Anda di halaman 1dari 7

Hubungan Restorasi dengan Oklusi

Oleh: M. Mudjiono drg, MS, Sp.KG. (K)


Departemen Konservasi Gigi
FKG- UNAIR 2015

A. Restorasi pada Gigi Anterior


Restorasi gigi anterior harus sesuai dengan skema protrusive incisal guidance dan working guidance
yang telah ada sebelumnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat restorasi pada gigi
anterior adalah
1. Oklusi Sentris
Restorasi gigi anterior sebaiknya dapat berkontak secara simultan dengan gigi anterior yang tersisa
pada posisi oklusi sentris baik untuk relasi incisal kelas I, kelas II maupun kelas III.
2. Relasi sentris
Restorasi pada gigi anterior sebaiknya tidak menimbulkan premature contact pada posisi relasi
sentries
3. Kontak sisi kerja
Gigi insisif berkontak selama pergerakan harus sesuai dengan working guidance yang sama dengan
yang telah ada sebelumnya. Jika terdapat sekelompok fungsi, penentuan kontak gigi harus terbagi rata
dengan memperhatikan canine guidance . Kontak dengan caninus rahang bawah harus terjadi pada
incisobuccal edge caninus rahang bawah dan permukaan palatal caninus rahang atas, sehingga dapat
memisahkan gigi pada sisi kerja dan sisi non-krja saat mandibula bergerak dari posisi oklusi sentris
menuju sisi kerja. Overcontoured pada restorasi caninus dapat menimbulkan canine guidance yang
terlalu banyak sehingga menimbulkan gejala disfungsi sendi temporomandibula. Sedangkan restorasi
caninus yang undercountoured dapat menyebabkan gangguan pada sisi kerja dan non-kerja.
4. Kontak pada sisi non-kerja
Sebaiknya tidak terdapat kontak antar gigi anterior pada sisi non-kerja selama pergerakan mandibula.
5. Kontak protrusive
Apabila terdapat incisal guidance, seperti pada relasi anterior kelas I, kelas II div II, dan kelas III,
restorasi sebaiknya memiliki kontak protrusive dengan incisive yang lain. Pada kelas II div I, karena
tidak terdapat kontak antar incisal selama pergerakan protusif, maka restorasi harus sesuai dengan
kontur incisive yang lain. Restorasi yang overcontoured merupakan penghambat gerakan protrusive
yang dapat menyebabkan disfungsi sendi temporomandibula.

B. Restorasi pada Gigi Posterior


Pembuatan restorasi pada gigi posterior agar tidak mengganggu system stomatogenatik, perlu
memperhatikan beberapa faktor berikut:
1. Oklusi sentris
Ketika mandibula berada dalam posisi oklusi sentries, maka akan ada kontak antara restorasi dengan
gigi antagonisnya. Restorasi pada cup seharusnya bisa berkontak dengan fossa atau marginal ridge.
Cusp palatal molar dan premolar rahang atas berkontak dengan central fossa atau marginal ridge molar
atau premolar rahang bawah. Sedangkan cusp buccal dari molar dan premolar rahang bawah kontak
dengan fossa atau marginal ridge molar dan premolar rahang.
2. Tekanan aksial
Kontak yang terjadi antara cusp dengan fossa atau marginal ridge akan menimbulkan arah tekanan
oklusal berjalan ke sepanjang aksial gigi menjadi tekanan aksial
3. Stabilitas gigi
Arah aksial dari tekanan oklusal dapat mempertahankan stabilitas gigi dan mengalihkan tekanan yang
dapat merusak gigi menuju jaringan penunjang.
4. Relasi rahang yang stabil
Posisi gigi posterior yang tepat pada antar cusp (intercuspantion)dapat mempertahankan posisi
mandibula dan menjaga stabilitas sendi temporomandibula. Jika seluruh restorasi pada gigi posteror

permukaan oklusal yang rata (tidak mengikuti bentuk oklusal) atau berlebihan dapat mempengaruhi
stabilitas posisi mandibula terhadap maksila.
Kegagalan Restorasi Gigi Posterior
1. Dampak kontak pada bidang inklinasi
Tekanan non-aksial seperti tekanan pada sisi buccal/lingual dapat mengakibatkan pergerakan gigi,
sehingga merubah pola oklusinya dan selanjutnya dapat mengganggu pergerakan sendi temporo
mandibular. Restorasi sebaiknya tidak overcontoured (terlalu tinggi) karena akan menyebabkan
premature contact Pada saat oklusi sentries menghalangi proses pengatupan gigi untuk mendapatkan
posisi yang tepat . Maka akan mengakibatkan reflek parafunctional grinding yang menyebabkan
hipertonus otot, serta pergerakan gigidan penggeseran processus condyloideus.
Restorasi yang undercontoured akan mengakibatkan hilangnya kontak dengan gigi antagonisnya , hal
ini dapat menimbulkan super-eruption pada gigi yang tidak dapat berkontak serta gigi di sekitarnya
menjadi miring. Jika hal ini berlangsung dalam waktu lama, maka akan mengakibatkan hilangnya
dimensi vertical oklusal secara progresif (posterior bite collapse) serta pemberian beban yang
berlebihan pada jaringan penyangga gigi.
Beberpa hal yang perlu diperhatikan dalam restorasi gigi posterior, antara lain:
1. Relasi sentris
Selain pada oklusi sentris, restorasi seharusnya juga tidak menimbulkan premature contact pada relasi
sentris. Meskipun sebelum dilakukan restorasi sudah terdapat premature contact pada relasi sentries
dan tidak dilakukan perawatan apapun, restorasi yang akan dibuat sebaiknya tidak menambah
premature contact.
2. Kontak pada sisi kerja
Restorasi sebaiknya tidak mempengaruhi guidance pergerakan gigi yang telah ada sebelumnya
selama mandibula bergerak dan tidak pada posisi oklusi sentris
3. Kontak pada sisi non-kerja
Kontak pada sisi non-kerja sebaiknya juga tidak terjadi. Restorasi yang menyebabkan kontak pada
sisi non kerja akan menyebabkan gangguan kerja cusp.
4. Kontak protusif
Kontak protusif sebaiknya dihindari karena dapat mempengaruhi protrusive tooth guidance.
C. Efek Prematur Kontak atau Gangguan Oklusi
Kontak premature atau gangguan oklusi merupakan sumber parafunctional grinding. Hal ini akan
menyebabkan rasa nyeri, pelebaran membrane periodontal, gigi goyang atau fraktur restorasi. Hal ini juga
menimbulkan jalur yang mengganggu pada penutupan atau gerakan menggiggit dan menggeser ke dalam
intercusp yang stabil. Pola penghindaran dari fungsi reflex ini bisa berkembang di sekitar kontak ini, hasil
efek akhirnya bisa menyebabkan hipertonus otot, nyeri, kelemahan terbatasnya pergerakan, condylar
displacement atau tanda-tanda lain dari disfungsi mandibula.
D. Restorasi Gigi yang Salah Beserta Implikasinya
Umumnya kualitas restorasi sangat bergantung pada 4 faktor, yaitu klinisi/ dokter gigi, bahan restorasi,
laboratorium gigi, dan pasien. Tetapi penyebab kegagalan yang sangat memegang peranan adalah faktor
klinisi/ dokter gigi yang merawat. Trauma oklusi sering dihubungkan dengan penempatan restorasi yang
baru, tekanan pada trauma biasanya meningkat ketika gigi mengalami perubahan posisi atau restorasi
tersebut lepas sebelum keseimbangan oklusi terbentuk kembali. Meskipun begitu, saat gigi yang terlibat
tidak bisa mencapai hubungan oklusal yang harmonis, trauma kronis dari oklusal bias terjadi. Misalnya,
kesalahan mengcarving permukaan restorasi amalgam bisa memicu gangguan oklusal pada inklinasi cusp
dalam penyimpangan lateral. Begitu juga gigi dengan mahkota anterior rahang atas yang tebal bisa
terdorong keluar posisinya oleh oklusi tersebut dan terdorong ke lingual oleh bibir ketika mandibula
berada dalam rest position.
Pengunyahan yang salah akan memberikan tekanan/kekuatan yang tidak merata pada gigi yang
direstorasi dapat menyebabkan trauma oklusi, khususnya pada pasien yang memiliki kecenderungan
bruxism.

Restorasi dengan kontur yang buruk (over/terlalu cembung) akan menghalangi penyikatan gigi yang
efektif sehingga berakibat terjadinya akumulasi plak di servikal. Selain itu under kontur cenderung
mengakibatkan terjadinya food impaction yang dapat mengakibatkan terjadinya akumulasi plak, karies
dan kalkulus yang kemudian dapat mengiritasi gingiva dan berlanjut pada penyakit periodontal.
E. Dampak trauma oklusi terhadap jaringan periodontal
Trauma oklusi adalah suatu keadaan yang menimbulkan perubahan patologik atau perubahan adaptasi
yang melibatkan jaringan periodontal sebagai akibat dari tekanan yang tidak semestinya atau tekanan
yang berlebihan dari otot- otot pengunyahan. Trauma oklusi dapat menyebabkan kerusakan pada ligamen
periodontal, struktur jaringan keras gigi, pulpa, sendi temporomandibula, jaringan lunak mulut, resorpsi
akar dan sistem neuromuskular.
Dengan kata lain trauma oklusal adalah proses keseluruhan oklusi traumatis yang menyebabkan injuri
apparatus periodontal..Penyebab dari trauma oklusi adalah : gigi yang elongasi, tambalan gigi yang
berlebih, adanya beban yang berlebihan mengenai gigi dan durasinya, adanya hipertrofi dan hipertonus
dari otot mastikasi, dan adanya penyimpangan oklusi
Akibat dari trauma oklusi adalah keberadaan wear facets pada gigi, penebalan sementum, fraktur akar,
mobiliti gigi, migrasi gigi, impaksi makanan sebagai kurangnya kontak antara gigi yang berbatasan, dan
kemungkinan lain, bruxsim dan gangguan sendi temporomandibula, serta fraktur mahkota gigi pada
margin servikal atau fraktur cups juga terjadi sebagai hasil dari trauma oklusi.
Stabilitas metabolis dan struktural ligamen periodontal dan tulang alveolar bergantung pada stimulasi
mekanis kekuatan oklusal. Efek kekuatan oklusal pada periodonsum dipengaruhi oleh besar, arah, durasi
dan frekuensi kekuatan itu. Peningkatan besar kekuatan menyebabkan pelebaran ligamen periodontal.
Durasi dan frekuensi kekuatan oklusal mempengaruhi respon tulang. Tekanan konstan menyebabkan
resorpsi, sedangkan kekuatan intermiten memicu pembentukan tulang
Trauma oklusal dapat bersifat akut jika disebabkan oleh kekuatan eksternal atau bersifat kronis jika
disebabkan oleh kekuatan internal (kontak prematur, grinding). Trauma ini tidak hanya disebabkan oelh
perubahan kekuatan oklusal, tapi juga karena berkurangnya kapasitas periodonsium menahan kekuatan
oklusal teresebut, atau oleh kombinasi keduanya
Trauma oklusal kronis dibagi menjadi trauma primer dan trauma sekunder. Trauma oklusal primer adalah
efek dari kekuatan abnormal pada jaringan periodontal yang sehat/ normal (tanpa inflamasi), disebabkan
oleh kekuatan nonfisiolgis dan berlebih pada gigi. Kekuatan yang diterima bisa satu arah (kekuatan
orthodontis) atau berlawanan arah (kekuatan jiggling). Kekuatan jiggling menyebabkan perubahan
histologis ligamen lebih kompleks dan peningkatan mobilitas gigi yang nyata karena titik rotasi (fulkrum)
lebih dekat ke apeks. Dengan kata lain trauma oklusi primer terjadi ketika perubahan periodonsium
disebabkan hanya karena oklusi. Contohnya adalah pergerakan orthodontis gigi ke posisi yang tidak
diharapakan, atau restorasi yang terlalu tinggi. Sedangkan trauma oklusal sekunder adalah efek kekuatan
oklusal pada periodonsium yang sakit, terjadi ketika kapasitas adaptif periodonsium berkurang karena
telah ada kelainan sistemis atau kehilangan tulang
Tekanan oklusal normal adalah ketika gigi mendapat tekanan fungsional tanpa melebihi kapasitas
adaptasi jaringan pendukung dibawahnya sehingga tidak melukai jaringan tersebut. Kemampuan jaringan
periodonsium untuk beradaptasi terhadap tekanan oklusal berbeda- beda pada setiap orang atau pada
orang yang sama namun waktunya berbeda.
Tidak seperti luka pada ginggivitis dan periodontitis, yang dimulai dari jaringan ginggiva, luka karena
trauma oklusi dimulai dari ligamen periodontal dan meliputi sementum dan tulang alveolar13.
Ketidakseimbangan oklusi terjadi bila gigi yang berkontak terlebih dahulu pada regio tertentu jumlahnya
kurang dari 50 % dari jumlah gigi di regio tersebut atau satu atau dua gigi berkontak terlebih dahulu. Bila
hambatan terjadi pada waktu oklusi sentris disebut kontak prematur, sedangkan jika terjadi pada gerak
artikulasi disebut dengan blocking.
Beberapa faktor penyebab dapat meningkatkan tekanan pada jaringan periodonsium, yaitu:
1. Ketidakseimbangan oklusi

a. Hambatan oklusal pada waktu oklusi sentri ( kontak prematur) dan gerak artikulasi
(blocking).
Ketika kontak prematur terjadi, gigi yang terlibat harus dapat bergerak sehingga gerakan mandibula
dapat sepenuhnya normal atau jika giginya kaku, mandibula didefleksikan dari jalur penutupan
normal sehingga terjadi oklusal side. Hasil dari kontak abnormal ini dapat terjadi langsung atau
tidak langsung pada gigi yang bersangkutan.
o Langsung
Ketika tekanan oklusal meningkat, efek tekanan akan diterima langsung oleh gigi yang terlibat.
Pada umumnya, jika terjadi atrisi jaringan periodonsium tetap sehat, tetapi sejumlah kasus
menunjukan bahwa walaupun atrisi terjadi, kerusakan jaringan periodonsium tetap ada terutama
jika terdapat iritan lokal, misalnya plak yang menurut sejumlah ahli hal ini berhubungan dengan
terbentuknya poket infraboni.
o Tidak langsung
Arah dari pergeseran yang mana mengakhiri penutupan sentrik tergantung dari iklinasi cusp
yang terlibat. Kontak prematur pada inklinasi yang mengarah ke mesial pada cusp bagian atas
akan menghasilkan pergeseran ke depan.
b. Gigi hilang tidak diganti
Ketika gigi bagian proksimal tidak didukung oleh gigi tetangganya karena telah diekstraksi, tekanan
oklusal menekan periodonsium dan mengakibatkan gigi semakin lama menjadi miring. Tekanan
oklusal pada gigi yang miring menjadi semakin divergen pada poros gigi. Hilangnya gigi fungsional
akan menghasilkan perubahan hubungan dan keseimbangan tekanan diantara gigi- gigi. Jika
kerusakan periodontal sudah terjadi, tekanan ini memperberat kerusakan. Kejadian ini hampir tidak
dapat dihindari, karena kerusakan yang terjadi pada kontak normal yang disebabkan oleh tipping
pada gigi, akan menuju pada impaksi dan stagnasi makanan yang menghasilkan inflamasi ginggiva
dan formasi poket.
c. Perbandingan Mahkota-Akar Tidak Seimbang ( PMATS)
Hasil pengamatan klinis sejumlah ahli menunjukkan bahwa gigi dengan mahkota yang besar dan
permukaan oklusal yang lebar tetapi akarnya pendek dan runcing, menyebabkan trauma oklusi,
karena tekanan oklusal yang jauth pada permukaan gigi akan melebihi kapasitas adaptasi jaringan
periodonsiumnya.
d. Kontak edge-to-edge
Analisis klinis menunjukan bahwa kontak edge-to-edge sering menyebabkan trauma oklusi jaringan
pendukungnya.
e. Alat prostetik dan restorasi yang buruk
Pada Gigi Tiruan Sebagain Lepasan ( GTSL ) desain cengkeram yang salah dapat mempengaruhi
tekanan lateral berlebih pada gigi penyangga. Ketika gerakan lateral mandibula menyebabkan
tipping pada GTS ( dapat karena alat tidak pas atau karena oklusi salah), gigi penyangga menerima
tekanan lateral yang besar.
Pada Gigi Tiruan Jembatan ( GTJ ), gigi yang telah digantikan dengan restorasi maupan dengan
protesa, harus diperhatikan oklusinya setiap waktu dan setiap gerakan. Pada konstruksi GTJ yang
harus diperhatikan adalah ketika melakukan preparasi sehingga jairngan gigi yang diambil cukup
dan adekuat untuk digantikan dengan material restoratif.
Jika restorasi terlalu tinggi, gigi akan bertemu dengan lawannya terlebih dahulu pada penutupa
sentrik dan terkadang pada hubungan lain. Hal ini lebih sering terjadi pada restorasi dengan
hubungan sentrik yang tepat, tetapi tidak tepat pada gerakan lateral dan protrusif. Satu contoh yang
paling sering adalah restorasi mahkota jaket porselen yang terlalu tinggi, sehingga pada posisi
protrusifnya hanya mahkota dengan gigi lawan yang berkontak.
2. Kebiasaan buruk

Broxism : Pengaruh tekanan oklusi traumatik terhadap jaringan periodonsium dapat terjadi melalui
tiga tingakatan, yaitu cedera atau luka, perbaikan dan adaptasi perubahan bentuk dari jaringan
periodonsium.
a. Tahap 1 : Cedera/ Luka
Lokasi, keparahan dan pola kerusakan jaringan periodontal tergantung pada besar, frekuensi dan
arah gaya yang menyebabkan kerusakan tersebut. Tekanan berlebih yang ringan akan menstimulasi
resorpsi pada tulang alveolar disertai terjadinya pelebaran ruang ligamen periodontal. Tegangan
berlebih yang ringan juga menyebabkan pemanjangan serat- serat ligamen periodontal serta aposisi
tulang alveolar. Pada area dimana terdapat peningkatan tekanan, jumlah pembuluh darah akan
berkurang dan ukurannya mengecil. Sedangkan pada area yang ketegangannya meningkat,
pembuluh darahnya akan membesar.
Tekanan yang sangat besar menyebabkan pelebaran ligamen periodontal, trombosis, pendarahan
dalam jaringan, robeknya ligamen periodontal dan resorpsi tulang alveolar.
Tekanan yang sangat besar hingga dapat menenkan akar kearah tulang, dapat menyebabkan
nekrosis pada ligamen periodontal yang masih vital yang bersebelahan dengan daerah nekrotik dan
sumsum tulang trabekula. Proses ini dinamakan undermining resorption.
b. Tahap 2 : Perbaikan
Ketika tulang teresorpsi tekanan oklusal yang berlbebih, tubuh berusaha menggantikan tulang
trabekula yang tipis dengan tulang baru. Proses ini dinamakan formasi tulang penahan atau
buttressing bone formation untuk mengkompensasi kehilangan tulang. Hal ini adalah gambaran
proses reparatif yang berhubungan dengan trauma oklusi.
c. Tahap 3 : Adaptasi perubahan bentuk dari jaringan periodonsium
Ketika proses perbaikan tidak dapat menandingi kerusakan yang diakibtakan oklusi, jaringan
periodonsium merubah bentuk dalam usaha untuk menyesuaikan struktur jaringan dimana tekanan
tidak lagi melukai jairngan. Hasil dari proses ini adalah penebalan pada ligamen periodontal yang
mempunyai bentuk funnel pada puncak dan angular pada tulang tanpa formasi poket dan terjadi
kelonggaran pada gigi yang bersangkutan.. Fase cedera menunjukkan peningktan pada daerah
resorpsi dan penurunan pada daerah formasi tulang, sedangkan fase perbaikan menunjukkan
peningkatan formaso dan [enurunan resorpsi tulang. Setealha pengadaptasian perubahan bentuk
jairngan periodonsium, maka resorpsi dan formasi tulang akan kembali normal.
Oklusi mempengaruhi respon dari jaringan periodonsium terhadap inflamasi dan menjadi faktor
resiko pada semua penyakit periodontal. Peran dari trauma oklusi pada ginggivitis dan periodontitis
lebih dapat dimengerti apabila jaringan periodonsium dibagi menjadi dua zona yaitu zona iritasi da
zona ko-destruksi.
Zona iritasi terdiri atas interdental gingiva dan tepi gingiva yang dibatasi oleh serat- serat gingiva.
Ini merupakan awal terjadinya gingivitis dan poket periodontal. Iritan lokal yang menginisiasi
ternadinya gingivitis dan poket mempengaruhi tepi gingiva, tetapi oklusi terjadi pada jaringan
pendukung dan tidak mempengaruhi gingiva. Tepi gingiva tidak terpengaruh dengan adanya trauma
oklusi karena supalai darah dari tepi gingiva sudah cukup. Selama inflamasi hanya terjadi pada
gingiva maka hal tersebut tidak dipengaruhi oleh tekanan oklusal. Namun jika inflamasi dari
gingiva meluas ke jaringan periodonsium, inflamasi memasuki zona ko-destruksi. Iritasi lokal
menyebabkan peradangan pada tepi gingiva papila interdental sehingga penetrasi peradangan ke
jaringan dibawahnya merusak serabut gingiva di sekitar perlekatanya pada sementum. Kemudian
peradangan ini menyebar ke jaringan penyangga yang lebih dalam yang disebut sebagai zona kodestruksi, melalui jalan :
Interproksimal ( interproximal pathways ) Di daerah interproksimal peradangan menjalar melalui
pembuluh darah dapa jaringan ikat jarang kemudian melintasi serat transeptal lalu masuk ke tulang
alveolar melalui pembuluh darah yang menembus puncak alveolar pada septum interdental.
Fasial dan Lingual ( Facial dan Lingual pathways ). Pada permukaan fasial dan lingual
peradangan di tepi gingiva menyebar sepanjang permukaan luar periosteum dan masuk ke ruang
sumsum tulang melalui pembuluh darah yang menembus kortek tulang.

3. Efek dari trauma oklusi


Arah penjalaran peradangan gingiva dapat dipengaruhi oleh oklusi traumatik. Tekanan yang
berlebihan mengakibatkan :
a. Perubahan arah susunan serabut transeptal dan horizontal menjadi angular ( miring)
b. Kompresi, degenerasi dan perubahan susunan serabut periodontal lainnya.
F. Disfungsi sistem pengunyahan
Sistem pengunyahan melibatkan hubungan antara morfologi dan aspek fungsional dari TMJ, gigi, dan
sistem neuromuscular. Sistem ini juga dipengaruhi oleh konsistensi makanan, yang dapat mempengaruhi
durasi dari siklus pengunyahan.1
Disfungsi sistem pengunyahan menunjukkan hubungan antara gigi dengan jaringan periodontal, termasuk
rahang, otot mastikasi, TMJ, pembuluh darah, dan saraf yang tidak harmonis.. Disfungsi sistem
pengunyahan pada umumnya disebabkan oleh oleh kebiasaan clench atau grind. Namun, disfungsi sistem
pengunyahan juga disebabkan oleh beberapa factor, seperti :
a. Olahraga seperti tinju, hockey, volley, basket, dan lain lain.
b. Factor psikologi, seperti stress, rasa takut,atau marah yang dapat memicu timbul reflek
clenching.
c. Maloklusi restorasi
d. Mengunyah 1 sisi
e. Postur tubuh yang tidak benar.
f. Bruxism
g. Trauma periodontal
Sebagian besar disfungsi sistem pengunyahan ditemukan dalam dalam bentuk gangguan sendi
temporomandibula (TMJ). Namun kadang juga ditemukan gangguan pada beberapa otot pengunyahan,
seperti pada otot tensor veli palatine dan otot tensor timpani, yang berdampak pada fungsi saluran
eustachius dengan gejala seperti timbulnya rasa nyeri, rasa penuh pada telinga, tinnitus, vertigo, serta
gangguan pendengaran. Gangguan pada otot pengunyahan menunjukan gejala yang sama seperti
gangguan pada TMJ, seperti kesulitan dalam membuka mulut, nyeri orofasial, rasa penuh pada telinga,
serta tinnitus. Tidak jarang terjadi lock jaw yaitu apabila pasien menguap (yawning) terlalu besar, rahang
itu akan terkunci tidak bisa menutup kembali. Untuk mengembalikan ke posisi menutup biasanya perlu
dilakukan oleh dokter gigi karena pasien tidak sanggup menutupnya sendiri.
Untuk pasien dengan gangguan pada sistem pengunyahan, dapat dilakukan terapi seperti:
a. Menghilangkan gejala atau simtomatis
b. Menghilangkan penyababkan utama trauma oklusi
c. Perbaiki TMJ
d. Rehabilitasi otot yang fatigue dan cedera
RANGKUMAN
Oklusi adalah kontaknya permukaan oklusal gigi rahang atas dengan permukaan oklusal gigi rahang
bawah. Disebut oklusal sentrik karena pada waktunya siklus fungsi pengunyahan , perpindahan dari
oklusal yang satu ke oklusal yang lain (artikulasi), selalu diawali dan di akhiri dengan oklusal sentrik.
Oklusal lateral terjadi pada waktu mandibula melakukan gerakan penyamping ke kanan dan ke kiri
memrupakan sisi kerja (working side) dan sisi kiri merupakan sisi pengimbang (balancing side).
Sedangkan oklusi protusif terjadi waktu mandibula dimajukan ke anterior, sampai terjadi kontak antara
bidang insisal/ gigi anterior rahang bawah terhadap bidang insisal gigi anterior rahang atas. Pada gigi
posterior dapat terjadi / tidak terjadi kontak antara tonjolan gigi rahang bawah terhadap tonjol.
Dikenal dua macam oklusi yaitu :
1. Oklusi ideal : adalah merupakan suatu konsep teoritis oklusal yang sukar atau bahkan tidak
mungkin terjadi pada manusia.

2. Oklusi normal : adalah suatu hubungan yang dapat diterima oleh gigi geligi pada rahang yang sama
dan rahang yang berlawanan, apabila gigi geligi dikontakkan dan condylus berada dalam fosa
glenoidea.
Dalam melakukan perawatan restorasi gigi harus diperhatikan dapat mengembalikan oklusi awalnya
(oklusi normal), bentuk anatomi oklusal akan menentukan kondisi tersebut. Kesalahan restorasi (bentuk
oklusal) akan berakibat trauma oklusi atau tidak terjadi kontak oklusi, dampaknya akan terjadi gigi aus,
rasa sakit untuk mengunyah, gigi goyang, periodontitis, kelainan TMJ, jangka panjang akan
menyebabkan kelainan yang lebih parah misalnya orofacial pain. Untuk terapi kalainan yang parah
tidak mudahkarena penyebabnya menjadi komplek dan saling terkait.
PELATIHAN
1. Apakah yang disebut oklusi dan apa bedanya dengan artikulasi.
2. Menurut pergerakannya ada berapa macam oklusi ?
3. Apa panduan oklusi untuk melakukan perawatan restorasi ?
4. Mengapa bentuk oklusal restorasi sangat menentukan pola oklusi yang terjadi setelah restorasi ?
5. Dampak apa yang terjadi akibat kesalahan restorasi :
a. Jangka pendek ?
b. Jangka panjang ?
6. Bagaimana perawatan selanjutnya bila terjadi kelainan ?
7. Bagamana peran oklusi dalam system stomatognasi ?
DAFTAR PUSTAKA
1. Foster, T.D. 1997. Buku Ajar Ortodonsi Edisi 3. Jakarta: EGC p
2. Hamzah, Z. 2009. Buku Petunjuk Praktikum Fisiologi Blog Stomatognati. Jember: Unej
3. Thomson.L , and Hamish,D, 2007, Oklusi, Edisi 2. Jakarta: EGC, pp. 82-154, 223-72
4. Kidd,Smith,Pickard. 2002. Manual Konservasi Restoratif menurut Pickard. Edisi ke 6, Jakarta:Widya Medika. pp
32-36, 67-68, 258-329
5. Baum,L.,Philips,R. & Lund,M. 1997. Buku Ajar Ilmu Konservasi Gigi, Edisi ke-3. Jakarta: EGC. pp 1-5, 8-9, 172173, 335-56
6. Ecless, JD., Green. 1994. Konservasi Gigi ,Edisi 2. Jakarta , Wijaya Medika pp. 62-82, 224-65, 348-72
7. Tampubolon, R.Eva R.M. 2003. Pengaruh Trauma Oklusi Terhadap Penyembuhan Periapikal. FKG Universitas
Sumatera Utara : Medan
8. Oktami, Helvira. 2008. Hubungan Antara Tiga Tipe Oklusi ( Oklusi seimbang, Group Function, dan Cuspid
Protected ) Dengan Mobilitas Gigi. FKG Universitas Indonesia : Jakarta
9. Rezeki, Ariyanti. 2007. Kerusakan Jaringan Periodonsium Pada Gigi Anterior Yang Disebabkan Oleh Oklusi
Traumatik. FKG Universitas Indonesia : Jakarta
10. Wiriadidjaja, Kartika. 2007. Kerusakan Jaringan Periodonsium Pada Gigi Premolar Yang Disebabkan Oleh
Oklusi Traumatik. FKG Universitas Indonesia : Jakarta
11. Diane B.W, Cynthia P.T, David J,H, Tooth and Periodontal Disease: A Review for the Primary-Care Physician,
Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/410839, Accesced March 13 2010
12. Goenawan, Pratiwi S. 2011 Pertumbuhan gigi. Kuliah Biologi Oral Semester IV Fakultas Kedokteran Gigi Unair.
Universitas Airlangga
13. Grossman LI. 1998. Endodontic Practice. 8th ed. Philadelphia, London: Lea and Febiger. Pp. 142-86, 20456,312-48
14. Hargreaves, KM and Cohen, S 2011, Pathways of the Pulp. 10th edition. USA: Mosby Elsevier, pp: 224-306,
504-508