Anda di halaman 1dari 20

PERTIMBANGAN PEMILIHAN RESTORASI GIGI

PASCA PERAWATAN ENDODONTIK


1. Dasar Pertimbangan dalam Menetapkan Restorasi Gigi setelah Perawatan
Endodontik
Perencanaan pemilihan restorasi harus dilakukan dengan beberapa pertimbangan.
Ford menyatakan hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan restorasi
adalah
a. Banyaknya jaringan yang tersisa
Banyaknya struktur jaringan gigi tersisa mempengaruhi retensi dan resistensi
gigi. Pemilihan restorasi untuk menggantikan struktur gigi yang telah hilang sangat
dipengaruhi oleh banyaknya struktur gigi tersisa (Garg, 2011).
b. Fungsi gigi
Fungsi gigi dalam lengkung rahang akan mempengaruhi beban kunyah yang
diterima gigi. Pemilihan restorasi dipengaruhi oleh fungsi dari gigi (Segovic, 2004).
c. Posisi atau lokasi gigi
Gigi anterior membutuhkan pertimbangan estetik yang lebih dibandingkan
dengan gigi posterior. Restorasipada gigi anterior harus memiliki nilai estetik yang
baik (Cheung, 2011).
d. Morfologi atau anatomi saluran akar
Morfologi saluran akar berpengaruh dalam pemilihan restorasi. Morfologi
akar yang bengkok dapat menjadi pertimbangan jika ingin direstorasi dengan
mahkota pasak (Cheung, 2011).
Semakin sedikit sisa dari struktur gigi dan semakin besar fungsi gigi dalam
lengkung rahang, pemilihan restorasi harus dilakukan dengan lebih hati-hati. Gigi dengan
sisa struktur gigi yang sedikit dan beban kunyah yang besar memiliki risiko fraktur yang
lebih tinggi, sehingga perencanaan harus dilakukan dengan lebih baik (Ford, 2004).
2. Menetapkan Restorasi Gigi setelah Perawatan Endodontik
Kegagalan restorasi setelah perawatan endodontik yang sering terjadi diantaranya
adalah kebocoran tepi, lepasnya restorasi, fraktur restorasi, atau fraktur dari gigi yang
telah direstorasi. Terdapat beberapa dasar pertimbangan dalam memilih restorasi setelah
perawatan endodontik agar restorasi dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama
(Suprastiwi, 2006).

a. Syarat Ideal untuk Restorasi Pasca Perawatan Endodontik


Beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh restorasi setelah perawatan
endodontik.
1) Menutupi koronal secara menyeluruh
Restorasi pada gigi yang telah dirawat endodontik harus dapat menutupi
koronal secara menyeluruh agar dapat mencegah terjadinya infeki berulang
(Ford, 2004).
2) Melindungi struktur gigi yang tersisa
Gigi yang telah dirawat endodontik seringkali kehilangan jaringan keras
dalam jumlah bear, sehingga gigi menjadi rentan terhadap fraktur. Restorasi
harus dapat melindungi struktur gigi yang tersisa, agar gigi terhindar dari risiko
fraktur (Ford, 2004).
3) Memiliki retensi agar restorasi tidak lepas
Bentuk retensi adalah suatu bentuk preparasi kavitas sedemikian rupa
sehingga restorasi tidak terlepas dari gigi. Pemilihan restorasi dilakukan dengan
mempertimbangkan bentuk retensi dari gigi (Roberson et al., 2006 ; Segovic,
2004).
4) Memiliki resistensi agar mampu menahan daya kunyah
Bentuk resistensi adalah suatu bentuk kavitas sedemikian rupa sehingga
gigi bersama restorasi dapat menahan beban kunyah (Walmsley et al., 2007).
Semakin lebar istmus kavitas oklusoproksimal, resistensi gigi terhadap fraktur
semakin rendah. Bentuk resistensi sangat penting, karena bentuk resistensi yang
kurang menyebabkan restorasi atau gigi pecah. Masing-masing rsetorasi
memiliki bentuk resistensi untuk mencegah pecahnya restorasi. Resistensi gigi
terhadap fraktur menurun dengan semakin lebarnya istmus dari kavitas
oklusoproksimal (Ford, 2004).
5) Mampu mengembalikan fungsi gigi, yaitu fungsi pengunyahan, estetik, bicara,
dan menjaga gigi antagonis dan gigi sebelahnya (Cohen, 2011 ; Segovic et al.,
2004 ; Sisthaningsih & Suprastiwi, 2006).
b. Jenis Bahan Restorasi untuk Gigi Pasca Perawatan Endodontik
Terdapat beberapa jenis restorasi yang dapat digunakan untuk gigi setelah
perawatan endodontik. Bahan restorasi tersebut diantaranya adalah komposit resin,
semen glass ionomer, porselen, dental amalgam, dan logam cor (Suprastiwi, 2006).
1) Resin Komposit

Resin komposit terdiri dari empat komponen utama, yaitu matriks


organik, filler anorganik, coupling agent, dan sistem inisiatior-akselerator
(Powers and Sakaguchi, 2006). Ukuran dan filler bermacam-macam (Roberson,
et al., 2006).
Filler jenis hybrid muncul sekitar tahun 1980. Ukuran partikel filler ratarata 0,5-1 m dengan 75%-80% dari berat. Komposit ini kuat dan mempunyai
permukaan yang lebih halus dari microfill setelah pemolesan (Gladwin and
Bagby, 2009).
Filler nanofill terdiri dari zirkonia-silika, nanocluster dan partikel nano
silika. Filler ini mempunyai ukuran yang sangat kecil, yaitu kurang dari 20 nm
atau berkisar antara 0,05-0,01m, sehingga komposit ini lebih mudah dipoles
(Mitra, et al., 2003; Roberson, et al., 2006).
Beberapa sifat bahan komposit resin diantaranya adalah memiliki nilai
estetik yang baik, koefisien ekspansi termal tiga kali lebih besar dibandingkan
struktur gigi, dan modulus elastisitas rendah, yaitu 2.000 lbs/in2 (Roberson et
al., 2006 ; Scianamblo, 2002). Restorasi dengan bahan komposit terdapat pada
Gambar 1.

Gambar 1. Restorasi Komposit pada Gigi yang telah Dirawat


Endodontik (Brenna et al., 2009)
Komposit resin merupakan campuran resin polimerisasi yang diperkuat
oleh filler anorganik. Memiliki compressive strength sekitar 280 Mpa dengan
modulus elastisitas sekitar 10-16 Gpa, yang mendekati dentin. Ketahanan
fraktur dari restorasi bonded sama dengan gigi. Resin komposit dengan
penyinaran yang tepat memiliki sifat mekanis baik dan dapat memperkuat
stuktur gigi melalui mekanisme bonding (Cohen, 2011).

Kekurangan dari komposit adalah penyusutan yang terjadi selama


polimerisasi. Penyusutan ini mengakibatkan masalah dalam jangka waktu yang
lama. Perkembangan dental komposit resin menyebabkan restorasi ini menjadi
bahan alternatif sebagai pengganti dari dental amalgam untuk gigi posterior,
yaitu dengan menggunakan komposit hight strength untuk gigi posterior
(Cohen, 2011 ; Walmsley, 2007).
Bahan ini menjadi pilihan jika pasien tidak mengiginkan pembuangan
jaringan gigi yang lebih banyak. Komposit resin ini dapat digunakan sebagai
restorasi gigi setelah perawatan endodontik (Walmsley, 2007 ; Garg, 2011 ;
Manhart, 2011).
Restorasi setelah perawatan endodotik dengan menggunakan bahan
komposit dapat dibuat secara direk maupun indirek. Restorasi direk menjadi pilihan
pada kavitas yang kecil, yaitu kehilangan satu linggir proksimal dan kehilangan
satu atau dua bonjol (Brenna et al., 2009 ; Walmsley, 2007).
Restorasi indirek menjadi pilihan pada gigi yang kehilangan struktur gigi
dalam jumlah besar. Resin komposit indirek dikerjakan di laboraturium dapat
meningkatkan conversion rate dari polimer dan sifat fisik dari bahan restorasi.
Komposit indirek memiliki kekuatan dan wear resistance yang lebih baik.
Keuntungan komposit resin yang dibuat secara indirek diantaranya adalah
menurunkan risiko penyusutan polimer, memudahkan dalam insersi, dan hasil
estetik yang lebih baik (Settembrini, 1998 ; Walmsley, 2007).

2) Semen Glass Ionomer


Semen Glass Ionomer merupakan materi plastis yang terdiri dari glass
aluminosilikat dengan kandungan fluor yang tinggi, berinteraksi dengan asam
polialkenoic. Semen glass ionomer memberikan estetik yang baik, terutama sebagai
restorasi pada gigi anterior (Mount, 1994). Compressive strength dan kekerasan
dari Glass Ionomer rendah.
Compressive stregth glass ionomer adalah yaitu 150 Mpa atau 22.000 psi.
Tensile strength semen glass ionomer sebesar 6,6 Mpa atau 960 psi. Besarnya
kekerasan semen glass ionomer adalah 48 KHN. Semen glass ionomer bersifat
rapuh sehingga tidak digunakan untuk tambalan di bagian oklusal yang menahan
daya kunyah besar (Suprastiwi, 2006 ; Annusavice, 1996).
Glass ionomer bersifat biokompatibel, yaitu menunjukkan efek biologis
yang baik terhadap struktur gigi. Ketahanan terhadap reaksi pulpa lebih tinggi
daripada zinc oxida-eugenol, tetapi lebih rendah daripada semen zinc phospate

(Qualtrough, 2005). Kelebihan dari semen glass ionomer adalah bersifat adhesif.
Semen glass ionomer mampu berikatan dengan enamel dan dentin secara kimia.
Ikatan tersebut bersifat adhesif dan memerlukan ikatan mekanik dengan kavitas
yang telah dipreparasi sehingga menghasilkan penutupan yang baik (Suprastiwi,
2006).
Keunggulan lain dari semen glass ionomer adalah bersifat antikariogenik,
yaitu dapat mencegah terjadinya karies, disebabkan terjadinya pembebasan flouride
oleh semen. Demikian halnya dengan enamel yang berkontak dengan restorasi
semen tersebut, akan memperoleh flouride sehingga dapat meningkatkan daya
tahan terhadap asam (Qualtrough, 2005).
Kekurangan dari semen glass ionomer adalah ketahanan terhadap abrasi
yang kurang. Semen glass ionomer kurang kuat, tidak dapat menahan gaya
mastikasi yang besar. Semen ini juga tidak tahan terhadap keausan penggunaan
dibandingkan bahan restorasi estetik lainnya, seperti komposit dan keramik
(Roberson, 2006).
Restorasi glass ionomer merupakan indikasi pada gigi setelah perawatan
endodontik dengan beban kunyah minimal, seperti pada gigi anterior dengan
kerusakan jaringan yang tidak terlalu banyak. Restorasi ini merupakan
kontraindikasi pada gigi dengan beban kunyah yang besar, seperti pada gigi
posterior (Mount, 1994 ; Roberson et al., 2006 ; Suprastiwi, 2006).
3) Porselen
Komposisi dari porselen konvensional adalah Silika (SiO2), felsdpar potas
(K2O.Al2O3.6SiO2), feldspar soda (Na2O.Al2O3.6SiO2), dan pigmen. Silika
terdapat dalam empat bentuk, yaitu quartz kristalin, kristobalit kristalin, trydimite
kristalin, dan silika gabungan non kristal (Anusavice, 1996).
Porselen dapat diklasifikasikan menurut temperatur pembakaran, aplikasi,
teknik pembuatan, dan fase kristalin. Berdasarkan temperatur pembakaran, porselen
diklasifikasikan menjadi high fusing, medium fusing, low fusing, dan ultra low
fusing (Craig, 2002).
High fusing merupakan porselen paling kuat dibandingkan dengan ketiga
lainnya, translusensi baik, dan dapat menjaga keakuratan bentuk dalam proses
pembakaran berulang. Tipe ini digunakan sebagai elemen gigi tiruan (Craig, 2002).
Medium dan low fusing memiliki homogenitas bubuk yang baik,
menguntungkan selama proses pembakaran. Tipe ini digunakan untuk restorasi all
porcelain dan metal porselen. Ultra low dan low fusing digunakan sebagai restorasi

mahkota dan jembatan (Craig, 2002). Berdasarkan aplikasi, porselen dibedakan


menjadi porselen untuk mahkota dan jembatan, all porcelain sebagai restorasi inlay,
onlay, mahkota, veneer, dan porselen untuk gigi tiruan. Berdasarkan bentuk
kristalin, porselen dibedakan menjadi dua fase, yaitu fase glassy dan fase kristalin.
Nilai estetika dental porselen sangat tinggi, sehingga menjadi pilihan bahan
restorasi untuk gigi anterior. Porselen bersifat rapuh dengan tingkat kekerasan yang
sangat tinggi, melebihi enamel, sehingga dapat mengikis gigi antagonisnya, dan
memiliki tensile strength rendah. Material ini resisten terhadap korosi dan abrasi
(Kidd, 2003 ; Qualthrough, 2005 ; Park, 2002 ; Walmsley, 2007).
Terdapat dua pilihan dalam penggunaan bahan porselen, yaitu seluruhnya
porselen (all porcelain), atau metal porselen. All porcelain digunakan untuk kavitas
gigi yang dalam, sehingga restorasi porselen memiliki ketebalan yang cukup untuk
menahan tekanan kunyah (Qualthrough, 2005). Salah satu bahan inti dari all
porcelain yang sedang berkembang saat ini adalah Zirconia. Zirconia merupakan
bahan dengan sifat biokompatibel yang baik dan adhesi bakteri pada bahan
minimal. Sifatnya rapuh namun memiliki daya transformation toughening, yang
menyebabkan Zirconia memiliki ketahanan terhadap fraktur yang lebih baik sebagai
bahan all porcelain dibandingkan dengan porselen lainnya. Bahan ini menjadi salah
satu pilihan pada restorasi mahkota all porcelain (Raigrodski et al., 2006).
All porcelain digunakan untuk kavitas gigi yang dalam sehingga restorasi
porselen memiliki ketebalan yang cukup untuk menahan tekanan kunyah
(Qualthrough, 2005). Bahan baru untuk porselen adalah porselen felspathic seperti
In-Ceram, Cerec, IPS Empress, atau fabricated dari sistem keramik lain diantaranya
alumina, zirconia, atau silika. Bahan yang lebih baru adalah lithium disilicate yang
memiliki kekuatan lebih baik, ketahanan terhadap fraktur yang lebih baik, dan
tingkat translusensi yang lebih tinggi. Bahan-bahan ini dapat menahan tekanan yang
besar sebagai restorasi pada gigi posterior yang telah dirawat endodontik
(Raigrodski et al., 2006). Restorasi onlay dengan bahan porselen terdapat pada
Gambar 2.

Gambar 2. Restorasi Onlay Porselen pada Gigi Molar Pertama (Aschheim &
Dale, 2011)
Metal porselen merupakan restorasi yang menggabungkan sifat baik dari
logam dan porselen. Memiliki kekuatan dari logam dan sifat estetik dari porselen
(Cohen, 2011 ; Walmsley, 2007). Bahan yang sering digunakan untuk metal
porselen adalah emas-porselen. Bentuk restorasi dengan bahan porselen dapat
berupa inlay, onlay, dan mahkota prostetik (Brenna et al., 2009 ; Segovic, 2004).
Bahan yang dapat digunakan untuk restorasi metal porselen salah satunya adalah
emas porselen, pengurangan jaringannya sebanyak 1,8 hingga 2 mm. Metal
porselen kuat terhadap fraktur karena didukung oleh logam (Brenna et al., 2009 ;
Walmsley, 2007).
Indikasi pemilihan bahan porselen disesuaikan dengan kebutuhan gigi dan
keinginan pasien. Gigi posterior secara umum tidak membutuhkan restorasi dengan
nilai estetika yang tinggi, namun jika pasien mengiginkan restorasi yang estetis
maka bahan ini menjadi pilihan (Suprastiwi, 2006).
Porselen merupakan indikasi pada gigi yang membutuhkan nilai estetika
tinggi, sebagai mahkota pada restorasi mahkota pasak, dan gigi dengan pewarnaan.
Veneer merupakan pilihan restorasi pada gigi yang mengalami pewarnaan (Brenna
et al., 2009). Veneer merupakan restorasi yang meliputi seluruh permukaan labial,
incisal edge hingga seluruh kontak proksimal (Chong, 2004).
Penggunaan restorasi mahkota setelah perawatan endodontik perlu
pertimbangan karena membutuhkan pembuangan dinding, sehingga dinding yang
tersisa pada gigi setelah dirawat endodontik cukup tipis. Terdapat beberapa keadaan
yang menyebabkan restorasi porselen menjadi kontraindikasi. Gigi dengan oklusi

edge to edge dan gigi dengan mahkota klinis yang pendek tidak diindikasikan untuk
direstorasi dengan porselen. (Suprastiwi, 2006 ; Walmsley, 2007).
Pembuatan porselen dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi
CAD/CAM

(computer-aided

design/

computer-assisted

manufacturing).

(Raigrodski et al., 2006 ; Rimondini et al., 2002 ; Scarano et al., 2004). CAD/CAM
merupakan suatu teknologi dengan membuat gambar gigi yang sudah dipreparasi,
untuk kemudian dirancang ukuran serta bentuk restorasi oleh komputer (CAD) dan
untuk pembuatan restorasi dengan bantuan komputer (CAM). Teknologi ini dapat
digunakan pada restorasi dengan bahan porselen atau logam (Anusavice, 1996).
4) Dental Amalgam
Dental amalgam merupakan campuran beberapa logam (alloy) yang
dikombinasikan dengan merkuri menjadi satu kesatuan hingga membentuk massa
yang plastis dan solid. Campuran logam dan merkuri ini disebut dental amalgam.
Hasil campuran ini memiliki kekerasan dan kekuatan yang lebih besar
dibandingkan bahan tambal lainnya (Anusavice, 2003; Manappallil, 2003).
Alloy yang terdapat pada dental amalgam konvensional yaitu campuran dari
silver, tin, cooper, zinc. Silver meningkatkan kekuatan, setting expansion, dan
resistensi terhadap tarnis, namun menurunkan creep. Tin mengurangi kekuatan,
kekerasan, dan ketahanan terhadap tarnis, namun mengendalikan reaksi antara
silver dan merkuri. Tanpa tin reaksi pengerasan akan terlalu cepat terjadi
(Anusavice, 1996).
Copper meningkatkan ekspansi saat pengerasan, serta meningkatkan
kekuatan dan kekerasan. Zinc dapat menyebabkan terjadinya delay expansion bila
campuran amalgam terkontaminasi oleh cairan selama proses manipulasi. Zinc
dapat mencegah oksidasi dari unsur unsur penting seperti silver, copper ataupun
tin. Alloy yang dibuat tanpa zinc akan menjadi lebih rapuh, sedangkan amalgam
yang dibuat dengan penambahan zinc akan menjadi kurang palstis (Anusavice,
1996).
Sifat penting dari amalgam diantaranya adalah koefisien ekspansi termal 2,5
kali lebih besar dibandingkan struktur gigi. Kekuatan tekan amalgam sangatlah
penting karena restorasi amalgam harus dapat menahan daya kunyah dari gigi
selama proses pengunyahan berlangsung. Kurangnya kekuatan tekan amalgam
berpengaruh terhadap kerusakan marginal dari restorasi ataupun terjadinya fraktur.
Hal ini dapat meningkatkan resiko korosi, terjadinya karies sekunder dan kegagalan
klinis yang lain (Roberson et al., 2006).

Kekuatan amalgam dapat dipengaruhi dari tipe amalgam itu sendiri dan
juga fase yang terjadi pada reaksi pengerasan. Dental amalgam memiliki kekuatan
tekan yang lebih besar dibandingkan dengan kekuatan tariknya. Oleh karena itu
bentuk kavitas harus dapat meminimalisir tensile stress yang terjadi (Van Noort,
2007; Gladwin and Bagby, 2009; Anusavice, 2003; Powers, 2006).
Compressive strength dari high-copper amalgam sama dengan gigi, dan
tensile strength lebih rendah dari struktur gigi (Garg, 2011 ; Roberson et al., 2006).
Aliran amalgam dipengaruhi oleh perubahan beban selama restorasi berada dalam
gigi. Amalgam merupakan konduktor suhu yang baik (Roberson et al., 2006).
Modulus elastisitas dari amalgam adalah 4.000 lbs/in 2 (Scianamblo, 2002).
Amalgam merupakan restorasi kontroversial, karena kandungan merkuri
yang terdapat di dalamnya. Suatu penelitian menemukan bahwa hasil evaluasi
restorasi amalgam setelah tiga tahun pemakaian terbukti baik, namun setelah lima
tahun ditemukan lebih banyak terjadi fraktur pada gigi yang direstorasi dengan
amalgam setelah perawatan endodontik dibandingkan dengan restorasi komposit
resin dan pasak fiber (Manocci et al., 2005).
Amalgam digunakan sebagai bahan tambal direk karena mudah
ditempatkan pada kavitas dan setelah mengeras akan mengembalikan bentuk dan
fungsi gigi seperti semula. Preparasi gigi tidak hanya membuang bagian yang rusak
dan struktur yang lemah pada gigi, tetapi harus membuat tambalan amalgam
tersebut berfungsi secara baik (Roberson, 2006).
Amalgam menjadi pilihan restorasi karena memiliki kekuatan yang baik,
harga terjangkau, dan mudah dalam proses manipulasi (Andrew & McCoy, 1993).
Indikasi dari dental amalgam diantaranya adalah pada gigi yang tidak
membutuhkan pertimbangan estetika seperti pada gigi posterior (Garg 2011 ;
Roberson et al., 2006).
Kontraindikasi dari dental amalgam adalah gigi yang membutuhkan nilai
estetika yang tinggi seperti pada gigi anterior, dan gigi dengan retensi yang rendah.
Hal ini menyebabkan amalgam tidak menjadi pilihan utama sebagai restorasi gigi
setelah perawatan endodontik, karena sisa jaringan keras gigi yang tersisa seringkali
tidak memiliki retensi yang dibutuhkan oleh restorasi amalgam (Suprastiwi, 2006).
Amalgam bukan pilihan terbaik dalam merestorasi gigi setelah perawatan
endodontik, hilangnya bonjol dalam preparasi kavitas perawatan endodontik
menyebabkan gigi rentan terhadap fraktur vertikal, restorasi intrakoronal seperti

amalgam tidak dapat melindungi gigi dari risiko ini (Brenna et al., 2009 ; Weine,
2004). Fraktur mahkota akibat restorasi yang tidak adekuat terdapat pada Gambar 3.

Gambar 3. Fraktur Mahkota dan Akar akibat Bonjol yang Tidak Terlindung
5) Logam Cor
Logam cor merupakan campuran dari dua atau lebih dari logam. Bahan
yang dapat digunakan pada logam cor, yaitu alloy emas, alloy cobalt-chromium,
alloy perak-palladium, alloy alumnium-tembaga, stainless steel, alloy nickelchromium, dan alloy nikel-titanium (Anusavice, 1996).
Beberapa penelitian menyatakan bahwa logam cor yang mengandung alloy
emas lebih rendah dari 65% hingga 75% rentan terhadap korosi. Alloy emas sendiri
memiliki sifat lunak, karena itu harus diperkuat dengan tembaga, perak, atau
platinum. Palladium juga dapat ditambahkan untuk mencegah potensi karat dari
perak. Penambahan platinum dan palladium dalam emas akan menurunkan
koefisien akspansi termal (Anusavice, 1996).
Sifat yang diharapkan logam cor adalah biokompatibel, mudah dicairkan,
dicor, dan dipoles. Sifat lainnya adalah mengalami penyusutan yang sedikit ketika
memadat, mempunyai ketahanan abrasi yang baik, kekuatannya tinggi, tahan
terhadap tekanan dan korosi (Anusavice, 1996).
Bahan logam cor diindikasikan untuk gigi posterior karena kekuatannya
yang baik. Logam cor merupakan pilihan bahan restorasi untuk gigi setelah
perawatan endodontik. Bentuk restorasinya dapat berupa inlay, onlay, dan mahkota
penuh. Inlay merupakan restorasi indirek intra koronal yang tidak melindungi
bonjol gigi (Qualtrough, 2005).

Inlay sebagai restorasi indirek, merupakan restorasi yang dapat menahan


beban kunyah yang lebih besar dibandingkan dengan restorasi yang dibuat secara
direk. Inlay bukan restorasi pilihan pada gigi setelah perawatan endodontik, karena
daya dukung intrakoronalnya tidak dapat melindungi gigi dari risiko fraktur
(Heasman, 2003 ; Suprastiwi, 2006 ; Weine, 2004).
Onlay merupakan restorasi indirek yang menutupi sebagian permukaan
ekstra koronal gigi dan tetap mengikuti kontur dari gigi. Onlay merupakan pilihan
restorasi pada perawatan endodontik (Qualtrough, 2005).
Onlay digunakan secara luas pada gigi setelah perawatan endodontik,
terutama pada gigi posterior karena menyatukan dinding-dinding gigi dan
melindungi bonjol. Pembuangan kamar pulpa pada perawatan endodontik
menyebabkan gigi membutuhkan dukungan, baik dari intrakoronal maupun
ekstrakoronal, karena itu restorasi onlay menjadi pilihan (Stock et al., 2007 ;
Suprastiwi, 2006 ; Weine, 2004).
Restorasi mahkota penuh logam, seperti pada Gambar 4 merupakan
restorasi indirek ekstra koronal yang meliputi permukaan luar gigi dan membentuk
kembali kontur anatomi gigi secara menyeluruh. Restorasi mahkota merupakan
restorasi yang meliputi seluruh permukaan gigi (Qualtrough, 2005 ; Walmsley,
2007).

Gambar 4. Restorasi Mahkota Penuh Logam (Johnson, 2005)


Restorasi ini diindikasikan pada kavitas yang meliputi permukaan
proksimal dan gigi dengan beban oklusal yang tinggi, untuk mengurangi tekanan
pada gigi, seperti pada gigi posterior. Hal ini akan mencegah gigi dari risiko fraktur
(Johnson, 2002). Prosedur pembuatan logam cor membutuhkan waktu pengerjaan
yang panjang dan kunjungan berulang (Walmsley, 2007).

c. Jenis Restorasi untuk Gigi Pasca Perawatan Endodontik

Macam-macam restorasi setela perawatan endodontik dapat berdasarkan


beberapa pertimbangan. Salah satu pertimbangan adalah berdasarkan lokasi gigi,
yaitu anterior dan posterior (Ford, 2004 ; Weine, 2004).
1) Jenis Restorasi setelah Perawatan Endodontik untuk Gigi Anterior
Gigi anterior yang telah dirawat endodontik dan memiliki struktur
jaringan gigi yang sehat masih banyak, serta retensi yang cukup, dapat
direstorasi secara langsung dengan komposit resin atau semen glass ionomer
(Garg, 2011). Restorasi komposit dan glass ionomer terdapat pada Gambar 5
dan 6.

Gambar 5. Restorasi Resin Komposit Gigi Anterior (Brenna et al., 2009)


a. Gigi sebelum direstorasi
b. Gigi setelah direstorasi dengan menggunakan Resin Komposit

Gambar 6. Restorasi Glass Ionomer Gigi Anterior (Brenna et al., 2009)


a. Gigi sebelum direstorasi

b. Gigi setelah direstorasi dengan menggunakan Glass Ionomer


Gigi anterior dengan pewarnaan yang meliputi lebih dari setengah atau
seluruh koronal, dapat direstorasi dengan veneer komposit atau porselen, seperti
pada Gambar 7. Pilihan perawatan lain untuk pewarnaan gigi adalah bleaching
(Garg, 2011 ; Segovic, 2004).

Gambar 7. Gigi dengan Pewarnaan yang Direstorasi dengan Veneer (Brenna et


al., 2009)
a. Gigi dengan pewarnaan
b. Gigi yang telah direstorasi dengan Veneer
Gigi anterior dengan sisa jaringan keras gigi sedikit, retensi dari jaringan
gigi yang tersisa tidak adekuat, dan tidak dapat digunakan restorasi lain, maka
aspasak dan inti menjadi pilihan. Restorasi komposit menjadi kontraindikasi jika
sisa jaringan kurang dari sepertiga koronal (Cheung, 2011 ; Garg, 2011).
Restorasi pasak terdapat pada Gambar 8.

Gambar 8. Gigi setelah Perawatan Endodontik dengan Struktur Gigi Sehat yang
Tersisa Sedikit (Brenna, et al., 2009)
a. Gigi sebelum direstorasi

b. Penempatan pasak pada gigi


c. Gigi yang telah direstorasi
Gigi anterior rahang atas harus menahan stress lateral dari gigi rahang
bawah,

yang

akan

diteruskan

sepanjang

pasak

sehingga

memiliki

kecenderungan untuk patah. Hal ini menyebabkan penempatan pasak harus


dilakukan dengan tekanan seminimal mungkin (Segovic, 2004).
Gigi anterior rahang bawah memiliki anatomi akar yang menyulitkan
dalam penempatan pasak. Bentuk akar gigi yang sempit secara dimensi
mesiodistal menyebabkan penempatan pasak harus dilakukan dengan hati-hati
(Cheung, 2011).
Mahkota pasak merupakan suatu restorasi indirek. Restorasi ini terdiri
dari dua komponen, yaitu inti dan pasak. Inti dapat dibuat dengan bahan dental
amalgam, komposit resin, semen glass ionomer, atau logam cor (Qualthrough,
2005 ; Walmsley, 2007). Restorasi mahkota pasak gigi anterior terdapat pada
Gambar 9.

Gambar 9. Restorasi Mahkota Pasak Gigi Anterior (Brenna et al., 2009)


Pasak dan inti yang ideal harus memenuhi beberapa sifat, diantaranya
modulus elastisitas, compresive strength, dan koefisien ekspansi termal yang
sama dengan dentin. Sifat lain yang harus dimiliki adalah ketahanan terhadap
korosi dan kemampuan untuk berikatan yang baik (Cheung, 2011).
Mahkota pasak digunakan terutama pada gigi dengan kehilangan
struktur mahkota dalam jumlah besar. Pembuangan kamar pulpa pada perawatan
endodontik menyebabkan gigi membutuhkan dukungan baik, dari internal
maupun eksternal, karena itu mahkota pasak menjadi indikasi (Weine, 2004).

Mahkota pasak diindikasikan menjadi restorasi setelah perawatan


endodontik pada gigi anterior jika jaringan keras gigi yang tersisa tidak
memiliki bentuk retensi yang adekuat, yaitu pada gigi dengan sisa kehilangan
struktur gigi dalam jumlah besar dan membutuhkan penutupan menyeluruh
(Garg, 2011 ; Weine, 2004). Mahkota pasak menjadi kontraindikasi pada
keadaan seperti terdapat tanda kegagalan perawatan endodontik, retensi, dan
resistensi cukup untuk direstorasi menggunakan bahan plastis, serta jika terdapat
lateral stress akibat bruxism atau heavy incisal stress (Garg, 2011).
Faktor-faktor yang mempengaruhi retensi pasak antara lain adalah
panjang, diameter, preparasi, bentuk dan tekstur permukaan pasak, serta luting
agent atau bahan perekat. Pasak dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe, yaitu
prefabricated dan custom made (Fradani, 2008 ; Paula et al., 2011).
a) Pasak Prefabricated
Pasak prefabricated dapat diklasifikasikan menjadi aktif dan pasif.
Pasak aktif atau screw type secara mekanik berikatan dengan dinding
saluran akar dan memiliki retensi yang baik, namun selama penempatan dan
pengunyahan akan menimbulkan tekanan pada saluran akar. Pasak pasif
atau cemented tidak berikatan dengan dinding saluran akar dan lebih tidak
retentif dibandingkan pasak aktif, namun tekanan yang dihasilkan selama
penempatan dan pengunyahan juga lebih minimal (Cheung, 2011 ; Garg,
2011). Pilihan bahan untuk pasak prefabricated adalah alloy, stainless steel,
titanium, gold plated brass, porselen, dan fiber reinforced polymer. Pasak
metal seringkali menyebabkan terjadinya bayangan abu-abu (grey zone)
pada daerah servikal gingival dan dalam penggunaannya masih diperlukan
pembuangan daerah undercut untuk adaptasi pasak. Pasak fiber banyak
dipakai sekarang ini (Cheung, 2011 ; Garg, 2011). Berbagai macam pilihan
bahan pasak terdapat pada Gambar 10.

Gambar 10. Pilihan Bahan Pasak (Walmsey, 2007)


a. Pasak dari inti custom made logam
b. Pasak metal dari bahan titanium dan alloy
c. Pasak metal dari bahan titanium dan alloy
d. Pasak zirconia
e. Pasak fiber
Keuntungan penggunaan pasak fiber adalah non galvanis, tidak
rentan korosi, dan mencegah risiko kebocoran mikro. Pasak fiber memiliki
sifat fisik, modulus elastisitas, compressive strength, dan koefisien ekspansi
termal yang hampir sama dengan dentin. Kemampuan menyerap dan
menyalurkan gaya sama dengan gigi, sehingga mencegah fraktur pada akar.
Nilai estetik lebih baik dibandingkan dengan pasak logam, tidak ada risiko
korosi dan diskolorasi. Keuntungan lain dari pasak fiber adalah dapat
dikerjakan dengan sekali kunjungan. (Adanir, 2007 ; Gaikwad, 2011 ;
Uddanwadiker, 2007).
Pasak fiber dapat memperbaiki sifat fisik dan mekanis dari
komposit. Beberapa tipe fiber diantaranya adalah glass, karbon, KevlarTM,
VectranTM, dan polyethylene (Barutcigil et al., 2009).
Pasak fiber digunakan pada konsep yang tengah berkembang saat
ini, yaitu konsep monoblok. Monoblok merupakan konsep menggunakan
bahan adhesif sebagai keseluruhan restorasi pada gigi setelah perawatan
endodontik, seperti pada Gambar 11. Sealer, bahan pengisi adhesif, sistem
pasak adhesif yaitu dengan menggunakan pasak fiber, dan inti atau restorasi
dari bahan adhesif. Semen yang digunakan merupakan resin dual cure (Belli
et al., 2011).

Gambar 11. Ilustrasi Konsep Monoblok (Brenna et al., 2009)


a. Perlekatan pasak dengan inti
b. Perlekatan pasak dengan semen luting
c. Perlekatan dentin dengan semen luting
Konsep ini dapat memberi perlindungan yang lebih pada gigi yang
telah dirawat endodontik dan dapat memperkuat akar gigi. Hal ini
dikarenakan keseluruhan bahan yang digunakan homogen secara mekanis
dengan dentin pada akar (Belli et al., 2011 ; Tay et al., 2007).
Hasil penelitian yang dilakukan Sonya (2007), didapatkan kekuatan
retensi pasak fiber yang disemen dengan semen resin lebih besar
dibandingkan dengan pasak fiber yang disemen dengan semen glass
ionomer. Baru-baru ini telah banyak dilaporkan bahwa sistem semen resin
adhesif menghasilkan retensi yang paling baik untuk desain pasak fiber
maupun metal (Buttel et al., 2009 ; Vallittu, 1999).
b) Pasak Custom made
Bahan pilihan untuk pasak custom made adalah alloy dan porselen.
Mahkota pasak custom made dan inti logam emas sudah digunakan dalam
beberapa dekade sebagai restorasi setelah perawatan endodontik. Alloy
logam lain juga dapat digunakan sebagai bahan pasak, namun tingkat
kekerasannya dapat menyebabkan fraktur akar, sehingga klinisi lebih
memilih pasak dan inti emas sebagai restorasi gigi anterior. Kelemahan
bahan alloy emas adalah nilai estetiknya yang rendah, sehingga sekarang
tengah berkembang penggunaan restorasi all porcelain dan metal porselen
(Cheung, 2011 ; Garg, 2011).

Custom made diindikasikan untuk gigi dengan akar tunggal


terutama pada gigi dengan sisa mahkota yang minimal, karena pada kondisi
yang demikian pasak yang digunakan harus mampu menahan terjadinya
rotasi pada saat penempatan dan pengunyahan (Garg, 2011).
2) Jenis Restorasi setelah Perawatan Endodontik untuk Gigi Posterior
Gigi posterior menerima beban kunyah lebih besar dibandingkan dengan
gigi anterior, karena itu pertimbangan dalam pemilihan restorasi juga berbeda.
Faktor yang paling utama dalam menentukan restorasi adalah banyaknya
jaringan gigi sehat yang tersisa (Garg, 2011).
Gigi yang tidak berisiko fraktur dan memiliki sisa jaringan cukup
banyak, diindikasikan menggunakan restorasi sederhana. Kavitas yang tidak
meliputi proksimal dapat direstorasi dengan komposit high strength untuk gigi
posterior (Cheung, 2011 ; Cohen, 2011 ; Garg, 2011), seperti pada Gambar 12.

Gambar 12. Restorasi Direk Komposit setelah Perawatan Endodontik (Brenna


et al., 2009)
a. Sebelum gigi direstorasi
b. Sesudah gigi direstorasi dengan komposit resin
Logam cor sepeti alloy emas, mahkota emas, makota metal porselen, dan
restorasi all porcelain, merupakan restorasi pilihan pada gigi posterior yang
telah dirawat endodontik, seperti pada Gambar 13 dan 14. Restorasi ini
melindungi gigi dengan baik, walaupun membutuhkan pembuangan jaringan
dan biayanya cukup besar (Cheung, 2011 ; Garg, 2011).

Gambar 13. Restorasi Onlay Logam Cor (Sedyaningsih, 2010)


a. Sebelum gigi direstorasi
b. Sesudah gigi direstorasi dengan inlay logam cor

Gambar 14. Restorasi Mahkota Porselen (Aschheim & Dale, 2001)


a. Gigi sebelum direstorasi
b. Gigi setelah direstorasi dengan mahkota porselen
Gigi posterior selalu membutuhkan perlindungan koronal karena beban
kunyahnya yang besar. Premolar lebih rentan terhadap fraktur dibandingkan
dengan gigi molar dan harus direstorasi minimal dengan onlay pada kedua
bonjol (Segovic, 2004), seperti pada Gambar 15.

Gambar 15. Restorasi Onlay Indirek pada Gigi Premolar (Walmsey, 2007)

Gigi posterior secara umum tidak menggunakan mahkota pasak sebagai


restorasi. Ukuran kamar pulpa yang besar menyebabkan gigi posterior lebih
baik direstorasi dengan onlay atau mahkota penuh (Johnson, 2002 ; Stock et al.,
2007 ; Weine, 2004).
Mahkota pasak, seperti pada Gambar 16. menjadi pilihan jika restorasi
yang lain tidak memiliki retensi yang cukup untuk menggantikan struktur gigi
yang hilang, karena beberapa penelitian menyatakan bahwa restorasi mahkota
pasak dapat meningkatkan risiko fraktur (Cheung, 2005 ; Schwartz, 2004 ;
Tronstad, 2003).

Gambar 16. Restorasi Mahkota Pasak (Johnson, 2002)


Sumber
http://media.unpad.ac.id/thesis/160110/2007/160110070077_3_2149.pdf. Diakses pada hari
Minggu, 1 Desember 2013, pukul 20.13 WIB.