Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Penelitian ilmiah pada hakikatnya merupakan penerapan metode ilmiah dalam

kegiatan keilmuan. Penelitian merupakan kegiatan menguji hipotesis, yaitu menguji


kecocokan antara teori dengan fakta empirik di dunia nyata. Hubungan ini lazim dibaca
dan dipaparkan dengan bersandar kepada variabel, sedangkan hubungan nyata
diketahuicdengan memperhatikan data tentang variabel itu.
Salah satu penelitian ilmiah yang mengukur variabel dalam penelitiannya adalah
penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif dilaksanakan untuk menjelaskan, menguji
hubungan-hubungan antar fenomena, menentukan kausalitas dari variabel-variabel.
Pendekatan penelitian kuantitatif dilakukan untuk menguji teori. Hal ini dilakukan melalui
pengujian validitas hubungan variabel-variabel dalam rangka menguji atau mengubah
teori.
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja
yang ditetapkan oleh peneliti sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian
ditarik kesimpulannya.Secara teoritis variabel penelitian juga dapat diartikan sebagai suatu
atribut atau sifat nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Variabel ini menjadi sangat penting karena tidak mungkin peneliti melakukan
penelitian tanpa adanya variabel. Namun terkadang banyak hal juga yang menyebabkan
kita lupa mengenai apa dan seperti apa variabel serta apa saja jenis variabel dalam
penelitian itu. Banyak hal yang menjadi pertanyaan dan itulah sebabnya mengupas dengan
benar variabel akan menjadi suatu hal yang sangat penting.
1.2

Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa definisi variabel
2. Bagaimana klasifikasi Variabel ?
3. Apa yang dimaksud dengan desain skala ?
4. Bagimana Konseptual dan Operasionalisasi Variabel?
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

1.3.

Tujuan
Dari uraian masalah diatas, maka dapat dirumuskan tujuan penulisan makalah

adalah sebagai berikut :


1. Untuk mengetahui Definisi Variabel
2. Memahami pengertian dari desain skala
3. Untuk mengetahui bagaimana klasifikasi Variabel
4. Untuk mengetahui bagaimana konseptual dan operasionalisasi variabel

Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. PENGERTIAN VARIABEL
Variabel mengandung pengertian ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggotaanggota suatu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok yang lain.
Pengertian lain bahwa variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau
ukuran yang dimiliki atau didapatkan oleh satuan penelitian tentang sesuatu konsep
tertentu.
Pengukuran variabel adalah proses menentukan jumlah atau intensitas informasi
mengenai orang, peristiwa, gagasan, dan atau obyek tertentu serta hubungannya dengan
masalah atau peluang bisnis.Dengan kata lain, menggunakan proses pengukuran yaitu
dengan menetapkan angka atau tabel terhadap karakteristik atau atribut dari suatu obyek,
atau setiap jenis fenomena atau peristiwa yang mengunakan aturan-aturan tertentu yang
menunjukkan jumlah dan atau kualitas dari faktor-faktor yang diteliti.
Menurut Sugiyono (2009:60), variabel penelitian pada dasarnya adalah segala
sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga
diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek
yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan
obyek yang lain (Hatch dan Forhady, 1981).
Dinamakan variabel karena ada variasinya. Misalnya berat badan dapat dikatakan
variabel, karena berat badan sekelompok orang itu bervariasi antara satu dengan yang lain.
Demikian juga prestasi belajar, kemampuan guru dapat juga dikatakan sebagai variabel
karena prestasi belajar dari sekelompok murid tentu bervariasi. Jadi kalau peneliti akan
memilih variabel penelitian baik yang dimiliki orang obyek, maupun bidang kegiatan dan
keilmuan tertentu, maka harus ada variasinya.
Sugiyono (dalam Kerlinger, 1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstrak
atau sifat yang akan dipelajari. Kerlinger juga mengatakan bahwa variabel dapat dikatakan
sebagai suatu sifat yang diambil dari suatu nilai yang berbeda (different values).

Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

Selanjutnya Kidder (1981), menyatakan bahwa variabel adalah suatu kualitas dimana,
peneliti mempelajari dan menarik kesimpulan darinya.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, maka dapat dirumuskan bahwa variabel
penelitian adalah suatu atribut dan sifat atau nilai orang, obyek atau kegiatan yang
mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian
ditarik kesimpulannya.
2.2. DESAIN SKALA
Pengukuran adalah dasar dari penyelidikan ilmiah. Segala sesuatu yang kita
lakukan dimulai dengan pengukuran objek yang akan kita pelajari. Pengukuran adalah
pemberian angka atau kode pada suatu obyek, dapat menghubungkan konsep yang abstrak
dengan realitas. Untuk dapat melakukan pengukuran, maka seseorang peneliti harus
memikirkan bagaimana ukuran yang paling tepat untuk suatu konsep. Ukuran yang tepat
akan memberikan kepada peneliti untuk merumuskan lebih tepat dan lebih cermat konsep
penelitiannya.
Proses pengukuran mengandung empat kegiatan pokok, yaitu :
1. Menentukan indikator untuk dimensi dimensi variabel penelitian.
2. Menentukan ukuran masing-masing dimensi. Ukuran ini dapat berupa item
(pertanyaan) yang relevan dengan dimensinya.
3. Menentukan ukuran yang akan digunakan dalam pengukuran, Apakah tingkat ukuran
nominal, ordinal, interval atau ratio.
4. Menguji tingkat validitas dan reliabilitas sebagai kriteria alat pengukuran yang baik.
Tujuan pengukuran adalah menerjemahkan karakteristik data empiris ke dalam
bentuk yang dapat dianalisis dan diteliti. Dengan demikian, pengukuran selalu melibatkan
penggunaan prosedur yang secara simbolik dapat merefleksikan dimensi realitas dalam
dunia analitik si peneliti. Oleh karena itu, penggunaan prosedur yang tepat dalam proses
penelitian ini amat penting bila kita menginginkan dapat memperoleh data yang
bermanfaat bagi pengambil keputusan. Singkatnya, titik fokus pengukuran adalah
pemberian angka terhadap data empiris berdasarkan sejumlah aturan/prosedur tertentu.
Prosedur ini dinamakan proses pengukuran, yaitu : investigasi mengenai ciri-ciri yang
mendasari kejadian empiris dan memberi angka atas ciri-ciri tersebut. Kendati komponen
pengukuran amat beragam, setidaknya ada tiga komponen yang dibutuhkan dalam setiap

Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

pengukuran, yaitu : (1) kejadian empiris yang dapat diamati; (2) penggunaan angka untuk
menggambarkan kejadian tersebut; (3) sejumlah aturan pemetaan (Kuncoro, 2003 : 148).
Pengukuran (measurement) menurut Hartono (2014 : 77) adalah pemberian nilai
properti dari suatu objek. Pada definisi ini dapat dianalisa bahwa yang diukur adalah
properti dari suatu objek. Objek merupakan suatu entitas yang akan diteliti. Objek dapat
berupa perusahaan, manusia, karyawan dan lainnya. Sedangkan Properti adalah
karakteristik dari objek. Properti dapat berupa properti fisik, properti psikologi dan properti
sosial. Properti fisik misalnya jika objek adalah manusia, maka properti fisiknya adalah
tinggi badan, warna rambut, umur dan lainnya. Jika objeknya adalah perusahaan, maka
properti fisiknya adalah ukuran perusahaan, lokasinya dan lainnya. Properti psikologis
misalnya adalah sikap manusia, kepintaran, motivasi dan lainnya. Properti sosial misalnya
adalah status sosial, persepsi masyarakat dan lainnya.
Pengukuran properti fisik mudah dilakukan karena dapat dilihat dengan mudah.
Misalnya pengukuran terhadap ukuran perusahaan dapat dinilai dari ukuran aktivanya yang
dapat diobservasi pada neraca perusahaan. Pengukuran properti psikologi dan sosial
lebih sulit diukur karena tidak mudah diamati karena properti tersebut bersifat masih
berupa konsep dan abstrak. Contohnya adalah pengukuran konsep belajar (learning).
Konsep ini tidak mudah diamati karena masih bersifat abstrak. Tehnik yang dapat
digunakan untuk mengukurnya adalah memecah konsep ini ke dalam beberapa
karakteristik perilaku yang dapat diobservasi. Pemecahan konsep ke dalam bentuk yang
dapat diukur disebut dengan pengoperasionalan konsep (operationalizing the concept)
(Hartono, 2014 : 78).
Datadata yang telah dikumpulkan oleh peneliti dapat berupa elemen-elemen data
yang sudah dapat diukur besarannya, tetapi kadang juga masih berupa konsep yang belum
dapat diukur. Apabila data masih berupa konsep yang belum dapat diukur, maka peneliti
harus menguraikan data tersebut terlebih dahulu sehingga menjadi dimensi-dimensi dan
elemen-elemen data yang dapat diukur. Konsep atau data yang telah didefinisikan agar
dapat diukur, diperlukan alat atau instrumen penelitian untuk mengukurnya, dimana dalam
penelitian alat untuk mengukur konsep data disebut dengan skala (Hartono, 2014 : 77).
Skala (scale) didefinisikan oleh Hartono (2014 : 80) sebagai suatu alat atau
mekanisme yang dapat digunakan untuk membedakan individual-individual kedalam
variabel-variabel yang akan digunakan di dalam riset atau penelitian.
Tipe dasar dari skala mengikuti tipe nilai dari datanya. Ada empat tipe skala
pengukuran atau tipe nilai data dalam penelitian, yaitu :
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

1. Skala Nominal (Nominal Scale)


Skala nominal adalah skala pengukuran yang menyatakan kategori, kelompok atau
klasifikasi dari data yang diukur dalam bentuk variabel. Skala pengukuran nominal
digunakan untuk mengklasifikasikan obyek, individual atau kelompok; sebagai contoh
mengklasifikasi

jenis

kelamin,

agama,

pekerjaan,

dan

area

geografis.

Dalam

mengidentifikasi hal-hal di atas digunakan angka-angka sebagai symbol. Apabila kita


menggunakan skala pengukuran nominal, maka statistik non-parametrik digunakan untuk
menganalisa datanya. Hasil analisa dipresentasikan dalam bentuk persentase. Sebagai
contoh kita mengklasifikasi variable jenis kelamin menjadi sebagai berikut: laki-laki kita
beri simbol angka 1 dan wanita angka 2. Kita tidak dapat melakukan operasi arimatika
dengan angka-angka tersebut, karena angka-angka tersebut hanya menunjukkan
keberadaan atau ketidakadanya karaktersitik tertentu.
Variabel jenis kelamin dalam Skala nominal merupakan kategori yang bersifat saling
meniadakan (mutually exclusive), artinya bahwa seorang responden hanya memiliki satu
kategori jenis kelamin yaitu pria atau wanita. Skala nominal disamping menyatakan
kategori yang saling meniadakan, juga menyatakan kategori yang bersifat collectively
exhaustive, yaitu tidak ada kategori yang lain, kecuali yang dinyatakan dalam skala
nominal. Contoh variabel lain yang bersifat mutually exclusive dan collectively exhaustive,
adalah status perkawinan dan agama yang dianut oleh responden (Indriantoro, 2002 : 97).
Skala nominal merupakan tipe skala pengukuran paling sederhana. Angka atau
atribut yang digunakan dalam pengukuran hanya merupakan suatu nama untuk
menyebutkan kategori atau kelompok variabel. Skala nominal oleh karena itu juga
dinamakan dengan skala kategoris. Nilai variabel dengan skala nominal hanya menjelaskan
kategori, tetapi tidak menjelaskan nilai peringkat, jarak atau perbandingan (Indriantoro,
2002:97).
2. Skala Ordinal (Ordinal Scale)
Skala ordinal adalah skala pengukuran yang tidak hanya menyatakan kategori, tetapi
juga menyatakan peringkat data atau urutan data (order) yang diukur. Skala pengukuran
ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki
oleh obyek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala
nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi
apakah suatu obyek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan berapa
banyak kekurangan dan kelebihannya.
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

Contoh:
Jawaban pertanyaan berupa peringkat misalnya: sangat tidak setuju, tidak setuju, netral,
setuju dan sangat setuju dapat diberi symbol angka 1, 2,3,4 dan 5. Angka-angka ini selain
sebagai kategori, juga merupakan simbol peringkat, namun tidak mengekspresikan jumlah.
Skala ordinal merupakan tipe skala pengukuran diatas skala nominal. Angka atau atribut
dan urutan yang digunakan dalam pengukuran merupakan suatu nama untuk menyebutkan
kategori atau kelompok variabel dan peringkat variabel. Skala ordinal dimana nilai
variabelnya hanya menjelaskan kategori, dan nilai peringkat tetapi tidak menjelaskan nilai
jarak atau perbandingan.
3. Skala Interval (Interval Scale)
Skala interval merupakan skala pengukuran yang menyatakan kategori, peringkat
dan jarak data yang diukur. Skala interval tidak hanya mengukur perbedaan subyek atau
obyek secara kualitatif melalui kategorisasi dan menyatakan urutan preferensi, tetapi juga
mengukur jarak antara pilihan yang satu dengan pilihan yang lain.
Skala interval dapat dinyatakan dengan angka 1 sampai dengan angka 5 atau angka
1 sampai dengan 7. Skala pengukuran ini menggunakan konsep jarak atau interval yang
sama (equality interval) karena skala ini tidak menggunakan 0 (nol) sebagai titik awal
perhitungan. Nilai skala interval bukan merupakan angka absolut, contoh jarak antara 1 km
dengan 2 km sama dengan jarak antara 3 km dengan 4 km. Ukuran suhu (temperatur)
merupakan contoh klasik tipe skala ini, suhu 40 o Celcius tidak dapat dikatakan sebagai
suhu yang dua kali lebih panas dari 20o Celcius. Penunjuk waktu (kalender atau jam)
merupakan contoh skala interval, jumlah hari antara tanggal 1 sampai dengan tanggal 4
adalah sama dengan jumlah hari antara tanggal 21 sampai dengan tanggal 24 (Indriantoro,
2002 : 99).
4. Skala Rasio (Ratio Scale)
Skala rasio merupakan skala pengukuran yang menunjukkan kategori, peringkat,
jarak dan perbandingan data yang diukur. Skala rasio menggunakan nilai absolut, sehingga
memperbaiki kelemahan skala interval yang menggunakan nilai relatif (Indriantoro, 2002 :
101). Skala rasio banyak digunakan dalam penelitian-penelitan akuntansi dan manajemen
keuangan.
Contoh pengukuran skala rasio adalah nilai uang atau ukuran berat. Nilai uang sebesar satu
juta rupiah merupakan kelipatan sepuluh kali dari nilai uang seratus ribu rupiah. Jika berat
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

badan seseorang adalah 70 kilogram sama dengan dua kali lipat dari orang yang memiliki
berat badan 35 kilogram.
Berikut gambar tabel Skala Pengukuran :
Skala
Nominal
Ordinal
Interval
Rasio

Tipe Pengukuran
Kategori
Peringkat
Ya
Tidak
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya
Ya

Jarak
Tidak
Tidak
Ya
Ya

Perbandingan
Tidak
Tidak
Tidak
Ya

Berikut Flowchart untuk menentukan skala pengukuran variabel :

2.3 METODE PENSKALAAN


Metode penskalaan adalah suatu cara untuk memberikan penilaian terhadap variabelvariabel sesuai dengan skalanya (nominal, ordinal, interval dan rasio). Hartono (2014 : 82)
secara garis besar menyatakan terdapat dua macam metode penskalaan yaitu : Skala Rating
(Rating Scale) dan Skala Rangking (Ranking Scale).
1.

Skala Rating (Rating Scale)


Skala rating (rating scale) merupakan metode penskalaan untuk memberikan
nilai (rating) suatu variabel. Beberapa skala rating yang sering digunakan adalah
sebagai berikut :
a. Skala Dikotomi (dichotomous scale)
Skala ini memberikan nilai dikotomi, misalnya nilai Ya atau Tidak.
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

Tipe data yang digunakan adalah nominal.


Contoh :
Apakah anda mempunyai kartu kredit?
Ya
Tidak
b. Skala Kategori (category scale)
Skala ini memberikan nilai beberapa item untuk dipilih. Tipe data yang
digunakan untuk skala ini adalah tipe nominal.
Contoh :
Pilih industri dari perusahaan :
_______Pabrikan
_______Jasa
_______Gas dan Minyak
_______Keuangan
_______Lainnya
c. Skala Likert (Likert Scale)
Skala ini digunakan untuk mengukur respon subjek ke dalam 5 poin skala
dengan interval yang sama. Dengan demikian tipe data yang digunakan adalah
tipe interval.Contoh, dengan menggunakan Skala Likert, apakah anda setuju
dengan pendapat ini.
Uraian

Sangat

setuju
Kuliah di S2 menarik
1
Dosen
memberikan
1
wawasan
Dosen mengarahkan ke
1
riset

tidak Tidak

Tidak

Setuju
2

Tahu
3

2
2

Setuju

Sangat

Setuju
5

d. Skala Perbedaan Semantik (semantik differential scale)


Skala ini menggunakan dua buah nilai ekstrim (bipolar) dan subjek diminta
untuk menentukan responsya di antara dua nilai tersebut di ruang yang
disediakan yang disebut dengan ruang semantik. Tipe data yang digunakan
adalah tipe interval.
Contoh :
Setuju __ __ __ __ __ Tidak Setuju
Pintar __ __ __ __ __ Naif
Besar __ __ __ __ __ Kecil
e. Skala Numerik (numerik scale)
Skala ini sama dengan skala perbedaan semantik hanya mengganti ruang
semantik yang disediakan dengan angka-angka numerik yang terdiri atas 5 atau
7 alternatif nomor untuk mengukur nilai tersebut. Tipe data yang digunakan
adalah tipe interval.
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

Contoh :
Setuju 1 2 3 4 5 6 7 Tidak Setuju
f. Skala Penjumlahan Tetap atau Konstan (fixed or constant sum scale)
Pada metode skala ini, subjek diminta untuk mendistribusikan nilai responsya
ke dalam beberapa item yang sudah disediakan dengan jumlah yang tetap. Tipe
data yang digunakan adalah tipe rasio.
Contoh :
Di dalam memilih pendidikan S2, tentukan besarnya nilai alokasi yang Anda
berikan dengan total nilai 100 poin.
Fasilitas Komputer
Fasilitas Basis Data
Kenyamanan Kuliah
Gelar Dosen Tetap

____
____
____
____

Materi Kuliah
Total

____
100

g. Skala Stapel (staple scale)


Skala ini dimaksudkan tidak hanya mengukur intensitas respons dari subjek
tetapi juga arah responsnya. Karena nilai nol tidak disebutkan dengan eksplisit,
maka tipe data yang digunakan adalah tipe interval.
Contoh :
Tunjukan bagaiamana Anda menilai dosen yang mengajar di kelas dengan
melingkari nilai jawabannya.
+3
+3
+2
+2
+1
+1
Serius
Menarik
-1
-1
-2
-2
-3
-3

+3
+2
+1
Pintar
-1
-2
-3

h. Skala grafik (grafik scale)


Skala ini menggunakan grafik skala dan subjek memberi tanda pada tempat di grafik untuk
responsnya. Tipe data yang digunakan adalah tipe interval.
Contoh :
Bagaimana Anda
Secara umum menilai
dosen dimata kuliah ini

2. Skala Rangking (Ranking Scale)

10 memuaskan
5

cukup baik

sangat mengecewakan

Skala rangking adalah suatu metode penskalaan dengan membandingkan dua


atau lebih objek untuk memilih objek yang lebih baik. Beberapa skala rangking
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

10

adalah skala perbandingan-berpasangan (pair-comparison scale), skala rangking


dipaksakan (forced ranking scale) dan skala komparatif (comparative scale).
a. Skala perbandingan-berpasangan (paired-comparison scale)
Skala perbandingan-berpasangan digunakan untuk memilih salah satu dari dua
objek secara berpasangan. Jumlah pasangan yang ada adalah sebanyak (n x (n-1)
/ 2) dengan n adalah jumlah objek. Misalnya jumlah objek adalah 3, maka
jumlah pasangan perbandingan adalah (3 x (3-1) /2) = 3. Tipe data yang
digunakan adalah ordinal.
Contoh :
Di antara kandidat pasangan presiden dan wakil presiden, mana yang anda pilih
menjadi presiden perusahaan saudara :
___Ali
___Ali
___Ali
___Basuki ___Ceri
___Didik
___Basuki
___Ceri

___Basuki
___Didik

___Ceri
___Didik

b. Skala rangking dipaksakan (forced ranking scale)


Skala ini mengurutkan langsung relatif satu terhadap lainnya. Tipe data yang
digunakan adalah ordinal.
Contoh :
Di antara kandidat presiden, mana yang anda pilih menjadi presiden perusahaan
saudara (beri nilai rangking 1 sampai dengan 5) :
___Aul
___Iwan
___Sadad
___Lukman
___Ibrahim
c. Skala komparatif (comparatif scale)
Skala ini membandingkan dengan standar atau benchmark yang lainnya. Tipe
data yang digunakan adalah ordinal.
Contoh :
Dibandingkan dengan kinerja manajer periode kemarin, kinerja manajer
sekarang :
Inferior
1

Hampir sama
3

Superior
5

2.4 VALIDITAS SKALA


Suatu skala pengukuran disebut valid bila ia melakukan apa yang seharusnya
dilakukan dan mengukur apa yang seharusnya di ukur. Bila skala pengukuran tidak
valid maka ia tidak bermanfaat bagi peneliti karena tidak mengukur atau melakukan
apa yang seharusnya dilakukan. Secara konseptual, dibedakan 3 macam jenis validitas,
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

11

yaitu Validitas isi (content validity), validitas yang berkaitan dengan kriteria
(criterion-related validity) dan validitas konstruk (construct validity) (Kuncoro :
2003:151).
1. Validitas Isi (Content Validity)
Validitas isi memastikan bahwa ukuran telah cukup memasukkan sejumlah
item yang representatif dalam menyusun sebuah konsep. Semakin besar skala item
dalam mewakili semesta konsep yang diukur, maka semakin besar validitas isi.
Dengan kata lain, validitas isi adalah sebuah fungsi yang menunjukkan seberapa
baik

dimensi

dan

elemen

sebuah

konsep

digambarkan.

Face

validity

dipertimbangkan oleh sebagian ahli sebagai dasar dan indeks yang sangat minimum
bagi validitas isi. Face validity menunjukkan bahwa seolah-olah sebuah item
mengukur sebuah konsep. Sebagian peneliti tidak menganggap Face validity
sebagai komponen validitas isi yang valid (Kuncoro, 2003 : 151-152).
2. Validitas yang berkaitan dengan kriteria (Criterion-related Validity)
Validitas yang berkaitan dengan kriteria terjadi ketika sebuah ukuran
membedakan individual pada kriteria yang diperkirakan. Hal ini dapat dilakukan
dengan menetapkan concurrent validity atau predictive validity (Kuncoro,
2003:152)
Concurrent validity terjadi ketika skala yang ditetapkan dapat membedakan
individual yang telah diketahui berbeda, sehingga, skor untuk masing-masing
instrumen harus berbeda. Sebagai contoh, jika ukuran etika kerja dikembangkan
dan diterapkan pada sekelompok masyarakat yang hidup dari jaminan sosial, maka
skala harus membedakan kelompok yang antusias dalam memperoleh pekerjaan
dan kelompok yang tidak bersedia untuk bekerja walaupun ditawari pekerjaan. Bagi
kelompok yang memiliki nilai etika kerja yang tinggi akan berusaha memperoleh
pekerjaan sesegera mungkin. Sebaliknya, kelompok dengan nilai etika kerja yang
rendah akan memanfaatkan setiap kesempatan untuk tetap mendapatkan jaminan
sosial tanpa harus bekerja. Jika kedua jenis kelompok tersebut memiliki skor yang
sama dalam skala etika kerja, maka pengujiannya bukan merupakan pengukuran
etika kerja, tetapi pasti hal lain.
Predictive validity menunjukan kemampuan sebuah instrumen pengukuran
dalam membedakan individu dalam kriteria masa depan. Sebagai contoh, uji
kecerdasan atau uji kemampuan dilakukan pada para pekerja pada saat seleksi
penerimaan diharapkan mampu untuk membedakan setiap individual dalam
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

12

kinerjanya di masa mendatang. Pekerja dengan hasil tes yang tinggi diharapkan
memiliki kinerja yang tinggi dalam melakukan pekerjaannya, dan sebaliknya
(Kuncoro, 2003 : 153).
3. Validitas Konstruk (Construct validity)
Validitas konstruk membuktikan seberapa bagus hasil yang diperoleh dari
penggunaan ukuran sesuai dengan teori dimana pengujian dirancang. Hal ini dinilai
dengan convergent validity dan discriminant validity.
Convergent validity terjadi ketika skor yang dihasilkan oleh dua buah
instrumen yang mengukur konsep yang sama memiliki korelasi yang tinggi.
Disciminant validity terjadi ketika berdasarkan teori, dua buah variabel
diperkirakan tidak berkorelasi dan skor pengukuran yang dihasilkan juga
menunjukkan tidak berkorelasi secara empiris (Kuncoro, 2003 : 154).
2.5 RELIABILITAS SKALA
Reliabilitas menunjukkan konsistensi dan stabilitas dari suatu skor (skala
pengukuran). Reliabilitas berbeda dengan validitas karena yang pertama memusatkan
perhatian pada masalah konsistensi, sedang yang kedua lebih memperhatikan masalah
ketepatan. Dengan demikian, reliabilitas mencakup dua hal utama, yaitu : stabilitas
ukuran dan konsistensi internal ukuran.
1. Stabilitas Ukuran
Stabilitas ukuran menunjukkan kemampuan sebuah ukuran untuk tetap stabil
atau tidak rentan terhadap perubahan situasi apapun. Kestabilan ukuran dapat
membuktikan kebaikan sebuah ukuran dalam mengukur sebuah konsep. Terdapat
dua jenis uji stabilitas, yaitu test-retest reliability dan reliabilitas bentuk pararel.
a. Test-retest reliability, yaitu koefisien reliabilitas yang diperoleh dari
pengulangan pengukuran konsep yang sama dalam dua kali kesempatan. Yaitu
ketika kuesioner yang berisi item-item untuk mengukur konsep yang sama
diberikan kepada responden pada saat ini dan diberikan kembali pada
responden yang sama dalam waktu yang berbeda (misalnya, 2 minggu 6
bulan). Kemudian korelasi antar skor yang diperoleh dari responden yang sama
dengan dua waktu berbeda inilah yang disebut dengan koefisien test-retest.
Semakin tinggi koefisien, semakin baik test-retest reliability, sehingga semakin
stabil sebuah ukuran untuk waktu yang berbeda.
b. Reliabilitas bentuk pararel terjadi ketika respon dari dua pengukuran yang
sebanding dalam menyusun konstruk yang sama memiliki korelasi yang tinggi.
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

13

Kedua bentuk pengukuran memiliki item yang serupa dan format respon yang
sama dengan sedikit perubahan dalam penyusunan kalimat dan urutan
pertanyaan. Jika dua bentuk pengukuran yang sebanding memiliki korelasi
yang tinggi (katakan 0,8 atau lebih), maka dapat dipastikan ukuran tersebut
dapat dipercaya (reliable) dengan kesalahan varian minimal karena faktor
penyusunan kalimat dan urutan pertanyaan (Kuncoro, 2003 : 154).
2. Konsistensi Internal Ukuran
Konsistensi internal ukuran merupakan indikasi homogenitas item-item yang
ada dalam ukuran yang menyusun konstruk. Dengan kata lain, item-item yang ada
harus sama dan harus mampu mengukur konsep yang sama secara independen,
sedemikian rupa sehingga responden seragam dalam mengartikan setiap item. Hal
ini dapat dilihat dengan mengamati apakah item dan subset item dalam instrumen
pengukur memiliki korelasi yang tinggi. Konsistensi ukuran dapat diamati melalui
reliabilitas konsistensi antar item (interitem consistency reliability dan split-half
reliability).
a. Reliabilitas konsistensi antar item adalah konsistensi jawaban responden
untuk semua item dalam ukuran. Ketika sebuah item merupakan ukuran yang
independen untuk dua buah konsep yang sama, maka item-item tersebut akan
saling berkorelasi.
b. Split-half reliability menujukkan korelasi antara dua bagian instrumen.
Estimasi split-half reliability akan berbeda, tergantung pada bagaimana itemitem dalam ukuran dibagi ke dalam dua bagian (Kuncoro, 2003 : 155).
B. KLASIFIKASI VARIABEL
Teori-teori dalam ilmu sosial memberikan gambaran sistematis mengenai
fenomena sosial melalui hubungan dua variabel atau lebih. Hubungan antar variabel
pada dasarnya merupakan simplifikasi dari gambaran fenomena-fenomena sosial yang
sebenarnya bersifat kompleks. Banyak faktor yang saling terkait dalam suatu
fenomena sosial. Penelitian kuantitatif umumnya menggunakan asumsi dan batasan
pada faktor-faktor tertentu yang diamati dalam benttuk variabel-variabel penelitian.
Faktor-faktor lain yang tidak diamati diasumsikan sebagai faktor-faktor yang tidak
terkait secara signifikan dengan fenomena tertentu yang diteliti.
Variabel menurut Indriantoro (2002 : 61) adalah segala sesuatu yang dapat diberi
berbagai macam nilai. Variabel merupakan proksi atau representasi dari construct yang
dapat diukur dengan berbagai macam nilai. Dimana construct adalah abstraksi konsep
dari fenomena-fenomena kehidupan nyata yang dapat diamati. Variabel merupakan
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

14

mediator antara construct yang abstrak dengan fenomena yang nyata. Variabel
memberikan gambaran yang lebih nyata mengenai fenomena-fenomena yang
digeneralisasi dalam construct.
Variabel dapat diukur dengan berbagai macam nilai tergantung pada construct
yang diwakilinya. Nilai variabel dapat berupa angka atau berupa atribut yang
menggunakan ukuran atau skala dalam suatu kisaran nilai.
Variabel penelitian dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa pendekatan,
diantaranya adalah berdasarkan :
1. Fungsi variabel, diklasifikasikan berdasarkan fungsi variabel dalam hubungan antar
variabel, yaitu :
a. Variabel Independen dan Variabel Dependen.
Variabel independen (variabel yang diduga sebagai sebab) adalah tipe
variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain. Sedangkan
variabel dependen (variabel yang diduga sebagai akibat) adalah tipe variabel
yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel independen. Penjelasan dan
prediksi fenomena secara sistematis digambarkan dengan variabilitas variabelvariabel dependen yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel-variabel
independen. Bentuk hubungan antara variabel independen dan variabel
dependen adalah berupa hubungan korelasional dan hubungan sebab-akibat
dimana hubungan diantara kedua variabel tersebut dapat bersifat positif atau
negatif (Indriantoro, 2002:63).
Contoh penelitian yang menggunakan lebih dari satu variabel dependen dan
variabel independen antara lain penelitian yang menguji :
- Pengaruh pengumuman right issue (variabel independen) terhadap tingkat
-

keuntungn (variabel dependen) dan likuiditas (variabel dependen).


Pengaruh desentralisasi (variabel independen) dan karakteristik sistem
informasi akuntansi manajemen (variabel independen) terhadap kinerja

manajerial (variabel dependen).


b. Variabel Moderating
Variabel moderating adalah tipe variabel-variabel yang memperkuat atau
memperlemah hubungan langsung antara variabel independen dengan variabel
dependen. Variabel moderating merupakan tipe variabel yang mempunyai
pengaruh terhadap sifat atau arah hubungan antar variabel. Sifat atau arah
hubungan antara variabel-variabel independen dengan variabel-variabel
dependen kemungkinan positif atau negatif tergantung pada variabel
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

15

moderating itu sendiri. Oleh karena itu, variabel moderating disebut pula
dengan variabel contigency.
Contoh gambar ilustrasi Pengaruh variabel moderating terhadap hubungan
antara variabel independen dengan variabel dependen (Indriantoro, 2002:66).
Partisipasi
(Variabel
independen)

Kinerja
(Variabel
dependen)

Struktur organisasi
(Variabel
moderating)

c. Variabel Intervening
Variabel intervening adalah tipe variabel-variabel yang mempengaruhi
hubungan antara variabel-variabel independen dengan variabel-variabel
dependen menjadi hubungan yang tidak langsung. Variabel intervening
merupakan variabel yang terletak diantara variabel-variabel independen dengan
variabel-variabel dependen, sehingga variabel independen tidak langsung
menjelaskan atau mempengaruhi variabel dependen.
Contoh gambar ilustrasi hubungan antara variabel independen, variabel
intervening dan variabel dependen (Indriantoro, 2002:67).
Motivasi
(Variabel intervening)

Partisipasi
(Variabel independen)

Kinerja
(Variabel dependen)

2. Skala nilai variabel, diklasifikasikan menjadi :


a. Variabel kontinyu (continuous variable) adalah tipe variabel-variabel
penelitian yang memiliki kumpulan nilai yang teratur dalam kisaran tertentu,
menggambarkan tingkat atau jarak berdasarkan skala pengukuran tertentu.
Contoh, perbedaan lebih atau kurang, perbedaan tinggi-sedang-rendah, ataupun
skor nilai yang berbeda dan mempunyai jarak 1 sampai dengan 7. Tipe skala
ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian teori keperilakuan.
b. Variabel kategoris (categorical variable) adalah tipe variabel-variabel
penelitian yang memiliki nilai berdasarkan kategori tertentu atau lebih dikenal
dengan sebutan skala nominal. Skala nilai pada variabel ini hanya merupakan
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

16

label untuk mengidentifikasi kategori atau kelompok variabel yang


bersangkutan. Contoh variabel dikotomi jenis kelamin (pria-wanita), perilaku
(baik-buruk), sikap (positif-negatif) atau variabel kategoris politomis seperti
agama, tingkat pendidikan dan kewarganegaraan.
3. Perilaku terhadap variabel
Karakteristik penelitian eksperimen adalah adanya manipulasi terhadap variabel
tertentu. Manipulasi dalam hal ini berarti memberikan perlakuan yang berbeda
kepada kelompok yang berbeda. Klasifikasi variabel berdasarkan pada perlakuan
peneliti terhadap variabel penelitian bermanfaat untuk mengetahui perrbedaan
antara variabel-variabel yang dimanipulasi dengan variabel-variabel yang tidak
dimanipulasi.
Variabel penelitian dapat diklasifikasikan berdasarkan perlakuan peneliti terhadap
suatu variabel yaitu :
a. Variabel aktif, adalah variabel-variabel penelitian yang dimanipulasi untuk
keperluan penelitian eksperimen. Contoh : kondisi suhu ruangan, jumlah barang
dan lainnya
b. Variabel atribut, adalah variabel-variabel penelitian yang tidak dapat
dimanipulasi. Contoh variabel penelitian yang tidak dapat dimanipulasi, misal
variabel-variabel yang berkaitan dengan karakterisitk manusia : intelegensi,
sikap, jenis kelamin, status sosial-ekonomi.
C. KONSEPTUAL DAN OPERASIONALISASI VARIABEL
Definisi konseptual adalah pernyataan yang mengartikan atau memberi makna
suatu konsep istilah tertentu. Definisi konseptual merupakan penggambaran secara
umum dan menyeluruh yang menyiratkan maksud dan konsep atau istilah tersebut
bersifat konstitutif. Definisi lain dari Definisi konsepsi (definisi konstitutif) adalah
definisi yang diperoleh dari kamus yaitu definisi akademik dan mengandung
pengertian yang universal untuk suatu kata atau kelompok kata. Definisi ini biasanya
bersifat abstrak dan formal. Sedangkan Definisi operasional adalah mendefinisikan
variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang di amati ketika melakukan
pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena dengan menggunakan
parameter yang jelas. Definisi operasional juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada
pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutanserta
pengembangan instrumen.
Konsep definisi konseptual dan definisi operasional diperlukan untuk
memudahkan penulis dalam meneliti suatu penelitian ilmiah. Definisi konseptualisasi
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

17

dan operasionalisasi ini dibutuhkan dalam penelitian karena terkadang setiap orang
memiliki interpretasi yang berbeda-beda dalam mengartikan kalimat atau istilah-istilah
sehingga kemudian nantinya maksud yang ingin disampaikan dari peneliti tidak
tersampaikan dengan semestinya. Definisi konsep terbagi menjadi dua yaitu definisi
konseptual (konstitutif) dan definisi operasional.
Definisi konsep ini diperlukan untuk pengukuran variabel yang abstrak atau
yang tidak mudah terhubung dengan fakta. Bahasan pertama adalah definisi
konseptual yang merupakan pernyataan yang mengartikan atau memberi makna suatu
konsep atau istilah tertentu. Definisi konseptual merupakan penggambaran secara
umum dan menyeluruh yang menyiratkan maksud dari konsep atau istilah tersebut,
bersifat konstitutif (merupakan definisi yang disepakati oleh banyak pihak dan telah
dibakukan di kamus bahasa), formal dan mempunyai pengertian yang abstrak.
Secara sederhana, definisi konstitutif/konseptual ini adalah mendefinisikan
suatu konsep dengan konstruk yang lainnya. Definisi konseptual ini lebih bersifat
hipotetikal dan tidak dapat diobservasi. Hal ini dikarenakan definisi konseptual
merupakan suatu konsep yang didefinisikan dengan referensi konsep yang lain.
Definisi konseptual bermanfaat untuk membuat logika dalam proses perumusan
hipotesa.
Mochtar Masoed mensyaratkan sifat kondisi konseptual meliputi beberapa hal,
di antaranya adalah definisi harus menggambarkan ciri-ciri khas dari fenomena yang
hendak dideskripsikan; definisi juga harus berisi semua hal yang diliputinya dan tidak
memasukan hal-hal yang tidak diliputinya; definisi itu tidak boleh bersifat sirkuler
(definisi yang harus didefinisikan lagi) sehingga definisi yang diuraikan sudah benarbenar jelas; dan definisi harus dinyatakan dalam istilah yang jelas dan tidak memiliki
arti lebih dari satu.
Sementara itu, definisi operasional adalah memberikan pengertian terhadap
konstruk atau variabel dengan menspesifikasikan kegiatan atau tindakan yang
diperlukan peneliti untuk mengukur atau memanipulasinya. Definisi operasional juga
bisa didefinisikan sebagai serangkaian langkah-langkah prosedural dan sistematis yang
menggambarkan kegiatan demi mendapatkan eksistensi empiris dari suatu konsep.
Definisi operasional ini merupakan jembatan antara tingkat konseptual yang
bersifat teoritis dengan tingkat pengamatan yang bersifat empiris. Sehingga kemudian
keduanya bisa dicari titik temunya. Namun dalam penelitian kualitatif, definisi
operasional, bahkan dalam model penelitian tertentu, tidak perlu digunakan, karena
penelitian kualitatif tidak bertujuan untuk mengukur variabel. Jika penelitian kualitatif
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

18

mencantumkan definisi operasional, maka peneliti telah membatasi subjek penelitian,


batasan untuk berpendapat atau penggambaran pengalaman dari subjek penelitian. Di
posisi ini ia telah menggunakan prespektif etik dan bukanlah prespektif emik
(perspektif yang menjadi ciri penelitian kualitatif).
Penekanan pengertian definisi operasional ialah pada kata dapat diobservasi,
sehingga apabila seorang peneliti melakukan suatu observasi terhadap suatu gejala
atau obyek, maka peneliti lain juga dapat melakukan hal yang sama, yaitu
mengidentifikasi apa yang telah didefinisikan oleh peneliti pertama. Secara ilmiah
definisi operasional ini digunakan menjadi dasar dalam pengumpulan data sehingga
tidak terjadi bias terhadap data apa yang diambil. Dalam pemakaian praktis, definisi
operasional dapat berperan menjadi penghilang bias dalam mengartikan suatu
ide/maksud yang biasanya dalam bentuk tertulis.
Definisi operasional ini dibutuhkan untuk membatasi parameter atau indikator
yang diinginkan peneliti dalam sebuah penelitian sehingga apapun variabel
penelitiannya yang digunakan maka semuanya hanya muncul dari konsep
tersebut.Dalam menyusun definisi operasional, definisi tersebut sebaiknya dapat
mengidentifikasi seperangkat kriteria unik yang dapat diamati. Semakin unik suatu
definisi operasional, maka semakin bermanfaat. Karena definisi tersebut akan banyak
memberikan informasi kepada peneliti, dan semakin menghilangkan obyek-obyek atau
pernyataan lain yang muncul dalam mendifinisikan sesuatu hal yang tdiak kita
inginkan tercakup dalam definisi tersebut secara tidak sengaja dan dapat meningkatkan
adanya kemungkinan makna variabel dapat direplikasi. Sekalipun demikian,
keunikan/kekhususan tersebut tidak menjadi penghalang keberlakuannnya secara
umum suatu konsep yang merupakan ciri validitas eksternal bagi desain penelitian
yang dibuat.
Terdapat dua definisi operasional yang dapat diketahui yaitu definisi
operasional pengukuran dan definisi operasional eksperimental. Definisi
operasional yang dapat diukur menyatakan suatu konsep yang dapat diukur dalam
penyelidikan. Sedangkan Definisi operasional eksperimental peneliti menguraikan
secara rinci variable-variabel yang diteliti.
Sebuah definisi operasional yang baik memiliki beberapa ciri-ciri tertentu,
diantaranya adalah apabila lebih dari satu orang melihat/membaca ide/maksud yang
dituliskan/dibicarakan kemudian mendapatkan pengertian/pemahaman yang sama
dengan menggunakan kerangka definisi operasional yang sama (objektivitasnya

Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

19

terbukti), lalu tidak menggunakan suatu arti atau maksud yang berbeda/berlawanan
dari arti yang telah diterima secara umum (validitasnya terbukti).
Terdapat tiga pendekatan untuk menyusun definisi operasional, yaitu disebut
Tipe A, Tipe B dan Tipe C antara lain :
Pertama adalah definisi operasional tipe A yang dapat disusun berdasarkan pada
operasi yang harus dilakukan, sehingga menyebabkan gejala atau keadaan yang
didefinisikan menjadi nyata atau dapat terjadi. Dengan menggunakan prosedur

tertentu peneliti dapat membuat gejala menjadi nyata.


Kedua adalah definisi operasional tipe B yang dapat disusun berdasarkan pada
bagaimana obyek tertentu yang didefinisikan dapat dioperasionalisasikan, yaitu
berupa apa yang dilakukannya atau apa yang menyusun karaktersitik-karakteristik

dinamisnya.
Ketiga adalah definisi operasional tipe C dapat disusun didasarkan pada
penampakan seperti apa obyek atau gejala yang didefinisikan tersebut, yaitu apa
saja yang menyusun karaktersitik-karaktersitik statisnya.
Ada beberapa langkah dalam menyusun definisi operasional variabel, yaitu :
1. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengembalikan variabel
penelitian ke bentuk awal, yaitu konsep penelitian. Peneliti harus mendefinisikan
konsep penelitian sesuai dengan definisi-definisi yang telah diberikan oleh para
ahli yang relevan dengan konsep penelitiannya. Contohnya jika konsep
penelitiannya adalah motivasi kerja, maka peneliti harus menemukan definisi
motivasi kerja yang telah banyak diakui kebenarannya oleh para pakar di
bidang tersebut. Dalam tahapan ini studi kepustakaan menjadi salah satu tahap
yang harus dilalui. Melalui studi kepustakaan yang mendalam dan memadai,
peneliti akan mampu merumuskan definisi konsep penelitiannya dengan benar.
Jadi ketika konsep penelitiannya adalah tentang motivasi kerja maka
kepustakaan atau literatur tentang konsep tersebut harus benar-benar dipahami
dengan baik oleh peneliti.
2. Langkah berikutnya adalah menemukan cara mengetahui besaran (ukuran) dari
variabel penelitian berdasarkan definisi konseptual, atau dengan kata lain mulai
mengoperasionalisasikan variabel penelitian. Agar lebih cepat dipahami
simaklah contoh berikut ini. Kita ambil satu contoh penelitian tentang kepuasan
kerja yang menggunakan konsep JDI (Job Descriptive Index). Terlebih dahulu
ditentukan definisi konseptualnya, kemudian disusun definisi operasionalnya.
Agar lebih dipahami, sebaiknya definisi konseptual dan operasional variabel
Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

20

penelitian dimasukan ke dalam satu tabel seperti di bawah ini yang isi dalam
tabel merupakan komponen penyusun definisi operasional.
Ada 5 komponen penyusunan definisi operasional antara lain :
1. Variabel
2. Definisi
3. Hasil Ukur
4. Skala Data
5. Cara ukur
Contoh proses penyusunan definisi operasional variabel ke dalam satu tabel
dengan Kepuasan Kerja sebagai variabel, dan definisi konseptualnya
berdasarkan konsep JDI (Job Descriptive Index):
Definisi
Variabel

Definisi Operasional
Skor Sikap
Konseptual Dimensi

Skala
Pengukuran

Sikap

1. Upah/gaji

pekerja
Kepuasa

terhadap

n Kerja

dimensidimensi

Sangat Tidak
Suka: 1

2. Pekerjaan itu
sendiri
3. Rekan kerja

pekerjaan

Tidak Suka: 2

Interval

Cukup: 3
Suka: 4
Sangat Suka:

4. Atasan

5. Promosi

Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

21

DAFTAR PUSTAKA
Hartono, Jogiyanto. 2014. Metodologi Penelitian Bisnis. Salah Kaprah dan PengalamanPengalaman. Edisi 6. Yogyakarta, Indonesia : BPFE-Yogyakarta.
Indriantoro, Nur., & Bambang Supomo. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis. Untuk
Akuntansi dan Manajemen. Edisi Pertama. Yogyakarta, Indonesia : BPFEYogyakarta.
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi. Yogyakarta, Indonesia :
Penerbit Erlangga.
http://pascasarjana.esaunggul.ac.id/artikel/121-pengukuran-variabel-dalam-penelitiandi
unduh tgl. 24 Juli 2016 jam 14.58 wita
https://aritmaxx.wordpress.com/2010/06/30/variabel-penelitian/ di unduh tanggal 24 Juli
2016 jam 15.14 wita
http://markdebie.blogspot.co.id/2012/05/pengukuran-variabel-definisi.html

di

unduh

tanggal 24 Juli 2016 jam 15.18 wita

Kelompok 5 |Pengukuran Variabel

22