Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

TRAUMA TULANG BELAKANG


Untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Emergency Nursing Yang dibimbing oleh
Ns. M. Fathoni, S.Kep., MNS.

Disusun oleh :
Kelompok 2
Dewi Yulia Rahmayati

125070218113064

Dwi Anjelina

125070218113040

KeyfinAliffah R.K

125070218113044

Nyoman Annisa Abdullah 125070218113016


Yessie Rohan

125070218113036

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka kami
dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul Trauma Tulang Belakang tepat pada
waktunya.
Dalam penyusunan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada
pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada :
1. Ns. M. Fathoni, S.Kep., MNS dosen pembimbing kami pada mata kuliah Emergency
Nursing
1. Orang tua dan teman-teman anggota kelompok.
2. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan
bantuan dalam penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, oleh karena itu kritik dan saran dari
semua pihak yang bersifat membangun penulis harapkan demi mencapai kesempurnaan
makalah berikutnya.
Sekian

penulis

sampaikan

terimakasih

kepada

semua

pihak

yang

membantu.Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita.Amin.

Kediri, 5 Mei 2015

Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL............................................................................................1

telah

KATA PENGANTAR...........................................................................................2
DAFTAR ISI.......................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................5
1.1 Latar Belakang...........................................................................................5
1.2 Rumusan Masalah.....................................................................................5
1.3 Tujuan........................................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................7
2.1 Konsep Penyakit........................................................................................7
2.1.1 Definisi Trauma Tulang Belakang............................................................7
2.1.2. Etiologi Trauma Tulang Belakang...........................................................7
2.1.3 Klasifikasi Trauma Tulang Belakang........................................................8
2.1.4 Patofisiologi Trauma Tulang Belakang....................................................9
2.1.5. Manifestasi Klinis Trauma Tulang Belakang...........................................10
2.1.6. Prognosis Trauma Tulang Belakang.......................................................11
2.1.7. Pemeriksaan Diagnostik Trauma Tulang Belakang ...............................11
2.1.8. Komplikasi Trauma Tulang Belakang.....................................................12
2.1.9. Penatalaksanaan Trauma Tulang Belakang...........................................12
2.2.Konsep Asuhan .........................................................................................14
2.2.1. Pengkajian.............................................................................................14
2.2.2. Prioritas Diagnosa..................................................................................17
2.2.3. Diagnosa Pertama.................................................................................18
2.2.4. Diagnosa Kedua.....................................................................................19
2.2.5.Diagnosa Ketiga......................................................................................21
BAB III PEMBAHASAN...................................................................................24

BAB IV PENUTUP...........................................................................................28
3.1 Kesimpulan................................................................................................28
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................29

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
4

Trauma pada tulang belakang adalah cidera mengenai servikalis, vertebralis


dan lumbalis, akibat dari suatu trauma yang mengenai tulang belakang, seringkali
oleh kecelakaan lalu lintas. Semua trauma tulang belakang harus dianggap suatu
trauma yang hebat, sehingga sejak awal pertolongan dan transportasi ke rumah sakit
penderita harus diperlakukan secara hati-hati trauma pada tulang belakang dapat
mengenai jaringan lunak pada tulang belakang yaitu ligamen, dan diskus tulang
belakang sendiri dan sumsum tulang belakang. (Suzanne C. Smeltzer :2008).
Apabila cedera itu mengenai daerah L1-2 dan atau dibawahnya maka dapat
mengakibatkan hilangnya fungsi motorik dan sensorik serta kehilangan fungsi
defekasi dan berkemih. Cidera medulla spinalis diklasifikasikan sebagai komplet dan
tidak komplet. Cidera medulla spinalis adalah masalah kesehatan mayor yang
mempengaruhi 150.000 orang di Amerika Serikat, dengan perkiraan 10.000 cedera
baru yang terjadi setiap tahun. Kejadian ini lebih dominan pada pria usia muda
sekitar lebih dari 75% dari seluruh cedera. Data dari bagian rekam medik Rumah
Sakit Umum Pusat Fatmawati didapatkan dalam 5 bulan terakhir terhitung dari
Januari sampai Juni 2003 angka kejadian angka kejadian untuk fraktur adalah
berjumlah 165 orang yang di dalamnya termasuk angka kejadian untuk cidera
medulla spinalis yang berjumlah 20 orang (12,5%). Pada usia 45-an fraktur banyak
terjadi pada pria di bandingkan pada wanita karena olahraga, pekerjaan, dan
kecelakaan bermotor. Tetapi belakangan ini wanita lebih banyak dibandingkan pria
karena faktor osteoporosis yang di asosiasikan dengan perubahan hormonal
(menopause). (Medical Surgical Nursing, Charle :2008).
Klien yang mengalami cidera medula spinalis membutuhkan perhatian lebih
diantaranya dalam pemenuhan ADL dan dalam pemenuhan kebutuhan untuk
mobilisasi pada L2-membutuhkan perhatian lebih diantaranya dalam pemenuhan
kebutuhan ADL dan dalam pemenuhan kebutuhan untuk mobilisasi. Selain itu klien
juga beresiko mengalami komplikasi cedera spinal seperti syok spinal, trombosis
vena profunda, gagal napas : pneumonia dan hiperfleksia autonomic. Maka dari itu
sebagai perawat merasa perlu untuk dapat membantu dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan cidera medulla spinalis dengan cara promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif sehingga masalahnya dapat teratasi dan klien
dapat terhindar dari masalah yang paling buruk. (Medical Surgical Nursing, Charle :
2008).

1.2 Rumusan Masalah


Apa definisi Trauma Tulang Belakang?
Apa etiologi Trauma Tulang Belakang?
5

Apa klasifikasi Trauma Tulang Belakang?


Apa manifestasi Klinis Trauma Tulang Belakang?
Bagamana prognosis Trauma Tulang Belakang?
Bagamana patofisiologi Trauma Tulang Belakang?
Apa komplikasi Trauma Tulang Belakang?
Apa saja penatalaksanaan Trauma Tulang Belakang
Bagaimana asuhan keperawatan pada Trauma Tulang Belakang?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui definisi Trauma Tulang Belakang
Untuk mengetahui etiologi Trauma Tulang Belakang
Untuk mengetahui klasifikasi Trauma Tulang Belakang
Untuk mengetahui manifestasi Klinis Trauma Tulang Belakang
Untuk mengetahui prognosis Trauma Tulang Belakang
Untuk mengetahui patofisiologi Trauma Tulang Belakang
Untuk mengetahui komplikasi Trauma Tulang Belakang
Untuk mengetahui penatalaksanaan Trauma Tulang Belakang
Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada Trauma Tulang Belakang

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 . KONSEP PENYAKIT
2.1.1. DEFINISI
Medula spinalis (spinal cord) merupakan bagian susunan saraf pusat yang terletak
didalam kanalis vetralis dan menjulur dari fenomena magnum ke bagian atas region
lumbalis. Trauma pada medula spinalis dapat bervariasi dari trauma ektensi fiksasi
ringan yang terjadi akibat benturan secara mendadak sampai yang menyebabkan
transeksi lengkap dari medula spinalis dengan quadriplegia (Fransiska, 2008)

Trauma pada tulang belakang adalah cedera yang mengenai servikalis, vertebralis,
dan lumbalis akubat dari suatu trauma yang mengenai tulang belakang. Chairudin
Rasjad (1998) menegaskan bahwa semua trauma tulang belakang harus dianggap
suatu trauma yang hebat sehingga sejak awal pertolongan pertama dan transportasi ke
rumah sakit penderita harus diperlakukan secara hati-hati. Trauma pada tulang
belakang dapat mengenai jaringan lunak pada tulang belakang, yaitu ligamen dan
diskus, tulang belakang, dan sumsum tulang belakang (Arif, 2008).

2.1.2. ETIOLOGI
1. Kecelakaan di jalan raya
2. Olahraga
3. Menyelam pada air yang dangkal.
4. Luka tembak atau luka tikam
5. Jatuh dari pohon atau bangunan
6. Kecelakaan industri
7. Gangguan lain yang dapat menyebabkan cedera medulla spinalis slompai, yang seperti spondiliosis
servikal dengan mielopati, yang menghasilkan saluran sempit dan mengakibatkan cedera progresif
terhadap medulla spinalis dan akar mielitis akibat proses inflamasi infeksi maupun
non infeksi osteoporosis yang disebabkan oleh fraktur kompresi pada vertebra, singmelia, tumor
infiltrasi maupun kompresi, dan penyakit vascular.

2.1.3. KLASIFIKASI
1. stabil
a. Fleksi
Cedera fleksi akibat fraktura kompresi baji dari vertebra torakolumbal umum
ditemukan dan stabil. Kerusakan neurologik tidak lazim ditemukan. Cedera ini menimbulkan
rasa sakit, dan penatalaksanaannya terdiri atas perawatan di rumah sakit selama beberapa hari
istorahat total di tempat tidur dan observasi terhadap paralitik ileus sekunder terhadap
keterlibatan ganglia simpatik.
b. Fleksi ke Lateral dan Ekstensi
Cedera ini jarang ditemukan pada daerah torakolumbal. Cedera ini stabil, dan defisit
neurologik jarang. Terapi untuk kenyamanan pasien (analgetik dan korset) adalah
semua yang dibutuhkan.
c. Kompresi Vertikal

Tenaga aksial mengakibatkan kompresi aksial dari 2 jenis : (1) protrusi diskus ke
dalam lempeng akhir vertebral, (2) fraktura ledakan. Yang pertama terjadi pada
Trauma mengenai tulang belakang
pasien muda dengan protrusi nukleus melalui lempeng akhir vertebra ke dalam

tulang berpori yang lunak. Ini merupakan fraktura yang stabil, dan defisit neurologik
Cedera kolumna vetebralis, Cedera medulla spinali
tidak terjadi. Meskipun fraktura ledakan agak stabil, keterl ibatan neurologik dapat
terjadi karena masuknya fragmen ke dalam kanalis spinalis.
2. Tidak stabil
Fraktur mempengaruhi kemampuan untuk menggeser lebih jauh. Hal ini disebabkan
Kerusakan
jalur sipatetik
desending
oleh adanya
elemen rotasi
terhadap cedera
fleksi atau Perdarahan
ekstensi yangmikroskopik
cukup untuk
merobek ligamen longitudinal posterior serta merusak keutuhan arkus neural, baik
akibat fraktur pada fedekel dan lamina, maupun oleh dilokasi sendi apofiseal.
Kehilangan kontrol tonus vasomotor
Terputus
persyarafan
jaringan
simpatis
saraf medula
ke jantung
spinalis
Reaksi peradangan

Kelum

Syok spinal
Edema pembengkakan
Reaksi anestetik Is

G
Respons nyeri
Penekanan
Ileus
hebatparalitik,
saraf
dan akut
dangangguan
pembuluhfungsi
darahrektum
Paralisis dan paraplegi
Reflek spinal
2.1.4. PATOFISIOLOGi

Aktivasi sistem saraf


Hambatan
simpatis mobilitas fisik Penurunan perfusi
Gangguan
jaringan
eliminas
nyeri

Kontriksi pembuluh darah

Kelemahan fisik
umum persepsi spasial dan
Penurunan
tingka
Disfungsi
kehilangan
sen
Risiko infark pada miokard

Perubahan perseps
Defisit
perawatan
diri
Penekanan jaringan
setempat
-ganggua
Kemampuan batuk menurun, kurang mobilitas fisik
-perubah
Kecemas
-risiko pe
dekubitus

-koping individu tidak efektif


Asupan nutrisi tidak adekuat
-risiko
ketidakpatuhan terhad
Risiko ketidakbersihan bersihan jalan
nafas

Risiko terhadap kerusakan integritas kulit


8
Ketidakseimbangan nutrisi

2.1.5. MANIFESTASI KLINIS


- Neuron Motor Atas
o Spastisitas otot, kemungkinan kontraktur
o Atrofi otot kecil atau tidak terjadi atrofi
o Hiperefleksia
o Kerusakan di atas tingkat otak akan mengenai bagian tubuh yang berlawanan
- Neuron Motor Bawah
o Flaksiditas otot
o Atrofi otot
o Kehilangan tonus otot
o Hiporefleksia atau arefleksia
o Fasikulasi
o Perubahan otot akan terjadi pada otot yang mendapat persarafan oleh saraf
-

tersebut biasanya otot pada bagian yang sama dengan lesi


Nyeri konstan dan tumpul serta bertambah berat yang menjalar ke arah lateral dan
bergerak ( fleksi ) atau bila ada kompresi dada ( bersin, memeluk erat-erat ). Bila

disertai nyeri pada perkusi tulang belakang yang terkena


Kelemahan : khusunya pada otot yang letaknya proksimal dari tungkai dalam pola
upper motor neuron ( neuron motorik atas ), walaupun distribusi pasti hilangnya
kekuatan otot tergantung pada lokasi kompresi. Reflek tendon profunda meningkat

dan respons plantar adalah ekstensor .


Sensori menurun / parestesia : asenden sampai atau tepat dibawah dermatom

setinggi persarafan yang mengalami kompresi


Ataksia : hilangnya propiosepsi ( kolumna posterior )
Parestesi distal ekstremitas dan arefleksia
Neuropati inflamatorik progresif yang menyerupai polineuropati, dimielinisasi

inflamatori kronis
Motorik :
o Kerusakan UMN yang mengenai kedua kaki ( parestesia spastik ) atau jika
parah terkena keempat anggota gerak ( tetraparesis spastik ). Lesi pada
medula spinalis servikalis juga dapat menyebabkan paraparesis spastik yang
bersamaan dengan campuran gambaran LMN dan UMN pada anggora gerak
atas, karena kerusakan simultan pada medula spinalis dan radiks saraf pada

leher.
Sensorik
9

o
-

Sensasi kutaneus di bawah lesi terganggu

Otonom
o Gangguan kandung kemih :
Urgensi dan frekuensi berkemih
Retensi Urin, inkontinensia dan kontipasi: gejala dari disfungsi
o
o

otonom.
Mengeluh kontipasi
Disfungsi seksual terutama impotensi dan ereksi

2.1.6. PROGNOSIS
Pasien dengan cedera medula spinalis komplet hanya mampunyai harapan untuk
sembuh kurang dari 5%. Jika kelumpuhan total telah terjadi selama 72 jam, maka
peluang untuk sembuh menjadi tidak ada. Jika sebagian fungsi sensorik masih ada,
maka pasien mempunyai kesempatan untuk dapat berjalan kembali sebesar 50%.
Secara umum, 90% penderita cedera medula spinalis dapat sembuh dan mandiri
(George, 2007).
2.1.7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Setiap klien dengan trauma tulang belakang harus mendapat pemeriksaan secara
lengkap , meliputi :
1. Anamnesa
Anamnesa yang baik mengenai jenis trauma, apakah jatuh dari ketinggian,

kecelakaan lalu lintas, atau olahraga


Diperhatikan adanya tanda-tanda trauma dan abrasi kepala bagian depan

yang mungkin disebabkan karena trauma hiperekstensi


2. Pemeriksaan Tulang Belakang
Dilakukan secara hati-hati dengan memeriksa mulai dari vertebra servikal
sampai vertebra lumbal dengan meraba bagian-bagian vertebra, ligamen,
serta jaringan lunak lainnya
3. Pemeriksaan Neurologis
Pada setiap trauma tulang belakang harus dilakukan pemeriksaan yang teliti
terhadap trauma yang mungkin menyertainya seperti trauma pada kepala,
4.

5.

toraks, rongga perut serta panggul


Pemeriksaan Foto Rontgen Thorax
Mengetahui keadaan paru
Pemeriksaan CT Scan Vertebra
Untuk melihat fragmentasi, pergeseran fraktur dalam kanal spinal
Untuk menentukan tempat luka
Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan jaringan lunak, struktur tulang, dan

kanalis spinalis dalam potongan aksial


6. Pemeriksaan CT Scan dengan mielografi
7. Foto Polos Vertebra

10

Merupakan

langkah

awal

untuk

mendeteksi

kelainan-kelainan

yang

melibatkan medulla spinalis, kolumna vertebralis dan jaringan di sekitarnya.


8. MRI Vertebra
MRI dapat memperlihatkan seluruh struktur internal medulla spinallis dalam
sekali pemeriksaan
Untuk mengidentifikasi kerusakan syaraf spinal
9. Sinar X Spinal
Menentukan lokasi dan jenis cedera tulang ( Fraktur atau dislokasi )
10. Analisa Gas Darah
Menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi
2.1.8. KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin timbul akibat trauma tulang belakang yaitu :
-

Retensi urine, retensi urine atau perubahan kontrol kandung kemih terjadi akibat otak

tidak dapat mengontrol kandung kemih akibat cedera susmsum tulang belakang.
Sensasi Kulit, cedera yangkehilangan sebagian atau semua kulit menyebabkan
berkurangnya sensasi kulit tertentu yang mengirimkan pesan ke otak untuk rangsang

panas atau dingin.


Komplikasi kardiovaskuler atau respiratorik, pada sistem pernapasan akibat dari
cedera tulang belakang kemungkinan komplikasi yang ditumbulkan seperti resiko

pnemoni atau masalah paru lainnya


Depresi, akibat dari cedera tulang belakang hidup dengan rasa sakit yang
berkepanjangan dan beberapa orang mengalami depresi.

2.1.9. PENATALAKSANAAN
1. Tiga fokus utama penanganan awal pasien cedera medula spinalis yaitu : 1.
Mempertahankan usaha bernafas, 2. Mencegah syok dan 3. Imobilisasi leher (neck
collar dan long spine board). Selain itu, fokus selanjutnya adalah mempertahankan
tekanan darah dan pernapasan, stabilisasi leher, mencegah komplikasi ( retensi urin
atau alvi, komplikasi kardiovaskuler atau respiratorik, dan trombosis vena-vena
profunda).
-

Terapi Utama :
Farmakologi : Metilprednisolon 30 mg / kg bolus selama 15 menit, lalu 45 menit
setelah pemberian bolus pertama, lanjutkan dengan infus 5,4 mg/kg/jam selama 23

jam.
Imobilisasi :
Pemakaian kollar leher, bantal pasir atau kantung IV untuk mempertahankan agar

leher stabil, dan menggunakan papan punggung bila memindahkan pasien


Traksi skeletal untuk fraktur servikal, yang meliputi penggunaan Crutchfield, Vinke,

atau tong Gardner Wellsbrace pada tengkorak


Tirah baring total dan pakaian brace halo untuk pasien dengan fraktur servikal
ringan.
11

Bedah : Untuk mengeluarkan fragmen tulang, benda asing, reparasi hernia diskus
atau fraktur vertebrata yang mungkin menekan medula spinalis; juga diperlukan

untuk menstabilisasi vertebrata untuk mencegah nyeri kronis.


2. Kortikosteroid dosis tinggi bisa mengurangi gejala
3. Radioterapi untuk mengurangi ukuran tumor adalah terapi pilihan dan bisa
mengurangi nyeri. Tenaga bisa membaik, namun perbaikan paraplegia hanya terjadi
pada 10-15%. Lapang radiasi mencangkup dua ruas tulang belakang di tiap tepi
lokasi kompresi ( lokasi rekurensi tersering )
4. Pembedahan memiliki morbiditas dan mortalitas yang signifikan, namun berperan
pada kasus dengan instabilitas spinalis, adanya perkembangan defisit neurologis
selama radioterapi, kompresi pada area yang pernah diradiasi ( medula spinalis
pernah menerima dosis radiasi maksimal yang bisa ditolerir ) atau penyakit yang
radioresisten
5. Kemoterapi : kemoterapi sitoktoksik adalah terapi pilihan pada anak-anak dengan
tumor yang kemosensitif, dan sebagai terapi tambahan selain radioterapi pada orang
dewasa dengan penyakit kemosensitif. Terapi endokrin bisa membantu pada kanker
prostat dan kanker payudara
6. Fisioterapi sangat penting dalam memaksimalkan pulihnya fungsi neurologis
7. Tindakan tindakan untuk mengurangi pembengkakan pada medulla spinalis dengan
menggunakan glukokortikoid steroid intravena.

2.2.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.2.1. PENGKAJIAN
1. Anamnesa
a. Data Demografi
Nama, Umur, Alamat
b. Keluhan Utama
Kelemahan dan kelumpuhan ekstremitas
Nyeri Tekan otot
Hiperparestesi tepat di atas daerah trauma
Mengalami deformitas pada daerah trauma
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Adanya riwayat trauma yang mengenai tulang belakang akibat kecelakaan
lalu lintas, kecelakaan olahraga, kecelakaan industri, kecelakaan lain seperti

jatuh dari pohon atau bangunan, luka tusuk, atau luka tembak
Pengkajian yang didapat yaitu hilangnya sensibilitas, paralisis ( dimulai dari
paralisis

layu

disertai

hilangnya

melemah/menghilangnya reflex profunda


Ileus paralitik
12

sensiblitas

yang

total

dan

Retensi urin
Hilangnya reflex-reflex
d. Riwayat Penyakit Terdahulu
Adanya riwayat hipertensi
Riwayat cedera tulang belakang sebelumnya
DM
Penyakit Jantung
Anemia
Penggunaan obat-obat antikoagulan, aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif dan
konsumsi alkohol berlebihan
e. Riwayat Keluarga
Mengkaji adanya anggota generasi terdahulu yang menderita hipertensi dan
f.

DM
Pengkajian Psikososiospiritual
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan klien untuk menilai respon
emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan perubahan peran klien
dalam keluarga dan masyarakat serta rspon atau pengaruhnya dalam

kehidupan sehari-harinya, baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat


Apakah ada dampak yang timbul pada klien yang timbul seperti ketakutan
atau kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktifitas
secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah ( gangguan body

image )
Adanya perubahan berupa paralisis anggota gerak bawah memberikan
manifestasi yang berbeda pada setiap klien yang mengalami cedera tulang

belakang
Cedera tulang belakang memerlukan biaya untuk pemeriksaan, pengobatan
dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya

ini dapat mempengaruhi stabilitas emosi serta pikiran klien dan keluarga
Perawat juga memasukkan pengkajian terhadap fungsi neurologis dengan

dampak gangguan neurologis yang akan terjadi pada gaya hidup individu.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Pada cedera tulang belakang umumnya tidak mengalami penurunan
kesadaran
Adanya perubahan pada tanda-tanda vital meliputi brakikardi dan hipotensi
b. B1 ( Breathing )
Inspeksi Umum
o Klien batuk
o Peningkatan produksi sputum
o Sesak nafas
o Penggunaan otot bantu nafas
o Peningkatan frekuensi pernafasan
o Terdapat retraksi interkostalis
o Pengembangan paru tidak simetris

13

Ekspansi dada : dinilai penuh/tidak penuh dan kesimetrisannya.


Ketidaksimetrisan mungkin menunjukkan adanya atelektasis, lesi
pada paru, obstruksi pada bronkus, fraktur tulang iga dan
pneumotoraks. Pada observasi ekspansi dada juga dinilai :
retraksi dari otot-otot interkostal, subsernal, pernafasan abdomen,
dan respirasi paradoks. Pola nafas ini dapat terjadi jika otot-otot
interkostal tidak mampu menggerakkan dinding dada akibat
adanya blok saraf parasimpatis

Palpasi
o

didapatkan apabila melibatkan trauma pada rongga thorax


Perkusi
o

Fremitus menurun dibandingkan dengan sisi yang lain akan

Adanya suara redup sampai pekak pada keadaan melibatkan


trauma pada torax/hemotoraks

Auskultasi
o Bunyi nafas tambahan seperti nafas berbunyi, stridor, ronki, pada
klien dengan peningkatan produksi sekret dan kemampuan batuk
yang menurun yang sering didapatkan pada klien cedera tulang
belakang dengan penurunan tingkat kesadaran koma

c. B2 ( Blood )
Syok hipovolemik
TD menurun
Nadi brakikardi
Berdebar-debar
Pusing saat melakukan perubahan posisi
Brakikardi ekstremitas dingin atau pucat
d. B3 ( Brain )
Pengkajian Tingkat Kesadaran
o Letargi
o Stupor
o Semikomatosa
o Koma
Pengkajian Fungsi Serebral
o Status mental : observasi penampilan, tingkah laku, nilai gaya
bicara, ekspresi wajah dan aktifitas motorik klien. Pada klien yang
telah lama menderita cedera tulang belakang biasanya status
mental klien mengalami perubahan
e. B5 ( Bowel )
Ileus paralitik ( hilangnya bising usus, kembung, dan defekasi tidak ada )
Pemeriksaan reflek bulbokavernosa didapatkan positif

14

f.

Pemenuhan nutrisi berkurang karena adanya mual dan asupan nutrisi yang

kurang
Pemeriksaan rongga mulut dengan melakukan penilaian ada tidaknya lesi

pada mulut atau perubahan pada lidah dapat menunjukkan adanya dehidrasi
B6 ( Bone )
Disfungsi motorik ( kelemahan dan kelumpuhan pada seluruh ekstremitas

bawah )
Kaji warna kulit : warna kebiruan
Adanya kesulitan untuk beraktifitas karena kelemahan, kehilangan sensori
dan mudah lelah menyebabkan masalah pada pola aktifitas dan istirahat

Sedangkan menurut sember lain dari (Carpenito (2000), Doenges at al


(2000)) pengkajiannya adalah sebagai berikut:
a. Aktifitas dan istirahat : kelumpuhan otot terjadi kelemahan selama syok spinal
b. Sirkulasi : berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi, hipotensi,
brakikardi, ekstremitas dingin atau pucat
c. Eliminasi : inkontensia defekasi dan berkemih, retensi urin, distensi perut,
peristaltik hilang
d. Intgritas ego : menyangkal, tidak percaya, sedih dan marah, takut cemas, gelisah
dan menarik diri
e. Pola makan : mengalami distensi perut, peristaltik usus hilang
f. Pola kebersihan diri : sangat ketergantungan dalam melakukan ADL
g. Neurosensori : kesemutan, rasa terbakar pada lengan atau kaki paralisis flasid,
hilangnya sensasin dan hilangnya tonus otot, hilangnya reflek, perubahan reaksi
pupil
h. Kenyamanan : nyeri tekan otot, hiperestesi tepat diatas daerah trauma dan
i.
j.
2.2.2

mengalami deformitas pada daerah trauma


Pernafasan : nafas pendek, ada ronki, pucat, sianosis
Keamanan : suhu yang naik turun
PRIORITAS DIAGNOSA
1. Pola Napas Tidak Efektif
2. Ketidakefektifan Perfusi jaringan Perifer
3. Hambatan Mobilitas Fisik

2.2.3. DIAGNOSA PERTAMA


Analisa Data

Etiologi
15

Masalah Keperawatan

DS:
-

Kecelakaan
klien/keluarga

Pola Napas Tidak Efektif


( 00032 )
Domain 4 : Aktivitas

Dislokasi C4

mengatakan adanya
kesulitan bernapas, sesak
napas.

Istirahat
Kelas 4 : Cardiovascular /

Disfungsi C4
Disfungsi neuromuscular

DO :

Pulmonary Respons

Gangguan pada otot


diagragma

penurunan tekanan alat

inspirasi dan respirasi


penurunan menit

ventilasi
pemakaian otot

pernapasan
pernapasan cuping

hidung
dispnea/napas pendek

dan cepat
orthopnea
pernapasan lewat mulut
frekuensi dan kedalaman

pernapasan abnormal
penurunan kapasitas vital

Pola napas tidak efektif

paru

Kriteria Hasil : setelah dilakukan perawatan 3x24jam diharapkan klien mampu


NOC
No
.
1.
2.
3.
4.

: respiratory status: ventilation ( 0403 )


Indikator

Respiratory rate
Depth of inspiration
Accessory muscle use
orthopnea

Intervensi ( NIC )
: respiratory monitoring ( 3350 )
1. monitor ritme, kedalaman, kecepatan dan usaha bernapas.
2. Catat pergerakan dada, penggunaan otot pernapasan dan supraclavicular.
3. Monitor pola napas
4. Auskultasi suara napas.
5. Catat peningkatan tekanan inspirasi dan penurunan volume tidal.
16

6. Kolaborasi dengan tenaga medis terkait terapi pengobatan seperti nebulizer.


7. Auskultasi suara paru setelah dilakukan pengobatan, kemudian catat hasilnya.
Evaluasi
S: setelah dilakukan perawatan klien/keluarga mengatakan mampu bernapas dengan
normal.
O: setelah dilakukan perawatan klien sudah tidak menggunakan otot pernapasan dan
respiratory rate normal.
A: masalah teratasi sepenuhnya
P

:-

2.2.4. DIAGNOSA KEDUA


ANALISA DATA
DO :

ETIOLOGI

MASALAH

Adanya trauma cedera

TD : <90/60 mmHg
N : < 60 kali/menit
CRT : 4 second

(lambat)
Adanya edema
Kulit dingin dan
tampak pucat

spinalis

KEPERAWATAN
DX: ketidakefektifan
perfusi jaringan perifer
(00204)
Domain 4 : Aktivitas /
Istirahat

Cedera

cedera

Kelas 4 : cardiovascular/

Kolumna

medulla

pulmonary responses

vetebralis

spinalis

DS : perdarahan mikroskopik

reaksi peradangan

edema/pembekakan

penekanan saraf dan


pembuluh darah

17

ketidakefektifan perfusi
jaringan perifer

Kriteria Hasil : Setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam diharapkan pasien mampu
menunjukkan:
NOC : circulation status- 0401

1.
2.
3.
4.
5.
6.

INDICATOR
Mean blood pressure
Pulse pressure
Capillary refill
Peripheral edema
Pallor
decreased skin temperature

Intervensi ( NIC ): management sensasi perifer ( 2660 )


-

monitor tanda-tanda vital


berikan posisi yang nyaman pada pasien
pantau perbedaan ketajaman atau panas dan dingin
menghindari suhu yang ekstrem pada ekstremitas
ajarkan pasien atau keluarga untuk memeriksa kulit setiap hari untuk mengetahui

perubahan pada kulit


kolaborasi dengan tim medis lainnya

EVALUASI:
S: O: setelah di observasi selama perawatan TTV pasien mulai stabil
A: masalah teratasi
P: intervensi dilanjutkan

2.2.5. DIAGNOSA KETIGA


Analisa Data
Ds :

Etiologi
Trauma mengenai Tulang
18

Diagnosa Keperawatan
Hambatan Mobilitas Fisik

Pasien

mengeluh

kelemahan

dan

kelumpuhan

pada

ekstremitas
Pasien
mengeluh
Adanya
untuk

belakang

( 00085 )
Domain 4 :
Aktifitas/Istirahat

Cedera Columna Vertebralis,


cedera medula spinalis

Kelas 2 :
Aktifitas/Latihan

kesulitan
beraktifitas

karena kelemahan
Pasien
mengeluh
Pusing

Kerusakan jalur simpatetik


desending

saat

melakukan
perubahan posisi

Terputus jaringan syaraf

Do :
-

Disfungsi sensori dan

mudah lelah
Mengalami
deformitas

medulla spinalis

Kelumpuhan

pada

daerah trauma
Hipotensi
Brakikardi
Hilangnya tonus otot
Disfungsi motorik
Paralilis

ekstremitas,pusing saat
melakukan perubahan
posisi, deformitas, hilangnya
tonus otot, Paraplegi
( disfungsi sensori dan
motorik ),
paralisis,hipotensi,brakikardi

Hambatan Mobilitas Fisik

Kriteria Hasil : Setelah dilakukan perawatan selama 4x24 jam diharapkan pasien mampu
NOC

: Immobility Consequences : Physiological ( 0204 )


No
.
1.
2.
3.
4.

Indikator

Bone Fracture
Orthostatic Hypotension
Muscle strenght
Muscle Tone

19

Intervensi (NIC)

: Exercise Therapy : Ambulation and Exercise Promotion :

strenght training
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Kaji mobilitas yang ada dan observasi terhadap peningkatan kerusakan


Kaji secara teratur fungsi motorik dan sensorik
Ubah posisi klien tiap 2 jam
Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstremitas yang tidak sakit
Bantu klien melakukan latihan ROM, perawatan diri sesuai toleransi
Pantau TTV tiap 4 jam sekali
Ajarkan dan berikan dorongan pada klien untuk melakukan program latihan secara

rutin
8. Ajarkan teknik Ambulasi & perpindahan yang aman kepada klien dan keluarga.
9. Sediakan alat bantu untuk klien seperti kruk, kursi roda, dan walker
10. Beri penguatan positif untuk berlatih mandiri dalam batasan yang aman.
11. Ajarkan pada klien & keluarga tentang cara pemakaian kursi roda & cara berpindah
dari kursi roda ke tempat tidur atau sebaliknya.
12. Dorong klien melakukan latihan untuk memperkuat anggota tubuh
13. Ajarkan pada klien/ keluarga tentang cara penggunaan kursi roda
14. Ajarkan pada klien & keluarga untuk dapat mengatur posisi secara mandiri dan
menjaga keseimbangan selama latihan ataupun dalam aktivitas sehari hari.
15. Ajarkan pada klien/ keluarga untuk memperhatikan postur tubuh yg benar untuk
menghindari kelelahan, keram & cedera.
16. Kolaborasi ke ahli terapi fisik untuk program latihan.
Evaluasi

S: Pasien mengatakan fungsi mobilitasnya meningkat


O: Pasien sudah mulai bisa berpindah tempat
A: Masalah teratasi sebagaian
P: Melanjutkan latihan

20

BAB III
PEMBAHASAN
Merupakan bagian dari susunan saraf pusat yang terletak di dalam vertebralis dan
menjulur dari foramen magnum ke bagian atas region lumbalis yaitu medula spinalis atau
spinal cord. Kejadian trauma pada spinal cord merupakan keadaan gawat darurat yang
berbahaya dan mengancam nyawa jika tidak segera dilakukan tindakan pertolongan gawat
darurat pada korban. Pengertian dari trauma pada tulang belakang

adalah cedera

yangmengenai servikalis, vertebralis dan lumbalis akibat dari suatu trauma yang mengenai
tulang belakang. Cedera spinalis bisa disebabkan karena beberapa hal seperti, kecelakaan
di jalan raya yang merupakan penyebab paling banyak, olah raga, menyelam pada air yang
dangkal, luka tikam atau tembak, dan gangguan lain yang dapat mengakibatkan cedera
spinalis; osteoporosis yanng disebabkan oleh fraktur kompresi pada vetebrata; siringmielia;
tumor infiltrasi maupun kompresi dan penyakit vaskular.
Cedera pada medula spinalis dapat menyebakan hilangnya fungsi pada susunan sarf
pusat yaitu motorik, fungsi sensorik dan fungsi otonom, menurut American Spinal Injury
Assosiaciation, membagi klasifikasi menjadi lima Grade A - E. Yaitu : grade A ( hilangnya
seluruh fungsi motorik dan sensorik dibawah tingkat lesi). Grade B ( hilangnya seluruh fungsi
motorik dan sebgaian fungsi sensorik dibawah tingkat lesi). Grade C (fungsi motorik intak
tetapi dengan kekuatan di bawah 3). Grade D ( fungsi motorik intak sengan kekuatan
motorik di atas atau sama dengan 3). Grade E ( fungsi motorik dan sensorik normal).
Kalsifikasi berdasarkan bentuk cidera medula spinal yaitu cedera spinal terbuka dan cedera
spinal tertutup. Klasifikasi berdasarkan letak cedera yaitu dibagi dua yaitu, 1. cedera tulang;
stabil, bila kemampuan fragmen tulang tidak mempengaruhi kemampuan untuk bergeser
lebih jauh selain yang terjadi saat cedera ; Tidak stabil, fraktur dipengaruhi kemampuan
untuk bergeser lebih jauh. 2. Cedera Neurologis ; tanpa defisit neurologis ; disertai dengan

21

defisit neurologis, dapat terjadi di daerah punggung karena kanal spinal terdapat di daerah
ini.
Cedera medula spinalis biasanya berhubungan dengan akselerasi, deselerasi, atau
kelainan yang diakibatkan oleh berbagai tekanan yang mngenai tulang belakang. Lokasi
cedera umunya menganai C1 dan C2, C4, C6 dan T11 atau L2. Berdasarkan mekanisme
cedera dapat dikelompokan menjadi ; fleksi-rotasi, dislokasi, dislokasi fraktur, umumnya
mengenai servikal pada C5 dan C6. Jika mengenai spina torakolumbar, terajdi pada T12-L1.
Fraktur Lumabl Adalah Fraktur Yang Terjadi Pada Daerah Tulang Belakang Bagian Bawah.
Bentuk cidera ini mengenai ligamen, fraktur vetebra, kerusakan pembuluh darah, dan
mengakibatkan iskemia pada medula spinalis. ; Hiperekstensi, jenis cedera ini umumnya
mengenai klien dengan usia dewasa yang memiliki perubahan degeneratif vetebra, usia
muda yang mendapat kecelakaan lalu lintas saat mengendarai kendaraan, dan usia muda
yang mengalami cedera leher saat menyelam. Jenis cedera ini menyebabkan medula
spinalis bertentangan dengan ligamen flava dan mengakibatkankontusio kolom dan
dislokasi vertebrata. Transeksi lengkap dari medula spinalis dapat mengikuti cedera
hiperektensi. Lesi lengkap dari medula spinalis mengakibatkan kahilangan pergerakan
volunter menurun pada daerah lesi dan kehilangan fungsi refleks pada isolasi bagian
medula spinalis.; kompresi, cidera kompresi sering disebabkan karena jatuh atau melompat
dari ketinggian, dengan posisi kaki atau bokong (duduk). Tekanan mengakibatkan fraktur
vertebra dan menekan medula spinalis. Diskus dan fragmen tulang dapat masuk ke medula
spinalis. Lumbal dan toraks vertebra umumnya akan mengalami cedera serta menyebabkan
edema dan perdarahan. Edema pada medula spinalis mengakibatkan kehilangan fungsi
sensasi.
Beberapa tanda klinis yang diakibatkan oelh cedera medula seperti , nyeri menjalar,
kelumpuhan/ hilannya pergerakan, hilangnya sensasi rasa, hilangnya kemampuan peristaltik
usus, spasme otot atau bangkitan refleks yang meningkat, perubahan dungsi seksual.
Manifestasi lainnya yng umum timbul pada kasus cidera medula spinalis yaitu ; perdarahn
yang menebabkan reaksi peradangan, blok pada saraf parasimpatis yang menyebabkan
kelumpuhan otot pernapasan yang selanjutnya akan mempengaruhi pola napas pasien.
Kerusakan pada jalur sipatetik desending yang menyebabkan kehilangannya kontrol tonus
vasomotor persarafan simpatis ke jantung dan terputusnya jaringan saraf mesula spinalis.
Pemeriksaan awal dan penting yang dilakuka pada kasus cidera medula spinalis
yaitu pemeriksan fisik dimulai dengan penilaian kondisi jalan napas (airway), pernapasan
(breathing), dan peredaran darah (circulation). Selain itu riwayat penyakit kardiopulmonal
harus diketahui melalui anamnesis karena mempengaruhi fungsi paru. Sedangkan
22

pemeriksaan penunjang yang umum dilakukan yaitu ; foto polos vertebrata, merupakan
langkah awal untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang mengakibatkan medula spinalis,
kolumna vertebralis dan jaringan di sekitarnya. Pada trauma servikal digunakan foto AP ,
Lateral dan odontoid. Pda cedera torakal dan lumbal, digunakan foto AP dan lateral. ; Ctscan vertebra, pemeriksaan ini dapat memperlihatkan jaringan lunak, struktur tulang dan
kanalis spinalis dalam potongan aksial. Ct-scan merupakan pilihan utama untuk mendeteksi
cedera fraktur pada tulang belakang. ; MRI Vertebra, MRI dapat memperlihatkan seluruh
struktur internal medula spinalis dalam sekali pemeriksaan.
Penatalaksanaan cedera medula spinalis yaitu, fokus utama penanganan awal
apsien cedera medula spinalis (mempertahankan usaha napas, mencegah syok, dan
imobilisasi leher dengan neck collar dan long spine board). Selanjutnya fokus penatalaksaan
yaitu mempertahankan tekanan darah dan pernapasan, stabilisasi leher, mencegah
komplikasi (retensi urin atau alvi, kompliksi kardiovaskuler atau respiiratorik, dan trombosis
vena-vena profunda). Terapi utama yang digunakan ; farmakoterapi, metilprednisolon ;
imobilisasi, traksi untuk menstabilkan medula spinalis ; bedah, untuk mengelluarkan
fragmen tulang, benda asing, reparasi hernia diskus atau ufraktur vertebra yang mungkin
menekan medula spinalis (juga diperlukan untuk menstabilisasi vertebra untuk mencegah
nyeri kronis). Penatalaksaan cedera ; pengelolaan hemodinamik, bila terjadi hipotensi, cari
sumber perdarahan dan atasi syok neurologik akibat hilangnya aliran adrenergik dari sistem
saraf simpatis pada jantung dan vaskular perifer sete;lah cedera diatas tingkat T6. Terjadi
hipotensi, bradikardia dan hipotermi. Syok neurogenik lebih mengganggu distribusi volume
intravaskular daripada menyebabkan hipovalensi sejati sehingga perlu perimbangan
pemberian terapi atropin, dopamin, datau fenilefrin jika penggantian volume intravaskular
tidak bereaksi. ; pengelolaan sistem pernapasan, ganti posisi tubuh berulang, perangsangan
batuk, pernapasan dalam, sporometri intensif, pernapasan bertekanan positif, pasien
dengan gangguan ventilasi dialakukan trakeostomi. ; pengelolaan nutrisional dna sistem
pencernaan, melakukan pemeriksaan CT-scan berhubungan dengan omen atau lavasi
peritoneal bila didiga ada perdarahan atau cedera berhubungan dengan ominal, terapi
nutrisional awal yang harus dimetabolisme (50-100% diatas normal) ; dll.
Pengkajian keperawatan yang dilakukan pada kasus cidera tualng belakang yaitu ;
keadaan umum pada cedera tulang belakang umumnya tidak mengalami penurunan
kesadaran. Adanya perubahan pada tanda-tanda vital, meliputi bradikardi dan hipotensi. ;
aktivitas dan istirahat, kelumpuhan otot (terjadi kelemahan selama syok spinal) pada bawah
lesi, kelemahan umum atau kelemahan otot (trauma dan adanya kompresi saraf). ; sirkulasi
(hipotensi, hipotensi postural, bradikardia, ekstermitas dingin dan pucat), hilangnya keringat
pada daerah yang terkena. ; eliminasi, inkontinansia defekasi dan berkemih, retensi urine,
23

distensi berhubungan dengan omen, peristaltik usu hilang, menelan, emesis berwarna
seperti kopi, tanah (hematemesis). ; integritas ego, takut, cemas, gelisah, menarik diri. ;
makanan atau cairan, mengalami distensi yang berhubungan dengan omentum, peristaltik
usus hilang (ileus paralitik). ; higiene, sangat ketergantungan dalam melakukan aktivitas
sehari-hari (bervariasi). ; nurosensorik , kelumpuhan, kesemutan, kehilangan tonus otot atau
vasomotor, kehilangan atau asimetris termasik tendon dalam, perubahan reaksi pupil,
ptosis, hilanya keringat dari berbagai tubuh yang terkena karena pengaruh trauma spinal.;
nyeri/ kenyamanan, mengalami deformitas, postur dan nyeri tekan vertebral. ; pernapasan ,
pernapadan dangkal datau labored, periode apnea, penurunan bunyi napas, ronkhi, pucat,
sianosis. ; keamanan , suhu yang berfluktuasi. ; seksualitas, ereksi tidak terkendali
(pripisme), mentruasi tidak teratur. Dari pengkajian dan menifestasi yangs udah diuraikan
berdasarkan mekanisme terjadinya cedera medula spinal, diagnosa ynag dapat di ambil
untuk mengatasi msalah keperawatan yaitu ; ketidakefektifan pola napas yang berhubungan
dnegan

kerusakan

tulang

punggung,

disfungsi

neurovaskular,

kerusakan

sistem

muskuloskletal. ; gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan gangguan


neurovaskular ; ketidakefektifan perfuai jaringan berhubungan dengan trauma pada tulang
belakang yang menyebabkan perdaran dsb ; resiko penurunan curah jantung berhubungan
dengan kerusakan jaringan otak ; gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh yang berhubungan dnegan ketidakmampuan menelan akibat sekunder dari paralisis.
Dan masalah keperawatan lainnya yang bisa muncul sesuai dengan msalah pada kasus
cidera medula spinal.

24

BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari hasil pembahasan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa cedera medulla
spinalis adalah suatu kerusakan fungsi neurologis yang disebabkan oleh benturan pada
daerah medulla spinalis. Penyebabnya antara lain trauma dan kelainan pada vertebra
(seperti atrofo spinal, fraktur patologik, infeksi, osteoporosis, kelainan congenital, dan
gangguan vascular). Instabilitas pada vertebra mengakibatkan penekanan saraf di
medulla spinalis sehingga terjadi gangguan. Hal ini menyebabkan gangguan fungsi
organ-organ yang hipersarafi yaitu usus, genetalia, urinaria, rectum, dan ekstremitas
bawah. Penatalaksanaan ditujukan untuk mencegah akibat lanjut dari cedera tersebut.

25

DAFTAR PUSTAKA

Batticaca, Fansisca B. 2008. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan

Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika


Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan

Sistem Persarafan. Jakarta : Salemba Medika


Mayo
Clinic
Staff
(2014).
Spinal

Cord

Injury

(online).

http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/spinal-

cordinjury/basics/complications/con-20023837. (5 mei 2015).


Dewantoro, George dkk. 2007. Panduan Praktis Diagnosis & Tata laksana penyakit

saraf. Jakarta : EGC


Standar perawatan pasien; proses keperawatan, diagnosis, dan evaluasi / Susan
Martin Tucker... ( et al ) ; alih bahasa, Yasmin Asih ... ( et al ) ; editor, Monica Ester.-

Ed. 5 Jakarta : EGC, 1998


Panduan praktis diagnosis & tata laksana penyakit saraf / penulis, George

Dewanto ... ( et al. ). Jakarta : EGC, 2009.


Ginsberg, Lionel. 2008. Neurologi. Jakarta : Penerbit Erlangga
Susan , Martin Tucker ( 1998 ). Standar Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
Muttaqin Arif ( 2008 ). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persyarafan. Jakarta : Salemba Medika

26