Anda di halaman 1dari 18

Pengertian Suksesi dalam Ekosistem

Seiring bertambahnya waktu, perlahan-lahan suatu ekosistem akan mengalami perubahan dari
kondisis semula.Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut sangat mudah untuk diamatidan
biasanya dalam perubahan itu terdapat pergantian komunitas dalam ekosistem tersebut.
Pengertian suksesi adalah proses perubahan ekosistem dalam kurun waktu tertentu menuju
ke arah lingkungan yang lebih teratur dan stabil. Proses suksesi akan berakhir apabila
lingkungan tersebut telah mencapai keadaan yang stabil atau telah mencapai klimaks.
Ekosistem yang klimaks dapat dikatakan telah memiliki homeostatis, sehingga mampu
mempertahankan kestabilan internalnya.
Pada suksesi terdapat dua jenis, yaitu yang dikenal dengan suksesi primer dan suksesi
sekunder, yang membedakan antara suksesi primer dan suksesi sekunder terletak pada
kondisi awal proses suksesi terjadi, dibawah ini penjelasan mengenai suksesi primer dan
suksesi sekunder
1. Suksesi primer
Suksesi primer terjadi ketika komunitas awal terganggu dan mengakibatkan hilangnya
komunitas awal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal tersebut akan
terbentuk substrat dan habitat baru. Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah
longsor, letusan gunung berapi, endapan lumpur yang baru di muara sungai, dan endapan
pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan
timah, batubara, dan minyak bumi.
Contoh yang terdapat di indonesia adalah terbentuknya suksesi di gunung krakatau yang
pernah meletus pada tahun 1883. Di daerah bekas letusan gunung krakatau mula-mula
muncul pioner berupa lumut kerak (lichenes) serta tumbuhan lumutyang tahan terhadap
penyinaran matahari dan kekeringan. Tumbuhan perintis ini mulai melakukan pelapukan pada
daerah permukaan lahan, sehingga terbentuk tanah sederhana. Bila tumbuhan perintis mati,
maka akan mengundang datangnya pengurai.
Zat yang terbentuk karena aktivitas penguraian bercampur dengan hasil pelapukan lahan
membentuk tanah yang lebih kompleks susunannya. Dengan adanya tanah ini, biji yang
datang dari luar daerah dapat tumbuh dengan subur. Kemudian rumput yang tahan kekeringan
tumbuh. Bersamaan dengan itu tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tanaman pioner
yang menaunginya. Kondisi demikian tidak menjadikan pioner subur tapi sebaliknya.
Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terus mengadakan pelapukan
lahan. Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi
lebih tebal. Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak menaungi rumput dan belukar maka
terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak mejadi dominan kemudian pohon mendesak
tumbuhan belukar sehingga terbentuklah hutan. Saat itulah ekosistem tersebut mencapai
kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi
sangat kecil sehingga tidak banyak mengubah ekosistem itu.
2. Suksesi sekunder
Apabila dalam suatu ekosistem alami mengalami gangguan,baik secara alami ataupun buatan
(karena manusia), dan gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme yang
ada sehingga dalam ekosistem tersebut substrat lama dan kehidupan lama masih ada.
Contohnya gangguan alami misalnya banjir, gelombang laut, kebakaran, angin kencang, dan
gangguan buatan seperti penebangan hutan dan pembakaran padang rumput dengan sengaja

Faktor yang mempengaruhi proses suksesi, yaitu :


Luasnya habitat asal yang mengalami kerusakan
Jenis-jenis tumbuhan di sekitar ekosistem yang terganggu
Kecepatan pemancaran biji atau benih dalam ekosistem tersebut
Iklim terutama arah dan kecepatan angin yang membawa biji, spora, dan benih lain serta
curah
hujan yang sangat berpengaruh daam proses perkecambahan
5. Jenis substrat baru yang terbentuk
1.
2.
3.
4.

TAHAPAN & MACAM-MACAM SUKSESI


Jumat, 05 November 2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan-perubahan yang terjadi dalam komunitas dapat dengan mudah
diamati dan seringkali perubahan itu berupa pergantian satu komunitas oleh
komunitas lain. Dapat kita lihat misalnya pada sebidang kebun jagung yang
setelah panen ditinggal dan tidak ditanami lagi. Disitu akan bermunculan
berbagai jenis tumbuhan gulma yang membentuk komunitas. Apabila lahan itu
dibiarkan cukup lama, dalam komunitas yang terbentuk dari waktu ke waktu
akan terjadi pergantian komposisi jenis. Bila kita amati dalam urun waktu
tertentu akan terlihat bahwa komunitas yang terbentuk pada akhir kurun waktu
tersebut akan berbeda, baik komposisi jenis maupun strukturnya, dengan
komunitas yang terbentuk pada awal pengamatan. Pada masa awal dapat saja
komunitas yang terbentuk tersusun oleh tumbuhan terna (seperti badotan,
rumput pahit, rumput teki, dan sebagainya). Tetapi beberapa tahun kemudian di
tempat yang sama, yang terlihat adalah komunitas yang sebagian besar
tersusun oleh tumbuhan perdu dan pohon (seperti kirinyu, senduduk, laban, dan
sebagainya), atau dapat pula hanya terdiri atas alang-alang. Bila tidak terjadi
gangguan apapun selama proses tersebut berjalan akan terlihat bahwa
perubahan itu berlangsung ke satu arah.
Proses perubahan dalam komunitas yang berlangsung menuju ke satu arah
secara teratur disebut suksesi. Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi
lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir
dengan sebuah komunitas atau ekosistem yang disebut klimaks. Dikatakan
bahwa dalam tingkat klimaks ini komunitas telah mencapai homeostatis. Ini
dapat diartikan bahwa komunitas sudah dapat mempertahankan kestabilan
internalnya sebagai akibat dari tanggap (response) yang terkoordinasi dari
komponen-komponennya terhadap setiap kondisi atau rangsangan yang
cenderung mengganggu kondisi atau fungsi normal komunitas. Jadi bila suatu
komunitas telah mencapai klimaks, perubahan yang searah tidak terjadi lagi,
meskipun perubahan-perubahan internal yang diperlukan untuk
mempertahankan kehadiran komunitas berlangsung secara sinambung.

Diposkan oleh EKTUM KELOMPOK VI di 04.54 Tidak ada komentar:


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan
ke Pinterest
Konsep yang menyatakan bahwa suksesi berlangsung secara teratur, pasti,
terarah, dapat diramalkan, dan berakhir dengan komunitas klimaks merupakan
konsep lama yang umumnya masih diikuti dan diterima. Menurut konsep
mutakhir suksesi ini tidak lebih dari pergantian jenis yang oportunis (jenis-jenis
pionir) oleh jenis-jenis yang lebih mantap dan dapat menyesuaikan secara lebih
baik dengan lingkungannya. Meskipun demikian uraian tentang suksesi dalam
tulisan ini masih berpaling pada konsep lama.
Dalam suksesi dikenal suksesi primer dan suksesi sekunder. Perbedaan antara
dua macam suksesi ini terletak pada kondisi habitat pada awal proses suksesi
terjadi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka rumusan masalah yang dapat
kami susun adalah sebagai berikut:
1) Apakah pengertian suksesi?
2) Apa sajakah macam-macam dari suksesi?
3) Bagaimana tahapan-tahapan suksesi?
Diposkan oleh EKTUM KELOMPOK VI di 04.53 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan
ke Pinterest
1.3 Tujuan Masalah
Dalam rumusan masalah diatas terdapat beberapa tujuan dan manfaat
diantaranya:
1) Untuk mengetahui pengertian secara luas mengenai suksesi.
2) Untuk mengetahui apa sajakah macam-macam suksesi.
3) Untuk mengetahui proses tahapan-tahapan suksesi.
1.4 Batasan Masalah
Batasan-batasan permasalahan yang dibahas adalah dengan pokok bahasan
sebagai berikut:
1) Menjelaskan pengertian dari suksesi.
2) Menyebutkan dan menjelaskan macam-macam suksesi.
3) Menjelaskan tahapan-tahapan suksesi.

1.5 Metode Penulisan


Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah dengan
menggunakan metode studi teks (studi kepustakaan) dimana dalam penulisan
makalah ini penulis melakukan kegiatan penelusuran dan penelaahan literatur
dan hasil data-data yang diperoleh dari buku-buku, internet, koran, maupun

majalah sehingga metode ini sangat menuntut ketekunan dan kecermatan


pemahaman penulis.
Diposkan oleh EKTUM KELOMPOK VI di 04.52 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan
ke Pinterest
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Suksesi
Suksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara teratur
yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga
terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. Dengan
perkataan lain suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak
seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai akibat modifikasi
lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem.
Akhir proses suksesi komunitas yaitu terbentuknya suatu bentuk komunitas
klimaks. Komunitas klimaks adalah suatu komunitas terakhir dan stabil (tidak
berubah) yang mencapai keseimbangan dengan lingkungannya. Komunitas
klimaks ditandai dengan tercapainya homeostatis atau keseimbangan, yaitu
suatu komunitas yang mampu mempertahankan kestabilan komponennya dan
dapat bertahan dari berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan.
Faktor penyebab terjadinya suksesi antara lain sebagai berikut:
1. Iklim
Tumbuhan tidak akan dapat tumbuh teratur dengan adanya variasi yang lebar
dalam waktu yang lama. Fluktuasi keadaan iklim kadang-kadang membawa
akibat rusaknya vegetasi baik sebagian maupun seluruhnya. Dan akhirnya suatu
tempat yang baru (kosong) berkembang menjadi lebih baik (daya adaptasinya
besar) dan mengubah kondisi iklim. Kekeringan, hujan salju/air dan kilat
seringkali membawa keadaan yang tidak menguntungkan pada vegetasi.
2. Topografi
Suksesi terjadi karena adanya perubahan kondisi tanah, antara lain:
a. Erosi
Erosi dapat terjadi karena angin, air dan hujan. Dalam proses erosi tanah
menjadi kosong kemudian terjadi penyebaran biji oleh angin (migrasi) dan
akhirnya proses suksesi dimulai.

b. Pengendapan (denudasi)
Erosi yang melarutkan lapisan tanah, di suatu tempat tanah diendapkan
sehingga menutupi vegetasi yang ada dan merusakkannya. Kerusakan vegetasi
menyebabkan suksesi berulang kembali di tempat tersebut.
Diposkan oleh EKTUM KELOMPOK VI di 04.51 Tidak ada komentar:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan


ke Pinterest
3. Biotik
Pemakan tumbuhan seperti serangga yang merupakan pengganggu di lahan
pertanian demikian pula penyakit mengakibatkan kerusakan vegetasi. Di padang
penggembalaan, hutan yang ditebang, panen menyebabkan tumbuhan tumbuh
kembali dari awal atau bila rusak berat berganti vegetasi.
2.2 Macam-macam Suksesi
Para ahli ekologi menentukan dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan
suksesi sekunder.
2.2.1. Suksesi Primer
Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas asal terganggu secara total sehingga
kemudian membentuk komunitas baru. Komunitas tersebut terdiri atas jenis
makhluk hidup yang berbeda dengan jenis makhluk hidup komunitas asal.
Gangguan yang dialami komunitas tersebut dapat terjadi secara alami maupun
oleh campur tangan manusia. Gangguan secara alami dapat berupa tanah
longsor, letusan gunung berapi, dan endapan lumpur di muara sungai. Gangguan
oleh campur tangan manusia dapat berupa kegiatan penambangan (batu bara,
timah, dan minyak bumi).
Proses suksesi primer dapat dimulai pada permukaan lapisan batuan, pasir,
dan perairan tergenang. Permukaan batuan yang telanjang bukanlah tempat
yang nyaman untuk dijadikan tempat tinggal suatu makhluk hidup. Tempat
tersebut dapat mengalami perubahan suhu yang sangat cepat, kurang lembap,
mengandung sedikit nutrient, dan sangat terbuka sehingga suatu makhluk hidup
berpotensi mengalami kerusakan oleh terpaan angin. Meskipun tempat tersebut
sangat tidak nyaman, tetapi ada kelompok makhluk hidup tertentu yang mampu
bertahan hidup. Kelompok makhluk hidup tersebut disebut kouonitas pionir dan
makhluk hidupnya disebut makhluk hidup pionir. Disebut demikian karena
mereka yang pertama kali menghuni suatu tempat. Adapun yang termasuk
makhluk hidup pionir antara lain adalah liken, ganggang, bakteri, dan jamur.
Liken merupakan tumbuhan hasil simbiosis antara ganggang dan jamur.
Pertumbuhan liken sangat lambat, mungkin membutuhkan waktu sertus tahun
untuk mempunyai ukuran seluas piring. Dalam ekosistem sederhana itu, liken
berperan sebagai produser sehingga mengundang makhluk hidup kecil lainnya
untuk hidup di tempat tersebut. Tumbuhnya liken juga mengakibatkan
fragmentasi batuan menjadi bahan-bahan pembentuk tanah yang merupakan
kunci menuju suksesi berikutnya.
Diposkan oleh EKTUM KELOMPOK VI di 04.50 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan
ke Pinterest
Selanjutnya bahan-bahan pembentuk tanah menyatu membentuk lapisan tipis
tanah sehingga dapat mendukung keberadaan jamur, beberapa jenis cacing,
insekta, protozoa dan beberapa jenis tumbuhan kecil ( misalnya rumput). Tiap

jenis dalam komunitas mini tersebut akan melangsungkan proses reproduksi,


metabolisme, pertumbuhan, dan beberapa diantaranya mengalami kematian
yang akan menambah materi organik untuk proses pembentukan tanah. Pada
tahap demikian komunitas liken akan hilang digantikan oleh komunitas
tumbuhan kecil yang hidup musiman (perenial).
Komunitas rumput perenial tidak akan lama bertahan. Komunitas tersebut
akan digantikan oleh semak dan secara bergiliran akan digantikan lagi oleh
pohon yang lebih banyak membutuhkan sinar matahari. Pada saat komunitas
didominasi oleh pohon yang suka ditempat terbuka, biasanya dilapisan bawah
akan tumbuh bibit / anak pohon yang tahan naungan. Pada akhirnya, pohon yang
tahan naungan tersebut tumbuh melebihi tinggi pohon yang suka sinar dengan
pertambahan jumlah anakan pohon yang juga lebih banyak. Akibatnya,
komunitas pohon yang suka sinar matahari akan tergantikan oleh komunitas
pohon tahan naungan. Komunitas terakhir ini biasanya relative stabil, tahan
lama, jenis makhluk hidupnya lebih banyak dan lebih kompleks, dan didalamnya
berlangsung berbagai interaksi antar anggota komunitas. Komunitas demikian
disebut komunitas klimaks.
Komunitas klimaks merupakan akhir dari serangkaian proses suksesi. Artinya,
komunitas demikian dapat dicapai setelah melalui beberapa tahap suksesi. Tiaptiap tahap suksesi tersebut disebut tahap suksesional, sedangkan seluruh
rangkaian tahapan suksesi dikenal dengan istilah sere. Beberapa ciri komunitas
klimaks antara lain adalah sebagai berikut:
a) Mampu menyokong kehidupan seluruh spesies yang hidup didalamnya.
b) Mengandung lebih banyak makhluk hidup dan macam bentuk interaksi
dibandingkan komonitas suksesional.
Di Indonesia proses suksesi primer berhasil diamati didaerah bekas gunung
Krakatau yang meletus dahsyat pada tahun 1883. Kawasan yang sebelumnya
tertutup oleh lapisan lahar membantu mulai menunjukkan adanya kehidupan
dengan hadirnya makhluk hidup pionir, yaitu berupa liken. Sampai saat ini
daerah bekas letusan gunung tersebut masih menampakkan tanda-tanda proses
suksesi.
Diposkan oleh EKTUM KELOMPOK VI di 04.49 Tidak ada komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan
ke Pinterest
2.2.2. Suksesi Sekunder
Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak
bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat
kehidupan / substrat seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi
dari tahap awal, tetapi tidak dari komunitas pionir.
Gangguan yang menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari
peristiwa alami atau akibat kegiatan manusia. Gangguan alami misalnya angin
topan, erosi, banjir, kebakaran, pohon besar yang tumbang, aktivitas vulkanik,
dan kekeringan hutan. Gangguan yang disebabkan oleh kegiatan manusia
contohnya adalah pembukaan areal hutan.
Proses suksesi sangat terkait dengan faktor lingkungan, seperti letak lintang,

iklim, dan tanah. Linkungan sangat menentukan pembentukan struktur


komonitas klimaks. Misalnya, jika proses suksesi berlangsung di daerah beriklim
kering, maka proses tersebut akan terhenti (klimaks) pada tahap komunitas
rumput; jika berlangsung di daerah beriklim dingin dan basa, maka proses
suksesi akan terhenti pada komunitas (hutan) conifer; serta jika berlangsung di
daerah beriklim hangat dan basah, maka kegiatan yang sama akan terhenti pada
hutan hujan tropik.
Diposkan oleh EKTUM KELOMPOK VI di 04.48 2 komentar:
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan
ke Pinterest
Posting Lama Beranda
Langganan: Entri (Atom)

Pengikut
Arsip Blog

2010 (18)
o

November (18)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perubaha...

Konsep yang menyatakan bahwa suksesi berlangsu...

1.3 Tujuan Masalah Dalam rumusan masalah diatas te...

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Suksesi Suksesi ...

3. Biotik Pemakan tumbuhan seperti serangga yang m...

Selanjutnya bahan-bahan pembentuk tanah menyat...

2.2.2. Suksesi Sekunder Suksesi sekunder terjadi j...

Laju proses suksesi sangat beragam, tergantung kon...

2.2.3 Konsep klimaks Suksesi tanaman merupakan pe...

Karena iklim sendiri menentukan pembentukan klimak...

Gangguan dapat menyebabkan modifikasi klimaks yang...

3. Teori informasi Teori ini dikemukakan oleh Odum...

2.3 Tahap tahap Suksesi Secara umum, tahap-tahap...

Siklus unsur hara berkembang dengan sangat cepat. ...

Dalam akhir fase, akumulasi biomasa berangsur-angs...

Perlahan-lahan suatu kondisi keseimbangan yang sta...

Dari pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpul...

Adhyzal, Kandary. 2008. http://sobatbaru.blogspot....

Mengenai Saya

EKTUM KELOMPOK VI
Lihat profil lengkapku

Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogger.


Klimak
KLIMAKS

A. PENGERTIAN KLIMAKS
Tingkat terakhir dari proses suksesi dicapai ketika komunitas tersebut
stabil. Komunitas terakhir ini biasanya relatif stabil, tahan lama, jenis makhluk
hidupnya lebih banyak dan lebih kompleks, dan di dalamnya berlangsung
berbagai interaksi antar anggota komunitas. Komunitas demikian disebut
komunitas klimaks. Komunitas klimaks merupakan akhir dari serangkaian proses
suksesi. Artinya, komunitas demikian dapat dicapai setelah melalui beberapa
tahap suksesi. Komunitas klimaks adalah komunitas terakhir dan stabil (tidak
berubah) yang mencapai keseimbangan dengan lingkungannya. Komunitas
klimaks ditandai dengan tercapainya keseimbangan yaitu suatu komunitas yang
mampu mempertahankan kestabilan komponennya dan dapat bertahan dari
berbagai perubahan dalam system secara keseluruhan. Tiap-tiap tahap suksesi
tersebut disebut tahap suksesional, sedangkan seluruh rangkaian tahapan
suksesi dikenal dengan istilah sere. Beberapa ciri komunitas klimaks antara lain
adalah sebagai berikut.

1.
2.

Mampu menyokong kehidupan seluruh spesies yang hidup di dalamnya.


Mengandung lebih banyak makhluk hidup dan macam macam bentuk
interaksi dibandingkan komunitas suksesional.
Setelah melalui beberapa tahapan perkembangan ekosistem atau sere,
suatu ekosistem dapat mencapai tahapan akhir klimaks atau dapat pula
dianggap sebagai puncak perkembangan ekosistem. Salah satu ciri pada
komunitas klimaks yaitu dengan tidak terdapatnya penumpukan zat organik
netto tahunan. Hal ini disebabkan karena produksi tahunan komunitas seimbang
dengan konsumsi tahunan.
Banyak ahli berpendapat bahwa iklim klimaks pada suatu wilayah belum
tentu dapat dicapai walau komunitas yang sudah mantap sekalipun, karena
masih menunjukkan adanya perubahan, penyesuaian dan pembusukan. Hal ini
didasari oleh kenyataan bahwa perubahan suatu komunitas dipengaruhi oleh
kejadian-kejadian yang terdapat dalam komunitas tersebut. Berdasarkan hal
tersebut telah dipakai kesepakatan bahwa hampir tidak mungkin pada suatu
wilayah mencapai iklim klimaks, sehingga iklim klimaks tunggal merupakan
komunitas teoritis yang dituju semua suksesi dalam perkembangan pada suatu
daerah, asalkan keadaan lingkungan fisik secara umum tidak terlalu ekstrem
sehingga dapat mampu mempengaruhi iklim lingkungan. Umumnya suksesi
berakhir pada klimaks edaphik, dengan hanya terkait pada masing-masing
pengaruh faktor pembatas fisik pada wilayah setempat.
Meskipun suksesi pada suatu ekosistem untuk dapat mencapai klimaks
membutuhkan waktu yang tidak sebentar, namun cepat lambatnya masih
tergantung pula oleh tingkatan suksesi yang terjadi kepadanya. secara umum
terdapat dua macam ekosistem suksesi yaitu, ekosistem suksesi primer dan
ekosistem suksesi sekunder. Ekosistem suksesi primer lebih dinyatakan pada
berkembangnya

ekosistem

tersebut

melalui

substrat

yang

baru.

Artinya

kehidupan yang ada pada ekosistem tersebut setelah perlakuan benar-benar


dimulai dari nol, dan harus dimulai dari kerja organisme pionir dengan segala
perlakuan dari faktor pembatas fisik yang ada. Sedangkan ekosistem suksesi
sekunder berkembang setelah ekosistem alami rusak total tetapi dimulai dengan
tidak terbentuk substrat yang baru, atau dapat dianggap sebagai dimulainya
kehidupan baru setelah adanya gangguan pada ekosistem alami.
(http://massofa.wordpress.com/2008/09/23/sejarah-dan-ruang-lingkupekologi-dan-ekosistem/ksesi

Contoh suksesi sekunder salah satunya yaitu kebakaran hutan tahun


1994 yang terjadi di Bukit Pohen Cagar Alam Batukahu telah menyisakan
kerusakan

sebagian

areal

kawasan

konservasi.

Restorasi

ekologi

dipertimbangkan sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi pemulihan


kerusakan kawasan tersebut. Dalam upaya menyusun model restorasi yang
sesuai untuk kawasan Bukit Pohen, telah dilakukan survey dilapangan mengenai
kondisi vegetasinya. Hasil survey lapangan menunjukkan bahwa sedang terjadi
suksesi sekunder di kawasan ini dengan kehadiran beberapa jenis indikator
seperti Eupatorium, Melastoma dan Homalathus. Spesies lokal penting seperti
Dacrycarpus imbricatus juga ditemukan di bekas areal yang terbakar dan mulai
ber-regenerasi. Di dalam makalah ini juga didiskusikan usulan konsep restorasi
yang terintegrasi untuk membantu memulai perbaikan ekosistem di kawasan ini.
(Sutomo, 2009. Jurnal Biologi XIII (2) : 45)
Di dalam kondisi klimaks ini spesies-spesies itu dapat mengatur dirinya
sendiri dan dapat mengolah habitat sedemikian rupa sehingga cenderung untuk
melawan inovasi baru. Di dalam konsep klimaks ini Clements berpendapat:
1.

Suksesi dimulai dari kondisi lingkungan yang berbeda, tetapi akhirnya punya
klimaks yang sama.

2.

Klimaks hanya dapat dicapai dengan kondisi iklim tertentu, sehingga klimaks
dengan iklim itu saling berhubungan. Dan kemudian klimaks ini disebut klimaks
klimatik.

3.

Setiap kelompok vegetasi masing-masing mempunyai klimaks.


Karena iklim sendiri menentukan pembentukan klimaks maka dapat
dikatakan bahwa klimaks klimatik dicapai pada saat kondisi fisik di sub stratum
tidak begitu ekstrem untuk mengadakan perubahan terhadap kebiasaan iklim di
suatu wilayah. Kadang-kadang klimaks dimodifikasi begitu besar oleh kondisi
fisik tanah seperti topografi dan kandungan air. Klimaks seperti ini disebut
klimaks edafik. Secara relatif vegetasi dapat mencapai kestabilan lain dari
klimatik atau klimaks yang sebenarnya di suatu wilayah. Hal ini disebabkan
adanya tanah habitat yang mempunyai karakteristik yang tersendiri.
Jadi, di dalam wilayah tertentu dapat dikenali adanya:

1.

Klimaks tunggal yang klimatiks, yaitu yang bersifat berkeseimbangan dengan


iklim secara umum

2.

Klimaks edafik yang cacahnya berbeda-beda, yang termodifikasi oleh kondisi


substrat lokal.
Klimaks klimatik ialah komunitas teoretik yang merupakan kecenderungan
tujuan semua perkembangan suksesional di wilayah manapun, komunitas

klimatik ini akan dapat terjadi jika kondisi fisik substrat tidak terlalu ekstrem.
Suksesi akan berakhir pada suatu klimaks yang edafik pada topografi, tanah, air,
api, atau gangguan lain sehingga klimaks klimatik tak dapat berkembang. Bila
komuitas stabil, tetapi bkan klimaks klimatik atau klimkas edafik, dipelihara oleh
manusia dan hewan ternaknya maka dapat dinamakan disklimaks (=klimaks
gangguan) atau subklimaks anthropogenik. (Soetjipta, 1993 :192)
Adakalanya vegetasi terhalang untuk mencapai klimaks, oleh karena
beberapa faktor selain iklim. Misalnya adanya penebangan, dipakai untuk
penggembalaan hewan, tergenang dan lain-lain. Dengan demikian vegetasi
dalam tahap perkembangan yang tidak sempurna (tahap sebelum klimaks yang
sebenarnya) baik oleh faktor alam atau buatan. Keadaan ini disebut sub
klimaks. Komunitas tanaman sub klimaks akan cenderung untuk mencapai
klimaks sebenarnya jika faktor-faktor penghalang/penghambat dihilangkan.
Telah dijelaskan bahwa akhir suksesi adalah terbentuknya suatu
komunitas klimaks. Berdasarkan tempat terbentuknya, terdapat tiga jenis
komunitas klimaks sebagai berikut :
1.

Hidroser yaitu sukses yang terbentuk di ekosistem air tawar.

2.

Haloser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air payau

3.

Xeroser yaitu sukses yang terbentuk di daerah gurun.


Pembentukkan komunitas klimaks sangat dipengaruhi oleh musim dan
biasanya komposisinya bercirikan spesies yang dominan.
(http://sobatbaru.blogspot.com/2008/06/pengertian-suksesi.html )
Suksesi meliputi pengorganisasian sendiri dan perubahan dimana
ekosistem ekosistem menjadi mantap dan kadang-kadang kembali ke awal
(retrogress). Suksesi dipertimbangkan berakhir apabila suatu pola ke suatu
kondisi yang kurang terorganisir memulai melakukan suksesi lagi. Klimaks
adalah merupakan puncak pertumbuhan. (Odum, 1992 : 456)
Meskipun klimaks adalah relatif stabil dan bertahan lama sebagaimana
kalau dibandingkan dengan tahap permulaannya, hal ini tidak diketahui bila
suatu komunitas adalah komplit self pertuating dan permanen. Catastrophes
seperti kilat, kebakaran, dan periode yang panjang dari kekeringan dapat
memperpendek jangka hidup dari suatu komunitas. Sebagai contoh, bila suatu
padang rumput menunjukkan menunjukkan suatu seri dari tahun kekeringan, ia
akan kembali ke belakang pada tahap suksesi awalnya mengandung lebih dari
tahunannya dan perenial kehidupan yang pendek. Di sana beberapa kejadian
yang menunjukkan bahwa suatu proses umur kemungkinan mengambil tempat
pada hutan yang telah lama. Jadi, pohon-pohon muda mungkin tidak
menggantikan pohon yang lebih dewasa yang mati, daur mineral dan aliran
energi rata-rata akan menjadi turun secara lambat. Beberapa ahli ekologi
menyatakan bahwa pada klimaks yang lama dapat menjadi mati dan dapat
digantikan oleh komunitas yang muda, kemungkinannya berbeda dalam

peningkatan spesiesnya. Karena itu, tidak banyak diketahui tentang pada waktu
sekarang dan lebih banyak studi perlu banyak dilakukan. (Ramli, 1989 : 175)
Contoh vegetasi yang mengalami gangguan berupa kebakaran adalah
pada hutan Bukit Pohen yang merupakan salah satu situs dari Cagar Alam
Batukahu pada tahun 1994 mengalami kebakaran hutan dan mengakibatkan
pengurangan luasan hutan sebesar 30,4 Ha. Untuk mendapatkan gambaran
mengenai kondisi vegetasinya dilakukan survei pada titik pengamatan di lokasi
yang terkena kebakaran. Seperti terlihat pada gambar, pada lokasi ini terdapat
rumpang atau gap yang cukup luas akibat kehilangan penutupan tajuk hutan
oleh api. Kondisi terbuka ini menyebabkan perubahan iklim mikro dan komposisi
serta struktur vegetasinya. Hutan ini adalah hutan sekunder yang tengah
berproses ke arah komunitas klimaks setelah terjadinya kebakaran hebat pada
tahun 1994.

B.

TEORI KLIMAKS
Gangguan dapat menyebabkan modifikasi klimaks yang sebenarnya dan
ini menyebabkan terbentuknya sub klimaks yang berubah (termodifikasi).
Keadaan seperti ini disebut disklimaks (Ashby, 1971). Sebagai contoh vegetasi
terbakar menyebabkan tumbuh dan berkembangnya vegetasi yang sesuai
dengan tanah bekas terbakar tersebut. Odum (1961) mengistilahkan klimaks
tersebut dengan pyrix klimaks. Tumbuh-tumbuhan yang dominan pada pyrix
klimaks antara lain: Melastoma polyanthum, Melaleuca leucadendron dan
Macaranga sp. Contohnya di Bukit Pohen, suksesi sekunder pada tahap fallow
stage tengah berjalan, yang ditandai dari dominansikehadiran jenis-jenis seperti
Eupatorium odoratum,Melastoma malabathricum Lantana dan Rubus. Van
Steenis, (1972) juga melaporkan adanya dominasi jenis Eupatorium pada hutan
sekunder muda bekas perkebunan teh di Cibodas. Demikan pula halnya di petak
tujuh hutan lindung Kaliurang Yogyakarta yang bekas terbakar dijumpai pula
Eupatorium sebagai dominansi jenis tumbuhan bawahnya (Sutomo, 2004).
Demikian pula Melastoma yang memang kerap dijumpai hidup di lokasi-lokasi
alami yang terganggu karena pembukaan lahan pada ketinggian tempat hingga
3000 m d.p.l . Selain terna, pada tingkat pohon juga banyak terdapat jenis pohon
Homalanthus giganteus di bekas lahan kebakaran hutan di Bukit Pohen.
Jika pergantian iklim secara temporer menghentikan perkembangan
vegetasi sebelum mencapai klimaks yang diharapkan disebut pra klimaks (pre
klimaks). Berhubungan dengan berbagai klimaks maka terdapat kekaburan arti
klimaks. Oleh karena terjadi ketidak sepakatan kemudian berkembang tiga teori
klimaks dengan argumentasi masing-masing, yaitu sebagai berikut:

a.

Teori Monoklimaks
Dalam teorinya pada tahun 1916 Clements menyatakan bahwa komunitas
klimaks untuk suatu kawasan semata-mata merupakan fungsi dari iklim. Dia
memperkirakan bahwa pada waktu yang cukup dan bebas dari berbagai

pengaruh gangguan luar, suatu bentuk umum vegetasi klimaks yang sama akan
terbentuk untuk setiap daerah iklim yang sama. Dengan demikian iklim sangat
menentukan batas dari formasi klimaks. Pemikiran ini dipahami sebagai teori
monoklimaks dan diterima secara luas oleh pakar botani pada pertengahan
awal dari abad ini.
Clements dan para pendukungnya dari teori monoklimaks ini tidak melihat
kenyatan bahwa banyak sekali variasi lokal dalam suatu daerah iklim tertentu.
Variasi-variasi ini oleh Clements dianggap fasa seral meskipun berada dalam
keadaan yang stabil. Clements menganut teori klimaks ini didasarkan pada
keyakinan akan waktu yang panjang, dimana perbedaan-perbedaan local dari
suatu vegetasi akibat kondisi tanahnya akan tetap berubah menjadi bentuk
vegetasi regionalnya apabila diberi waktu yang cukup lama. Penamaanpenamaan khusus diberikan untuk menggambarkan perbedaan-perbedaan
vegetasi local ini. Istilah subklimaks dipergunakan untuk suatu fasa seral
akhir yang berkepanjangan yang akhirnya akan berkembang juga ke bentuk
klimaksnya. Sedangkan istilah disklimaks dipakai untuk komunitas tumbuhan
yang menggantikan bentuk klimaks setelah terjadi kerusakan.
Teori monoklimaks menyebutkan bahwa tiap-tiap wilayah hanya memiliki
satu komunitas klimaks dan semua komunitas akan menuju ke arah komunitas
klimaks tersebut. Asumsi fundamental yang dicetuskan Clements, jikalau diberi
waktu dan keterbatasan dari gangguan, maka akan dihasilkan suatu vegetasi
klimaks yang tergolong ke dalam tipe umum yang sama dan akan dimantapkan
tanpa mengingat kondisi tenpat sebelumnya. Iklim, menurut Clements adalah
faktor penentu untuk vegetasi dan klimaks di area manapun adalah suatu fungsi
dari iklim di daerah itu.
Tetapi di area tertentu yang manapun akan didapati dan ada saja
komunitas yang bukan klimaks seperti yang dimaksudkan oleh Clements,
komunitas yang non-klimaks dan komunitas yang klimaks dalam keadaan
ekuilibrium. Kedua jenis komunitas tersebut ditentukan oleh faktor topografi,
edafik, dan biotik.oleh karena banyaknya pengecualian dan anyaknya
peristilahan di dalam teori Celemnts mengenai monoklimaks ditentang oleh
kebanyakan ekologiwan.

b.

Teori Poliklimaks
Beberapa pakar ekologi berpendapat bahwa teori monoklimaks terlalu
kaku. Tidak memberikan kemungkinan untuk mengangkat variasi lokal dalam
suatu komunitas tumbuhan. Dalam tahun 1939 Tansley, seorang pakar botani
dari Inggris mengusulkan suatu alternatif yaitu teori poliklimaks, dengan teori ini
memungkinkan untuk mendapat mosaik dari bentuk klimaks dari setiap daerah
iklim. Dia menyadari bahwa komunitas klimaks erat hubungannya dengan
berbagai faktor yang mempengaruhinya yaitu meliputi tanah ;drainage ; dan

berbagai faktor lainnya. Teori poliklimaks mengenal kepentingan dari iklim, tetapi
faktor-faktor lain hendaknya jangan dipandang sebagai suatu faktor yang
bersifat temporal. Teori poliklimaks mempunyai keuntungan yang besar, dalam
memandang semua komunitas tumbuhan yang sifatnya stabil bisa dianggap
sebagai bentuk klimaks. Teori poliklimaks ini ternyata pendekatannya tidak
bersifat kaku, sehingga dapat diterima dikalangan pakar secara luas.
(http://www.scribd.com/doc/49145571/Buku-ajar-EKTUM )
Teori poliklimaks menyebutkan bahwa banyak komunitas klimaks yang
berbeda dapat dikenali dalam suatu area tertentu dan klimaks yang demikian itu
dikendalikan oleh lengas dalam tanah, zat hara di dalam tanah, aktivitas
makhluk hewan, dan faktor lainnya
Perbedaan mendasar dari teori monoklimaks dan poliklimaks adalah
terletak dalam faktor waktu di dalam pengukuran nisbi. Penganut monoklimaks
mengatakan bahwa jika diberi waktu secukupnya, suatu komunitas tunggal akan
berkembang bahkan dapat menguasai klimaks edafik. Pertanyaannya adalah
waktu yang digunakan apakah skala geologik atau skala ekologik. Butir penting
di sini adalah bahwa iklim berfluktuasi dan tidak pernah konstan. Jadi kondisi
ekuilibrium tidak pernah tercapai sebab vegetasi tidak di dalam iklim yang
konstan tetapi di dalam iklim yang berubah. Iklim berubah pada skala waktu
ekologik dan pada skala waktu geologik. Suksesi terjadi secara kontinu dalam
vegetasi yang berubah dan dalam iklim yang berubah. (Soetjipta, 1993 :193)

c.

Teori Potensi Biotik atau Pola Klimaks Hipotesis


Dalam tiga decade terakhir para pakar menyadari bahwa komunitas
klimaks tidak ditentukan oleh hanya satu atau lebih faktor lingkungan yang
berinteraksi terhadapnya, seperti iklim tanah; topografi; dan sebagainya. Dengan
demikian sekian banyak bentuk klimaks akan terjadi sebagai akibat kombinasi
dari kondisi-kondisi tadi. Perhatikan konsep faktor holosinotik atau holismal.
Pemikiran ini pertama-tama diformulasikan oleh R.H. Whittaker pada tahun 1950an. Ia menekankan bahwa komunitas alami teradaptasi terhadap seluruh pola
dari faktor lingkungan, dan komunitas klimaks itu akan bervariasi secara teratur
meliputi suatu region dan merefleksikan perubahan faktor-faktor (suhu, tanah,
bentuk lahan, dansebagainya), secara gradual. Klimaks dari setiap daerah
merefleksikan potensi perkembangan ekosistem di lokasi itu. Pemikiran ini
dikenal sebagai pola klimaks hipotesis atau teori potensial biotik. Pendekatan ini
sedikit lebih abstrak daripada teori monoklimaks dan poliklimaks. Pendekatan ini
memberi kemungkinan untuk penelaahan yang lebih realistik dari komunitas
klimaks. Pada dewasa ini timbul tantangan-tantangan baru terhadap konsepkonsep klimaks ini. Berbagai ahli percaya bahwa suksesi berkecendrungan
membentuk ekosistem yang kompleks dan lebih stabil. Tetapi mereka merasakan
bahwa karakteristika dari hasil akhir perlu untuk dikaji kembali. Ini merupakan
tantangan untuk kemajuan ekologi, dimana pada dewasa ini telah masuk dalam
kajian yang modern dan tidak terbelenggu dalam pola pemikiran yang bersifat
filosofis serta deskriptif lagi. Sejalan dengan perkembangan dari ekologi

umumnya maka dalam kajian suksesi inipun mengalami perkembangan, dan


dapat dibagi dalam dua perioda pendekatan, yaitu pendekatan secara lama atau
tradisional disatu pihak dan pendekatan yang ditujukan untuk melengkapi atau
mengoreksi pendekatan lama berdasarkan konsep-konsep ekosistem yang
mendasarinya di fihak lain.
(http://www.scribd.com/doc/49145571/Buku-ajar-EKTUM )
Komunitas alami beradaptasi dengan keseluruhan pola faktor lingkungan yang
merupakantempat komunitas itu ada. Pada teori ini memperbolehkan banyak
suatu kontinuitas tipe klimaks yang berbeda secara gradual sepanjang gradien
lingkungan yang tidak mungkin untuk dipisahkan menjadi tipe klimaks yang
terpisah. Jadi teori pola klimaks hipotesis ini adalah suatu perluasan ide kontinu
dan hampiran analisis gradien untuk vegetasi. (Soetjipta, 1993 :193

Contoh Suksesi Primer

Suksesi primer adalah kolonialisasi tempat baru oleh komunitas organisme. Hal ini sering
terjadi setelah suatu peristiwa dahsyat telah menyapu habis organisme yang hidup di suatu
daerah
Bayangkan gunung berapi yang meletus mengakibatkan bencana bagi manusia atau
organisme lainnya. Lava mengalir di sisi gunung berapi menghancurkan segala sesuatu yang
ada di jalan, tetapi ketika mendingin akan membentuk lahan baru. Awalnya, tanah baru akan
tandus dengan tidak ada yang tinggal di daerah tersebut. Tapi setelah beberapa waktu,
organisme sederhana akan mulai menjajah lahan baru. Organisme yang terlibat dalam suksesi
primer dikenal sebagai spesies pionir.
Contoh Spesies pionir yang khas termasuk lumut sederhana, ganggang, dan jamur. Organisme
sederhana ini mulai menjadi sumber daya baru di lingkungan dan membuatnya cocok untuk
pengenalan kemudian spesies yang lebih kompleks, seperti tanaman berpembuluh. Sebagian
organisme ini melaksanakan proses kehidupan mereka, mereka menghasilkan limbah dan
beberapanya lagi mungkin mati. Hal ini menyebabkan pembentukan bahan organik yang akan
menjadi tanah dikemudian hari.

Setelah lapisan kecil tanah terbentuk di tempat di atas aliran lava berbagai kehidupan akan
mulai meningkat jauh lebih cepat. Tanaman pionir akan penuh sesak oleh tanaman yang lebih
kompleks, seperti rumput dan semak-semak kecil yang mampu hidup di lapisan tipis tanah
yang baru terbentuk. Tanaman kecil ini akan terus meningkatkan kondisi habitat yang baru
terbentuk dan membuat jalan untuk spesies yang lebih besar dari semak-semak dan pohonpohon kecil menengah.
Ada juga daerah di pegunungan yang mendapat longsoran sejumlah besar salju. Misalkan
longsoran yang terjadi pada gunung dan meninggalkan tebing besar terkena batu yang
sebelumnya telah tertutup salju dan es. Organisme pertama muncul di bebatuan kemungkinan
besar akan ganggang dan lumut. Organisme ini dikenal untuk mengeluarkan larutan asam
yang dapat menyebabkan retakan kecil di permukaan batu. Ketika air mengalir pada retakan
dan membeku dan mencair, dengan bantuan cuaca, batu akan pecah menjadi potongan yang
lebih kecil di permukaan. Ini akan menjadi dasar untuk lapisan baru tanah.
Seperti retakan di bebatuan lebih besar akan lebih banyak tanah terbentuk melalui
dekomposisi, lebih mudah bagi benih rumput yang telah tertiup oleh angin untuk bertahan
dengan manancapkan akar ke permukaan berbatu. Kehadiran rumput ini juga akan membuat
ruang untuk semak dan pohon kecil pada akhirnya.

Ringkasan Suksesi Primer


Suksesi primer adalah gerakan awal organisme sederhana, dikenal sebagai spesies pionir, ke
habitat baru yang telah dibuat. Biasanya, daerah-daerah koloni baru dibuat melalui peristiwa
geologis besar seperti gunung berapi dan gempa bumi. Suksesi primer dimulai dengan
organisme sederhana yang membuat jalan bagi spesies yang lebih besar dan lebih kompleks
untuk mendiami daerah tersebut.
by Sridianti
Share This Post To: Facebook Twitter

Artikel terkait Pengertian Contoh Suksesi Primer

Contoh Konsumen tersier

Perbedaan Antara Flora dan Fauna

Pengertian Ekosistem Darat

Perbedaan antara konservasi In situ dan eks situ

Perbedaan antara biotik dan abiotik

Contoh Komponen biotik ekosistem

Pengertian Piramida ekologi dan Macam Piramida ekologi

Jenis hewan Australia di Indonesia bagian timur

Penyebab Pencemaran Udara

Ciri-ciri Ekosistem air tawar

Suksesi Autogenik dan Suksesi Allogenik.


Salah satu kekuatan yang mengatur terjadinya proses suksesi adalah pengaruh
tumbuhan yang mempengaruhi kondisi habitatnya. Tajuk tumbuhan menciptakan
naungan, menambah akumulasi seresah, menambah kelembaban, akarnya
merubah struktur dan sifat kimia tanah. Modifikasi kondisi lingkungan seperti ini
telah menyebabkan beberapa jenis anakan pohon tidak mampu beradaptsi
terhadap naungan, tetapi bagi anakan jenis pohon lain justru dapat beradaptasi
sehingga tetap bias tumbuh dengan baik. Berbarengan dengan berjalannya
waktu, maka kumpulan jenis tumbuhan baru akan datang dan mendominasi
tempat tumbuh tersebut. Proses suksesi seperti ini menurut Tansley (1935,
dikutip oleh Barbour dkk., 1980) dinamakan suksesi autogenic. Dalam proses ini,
baik lingkungan maupun komunitas tumbuhan berubah, dan perubahan ini
terjadi
karena
aktivitas
organisme
itu
sendiri.
Sementara itu, yang dimaksud dengan suksesi allogenic adalah suksesi yang
terjadi oleh karena perubahan lingkungan yang disebabkan oleh diluar kendali
organisme asli. Misalnya adanya penanaman jenis pohon eksotik yang justru
menjadi penguasa pada habitat jenis asli yang lebih dulu ada.
Homeostasis merujuk pada ketahanan atau mekanisme pengaturan lingkungan
kesetimbangan dinamis dalam (badan organisme) yang konstan. Homeostasis
merupakan salah satu konsep yang paling penting dalam biologi. Bidang fisiologi
dapat mengklasifkasikan mekanisme homeostasis pengaturan dalam organisme.
Umpan balik homeostasis terjadi pada setiap organisme.
utrofikasi merupakan masalah lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah
fosfat (PO3-), khususnya dalam ekosistem air tawar.

Pengertian barriers to entry


Terkait dengan dunia usaha, kita mungkin sering mendengar istilah barrier entry, atau entry
barrier atau barriers to entry. Apakah pengertian dari barrier entry ini ?
Barrier to entry dalam dunia usaha adalah hal-hal yang menghalangi suatu perusahaan masuk
ke bidang usaha tertentu.
Definisi Homoestatis
Homeostatis berasal dari kata homeo yang artinya sama, dan statis yang artinya
berdiri (Odum, 1993). Oleh karena itu, homeostatis itu sesungguhnya adalah
kestabilan yang dinamis, karena perubahan-perubahan yang terjadi pada
ekosistem akan tetap mengarah kepada tercapainya keseimbangan baru.

Keseimbangan ekosistem itu diatur oleh berbagai faktor yang sangat kompleks
(rumit). Faktor-faktor yang terlibat dalam mekanisme keseimbangan ekosistem
antara lain mencakup mekanisme yang mengatur penyimpanan bahan-bahan,
pelepasan hara, pertumbuhan organisme dan populasi, proses produksi, serta
dekomposisi bahan-bahan organik.