Anda di halaman 1dari 42

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Keluarga


2.1.1 Pengertian
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal
dalam suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan (Depkes RI, 1998).
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang bergabung
karena hubungan darah, hubungan perkawinan, atau pengangkatan
dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama
lain dan didalam perannya masing-masing menciptakan serta
mempertahankan kebudayaan (Bailon dan Maglaya,1989).
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup
bersama dengan keterkaitan aturan dan emosional dan individu
mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari
keluarga (Friedman, 1998).
Keluarga adalah suatu ikatan atau persekutuan hidup atas dasar
perkawinan antara orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup
bersama seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah
sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau
diadopsi, dan tinggal dalam sebuah rumah tangga (Sayekti, 1994).
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari
suami istri, suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya, atau ibu
dan anaknya (UU No.10, 1991).
Keluarga adalah anggota

ruamah

tangga

yang

saling

berhubungan melalui pertalian darah, adopsi atau perkawian


(WHO,1969).

Keluarga adalah sekumpulan orang

yang dihubungkan oleh

ikatan perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan


dan

mempertahankan

budaya

yang

umum

meningkatkan

perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari tiap anggota


(Duvval, 1997).
2.1.2 Struktur Keluarga
Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya
adalah:
a. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak
saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan
itu disusun melalui jalur garis ayah.
b. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak
saudara sedarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan
itu disusun melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama
keluarga sedarah istri.
d. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama
keluarga sedarah suami.
e. Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar
pembinaan keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi
bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau
istri.
(Effendy, 1998).
Menurut Parad dan Caplan (1965) yang diadopsi oleh Friedman
mengatakan ada 4 elemen struktur keluarga yaitu :
a. Struktur Peran Keluarga

Menggambarkan peran masing-masing anggota dalam


keluarga sendiri dan perannya di lingkungan masyarakat atau
peran formal dan informal.
b. Nilai Atau Norma Keluarga
Menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan diyakini
oleh

keluarga,

khususnya

yang

berhubungan

dengan

masyarakat.
c. Pola Komunikasi Keluarga
Menggambarkan cara dan pola komunikasi ayah-ibu, orang
tua anak-anak dan anggota keluarga lain.
d. Struktur Kekuatan Keluarga
Menggambarkan

kemampuan

anggota

keluarga

untuk

memperngaruhi dan mengendalikan orang lain untuk mengubah


prilaku keluarga yang mendukung kesehatan.
Berdasarkan keempat elemen dalam struktur keluarga,
diasumsikan bahwa (Lese dan Korman, 1989, Person dan Bales,
1995):
1) Keluarga merupakan sistem sosial
sendiri
2) Keluarga

merupakan

sisitem

yang memiliki fungsi


sosial

yang

mampu

menyelesaikan masalah individu dan lingkungan


3) Keluarga merupakan suatu kelompok kecil yang dapat
mempengaruhi kelompok besar
4) Prilaku individu yang ditampakkan merupakan gambaran dari
2.1.3

nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga.


Tipe / Bentuk Keluarga
Secara tradisional keluarga dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Keluarga inti (nuclear family)

10

Keluarga yang hanya terdiri dari Ayah, Ibu dan anak yang
diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya.
b. Keluarga besar (extended family)
Keluarga inti ditambah keluarga lain yang masih mempunyai
hubungan darah (kakek, nenek, paman, bibi).
c. Keluarga bentukan kembali (dyadic family)
Keluarga baru yang terbentuk dari pasangan yang telah cerai
atau kehilangan pasangannya.
d. Orang Tua Tunggal (single parent family)
Keluarga yang terdiri dari salah satu orang tua dengan anakanak akibat perceraian atau ditinggal pasangan.
e. Ibu dengan anak tanpa perkawinan (the unmarried teenage
mother)
f.

Orang dewasa (Laki-laki atau Perempuan) yang tinggal sendiri


tanpa pernah menikah (the single adult living alone)

g.

Keluarga dengan anak tanpa pernikahan sebelumnya (the non


material heterosexual cohabiting family)
h. Keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin
i.

sama (gai and lesbian family)


Keluarga Bineclear
Keluarga baru terbentuk setelah perceraian dimana anak
menjadi anggota dari suatu sistem keluarga yang terdiri dari dua
rumah tangga inti, ibu dan ayah dengan berbagai macam kerja
sama antara keduanya serta waktu yang digunakan dalam setiap
rumah tangga.

2.1.4

Pemegang Kekuasaan Dalam Keluarga

11

a.

2.1.5

Patrikal,

yang

dominan

dan

memegang

b.

kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah.


Matrikal, yang dominan dan memegang

c.

kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ibu.


Equlitarian, yang dominan dan memegang

kekuasaan dalam keluarga adalah pihak ayah dan ibu.


Peranan Keluarga
Peranan keluarga yaitu menggambarkan seperangkat prilaku
interpersonal, sifat kegiatan yang berhubungan dengan individu
dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan individu dalam keluarga
didasari oleh harapan dan pola prilaku dari keluarga, kelompok dan
masyarakat.
Berbagai peran yang terdapat didalam keluarga adalah sebagai
berikut :
a.

Peranan ayah adalah sebagai suami


dari istri dan anak-anak, berperan sebagai pencari nafkah,
pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala
keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai

anggota masyarakat dari lingkungannya.


b. Peran ibu adalah sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu
mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga sebagai
pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai
anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu
dapat

berperan

sebagai

pencari

nafkah

tambahan

dalam

keluarganya.
c. Peran anak adalah melaksanakan peranan psikososial sesuai
dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan
spiritual.

12

2.1.6

Fungsi Keluarga
Ada beberapa fungsi yang dijalankan keluarga sebagai berikut:

a. Fungsi biologis
1) Untuk meneruskan keturunan
2) Memelihara dan mebesarkan anak
3) Memenuhi kebutuhan dan gizi keluarga
4) Memelihara dan merawat anggota keluarga
5) Rekreasi
b. Fungsi psikologis
1) Memberikan kasih sayang dan rasa aman
2) Memberikan perhatian diantara anggota keluarga
3) Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
4) Memberikan identitas keluarga
c. Fungsi sosialisasi
1) Membina sosialisasi pada anak
2) Membentuk norma-norma dan tingkah laku sesuai dengan
tingkat perkembangan anak
3) Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga
d. Fungsi ekonomi
1) Mencari sumber-sumber penghasilan

untuk

kebutuhan keluarga
2) Pengaturan penggunaan

keluargha

penghasilan

memenuhi
untuk

memenuhi kebutuhan keluarga


3) Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga
dimasa yang akan datang misalnya pendidikan anak-anak,

1)

jaminan hari tua dan sebagainya


e. Fungsi pendidikan
Menyekolahkan anak untuk memberikan

pengetahuan,

keterampilan dan membentuk prilaku anak sesuai dengan


2)

bakat dan minat yang dimilikinya


Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan

3)

datang dalam memenuhi peranannya sesuai orang dewasa


Mendidik
anak
sesuai
dengan
tingkat-tingkat
perkembangannya.

13

Ahli lain membagi fungsi keluarga sebagai berikut : Fungsi


pendidikan, fungsi sosial anak, fungsi perlindungan, fungsi perasaan,
fungsi agama, fungsi ekonomi, fungsi rekreatif, fungsi biologis.
Dari berbagai fungsi diatas ada 3 fungsi pokok keluarga terhadap
keluargakeluarganya adalah :
a. Asih adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa aman,
kehangatan kepada anggota keluarga sehingga memungkinkan
mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan usia dan
kebutuhannya.
b. Asuh adalah menuju kebutuhan pemeliharaan dan perawatan
anak agar kesehatannya selalu terpelihara sehingga diharapkan
menajdikan mereka anak-anak yang sehat fisik, mental, sosial dan
spiritual.
c. Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan anak, sehingga
siap

menjadi

manusia

dewasa

yang

mandiri

dalam

mempersiapkan masa depannya.

2.1.7 Tahap-Tahap Perkembangan Keluarga


Tugas perkembangan keluarga sesuai tahap perkembangannya

14

Tabel 2.1. Tugas perkembangan keluarga


Tahap Perkembangan
1. Keluarga baru nikah

Tugas Perkembangan Utama


a)
b)

c)
2.

Keluarga dengan anak baru


lahir

a)
b)

c)

3.

Keluarga dengan anak usia


prasekolah

a)

b)
c)

d)

e)

f)
g)

Membina hubungan
intim yang memuaskan
Membina hubungan
dengan keluarga lain, teman dan
kelompok sosial
Mendiskusikan
rencana mempunyai anak
Mempersiapkan menjadi orang tua
Adapatasi dengan adanya perubahan
anggota keluarga,
interaksi keluarga,
hubungan seksual dengan kegiatan
Mempertahankan
hubungan
dalam
rangka memuaskan pasangannya
Memenuhi
kebutuhan anggota keluarga, misalnya
kebutuhan tempat tinggal, privasi dan rasa
aman
Membantu
anak
untuk bersosialisasi
Beradaptasi dengan
anak yang baru lahir, sementara
kebutuhan anak yang lain (tua) juga harus
terpenuhi.
Mempertahankan
hubungan yang sehat, baik di dalam
maupun luar keluarga (keluarga lain
maupun lingkungan sekitar)
Pembagian
waktu
untuk individu, pasangan dan anak
(biasanya keluarga mempunyai tingkat
kerepotan yang tinggi)
Pembagian
tanggung jawab anggota keluarga
Merencanakan
kegiatan dan waktu untuk menstimulasi
pertumbuhan dan perkembangan anak.

15

Tabel 2.1. Tugas perkembangan keluarga


Tahap Perkembangan

Tugas Tugas Perkembangan Utama

4. Keluarga dengan anak usia a) Membantu sosialisasi anak terhadap


sekolah
lingkungan luar rumah, sekolah dan
lingkungan lebih luas (yang tidak atau
kurang diperoleh dari sekolah atau
masyarakat)
b) Mempertahankan keintiman pasangan
c) Memenuhi kebutuhan yang meningkat,
termasuk biaya kehidupan dan kesehatan
anggota keluarga
5. Keluarga dengan anak remaja

a) Memberikan kebebasan yang seimbang


dan bertanggung jawab mengingat remaja
adalah seorang dewasa muda dan mulai
memiliki otonomi
b) Mempertahankan hubungan intim dalam
keluarga
c) Mempertahankan
komunikasi
terbuka
antara anak perdebatan, kecurigaan dan
permusuhan
d) Mempersiapkan perubahan sistem peran
dan peraturan (anggota) keluarga untuk
memenuhi kebutuhan tumbuh kembang
anggota keluarga

6.

Keluarga mulai melepas a) Memperluas


jaringan
keluarga
dari
anak sebagai dewasa
keluarga inti menjadi keluarga besar
b) Mempertahankan keintiman pasangan
c) Membantu anak untuk mandiri sebagai
keluarga baru di masyarakat
d) Penataan kembali peran orang tua dan
keinginan di rumah
7.
Keluarga usia pertengahan
a) Mempertahankan kesehatan individu dan
pasangan usia pertengahan
b) Mempertahankan hubungan yang serasi
dan memuaskan dengan anak-anaknya
dan sebaya
c) Meningkatkan keakraban pasangan
8.

Keluarga usia tua

a)
b)
c)
d)

Mempertahankan suasana kehidupan rumah


tangga
yang
saling
menyenangkan
pasangannya
Adaptasi dengan perubahan yang akan terjadi :
kehilangan pasangan, kekuatan fisik, dan
penghasilan keluarga
Mempertahankan keakraban pasangan dan
saling merawat
Melakukan Life Review masa lalu

16

(Suprajitno,2004)
2.1.8 Tugas Keluarga di Bidang Kesehatan
Keluarga mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu
dipahami dan dilakukan, meliputi :
a.

Mengenal masalah kesehatan keluarga


Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh
diabaikan karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan
berarti dan karena kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber
daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal
keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami
anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami
anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian orang
tua/keluarga. Apabila menyadari perubahan keluarga, perlu dicatat
kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi dan seberapa besar
perubahannya.

b. Memutuskan tindakan yang tepat bagi keluarga


Merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari
pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan
pertimbangan

siapa

diantara

keluarga

yang

mempunyai

kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.


Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan
tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan
teratasi. Jika keluarga mempunyai keterbatasan dapat meminta
bantuan kepada orang di lingkungan tinggal keluarga.

17

c. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan


Seringkali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan
benar, tetapi keluarga memiliki keterbatasan yang telah diketahui
oleh keluarga sendiri. Jika demikian, anggota keluarga yang
mengalami gangguan kesehatan perlu memperoleh tindakan
lanjutan atau perawatan agar masalah yang lebih parah tidak
terjadi dan perawatan dapat dilakukan di institusi pelayanan
kesehatan

atau

rumah

apabila

keluarga

telah

memiliki

kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama.


d. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjadi kesehatan
keluarga.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya bagi
keluarga.
2.1.9 Ciri-Ciri Keluarga
a.
Diikat dalam satu perkawinan
b.
Ada hubungan darah
c.
Ada ikatan batin
d.
Ada tanggung jawab masing-masing anggotanya
e.
Ada pengambil keputusan
f.
Kerja sama antar anggota keluarga
g.
Komunikasi interaksi antar anggota keluarga
h.
Tinggal dalam satu rumah
(Effendy, 1998)

2.2

Konsep Dasar Asma Bronkial


2.2.1 Pengertian
Istilah Asma berasal dari bahasa Yunani yang berarti terengahengah dan berarti serangan nafas pendek. Asma adalah Perubahan

18

patologis yang menyebabkan obstruksi saluran nafas yang terjadi


pada

bronkhus.

Penyempitan

jalan

nafas

disebabkan

oleh

bronkhospasme, edema mukosa, dan hipersekresi mukus yang


kental (Sylvia, 2005).
Asma bronkial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya
respon trekea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan
manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan
derajatnya dapat berubah-ubah secara spontan maupunsebagai hasil
pengobatan (Muttaqin, 2008).
Menurut Somantri (2009), Asma Bronkial adalah suatu
gangguan pada saluran bronkial yang mempunyai ciri bronkospasme
periodik (kontraksi spasme pada saluran napas) terutama pada
percabangan trakeobronkial yang dapat diakibatkan oeh berbagai
stimulus seperti oleh faktor biokemikal, endokrin, infeksi, otonomik,
dan psikologi.
Asma bronkial merupakan gangguan inflamasi kronik jalan
nafas yang melibatkan berbagai sel inflamasi. Dasar penyakit ini
adalah hiperaktivitas bronkhus dalam berbagai tingkat, obstruksi jalan
nafas, dan gejala pernafasan (mengi dan sesak). Obstruksi jalan
nafas umumnya bersifat reversibel, namun dapat menjadi kurang
reversibel bahkan relatif non reversibel tergantung berat dan lamanya
penyakit (Mansjoer, 2000).
Menurut Tjokronegoro (2004) asma bronkial adalah penyakit
paru dengan karakteristik obstruksi jalan nafas yang reversibel (tetapi
tidak lengkap pada beberapa pasien) baik secara spontan maupun

19

dengan pengobatan, inflamasi jalan nafas, peningkatan respon


saluran nafas terhadap berbagai rangsangan.
Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa
asma bronkial merupakan suatu penyakit gangguan jalan nafas
obstruktif yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode
bronkospasme, peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap
berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas.
Adapun klasifikasi atau tipe Asma bronkial menurut Somantri,
(2009):
a. Asma alergik/ekstrinsik, merupakan suatu bentuk asma dengan
alergen seperti bulu binatang, debu, ketombe, tepung sari,
makanan dan lain-lain. Alergen terbanyak adalah airborne dan
musiman (seasonal). Klien dengan asma alergik biasanya
mempunyai riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat
pengobatan ekstrim atau rhinitis alergik. Paparan terhadap alergi
akan mencetuskan serangan asma. Bentuk asma ini biasanya
dimulai sejak kanak-kanak.
b. Menurut Muttaqin (2008) Idiopatik atau nonalergik asma/intrinsik,
tidak berhubungan secara langsung dengan allergen spesifik.
Factor-faktor separti common cold, infeksi saluran nafas atas,
aktivitas, emosi/stress, dan polusi lingkungan akan mencetuska
serangan. Beberapa agen farmakologi, seperti antagonis adrenergik dan bahan sulfat (penyedap makanan) juga dapat
menjadi factor penyebab. Seranga dari asmaidiopatik atau
nonalergik menjadi lebih brat dan sering kali dengan berjalannya

20

waktu dapat berkembang menjadi bronkitis dan emfisema. Pada


beberapa kasus dapat berkembang menjadi asma campuran.
Bentuk asma ini biasanya dimulai ketika dewasa (>35 tahun).
c. Asma campuran (mixed asma), merupakan bentuk asma yang
paling sering. Dikarakteristikkan dengan bentuk kedua jenis asma
alergi dan idiopatik atau nonalergi (Somantri, 2009).
2.2.2

Etiologi
Sampai saat ini etiologi asma belum diketahui dengan pasti, suatu
hal yang menonjol pada semua penderita asma adalah fenomena
hiperreaktivitas bronkus. Bronkus penderita asma sangat peka
terhadap rangsangan imonologi maupun non-imunologi. Penderita
asma

perlu

mengetahui

dan

sedapat

mungkin

menghindari

rangsangan atau faktor resiko yang dapat menimbulkan asma.


Faktor-faktor tersebut antara lain: (Muttaqin, 2008).
a. Alergen
Alergen adalah zat-zat tertentu yang bila diisap atau dimakan
dapat menimbulkan serangan asma misalnya debu rumah, tengau
debu rumah (Dermatophagoides pteronissynus), spora jamur, bulu
kucing, bulu binatang, beberapa makanan laut dan sebagainya
(Somantri, 2009).
b. Infeksi saluran pernapasan
Infeksi saluran pernapasan terutama disebabkan oleh virus. Virus
influenza merupakan salah satu faktor pencetus yang paling sering
menimbulkan asma bronkhial. Diperkirakan dua pertiga penderita
asma dewasa serangan asmanya ditimbulkan oleh infeksi saluran
pernapasan (Muttaqin, 2008).
c. Tekanan jiwa

21

Tekanan jiwa bukan penyebab asma tetapi pencetus asma, karena


banyak orang yang mendapat tekanan jiwa tetapi tidak menjadi
penderita asma bronkial. Faktor ini berperan mencetuskan
serangan

asma

terutama

pada

orang

yang

agak

labil

kepribadiannya. Hal ini lebih menonjol pada wanita dan anak-anak


(Somantri, 2009).
d. Olahraga/kegiatan jasmani yang berat
Sebagian penderita asma bronkial akan mendapatkan serangan
asma bila melakukan olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan.
Lari cepat dan bersepeda adalah dua jenis kegiatan paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena kegiatan
jasmani (exercise induced asma-EIA) terjadi setelah olahraga atau
aktivitas fisik yang cukup

berat dan jarang serangan timbul

beberapa jam setelah olahraga (Muttaqin, 2008).


e. Obat-obatan
Beberapa klien dengan asma bronkhial sansitif atau alergi
terhadap obat tertentu seperti penisilin, salisilat, beta blocker,
f.

kodein dan sebagainya (Somantri, 2009).


Polusi udara
Klien asma sangat peka terhadap udara

berdebu,

asap

pabrik/kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil


pembakaran dan oksida fotokemikal, serta bau yang tajam.
g. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja diperkirakan merupakan faktor pencetus yang
menyumbang 2-15% klien dengan asma bronkhial (Somantri,
2009).

2.2.3

Patofisiologi
Masuknya alergen terutama alergen inhalan menyebabkan sel
plasma terangsang untuk membentuk IgE kemudian melekat pada

22

sel mast dan basofil. Hal ini menyebabkan proses degranulasi yang
mengakibatkan pelepasan mediator seperti Histamin, SRS-A (Slow
Reacting Substance Of Anaphylaxis), ECFA (Eosinophil Chemotatic
Factor Of Anaphylaxis), Bradikidin dan sebagainya. Mediator yang
dilepaskan tersebut menyebabkan terjadinya kontraksi otot polos
bronkhus, peningkatan permeabilitas pembuluh darah di submukosa
yang mengakibatkan edema dan peradangan, serta peningkatan
sekresi mukus, hal tersebut mengakibatkan obstruksi jalan nafas
sehingga penderita mengalami sesak nafas, batuk-batuk, suara nafas
berbunyi (wheezing), perpanjangan fase ekspirasi dan peningkatan
jumlah eusinofil. Sebagai akibat lain terjadinya kenaikan resistensi
aliran udara pada jalan nafas menyebabkan penurunan tekanan
partial oksigen dan kenaikan FRC. FRC adalah kapasitas residu
fungsional atau banyaknya udara yang tertinggal selama ekspirasi.
Paru-paru secara progresif menjadi hiperinflasi dan udara terjebak
2.2.4

oleh adanya sumbatan mukus (Muttaqin, 2008).


Manifestasi Klinis

a. Stadium Dini
1) Batuk dengan dahak biasa maupun tanpa pilek
2) Ronchi basah halus pada serangan kedua atau ketiga,
sifatnya hilang timbul
3) Wheezing
4) Belum ada kelainan bentuk thorax
5) Ada peningkatan eosinofil darah dan Ig E
6) BGA belum patologis
b. Stadium lanjut/kronik

23

1) Batuk ronchi
2) Sesak napas berat dan dada seolah-olah tertekan
3) Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan
4) Suara napas melemah bahkan tak terdengar
5) Thorax seperti barel chest
6) Tampak tarikan otot sternaklerdomastoideus
7) Sianosi

2.2.5

8) Hipokapnea dan alkalosis dasn asidosis respiratorik


( Danukusumo H, 2000)
Penunjang diagnostik
Adapun pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan adalah
sebagai berikut :
a. Spirometri
Spirometri digunakan untuk mengukur volume udara yang keluar
masuk paru-paru, dapat juga untuk mengukur kecepatan arus
udara

yang

keluar/masuk

paru-paru.

Dengan

demikian,

merupakan alat untuk mengukur secara obyektif adanya


obstruksi jalan nafas, beratnya derajat obstruksi, menilai
perubahan perbaikan obstruksi setelah pengobatan.
b.

Uji kulit
Tujuan uji kulit adalah untuk menunjukan adanya antibodi lgE
spesifik dalam tubuh. Uji ini hanya menyokong anamnesis,
karena uji alergen yang positif tidak selalu merupakan penyebab
asma, demikian pula sebaliknya.

c.

Pemeriksaan Eusinofil Total

24

Jumlah eosonofil total dalam darah sering meningkat pada


pasien asma dan hal ini dapat membantu dalam membedakan
asma dari bronkitis kronik. Pemeriksaan ini juga dapat di pakai
sebagai patokan untuk menentukan cukup tidaknya dosis
kortikosteroid yang dibutuhkan pasien asma.

d. Uji Provokasi Bronkhus


Jika

pemeriksaan

spirometri

normal,

maka

dilakukan

pemeriksaan uji provokasi bronkus yaitu merupakan cara


untuk membuktikan

secara

objektif

hiperaktivitas

saluran

napas pada orang yang diduga asma.


e. Pemeriksaan sputum
Sputum eosinofil sangat karakteristik untuk asma, sedangkan
neutrofil

sangat dominan pada bronkitis kronik. Selain untuk

melihat adanya eosonofil, kristal CharcotLeyden, dan Spiral


Curshmann, pemeriksaan ini penting untuk mellihat adanya
miselium Aspergillus fumigatus.
f.

Pemeriksaan analisa gas darah


Dilakukan pada asma yang berat karena pada keadaan tersebut
dapat terjadi hipoksia, hiperkapnia dengan asidosis pernafasan
yang memerlukan tindakan segera dan tepat.

g. Foto Dada
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan penyebab lain
obstruksi saluran napas dan adanya kecurigaan terhadap proses

25

patologis di paru atau komplikasi asma seperti pneumotoraks,


pneomomediastinum, atelektasis, dan lainlain.
h. Pemeriksaan Kadar lgE Total dan lgE Spesifik dalam Sputum
Kegunaan pemeriksaan lgE total hanya untuk menyokong
adanya

atopi.

Pemeriksaan

lgE

spesifik

lebih

bermakna

dilakukan bila uji kulit tidak dapat dilakukan atau hasilnya kurang
dipercaya (Sundaru H, 2001).
2.2.6

Penatalaksanaan Medik
Upaya

perawatan

dalam

penatalaksanaan

dan

pemberian

pengobatan yang sesuai yaitu:


a. Istirahat
Selama klien sesak nafas harus istirahat di tempat tidur dan
kebutuhan pasien sehari-hari dibantu oleh perawat sesuai dengan
kemampuannya, seperti : makan, minum, defekasi dan kebersihan
umum pasien
b. Oksigen 4-6 liter/menit
c. Observasi keadaan pasien, terutama pada saat terjadinya
serangan asma yang berat, meliputi:
1) Tekanan Darah, nadi, pernafasan setiap 2 jam
2) Suhu tubuh setiap 4 jam
3) Warna kulit, sianosis setiap 2 jam
4) Tingkat kesadaran setiap 1-2 jam, bila ada penurunan
kesadaran segera lapor kepada dokter.
5) Awasi pemberian cairan melalui infus
Cairan harus cukup di berikan, karena biasanya tejadi
kehilangan banyak cairan akibat hiperventilasi, diaforensi dan
lain-lain. Biasanya diberikan berupa infus dextrose 5% 2-3 liter

26

setiap hari atau minum secukupnya. Selain itu pemberian obatobatan lewat infus.
6) Pemberian obat-obatan sesuai dengan program dokter
Didalam pemberian obat-obatan, perawat harus mempunyai
pengetahuan yang cukup tentang jenis obat dan cara kerja
serta cara pemberiannya, agar program pengobatan dapat
barjalan sesuai dengan yang diharapkan
a) Aminophilin
(1) Dosis awal: 5-6 mg/kg BB, diberikan secara IV
diencerkan dengan dextrose 5 % menjadi 20 cc,
diberikan dalam waktu 10-15 menit, diharapkan akan
tercapai kadar serum terapeutik 10-20 ug/ml. Bila
dalam 12 jam sebelumnya pasien telah mendapat
aminophilin maka pemberian diberikan setengah dosis
yang dibutuhkan.
(2)

Dosis pemeliharaan untuk mempertahankan kadar


serum tetap dalam kadar terapeutik: 0,5-0,9 mg/kg BB
dalam dextrose 5% atau NaCl 0,9 % dan lama
pemberian infus aminophilin 24-72 jam.

(3)

Dosis oral 2-4 mg/kg BB/kali, 3 kali sehari segera


setelah pemberian parental di hentikan.

b) Kortikosteroid
Diberikan secara intravena dan obat-obatan pilihan
utama yaitu :
(1)

Hidrokortison suksinat : 4 mg/kg BB atau 200-400


mg IV tiap 2-8 jam tergantung beratnya keadaan serta

27

kecepatan respon, dengan dosis keseluruhan 1-4 gr/24


jam. Bila tidak tersedia obat tersebut, dapat digunakan
(2)

obat lain dalam dosis ekuivalen.


Triamsinolon 40-80 mg IV

(3)

Deksametason 5-10 mg IV

(4)

Pemberian

kortikosteroid

secara

parental

di

hentikan setelah 24-72 jam, tergantung pada cepatnya


perbaikan.
c) Amin Simptomatik :
Terbutalin,

metaproterenol,

ventolin

dan

salbutamol

diberikan dengan berbagai cara :


(1) Inhalasi : tiap 2 jam diberikan 10 kali, dengan larutan
2% melalui IPPB atau salbutamol 1,5 mg/24 jam.
(2) Adrenalin : 0,2-0,5 cc, subkutan dapat diberikan setiap
6-8

jam bila obat-obatan beta selektif tidak tersedia.

d) Antibiotika : Diberikan bila ada tanda-tanda infeksi.


e) Sedativa atau obat penenang atau antihistamin
Dalam keadaan apapun sebaiknya tidak diberikan obatobatan ini, oleh karena dapat menekan pusat pernafasan.
Obat-obatan ini dapat diberikan bila dipasang alat nafas
mekanik (respirator).
2.2.7

Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan Asma Bronkhial
adalah:
a. Pneumotoraks
b. Atelektasis
c. Gagal nafas
d. Bronkhitis

28

2.3 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Keluarga dengan salah satu


anggota keluarga menderita Asma Bronkial
2.3.1

Pengkajian
Pengkajian adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh
perawat untuk mengukur keadaan klien (keluarga) dengan memakai
norma-norma kesehatan keluarga maupun sosial, yang merupakan
sistem

yang

terintegrasi

dan

kesanggupan

keluarga

untuk

mengatasinya (Efendi, 1998).


Yang termasuk dalam tahap ini adalah:
a. Pengumpulan data
1)
Data umum
Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi :
a) Identitas kepala keluarga yaitu nama, umur, agama, suku,
pekerjaan, alamat dan nomor telepon.
b) Komposisi keluarga yaitu nama, jenis kelamin, tanggal lahir
atau umur, hubungan dengan kepala keluarga, pekerjaan
dan pendidikan terakhir.
c) Genogram keluarga dalam tiga generasi, dan
simbol yang biasa digunakan adalah :

Laki-laki

Menikah

perempuan

identifikasi klien

pisah

Meninggal

cerai

cerai

29

Anak angkat

aborsi

kembar

Tinggal dalam 1 rumah

Gambar 2.1. Simbol-simbol Genogram


d) Tipe keluarga
Menjelaskan mengenai jenis tipe keluarga beserta kendala
atau masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga
tersebut.
e) Suku bangsa
Mengkaji asal

suku

bangsa

keluarga

tersebut

serta

mengidentfikasi budaya suku bangsa tersebut terkait dengan


kesehatan.
f) Agama dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan
Mengkaji agama yang dianut keluarga serta kepercayaan
yang dapat mempengaruhi kesehatan
(1) Apakah anggota keluarga berbeda dalam praktik
keyakinan beragama mereka
(2) Seberapa aktif keluarga tersebut dalam kegiatan agama
atau organisasi keagamaan
(3) Agama yang dianut oleh keluarga

30

(4) Kepercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai keagamaan


yang dianut dalam kehidupan keluarga terutama dalam
hal kesehatan.
g) Status sosial ekonomi keluarga
Mengkaji anggota keluarga yang

mencari

nafkah,

penghasilan, upaya lain, harta benda yang dimiliki (perabot,


transfortasi dll) dan kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan.
h) Aktifitas rekreasi keluarga
Aktifitas rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan saja
keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat
rekreasi tertentu namun juga penggunaan waktu luang atau
senggang keluarga.
b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
Tahap perkembangan keluarga adalah mengkaji keluarga
berdasarkan tahap kehidupan keluarga ditentukan dengan anak
tertua dari keluarga inti dan mengkaji sejauh mana keluarga
melaksanakan tugas sesuai tahapan perkembangan. Sedangkan
riwayat keluarga adalah mengkaji riwayat kesehatan keluarga inti
dan riwayat kesehatan keluarga :

1) Tahap perkembangan keluarga saat ini

31

2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi dan


kendalanya
3) Riwayat kesehatan keluarga inti termasuk didalamnya riwayat
kesehatan keluarga saat ini, riwayat penyakit keturunan,
riwayat

masing-masing

anggota

keluarga

dan

sumber

pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan


4) Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya. Keluarga asal
kedua orang tua (seperti apa kehidupan keluarga asalnya:
hubungan masa silam dan saat dengan orang tua dari kedua
orang tua).
c. Data lingkungan
1) Karakteristik

rumah

meliputi

luas

rumah,

tipe

rumah,

kepemilikan, jumlah dan rasio kamar atau ruangan, ventilasi


atau jendela, pemanfaatan ruangan, septic tank, sumber air
minum, kamar mandi atau WC, sampah dan kebersihan
lingkungan.
2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW yaitu kebiasaan,
aturan atau kesepakatan, budaya dan mengkaji lama keluarga
tinggal di daerah ini dan apakah sering berpindah-pindah
tempat tinggal?
3) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
4) Sistem pendukung keluarga

32

a) Fasilitas-fasilitas

yang

dimiliki

keluarga

yang

dapat

dimanfaatkan untuk pemeliharaan kesehatan


b) Sumber

pendukung

keluarga

pada

saat

keluarga

membutuhkan bantuan (orang tua, keluarga dekat, temanteman dekat, tetangga, lembaga pemerintah maupun
swasta atau LSM)
c) Jaminan pemeliharaan kesehatan yang dialami keluarga
d. Struktur keluarga
1) Pola atau cara komunikasi keluarga
2) Struktur kekuatan keluarga
Menggambarkan

kemampuan

anggota

keluarga

untuk

mempengaruhi dan mengendalikan orang lain untuk mengubah


prilaku keluarga yang mendukung kesehatan, hal yang perlu
dikaji antara lain :
a) Keputusan dalam keluarga
b) Bagaimana cara keluarga dalam mengambil keputusan
(Otoriter, musyawarah atau kesepakatan, diserahkan pada
masing-masing individu)?. Apakah keluarga merasa puas
dengan pola pengambilan keputusan tersebut ?
3) Struktur peran (peran masing-masing anggota keluarga)

33

Menggambarkan

peran

masing-masing

anggota

keluarga

dalam keluarga sendiri dan perannya dilingkungan masyarakat


atau peran formal dan informal
4) Nilai dan norma keluarga
Menggambarkan nilai dan norma yang dipelajari dan diyakini
oleh

keluarga,

khususnya

yang

berhubungan

dengan

kesehatan, hal yang perlu dikaji antara lain :


a) Kesesuaian antara nilai-nilai keluarga dengan kelompok atau
komunitas yang lebih luas
b) Pentingnya nilai-nilai yang dianut bagi keluarga
c) Apakah nilai-nilai ini dianut secara sadar atau tidak sadar
d) Konflik nilai yang menonjol dalam keluarga kelas sosial
keluarga, latar belakang kebudayaan mempengaruhi nilainilai keluarga
e) Bagaimana

nilai-nilai

keluarga

mempengarahui

status

kesehatan keluarga.
e. Fungsi keluarga
1) Fungsi afektif
Fungsi afektif adalah fungsi keluarga yang utama untuk
mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota
keluarga berhubungan dengan orang lain
2) Fungsi sosialisasi

34

Fungsi sosialisasi adalah fungsi mengembangkan dan tempat


melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan
rumah untuk berhubungan dengan orang lain diluar rumah
3) Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi

perawatan

kesehatan

adalah

fungsi

untuk

mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar


tetapi memiliki produktivitas tinggi.
Tujuan pengkajian yang berkaitan dengan tugas keluarga
dibidang kesehatan :
a) Pengetahuan dan persepsi keluarga tentang penyakit atau
masalah kesehatan keluarganya.
b) Kemampuan

keluarga

mengambil

keputusan

tindakan

kesehatan yang tepat


c) Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
d) Kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang
sehat.
e) Kemampuan keluarga menggunakan fasilitas kesehatan di
masyarakat
4) Fungsi Reproduksi
Fungsi reproduksi menjelaskan tentang bagaimana rencana
keluarga memiliki dan upaya pengendalian jumlah anggota.
5) Fungsi ekonomi

35

Fungsi ekonomi menjelaskan bagaimana upaya keluarga dalam


pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan papan serta
pemanfatan

lingkungan

rumah

untuk

meningkatkan

penghasilan keluarga dan pemanfaatan sumber di masyarakat.


f.

Stres dan koping keluarga


Hal yang perlu dikaji untuk mengetahui stress dan koping
keluarga meliputi :
1) Stressor jangka pendek
Stressor jangka pendek adalah stressor yang dialami keluarga
dan memerlukan waktu penyelesaian lebih kurang 6 bulan.

2) Stressor jangka panjang


Stressor jangka panjang adalah stressor yang dialami keluarga
dan memerlukan waktu penyelesaian lebih dari 6 bulan.
g. Keadaan gizi keluarga
Hal yang perlu dikaji meliputi :
1) Pemenuhan gizi
2) Upaya yang dilakukan untuk pemenuhan gizi
h. Pemeriksaan fisik
1) Identitas
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan.
2) Riwayat penyakit sekarang

36

Diagnosis Asma Bronkial awalnya timbul gejala khas seperti :


sesak nafas, batuk, terdapat sputum, nafas pendek serta dada
terasa tertekan.
3) Riwayat penyakit sebelumnya
Klien pertama kali menderita asma bronkial atau klien sudah
pernah

punya

riwayat

asma

bronkial

sebelumnya

dan

mendapatkan pengobatan asma bronkial.


4) Riwayat alergi
Riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan (antibiotik)
5) Riwayat penyakit keluarga
Pada klien dengan serangan asma perlu dikaji tentang riwayat
penyakit asma atau penyakit alergi yang lain pada anggota
keluarganya karena hipersensitivitas pada penyakit asma ini
lebih ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan.
6) Pola aktivitas
Kegiatan klien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari pada
klien asma tidak dapat terpenuhi terutama saat terjadi
serangan, karena klien merasa cepat lelah dan lemah,
mengalami keterbatasan mobilitas fisik sehingga tergantung
pada orang lain.
7) Pola nutrisi metabolik
Pola nutrisi yang perlu dikaji adalah adanya penurunan nafsu
makan, nausea, BB menurun, massa otot menurun, dan tonus
otot menurun.
8) Pola eliminasi
Pola BAB dan BAK yang perlu dikaji adalah biasanya berkaitan
dengan kebutuhan cairan kerena dapat terjadi oliguria dan
diaforesis.

37

9) Pola tidur dan istirahat


Perlu dikaji kebiasaan istirahat dan tidur klien dan hal-hal yang
dirasakan yang dapat mengganggu istirahat dan tidur klien,
klien dengan Asma Bronkhial kemungkinan akan terganggu
pola istirahat dan tidurnya bila terjadi serangan, cemas,
khawatir dan sebagainya.
10) Pola kebersihan diri
Perlu dikaji kebiasaan klien mengenai pemeliharaan dan
perawatan kesehatan diri sendiri misalnya kebiasaan mandi,
ganti pakaian, memakai alas kaki. Biasanya pada klien yang
menderita asma, selama klien sesak nafas harus istirahat di
tempat tidur dan kebutuhan pasien sehari-hari dibantu oleh
perawat sesuai dengan kemampuannya, seperti : makan,
minum, defekasi dan kebersihan umum pasien.
11) Pola peran dan hubungan
Hubungan dengan sosial selama di rumah sakit hanya dengan
keluarga.
12) Konsep diri
Peran klien dalam keluarga sebagai kepala keluarga, klien
dapat melakukan aktivitas fisiknya secara optimal dan tidak
mengalami cacat fisik.
13) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilaksanakan secara keseluruhan mulai dari
kepala sampai ujung kaki yang dilakukan secara inspeksi,
palpasi, perkusi dan auskultasi. Pemeriksaan fisik pada klien
dengan Asma Bronkial yaitu :
a) Keadaan umum
1 Lemah
2 Gelisah
3 Susah tidur

38

b) Kesadaran
Klien ditemukan dalam tingkat composmentis sampai koma
c) Tanda-tanda vital
Meliputi pemeriksaan suhu tubuh, biasanya normal atau
meningkat, nadi meningkat, tekanan darah meningkat,
respirasi cepat.
d) Pemeriksaan fisik
(1) Sistim penginderaan
(a) Mata
Kesimetrisan

mata,

alat

bantu

penglihatan,

konjungtiva anemis
(b) Hidung
Bentuk hidung simetris, tidak terjadi gangguan
penciuman.
(c) Telinga
Aurekel normal, membran timpani terang
(d) Perasa
Normal
(e) Peraba
Normal
(2) Sistim persarafan/sensori
(a) Refleks normal
(b) Tidak terjadi kaku kuduk
(c) Tidak terjadi kejang
(3) Sistim pernapasan
(a) Hidung
Bentuk hidung simetris
(b) Mulut
Mukosa bibir lembab
(c) Septum
Tidak bengkak, tidak terdapat secret
(d) leher
Tidak tampak pembesaran kelenjar tiroid, tidak
tampak pembesaran vena jugularis.

39

(e) Dada
Inspeksi

: Bentuk dada simetris, penggunaan

otot bantu pernafasan seperti cuping hidung


Palpasi

: Taktil premitus simetri

Perkusi

: Pada perkusi didapatkan suara

normal sampai hipersonor sedangkan diafragma


menjadi datar dan rendah
Auskultasi

: Terdapat

suara vesikuler

yang

meningkat disertai dengan ekspirasi lebih dari 4


detik atau lebih dari 3 kali inspirasi, dengan bunyi
pernafasan wheezing.
(f) Sistem Cardiovaskuler-Sirkulasi
Inspeksi
: Konjungtiva anemis, mukosa bibir
lembab, iktus cordis tidak terlihat
Palpasi : Tekanan vena jugularis meningkat, iktus
cordis teraba
Perkusi : Suara jantung redup
g)

Sistem pencernaan
(1) Mulut
Bibir lembab, lidah bersih, gusi merah muda,
tidak terdapat karies gigi

(2) Abdomen
Inspeksi

: Bentuk simeetris

Auskultasi

:Bising

usus

biasanya diatas 15x/menit


Perkusi : Terdapat suara timpani

terdengar

cepat,

40

h) Sistem reproduksi
Inspeksi
: Produksi urine menurun yaitu
kurang lebih 100 cc, frekuensi BAB meningkat dan
konsistensi encer dan anus tampak kemerahan
(g) Sistem Integumen
Inspeksi
: Kulit kering, turgor kulit jelek, turgor
kulit kembali dalam waktu lebih dari 2 detik
Palpasi : Badan terasa dingin (suhu diatas 36
derajat celcius).
b. Analisa data
Di dalam mrnganalisa data ada 3 norma yang perlu
diperhatikan dalam melihat perkembangan ksehatan keluarga,
yaitu :
1) Keadaan kesehatan dari setiap anggota keluarga meliputi :
a) Keadaan kesehatan anggota keluarga yang menderita
asma bronchial Keadaan kesehatan fisik, mental, sosial
anggota keluarga.
b) Keadaan

pertumbuhan

dan

perkembangan

keluarga.
c) Keadaan gizi anggota keluarga.
d) Status imunisasi anggota keluarga.
2) Kehamilan dan keluarga berencana.
Keadaan rumah dan sanitasi lingkungan, meliputi :

anggota

41

a)

Rumah meliputi : ventilasi, penerangan, kebersihan,


konstruksi, luas rumah dibandingkan dengan jumlah
anggota keluarga dan sebaagainya.

b)

Sumber air minum

c)

Jamban keluarga

d)

Tempat pembuangan air limbah

e)

Pemanfaatan pekarangan yang ada dan sebagainya

3) Karakteristik keluarga
a) Sifat-sifat keluarga
b) Dinamika dalam keluarga
c) Komunikasi dalam keluarga
d) Interaksi antar anggota keluarga
e) Kesanggupan keluarga dalam membawa perkembangan
anggota keluarga
f)

Kebiasaan dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga

2.3.2 Diagnosa keperawatan


Adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia
(status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau
kelompok

dimana

perawat

secara

akontabilitas

dapat

mengidentifikasi dan memberikan secara pasti untuk menjaga status

42

kesehatan

menurunkan,

membatasi,

mencegah dan

merubah

(Nursalam, 2001).
a. Perumusan masalah
Perumusan diagnosa keperawatan keluarga menggunakan aturan
yang telah disepakati, terdiri dari :
Masalah (problem, P) adalah suatu pernyataan tidak terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau
anggota (individu) keluarga. Masalah keperawatan keluarga
mengacu kepada diagnosa keperawatan NANDA 2012-2014.
Sedangkan penyebab (etiologi, E) pada diagnosa keperawatan
mengacu kepada 5 tugas keluarga yaitu mengenal masalah,
mengambil keputusan yang tepat, merawat anggota keluarga,
memelihara lingkungan atau memanfaatkan fasilitas pelayanan
kesehatan.
Perumusan

diagnosa

keperawatan

keluarga

dengan

asma

bronkhial adalah sebagai berikut :


1) Kurang

pengetahuan

tentang

penyakit

asma

bronkhial

berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal


masalah kesehatan
2) Resiko kekambuhan berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga merawat anggota keluarga yang sakit asma bronkhial
3) Kerusakan pemeliharaan lingkungan rumah (hygene keluarga)
berhubungan

dengan

ketidakmampuan

memelihara lingkungan rumah sehat

keluarga

untuk

43

4) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan


keluarga merawat anggota keluarga yang sakit asma bronkhial

b. Penilaian (scoring) diagnosa keperawatan


Scoring

dilakukan

bila

perawat

merumuskan

diagnosis

keperawatan lebih dari satu. Proses scoring menggunakan skala


yang telah dirumuskan oleh Bailon dan Maglaya (1978).
1) Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang dibuat perawat.
2) Selanjutnya skor dibagi dengan skor tertinggi dikalikan dengan
bobot.
Skor yang diperoleh X Bobot
skor tertinggi
Jumlah skor untuk semua kriteria (skor maksimum sama
dengan jumlah bobot, yaitu 5).
Tabel 2.2 Skoring Diagnosis Keperawatan menurut Bailon dan
Maglaya (1978)
No.

Kriteria

Skor

Sifat masalah
Skala:Tidak/kurang sehat
Ancaman kesehatan
Keadaan sejahtera

3
2
1

Kemungkinanmasalah dapat diubah


Skala : Tinggi
Cukup
Rendah

2
1
0

Potensial masalah untuk dicegah


Skala : Tinggi
Cukup
Rendah

3
2
1

Bobot
1

44

Menonjolnya masalah
Skala : masalah berat,harus segera 2
ditangani
1
Ada masalah, tetapi tidak perlu 0
ditangani
Masalah tidak dirasakan
Penentuan prioritas sesuai dengan kriteria skala :

a) Untuk kriteria pertama, prioritas utama diberikan pada


tidak atau kurang sehat karena tindakan segera dan
biasanya disadari oleh keluarga.
b) Untuk kriteria kedua perlu diperhatikan :
(1) Pengetahuan yang ada sekarang, teknologi dan
tindakan untuk menangani masalah.
(2) Sumber daya keluarga: fisik, keuangan, tenaga.
(3) Sumber daya perawat: pengetahuan, keterampilan,
waktu.
(4) Sumber daya lingkungan: fasilitas organisasi dan
lingkungan.
c) Untuk kriteria ketiga perlu diperhatikan :
(1) Kepemilikan dari masalah yang berhubungan dengan
penyakit atau masalah.
(2) Lamanya masalah yang berhubungan dengan jangka
waktu.

45

(3) Tindakan yang sedang dijalankan atau yang tepat


untuk memperbaiki masalah.
(4) Adanya kelompok yang beresikountuk dicegah agar
tidak aktual dan menjadi parah.

2.3.3 Rencana Keperawatan Keluarga


Rencana tindakan adalah dari perilaku keperawatan, dimana
tujuan terpusat pada klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan
dan intervensi keperawatan dipilih untuk tujuan tertentu (Potter dan
Perri , 2005).
Perencanaan

merupakan

suatu

proses

penyusunan

berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah,


menurunkan atau mengurangi masalah klien (Hidayat,A.A, 2004).
Rencana keperawatan keluarga dijabarkan pada tabel 2.3

2.3.4 Pelaksanaan/Implementasi
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk
mencapai tujuan yang spesifik (Iyer et al, 1996). Tindakan

46

keperawatan

mencakup

tindakan

independen

(mandiri)

dan

kolaborasi.
1. Tindakan mandiri adalah aktifitas perawat yang didasarkan pada
kesimpulan atau keputusan sendiri dan bukan merupakan
petunjuk dari petugas kesehatan lain.
2. Tindakan kolaborasi adalah tindakan yang didasarkan hasil
keputusan bersama seperti dokter dan petugas kesehatan lain.
2.2.4 Evaluasi
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan

yang

menandakan

seberapa

jauh

diagnosa

kerperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaan sudah berhasil


dicapai (Iyer et al 1996). Pada tahap ini ada 2 evaluasi yang dapat
dilaksanakan oleh perawat yaitu :
1. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang bertujuan untuk menilai
hasil implementasi secara bertahap sesuai dengan kegiatan
yang dilakukan sesuai kontrak pelaksanaan.
2. Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang bertujuan menilai secara
keseluruhan

terhadap

pencapaian

diagnosis

keperawatan

apakah rencana diteruskan, diteruskan sebagian, diteruskan


dengan perubahan intervensi atau dihentikan.
Evaluasi disusun dengan menggunakan SOAP yang operasional
dengan pengertian :
S: ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara
subyektif oleh keluarga setelah diberikan implementasi.

47

O: keadaan obyektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat


menggunakan pengamatan atau pengamatan yang obyektif
setelah implementasi perawatan.
A: analisa perawat setelah mengetahui respon subyektif dan
objektif keluarga yang dibandingkan dengan kriteria dan
standar yang telah ditentukan mengacu pada tujuan pada
rencana keperawatan keluarga.
P: Perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis.
Evaluasi juga disusun dengan menggunakan format SOAPIER
secara operasional :
S: ungkapan perasaan dan keluhan yang dirasakan secara
subyektif oleh keluarga setelah diberikan implementasi.
O: keadaan obyektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat
menggunakan pengamatan atau pengamatan yang obyektif
setelah implementasi perawatan.
A: analisa perawat setelah mengetahui respon subyektif dan
objektif keluarga yang dibandingkan dengan kriteria dan
standar yang telah ditentukan mengacu pada tujuan pada
rencana keperawatan keluarga.
P: Perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis.
I: Implementasi dari perencanaan dengan mencatat waktu
tindakan dan kegiatan keperawatan.
E: Evaluasi hasil tindakan keperawatan yang telah dilakukan
dengan mencatat waktu dan hasil kemajuan yang telah
dicapai keluarga.
R: Revision atau revisi apabila ada perubahan dalam rencana
perawatan.
(Friedman, 1998)

48