Anda di halaman 1dari 16

keadilan dalam etika bisnis

Dalam kaitan dengan keterlibatan sosial, tanggung jawab sosial perusahaan berkaitan langsung
dengan penciptaan atau perbaikan kondisi sosial ekonomi yang semakin sejahtera dan merata.
Tidak hanya dalam pengertian bahwa terwujudnya keadilan akan menciptakan stabilitas sosial
yang akan menunjang kegiatan bisnis, melainkan juga dalam pengertian bahwa sejauh prinsip
keadilan dijalankan akan lahir wajah bisnis yang lebih baik dan etis. Tidak mengherankan bahwa
hingga sekarang keadilan selalu menjadi salah satu topic penting dalam etika bisnis.
a. Teori keadilan Aristoteles Atas pengaruh Aristoteles secara tradisional keadilan dibagi menjadi
tiga :
1. Keadilan Legal
Keadilan legal yaitu perlakuan yang sama terhadap semua orang sesuai dengan hukum yang
berlaku. Itu berarti semua orang harus dilindungi dan tunduk pada hukum yang ada secara tanpa
pandang bulu. Keadilan legal menyangkut hubungan antara individu atau kelompok masyarakat
dengan negara. Intinya adalah semua orang atau kelompok masyarakat diperlakukan secara sama
oleh negara dihadapan dan berdasarkan hukum yang berlaku. Semua pihak dijamin untuk
mendapatkan perlakuan yang sama sesuai dengan hukum yang berlaku.
2. Keadilan Komutatif
Keadilan ini mengatur hubungan yang adil antara orang yang satu dan yan lain atau antara
warganegara yang satu dengan warga negara lainnya. Keadilan komutatif menyangkut hubungan
horizontal antara warga yang satu dengan warga yang lain. Dalam bisnis, keadilan komutatif juga
disebut atau berlaku sebagai keadilan tukar. Dengan kata lain, keadilan komutatif menyangkut
pertukaran yang adil antara pihak-pihak yang terlibat. Prinsip keadilan komutatif menuntut agar
semua orang menepati apa yang telah dijanjikannya, mengembalikan pinjaman, memberi ganti
rugi yang seimbang, memberi imbalan atau gaji yang pantas, dan menjual barang dengan mutu
dan harga yang seimbang.
3. Keadilan Distributif

Prinsip dasar keadilan distributif yang dikenal sebagai keadilan ekonomi adalah distribusi
ekonomi yang merata atau yang dianggap adil bagi semua warga negara. Keadilan distributif
punya relevansi dalam dunia bisnis, khususnya dalam perusahaan. Berdasarkan prinsip keadilan
ala Aristoteles, setiap karyawan harus digaji sesuai dengan prestasi, tugas, dan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya. Pandangan-pandangan Aristoteles tentang keadilan bisa kita dapatkan
dalam karyanya nichomachean ethics, politics, dan rethoric. Lebih khususnya, dalam buku
nicomachean ethics, buku itu sepenuhnya ditujukan bagi keadilan yang berdasarkan filsafat
umum Aristoteles, mesti dianggap sebagai inti dari filsafat hukumnya, karena hukum hanya bisa
ditetapkan dalam kaitannya dengan keadilan. Yang sangat penting dari pandanganya ialah
pendapat bahwa keadilan mesti dipahami dalam pengertian kesamaan. Namun Aristoteles
membuat pembedaan penting antara kesamaan numerik dan kesamaan proporsional. Kesamaan
numerik mempersamakan setiap manusia sebagai satu unit. Inilah yang sekarang biasa kita
pahami tentang kesamaan dan yang kita maksudkan ketika kita mengatakan bahwa semua warga
adalah sama di depan hukum. Kesamaan proporsional memberi tiap orang apa yang menjadi
haknya sesuai dengan kemampuannya, prestasinya, dan sebagainya. Dari pembedaan ini
Aristoteles menghadirkan banyak kontroversi dan perdebatan seputar keadilan. Lebih lanjut, dia
membedakan keadilan menjadi jenis keadilan distributif dan keadilan korektif. Yang pertama
berlaku dalam hukum publik, yang kedua dalam hukum perdata dan pidana. Kedailan distributif
dan korektif sama-sama rentan terhadap problema kesamaan atau kesetaraan dan hanya bisa
dipahami dalam kerangkanya. Dalam wilayah keadilan distributif, hal yang penting ialah bahwa
imbalan yang sama-rata diberikan atas pencapaian yang sama rata. Pada yang kedua, yang
menjadi persoalan ialah bahwa ketidaksetaraan yang disebabkan oleh, misalnya, pelanggaran
kesepakatan, dikoreksi dan dihilangkan. Keadilan distributif menurut Aristoteles berfokus pada
distribusi, honor, kekayaan, dan barang-barang lain yang sama-sama bisa didapatkan dalam
masyarakat. Dengan mengesampingkan pembuktian matematis, jelaslah bahwa apa yang ada
dibenak Aristoteles ialah distribusi kekayaan dan barang berharga lain berdasarkan nilai yang
berlaku dikalangan warga. Distribusi yang adil boleh jadi merupakan distribusi yang sesuai
dengan nilai kebaikannya, yakni nilainya bagi masyarakat. Di sisi lain, keadilan korektif
berfokus pada pembetulan sesuatu yang salah. Jika suatu pelanggaran dilanggar atau kesalahan
dilakukan, maka keadilan korektif berusaha memberikan kompensasi yang memadai bagi pihak

yang dirugikan jika suatu kejahatan telah dilakukan, maka hukuman yang sepantasnya perlu
diberikan kepada si pelaku. Bagaimanapun, ketidakadilan akan mengakibatkan terganggunya
kesetaraan yang sudah mapan atau telah terbentuk. Keadilan korektif bertugas membangun
kembali kesetaraan tersebut. Dari uraian ini nampak bahwa keadilan korektif merupakan wilayah
peradilan sedangkan keadilan distributif merupakan bidangnya pemerintah. Dalam membangun
argumennya, Aristoteles menekankan perlunya dilakukan pembedaan antara vonis yang
mendasarkan keadilan pada sifat kasus dan yang didasarkan pada watak manusia yang umum
dan lazim, dengan vonis yang berlandaskan pandangan tertentu dari komunitas hukum tertentu.
Pembedaan ini jangan dicampuradukkan dengan pembedaan antara hukum positif yang
ditetapkan dalam undang-undang dan hukum adat. Karena, berdasarkan pembedaan Aristoteles,
dua peni laian yang terakhir itu dapat menjadi sumber pertimbangan yang hanya mengacu pada
komunitas tertentu, sedangkan keputusan serupa yang lain, kendati diwujudkan dalam bentuk
perundang-undangan, tetap merupakan hukum alamjika bisa didapatkan dari fitrah umum
manusia.
b. Teori Keadilan Adam Smith
Pada teori keadilan Aristoteles, Adam Smith hanya menerima satu konsep atau teori keadilan
yaitu keadilan komutatif. Alasannya, yang disebut keadilan sesungguhnya hanya punya satu arti
yaitu keadilan komutatif yang menyangkut kesetaraan, keseimbangan, keharmonisan hubungan
antara satu orang atau pihak dengan orang atau pihak lain.
1. Prinsip No Harm
Prinsip keadilan komutatif menurut Adam Smith adalah no harm, yaitu tidak merugikan dan
melukai orang lain baik sebagai manusia, anggota keluarga atau anggota masyarakat baik
menyangkut pribadinya, miliknya atau reputasinya. Pertama, keadilan tidak hanya menyangkut
pemulihan kerugian, tetapi juga menyangkut pencegahan terhadap pelanggaran hak dan
kepentingan pihak lain. Kedua, pemerintah dan rakyat sama-sama mempunyai hak sesuai dengan
status sosialnya yang tidak boleh dilanggar oleh kedua belah pihak. Pemerintah wajib menahan
diri untuk tidak melanggar hak rakyat dan rakyat sendiri wajib menaati pemerintah selama
pemerintah berlaku adil, maka hanya dengan inilah dapat diharapkan akan tercipta dan terjamin

suatu tatanan sosial yang harmonis. Ketiga, keadilan berkaitan dengan prinsip ketidakberpihakan
(impartiality), yaitu prinsip perlakuan yang sama didepan hukum bagi setiap anggota
masyarakat.
2. Prinsip Non-Intervention
Disamping prinsip no harm, juga terdapat prinsip no intervention atau tidak ikut campur dan
prinsip perdagangan yang adil dalam kehidupan ekonomi. Prinsip ini menuntut agar demi
jaminan dan penghargaan atas hak dan kepentingan setiap orang, tidak seorangpun
diperkenankan untuk ikut campur tangan dalam kehidupan dan kegiatan orang lain.campur
tangan dalam bentuk apapun akan merupakan pelanggaran terhadap hak orang tertentu yang
merupakan suatu harm (kerugian) dan itu berarti telah terjadi ketidakadilan.
3. Prinsip Keadilan Tukar
Prinsip keadilan tukar atau prinsip pertukaran dagang yang fair, terutama terwujud dan terungkap
dalam mekanisme harga dalam pasar. Dalam keadilan tukar ini, Adam Smith membedakan antara
harga alamiah dan harga pasar atau harga aktual. Harga alamiah adalah harga yang
mencerminkan biaya produksi yang telah dikeluarkan oleh produsen, yaitu terdiri dari tiga
komponen biaya produksi berupa upah buruh, keuntungan untuk pemilik modal, dan sewa.
Sedangkan harga pasar atau harga aktual adalah harga yang aktual ditawarkan dan dibayar dalam
transaksi dagang didalam pasar. c. Keadilan sosial ala John Rawls John Rawls dalam bukunya a
theory of justice menjelaskan teori keadilan sosial sebagai the difference principle dan the
principle of fair equality of opportunity. Inti the difference principle, adalah bahwa perbedaan
sosial dan ekonomis harus diatur agar memberika manfaat yang paling besar bagi mereka yang
paling kurang beruntung. Istilah perbedaan sosil-ekonomis dalam prinsip perbedaan menuju pada
ketidaksamaan dalam prospek seorang untuk mendapatkan unsur pokok kesejahteraan,
pendapatan, dan otoritas. Sementara itu, the principle of fair equality of opportunity
menunjukkan pada mereka yang paling kurang mempunyai peluang untuk mencapai prospek
kesejahteraan, pendapat dan otoritas. Mereka inilah yang harus diberi perlindungan khusus.
Rawls mengerjakan teori mengenai prinsip-prinsip keadilan terutama sebagai alternatif bagi teori

utilitarisme sebagaimana dikemukakan Hume, Bentham dan Mill. Rawls berpendapat bahwa
dalam masyarakat yang diatur menurut prinsip-prinsip utilitarisme, orang-orang akan kehilangan
harga diri, lagi pula bahwa pelayanan demi perkembangan bersama akan lenyap. Rawls juga
berpendapat bahwa sebenarnya teori ini lebih keras dari apa yang dianggap normal oleh
masyarakat. Memang boleh jadi diminta pengorbanan demi kepentingan umum, tetapi tidak
dapat dibenarkan bahwa pengorbanan ini pertama-tama diminta dari orang-orang yang sudah
kurang beruntung dalam masyarakat. Menurut Rawls, situasi ketidaksamaan harus diberikan
aturan yang sedemikian rupa sehingga paling menguntungkan golongan masyarakat yang paling
lemah. Hal ini terjadi kalau dua syarat dipenuhi. Pertama, situasi ketidaksamaan menjamin
maximum minimorum bagi golongan orang yang paling lemah. Artinya situasi masyarakat harus
sedemikian rupa sehingga dihasilkan untung yang paling tinggi yang mungkin dihasilkan bagi
golongan orang-orang kecil. Kedua, ketidaksamaan diikat pada jabatan-jabatan yang terbuka
bagi semua orang. Maksudnya supaya kepada semua orang diberikan peluang yang sama besar
dalam hidup. Berdasarkan pedoman ini semua perbedaan antara orang berdasarkan ras, kulit,
agama dan perbedaan lain yang bersifat primordial, harus ditolak. Lebih lanjut John Rawls
menegaskan bahwa maka program penegakan keadilan yang berdimensi kerakyatan haruslah
memperhatikan dua prinsip keadilan, yaitu, pertama, memberi hak dan kesempatan yang sama
atas kebebasan dasar yang paling luas seluas kebebasan yang sama bagi setiap orang. Kedua,
mampu mengatur kembali kesenjangan sosial ekonomi yang terjadi sehingga dapat memberi
keuntungan yang bersifat timbal balik (reciprocal benefits) bagi setiap orang, baik mereka yang
berasal dari kelompok beruntung maupun tidak beruntung. Dengan demikian, prisip berbedaan
menuntut diaturnya struktur dasar masyarakat sedemikian rupa sehingga kesenjangan prospek
mendapat hal-hal utama kesejahteraan, pendapatan, otoritas diperuntukkan bagi keuntungan
orang-orang yang paling kurang beruntung. Ini berarti keadilan sosial harus diperjuangkan untuk
dua hal: Pertama, melakukan koreksi dan perbaikan terhadap kondisi ketimpangan yang dialami
kaum lemah dengan menghadirkan institusi-institusi sosial, ekonomi, dan politik yang
memberdayakan. Kedua, setiap aturan harus memosisikan diri sebagai pemandu untuk
mengembangkan kebijakan-kebijakan untuk mengoreksi ketidak-adilan yang dialami kaum
lemah.
d. Prinsip Keadilan Distributif Rawls

Rawls merumuskan dua prinsip keadilan distributif, sebagai berikut:


a. the greatest equal principle, bahwa setiap orang harus memiliki hak yang sama atas kebebasan
dasar yang paling luas, seluas kebebasan yang sama bagi semua orang. Ini merupakan hal yang
paling mendasar (hak azasi) yang harus dimiliki semua orang. Dengan kata lain, hanya dengan
adanya jaminan kebebasan yang sama bagi semua orang maka keadilan akan terwujud (Prinsip
Kesamaan Hak). Prinsip the greatest equal principle, menurut penulis, tidak lain adalah prinsip
kesamaan hak merupakan prinsip yang memberikan kesetaraan hak dan tentunya berbanding
terbalik dengan beban kewajiban yang dimiliki setiap orang (i.c. para kontraktan). Prinsip ini
merupakan ruh dari azas kebebasan berkontrak.
b. ketidaksamaan sosial dan ekonomi harus diatur sedemikian rupa sehingga perlu diperhatikan
azas atau prinsip berikut: (1) the different principle, dan (2) the principle of fair equality of
opportunity. Prinsip ini diharapkan memberikan keuntungan terbesar bagi orang-orang yang
kurang beruntung, serta memberikan penegasan bahwa dengan kondisi dan kesempatan yang
sama, semua posisi dan jabatan harus terbuka bagi semua orang (Prinsip Perbedaan Obyektif).
Prinsip kedua, yaitu the different principle dan the principle of (fair) equality of opportunity,
menurut penulis merupakan prinsip perbedaan obyektif, artinya prinsip kedua tersebut
menjamin terwujudnya proporsionalitas pertukaran hak dan kewajiban para pihak, sehingga
secara wajar (obyektif) diterima adanya perbedaan pertukaran asalkan memenuhi syarat good
faith and fairness (redelijkheid en billijkheid). Dengan demikian, prinsip pertama dan prinsip
kedua tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Sesuai dengan azas proprosionalitas, keadilan
Rawls ini akan terwujud apabila kedua syarat tersebut diterapkan secara komprehensif. Dengan
penekanannya yang begitu kuat pada pentingnya memberi peluang yang sama bagi semua pihak,
Rawls berusaha agar keadilan tidak terjebak dalam ekstrem kapitalisme di satu pihak dan
sosialisme di lain pihak. Rawls mengatakan bahwa prinsip (1) yaitu the greatest equal principle,
harus lebih diprioritaskan dari prinsip (2) apabila keduanya berkonflik. Sedang prinsip (2),
bagian b yaitu the principle of (fair) equality of opportunity harus lebih diprioritaskan dari bagian
a yaitu the different principle. Keadilan harus dipahami sebagai fairness, dalam arti bahwa tidak
hanya mereka yang memiliki bakat dan kemampuan yang lebih baik saja yang berhak menikmati
pelbagai manfaat sosial lebih banyak, tetapi keuntungan tersebut juga harus membuka peluang

bagi mereka yang kurang beruntung untuk meningkatkan prospek hidupnya. Dalam kaitannya
dengan hal tersebut, pertanggungjawaban moralitas kelebihan dari mereka yang beruntung
harus ditempatkan pada bingkai kepentingan kelompok mereka yang kurang beruntung. The
different principle tidak menuntut manfaat yang sama (equal benefits) bagi semua orang,
melainkan manfaat yang sifatnya timbal balik (reciprocal benefits), misalnya, seorang pekerja
yang terampil tentunya akan lebih dihargai dibandingkan dengan pekerja yang tidak terampil.
Disini keadilan sebagai fairness sangat menekankan azas resiprositas, namun bukan berarti
sekedar simply reciprocity, dimana distribusi kekayaan dilakukan tanpa melihat perbedaanperbedaaan obyektif di antara anggota masyarakat. Oleh karenanya, agar terjamin suatu aturan
main yang obyektif maka keadilan yang dapat diterima sebagai fairness adalah pure procedural
justice, artinya keadilan sebagai fairness harus berproses sekaligus terefleksi melalui suatu
prosedur yang adil untuk menjamin hasil yang adil pula. Terkait dengan kompleksitas hubungan
kontraktual dalam dunia bisnis, khususnya terkait dengan keadilan dalam kontrak, maka
berdasarkan pikiran-pikiran tersebut di atas kita tidak boleh terpaku pada pembedaan keadilan
klasik. Artinya analisis keadilan dalam kontrak harus memadukan konsep kesamaan hak dalam
pertukaran (prestasi kontra prestasi) sebagaimana dipahami dalam konteks keadilan komutatif
maupun konsep keadilan distributif sebagai landasan hubungan kontraktual. Memahami keadilan
dalam kontrak tidak boleh membawa kita kepada sikap monistic (paham tunggal), namun lebih
dari itu harus bersikap komprehensif. Dalam keadilan komutatif yang menjadi landasan
hubungan antara person, termasuk kontrak, hendaknya tidak dipahami sebagai kesamaan semata
karena

pandangan

ini

akan

membawa

ketidakadilan

ketika

dihadapkan

dengan

ketidakseimbangan para pihak yang berkontrak. Dalam keadilan komutatif didalamnya


terkandung pula makna distribusi-proporsional. Demikian pula dalam keadilan distributif yang
dipolakan dalam hubungan negara dengan warga negara, konsep distribusi-proporsional yang
terkandung didalamnya dapat ditarik ke perspektif hubungan kontraktual para pihak.
e. Jalan Keluar atas Masalah Ketimpangan Ekonomi
Jalan keluar untuk memecahkan persoalan perbedaan dan ketimpangan ekonomi dan sosial yang
antara lain disebabkan oleh pasar adalah bahwa disamping menjamin kebebasan yang sama bagi
semua, negara dituntut untuk mengambil langkah dan kebijaksanaan khusus tertentu yang secara

khusus dimaksudkan untuk membantu memperbaiki keadaan sosial dan ekonomi kelompok yang
secara objektif tidak beruntung bukan karena kesalahan mereka sendiri. Langkah atau
kebijaksanaan khusus ini memang hanya dimaksudkan untuk kelompok yang memang atas
kemampuan mereka sendiri tidak bisa memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi mereka. Jadi
jalan keluar yang diajukan atas ketimpangan ekonomi adalah dengan mengandalkan kombinasi
mekanisme pasar dan kebijaksanaan selektif pemerintah yang khusus ditujukan untuk membantu
kelompok yang secara objektif tidak mampu memanfaatkan peluang pasar secara maksimal.
http://m31ly.wordpress.com/2009/11/13/6/

CONTOH kasus :
1. Salah satu pilar yang mempengaruhi kehidupan masyarakat adalah sektor ekonomi ataupun
komunitas bisnis. Selanjutnya keadilan merupakan kata kunci dalam aktivitas bisnis, dikarenakan
ini berhubungan dengan pembagian barang dan jasa yang terbatas kepada semua orang. Dasar
teori ekonomi adalah, bagaimana setiap orang memaksimalkan keuntungan atau kegunaan
maupun pemenuhan kebutuhannya dari barang dan jasa yang terbatas. Penekanan dalam
paradigma ini adalah, maksimalisasi dan terbatas. Berkenaan dengan seorang konsumen atau
pengguna barang dan jasa, tingkat kegunaan diukur dengan nilai uang, tingkat kepuasan,
kesehatan, kenyamanan, keamanan ataupun kesejahteraan. Contohnya, dengan anggaran yang
terbatas, seseorang berusaha mendapatkan rumah yang baru serta memberikan kenyamanan
paling maksimum. Sementara itu bagi penghasil barang dan jasa ataupun produsen, tingkat
kegunaan diukur dengan profit atau pendapatan. Dengan pengetahuan yang dimiliki, setiap orang
akan mencari pekerjaan yang memberikan pendapatan paling tinggi, ataupun dengan modal dan
tenaga kerja yang ada, produsen berupaya membuat barang dan jasa sebaik mungkin agar
memberikan keuntungan paling tinggi.
Wujudnya kelangkaan ekonomi dalam kehidupan manusia, kekayaan atau pemilikan barang dan
jasa tidak terlepas dari keadilan. Keadilan atau ketidakadilan tidak akan menjadi masalah
bilamana barang dan jasa atau sumber daya yang tersedia berlimpah hingga tidak mempunyai
harga, seperti air laut, angin dan sinar matahari jika terbiar tanpa diikhtiar, ataupun apabila suatu

wilayah yang sangat luas dan kaya terhadap sumber daya alam hanya ada segelintir manusia.
Karena itu, semakin langka barang dan jasa serta sumber daya alam, sementara jumlah penduduk
terus bertambah, maka semakin besar masalah distribusi. Selanjutnya semakin besar
permasalahan keadilan di dalam ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat.
Dengan demikian, keadilan menjadi masalah penting dalam etika. Pernyataan Bertens (2000),
sulit sekali untuk dibayangkan orang atau instansi yang berlaku etis tetapi tidak mempraktekkan
keadilan atau bersikap tak acuk terhadap ketidakadilan. Karenanya dari sudut pandang ekonomi
adalah, menyangkut etika bisnis, karena bisnis adalah aktivitas ekonomi. Dalam aktivitas ini
berlaku adalah tukar-menukar, jual-beli, memproduksi-memasarkan, bekerja-mempekerjakan,
dan interaksi lainnya dengan tujuan memperoleh manfaat atau keuntungan. Dari sisi pandang
ekonomi, bisnis yang bagus adalah, menghasilkan manfaat dan kuntungan paling besar. Akan
tetapi etika bisnis menjadi tidak relevan pada saat dinilai dari sisi pandang moral. Contohnya,
demi mengejar keuntungan sebesar mungkin, sebuah perusahaan pertambangan emas dan lain
sebagainya, maka dengan tanpa perasaan siap mengorbankan kepentingan sosial dan atau tanpa
memperhatikan serta merusak lingkungan di sekitar tempat dieksploitasi pertambangan, sehingga
berlaku semena-mena untuk meraih keuntungan yang besar.
Ilustrasi tersebut jelas bahwa, ketamadunan masyarakat dilihat dari aspek ekonominya adalah,
berhubungan dengan pendistribusian secara adil barang dan jasa terhadap semua orang sesuai
proporsinya masing-masing. Ketidakadilan dalam ekonomi berlaku dalam berbagai aspek,
bermula dari ketimpangan dalam pembahagian tanah pertanian, kesempatan kerja, sistem
penggajian hingga kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Kesemuanya ini bermuara
kepada kemiskinan. Dengan kata lain, ketidakadilan dalam ekonomi erat keterkaitannya dengan
masalah kemiskinan dan kesenjangan. Sangatlah mustahil untuk menyatakan bahwa, suatu
bangsa sangat bertamadun jika di negara tersebut sebahagian besar penduduknya sangat miskin,
buruh sangat tertindas, sebahagian besar petaninya adalah petani gurem.
Dari kacamata ekonomi, bisnis yang baik adalah yang selalu menghasilkan keuntungan besar. Di
dalam teori produsen atau teori ekonomi mikro, dinyatakan bahwa setiap pengusaha mencari
keuntungan sebesar mungkin, dengan biaya seminimum mungkin. Maksimalisasi keuntungan

merupakan tema krusial dalam ilmu ekonomi, ini merupakan cita-cita ataupun dasar
perkembangan kapitalisme liberal yang tumbuh pesat sejak era merkantilisme, kemudian,
fisiokrat oleh Francis Quesnay dilanjutnya para ekonom mahzab liberal klasik sejak abad 18
yang lalu, oleh Adam Smith dilanjutkan David Ricardo, Thomas Malthus, James Mill, John
Stuart Mill dan lain-lain . Sehingga mendorong negara-negara Eropah Barat melakukan ekspansi
ke Afrika, Timur Tengah dan Asia, seperti halnya Belanda dengan mengawali misi dagang VOC
dalam menjajah Indonesia.
Kondisi riel saat ini banyak kasus yang empiris dapat terlihat merefleksikan bisnis kapitalis,
sebagai realitas penjajahan ekonomi kapitalis. Sebagai contoh, pertama, salah satu bahkan dapat
dikatakan sebagai motivasi utama dari perusahaan-perusahaan di negara-negara maju
memindahkan pabrik-pabrik mereka ke negara-negara sedang berkembang adalah mencari
sumber daya alam berlimpah dan tenaga kerja murah. Kedua, banyak perusahaan lebih suka
memilih buruh lepas atau kotrakan daripada pegawai tetap demi keuntungan. Ketiga, banyak
perusahaan-perusahaan di sektor industri di banyak negara melakukan subcontracting dengan
pemasok-pemasok skala kecil, bukan ingin berbagi keuntungan melainkan untuk mengurangi
biaya produksi dan menggeser risiko bisnis kepada para pemasok-pemasok tersebut.
Sementara itu dari sudut pandang moral, bisnis yang selalu membuat keuntungan besar tidak
selalu dianggap bagus, bilamana keuntungan tersebut didapat dengan cara tidak manusiawi.
Seperti, malakukan eksploitasi pertambangan tanpa mengenal waktu siang dan malam, tidak
memberikan keuntungan sosial terhadap masyarakat dan merusak lingkungan hidup. Ini
merupakan contoh konkrit sikap pengusaha atau pelaku bisnis yang telah melanggar etika bisnis.
Jadi etika bisnis adalah aktivitas yang tidak merugikan salah satu pihak, dan menguntungkan
kedua belah pihak. Secara konkrit, etika bisnis atau disebut juga etika ekonomi berkaitan dengan
praktek-praktek monopoli, oligopoli, kolusi, dan semacamnya yang sangat mempengaruhi tidak
saja sehat-tidaknya suatu ekonomi, tetapi juga baik tidaknya praktek-praktek bisnis di suatu
negara dan wilayah.

Konkritnya aspek sosial ekonomi adalah memberikan kesempatan yang sama bagi semua warga
masyarakat, pekerjaan dengan pendapatan yang baik atau kehidupan layak. Menurut Keraf
(1998), prinsip dasar keadilan distributif adalah distribusi ekonomi yang merata atau dianggap
adil bagi semua warga negara. Dengan kata lain, keadilan distributif menyangkut pembagian
kekayaan ekonomi atau hasil-hasil pembangunan. Teori egalitarianisme menyatakan pembagian
bisa saja dikatakan adil jika semua orang mendapatkan bagian yang sama. Jadi dasar pemikiran
ini adalah, bahwa membagi dengan adil adalah membagi rata. Teori sosialistis memilih prinsip
kebutuhan setiap orang sebagai dasar pemikirannya. Jadi kebutuhan masyarakat adil, jika
kebutuhan semua warganya terpenuhi, seperti sandang, pangan, papan. Sosialisme memikirkan
masalah-masalah pekerjaan bagi kaum buruh dalam konteks industrialisasi. Jadi beban berat
harus dibagi dituntut pengorbanan semua masyarakat, hal-hal yang baik untuk diperoleh harus
diberikan sesuai dengan kebutuhan.
Teori liberalistis yang menganggap pembagian atas dasar kebutuhan sebagai cara yang tidak adil.
Pembahagian harus didasarkan pada usaha-usaha bebas dari individu-individu bersangkutan. Jika
tidak berusaha, tidak mempunyai hak pula untuk memperoleh sesuatu. Oleh karena itu menurut
Bertens (2000) jika keadilan adalah memberikan kepada setiap orang menjadi haknya, misalnya
hak pekerjaan, pendidikan, kelestarian lingkungan hidup, pelayanan kesehatan dan hak-hak
sosial lainnya, maka keadilan sosial ekonomi terwujud, bila hak-hak sosial ekonomi terpenuhi.
Karena kompleksitas masyarakat modern, maka keadilan sosial ekonomi yang sesungguhnya
tidak pernah dapat dilaksanakan dengan sempurna. Namun demikian, tidak pula menciptakan
penjajahan serta penjarahan ekonomi dengan model dan gaya baru
2.Bisnis adalah kegiatan ekonomi, atau ekonomi adalah kegiatan bisnis.
Dari sudut pandang ekonomi, bisnis yang baik adalah yang selalu menghasilkan keuntungan
besar. Di dalam teori produsen (teori ekonomi mikro), dikatakan bahwa setiap pengusaha
mencari keuntungan sebesar mungkin dengan biaya seminimum mungkin. Maksimalisasi
keuntungan merupakan tema penting dalam ilmu manajemen ekonomi, dan ini merupakan citacita,

Ini juga yang mendorong negara-negara di Eropa Barat melakukan ekspansi ke Afrika, Timur
Tengah dan Asia, seperti halnya Belanda ke Indonesia yang diawali dengan misi dagang dari
V.O.C. yang akhirnya menjajah Indonesia.
Kalau memaksimalkan keuntungan menjadi satu-satunya tujuan perusahaan, maka dengan
sendirinya akan timbul keadaan yang tidak etis. Karena, setiap perusahaan/pengusaha akan
berproduksi dengan cara mengeksploitasi pekerja-pekerjannya; kalau bisa tidak mengeluarkan
satu senpun biaya yang berarti buruh-buruhnya tidak digaji. Hingga saat ini banyak sekali kasus
yang dapat dilihat yang merefleksikan dasar pemikiran bisnis kapitalis. Beberapa contoh dapat
disebut di sini.
1. salah satu atau bahkan dapat dikatakan sebagai motivasi utama dari perusahaan-perusahaan di
negara-negara industri maju memindahkan pabrik-pabrik mereka ke negara-negara sedang
berkembang adalah mencari tenaga kerja murah. Kedua,
2. Banyak perusahaan di Indonesia lebih suka memakai buruh lepas atau kontrakan daripada
pegawai tetap demi keuntungan perusahaan.
3. Banyak perusahaan-perusahaan di sektor industri manufaktur di Indonesia dan dibanyak
negara lainnya melakukan subcontracting dengan pemasok-pemasok skala kecil, bukan karena
ingin berbagi keuntungan dengan mereka melainkan untuk mengurangi biaya produksi dan
sekaligus menggeser resiko bisnis akibat perubahan pasar secara tiba-tiba ke para pemasokpemasok tersebut.
Sedangkan dari sudut pandang moral, bisnis yang selalu membuat keuntungan besar tidak selalu
dianggap sebaga bisnis yang bagus, apabila keuntungan tersebut didapat dengan cara
ketidakmanusiaan seperti misalnya
* membayar upah yang sangat murah atau dengan cara penipuan
* memakai bahan baku yang rendah kualitasnya tanpa pengetahuan konsumen, seperti dalam
kasus tahu dengan memakai bahan pengawet formalin.

Kasus formalin ini merupakan satu contoh konkrit dari suatu sikap pengusaha/pelaku bisnis yang
telah melanggar etika dalam bisnis atau yang umum disebut etika bisnis. Tetapi apakah etika
bisnis itu sendiri?
Menurut Keraf (1998) etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri
seseorang maupun pada suatu masyarakat atau kelompok masyarakat. Ini berarti etika berkaitan
dengan nilai-nilai, tata cara hidup yang baik, aturan hidup yang baik, dan segala kebiasaan yang
dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang lainatau dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Jadi, secara sederhana etika bisnis dapat dirumuskan sebagai cara-cara yang baik, yang
manusiawi dalam melakukan bisnis, atau melakukan bisnis sesuai norma-norma moral yang
umum diterima.
Masalah etika bisnis tidak hanya pada tingkat pengusaha/perusahaan secara individu, tetapi juga
pada tingkat nasional, baik yang dilakukan oleh masyarakat secara umum atau pemerintah. Yang
dilakukan oleh masyarakat, misalnya penjualan dan pembelian kaset bajakan seperti yang terjadi
dalam kasus kaset musik hasil Live Aid yang dipimpin oleh Bob Geldof dan diselenggarkan
serentak di stadion F. Kennedy di Philadelphia, Amerika Serikat, dan di stadion Wembley di
London, Inggris, pada 13 Juli 1985. Konser amal ini bertujuan untuk mengumpulkan dana untuk
membantu korban kelaparan di Ethiopia, Afrika. Beberapa waktu kemudian muncul kaset-kaset
rekaman konser tersebut di sejumlah negara di Timur Tengah dan juga di Indonesia. Di
Indonesia, kaset-kaset tersebut mencantumkan made in Indonesia, dan bahkan ada yang
memakai pita cukai Indonesia. Menurut berita dari Tempo (14 dan 12 Desember 1985),
diperkirakan ada 10 perusahaan rekaman di Indonesia yang terlibat di dalam pembajakan kaset
tersebut.
Sedangkan pelanggaran etika bisnis yang dilakukan pemerintah Indonesia selama ini bisa dilihat
misalnya adalah dalam kasus pembagian lahan pertanian. Walaupun Indonesia memiliki UndangUndang Agraria dan UUD 1945 Pasal 33 menekankan keadilan dalam ekonomi, sejak
pemerintahan Orde Baru hingga saat ini tidak ada usaha mencegahan terhadap perampasan
tanah milik petani oleh masyarakat kaya. Jadi, dari uraian diatas dapat dikatakan bahwa bicara
etika bisnis adalah bicara soal kegiatan bisnis yang tidak merugikan salah satu pihak atau

menguntungkan kedua belah pihak. Menurut Keraf (1998), ada tiga sasaran dan lingkup pokok
etika bisnis.
1. Etika bisnis sebagai etika profesi membahas berbagai prinsip, kondisi, dan masalah yang
terkait dengan praktek bisnis yang baik dan etis.
2. Etika bisnis adalah untuk menyadarkan masyarakat, khususnya konsumen, buruh atau
karyawan, dan masyarakat luas sebagai pemilik aset umum seperti lingkungan hidup, akan hak
dan kepentingan mereka yang tidak boleh dilanggar oleh praktek bisnis siapa pun juga
3. Etika bisnis pada tingkat makro, yakni berbicara mengenai sistem ekonomi yang sangat
menentukan etis tidaknya suatu praktek bisnis. Secara konkrit, etika bisnis ini atau disebut juga
etika ekonomi berbicara soal praktek-praktek monopoli, oligopoli, kolusi, dan semacamnya yang
sangat mempengaruhi tidak saja sehat-tidaknya suatu ekonomi tetapi juga baik tidaknya praktekpraktek bisnis di suatu negara.
3.Kenaikan Harga Tiket Jambi-Padang Tak
Manusiawi
MEDAN | DNA Adanya dugaan beberapa maskapai penerbangan yang melihat musibah gempa
di Padang dan Jambi sebagai peluang bisnis dengan menaikkan harga tiket pesawat kelas
ekonomi adalah perbuatan tidak manusiawi. Demikian ditegaskan anggota Fraksi PPP DPTD
Medan Drs. Muhammad Yusuf, SPDI Selasa (6/10) diruang kerjanya.
Dikatakannya, banyaknya keluhan masyarakat karena terjadi lonjakan harga tiket jurusan
Padang-Jambi pasca gempa mesti menjadi perhatian serius pemerintah. Kita sangat mendukung
apa yang disampaikan Kepala Cabang PT (Persero) II Angkasa Pura Bandara Polonia Endang A.
Sumiarsih beberapa waktu lalu akan mencabut ijin operasional counter tiket tidak diperbolehkan
lagi ada di Bandara Polonia bagi 3 maskapai penerbangan Mandala Airlines, Sriwijaya Airlines
dan Lion Airlines kalau menjual tiket melebihi TBA (Tarif Batas Atas).
"Namun kita sangat mengharapkan adanya tindak lanjut yang serius dari pernyataan Kacab
Angkasa Pura Bandara Polonia tersebut. Jangan hanya sekedar lips service belaka. Disamping itu
TNI Angkatan Udara, Kepolisian, administrator Bandara dan pihak terkait mesti proaktif
mendukung niat baik dan pernyataan itu," kata Yusuf yang juga wakil ketua DPC PPP Kota
Medan itu.

Ditegaskannya, jauh-jauh hari Allah SWT telah mengingatkan dan memerintah umat manusia
untuk saling tolong bersitolongan dalam kebaikan dan takwa. Bukan tolong bersitolongan dalam
kemungkaran. Maka sikap tolong menolong adalah wajib bagi manusia termasuk menolong
korban bencana alam di padang dan Jambi. Jangan kita memanfaatkan duka cita, penderitaan dan
nasib tragis orang lain sebagai sumber rejeki untuk pribadi maupun kelompok.
Menurutnya, pasca musibah gempa di Padang Dan Jambi semestinya harga tiket semua
transportasi bukan hanya tiket pesawat tapi harga tiket semua jenis angkutan laut, darat dan udara
yang menuju lokasi bencana lebih dimurahkan. Apalagi kepada penumpang yang sengaja turun
kelokasi untuk mencari, menjenguk dan mengetahui nasib kerabat maupun saudaranya
diseputaran lokasi musibah. Ini kok malah yang terjadi sebaliknya banyak oknum yang
mengambil kesempatan dalam kesempitan. Sudah begini pudarkah moralitas bangsa Indonesia
yang mengaku sebagai umat yang beragama, tanya Yusuf.
Lebih lanjut dikatakannya, disamping mengontrol harga tiket pemerintah juga mesti segera
menurunkan aparat hukum yang bermoral sebanyak-banyaknya untuk mengatur, mengawasi lalu
lintas masuk dan keluarnya bantuan barang dan uang yang ditujukan untuk korban gempa dan
keluarganya. Menguasai lokasi musibah dari oknum-oknum dan jaringan mafia yang memang
mengincar bantuan bencana alam sebagai sumber rejekinya.
"Terhadap perbuatan orang perorang atau kelompok seperti ini mesti diberantas dan dicegah
untuk tidak terulang lagi dimasa-masa yang akan datang dengan hukuman mati. Dapat dijadikan
pelajaran dari kasus perkasus dari tragedi bencana terdahulu bahwa hampir semua bentuk
bantuan barang dan uang selalu menimbulkan masalah yaitu terjadi penyimpangan dan korupsi.
Perbuatan ini mesti diputus dengan hukuman mati bagi pelakunya.
Pendapat atas artikel di atas
Kejadian di atas melanggar etika dalam berbisnis. Terutama prinsip-prinsp dari etika bisnis,
antara lain prinsip kejujuran, prinsip keadilan dan prinsip saling menguntungkan. Pada prinsip
kejujuran, maskapai-maskapai penerbangan tidak bertindak jujur dengan tiba-tiba menaikkan
harga tinggi sekali yang melampaui harga batas atas. Padahal itu merupakan peraturan dari
pemerintah. Dengan kata lain, telah dilakukan penipuan kepada konsumen.
Pada prinsip keadilan, maskapai-maskapai penerbangan itu telah bertindak tidak adil. Karena
memanfaatkan kondisi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan. Pada saat masyarakat

membutuhkan tiket murah karena keluarganya terkena bencana, harga tiket tersebut malah
melonjak tinggi. Jelas ini telah melanggar prinsip keadilan.
Pada prinsip saling menguntungkan sudah jelas terlihat bahwa yang diuntungkan disini hanya
maskapai penerbangan. Hal ini terlihat karena harga yang sangat tinggi membuat masyarakat
kesulitan untuk memperoleh tiket (karena harganya mahal). Sedangkan harga yang seharusnya
tidak mencapai sedemikian mahal harus dibayar oleh masyarakat. Kerugian dialami oleh
masyarakat yang harus mengeluarkan uang tambahan untuk mendapatkan tiket tersebut.
Sangsi seharusnya diberikan pada perusahaan maskapai yang melakukan hal tersebut.
Pencabutan izin operasional dapat menjadi salah satu hukuman yang dapat diberikan.
kesimpulan ....
Dari artikel di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pada saat ini masih banyak perusahaanperusahaan (dalam hal ini maskapai penerbangan) yang masih mengambil untung dari
konsumennya. Mengambil untung disini bukan mengambil keuntungan secara wajar tetapi
dengan memanfaat situasi kondisi konsumen yang sedang dalam keadaan tidak baik. Hal ini jelas
melanggar prinsip-prinsip etika bisnis, antara lain prinsip kejujuran, prinsip keadilan dan prinsip
saling menguntungkan.
Selain itu, mengambil keuntungan pada saat tersebut sangat tidak manusiawi. Pada saat sesama
kita membutuhkan pertolongan seharusnya kita memberikan pertolongan untuk meringankan
bebannya, bukan malah memberatkan keadaan mereka.
saran...
Menanggapi hal ini, sebaiknya direktorat jenderal Perhubungan segera melakukan pengawasan
yang baik terhadap kegiatan jasa transportasi tersebut.
perusahaan-perusahaan yang melakukan hal tersebut sebaiknya diberikan sangsi, Sangsi berupa
pencabutan izin operasional seperti yang dikatakan dalam artikel seharusnya didukung dan
dilakukan. Hal ini agar perusahaan tersebut mendapatkan efek jera.