Anda di halaman 1dari 2

Audit Kontemporer

Lehman Brothers merupakan perusahaan sekuritas


dengan usia 185 tahun, yang bergerak dalam bidang investasi
perdagangan saham dan obligasi. Lehman Brothers terbukti
melakukan rekayasa keuangan dengan menukar asset sebesar
US $50 Milyar dalam bentuk tunai sesaat sebelum laporan
keuangan dipublikasikan, sehingga beban hutang di neraca
berkurang, transaksi tersebut dinamakan Repo (Repurchase
Agreement). Lehman Brothers ini bangkrut pada tahun 2008
dan keruntuhan perusahaan ini melibatkan kantor akuntan
publik Ernst and Young selaku KAP yang mengaudit laporan
keuangan. KAP Ernst and Young dinilai lalai dan melaporkan
audit palsu soal keuangan Lehman Brothers serta tidak
melakukan kajian yang mendalam terhadap laporan keuangan
yang diaudit. Pada kasus inilah mulai terjadi krisis ekonomi
yang akhirnya berdampak pula pada krisis kepercayaan
masyarakat akan profesi akuntan dan auditor. Masyarakat yang
mengetahui kasus runtuhnya perusahaan besar dan ikut
terseretnya akuntan publik, kini mempersoalkan etika profesi
dan perilaku dari para akuntan publik dalam melakukan
pekerjaannya.
Banyaknya kasus kecurangan akuntansi yang menyeret
para auditor, menjadi problema yang harus segera diselesaikan
agar kepercayaan masyarakat terhadap profesi akuntan
kembali. Salah satu cara penyelesaian tersebut yakni dengan
diadopsinya International Standards on Auditing (ISA) yang
mulai diadopsi sejak 1 Januari 2013. ISA merupakan standar
audit berbasis risiko yang sejak awal penugasan pemeriksaan
auditor sudah mempertimbangkan besaran risiko perusahaan
yang akan diaudit. Audit berbasis risiko ini menjadi penting
mengingat besarnya tanggungjawab auditor dalam menjamin
pelaporan keuangan suatu perusahaan dengan tidak hanya
sekedar memberikan keyakinan memadai tetapi juga
memberikan penilaian terhadap keberlanjutan perusahaan.
Audit risiko berbasis ini menjadi perkembangan besar dalam
hal audit dan terangkum dengan sebutan audit kontemporer.

Kompetensi utama dalam audit kontemporer adalah cara


berpikir yang kritis, yakni mampu menimbulkan pertanyaanpertanyaan dari setiap temuan audit yang ditemukan di
lapangan. Berpikir kritis menjadi penting dalam audit
kontemporer, karena banyak terjadi kegagalan audit yang
disebabkan auditor hanya sekedar menjalankan prosedur tanpa
mendalami akar permasalahannya.