Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.
2.

2.1. ANATOMI PENIS


Sistem reproduksi pria terdiri atas testis, saluran kelamin, kelenjar tambahan dan
penis. Penis adalah organ utama seks yang letaknya di antara kedua pangkal paha.
Panjang penis orang Indonesia dalam keadaan flaksid dengan mengukur dari pangkal
dan ditarik sampai ujung adalah sekitar 9 sampai 12 cm. Sebagian ada yang lebih
pendek dan sebagian lagi ada yang lebih panjang. Pada saat ereksi maksimal, penis akan
memanjang dan membesar sehingga menjadi sekitar 10 sampai 14 cm.
Dilihat dari penampang horizontal, penis terdiri dari 3 rongga yakni 2 batang
korpus kavernosa di kiri dan kanan atas, sedangkan di tengah bawah disebut korpus
spongiosa. Kedua korpus kavernosa ini diliputi oleh jaringan ikat yang disebut tunica
albuginea, satu lapisan jaringan kolagen yang padat dan di luarnya ada jaringan yang
kurang padat yang disebut fascia buck.
Penis dipersarafi oleh 2 jenis saraf yakni saraf otonom (saraf parasimpatis dan
simpatis) dan saraf somatik (motoris dan sensoris). Saraf simpatis dan parasimpatis
berasal dari hipotalamus menuju ke penis melalui medula spinalis. Khusus saraf
parasimpatis keluar dari medula spinalis pada kolumna vertebralis di S2-S4. Sebaliknya
saraf simpatis keluar dari kolumna vertebralis melalui segmen Th11-L2 dan akhirnya

saraf simpatis dan parasimpatis menyatu menjadi nervus kavernosa. Saraf ini memasuki
penis pada pangkalnya dan mempersarafi otot-otot polos.
Saraf sensoris yang membawa impuls (rangsang) dari penis misalnya bila
mendapatkan stimulasi berupa rabaan pada badan penis dan glans penis, membentuk
nervus dorsalis penis yang menyatu dengan saraf-saraf lain yang membentuk nervus
pudendus. Saraf ini juga berlanjut ke kolumna vertebralis melalui kolumna vertebralis
S2-4. Stimulasi dari penis atau dari otak sendiri atau bersama-sama melalui saraf-saraf
di atas akan menghasilkan ereksi penis.
Perdarahan untuk penis berasal dari arteri pudenda interna lalu menjadi arteri penis
kommunis yang bercabang 3 yakni 2 cabang yang masing-masing ke korpus kavernosa
kiri dan kanan yang kemudian menjadi arteri kavernosa atau arteri penis profundus,
cabang ketiga adalah arteri bulbouretralis untuk korpus spongiosum. Arteria memasuki
korpus kavernosa lalu bercabang-cabang menjadi arteriol-arteriol helicina yang
bentuknya berkelok-kelok pada saat penis lembek atau tidak ereksi. Pada saat ereksi,
arteriol-arteriol helicina mengalami relaksasi atau pembuluh darah dilatasi sehingga
aliran darah bertambah besar dan cepat kemudian berkumpul di dalam rongga-rongga
lakunar atau sinusoid. Rongga sinusoid membesar sehingga terjadilah ereksi.
Sebaliknya darah yang mengalir dari sinusoid keluar melalui satu pleksus yang
terletak di bawah tunica albugenia. Bila sinusoid dan trabekel tadi mengembang karena
berkumpulnya darah di seluruh korpus kavernosa, maka vena-vena di sekitarnya
menjadi tertekan. Vena-vena di bawah tunica albugenia ini bergabung membentuk vena
dorsalis profunda lalu keluar dari korpus kavernosa pada rongga penis ke sistem vena
yang besar dan akhirnya kembali ke jantung.

Gambar 1. Anatomi Penis

2.2. FISIOLOGI EREKSI


Ereksi adalah keadaan menjadi kaku dan tegak; seperti jaringan erektil ketika terisi
darah. Pada saat ereksi, volume penis bertambah karena terkumpulnya darah dalam
korpus kavernosa dan korpus spongiosa.
Oleh beberapa peneliti, proses ereksi dan deturmesens diringkas menjadi beberapa
fase, yaitu:
1.

Fase 0
Yaitu fase flaksid. Pada keadaan lemas, yang dominan adalah pengaruh saraf

simpatis. Otot polos arteriola ujung dan otot polos kavernosa berkontraksi. Aliran darah
ke korpus kavernosa minimal dan hanya untuk keperluan nutrisi saja. Aliran darah vena
terjadi secara bebas dari vena subtunika ke vena emisaria.

2.

Fase 1
Merupakan fase pengisian laten. Setelah terjadi perangsangan seks, sistem saraf

parasimpatis mendominan, dan terjadi peningkatan aliran darah melalui arteria


5

pudendus interna dan arteria kavernosa tanpa ada perubahan tekanan arteria sistemik.
Tahanan perifer menurun oleh berdilatasinya arteri helisin dan arteri kavernosa. Penis
memanjang tetapi tekanan intrakavernosa tidak berubah.
3.

Fase 2
Yaitu fase tumesens (mengembang). Tekanan intrakavernosa meningkat sangat

cepat karena relaksasi otot polos trabekula, daya tampung kavernosa meningkat
menyebabkan pengembangan dan ereksi penis. Pada akhir fase ini, aliran arteri
berkurang.
4.

Fase 3
Merupakan fase ereksi penuh. Trabekula yang melemas akan mengembang dan

bersamaan dengan meningkatnya jumlah darah akan menyebabkan tertekannya pleksus


vena subtunika ke arah tunika albugenia sehingga menimbulkan venoklusi. Akibatnya
tekanan intrakavernosa meningkat sampai sekitar 10-20 mmHg di bawah tekanan sistol.
5.

Fase 4
Yaitu fase ereksi kaku (rigid erection) atau fase otot skelet. Tekanan intrakavernosa

meningkat melebihi tekanan sistol sebagai akibat kontraksi volunter ataupun karena
refleks otot iskiokavernosa dan otot bulbokavernosa menyebabkan ereksi yang kaku.
Pada fase ini tidak ada aliran darah melalui arteri kavernosa.
6.

Fase 5
Yaitu fase transisi. Terjadi peningkatan kegiatan saraf simpatis yang mengakibatkan

meningkatnya tonus otot polos pembuluh helisin dan kontraksi otot polos trabekula.
Aliran darah arteri kembali menurun dan mekanisme venoklusi masih tetap diaktifkan.
7.

Fase 6

Merupakan

fase

awal

detumesens.

Terjadi

sedikit

penurunan

tekanan

intrakavernosa yang menunjukkan pembukaan kembali saluran arus vena dan


penurunan arus darah arteri.
8.

Fase 7
Atau fase detumesens cepat. Tekanan intrakavernosa menurun dengan cepat,

mekanisme venoklusi diinaktifkan, aliran darah arteri menurun kembali seperti sebelum
perangsangan, dan penis kembali ke keadaan flaksid.

Gambar 2. Fisiologi Ereksi

2.3. DISFUNGSI EREKSI


2.3.1. DEFINISI
Disfungsi ereksi (DE) didefinisikan sebagai ketidakmampuan yang menetap atau
terus-menerus untuk mencapai dan mempertahankan ereksi penis yang adekuat
sehingga dapat mencapai kepuasan seksual yang optimal.

2.3.2. EPIDEMIOLOGI

Disfungsi Ereksi tidak dianggap sebagai bagian normal dari penuaan. Namun, ini
berkaitan dengan perubahan fisiologis dan psikologis berkaitan dengan umur. Pada
survey komunitas yang diadakan oleh Massachusetts Male Aging Study (MMAS) pada
laki-laki dengan rentang umur 40 70 tahun, 52% responder dilaporkan memiliki
beberapa derajat disfungsi ereksi. Disfungsi ereksi sempurna terjadi pada 10%
responder. Disfungsi ereksi moderat terjadi pada 25% dan DE minimal pada 17%
responder. Insiden disfungsi ereksi moderat dan berat meningkat dua kali lipat pada
umur 40 dan 70. Pada National Health and Social Life Survey (NHSLS), dimana
menjadi sampel nasional mewakili populasi pria umur 18-59 tahun, 10% pria dilaporkan
tidak dapat menjaga ereksi (serupa dengan proporsi pria dengan disfungsi ereksi
sempurna pada survey MMAS). Insiden tertinggi adalah pria dengan umur 50-59 tahun
(21%) dan pria miskin (14%), perceraian (14%) dan kurang pendidikan (13%).
2.3.3. ETIOLOGI
Banyak faktor yang berhubungan dengan terjadinya disfungsi ereksi ini.
Walaupun secara garis besar faktor penyebabnya dibagi menjadi penyebab psikogenik
dan organik, tetapi belum tentu salah satu faktor tersebut menjadi penyebab tunggal
disfungsi ereksi.
Yang termasuk penyebab organik adalah:
-

penyakit kronik (misalnya aterosklerosis, diabetes dan penyakit jantung)

obat-obatan, contoh antihipertensi (terutama diuretik thiazid dan penghambat


beta), antiaritmia (digoksin), antidepresan dan antipsikotik (terutama
neuroleptik), antiandrogen, antihistamin II (simetidin), (alkohol atau heroin)

pembedahan/operasi misal operasi daerah pelvis dan prostatektomi radikal

trauma (misal spinal cord injury) dan radioterapi pelvis.

Di antara sekian banyak penyebab organik, gangguan vaskular adalah penyebab


yang paling umum dijumpai. Sedangkan faktor psikogenik meliputi depresi, stress,
kepenatan, kemarahan dan gangguan hubungan personal.

Gambar 3. Etiologi Disfungsi Ereksi

2.3.4. PATOFISIOLOGI
Penis memiliki dua corpora cavernosa yang memiliki banyak sinus yang saling
berhubungan yang terisi darah untuk menghasilkan ereksi. Penis juga memiliki satu
corpus spongiosum yang mengelilingi uretra dan yang membentuk glans penis.
Asetilkolin bekerja dengan neurotransmiter lain (cyclic monofosfat guanylate [cGMP],

adenosin monofosfat siklik [cAMP], dan polipeptida intestinal vasoaktif) untuk


menghasilkan vasodilatasi arteri penis yang dapat menyebabkan terjadinya ereksi.
Disfungsi ereksi dapat disebabkan dari tiga mekanisme dasar ini: (1) kegagalan
menginisiasi (psikogenik, endokrinologik, atau neurogenic); (2) kegagalan pengisian
(arteriogenik); atau (3) kegagalan untuk menyimpan volume darah yang adekuat
didalam jaringan lacunar (disfungsi venooklusif). Diabetes, atherosclerosis, dan
penyebab akibat obat terhitung pada 80% kasus DE pada pria dewasa.
-

Vaskulogenik
Penyebab organic paling sering untuk DE adalah gangguan aliran darah dari dan

ke penis. Atherosclerosis atau penyakit arterial traumatic dapat menurunkan aliran ke


ruang lacunar yang menyebabkan menurunnya rigiditas dan memanjangnya waktu
untuk ereksi penuh. Adanya aliran yang berlebihan pada pembuluh darah dan perubahan
struktural fibroelastik dari corpora juga dapat mengakibatkan disfungsi ereksi. Kondisikondisi tersebut dapat terjadi karena adanya penuaan, peningkatan serat kolagen yang
dapat disebabkan oleh glikosilasi non enzimatik, hipoksia, atau perubahan sintesis
kolagen yang dapat disebabkan karena adanya hiperkolesterol.
-

Neurogenik
Adanya gangguan pada medula spinalis bagian saraf otonom menuju penis dapat

menghambat sistem relaksasi saraf pada otot polos penis sehingga menyebabkan
disfungsi ereksi. Hal tersebut dapat terjadi pada pasien dengan cedera pada bagian atas
sumsum tulang belakang, gangguan neurologik lainnya seperti multiple sclerosis dan
neuropati perifer, atau pasien yang mengkonsumsi alkohol berlebih. Operasi pelvis juga
dapat menyebabkan disfungsi ereksi akibat terganggunya suplai saraf otonom. Pasien

10

dengan lesi parsial atau cedera pada bagian atas dari medulla spinalis cenderung masih
memiliki kemampuan ereksi dibandingkan seseorang yang memiliki lesi sempurna atau
terdapat pada bagian bawah medulla spinalis. Walaupun sekitar 75% pasien dengan
cedera medulla spinalis memiliki kemampuan untuk ereksi, hanya 25% dari jumlah
tersebut yang memiliki ereksi yang cukup untuk penetrasi. Gangguan neurologis lainnya
yang umumnya berkaitan dengan DE termasuk multiple sclerosis atau neuropati perifer.
-

Endokrinologik
Peningkatan hormon prolaktin dapat menurunkan libido dengan cara menekan

gonadotropin-releasing hormon (GnRH) dan juga dapat menyebabkan penurunan kadar


testosteron.

Pengobatan

hiperprolaktinemia

dengan

agonis

dopamin

dapat

mengembalikan libido dan testosteron.


-

Diabetes
Disfungsi ereksi terjadi pada 35-75% pria dengan diabetes mellitus. Mekanisme

patologinya terkait dengan komplikasi vaskular dan neurologis yang terkait dengan
diabetes. Komplikasi makrovaskuler diabetes biasanya berkaitan dengan umur, dimana
komplikasi mikrovaskuler berhubungan dengan durasi lamanya diabetes dan derajat
pengendalian glikemia. Seseorang dengan diabetes juga memiliki penuruna nitric oxide
synthase pada jaringan endotel dan neural.
-

Psikogenik
Terdapat dua mekanisme yang berkontribusi terhadap inhibisi ereksi pada

disfungsi ereksi psikogenik. Mekanisme pertama adalah adanya stimulus psikogenik


pada sacral medulla spinalis yang dapat menghambat respon refleksogenik dan
mengakibatkan terhambatnya aktivasi aliran vasodilator menuju penis. Mekanisme

11

kedua adalah adanya stimulasi simpatis berlebihan pada pria yang dapat meningkatkan
tonus otot halus penis. Penyebab paling umum dari psikogenik adalah kecemasan,
depresi, konflik hubungan, kehilangan daya tarik, penghambatan seksual, konflik atas
preferensi seksual, pelecehan seksual di masa kecil, dan takut akan terjadinya kehamilan
atau penyakit menular seksual. Kebanyakan pasien dengan DE yang sudah jelas
memiliki dasar penyebab organic, dapat terkena efek psikologis sebagai reaksi terhadap
DE, sehingga memberikan beban ganda.
-

Penggunaan obat-obatan
Salah satu penyebab terjadinya disfungsi ereksi adalah adanya induksi karena

pemakaian obat-obatan tertentu seperti obat hipertensi. Di antara obat antihipertensi,


diuretik thiazid dan beta blocker merupakan obat yang paling sering terlibat, sedangkan
calcium channel blocker dan angiotensin-converting enzyme inhibitor lebih jarang
dilaporkan kejadiannya. Obat-obat ini dapat bekerja secara langsung pada tingkat
corporal (misalnya, calcium channel blockers) atau tidak langsung dengan mengurangi
tekanan darah panggul, yang penting dalam pengembangan penis. Estrogen, agonis
GnRH, antagonis H2, dan spironolakton dapat menyebabkan disfungsi ereksi dengan
menekan produksi gonadotropin atau dengan menghambat kerja androgen. Agen
antidepresi dan antipsikosis terutama neuroleptik, tricyclic, dan SSRI berhubungan
dengan kesulitan dalam ereksi, ejakulasi, orgasme, atau kepuasan seksual lainnya.

12

2.3.5 DIAGNOSIS DISFUNGSI EREKSI


Diagnosis DE dapat ditegakkan melalui pemeriksaan berikut ini:

Manefestasi klinik
1. Tidak mampu ereksi sama sekali atau tidak mampu mempertahankan ereksi

secara berulang (paling tidak selama 3 bulan)


2. Tidak mampu mencapai ereksi yang konsisten
3. Ereksi hanya sesaat (dalam referensi tidak disebutkan lamanya)
Anamnesis
Dalam anamnesis perlu ditanyakan tentang penyakit-penyakit seperti diabetes
melitus, hiperkolesterlemia, hiperlipidemia, penyakit jantung, merokok, alkohol,
obat-obatan, operasi yang pernah dilakukan, penyakit tulang punggung, dan
penyakit neurologik dan psikiatrik (Baziad, 2003)
Pada diagnosis pasien disfngsi ereksi harus digali riwayat seksual, penyakit
yang pernah diderita dan psikoseksual. Pada pria yang mengalami DE ditanyakan
hal hal di bawah ini :

Gangguan ereksi dan gangguan dorongan seksual


Ejakulasi, orgasme dan nyeri kelamin
Fungsi seksual pasangan
Faktor gaya hidup : merokok, alkohol yang

penyalahgunaan narkotika
Penyakit kronis
Trauma dan operasi daerah pelvis / perineum / penis
Radioterapi daerah penis
Penggunaan obat obatan
Penyakit saraf dan hormonal
Penyakit psikiatrik dan status psikologik

berlebihan dan

Disfungsi ereksi dapat dibedakan dengan jelas dari masalah seksual lainnya
seperti ejakulasi, libido dan orgasme. Pada penelusuran riwayat penyakit harus
ditanya tentang hipertensi, hiperlipidemia, depresi, penyakit neurologis, diabetes
melitus, gagal ginjal, penyakit adrenal dan tiroid. Riwayat trauma panggul
pembedahan pemmbuluh darah tepi juga harus ditanyakan karena hal tersebut
merupakan faktor resiko impotensi.

13

Pencatatan daftar obat yang dikonsumsi juga harus diperhatikan , karena


sekitar 25% dari semua kasus disfungsi seksual terkait dengan obat obatan.
Pengguanaan alkohol yang berlebihan dan pemakaian narkotik juga ditanyakan
karena terkait dengan peningkatan resiko disfungsi seksual . Pasien juga ditanya
adakah riwayat depresi karena merupakan faktor resiko disfungsi ereksi.
Untuk mengetahui apakah seseorang telah mengalami disfungsi ereksi
diperlukan suatu evaluasi fungsi seksual pria. Evaluasi tersebut disusun dalam
bentuk beberapa pernyataan yang dikenal sebagai IIEF-5 (Internatonal Index of
Erectile Function).
Pada setiap pertanyaan telah disediakan pilihan jawaban. Orang yang sedang
dievaluasi diminta memilih yang paling sesuai dengan kondisi orang tersebut 6
bulan terakhir. Pilihan hanya satu jawaban untuk setiap pertanyaan.
1) Bagaimanakah tingkat keyakinan anda

3= Kadang kadang (50%)

bahwa anda dapat ereksi dan bertahan terus

4= Seringkali >50%

selama hubungan intim ?

5= Selalu / hampir selalu

1 = Sangat rendah

4) Ketika melakukan hubungan intim,seberapa

2 = Rendah

sulitkah

3 = Cukup

selesai melakukan hubungan intim?

4 = Tinggi

1= Teramat sangat sulit

5 = Sangat tinggi

2= Sangat sulit

2) Pada saat anda ereksi setelah mengalami

3= Sulit

perangsangan seksual, seberapa sering penis

4= Sulit sekali

anda cukup keras untuk dapat mamsuk ke

5= Tidak sulit

vagina pasangan anda?

5) Ketika anda melakukan hubungan intim,

1= Tidak pernah / hampir tidak pernah

seberapa sering anda merasa puas?

2= Sesekali (<59%)

1= Tidak pernah / hampir tidak pernah

3= Kadang kadang (50%)

2= Sesekali (<50%)

4= Seringkali >50%

3= Kadang kadang (50%)

5= Selalu / hampir selalu

4= Seringkali >50%

3) Setelah penis masuk ke vagina pasangan

5= Selalu / hampir selalu

anda,

Jika skor tersebut kurang atau sama dengan 21,

seberapa

sering

anda

mampu

mempertahankan

ereksi

sampai

mempertahankan penis tetap keras?

maka orang tersebut menunjukkan adanya

1= Tidak pernah / hampir tidak pernah

gejala gejala disfungsi ereksi.

2= Sesekali (<50%)

Pemeriksaan Fisik

14

Pada pemeriksaan fisik, tanda-tanda hipogonadisme (termasuk testis kecil,


ginekomasti dan berkurangnya pertumbuhan rambut tubuh dan janggut)
memerlukan perhatian khusus (Bhasin, 2006). Pemeriksaan penis dan testis
dikerjakan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan bawaaan atau induratio penis.
Bila perlu dilakukan palpasi transrektal dan USG transrektal. Tidak jarang DE
disebabkan oleh penyakit prostat jinak ataupun prostat ganas atau prostatitis.
Pemeriksaan rektum dengan jari (digital rectal examination), penilaian tonus
sfingter ani, dan bulbo cavernosus reflek (kontraksi muskulus bulbokavernous
pada perineum setelah penekanan glands penis) untuk menlai keutuhan dari sacral
neural outflow. Nadi perifer dipalpasi untuk melihat adanya tanda-tanda penyakit
vaskuler (Montague, 2005). Dan untuk melihat komplikasi penyakit diabetes
( termasuk tekanan darah, ankle bracial index, dan nadi perifer )
2.3.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium yang dapat menunjang diagnosis DE antara lain:
kadar serum testosterone pagi hari (perlu diketahui, kadar ini sangat dipengaruhi
oleh kadar luteinizing hormone). Pengukuran kadar glukosa dan lipid, hitung
darah lengkap (complete blood count), dan tes fungsi ginjal.
Sedangkan pengukuran vaskuler berdasarkan injeksi prostaglandin E1 pada
corpora penis, duplex ultrasonography, biothesiometry, atau nocturnal penile
tumescence tidak direkomendasikan pada praktek rutin/sehari-hari namun dapat
sangat bermanfaat bila informasi tentang vascular supply diperlukan, misalnya,
untuk menentukan tindakan bedah yang tepat (implantation of a prosthesis vs.
penile reconstruction).
2.3.7 TERAPI
A. TERAPI PSIKOSEKSUAL
Terapi psikoseksual untuk disfungsi seksual tidak dapat distandarisasi karena
sumber dari kecemasan yang menimbulkan disfungsi ereksi antara pasien sangatkan
subyektif. Problematika dalam hubungan, depresi, penyesalan, masalah dalam
keintiman dan kurangnya pengalaman seksual dapat meningkatkan kecemasan dan
15

atau konflik, yang kemudian bermanifestasi sebagai disfusngsi ereksi. Terapi


psikoseksual bertahap mulai edukasi seks simpel dengan memperbaiki komunikasi
dengan pasangan hingga terapi kognitif dan perilaku dan seringkali dikombinasikan
dengan farmakoterapi untuk disfungsi ereksi. Hasil dari terapi ini terbukti efektif
untuk jangka pendek, namun tak cukup baik untuk hasil follow up jangka panjang
(Mc.Mahon, 2014).

Gambar 2.2 Kuisioner SHIM digunakan untuk pasien dengan disfungsi ereksi

B. TERAPI FARMAKOLOGI
Hampir seuruh pasien penderita disfungsi ereksi responsif tehadap pemberian
obat-obatan yang telah tersedia saat ini meliputi golongan PDE5 inhibitor sildenafil,
tadalafil, dan vardenafil. Terapi intervensi lainnya adalah alat vakum, obat-obatan
itrakavernosum dan sebagainya. Beberapa pasien menggunakan obat-obatan yang
dikombinasikan dengan terapi psikoseksual.
1. Terapi Pengganti Hormon
16

Injeksi testosteron (200 mg intramuscular setiap 3 minggu) atau testosterone


topical (2.56 mg/hari) diberikan pada pria dengan defisiensi androgen
yang telah menjalani pemeriksaan endokrin sebelumnya. Dalam usaha untuk
meningkatkan fungsi seksual, penggantian androgen dapat memperbaiki mood,
kepadatan tulang, kekuatan ototr dan komposisi tubuh. (Cohan; Korenman,
2001).
2. Agen Farmakologi Oral
PDE5 inhibitor merupakan terapi terobosan untuk disfungsi ereksi
(impotensi). Zat ini secara selektif menghambat PDE5 dan meningkatkan
jumlah cGMP yang tersedia untuk relaksasi otot polos, vasodilatasi, dan
meningkatkan aliran darah corpus dan ereksi.
Banyak penelitian telah membuktikan efikasi dan keamanan dalam
penggunaan obat-obatan ini meliputi sildenafil (viagra), tadalafil (cialis), dan
vardenafil (levitra), termasuk penggunaan tadalafil sebagai dosis harian pada
pasien dengan komplikasi medis lain seperti hipertensi, diabetes, cedera tulang
belakang, dll. Efektifitas pada ketiganya hampir sama 65-70% pria mencapai
kepuasan saat berhubungan seksual. Efektivitas obat tergantung keparahan dari
impotensi dan berkurang pada pasien dengan impoten vaskulogenik, diabet dan
pasien post radikal prostatektomi. Makanan tinggi lemak dapat menghambat
dan menurunkan penyerapan obat kecuali pada tadalafil. Kecepatan untuk
mencapai kadar maksimum dalam plasma 1 jam, kecuali pada tadalafil
membutuhkan 2 jam, namun tadalafil memiliki waktu paruh lebih lama yaitu
17,5 jam sedangkan yang lain hanya 4-5 jam.
Tadalafil dapat digunakan sebagai terapi lini pertama, teruatama pada
pasien dengan kegiatan seksual yang aktif. Namun penggunaan tadalafil
sebagai terapi on-demand dengan dosis tinggi (10-20mg) dilaporkan memiliki
hasil yang tidak memuaskan.
Beberapa efek samping yang sering terjadi antara lain nyeri kepala,
kemerahan, dispepsia, nyeri otot/punggung, dan rhinitis. Efek samping ini
biasanya tergolong ringan dan beberapa dapat hilang dengan berjalannya
waktu.
17

Obat-obat ini kontraindikasi pada pasien yang menggunakan aerosol,


nitrat baik short dan long acting (nitrogliserin, ISDN) karena dapat
meningkatkan efek hipotensi (McMahon, 2014).

Gambar 2.1 Dosis pemberian PDE5 inhibitor

3. Injeksi Intrakavernosa
Penggunaan terapi injeksi dengan vasodilator dengan Alprostadil
(caverject impulse) atau dengan kombinasi papaverine dan phentolamine yang
dapat membuat efek relaksasi pada arteri dan otot polos trabekuler sehingga
efektif untuk menangani impotensi. Terapi ini dapat digunakan pada pasien
yang tidak respon dengan pengoabatan oral.
Tingkat keberhasilan alprostadil dalam memunculkan efek ereksi pada
pria mencapai 72,6%. Efek samping utama yang sering dikeluhkan adalah
nyeri pada bekas suntikan, fibrosis pada corpus penis yang dapat menimbulkan
nodul atau kurvantura pada penis. Priapismus dilaporkan jarang terjadi, namun
dapat menimbulkan iskemia dan kerusakan reversibel pada korpus kavernosa
dan gangguan fungsi ereksi permanen pada penggunaan jangka panjang.Efek
samping lain yang jarang terjadi namun pernah dilaporkan terjadi pada
beberapa pasien adalah pusing, takikardia, dan hipotensi akibat terlepasnya
obat ke sirkulasi sistemik.

Penyuntikan obat harus dilakukan oleh dokter atau tenaga ahli lainnya.
Kontraindikasi relatif pada pasien yang sedang mengkonsumsi antikoagulasi,

18

tingkat kepatuhan yang buruk dan pasien dengan riwayat priapismus


sebelumnya (McMahon, 2014).
Alprostadil juga dapat diberikan via transuretral (MUSE). Diperlukan
sebuah aplikator dari bahan plastik untuk memasukkan obat ke dalam uretra.
Empat dosis, antara 125-1000 mikrogram tersedia di pasaran. Pada beberapa
pasien terapi ini lebih nyaman dibandingkan harus menyuntikkan obat ke
dalam penis dan sekitar 60% pasien berhasil dengan metode ini. Namun buktibukti terkini dari penelitian yang ada menyatakan bahwa efektivitas pemberian
dengan cara ini lebih sedikit dibanding jika diberikan intrakavernosa. Dan lagi
pemberian transuretra dapat meningkatkan resiko absorbsi sistemik sehingga
dapat menimbulkan efek hipotensi hebat pada beberapa pasien (Cohan, 2001).
4. Alat Bantu Konstriksi
Alat konstriksi vakum merupakan alat vakum untuk penis yang terpasang
pada vakum silinder yang menyebabkan tumesens dan kekakuan, dan
kemudian dipertahankan dengan penggunaan ring konstriksi pada pangkal
penis. Fisiologi ereksi akan berbeda karena dengan penggunaan alat ini tidak
akan terjadi relaksasi dari otot polos trabekular, dan darah akan terperangkap di
korpus intra dan ekstrakavernosum pada ring konstriksi.
Penggunaan alat ini harus diikuti dengan motivasi pasien yang tinggi dan
kerjasama yang baik dengan pasangan. Biasanya banyak digunakan pada
pasangan usia pertengahan dan usia lanjut dan jarang bahkan tak
direkomendasikan pada pria usia muda dan bujang. Pada umumnya 60-70%
pria merasa puas dengan penggunaan alat ini. Namun komplikasi yang sering
terjadi pada pemakai alat ini adalah ptekie dan nyeri yang dirasakan pada
tempat ring konstriksi, perubahan pola eakulasi atau bahkan terjadinya
hambatan dan nyeri saat ejakulasi karena pemasangan ring. Selain itu juga
dapat terjadi rasa tebal dan bilur berputar pada pangkal penis akibat
penggunaan alat terlalu lama.
Alat ini tidak direkomendasikan pada pasien yang sedang mengkonsumsi
warfarin dan pada pria dengan resiko tinggi terjadinya intravaskular trombosis
19

seperti pada pasien penyakit myeloproliferatif dan anemia sel sabit (McMahon,
2014).
5. Terapi Pembedahan
Terapi pembedahan merupakan terapi invasif pada kasus impotensi.
Terapi ini banyak menjadi pilihan bagi pasien yang kontraindikasi dengan
penggunaan obat-obatan atau terapi injeksi lain. Beberapa pasien bahkan
memilih sendiri untuk pembedahan karena tingkat kepuasan yang amat tinggi.
Terapi pembedahan dilakukan dengan melakukan incisi dan pemasangan
protese pada penis yang dilengkapi dengan panel pengatur yang dipasang di
baahnya. Masalah yang dapat timbul adalah adanya infeksi paska tindakan
bedah dan resiko perdarahan saat pembedahan. Namun komplikasi infeksi dan
perdarahan jarang dilaporkan terjadi pada pasien pasca pembedahan.
Kegagalan alat dan pemasangan ulang alat juga hampir tidak pernah terjadi
(McMahon, 2014).
Pasien dengan gangguan sistem arteri dapat dilakukan dengan berbagai
macam bentuk rekonstruksi arteri, termasuk endarterektomi dan ballon
dilatation (pengembangan balon) pada sumbatan arteri dan teknik bypass
pada arteri menggunakan arteri (pada arteri epigastrik) atau bagian vena
(Vena dorsalis) pada penyumbatan di distal (dibawah) dari krura korpora
kavernosa. Pengalaman klinis dengan teknik rekonstruksi arteri masih
terbatas

dan mungkin beberapa pasien dapat mengalami kegagalan dalam

mencapai ereksi yang maksimal.

20