Anda di halaman 1dari 100

Asuhan Keperawatan Resiko Bunuh Diri

ASKEP RESIKO BUNUH DIRI

ASKEP RESIKO BUNUH DIRI


A.

Pengertian
Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk menyakiti diri
sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam nyawa. Dalam sumber lain dikatakan
bahwa bunuh diri sebagai perilaku destruktif terhadap diri sendiri yang jika tidak dicegah dapat
mengarah pada kematian. Perilaku destruktif diri yang mencakup setiap bentuk aktivitas bunuh
diri, niatnya adalah kematian dan individu menyadari hal ini sebagai sesuatu yang diinginkan.
(Stuart dan Sundeen, 1995. Dikutip Fitria, Nita, 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan
Laporan Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP) untuk 7
Diagnosis Keperawatan Jiwa Berat bagi Program S - 1 Keperawatan).
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian
(Gail w. Stuart, 2007. Dikutip Dez, Delicious, 2009. DEZS blok just another place to share.
http://dezlicious blogspot.com)
Bunuh diri adalah pikiran untuk menghilangkan nyawa sendiri (Ann Isaacs, 2004.
Dikutip Dez, Delicious, 2009. DEZS blok just another place to share. http://dezlicious
blogspot.com)
Bunuh diri adalah ide, isyarat dan usaha bunuh diri, yang sering menyertai gangguan
depresif dan sering terjadi pada remaja (Harold Kaplan,1997. Dez, Delicious, 2009. DEZS blok
just another place to share. http://dezlicious blogspot.com)

B.

Etiologi
Menurut Fitria, Nita, 2009. Dalam buku Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan
Pendahuluan dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP) untuk 7 Diagnosis
Keperawatan Jiwa Berat bagi Program S - 1 Keperawatan), etiologi dari resiko bunuh diri
adalah :

a.

Faktor Predisposisi
Lima factor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku destruktif-diri sepanjang
siklus kehidupan adalah sebagai berikut :

1.

Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri mempunyai
riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk
melakukan tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.

2.

Sifat Kepribadian
Tiga tipe kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko bunuh diri adalah antipati,
impulsif, dan depresi.

3.

Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, diantaranya adalah pengalaman kehilangan,
kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejadian negatif dalam hidup, penyakit krinis, perpisahan,
atau bahkan perceraian. Kekuatan dukungan social sangat penting dalam menciptakan intervensi
yang terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab masalah, respons seseorang dalam
menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.

4.

Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri merupakan factor penting yang dapat
menyebabkan seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

5.

Faktor Biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan resiko bunuh diri terjadi peningkatan zat-zat kimia
yang terdapat di dalam otak sepeti serotonin, adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut
dapat dilihat melalui ekaman gelombang otak Electro Encephalo Graph (EEG).

b.

Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stress berlebihan yang dialami oleh
individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang memalukan.Faktor lain yang dapat
menjadi pencetus adalah melihat atau membaca melalui media mengenai orang yang melakukan
bunuh diri ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal tersebut
menjadi sangat rentan.

c.

Perilaku Koping
Klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang mengancam kehidupan dapat melakukan
perilaku bunuh diri dan sering kali orang ini secara sadar memilih untuk melakukan tindakan
bunuh diri. Perilaku bunuh diri berhubungan dengan banyak faktor, baik faktor social maupun
budaya. Struktur social dan kehidupan bersosial dapat menolong atau bahkan mendorong klien

melakukan perilaku bunuh diri. Isolasi social dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan
keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri. Seseorang yang aktif dalam kegiatan
masyarakat lebih mampu menoleransi stress dan menurunkan angka bunuh diri. Aktif dalam
kegiatan keagamaan juga dapat mencegah seseorang melakukan tindakan bunuh diri.
d.

Mekanisme Koping
Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping yang berhubungan
dengan perilaku bunuh diri, termasuk denial, rasionalization, regression, dan magical thinking.
Mekanisme pertahanan diri yang ada seharusnya tidak ditentang tanpa memberikan koping
alternatif.
Respon adaptif
Peningkatan diri

Beresiko
destruktif

Destruktif diri
tidak langsung

Respon maladaptif
Pencederaan diri
Bunuh diri

Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping. Ancaman bunuh diri
mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk mendapatkan pertolongan agar dapat mengatasi
masalah. Bunuh diri yang terjadi merupakan kegagalan koping dan mekanisme adaptif pada diri
seseorang.
C.

Rentang Respons, YoseP, Iyus (2009)


a.

Peningkatan diri. Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan diri secara wajar
terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seseorang
mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai loyalitas terhadap pimpinan
ditempat kerjanya.

b.

Beresiko destruktif. Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko mengalami perilaku


destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi yang seharusnya dapat mempertahankan
diri, seperti seseorang merasa patah semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal
terhadap pimpinan padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.

c.

Destruktif diri tidak langsung. Seseorang telah mengambil sikap yang kurang tepat
(maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya,
karena pandangan pimpinan terhadap kerjanya yang tidak loyal, maka seorang karyawan menjadi
tidak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.

d.

Pencederaan diri. Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau pencederaan diri akibat
hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.

e.

Bunuh diri. Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan nyawanya hilang.
Perilaku bunuh diri menurut (Stuart dan Sundeen, 1995. Dikutip Fitria, Nita, 2009) dibagi
menjadi tiga kategori yang sebagai berikut.

1.

Upaya bunuh diri (scucide attempt) yaitu sengaja kegiatan itu sampai tuntas akan
menyebabkan kematian. Kondisi ini terjadi setelah tanda peringatan terlewatkan atau diabaikan.
Orang yang hanya berniat melakukan upaya bunuh diri dan tidak benar-benar ingin mati
mungkin akan mati jika tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.

2.

Isyarat bunuh diri (suicide gesture) yaitu bunuh diri yang direncanakan untuk usaha
mempengaruhi perilaku orang lain.
3.

Ancaman bunuh diri (suicide threat) yaitu suatu peringatan baik secara langsung

verbal atau nonverbal bahwa seseorang sedang mengupayakan bunuh diri. Orang tersebut
mungkin menunjukkan secara verbal bahwa dia tidak akan ada di sekitar kita lagi atau juga
mengungkapkan secara nonverbal berupa pemberian hadiah, wasiat, dan sebagainya. Kurangnya
respon positif dari orang sekitar dapat dipersepsikan sebagai dukungan untuk melakukan
tindakan bunuh diri.

D. Tanda dan Gejala menurut Fitria, Nita (2009)


a.

Mempunyai ide untuk bunuh diri.

b.

Mengungkapkan keinginan untuk mati.

c.

Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.

d.

Impulsif.

e.

Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).

f.

Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.

g.

Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat dosis mematikan).

h.

Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat, panic, marah dan mengasingkan diri).

i.

Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi, psikosis dan
menyalahgunakan alcohol).

j.

Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau terminal).

k.

Pengangguaran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami kegagalan dalam karier).

l.

Umur 15-19 tahun atau di atas 45 tahun.

m.

Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan).

n.

Pekerjaan.

o.

Konflik interpersonal.

p.

Latar belakang keluarga.

q.

Orientasi seksual.

r.

Sumber-sumber personal.

s.

Sumber-sumber social.

t.

Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil.

E.

Terapi Aktivitas Kelompok, Riyadi, Surojo dan Purwanto Teguh (2009)


Model interpersonal
Tingkah laku (pikiran, perasaan dan tindakan) digambarkan melalui hubungan interpersonal
dalam kelompok. Pada model ini juga menggambarkan sebab akibat tingkah laku anggota,
merupakan akibat dari tingkah laku anggota yang lain. Terapist bekerja dengan individu dan
kelompok, anggota belajar dari interaksi antar anggota dan terapist. Melalui proses ini, tingkah
laku atau kesalahan dapat dikoreksi dan dipelajari.

F.

Data Fokus, Fitria, Nita (2009)


Masalah Keperawatan

Data Fokus

Resiko bunuh diri

Subjektif :
Mengungkapkan keinginan bunuh diri.
Mengungkapkan keinginan untuk mati.
Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan.
Ada riwayat berulang percobaan bunuh diri
sebelumnya dari keluarga.
Berbicara tentang kematian, menanyakan tentang
dosis obat yang mematikan.
Mengungkapkan adanya konflik interpersonal.
Mengungkapkan telah menjadi korban perilaku
kekeasan saat kecil.
Objektif :
Impulsif.
Menunujukkan perilaku yang mencurigakan
(biasanya menjadi sangat patuh).
Ada riwayat panyakit mental (depesi, psikosis, dan
penyalahgunaan alcohol).
Ada riwayat penyakit fisik (penyakit kronis atau
penyakit terminal).
Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan
pekerjaan, atau kegagalan dalam karier).
Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun.
Status perkawinan yang tidak harmonis.

askep resiko bunuh diri

I.

Contoh Kasus
Tn. B berusia 35 tahun, bekerja di sebuah perusahaan swasta bernama PT. Bagindo. Status
menikah, tapi belum memiliki anak. Perusahaan tempatnya bekerja mengalami masalah,
akibatnya sebagian besar para pekerjanya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), termasuk
salah satunya Tn. B. Akibatnya kondisi keuangan Tn. B memburuk, sehingga membuat istrinya
meminta cerai karena Tn. B tidak bisa memberikan nafkah lagi kepada istrinya. Dan Tn. B pun
menjadi putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

II.
A.

Teori
Pengertian
Bunuh diri adalah segala perbuatan seseorang dengan sengaja, yang tahu akan akibatnya
dapat mengakhiri hidupnya dalam waktu yang singkat (Maramis, 1998).
Ide, isyarat dan usaha bunuh diri, yang sering menyertai gangguan depresif, sering terjadi
pada remaja (Harold Kaplan, Sinopsis Psikiatri, 1997).
Pikiran untuk menghilangkan nyawa sendiri (Ann Isaacs, Keperawatan Jiwa & Psikiatri,
2004).

Definisi suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk mengakhiri kehidupan individu secara
sadar berhasrat dan berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati. Perilaku bunuh diri meliputu
isyarat-isyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang akan mengakibatkan kematian, luka atau
mernyakiti diri sendiri.
B.

Bunuh Diri sebagai Masalah Dunia


Pada laki-laki tiga kali lebih sering melakukan bunuh diri daripada wanita, karena laki-laki
lebih sering menggunakan alat yang lebih efektif untuk bunuh diri, antara lain dengan pistol,
menggantung diri, atau lompat dari gedung yang tinggi, sedangkan wanita lebih sering
menggunakan zat psikoaktif overdosis atau racun, namun sekarang mereka lebih sering
menggunakan pistol. Selain itu wanita lebih sering memilih cara menyelamatkan dirinya sendiri
atau diselamatkan orang lain.
Data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2003 mengungkapkan bahwa satu juta
orang bunuh diri dalam setiap tahunnya atau setiap 40 detik, bunuh diri juga satu dari tiga
penyebab utama kematian pada usia 15-34 tahun, selain karena faktor kecelakaan.

C.

Faktor yang berkontribusi pada anak dan remaja


Keluarga dan lingkungan terdekat menjadi pilar utama yang bertanggung jawab dalam upaya
bunuh diri pada anak dan remaja, pernyataan ini ditunjang oleh teori Vygotsky bahwa lingkungan
terdekat anak berkontribusi dalam membentuk karakter kepribadian anak, menurut Stuart
Sundeen jenis kepribadian yang paling sering melakukan bunuh diri adalah tipe agresif,
bermusuhan, putus asa, harga diri rendah dan kepribadian antisosial. Anak akan lebih besar
melakukan upaya bunuh diri bila berasal dari keluarga yang menerapkan pola asuh otoriter atau
keluarga yang pernah melakukan bunuh diri, gangguan emosi dan keluarga dengan alkoholisme.
Faktor lainnya adalah riwayat psikososial seperti orangtua yang bercerai, putus hubungan,
kehilangan pekerjaan atau stress multiple seperti pindah, kehilangan dan penyakit kronik
kumpulan stressor tersebut terakumulasi dalam bentuk koping yang kurang konstruktif, anak
akan mudah mengambil jalan pintas karena tidak ada lagi tempat yang memberinya rasa aman,
menurut Kaplan gangguan jiwa dan suicide pada anak dan remaja akan muncul bila stressor
lingkungan menyebabkan kecemasan meningkat.

D.

Jenis Bunuh Diri


Menurut Durkheim, bunuh diri dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

1.

Bunuh diri egoistic (faktor dalam diri seseorang)


Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini disebabkan oleh kondisi
kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadikan individu itu seolah-olah tidak
berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat menerangkan mengapa mereka tidak
menikah lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan mereka yang
menikah.

2.

Bunuh diri altruistic (terkait kehormatan seseorang)


Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk bunuh diri karena
indentifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia merasa kelompok tersebut sangat
mengharapkannya.

3.

Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)


Hal ini terjadi bila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara individu dan
masyarakat, sehingga individu tersebut meninggalkan norma-norma kelakuan yang biasa.
Individu kehilangan pegangan dan tujuan. Masyarakat atau kelompoknya tidak memberikan
kepuasan padanya karena tidak ada pengaturan atau pengawasan terhadap kebutuhankebutuhannya.

E.

Pengkajian
Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh klien untuk
mengakhiri kehidupannya. Berdasarkan besarnya kemungkinan klien melakukan bunuh diri, ada
tiga macam perilaku bunuh diri yang perlu diperhatikan, yaitu :

1.

Isyarat bunuh diri


Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung ingin bunuh diri,
misalnya dengan mengatakan :Tolong jaga anak-anak karena saya akan pergi jauh! atau
Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.
Pada kondisi ini klien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, namun
tidak disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri. Klien umumnya mengungkapkan

perasaan seperti rasa bersalah/ sedih/ marah/ putus asa/ tidak berdaya. Klien juga
mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang menggambarkan harga diri rendah.
2.

Ancaman bunuh diri.


Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh klien, berisi keinginan untuk mati disertai
dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk melaksanakan rencana
tersebut. Secara aktif klien telah memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan
percobaan bunuh diri.
Walaupun dalam kondisi ini klien belum pernah mencoba bunuh diri, pengawasan ketat
harus dilaksanakan. Kesempatan sedikit saja dapat dimanfaatkan klien untuk melaksanakan
rencana bunuh dirinya.

3.

Percobaan bunuh diri.


Percobaan bunuh diri merupakan tindakan klien mencederai atau melukai diri untuk
mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini, klien aktif mencoba bunuh diri dengan cara gantung
diri, minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat tinggi.

III.

Diagnosa Keperawatan
RISIKO BUNUH DIRI

A.

Rencana Keperawatan
TUM :
Klien tidak mencederai diri sendiri
TUK 1
Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria Evaluasi :
Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat
tangan,mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan
perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi
Rencana Tindakan :

1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :


a.

Sapa klien dengan nama baik verbal maupun non verbal.

b.

Perkenalkan diri dengan sopan.

c.

Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.

d.

Jelaskan tujuan pertemuan.

e.

Jujur dan menepati janji.

f.

Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.

g.

Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar

TUK 2
Klien dapat terlindung dari perlaku bunuh diri,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
Rencana Tindakan :
1.

Jauhkan klien dari benda-benda yang dapat membahayakan.

2.

Tempatkan klien diruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat.

3.

Awasi klien secara ketat setiap saat

TUK 3
Klien dapat mengekspresikan perasaannya,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat mengekspresikan perasaannya
Rencana Tindakan :
1.

Dengarkan keluhan yang dirasakan klien.

2.

Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan dan keputusasaan.

3.

Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaannya.

4.

Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan keinginan untuk hidup.

TUK 4
Klien dapat meningkatkan harga diri,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat meningkatkan harga dirinya
Rencana Tindakan :
1.

Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.

2.

Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu.

3.

Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal : hubungan antar sesama, keyakinan,


hal-hal untuk diselesaikan).

TUK 5
Klien dapat menggunakan koping yang adaptif,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
Rencana Tindakan :

1.

Ajarkan mengidentifikasi pengalaman-pengalaman yang menyenangkan.

2.

Bantu untuk mengenali hal-hal yang ia cintai dan yang ia sayangi dan pentingnya terhadap
kehidupan orang lain.

3.

Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain.

TUK 6
Klien dapat menggunakan dukungan sosial,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menggunakan dukungan sosial.
Rencana Tindakan :

1.

Kaji dan manfaatkan sumber-sumber eksternal individu.

2.

Kaji sistem pendukung keyakinan yang dimiliki klien.

3.

Lakukan rujukan sesuai indikasi (pemuka agama).

TUK 7
Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menggunakan obat dengan tepat
Rencana Tindakan :
1.

Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).

2.

Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar.

3.

Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan oleh klien.

4.

Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.

Tindakan Keperawatan
A.

Ancaman/percobaan bunuh diri dengan diagnosa keperawatan : Resiko Bunuh Diri

1.

Tindakan keperawatan untuk pasien percobaan bunuh diri

a.

Tujuan

: Pasien tetap aman dan selamat

b.

Tindakan

: Melindungi pasien

Untuk melindungi pasien yang mengancam atau mencoba bunuh diri, maka saudara dapat
melakukan tindakan berikut :
1)

Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat dipindahkan ketempat yang aman.

2)

Menjauhi semua benda yang berbahaya ( misalnya pisau, silet, gelas, tali pinggang).

3)

Memeriksa apakah pasien benar-benar bahwa saudara akan melindungi pasien sampai tidak
ada keinginan bunuh diri.
SP 1 Pasien : Percakapan untuk melindungi pasien dari percobaan bunuh diri.
ORIENTASI
Assalamualaikum B kenalkan saya adalah perawat A yang bertugas di ruang Mawar ini,
saya dinas pagi dari jam 7 pagi sampai jam 2 siang.
Bagaimana perasaan B hari ini?
Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang B rasakan selama ini. Dimana dan
berapa lama kita bicara?
KERJA
Bagaimana perasaan B setelah bencana ini terjadi? Apakah dengan bencana ini B merasa
paling menderita di dunia ini? Apakah B kehilangan kepercayaan diri? Apakah B merasa tak
berharga atau bahkan lebih rendah daripada orang lain? Apakah B merasa bersalah atau
mempersalahkan diri sendiri? Apakah B sering mengalami kesulitan berkonsentrasi? Apakah
B berniat menyakiti diri sendiri, ingin bunuh diri atau B berharap bahwa B mati? Apakah B
pernah mencoba untuk bunuh diri? Apa sebabnya, bagaimana caranya? Apa yang B
rasakan? Jika pasien telah menyampaikan ide bunuh dirinya, segera dilanjutkan dengan
tindakan keperawatan untuk melindungi pasien, misalnya dengan mengatakan: Baiklah,
tampaknya B membutuhkan pertolongan segera karena ada keinginan untuk mengakhiri

hidup. Saya perlu memeriksa seluruh isi kamar B ini untuk memastikan tidak ada bendabenda yang membahayakan B.
Nah B, Karena B tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk mengakhiri hidup
B, maka saya tidak akan membiarkan B sendiri.
Apa yang akan B lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul? Kalau keinginan itu
muncul, maka untuk mengatasinya B harus langsung minta bantuan kepada perawat
diruangan ini dan juga keluarga atau teman yang sedang besuk. Jadi B jangan sendirian ya?
Katakan pada perawat, keluarga atau teman jika ada dorongan untuk mengakhiri
kehidupan.
Saya percaya B dapat mengatasi masalah, OK B?
TERMINASI
Bagaimana perasaan B sekarang setelah mengetahui cara mengatasi perasaan ingin bunuh
diri?
Coba B sebutkan lagi cara tersebut?
Saya akan menemui B terus sampai keinginan bunuh diri hilang
(jangan meninggalkan pasien)
2.

Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan pasien percobaan bunuh diri

a.

Tujuan: Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang mengancam atau mencoba
bunuh diri.

b.

Tindakan:

1)

Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien serta jangan pernah meninggalkan pasien
sendirian.

2)

Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barang-barang berbahaya disekitar


pasien.

3)

Mendiskusikan dengan keluarga untuk tidak sering melamun sendiri.

4)

Menjelaskan kepada keluarga pentingnya pasien minum obat secara teratur.


SP 1 keluarga: Percakapan dengan keluarga untuk melindungi pasien yang mencoba
bunuh diri.

ORIENTASI
Assalamualaikum Bapak/Ibu, kenalkan saya A yang merawat putra bapak dan ibu dirumah
sakit ini.
Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang cara menjaga agar B tetap selamat dan
tidak melukai dirinya sendiri. Bagaimana kalau disini saja kita berbincang-bincangnya
Pak/Bu? Sambil kita awasi terus B.
KERJA
Bapak/Ibu, B sedang mengalami putus asa yang berat karena kehilangan pekerjaan dan
ditinggal istrinya, sehingga sekarang B selalu ingin mengakhiri hidupnya. Karena kondisi B
yang dapat mengakhiri kehidupannya sewaktu-waktu, kita semua perlu mengawasi B terusmenerus. Bapak/Ibu dapat ikut mengawasi ya.. pokoknya kalau dalam kondisi serius seperti
ini B tidak boleh ditinggal sendirian sedikitpun
Bapak/Ibu bisa bantu saya untuk mengamankan barang-barang yang dapat digunakan B
untuk bunuh diri, seperti tali tambang, pisau, silet, tali pinggang. Semua barang-barang
tersebut tidak boleh ada disikitar B. Selain itu, jika bicara dengan B fokus pada hal-hal
positif, hindarkan pernyataan negatif.
Selain itu sebaiknya B punya kegiatan positif seperti melakukan hobbynya bermain sepak
bola, dll supaya tidak sempat melamun sendiri.
TERMINASI
Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah mengetahui cara mengatasi perasaan ingin bunuh
diri?
Coba Bapak/Ibu sebutkan lagi cara tersebut? Baik mari sama-sama kita temani B, sampai
keinginan bunuh dirinya hilang.
B.

Isyarat Bunuh Diri dengan diagnosa harga diri rendah

1.

Tindakan keperawatan untuk pasien isyarat bunuh diri

a.

Tujuan:

1)

Pasien mendapat perlindungan dari lingkungannya.

2)

Pasien dapat mengungkapkan perasaannya.

3)

Pasien dapat meningkatkan harga dirinya.

4)

Pasien dapat menggunakan cara penyelesaian masalah yang baik.

b.

Tindakan keperawatan:

1)

Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan meminta bantuan
dari keluarga atau teman.

2)

Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara:

(1) Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya.


(2) Berikan oujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang posittif.
(3) Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting.
(4) Merencanakan aktifitas yang dapat pasien lakukan.
3)

Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara:

(1) Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya.


(2) Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masing-masing cara penyelesaian masalah.
(3) Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik.

SP 2 Pasien : Percakapan melindungi pasien dari isyarat bunuh diri


ORIENTASI
Assalamualaikum B!, masih ingat dengan saya kan? Bagaimana perasaan B hari ini? O..
jadi B merasa tidak perlu lagi hidup di dunia ini. Apakah B ada perasaan ingin bunuh diri?

Baiklah kalau begitu, hari ini kita akan membahas tentang bagaimana cara mengatasi
keinginan bunuh diri. Mau berapa lama? Dimana? Disini saja yah!
KERJA
Baiklah, tampaknya B membutuhkan pertolongan segera karena ada keinginan untuk
mengakhiri hidup. Saya perlu memeriksa seluruh isi kamar B ini untuk memastikan tidak
ada benda-benda yang membahayakan B.
Nah B, karena B tampaknya masih memiliki keinginan yang kuat untuk mengakhiri hidup
B, maka saya tidak akan membiarkan B sendiri.
Apa yang B lakukan kalau keinginan bunuh diri muncul? Kalau keinginan itu muncul,
maka untuk mengatasinya B harus langsung minta bantuan kepada perawat atau keluarga
dan teman yang sedang besuk. Jadi usahakan B jangan pernah sendirian ya..?
TERMINASI
Bagaimana perasaan B setelah kita bercakap-cakap? Bisa sebutkan kembali apa yang telah
kita bicarakan tadi? Bagus B. Bagaimana masih ada dorongan untuk bunuh diri? Kalau
masih ada perasaan/dorongan bunuh diri, tolong panggil segera saya atau perawat yang lain.
Kalau sudah tidak ada keinginan bunuh diri, saya akan ketemu B lagi, untuk membicarakan
cara meningkatkan harga diri setengah jam lagi dan disini saja.

1.

Mengajarkan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri.

a.

Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri yang pernah muncul pada pasien.

b.

Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang umunya muncul pada pasien beresiko bunuh diri.

2.

Mengajarkan keluarga cara melindungi pasien dari perilaku bunuh diri.

a.

Mendiskusikan tentang cara yang dapat dilakukan keluarga bila pasien memperlihatkan tanda
dan gejala bunuh diri.

b.

Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien, antara lain:

1)

Memberikan tempat yang aman. Menempatkan pasien ditempat yang mudah diawasi, jangan
biarkan pasien mengunci diri di kamarnya atau jangan meninggalkan pasien sendirian dirumah.

2)

Menjauhkan barang-barang yang bisa untuk bunuh diri. Jauhkan psien dari barang-barang yang
bisa digunakan untuk bunuh diri, seperti: tali, bahan bakar minyak/bensin, api, pisau atau benda
tajam lainnya zat yang berbahaya seperti obat nyamukatau racun serangga.

3)

Selalu mengadakan pengawasan dan meningkatkan pengawasan apabila tanda dan gejala
bunuh diri meningkat. Jangan pernah melonggarkan pengawasan, walaupun pasien tidak
menunjukan tanda dan gejala untuk bunuh diri.

c.

Menganjurkan keluarga untuk melaksanakan cara tersebut diatas.

3.

Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apabila pasien melakukan
percobaan bunuh diri, antara lain:

a.

Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau pemuka masyarakat untuk menghentikan upaya
bunuh diri tersebut.

b.

Segera membawa pasien ke rumah sakit atau puskesmas mendapatkan bantuan medis.

4.

Membantu keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi pasien.

a.

Memberikan informasi tentang nomor telepon darurat tenaga kesehatan.

b.

Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan pasien berobat/kontrol secara teratur untuk


mengatasi masalah bunuh dirinya.

c.

Menganjurkan keluarga untuk membantu pasien minum obat sesuai prinsip 5 benar yaitu benar
orangnya, benar obatnya, benar dosisnya, benar cara penggunaannya, dan benar waktu
penggunaannya.

SP 2 Keluarga: percakapan untuk mengajarkan keluarga tentang cara merawat anggota


keluarga beresiko bunuh diri. (isyarat bunuh diri)
ORIENTASI
Assalamualaikum Bapak/Ibu. Bagaimana keadan Bapak/Ibu?

Hari ini kita akan mendiskusikan tentang tanda dan gejala bunuh diri dan cara melindungi
dari bunuh diri.
Dimana kita akan diskusi? Bagaimana kalau di ruang wawancara? Berapa lama Bapak/Ibu
punya waktu untuk diskusi?
KERJA
Apa yang Bapak/Ibu lihat dari perilaku atau ucapan B?
Bapak/Ibu sebaiknya memperhatikan benar-benar munculnya tanda dan gejala bunu diri.
Pada umunya orang yang akan melakukan bunuh diri menunjukan tanda melalui
percakapan misalnya Saya tidak ingin hidup lagi, orang lain lebih baik tanpa saya. Apakah
B pernah mengatakannya?
Kalau Bapak/Ibu menemukan tanda dan gejala tersebut, maka sebaiknya Bapak/Ibu
mendengarkan ungkapan perasaan dari B secara serius. Pengawasan terhadap B
ditingkatkan, jangan biarkan dia sendirian di rumah atau jangan dibiarkan mengunci diri di
kamar. Kalau menemukan tanda dan gejala tersebut, dan ditemukan alat-alat yang akan
digunakan untuk bunuh diri, sebaiknya dicegah dengan meningkatkan pengawasan dan
memberi dukungan untuk tidak melakukan tindakan tersebut. Katakan bahwa Bapak/Ibu
sayang pada B. Katakan juga kebaikan-kebaikan B.
Usahakan sedikitnya 5 kali sehari Bapak/Ibu memuji B dengan tulus.
Tetapi kalau sudah terjadi percobaan bunuh diri, sebaiknya Bapak/Ibu mencari bantuan
orang lain. Apabila tidak dapat diatasi segeralah rujuk ke Puskesmas atau rumah sakit
terdekat untuk mendapatkan perawatan yang lebih serius. Setelah kembali ke rumah,
Bapak/Ibu perlu membantu agar B terus berobat untuk mengatasi keinginan bunuh diri.
TERMINASI
Bagaimana Pak/Bu? Ada yang mau ditanyakan? Bapak/Ibu dapat ulangi kembali cara-cara
merawat anggota keluarga yang ingin bunuh diri?
Ya bagus. Jangan lupa pengawasannya ya! Jika ada tanda-tanda keinginan bunuh diri
segera hubungi kami. Kita dapat melanjutkan untuk pembicaraan yang akan datang tentang
cara-cara meningkatkan harga diri B dan penyelesaian masalah.

SP 3 Keluarga : Melatih keluarga cara merawat pasien risiko bunuh diri/isyarat bunuh diri
ORIENTASI
Assalamualaikum pak, bu, sesuai janji kita minggu lalu kita sekarang ketemu lagi
Bagaimana pak, bu, ada pertanyaan tentang cara merawat yang kita bicarakan minggu
lalu?
Sekarang kita akan latihan cara-cara merawat tersebut ya pak, bu?
Kita akan coba disini dulu, setelah itu baru kita coba langsung ke B ya?
Berapa lama bapak dan ibu mau kita latihan?
KERJA
Sekarang anggap saya B yang sedang mengatakan ingin mati saja, coba bapak dan ibu
praktekkan cara bicara yang benar bila B sedang dalam keadaan yang seperti ini
Bagus, betul begitu caranya
Sekarang coba praktekkan cara memberikan pujian kepada B
Bagus, bagaimana kalau cara memotivasi B minum obat dan melakukan kegiatan positifnya
sesuai jadual?
Bagus sekali, ternyata bapak dan ibu sudah mengerti cara merawat B
Bagaimana kalau sekarang kita mencobanya langsung kepada B?
(Ulangi lagi semua cara diatas langsung kepada pasien)
TERMINASI
Bagaimana perasaan bapak dan ibu setelah kita berlatih cara merawat B di rumah?
Setelah ini coba bapak dan ibu lakukan apa yang sudah dilatih tadi setiap kali bapak dan
ibu membesuk B
Baiklah bagaimana kalau dua hari lagi bapak dan ibu datang kembali kesini dan kita akan
mencoba lagi cara merawat B sampai bapak dan ibu lancar melakukannya
Jam berapa bapak dan ibu bisa kemari?
Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya pak, bu

SP 3 Pasien: Untuk meningkatkan harga diri pasien isyarat bunuh diri.


ORIENTASI
Assalamualaikum B! Bagaiman perasaan B saat ini? Masih adakah dorongan mengakhiri
kehidupan? Baik, sesuai janji kita 2 jam yang lalu sekarang kita akan membahas tentang
rasa syukur atas pemberian Tuhan yang masih B miliki. Mau berapa lama? Dimana?
KERJA
Apa saja dalam hidup B yang perlu disyukuri, siapa saja kira-kira yang sedih dan rugi kalau
B meninggal. Coba B ceritakan hal-hal yang baik dalam kehidupan B. Keadaan yang
bagaimana yang membuat B merasa puas? Bagus. Ternyata kehidupan B masih ada yang
baik yang patut B syukuri. Coba B sebutkan kegiatan apa yang masih dapat B lakukan selam
ini?. Bagaimana kalau B mencoba melakukan kegiatan tersebut, mari kita latih.
TERMINASI
Bagaimana perasaan B setelah kita bercakap-cakap? Bisa sebutkan kembali apa-apa saja
yang B patut syukuri dalam hidup B? Ingat dan ucapkan hal-hal yang baik dalam kehidupan
B jika terjadi dorongan mengakhiri kehidupan (afirmasi). Bagus B. Coba B ingat-ingat lagi
hal-hal lain yang masih B miliki dan perlu disyukuri!. Nanti jam 12 kita bahas tentang cara
mengatasi masalah dengan baik. Tempatnya dimana? Baiklah. Tapi kalau ada perasaanperasaan yag tidak terkendali segera hubungi saya ya!

P 4 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga dengan pasien risiko bunuh diri
ORIENTASI
Assalamualaikum pak, bu, hari ini B sudah boleh pulang, maka sebaiknya kita
membicarakan jadual B selama dirumah.
Berapa lama kita bisa diskusi?
Baik mari kita diskusikan.

KERJA
Pak, bu, ini jadwal B selama dirumah sakit, coba perhatikan, dapatkah dilakukan dirumah?
tolong dilanjutkan dirumah, baik jadual aktivitas maupun jadual minum obatnya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh B
selama di rumah. Kalau misalnya B terus menerus mengatakan ingin bunuh diri, tampak
gelisah dan tidak terkendali serta tidak memperlihatkan perbaikan, menolak minum obat atau
memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain, tolong bapak dan ibu segera hubungi
Suster C dirumah sakit harapan peduli,rumah sakit terdekat dari rumah ibu dan bapak, ini
nomor telepon rumah sakitnya: (0771) 12345. Selanjutnya suster C yang akan membantu
memantau perkembangan B

TERMINASI
Bagaimana pak/bu? Ada yang belum jelas?
Ini jadwal kegiatan harian B untuk dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk perawat C di
rumah sakit harapan peduli. Jangan lupa kontrol ke rumah sakit sebelum obat habis atau ada
gejala yang tampak. Silahkan selesaikan administrasinya.

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DENGAN RESIKO BUNUH DIRI

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar belakang
Bunuh diri merupakan salah satu bentuk kegawat daruratan psikiatri. Meskipun suicide
adalah perilaku yang membutuhkan pengkajian yang komprehensif pada depresi,
penyalahgunaan NAPZA, skizofrenia, gangguan kepribadian (paranoid, borderline, antisocial),
suicide tidak bisa disamakan dengan penyakit mental.
Ada 4 hal yang krusial yang perlu diperhatikan oleh perawat selaku tim kesehatan
diantaranya adalah : pertama, suicide merupakan perilaku yang bisa mematikan dalam seting
rawat inap di rumah sakit jiwa, Kedua, faktor faktor yang berhubungan dengan staf antara lain :
kurang adekuatnya pengkajian pasien yang dilakukan oleh perawat, komunikasi staf yang lemah,
kurangnya orientasi dan training dan tidak adekuatnya informasi tentang pasien. Ketiga,
pengkajian suicide seharusnya dilakukan secara kontinyu selama di rawat di rumah sakit baik
saat masuk, pulang maupun setiap perubahan pengobatan atau treatmen lainnya. Keempat,

hubungan saling percaya antara perawat dan pasien serta kesadaran diri perawat terhadap cues
perilaku pasien yang mendukung terjadinya resiko bunuh diri adalah hal yang penting dalam
menurunkan angka suicide di rumah sakit.
Oleh karena itu suicide pada pasien rawat inap merupakan masalah yang perlu
penanganan yang cepat dan akurat. Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai faktor resiko
terjadinya bunuh diri, instrument pengkajian dan managemen keperawatannya dengan
pendekatan proses keperawatanya.

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA


TN. B DENGAN RESIKO BUNUH DIRI
DI RUANG MAWAR RSJ SELAGA ALAS MATARAM
NTB

Tgl MRS

: 5 Januari 2010

Tgl Pengkajian

: 10 April 2011

Ruang

: Mawar

A.

Pengkajian
1.

Identitas Klien

Nama Lengkap

: Tn. B

Usia

: 45 tahun

Jenis Kelamin
Status

: Laki-laki
: Kawin

Alamat
2.

: Kediri, Lobar

Alasan Masuk
Klien dibawa kerumah sakit jiwa karena mencoba gantung diri di kamar mandi rumah pasien

3.

Faktor Predisposisi
Klien frustasi karena baru mengalami kehilangan pekerjaan/di PHK oleh perusahaan tempat ia
bekerja dan di tinggal oleh istrinya. Ada anggota keluarga yang juga mengalami gangguan jiwa.

4.

Faktor Presipitasi
Klien mengatakan hidupnya tak berguna lagi dan lebih baik mati saja
Masalah Keperawatan:

1.

Resiko bunuh diri

2.

Risiko perilaku kekerasan

3.

Harga diri rendah

5.

Fisik
Ada bekas percobaan bunuh diri pada leher dan pergelangan tanggan, BB pasien menurun dan
klien tampak lemas tak bergairah, sensitive, mengeluh sakit perut, kepala sakit. N: 80x/mnt, TD
120/90 mmHg, S: 37 C, RR: 20x/mnt, BB: 56 Kg dan TB 170cm.

6.

Psikososial
Genogram :

Keterangan:

laki-laki
perempuan
klien

7.

Konsep diri

1.

Gambaran diri
Klien merasa tidak ada yang ia sukai lagi dari dirinya.

2.

Identitas
Klien sudah menikah mempunyai seorang istri.

3.

Peran Diri
Klien adalah kepala rumah tangga dengan 3 orang anak yang masih kecil-kecil

4.

Ideal Diri
Klien menyatakan bahwa kalau nanti sudah pulang/sembuh klien bingung harus mendapat
pekerjaan dimana untuk menghidupi keluarga dan bagaimana membangun keluarganya seperti
dulu.

5.

Harga diri

Klien Agresif, bermusuhan, implisif, depresi dan jarang berinteraksi dengan orang lain.
8.

Hubungan Sosial
Menurut klien orang yang paling dekat dengannya adalah Tn. M teman sekamar yg satu agama.
Klien adalah orang yang kurang perduli dengan lingkungannya, klien sering diam, menyendiri,
murung dan tak bergairah, jarang berkomunikasi dan slalu bermusuhan dengan teman yang lain,
sangat sensitive.

9.

Spiritual

a.

Nilai dan keyakinan: pasien percaya akan adanya Tuhan tetapi dia sering mempersalahkan
Tuhan atas hal yang menimpanya.

b.

Kegiatan ibadah: Klien mengaku jarang beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

10. Status Mental


Penampilan:
pada penampilan fisik: Tidak rapi, mandi dan berpakaian harus di suruh, rambut tidak pernah
tersisir rapi dan sedikit bau, Perubahan kehilangan fungsi, tak berdaya seperti tidak intrest,
kurang mendengarkan.
Pembicaraan:
Klien hanya mau bicara bila ditanya oleh perawat, jawaban yang diberikan pendek, afek datar,
lambat dengan suara yang pelan, tanpa kontak mata dengan lawan bicara kadang tajam,
terkadang terjadi blocking.
Aktivitas Motorik:
Klien lebih banyak murung dan tak bergairah, serta malas melakukan aktivitas
Interaksi selama wawancara:
Kontak mata kurang, afek datar, klien jarang memandang lawan bicara saat berkomunikasi.
Memori
Klien kesulitan dalam berfikir rasional, penurunan kognitif.
11. Kebutuhan Persiapan Pulang.
12. Mekanisme Koping

Mal adaptif : Kehilangan batas realita, menarik dan mengisolasikan diri, tidak menggunakan
support system, melihat diri sebagai orang yang secara total tidak berdaya, klien tidak mau
melakukan aktifitas.
13. Pohon masalah

Koping maladaptif

Resiko mencederai diri


\

14. Analisa data


Diagnosa
Resiko
bunuh diri

Data mayor
Subyektif:
Mengatakan hidupnya tak
berguna lagi

Data minor
Subyektif:
Mengatakan ada yang
menyuruh bunuh diri

Inggin mati
Menyatakan pernah mencoba
bunuh diri
Mengancam bunuh diri
Obyektif:

Mengatakan lebih baek mati


saja
Mengatakan sudah bosan
hidup
Obyektif:

Ekspresi murung

Perubahan kebiasaan hidup

Tak bergairah

Perubahan perangai

Ada bekas percobaan bunuh diri


Masalah Keperawatan Dan Data Yang Perlu Dikaji
1.

Perilaku bunuh diri


DS: menyatakan ingin bunuh diri / ingin mati saja, tak ada gunanya hidup.
DO: ada isyarat bunuh diri, ada ide bunuh diri, pernah mencoba bunuh diri.

2.

Koping maladaptif
DS: menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan.
DO: nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat mengontrol impuls.

15. Rencana Tindakan Keperawatan untuk pasien resiko bunuh diri


Pasien:
a.

Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.

b.

Tujuan khusus

1.

Klien dapat membina hubungan saling percaya


Tindakan:

1.1. Perkenalkan diri dengan klien


1.2. Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal.
1.3. Bicara dengan tegas, jelas, dan jujur.
1.4. Bersifat hangat dan bersahabat.
1.5. Temani klien saat keinginan mencederai diri meningkat.

2.

Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri


Tindakan:

2.1. Jauhkan klien dari benda-benda yang dapat membahayakan (pisau, silet, gunting, tali, kaca, dan
lain-lain).
2.2. Tempatkan klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat.
2.3. Awasi klien secara ketat setiap saat.
3.

Klien dapat mengekspresikan perasaannya


Tindakan:

3.1.

Dengarkan keluhan yang dirasakan.

3.2.

Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan dan keputusasaan.

3.3.

Beri dorongan untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana harapannya.

3.4.

Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaan, kematian, dan lain-lain.

3.5.

Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan keinginan untuk hidup.

4.

Klien dapat meningkatkan harga diri


Tindakan:
4.1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.
4.2. Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu.
4.4. Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan,
hal-hal untuk diselesaikan).

5.

Klien dapat menggunakan koping yang adaptif


Tindakan:

5.1. Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman-pengalaman yang menyenangkan setiap hari


(misal : berjalan-jalan, membaca buku favorit, menulis surat dll.).
5.2.

Bantu untuk mengenali hal-hal yang ia cintai dan yang ia sayang, dan

pentingnya terhadap kehidupan orang lain, mengesampingkan tentang kegagalan dalam kesehatan.

5.3.Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang mempunyai suatu masalah dan
atau penyakit yang sama dan telah mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi masalah
tersebut dengan koping yang efektif.
6.

Klien dapat menggunakan dukungan sosial


Tindakan:

6.1. Kaji dan manfaatkan sumber-sumber ekstemal individu (orang-orang terdekat, tim pelayanan
kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).
6.2. Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan,
kepercayaan agama).
6.3. Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling pemuka agama).
7.

Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat


Tindakan:

7.1. Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).
7.2. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).
7.3. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.
7.4. Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.

Keluarga
1.

Tujuan: Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang mengancam atau mencoba
bunuh diri.
Tindakan:

1.1. Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien serta jangan pernah meninggalkan pasien
sendirian
1.2.Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barang-barang berbahaya disekita
pasien
1.3.Mendiskusikan dengan keluarga untuk tidak sering melamun sendiri
1.4.Menjelaskan kepada keluarga pentingnya passion minum obat secara teratur.

2.

Tujuan: pasien mampu merawat pasien dengan resiko bunuh diri


Tindakan:

1.1.Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri


a.

Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri yang pernah muncul pada pasien

b.

Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang umumnya muncul pada pasien beresiko bunuh
diri

1.2.Mengajarkan keluarga tentang cara melindungi pasien dari perilaku bunuh diri.
a.

Mengajarkan keluarga tentang cara yang dapat dilakukan keluarga bila pasien memperlihatkan
tanda dan gejala bunuh diri.

b.
-

Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien, antara lain:


Memberikan tempat yang aman. Menempatkan pasien ditempat yang mudah di awasi, jangan
biarkan pasien mengunci diri dikamarnya atau jangan meninggalkan pasien sendirian dirumah

Menjauhkan barang-barang yang bias digunakan untuk bunuh diri. Jauhkan pasien dari
barang-barang yang bias digunakan untuk bunuh diri, seperti tali, bahan bakar minyak/bensin,
api, pisau atau benda tajam lainnya, zat yang berbahaya seperti racun nyamuk atau racun
serangga.

Selalu mengadakan pengawasan dan meningkatkan pengawasan apa bila ada tanda dan gejala
bunuh diri meningkat. Jangan pernah melonggarkan pengawasan, walaupun pasien tidak
menunjukkan tanda dan gejala untuk bunuh diri.

c.

Menganjurkan keluarga untuk malaksanakan cara tersebut diatas.

1.3.Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apa bila pasien melakukan
percobaan bunuh diri, antara lain:
a.

Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau pemuka masyarakat untuk menghentikan upaya
bunuh diri tersebut

b.

Segera membawa pasien kerumah sakit atau puskesmas untuk mendapatkan bantuan medis.

1.4. Mencari keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi pasien
a.

Memberikan informasi tentang nomor telpon darurat tenaga kesehatan

b.

Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan pasien berobat/control secara teratur untuk


mengatasi masalah bunuh dirinya

c.

Menganjurkan keluarga uuntuk membantu pasien minum obat sesuai prinsip lima benar
pemberian obat.

CATATAN PERAWATAN DAN PERKEMBANGAN


NO
1.

TGL/JAM DIAGNOSA
10/4/2010

KEP
Resiko Bunuh

PK.10.00

Diri

1.

WIB

TINDAKAN

EVALUASI

Sp I Pasien

S:

Membina hubungan saling


percaya dengan klien

2.

Mengidentifikasi benda-benda
yang dapat membahayakan pasien

3.

Mengamankan benda-benda yang


dapat membahayakan pasien.

4.

Melakukan kontrak treatment

5.

Mengajarkan cara mengendalikan


dorongan bunuh diri

Klien mengatakan
sudah mencoba
belajar berkenalan
namun masih
enggan untuk
dilakukan
O:
Klien aktif dan
memperhatikan

Sp II Pasien

selama latihan
berkenalan

1.

Mengidentisifikasi aspek positif

dengan perawat

pasien
2.

Mendorong pasien untuk berfikir


positif terhadap diri sendiri

3.

Mendorong pasien untuk

A:
Klien sudah tahu
cara berkenalan

menghargai diri sebagai individu

dengan

yang berharga

menyebutkan
nama,asal,hobi

Sp III Pasien
1.

Mengidentisifikasi pola koping


yang biasa diterapkan pasien

2.

Menilai pola koping yng biasa


dilakukan

P:
Lanjutkan
berkenalan
dengan orang

3.

Mengidentifikasi pola koping


yang konstruktif

4.

Mendorong pasien memilih pola


koping yang konstruktif

5.

Menganjurkan pasien
menerapkan pola koping
konstruktif dalam kegiatan harian
Sp IV Pasien

1.

Membuat rencana masa depan


yang realistis bersama pasien

2.

Mengidentifikasi cara mencapai


rencana masa depan yang realistis

3.

Memberi dorongan pasien


melakukan kehiatan dalam rangka
meraih masa depan yang realistis
SP 1 Keluaga

1.

Mendiskusikan massalah yang


dirasakan keluarga dalam merawat
pasien

2.

Menjelaskan pengertia, tanda dan


gejala resiko bunuh diri, dan jenis
prilaku yang di alami pasien beserta
proses terjadinya

3.

Menjelaskan cara-cara merawat


pasien resiko bunuh diri yang
dialami pasien beserta proses
terjadinya.
SP II Keluarga

lain.

1.

Melatih keluarga
mempraktekan cara merawat pasien
dengan resiko bunuh diri

2.

Melatih keluarga melakukan cara


merawat langsung kepada pasien
resiko bunuh diri.
SP III Keluarga

1.

Membantu keluarga membuat


jadual aktivitas dirumah termasuk
minum obat\

2.

Mendiskusikan sumber rujukan


yang bias dijangkau oleh keluarga

DAFTAR PUSTAKA
Yosep, Iyus. 2009. Keperawatan Jiwa. cetakan kedua (edisi revisi). Bandung: PT Refrika Aditama
Mustofa, Ali. 2010. Asuhan Keperawatan Psikiatri Berbasis Klinik. Mataram
Keliat Budi A. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Edisi 1. Jakarta: EGC
Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan, pedoman

Perawat

untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC, Jakarta

SP RESIKO BUNUH DIRI


PASIEN
SP I Pasien: Melindungi pasien dari percobaan bunuh diri
Orientasi:
: Assalamualakum, Selamat pagi Mba Ayu. Perkenalkan saya perawat Nova. yang bertugas di
ruang mawar ini saat ini, saya dinas dari jam 7 pagi sampai jam 2 siang. Bagaimana perasaan
Mba Ayu hari ini?

Mba Ayu

: Hari ini saya sangat sedih dan jengkel Ners

Perawat

: Kalau tidak keberatan, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang apa yang Mba Ayu
rasakan dan alami selama ini. Saya siap kok mendengarkan semua cerita Mba, bagaimana apa
Mba bersedia?

Mba Ayu

:Baik Ners saya bersedia, (Menggukan kepala tanda setuju)

Perawat

: Kalau begitu dimana kita bisa bicara dan berapa lama kita bisa bicara?

Mba Ayu

: Ditaman, saya suka duduk menyendiri disana, satu jam

Perawat

: Baiklah kalau begitu, mari kita kesana

Perawat

Tahap Kerja:
: Sekarang Mba bisa cerita bagaimana perasaan Mba setelah Pacar Mba yang sangat Mba
cintai menghamili dan meninggalkan Mba menikah dengan wanita lain ini terjadi?.

Mba Ayu

: Saya sangat terpukul dan sedih Sus, saya fikir dunia kan berahir detik itu juga. Saya binggung
dan malu sudah mencoreng arang di wajah keluarga saya, saya benar-benar anak yang tak
berguna.

Perawat

: Apa karena hal tersebut Mba merasa menjadi orang paling menderita di bumi ini?

Mba Ayu

: Saya rasa lebih dari menderita Ners, saya sangat sensara dan merasa kehidupan saya telah

Mba Ayu

hancur dan menderita, tak ada gunanya lagi saya hidup.


Perawat

: Bagaimana dengan kepercayaan diri Mba, apa merasa kehilangan percaya diri?
Mba merasa tak berharga atau bahkan lebih rendah dari pada orang lain?

:Saya sangat malu dengan keluarga, tentangga dan teman-teman saya karena menjadi aip dan
mencoreng arang di muka keluarga saya

Perawat

: Apakah Mba merasa bersalah atau mempersalahkan diri sendiri?

Mba Ayu

: Sering Ners, mungkin memang ini semua salah saya, telah semudah itu percaya dengan lakilaki brengsek itu. Seandainya saja saya mendengar nasehat ibu dan keluarga saya.

Perawat

: Apa Mba juga sering mengalami kesulitan berkonsentrasi

Mba Ayu

: Saya sangat pusing dengan semua ini. Jangankan berkonsentrasi berfikir jernih saja saya

Perawat

Mba Ayu

Perawat

sangat susah
: Apa pernah terbesit dalam fikiran Mba untuk menyakiti diri/bunuh diri atau baMba inggin
mati
: Saya pernah mencoba gantung diri di kamar mandi rumah saya dengan seutas tali jemuran tapi
saya akhirnya gagal karena ditolong tetangga saya dan saya juga sering menyayat pergelangan
tangan saya. Bagi saya tidak ada gunanya lagi saya hidup, saya tidak berguna. (menunjukkan
pergelangan tanggam)
: Baiklah, setelah saya mendengar cerita Mba tampaknya Mbanya membutuhkan pertolongan
segera karena ada keinginan untuk menggahiri hidup. Saya juga perlu memeriksa seluruh isi
kamar Mba untuk memastikan tidak ada benda-benda yang membahayakan (seperti gunting,
pisau, cermin dan benda tajam lainya). Mulai sekarang saya juga takkan membiarkan Mba
sendiri. Apa yang Mba lakukan jika keinginan bunuh diri itu muncul?

Mba Ayu

: Saya sering menggigit, membenturkan kepala dan menyakiti diri saya sendiri

Perawat

: Baiklah, mulai sekarang kalau keingginan itu muncul Mba harus langsung meminta tolong
kepada perawat diruangan ini bisa saya, atau perawat yang sedang sift, keluarga atau teman jika
sedang besuk Mba untuk mengatasi keingginan Mba tersebut serta katakana kepada mereka

jika ada dorongan untuk bunuh diri. Mba juga jangan sendiri ya, cobalah untuk berkumpul dan
berinteraksi denga teman Mba yang laen. Apa Mba paham dengan yang saya katakan?

Mba Ayu

: Ya Ners. saya akan berusaha mencoba

Perawat

: Saya seneng mendengar nya, saya percaya baMba Ayu dapat mengatasi masalah ini, OKAY?

Terminasi

Perawat

: Bagaimana perasaan Mba sekarang setelah mengetahui cara mengetahui perasaan keingginan
bunuh diri?

Mba Ayu

:saya sudah sedikit lebih tenang, terima kasih Ners

Perawat

: Bisa Mba sebutkan kembali cara tadi yang saya telah jelaskan?

Mba Ayu

: (menyebutkan kembali cara)

Perawat

: saya akan menemani Mba Ayu terus sampai keingginan bunuh diri Mba hilang (jangan
tinggalkan pasien)
Sp II Pasien: meningkatkan harga diri dan menidentifikasi aspek positif pasien isyarat
bunuh diri
Oriantasi
Assalamualaikumba Mba Ayu, Bagaimna perasaan Mba di pagi yang cerah ini? Bagaimana,
Masi adakah doorongan Mba Ayu untuk mengaihiri kehidupan? Baik, sesuai janji kita kemarin
sekarang kita akan membahas tentang rasa syukur atas pemberian tuhan yang masih Mba
miliki serta aspek positif dalam diri Mba, bukannya Mba masih punya keluarga dan teman
yang sayang dengan Mba serta calon bayi yang Mbakandung. Berapa lama kita akan bercakap
dan mau dimana?
Tahap Kerja
Menurut Mba, apa saja dalam hidup Mba yang perlu disyukuri, siapa saja yang akan sedih dan
merasa rugi jika Mba meninggal. Coba sekarang Mba Ayu ceritakan hal-hal yang baik dalam
kehidupan Mba. Keadaan yang bagaimana yang membuat Mba merasa puas? Bagus!. Ternyata
kehidupan Mba Ayu masih ada yang baik dan patut di syukuri. Coba Mba sebutkan kegiatan
apa yang masih Mba lakukan selama ini Bagaimana kalau Mba mencoba melakukan kegiatan
tersebut lagi, mari kita berlatih.
Terminasi

Bagaimana perasaan Mba Ayu sekarang setelah kita bercakap-cakap? Bisa Mba sebutkan
kembali apaapa saja yang patut Mba syukuri dalam hidup Mba?. Ingat dan ucapkan selalu halhal yang baik dalam hidup Mba jika terjadi dorongan mengakhiri kehidupan. Bagus Mba Ayu!
Coba inggat-ingat lagi hal-hal lain yang masih Mba Ayu miliki dan perlu syukuri nanti jam 12
kita bahas tentang cara mengatasi masalah dengan baik? Tempatnya dimana. Namun, jika ada
perasaan-perasaan yang tak terkendali segera hubungi saya ya Mba. Permisi.
SP III Pasien: meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah (pola koping)
pasien isyarat bunuh diri
Oriantasi
Assalamualaikum Mba Ayu, Bagaimna perasaan Mba di pagi yang cerah ini? Masi adakah
keinggina untuk bunuh diri? Menurut Mba, Apa lagi hal-hal positif yang perlu Mba syukuri?
Sekarang kita akan berdiskusi tentang bagaimana cara mengatasi masalah yang selama ini
timbul. Mau berapa lama? di sini saja?
Tahap Kerja
Coba ceritakan situasi yang membuat Mba Ayu ingin bunuh diri. Selain bunuh diri, apa kirakira jalan keluar dari masalah yang Mba alami. Hemm ternyata banyak juga yah. Nah,
sekarang coba kita diskusikan keuntungan dan kerugian masing-masing cara tersebut. Mari kita
pilih cara mengatasi masalah yang paling menguntungkan!, kalau menurut Mba Ayu yang
mana? Ya, saya setuju, Bisa di coba! Mari kita buat rencana kegiatan dan memasukkannya
kedalam jadwal kegiatan harian baMba.
Terminasi
Bagaimana perasaan Mba Ayu sekarang setelah kita bercakap-cakap? Apa cara mengatasi
masalah yang akan Mba Ayu gunakan? Coba dalam satu hari ini, Mba menyelesaikan masalah
yang Mba alami dengan cara yang Mba pilih tadi. Besok dijam yang sama kita akan bertemu
lagi disini untuk membahas pengalaman Mba Ayu menggunakan cara yang dipilih.
Sp IV Pasien: Menyusun rencana Masa depan
Oriantasi

Assalamualaikum Mba Ayu, Bagaimna perasaan Mba di pagi yang cerah ini? Masi adakah
keinggina untuk bunuh diri?. Saya rasa pasti sudah tidak ada. Menurut Mba, Apa lagi cara
mengatasi masalah yang selama ini timbul? Sekarang kita akan berdiskusi tentang rencana
maa depan ibu dan cara mencapainya. Mau berapa lama? di sini saja?
Tahap Kerja
Coba ceritakan apa rencana Mba Ayu dimasa depan setelah keluar dari sini nanti. Bagus!!.
Ternyata Mba mempunyai rencana yang luar biasa bagus dan masih mempunyai semangat hidup
yang besar. Nah, sekarang coba kita diskusikan keuntungan dan kerugian masing-masing rencana
tersebut dan bagaimana cara mencapai masa depan yang Mba ingginkan. Mari kita pilih cara
yang paling baik dan realistis!, kalau menurut Mba Ayu yang mana? Ya, saya setuju, Bisa di
coba! Mari kita buat rencana kegiatan dan memasukkannya kedalam jadwal kegiatan harian
Mba agar masa depan yang Mba rencanakan dapat tercapai.
Terminasi
Bagaimana perasaan Mba Ayu sekarang setelah kita bercakap-cakap? Apa cara mencapai
rencana masa depan yang Mba Ayu gunakan? Coba mulai sekarang, Mba melakukan
kegiatan/rencana tersebut dengan cara yang Mba pilih tadi. Besok dijam yang sama kita akan
bertemu lagi disini untuk membahas pengalaman Mba Ayu menggunakan cara yang dipilih.
Saya harap Mba tetap semangat, saya yakin masa depan yang Mba ingginkan pasti Mba
dapatkan. Saya permisi dulu..
KELUARGA
SP I Keluarga: mendiskusikan masalah dan mengajarkan keluarga tentang cara merawat
anggota keluarga yang beresiko bunuh diri
Orientasi:
Assalamualakum Bapak/Ibu, kenalkan saya perawat Nova yang merawat Anak Bapak/Ibu di
rumah sakit ini.
Bagaiman kalua kita berbincang-bincang tentang cara merawat agar Mba Ayu tetap selamat
dan tidak melukai dirinya sendiri. Bagaimana apa Bapak/Ibu bersedia? Bagaimana kalau disini
saja kita berbincang-bincangnya Pak/Bu? Sambil kita mengawasi terus Mba Ayu.
Tahap Kerja

Apa masalah atau kesulitan yang Bapak/Ibu rasakan dalam merawat Mba Ayu?.
Oww.Begini Bapak/Ibu, Mba Ayu sedang mengalami putus asa yang sangat berat akibat
kekasihnya yang telah menghamili dan meninggalkannya menikah dengan wanita lain ini terjadi,
sehingga sekarang ia selalu inggin mengaikhiri hidupnya karena merasa tak berguna.
Bapak/Ibu sebaiknya baMba dan Mba memperhatikan benar-benar munculnya dan tanda dan
gejala bunuh diri. Pada umumnya orang yang melakukan bunuh diri menunjukan gejala melalui
percakapan misalnyasaya tidak inggin hidup lagi, orang lain lebih baik tanpa saya. Apakah
Bapak/Ibu pernah mendengar Mba Ayu mengatakan hal tersebut?
Jika Bapak/Ibu menemukan tanda dan gejala seperti itu, mata sebaiknya Bapak/Ibu
mendengarkan ungkapan perasaan dari Mba Ayu secara serius. Pengawasan terhadap Mba Ayu
pun harus ditingkatkan, Jangan tinggalkan atau biarkan beliau sendiri dirumah atau jangan
biarkan mengunci diri dikamar. Kalau menemukan dan tanda dan gejala tersebut, dan
menemukan alat-alat yang akan digunakan untuk bunuh diri. Seperti tali tambang, silet, gunting,
ikat pinggang, pisua serta benda tajam lainnya yang mungkin bisa di gunaka untuk melukai diri,
sebaiknyan dicegah dengan meningkatkan pengawasan dan memberi dukungan untuk tidak
melakukan hal tersebut. Katakana Bapak/Ibu serta keluarga bahwa sayang pada Mba Ayu dan
katakana juga kebaikan-kebaikannya.
Selain itu usahakan 5x sehari Bapak/Ibu memuji beliau dengan tulus tapi tidak berlebihan.
Tetapi jika sudah terjadi percobaan bunuh diri, sebaiknya Bapak/Ibu mencari bantuan orang
lain. Apabila tidak bisa diatasi segera rujuk kepuskesmas untuk mendapatkan peraeatan yang
serius. Setelah kembali kerumah, Bapak/Ibu perlu membantu agar Mba Ayu terus berobat untuk
mengatasi keingginan bunuh dirinya.
Karena kondi Mba Ayu yang dapat saja nekat mengakhiri hidupnya sewaktu-waktu, kita semua
harus mengawasi Mba Ayu terus menerus. Bapak/Ibu Bapak/Ibu juga kami minta partisipasinya
untuk juga dapat mengawasi Mba Ayu ya pokoknya baMba Ayu tidak boleh ditinggal sendiri
sedikitpun untuk sementara karena dalam kondisi serius
Jika Bapak/Ibu berbicara pada Mba Ayu focus pada hal-hal positif, hindarkan pernyataan
negative. Selain itu sebaiknya Mba Ayu pumya kegiatan positif seperti melakukan hobinya
bermain music, menyulam dll supaya Mba Ayu tidak sempat melamun sendiri.
Terminasi:

Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah mengetahui cara untuk mengatasi perasaan inggin
bunuh diri dan merawat pasien resiko bunuh diri?
Bagaimana Bapak/Ibu? Ada yang belum jelas atau mau ditanyakan?. Bapak/Ibu tolong bisa
diulangi lagi cara-cara merawat anggota keluarga yang inggin bunuh diri?. Ya, Bagus jika
Bapak/Ibu sudah mengerti. Jangan lupa pengawasannya ya! Jika ada tanda-tanda keinginan
bunuh diri segera hubungi kami. Kita dapat melanjutkan untuk membicarakan cara-cara
meningkatlkan harga diri Mba Ayu dan penyelesaian masalahnya pada pertemuan akan datang.
Bagaimana Bapak/Ibu setuju? Kalau begitu sampai bertemu lagi besok disini. Terima kasih
atas waktunya.
SP II Keluarga: Melatih dan mempraktekan cara merawat pasien resiko bunuh diri
Orientasi:
Assalamualakum Bapak/Ibu, sesuai janji kitakemarin lalu alhamdullah kita sekarang bisa
bertemu lagi. Bagaimana Bapak/Ibu ada pertanyaan tentang cara merawat pasien resiko bunuh
diri yang kita bicarakan minggu lalu?.
Sekarang kita akan mempraktekkan cara-cara merawat tersebut ya Bapak/Ibu? Kita akan
coba disini dulu, setelah itu baru kita coba langsung ke Mba Ayu ya?
Bapak/Ibu berapa lama waktu mau kita latihan?
Tahap Kerja
Sekarang anggap saya Mba Ayu yang mengatakan inggin mati saja, coba baMba dan Mba
praktikan cara berkomunikasi yang benar jika sedang berada dalam keadaan seperti ini
Bagus, cara Bapak/Ibu sudah benar
Sekarang coba praktekan cara member pujian kepada Mba Ayu?
Bagus, Kemudian bagaimna jika cara memotivasi Mba Ayu minum obat dan melakukan
kegiatan positifnya sesuai jadual?
Bagus sekali, ternyata Bapak/Ibu sudah mengerti cara merawat Mba Ayu?
Bagaimana Jika sekarang kita mencobanya langsung kepada Mba Ayu? (Ulangi lagi semua
cara diatas langsung kepada klien)
Terminasi
Bagaimana perasaan Bapak/Ibu berlatih cara merawa Mba Ayu di Rumah? Setelah ini coba
Bapak/Ibu lakukan apa yang sudah kita lakukan tadi setiap kali membesuk Mba Ayu Baiklah

bagaimana kalau 2/3 hari lagi Bapak/Ibu datang kembali kesini dan kita kan mencoba lagi cara
merawat Mba Ayu sampai Bapak/Ibu lancr melakukannya. Jam berapa Bapak/Ibu bisa
kemari? Baik saya tunggu, kita ketemu lagi di tempat ini ya Bapak/Ibu
SP III Keluarga: Perencanaan pulang bersama keluarga/Aktivitas di rumah dengan pasien
resiko bunuh diri
Orientasi:
Assalamualakum Bapak/Ibu, hari ini Mba Ayu sudah boleh pulang, maka sebaiknya kita
membicarakan jadual Mba Ayu selama dirumah berapa lama kita bias diskusi?, baik mari kita
diskusikan.
Tahap Kerja
Bapak/Ibu, ini jadual Mba Ayu selama dirumah sakit, coba perhatikan, dapatkah dilakukan
dirumah? tolong dilanjutkan dirumah, baik jadual aktivitas maupun jadual minum obatnya
Hal-hal yang perlu diperhatikanlebih lanjut adalah perilaku yang diitampilkan oleh Mba Ayu
selama dirumah. Kalau misalnya Mba Ayu Mengatakan terus menerus inggin bunuh diri,
tampak Mba gelisah dan tidak terkendali serta tidak memperlihatkan perbaikan, menolak minum
obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain, tolong Bapak/Ibu sekeluarga
hubungi perawat di puskesmas terdekat dari rumah Bapak/Ibu, ini nomor telpon puskesmas yang
bias di hubunggi (0370) 140791.
Terminasi
Bagaimna Bapak/Ibu ada yang belum jelas? ini jadual kegiatan harian Mba Ayu untuk
dibawah pulang. Ini surat rujukan untuk perawat di puskesmas Selaga Alas, jangan lupa control
ke puskesmas sebelum obat habis atau ada gejala yang tampak.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN RISIKO BUNUH DIRI


Label: askep jiwa, cafe sehat
A. Pengertian
Bunuh diri adalah segala perbuatan seseorang dengan sengaja, yang tahu akan
akibatnya dapat mengakhiri hidupnya dalam waktu yang singkat (Maramis, 1998).
Percobaan bunuh diri adalah tindakan klien mencederai atau melukai diri untuk
mengakhiri kehidupannya.
B. Faktor yang Mempengaruhi Bunuh Diri
Menurut Yosep (2009), faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku bunuh diri adalah sebagai
berikut :
1. Faktor Mood dan Biokimia Otak.
Ghanshyam Pandey beserta timnya dari University of Illinois, Chicago, menemukan bahwa
aktivitas enzim di dalam pikiran manusia bisa mempengaruhi mood yang memicu keinginan
mengakhiri nyawa sendiri. Pandey mengetahui fakta tersebut setelah melakukan eksperimen
terhadap otak 34 remaja yang 17 di antaranya meningkat akibat bunuh diri. Ditemukan bahwa
tingkat aktivitas protein kinase C (PKC) pada otak pelaku bunuh diri lebih rendah dibandingkan
mereka yang meninggal bukan karena bunuh diri. Temuan yang dipublikasikan di jurnal
Archives of General Psychiatry menyatakan bahwa PKC merupakan komponen yang berperan
dalam komunikasi sel, terhubung erat dengan gangguan mood seperti depresi di masa lalu.
Psikolog dari Benefit Strategic HRD Hj. Rooswita mengatakan, depresi berat menjadi penyebab
utama. Depresi timbul, karena pelaku tidak kuat menanggung beban permasalahan yang
menimpa. Karena terus menerus mendapat tekanan, permasalahan kian menumpuk dan pada
puncaknya memicu keinginan bunuh diri.
2. Faktor Riwayat Gangguan Mental.
Studi lanjutan Pandey, PKC bisa menjadi target intervensi terapi pada pasien-pasien yang
memiliki perilaku kecenderungan untuk bunuh diri. Namun masih menjadi misteri mengapa
ketidaknormalan PKC bisa berpengaruh sedemikian. Peter Parker, ilmuwan dari Cancer
Research London Research Instiute, mengatakan bahwa studi tersebut belum bisa dikatakan
final. Materi fisik yang dijadikan sampel dari orang yang sudah rusak akibat waktu ketika

dilakukan penelitian. Insiden depresi pada remaja dan mereka yang berusia muda cenderung
meningkat di tahun-tahun belakangan dan semakin mengkhawatirkan. Sebanyak 20% dari orang
muda meninggal akibat bunuh diri.
3. Faktor Meniru, Imitasi, dan Pembelajaran.
Menurut Direktur Utama Sanatorium Dharmawangsa, ada Proses Pembelajaran mereka yang
melakukan bunuh diri. Bisakah dikatakan bahwa gangguan kejiwaan disebabkan faktor genetik
atau keturunan? Jelas bisa begitu, walau tidak secara langsung. Gangguan kejiwaan memang
dipengaruhi pula oleh faktor genetik. Prosesnya memang tidak otomatis, jadi lewat proses.
Proses yang berlangsung adalah secara genetik yang mempengaruhi proses biologis juga.
Dalam kasus bunuh diri, dikatakan ada Proses Pembelajaran. Para korban memiliki pengalaman
dari salah satu keluarganya yang pernah melakukan percobaan bunuh diri atau meninggal karena
bunuh diri. Tidak hanya itu, biasa juga terjadi pembelajaran dari pengetahuan lainnya. Soal
bunuh diri, yang terlibat memang bukan kejiwaan saja. Proses pembelajaran di sini merupakan
asupan yang masuk ke dalam memori seseorang, seperti rekaman lagu di disket, begitu pula
memori yang selalu melekat di ingatan kita tentang berbagai peristiwa. Memori itu biasa
menyebabkan perubahan kimia lewat pembentukan protein-protein yang erat kaitannya dengan
memori. Pada tahap itu, bisa saja proses rekaman di memori dihambat. Itu dilakukan dengan
terapi dan perawatan. Sering kali banyak yang tidak menyadari Proses Pembelajaran ini sebagai
keadaan yang perlu diwaspadai. Bahkan, kita baru paham kalau pasien sudah diperiksa psikiater
atau dokter. Bisakah disebutkan bahwa kasus bunuh diri itu caranya sama seperti yang ada di
dalam memorinya? tidak selalu begitu. Caranya biasa macam-macam. Bisa saja dia melakukan
cara yang sama seperti yang ada di memorinya. Kita perlu perhatikan bahwa orang yang pernah
mencoba bunuh diri dengan cara yang lebih soft (halus), seperti minum racun, bisa melakukan
cara lain yang lebih hard (keras) dari yang pertama bila yang sebelumnya tidak berhasil. Dia
akan terus melakukannya dan meningkatkan kadar caranya bila usaha bunuh dirinya tidak
berhasil.
4. Faktor Isolasi Sosial dan Hukum Relations.
Menurut Rohana Man, kajian bunuh diri disebabkan oleh perasaan pelajar terpinggir dan terasing
menurut penelitian oleh 33 konselor dari Seremban, Kuala Kumpur dan Selangor. Secara
kualitatif mendapati pelajar bermasalah yang cenderung membunuh diri terdiri dari mereka yang
mempunyai tingkah laku terpinggir. Menurutnya, tingkah laku itu menyebabkan pelajar merasa

terasing karena karena tidak mempunyai kumpulan sendiri di sekolah. Ia merasa dirinya tidak
diterima di sekolah dan tidak mempunyai teman. Tambahnya, tingkah laku pelajar terpinggir
akan menjadi lebih buruk apabila merasa diri mereka juga tidak dipedulikan oleh keluarga.
Orang memilih bunuh diri, secara umum karena stress yang muncul karena kegagalan
beradaptasi. Ini dapat terjadi di lingkungan pekerjaan, keluarga, sekolah, pergaulan dalam
masyarakat, dan sebagainya. Demikian pula bila seseorang merasa terisolasi, kehilangan
hubungan interpersonal merupakan sifat alami manusia. Bahkan keputusan bunuh diri juga bisa
dilakukan karena perasaan bersalah. Suami membunuh diri isteri, kemudian dilanjutkan
membunuh dirinya sendiri, bisa dijadikan contoh kasus.
5. Faktor hilangnya Perasaan Aman dan Ancaman Kebutuhan Dasar.
Rasa tidak aman merupakan penyebab terjadinya banyak kasus bunuh diri di Jakarta dan
sekitarnya, akhir-akhir ini (Kompas). Tidak adanya rasa aman untuk menjalankan usaha bagi
warga serta ancaman terhadap tempat tinggal mereka berpotensi kuat memunculkan gangguan
kejiwaan seseorang hingga tahap bunuh diri.
Menurut Prayitno, banyak kasus bunuh diri yang disebabkan faktor pengangguran, kemiskinan,
malu, dan ketidakmampuan bersaing dalam kehidupan, atau karena tekanan-tekanan lain.
6. Faktor Religiusitas.
Dengan alas an apapun dan agama mana pun, bunuh diri dipandang dosa besar dan mengingkari
kekuasaan Tuhan. Menurut Dahli Khairi, bunuh diri sebagai gejala tipisnya iman atau kurang
begitu memahami ilmu agama.
C. Jenis Bunuh Diri
Menurut Durkheim, bunuh diri dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Bunuh diri egoistic (faktor dalam diri seseorang)
Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini disebabkan oleh kondisi
kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadikan individu itu seolah-olah tidak
berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat menerangkan mengapa mereka tidak
menikah lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri dibandingkan mereka yang
menikah.
2. Bunuh diri altruistic (terkait kehormatan seseorang)

Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk bunuh diri
karena indentifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia merasa kelompok tersebut sangat
mengharapkannya.
3. Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)
Hal ini terjadi bila terdapat gangguan keseimbangan integrasi antara individu dan
masyarakat, sehingga individu tersebut meninggalkan norma-norma kelakuan yang biasa.
Individu kehilangan pegangan dan tujuan. Masyarakat atau kelompoknya tidak memberikan
kepuasan padanya karena tidak ada pengaturan atau pengawasan terhadap kebutuhankebutuhannya.
D. Pengkajian
Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh klien untuk
mengakhiri kehidupannya. Berdasarkan besarnya kemungkinan klien melakukan bunuh diri, ada
tiga macam perilaku bunuh diri yang perlu diperhatikan, yaitu :
1. Isyarat bunuh diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung ingin bunuh diri,
misalnya dengan mengatakan :Tolong jaga anak-anak karena saya akan pergi jauh! atau
Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.
Pada kondisi ini klien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, namun
tidak disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri. Klien umumnya mengungkapkan
perasaan seperti rasa bersalah/ sedih/ marah/ putus asa/ tidak berdaya. Klien juga
mengungkapkan hal-hal negatif tentang diri sendiri yang menggambarkan harga diri rendah.
2. Ancaman bunuh diri.
Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh klien, berisi keinginan untuk mati disertai
dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk melaksanakan rencana
tersebut. Secara aktif klien telah memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan
percobaan bunuh diri.
Walaupun dalam kondisi ini klien belum pernah mencoba bunuh diri, pengawasan ketat
harus dilaksanakan. Kesempatan sedikit saja dapat dimanfaatkan klien untuk melaksanakan
rencana bunuh dirinya.
3. Percobaan bunuh diri.

Percobaan bunuh diri merupakan tindakan klien mencederai atau melukai diri untuk
mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini, klien aktif mencoba bunuh diri dengan cara gantung
diri, minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat tinggi.
E. Diagnosa Keperawatan
RISIKO BUNUH DIRI
G. Rencana Keperawatan
TUM :
Klien tidak mencederai diri sendiri
TUK 1
Klien dapat membina hubungan saking percaya.
Kriteria Evaluasi :
Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat
tangan,mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan
perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi
Rencana Tindakan :
1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik :
a. Sapa klien dengan nama baik verbal maupun non verbal.
b. Perkenalkan diri dengan sopan.
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien.
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar
TUK 2
Klien dapat terlindung dari perlaku bunuh diri,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
Rencana Tindakan :
1. Jauhkan klien dari benda-benda yang dapat membahayakan.
2. Tempatkan klien diruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat.
3. Awasi klien secara ketat setiap saat

TUK 3
Klien dapat mengekspresikan perasaannya,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat mengekspresikan perasaannya
Rencana Tindakan :
1. Dengarkan keluhan yang dirasakan klien.
2. Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan dan keputusasaan.
3. Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti penderitaannya.
4. Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan keinginan untuk hidup.
TUK 4
Klien dapat meningkatkan harga diri,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat meningkatkan harga dirinya
Rencana Tindakan :
1. Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.
2. Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu.
3. Bantu mengidentifikasi sumber-sumber harapan (misal : hubungan antar sesama, keyakinan, halhal untuk diselesaikan).
TUK 5
Klien dapat menggunakan koping yang adaptif,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
Rencana Tindakan :
1. Ajarkan mengidentifikasi pengalaman-pengalaman yang menyenangkan.
2. Bantu untuk mengenali hal-hal yang ia cintai dan yang ia sayangi dan pentingnya terhadap
kehidupan orang lain.
3. Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain.
TUK 6
Klien dapat menggunakan dukungan sosial,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menggunakan dukungan sosial.

Rencana Tindakan :
1. Kaji dan manfaatkan sumber-sumber eksternal individu.
2. Kaji sistem pendukung keyakinan yang dimiliki klien.
3. Lakukan rujukan sesuai indikasi (pemuka agama).
TUK 7
Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat,
Kriteria evaluasi :
Klien dapat menggunakan obat dengan tepat
Rencana Tindakan :
1. Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).
2. Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar.
3. Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan oleh klien.
4. Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.

askep pada klien dengan bunuh diri dan resiko bunuh diri
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Bunuh diri merupakan salah satu bentuk kegawat daruratan psikiatri. Meskipun suicide adalah
perilaku yang membutuhkan pengkajian yang komprehensif pada depresi, penyalahgunaan
NAPZA , skizofrenia, gangguan kepribadian( paranoid, borderline, antisocial), suicide tidak bisa
disamakan dengan penyakit mental.
Beberapa hambatan dalam melakukan managemen klien dengan bunuh diri adalah pasien yang
dirawat dalam waktu yang cukup singkat sehingga membuat klien kurang mampu
mengungkapkan perasaannya tentang bunuh diri. Kurang detailnya tentang pengkajian resiko
bunuh diri pada saat masuk dan banyak perawat kurang melakukan skrening akan resiko bunuh
diri. Disamping itu 2 dari 3 orang yang melakukan suicide diketahui oleh perawat dalam
beberapa bulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa tenaga kesehatan kurang
memberikan intervensi yang adekuat. Lebih lanjut banyak perawat mungkin takut untuk
menanyakan tentang masalah bunuh diri pada pasien atau bahkan tidak mengetahui bagaimana
untuk menanyakan jika pasien memiliki pikiran untuk melakukan suicide.
Oleh karena itu suicide pada pasien rawat inap merupakan masalah yang perlu penanganan yang
cepat dan akurat. Pada makalah ini akan dipaparkan mengenai factor resiko terjadinya bunuh
diri, instrument pengkajian dan managemen keperawatannya dengan pendekatan proses
keperawatanya.

1.2 TUJUAN
1.2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara

umum tentang perilaku bunuh diri (suicide)


1.2.2 Tujuan Khusus
Untuk mengetahui perilaku percobaan bunuh diri pada seseorang
Untuk mengetahui askep perilaku percobaan bunuh diri
Untuk memenuhi tugas mata kuliah keperawatan jiwa.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Bunuh Diri
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan.
Bunuh diri mungkin merupakan keputusan terkahir dari individu untuk memecahkan masalah
yang dihadapi (Keliat 1991 : 4).

Menurut Beck (1994) dalam Keliat (1991 hal 3) mengemukakan rentang harapan putus
harapan merupakan rentang adaptif maladaptif.
Respon adaptif merupakan respon yang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan kebudayaan
yang secara umum berlaku, sedangkan respon maladaptif merupakan respon yang dilakukan
individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma-norma sosial dan
budaya setempat. Respon maladaptif antara lain :
a. Ketidakberdayaan, keputusasaan, apatis. : Individu yang tidak berhasil memecahkan masalah
akan meninggalkan masalah, karena merasa tidak mampu mengembangkan koping yang
bermanfaat sudah tidak berguna lagi, tidak mampu mengembangkan koping yang baru serta
yakin tidak ada yang membantu.
b. Kehilangan, ragu-ragu :Individu yang mempunyai cita-cita terlalu tinggi dan tidak realistis
akan merasa gagal dan kecewa jika cita-citanya tidak tercapai. Misalnya : kehilangan pekerjaan
dan kesehatan, perceraian, perpisahan individu akan merasa gagal dan kecewa, rendah diri yang
semua dapat berakhir dengan bunuh diri.
c. Depresi : Dapat dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan yang ditandai dengan kesedihan
dan rendah diri. Biasanya bunuh diri terjadi pada saat individu ke luar dari keadaan depresi berat.
d. Bunuh diri Adalah tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk mengkahiri
kehidupan. Bunuh diri merupakan koping terakhir individu untuk memecahkan masalah yang
dihadapi.
2.2 Rentang Perilaku Bunuh diri
Self enhancement Growth promoting Indirect self- Self injury. Suicide risk taking destruktive
behaviour . Pada umumnya tindakan bunuh diri merupakan cara ekspresi orang yang penuh
stress Perilaku bunuh diri berkembang dalam beberapa rentang diantaranya :
Suicidal ideation, Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau sebuah
metoda yang digunakan tanpa melakukan aksi/ tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak akan
mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perawat perlu menyadari
bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikiran tentang keinginan untuk mati
Suicidal intent, Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang
konkrit untuk melakukan bunuh diri,
Suicidal threat, Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yan dalam ,

bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya .


Suicidal gesture, Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada diri
sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada percobaan untuk
melakukan bunuh diri. Tindakan yang dilakukan pada fase ini pada umumnya tidak mematikan,
misalnya meminum beberapa pil atau menyayat pembuluh darah pada lengannya. Hal ini terjadi
karena individu memahami ambivalen antara mati dan hidup dan tidak berencana untuk mati.
Individu ini masih memiliki kemauan untuk hidup, ingin di selamatkan, dan individu ini sedang
mengalami konflik mental. Tahap ini sering di namakan Crying for help sebab individu ini
sedang berjuang dengan stress yang tidak mampu di selesaikan.
Suicidal attempt, Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu
ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang mematikan . walaupun
demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan kehidupannya.
Suicide. Tindakan yang bermaksud membunuh diri sendiri . hal ini telah didahului oleh
beberapa percobaan bunuh diri sebelumnya. 30% orang yang berhasil melakukan bunuh diri
adalah orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri sebelumnya. Suicide ini yakini
merupakan hasil dari individu yang tidak punya pilihan untuk mengatasi kesedihan yang
mendalam.
2.3 Penyebab Bunuh Diri
a. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart dan Sundeen (1997), faktor predisposisi bunuh diri antara lain :
1. Diagnostik > 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, mempunyai
hubungan dengan penyakit jiwa. Tiga gangguan jiwa yang dapat membuat individu beresiko
untuk bunuh diri yaitu gangguan apektif, penyalahgunaan zat, dan skizofrenia.
2. Sifat kepribadian, tiga aspek kepribadian yang berkaitan erat dengan besarnya resiko bunuh
diri adalah rasa bermusuhan, implisif dan depresi.
3. Lingkungan psikososial, Seseorang yang baru mengalami kehilangan, perpisahan/perceraian,
kehilangan yang dini dan berkurangnya dukungan sosial merupakan faktor penting yang
berhubungan dengan bunuh diri.
4. Riwayat keluarga/factor genetik, Factor genetic mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri
pada keturunannya serta merupakan faktor resiko penting untuk prilaku destruktif.. Disamping
itu adanya penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi terjadinya resiko

buuh diri.
5. Faktor biokimia, Data menunjukkan bahwa secara serotogenik, apatengik, dan depominersik
menjadi media proses yang dapat menimbulkan prilaku destrukif diri.
b. Faktor Presipitasi
Faktor pencetus seseorang melakukan percobaan bunuh diri adalah :
1. Perasaan terisolasi dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/gagal melakukan
hubungan yang berarti.
2. Kegagalan beradaptasi sehingga tidak dapat menghadapi stres.
3. Perasaan marah/bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri.
4. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.
2.4 Psikopatologi
Semua prilaku bunuh diri adalah serius apapun tujuannya. Orang yang siap membunuh diri
adalah orang yang merencanakan kematian dengan tindak kekerasan, mempunyai rencana
spesifik dan mempunyai niat untuk melakukannya. Prilaku bunuh diri biasanya dibagi menjadi 4
kategori :
a. Isyarat Bunuh Diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berprilaku secara tidak langsung ingin bunuh diri,
misalnya dengan mengatakan:tolong jaga anak-anak karena saya akan pergi jauh! atau segala
sesuatu akan lebih baik tanpa saya.
Pada kondisi ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, namun tidak
disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri. Pasien umumnya mengungkapkan perasaan
seperti rasa bersalah/sedih/marah/putus asa/tidak berdaya. Pasien juga mengungkapkan hal-hal
negative tentang diri sendiri yang menggambarkan harga diri rendah.
b. Ancaman bunuh diri
Peningkatan verbal/nonverbal bahwa orang tersebut mempertimbangkan untuk bunuh diri.
Ancaman menunjukkan ambivalensi seseorang tentang kematian, kurangnya respon positif dapat
ditafsirkan seseorang sebagai dukungan untuk melakukan tindakan bunuh diri.
Ancaman bunuh diri pada umumnya diucapkan oleh pasien, berisi keinginan untuk mati,disertai
dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk melaksanakan rencana
tersebut. Secara aktif pasien telah memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan

percobaan bunuh diri.

c. Upaya bunuh diri


Semua tindakan yang diarahkan pada diri yang dilakukan oleh individu yang dapat mengarah
pada kematian jika tidak dicegah. Pada kondisi ini pasien aktif mencoba bunuh diri dengan cara
gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.
Percobaan bunuh diri terlebih dahulu individu tersebut mengalami depresi yang berat akibat
suatu masalah yang menjatuhkan harga dirinya.
d. Bunuh Diri
Bunuh diri mungkin terjadi setelah tanda peningkatan terlewatkan atau terabaikan. Orang yang
melakukan percobaan bunuh diri dan yang tidak langsung ingin mati mungkin pada mati jika
tanda-tanda tersebut tidak diketahui tepat pada waktunya.
2.5 Tanda dan Gejala
Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebut tidak membuat rencana
yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri tersebut.
a. Petunjuk dan gejala
1. Keputusasaan
2. Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal dan tidak berguna
3. Alam perasaan depresi
4. Agitasi dan gelisah
5. Insomnia yang menetap
6. Penurunan BB
7. Berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan sosial.
8. Petunjuk psikiatrik
a. Upaya bunuh diri sebelumnya
b. Kelainan afektif
c. Alkoholisme dan penyalahgunaan obat
d. Kelaianan tindakan dan depresi mental pada remaja
e. Dimensia dini/ status kekacauan mental pada lansia

f. Riwayat psikososial
1. Baru berpisah, bercerai/ kehilangan
2. Hidup sendiri
3. Tidak bekerja, perbahan/ kehilangan pekerjaan baru dialami
4. Faktor-faktor kepribadian
a. Implisit, agresif, rasa bermusuhan
b. Kegiatan kognitif dan negatif
c. Keputusasaan
d. Harga diri rendah
e. Batasan/gangguan kepribadian antisocial

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PERILAKU BUNUH DIRI
3.1 Pengkajian
Data yang perlu dikumpulkan saat pengkajian :
1. Riwayat masa lalu :
Riwayat percobaan bunuh diri dan mutilasi diri
Riwayat keluarga terhadap bunuh diri
Riwayat gangguan mood, penyalahgunaan NAPZA dan skizofrenia
Riwayat penyakit fisik yang kronik, nyeri kronik.

Klien yang memiliki riwayat gangguan kepribadian boderline, paranoid, antisosial


Klien yang sedang mengalami kehilangan dan proses berduka
2. Peristiwa hidup yang menimbulkan stres dan kehilangan yang baru dialami.
3. Hasil dan alat pengkajian yang terstandarisasi untuk depresi.
4. Riwayat pengobatan.
5. Riwayat pendidikan dan pekerjaan.
6. Catat ciri-ciri respon psikologik, kognitif, emosional dan prilaku dari individu dengan
gangguan mood.
7. Kaji adanya faktor resiko bunuh diri dan letalitas prilaku bunuh diri :
Tujuan klien misalnya agar terlepas dari stres, solusi masalah yang sulit.
Rencana bunuh diri termasuk apakah klien memiliki rencana yang teratur dan cara-cara
melaksanakan rencana tersebut.
Keadaan jiwa klien (misalnya adanya gangguan pikiran, tingkat gelisah, keparahan gangguan
mood).
Sistem pendukung yang ada.
Stressor saat ini yang mempengaruhi klien, termasuk penyakit lain (baik psikiatrik maupun
medik), kehilangan yang baru dialami dan riwayat penyalahgunaan zat.
Kaji sistem pendukung keluarga dan kaji pengetahuan dasar keluarga klien, atau keluarga
tentang gejala, meditasi dan rekomendasi pengobatan gangguan mood, tanda-tanda kekambuhan
dan tindakan perawatan diri.
8. Symptom yang menyertainya
a. Apakah klien mengalami :
Ide bunuh diri
Ancaman bunuh diri
Percobaan bunuh diri
Sindrome mencederai diri sendiri yang disengaja
b. Derajat yang tinggi terhadap keputusasaan, ketidakberdayaan dan anhedonia dimana hal ini
merupakan faktor krusial terkait dengan resiko bunuh diri.
Bila individu menyatakan memiliki rencana bagaimana untuk membunuh diri mereka sendiri.

Perlu dilakukan penkajian lebih mendalam lagi diantaranya :


Cari tahu rencana apa yang sudah di rencanakan
Menentukan seberapa jauh klien sudah melakukan aksinya atau perencanaan untuk melakukan
aksinya yang sesuai dengan rencananya.
Menentukan seberapa banyak waktu yang di pakai pasien untuk merencanakan dan mengagas
akan suicide
Menentukan bagaiamana metoda yang mematikan itu mampu diakses oleh klien.
Hal hal yang perlu diperhatikan didalam melakukan pengkajian tentang riwayat kesehatan
mental klien yang mengalami resiko bunuh diri :
Menciptakan hubungan saling percaya yang terapeutik
Memilih tempat yang tenang dan menjaga privacy klien
Mempertahankan ketenangan, suara yang tidak mengancam dan mendorong komunikasi
terbuka.
Menentukan keluhan utama klien dengan menggunakan kata kata yang dimengerti klien
Mendiskuiskan gangguan jiwa sebelumnya dan riwayat pengobatannya
Mendaptakan data tentang demografi dan social ekonomi
Mendiskusikan keyakinan budaya dan keagamaan
Peroleh riwayat penyakit fisik klien
Sebagai perawat perlu mempertimbangkan pasien yang memiliki resiko apabila menunjukkan
perilaku sebagai berikut :
Menyatakan pikiran, harapan dan perencanaan tentang bunuh diri
Memiliki riwayat satu kali atau lebih melakukan percobaan bunuh diri.
Memilki keluarga yang memiliki riwayat bunuh diri.
Mengalami depresi, cemas dan perasaan putus asa.
Memiliki ganguan jiwa kronik atau riwayat penyakit mental
Mengalami penyalahunaan NAPZA terutama alcohol
Menderita penyakit fisik yang prognosisnya kurang baik

Menunjukkan impulsivitas dan agressif


Sedang mengalami kehilangan yang cukup significant atau kehilangan yang bertubi-tubi dan
secara bersamaan
Mempunyai akses terkait metode untuk melakukan bunuh diri misal pistol, obat, racun.
Merasa ambivalen tentang pengobatan dan tidak kooperatif dengan pengobatan
Merasa kesepian dan kurangnya dukungan sosial.

Banyak instrument yang bisa dipakai untuk menentukan resiko klien melakukan bunuh diri
diantaranya dengan SAD PERSONS
NO SAD PERSONS Keterangan
1 Sex (jenis kelamin) Laki laki lebih komit melakukan suicide 3 kali lebih tinggi dibanding
wanita, meskipun wanita lebih sering 3 kali dibanding laki laki melakukan percobaan bunuh diri
2 Age ( umur) Kelompok resiko tinggi : umur 19 tahun atau lebih muda, 45 tahun atau lebih tua
dan khususnya umur 65 tahun lebih.
3 Depression 35 79% oran yang melakukan bunuh diri mengalami sindrome depresi.
4 Previous attempts (Percobaan sebelumnya) 65- 70% orang yang melakukan bunuh diri sudah
pernah melakukan percobaan sebelumnya
5 ETOH ( alkohol) 65 % orang yang suicide adalah orang menyalahnugunakan alkohol
6 Rational thinking Loss ( Kehilangan berpikir rasional) Orang skizofrenia dan dementia lebih
sering melakukan bunuh diri disbanding general populasi
7 Sosial support lacking ( Kurang dukungan social) Orang yang melakukan bunuh diri biasanya

kurannya dukungan dari teman dan saudara, pekerjaan yang bermakna serta dukungan spiritual
keagaamaan
8 Organized plan ( perencanaan yang teroranisasi) Adanya perencanaan yang spesifik terhadap
bunuh diri merupakan resiko tinggi
9 No spouse ( Tidak memiliki pasangan) Orang duda, janda, single adalah lebih rentang
disbanding menikah
10 Sickness Orang berpenyakit kronik dan terminal beresiko tinggi melakukan bunuh diri.
Dalam melakukan pengkajian klien resiko bunuh diri, perawat perlu memahami petunjuk dalam
melakukan wawancara dengan pasien dan keluarga untuk mendapatkan data yang akurat. Hal
hal yang harus diperhatikan dalam melakukan wawancara adalah :
1. Tentukan tujuan secara jelas : Dalam melakukan wawancara, perawat tidak melakukan diskusi
secara acak, namun demikian perawat perlu melakukannya wawancara yang fokus pada
investigasi depresi dan pikiran yang berhubungan dengan bunuh diri.
2. Perhatikan signal / tanda yang tidak disampaikan namun mampu diobservasi dari komunikasi
non verbal. Hal ini perawat tetap memperhatikan indikasi terhadap kecemasan dan distress yang
berat serta topic dan ekspresi dari diri klien yang di hindari atau diabaikan.
3. Kenali diri sendiri. Monitor dan kenali reaksi diri dalam merespon klien, karena hal ini akan
mempengaruhi penilaian profesional.
4. Jangan terlalu tergesa gesa dalam melakukan wawancara. Hal ini perlu membangun
hubungan terapeutik yang saling percaya antara perawat dank lien.
5. Jangan membuat asumsi tentang pengalaman masa lalu individu mempengaruhi emosional
klien.
6. Jangan menghakimi, karena apabila membiarkan penilaian pribadi akan membuat kabur
penilaian profesional.
3.2 Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada prilaku percobaan bunuh diri :
1. Dorongan yang kuat untuk bunuh diri berhubungan dengan gangguan alam perasaan : depresi.
2. Potensial untuk bunuh diri berhubungan dengan ketidakmampuan menangani stres, perasaan
bersalah.
3. Koping yang tidak efektif berhubungan dengan ingin bunuh diri sebagai pemecahan masalah.

4. Potensial untuk bunuh diri berhubungan dengan keadaan stress yang tiba-tiba
5. Isolasi sosial berhubungan dengan usia lanjut atau fungsi tubuh yang menurun.
6. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan kegagalan (sekolah, hubungan
interpersonal).
3.3 Rencana Tindakan
Tujuan utama asuhan keperawatan adalah melindungi klien sampai ia dapat melindungi diri
sendiri. Intervensi yang dibuat dan dilaksanakan terus mengacu pada etiologi dari diagnosa
keperawatan serta sesuai dengan tujuan yang akan tercapai.
Aktivitas keperawatan secara umum
Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri,
dengan cara :
Kaji tingkatan resiko yang di alami pasien : tinggi, sedang, rendah.
Kaji level Long-Term Risk yang meliputi : Lifestyle/ gaya hidup, dukungan social yang
tersedia, rencana tindakan yang bisa mengancam kehidupannya, koping mekanisme yang biasa
digunakan.
Berikan lingkungan yang aman ( safety) berdasarkan tingkatan resiko , managemen untuk klien
yang memiliki resiko tinggi;
Orang yang ingin suicide dalam kondisi akut seharusnya ditempatkan didekat ruang perawatan
yang mudah di monitor oleh perawat.
Mengidentifikasi dan mengamankan benda benda yang dapat membahayakan klien misalnya
: pisau, gunting, tas plastic, kabel listrik, sabuk, hanger dan barang berbahaya lainnya.
Membuat kontrak baik lisan maupun tertulis dengan perawat untuk tidak melakukan tindakan
yang mencederai diri Misalnya : Saya tidak akan mencederai diri saya selama di RS dan apabila
muncul ide untuk mencederai diri akan bercerita terhadap perawat.
Makanan seharusnya diberikan pada area yang mampu disupervisi dengan catatan
Yakinkan intake makanan dan cairan adekuat
Gunakan piring plastik atau kardus bila memungkinkan.
Cek dan yakinkan kalau semua barang yang digunakan pasien kembali pada tempatnya.
Ketika memberikan obat oral, cek dan yakinkan bahwa semua obat diminum.

Rancang anggota tim perawat untuk memonitor secara kontinyu.


Batasi orang dalam ruangan klien dan perlu adanya penurunan stimuli.
Instruksikan pengunjung untuk membantasi barang bawaan ( yakinkan untuk tidak memberikan
makanan dalam tas plastic)
Pasien yang masih akut diharuskan untuk selalu memakai pakaian rumah sakit.
Melakukan seklusi dan restrain bagi pasien bila sangat diperlukan
Ketika pasien sedang diobservasi, seharusnya tidak menggunakan pakaian yang menutup
seluruh tubuhnya. Perlu diidentifikasi keperawatan lintas budaya.
Individu yang memiliki resiko tinggi mencederai diri bahkan bunuh diri perlu adanya
komunikasi oral dan tertulis pada semua staf.
Membantu meningkatkan harga diri klien
Tidak menghakimi dan empati
Mengidentifikasi aspek positif yang dimilikinya
Mendorong berpikir positip dan berinteraksi dengan orang lain
Berikan jadual aktivitas harian yang terencana untuk klien dengan control impuls yang rendah
Melakukan terapi kelompok dan terapi kognitif dan perilaku bila diindikasikan.

Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mendapatkan dukungan social


Informasikan kepada keluarga dan saudara klien bahwa klien membutuhkan dukungan social
yang adekuat
Bersama pasien menulis daftar dukungan sosial yang di punyai termasuk jejaring sosial yang
bisa di akses.
Dorong klien untuk melakukan aktivitas social
Membantu klien mengembangkan mekanisme koping yang positif.
Mendorong ekspresi marah dan bermusuhan secara asertif
Lakukan pembatasan pada ruminations tentang percobaan bunuh diri.
Bantu klien untuk mengetahui faktor predisposisi apa yang terjadi sebelum anda memiliki
pikiran bunuh diri

Memfasilitasi uji stress kehidupan dan mekanisme koping


Explorasi perilaku alternative
Gunakan modifikasi perilaku yang sesuai
Bantu klien untuk mengidentifikasi pola piker yang negative dan mengarahkan secara langsung
untuk merubahnya yang rasional.
Initiate Health Teaching dan rujukan, jika diindikasikan
Memberikan pembelajaran yan menyiapkan orang mengatasi stress (relaxation, problem-solving
skills).
Mengajari keluarga technique limit setting
Mengajari keluarga ekspresi perasaan yang konstruktif
Intruksikan keluarga dan orang lain untuk mengetahui peningkatan resiko : perubahan
perilaku, komunikasi verbal dan nonverbal, menarik diri, tanda depresi.
Menurut Stuart dan Sundeen (1997) dalam Keliat (1991 : 13) mengidentifikasi intervensi utama
pada klien untuk prilaku bunuh diri yaitu :
a. Melindungi : Merupakan intervensi yang paling penting untuk mencegah klien melukai
dirinya. Tempatkan klien di tempat yang aman, bukan diisolasi dan perlu dilakukan pengawasan.
b. Meningkatkan harga diri: Klien yang ingin bunuh diri mempunyai harga diri yang rendah.
Bantu klien mengekspresikan perasaan positif dan negatif. Berikan pujian pada hal yang positif.
c. Menguatkan koping yang konstruktif/sehat.: Perawat perlu mengkaji koping yang sering
dipakai klien. Berikan pujian penguatan untuk koping yang konstruktif. Untuk koping yang
destruktif perlu dimodifikasi/dipelajari koping baru.
d. Menggali perasaan : Perawat membantu klien mengenal perasaananya. Bersama mencari
faktor predisposisi dan presipitasi yang mempengaruhi prilaku klien.
Menggerakkan dukungan sosial, untuk itu perawat mempunyai peran menggerakkan sistem
sosial klien, yaitu keluarga, teman terdekat, atau lembaga pelayanan di masyarakat agar dapat
mengontrol prilaku klien.
3.4 Pelaksanaan
Tindakan keperawatan yang dilakukan harus disesuaikan dengan rencana keperawatan yang telah
disusun. Sebelum melaksanakan tindakan yang telah direncanakan, perawat perlu memvalidasi

dengan singkat apakah rencana tindakan masih sesuai dengan kebutuhannya saat ini (here and
now). Perawat juga meniali diri sendiri, apakah mempunyai kemampuan interpersonal,
intelektual, teknikal sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan. Dinilai kembali apakah
aman bagi klien, jika aman maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan.
3.5 Evaluasi
Ancaman terhadap integritas fisik atau sistem dari klien telah berkurang dalam sifat, jumlah asal
atau waktu.
Klien menggunakan koping yang adaptif.
Klien terlibat dalam aktivitas peningkatan diri.
Prilaku klien menunjukan kepedualiannya terhadap kesehatan fisik, psikologi dan kesejahteraan
sosial.
Sumber koping klien telah cukup dikaji dan dikerahkan.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan
dan Pada umumnya merupakan cara ekspresi orang yang penuh stress dan berkembang dalam
beberapa rentang.
Banyak penyebab/alasan seseorang melakukan bunuh diri diantaranya kegagalan
beradaptasi,perasaan marah dan terisolasi, dan lainnya
Bunuh diri biasanya didahului oleh isyarat bunuh diri,ancaman bunuh diri serta percobaan
bunuh diri
Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebut tidak membuat
rencana yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri tersebut
4.2 Saran
Hendaknya perawat memiliki pengetahuan yang cukup cirri-ciri pasien yang ingin mengakhiri
hidupnya sehingga dapat mengantisipasi terjadinya perilaku bunuh diri pasien
Hendaknya perawat melibatkan keluarga dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien

dengan gangguan jiwa

REFERENSI
Yosep, I., (2007). Keperawatan Jiwa. PT Refika Aditama: Bandung
Harold dkk.(1998). Buku Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Widya Medika : Jakarta
http://dezlicius.blogspot.com/2009/05/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan09.html
http://rastirainia.wordpress.com/2009/11/25/laporan-pendahuluan-asuhan-keperawatan-padapasien-dengan-perilaku-percobaan-bunuh-diri/
http://perawatpsikiatri.blogspot.com/2008/11/asuhan-keperawatan-klien-dengan-resiko.html

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN


DENGAN PERCOBAAN BUNUH DIRI
Definisi
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan
Termasuk kedaruratan psikiatri karena klien berada dalam keadaan stres tinggi dan
menggunakan koping maladaptif
Tindakan merusak integritas diri atau mengakhiri kehidupan
Terdapat 2 jenis bunuh diri yaitu langsung dan tidak langsung.
Bunuh diri langsung adalah tindakan yang disadari dan disengaja untuk mengakhiri kehidupan
seperti pengorbanan diri (membakar diri), menggantung diri, melompat dari tempat yang tinggi,
menembak diri, menenggelamkan diri.
Bunuh diri tidak langsung adalah keinginan tersembunyi yang tidak disadari untuk mati, yang
ditandai dengan perilaku kronis beresiko seperti penyalahgunaan zat, makan berlebihan, aktivitas
sex bebas ,ketidak patuhan program medis, olah raga yang membahayakan.
Epidemiologi
Di Amerika Serikat angka kejadian bunuh diri sebanyak 31.000 orang pertahun, dan termasuk 8
sebab kematian terbanyak
Kasus yang sering dilaporkan & dikategorikan sebagai kecelakaan
Perbandingan angka percobaan & rasio keberhasilannya 10-20 : 1
Rasio percobaan laki-laki : perempuan 1 : 3 keberhasilan laki-laki dan perempuan 3 : 1
Kasus meningkat dengan bertambahnya usia; dan merupakan penyebab kematian tertinggi pada
pria dewasa dan mahasiswa
Paling umum dilakukan dengan minum obat-obatan; yang berakibat fatal umumnya melalui
penembakan
Kebanyakan penderita depresi (Tomb, 2004)
0,9% kematian karena bunuh diri
1000 orang setiap hari mati karena bunuh diri di seluruh dunia
Tempat paling favorit di dunia untuk bunuh diri Golden Gate Bridge di San Francisco.
Penyebab Bunuh diri
-Perceraian
-Pengangguran

-Isolasi sosial
-Kegagalan Adaptasi
-Perasaan Marah/bermusuhan
PENGKAJIAN
MENGENALI PASIEN YANG BERPOTENSI BUNUH DIRI
Klien pernah mencoba bunuh diri (terlihat di ruang gawat darurat, bangsal perawatan, dsb)
Keinginan bunuh diri dinyatakan secara terang-terangan maupun tidak, atau berupa
ancaman :Kamu tidak akan saya ganggu lebih lama lagi (sering dikatakan pada keluarga)
Secara obyektif terlihat adanya mood yang depresif atau cemas
Baru mengalami kehilangan yang bermakna (misalnya pasangan, pekerjaan, harga diri)
Perubahan perilaku yang tidak diduga : menyampaikan pesan-pesan, pembicaraan serius dan
mendalam dengan kerabat, membagi-bagikan harta/barang miliknya
Perubahan sikap yang mendadak : tiba-tiba gembira, marah atau menarik diri (Tomb, 2004)
PERNYATAAN YANG SALAH TENTANG BUNUH DIRI
1.Ancaman Bunuh diri hanya cara individu menarik perhatian
2.Bunuh diri tidak memberi tanda
3.Berbahaya membicarakan pikiran bunuh diri pada klien
4.Kecenderungan Bunuh diriadalah keturunan
FAKTOR RESIKO BUNUH DIRI
FAKTOR RESIKO TINGGI RESIKO RENDAH
1. UMUR REMAJA, > 45 TH < 12 th25-45 TH
2. JENIS KELAMIN LAKI-LAKI PEREMPUAN
3. STATUS CERAI KAWIN
4. JABATAN PROFESIONAL KERJA KASAR
5. PEKERJAAN PENGANGGURAN PEKERJA
6. PENYAKIT KRONIK, TERMINAL TAK ADA YANG SERIUS
7. MENTAL DEPRESI, HALUSINASI GANGGUAN KEPRIBADIAN
8. OBAT/ALKOHOL KETERGANTUNGAN PENYEBAB BUNUH DIRI PADA MAHASISWA
1.Ideal diri terlalu tinggi
2.Cemas akan tugas akademik yang banyak

3.Kegagalan akademis
4.Kompetisi untuk sukses
PENYEBAB BUNUH DIRI PADA LANSIA
1.Perubahan status mandiri
2.Penyakit kronis
3.Perasaan tak berarti
4.Kesedihan dan isolasi sosial
5.Sumber hidup yang berkurang
PENYEBAB BUNUH DIRI PADA ANAK
1.pelarian dari penganiayaan
2.Situasi keluarga yang kacau
3.Perasaan tak berarti/tak disayang
4.gagal sekolah
5.takut dihina disekolah
6.Dihukum orang lain
MEKANISME KOPING
1.Denial melalui pengrusakan diri secara tak langsung
2.Rasionalisasi/intelektualisasi
3.Regresi
RENTANG MENGHARGAI-MERUSAK DIRI (Stuart & Sundeen, 1987; Keliat, B.A., 1994)
Respon Adaptif Respons Maladaptif
Menghargai Berani ambil Menciderai Menciderai dir Bunuh
diri resiko diri tak diri
langsung
SIRS (SUICIDAL INTENTION RATING SCALE)
(Stuart & Sundeen, 1987; Keliat, B.A., 1994)
SKOR 0
Tidak ada ide bunuh diri yang lalu & sekarang
SKOR 1
Ada ide bunuh diri, tidak ada percobaan bunuh diri, tidak mengancam bunuh diri
KOR 2

Memikirkan bunuh diri dengan aktif, tidak ada percobaan bunuh diri
SKOR 3
Mengancam bunuh diri, misalnya tinggalkan saya sendiri atau saya bunuh diri
SKOR 4
Aktif mencoba bunuh diri
PROSEDUR PENILAIAN
Bina hubungan selama wawancara yang sifatnya mendukung dan tidak menghakimi
Selidikilah adanya ide-ide bunuh diri melalui pertanyaan yang lebih spesifik, misal Apakah
kamu merasa sedih? Apakah kamu pernah berpikir untuk mengakhiri hidup? Bagaimana
caranya?
Setelah terjadi suatu percobaan bunuh diri yang serius, tunggulah sampai klien cukup siap untuk
bekerjasama di dalam pemeriksaan. Tanyakan mengenai hal bunuh diri (Tomb, 2004)
HAL-HAL YANG HARUS DIPELAJARI MENGENAI KASUS BUNUH DIRI
Maksud dan tujuan pasien-mengapa ingin mati?
Apakah rencana bunuh diri telah dibuat-semakin spesifik rencana yang dibuat semakin besar
untuk melakukannya
Metode-semakin mematikan teknik yang dibuat semakin serius rencananya
Adanya faktor-faktor psikiatrik dan organik, misal depresi psikotik, gangguan proses pikir,
penggunaan sedatif tanpa resep, kondisi organik
Tentukan apakah perilaku tersebut akibat peranan impulsif atau dengan rencana
Apakah pencetus krisis telah terlewati
Buatlah daftar kehilangan yang dialami
Apakah klien memiliki rencana untuk masa depannya?
Apakah klien mempunyai keluarga yang mempedulikannya atau dukungan lainnya?
Apakah klien berpikir bahwa dia akan melakukan bunuh diri? (Tomb, 2004)
TINGKATAN MEMATIKAN DARI METODA BUNUH DIRI (Kneisl; Wilson & Trigoboff,
2004)
METODA YANG KURANG MEMATIKAN (less lethal methods)
Memotong nadi pergelangan
Mengalirkan gas di rumah

Meminum obat tanpa resep (kecuali aspirin dan acetaminophen (Tylenol))


Tranquilizers
METODA YANG SANGAT MEMATIKAN (highly lethal methods)
Tembak
Terjun
Gantung
Tenggelam
Racun carbon monoksida
Barbiturat dan minum pil tidur
Aspirin dosis tinggi dan acetaminophen (Tylenol)
Menabrak mobil
Terpapar suhu dingin yang ekstrem
Antidepressants
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Risiko melukai diri
Risiko perilaku kekerasan pada diri
Risiko mutilasi diri
Koping individu inefektif
Harga diri rendah (Kneisl; Wilson & Trigoboff, 2004)
PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI
Keputusan dirawat di RS harus dibicarakan dengan klien secara tegas dan penuh optimis
Pastikan keamanan fisik dalam perawatan di RS melalui tindakan pencegahan bunuh diri yang
sesuai (misal pengawasan ketat, tanpa isolasi, tidak ada barang-barang yang membahayakan)
Klien dengan risiko kecil dapat berobat jalan bila ada keluarga yang dipercaya untuk mengawasi
nilailah dukungan mereka (Tomb, 2004)
PRINSIP-PRINSIP PENGOBATAN (Tomb,2004)
Kenali dan obati kondisi-kondisi psikiatrik dan medis
Kembangkan ikatan terapeutik dengan klien
Klien yang ingin bunuh diri biasanya bersikap ambivalen tentang kematian. Ungkapkan
ambivalen tersebut-perlihatkan bukti-bukti bahwa mereka ingin hidup. Berikan harapan yang
jelas. Buat rencana yang spesifik dengan dan untuk klien. Mintalah kedewasaan mereka, bukan

sikap regresinya
Klien sering bingung dan memiliki fokus pikir yang sempit-hadapkan pada hal-hal realita
Jangan mengecilkan keseriusan klien dalam usaha bunuh diri
Jangan pernah setuju untuk merahasiakan rencana bunuh diri
Bantulah klien melewati masa berduka dan kehilangan
Jangan memberi alasan untuk membenarkan gejala-gejala yang dialami klien
Potensi untuk bunuh diri dapat berubah dengan cepat. Nilailah kembali kondisi pikiran klien
dengan sering
Gunakan sumber daya dari komunitas
Jangan kehilangan kontak dengan klien. Pantaulah dengan teliti selama musim liburan di rumah
Bersikap aktif, tetapi tetap menuntut klien bertanggung jawab atas hidupnya
PETUNJUK UMUM
(Kneisl; Wilson & Trigoboff, 2004)
Berikan semua tindakan dengan sungguh-sungguh. Evaluasi sebelum diberikan
Katakan tentang bunuh diri secara terbuka dan langsung
Berikan status kewaspadaan terhadap bunuh diri
Teliti ruangan klien, khususnya jika pikiraan bunuh diri atau usaha bunuh diri terjadi setelah
dirawat di RS
Tempatkan klien pada tempat yang mudah diobservasi
Pilih kamar yang dekat dengan kantor perawat
Hati-hati jangan berperilaku yang membuat tidak aman
Organisasikan rencana keperawatan bersama klien
Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak realistik
Anjurkan klien melaksanakan aktifitas sehari-hari dan perawatan diri jika mungkin
Putuskan bersama klien apakah anggota keluarga dan teman-temannya dapat kontak dengannya
Siapkan persetujuan dengan anggota keluarga kemungkinan adanya bingung, marah atau
kehilangan minat.
Harapkan bahwa klien akan bekerja sama menerima dirinya
PETUNJUK UMUM UNTUK DEPARTEMEN EMERGENSI
38% klien di departemen emergency psikiatri beresiko bunuh diri.
Klien membutuhkan tenaga profesional, bukan pendekatan hukuman

Cegah klien tinggal sendiri atau berdekatan dengan benda-benda yang dapat digunakan untuk
tindakan kekerasan (Kneisl; Wilson & Trigoboff, 2004)
PROTOKOL PENCEGAHAN BUNUH DIRI
Basic Suicide Precautions
Maximum Suicide Precautions
Basic Suicide Precautions (Kneisl; Wilson & Trigoboff, 2004)
Tempatkan klien di ruang terbuka kecuali jika ditemani staf atau keluarga.
Cek dimana klien berada dan pastikan aman tiap 15 menit
Temani klien saat minum obat.
Lihat barang-barang klien untuk yang potensial dapat melukai. Teliti kondisi klien, dan katakan
untuk mendampingi klien saat klien bekerja.
Cek seluruh bawaan pengunjung.
Ijinkan klien memiliki peralatan makan, tapi pastikan apakah gelas atau alat lain ada yang
hilang ketika mengumpulkannya.
Ijinkan pengunjung & hubungan telepon kecuali jika klien tidak menghendaki.
Cek bahwa pengunjung tidak meninggalkan barang-barang berbahya di ruangan.
Jalankan protokol ini sampai dihentikan oleh psikiater.
Informasikan pada klien alasan & detail aturan yang diterapkan. Penjelasan ini harus dibuat oleh
dokter dan perawat serta dokumentasikan.
Maximum Suicide Precautions(Kneisl; Wilson & Trigoboff, 2004)
Berikan supervisi 1 : 1.perawat harus tetap berada di ruangan dalam jangkauan klien setiap saat.
Ketika klien menggunakan kamar mandi, pintunya harus terbuka. Seorang staf harus duduk
disamping tempat tidur klien pada malam hari.
Jangan ijinkan klien untuk ditinggal pada pelaksanaan tes atau pelaksanaan tindakan.
Lihat dengan seksama barang bawaan klien dan amankan barang-barang yang membahayakan,
seperti pil, korek api, sabuk, tali sepatu, BH/kutang, pisau cukur/silet, jepitan, cermin taua benda
dari kaca (bola lampu pijar), kawat/kabel, benda-benda kecil.
Jika aturan ini diterapkan setelah klien dirawat dalam tempo yang lama, selidikilah dengan
seksama kondisi ruangannya.
Cek pengunjung jangan sampai meninggalkan benda-benda berbahaya di ruangan.
Layani kebutuhan makan klien dalam tempat makan isolasi yang terbuat dari bahan bukan kaca

atau logam.
Utamakan penjelasan pada klien apakah dia boleh melakukan sesuatu serta alasannya.
Dokumentasikan.
Jangan menghentikan aturan ini tanpa saran dari psikiater
IDENTIFIKASI HASIL DAN HASIL
Mengungkapkan pikiran melukai diri
Mengakui bahwa telah berperilaku melukai diri jika hal itu terjadi
Mampu mengidentifikasi pemicu masalah pribadi
Belajar untuk mengidentifikasi dan mentoleransi perasaan tidak nyaman
Memilih alternatif yang tidak melukai diri
Berusaha mengidentifikasi stressor
Kooperatif dengan intervensi untuk menghilangkan pikiran bunuh diri dan kontrol perilaku
(Kneisl; Wilson & Trigoboff, 2004)

PERCOBAAN BUNUH DIRI


(PERILAKU MERUSAK DIRI)
Pendahuluan
Bunuh diri, Tindakan merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan.
Ratio kejadiaan antara pria dan wanita = 3 : 1 ( ss, 1995 ).Menurut Stuart & Sandeen ( 1995 )
penyebab bunuh diri :
Perceraian * Pengangguran * Isolasi sosial
Menurut Tishlers ( 1991 ). Motivasi remaja mencoba bunuh diri
Masalah dengan Orang tua ( 51 % )
Masalah dengan lawan jenis ( 30 % )
Masalah sekolah ( 30 % )
Dalam hidup, orang berhadapan dengan banyak risiko dan harus mengambil risiko yang sesuai
dengan pertimbangannya. Kadang pilihannya rasional, kadang tidak rasional. Merusak diri atau
bunuh diri merupakan pilihan yang tidak rasional.
Bunuh diri merupakan kedaruratan Kecemasan yang tinggi & koping yang mal daptif.
Situasi gawat pada bunuh diri saat ide bunuh diri timbul secara berulang tanpa rencana
spesifik.

TINGKAH LAKU BUNUH DIRI

Rentang sehat sakit pada bunuh diri :


RESPON ADAPTIF RESPON MALADAPTIF
Peningkatan/ pengambilan Perilaku merusak suicide
Pencapaian diri resiko dari pertumbuhan diri tidak langsung
Harapan Putus harapan
Yakin Tak berdaya
Percaya Putus asa
Inspirasi Gagal & kehilangan
Tetap hati Ragu ragu
Beck, Dkk ( 1984 ) Sedih & Deprisi
Bunuh diri

Ketidak berdayaan, keputusasan, apatis


Tidak berhasil memecahkan masalah lari dari masalah.
Merasa tak mampu, seolah olah koping yang biasa tidak berguna
Tidak mampu mengembangkan koping yang baru
Keyakinan tidak ada yang dapat membantu

Kehilangan, Ragu ragu


Cita cita terlalu tinggi dan tidak realistis
Kehilangan pekerjaan dan kesehatan, perpisahan, perceraiaan.
Kegagalan, kekecewaan & rendah diri Bunuh diri
Depresi
Dicetuskan oleh rasa bersalah atau kehilangan
Ditandai oleh kesedihan dan rendah diri

Bunuh diri saat individu keluar dari depresi berat


Bunuh diri
Tindakan agresif yang langsung terhadap diri sendiri untuk mengakhiri kehidupan
koping terakhir untuk memecahkan masalah yang dihadapi
Pernyataan yang salah tentang percobaan bunuh diri
1. Ancaman bunuh diri hanya untuk mencari perhatian tidak perlu di tanggapi serius.
2. Bunuh diri tak memberi tanda.
3. Berbahaya membicarakan pikiran bunuh diri klien.
4. Kecendrungan bunuh diri adalah keturunan.

Jenis merusak diri


a. Langsung
- Perkataan, perilaku, ide, dan usaha mengakhiri hidup aktif dilakukan. Individu sadar hasil dari
tindakannya dan sadar akan kematian yang dihadapinya.
b. Tidak langsung
- Aktif merusak kesehatan tubuhnya sehingga pada akhirnya kematian datang. Individu tidak
menyadari perilakuya dan mungkin meenyangkal bila dikonfrontasi. Misalnya : pecandu rokok,
obat, anoreksia nervosa, bulimia

Pengkajian
Dibutuhkan observasi melekat dan keterampilan mendengar untuk mendeteksi tanda dan
rencana spesifik.
Faktor Predisposisi
Merusak diri tidak langsung :

- Tindakan yang sudah lama dan berulang kali dilakukan


- Ketidak patuhan pada program pengobatan
- Kelainan pola makan : anoreksia nervosa, bulimia, makan banyak
Merusak diri secara langsung
- Langsung menembak diri, gantung diri, potong nadi, atau tampak seperti kecelakaan tapi
setelah diatopsi ternyata karena bunuh diri.

Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh pasien untuk mengakhiri
kehidupannya. Berdasarkan besarnya kemungkinan pasien melakukan bunuh diri, kita mengenal
tiga macam perilaku bunuh diri, yaitu:
1. Isyarat bunuh diri
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung ingin bunuh diri,
misalnya dengan mengatakan: Tolong jaga anak-anak karena saya akan pergi jauh! atau
Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.
Pada kondisi ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, namun tidak
disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri. Pasien umumnya mengungkapkan perasaan
seperti rasa bersalah / sedih / marah / putus asa / tidak berdaya. Pasien juga mengungkapkan halhal negatif tentang diri sendiri yang menggambarkan harga diri rendah
2. Ancaman bunuh diri
Ancaman bunuh diri umumnya diucapkan oleh pasien, berisi keinginan untuk mati disertai
dengan rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk melaksanakan rencana
tersebut. Secara aktif pasien telah memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan
percobaan bunuh diri.
Walaupun dalam kondisi ini pasien belum pernah mencoba bunuh diri, pengawasan ketat harus
dilakukan. Kesempatan sedikit saja dapat dimanfaatkan pasien untuk melaksanakan rencana

bunuh dirinya.
3. Percobaan bunuh diri
Percobaan bunuh diri adalah tindakan pasien mencederai atau melukai diri untuk mengakhiri
kehidupannya. Pada kondisi ini, pasien aktif mencoba bunuh diri dengan cara gantung diri,
minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi.

Faktor pencetus / stressor pencetus.


Setiap kejadian bisa menjadi faktor pencetus, perilaku merusak diri dilakukan karena ingin
lepas dari perasaan tidak nyaman, tidak mampu bertoleransi lagi dan adanya kecemasan.
A. Stresor yang tidak langsung berhubungan dengan perilaku merusak diri
Stresor fisiologis
Karena peningkatan dopamin ( menyebabkan menurunnya nafsu makan). Sering terjadi pada
anoreksia nervosa
Stresor psikologis
- Despair (Kesedihan yang mendalam). Situasi dimana individu mencoba memecahkan masalah
yang berat tapi tidak menemukan jalan keluar)
- Gangguan emosional, misalnya pada remaja yang tidak bisa menerima perubahan dirinya,
harga diri rendah, depresi
- Kehilangan kontrol terhadap dirinya atau lingkungan
Stresor sosial kultural
- Keinginan berbadan langsing, penyesuaian terhadap peran dan perilaku sesuai dengan
kemajuan zaman.

- penyakit kronis, karena perilaku disesuaikan dengan kondisi dan aturan


B Stresor yang langsung berhubungan dengan perilaku merusak diri
Stresor fisiologis
Karena gangguan mental organik, psikosis, pemakaian obat halusinogen, skizoferenia.
Rendahnya kadar serotonin dalam tubuh.
Stresor psikologis
- Kemarahan yang terpendam sehingga mengarahkan kepada dirinya.
- Merusak dirinya juga bermaksud untuk menunjukkan kemarahan kepada orang lain
Stresor sosial kultural
- penyakit kronis yang meimbulkan kecacatan, nyeri, atau penyakit terminal.
- Adanya motivasi individu.
Urutan motivasi tingkah laku bunuh diri (Durkheim )
a. Bunuh diri egoistik.
Individu merasa bukan bagian dari masyarakat lagi. Individu merasa kesepian, tidak ada
dukungan dari lingkungan
b. Bunuh diri Altruistik
Karena kepatuhan pada adat, kebiasaan, ajaran.
Misalnya : hari kiamat jatuh pada tanggal itu.
c. Bunuh diri Anomik.
Dilakukan oleh organisasi yang luas (antar Negara). Karena masyarakat tidak bisa mengatur
orang-orang, misalnya bunuh diri dilakukan sendiri-sendiri, waktunya tidak jauh berbeda,
dengan cara yang sama.

Perilaku

Merusak diri tidak langsung :


Ciri ciri : 1. progresif dan merusak kesejahteraan individu 2. Individu menyadari bahwa
perilakunya berisiko. 3. Menyangkal bahwa perilakunya menyebabkan orang lain menderita.
Misal : Kelainan pola makan, ketidakpatuhan pada program pengobatan, pencideraan diri (stres ;
tusuk-tusuk tangan dengan jarum),
Merusak diri secara langsung :
1. Gerakan tubuh menunjukan usaha bunuh diri
2. Memberi pesan-pesan atau kata-kata perpisahan
3. Aktif mencoba
4. Bunuh diri

Mekanisme koping
- Pengrusakan diri : Denial
- Koping yang menonjol : Rasionalisasi, Intelektualisasi & regresi
Alat yang dipakai untuk mengkaji ;
a. Menurut hatton,Valente dan Rink,1977
b. Sirs ( Suicidal intention rating scale )
0 = Tidak ada ide yang lalu & sekarang
1 = Ada ide, tak ada percobaan, tidak merncanakan
2 = Memikirkan dengan aktif, tidak ada percobaan.
3 = Mengancam
4 = Aktif mencoba

Stuart dan Sundeen ( 1987 ), Faktor resiko bunuh diri :


Faktor Risiko Tinggi Risiko rendah

Umur 45 thn/ remaja 25-45 atau 12 thn


Kelamin laki-laki perempuan
status cerai, pisah, duda kawin
Jabatan profesional pekerja kasar
Peny, fisik kronis, terminal tidak serius
ggm mental depresi, halusinasi ggn kepribadian

Faktor faktor dalam pengkajian klien merusak diri


a. Pengkajian lingkungan upaya bunuh diri b. Petunjuk gejala
c. Penyakit psikiatrik d. Riwayat Keluarga

Faktor penyebab
a. Kegagalan adaptasi b. Perasaan terisolasi
c. Perasaan marah / bermusuhan d. Cara untuk mengakhiri keputusan
e. Tangisan minta tolong
Faktor penyebabnya ada 5 Faktor :
a. Gangguan jiwa Gangguan. afektif, Penyalahan gunaan zat * Skizotren.
b. Sifat kepribadiaan Rasa bermusuhan, Implusif * depresi.
c. Lingkungan psikosial Kehilangan, perceraian, Dukungan tidak ada.
d. Riwayat keluarga Pernah melakukan bunuh diri.
e. Faktor Boikimia Secara serotogenik, opiatergik * dopominergik menjadi media proses yang
dapat menimbulkan perilaku pengrusak diri.

Menurut Halton, valente dan Rink, 1977 ( dikutip oleh Shiver, 1986 )
No. Perilaku / Gejala Intensitas Risiko
Rendah Sedang Tinggi
01. Cemas Rendah Sedang Tinggi atau panik
02. Depresi Rendah Sedang Berat
03 Isolasi menarik diri Perasaan depresi yang samar tidak menarik diri Perasaan tidak berdaya,
putus asa manarik diri Tidak berdaya
04 Fungsi sehari hari Umumnya baik pada semua aktifitas Baik pada beberapa aktifitas Tidak
baik pada semua aktivitas
05 Sumber sumber Beberapa Sedikit Kurang
06 Strategi koping Umumnya konstruktif Sebagaian Konstruktif Sebagian besar Destruktur
07 Orang penting / dekat Beberapa Sedikit atau hanya satu 08 Pelayanan psikiater yang lalu Tidak, sikap positif Ya, umumnya memuaskan Bersikap negatif
terhadap pertolongan
09 Pola hidup Stabil Sedang ( stabil tidak stabil ) Tidak stabil
10 Pemakai alkohol dan obat Tidak sering Sering Terus menerus
11 Percobaan bunuh diri sebelumnya Tidak, atau yang tidak fatal Dari tidak sampai dengan cara
yang aga fatal Dari tidak sampai berbagai cara yang fatal
12 Disortersasi dan disorganisasi Tidak ada Sedikit Jelas atau ada
13 Bermusuhan Tidak atau sedikit Beberapa Jelas atau tidak
14 Rencana bunuh diri Samar, kadang kadang ada pikiran, tidak ada rencana Sering dipikirkan
kadang kadang ada ide untuk merencanakan Sering dann konstan dipikirkan dengan rencana
yang spesifik
Cook dan Fontaine ( 1987 ), faktor penyebab tambahan :

a. Anak b. Remaja c. Mahasiswa d. Usia lanjut

Masalah keperawatan
1. Risiko bunuh diri
2. Keputus asan
3. Ketidak berdayaan
4. Gangguan konsep diri : HDR
5. Gangguan konsep diri : Gangguan citra tubuh.
6. Kecemasaan.
7. Berduka disfungsional
8. Koping individu tak efektif.
9. Penatalaksanaan regimen therapeutik in efektif
10. Koping keluarga tak efektif : Ketidakmampuan.

Diagnosa medis yang berhubungan :


- Anoreksi Nervosa
- Bulimia
- Bipolan Disorder : - Manik Keinginan untuk bunuh diri- depresi ( mood tidak stabil ), Tidak Bisa dikontrol
- Depresi Mayor
Ada 5 gejala yang timbul setiap hari selama 2 minggu yaitu :
- Mood depresi, kehilangan minat & kesenangan.
- Berat badan turun, insomnia, hipersomnia, gangguan psokomotur,
kelelahan, merasa tidak berharga atau bersalah, tidak mampu
berpikir, sering ingin mati.
Perencanaan.
Tujuan :

1. Mencegah menyakiti diri sendiri.


2. Meningkat harga diri klien
3. Menggali masalah dalam diri klien.
4. Mengajarkan koping yang sehat.

Intervensi
Perawat harus menyadari responsnya terhadap suicide supaya bersikap obyektif.

I. Proteksi (mencegah menyakiti diri)


Mengatakan kepada klien bahwa tim kesehatan akan mencegah klien suicide.1. Verbal
2. Nonverbal : Menghilangkan benda benda berbahaya seperti : Ikat pinggang, benda tajam.
3. Observasi Perilaku (Mencegah klien melukai dirinya)
4. Perhatikan verbal & nonverbal klien.
5. Ditempatkan ditempat aman, bukan diisolasi dan semua tindakan dijelaskan
6. Pengawasan selama 24 jam (Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat dipindahkan
ketempat yang aman)
7. Memeriksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya, jika pasien mendapatkan obat
8. Dengan lembut menjelaskan pada pasien bahwa saudara akan melindungi pasien sampai tidak
ada keinginan bunuh diri
9. Intervensi krisis klien
tetap waspada.10. Kadang kadang klien merasa baik, dan berhenti tapi karena kambuh lagi
Pada klien yang anoreksia & bulimia, awasi klien pada saat makan, biar banyak yang dimakan.
2. Meningkatkan harga diri
- Setiap kegiatan / prilaku positif segera dipuji.
- Menghilangkan rasa bersalah & menyalahkan
- Sediakan waktu untuk klien sehingga klien merasa dirinya penting
- Bantu untuk mengekspresikan perasaan positif/negatif, beri reinforcement

- Identifikasi sumber kepuasan dan rencana aktivitas yang cepat berhasil


- Dorong klien menuliskan hasil yang telah dicapai
3. Menguatkan koping yang sehat.
Membuat klien bertanggung jawab terhadap perilakunya
a. Modifikasi Prilaku
dibutuhkan dengan prilaku yg respon sif.
Misal : Pada anoreksia
- Boleh dikunjungi keluarga bila berat badan naik Kg.
- Bila tidak mau makan, pasang NGT.
4. Eksplorasi perasaan.
Tujuan membuat klien memahami proses penyakitnya/ masalahnya.
- Mengeksplorisasi faktor predisposisi & pencetus.
- Mengikuti terapi kelompok.
- Mengarah pada masalahnya.
Misal : Klien marah, belajar marah konstruktif.
5. Mengatur batasan dan kontrol
- Membuat daftar perilaku yang mesti diubah / dikontrol.
- Dibuat berstruktur dan batasan yang jelas
Misal : Dalam 2 hari ini tidak ada usaha meerusak diri.
6. Mengarahkan dukungan sosial.
Karena Klien tidak punya sumberdaya internal dan eksternal, maka :
- Melibatkan keluarga & teman.
- Mengajarkan tentang pola pola suicide & cara mengatasinya.
- Keluarga mencurahkan perasaan dan membuat rencana masa depan.
- Kalau perlu terapi keluarga.

- Buat pusat penanganan krisis.


7. Pendidikan mental
- Pendidikan gizi bagi A. Nervosa dan bulimia.
- Pentingnya patuh pada prigram pengobatan.
- Penyakit kronis yand diderita.

Perawatan selama di rumah sakit


Ancaman/percobaan bunuh diri dengan diagnosa keperawatan : Risiko Bunuh Diri
1. Tindakan keperawatan untuk pasien percobaan bunuh diri
a. Tujuan : Pasien tetap aman dan selamat
b. Tindakan : Melindungi pasien
Untuk melindungi pasien yang mengancam atau mencoba bunuh diri, maka saudara dapat
melakukan tindakan berikut:
1) Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat dipindahkan ketempat yang aman
2) Menjauhkan semua benda yang berbahaya (misalnya pisau, silet, gelas, tali pinggang)
3) Memeriksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya, jika pasien mendapatkan obat
4) Dengan lembut menjelaskan pada pasien bahwa saudara akan melindungi pasien sampai tidak
ada keinginan bunuh diri

SP 1 Pasien: Percakapan untuk melindungi pasien dari percobaan bunuh diri


2. Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan pasien percobaan bunuh diri
a. Tujuan: Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang
mengancam atau mencoba bunuh diri

b. Tindakan:
1) Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien serta jangan pernah meninggalkan
pasien sendirian
2) Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barang-barang berbahaya
disekitar pasien
3) Mendiskusikan dengan keluarga perlunya melibatkan pasien agar tidak sering melamun
sendiri
4) Menjelaskan kepada keluarga pentingnya pasien minum obat secara teratur
SP 1 Keluarga: Percakapan dengan keluarga untuk melindungi pasien yang
mencoba bunuh diri

Isyarat Bunuh Diri dengan diagnosa harga diri rendah diri


1. Tindakan keperawatan untuk pasien isyarat bunuh diri
a. Tujuan:
1) Pasien mendapat perlindungan dari lingkungannya
2) Pasien dapat mengungkapkan perasaanya
3) Pasien dapat meningkatkan harga dirinya
4) Pasien dapat menggunakan cara penyelesaian masalah yang baik
b.Tindakan keperawatan
1) Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan meminta bantuan
dari keluarga atau teman.
2) Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara:
a) Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya.
b) Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif.
c) Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting
d) Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
e) Merencanakan aktifitas yang dapat pasien lakukan
3) Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara:
a) Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya

b) Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masing-masing cara penyelesaian masalah


c) Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik
SP 2 Pasien: Percakapan melindungi pasien dari isyarat bunuh diri
SP 3 Pasien: Berikut ini percakapan untuk meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan
masalah pada pasien isyarat bunuh diri
2. Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan pasien isyarat bunuh diri
a. Tujuan : keluarga mampu merawat pasien dengan risiko bunuh diri.
b. Tindakan keperawatan:
1) Mengajarkan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri
1) Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri yang penah muncul pada pasien.
2) Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang umumnya muncul pada pasien berisiko bunuh
diri.
2) Mengajarkan keluarga cara melindungi pasien dari perilaku bunuh diri
a) Mendiskusikan tentang cara yang dapat dilakukan keluarga bila pasien memperlihatkan tanda
dan gejala bunuh diri.
b) Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien, antara lain:
(1) Memberikan tempat yang aman. Menempatkan pasien di tempat yang mudah diawasi, jangan
biarkan pasien mengunci diri di kamarnya atau jangan meninggalkan pasien sendirian di rumah
(2) Menjauhkan barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri. Jauhkan pasien dari
barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri, seperti: tali, bahan bakar minyak / bensin,
api, pisau atau benda tajam lainnya, zat yang berbahaya seperti obat nyamuk atau racun
serangga.
(3) Selalu mengadakan pengawasan dan meningkatkan pengawasan apabila tanda dan gejala
bunuh diri meningkat. Jangan pernah melonggarkan pengawasan, walaupun pasien tidak
menunjukan tanda dan gejala untuk bunuh diri.
c) Menganjurkan keluarga untuk melaksanakan cara tersebut di atas.
3) Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apabila pasien melakukan

percobaan bunuh diri, antara lain:


a) Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau pemuka masyarakat untuk menghentikan upaya
bunuh diri tersebut
b) Segera membawa pasien ke rumah sakit atau puskesmas mendapatkan bantuan medis
4) Membantu keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi pasien
a) Memberikan informasi tentang nomor telepon darurat tenaga kesehatan
b) Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan pasien berobat/kontrol secara teratur untuk
mengatasi masalah bunuh dirinya.
c) Menganjurkan keluarga untuk membantu pasien minum obat sesuai prinsip lima benar yaitu
benar orangnya, benar obatnya, benar dosisnya, benar cara penggunakannya, benar waktu
penggunaannya
SP 2 Keluarga: Percakapan untuk mengajarkan keluarga tentang cara merawat
anggota keluarga berisiko bunuh diri. (isyarat bunuh diri)
SP 3 Keluarga: Melatih keluarga cara merawat pasien risiko bunuh diri/isyarat bunuh diri
SP 4 Keluarga : Membuat perencanaan Pulang bersama keluarga dengan pasien risiko bunuh diri

Ringkasan tindakan keperawatan untuk pasien berisiko bunuh diri


berdasarkan perilaku bunuh diri yang ditampilkan
Tiga macam perilaku bunuh diri
Tindakan keperawatan untuk pasien Tindakan keperawatan untuk keluarga
1. Isyarat bunuh diri Mendiskusikan cara mengatasi keinginan bunuh diri
Meningkatkan harga diri pasien
Meningkatkan kemampuan pasien dalam menyelesaikan masalah Melakukan pendidikan
kesehatan tentang cara merawat anggota keluarga yang ingin bunuh diri

2. Ancaman bunuh diri


3. Percobaan bunuh diri Melindungi pasien Melibatkan keluarga untuk mengawasi pasien secara
ketat

Evaluasi
- Perhatikan hari demi hari.
- Libatkan klien dalam mengevaluasi prilakunya.
1. Apakah ancaman suicide sudah menghilang ?
2. Apakah perilaku menunjukkan kepedulian pada kegiatan sehari-hari ?
3. Apakah sumber koping sudah dipakai semua ?
4. Apakah klien sudah dapat menggambarkan dirinya dengan positif ?
5. Apakah sudah memakai koping positif ?
6. Apakah klien terlibat dalam aktivitas meningkatkan diri ?
7. Apakah klien sudah mendapat keyakinan untuk pertumbuhan diri ?

BUNUH DIRI PADA KLIEN GANGGUAN JIWA


FAKTOR-FAKTOR RISIKO PERILAKU MENCEDERAI DIRI: BUNUH DIRI PADA KLIEN
GANGGUAN JIWA DI RUMAH SAKIT JIWA

LATAR BELAKANG
Bunuh diri merupakan kedaruratan psikiatri karena merupakan perilaku untuk mengakhiri
kehidupannya (Stuart dan Laraia, 1998). Alasan individu mengakhiri kehidupan adalah: 1)
kegagalan untuk beradaptasi, sehingga tidak dapat menghadapi stress, 2) perasaan terisolasi,
dapat terjadi karena kehilangan hubungan interpersonal/ gagal melakukan hubungan yang
berarti, 3) perasaan marah/ bermusuhan, bunuh diri dapat merupakan hukuman pada diri sendiri,
4) cara untuk mengakhiri keputusasaan, 5) tangisan minta tolong. Selain itu adanya stigma
masyarakat bahwa kecendrungan bunuh diri adalah karena keturunan (Keliat, 1993). Dimana
individu tersebut oleh masyarakat sudah dicap dan tidak perlu ditolong. Penyebab perilaku
bunuh diri pada individu gangguan jiwa karena stress yang tinggi dan kegagalan mekanisme
koping yang digunakan dalam mengatasi masalah (Keliat, 1993).
Penelitian Black dan Winokur (1990) bahwa lebih dari 90% tiap menit individu yang mengalami
gangguan jiwa melakukan bunuh diri (Stuart dan Laraia, 1998). Dan lebih dari 90% orang
dewasa dengan gangguan jiwa mengakhiri hidup dengan bunuh diri (Stuart dan Sundeen, 1995).
Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1995 bahwa 185 dari 1000 anggota rumah tangga
mengalami gangguan jiwa dengan angka bunuh diri 1,6 sampai dengan 1,8 per 100.000
penduduk (Panggabean, 2003). Sedangkan penelitian yang dilakukan Westa (1996) bahwa

percobaan bunuh diri di Unit Gawat Darurat RS Sanglah Bali pada individu gangguan jiwa
terbanyak adalah dewasa muda, wanita dan alat yang digunakan untuk usaha bunuh diri adalah
zat pembasmi serangga (http://members.tripod.com/~cyberpsy/P13.htm).
RS X merupakan rumah sakit jiwa yang merupakan rumah sakit rujukan jiwa tingkat nasional.
Hasil studi dokumentasi ditemukan bahwa belum ada dokumentasi tentang faktor risiko perilaku
mencederai diri: bunuh diri pada klien gangguan jiwa. Sedangkan hasil wawancara didapatkan
bahwa belum pernah dilakukan penelitian tentang faktor risiko perilaku mencederai diri: bunuh
diri pada klien gangguan jiwa di RS Jiwa X.

TUJUAN PENELITIAN
Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk menguraikan faktor-faktor risiko perilaku mencederai
diri: bunuh diri pada klien gangguan jiwa di rumah sakit jiwa.
Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi psikososial dan klinik (usia, jenis kelamin, pendidikan, status pernikahan,
suku bangsa, metode) klien gangguan jiwa
2. Mengidentifikasi diagnostik (jenis/riwayat diagnosa medis, terapi pengobatan) klien gangguan
jiwa
3. Mengidentifikasi riwayat keluarga dan (percobaan bunuh diri, riwayat keluarga) klien
gangguan jiwa
Pertanyaan Penelitian
Bagaimana gambaran faktor-faktor risiko perilaku mencederai diri: bunuh diri pada klien
gangguan jiwa di RS Jiwa X ?

BAHAN DAN CARA KERJA

Kerangka Penelitian
Faktor-faktor risiko perilaku mencederai diri: bunuh diri pada klien gangguan jiwa merupakan
variabel yang diukur meliputi: 1) psikososial dan klinik (usia, jenis kelamin, pendidikan, status
pernikahan, suku bangsa, metode), 2) riwayat (percobaan bunuh diri, riwayat keluarga), 3)
diagnostik (jenis/riwayat diagnosa medis, terapi pengobatan) (Stuart dan Sundeen, 1995;
Townsend, 1996; Stuart dan Laraia, 1998; Rawlin dan Heacock, 1993). Sedangkan data dasar
diambil adalah klien yang dirawat di RS Jiwa yaitu : pernah melakukan percobaan bunuh diri di
rumah dan berisiko berulang melakukan perilaku mencederai diri: bunuh diri di RS Jiwa.
Rancangan Penelitian
Penelitian adalah penelitian survei dengan metode kuantitatif, menggunakan rancangan cross
sectional (Creswell, 1994).
Populasi dan Sampel
Populasi total adalah semua klien gangguan jiwa baik laki-laki dan perempuan dengan perilaku
mencederai diri: bunuh diri yang dirawat di ruang rawat Inap RS Jiwa X sebanyak 27 orang
(Maret s/d Juni 2004), dengan kriteria: 1) ada riwayat pernah melakukan percobaan bunuh diri di
rumah, 2) mampu berkomunikasi, 3) tidak sedang mengalami halusinasi dan perilaku kekerasan
saat dilakukan penelitian, 4) usia 20 tahun, 5) mendapatkan terapi pengobatan medis yang
sama (CPZ, HLP, THP), dan 6) diagnosa medis: Skizofrenia dan Psikosis.
Pengumpulan Data
Instrumen pengumpulan data berupa kuesioner yang meliputi data primer dan data sekunder
yang dibuat peneliti sendiri, terdiri dari 1) psikososial dan klinik (usia, jenis kelamin, pendidikan,
status pernikahan, suku bangsa, metode), 2) riwayat (percobaan bunuh diri, riwayat keluarga), 3)
diagnostik (jenis/riwayat diagnosa medis, terapi pengobatan) (Stuart dan Sundeen, 1995;
Townsend, 1996; Stuart dan Laraia, 1998).

Pengolahan dan Analisis data


Pengolahan data yang dilakukan dengan menggunakan komputer melalui tahapan editing,
coding, entri dan cleaning. Setelah data siap dilanjutkan dengan analisis univariat untuk
mengidentifikasi masing-masing variabel dengan bentuk tampilan distribusi frekuensi.

HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian terhadap 27 klien gangguan jiwa di RS Jiwa X disajikan sesuai dengan tujuan
penelitian.
A. Psikososial dan Klinik
Tabel 1.
Distribusi Responden menurut Psikososial dan Klinik Klien Gangguan Jiwa di RS Jiwa X
(n = 27)

Hampir sama jumlah responden penelitian ini yang laki-laki mapun perempuan, namun lebih
banyak klien berusia < 30 tahun (66,7%) dibandingkan berusia > 30 tahun (33,3%). Sebagian
besar responden adalah 51,9% berpendidikan SMU, 77,8% belum menikah, 40,7% suku Sunda
dan 55,6 % metode yang digunakan adalah lain-lain yaitu sebanyak: 5 orang membenturkan
kepala; 5 orang minum obat tidur; 2 orang menceburkan ke sumur; 1 orang menabrakkan diri ke
jalan; 1 orang membakar diri dan 1 orang menelan peniti.
B. Diagnostik
Tabel 2 menunjukkan lebih banyak klien gangguan jiwa dengan diagnosa medis Skizofrenia
(92,6%) dan terapi pengobatan yang didapatkan klien adalah clorpromazine, haloperidol dan
triheksilfenidil (81,5%).

Tabel 2.
Distribusi Responden menurut Diagnostik Klien Gangguan Jiwa di RS Jiwa X (n = 27)

C. Riwayat
Sebagian besar responden yang dirawat di RS Jiwa X berisiko berulang melakukan perilaku
mencederai diri: bunuh diri adalah sudah pernah melakukan percobaan bunuh diri sebanyak < 3
kali (81,5%). Namun berdasarkan riwayat keluarga bahwa tidak ada anggota keluarga yang
melakukan bunuh diri sama dengan responden (92,6%), tapi hanya 7,4% keluarga yang
melakukan perilaku mencederai diri: bunuh diri dengan menggunakan metode bunuh diri yaitu
membenturkan kepala (hubungan dengan klien/ responden adalah 1 orang ibu dan 1 orang adik).
Tabel 3.
Distribusi Responden menurut Riwayat Klien Gangguan Jiwa di RS Jiwa X (n = 27)

PEMBAHASAN
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan.
Perilaku bunuh diri yang tampak pada seseorang disebabkan karena stress yang tinggi dan
kegagalan mekanisme koping yang digunakan dalam mengatasi masalah (Keliat, 1993). Perilaku
bunuh diri atau destruktif diri langsung terjadi terus menerus dan intensif pada diri kehidupan
seseorang. Perilaku yang tampak adalah berlebihan, gejala atau ucapan verbal ingin bunuh diri,
luka atau nyeri (Rawlin dan Heacock, 1993).
Penelitian yang dilakukan oleh Black dan Winokur (1990) bahwa lebih dari 90% tiap menit
individu yang mengalami gangguan jiwa melakukan bunuh diri (Stuart dan Laraia, 1998).
Dimana faktor risiko penyebab perilaku mencederai diri: bunuh diri pada klien gangguan jiwa

meliputi: 1) psikososial dan klinik 2) riwayat 3) diagnostik (Stuart dan Sundeen, 1995; Stuart dan
Laraia, 1998).
Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan di RS Jiwa X tahun 2004 tentang faktor-faktor
risiko perilaku mencederai diri: bunuh diri pada klien gangguan jiwa adalah: 1) psikososial dan
klinik klien gangguan jiwa sebagian besar (66,7%) berusia < 30 tahun, jenis kelamin hampir
sama untuk laki-laki dan perempuan, pendidikan SMU/sederajat, 77,8% belum menikah, 40,7%
suku Sunda dan 55,6 % metode yang digunakan adalah lain-lain yaitu sebanyak: 5 orang
membenturkan kepala; 5 orang minum obat tidur; 2 orang menceburkan ke sumur; 1 orang
menabrakkan diri ke jalan; 1 orang membakar diri dan 1 orang menelan peniti; 2) diagnostik
klien gangguan jiwa adalah sebagian besar (92,6%) diagnosa medis Skizofrenia; dan 3) riwayat
klien gangguan jiwa sebagian besar (81,5%) percobaan bunuh diri yang pernah dilakukan
sebanyak < 3 kali, dan 92,6% tidak ada anggota keluarga yang pernah melakukan percobaan
bunuh diri. Tetapi sebagian kecil metode yang dilakukan untuk bunuh diri pada keluarga adalah
membenturkan kepala sebanyak 2 orang (7,4%) yaitu 1 orang ibu dan 1 orang adik.
Penelitian yang dilakukan Westa (1996) bahwa dari 104 kasus klien gangguan jiwa (31 orang
laki-laki dan 73 orang perempuan) di Unit gawat darurat RSUP Sanglah Denpasar-Bali
didapatkan terbanyak adalah golongan dewasa muda, pendidikan SLTP-SLTA, belum menikah,
masalah hubungan interpersonal, dan keluarga sebagai faktor pencetus terbanyak. Sedangkan
zat/alat (metode) yang digunakan untuk usaha bunuh diri obat pembasmi serangga
(http://members.tripod.com/~cyberpsy/P13.htm).
Jika melihat perbandingan hasil penelitian di RS Jiwa X (2004) dan Westa (1996) maka perilaku
mencederai diri: bunuh diri pada klien gangguan sangat membahayakan dan berdampak pada
produktivitas. Hal ini dapat dilihat dari cara atau metode yang digunakan dalam melakukan
bunuh diri langsung dapat menyebabkan kematian dan ditemukannya usia yang produktif (< 30
tahun), masih berstatus pelajar serta belum menikah. Berdasarkan Hasil Survei Kesehatan
Rumah Tangga tahun 1995 bahwa 185 dari 1000 anggota rumah tangga mengalami gangguan
jiwa dengan angka bunuh diri 1,6 sampai dengan 1,8 per 100.000 penduduk (Panggabean, 2003).

Untuk itu maka bunuh diri dalam ilmu keperawatan jiwa merupakan kedaruratan psikiatri karena
merupakan perilaku untuk mengakhiri kehidupannya (Stuart dan Laraia, 1998). Alasan klien
mengakhiri kehidupannya karena: 1) merasa gagal dalam beradaptasi dan tidak dapat
menghadapi stress, 2) merasa terisolasi karena gagal berhubungan dengan orang lain, 3) perasaan
marah/ bermusuhan 4) putus asa. Hal ini didukung dengan hasil penelitian yaitu adanya cemas
tinggi, tidak berdaya, kurang mampu melakukan ADL, tidak ada orang penting dekat, pernah
melakukan percobaan bunuh diri.
Hal lain yang juga sangat mendukung tentang perilaku klien gangguan jiwa yang melakukan
perilaku mencederai bunuh diri dari segi medis adalah berdasarkan DSM-III-R conditions bahwa
diagnosis medis perilaku bunuh diri pada klien gangguan jiwa salah satunya skizofrenia (Rawlin
dan Heacock, 1993). Murphy (1994) menyatakan bahwa pada klien gangguan jiwa sebagian
besar adalah dengan diagnosis Skizofrenia (Stuart dan Sundeen, 1995).

KESIMPULAN
Sebagian besar faktor-faktor risiko perilaku mencederai diri: bunuh diri yaitu terjadi pada : 1)
remaja dan dewasa muda; 2) laki-laki; 3) SMU; 4) belum menikah; 5) suku sunda; 6) metode
yang digunakan untuk bunuh diri adalah minum obat serangga, membenturkan kepala, minum
obat tidur, menceburkan ke sumur, menabrakkan diri ke jalan, membakar diri dan menelan peniti,
7) diagnostiknya adalah Skizofrenia. Percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh klien lebih dari 1
kali.

REKOMENDASI
q Perlunya kewaspadaan dan penanganan secara intensif pada klien perilaku mencederai diri:
bunuh diri, yaitu perlindungan bagi klien (menjauhkan dari hal-hal/benda-benda yang

memudahkan klien untuk bunuh diri)


q Perlunya peningkatan pengetahuan dan kemampuan perawat dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien bunuh diri.
q Perlunya pendekatan khusus pada klien bunuh diri, misalnya dengan membina hubungan saling
percaya antara perawat dan klien sehingga klien mau menceritakan permasalahannya dan
perawat dapat mencarikan jalan keluarnya
q Perlunya meningkatkan dukungan sosial seperti keluarga, teman dekat dan lain-lainnyanya
q Perlunya penyediaan hotline service, home care atau pelayanan 24 jam
q Perlunya penelitian lanjutan berupa penelitian kualitatif untuk mempertajam hasil penelitian
yang telah dilakukan