Anda di halaman 1dari 13

Al Quran, Kenapa Harus dipelajari?

A. Pengertian Al Quran
a. Secara Bahasa

: . :

.
.
:

b. S
ec
ar
a

Al Quran menurut Bahasa adalah mengumpulkan., seperti


perkataan,Qorotu asy Syaia quraanan, yaitu saat aku
mengumpulkan satu bagian dengan bagian yang lain. Abu Said
Istilah
al Qur'an adalah wahyu Allah Subhanahu wa Taala yang diturunkan
kepada nabi Muhammad saw dengan perantara malaikat jibril,
disampaikan dengan jalan mutawatir kepada kita, ditulis dalam
mushaf dan membacanya termasuk ibadah. Al Qur'an diturunkan
secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad Shallallahu
alaihi wasallam selama kurang lebih 22 tahun.
B. Keutamaan Al
Quran

Al Quran adalah Kalaamullah (Firman Allah) bukan makhluk. Inilah


aqidah yang benar terhadap Al Quran.

[1] al-Quran adalah Cahaya


Cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup seorang hamba dan
menuntunnya menuju keselamatan adalah cahaya al-Quran dan cahaya iman.
Keduanya dipadukan oleh Allah taaladi dalam firman-Nya (yang
artinya), Dahulu kamu -Muhammad- tidak mengetahui apa itu al-Kitab dan apa
pula iman, akan tetapi kemudian Kami jadikan hal itu sebagai cahaya yang
dengannya Kami akan memberikan petunjuk siapa saja di antara hamba-hamba
Kami yang Kami kehendaki. (QS. asy-Syura: 52)
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, Dan sesungguhnya kedua hal itu -yaitu
al-Quran dan iman- merupakan sumber segala kebaikan di dunia dan di
akherat. Ilmu tentang keduanya adalah ilmu yang paling agung dan paling
utama. Bahkan pada hakekatnya tidak ada ilmu yang bermanfaat bagi
pemiliknya selain ilmu tentang keduanya. (lihat al-Ilmu, Fadhluhu wa
Syarafuhu, hal. 38)

Allah taala berfirman (yang artinya), Wahai umat manusia, sungguh telah
datang kepada kalian keterangan yang jelas dari Rabb kalian, dan Kami
turunkan kepada kalian cahaya yang terang-benderang. (QS. an-Nisaa: 174)
Allah taala berfirman (yang artinya), Allah adalah penolong bagi orang-orang
yang beriman, Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan-kegelapan menuju
cahaya, adapun orang-orang kafir itu penolong mereka adalah thoghut yang
mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan-kegelapan. (QS. alBaqarah: 257)
Allah taala berfirman (yang artinya), Dan apakah orang yang sudah mati lalu
Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di
tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam
kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan
terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS.
al-Anaam: 122)
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata mengenai tafsiran ayat ini, Orang itu -yaitu
yang berada dalam kegelapan- adalah dulunya mati akibat kebodohan yang
meliputi hatinya, maka Allah menghidupkannya kembali dengan ilmu dan Allah
berikan cahaya keimanan yang dengan itu dia bisa berjalan di tengah-tengah
orang banyak. (lihat al-Ilmu, Fadhluhu wa Syarafuhu, hal. 35)
[2] al-Quran adalah Petunjuk
Allah taala berfirman (yang artinya), Alif lam lim. Inilah Kitab yang tidak ada
sedikit pun keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. (QS.
al-Baqarah: 1-2). Allahtaala berfirman (yang artinya), Sesungguhnya al-Quran
ini menunjukkan kepada urusan yang lurus dan memberikan kabar gembira bagi
orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal salih bahwasanya mereka
akan mendapatkan pahala yang sangat besar. (QS. al-Israa: 9).
Oleh sebab itu merenungkan ayat-ayat al-Quran merupakan pintu gerbang
hidayah bagi kaum yang beriman. Allah taala berfirman (yang artinya), Ini
adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, agar
mereka merenungi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang
yang mempunyai pikiran. (QS. Shaad: 29).
Allah taala berfirman (yang artinya), Apakah mereka tidak merenungi alQuran, ataukah pada hati mereka itu ada gembok-gemboknya? (QS.
Muhammad: 24). Allah taala berfirman (yang artinya), Apakah mereka tidak
merenungi al-Quran, seandainya ia datang bukan dari sisi Allah pastilah mereka
akan menemukan di dalamnya banyak sekali perselisihan. (QS. an-Nisaa: 82)

Allah taala berfirman (yang artinya), Maka barangsiapa yang mengikuti


petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka. (QS. Thaha:
123).
Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma berkata, Allah memberikan jaminan kepada
siapa saja yang membaca al-Quran dan mengamalkan ajaran yang terkandung
di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di
akherat. Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat Syarh al-Manzhumah alMimiyah karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr, hal. 49).
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sadi rahimahullah menerangkan, bahwa
maksud dari mengikuti petunjuk Allah ialah:
1.
2.
3.
4.

Membenarkan berita yang datang dari-Nya,


Tidak menentangnya dengan segala bentuk syubhat/kerancuan pemahaman,
Mematuhi perintah,
Tidak melawan perintah itu dengan memperturutkan kemauan hawa nafsu
(lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 515 cet. Muassasah ar-Risalah)
[3] al-Quran Rahmat dan Obat
Allah taala berfirman (yang artinya), Wahai umat manusia! Sungguh telah
datang kepada kalian nasehat dari Rabb kalian (yaitu al-Quran), obat bagi
penyakit yang ada di dalam dada, hidayah, dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman. (QS. Yunus: 57). Allah taala berfirman (yang artinya), Dan Kami
turunkan dari al-Quran itu obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
Akan tetapi ia tidaklah menambah bagi orang-orang yang zalim selain
kerugian.(QS. al-Israa: 82)
Syaikh as-Sadi rahimahullah berkata, Sesungguhnya al-Quran itu
mengandung ilmu yang sangat meyakinkan yang dengannya akan lenyap
segala kerancuan dan kebodohan. Ia juga mengandung nasehat dan peringatan
yang dengannya akan lenyap segala keinginan untuk menyelisihi perintah Allah.
Ia juga mengandung obat bagi tubuh atas derita dan penyakit yang
menimpanya. (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 465 cet. Muassasah arRisalah)
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam salah satu rumah
Allah, mereka membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka,
melainkan pasti akan turun kepada mereka ketenangan, kasih sayang akan
meliputi mereka, para malaikat pun akan mengelilingi mereka, dan Allah pun
akan menyebut nama-nama mereka diantara para malaikat yang ada di sisiNya. (HR. Muslim dalam Kitab adz-Dzikr wa ad-Dua wa at-Taubah wa alIstighfar [2699])

[4] al-Quran dan Perniagaan Yang Tidak Akan Merugi


Allah taala berfirman (yang artinya), Sesungguhnya orang-orang yang
membaca Kitab Allah dan mendirikan sholat serta menginfakkan sebagian rizki
yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terangterangan, mereka berharap akan suatu perniagaan yang tidak akan merugi.
Supaya Allah sempurnakan balasan untuk mereka dan Allah tambahkan
keutamaan-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha
Berterima kasih. (QS. Fathir: 29-30)
Allah taala berfirman (yang artinya), Wahai orang-orang yang beriman maukah
Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang akan menyelamatkan
kalian dari siksaan yang sangat pedih. Yaitu kalian beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya, dan kalian pun berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian.
Hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Maka niscaya Allah akan
mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga-surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan tempat tinggal yang baik di
surga-surga and. Itulah kemenangan yang sangat besar. Dan juga balasan lain
yang kalian cintai berupa pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat.
Maka berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS. ash-Shaff:
10-13)
Allah taala berfirman (yang artinya), Sesungguhnya Allah telah membeli dari
orang-orang yang beriman, jiwa dan harta mereka, bahwasanya mereka kelak
akan mendapatkan surga. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka
berhasil membunuh (musuh) atau justru dibunuh. Itulah janji atas-Nya yang
telah ditetapkan di dalam Taurat, Injil, dan al-Quran. Dan siapakah yang lebih
memenuhi janji selain daripada Allah, maka bergembiralah dengan perjanjian
jual-beli yang kalian terikat dengannya. Itulah kemenangan yang sangat
besar. (QS. at-Taubah: 111)
[5] al-Quran dan Kemuliaan Sebuah Umat
Dari Amir bin Watsilah, dia menuturkan bahwa suatu ketika Nafi bin Abdul
Harits bertemu dengan Umar di Usfan (sebuah wilayah diantara Mekah dan
Madinah, pent). Pada waktu itu Umar mengangkatnya sebagai gubernur Mekah.
Maka Umar pun bertanya kepadanya,Siapakah yang kamu angkat sebagai
pemimpin bagi para penduduk lembah?. Nafi menjawab, Ibnu Abza. Umar
kembali bertanya, Siapa itu Ibnu Abza?. Dia menjawab, Salah seorang bekas
budak yang tinggal bersama kami. Umar bertanya, Apakah kamu mengangkat
seorang bekas budak untuk memimpin mereka?. Maka Nafi menjawab, Dia
adalah seorang yang menghafal Kitab Allah azza wa jalla dan ahli di bidang
faraidh/waris.Umar pun berkata, Adapun Nabi kalian shallallahu alaihi wa
sallam memang telah bersabda, Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan
Kitab ini sebagian kaum dan dengannya pula Dia akan menghinakan sebagian
kaum yang lain.. (HR. Muslim dalam Kitab Sholat al-Musafirin [817])

Dari Utsman bin Affan radhiyallahuanhu, Nabi shallallahu alaihi wa


sallam bersabda, Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Quran dan
mengajarkannya. (HR. Bukhari dalamKitab Fadhail al-Quran [5027])
[6] al-Quran dan Hasad Yang Diperbolehkan
Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda, Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara: seorang lelaki
yang diberikan ilmu oleh Allah tentang al-Quran sehingga dia pun membacanya
sepanjang malam dan siang maka ada tetangganya yang mendengar hal itu lalu
dia berkata, Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan
kepada si fulan niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan.
Dan seorang lelaki yang Allah berikan harta kepadanya maka dia pun
menghabiskan harta itu di jalan yang benar kemudian ada orang yang berkata,
Seandainya aku diberikan sebagaimana apa yang diberikan kepada si fulan
niscaya aku akan beramal sebagaimana apa yang dia lakukan.. (HR. Bukhari
dalam Kitab Fadhail al-Quran [5026])
[7] al-Quran dan Syafaat
Dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallambersabda, Bacalah al-Quran! Sesungguhnya kelak ia akan datang pada
hari kiamat untuk memberikan syafaat bagi penganutnya. (HR. Muslim
dalam Kitab Sholat al-Musafirin [804])
[8] al-Quran dan Pahala Yang Berlipat-Lipat
Dari Abdullah bin Masud radhiyallahuanhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,Barangsiapa yang membaca satu huruf dalam Kitabullah maka
dia akan mendapatkan satu kebaikan. Satu kebaikan itu akan dibalas dengan
sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim satu huruf.
Akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf. (HR. Tirmidzi
dalam Kitab Tsawab al-Quran [2910], disahihkan oleh Syaikh al-Albani)
[9] al-Quran Menentramkan Hati
Allah taala berfirman (yang artinya), Orang-orang yang beriman dan hati
mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya
dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram. (QS. ar-Rad: 28).
Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai
makna mengingat Allah di sini adalah mengingat/merenungkan al-Quran. Hal
itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali
dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman
dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan alQuran (lihat Tafsir al-Qayyim, hal. 324)

[10] al-Quran dan as-Sunnah Rujukan Umat


Allah taala berfirman (yang artinya), Hai orang-orang yang beriman, taatilah
Allah dan taatilah rasul, dan juga ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila
kalian berselisih tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan rasul,
jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. (QS. an-Nisaa: 59)
Maimun bin Mihran berkata, Kembali kepada Allah adalah kembali kepada
Kitab-Nya. Adapun kembali kepada rasul adalah kembali kepada beliau di saat
beliau masih hidup, atau kembali kepada Sunnahnya setelah beliau
wafat. (lihat ad-Difa anis Sunnah, hal. 14)
[11] al-Quran Dijelaskan oleh as-Sunnah
Allah taala berfirman (yang artinya), Dan Kami turunkan kepadamu adzDzikr/al-Quran supaya kamu menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan
kepada mereka itu, dan mudah-mudahan mereka mau berpikir. (QS. an-Nahl:
44). Allah taala berfirman (yang artinya), Barangsiapa menaati rasul itu maka
sesungguhnya dia telah menaati Allah. (QS. an-Nisaa: 80).
Allah taala berfirman (yang artinya), Sungguh telah ada bagi kalian teladan
yang baik pada diri Rasulullah, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan
hari akhir. (QS. al-Ahzab: 21)
Mak-hul berkata, al-Quran lebih membutuhkan kepada as-Sunnah
dibandingkan kebutuhan as-Sunnah kepada al-Quran. (lihat ad-Difa anis
Sunnah, hal. 13). Imam Ahmad berkata,Sesungguhnya as-Sunnah itu
menafsirkan al-Quran dan menjelaskannya. (lihat ad-Difa anis Sunnah, hal.
13)
(Artikel Muslim.Or.Id)
C. Adab dan Akhlak Ketika mempelajari Al Quran.

Termasuk bentuk memuliakan Al Quran adalah memperhatikan adabadab di dalam berinteraksi dengannya. Jangan sampai kita melakukan
suatu hal yang kita anggap biasa saja ternyata malah termasuk
perbuatan tidak beradab kepada Al Quran. Waliyaadzu billah
Adab-adab Berinteraksi dengan Al Quran
1. Memegang Mushaf Al Quran dalam keadaan suci.
Sedangkan terkait dengan mushaf, maka tidak boleh bagi orang yang
dalam kondisi berhadats untuk menyentuhnya, baik hadats kecil maupun
hadats besar. Allah Taala berfirman,Tidak menyentuhnya kecuali orangorang yang disucikan.( QS. Al Waqiah: 79)

Hal ini merupakan kesepakatan para imam kaum muslimin bahwa orang
yang dalam kondisi berhadats kecil ataupun besar tidak boleh menyentuh
mushaf kecuali ditutup dengan pelapis, seperti mushaf tersebut berada di
dalam kotak atau kantong, atau dia menyentuhnya dilapisi baju atau
lengan baju (Fatwa Syaikh Shalih Fauzan dalam kitab Beliau Tadabbur Al
Quran)
Bukan termasuk mushaf yaitu Al Quran Terjemah dan sejenisnya. Karena
yang dimaksud mushaf adalah yang murni berisi ayat Al Quran. Adapun
Al Quran yang ada di aplikasi handphone zaman sekarang juga bukan
termasuk mushaf sebagaimana difatwakan oleh Syaikh Abdurrahman bin
Nashir Al-Barrak hafizhahullah,
Oleh karena itu, yang benar, HP atau peralatan lainnya, yang berisi
konten Al Quran, tidak bisa dihukumi sebagai mushaf. Karena teks Al
Quran pada peralatan ini berbeda dengan teks Al Quran yang ada pada
mushaf. Tidak seperti mushaf yang dibaca, namun seperti vibrasi yang
menyusun teks Al Quran ketika dibuka. Bisa nampak di layar dan bisa
hilang ketika pindah ke aplikasi yang lain. Oleh karena itu, boleh
menyentuh HP atau kaset yang berisi Al-Quran. Boleh juga membaca Al
Quran dengan memegang alat semacam ini, sekalipun tidak bersuci
terlebih dahulu. (http://islamqa.info/ar/106961)
2. Hendaklah yang membaca Al Quran berniat ikhlas, mengharapkan ridha
Allah, bukan berniat ingin cari dunia atau cari pujian.
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menceritakan balasan mengerikan
bagi orang yang tidak ikhlas dalam membaca Al Quran, Berikutnya
orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan
mengajarkannya serta membaca Al Quran. Ia didatangkan dan
diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun
mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: Amal apakah yang telah
engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu? Ia menjawab: Aku
menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca Al Quran
hanyalah karena engkau. Allah berkata : Engkau dusta! Engkau
menuntut ilmu agar dikatakan seorang alim (yang berilmu) dan engkau
membaca Al Quran supaya dikatakan seorang qari (pembaca Al Quran
yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).
Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan
melemparkannya ke dalam neraka. (HR. Muslim)

3. Disunnahkan membaca Al Quran dalam keadaan mulut yang bersih. Bau


mulut tersebut bisa dibersihkan dengan siwak atau bahan semisalnya
(menggosok gigi dengan pasta gigi).
Dari Ali radhiyallahuanhu berkata, Rasulullah memerintahkan kami
bersiwak, sesungguhnya seorang hamba apabila berdiri sholat malaikat
mendatanginya kemudian berdiri dibelakangnya mendengar bacaan Al
Quran dan ia mendekat. Maka ia terus mendengar dan mendekat sampai
ia meletakkan mulutnya diatas mulut hamba itu, sehingga tidaklah dia
membaca satu ayatpun kecuali berada dirongganya malaikat. (HR. Al
Baihaqi)
4. Mengambil tempat yang bersih untuk membaca Al Quran. Oleh karena
itu, para ulama sangat anjurkan membaca Al Quran di masjid. Di samping
masjid adalah tempat yang bersih dan dimuliakan, juga ketika itu dapat
meraih fadhilah itikaf.
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, Hendaklah setiap orang yang
duduk di masjid berniat itikaf baik untuk waktu yang lama atau hanya
sesaat. Bahkan sudah sepatutnya sejak masuk masjid tersebut sudah
berniat untuk itikaf. Adab seperti ini sudah sepatutnya diperhatikan dan
disebarkan, apalagi pada anak-anak dan orang awam (yang belum
paham). Karena mengamalkan seperti itu sudah semakin langka. (AtTibyan fii Adaabi hamalatil Quran).
5. Menghadap kiblat ketika membaca Al-Quran. Duduk ketika itu dalam
keadaan sakinah dan penuh ketenangan.
6. Memulai membaca Al Quran dengan membaca taawudz.
Bacaan taawudz menurut jumhur (mayoritas ulama) adalah audzu
billahi minasy syaithonir rajiim. Membaca taawudz ini dihukumi sunnah,
bukan wajib.Perintah untuk membaca taawudz di sini disebutkan dalam
ayat, Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta
perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. An-Nahl: 98)

7. Membaca bismillahir rahmanir rahim di setiap awal surat selain surat


Baraah (surat At-Taubah). Perlu diketahui memulai pertengahan surat
cukup dengan taawudz tanpa bismillahir rahmanir rahim.

8. Hendaknya ketika membaca Al Quran dalam keadaan khusyu dan


berusaha untuk mentadabburinya (merenungkan/memperhatikan) setiap
ayat yang dibaca.
Allah Taala berfirman,Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan
kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayatayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai
pikiran. (QS. Shaad: 29)
9. Banyak orang di antara kaum muslimin setiap mengakhiri bacaan Al
Quran dengan bacaan shadaqallahul adziim, apakah amalan tersebut
ada riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam? Para
Ulama menjelaskan hal tersebut tidak ada dasarnya dalam hadits
Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam maupun amalan para sahabat,
sehingga lebih baik kita tidak merutinkannya. Adapun jika dilakukan
kadang-kadang saja karena ada faktor yang menuntut, maka tidaklah
mengapa.
Namun ada riwayat yang shahih bagaimana Rasulullah Shallallahu alaihi
wasallam mengakhiri bacaan Al Quran. Dari Ibunda Aisyah radhiyallahu
anha, Beliau berkata, Tidaklah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam
duduk di suatu tempat atau membaca Al Quran ataupun melaksanakan
shalat kecuali beliau akhiri dengan membaca beberapa kalimat. Aku pun
bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, Wahai
Rasulullah, tidaklah Anda duduk di suatu tempat, membaca Al Quran
ataupun mengerjakan shalat melainkan Anda akhiri dengan beberapa
kalimat? Jawaban beliau,Betul, barang siapa yang mengucapkan
kebaikan maka dengan kalimat tersebut amal tadi akan dipatri dengan
kebaikan. Barang siapa yang mengucapkan kejelekan maka kalimat
tersebut berfungsi untuk menghapus dosa. Itulah
ucapan Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta
astaghfiruka wa atubu ilaik. (HR. An Nasai dalam Sunan Al Kubro
dan dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah (3164))
Jadi selayaknya yang kita rutinkan adalah bacaan:
Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta
astaghfiruka wa atubu ilaik.
Semoga ajaran Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang selalu kita
lestarikan dan rutinkan, sedangkan yang tidak ada dasarnya dari beliau
itulah yang dijauhi dan ditinggalkan. Dan semoga Allah mengangkat
derajat kita dengan Al Quran Sekali lagi, sebaik-baik petunjuk adalah
petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.Wallahu waliyyut taufiq.

D. Faidah mempelajari Al Quran

1. Orang yang mempelajari, mengajarkan, dan mengamalkan Al-Qur`an


termasuk insan yang terbaik, bahkan ia akan menjadi Ahlullah (keluarga Allah).
Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam bersabda.


Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkanya [HR
Bukhari]

..


Ahli Al-Qur`an adalah Ahlullah dan merupakan kekhususan baginya [HR. AnNasa`i, Ibnu Majah, Al-Hakim. Lihat: Kitab Minhajul Muslim. hal. 70]
2. Mendapatkan Syafaat dari Al-Qur`an pada hari kiamat.


Bacalah Al-Qur`an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat
memberikan syafaat bagi pembacanya.[Ahlul Quran atau Shahibul Quran
adalah orang yang membaca (mempelajari) Al- Quran dan mengamalkan
hukum-hukumnya serta beradab dengan adab-adabnya. Lihat Bahjatun Nazhirin
II/225, 230 -Red] [HR. Muslim, dari Abu Umamah Al-Bahili]
3. Shahibul Qur`an akan memperoleh ketinggian derajat disurga.


Dikatakan kepada Shahibul Qur`an (di akhirat): Bacalah Al-Qur`an dan naiklah
ke surga serta tartilkanlah (bacaanmu) sebagai mana engkau tartilkan sewaktu
di dunia. Sesungguhnya kedudukan dan tempat tinggalmu (di surga)
berdasarkan akhir ayat yang engkau baca. [HR. Imam Tirmidzi, Abu Dawud,
dari Abdillah bin Amru bin Ash Radhiyallahu anhuma] [Hadits ini dihasankan
oleh Syeikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin II/230, no:1001-Red]
4. Orang yang membaca Al-Qur`an akan mendapatkan pahala yang berlipatlipat.
Firman Allah Azza wa Jalla.

Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan


shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada
mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan
perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada
mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. [AlFathir:29-30]
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:




Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur`an) maka dia
akan memperoleh satu kebaikan dan satu kebaikan akan dibalas dengan
sepuluh kebaikan yang semisalnya. Saya tidak mengatakan ( )itu satu huruf,
akan tetapi ( )satu huruf dan ( )satu huruf seta ( )satu huruf. [HR. AtTirmidzi, Ad-Darimi dan lainya; dari Abdullah bin Mas`ud Radhiyallahu anhu]
[Hadits ini dishahihkan oleh Syeikh Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin
II/229, no:999-Red].
Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:


Orang yang Mahir membaca Al-Qur`an akan bersama para Malaikat yang Mulia,
sedangkan orang yang membaca (Al-Qur`an) dengan terbata-bata dan
mengalami kesulitan dalam membacanya, maka dia akan mendapatkan dua
pahala. [HR. Muslim dalam Shahihnya dari `Aisyah Radhiyallahu anha]
5. Sakinah (ketenangan) dan rahmat serta keutamaan akan diturunkan kepada
orang-orang yang berkumpul untuk membaca Al-Qur`an.






Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah Azza wa Jalla untuk
membaca Kitabullah (Al-Qur`an) dan mereka saling mempelajarinya kecuali
sakinah (ketenangan) akan turun kepada mereka, majlis mereka penuh dengan
rahmat dan para malaikat akan mengelilingi (majlis) mereka serta Allah akan
menyebutkan mereka (orang yang ada dalam majlis tersebut) di hadapan para
malaikat yang di sisi-Nya. [HR. Muslim]
6. Bacaan Al-Qur`an merupakan Hilyah (perhiasan) bagi Ahlul Iman (orangorang yang beriman).





Perumpamaan orang mu`min yang membaca Al-Qur`an laksana buah AlUtrujah (semacam jeruk manis) yang rasanya lezat dan harum aromanya, dan
perumpamaan orang mu`min yang tidak membaca Al-Qur`an ibarat buah AtTamr (kurma) rasanya lezat dan manis namun tidak ada aromanya, dan
perumpamaan orang munafiq yang membaca Al-Qur`an ibarat Ar-Raihanah
(sejenis tumbuhan yang harum) semerbak aromanya (wangi) namun pahit
rasanya, dan perumpamaan orang munafiq yang tidak membaca Al-Qur`an
ibarat buah Al-Handhalah (nama buah) rasanya pahit dan baunya tidak
sedap. [HR. Bukhari, Muslim dari Abi Musa Al-Asy`ary Radhiyallahu anhu].
Dan diriwayatkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam juga mengibaratkan
bagi orang mukmin yang tidak pernah membaca Al-Qur`an (tidak ada bacaan
Al-Qur`an didadanya) ibarat rumah yang tak berpenghuni; gelap, kotor, seolaholah akan roboh.



Sesungguhnya orang yang di dalam dadanya (hatinya) tidak ada bacaan AlQur`an (yakni tidak memiliki hafalannya) ibarat sebuah rumah yang hendak
roboh. [HR. At-Tirmidzi, dan lainya] [Tetapi hadits ini didhaifkan oleh Syeikh
Salim Al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin II/230, no:1000, sehingga tidak bisa
dijadikan hujjah. -Red]
7. Orang yang berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling banyak
hafalan Al-Qur`an dan luas pengetahuannya terhadap ilmu-ilmu Al-Qur`an.


Orang yang paling berhak menjadi imam (dalam shalat) adalah orang yang
paling pandai membaca Al-Qur`an. [HR. Muslim]
8. Boleh hasad kepada orang yang ahli Al-Qur`an dan mengamalkannya.


Tidak boleh hasad* kecuali kepada dua orang : (1) Seseorang yang dikaruniai
Al-Qur`an oleh Allah Taala, kemudian ia melaksanakannya, di waktu siang
maupun malam. (2) Seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah kemudian ia
bershadaqah dengannya di waktu siang maupun malam. [HR. Muslim]

* Yang dimaksud adalah ghibthah, yaitu: menginginkan kebaikan seorang tanpa


menginginkan hilangnya dari orang tersebut-Red
9. Membaca dan memahami Al-Qur`an tidak bisa disamai oleh kemewahan
harta duniawi.




Tidakkah salah seorang di antara kamu berangkat ke masjid untuk mengetahui
atau membaca dua ayat dari Kitabullah lebih baik baginya daripada dua onta,
dan tiga (ayat) lebih baik baginya dari pada tiga (onta), dan empat (ayat) lebih
baik baginya dari pada empat (onta), begitu seterusnya sesuai dengan jumlah
(ayat lebih baik) dari onta. [HR. Muslim dari Uqbah bin Amir]
10. Tilawah Al-Qur`an akan dapat melembutkan hati bagi pembacanya atau
orang yang mendengarkanya dengan baik.
11. Kedua orang tua akan dihiasi dengan mahkota pada hari kiamat.




: :
) ( 15218) ( 1456) ) .
( :( 2086.
Barangsiapa membaca Al-Qur`an dan mengamalkannya, maka -pada hari
kiamat- akan dipakaikan kepada kedua orang tuanya sebuah mahkota yang
berkilau, yang sinarnya lebih baik dari sinar mentari, maka keduanya berkata:
Mengapa kami diberi mahkota ini? Maka dikatakan: Karena anakmu
mengambil (membaca dan mengamalkannya) Al-Qur`an. [HR. Abu Dawud,
Ahmad, dan Al-Hakim] [Tetapi Syeikh Abdul Qadir Al-Arnauth mengomentari
hadits ini di dalam tahqiq kitab At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Quran, hal:16:
Isnadnya dhaif. Demikian juga didhaifkan oleh Syeikh Al-Albani di dalam
kitab Dhaif Jamiush Shaghir no:5762; Al-Misykat no:2139 dan Dhaif Abi Dawud
no:239. Maka tidak bisa dijadikan hujjah -Red]

Tambahan Syubhat tentang Al Quran.