Anda di halaman 1dari 3

Peta Indah Menuju-Mu

Oleh: RP (Malaika Az Zahra)


Apakah memang ini ajaran Tuhan?
Sakit! Padahal aku anaknya. Darah dagingnya!
***
Tamparan Abah bukan hanya meninggalkan bekas di pipi tapi juga membekas di hati. Abah lebih
sayang pada Tuhan dan bukan aku! Padahal aku telah membela Abah, tidak rela rasanya hati ini
melihat Abah dihakimi massa karena tuduhan aliran sesat.
Kutinggalkan Abah yang masih terdiam setelah menampar. Kulangkahkan kaki menuju
perpustakaan kecil dengan hujan lara di pipi. Kunyalakan komputer dan koneksi internet, sarana
pelampiasan semua kesal dengan bermain games online. Sudah hampir 6 bulan aku kecanduan
akannya.
Tanpa terasa kesadaranku mulai hilang akibat kelelahan.
Kuedarkan pandangan, ternyata aku sudah di kamar. Terdengar keramaian dari lantai bawah. Hati
mulai tidak tenang, kulangkahkan kaki menapaki anak tangga satu persatu. Tidak! Abah!
Langkah mulai tidak seimbang, kesadaran mulai menghilang, air mata berjatuhan, kuhampiri
Abah yang telah terbujur kaku.
"Abah!" rasa tidak percaya masih menghampiri, "Umi, mengapa ini bisa terjadi?"
"Abah terkena serangan jantung, Nak." terlihat di raut wajah Umi menahan tangis.
"Bu, semua telah siap. Bapak mau dimandikan." ujar Pak Somat, teman baik Abah.
Usai dimandikan dan dikafani, jenazah Abah dibawa ke masjid untuk disholatkan. Kami
menunggu sampai sholat selesai.
Aku ikut menghantarkan Abah ke rumah terakhirnya. Tangisan tak terbendung lagi saat kali
terakhir kulihat wajah Abah di liang lahat.
Satu persatu pelayat meninggalkan pemakaman, Umi mengajakku pulang. Tujuh langkah
terakhir dari makam Abah, kudengar teriakkan Abah "ahhhh" begitu kencang, seperti menahan
sakit. Hati dan pikiran saling sesautan. Ada apakah ini? Bukankah Abah pemegang teguh agamaNya, tak peduli walau harus terluka?
Tetes air mata kembali, pikiran menerawang jauh kebelakang akan pesen Abah "kalau setiap
perbuatan anak dan istri akan menjadi tanggung jawab dari seorang suami." tangisan semakin
mengharu biru, kala teriakkan Abah terdengar lagi dari makamnya.
Teringat kejadian kemarin malam akan perkataan ketidakpercayaanku terhadap Tuhan. Dalam
hati terus berdoa, "Ya Allah, ampuni semua salahku, ampuni aku karena tidak percaya akan adaMu. Jangan biarkan Abah mempertanggungjawabkan semua salah-salahku. Aku mohon Ya
Mujib beri aku kesempatan memperbaiki semua sikapku yang salah." dengan terus berjalan

memutar arah, menghampiri makam Abah. Naas, kakiku tersandung di salah satu makam,
membuat keseimbang goyang dan aku pun terjatuh dengan kepala membentur ubin makam.
Ahhhhh!
Aku tersentak, hampir saja kujatuhkan gelas yang berada satu meja dengan komputerku.
Kesadaranku pulih, ternyata hanya mimpi. Jam 3 pagi terlihat di komputer . Ternyata aku tertidur
di depannya, kulangkahkan kaki menuju lantai bawa, terlihat Abah sedang sholat malam.
Aku kembali ke atas, bergegas mengambil wudhu untuk menunaikan sholat taubat. Kuraih
mukena, tak lupa juga Al-qur'an yang sudah lama tak kusentuh, efek dari games online yang
membuatku lupa waktu.
Saat shubuh menyapa, kuhampiri Abah dan Umi untuk sholat berjamaah. Mereka menyambut
bahagia. Aku sadar tidak mempercayai ada-Nya adalah kesalahan dan memegang teguh agama
adalah suatu keharusan walau apapun menghadang. Seperti tafsir yang kubaca tadi, "Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : Kami telah beriman, sedang
mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya KAMI telah menguji orang-orang yang sebelum
mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang-orang yang benar dan
sesungguhnya DIA mengetahui orang-orang yang dusta. [1]
Kuucapkan maaf kepada Abah selesai sholat, "maafin, Zahra, Bah. Zahra salah tidak
mempercayai ada-Nya, mata hati Zahra telah tertutup karena lalai, lupa semua dididikan Abah
dari kecil soal agama."
"Sayang, Abah sudah maafin kamu bahkan sebelum kamu meminta maaf." Abah mencium
keningku. "Sungguh hati itu cepat berkarat. Beningkan ia dengan membaca Al-Quran, mengingat
mati, dan menghadiri majelis zikir dan majelis ilmu." [2]
"Iya, Bah. Zahra mengerti." kupalingkan wajah ke arah Umi yang terlihat bahagia.
Itulah peta petunjuk dari Tuhan akan perjalananku yang sempat tersesat akan nikmat dunia dan
membuat lalai akan perintah-Nya. Kini, kami sekeluarga tetap teguh memegang ajaran agamaNya.
[1] surat Al Ankabuut (29), ayat 2-3
[2] HR. Baihaqi
BTA, 2 Februari 2015.
_______________________________________
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : Kami telah beriman,
sedang mereka tidak diuji lagi (2) Dan sesunggunya KAMI telah menguji orang2 yang sebelum
mereka, maka sesungguhnya ALLAH mengetahui orang2 yang benar dan
sesungguhnya DIA mengetahui orang2 yang dusta (3). (Al-Quran, surat Al Ankabuut (29),
ayat 2-3).

"Sungguh hati itu cepat berkarat. Beningkan ia dengan membaca Al-Quran, mengingat mati, dan
menghadiri majelis zikir dan majelis ilmu," (HR. Baihaqi).
Peta Indah Menuju-Mu
Huh! Kalau berbicara tentang Tuhan, tak akan ada ujungnya. Karena bagi mereka! Hanya Tuhan.
Dan tak peduli walau harus terluka, buktinya mereka memegang teguh agamanya.
Ada beribu tanya di hatiku, menggerogoti pikiranku. Kemana Tuhan, saat Abah dihakimi masa
karena tuduhan aliran sesat? Bukankah Abah orang yang paling taat beribadah!
Dimanakah keadilan Tuhan!!!
Kuberanikan diri bicara dengan Abah. Karena memang bukan aku yang salah! Abah, Ibu,
Mereka yang begitu mengerti tentang Tuhan! Mereka yang salah.
"Bah, aku sudah besar! Mengerti benar kehidupan, dan itu yang membuatku tak percaya sama
Tuhan."
"Kamu jangan bicara seperti itu! Kamu mau Tuhan murka?"
"Kalo Tuhan memang ada! Dimana Tuhan waktu Abah dihakimi massa! Kenapa Tuhan tidak
murka terhadap mereka yang menuduh Abah yang macam-macam."
"Kamu mulai kurang ajar! Kamu dididik agama dari kecil bukan untuk menghina Tuhan. Tapi
supaya tahu darimana Kamu berasal!"
"Mau Abah gomong beribu kalipun, tak ada lagi kepercayaan di hatiku. Karena Tuhan tidak ada
saat Abah susah! Padahal Abah orang yang taat beragama."
Plaak!!!
Abah menamparku! Hanya karena membela Tuhan. Padahal aku sedang membela Abah! Sakit
hatiku melihat Abah dihakimi massa. Tapi aku lebih sakit! Abah lebih sayang pada Tuhan dan
bukan aku.
Sakit! Padahal aku anaknya. Darah dagingnya! Apakah memang ini ajaran Tuhan?