Anda di halaman 1dari 26

PENGOLAHAN SAMPAH

DI NEGARA LUAR
INDONESIA

2015

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

. 2

KATA PENGANTAR

. 3

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Rumusan masalah
1.3 Tujuan

. 4
. 5
. 5

BAB II PEMBAHASAN
2.1 New York
2.2 Swedia
2.3 Singapura
2.4 Jerman
2.5 Belanda
2.6 Inggris
2.7 Jepang

.
.
.
.
.
.
.

6
7
9
10
15
15
22

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

. 26
. 26
. 27

KATA PENGANTAR

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

Segala puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT, karena atas berkat
dan limpahan rahmat-Nyalah maka saya bisa menyelesaikan sebuah
makalah dengan tepat waktu.
Berikut ini saya mempersembahkan sebuah makalah dengan judul
Pengolahan sampah di negara luar Indonesia yang menurut saya dapat
memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajarinya.
Melalui kata pengantar ini saya lebih dahulu meminta maaf dan memohon
permakluman bilamana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang
saya buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini saya mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima
kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat
memberikan manfaat.

Malang, 10 November 2015

Penulis

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Senang ketika berdebat dan sekaligus tukar pendapat soal sampah.
Ada yang berpendapat bahwa kita harus mengurangi penggunaan barangbarang bukan alami agar mengurangi sampah-sampah tersebut. Karena alasan
bahwa sampah-sampah itu perlu waktu lama untuk diolah oleh alam, katanya
perlu ratusan atau ribuan tahun. Ada lagi yang berpendapat barang-barang
tersebut biarlahh tetap ada selama masih dalam kondisi yang wajar, sekarang
tingggal bagaimana kita punya manajemen sampah yang baik, agar sampahsampah tersebut bukan dikembalikan ke alam, tetapi kita yang harus
mengelolanya. Alam hanya akan mengolah sampah alaminya. Untuk produk
hasil olahan manusia yang menggunakan bahan kimia ya lebih baik gunakan
cara yang sama untuk mengelolanya atau mendaurulangnya. Pendapat
kedualah yang saya pertahankan ketika berdebat, karena daripada kita sibuk
dan pusing membuat bagaimana membuat barang dari bahan alami, lebih baik
kita menyadarkan diri untuk hidup tertib, untuk sadar lingkungan agar tidak
merusak alam dengan membuang sampah tidak pada tempatnya.
Cara bagaimana mengelola sampah kita perlu belajar dari negara di
luar sana. Karena dari sisi kesadaran masyarakat di luar negeri sana sudah
cukup baik, kebiasaan untuk buang sampah sembarangan tidak terjadi. Di sana
masyarakatnya cukup tertib dan berkesadaran untuk memisahkan sampah
menurut kategori sampahnya. Kalau di Indonesia mungkin baru sampai
memisahkan sampah berdasarkan jenis sampah basah atau kering, kalau di
PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA
OKTAVIANINGSIH S.

sana sampah dibedakan berdasarkan kategori jenis sampahnya, apakah sampah


sisa makanan yang mudah busuk, atau sampah plastik, atau sampah logam,
atau sampah-sampah kimia atau obat-obatan. Dengan pengkategorian sampah
itu akan mempermudah bagaimana kita akan mengolahnya.
1.2 Rumusan Masalah
Bertitik tolak dari latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam
makalah ini adalah bagaimana pengolahan sampah di negara-negara luar
Indonesia?
1.3 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui lebih lanjut mengenai
pengolahan sampah di negara-negara luar Indonesia.

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 New York
New York City, yang terdiri dari lima wilayah yaitu, Manhattan,
Queen,Brooklyn, Bronz dan Staten Island, mempunyai sistem penanganan
sampah terpadu di masing-masing wilayah dan biasanya terletak jauh dari
keramaian kota. Khusus kota Manhattan, penanganannya lebih rumit lagi
karena merupakan pusat kota New York, meskipun kota ini lebih kecil
dibanding keempat wilayah lainnya. Sebutan Manhattan : " The Capital Of
The World" Sebagian kota New York juga melibatkan perusahaan swasta
menangani masalah sampah dalam mambantu bagian kebersihan NYC.
Department yang mengurus sampah ini disebut, Sanitation Deparment,
pekerjaannya meliputi:
Pengumpulan sampah yang sudah ditaruh ditrotoar,

dibungkus dalam tas plastik berwarna hitam


Pengumpulan sampah yang berbentuk metal, ban-ban mobil, benda-

benda keras lainnya


Pengumpulan sampah dalam bentuk kertas, buku-buku, karton dll
Pengumpulan sampah berupa botol-botol

Semuanya dipisah-pisah dulu sambil menungu hari


pengangkutannya, kemudian diletakkan didekat bangunan/rumah.
Umpamanya, untuk sampah kertas, diangkut pada hari Senin, sampah
rumah tangga, hari rabu dan sampah botol-botol, hari Jum'at. Seandainya
ada orang mencampur isinya dalam satu tempat, dia dikenai denda $
100.00. Bagian kebersihan ini juga menangani kebersihan kota, terutama
membersihkan daun-daunan pada musim gugur dan salju yang menggunung
di musim dingin. Pemerintah kota juga memberikan petunjuk pada warga
supaya membuang sendiri barang-barang seperti, accu bekas, olie bekas,
filter mesin, ban-ban mobil, mercury, spare-part mobil lainnya disuatu
tempat di wilayahnya masing-masing. Untuk daerah Queen, berlokasi di
31str College Point. Umumnya barang-barang ini kalau dalam jumlah besar
tidak diangkut. Di Brooklyn, dibeberapa tempat warganya termasuk susah
diatur. Demikian pula dengan mobil, banyak orang yang membuang
PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA
OKTAVIANINGSIH S.

mobilnya, dengan alasan yang berbeda-beda.


Untuk pengawasan kebersihan kota, ada juga polisi khususnya. Selain itu
bagian kebersihan pro aktive sama warga, jadi selalu ada komunikasi,
misalnya pada hari2 tertentu tidak akan ada pengambilan sampah, maka
akan diberikan selebaran, contohnya: No garbage collection on Friday,
Jan 1, 2010 for New Year's Day atau ada hari/jam dimana kita tidak bisa
parkir disuatu tempat karena jalannya sedang dibersihkan. Untuk
menanggulangi salju, dinas kebersihan ini membutuhkan berton-ton garam
yang disiram di tengah jalan setelah saljunya dikeruk oleh kendaraan
khusus

2.2 Swedia
Swedia dikenal sebagai negara yang memiliki manajemen baik dan
efektif dimana sampah masyarakat dan rumah tangga dapat didaur ulang.
Kebijakan tersebut dikeluarkan pemerintah Swedia. Sampah yang didaur
ulang itu dimanfaatkan sebagai sumber energi. Kebijakan pemerintah dan
budaya masyarakat yang mengerti arti kebersihan dan energi, membuat
Swedia menjadi negara maju dalam pengelolaan sampah. Dalam data
statistik Eurostat, rata-rata jumlah sampah yang menjadi limbah di negaranegara Eropa adalah 38 persen. Swedia berhasil menekan angka itu menjadi
hanya satu persen.
Swedia, negara terbesar ke-56 di dunia, dikenal memiliki manajemen
sampah yang baik Mayoritas sampah rumah tangga di negara Skandinavia
itu bisa didaur ulang atau digunakan kembali. Satu-satunya dampak negatif
dari kebijakan ini adalah Swedia kini kekurangan sampah untuk dijadikan
bahan bakar pembangkit energinya. Swedia kini mengimpor 800 ribu ton
sampah per tahun dari negara-negara tetangganya di Eropa. Mayoritas
sampah ini berasal dari Norwegia. Sampah-sampah ini sekaligus untuk
memenuhi program Sampah-Menjadi-Energi (Waste-to-Energy) di Swedia.
Dengan tujuan utama mengubah sampah menjadi energi panas dan listrik.
Norwegia, sebagai negara pengekspor, bersedia dengan perjanjian ini
karena dianggap lebih ekonomis dibanding membakar sampah yang ada.

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

Namun, dalam rencana perjanjian disebutkan, sampah beracun, abu dari


proses kremasi, atau yang penuh dengan dioksin, akan dikembalikan ke
Norwegia.Sedangkan bagi Swedia, mengimpor sampah adalah pemikiran
maju dalam hal efisiensi dan suplai energi bagi kebutuhan
manusia.Membakar sampah dalam insinerator mampu menghasilkan panas.
Di mana energi panas ini kemudian didistribusikan melalui pipa ke wilayah
perumahan dan gedung komersial. Energi ini juga mampu menghasilkan
listrik bagi rumah rakyatnya.
Swedia melakukan pembakaran sampah dalam insinerator sehingga
mampu menghasilkan panas dan menghasilkan energi panas yang kemudian
didistribusikan melalui pipa ke wilayah perumahan dan beberapa gedung
komersial untuk pembangkit listrik. Sebuah cara yang cerdas dalam
menanggulangi sampah dengan memanfaatkan potensi dan teknologi.
Pengelolaan sampah di Swedia selalu mengedepankan bahwa sampah
merupakan salah satu resources yang dapat digunakan sebagai sumber
energi. dasar pengelolaan sampah diletakkan pada minimasi sampah dan
pemanfaatan sampah sebagai sumber energi. Keberhasilan penanganan
sampah itu didukung oleh tingkat kesadaran masyarakat yang sudah sangat
tinggi. Landasan kebijakan Swedia, senyawa beracun yang terkandung
dalam sampah harus dikurangi sejak pada tingkat produksi. Minimasi
jumlah sampah dan daur ulang ditingkatkan. Pembuangan sampah yang
masih memiliki nilai energi dikurangi secara signifikan.
Sehingga, kebijaksanaan pengelolaan sampah swedia antara lain
meliputi: Pengurangan volume sampah yang dibuang ke TPA harus
berkurang sampai dengan 70 % pada tahun 2015. Sampah yang dapat
dibakar (combustible waste) tidak boleh dibuang ke TPA sejak tahun 2002.
Sampah organik tidak boleh dibuang ke TPA lagi pada tahun 2005. Tahun
2008 pengelolaan lokasi landfill harus harus sesuai dengan ketentuan
standar lingkungan. Pengembangan teknologi tinggi pengolahan sampah
untuk sumber energi ditingkatkan.
2.3 Singapura
Singapura merupakan salah satu negara di kawasan Asia Tenggara,
yang merupakan tetangga dekat dengan Indonesia, karena wilayahnya
PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA
OKTAVIANINGSIH S.

memang berbatasan langsung dengan wilayah Indonesia. Singapura


merupakan negara di Asia Tenggara yang relatif kecil, luasnya paling tidak
hanya seukuran DKI Jakarta, yaitu sekitar 650 kilometer persegi.
Singapura dalam menakhlukkan sampah hingga negeri itu berhasil
mendudukkan dirinya sebagai salah satu kota yang hijau dan terbersih di
dunia cocok dengan semboyannya: Singapore, clean and green!
Menurut data dari Kementrian Lingkungan Hidup Singapura, Singapura,
negeri dengan wilayah daratan seluas DKI Jakarta atau sekitar 650 km2 dan
berpenduduk lebih dari 4,6 juta jiwa, menghasilkan sampah sekitar 7600 ton
perharinya. Untuk menangani sampah sebanyak itu, yang notabene 1000 ton
lebih banyak dari produksi sampah Jakarta, Pemerintah Singapura memilih
strategi pengelolaan sampah berupa penerapan teknologi insinerator yang
dapat mengubah sampah menjadi energi listrik (waste to energy) dan
pembangunan TPA sanitary landfill di lepas pantai.
Pemilihan teknologi insinerasi didasarkan karena teknologi tersebut
mampu mereduksi volume sampah harian hingga 90 persen sehingga masa
pakai TPA menjadi semakin panjang. Umur TPA menjadi sangat penting di
sana karena sebagai kota metropolitan dan industri, Singapura tidak lagi
menyisakan daratannya untuk usaha non-produktif seperti TPA sehingga
pembangunan TPA-nyapun mau tidak mau memanfaatkan wilayah lepas
pantai dengan persyaratan teknis yang sangat ketat. Selain karena
keterbatasan lahan, pemilihan teknologi tersebut, yang cukup mahal, rumit,
dan hightech, juga didasarkan pada sudah matangnya kesiapan finansial,
perangkat hukum, institusi pengelola, dan sistem pengumpulan dan
pengangkutan sampah.
Dengan strategi tersebut, sistem pengelolaan sampah di Singapura
jelas tidak sekedar menerapkan prinsip kumpul, angkut, dan buang seperti
yang banyak dipraktekkan di kota-kota besar di Indonesia, tetapi prinsipnya
adalah sampah dikumpulkan, kemudian dipadatkan (di transfer station)
untuk kemudian diangkut dan dibakar (di insinerator), dan terakhir dibuang
(di sanitary landfill di lepas pantai). Sebelum bulan April 1999, tempat
pembuangan sampah Singapura sebenarnya terletak di TPA Lorong Halus

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

yang letaknya di kawasan pantai berawa bagian timur laut Singapura.


Namun karena TPA tersebut sudah penuh dan tidak tersisa lagi daratan
Singapura untuk TPA, maka dibuatlah TPA sanitary landfill lepas pantai di
selatan Singapura yang sekarang dikenal sebagai TPA Semakau.
Penanganan sampah di negara tersebut tidak jauh berbeda dengan
yang dilakukan di Swedia, sampah hasil pengolahan mereka manfaatkan
untuk energi, menggunakan mesin insinerator dan pembangunan TPA
sanitary landfill di lepas pantai.Pemilihan cara penanganan yang seperti itu
karena keterbatasan lahan, di Singapura sangat tidak menolerir penggunaan
lahan untuk hal yang tidak produktif, semisal TPA. Oleh karena itu
penanganan sampah yang efektif harus dilakukan meski harus menggunakan
teknologi yang sangat mahal, rumit, hightech. Semua itu dipertimbangkan
karena sudah matangnya kesiapan finansial, perangkat hukum, institusi
pegelola dan sistem pengumpulan serta pengangkutan sampah yang
teroganisir.
2.4 Jerman
Meski terbilang sebagai negara paling sukses di zona euro, Jerman
rupanya sempat terlilit pula suatu masalah. Uniknya, problem yang dihadapi
negara dengan ibu kota Berlin itu adalah sampah. Pemerintah setempat
sempat dibuat pusing dengan adanya gunungan sampah di sejumlah
tempat. Permasalahan sampah itu tentu harus segera ditangani. Pasalnya,
jika tidak, akan menimbulkan persoalan lain yang lebih kompleks, bukan
saja terkait kebersihan lingkungan, tetapi juga problem sosial. Dari beberapa
solusi yang tersedia, Pemerintah Jerman memilih sistem daur ulang.
Sebenarnya, sistem daur ulang sampah di negeri yang terkenal dengan
penguasaan ilmu dan teknologi maju di berbagai bidang itu telah berjalan
lebih dari 20 tahun.
Karena itu, tidak heran jika saat ini, 14 persen dari bahan mentah yang
digunakan industri-industri di Jerman berasal dari sampah hasil daur ulang.
Terkait aturan pengelolaan sampah di Jerman, Andreas Jaron, dari
Kementerian Lingkungan Hidup Jerman menjelaskan sebenarnya
persyaratan hukum pengelolaan sampah di seluruh negara bagian, sama,
yakni berada di bawah undang- undang federal. Meski demikian, masingPENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA
OKTAVIANINGSIH S.

10

masing kota di Jerman yang jumlahnya mencapai 402 kota, memiliki aturan
sendiri mengenai bagaimana rumah tangga dan perusahaan harus
menggunakan infrastruktur kota dan bertanggung jawab atas sampah yang
dihasilkan. Salah satu contoh peraturan yang diterapkan ialah larangan
penimbunan limbah biodegradable atau recycable. Adapula aturan yang
mengimbau masyarakat untuk melakukan pemisahan limbah yang
dihasilkan dari rumah tangga. Di Jerman, sampah kering dan sampah basah
memang telah terbiasa dipisahkan.
Di rumah tangga, misalnya, pemisahan sampah bukan hanya
berdasarkan sampah kering dan basah, tetapi juga berdasarkan jenisjenis
sampah yang dihasilkan, seperti bio-limbah, kertas, kemasan, kaca, limbah
besar, limbah berbahaya, tekstil, peralatan elektronik, dan binresidu.
Sementara itu, dalam industri perdagangan dan pertambangan, pemisahan
limbah juga dilakukan agar hasil pengolahan sampah bisa dimanfaatkan
sebagai bahan baku sekunder. Perilaku masyarakat Jerman yang terbiasa
membuang sampah berdasarkan jenisnya itu, diakui pula oleh Norma
Hermawan, mahasiswa asal Indonesia yang baru menyelesaikan studi
master di Hochschule Darmstadt, Darmstadt, Jerman.
Berdasarkan pengalamannya, Norma mengamati masyarakat Jerman
cukup disiplin dalam membuang sampah. Selain dibuang pada tempatnya,
sampah juga dipisahkan berdasarkan sampah basah dan sampah kering.
Tidak hanya itu, masyarakat Jerman juga terbiasa memisahkan sampah dari
jenisnya, mulai dari sampah plastik, kertas, biomull atau sampah yang
membusuk, dan restmull (sampah yang tidak bisa didaur ulang).
"Di sejumlah tempat, tersedia pula tempat sampah untuk botol atau
gelas bekas yang dipisahkan berdasarkan warnanya. Bahkan, ada pula
tempat sampah khusus untuk membuang pakaian bekas," ujar dia. Norma
menambahkan, sepekan sekali, petugas kebersihan sampah datang ke
rumah-rumah penduduk untuk mengambil sampah rumah tangga.
Istimewanya, para petugas kebersihan tersebut adalah pegawai
pemerintahan yang bekerja secara profesional. Ketika menjalankan tugas,
mereka mengenakan seragam sembari membawa peralatan kebersihan
lengkap. Kedisiplinan masyarakat dalam menjaga kebersihan juga begitu

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

11

terasa dalam kehidupan sehari-hari. Norma memberi contoh, di tempat


tinggalnya yang merupakan apartemen bersama, para penghuninya selalu
berupaya menjaga kebersihan dapur.
Kesadaran masyarakat Jerman yang cukup tinggi dalam membuang
sampah tidak terlepas dari penanaman rasa tanggung jawab atas sampah
yang mereka hasilkan. Hal tersebut memang terus dikampanyekan
pemerintah, terutama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Jerman yang
berada di Kota Bonn. Secara rutin, KLH Jerman mengedukasi masyarakat
tentang manfaat sampah jika dikelola dengan tepat. Pihak KLH Jerman
dengan menggandeng sejumlah ilmuwan meluangkan waktu untuk
berdiskusi mengenai alat atau teknologi baru dalam mengatasi masalah
sampah atau cara baru mendaur ulang sampah. Jaron memaparkan selama
ini pengelolaan sampah di Jerman dilakukan pemerintah kota dan
perusahaan swasta. Sementara itu, dalam mengendalikan pelaksanaan
undang-undang sampah terdapat beberapa tingkatan administrasi.
"Dengan sistem pengelolaan sampah yang selama ini berjalan,
pemanfaatan sampah daur ulang di negaranya boleh dibilang berjalan
mulus. Sebagai buktinya, 78 persen sampah kota dapat didaur ulang,
termasuk menjadi energi. Jika dirata-ratakan, 71 persen sampah di Jerman
kini sudah berhasil didaur ulang," papar Jaron melalui surat elektronik.
Terkait pengelolaan sampah organik, Jaron menjelaskan perlakuannya
memang lebih khusus. Pasalnya, untuk mengelola sampah organik
diperlukan sebuah thermal dan tata cara teknis secara biologi. Pada
umumnya, sampah dari makhluk hidup itu akan diolah hingga hasil akhirnya
berupa pupuk. Untuk mendukung kelancaran penerapan sistem pengelolaan
sampah organik, Pemerintah Jerman menyediakan 70 municipal waste
incinerators yang beroperasi di seluruh daerah di Jerman.
Dari hal tersebut bisa dikatakan bahwa pengelolaan sampah dengan
sistem daur ulang terus membaik karena mendapat support penuh dari
pemerintah, salah satunya dalam bentuk pemberian fasilitas serta
infrastruktur pendukung. Bentuk dukungan lain dari pemerintah adalah
meningkatkan kualitas sistem daur ulang sampah. Ke depan, KLH Jerman
berencana memperluas laju daur ulang sampah, salah satunya untuk logam

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

12

bio-limbah sambil tetap menjaga efi siensi pendanaannya. Pemerintah juga


berkomitmen untuk membuat lebih banyak lagi wadah-wadah pemisahan
sampah yang wajib dilakukan masyarakat dan perusahaan.
2.4.1

Pemilahan sampah di Jerman


Tong sampah kuning, biru, hijau dan hitam. Jerman

terkenal atas sistem pemilahan sampahnya. Tapi barang apa yang


masuk ke tong mana? Banyak warga Jerman sendiri yang tidak
mengetahuinya. Di rumah tangga keluarga Jerman ada beberapa tong
sampah. Kuning untuk sampah kemasan, biru untuk kertas, hijau
untuk sampah yang bisa didaur ulang, dan hitam untuk sisa sampah
dapur. Jadi seharusnya warga Jerman tahu persis, ke tong mana
sampah tertentu harus dibuang. Tapi realitanya berbeda.

Perusahaan pengelolaan sampah Remondis di Bonn


memastikan, hampir setengah isi tong sampah kuning berisi jenis
sampah yang salah, seperti misalnya sikat gigi. Menurut jajak
pendapat yang dilakukan DW, kebanyakan warga mengira sikat gigi
memang harus masuk ke tong kuning. Awal tahun 90an, lewat sistem
peraturan kemasan yang baru diluncurkan saat itu, pemerintah
berharap untuk bisa mendaur ulang sebanyak mungkin sampah
plastik dan logam. Nicholas Mller dari Remondis mengatakan
kepada DW: "Banyak warga yang mengira, semua yang terbuat dari
plastik bisa dibuang ke tong warna kuning."
Di Jerman terdapat perusahaan yang menangani kemasan
bekas (plastik, kertas, botol, metal dsb) di seluruh negeri, yaitu
DSD/AG (Dual System Germany Co). DSD dibiayai oleh
perusahaan-perusahaan yang produknya menggunakan kemasan.

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

13

DSD bertanggung jawab untuk memungut, memilah dan mendaur


ulang kemasan bekas. Berbeda dengan kondisi Jerman 30 tahun
silam, terdapat 50.000 tempat sampah yang tidak terkontrol, tapi kini
hanya 400 TPA (Tempat Pembuangan Akhir). 10-30 % dari sampah
awal berupa slag yang kemudian dibakar di insinerator dan setelah
ionnya dikonversikan, dapat digunakan untuk bahan konstruksi jalan.
Cerita menarik proses daur ulang ini datangnya dari
Passau Hellersberg adalah sampah organik yang dijadikan energi.
Produksi kompos dan biogas ini memulai operasinya tahun 1996.
Sekitar 40.000 ton sampah organik pertahun selain menghasilkan
pupuk kompos melalui fermentasi, gas yang tercipta digunakan
untuk pasokan listrik bagi 2.000 - 3.000 rumah. Sejak 1972
pemerintah Jerman melarang sistem sanitary landfill karena terbukti
selalu merusak tanah dan air tanah. Bagaimanapun sampah
merupakan campuran segala macam barang (tidak terpakai) dan hasil
reaksi campurannya seringkali tidak pernah bisa diduga akibatnya.
Pada beberapa TPA atau instalasi daur ulang selalu terdapat
pemeriksaan dan pemilahan secara manual. Hal ini untuk
menghindari bahan berbahaya tercampur dalam proses, seperti
misalnya baterei dan kaleng bekas oli yang dapat mencemari air
tanah. Sampah berbahaya ini harus dibuang dan dimusnahkan
dengan cara khusus.

2.5 Belanda
Sampai dengan abad ke-17 penduduk Belanda melempar sampah di
mana saja sesuka hati. Di abad berikutnya sampah mulai menimbulkan
penyakit, sehingga pemerintah menyediakan tempat-tempat pembuangan
sampah. Di abad ke-19, sampah masih tetap dikumpulkan di tempat tertentu,
tapi bukan lagi penduduk yang membuangnya, melainkan petugas
pemerintah daerah yang datang mengambilnya dari rumah-rumah penduduk.
Di abad ke-20 sampah yang terkumpul tidak lagi dibiarkan tertimbun
sampai membusuk, melainkan dibakar. Kondisi pengelolaan sampah di

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

14

Negeri Kincir Angin (Belanda) saat itu kira-kira sama seperti di Indonesia
saat ini.
Kini di abad ke-21 teknologi pembakaran sampah yang modern mulai
diterapkan. Teknologi itu memungkinkan pembakaran tidak menimbulkan
efek sampingan yang merugikan kesehatan. Agar tujuan itu tercapai,
sebelum dibakar sampah mesti dipilah-pilah, bahkan sejak dari rumah.
Hanya yang tidak membahayakan kesehatan yang boleh dibakar. Sampah
yang memproduksi gas beracun ketika dibakar harus diamankan dan tidak
boleh dibakar. Yang lebih menggembirakan, selain bisa memusnahkan
sampah, ternyata pembakaran itu juga membangkitkan listrik.

2.6 Inggris
Di Inggris, ada City Council untuk kawasan perkotaan, ada juga Town
Council untuk kawasan kota dengan ukuran yang lebih kecil dan ada
juga Village Councilatau Parish Council. Di Inggris tiap-tiap rumah
diwajibkan membayar pajak bumi dan bangunan juga, sama seperti di
Indonesia, yang disebut Council Tax. Yang berbeda mungkin hanya
jumlahnya yang lebih mahal.
Council Tax ini digunakan oleh pemerintah lokal setempat untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan lokal semacam perbaikan jalan, pemberian
layanan dan fasilitas umum, dan juga pengelolaan sampah. Konsepnya
cukup sederhana. Dalam hal pengelolaan sampah, dari uang pajak yang kita
bayar tiap bulan, oleh Council dibelanjakan. Salah satunya adalah untuk
pengadaan wheelie bin, atau tempat sampah beroda. Disebut demikian
karena memang ada rodanya, hingga mudah didorong ke mana-mana untuk
memperingan pekerjaan.

Gambar 2.1 kotak sampah untuk rumah tangga

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

15

Ukuran kotak sampah ini bermacam-macam, dari kecil untuk


perumahan-perumahan yang agak padat agar menghemat tempat, sampai
ukuran raksasa untuk sampah industri. Warnanya pun beragam, tergantung
aturan tiap daerah atau kota yang memakainya.Di setiap rumah, diberikan
tiga buah wheelie bin ukuran sedang (seperti gambar pertama yang
berwarna hijau) oleh Town Council. Satu berwarna hijau, satu berwarna
coklat dan satu lagi biru tua. Di tutup masing-masing kotak sampah ini,
tercetak tulisan dengan rapi apa-apa yang harus dimasukkan ke dalam kotak
sampah yang mana, dan apa-apa yang tidak boleh.

Gambar 2. Kotak sampah ukuran besar untuk industry

Di kotak sampah yang coklat, hanya diperbolehkan mengisi sampah


kebun semacam daun, akar, ranting, gulma, bunga, sampah organik dapur
semacam kulit kupasan buah, sampah sayuran dll, dan juga kertas karton
atau kardus bekas. Tetapi abu sisa pembakaran sampah, kebun, sisa
barbeque atau bakar sate tidak boleh dimasukkan ke kotak coklat ini. Di
kotak sampah yang biru tua, hanya diperbolehkan mengisi botol-botol
kemasan plastik yang sudah tidak terpakai, semacam botol susu, minuman
jus, botol selai, botol minyak sayur, dll. Semua harus yang berupa plastik
saja. Di sini juga bisa dimasukkan majalah-majalah bekas, koran bekas dan
brosur-brosur bekas yang tak terpakai. Dan semua yang berbahan kertas.
Di kotak sampah yang hijau, diperbolehkan mengisi apa saja selain
yang harus masuk ke biru dan coklat, kecuali botol kaca. Semua sampah

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

16

rumah tangga yang tidak boleh masuk ke coklat dan biru, harus masuk ke
kotak hijau ini. Jadi isi sampah dari kamar mandi, sampah dari meja rias,
sampah dapur yang non-organik, semua masuk ke wheelie bin yang warna
hijau.Sementara botol-botol kaca bekas selai, sambal ABC, kecap Bango, dll
harus dikumpulkan terpisah untuk lalu dibawa ke tempat penampungan
khusus yang biasa disediakan di jalan masuk supermarket-supermarket
besar.
Di dekat tempat penampungan botol bekas ini juga sering tersedia
kotak raksasa untuk pembuangan sepatu bekas dan baju bekas. Hebat kan?
Orang-orang di sini kadang aneh-aneh. Seringnya mereka membeli sesuatu
tapi lupa memakainya, dan ketika ingat, sudah tidak berminat lagi. Lebih
banyak baju-baju yang masih berlabel masuk ke tempat pembuangan ini,
karena pemiliknya kehilangan minat untuk memakainya (meskipun masih
baru)
Demikian juga dengan sepatu, sering bernasib serupa. Tapi jangan
pikir kalian bisa mengambilnya begitu saja, karena pembuangan sepatu dan
baju ini didesain sedemikian rupa sehingga menjadi semacam kotak surat.
Kalau kalian sudah memasukkan surat ke kotak surat, susah kan
mengambilnya lagi? Sama halnya dengan kotak sepatu dan baju bekas ini.
Yang sudah masuk, tidak bisa keluar lagi, kecuali si petugasnya membuka
gembok raksasa dan mengeluarkan isinya.

Gambar 3. Kotak sepatu dan baju bekas

Lalu diapakan baju dan sepatu ini nantinya? Di Inggris, ada yang
namanya charity atau badan amal, mereka ada di mana-mana dan banyak
PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA
OKTAVIANINGSIH S.

17

sekali. Badan-badan amal ini resmi, terdaftar dan kegiatannya dipantau oleh
pemerintah, jadi bukan main-main. Mereka inilah yang mengumpulkan
sepatu dan baju bekas untuk akhirnya dijual lagi dengan harga super murah,
dan uangnya digunakan untuk kegiatan amal.
Toko-toko milik charity ini bertebaran hampir di tiap desa dan kota.
Yang dijual adalah barang-barang bekas seperti sepatu, baju, mainan, alat
dapur dan buku. Uniknya, di tiap buku yang dijual, ditempeli stiker berisi
himbauan agar jika selesai membaca, mohon dikembalikan ke toko itu untuk
dijual lagi. Jadi uang yang kita bayarkan sewaktu membeli buku itu jadi
semacam uang sewa buku. Kalau aku sih seringnya buku dari
tokocharity kumasukkan ke rak buku untuk nambah koleksi.
Bagaimana kalau kotak sampah kita sudah penuh? Ke mana sampahsampah rumah tangga tadi dibawa pergi? Siapa yang mengambilnya? Di sini
lagi-lagi peran Council sangat dibutuhkan. Dari uang pajak rumah yang kita
bayarkan tiap bulan tadi, masing-masing Council di tiap wilayah masingmasing akan menyediakan mobil-mobil sampah yang berkeliling dari rumah
ke rumah setiap satu minggu sekali untuk mengumpulkan sampah-sampah
kita. Sampah dari kotak warna coklat dan biru akan dikirimkan ke
perusahaan daur ulang. Sampah organik dari kotak coklat akan diproses
menjadi kompos, produk untuk berkebun dan semacamnya, sedangkan
sampah dari kotak biru yang berisi kertas dan plastik akan diolah lagi
menjadi produk-produk daur ulang yang berbahan kertas dan plastic

Gambar 4. Pasukan pengelola sampah

Karena isinya tidak memenuhi persyaratan daur ulang, sampah dari


kotak yang berwarna hijau akan dikirimkan ke tempat pembuangan sampah
atau disebut landfill setempat yang dikelola dengan cukup baik agar proses
PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA
OKTAVIANINGSIH S.

18

pembusukan sampahnya tidak mencemari air tanah dan udara sekitar.


Sebagian lagi dikirimkan ke sebuah tempat bernama incinerator atau tempat
pembakaran sampah untuk dimusnahkan dengan cara dibakar.Incinerator ini
diperlukan untuk membantu mengurangi volume sampah yang terus
menggunung di landfill. Karena proses pembusukan sampah juga
memerlukan waktu cukup lama, kadang-kadang keterbatasan
lahanlandfill mengharuskan sebagian volume sampah harus dibakar.
Incinerator dikelola sedemikian rupa agar panas dari pembakaran bisa
dimanfaatkan dan didaur ulang untuk sumber energi atau pemanas,
sedangkan gas buang dari cerobongnya diolah terlebih dahulu agar
kandungan bahan-bahan berbahaya yang bisa mencemari udara bisa ditekan
sekecil-kecilnya atau dihilangkan sama sekali. Hal ini juga sudah diatur
dengan ketat oleh Uni Eropa dan semua negara-negara yang tergabung
dalam Uni Eropa wajib mematuhinya
.

Gambar 5. Incinerator atau tempat pembakaran sampah

Bagaimana kalau kita harus membersihkan rumah dan ingin


membuang beberapa perkakas rumah tangga seperti meja, kursi, sepeda atau
daun pintu? Bagaimana kalau kita membersihkan kebun dan menebang
pohon? Ke mana sampah-sampah yang ukurannya besar ini harus
dibuang karena tentu saja tidak akan muat dimasukkan ke dalam kotak
sampah yang kita punya di rumah? Sampah-sampah berukuran besar
tersebut harus dibuang ke tempat pembuangan sampah terdekat. Tempat
pembuangan sampah (TPS) ini bukan tanah luas seperti di daerah Bekasi
yang baunya bisa tercium dari jarak puluhan kilometer, dan di mana
kehidupan para pemulung barang bekas terpusatkan.

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

19

Tempat pembuangan sampah di sini (atau biasa disebut recycling


centre atau the tip), ukurannya tidak terlalu besar. Biasanya tempat ini punya
gerbang yang bisa dibuka tutup dan dikunci di malam hari, dan jalan
masuknya teraspal rapi supaya bisa diakses oleh mobil yang keluar masuk
membawa barang-barang buangan. Apa perbedaannya dengan landfill tadi?
Tentu saja berbeda. Kalau landfill digunakan sebagai tempat pembuangan
akhir (TPA) untuk sampah-sampah yang tidak bisa didaur ulang lagi, TPS
yang dimaksudkan di sini dipakai untuk mengumpulkan sampah-sampah
berukuran besar yang tidak bisa diambil oleh mobil pengangkut sampah
biasa.
Itulah perbedaannya. Untuk ke sini, orang yang ingin membuang
sampah harus membawa mobil sendiri. Di dalam recycling centre ini ada
beberapa petugas yang kerjanya memberi petunjuk ke mana para
pengendara mobil yang penuh barang-barang buangan ini harus memarkir
mobilnya dan jenis sampah apa harus masuk ke kotak yang mana.

Gambar 6. Recycling Centre atau tip

Tiap-tiap jenis sampah yang berbeda-beda harus dimasukkan ke dalam


kotak-kotak besi raksasa (Skip), yang masing-masing sudah dilabeli untuk
diisi jenis sampah tertentu. Contohnya, sampah dari kebun seperti tebangan
pohon, atau kotak yang lain ditujukan sebagai tempat buangan sampah
mesin seperti sepeda bekas, mesin cuci rusak, dsb. Dengan sistem
pengelolaan sampah seperti ini, semua rumah dan industri berkewajiban
untuk melakukan pemisahan sampah sejak kita memakai produk-produk
yang kita konsumsi sehari-hari. Pemisahan sampah oleh konsumen pemakai
produk di tahap awal, sangat membantu mengurangi biaya sortir. Bayangkan
PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA
OKTAVIANINGSIH S.

20

jika seluruh sampah tersebut dicampur aduk menjadi satu dan dibuang
bersama-sama. Alangkah sayangnya. Sampah yang harusnya bisa didaur
ulang bercampur dengan sampah lain, berakhir di TPA dan tidak bisa
dimanfaatkan lagi. Jikalau hendak didaur ulang, proses pemisahannya juga
akan membutuhkan tenaga dan waktu yang cukup lama.
Di Inggris, tidak diperbolehkan untuk membuang sampah dengan cara
menimbunnya di dalam tanah, atau membakarnya di kebun belakang rumah.
Selain untuk menghindari pencemaran tanah dan air tanah, juga asap
pembakaran akan mencemari udara. Seluruh pengelolaan sampah di negara
Inggris dilakukan oleh pemerintah, dan pemisahan sampah sejak di rumah
menjadi kewajiban setiap warga. Hal ini mudah dilakukan karena sudah
menjadi kebiasaan hidup sehari-hari dan menjadi tradisi. Kita akan otomatis
memisahkan sampah menurut jenisnya setiap hari dan setiap saat, tanpa
menyadarinya. Selanjutnya adalah tugas pemerintah untuk mengambil,
mengolah dan melakukan pembuangan sampah dengan pertanggungjawaban
yang tinggi terhadap kesehatan, lingkungan dan alam sekitar. Undangundang kesehatan dan lingkungan yang sudah diregulasi oleh negara dan
Uni Eropa juga harus dipatuhi.
2.7 Jepang
Penanganan sampah di Jepang bisa dibilang sukses, bila dibandingkan
dengan di negara kita, itu sudah tentu. Pada tahun 1960 dan 1970-an di
Jepang, kesadaran masyarakat terhadap sampah masih sangat rendah.
Mungkin pada masa itu sama dengan masa dulu dan sekarang yang dialami
di negara kita. Sebenarnya tidak hanya itu, penanganan sampah di Jepang
sebenarnya sudah dilakukan sejak jaman edo. Jepang mulai baangkit dan
memikirkan masalah sampah ketika masalah-masalah lingkungan telah pelik
mengganggu kehidupan masyarakat di sana. Menyoal pada pembuangan
limbah yang tak taat guna, dan cenderung membahayakan kesehatan dan
lingkungan. Masyarakat Jepang memulai gerakan kesadaran akan hal
tersebut, mereka menganut gerakan bertema 3R (reduce, reuse dan recycle),
yakni mengurangi pembuangan sampah, menggunakan kembali dan daur
ulang.

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

21

Ada rahasia sukses kenapa Jepang sukses mengurusi masalah


sampahnya, yaitu tingginya prioritas masyarakat pada program daur ulang,
munculnya tekanan sosial dari masyarakat Jepang apabila tidak membuang
sampah pada tempat dan jenisnya, dan program edukasi yang masif dan
agresif dilakukan sejak dini. Penanganan sampah di Jepang untuk setiap
wilayah memang berbeda-beda, meski begitu dasar penanganannya adalah
saya. Banyak cara untuk menangani sampah, intinya adalah hasil akhir
dimana sampah yang sudah tak lagi jadi masalah yang mengganggu
kebersihan, dan kesehatan masyarakat. Di Jepang tepatnya di Yokohama,
Kanagawa. Ikan-ikan yang dijajakan disimpan ke dalam wadah streofoam
sehingga kebersihan dan kerapihan bisa terjaga. Penggunaan streofoam di
pasar ikan membuatnya menjadi sumber sampah. Seperti yang kita ketahui
sampah ini sangat sulit terurai, sehingga perlu penanganan khusus.
Di pasar ikan ini, sampah streofoam tidak bisa digunakan untuk dua
kali penggunaan, hal yang berbeda terjadi di pasar ikan di Indonesia.
Sampah bekas stereofoam yang telah digunakan kemudian dikirim ke
stasiun pengolahan stereofoam untuk direcycle. Hasil dari recycling
streofoam tersebut berupa lembaran seperti papan padat. Papan padat hasil
recycle kemudian didistribusikan lagi ke industri di Jepang, bahkan diekspor
keluar negeri untuk dibuat bahan bauksit berbahan streofoam dan bisa
diolah menjadi produk baru. Ada hal yang kemiripan dengan penanganan
sampah di New York City, yaitu penanganan sampah dilakukan berbeda
untuk setiap harinya. Di Jepang di wilayah Midoriku, Yokohama, sampah
yang bisa dibakar (mueru gomi) hanya boleh dibuang pada hari Senin dan
Jumat saja. Sedangkan kebalikannya sampah yang tidak bisa dibakar
(mueranai gomi) hanya boleh dibuang setiap hari Rabu. Kemudian untuk
jenis sampah alumunium hanya bisa dibuang hari Selasa minggu ke-2 dan
ke-4 saja. Mengenai waktu pembuangan sampah ini berbeda-beda untuk
setiap tempatnya, tergantung bagaimana manajemen tempat tersebut
mengelola sampahnya.
Jepang telah membuat peraturan tentang pengelolaan sampah ini, yang
diatur oleh pemerintah kota. Mereka telah menyiapkan dua buah kantong
plastik besar dengan warna berbeda, hijau dan merah. Namun selain itu ada
PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA
OKTAVIANINGSIH S.

22

beberapa kategori lainnya, yaitu: botol PET, botol beling, kaleng, batu
betere, barang pecah belah, sampah besar dan elektronik yang masingmasing memiliki cara pengelolaan dan jadwal pembuangan berbeda.
Sebagai ilustrasi, cara membuang botol minuman plastik adalah botol PET
dibuang di keranjang kuning punya pemerintah kota. Setelah sebelumnya
label plastik yang menempel di botol itu kita copot dan penutup botol kita
lepas, label dan penutup botol plastik harus masuk ke kantong sampah
berwarna merah dan dibuang setiap hari kamis. Apabila dalam label itu ada
label harga yang terbuat dari kertas, pisahkan label kertas tersebut dan
masukkan ke kantong sampah berwarna hijau dan buang setiap hari Selasa.
Selain pengelolaan sampah di rumah, departemen store, convenient
store, dan supermarket juga menyediakan kotak-kotak sampah untuk tujuan
recycle (daur ulang). Kotak-kotak tersebut disusun berderet berderet di
dekat pintu masuk, kotak untuk botol beling, kaleng, botol PET. Bahkan di
beberapa supermarket tersedia untuk kemasan susu dan jus (yang terbuat
dari kertas). Uniknya lagi, dalam kotak kemasan susu atau jus (biasanya
terpisah), terdapat ilustrasi tentang cara menggunting dan melipat kemasan
sedemikian rupa sebelum dimasukkan ke dalam kotak.
Proses daur ulang itu pun sebagian besar dikelola perusahaan produk
yang bersangkutan, dan perusahaan lain atau semacam yayasan untuk
menghasilkan produk baru. Hebatnya lagi, informasi tentang siapa yang
akan mengelola proses recycle juga tertulis dalam setiap kotak sampah.
Sementara, pengelolaan sampah di stasiun kereta bawah tanah, shinkansen,
pada saat para penumpang turun dari kereta adapetugas yang berdiri di
depan pintu keluar dengan membawa kantong plastik sampah besar siap
untuk menampung kotak bento dan botol kopi penumpang sambil tak lupa
untuk membungkuk dan mengucapkan "otsukaresama deshita!."
Sebelum isu meningkatnya gerakan anti-terorisme (setidaknya mereka
menyebut demikian), pada awalnya, di tempat umum juga menyediakan
menyediakan kotak-kotak sampah, biasanya untuk kategori kaleng, beling,
dan sampah biasa (ordinary). Sementara itu di Eropa dalam mengatasi
masalah sampah ini, Komisi Eropa telah membuat panduan dasar
pengelolaan sampah yang diperuntukkan untuk negara-negara anggotanya,

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

23

seperti Belanda, Swedia dan Jerman. Dalam penyusunan panduan itu


melibatkan pemerintah, pengusaha, dan rakyat masing-masing negara. Lalu,
Kebijaksanaan Eropa itu kemudian diterjemahkan oleh parlemen negara
masing-masing ke dalam perundang-undangan domestik, yang berlaku buat
pemerintah pusat hingga daerah.

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

24

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Apa yang dipaparkan di atas merupakan contoh-contoh bagaimana
negara di luar sana menangani masalah sampah. Sebuah cara-cara pengolalaan
sampah yang sistematis serta mengajarkan ketertiban dan kesadaran dalam
masyarakat mengenai cara membuang sampah yang baik dan benar. Meskipun
semuanya ada yang mengerjakan, tetapi masayarakat di sana diajarkan untuk
membantu sebagaimana mereka bisa. Meski begitu ada pula daerah-daerah di
sana dimana warganya tidak berlaku tertib, begitu seperti yang saya baca dari
artikel sumber. Namun yang jelas pelajaran yang positif baik untuk untuk kita
tiru dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3.2 Saran
Demikianlah makalah yang telah saya susun mengenai pengolahan
sampah di Negara luar Indonesia yang meliputi berbagai macam
klasifikasinya. Demi kesempurnaan makalah ini saya harapkan kritikan serta
saran yang membangun. Saran dari pembaca saya harapkan agar saya dapat
memperbaiki makalah ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

25

DAFTAR PUSTAKA

Hendrawan, yudha. Perbedaan pengolahan sampah.


http://mochyudhahendrawan.blogspot.co.id/2014/12/perbedaan-pengolahansampah-di.html. Artikel. (Online), diakses tanggal 08 November 2015.
Sekarwati, Suci. Mengintip pengelolaan sampah di Jerman.
http://www.ampl.or.id/digilib/read/83-mengintip-pengelolaan-sampah-dijerman/48136. Artikel. (Online), diakses tanggal 08 November 2015.
Septa, bayu. Pengelolaan sampah di negara-negara maju.
http://bayusepta.blogspot.co.id/2013/06/pengelolaan-sampah-di-negaranegara-maju.html. Artikel. (Online), diakses tanggal 08 November 2015.
Sjarifuddin Josuf. Cara New York City Menangani Sampah
http://www.kompasiana.com/42mg6a/cara-new-york-city-menanganisampah_550018eca33311e07250fb04. Artikel. (Online) diakses tanggal 08
November 2015.
Sriwahyono. Strategi Singapura taklukan sampah.
http://sriwahyono.blogspot.co.id/2010/07/strategi-singapura-takhlukansampah.html. Artikel. (Online), diakses tanggal 08 November 2015.

PENGOLAHANSAMPAH DI LUAR NEGERI INDONESIA


OKTAVIANINGSIH S.

26