Anda di halaman 1dari 5

Peran Pemuda dalam Mempertahankan dan Melestarikan Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, seperti


tercantum pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda yang berbunyi Kami Putra dan
Putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ini berarti
bahwa bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional; kedudukannya
berada diatas bahasa bahasa daerah. Selain itu, didalam Undang Undang Dasar
1945 tercantum pasal khusus ( BAB XV , pasal 36 ) mengenai kedudukan bahasa
Indonesia yang menyatakan bahwa bahasa negara ialah bahasa Indonesia.
Menurut Sunaryo (2000:6), tanpa adanya bahasa (termasuk bahasa
Indonesia) iptek tidak dapat tumbuh dan berkembang. Selain itu bahasa Indonesia
di dalam struktur budaya, ternyata memiliki kedudukan, fungsi, dan peran ganda,
yaitu sebagai akar dan produk budaya yang sekaligus berfungsi sebagai sarana
berfikir dan sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Tanpa peran bahasa serupa itu, ilmu pengetahuan dan teknologi
tidak akan dapat berkembang. Implikasinya di dalam pengembangan daya nalar,
menjadikan bahasa sebagai prasarana berfikir modern. Oleh karena itu, jika
cermat dalam menggunakan bahasa, kita akan cermat pula dalam berfikir karena
bahasa merupakan cermin dari daya nalar (pikiran). Sehingga, bahasa Indonesia
juga merupakan cerminan jati diri bangsa Indonesia.
Derasnya arus globalisasi di dalam kehidupan kita akan berdampak pula
pada perkembangan dan pertumbuhan bahasa sebagai sarana pendukung
pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
ekonomi. Orientasi ekonomi global yang menerabas ruang dan waktu
menyebabkankebutuhan komunikasi menjadi semakin tinggi. Penguasaan bahasabahasa selainbahasa daerah dan bahasa nasional berubah menjadi semacam
keharusan.
Banyaknya program-program studi di Perguruan Tinggi yang mengajarkan
bahasaasing serta bertambahnya tempat kursus bahasa asing yang semakin
banyakpeminatnya adalah salah satu bukti bahwa masyarakat kini mulai
merasakanbahwa penguasaan bahasa asing adalah sebuah kebutuhan (dan
keharusan). Apalagi saat ini, beberapa perusahaan yang mencari tenaga kerja

semakin banyakyang mencantumkan prasyarat penguasaan terhadap salah satu


bahasa asing (biasanya bahasa Inggris), baik lisan maupun tulis. Beberapa iklan
lowonganperusahaan di media massa nasional bahkan diiklankan dalam bahasa
asing(Inggris).
Seperti layaknya negara-negara berkembang lainnya, globalisasimembawa
pengaruh tersendiri untuk soal bahasa, tak terkecuali di Indonesia.Meningkatnya
kosakata, dikenalnya bahasa Indonesia oleh masyarakat dunialainnya, dan
semakin kayanya karya sastra yang dihasilkan adalah beberapa sisipositif dari
globalisasi. Sebaliknya, sisi negatif globalisasi juga menyebabkan adanya hierarki
kebahasaan dan meluruhkan kesadaran berbahasa masyarakat.
Sikap yang kurang baik terhadap kemampuan berbahasa Indonesia terjadi
pada berbagai lapisan masyarakat, baik lapisan bawah, menengah, atas bahkan
kalangan intelektual. Akan tetapi, kurangnya kemampuan berbahasa Indonesia
pada golongan atas dan kelompok intelektual terletak pada sikap meremehkan dan
kurang menghargai serta tidak mempunyai rasa bangga terhadap bahasa
Indonesia.
Kondisi tersebut diperparah lagi oleh otonomi daerah yang seakan-akan
dimaknai sebagai otonomi etnis atau suku bangsa. Pelegitimasian pada
keberadaan bahasa daerah secara berlebihan telah menempatkan bahasa daerah
yang menjadi identitas kedaerahan sejajar dengan kedudukan bahasa Indonesia.
Oleh sebab itu, rasa cinta atau sikap positif masyarakat suatu daerah terhadap
bahasa Indonesia semakin memudar. Lebih jauh lagi, telah menciptakan kondisi
beberapa kelompok mengesampingkan bahasa Indonesia sebagai bahasa
pengantar pada situasi-situasi formal. Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar
dalam hal ini tergantikan oleh bahasa daerah komunitas setempat.
Oleh karena itu,tulisan ini akan membahas upayayang diperlukan untuk
menghambat lajunya pertumbuhan sikap pengutamaan penggunaan bahasa asing
dan penetralisasi semangat kedaerahan menuju keindonesiaan demi membangun
kecintaan dalam mewujudkan citra Indonesia dalam kancah nasional maupun
internasional. Peran pemuda merupakan strategi tepat demi mewujudkan tujuan
tersebut. Hal ini didasari, pemuda merupakan generasi penerus bangsa. Jika
pemuda saja tidak berusaha mempertahankan serta melestarikan bahasa Indonesia,

bagaimana mungkin bahasa negara ini mampu bertahan di tengah berbagai


permasalahan yang ada.
Sesungguhnya upaya ini telah diawali dengan adanya Bahasa Indonesia
yang

dijadikanmatakuliahumum

inibertujuan

agar

(MKU)

di

setiapperguruantinggi.

paramahasiswamimilikisikapbahasa

yang

Hal

positifterhadap

Indonesia. Sikap yang positifterhadapbahasa Indonesia diwujudkandengan (1)


kesetiaanbahasa, yang mendorongmemeliharabahasanasionaldan, apabilaperlu,
mencegahadanyapengaruhbahasaasing,

(2)

mendorongmahasiswamengutamakanbahasanya,

kebanggaanbahasa,
dan

kesadaranakanadanyanormabahasa,

yang
(3)
yang

mendorongmahasiswamenggunakanbahasanyasesuaidengankaidahdanaturan yang
berlaku.
Namun tentunya, tidak cukup sampai disini, langkah pengaplikasian dalam
kehidupan sehari-hari merupakan langkah lanjutan yang dirasa merupakan praktek
dari teori yang telah didapatkan di bangku pendidikan formal.

Ini semua

menyangkut tentang kedisiplinan berbahasa nasional,pemakai bahasa Indonesia


yang berdisiplin adalah pemakai bahasa Indonesia yang patuh terhadap semua
kaidah atau aturan pemakaian bahasa Indonesia yang sesuai dengan situasi dan
kondisinya. Dengan kata lain, disiplin bahasa merupakan penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
Penggunaan bahasa dengan baik menekankan aspek komunikatif bahasa.
Seseorang harus memperhatikan kepada siapa akan menyampaikan bahasanya.
Oleh sebab itu, unsur umur, pendidikan, agama, status sosial, lingkungan sosial,
dan sudut pandang khalayak sasarannya tidak boleh kita abaikan. Cara seseorang
berbahasa kepada anak kecil dengan cara berbahasa kepada orang dewasa tentu
berbeda. Penggunaan bahasa untuk lingkungan yang berpendidikan tinggi dan
berpendidikan rendah tentu tidak dapat disamakan. seseorang tidak dapat
menyampaikan pengertian mengenai jembatan misalnya, dengan bahasa yang
sama kepada seorang anak Sekolah Dasar dan kepada orang dewasa. Selain umur
yang berbeda, daya pemahaman seorang anak dengan orang dewasa tentu jauh
berbeda.Lebih lanjut lagi, karena berkaitan dengan aspek komunikasi, maka
unsur-unsur komunikasi menjadi penting, yakni pengirim pesan, isi pesan, media

penyampaian pesan, dan penerima pesan. Mengirim pesan adalah orang yang akan
menyampaikan suatu gagasan kepada penerima pesan, yaitu pendengar atau
pembacanya, bergantung pada media yang digunakannya. Jika pengirim pesan
menggunakan telepon, media yang digunakan adalah media lisan. Jika
menggunakan surat, media yang digunakan adalah media tulis. Isi pesan adalah
gagasan yang ingin disampaikannya kepada penerima pesan.
Bahasa yang benar berkaitan dengan aspek kaidah, yakni peraturan bahasa.
Berkaitan dengan peraturan bahasa, ada empat hal yang harus diperhatikan, yaitu
masalah tata bahasa, pilihan kata, tanda baca, dan ejaan. Pengetahuan atas tata
bahasa dan pilihan kata, harus dimiliki dalam penggunaan bahasa lisan dan tulis.
Pengetahuan atas tanda baca dan ejaan harus dimiliki dalam penggunaan bahasa
tulis. Tanpa pengetahuan tata bahasa yang memadai, maka seseorang akan
mengalami kesulitan dalam bermain dengan bahasa. Kriteria yang digunakan
untuk melihat penggunaan bahasa yang benar adalah kaidah bahasa. Kaidah ini
meliputi aspek, tata bunyi (fonologi), tata bahasa (kata dan kalimat), kosa kata
(termasuk istilah), ejaan, dan makna. Kriteria penggunaan bahasa yang baik
adalah ketepatan memilih ragam bahasa yang sesuai dengan kebutuhan
komunikasi. Pemilihan ini bertalian dengan topik yang dibicarakan, tujuan
pembicaraan, orang yang diajak berbicara atau pembaca, dan tempat pembicaraan.
Selain itu, bahasa yang baik itu bernalar, dalam arti bahwa bahasa yang kita
gunakan logis dan sesuai dengan tata nilai masyarakat.
Kita sebagai pemuda, hendaknya upaya-upaya diatas dimulai dari diri
sendiri dengan hal-hal nyata yang sederhana. Misalnya membiasakan diri untuk
selalu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam setiap
percakapan yang disesuaikan dengan kondisi serta kepada siapa kita akan
berbicara, dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka
maksud yang hendak disampaikan kepada seseorang akan semakin jelas
dimengerti oleh mereka karena bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan
yang bisa diterima dimanapun di seluruh wilayah Indonesia. Memberi contoh bagi
pemuda lain, bahwa media sosial yang digemari pemuda saat ini, bisa menjadi
tempat sosialisasi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, setidaknya
jika ada yang memulai, maka hal baik tersebut akan mudah ditularkan secara

cepat. Aktif berpartisipasi dalam mendidik orang-orang yang belum dapat


berbahasa Indonesia, baik dalam menulis, membaca maupun berbicara serta
memperluas pengetahuan tata bahasa agar tidak mengalami kesulitan untuk
berbahasa. Turut serta dalam berbagai kesempatan kebahasaan, seperti
PeringatanBulan Bahasa, Hari Buku, Hari Sumpah Pemuda, Haul Chairil Anwar
(sepertiyang rutin dilakukan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra
Indonesia FBSUNY) atau peringatan nasional lain merupakan momentum efektif
untukmengkampanyekan penggunaan bahasa Indonesia dalam kesempatan umum,
yangsadar akan konteks dan fungsi.
Kesimpulan dari pemaparan diatas adalah, globalisasi memang tidak dapat
dihindari yang mengakibatkan akulturasi bahasa nasional dengan bahasa dunia
pun menjadi lebih terasa perannya. Maka dari itu perlunya pembagian pemakaian
bahasa Indonesia,daerah serta asing secara seimbang yaitu menggunakan bahasa
yang sesuai dengan porsi, konteks, situasi, dan kondisi yang ada.Dengan
menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar, peduli sastra Indonesia, serta
lancar berbahasa daerah dan asing dapat memberikan manfaat yang baik bagi
bangsa Indonesia maupun diri sendiri.Dengan adanya peran serta pemuda dalam
mempertahankan dan melestarikan bahasa Indonesia di tengah era globalisasi,
niscaya bahasa Indonesia mampu terjaga eksistensinya bahasanasional, pemersatu,
dan identitas bangsa Indonesia.