Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN
Peningkatan konsumsi energi dari tahun ke tahun semakin meningkat. Fakta
bahwa bahan bakar fosil sebagai sumber energi utama dan keberadaannya yang tidak
dapat diperbaharui mendorong banyak peneliti untuk melakukan riset tentang bahanbahan alam tertentu yang dapat menggantikan fungsi dari bahan bakar fosil. Isuisu global seperti lingkungan hidup juga merupakan salah satu faktor penting yang
mendapat perhatian serius dalam pengembangan energi nasional. Melalui UU No. 6
tahun 1994, Indonesia meratifikasi United Nations Framework Climate Change
Convention (UNFCCC) yang menjadi salah satu rujukan utama dalam penyusunan
Kebijaksanaan Umum Bidang Energi di Indonesia. Hal ini terlihat meningkatnya
porsi energi baru dan terbarukan (EBT) dalam proyeksi bauran energi nasional dari
5,7% (2010) menjadi 25,9% (2025) (Tumiran, 2011).
Biomassa banyak digunakan sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil
karena keberadaannya yang melimpah dialam sehingga menjamin ketersediaannya.
Biomassa juga ramah bagi lingkungan. Berdasarkan studi yang dilakukan (Perlack et
al., 2005), sektor pertanian dapat menyediakan hampir satu milyar ton biomassa
kering, dimana bagian terbesar dari biomassa yang tersedia yaitu sebesar 450 juta ton
berasal dari limbah pertanian seperti tongkol jagung, tangkai gandum, kulit kedelai,
dan jerami padi.

Salah satu biomassa yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti bahan
bakar fosil adalah tongkol jagung dan serbuk gergaji. Kedua bahan ini merupakan
limbah yang tidak lagi digunakan. Tongkol jagung merupakan biomassa yang dapat
berperan sebagai sumber energi termal yang melimpah serta dapat digunakan untuk
memproduksi panas, energi, bahan bakar, dan juga bahan kimia (Campo, 2010).
Disamping itu, Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian wilayahnya
adalah pertanian dan penghasil biomassa yang cukup besar. Menurut Badan Pusat
Statistik (2015), Indonesia memiliki luas lahan panen jagung sebesar 3.859.630
hektar pada tahun 2015. Badan Pusat Statistik juga menyebutkan bahwa produksi
jagung pada tahun 2015 sebesar 19,83 juta ton atau naik 4,33 persen dibandingkan
dengan produksi pada tahun 2014. Kenaikan produksi ini disebabkan oleh naiknya
produktivitas. Dari berat jagung tersebut, 30%-nya adalah tongkol jagung sebagai
limbah. Keberadaan limbah tongkol jagung ini melimpah dan kontinyu paska panen.
Dari data produksi Badan Pusat Statistik, diperkirakan limbah tongkol jagung yang
dihasilkan di Indonesia sekitar 5,7 juta ton/tahun. Sebagian besar limbah tongkol
jagung tersebut tidak dimanfaatkan dan hanya dibuang atau dibakar. Disisi lain,
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kayu gergaji terbesar di dunia.
Produksi total kayu gergaji mencapai 2,6 juta m 3 per tahun dengan asumsi bahwa
jumlah limbah yang terbentuk 54,24 persen dari produksi total, sehingga akan
dihasilkan limbah serbuk gergaji kayu sebanyak 1,4 juta m3 per tahun (Gustan,2002).
Serbuk gergaji merupakan limbah biomassa yang sudah mulai dimanfaatkan sebagai
bahan untuk biofuel. Meskipun demikian, sering dijumpai limbah penggergajian kayu
2

yang ditimbun dan dibuang sembarangan ke aliran sungai atau dibuang langsung
(Billah, 2009). Oleh sebab itu, limbah tongkol jagung dan serbuk gergaji bersifat
potensial sebagai biomassa alternatif pengganti bahan bakar fosil.
Konversi biomassa menjadi energi dapat dilakukan dengan beberapa metode,
yakni metode thermal (pembakaran, pirolisis, dan gasifikasi), serta metode nonthermal (fermentasi, dan bio-digestion). Saat ini, konversi biomassa secara thermal
masih terkendala dengan kondisi biomassa yang umumnya memiliki kandungan air
yang relatif masih tinggi, sehingga membutuhkan perlakuan tambahan untuk
mengeringkannya. Jika tidak dilakukan, hal ini akan terkompensasi dari jumlah
energi yang terbangkitkan.
Berdasarkan fakta tersebut, penelitian ini mencoba untuk mempelajari
alternatif konversi limbah biomassa menjadi bahan bakar padat tanpa harus
melakukan pengeringan terlebih dahulu, yakni dengan proses hydrothermal treatment.
Bahan bakar padat, beserta hasil samping lainnya (produk cair), dikarakterisasi secara
mendetail,

sehingga

diperoleh

informasi

mengenai

berbagai

kemungkinan

pemanfaatannya. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan


gambaran komprehensif mengenai pemanfaatan sebesar-besarnya limbah biomassa
terutama biomassa serbuk gergaji dan tongkol jagung melalui proses hydrothermal
treatment.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Biomass merupakan istilah yang sering digunakan untuk mendeskripsikan
semua bahan organik yang berasal dari makhluk hidup dan merepresentasikan sumber
daya alternatif dan terbarukan. Waste biomass merupakan biomass yang tidak
terpakai atau sering dianggap sebagai limbah, contohnya serbuk gergajidan tongkol
jagung. Biomass mempunyai nilai kalor yang rendah, namun, dapat ditingkatkan nilai
kalornya sehingga dapat menjadi alternatif bahan bakar fosil melalui berbagai macam
proses, salah satunya adalah proses hydrothermal.
Serbuk gergaji merupakan waste biomass yang sudah mulai dimanfaatkan
sebagai bahan untuk biofuel. Meskipun demikian, sering dijumpai limbah
penggergajian kayu yang ditimbun dan dibuang sembarangan ke aliran sungai atau
dibuang langsung. Total limbah serbuk gergaji yang dihasilkan Indonesia adalah 1,4
juta m3/tahun (Billah, 2009).
Serbuk gergaji merupakan salah satu limbah lignoseselulonik dan mempunyai
sifat yang sama dengan kayu. Limbah lignoselulosik adalah limbah pertanian yang
mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin (Fachry dkk, 2013). Selulosa adalah
linear homopolymer dari unit glukosa, hemiselulosa adalalah co-polymer dari pentosa
atau heksosa, sedangkan lignin terdiri dari unit aromatik yang terikat dalam struktur
yang besar.Kayu akan terurai secara bertahap, hemiselulosa akan terurai terlebih
dahulu pada kisaran suhu 200-260oC, kemudian selulosa pada kisaran suhu 240350oC dan terakhir lignin pada kisaran suhu 280-500oC. Nilai kalor dari kayu mentah
4

4000 kkal/kg, sedangkan nilai kalor dari sebuk gergaji yang dijadikan briket dapat
mencapai 4.945,684 kkal/kg (Billah, 2009).
Limbah lignoselulosik lain yang juga banyak tersedia di Indonesia adalah
tongkol jagung. Data Kementerian Pertanian pada tahun 2007, produksi jagung ratarata diperkirakan sebanyak 12.193.101 ton per tahun. Produksi jagung tersebut
diperkirakan akan menghasilkan limbah sebanyak 8.128.734 ton tongkol jagung per
tahun (Surono, 2010). Kandungan lignoselulosik pada tongkol jagung berupa

senyawa lignin sebesar 6,7-13,9%, hemiselulose sebesar 39,8% , dan selulose


sebesar 32,3-45,6% (Fachry dkk, 2013). Nilai kalor pada tongkol jagung adalah
4186 kkal/kg dan nilai kalor hasil karbonisasi tongkol jagung adalah 6500-7100
kkal/kg (Surono, 2010).
Hydrothermal selalu dikaitkan dengan semua reaksi yang berhubungan dengan
keberadaan medium air atau mineralisasi pada suhu dan tekanan tertentu untuk
melarutkan dan me-recovey material yang relatif tidak larut pada keadaan normal
(Byrappa and Yoshimura, 2001).Proses hydrothermal sudah terbukti dapat digunakan
untuk mengolah biomass menjadi bahan bakar.Penelitian ini menggunakan proses
hydrothermal untuk menghasilkan solid fuel berupa arang atau sering disebut sebagai
biochar. Untuk menghasilkan solid biofuel, proses hydrothermal tersebut dilakukan
dengan kondisi operasi pada kisaran suhu 180-350 C, high autogenous pressure
(mencapai 2.4 Mpa) pada sistem tertutup. Komposisi produk hasil hydrothermal
adalah padatan (50-80%), cairan (5-20%) dan gas (2-5%) (Child, 2014).

Mekanisme yang terjadi selama proses hydrothermal, pada tahap awal biomass
menerima panas secara konduksi dari media air. Hal tersebut menyebabkan gugus
hidroksil, karboksil, ester dan eter akan terurai dan rasio C/O dan C/H di padatan
akan meningkat (Irsyad dkk, 2014). Oksigen akan terpisah dari biomass sehingga
meningkatkan

heating

value

dan

mengurangi

polaritas

molekul

sehingga

mempermudah pemisahan molekul dari fase cair.


Pada proses pirolisis, gasifikasi dan pembakaran, kadar air pada biomass yang
akan

diolah

sering

mengurangi

efisiensi

termal.

Untuk

mencegah

hal

tersebut,biomass dikeringkan terlebih dahulu, yang menyebabkan biaya tambahan


untuk menjalankan proses tersebut. Sedangkan proses hydrothermal justru
memanfaatkan air. Air dapat menjadi reaktan, pelarut sekaligus menjadi lingkungan
reaksi yang baik (Child, 2014).
Kondisi operasi yang harus diperhatikan selama proses hydrothermal yaitu:
a. Selama reaksi berlangsung air harus ada karena air merupakan solven, reaktan
sekaligus kondisi yang dibutuhkan selama proses hydrothermal.
b. Air harus berada pada kondisi sub-critical agar mencegah terjadinya reaksi
hydrothermal gasification yang dapat menghasilkan CH4 dan H2.
c. Suhu reaksi harus melebihi 100C agar reaksidapat terjadi. Pada umumnya terjadi
pada range suhu 180-350C.

d. Biomass selama proses harus terendam dalam air. Apabila, biomass tidak
mengalami kontak dengan air dapat terjadi proses pirolisis dan menghasilkan CO
dan aspal.
e. Waktu tinggal proses hydrothermal bervariasi dari 1-72 jam, namun ada juga yang
mengatakan dari 5-90 menit.
Untuk mengetahui karakteristik bahan sebelum dan sesudah dilakukan proses
hydrothermal maka perlu dianalisis. Ada dua metode analisis yang umum digunakan
untuk menganalisis biomass, yaitu analisis ultimate dan proximate. Analisis
proximate digunakan untuk menganalisis fixed carbon, kadar air, abu dan volatile
matter. Fixed carbon berperan dalam pembangkit utama panas pembakaran. Semakin
tinggi kandungan volatile matter dalam suatu bahan maka semakin mudah bahan
tersebut untuk menyala karena bahan yang mudah menguap banyak dan mempercepat
proses pembakaran. Abu merupakan kotoran yang tidak terbakar apabila dilakukan
pembakaran pada suatu bahan dan abu dapat mengurangi efisiensi pembakaran. Hal
tersebut dikarenakan, abu dapat menutupi bahan yang dapat terbakar dan panas hilang
untuk menaikkan suhu abu. Kadar air yang tersimpan dalam bahan dapat
menyebabkan penurunan efisiensi pembakaran karena panas digunakan untuk
memanaskan dan menguapkan air. Sedangkan analisis ultimate digunakan untuk
menganalisis unsur karbon, hidrogen, sulfur serta heating value dari suatu biomass
(Kartika, 2015).

BAB 3
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendapatkan metode dan konfigurasi
optimum proses hydrothermal treatment limbah biomassa untuk menghasilkan
produk-produk yang bernilai ekonomi lebih tinggi. Beberapa manfaat yang bisa
didapatkan dari penelitian ini adalah:
1. Mendukung usaha ketahanan energi
Hasil yang diharapkan dari penelitian ini diantaranya adalah mendorong
pengembangan limbah biomassa sebagai sumber energi alternatif, terutama di daerahdaerah yang tidak memiliki kekayaan berupa sumber energi fosil, maupun daerahdaerah yang secara geografis sulit dijangkau infrastruktur yang ada (jalan, jaringan
listrik, dsb).
2. Desentralisasi ekonomi.
Dengan dihasillkannya produk bernilai ekonomis dari limbah biomassa
diharapkan dapat menarik minat pemerintah ataupun pihak swasta untuk
menginvestasikan

modalnya

ke

dalam

bentuk

industri

energi

berbasis

perkebunan/kehutanan, sehingga akan tercipta wilayah-wilayah ekonomi baru,


sekaligus memperluas lapangan kerja.
3. Perbaikan kualitas lingkungan
Pemanfaatan limbah biomassa secara optimal dan bijak akan memberi dampak
positif pada peningkatan kualitas lingkungan hidup manusia. Selain itu, hal ini akan

membuka kesempatan terjalinnya carbon trading melalui berbagai skema yang ada,
misalnya Clean Development Mechanism (CDM).
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Bahan baku
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Tongkol jagung, diperoleh dari Kabupaten Sleman, DIY.
b. Serbuk gergaji, diperoleh dari Kabupaten Bantul, DIY.
c. Serbuk kayu sengon, diperoleh dari Kabupaten Sleman, DIY.
d. Aquadest, diperoleh dari CV General Labora, Jl. Kesehatan, DIY.
4.2 Rangkaian alat
Alat yang digunakan dalam percobaan ini seperti terlihat pada gambar 1.

Gambar 1. Rangkaian Alat Proses Hydrothermal Treatment

4.3 Cara Kerja Penelitian


4.3.1 Tahap preparasi bahan baku
Bahan baku yang digunakan untuk percobaan ini terdiri atas tongkol
jagung, serbuk gergaji, dan serbuk kayu sengon. Preparasi untuk masingmasing bahan adalah:
a. Tongkol jagung
Tongkol jagung dibersihkan dan dipotong hingga berukuran cukup
kecil, kemudian dihaluskan menggunakan grinder. Tongkol jagung
yang sudah halus diayak menggunakan ayakan Tyler 35 Mesh dan 65
Mesh sehingga diperoleh tongkol jagung dengan ukuran -35+65 Mesh.
b. Serbuk gergaji
Serbuk gergaji dihaluskan menggunakan grinder. Serbuk gergaji yang
sudah halus diayak menggunakan ayakan Tyler 35 Mesh dan 65 Mesh
sehingga diperoleh serbuk gergaji dengan ukuran -35+65 Mesh.
c. Serbuk kayu sengon
Serbuk kayu sengon digunakan sebagaimana adanya, dengan ukuran
aslinya.
4.3.2 Tahap proses hydrothermal
4.3.2.1 Proses hydrothermal dengan variasi suhu operasi

10

Sebanyak 15 gram biomassa berupa tongkol jagung dan 150 mL


aquadest dimasukkan ke dalam autoclave. Sehingga didapatkan umpan
autoclave berupa campuran biomassa-air dengan perbandingan 1:10.
Kemudian autoclave ditutup hingga benar-benar rapat.
Gas N2 kemudian dimasukkan ke dalam autoclave hingga
indikator tekanan menunjukkan angka 5 bar. Setelah mencapai tekanan 5
bar, valve yang mengarah ke tangki N2 ditutup, sedangkan valve purge
dibuka hingga indikator tekanan menunjukkan angka 0 bar (gauge).
Kemudian valve purge ditutup dan autoclave kembali diisi dengan gas N 2.
Siklus pencucian gas dalam autoclave menggunakan N2 ini dilakukan
sebanyak 3 kali.
Setelah 3 kali pencucian, gas N2 kembali dimasukkan ke dalam
autoclave hingga indikator tekanan menunjukkan angka 10 bar.
Kemudian pemanas dinyalakan dan diatur pada suhu 200 oC. Pada saat
yang bersamaan, pengaduk juga dinyalakan. Setelah mencapai suhu yang
diinginkan, proses dipertahankan selama 30 menit, kemudian pemanas
dimatikan.
Setelah autoclave mencapai suhu lingkungan, slurry diambil dari
dalam autoclave dan dipisahkan antara produk padat dan cairnya
menggunakan kertas saring. Padatan yang diperoleh kemudian dioven
pada suhu 105oC selama 4 jam untuk mendapatkan produk akhir.

11

Kemudian percobaan diulangi lagi untuk suhu 240oC, 270oC, dan


300oC. Percobaan kembali dilakukan dengan variasi suhu yang sama
untuk serbuk gergaji dan serbuk kayu sengon.
4.3.2.2 Proses hydrothermal dengan variasi rasio biomassa-air (B/W
ratio)
Sebanyak 7,5 gram biomassa berupa tongkol jagung dan 150 mL
aquadest dimasukkan ke dalam autoclave. Sehingga didapatkan umpan
autoclave berupa campuran biomassa-air dengan perbandingan 1:20.
Kemudian autoclave ditutup hingga benar-benar rapat.
Gas N2 kemudian dimasukkan ke dalam autoclave hingga
indikator tekanan menunjukkan angka 5 bar. Setelah mencapai tekanan 5
bar, valve yang mengarah ke tangki N2 ditutup, sedangkan valve purge
dibuka hingga indikator tekanan menunjukkan angka 0 bar (gauge).
Kemudian valve purge ditutup dan autoclave kembali diisi dengan gas N 2.
Siklus pencucian gas dalam autoclave menggunakan N2 ini dilakukan
sebanyak 3 kali.
Setelah 3 kali pencucian, gas N2 kembali dimasukkan ke dalam
autoclave hingga indikator tekanan menunjukkan angka 10 bar.
Kemudian pemanas dinyalakan dan diatur pada suhu 250 oC. Pada saat
yang bersamaan, pengaduk juga dinyalakan. Setelah mencapai suhu yang
diinginkan, proses dipertahankan selama 30 menit, kemudian pemanas
dimatikan.
12

Setelah autoclave mencapai suhu lingkungan, slurry diambil dari


dalam autoclave dan dipisahkan antara produk padat dan cairnya
menggunakan kertas saring. Padatan yang diperoleh kemudian dioven
pada suhu 105oC selama 4 jam untuk mendapatkan produk akhir.
Kemudian percobaan diulangi lagi untuk rasio biomassa-air 2:20
(sebanyak 15 gram), dan 3:20 (sebanyak 22,5 gram). Percobaan kembali
dilakukan dengan variasi rasio biomassa-air yang sama untuk serbuk
gergaji dan serbuk kayu sengon.
4.3.2.3 Proses hydrothermal dengan variasi holding time
Sebanyak 15 gram biomassa berupa tongkol jagung dan 150 mL
aquadest dimasukkan ke dalam autoclave. Sehingga didapatkan umpan
autoclave berupa campuran biomassa-air dengan perbandingan 1:10.
Kemudian autoclave ditutup hingga benar-benar rapat.
Gas N2 kemudian dimasukkan ke dalam autoclave hingga
indikator tekanan menunjukkan angka 5 bar. Setelah mencapai tekanan 5
bar, valve yang mengarah ke tangki N2 ditutup, sedangkan valve purge
dibuka hingga indikator tekanan menunjukkan angka 0 bar (gauge).
Kemudian valve purge ditutup dan autoclave kembali diisi dengan gas N 2.
Siklus pencucian gas dalam autoclave menggunakan N2 ini dilakukan
sebanyak 3 kali.
Setelah 3 kali pencucian, gas N2 kembali dimasukkan ke dalam
autoclave hingga indikator tekanan menunjukkan angka 10 bar.
13

Kemudian pemanas dinyalakan dan diatur pada suhu 200 oC. Pada saat
yang bersamaan, pengaduk juga dinyalakan. Setelah mencapai suhu yang
diinginkan, proses dipertahankan selama 20 menit, kemudian pemanas
dimatikan.
Setelah autoclave mencapai suhu lingkungan, slurry diambil dari
dalam autoclave dan dipisahkan antara produk padat dan cairnya
menggunakan kertas saring. Padatan yang diperoleh kemudian dioven
pada suhu 105oC selama 4 jam untuk mendapatkan produk akhir.
Kemudian percobaan diulangi lagi untuk waktu (holding time)
30 dan 40 menit. Percobaan kembali dilakukan dengan variasi holding
time yang sama untuk serbuk gergaji dan serbuk kayu sengon.
4.4 Analisis Hasil
4.4.1 Analisis Proksimat (Kadar Air dan Kadar Abu)
Prosedur yang dilakukan untuk menganalisis kadar air dan kadar abu dari
sampel adalah dengan menggunakan metode gravimetri. Analisis ini
dilakukan mula-mula dengan menimbang krus kosong (A). Kemudian
sampel dimasukkan dalam krus dan ditimbang kembali dengan berat (B).
Sampel dalam krus ini dipanaskan dalam oven dengan suhu 105oC selama
3 jam hingga berat konstan. Setelah 3 jam sampel dikeluarkan dan
disimpan dalam desikator sebelum ditimbang dengan berat (C). Untuk
analisis kadar abu, krus porselen berisi sampel tersebut ditutup dan
dimasukkan dalam furnace lalu dipanaskan pada suhu 600 oC selama 8
14

jam hingga sampel berubah menjadi abu. Proses ini dilakukan hingga
diperoleh berat yang konstan. Kadar air dan kadar abu dihitung dengan
persamaan berikut:
Kadar air =

( A+ B )C
x 100
B

(1)

Kadar abu =

( D A)
x 100
B

(2)

4.4.2 Analisis Nilai Kalor


Analisis nilai kalor dilakukan dengan instrument bomb calorimeter.
Proses analisis dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu: persiapan alat,
pengujian dengan alat, dan perhitungan.
Tahap persiapan alat dimulai dengan menghidupkan cooler water hingga
suhu tercapai sesuai Methode Dynamic at 25 oC yaitu pada suhu 20oC.
Kemudian krus sampel dibersihkan dari sisa pengujian sebelumnya.
Sampel yang akan diukur ditimbang dengan berat 1 gram (pastikan nilai
kalori sampel tidak lebih dari 40.000 J/gram). Cotton thread disiapkan
untuk penyala dengan menggulungnya dan memasangnya pada ignition
wire yang terpasang pada cover decomposition vessel. Krus dipasang pada
crucible holder dan pastikan cotton thread menyentuh sampel. Tekanan
oksigen yang masuk ke decomposition vessel diatur 30 bar.
Instrumen bomb calorimeter dihidupkan untuk memulai tahap pengujian
alat. Pilih metode dynamic 25oC kemudian tunggu hingga suhu pendingin

15

di dalam alat tercapai 20oC hingga muncul sample dialog box. Pada
sample dialog box diisi dengan isian sesuai ketentuan. Selanjutnya
tempatkan decomposition vessel pada filling head Bomb Calorimeter.
Klik start kemudian tunggu 15 menit hingga muncul nilai calorimeter
sampel. Nilai kalori kemudian dicatat. Decomposition vessel diambil
hingga muncul perintah Remove Bomb. Kemudian tekanan dalam
decomposition

level

dihilangkan

dan

krus

sampel

dibersihkan.

Selanjutnya alat dimatikan dan dipersiapkan untuk pengujian berikutnya.


Perhitungan nilai kalor berdasarkan persamaan berikut:
kalori
Joule
Kadar kalori sampel ( gram ) = hasil alat ( gram ) x (

1 kalori
4,1868 Joule )

(3)
Dimana: 1 kalori = 4,1868 Joule

16

BAB 5
HASIL YANG DICAPAI
Beberapa data sifat produk hasil hydrothermal treatment disajikan dalam Tabel 5.1.
Tabel 5.1 Sifat Produk Hydrothermal Treatment
NO.
Bahan & Variasi
1
Bahan Baku Tongkol Jagung
2.

Tongkol Jagung Variasi Suhu 200oC

3.

Tongkol jagung variasi suhu 240oC

4.

Tongkol jagung variasi suhu 270oC

5.

Tongkol jagung variasi suhu 300oC

6.

Tongkol jagung variasi ratio 5%

7.

Bahan baku serbuk gergaji

8.

Serbuk gergaji variasi massa 10%

Parameter Uji
Nilai Kalor
Kadar Abu
Kadar air
Nilai kalor
Kadar abu
Kadar air
Nilai kalor
Kadar abu
Kadar air
Nilai kalor
Kadar abu
Kadar air
Nilai kalor
Kadar abu
Kadar air
Nilai kalor
Kadar abu
Kadar air
Nilai kalor
Kadar abu
Kadar air
Nilai kalor
Kadar abu

17

Hasil
3873,13 kal/gram
2,53 %
12,09 %
4684,13 kal/gram
0,59 %
3,44 %
4929,42 kal/gram
0,42 %
4,65 %
5265,60 kal/gram
0,81 %
4,50 %
5396,84 kal/gram
0,96 %
4,44 %
4640,30 kal/gram
0,50 %
5,90 %
4112,81 kal/gram
1,09 %
15,61 %
4926,55 %
2,07 %

9.

Serbuk gergaji variasi massa 15%

10.

Serbuk gergaji variasi suhu 300oC

Kadar air
Nilai kalor
Kadar abu
Kadar air
Nilai kalor
Kadar abu
Kadar air

4,33 %
4903,39 kal/gram
1,94 %
2,73 %
5136,62 kal/gram
3,45 %
4,26 %

Pengaruh suhu terhadap nilai kalor produk yang dihasilkan disajikan dalam
Gambar 5.1. Dalam gambar 5.1 terlihat bahwa semakin tinggi suhu, nilai kalor
produk semakin tinggi. Hal ini disebabkan karena selama proses hydrothermal
treatment, terjadi reaksi dekomposisi pada biomassa yang menyebabkan senyawasenyawa H dan O (yang cenderung menurunkan nilai kalor) terdekomposisi dan
melarut ke fasa cair. Semakin tinggi suhu, semakin besar pula dekomposisi yang
terjadi (yang terlihat dari solid yield yang semakin menurun), sehingga nilai kalor pun
menjadi lebih tinggi.
5600
5400

5396.84
5265.6

5200
5000
Nilai Kalor (kal/gram)

4929.42

4800
nilai kalor

4684.13

4600
4400
4200
0

100

200

Suhu (oC)

18

300

400

Gambar 5.1 Pengaruh Suhu Hydrothermal Treatment terhadap Nilai Kalor

BAB 6
RENCANA TAHAPAN SELANJUTNYA
Pada tahapan selanjutnya akan dilakukan pengambilan data untuk variasi
bahan baku yang lain dan variasi rasio massa biomassa terhadap air. Selain itu akan
dilakukan analisis terhadap produk yang dihasilkan dengan alat instrumen.

BAB 7
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari penelitian yang sudah dilakukan, kesimpulan sementara yang bisa
diambil adalah: semakin tinggi suhu proses hydrothermal, semakin tinggi nilai kalor
yang dihasilkan. Untuk sampel tongkol jagung, nilai kalor tertinggi sebesar 5396,84
kalori/gram yang diperoleh dari proses hydrothermal pada suhu 300oC.

19

Daftar Pustaka
Billah, M., 2009, Bahan Bakar Alternatif Padat (BBAP) Serbuk Gergaji Kayu,
UPN Press, Surabaya.
Byrappa, K., and Yoshimura, M., 2001, Handbook of Hydrothermal Technology: A
Technology for Crystal Growth and Material Processing, p. 7, Noyes
Publications, New Jersey.
Campo, B. G, 2010, Corn Cob Dry Matter Loss in Storage as Affected by
Temperature and Moisture Content, Iowa State University Digital Repository
Child, M., 2014, Industrial-Scale Hydrothermal Carbonization of Waste Sludge
Materials for Fuel Produsction, Lappeeranta University of Technology,
Finlandia.
Fachry, A. R., Astuti, P., dan Puspitasari, T. G., 2013, Pembuatan Bioetanol dari
Limbah Tongkol Jagung dengan Variasi Konsentrasi Asam Klorida dan Waktu
Fermentasi, Jurnal Teknik Kimia No.1, 19, 60-69.
Gustan, P., 2002, Teknologi Alternatif Pemanfaatan Limbah Industri Pengolahan
Kayu, Institut Pertanian Bogor.
Irsyad, A.R., Prawisudha, P., dan Pasek A.D., 2014, Kaji Eksperimental Produksi
Bahan Bakar Padat Ramah Lingkungan dari Tandan Kosong Kelapa Sawit
Menggunakan Proses Hidrotermal, Proceeding Seminar Nasional Tahunan
Teknik Mesin XIII.
Kartika, A. M., 2015, Uji Performansi Gasifikasi Biomassa pada Proses Sterilisasi
Berbahan Bakar Limbah Media Tanam Jamur Merang, hal. 7-10, Universitas
Udayana, Bali.

20

Surono, U. B., 2010, Peningkatan Kualitas Pembakaran Biomassa Tongkol Jagung


sebagai Bahan Bakar Alternatif dengan Proses Karbonisasi dan Pembriketan,
Jurnal Rekayasa Proses, 4, 13-18.
Tumiran, Skenario Kebijakan Energi Nasional Menuju 2050, presentasi pada Seminar
Nasional Fakultas Teknik UGM Dewan Energi Nasional (21 Agustus 2011),
Yogyakarta

21

22