Anda di halaman 1dari 2

PERENCANAAN PENGADAAN DAN

PENYIMPANAN OAT
RSUD Syarifah
Ambami Rato Ebu
BANGKALAN

NO. DOKUMEN

NO. REVISI

445/197/MDGS/IV/2016

00
1/3
DITETAPKAN
Direktur

TANGGAL TERBIT
PROSEDUR
TETAP

HALAMAN

8 NOVEMBER 2012
drg. YUSRO
Pembina Utama Muda
NIP. 19610226 198911 2 001

Pengertian

Alur pengadaan OAT untuk pasien TB di rumah sakit yang


dimulai dari tahap perencanaan permintaan OAT, pengadaan

Tujuan

OAT dan penyimpanan OAT di gudang obat rumah sakit.


- Semua sasaran pasien TB bisa mendapat OAT sehingga
pengobatan TB lebih optimal
- Membantu rumah sakit dalam penugadaan OAT sesuai
dengan kebutuhan dan permintaan rumah sakit kepada dinas
kesehatan
- Memperlancar arus pengadaan obat dari pusat ke rumah
sakit.

Kebijakan

- Undang Undang Nomor 23 Tahun 2009 tentang Kesehatan


- Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
364/Menkes/SK/V/2009 Tentang Pedoman Penanggulangan
Tuberkulosis (TB)
- Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang
Penanggulangan Wabah Penyakit Menular
- Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 203/Menkes/SK/III/
1999 tentang Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan
Tuberkulosis

Prosedur

Prosedur Pelaksanaan
Perencanaan Kebutuhan Obat
1. Perencanaan kebutuhan OAT di Rumah Sakit dilaksanakan
dengan pendekatan perencanaan dari bawah (bottom up
planning), dan dilakukan terpadu

PERENCANAAN PENGADAAN DAN


PENYIMPANAN OAT

NO. DOKUMEN

NO. REVISI

HALAMAN

RSUD Syarifah
Ambami Rato Ebu
BANGKALAN

445/197/MDGS/IV/2016

00

2/3

PROSEDUR
TETAP

TANGGAL TERBIT
8 NOVEMBER 2012
dengan perencanaan obat lainnya.
2. Rumah sakit menghitung kebutuhan tahunan, triwulan dan
bulanan sebagai dasar permintaan ke Tim Perencanaan Obat
Terpadu daerah Kabupaten/Kota. Permintaan tersebut

Prosedur

didasarkan pada :
a. Jumlah penemuan pasien pada tahun sebelumnya,
b. Perkiraan jumlah penemuan pasien yang direncanakan,
c. Buffer-stock (tiap kategori OAT),
d. Sisa stock OAT yang ada,
e. Perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi
(untuk mengetahui estimasi kebutuhan dalam kurun
waktu perencanaan)
3. Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang
dibentuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota yang
anggotanya minimal terdiri dari unsur program, Farmasi,
Bagian Perencanaan Dinas Kesehatan dan Instalasi Farmasi
Kab/Kota (IFK). Disamping rencana kebutuhan OAT KDT,
perlu juga direncanakan OAT dalam bentuk paket kombipak
atau lepas untuk antisipasi efek samping KDT sebanyak 25
% dari perkiraan pasien yang akan diobati.
Pengadaan OAT
Tim Pengadaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang
akan mengadakan OAT berkoordinasi dengan pusat (Dirjen
PPM dan PL Depkes) sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.