Anda di halaman 1dari 7

PEMURNIAN ALPHA-PINENE DAN BETA-PINENE DARI

MINYAK TERPENTIN DENGAN BASIS SIMULASI


MENGGUNAKAN ASPEN PLUS 8.0

Oleh :
Tiara Khalifah Permani
Daniel Setiyo Nugroho
Heri Istanto

5213413014
5213413048
5213413062

JURUSAN TEKNIK KIMIA, FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

Terpentin merupakan salah satu produk unggulan non kayu


PT Perhutani di Indonesia. Produksi minyak terpentin dari getah
pinus

sampai

dengan

bulan

Desember

2012,

dilaporkan

mencapai 15.340 ton dengan luas hutan pinus sekitar 163.150


hektar. Permintaan pasar terhadap minyak terpentin semakin
meningkat

setiap

tahunnya.

Hal

ini

dikarenakan

adanya

kecenderungan Back to Nature untuk memenuhi kebutuhan


industri, sehingga permintaan maupun harga minyak terpentin
cenderung meningkat.
Di industri, -pinene merupakan bahan dasar untuk sintesis
senyawa-senyawa

yang

memiliki

harga

jual

tinggi

seperti

terpineol, camphor, bornil klorida, kamfena.. Sehingga semakin


besar

kandungan

-pinena

dan

semakin

tinggi

tingkat

kemurniannya, maka kualitas minyak terpentin semakin baik dan


harganya semakin tinggi. Oleh karena itu, paper ini melaporkan
terkait hasil analisis kualitatif and kuantitatif minyak terpentin
melalui proses simulasi Aspen Plus 8.0.
Apha-Pinene
komponen

lain

dan

yang

Beta-pinene
terkandung

akan

dalam

dimurnikan
terpentin

dari

dengan

kemurnian yang diinginkan yaitu untuk Alpha-pinene 95% dan


Beta-pinene 97%. Basis data yang digunakan sebagai umpan
masuk terpentin dalam simulasi sebesar 100 kmol/jam. Dan
diketahui data-data pendukung simulasi dapat dilihat pada Tabel
1. berikut:
Tabel 1. Komposisi Awal Terpentin
Komponen
Alpha-pinene
Camphene
Beta-pinene
Limonene

Mole Fraction
0,646
0,0297
0,1837
0,0949

Terpinene
Terpinolene

Alpha-pinene

dan

0,0215
0,0242

Beta-pinene

akan

dimurnikan

menggunakan kolom distilasi dengan mengikuti konfigurasi


seperti Gambar 1. dibawah ini:

Gambar 1. Tiga Macam Konfigurasi Kolom Destilasi


Pemurnian dengan cara distilasi ini didasarkan pada titik
didih

masing-masing

komponen.

Titik

didih

masing-masing

komponen pada terpentin dapat dilihat pada Tabel 2. berikut:


Tabel 2. Titik Didih Komponen Terpentin
Komponen
Alpha-pinene
Camphene
Beta-pinene
Limonene
Terpinene
Terpinolene

Titik Didih (oC)


157,9
158,6
165,99
176
212
185

Pemurnian Alpha-pinene dan Beta-pinene diselesaikan dengan cara


simulasi Aspen Plus 8.0 menggunakan pendekatan NRTL. Dalam simulasi
ini, kondisi operasi yang digunakan untuk temperatur umpan
masuk sebesar 25C kemudian dipanaskan dengan heater
bersuhu 95C dan tekanan umpan masuk sebsesar 760 mmHg.
Data Kondisi yang digunakan hasil berasal dari studi literatur
tentang pemisahan terpentin.

Pada konfigurasi 1 digunakan dua kolom. Alpha-pinene dihasilkan dari


kolom distilasi 1 sebagai produk distilat dan Beta-pinene dihasilkan dari
kolom distilasi 2 sebagai produk distilat, dengan kondisi operasi seperti
Tabel 3. berikut:
Tabel 3. Kondisi Operasi 3 Kolom Distilasi
Suhu

Suhu

Kolom Kondenser Reboiler

Feed Heater
25C

Tekanan (atm)

Kolom

950C

1
2

1
1

1
1

1
1

LK

HK

0,97
0,99

0,03
0,01

Setelah melakukan simulasi menggunakan Aspen Plus menghasilkan


produk berupa alpha pinene 95,9392% dengan mol flow 64,38852 kmol/jam
dan beta pinene 96,90821% dengan mol flow 17,64071 kmol/jam. Hasil ini
belum memberikan perolehan yang diinginkan, dimana beta pinene yang
diperoleh belum memenuhi target kemurnian yang diinginkan. Sehingga
digunakan untuk konfigurasi dua.
Pada konfigurasi 2 digunakan dua kolom. Alpha-pinene dihasilkan dari
kolom distilasi 2 sebagai produk distilat dan Beta-pinene dihasilkan dari
kolom distilasi 2 sebagai produk bottom, dengan kondisi operasi seperti
Tabel 3. berikut:
Suhu
Feed
25C

Suhu
Heater

Tekanan (atm)
Kolom

Kolom

Kondenser

Reboiler

LK

HK

1
1
1
1
0,97
0,01
2
1
1
1
0,92
0,01
Setelah melakukan simulasi menggunakan Aspen Plus menghasilkan
950C

produk berupa alpha pinene 97,53756% dengan mol flow 64,5534 kmol/jam
dan beta pinene 95,6872% dengan mol flow 17,6410 kmol/jam.
Kemudian pada konfigurasi 3 digunakan 4 kolom. Setengah Alphapinene dihasilkan dari kolom distilasi 1 sebagai produk distilat dan setengah
Alpha-pinene yang lain dihasilkan dari kolom distilasi 2 sebagai produk
distilat. Setengah Beta-pinene dihasilkan dari kolom distilasi 3 sebagai
produk distilat dan setengah Beta-pinene yang lain dihasilkan dari kolom

distilasi 4 sebagai produk distilat, dengan kondisi operasi seperti Tabel 3.


berikut:
Suhu

Suhu

Feed

Heater

25C

95C

Tekanan (atm)
Kolom
1
2
3
4

Kolom

Kondenser

Reboiler

1
1
1
1

1
1
1
1

1
1
1
1

LK

HK

0,6
0,7
0,6
0,95

0,05
0,01
0,01
0,01

Setelah melakukan simulasi menggunakan Aspen Plus menghasilkan


produk berupa alpha pinene 97,8249% dengan mol flow 57,58608kmol/jam
dan beta pinene 95,5122% dengan mol flow 10,36619kmol/jam.
Konfigurasi 1
% Alpha pinen (%)
95,9392
% Beta pinen (%)
96,90821
Mol flow alpha pinene (kmol/jam)
64,38852
Mol flow beta pinene (kmol/jam)
17,64071
Jumlah stage DIST-1
40
Jumlah stage DIST-2
42
Jumlah stage DIST-3
Jumlah stage DIST-4
Jumlah kebutuhan stage
82

Konfigurasi 2 Konfigurasi 3
97,53756
97,8249
95,5122
95,6872
57,58608
64,5534
10,36619
17,6410
22
31
29
43
20
35
116
74

Kesimpulan
Pemurnian Alpha-pinene 95% dan Beta-Pinene 97% pada terpentin
menghasilkan kemurnian yang sesuai baik menggunakan konfigurasi 1, 2, ataupun
3 dengan pendekatan NRTL. Dibandingkan dengan konfigurasi 1 dan konfigurasi
3 yang menggunakan 4 kolom, untuk konfigurasi 2 hasilnya tidak jauh berbeda
atau hampir mirip dan memenuhu kemurnian yang diinginkan. Akan tetapi pada
konfigurasi 2 membutuhkan jumlah stage aktual dan kebuuhan kalor yang lebih
kecil. Sehingga konfigurasi 2 dengan metode NRTL lebih efisien untuk
digunakan.

DAFTAR PUSTAKA
Laporan Tahunan Perum Perhutani. 2012. Pemantapan
proses bisnis menuju perhutani ekselen, diakses pada tanggal 8
September

2013

melalui

http://perumperhutani.com/wp

content/uploads/2013/07/ARA_Perhutani_2012_LOW.pdf
Bambang

Wiyono,

Sanro

Tachibana,

dan

Djaban

Tinambunan. 2006. Chemical Composition of Indonesian Pinus


merkusii Turpentine Oil, Gum Oleoresins and Rosins from
Sumatra and Java. Pakistan Journal of Biological Sciences. 9(1). 714.
Masruri, Bambang Purwono, and Muhamad Muchalal. 2014.
Alpha-Pinene in Acidic Conditions: Products Determination and
the Reaction Kinetics, Proceeding of The 4th Annual Basic
Science International Conference (BaSIC) 2014. February 1213rd. 2014. Batu, Indonesia.
Pinto,

R.T.P.,

Wolf-Maciel,

M.R.

and

Computers

and

Lintomen, L. 2000. Saline Extractive Distillation Process For


Ethanol

Purification.

Engineering,Volume 24.

Computers

and

Chemical