Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Dalam penyelenggaraan suatu proyek, kegiatan yang akan dihadapi sangat

kompleks. Hal ini tentu memerlukan suatu manajemen yang baik sehingga pada
akhirnya proyek dapat berjalan sesuai dengan rencana. Pelaksanan proyek harus
diselenggarakan secara menyeluruh mulai dari perencanaan, pembangunan fisik ,
sampai dengan pemeliharaan yang melibatkan bermacam-macam unsur dan
komponen pendukung.
Sebuah proyek akan berhasil jika di dalamnya terdapat pengorganisasian yang
baik. Pengorganisasian tersebut merupakan pengelolaan proyek dengan tujuan
mengatur tahaptahap pelaksanaan pekerjaan dalam mencapai sasaran. Selain itu,
suatu proyek juga akan berhasil jika disertai dengan analisis jaringan kerja yang
baik. Salah satu metode analisis jaringan kerja dalam suatu proyek adalah CPM
(critical path method ) atau metode jalur kritis. Oleh karena itu, dalam makalah ini
kami akan membahas lebih lanjut tentang CPM (critical path method ) atau metode
jalur kritis.
1.2.

Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi dari Program Evaluation and Review Technique (PERT)
2. Mengetahui manfaat Program Evaluation and Review Technique (PERT)
3. Mengetahui langkah dalam perencanaan Program Evaluation and Review
Technique (PERT)
4. Mengetahui karakteristik Program Evaluation and Review Technique (PERT)
5. Membahas dan menganalisis Program Evaluation and Review Technique
(PERT)
BAB II
DASAR TEORI

1-1

2.1 Pengertian Program Evaluation and Review Technique (PERT)


PERT merupakan singkatan dari Program Evaluation and Review Technique
(teknik menilai dan meninjau kembali program), sedangkan CPM adalah singkatan
dari Critical Path Method (metode jalur kritis) dimana keduanya merupakan suatu
teknik manajemen. Teknik PERT adalah suatu metode yang bertujuan untuk
sebanyak mungkin mengurangi adanya penundaan, maupun gangguan produksi,
serta mengkoordinasikan berbagai bagian suatu pekerjaan secara menyeluruh dan
mempercepat selesainya proyek. Teknik ini memungkinkan dihasilkannya suatu
pekerjaan yang terkendali dan teratur, karena jadwal dan anggaran dari suatu
pekerjaan

telah

ditentukan

terlebih

dahulu

sebelum

dilaksanakan.

Tujuan dari PERT adalah pencapaian suatu taraf tertentu dimana waktu merupakan
dasar penting dari PERT dalam penyelesaian kegiatan-kegiatan bagi suatu proyek.
Dalam metode PERT dan CPM masalah utama yaitu teknik untuk menentukan
jadwal kegiatan beserta anggaran biayanya dengan maksud pekerjaan-pekerjaan
yang telah dijadwalkan itu dapat diselesaikan secara tepat waktu serta tepat biaya.
Metodologi PERT divisualisasikan dengan suatu grafik atau bagan yang
melambangkan ilustrasi dari sebuah proyek. Diagram jaringan ini terdiri dari
beberapa titik (nodes) yang merepresentasikan kejadian (event) atau suatu titik
tempuh (milestone). Titik-titik tersebut dihubungkan oleh suatu vektor (garis yang
memiliki arah) yang merepresentasikan suatu pekerjaan (task) dalam sebuah
proyek. Arah dari vektor atau garis menunjukan suatu urutan pekerjaan.

1-2

Gambar 1.
Analogi diagram PERT
Dari gambar 1 dapat diamati bahwa setiap arah panah akan menunjukan
suatu urutan pengerjaan. Seperti pekerjaan 1 dilakukan terlebih dahulu (start),
kemudian bisa dilanjutkan oleh pekerjaan 2, 3, 4, setelah itu pekerjaan 5,6. Titik 7
adalah titik finish dimana pekerjaan terakhir dilakukan dan merupakan akhir dari
sebuah proyek. Selain menunjukkan suatu urutan pengerjaan diagram PERT juga
menunjukan suatu keterikatan antar pekerjaan yang tidak dapat dipisahkan.
Keterikatan itu dapat dilihat dengan contoh pekerjaan 2, 3, 4 hanya dapat dilakukan
jika pekerjaan 1 sudah selesai dilakukan.
Sebuah pekerjaan yang dapat dilakukan bersamaan dengan pekerjaan lain
disebut juga sebagai pekerjaan pararel (pararel task atau concurrent task). Selain
itu terdapat juga sebuah aktivitas yang diwakili oleh garis putus-putus yang disebut
dengan dummy activities. Dari sebuah diagram PERT dapat digunakan untuk
mengetahui suatu urutan aktivitas kritis atau aktivitas yang harus dilakukan sebagai
prioritas utama (critical path), penjadwalan dengan aktivitas lain, dan jumlah pekerja
yang dibutuhkan.

1-3

2.2.

Manfaat Program Evaluation and Review Technique (PERT)


Adapun manfaat dari Critical Part Method (CPM) dalam suatu proyek adalah
sebagai berikut :

1. Mengetahui ketergantungan dan keterhubungan tiap pekerjaan dalam suatu


proyek.
2. Dapat mengetahui implikasi dan waktu jika terjadi keterlambatan suatu
pekerjaan.
3. Dapat mengetahui kemungkinan untuk mencari jalur alternatif lain yang lebih
baik untuk kelancaran proyek.
4. Dapat mengetahui kemungkinan percepatan dari salah satu atau beberapa jalur
kegiatan.
5. Dapat mengetahui batas waktu penyelesaian proyek.

2.3 .

Langkah Dalam Perencanaan Program Evaluation and Review Technique


Dalam melakukan perencanaan dengan PERT dibutuhkan beberapa langkah,

yaitu:
1. Mengidentifikasi

aktivitas

(activity)

dan

titik

tempuhnya

(milestone).

Sebuah aktivitas adalah pekerjaan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan


sebuah

proyek. Titik tempuh (milestone) adalah penanda kejadian pada awal

dan akhir satu atau lebih aktivitas. Untuk mengidentifikasi aktivitas dan titik
tempuh dapat menggunakan suatu tabel agar lebih mudah dalam memahami
dan menambahkan informasi lain seperti urutan dan durasi.
2. Menetapkan urutan pengerjaan dari aktivitas-aktivitas yang telah direncanakan.
Langkah ini bisa dilakukan bersamaan dengan identifikasi aktivitas. Dalam

1-4

menentukan urutan pengerjaan bisa diperlukan analisa yang lebih dalam untuk
setiap pekerjaan.
3. Membuat
suatu

diagram

jaringan

(network

diagram).

Setelah mendapatkan urutan pengerjaan suatu pekerjaan maka suatu diagram


dapat dibuat. Diagram akan menunjukan pekerjaan-pekerjaan yang harus
dilakukan berurutan(serial) atau secara bersamaan (pararell). Pada diagram
PERT biasanya suatu pekerjaan dilambangkan dengan simbol lingkaran dan titik
tempuh dilambangkan dengan simbol panah.
4. Memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk

setiap

aktivitas.

Dalam

menentukan waktu dapat menggunakan satuan unit waktu yang sesuai misal
jam, hari, minggu, bulan, dan tahun.
5. Menetapkan suatu jalur kritis (critical path). Suatu jalur kritis bisa didapatkan dengan
menambah waktu suatu aktivitas pada tiap urutan pekerjaan dan menetapkan jalur
terpanjang pada tiap proyek. Biasanya sebuah jalur kritis terdiri dari pekerjaan-pekerjaan
yang tidak bisa ditunda waktu pengerjaannya. Dalam setiap urutan pekerjaan terdapat
suatu penanda waktu yang dapat membantu dalam menetapkan jalur kritis, yaitu :
a. ES Early Start
b. EF Early Finish
c. LS Latest Start
d. LF Latest Finish
Dengan menggunakan empat komponen penanda waktu tersebut bisa
didapatkan suatu jalur kritis sesuai dengan diagram.
6. Melakukan pembaharuan diagram PERT sesuai dengan kemajuan proyek.
Sesuai dengan berjalannya proyek dalam waktu nyata. Waktu perencanaan
sesuai dengan diagram PERT dapat diperbaiki sesuai dengan waktu nyata.
Sebuah diagram PERT mungkin bisa digunakan untuk merefleksikan situasi baru
yang belum pernah diketahui sebelumnya.
2.4.

Karakteristik Program Evaluation and Review Technique (PERT)


Dari langkah-langkah penjelasan metode PERT maka bisa dilihat suatu

karakteristik dasar PERT, yaitu sebuah jalur kritis. Dengan diketahuinya jalur kritis ini

1-5

maka suatu proyek dalam jangka waktu penyelesaian yang lama dapat
diminimalisasi.
Ciri-ciri jalur kritis adalah:
1. Jalur yang biasanya memakan waktu terpanjang dalam suatu proses.
2. Jalur yang tidak memiliki tenggang waktu antara selesainya suatu tahap kegiatan
dengan mulainya suatu tahap kegiatan berikutnya.
3. Tidak adanya tenggang waktu tersebut yang merupakan sifat kritis dari jalur
kritis.
2.5.
1.

KARAKTERISTIK PROYEK (PERT)


Kegiatannya dibatasi oleh waktu; sifatnya sementara, diketahui kapan mulai dan
berakhirnya.

2.

Dibatasi oleh biaya.

3.

Dibatasi oleh kualitas.

4.

Biasanya tidak berulang-ulang.

1-6

BAB III
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

3.1.

Membuat Daftar Kegiatan Proyek atau Proses


Analisis activity network diagram dimulai dengan menyiapkan dan menyusun
daftar kegiatan atau pekerjaan yang diperlukan dalam rencana proyek atau proses.
Untuk setiap kegiatan, kita perlu tahu apakah ada kegiatan lain yang harus
dilakukan sebelum memulai kegiatan tersebut (predecessor) , dan berapa lama
kegiatan tersebut harus dilakukan (durasi). Jangan lupa memberikan kode untuk
setiap jenis kegiatan (misalnya dengan huruf: A, B, C, D, dan seterusnya) agar
memudahkan saat menggambar dan menganalisis diagram. Tabel 1 berikut adalah
contoh daftar kegiatan yang diperlukan dalam rencana suatu proyek.
Tabel 1
Daftar Kegiatan Proyek
Kegiatan

Deskripsi

Predecessor Kegiatan

Durasi, bulan

1-7

3.2.

Perancangan produk

Penelitian pasar

Analisis produksi

Model produk

Brosur penjualan

Analisis biaya

Pengujian produk

Pelatihan penjualan

B, E

Penetapan harga

Pelaporan proyek

F, G, I

Menggambar Diagram
Metode analisis yang akan dipakai dalam contoh ini menggunakan diagram
AOA sehingga setiap node merupakan tahap penyelesaian proyek. Simbol yang
digunakan untuk node biasanya berupa lingkaran seperti yang diperlihatkan
Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Simbol Node


Agar dapat menyajikan informasi yang diperlukan, simbol node berbentuk
lingkaran dibagi tiga ruang, ruang pertama sebelah kiri digunakan untuk memberi
identitas peristiwa yang berupa nomor node. Ruang kedua dan ketiga sebelah
kanan digunakan untuk memperlihatkan kapan terjadinya kejadian (peristiwa), yang
mana bagian kanan atas menunjukkan waktu peristiwa paling awal atau earliest
event time (EET) dan bagian kanan bawah menunjukkan waktu peristiwa paling
akhir atau latest event time (LET).
1-8

Untuk menggambarkan setiap kegiatan yang ada dalam daftar kegiatan


proyek, kita memulai dengan membuat node nomor 1. Dari node nomor 1, tarik
keluar garis panah kegiatan yang tidak memiliki predecessor, yakni: A dan B.
Jangan lupa bubuhkan kode kegiatan pada pangkal garis panah diikuti oleh
durasinya. Kemudian, buat node nomor 2 di ujung garis panah A, dan node nomor 3
di ujung garis panah B.
Oleh karena A adalah predecessor bagi C, D, dan E maka tarik keluar
garis panah untuk C, D, dan E dari node nomor 2. Buat node nomor 4 pada ujung
garis panah C dan node nomor 5 pada ujung garis panah D. Sedangkan untuk garis
panah E tidak dibuatkan node baru melainkan masuk ke node nomor 3 (node di
ujung garis panah B). Hal ini karena B dan E sama-sama menjadi predecessor
untuk H saja.
Buatlah garis panah dan node berikutnya sampai semua kegiatan
tergambarkan. Hasilnya akan terlihat seperti Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Konstruksi Activity Network Diagram

1-9

Beberapa konvensi tentang bagaimana cara menggambar diagram AOA


adalah:
1.

Semua kegiatan tanpa predecessor datang dari node nomor 1.

2.

Semua kegiatan tanpa successor mengarah ke node nomor terbesar (node


terakhir).
Dalam contoh yang diperlihatkan Gambar 2, A dan B adalah dua kegiatan

yang tidak memiliki predecessor. Keduanya berbentuk garis panah yang keluar dari
node nomor 1.
Lihat juga J adalah kegiatan yang tidak memiliki successor. Oleh karena
itu, garis panah J masuk ke node terakhir, yaitu node nomor 8 (node nomor
terbesar dalam contoh ini). Jika ada lebih dari satu kegiatan tanpa successor, maka
semua garis panah kegiatan masuk ke node nomor terbesar.

3.3.

Menghitung dan Menganalisis Earliest Event Time (EET)


Cara menentukan earliest event time (EET) pada setiap node adalah
dengan menggunakan perhitungan ke muka (forward), yaitu: kita mengawali
perhitungan dari node nomor 1 dengan anggapan waktu mulai sama dengan nol,
selanjutnya bergerak dalam jaringan untuk menghitung:

1. EET yang terjadi, Ei,


2. waktu mulai tercepat atau earliest start (ES), dan
3. waktu selesai tercepat atau earliest finish (EF)
untuk setiap kegiatan dalam jaringan sampai perhitungan berakhir di node
terakhir. Berikut metode perhitungannya:
(i)

Jadikan EET yang terjadi pada permulaan proyek sama dengan nol,
artinya,
E1 = 0.

(ii)

ES untuk setiap kegiatan (i,j) adalah sama dengan Ei untuk peristiwa


sebelumnya, artinya,
ESij = Ei.

1-10

(iii

EF untuk setiap kegiatan (i,j) adalah sama dengan ES ditambah durasi

kegiatan. Artinya,
EFij = ESij + Dij,
atau

EFij = Ei + Dij.

(iv

EET untuk peristiwa j adalah maksimum EF dari semua kegiatan yang

berakhir ke dalam peristiwa tersebut. Artinya,


Ej = maxi {EFij untuk semua predecessor (i,j)}
Ej = maxi {Ei + Dij}
yang mana D adalah durasi kegiatan. Dalam perhitungan ini, kegiatan
diidentifikasi oleh predecessor node (atau peristiwa) i dan successor
node j.
Untuk activity network diagram Gambar 2, perhitungan EET adalah sebagai

berikut:
Langkah 1

E1

Langkah 2
j=2

E2

max{E1 + D12} = max{0 + 5} = 5

j=3

E3

=
=

max{E1 + D13; + E2 + D23}


max{0 + 1; 5 + 2} = 7

j=4

E4

max{E2 + D24} = max{5 + 2} = 7

j=5

E5

max{E2 + D25} = max{5 + 3} = 8

j=6

E6

max{E3 + D36} = max{7 + 2} = 9

j=7

E7

=
=

max{E4 + D47; E5 + D57; E6 + D67}


max{7 + 3; 8 + 4; 9 + 1} = 12

j=8

E8

max{E7 + D78} = max{12 + 1} = 13

Hasilnya akan terlihat seperti Gambar 3 di bawah ini.

1-11

Gambar 3.
Perhitungan ke Muka untuk Menghitung dan Menganalisis Earliest Event Time (EET)
Dengan demikian, waktu minimum yang diperlukan untuk menyelesaikan
proyek ini adalah 13 bulan, E(8) = 13.
3.4.

Menghitung dan Menganalisis Latest Event Time (LET)


Untuk menentukan latest event time (LET) pada setiap node adalah
dengan menggunakan perhitungan ke belakang (backward), yaitu: perhitungan
waktu mulai terlama atau latest start (LS) dan waktu selesai terlama atau latest
finish (LF) untuk setiap kegiatan dalam jaringan yang dimulai dari node terakhir
dengan Ln sama dengan En pada node terakhir (yang kita ketahui dari perhitungan
ke muka) sampai perhitungan berakhir di node nomor 1. Berikut metode
perhitungannya:
(i)

Untuk peristiwa terakhir anggap


En = L n.
Ingat bahwa semua ES telah dihitung pada tahap perhitungan ke
muka.

(ii)

LF untuk setiap kegiatan (i,j) adalah sama dengan LET dari peristiwa j,
LFij = Lj.

1-12

(iii

LS untuk setiap kegiatan (i,j) adalah sama dengan LF dikurangi durasi

kegiatan. Artinya,
atau,

LSij = LFij Dij,

atau

LSij = Lj Dij.

(iv

LET untuk peristiwa i adalah minimum LS dari semua kegiatan yang

berasal dari peristiwa tersebut. Artinya,


Li = minj {LSij untuk semua successor (i,j)}
Li = minj {LFij Dij}
Li = minj {Lj Dij}

Perhitungan LET untuk proyek dalam Tabel 1 adalah sebagai berikut:


Langkah 1

L8

E8 = 13

i=7

L7

min{L8 D78} = min{13 1} = 12

i=6

L6

min{L7 D67} = min{12 1} = 11

i=5

L5

min{L7 D57} = min{12 4} = 8

i=4

L4

min{L7 D47} = min{12 3} = 9

i=3

L3

min{L6 D36} = min{11 2} = 9

i=2

L2

=
=

min{L3 D23; L4 D24; L5 D25}


min{9 2; 9 2; 8 3} = 5

i=1

L1

=
=

min{L2 D12; L3 D13}


min{5 5; 5 1} = 0

Langkah 2

Hasilnya akan terlihat seperti Gambar 4 di bawah ini.

1-13

Gambar 4.
Perhitungan ke Belakang untuk Menghitung dan Menganalisis Latest Event Time
(LET)
Bila kita perhatikan Gambar 4 di atas terdapat beberapa node
dengan EET = LET. Inilah node yang akan berada pada jalur kritis (critical path).
3.5.

Menentukan Jalur Kritis


Definisi jalur kritis menurut salah satu penemu CPM adalah:
If there is a path from origin to terminus whose length equals the duration
of the schedule, it is called a critical-path. (Kelley, 1961, p. 317)
Dengan kata lain total waktu jalur kritis akan sama dengan umur proyek.
Hal ini berarti jalur kritis adalah jalur yang memiliki waktu terpanjang dari semua
jalur yang dimulai dari peristiwa awal sampai peristiwa yang terakhir dalam activity
network diagram.
Oleh karena itu, jalur kritis menunjukkan kegiatan-kegiatan kritis di dalam
proyek. Kelley (1961) menambahkan tentang maksud kegiatan-kegiatan kritis:
All the activities in a critical-path are limiting in the sense that a delay in any one of
them will cause a comparable delay in the completion of the project. Therefore, they
are called critical activities. (Kelley, 1961, p. 317)
Maksudnya, suatu kegiatan disebut dengan kegiatan kritis bila suatu delay
atau penundaan waktu di kegiatan ini akan mempengaruhi waktu penyelesaian
keseluruhan dari proyek. Oleh karena itu, kegiatan disebut tidak kritis bila kegiatan

1-14

ini mempunyai delay. Delay pada kegiatan tidak kritis disebut slack atau float time
(waktu mengambang).
Konsep float sangat berharga karena memberikan fleksibilitas atau ruang
manuver pada penjadwalan untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu sehingga
ada suatu periode waktu di mana kegiatan dapat meleset tetapi tidak
mempengaruhi jalur kritis dan tanggal penyelesaian. Menurut Hendrickson & Tung
(2008), terdapat tiga kategori float, yaitu:
(i)

Free float adalah banyaknya delay yang dapat ditugaskan untuk setiap
satu kegiatan tanpa menunda kegiatan selanjutnya. Free float, FFij,
untuk aktivitas (i,j) adalah:
FFij = Ej Ei Dij.

(ii
)

Independent float adalah banyaknya delay yang dapat ditugaskan


untuk setiap satu kegiatan tanpa menunda kegiatan selanjutnya atau
membatasi penjadwalan kegiatan sebelumnya. Independen float, IFij,
untuk kegiatan (i,j) dihitung sebagai berikut:
IFij = {0Ej Li Dij

(iii

Total float adalah maksimum banyaknya delay yang dapat ditugaskan

untuk setiap kegiatan tanpa menunda keseluruhan proyek. Total Float,


TFij, untuk setiap kegiatan (i,j) dihitung sebagai berikut:
TFij = Lj Ei Dij
Secara grafis, ketiga macam float time dan slack time diilustrasikan pada

contoh Gambar 5 berikut.

1-15

Gambar 5. Ilustrasi Contoh Float Time dan Slack Time

Delay kegiatan di jalur kritis akan menyebabkan delay waktu penyelesaian


proyek, sedang delay di jalur tidak kritis mungkin tidak akan menunda waktu
penyelesaian proyek sejauh delay tidak melebihi slack dan float time untuk masingmasing kegiatan tidak kritis
Dalam suatu activity network diagram mungkin saja kita menemui lebih
dari satu jalur kritis, bahkan semua jalur memungkinkan untuk menjadi jalur kritis.
Jalur kritis memiliki kepekaan sangat tinggi atas keterlambatan penyelesaian suatu
proyek. Keterlambatan pada jalur ini akan memperlambat penyelesaian waktu
proyek secara keseluruhan, meskipun kegiatan lain tidak mengalami keterlambatan.
Kita dapat

mempercepat penyelesaian proyek secara keseluruhan dengan

mempercepat waktu penyelesaian kegiatan kritis. Jalur kritis dapat saja berubah
sebagai akibat dari keterlambatan atau percepatan penyelesaian kegiatan.
Cara menentukan jalur kritis pada activiy network diagram adalah dengan
menulusuri jalur terpanjang dari awal sampai akhir proyek, yakni jalur yang melalui
node dengan EET = LET, kemudian tandai jalur kritis tersebut dengan garis tebal
1-16

atau berwarna. Perhatikan Gambar 6 di bawah ini, jalur yang ditandai dengan garis
berwarna merah adalah jalur kritis untuk proyek dalam Tabel 1.

Gambar 6.
Jalur Kritis dalam Activity Network Diagram
Gambar 6 di atas memperlihatkan node nomor 1, 2, 5, 7, dan 8 berada di
jalur kritis. Selanjutnya perhatikan Tabel 2 di bawah ini yang memperlihatkan ES
dan LS (Tabel 2.a) termasuk float time (Tabel 2.b) setiap kegiatan. Tampak
kegiatan A, D, G, dan J berada di jalur kritis karena kegiatan-kegiatan tersebut tidak
mempunyai waktu delay (perhatikan tanda cek pada Tabel 2.b).
Tabel 2
Tabel Analisis Jalur Kritis
(a) Perhitungan earliest start dan latest start time
No.

Kegiatan Durasi,

EET

LET

Earliest start time,

Latest start time,

(i, j)

Dij

Ei

Ej

Li

Lj

ESij = Ei

LSij = Lj Dij

A (1, 2)

B (1, 3)

C (2, 4)

1-17

D (2, 5)

E (2, 3)

F (4, 7)

12

12

G (5, 7)

12

12

H (3, 6)

11

I (6, 7)

12

11 12

11

10

J (7, 8)

12 13 12 13

12

12

(b) Perhitungan activity float time


No.

Kegiatan Durasi,

EET

LET

Free float,

Indp. float,

Total float,

FFij = Ej Ei Dij

IFij = Ej Li Dij

TFij = Lj Ei Dij

(i, j)

Dij

Ei Ej

A (1, 2)

B (1, 3)

C (2, 4)

D (2, 5)

E (2, 3)

F (4, 7)

12

12 2

G (5, 7)

12

12 0

H (3, 6)

11 0

I (6, 7)

12

11 12 2

10

J (7, 8)

12 13 12 13 0

Li

Lj

Activity network diagram yang erat kaitannya dengan metode CPM dan
diagram PERT telah lama digunakan untuk tujuan memperlihatkan jalur
1-18

penyelesaian suatu proyek, menemukan waktu penyelesaian proyek sesingkat


mungkin, dan menggambarkan bagaimana kegiatan dapat serentak dilakukan
dalam suatu proyek. Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat
activity network diagram:
1. Semua kegiatan dalam proyek, termasuk estimasi waktu yang dibutuhkan untuk
setiap kegiatan, sebaiknya direncanakan dan dikomunikasikan bersama semua
anggota team melalui mekanisme brainstorming. Estimasi waktu biasanya
menggunakan pengalaman masa lalu atau perkiraan dari para praktisi.
2. Kegiatan terurut dari awal sampai akhir, tidak boleh ada duplikasi kegiatan. Jika
penambahan suatu kegiatan terjadi, kegiatan tambahan ini harus teridentifikasi
dan digambarkan.
3. Evaluasi kembali estimasi waktu terpendek, terpanjang, dan rata-rata untuk
setiap kegiatan, dan identifikasi jalur terpanjang melalui jaringan.
4. Gunakan diagram untuk melacak kemajuan atau progres setiap kegiatan. Pada
saat proyek berlangsung, estimasi waktu dapat diperbarui sesuai dengan
diperolehnya informasi dan asumsi baru. Tak hanya estimasi waktu, kita juga
mungkin akan menemukan sebuah jalur kritis baru dan perubahan bentuk
jaringan.

BAB IV
PENUTUP
4.1.

Kesimpulan
Penjadwalan

produksi

yang

optimal

sangat

dibutuhkan

untuk

meningkatkan efisiensi dalam proses produksi, untuk memenangkan tingkat

1-19

persaingan dalam dunia industri dewasa ini. Hal ini dikarenakan faktor efisiensi ini
sangat erat kaitannya dengan biaya dan waktu produksi.
Memanfaatkan

teknologi

komputer

yang

saat

ini

semakin

pesat

perkembangannya, perhitungan waktu dan pengujian berbagai kondisi dan ketentuan


yang cukup rumit yang ada dalam sistem produksi tidak lagi sulit untuk dilakukan,
karena hal tersebut dapat dengan cepat dan akurat dilakukan oleh komputer.
Berdasarkan perancangan yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan :
1. Program aplikasi yang dirancang dengan menerapkan konsep Network Planning
untuk pemodelan sistemnya dan rumusan PERT sebagai perhitungannya, serta
time table sebagai alat bantu penyusunan jadwalnya berhasil mencapai
tujuannya, yaitu menjawab keutuhan akan tuntutan pasar untuk perencanaan
produksi beserta penjadwalannya secara cepat, optimal, tepat dan akurat.
2. Rumusan perhitungan PERT dapat mengakomodasikan probabilitas waktu
pelaksanaan

aktifitas

secara

umum,

dan

dapat

memperkirakan

waktu

75pelaksanaan proyek secara keseluruhan pada suatu tingkat kepercayaan


tertentu, dengan menggunakan statistik normal baku Z.
3. Perancangan ini mempunyai implikasi terhadap pihak-pihak yang memerlukan
kecepatan dan ketepatan dalam perencanaan produksi, khususnya departemen
PPIC

dalam

suatu

organisasi

produksi.

Dan

secara

umum, departemen

marketingjuga dapat dengan mudah menentukan delivery time secara umum


kepada pelanggan.
4. Waktu pemrosesan dapat dikatakan relatif cepat, karena terjadi dalam hitungan
milidetik. Untuk kondisi yang ada pada saat ini, jumlah data yang ada tidak
mempengaruhi kinerja dan konsumsi waktu dari program aplikasi ini.

1-20

Daftar Pustaka

Agustini, D. H., & Rahmadi, Y. E. (2004). Riset operasional: Konsep-konsep dasar. Jakarta:
Rineka Cipta.
Baker, S. L. (2004). Critical path method (CPM). Retrieved from
http://hspm.sph.sc.edu/COURSES/J716/CPM/CPM.html
Hendrickson, C., & Tung, A. (2008). Project management for construction: Fundamental
concepts for owners, engineers, architects and builders. (2.2 ed., chap. 10.3). Pittsburgh,
PA: Prentice Hall. Retrieved from http://pmbook.ce.cmu.edu/
Kelley Jr., J. E. (1961). Critical-path planning and scheduling: Mathematical basis. Operations
Research, 9(3), 296320. Retrieved from
http://or.journal.informs.org/content/9/3/296.full.pdf
Kusnadi, E. (2012, March 18). Activity network diagram: Bagian pertama [Web log post].
Retrieved from https://eriskusnadi.wordpress.com/2012/03/18/activity-network-diagrampart-1/
Tague, N. R. (2005). The quality toolbox. (2th ed.). Milwaukee, Wisconsin: ASQ Quality Press.
Available from http://asq.org/quality-press/display-item/index.html?item=H1224
Taylor, J. (2008). Project scheduling and cost control: Planning, monitoring and controlling the
baseline. Ft. Lauderdale, Fla: J. Ross Pub
1-21

1-22