Anda di halaman 1dari 11

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah

Mata Pelajaran

: Sejarah Indonesia

Kelas/ Semester

: X/ 1

Tema

: Memahami Corak Kehidupan Masyarakat Pada


Zaman Pra Aksara

Pertemuan

:7

Alokasi Waktu

: 2 x 45 menit

I. Kompetensi Inti
1; Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2; Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah

lingkungan, gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro aktif) dan
menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan
diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
3; Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual konseptual, prosedural dalam ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, peradaban terkait fenomena dan kejadian serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yag spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah.
4; Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

II. Kompetensi Dasar


Memahami corak kehidupan masyarakat pada zaman pra aksara
III. Indikator
3.4 Menganalisis jenis manusia praaksara
3.5 Menganalisis corak kehidupan masyarakat praaksara

IV. Tujuan Pembelajaran


Setelah selesai melakukan kegiatan pembelajaran, siswa dapat:
4.4 Menganalisis jenis manusia praaksara
4.5 Menganalisis corak kehidupan masyarakat praaksara
V. Materi Pembelajaran
5.4 Menganalisis jenis manusia praaksara
1. Pengertian manusia Pra aksara
Manusia pra aksara adalah manusia yang hidup sebelum tulisan dikenal. Karena belum
ditemukan peninggalan tertulis, maka gambaran mengenai kehidupan manusia purba dapat
diketahui melalui peninggalan-peninggalan berupa :
a; Fosil
Fosil adalah sisa sisa kerangka makhluk hidup yang telah membatu, yang pada
umumnya terdapat pada lapisan bumi. Diantara fosil fosil tersebut ada yang dapat
memberi petunjuk tentang kehidupan manusia pada jaman pra aksara, fosil itu disebut
dengan fosil pandu / Leif Fosil.
b; Artefak
Artefak adalah alat alat yang digunakan manusia purba untuk menunjang kehidupannya.
c; Abris Sous Roche
Abris Sous Roche adalah gua karang tempat perlindungan manusia purba. Abris Sous
Roche banyak ditemukan di teluk Triton (Irian Jaya), Pulau Seram dan Sulawesi Selatan.
d; Kejokken Moddinger
Kejokken Moddinger adalah tumpukan kulit kerang yang tinggi dan memanjang
menyerupai bukit. Banyak ditemukan di Medan (Sumatra Utara) dan langsa (Aceh).
2. Jenis jenis manusia Pra aksara
Beberapa jenis manusia purba yang ditemukan di Indonesia sebagai berikut:
a; Meganthropus paleojavanicus (manusia raksasa dari Jawa)
Fosil Meganthropus paleojavanicus merupakan jenis fosil paling tua di Indonesia. Fosil ini
ditemukan di Sangiran. Jawa Tengah antara tahun 1936 1941. Penemunya adalah
seorang peneliti Belanda yang bernama G.H.R Von Koenigswald.
Ciri ciri Meganthropus paleojavanicus adalah:
1)

Berbadan tegap dengan tonjolan tajam di belakang kepala.

2)

Bertulang pipi tebal dengan tonjolan kening yang mencolok.

3) Tidak berdagu.
4)

Otot kunyah, gigi, dan rahang besar dan kuat.

5)

Makanannya jenis tumbuh tumbuhan.

b; Pithecanthropus
Ciri ciri Pithecanthropus adalah:
1) Tinggi tubuhnya kira kira 165 180 cm.
2)

Badan tegap, namun tidak setegap Meganthropus.

3) Tonjolan kening tebal dan melintang sepanjang pelipis.


4)

Otot kunyah tidak sekuat Meganthropus.

5) Volume otaknya sekitar 900 cc.


6)

Hidung lebar dan tidak berdagu.

7)

Makanannya bervariasi.

Fosil Pithecanthropus yang ditemukan di Indonesia dikelompokan menjadi berbagai jenis:

Pithecanthropus Erectus

Pithecanthropus Erectus artinya manusia kera yang berjalan tegak. Fosil ini ditemukan
oleh Eugene Dubois pada tahun 1891 di Trinil, Lembah sungai Begawan Solo (Jawa
Tengah). Fosil yang ditemukan berupa tulang rahang bagian atas tengkorak, geraham dan
tulang kaki.

Pithecanthropus Soloensis

Pithecanthropus Soloensis artinya manusia kera dari Solo. Fosil ini ditemukan oleh G.H.R
Von Koenigswald dan Oppernoorth di Ngandong dan Sangiran, tepi sungai Begawan Solo
pada tahun antara 1931 1933. Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak dan tulang
kening.

Pithecanthropus Mojokertensis

Pithecanthropus Mojokertensis artinya manusia kera dari Mojokerto, fosil ini ditemukan
oleh duyfjes, G.H.R Von Koenigswald dan Cokro Handoyo di Perning, Mojokerto, Jawa
Timurpada tahun 1936. Fosil ini sering disebut juga Pithecanthropus Robustus artinya
manusia kera yang besar dan kuat tubuhnya.
c; Homo
Fosil jenis Homo merupakan jenis fosil yang paling muda dibandingkan fosil fosil
manusia purba jenis lain. Para ahli sering menyebut fosil fosil jenis Homo ini dengan

Homo Erectus (manusia berjalan tegak) atau Homo sapiens (manusia cerdas atau
bijaksana).
Ciri ciri jenis Homo antara lain :
1) Tinggi tubuh 130 210 cm.
2) Volume otak lebih berkembang disbanding Meganthropus dan Pithecanthropus.
3)

Otot kunyah, gigi dan ranhang sudah menyusut.

4) Tonjolan kening sudah berkurang dan sudah berdagu.


5)

Mempunyai ciri ciri ras Mongoloid dan Austramelanesoid.

Jenis jenis fosil Homo adalah :

Homo Soloensis

Homo Soloensis artinya manusia purba dari Solo. Fosil ini ditemukan oleh G.H.R Von
Koenigswald dan Weidenrich pada tahun 1931 1934 di lembah Sungai Bengawan Solo.
Fosil ini ditemukan berupa tulang tengkorak. Dilihat dari volume otaknya dapat diketahui
bahwa jenis ini sudah merupakan manusia bukan manusia kera.

Homo Wajakensis

Fosil jenis ini ditemukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1889 di daerah Wajak dekat
Tulungagung (Jawa Timur). Diperkirakan telah padai membuat alat alat dari batu
maupun tulang mereka juga diperkirakan telah mengenal cara memasak makanan.
5.5 Menganalisis corak kehidupan masyarakat praaksara
Corak kehidupan masyarakat Indonesia pada masa pra aksara dapat dikelompokkan
menjadi :
1; Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Sederhana
Kehidupan masyarakat masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
(zaman paleolitikum) masih sangat sederhana. Mereka hidup sangat tergantung dengan
alam dengan cara menumpulkan makanan dan berburu hewan. Kegiatan tersebut
dikenal dengan food gathering.
2; Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut
Masa ini disebut juga masa Mesolitikum. Berkembangnya pemikiran manusia
menyebabkan peningkatan penggunaan pikiran dab meningkatnya kebutuhan manusia
dalam mempertahankan hidupnya. Peningkatan jumlah anggota kelompok dan
perpindahan tempat akan menyebabkan permasalahan baru. Perpindahan tempat
(nomaden) dalam rangka berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering)

dianggap sudah tidak memadai lagi maka manusia purba mulai membuat tempat
tinggal tetap untuk sementara (semi sedenter).
3; Masa Bercocok Tanam di Sawah
Masa bercocok tanam di sawah juga zaman neolitikum. Pada masa ini terjadi
perubahan besar dalam kehidupan manusia atau revolusi dari food gathering menjadi
food producing, dari nomaden menjadi menetap. Dengan perubahan tersebut, semua
kebutuhan dan perkakas untuk memenuhi kebutuhan juga berubah. Perkakas menjadi
lebih halus, manusia sudah mulai memasak, mulai mempercantik diri dengan
ditemukan berbagai perhiasan.
4; Masa Perundagian Logam
Sebagai salah satu dampak kehidupan menetap adalah bahwa manusia mulai semakin
berkembang cara berpikirnya, sehingga mulai mampu menemukan cara membuar
perkakas dari logam. Penemuan logam mendorong manusia menciptakan perkakasperkakas untuk kebutuhan sehari-hari. Pengolahan logam memerlukan keahlian
khusus, sehingga kemudian berkembang menjadi mata pencaharian untuk kelompok
masyarakat tertentu.
5; Masa Batu Besar / Megalithikum
Kebudayaan baru besar atau Megalithikum sebenarnya bukan babakan budaya
tersendiri. Kebudayaan ini berkembang seiring dengan perkembangan kebudayaan
spiritual / rohani manusia purba. Manusia purba sudah mempercayai bahwa setelah
kematian ada kehidupan, meski mereka belum faham benar tentang hal itu. Maka
kemudian setiap kematian selalu ditandai dengan menggunakan bangunan batu yang
besar.
VI. Metode, model dan Pendekatan Pembelajaran
6.1;

Menggunakan metode pembelajaran diskusi, tanya jawab,

ceramah, dan penugasan karena dalam pengaplikasian di kelas


kegiatan pembelajaran menggunakan diskusi kelompok sesuai
dengan materi yang telah ditentukan setiap kelompoknya dan pada
akhir pembelajaran siswa mendapat tugas.
6.2;
Menggunakan model pembelajaran modifikasi STAD.
6.3;
Menggunakan pendekatan Scientific Approach.

VII. Proses Pembelajaran


No.
1

Kegiatan Pembelajaran
Pendahuluan

Alokasi Waktu
Karakter
Keterlaksanaan
15 menit
Cerdas, rasa ingin

a; Motivasi dan Apersepsi

tahu, bertanggung Siswa diberi

Guru menyampaikan garis

jawab

besar tujuan pembelajaran.

penjelasan
mengenai tujuan
pembelajaran.

Kegiatan Inti

60 menit

a; Mengamati
Guru memberikan kesempatan

Siswa mengamati

kepada siswa untuk

gambar manusia

mengamati gambar manusia

praaksara dan

praaksara dan materi dalam

materi dalam slide

slide power point.

power point.

b; Menanyakan

Siswa mengajukan

Guru memberikan kesempatan

pertanyaan

dan memberikan dorongan

sehubungan

kepada seluruh siswa untuk

dengan gambar

mengajukan pertanyaan

dan corak

mengenai corak kehidupan

kehidupan

masyarakat praaksara.

manusia

c; Mengeksperimen

praaksara.

Untuk menjawab

Siswa

pertanyaan, siswa

mengacungkan

mengumpulkan data

tangan jika

dengan membaca buku

menemukan

paket dan sumber-sumber

jawaban dari

lainnya.

pertanyaanpertanyaan yang

d; Mengasosiasi

Siswa diberikan tugas


portofolio untuk

diajukan siswa
lain.

menganalisis:

Siswa

a; Kehidupan

mengumpulkan

masyarakat Indonesia

data untuk

pada masa berburu

menemukan

dan mengumpulkan

jawaban dengan

makanan tingkat

membaca buku

sederhana.

paket dan sumber-

b; Kehidupan

sumber lainnya.

masyarakat Indonesia
pada masa berburu
dan mengumpulkan
makanan tingkat
lanjut.
c; Kehidupan
masyarakat Indonesia
pada masa bercocok
tanam di sawah.
d; Kehidupan
masyarakat Indonesia
pada masa
perundagian logam.
e; Kehidupan
masyarakat Indonesia
pada Masa Batu Besar
/ Megalithikum.
e; Mengkomunikasikan

Dengan bimbingan
guru, siswa
mengerjakan tugas
yang telah diberikan.

Perwakilan siswa
diminta

menginformasikan kata

15 menit

kunci analisa siswa ke


dalam forum diskusi
kelas.
Penutup
a; Bersama siswa
membuat kesimpulan
hasil pembelajaran.
b; Memberikan apresiasi
terhadap semua siswa
yang terlibat aktif dan
kondusif selama
kegiatan pembelajaran
berlangsung.
c; Melakukan refleksi
terhadap seluruh
kegiatan belajar
mengajar.
d; Guru memberikan
tugas portofolio untuk
dikumpulkan
pertemuan berikutnya.
e; Guru menyampaikan
rencana pembelajaran
pada pertemuan
berikutnya, yakni
Menganalisis
berdasarkan tipologi
hasil budaya
Praaksara Indonesia
termasuk yang berada
di lingkungan
terdekat.
f; Mengajak siswa untuk

bersama-sama
mengucapkan rasa
syukur.
VIII. Alat/ Media dan Sumber Belajar
Alat/ Media:
1; Power point
Sumber Belajar:
1; Buku Guru. 2013. Sejarah Indonesia, Kelas X. Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan RI.
2; Buku Siswa. 2013. Sejarah Indonesia, Kelas X. Kementrian Pendidikan dan
Kebudayaan RI.
3; Artikel dari internet.
IX. Penilaian Hasil Belajar
Penskoran Nilai dengan Rumus: Nilai portofolio X 100 =
Skor maksimum

Penilaian ketuntasan pembelajaran

Kompetensi Dasar

Kriteria

Nilai

Nilai

Ketuntasan

Kualitatif

Kuantitatif

Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat kurang

5
4
3
2
1

Memahami Corak Kehidupan 91-100


81-90
Masyarakat Pada Zaman Pra
71-80
Aksara
61-70
>60
Tugas Portofolio

1. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Sederhana


Kehidupan masyarakat masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana
(zaman paleolitikum) masih sangat sederhana. Mereka hidup sangat tergantung dengan
alam dengan cara menumpulkan makanan dan berburu hewan. Kegiatan tersebut dikenal
dengan food gathering.
Perkakas yang dihasilkan pada masa ini adalah:

Chopper ( kapak penetak / kapak genggam / kapak seterika, dinamakan demikian


sesuai dengan bentuk dan cara penggunaannya.

Flakes (serpih bilah) yaitu pecahan batu kecil dan pipih serta tajam yang digunakan
sebagai pisau.

Tulang dan Tanduk Hewan, alat ni digunakan sebagai mata panah, pengorek ubi dan
ujung tombak.

Perkakas-perkakas tersebut ditemukan di Pacitan Jawa Timur, Ngandong dan Sangiran


(Jawa Tengah). Kebudayaan rohani yang ditemukan pada masa ini adalah penguburan
orang yang telah meninggal, berbeda dengan binatang.
2. Masa Berburu dan Mengumpulkan Makanan Tingkat Lanjut
Masa ini disebut juga masa Mesolitikum. Berkembangnya pemikiran manusia
menyebabkan peningkatan penggunaan pikiran dab meningkatnya kebutuhan manusia
dalam mempertahankan hidupnya. Peningkatan jumlah anggota kelompok dan
perpindahan tempat akan menyebabkan permasalahan baru. Perpindahan tempat
(nomaden) dalam rangka berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering) dianggap
sudah tidak memadai lagi maka manusia purba mulai membuat tempat tinggal tetap untuk
sementara (semi sedenter). Kegiatan berburu dan mengumpulkan makanan tetap
berlangsung, namun kegiatan mengolah lahan tingkat sederhana dan berternak tingkat
awal sudah dimulai.
Peninggalan budaya dari masa ini adalah budaya kjokkenmodding yang ditemukan di
pantai timur Sumatra dari Langsa (NAD) sampai Medan berupa bukit kerang setinggi 7
meter, dan abris sous roche yang ditemukan di gua di daerah Sampung Ponorogo Jawa
Timur dan Lamoncong Sulawesi Selatan.
Hasil kebudayaan: Peable (Kapak Sumatra), hachecourte, pipisan batu, flakes, tulang dan
tanduk
3. Masa Bercocok Tanam di Sawah. Masa bercocok tanam di sawah juga zaman
neolitikum. Pada masa ini terjadi perubahan besar dalam kehidupan manusia atau revolusi
dari food gathering menjadi food producing, dari nomaden menjadi menetap. Dengan
perubahan tersebut, semua kebutuhan dan perkakas untuk memenuhi kebutuhan juga
berubah. Perkakas menjadi lebih halus, manusia sudah mulai memasak, mulai
mempercantik diri dengan ditemukan berbagai perhiasan.
Perkakas yang dihasilkan: kapak persegi; kapak lonjong; gerabah/tembikar; barang-barang
perhiasan dari batu.

4. Masa Perundagian Logam. Sebagai salah satu dampak kehidupan menetap adalah
bahwa manusia mulai semakin berkembang cara berpikirnya, sehingga mulai mampu
menemukan cara membuar perkakas dari logam. Penemuan logam mendorong manusia
menciptakan perkakas-perkakas untuk kebutuhan sehari-hari. Pengolahan logam
memerlukan keahlian khusus, sehingga kemudian berkembang menjadi mata pencaharian
untuk kelompok masyarakat tertentu.
Pembuatan perkakas dari logam menggunakan dua teknik, yaitu a cire perdue dan bivalve.
Pembuatan perkakas dengan teknik a cire perdue, caranya dengan membuat model terlebih
dahulu dari lilin. Perkakas lilin kemudian dibungkus dengan tanah liat basah yang bagian
atas dan bawahnya diberi lubang, selanjutnya dikeringkan dan kemudian dibakar. Pada
saat dibakar, lilin melelh dan meninggalkan rongga. Rongga pada tanah liat tadi kemudian
diisi dengan cairan logam, dan setelah dingin, tanah liat dipecah maka jadilah perkakas
dari logam. teknik ini tidak ekonomis karena hanya menghasilkan satu perkakas dari setiap
model. Maka kemudian dikembangkan teknik bivalve, yaitu membuat perkakas dengan
cetak masal, yaitu dibuat cetakan batu dengan tutup yang bisa dibuka dan dipakai
berulang-ulang.
Perkakas yang dihasilkan pada zaman perundagian: kapak corong; candrasa; nekara;
mokko; bejana; dan barang-barang perhiasan dari logam lainnya
5. Masa Batu Besar / Megalithikum. Kebudayaan baru besar atau Megalithikum
sebenarnya bukan babakan budaya tersendiri. Kebudayaan ini berkembang seiring dengan
perkembangan kebudayaan spiritual / rohani manusia purba. Manusia purba sudah
mempercayai bahwa setelah kematian ada kehidupan, meski mereka belum faham benar
tentang hal itu. Maka kemudian setiap kematian selalu ditandai dengan menggunakan
bangunan batu yang besar.
Perkakas megalitikum: menhir, dolmen, sarkofagus, waruga, kubur batu, punden
berundak-undak, dan arca.