Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam dunia perindustrian, proses konversi energi sangatlah sering terjadi. Hal
tersebut dilakukan untuk mendapatkan hasil dari proses kerja yang dilakukan. Dengan
adanya konversi energi, perubahan dari suatu energi ke beberapa jenis energi akan
mampu menghasilkan suatu output yang beragam. Konversi energi tersebut umumnya
adalah konversi daya.
Konversi daya merupakan suatu tipe peralihan dari suatu bentuk energi ke bentuk
yang lain untuk mendapatkan hasil output yang diinginkan. Konversi energi dipisahkan
menjadi 4 bagian yang biasa disebut dengan empat kuadran konversi daya. Kuadran
pertama menggambarkan adanya konversi daya dari siklus AC ke DC (rectifier). Kuadran
kedua menggambarkan adanya konversi daya dari siklus DC ke DC (DC chopper).
Kuadran ketiga menggambarkan konversi daya dari siklus DC ke AC (Inverter). Kuadran
terakhir menggambarkan konversi daya dari siklus AC ke AC.
Siklus DC chopper merupakan salah satu siklus yang banyak digunakan dalam
peralatan elektronik yang menggunakan sumber tegangan maupun arus DC. Akan tetapi,
siklus ini juga banyak digunakan dalam pengendalian motor listrik DC dan sinkron pada
suatu industri. Dalam siklus ini, memiliki bermacam metode untuk melakukan konversi
dari DC ke DC. Laporan ini dibuat untuk memberikan bahasan mengenai berbagai
metode atau tipe dari siklus DC ke DC.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang di ajukan adalah :
1. Bagaimana cara kerja rangkaian dasar DC Chopper (Buck)?
2. Bagaimana menghitung kapasitas masing masing komponen DC Chopper?
V1
I
3. Bagaimana daya output,
dan output DC Chopper?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan ini adalah :
1. Memahami cara kerja rangkaian dasar DC Chopper (Buck).
2. Mampu menghitung kapasitas masing masing komponen DC Chopper.
V1
I
3. Menganalisa daya output,
dan output DC Chopper.

1.4 Metode dan Teknik Pengumpulan Data


1.4.1 Metode
1

Metode yang digunakan adalah deskriptif analistis/eksperimen (percobaan)


karena percobaan ini bertujua untuk mendeskripsikan dan membuktikan data yang
diperoleh baik dari berbagai rujukan maupun dari hasil percobaan kemudian
dianalisis.
1.4.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah :
1. Studi kepustakaan.
2. Eksperimen (percobaan).

1.5 Sistematis Penulisan


BAB I

: Pendahuluan
Menguraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan,
metode dan teknik pengumpulan dan sistematis penulisan

BAB II

: Teori Dasar
Menguraikan tentang pendahuluan, dasar DC Chopper, model DC
Chopper, dan komponen elektronika daya.

BAB III

: Landasan Praktikum
Berisikan tentang alat-alat yang digunakan, prosedur percobaan,data
pengamatan, dan pengolahan data.

BAB IV

: Tugas Akhir dan Analisa


.Menguraikan tentang pertanyaan dan analisa dari hasil percobaan dan
pengolahan data yang dilakukan.

BAB V

: Kesimpulan dan Saran


Berisikan kesimpulan mengenai hasil yang diperoleh dari praktikum
yang telah dilakukan.Saran berisikan hal-hal yang harus diperbaiki
pada saat praktikum.

BAB II
TEORI DASAR
2.1 Dasar DC chopper
Dalam pembahasan DC chopper, terdapat dua macam cara pengolahan daya: tipe
linier dan tipe peralihan (switching). Tergantung dari jenis aplikasinya, masing masing
2

tipe memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun dalam perkembangannya, tipe peralihan
nampak semakin terlihat kepopulerannya terutama karena kelebihannya dalam mengubah
daya secara jauh lebih efisien dan pemakaian komponen yang ukurannya lebih kecil.
Dalam artikel ini, akan dibahas beberapa metodologi yang termasuk dalam tipe
peralihan, khususnya yang digunakan untuk mengubah daya DC-DC.
Pengubah daya DC-DC (DC-DC Converter) tipe peralihan atau dikenal juga dengan
sebutan DC Chopper dimanfaatkan terutama untuk penyediaan tegangan keluaran DC
yang bervariasi besarannya sesuai dengan permintaan pada beban. Daya masukan dari
proses DC-DC tersebut adalah berasal dari sumber daya DC yang biasanya memiliki
tegangan masukan yang tetap. Pada dasarnya, penghasilan tegangan keluaran DC yang
ingin dicapai adalah dengan cara pengaturan lamanya waktu penghubungan antara sisi
keluaran dan sisi masukan pada rangkaian yang sama. Komponen yang digunakan untuk
menjalankan fungsi penghubung tersebut tidak lain adalah switch (solid state electronic
switch) seperti misalnya Thyristor, MOSFET, IGBT, GTO. Secara umum ada dua fungsi
pengoperasian dari DC Chopper yaitu penaikan tegangan dimana tegangan keluaran yang
dihasilkan lebih tinggi dari tegangan masukan, dan penurunan tegangan dimana tegangan
keluaran lebih rendah dari tegangan masukan.
A. Tipe Linier

Gambar 2.1 Pengubah tipe linier

Pada tipe linier, pengaturan tegangan keluaran dicapai dengan menyesuaikan arus
pada beban yang besarannya tergantung dari besar arus pada base-nya transistor:
V0 = IL . RL
Dengan demikian pada tipe linier, fungsi transistor menyerupai tahanan yang dapat
diubah ubah besarannya seperti yang juga terlihat dalam Gambar 1. Lebih jauh lagi,
transistor yang digunakan hanya dapat dioperasikan pada batasan liniernya (linear
region) dan tidak melebihi batasan cutoff dan selebihnya (saturation region). Maka dari
itu tipe ini dikenal dengan tipe linier. Walau tipe linier merupakan cara termudah untuk
mencapai tegangan keluaran yang bervariasi, namun kurang diminati pada aplikasi daya
3

karena tingginya daya yang hilang (power loss) pada transistor (V CE*IL) sehingga
berakibat rendahnya efisiensi. Sebagai alternatif, maka muncul tipe peralihan.
B. Tipe Peralihan
Pengubah daya DC-DC (DC-DC Converter) tipe peralihan atau dikenal juga dengan
sebutan DC Chopper dimanfaatkan terutama untuk penyediaan tegangan keluaran DC
yang bervariasi besarannya sesuai dengan permintaan pada beban. Daya masukan dari
proses DC-DC tersebut adalah berasal dari sumber daya DC yang biasanya memiliki
tegangan masukan yang tetap. Pada dasarnya, penghasilan tegangan keluaran DC yang
ingin dicapai adalah dengan cara pengaturan lamanya waktu penghubungan antara sisi
keluaran dan sisi masukan pada rangkaian yang sama. Komponen yang digunakan untuk
menjalankan fungsi penghubung tersebut tidak lain adalah switch (solid state electronic
switch) seperti misalnya Thyristor, MOSFET, IGBT, GTO. Secara umum ada dua fungsi
pengoperasian dari DC Chopper yaitu penaikan tegangan dimana tegangan keluaran yang
dihasilkan lebih tinggi dari tegangan masukan, dan penurunan tegangan dimana tegangan
keluaran lebih rendah dari tegangan masukan.

Gambar 2.2 Pengubah tipe peralihan

Pada tipe peralihan, terlihat fungsi transistor sebagai electronic switch yang dapat
dibuka (off) dan ditutup (on). Dengan asumsi bahwa switch tersebut ideal, jika switch
ditutup maka tegangan keluaran akan sama dengan tegangan masukan, sedangkan jika
switch dibuka maka tegangan keluaran akan menjadi nol. Dengan demikian tegangan
keluaran yang dihasilkan akan berbentuk pulsa.

Gambar 2.3 Tegangan keluaran

Besaran rata rata atau komponen DC dari tegangan keluaran dapat diturunkan dari
persamaan berikut:
Dari persamaan diatas terlihat bahwa tegangan keluaran DC dapat diatur besarannya
dengan menyesuaikan parameter D. Parameter D dikenal sebagai Duty ratio yaitu rasio
antara lamanya waktu switch ditutup (ton) dengan perioda T dari pulsa tegangan keluaran:

dengan 0 D 1. Parameter f adalah frekuensi peralihan (switching frequency) yang


digunakan dalam mengoperasikan switch. Berbeda dengan tipe linier, pada tipe peralihan
tidak ada daya yang diserap pada transistor sebagai switch. Ini dimungkinkan karena
pada waktu switch ditutup tidak ada tegangan yang jatuh pada transistor, sedangkan pada
waktu switch dibuka, tidak ada arus listrik mengalir. Ini berarti semua daya terserap pada
beban, sehingga efisiensi daya menjadi 100%. Namun perlu diingat pada prakteknya,
tidak ada switch yang ideal, sehingga akan tetap ada daya yang hilang sekecil apapun
pada komponen switch dan efisiensinya walaupun sangat tinggi, tidak akan pernah
mencapai 100%.
C.

Pengubah Buck
Pada gambar di bawah ini, menunjukkan rangkaian dasar dalam metoda Buck.
Dalam metoda ini, tegangan keluaran akan lebih rendah atau sama dengan tegangan
masukan. Disamping itu, jika pada pengoperasiannya arus yang mengalir melalui
induktor selalu lebih besar dari nol (CCM - Continuous Conduction Mode), maka
hubungan antara tegangan keluaran dengan tegangan masukan adalah sebagai berikut:
V0 = D . Vin (4)

Gambar 2.4 Pengubah Buck

Keuntungan pada konfigurasi Buck adalah efisiensi yang tinggi, rangkaiannya


sederhana, tidak memerlukan transformer, tingkatan stress pada komponen switch yang
5

rendah, riak (ripple) pada tegangan keluaran juga rendah sehingga penyaring atau filter
yang dibutuhkan pun relatif kecil. Kekurangan yang ditemukan misalnya adalah tidak
adanya isolasi antara masukan dan keluaran, hanya satu keluaran yang dihasilkan, dan
tingkat ripple yang tinggi pada arus masukan. Metoda Buck sering digunakan pada
aplikasi yang membutuhkan sistim yang berukuran kecil.
D. Pengubah Boost
Jika tegangan keluaran yang dinginkan lebih besar dari tegangan masukan, maka
rangkaian Boost dapat dipakai. Topologi Boost terlihat pada gambar di bawah ini. Pada
operasi CCM, tegangan keluaran dan tegangan masukan diekspresikan seperti:

Gambar 2.5 Pengubah boost

Boost juga memiliki efisiensi tinggi, rangkaian sederhana, tanpa transformer dan
tingkat ripple yang rendah pada arus masukan. Namun juga Boost tidak memiliki isolasi
antara masukan dan keluaran, hanya satu keluaran yang dihasilkan, dan tingkatan ripple
yang tinggi pada tegangan keluaran. Aplikasi Boost mencakup misalnya untuk perbaikan
faktor daya (Power Factor), dan untuk penaikan tegangan pada baterai.
E. Pengubah Buck-boost
Metoda Buck-Boost tidak lain adalah kombinasi antara Buck dan Boost, seperti
terlihat pada Gambar 6, dimana tegangan keluaran dapat diatur menjadi lebih tinggi atau
lebih rendah dari tegangan masukan. Dalam operasi CCM, persamaan tegangan yang
dipakai adalah:
\

Gambar 2.6 Pengubah Buck-Boost

Yang menarik untuk dicatat dari Buck-Boost adalah bahwa tegangan keluaran
memiliki tanda berlawanan dengan tegangan masukan. Oleh karena itu metoda ini pun
ditemui pada aplikasi yang memerlukan pembalikan tegangan (voltage inversion)
tanpa transformer. Walaupun memiliki rangkaian sederhana, metoda Buck-Boost
memiliki kekurangan seperti tidak adanya isolasi antara sisi masukan dan keluaran,
dan juga tingkat ripple yang tinggi pada tegangan keluaran maupun arus keluaran.
Cara lain untuk mengkombinasikan metoda Buck dan Boost dapat dilihat pada
Gambar 7 dan dikenal dengan nama Boost-Buck atau Cuk. Seperti halnya metoda
Buck-Boost, tegangan keluaran yang dihasilkan dapat diatur menjadi lebih tinggi atau
lebih rendah dari tegangan masukan. Persamaan tegangan yang berlaku pada CCM
pun sama dengan Buck-Boost (persamaan 6). Metoda Cuk juga digunakan pada
aplikasi yang memerlukan pembalikan tegangan (voltage inversion) tanpa
transformer, namun dengan kelebihan tingkat ripple yang rendah pada arus masukan
maupun arus keluaran.

Gambar 2.7 Pengubah Cuk

2.2 Komponen Elektronika Daya


Thyristor berakar kata dari bahasa Yunani yang berarti pintu'. Dinamakan demikian
barangkali karena sifat dari komponen ini yang mirip dengan pintu yang dapat dibuka
dan ditutup untuk melewatkan arus listrik. Ada beberapa komponen yang termasuk
thyristor antara lain PUT (programmable uni-junction transistor), UJT (uni-junction
transistor ), GTO (gate turn off switch), photo SCR dan sebagainya. Namun pada
kesempatan ini, yang akan kemukakan adalah komponen-komponen thyristor yang
dikenal dengan sebutan SCR (silicon controlled rectifier), TRIAC dan DIAC. Pembaca
dapat menyimak lebih jelas bagaimana prinsip kerja serta aplikasinya.
7

2.2.1 Struktur Thyristor


Ciri-ciri utama dari sebuah thyristor adalah komponen yang terbuat dari bahan
semiconductor silicon. Walaupun bahannya sama, tetapi struktur P-N junction yang
dimilikinya lebih kompleks dibanding transistor bipolar atau MOS. Komponen thyristor
lebih digunakan sebagai saklar (switch) dibandingkan sebagai penguat arus atau
tegangan seperti halnya transistor.

Gambar 2.8 Struktur Thyristor

Struktur dasar thyristor adalah struktur 4 layer PNPN seperti yang ditunjukkan
pada gambar-1a. Jika dipilah, struktur ini dapat dilihat sebagai dua buah struktur junction
PNP dan NPN yang tersambung di tengah seperti pada gambar-1b. Ini tidak lain adalah
dua buah transistor PNP dan NPN yang tersambung pada masing-masing kolektor dan
base. Jika divisualisasikan sebagai transistor Q1 dan Q2, maka struktur thyristor ini dapat
diperlihatkan seperti pada gambar-2 yang berikut ini.

Gambar 2.9 visualisasi dengan transistor

Terlihat di sini kolektor transistor Q1 tersambung pada base transistor Q2 dan


sebaliknya kolektor transistor Q2 tersambung pada base transistor Q1. Rangkaian
transistor yang demikian menunjukkan adanya loop penguatan arus di bagian tengah.
Dimana diketahui bahwa Ic = b Ib, yaitu arus kolektor adalah penguatan dari arus base.
Jika misalnya ada arus sebesar Ib yang mengalir pada base transistor Q2, maka akan ada
arus Ic yang mengalir pada kolektor Q2. Arus kolektor ini merupakan arus base I b pada
transistor Q1, sehingga akan muncul penguatan pada pada arus kolektor transistor Q1.
Arus kolektor transistor Q1 tdak lain adalah arus base bagi transistor Q2. Demikian
seterusnya sehingga makin lama sambungan PN dari thyristor ini di bagian tengah akan
mengecil dan hilang. Tertinggal hanyalah lapisan P dan N dibagian luar.
Jika keadaan ini tercapai, maka struktur yang demikian todak lain adalah struktur
dioda PN (anoda-katoda) yang sudah dikenal. Pada saat yang demikian, disebut bahwa
thyristor dalam keadaan ON dan dapat mengalirkan arus dari anoda menuju katoda
seperti layaknya sebuah dioda.

Gambar 2.10 Thyristor diberi tegangan

Bagaimana kalau pada thyristor ini kita beri beban lampu dc dan diberi suplai
tegangan dari nol sampai tegangan tertentu seperti pada gambar 3. Apa yang terjadi pada
lampu ketika tegangan dinaikkan dari nol. Ya betul, tentu saja lampu akan tetap padam
karena lapisan N-P yang ada ditengah akan mendapatkan reverse-bias (teori dioda). Pada
saat ini disebut thyristor dalam keadaan OFF karena tidak ada arus yang bisa mengalir
atau sangat kecil sekali. Arus tidak dapat mengalir sampai pada suatu tegangan reversebias tertentu yang menyebabkan sambungan NP ini jenuh dan hilang. Tegangan ini
disebut tegangan breakdown dan pada saat itu arus mulai dapat mengalir melewati

thyristor sebagaimana dioda umumnya. Pada thyristor tegangan ini disebut tegangan
breakover Vbo.
2.2.2 Silicon Controlled Rectifier (SCR)
Untuk membuat thyristor menjadi ON adalah dengan memberi arus trigger lapisan
P yang dekat dengan katoda. Yaitu dengan membuat kaki gate pada thyristor PNPN
seperti pada gambar-4a. Karena letaknya yang dekat dengan katoda, bisa juga pin gate ini
disebut pin gate katoda (cathode gate). Beginilah SCR dibuat dan simbol SCR
digambarkan seperti gambar-4b. SCR dalam banyak literatur disebut Thyristor saja.

Gambar 2.11 Struktur SCR

Melalui kaki (pin) gate tersebut memungkinkan komponen ini di trigger menjadi
ON, yaitu dengan memberi arus gate. Ternyata dengan memberi arus gate Ig yang
semakin besar dapat menurunkan tegangan breakover (Vbo) sebuah SCR. Dimana
tegangan ini adalah tegangan minimum yang diperlukan SCR untuk menjadi ON. Sampai
pada suatu besar arus gate tertentu, ternyata akan sangat mudah membuat SCR menjadi
ON. Bahkan dengan tegangan forward yang kecil sekalipun. Misalnya 1 volt saja atau
lebih kecil lagi. Kurva tegangan dan arus dari sebuah SCR adalah seperti yang ada pada
gambar-5 yang berikut ini.

10

Gambar 2.12 Karakteristik kurva I-V SCR

Pada gambar tertera tegangan breakover Vbo, yang jika tegangan forward SCR
mencapai titik ini, maka SCR akan ON. Lebih penting lagi adalah arus Ig yang dapat
menyebabkan tegangan Vbo turun menjadi lebih kecil. Pada gambar ditunjukkan
beberapa arus Ig dan korelasinya terhadap tegangan breakover. Pada datasheet SCR, arus
trigger gate ini sering ditulis dengan notasi IGT (gate trigger current). Pada gambar ada
ditunjukkan juga arus Ih yaitu arus holding yang mempertahankan SCR tetap ON. Jadi
agar SCR tetap ON maka arus forward dari anoda menuju katoda harus berada di atas
parameter ini.
Sejauh ini yang dikemukakan adalah bagaimana membuat SCR menjadi ON. Pada
kenyataannya, sekali SCR mencapai keadaan ON maka selamanya akan ON, walaupun
tegangan gate dilepas atau di short ke katoda. Satu-satunya cara untuk membuat SCR
menjadi OFF adalah dengan membuat arus anoda-katoda turun dibawah arus I h (holding
current). Pada gambar-5 kurva I-V SCR, jika arus forward berada dibawah titik I h, maka
SCR kembali pada keadaan OFF. Berapa besar arus holding ini, umumnya ada di dalam
datasheet SCR.
Cara membuat SCR menjadi OFF tersebut adalah sama saja dengan menurunkan
tegangan anoda-katoda ke titik nol. Karena inilah SCR atau thyristor pada umumnya
tidak cocok digunakan untuk aplikasi DC. Komponen ini lebih banyak digunakan untuk
aplikasi-aplikasi tegangan AC, dimana SCR bisa OFF pada saat gelombang tegangan AC
berada di titik nol.
Ada satu parameter penting lain dari SCR, yaitu VGT. Parameter ini adalah
tegangan trigger pada gate yang menyebabkab SCR ON. Kalau dilihat dari model
thyristor pada gambar-2, tegangan ini adalah tegangan Vbe pada transistor Q2. VGT seperti
halnya Vbe, besarnya kira-kira 0.7 volt. Seperti contoh rangkaian gambar-8 berikut ini
11

sebuah SCR diketahui memiliki IGT = 10 mA dan VGT = 0.7 volt. Maka dapat dihitung
tegangan Vin yang diperlukan agar SCR ini ON adalah sebesar :
Vin = Vr + VGT
Vin = IGT(R) + VGT = 4.9 volt

Gambar 2.13 Rangkaian SCR

2.2.3 Triac
SCR adalah thyristor yang uni-directional, karena ketika ON hanya bisa
melewatkan arus satu arah saja yaitu dari anoda menuju katoda. Struktur TRIAC
sebenarnya adalah sama dengan dua buah SCR yang arahnya bolak-balik dan kedua gatenya disatukan. Simbol TRIAC ditunjukkan pada gambar-6. TRIAC biasa jugadisebut
thyristor bi-directional.

Gambar 2.14 Simbol TRIAC

Triac bekerja mirip seperti scr yang paralel bolak-balik, sehingga dapat melewatkan arus
dua arah. Kurva karakteristik dari triac adalah seperti pada gambar2.15 berikut ini.

12

Gambar 2.15 Karakteristik kurva I-V TRIAC

Pada datasheet akan lebih detail diberikan besar parameter-parameter seperti Vbo dan
-Vbo, lalu IGT dan -IGT, Ih serta -Ih dan sebagainya. Umumnya besar parameter ini simetris
antara yang plus dan yang minus. Dalam perhitungan desain, bisa dianggap parameter ini
simetris sehingga lebih mudah di hitung.
2.2.4 DIAC
DIAC bukanlah termasuk keluarga thyristor, namun prisip kerjanya membuat ia
digolongkan sebagai thyristor. DIAC dibuat dengan struktur PNP mirip seperti transistor.
Lapisan N pada transistor dibuat sangat tipis sehingga elektron dengan mudah dapat
menyeberang menembus lapisan ini. Sedangkan pada DIAC, lapisan N di buat cukup
tebal sehingga elektron cukup sukar untuk menembusnya. Struktur DIAC yang demikian
dapat juga dipandang sebagai dua buah dioda PN dan NP, sehingga dalam beberapa
literatur DIAC digolongkan sebagai dioda.

Gambar 2.16 Struktur dan simbol DIAC

Sukar dilewati oleh arus dua arah, DIAC memang dimaksudkan untuk tujuan ini.
Hanya dengan tegangan breakdown tertentu barulah DIAC dapat menghantarkan arus.
Arus yang dihantarkan tentu saja bisa bolak-balik dari anoda menuju katoda dan
13

sebaliknya. Kurva karakteristik DIAC sama seperti TRIAC, tetapi yang hanya perlu
diketahui adalah berapa tegangan breakdown-nya.
Simbol dari DIAC adalah seperti yang ditunjukkan pada gambar-8b. DIAC
umumnya dipakai sebagai pemicu TRIAC agar ON pada tegangan input tertentu yang
relatif tinggi. Contohnya adalah aplikasi dimmer lampu yang berikut pada gambar-9.

Gambar 2.17 Rangkaian Dimmer

Jika diketahui IGT dari TRIAC pada rangkaian di atas 10 mA dan V GT = 0.7 volt.
Lalu diketahui juga yang digunakan adalah sebuah DIAC dengan V bo = 20 V, maka dapat
dihitung TRIAC akan ON pada tegangan :
V = IGT(R)+Vbo+VGT = 120.7 V

Gambar 2.18 Sinyal keluaran TRIAC

Pada rangkaian dimmer, resistor R biasanya diganti dengan rangkaian seri resistor
dan potensiometer. Di sini kapasitor C bersama rangkaian R digunakan untuk menggeser
phasa tegangan VAC. Lampu dapat diatur menyala redup dan terang, tergantung pada saat
kapan TRIAC di picu.

14

BAB III
LANDASAN PRAKTIKUM
3.1 Alat Alat dan Bahan
1

Laptop

Software PSIM

3.2 Prosedur Percobaan


1 Merangkai rangkaian DC Chopper seperti gambar dibawah ini :
2

Membangkitkan sinyal PWM dengan duty cycle (D) 20%, 30%, 50%, 70%, 80%, dan
90%

Melihat

V0

I ,

I0

Id

: (gamabrkan dengan skala).

3.3 Data Hasil Pengamatan


A. Gambar Rangkaian
1 Rangkaian DC Chopper Buck

15

Gambar 3.1 Rangkaian Percobaan DC Chopper Buck

Rangkaian DC Chopper Boost

Gambar 3.2 Rangkaian Percobaan DC Chopper Boost


B.
1

Hasil Simulasi
DC Chopper Buck
Duty Cycle 20%

16

Gambar 3.3 Sinyal Output DC Chopper Buck dengan Duty Cycle 20%

Duty Cycle 30%

Gambar 3.4 Sinyal Output DC Chopper Buck dengan Duty Cycle 30%

17

Duty Cycle 50%

Gambar 3.5 Sinyal Output DC Chopper Buck dengan Duty Cycle 50%

Duty Cycle 70%

Gambar 3.6 Sinyal Output DC Chopper Buck dengan Duty Cycle 70%

Duty Cycle 80%

18

Gambar 3.7 Sinyal Output DC Chopper Buck dengan Duty Cycle 80%

Duty Cycle 90%

Gambar 3.8 Sinyal Output DC Chopper Buck dengan Duty Cycle 90%

DC Chopper Boost
19

Duty Cycle 20%

Gambar 3.9 Sinyal Output DC Chopper Boosy dengan Duty Cycle 20%

Duty Cycle 30%

Gambar 3.10 Sinyal Output DC Chopper Boosy dengan Duty Cycle 30%

Duty Cycle 50%


20

Gambar 3.11 Sinyal Output DC Chopper Boosy dengan Duty Cycle 50%

Duty Cycle 70%

Gambar 3.12 Sinyal Output DC Chopper Boosy dengan Duty Cycle 70%

Duty Cycle 80%

21

Gambar 3.13 Sinyal Output DC Chopper Boosy dengan Duty Cycle 80%

Duty Cycle 90%

Gambar 3.14 Sinyal Output DC Chopper Boosy dengan Duty Cycle 90%

C. Tabel Pengamatan
22

Tabel 3.1 Hasil Pengamatan

Duty
Cycle
20%
30%
50%
70%
80%
90%

Vo
(Volt)
5,08
1,72
1,69
0,95
1,73
1,70

Buck
IL
(Ampere)
0,36
0,78
0,17
0,5
0,04
1,45

Po
(Watt)
1,83
1,34
0,28
0,48
0,07
2,47

3.4 Pengolahan Data

23

Vo
(Volt)
6,28
6,48
3,01
4,56
1,26
4,54

Boost
IL
(Ampere)
1,06
1,05
0,57
0,19
0,49
0,83

Po
(Watt)
6,66
6,80
1,72
0,87
0,62
4,04

24

25

BAB IV
TUGAS AKHIR dan ANALISA
4.1 Tugas Akhir
1. Analisa dan bandingkan hasil perhitungan dan percobaan
Jawab : (terdapat pada Bab 4.2 Analisa)
2. Tambahkan L (inductor) pada sisi output 2 mH
Jawab :
a

Rangkaian DC Chopper Buck dengan duty cycle 20%


Gambar rangkaian

Hasil Simulasi (sinyal output)

26

V0

I ,

P0 ut

Rangkaian DC Chopper Boost dengan duty cycle 20%


Gambar rangkaian

Hasil simulasi (sinyal Output)

27

3. Bangkitkan sinyal PWM dengan Duty Cycle (D) 20%, 50%, 70%, dan 90%
Jawab :
Teori PWM
Pengaturan lebar modulasi atau PWM merupakan salah satu teknik yang digunakan
dala sistem kendali. Pengaturan modulasi digunakan diberbagai bidang, diantaranya
pada speed control, power control, measurement and communication. Prinsip dasar
dari PWM ini dimana modulasi lebar pulsa PWM dicapai / diperoleh dengan bantuan
sebuah gelombang kontak yang mana siklus kerja (duty cycle) gelombang dapat
berubah ubah untuk sebuah tegangan keluaran yang bervariasi yang merupakan nilai
rata rata dari gelombang tersebut.
Gambar rangkaian

Untuk sinyal outputnya seharusnya diperoleh sinyak pulsa, dikarenakan kurang


memahami dalam rangkaian PWM sinyal tidak dapat diperoleh.
4.2 Analisa
Seteleh melakukan percobaan dan perhitungan terdapat perbedaan antara hasil dari
siulasi program psim dan perhitungan menggunakan rumus, hasil perbedaan ini dapat
dilihat dari tabel :
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan

Duty
Cycle
20%
30%
50%
70%

Vo
(Volt)
5,08
1,72
1,69
0,95

Buck
IL
(Ampere)
0,36
0,78
0,17
0,5

Po
(Watt)
1,83
1,34
0,28
0,48
28

Vo
(Volt)
6,28
6,48
3,01
4,56

Boost
IL
(Ampere)
1,06
1,05
0,57
0,19

Po
(Watt)
6,66
6,80
1,72
0,87

80%
90%

1,73
1,70

0,04
1,45

0,07
2,47

1,26
4,54

0,49
0,83

0,62
4,04

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan

Buck
Boost
Vo
IL
Po
Vo
IL
Po
Cycle
(Volt)
(Ampere)
(Watt)
(Volt)
(Ampere)
(Watt)
20%
3,2
0,32
1,02
6,25
0,63
3,94
30%
4,8
0,48
2,3
7,14
0,71
5,07
50%
8
0,8
6,4
10
1
10
70%
11,2
1,12
12,54
16,67
1,67
27,84
80%
12,8
1,28
16,38
25
2,5
62,5
90%
14,4
1,44
20,74
50
5
250
Hasil yang diperoleh sangat berbeda. Hal ini dikarenakan pada perhitungan ketika duty
Duty

cycle semakin besar maka tegangan keluaranya akan semakin besar. Pada simulasi
program PSIM semakin besar duty cycle maka semaki kecil tegangan keluaranya,
berbeda dengan hasil perhitungan. Hal ini dikarenakan pada perhitungan kita hanya
menggunakan rumus yang sudah ada, sedangkan pada simulasi program terdapat
komponen yang mempunyai pengaruh pada tegangan keluaran dan daya keluaran seperti
dioda, transistor, resistor, kapasitor, dan lainnya.
Pada DC chopper buck tegangan keluarannya dihasilkan dengan menurunkan tegangan
masukkan sehingga tegangan keluarannya tidak akan melebihi tegangan masukkannya.
Berbeda pada DC chopper boost tegangan keluarannya dihasilkan dengan menaikkan
tegangan masukkan, sehingga tegangan keluarannya melebihi tegangan masukkannya.

BAB V
PENUTUP
29

5.1 Simpulan
Hasil dari pembuatan laporan ini dan melakukan percobaan, praktikan dapat
menyimpulkan :
1. DC Chopper adalah suatu konverter yang berfungsi untuk mengkonversikan suatu
tegangan DC tetap atau konstan menjadi tegangan DC variable. DC chopper juga
dapat digunakan untuk regulator tegangan dengan mode pensaklaran dan untuk
memindahkan energy antara dua buah sumber DC.
2. Perbedaan DC chopper buck dan boost yaitu, DC chopper buck berfungsi
menurukan tegangan dari tegangan masukkan ke tegangan keluaran, sedangkan DC
chopper boost berfungsi menaikkan tegangan dari tegangan masukkan ke tegangan
keluar.
3. Dilihat dari hasil yang diperoleh bahwa tegangan, arus dan daya keluaran pada DC
Chopper Buck lebih kecil dibandingkan tegangan masukkan, berbeda pada DC
Chopper Boost tegangan, arus dan daya keluaran lebih besar ddibanding tegangan
keluaran.
5.2 Saran
Disediakan peralatan peralatan yang menunjang pada setiap praktikum agar dapat di
simulasikan lansung. Dan diperbaharui lagi alat lat yang sudah cukup tua, umumnya
atau keadaan alat tersebut kurang stabil, karena alat alat sangat menunjang sekali dalam
melakukan percobaan agar hasil yang diinginkan dapat tercapai sesuai dengan tujuan
yang ingin dicapai.

DAFTAR PUSTAKA
Modul Praktikum Elektronika Daya, Institut Teknologi Nasional Bandung, 2013.
Zuhal.(2000). Dasar Teknik Tenaga Listrik Dan Elektronika Daya, PT Gramedia Pustaka
Utama.Jakarta.

30