusia

membutuhkan orang lain atau gotong royong.


d. Memunculkan banyaknya empati dari berbagai pihak mengenai
peristiwa bencana ini.
e. Membuat orang lain termotivasi agar mulai melakukan tindakan
pencegahan mengenai kejadian yang mungkin dapat terjadi
secara tak terduga di daerahnya.
II.2.3 Interaksi Sosial yang Terjadi
Sumbangan untuk Korban Bencana Alam Gunung
Meletus adalah respon masyarakat atas salah satu bencana
yang sedang dialami di negaranya . Presiden Joko Widodo
(Jokowi) telah memberikan sumbangan kemanusiaan sebesar
Rp 6 miliar untuk korban erupsi Gunung Sinabung, di Kabupaten
Karo, Sumatera Utara. Bantuan ini diserahkan oleh Kepala
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul
Maarif kepada Bupati Karo Terkelin Brahmana, Selasa (23/6).
Kepala Kantor Wilayah Badan pertanahan Nasional
Provinsi Sumatera Utara Ir. Ronny Kusuma Yudistiro, MM.,

16

Selasa (21/1), menyerahkan sumbangan yang berasal dari


Peserta Rapat Kerja Nasional BPN RI tahun 2014 kepada
korban bencana erupsi Gunung Sinabung di empat lokasi
pengungsian, yaitu GBKP Kodim, GBKP Jalan Kota Cane,
Jambur Laugamba, dan Jambur Sempajaya.
Saat menyerahkan bantuan tersebut ia didampingi oleh
Kepala Bidang Pengaturan dan Penataan Pertanahan, Kepala
Bidang

Pengendalian

Pertanahan

dan

Pemberdayaan

Masyarakat, serta Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Karo


beserta jajarannya.
II.2.4 Penyebab Gunung Sinabung Meletus
Kepala Bidang Mitigasi Bencana, Gempa Bumi, dan
Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
(PVMBG), Gede Suantika, mengatakan, erupsi terus terjadi
disebabkan material lava pijar di bawah gunung terus terdorong ke
atas.

Jumlah

material

lava

pijar

sangat

banyak

Suplainya masih konstan. Sepertinya, jumlahnya masih besar.


Tenaganya

juga

masih

belum

habis,

jelas

Suantika

Banyaknya material di bawah gunung ditandai dengan masih


seringnya terjadi gempa hybrid. Dalam sehari, rata-rata terjadi 120
kali gempa hybrid. Melihat lajunya suplai (material lava pijar) dari
bawah ke atas yang konstan, itu menunjukkan di bawah cukup
besar, terangnya.
Soal kapan erupsi berhenti, ia belum bisa memperkirakan.
Itu susah diprediksi. Bisa diprediksi, tapi kami membutuhkan
pengukuran yang lebih global lagi, terutama di daerah Karo,
imbuhnya.
Sementara secara umum, PVMBG mencatat erupsi yang
menghasilkan abu terjadi sepanjang September hingga Desember
2013. Pada Oktober, letusan abu beberapa kali terjadi disertai awan
panas dengan jumlah sedikit.
Pada Januari 2014, letusan tidak hanya mengeluarkan abu,
namun disertai pertumbuhan kubah lava dan guguran lava pijar

17

disertai awan panas guguran. Luncuran awan panas guguran yang


ditimbulkan akibat dari guguran lava sampai sekarang masih ada,
meluncur 500-1.500 meter dari puncak ke arah selatan tenggara,
ungkapnya.
Keluarnya awan panas guguran sering diikuti gemuruh yang
terdengar hingga 8,5 hingga 10 kilometer ke arah tenggara. Gempa
vulkanik dalam masih muncul dengan jumlah konstan, rata-rata 20
kali sehari. Sedangkan gempa guguran rata-rata dalam sehari
terjadi 200 kali. PVMBG masih merekomendasikan radius aman
lima kilometer dari puncak gunung. Khusus di sebelah tenggara,
kawasan steril yang direkomendasikan adalah tujuh kilometer.

18

BAB III
PENUTUP

III.1

KESIMPULAN
Berdasarkan tahap-tahap yang kami tempuh melalui

pembahasan dan penjelasan yang bertujuan untuk


mengembangkan, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai
berikut.
1. Pentingnya sebuah sosialisasi dalam kehidupan sehari-hari
untuk menciptakan komunikasi yang baik dan benar.
2. Komunikasi dapat membuat kesejahteraan hidup bagi setiap
individu.
3. Interaksi sosial yang baik dan benar dapat mempererat tali
persaudaraan antar umat beragama.
4. Interaksi sosial antar individu sangat dibutuhkan dalam
menjalin sebuah hubungan seperti dalam menjalin hubungan
kekeluargaan.

19

DAFTAR PUSTAKA
Effendi, Ridwan dan Elly Malihah. (2007). Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya
dan Teknologi. Bandung : Yasindo Multi Aspek
Kuswanto dan Bambang Siswanto. (2003). Sosiologi. Solo: Tiga Serangkai
http://interaksisosial25.blogspot.com/
http://belajarpsikologi.com/pengertian-interaksi-sosial/
http://sosiologipendidikan.blogspot.com/2009/03/interaksi-sosial.html
http://dededesyy.blogspot.com/2012/10/makalah-interaksi-sosial.html
http://www.davishare.com/2015/01/interaksi-sosial-pengertian-syarat-ciri.html

20