Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH ADIWIYATA

Oleh :
Merry Megawati
XII AP 2
Tugas BP/BK
SEKOLAH KEJURUAN SMK NEGERI 2 MALANG
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa ,atas
rahmat dan hidayahNya yang telah diberikan kepada penulis,sehingga penulis

dapat menyelesaikan makalah dengan baik tepat waktu


Makalah ini berisi tentang ADIWIYATA .Penulis menyadari akan
banyaknya kekurangan baik dari segi bahasa, metodologi maupun pemaparannya,
tidak lain karena keterbatasan, kelemahan dan kekurangan pada diri penulis
sendiri yang tidak dapat penulis pungkiri.
Terwujudnya makalah ini sejak tahap persiapan, awal penulisan,
penelitian dilapangan hingga diangkatnya sebuah kesimpulan, tidak lepas dari
banyak pihak yang membantu secara langsung maupun tidak langsung, sehingga
semakin menumbuhkan kesadaran bagi penulis bahwa tanpa dukungan, bantuan,
bimbingan dan arahan pihak-pihak terkait, tidak mungkin penulis dapat
menyelesaikannya seperti sekarang.
Oleh karenanya, pada kesempatan ini dengan segala ketulusan hati
penulis mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan tiada terhingga
kepada :
1.

Tuhan Yang Maha Esa , yang telah memberi kita kelancaran dan kemudahan
dalam penyelesaian Laporan ini.

2.

Orang tua kami yang telah memberi dukungan dan masukan saat penulis
menyusun karya tulis ini.

3.

Kepala sekolah yang telah memberikan Sarana dan Prasarana

4.

Pembimbing yang telah meberi masukan dan pengawasan.

5.

Teman-teman penulis yang telah memberikan masukan dan dukungannya.

6.

Serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan


laporan ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa

membalas atas segala bantuan dan

kebaikannya dalam membantu Penulis dalam menyelesaikan karya tulis ini.


Dengan demikian semoga Karya tulis ini dapat bermanfaat bagi Penulis pada
khususnya dan semua orang pada umumnya, kritik dan saran yang membangun
sangat penulis harapkan.
Malang ,6 Desember 2013

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI. ...................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ .. .................
1.3Tujuan..................................................................................................................
1.4 Metode penulisan ...........................................................................................
BAB. II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Dasar Pemikiran..................................................................................................
2.2 Pengertian ADIWIYATA......................................................................................
2.3 Tujuan ADIWIYATA............................................................................................
2.4 Pengertian sekolah ADIWIYATA..............................................................
2.5 Tujuan sekolah ADIWIYATA...................................................................
2.6 Perilaku warga sekolah tentang sekolah ADIWIYATA.................................
2.7 Model sekolah ADIWIYATA....................................................................
2.8 Alasaan menjadi sekolah ADIWIYATA...................................................

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Konsep 5R..........................................................................................
3.1.1 Recycle..................................................................................
3.1.2 Rause.......................................................................................
3.1.3 Reduce...................................................................................
3.1.4 Replace..................................................................................
3.1.5 Replant................................................................................
3.2 Instalasi Pengolahan Air Libah....................................................................
3.3.Penggolahan dan pengembangan sarana pendukung sekolah......................
3.4 Kuntungan Program ADIWIYATA.........................................................
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN............................................................
4.1Kesimpulan..........................................................................................................
4.2Saran.............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.
Kerusakkan lingkungan cenderung meningkat akibat bertambahnya
penduduk dan upaya-upaya pemanfaatan sumber daya alam tanpa disertai upaya
pelestarian fungsi lingkungan. Akhirnya terjadi ketidak seimbangan

alam.

Pertumbuhan penduduk dan pengambilan sumber daya alam yang jauh melampaui
daya dukungnya merupakan salah satu penyebabnya.Isu-isu tersebut berkembang
menjadi permasalahan lingkungan yang serius.Pencemaran udara, sampah,
kelangkaan air bersih, kerusakan lahan dan hutan, longsor, banjir dan kekeringan,
merupakan masalah yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat
dewasa ini.
Upaya meningkatkan mutu pendidikan tidak hanya kompetensi pendidik
yang terus ditingkatkan, melainkan juga kualitas kondisi sekolahpun perlu juga
ditingkatkan, sehingga terwujud lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran
yang sehat, nyaman serta membentuk siswa yang kreatif.
Green School, merupakan program yang dikembangkan di tingkat internasional.
Di Indonesia, bila diterjemahkan langsung menjadi rancu dan salah pengertian,
ada yang mengartikan sekolah yang dicat hijau atau hanya sebatas harus
rindang/banyak pohon saja, dan selesai. Padahal sebenarnya pengertiannya tidak
seenteng itu.

Green School lebih bermakna pada pembentukkan sikap anak didik dan
warga sekolah terhadap lingkungan, yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari
di sekolah.Hal ini diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari, baik di
sekolah, rumah atau di lingkungan tempat tinggalnya. Termasuk di dalamnya
program Greening The Curriculum, kurikulum hijau, artinya kurikulum yang
memperhatikan

aspek-aspek

lingkungan

dalam

bahasannya

serta

mengintegrasikan materi lingkungan ke dalam pembelajarannya, sesuai dengan


topik bahasannya.

Kelak, bila mereka bekerja, diharapkan sikap tersebut dapat diterapkan


dalam sikap kerja yang bijaksana dan peduli lingkungan, terutama sekitarnya dan
di dukung dengan Program adiwiyata.
jadilah pejabat yang peduli lingkungan, jangan menjadi pejabat yang peduli
terhadap kekayaan .
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar belakan yang telah saya bahas makan dapat
dirumuskan beberapa permasalah sebagai berrikut
1. Bagaimana cara mengapresiasikan program adiwiyata
2. Bagaimana cara memanfaatkan bahan yang masih bisa di daur ulang
1.3 . Tujuan
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan
kita tentang sekolah adiwiyata itu sendiri dan ilmu dalam mendaur ulang bahan
bekas

1.4. Metode Penulisan


Metode yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah dengan
metode kepustakaan, yaitu dengan mengumpulkan data dari internet dan
membacanya.

BAB. II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Dasar Pemikiran
Kehidupan manusia di dunia mempunyai kedudukan sebagai hamba
Tuhan YME dan sebagai wakil Tuhan di bumi yang menerima amanat-Nya untuk
mengelola kekayaan alam.
2.2. Pengertian Adiwiyata
Adiwiyata mempunyai pengertian atau makna: Tempat yang baik dan
ideal dimana dapat diperoleh segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta
etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup
dan menuju kepada cita-cita pembangunan berkelanjutan.
2.3. Tujuan Program Adiwiyata
Menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat
pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga di kemudian hari warga
sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan
lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan utama diarahkan pada terwujudnya kelembagaan sekolah yang
peduli dan berbudaya lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah di Indonesia.

Disamping pengembangan norma-norma dasar yang antara lain: kebersamaan,


keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan
hidup dan sumber daya alam. Serta penerapan prinsip dasar yaitu: partisipatif,
dimana komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi
keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggung jawab
dan peran; serta berkelanjutan, dimana seluruh kegiatan harus dilakukan secara
terencana dan terus menerus secara komperensif.
2.4. Pengertian Sekolah Adiwiyata
Program Sekolah Adiwiyata adalah program pengelolaan lingkungan hidup di
sekolah. Program ini merupakan tindak lanjut dari Kesepakatan Bersama antara
Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional Nomor
Kep. 07/MENLH/06/2005 dan Nomor 05/VI/KB/2005 tentang Pembinaan dan
Pengembangan Lingkungan Hidup. Adiwiyata mempunyai pengertian atau
makna: tempat yang baik dan ideal tempat diperolehnya segala ilmu pengetahuan
dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar manusia menuju
terciptanya kesejahteraan hidup dan menuju kepada cita-cita pembangunan
berkelanjutan.
Sekolah adiwiyata adalah salah satu program Kementerian Lingkungan
Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga
sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Atau Sekolah Adiwiyata
adalah sekolah yang mempunyai lingkungan hidup dan melakukan pengelolaan
lingkungan hidup di sekolah itu sendiri.
2.5. Tujuan Sekolah Adiwiyata
Menciptakan kondisi yang baik bagi sekolah untuk menjadi tempat
pembelajaran dan penyadaran warga sekolah, sehingga di kemudian hari warga
sekolah tersebut dapat turut bertanggung jawab dalam upaya-upaya penyelamatan
lingkungan hidup dan pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan utama diarahkan pada terwujudnya kelembagaan sekolah yang peduli
dan berbudaya lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah di Indonesia.
Disamping pengembangan norma-norma dasar yang antara lain: kebersamaan,

keterbukaan, kesetaraan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian fungsi lingkungan


hidup dan sumber daya alam. Serta penerapan prinsip dasar yaitu: partisipatif,
dimana komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi
keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi sesuai tanggung jawab
dan peran; serta berkelanjutan, dimana seluruh kegiatan harus dilakukan secara
terencana dan terus menerus secara komperensif.
2.6. Perilaku Warga Sekolah tentang sekolah Adiwiyata
Dalam hal ini, semua warga sekolah dilibatkan untuk menerapkan usahausaha tersebut tanpa terkecuali. Begitu juga seluruh warga sekolahpun
menjalankan usaha usahanya sesuai wewenang dan fungsinya masing-masing.
Untuk siswanya sendiri dapat ikut berpartisispasi dalam hal ini dengan melakukan
hal-hal kecil tapi mempunyai manfaat besar seperti menjaga kebersihan sekolah
dan menjaga lingkungan hidup sekolah yang ada sekaligus turut bertnggung jawab
dalam upaya-upaya menyelamatkan alam.
2.7. Model Sekolah Adiwiyata
Sekolah Model Adiwiyata adalah suatu program pendidikan lingkungan
hidup yang ditujukan bagi pemberdayaan sekolah di tingkat SD, SMP, dan SMA.
Untuk mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan maka
diperlukan model pengelolaan sekolah yang mendukung dilaksanakannya
pendidikan lingkungan hidup oleh semua warga sekolah sesuai dengan prinsipprinsip dasar Program Adiwiyata yakni Partisipatif dan Berkelanjutan.
Indikator keberhasilan program Adiwiyata ada 4 faktor meliputi :
1.

Pengembangan Kebijakan Sekolah yang diperlukan untuk mewujudkan Sekolah


Peduli dan Berbudaya Lingkungan
Dalam hal ini antara lain : Visi dan Misi Sekolah yang Peduli dan Berbudaya
Lingkungan, Kebijakan Sekolah tentang pengembangan PLH, peningkatan
pendidikan SDM, penghematan SDA,pola hidup bersih dan sehat(PHBS)
pengalokasian dana kegiatan LH.(disesuaikan kondisi wilayah/sekolah
masing-masing)

2. Pengembangan Kurikulum Berbasis Lingkungan.


Dalam hai ini antar lain: Pengembangan model pembelajaran lintas mata
pelajaran, Penggalian dan pengembangan materi dan persoalan lingkungan
hidup yang ada di masyarakat sekitar, Pengembangan metode belajar berbasis
lingkungan dan budaya,Pengembangan kegiatan kurikuler untuk peningkatan
pengetahuan dan kesadaran siswa tentang lingkungan hidup. Pendidikan
Lingkungan Hidup bisa dilakukan dalam 2 cara: monolitik yakni menjadi satu
mapel khusus, dan atau integratif yakni masuk ke dalam sub-sub materi di
pelajaran lain. (disesuaikan kondisi wilayah/sekolah masing-masing)
3. Pengembangan Kegiatan Berbasis Parsitipatif.
Dalam hal ini antara lain : Menciptakan kegiatan ekstrakurikuler/kurikuler di
bidang lingkungan hidup berbasis partisipatif di sekolah, mengikuti kegiatan
aksi lingkungan hidup yang dilakukan oleh pihak luar,Membangun kegiatan
kemitraan atau memprakarsai pengembangan pendidikan lingkungan hidup di
sekolah. (disesuaikan kondisi wilayah/sekolah masing-masing)
4. Pengelolaan dan atau pengembangan Sarana Pendukung Sekolah.
Dalam hal ini antara lain : Pengembangan fungsi sarana pendukung sekolah
yang ada untuk pendidikan lingkungan hidup, Peningkatan kualitas
pengelolaan lingkungan di dalam dan di luar kawasan sekolah,Penghematan
sumberdaya alam (listrik, air dan ATK),Peningkatan kualitas pelayanan
makanan sehat,Pengembangan sistem pengelolaan sampah. (disesuaikan
kondisi wilayah/sekolah masing-masing) Jadi idealnya sekolah-sekolah yang
sudah menerapkan ke 4 indikator tersebut, sudah tergolong kriteria sekolah
adiwiyata disesuaikan dengan kondisi sekolah/daerah masing-masing. Jadi
belum tentu semua kebijakan di sekolah satu sama dengan kebijakan di
sekolah/daerah lain.
2.8. Alasan Menjadi Sekolah Adiwiyata
Lingkungan yang bersih dan sehat tentunya menjadi dambaan institusi
pendidikan kapanpun dan dimanapun. Lingkungan sekolah yang bersih dan sehat

juga mencerminkan keberadaan warga sekolah yang ada mulai dari siswa , guru,
staf, karyawan, unsur pimpinan sekolah bahkan sampai orang tua siswa.
Sangatlah tepat , himbaun yang mengatakan bahwa tanggung jawab penciptaan
lingkungan yang bersih dan sehat merupakan kewajiban dan tangggungjawab
bersama. Pembelajaran dilakukan secara active learning dan joyfull learning di
luar kelas. Dengan kegiatan diluar kelas, siswa diharapkan memiliki kualitas
keimanan yang meningkat, akhlaq mulia, kesadaran lingkungan yang terwujud
melalui perilaku ramah lingkungan untuk meningkatkan kualitas hidup. Nilai-nilai
ini diharapkan akan t erbentuk melalui pembelajaran Pendidikan Lingkungan
Hidup yang terintegrasi ke semua mata pelajajan. Pendidikan ini merupakan
sistem pembelajaran yang menjadikan alam dan lingkungan sekitarnya sebagai
media dengan tema-tema alam dan lingkungan.
Pembelajaran yang mengintegrasikan tema lingkungan merupakan suatu
proses yang disengaja dan berkesinambungan dalam mengembangkan fitrah dan
fungsi manusia dengan pendekatan guru sebagai Uswatun Hasanah, maka salah
satu pendekatan yang digunakan memberikan pengajaran leaning by doing yang
mengkondisikan siswa pada alam sekitar dan kehidupan nyata, dengan suasana
menyenangkan untuk mengembangkan kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan
Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ)

untuk mempersiapkan anak

menjadi kholifatul fil ardh.


Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH)
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) merupakan upaya untuk mengubah
perilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat
yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran
masyarakat tentang nilai-nilai lingkungan dan isu permasalahan lingkungan.
Semua itu pada akhirnya dapat menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif
dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan generasi sekarang dan yang
akan datang.
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) secara khusus memiliki 5 tujuan. Pertama,
Kesadaran. Ini untuk membantu peserta didik memperoleh sebuah kesadaran dan
kepekaan terhadap

lingkungan dan berbagai permasalahannya, membangun

kemampuan untuk merasakan dan membedakan diantara stimulus, mengulah,

menyaring dan memperluas pandangan-pandangan dan menggunakan dalam


berbagai

konteks. Kedua, Pengetahuan. Dimaksudkan membantu peserta didik

untuk memperoleh sebuah pengertian mendasar tentang bagaimana fungsi


lingkungan , bagaimana orang berinteraksi dengan lingkungan, dan bagimana
timbulnya isu-isu dan masalah berkaitan dengan lingkungan dan bagaimana cara
penyelesainnya. Ketiga. Sikap. Ini untuk membantu peserta didik memperoleh
seperangkat nilai dan perasaan-perasaan kepedulaian, motivasi dan komitmen
terhadap

lingkungan.

memperoleh

Keempat,

keterampilan

yang

Keterampilan.
diperlukan

Membantu

untuk

peserta

mengidentifikasi

didik
dan

menyelidiki permasalahan lingkungan dan berkontribusi untuk pemecahan


masalah tersebut. Kelima, Partisipasi. Dimaksudkan untuk membantu peserta
didik memperoleh pengalaman dalam menggunakan pengetahuan yang mereka
peroleh dan keterrampilan dalam pengambilan keputusan, tindakan-tindakan
positif yang mengarah pada pemecahan isu-isu dan permasalah lingkungan.
Pendidikan Lingkungan Hidup PLH) dan peranannya dalam membentuk manusia
yang memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan adalah suatu
keniscayaan, Dalam pengertian Pendidikan Lingkungan Hidup PLH) terdapat
unsur pendidikan. Sementara pendidikan memiliki pengertian suatu proses yang
dapat mengubah perilaku seseorang untuk lebih bersikap dan memiliki tata laku
dan berakhlak dan cerdas melalui upaya pengajaran dan latihan. Dalam konteks
ini, memiliki sikap dan tata laku yang berakhlak dan cerdas dalam memanfaatkan
dan mengelola lingkungan.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Konsep 5R
Setelah kita membahas pengertian Adiwiyata secara umum dan
pengertian Adiwiyata dalam lingkup sekolah, maka dari itu kita bisa mendapatkan
5 komponen dalam menyukseskan program Adiwiyata. Dalam istilah lingkungan

konsep 5 R sudah sering didengar atau mungkin kali ini baru Anda dengar.
Konsep 5 R sendiri berasal dari 5 kata dalam bahasa Inggris yaitu Reduce
(Mengurangi), Reuse (Menggunakan kembali), Recycle (Mendaur Ulang),
Replace (Menggunakan kembali) dan Replant (Menanam Kembali). Istilah-istilah
ini sering disebutkan dalam upaya melestarikan lingkungan hidup. Untuk dapat
diterapkan, berikut ini dijelaskan tentang konsep 5 R.
3.1.1 Recycle
Recycle atau mendaul ulang adalah kegiatan mengolah kembali atau
mendaur ulang. Pada perinsipnya, kegitan ini memanfaatkan barang bekas
dengan cara mengolah materinya untuk dapat digunakan lebih lanjut.
Contohnya adalah memanfaatkan dan mengolah sampah organik untuk
dijadikan pupuk kompos. Disini

saya akan menerangkan bagaiman cara

membuat pupuk Kompos secara sederhana


Cara Membuat Pupuk Kompos Organik Dengan Mudah
Cara Membuat Pupuk Kompos Organik Dengan Mudah - Pupuk
Kompos merupakan pupuk organik yang terbuat dari bahan-bahan organik
seperti jerami, dedaunan, dan kotoran hewan yang mengalami proses
dekomposisi atau pelapukan terlebih dahulu. Cara Pembuatan pupuk organik
sangat mudah dan bisa dilakukan sendiri dirumah. langsung aja siapkan bahan
bahannya.

Bahan-bahan Pupuk Organik


1.

Kotoran ternak. Sapi, kerbau, kambing dan domba (2 ton / 2000kg)

2.

Jerami yang dicacah terlebih dahulu kurang lebih 5-10 cm. (secukupnya)

3.

Arang Sekam (secukupnya), Sekam yang sudah dibakar namun tidak


samapi menjadi abu. lihat proses pembuatan arang sekam

4.

Air (20 liter)

5.

EM4 (5 sendok makan)

6.

Gula pasir (5 sendok makan)

7.

Bubuk gergaji atau bisa juga dengan dedaunan dan bahan-bahan organik
lainnya.

Alat-alat yang diperlukan

1.

Sekop

2.

Cangkul

3.

Sarung tangan

4.

kaung goni

Cara Pembuatan Pupuk Kompos Organik

1.

Siapkan media pembuatan pupuk, ditempat yang sejuk tidak terkena


matahari langsung dan tidak kena hujan jika terjadi hujan.

2.

Larutkan EM4 dan gula kedalam air.

3.

Lapisan pertama, Campurkan Kotoran ternak dengan arang sekam


kemudian aduk hingga merata, setelah itu taburkan dekomposer (EM4 dan
gula yang sudah dilarutkan dalam air) tadi secukupnya aduk hingga merata.

4.

Lapisan Kedua Taburkan jerami, dedak, bubuk gergaji dan bahan-bahan


organik lainnya hingga merata kemudian siramkan dekomoser tadi.

5.

Setelah itu tutup rapat tumpukan bahan-bahan tadi dengan rapih dengan
menggunakan karung goni dan jerami.

6.

Hari Kedua aduk adonan tersebut hingga merata dan tutup kembali rapatrapat.

7.

Lakukan monitoring setiap pagi dan sore, dengan cara memasukan tangan
(dengan sarung tangan) jika tangan kita tidak kuat menahan panas adonan
maka adonan belum siap dipakai. aduk setiap melakukan monitoring.

8.

Biasanya hari ke empat adonan sudah siap, cara menceknya masukan


tangan anda jika bisa menahan panas adonan maka pupuk kompos organik
siap dipakai.

3.1.2 Reuse
Reuse atau penggunaan kembali adalah kegiatan menggunakan kembali
material atau bahan yang masih layak pakai. Sebagai contoh, kantong plastik atau
kantng kertas yang umumnya didapa dari hasil kita berbelanja, sebaiknya tidak
dibuang tetapi dikumpulkan untuk digunakan kembali saat dibutuhkan. Contoh
lain ialah menggunakan baterai isi ulang.
3.1.3 Reduce
Reduce atau Pengurangan adalah kegiatan mengurangi pemakaian atau
pola perilaku yang dapat menguarangi produksi sampah serta tidak melakukan
pola konsumsi yang berlebihan. Contoh menggunakan alat-alat makan atau dapur
yang tahan lama dan berkualitas sehingga memperpanjang masa pakai produk
atau mengisi ulang atau refill produk yang dipakai seperti aqua galon, tinta printer
serta bahan rumah tangga seperti deterjen, sabun, minyak goreng dan lainnya. Hal
ini dilakukan untuk mengurangi potensi bertumpuknay sampah wadah produk di
rumah Anda.
3.1.4 Replace
Replace atau Penggantian adalah kegiatan untuk mengganti pemakaian
suatu barang atau memakai barang alernatif yang sifatnya lebih ramah lingkungan
dan dapat digunakan kembali. Upaya ini dinilai dapat mengubah kebiasaan
seseorang

yang

mempercepat

produksi

sampah.

Contohnya

mengubah

menggunakan kontong plastik atau kertas belanjaan dengan membawa tas belanja
sendiri yang terbuat dari kain.
ContohNya :
Membuat tas dari bahan bungkus deterjen :

Alat dan bahan:


1. 4 kemasan plastik 450 ml

dengan corak dan warna yang senada (2 buah untuk sisi depan dan
belakang, 2 buah lagi untuk sisi kiri dan kanan).50cm bisban dengan
ukuran lebar 3cm untuk tali tas.
2. 1m bisban dengan ukuran lebar 2cm.
3. 4cm perekat
4. 30cm renda katun sebagai pemanis.
5. Jarum (ukuran 16) dan benang jahit berwarna senada.
Cara membuat:
1.

Bersihkan kemasan plastik dari segala noda dan kotoran. Untuk


membersihkannya Anda bisa menggunakan kertas tisu. Jika noda sulit
dibersihkan, Anda bisa merendam plastik di dalam air hangat. Jangan
menggunakan air yang terlalu panas, karena akan merusak tekstur plastik.

2.

Gunting dua buah kemasan dengan ukuran yang diinginkan. Usahakan


potongan kedua kemasan plastik memiliki ukuran yang sama.

3.

Gunting dua kemasan lain (untuk sisi kiri dan kanan) menjadi dua bagian
lebarnya (7cm). Jahit bisban pada sisi lebar masing-masing kemasan
yang sudah dipotong.

4.

Pasang dan jahit perekat, dengan menggunakan mesin jahit, pada bagian
dalam masing sisi depan dan belakang.

5.

Pasang dan jahit bisban lebar 3cm pada bagian permukaan plastik (sisi
depan dan belakang), sebagai tali tas.

6.

Kemudian pasang dan jahit renda katun sekaligus bisban pada sisi atas
lembar kemasan plastik. Lakukan langkah ini pada kemasan plastik untuk
sisi depan dan belakang.

7.

Sambungkan kedua kemasan plastik yang sudah dipotong berukuran 7cm


(untuk sisi kiri dan kanan tas). Sehingga membentuk lembaran panjang.

8.

Hubungkan dan sambung dengan jahitan mesin, bagian tadi (no.7)


dengan lembaran plastik untuk sisi depan dan belakang.

9. Lalu pasang bisban pada seluruh tepinya. Jadilah sebuah tas mungil nan
cantik, berbahan kemasan plastik. Cara yang sama juga bisa Anda

lakukan untuk tas yang berukuran lebih besar, lho. Tinggal ganti
ukurannya saja. Selamat berkreasi
3.1.5 Replant
Replant atau penamanan kembali adalah kegiatan melakukan penanaman
kembali. Contohnya melakukan kegiatan kreatif seperti membuat pupuk kompos
dan berkebun di pekarangan rumah. Dengan menanam beberapa pohon,
lingkungan akanmenjadi indah dan asri, membantu pengauran suhu pada tingkat
lingkungan mikro (atau sekitar rumah anda sendiri), dan mengurnagi kontribusi
atas pemanasan global. Selain itu disekolah biasanya memanfaatkan greenhouse.
Apa itu green house ?
Secara umum green house dapat didefinisikan sebagai bangun kontruksi
dengan atap tembus cahaya yang berfungsi memanipulasi kondisi lingkungan agar
tanaman di dalamnya dapat berkembang optimal.
Manipulasi lingkungan ini dilakukan dalam dua hal, yaitu menghindari
kondisi lingkungan yang tidak dikehendaki dan memunculkan kondisi lingkungan
yang dikehendaki.
Kondisi lingkungan yang tidak dikehendaki antara lain :
a. Ekses radiasi sinar matahari seperti sinar ultra violet dan sinar infra merah.
b. Suhu udara dan kelembaban yang tidak sesuai.
c. Kekurangan dan kelebihan curah hujan.
d. Gangguan hama dan penyakit.
e. Tiupan angin yang terlalu kuat sehingga dapat merobohkan tanaman.
f. Tiupan angin dan serangga yang menyebabkan kontaminasi penyerbukan.
g. Ekses polutan akibat polusi udara.

Sementara kondisi lingkungan yang dikehendaki antara lain :


a. Kondisi cuaca yang mendukung rentang waktu tanam lebih panjang.
b. Mikroklimat seperti suhu, kelembaban dan intensitas cahaya sesuai dengan
kebutuhan pertumbuhan tanaman.
c. Suplai air dan pupuk dapat dilakukan secara berkala dan terukur.

d. Sanitasi lingkungan sehingga tidak kondusif bagi hama dan penyakit.


e. Kondisi nyaman bagi terlaksananya aktivitas produksi dan pengawasan mutu.
f. Bersih dari ekses lingkungan seperti polutan dan minimnya residu pestisida
g. Hilangnya gangguan fisik baik oleh angin maupun hewan.
Manfaat apa saja yang didapat jika menggunakan green house , hal ini dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Pengaturan jadwal produksi.
Dunia pertanian kita masih demikian tergantungnya pada keadaan cuaca,
bila terjadi perubahan musim, apalagi bila tidak terprediksi akan menyebabkan
sulitnya menentukan jenis tanaman yang akan diproduksi. Jika musim hujan
terlalu panjang akan menyebabkan banyaknya penyakit termasuk pembusukan
akar. Jika musim terlalu kering akan menyebabkan tanaman kekurangan air, hama
juga akan menyerang yang dapat menimbulkan kerugian.
Demikian pula pada saat tertentu suatu komoditas sulit ditemui mengakibatkan
harganya demikian tinggi, sementara pada waktu lain kebanjiran produk
menyebabkan harga anjlok, sehingga kerugian segera tiba.
Untuk itu perlu sekali mengurangi ketergantungan pada lingkungan luar
menggantikan dengan mikroklimat yang diatur. Dengan demikian dapat
dijadwalkan produksi secara mandiri dan berkesinambungan. Sehingga konsumen
tidak perlu kehilangan komoditas yang dibutuhkan, juga kita tidak perlu
membanjiri pasar denganb jenis komoditas yang sama yang menyebabkan harga
anjlok.
2. Meningkatkan hasil produksi
Pada luasan areal yang sama tingkat produksi budidaya di dalam green
house lebih tinggi dibandingkan di luar green house. Karena budidaya di dalam
green house kondisi lingkungan dan pemberian hara dikendalikan sesuai
kebutuhan tanaman. Gejala hilangnya hara yang biasa terjadi pada areal terbuka
seperti pencucian dan fiksasi, di dalam green house diminimalisir. Budidaya
tanaman seperti ini dikenal sebagai hidroponik.
Kondisi areal yang beratap dan lebih tertata menyebabkan pengawasan
dapat lebih intensif dilakukan. Bila terjadi gangguan terhadap tanaman baik

karena hama, penyakit ataupun gangguan fisiologis, dapat dengan segera


diketahui untuk diatasi .
3. Meningkatkan kualitas produksi
Ekses radiasi matahari seperti sinar UV, kelebihan temperatur, air hujan,
debu, polutan dan residu pestisida akan mempengaruhi penampilan visual, ukuran
dan kebersihan hasil produksi.
Dengan kondisi lingkungan yang terlindungi dan pemberian nutrisi
akurat dan tepat waktu, maka hasil produksi tanaman akan berkwalitas.
Pemasakan berlangsung lebih serentak, sehingga pada saat panen diperoleh hasil
yang lebih seragam, baik ukuran maupun bentuk visual produk.

4. Meminimalisasi pestisida
Green house yang baik selain dirancang untuk memberikan kondisi
mikroklimat ideal bagi tanaman, juga memberikan perlindungan tanaman terhadap
hama dan penyakit. Perlindungan yang umum dilakukan adalah dengan
memasang insect screen pada dinding dan bukaan ventilasi di bagian atap. Insect
screen yang baik tidak dapat dilewati oleh hama seperti kutu daun.
Pada beberapa green house bagian pintu masuknya tidak berhubungan
langsung dengan lingkungan luar. Ada ruang kecil, semacam teras transisi yang
dibuat untuk menahan hama atau patogen yang terbawa oleh manusia. Pada lantai
ruang ini juga terdapat bak berisi cairan pencuci hama dan patogen. Untuk pintu
dapat ditambahkan lembaran PVC sheet.
5. Aset dan performance
Saat ini sangat biasa orang membangun green house dengan sistem knock
down. Dengan cara ini gren house bukanlah aset mati, manakala karena suatu hal
ada perubahan kebijakan, maka struktur green house tersebut dapat dipindahkan
atau mungkin dijual ke pihak lain yang memerlukan dengan harga yang
proporsional.
Dengan adanya green house maka kesan usaha akan terlihat lebih modern
dan padat teknologi. Hal ini tentunya akan meningkatkan performance petani atau

perusahaan yang menggunakannya.


6. Sarana agrowisata
Green house banyak juga digunakan sebagai ruang koleksi berbagai jenis
tanaman bernilai tinggi. Di dalam green house pengunjung dapat melihat berbagai
jenis tanaman yang menarik, bahkan langka, sehingga dapat menjadi daya tarik.
Ada yang khusus mengkoleksi kaktus, anggrek atau berbagai jenis tanaman
dengan suasana dibuat seperti di alam bebas. Di Indonesia green house seperti ini
banyak ditemukan di berbagai kebun raya dan tempat agrowisata.
Fungsi Green House :
1. Menghindari terpaan air hujan yang dapat merusak tanaman
2. Menghindarkan lahan dari kondisi yang becek
3. Mencegah masuknya air hujan ke dalam media tumbuh (karena dapat
mengencerkan larutan hara)
4. Mengurangi intensitas cahaya yang masuk sehingga daun tidak terbakar pada
saat terik
5. Mengurangi tingkat serangan OPT
6. Fotosintesis dapat berlangsung sempurna
GAMBAR GREEN HOUSE

3.2 Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)


Pengertian IPAL
IPAL

adalah

suatu perangkat peralatan

teknik

beserta

perlengkapannya yang memproses / mengolah cairan sisa proses produksi


pabrik,

sehingga

cairan

tersebut

layak

dibuang

ke

lingkungan

Manfaat

IPAL

IPAL itu sangat bermanfaat bagi manusia serta makhluk hidup lainnya,
natara

lain:

a. Mengolah Air Limbah domestik atau industri, agar air tersebut dapat di
gunakan

kembali

sesuai

kebutuhan

masing-masing

b. Agar air limbah yang akan di alirkan kesungai tidak tercemar


c.

Agar

Biota-biota

yang

ada

di

sungai

Tujuan

tidak

mati
IPAL

tujuan IPAL yaitu untuk menyaring dan membersihkan air yang sudah
tercemar dari baik domestik maupun bahan kimia industri.
Proses IPAL
Pada bagian yang satu ini, saya akan menjelaskan tentang proses air
limbah domestik ataupun dari industri,akan diolah menjadi air bersih. berikut
penjelasannya:
1. Air Limbah tersebut di alirkan ke tempat instilasi
2. .Kemudian, ari limbah tersebur akan melalui 4 tahap proses
3. Pada proses pertama air limbah itu akan di tampung pada
tampungan yang berisi pasir, yang dimana fungsi pasir tersebut,
utnuk mengendapakan air
4. yang kedua, air limbah tersebut akan mengalir ke tampungan yang
berisi kerikil, fungsi kerikil sama saja dengan fungsi pasir, yaitu
untuk mengendapkan air tersebut.
5. Pada tahap pada satu ini, air limbah akan mengalir di tampungan
yang berisi banyak enceng gondok.Enceng gondok tersebut
berfungsi sebagai penyerap zat-zat kimia terutama amonia dan
fosfat.
6. Setelah zat kimia air limbah tersebut diserap oleh enceng gondok,
maka air tersebut di saring,,
7. dan terakhir air limbah yang sudah bersih akan di tampung, ke
tampungan yang ke empat, dimana tampungan keempat tersebut
diisi oleh ikan, yang fungsinya sebagai indikator. Jika Ikan tersebut
mati dalam jangka waktu tidak lama, berarti air limbah tersebut
belum benar-benar bersih.. untuk lebih jelasnya dapat melihat
gambar di bawah ini

3.3. Pengelolaan dan atau Pengembangan Sarana Pendukung Sekolah


Dalam mewujudkan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan
perlu didukung sarana dan prasarana yang mencerminkan upaya pengelolaan
lingkungan hidup. Lingkungan Sekolah yang kondusif sangat diperlukan agar
tercipta proses pembelajaran yang bermutu. Pemberian pengetahuan dan
pembentukan kesadaran tentang perilaku hidup bersih dan sehat dirasa sangat
efektif ketika dilakukan pada siswa sejak dini. Diharapkan ketika berada di luar
lingkungan sekolah, mampu menerapkan hidup bersih dan sehat seperti saat di
sekolahnya.
Sekolah yang berbudaya lingkungan sebagai salah satu wadah
peningkatan pengetahuan dan kemampuan siswa memiliki peran penting dalam
menyumbang perubahan yang terjadi dalam keluarga. Bagaimana menghargai air
bersih, memahami pentingnya penghijauan, memanfaatkan fasilitas sanitasi secara
tepat serta mengelola sampah menjadi pupuk tidak terpisahkan dalam upaya
peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat. Sebagai komponen terkecil dalam
masyarakat perubahan yang terjadi dalam keluarga akan memberi pengaruh pada
masyarakatnya.
Pengolahan lingkungan sekolah dapat dilakukan melalui peningkatan
pengetahuan dan kemampuan siswa dalam pengelolaan air, sampah, energi dan
halaman yang ada disekitar sekolah.
a) Pengelolaan Air di Sekolah

Ketersediaan air bersih disekolah sangat diperlukan dalam jumlah yang


relatif banyak. Hal ini mengingat jumlah warga sekolah yang terdiri dari siswa,
guru, dan karyawan dapat mencapai ratusan orang. Sehinga kebutuhan air bersih
akan lebih banyak lagi. Jenis kebutuhan air disekolah adalah untuk minum,
membersihkan lantai, membersihkan WC, mencuci peralatan laboratorium dan
menyiram tanaman.
Sumber air bersih yang digunakan bagi pemenuhan kebutuhan warga
sekolah dapat berasal dari air PDAM, sumur gali, sumur pompa, atau sumber
mata air, yang dialirkan bagi sekolah-sekolah yang terletak di pegunungan. Untuk
mengurangi keterbatasan air bersih disekolah, dapat dilakukan dengan upaya
penghematan melalui penentuan prioritas. Misalnya, air bersih hanya digunakan
untuk minum dan mengisi bak mandi, sedangkan untuk keperluan lainnya seperti
membersihkan WC, membersihkan lantai dan menyiram tanaman gunakanlah air
yang berasal dari bak-bak penampungan air hujan.
Selain itu untuk menciptakan suatu kondisi sekolah yang sehat, sekolah harus
memenuhi kriteria, antara lain kebersihan dan ventilasi ruangan, kebersihan
kantin, WC, kamar mandi, tempat cuci tangan, melaksanakan pelayanan
kesehatan, pendidikan kesehatan, bimbingan konseling dan manajemen peran
serta masyarakat.
Karena itu sekolah perlu menyediakan bak-bak penampungan air hujan,
baik berupa kolam maupun sumur-sumur resapan. Sumber air yang mengisi kolam
maupun sumur resapan sebaiknya berasal dari air hujan yang jatuh dari atap
bangunan sekolah atau dari air bekas wudhu dan cuci tangan. Kemudian dialirkan
melalui saluran pipa-pipa yang menuju kolam maupun sumur resapan, sehingga
airnya masih bersih belum bercampur lumpur. Sekolah-sekolah yang berada di
negara-negara maju umumnya sudah memiliki teknologi pengelolaan air limbah.
Sehingga air bersih yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan sekolah tidak
berasal dari sumbernya, akan tetapi menggunakan kembali air yang sudah dipakai
melalui teknologi air limbah.
Teknologi pengolahan air limbah yang digunakan tentu sangat mahal
harganya. Negara kita belum mampu memenuhi hal itu, apalagi diadakan
disekolah-sekolah yang jumlahnya sangat banyak. Ada carayang lebih efisien
untuk mengatasi keterbatasan air bersih disekolah yang dapat dilakukan oleh
warga sekolah. Cara tersebut adalah dengan melakukan penghematan air saat
pamakaian dan selalu menutup kran air apabila terlihat terbuka sehingga air tidak
terbuang percuma.
b) Pengelolaan Sampah di Sekolah
Agar pengelolaan sampah berlangsung dengan baik dan mencapai
tujuan yang diinginkan, maka setiap kegiatan pengelolaan sampah harus
mengikuti cara-cara yang baik dan benar. Apa pentingnya pengelolaan sampah
disekolah ? Pada prinsipnya semakin sedikit dan semakin dekat sampah dikelola
dari sumbernya, maka pengelolaannya akan semakin mudah dan baik, serta
lingkungan yang terkena dampak juga semakin sedikit. Tahapan-tahapan
pengelolaan sampah disekolah adalah :

Pencegahan dan pengurangan sampah dari sumbernya. Kegiatan ini dimulai


dengan kegiatan pemilahan atau pemisahan organik dan anorganik dengan
menyediakan tempat sampah organik dan anorganik disetiap kawasan sekolah.
Pemanfaatan kembali sampah terdiri atas :
- Pemanfaatan sampah organik, seperti komposting (pengomposan) sampah
yang mudah membusuk dapat diubah manjadi pupuk kompos yang ramah
lingkungan untuk melestarikan fungsi kawasan sekolah. Berdasarkan hasil
penelitian bahwa dengan melakukan kegiatan composting sampah organik
yang komposisinya mencapai 70 % dapat direduksi hingga mencapai 25 %.
- Pemanfaatan sampah anorganik, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Pemanfaatan kembali secara langsung, misalnya pembuatan kerajinan yang
berbahan baku dari barang bekas, atau kertas daur ulang. Sedangakan
pemanfaatan kembali secara tidak langsung, misalnya menjual barang bekas
seperti kertas, plastic, kaleng, koran bekas, botol, gelas dan botol air minum
dalam kemasan.
- Tempat pembuangan sampah akhir. Sisa sampah yang tidak dapat
dimanfaatkan secara ekonomis baik dari kegiatan komposting maupun
pemanfaatan sampah anorganik, jumlahnya mencapai + 10 % harus dibuang
ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA) disekolah..

c) Pengelolaan Energi di Sekolah


Penggunaan energi di sekolah sangat penting agar proses pembelajaran

dapat berjalan dengan baik. Penggunaan energi disekolah biasanya untuk


menerangi ruangan-ruangan, menyalakan barang-barang eletronik seperti
komputer dan media pembelajaran, mengalirkan pompa air dll. Terhadap fasilitas
umum seperti sekolah, hendaknya kita bersama-sama bertanggung jawab untuk
memelihara dan menghemat pada saat pemakaiannya. Banyak cara yang dapat
kalian lakukan dalam rangka pengelolaan energi disekolah, misalnya melalui
penggunaan cahaya matahari untuk menerangi ruangan-ruangan belajar dikelas,
perpustakaan, laboratorium, dll. Menghemat pemakaian air karena dialirkan
menggunakan listrik, mematikan lampu-lampu yang masih menyala saat siang
hari. Mematikan alat-alat elektronik seperti komputer dan televise saat sedang
tidak digunakan.

d) Pengelolaan Halaman Sekolah


Sekolah sebagai tempat belajar perlu memiliki lingkungan yang bersih
dan sehat agar tercipta suasana belajar yang nyaman. Kita bisa membayangkan
apabila sekolah kita kotor dan tidak sehat, tentu sangat mengganggu kegiatan
belajar mengajar. Pastikan ruangan kelas kalian bersih dari sampah, debu dan bau
yang tidak sedap. Bahkan kalian bias menambahkannya dengan wangi-wangian
dan tanaman hidup dalam pot. Lingkungan sekolah yang bersih dan sehat tidak
hanya di dalam kelas tetapi juga diluar kelas, seperti di halaman. Halaman sekolah
selain di tata keindahannya, juga perlu memperhatikan persyaratan kesehatan.
Halaman sekolah yang tidak sehat dapat menimbulkan berbagai macam penyakit
sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman bagi semua warga sekolah.

d. KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menggagas sekolah
berwawasan lingkungan (adiwiyata) di kota Magelang adalah sebuah program
untuk menjadikan sekolah-sekolah yang menerapkan nilai-nilai cinta dan peduli
lingkungan pada sekolahnya. Pengajaran yang berbasis lingkungan dan kesadaran
warga sekolah akan pentingnya lingkungan merupakan bagian terpenting dari
sekolah berwawasan lingkungan hidup. Sekolah berwawasan lingkungan juga
merupakan salah satu bentuk penghargaan yang di berikan pemerintah kepada
sekolah tersebut. Penghargaan tersebut di namakan penghargaan adiwiyata. Ada
beberapa komponen yang menjadi penilain sekolah berwawan lingkungan antara
lain.
1. Pengembangan Kebijakan Sekolah peduli dan Berbudaya Lingkungan.
2. Pengembanagan Kurikulum Berbasis Lingkungan.

3. Pengembangan Kegiatan Berbasis Partisipatif.


4. Pengelolaan dan Pengembangan Sarana Pendukung Sekolah
3.4 Keuntungan Program Adiwiyata
1. Mendukung pencapaian standar kompetensi/ kompetensi dasar dan
standar kompetensi lulusan (SKL) pendidikan dasar dan menengah
2. Meningkatkan efesiensi penggunaan dana operasional sekolah melalui
penghematan dan pengurangan konsumsi dari berbagai sumber daya dan
energi
3. Menciptakan kebersamaan warga sekolah dan kondisi bejar mengajar
yang lebih nyaman dan kondusif
4. Menjadikan tempat pembelajaran nilai-nilai pemeliharaan dan
pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan bemar bagi warga sekolah
dan masyarakat sekitar
5. Meningkatkan upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
melalui kegiatan pengendalian pencemaran, pengendalian kerusakan dan
pelestarian fungsi lingkungan sekolah

BABIV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Adiwiyata merupakan penghargaan sebagai daerah berwawasan
ingkungan. Dengan adanya isu pemanasan global kita perlu menjaga
lingkungan hidup kita. Karena dengan lingkungan hidup yang bersih, rindang
dan sehat, kita dan anak cucu kita dapat merasakan hidup yang sehat. Tapi ini
akan terjadi jika kita memiliki prilaku yang berwawasan lingkungan pula.
Karena dengan kita pesduli lingkungan, kita dapat menciptakan lingkungan
yang bersih, rindang dan sehat.
4.2 Saran
Untuk menjaga lingkungan, dapat kita lakukan dengan memilah
sampah. Kita dapat memilah sampah organic dan non organic. Dari pemilahab itu,
kita dapat memanfaatkan sampah tersebut sesuai jenisnya. Sampah iorganik dapat
kita jadikan kompos, sedangkan sampah non organic dengan prinsip reius,
recycle, dan redus kita hapat membuat barang tersebut lebih berguna. Satu kata
dari kami HIDUP ITU ALAM, ALAM ADALAH SUMBER KEHIDUPAN.

DAFTAR PUSTAKA
http://klh.solokkota.go.id/index.php?mod=feature&id=1
http://misbach138.wordpress.com/2012/07/13/konsep-5r/
http://jurnalorganik.blogspot.com/2013/05/cara-membuat-pupuk-komposorganik.htm
lhttp://bali-bisnis.com/wp-content/uploads/2013/01/hemat.jpg
https://sites.google.com/site/ptpankas/artikel/teruna-dutalingkungan/tempatsampahkereninovatif
http://misbach138.wordpress.com/2012/07/13/konsep-5rpengertian/