Anda di halaman 1dari 15

UJI KONFIRMASI DAN METODE PEMISAHAN

OBAT-OBAT GOLONGAN AMFETAMIN DAN OPIAT


DALAM URIN

Oleh
PUTU RINA WIDHIASIH
LUH PUTU DEVI KARTIKA
A.A LIDYA NIRMALA DEWI
NI PUTU PURI ARTINI
NI MADE ANDINI DEWI
THALIA ANGGREA NOOR
VITRI ANASTASIA IRIANTO

(P07134014002)
(P07134014006)
(P07134014008)
(P07134014014)
(P07134014016)
(P07134014018)
(P07134014020)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2016
BAB I
PENDAHULUAN

I. Tujuan Praktikum
Tujuan Umum
Mahasiswa mampu melakukan pemisahan obat-obat golongan amfetamin dan
opiate dari sampel urin.
Tujuan Khusus
1. Mampu melakukan penyiapan sampel untuk ekstraksi cair-cair dan ekstraksi
fase padat.
2. Mampu memisahkan obat-obat golongan amfetamin dan opiate dari sampel
urin dengan ekstraksi cair-cair dan ekstraksi fase padat.
II.

Latar Belakang
Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat / Bahan berbahaya
yang telah populer beredar di masyarakat perkotaan maupun di pedesaan
termasuk aparat hukum. Narkoba atau NAPZA merupakan bahan/zat yang bila
masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan syaraf
pusat/otak sehingga bilamana disalahgunakan akan menyebabkan gangguan
fisik, psikis/jiwa, dan fungsi social. Karena itu Pemerintah memberlakukan
Undang-Undang untuk penyalahgunaan narkoba yaitu Undang-Undang No.5
tahun 1997 tentang Psikotropika dan UU No. 22 tahun 1997 tentang Narkotika.
Permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba merupakan
permasalahan yang masih dihadapi oleh negara-negara di dunia, antara 153-300
juta jiwa atau sebesar 3,4%-6,6% penyalahguna narkoba dunia usia 15-64 tahun
pernah mengomsumsi narkoba sekali dalam setahun, dimana hampir 12% (15,5
juta jiwa sampai dengan 38,6 juta jiwa) dari penyalahguna adalah pecandu
berat. Berdasarkan jenis narkotika, ganja menduduki peringkat pertama yang
disalahgunakan ditingkat global dengan angka prevalensi 2,3%-2,9% per tahun
dari total populasi penduduk usia 15-64 tahun. Peringkat kedua, diikuti dengan
penyalahgunaan kokain dengan angka prevalensi sebesar 15%-19% per tahun.
Amfetamine-type stimulant (ATS) menduduki peringkat ketiga sebagai narkoba
yang disalahgunakan dengan estimasi sebesar 3,7 juta jiwa sampai 52,9 juta
jiwa usia 15-64 tahun (World Drug Report, 2012).
Amfetamin menekan nafsu makan, mengontrol berat badan, serta
menstimulasi system saraf pusat dan system kardiovaskular. Efek-efek tersebut

dihasilkan diperantarai dengan meningkatkan konsentrasi sinapsis dan


norepinefrindan dopamine melalui stimulasi pelepasan neurotransmitter dan
menghambat pengambilannya. Amfetamin merupakan suatu obat yang dapat
mempengaruhi sistem saraf pusat. Oleh karena itu, hal ini berbahaya jika
digunakan secara tidak terkendali oleh praktisi kesehatan (dokter atau apoteker).
Pada 2011, Afganistan memproduksi 5.800 ton opium, naik dari 3.600 ton
pada tahun sebelumnya, menurut laporan PBB yang dirilis Januari lalu.
Provinsi Helmand

sendiri

menjadi

penghasil 60 persen opium

Opium merupakan tanaman semusim

dunia.

yang hanya bisa dibudidayakan di

pegunungan kawasan subtropis. Tinggi tanaman hanya sekitar satu meter.


Daunnya jorong dengan tepi bergerigi. Bunga opium bertangkai panjang dan
keluar dari ujung ranting. Satu tangkai hanya terdiri dari satu bunga dengan
kuntum bermahkota putih, ungu, dengan pangkal putih serta merah cerah.
Kedua golongan obat tersebut dapat membahayakan banyak orang jika
digunakan karena menyebabkan kecanduan. Maka dari itu diperlukan
pemeriksaan untuk mengetahui ada tidaknya golongan tersebut pada
tubuh seseorang. Pemeriksaan konfirmasi dapat digunakan setelah uji skrining
dimana pemeriksaan konfirmasi ini merupakan suatu pemeriksaan lanjutan yang
lebih akurat karena hasil yang dikeluarkan sudah definitif menunjukkan
jenis

zat narkotika psikotropika yang terkandung di dalam sampel tersebut.

Pemeriksaan dilakukan apabila hasil pemeriksaan pendahuluan (screening test)


memberi hasil positif (BNN, 2008)

BAB II
DASAR TEORI
II.1

Uji Konfirmasi
Pemeriksaan konfirmasi adalah suatu pemeriksaan lanjutan yang lebih

akurat karena hasil yang dikeluarkan sudah definitif menunjukkan jenis zat
narkotika psikotropika yang terkandung di dalam sampel tersebut. Pemeriksaan
dilakukan apabila hasil pemeriksaan pendahuluan (screening test) memberi hasil
positif (BNN, 2008).

Umumnya

uji

pemastian

menggunakan

teknik

kromatografi

yang

dikombinasi dengan teknik detektor lainnya, seperti: kromatografi gas spektrofotometri massa (GC-MS), kromatografi cair kenerja tinggi (HPLC)
dengan diode-array detektor, kromatografi cair - spektrofotometri massa (LCMS), KLT-Spektrofotodensitometri, dan teknik lainnya. (Wirasuta, 2008)
II.2

Opiat
Opioida atau opiate berasal dari kata opium. Opioida adalah segolongan zat,

baik yang alamiah, semi sintetik, maupun sintetik yang khasiatnya analgetik.
Opioida memiliki sifat menghilangkan rasa nyeri, khasiat hipnotik (menidurkan)
dan euforik (menimbulkan rasa gembira). Beberapa yang termasuk opioida
alamiah adalah :
1. Morfin
Pemakaian morfin yang teratur akan cepat menimbulkan toleransi dan
ketergantungan. Opium mentah mengandung 4-21 % morfin. Morfin bekerja
pada reseptor opiate yang sebagian besar terdapat di susunan saraf pusat dan
perut.
2. Kodein
Kodein merupakan alkaloida alamiah yang terdapat dalam opioida mentah
sebanyak 0,7-2,5 %. Kodein juga opioida alamiah yang paling banyak
digunakan dalam pengobatan. Kodein mempunyai efek analgetik lemah,
sekitar 1/12 kekuatan analgetik morfin. Karenanya kodein tidak dipakai untuk
menghilangkan rasa nyeri, tetapi merupakan antitusif (anti batuk) yang kuat.
II.3

Metode Ekstraksi
Ekstraksi merupakan suatu metode yang digunakan dalam proses pemisahan

suatu komponen dari campurannya dengan menggunakan bantuan pelarut sebagai


tenaga pemisah.
1. Ekstraksi Cair-Cair
Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan
tetentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur seperti benzene dan
kloroform. Ekstraksi cair-cair digunakan sebagai cara untuk praperlakuan
sampel atau clean-up sampel untuk memisahkan analit-analit dari komponenkomponen matriks yang mungkin menganggu pada saat kuantifikasi atau

deteksi analit. Kebanyakan prosedur ekstraksi cair-cair melibatkan ekstraksi


analit dari fasa air kedalam pelarut organic yang bersifat non-polar atau agak
polar seperti n-heksana, metil benzene atau diklorometana. Meskipun
demikian, proses sebaliknya juga mungkin terjadi.Analit-analit yang mudah
tereksitasi dalam pelarut organic adalah molekul-molekul netral yang
berikatan secara kovalen dengan konstituen yang bersifat non-polar atau agak
polar. (Rohman, 2007)
2. Ekstraksi Padat-Cair
Jika dibandingkan dengan ekstraksi cair-cair, ekstraksi fase padat yang biasa
disebut Solid Phase Extraction (SPE) merupakan teknik yang relatif baru akan
tetapi SPE cepat berkembang sebagai alat yang utama untuk pra-perlakuan
sampel atau untuk clean-up sampel-sampel yang kotor, misal sampel-sampel
yang mempunyai kandungan matriks yang tinggi seperti garam-garam,
protein, polimer, resin, dll. (Rohman, 2007)
Keunggulan SPE dibandingkan dengan ekstraksi cair-cair adalah: proses
ekstraksi lebih sempurna, pemisahan analit dari penganggu yang mungkin ada
menjadi lebih efisien, mengurangi pelarut organik yang digunakan, fraksi
analit yang diperoleh lebih mudah dikumpulkan, mampu menghilangkan
partikulat, lebih mudah diotomatisasi. (Rohman, 2007)
II.4

Urin
Urine sangat berguna dalam skrining racun karena obat, racun dan metabolit

terdapat dengan konsentrasi yang lebih besar pada urin dibandingkan dalam
darah. Urine, tidak seperti plasma, bebas dari protein dan lipida, karena itu
umumnya dapat langsung diekstraksi dengan pelarut organik. Dibandingkan
dengan plasma atau serum, komposisinya bervariasi cukup besar yang dapat
dilihat dari warna gelap urine malam dibandingkan dengan warna yang pucat dari
urine yang dikumpulkan pada siang hari. (Wirasuta, 2008)
Urin segar berwarna kuning atau kuning-hijau, namun pada penyimpanan
sebagai larutan yang bersifat asam warna urin akan berubah menjadi kuningcoklat akibat terjadinya oksidasi dari urobilinogen menjadi urobilin. Sampel urin

tahan selama beberapa minggu jika disimpan pada suhu 2-8 0 C. Namun jika
dibekukan (-200 C), sampel urin yang diasamkan akan tahan sampai jangka waktu
yang panjang, tapi sebelumnya dilakukan sentrifugasi terlebih dahulu (Flanagan
et al., 2007)

BAB III
PROSEDUR KERJA
2.1 Medium Analit
Urine
Target

3.2

Derivat Amfetamin : Amfetamin (AM), Metamfetamin (MA), dan


Metilendioksimetanfetamin (MDMA)
Golongan Opiat : Morfin, Codein

Metode Pemisahan
Alat dan Bahan
a. Alat :
1. Alat sentrifugasi
2. Alat vortex
3. Gelas ukur

4. Pipet volume dan


Ballfilter
5. Pipet tetes
6. Gelas beaker

7. Botol vial
8. Labu ukur
9. Tabung reaksi
10. Plat silica GF 254
11. Chamber
12. Camag Nanomat 4
13. Spektrofotometer
b. Bahan :
1. Amfetamin (AM)

2. Metamfetamin (MA)
3. Metillendioksimetanfeta
min (MDMA)
4. Morfin
5. Codein
6. Buffer pospat pH 10,5
7. Metanol
8. Kloroform
9. Aquades
10. Eluent :TAEA dan TB

Prosedur Kerja
a. Ekstraksi sampel dengan menggunakan ekstraksi cair-cair

Sifat Fisikokimia Morfin

Struktur

pKa

pKa 8,0 (bersifat basa karena mengandung gugus

Kelarutan

amin tersier dan


pKa 9,9 (bersifat asam)
(ditengahnya dalam bentuk tak terion)
1 bagian larut dalam 5000 bagian air, dalam 210
bagian etanol, dalam 125 bagian gliserol, 1:1220
dalam kloroform, sangat mudah larut dalam campuran
kloroform isopropanol dan praktis tidak larut dalam

Titik isolistrik
Titik lebur
Koefisien partisi

eter
pH 9
254-256 C
1,4 atau 1 oktanol/air

Perhitungan Handerson Hasselbach (Morfin)


o pKa 8,00

99

100
1+ antilog( pKa pH )

100
99

= 1 + antilog (pKa - pH)

1,01

= 1 + antilog (pKa pH)


Misal : (pKa pH) = y

Antilog y

= 1,01 1

Antilog y

= 0,01

= log 0,01

= -2

pKa pH

=-2

8 pH

= -2

pH

= 10

o pKa 9,9

99

100
1+ antilog( pKa pH )

100
99

= 1 + antilog (pKa - pH)

1,01

= 1 + antilog (pKa pH)


Misal : (pKa pH) = y

Antilog y

= 1,01 1

Antilog y

= 0,01

= log 0,01

= -2

pKa pH

=-2

9,9 pH

= -2

pH

= 11,9

Sifat Fisikokimia Codein

Struktur

pKa

pKa 8,2

Kelarutan

Sukar larut dalam air : larut dalam air mendidih dan


dalam eter ; sanagat mudah larut dalam etanol; mudah
larut dalam kloroform; hampir tidak larut dalam

Titik isolistrik

petroleum eter atau dalam alkali hidroksida


lebih besar dari pH 9 ; lakukan penetapan dengan

Titik lebur
spectrum UV

larutan 0,5%
1550 sampai 1590
dalam larutan asam dengan serapan maksimum pada
panjang gelombang 285nm (A11= 55a) dan tidak da
serapan pada basa

Perhitungan Handerson Hasselbach (Codein)

CARA KERJA
Ekstraksi sampel dengan menggunakan ekstraksi cair-cair (MORFIN)

Diambil 1 ml sampel
urin ditaruh pada tabung
sentrifuge

Setelah selesai divortex,


tabung disentrifuge
dengan kecepatan 3000
rpm selama 10 menit

Fase yang terpisah dari


fase air diambil dengan
pipet dan ditampung
pada tabung lain (fraksi
A yang mengandung
morfin)

Dilanjutkan dengan penambahan 1 ml buffer


pospat pH 10 pada sampel dan ditambahkan
2 ml campuran klorofrom : isopropanol =
(3:1)

Kemudian tabung divortex dengan kecepatan


2500rpm selama 30 menit hingga terbentuk
emulsi sempurna.

Selanjutnya fraksi A kemudian diuapkan


pada suhu 60-70oC

Residu dilarutkan
dalam 25l metanol

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

DAFTAR PUSTAKA
BNN. 2008. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium Narkotika, Psikotropik, dan Obat
Berbahaya. Jakarta : BNN.
Flanagan, R. J., A. Taylor, I. D. Watson, R. Whelpton. 2007. Fundamentals of
Analytical Toxicology. John Wiley and Sons Ltd: West Sussex.
Rohman, Abdul. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
UNODC.

(2012).

World

Drug

Report

2012.

[online]

tersedia:

http://www.unodc.org/documents/dataandanalysis/WDR2012/WDR_2012_we
b_small.pdf (diakses : Rabu, 25 Mei 2016 ; 11:17)
Wirasuta, 2008. Analisis Toksikologi Forensik Dan Interpretasi Temuan Analisis.
Jakarta : Universitas Udayana Press.

Denpasar, 27 Mei 2016


Praktikan I

Praktikan II

(Putu Rina Widhiasih)

(Luh Putu Devi Kartika)

Praktikan III

Praktikan IV

(A.A Lidya Nirmala Dewi)

(Ni Putu Puri Artini)

Praktikan V

Praktikan VI

(Ni Made Andini Dewi)

(Thalia Anggrea Noor)


Praktikan VII

(Vitri Anastasia Irianto)

LEMBAR PENGESAHAN
Pembimbing I

(Dr.rer.nat. I Md Agus Gelgel


Wirasuta, M.Si.,Apt )

Pembimbing III

(Ni Made Widi Astuti, S.Farm,


M.Si.,Apt )

Pembimbing II

(Pande Made NovaArmitha, S.Farm.,


M.Si., Apt.)

Pembimbing IV

(G.A. Made Ratih Kusuma Ratna D.,


S.Farm.,Apt.)