Anda di halaman 1dari 5

45

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1

Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian adalah sesuatu yang sangat penting dalam
melakukan

prosedur

penelitian.

Metode

yang

digunakan

dalam

penyusunan penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan


studi kasus yang dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah
berdasarkan fakta dan data. Studi kasus adalah suatu penelitian
(penyelidikan) intensif, mencakup semua informasi relevan terhadap
seseorang atau beberapa orang biasanya berkenan dengan satu gejala
psikologis. Penelitian ini di lakukan dengan menempuh langkah-langkah
pengumpulan data, klasifikasi, pengelolahan atau analisa data, membuat
kesimpulan dan laporan (Nursalam, 2009).
3.2

Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi pengambilan data dilakukan di UPT Puskesmas Unit I Kecamatan
Sumbawa dan waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juni Juli 2014.

3.3

Prosedur dan Metode Pengumpulan Data


Untuk dapat memperoleh data dan informasi, penulis dapat menggunakan
tekhnik pengumpulan data sebagai berikut :
3.3.1Teknik Wawancara
Wawancara adalah merupakan pola komunikasi yang dilakukan
untuk tujuan spesifikasi dan difokuskan pada area dengan isi yang
spesifik (Potter & Perry, 2005).

46

Adapun teknik wawancara dapat dilakukan dengan dua cara,


yaitu :
a) Wawancara Langsung
Merupakan metode pengumpulan data dimana penulis
dapat mengadakan komunikasi secara lansung dengan klien.
Dalam hal ini perawat dapat menetapkan tujuan dan mengontrol
wawancara sehingga komunikasi menjadi menarik serta secara
bersamaan dapat memberikan informasi yang akurat (Potter &
Perry, 2005).
b) Wawancara Tidak Langsung
Merupakan

teknik

pengumpulan

data

dengan

cara

melakukan komunikasi melalui perantara, dalam hal ini adalah


keluarga, orang terkait dan tim kesehatan atau keperawatan
(Potter & Perry, 2005).
3.3.2 Teknik Observasi
Adalah pengumpulan data yang dapat dilakukan dengan
pengamatan atau penilaian terhadap sesuatu yang dihubungkan
dengan klien. Data yang didapat dari observasi : Keadaan umum
klien, vital sign, dan lain- lain. Metode observasi tersebut terdiri dari:
a)

Observasi Langsung
Adalah observasi yang melakukan dengan pengamatan dan
pemeriksaan secara lansung terhadap klien.

b)

Observasi Partisipatif
Adalah observasi yang dilakukan dimana observasi ikut
dalam kegiatan kelompok, misalnya : pemeriksaan yang

47

dilakukan oleh tim kesehatan lain seperti : ahli kesehatan jiwa


dan lain-lain.
Lembar observasi digunakan untuk mengetahui hasil dari
pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan hasil evaluasi
setiap tindakan yang telah diberikan.
Tekhnik pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik adalah cara pengumpulan data melalui
inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.
1) Inspeksi adalah pengamatan secara seksama terhadap status
kesehatan klien seperti inspeksi kesimetrisan pergerakan
dinding dada, penggunaan otot bantu napas, inspeksi adanya
lesi pada kulit, dan sebagainya.
2) Perkusi adalah pemeriksaan fisik dengan jalan mengetukkan
jari tengah kejari tangan lainnya untuk mengetahui normal
atau tidaknya suatu organ tubuh.
3) Palpasi adalah jenis pemeriksaan fisik dengan cara meraba
klien.

Seperti

palpasi

pada

rongga

abdomen

untuk

mengetahui lokasi nyeri pada usus atau untuk mengetahui


adanya massa pada usus akibat konstipasi atau tumor usus,
dan sebagainya.
4) Auskultasi

adalah

cara

pemeriksaan

fisik

dengan

menggunakan stetoskop. Misalnya untuk mengetahui adanya


mengi, ronchi, whizing akibat penumpukan sputum pada

48

saluran napas atau auskultasi bunyi jantung atau auskultasi


dinding abdomen untuk mengetahui bising usus.
3.3.3 Teknik Dokumentasi
Dalam metode ini pengumpulan data dapat dilakukan melalui
catatan-catatan

kesehatan

yang

lain

yang

meliputi

catatan

keperawatan, catatan dokter, laboratorium dan laporan-laporan


tentang penyakit serta pemeriksaan diagnostik lainnya.
3.3.4 Studi Kepustakaan
Merupakan

metode

pengumpulan

data

dengan

mengumpulkan literatur-literatur dari berbagai sumber yang dapat


menunjang data yang diperoleh sebelumnya.

3.4

Etika Penelitian
Sebelum

melakukan

pengkajian

dalam

pembuatan

Asuhan

Keperawatan pada klien dengan diagnosa medis asma bronkhial di wilayah


Puskesmas Unit 1 Kecamatan Sumbawa, penulis meminta terlebih dahulu
persetujuan dari pihak puskesmas melalui kepala puskesmas, keluarga
klien dan klien itu sendiri dengan memberikan inform consent. Mekanisme
etika penelitian meliputi :
a. (Persetujuan menjadi responden) Informed consent
Informed consent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan
responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan (Hidayat,
2009). Informed consent tersebut diberikan sebelum penelitian dilakukan
dengan memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden.
Tujuan informed consent adalah agar responden mengerti maksud dan

49

tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Jika responden bersedia,


maka

mereka

harus

menandatangani

lembar

pesetujuan.

Jika

responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak pasien.


b. (Tanpa nama) Anonimity
Masalah etika keperawatan merupakan masalah yang memberikan
jaminan dalam menggunakan subyek penelitian dengan cara tidak
memberikan atau mencantumkan nama responden pada lembar alat
ukur dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data atau
hasil penelitian yang akan disajikan.
c. (Kerahasiaan) Confidentiality
Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan
kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah
lainnya.

Semua

informasi

yang

telah

dikumpulkan

dijamin

kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang


dilaporkan pada hasil riset.