Anda di halaman 1dari 5

PATOFISIOLOGI

Gejala dari infeksi pneumonia disebabkan invasi pada paru-paru oleh mikroorganisme dan respon
sistem imun terhadap infeksi. Meskipun lebih dari seratus jenis mikroorganisme yang dapat menyebabkan
pneumonia, hanya sedikit dari mereka yang bertanggung jawab pada sebagian besar kasus. Penyebab paling
sering pneumonia adalah virus dan bakteri. Penyebab yang jarang menyebabkan infeksi pneumonia ialah fungi
dan parasit.

Pneumonia didefinisikan sebagai suatu peradangan paru yang disebabkan oleh mikroorganisme
(bakteri, virus, jamur,parasit). Pneumonia yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis tidak
termasuk.
Gejala khas yang berhubungan dengan pneumonia meliputi batuk, nyeri dada demam, dan sesak nafas.
Alat diagnosa meliputi sinar-x dan pemeriksaan sputum. Pengobatan tergantung penyebab dari
pneumonia; pneumonia kerena bakteri diobati dengan antibiotika.
Terapi pneumonia pada kasus diatas adalah dengan menggunakan antibiotik Vankomicin yang
merupakan first line terapi dari pneumonia dan juga merupakan salah satu antibiotik yang masih sensitiv
terhadap pasien. N-asetil sistein Nebul diberikan untuk terapi batuk pada pasien tersebut. Epinefrin
digunakan sebagai terapi untuk Tekanan Darah yang rendah dan juga sebagai life saving pada pasien
tersebut. Dexametason digunakan untuk menurunkan penyempitan saluran nafas pada pasien
pneumonia. Pasien juga diberikan infus Ringer Laktat dan infus Dextrosa sebagai peningkat tekanan
darah pada pasien.

OTITIS TANDA DN GEJALA


1. Otitis media Akut
Tanda umum yaitu pilek, hidung tersumbat, atau batuk.
Sakit telinga parah (> 75% pasien)
Pada anak-anak terjadi iritasi dan bunyi gretekan di telinga serta kesulitan tidur
Demam
Perubahan warna (abu-abu), penebalan, mempembengkakan pada gendang telinga
2. Otitis Media Serosa
Pasien mungkin mengeluh kehilangan pendengaran, rasa penuh atau gatal dalam telinga atau
perasaan bendungan, atau bahkan suara letup atau berderik, yang terjadi ketika tuba eustachii
berusaha membuka. Membrane tymphani tampak kusam (warna kuning redup sampai abu-abu
pada otoskopi pneumatik, dan dapat terlihat gelembung udara dalam telinga tengah. Audiogram
biasanya menunjukkan adanya kehilangan pendengaran konduktif.
3. Otitis Media Kronik
Gejala dapat minimal, dengan berbagai derajat kehilangan pendengaran dan terdapat otorrhea
intermitten atau persisten yang berbau busuk. Biasanya tidak ada nyeri kecuali pada kasus
mastoiditis akut, dimana daerah post aurikuler menjadi nyeri tekan dan bahkan merah dan
edema. Kolesteatoma, sendiri biasanya tidak menyebabkan nyeri. Evaluasi otoskopik membrane
timpani memperlihatkan adanya perforasi, dan kolesteatoma dapat terlihat sebagai masa putih di
belakang membrane timpani atau keluar ke kanalis eksterna melalui lubang perforasi.
Kolesteatoma dapat juga tidak terlihat pada pemeriksaan oleh ahli otoskopi. Hasil audiometric
pada kasus kolesteatoma sering memperlihatkan kehilangan pendengaran konduktif atau
campuran.

ISK

First Line : TMP-SMZ(160/800mg) 2 dd 1 (3 hari) Pilihan kedua:

kuinolon Resistensi :

TMP-SMZ,Kuinolonadala

Patofisiologi
Umumnya bakteri seperti Eschericia coli, Streptococus fecalis, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphilococus aureus yang menginfeksi
ginjal berasal dari luar tubuh yang masuk melalui saluran kemih bagian bawah (uretra), merambat ke kandung kemih, lalu ke ureter (saluran kemih
bagian atas yang menghubungkan kandung kemih dan ginjal) dan tibalah ke ginjal, yang kemudian menyebar dan dapat membentuk koloni infeksi
dalam waktu 24-48 jam. Infeksi bakteri pada ginjal juga dapat disebarkan melalui alat-alat seperti kateter dan bedah urologis. Bakteri lebih mudah
menyerang ginjal bila terdapat hambatan atau obstruksi saluran kemih yang mempersulit pengeluaran urin, seperti adanya batu atau tumor.
Pada pielonefritis akut, inflamasi menyebabkan pembesaran ginjal yang tidak lazim. Korteks dan medula mengembang dan multipel abses.
Kalik dan pelvis ginjal juga akan berinvolusi. Resolusi dari inflamasi menghasilkan fibrosis dan scarring. Pielonefritis kronis muncul setelah periode

berulang dari pielonefritis akut. Ginjal mengalami perubahan degeneratif dan menjadi kecil serta atrophic. Jika destruksi nefron meluas, dapat
berkembang menjadi gagal ginjal.

Guideline Terapi ISK


Woman with acute uncomplicated cystitis
Absence of fever, flank pain, or other

Consider alternate diagnosis (such


No

as pyelonephritis or complicated

suspicion for pyelonephritis

UTI) & treat accordingly

Able to take oral medication

( see text)

Yes

Fluoroquinolones
Can one of the

recommended antimicrobials
*

below be used considering:

No

resistance prevalence high in


some areas)

Availability
Allergy history

OR

Tolerance
- lactams
Nitrofurantoin monohydrate/macrocrystals 100
mg bid X 5 days
(

avoid if early pyelonephritis suspected)

avoid ampicillin or amoxicillin


alone; lower efficacy than other
available agents; requires close
follow-up)

OR
Trimethoprim-sulfamethoxazole 160/800 mg
(
(

one DS tablet) bid X 3 days

avoid if resistance prevalence is known to

exceed 20

or if used for UTI in previous 3


months)
OR

Fosfomycin trometamol 3 gm single dose


(

lower efficacy than some other recommended


agents; avoid if early pyelonephritis suspected)
OR
Pivmecillinam 400 mg bid x 5 days

lower efficacy than some other recommended


agents; avoid if early pyelonephritis suspected)

Yes

Prescribe a recommended antimicrobial

Logaritma Terapi (IDSA, 2011)

*The choice between these agents should be


individualized and based on patient allergy and
compliance history, local practice patterns, local
community resistance prevalence, availability, cost, and
patient and provider threshold for failure (see Table 4)

CARE PLAN
Cefozolin menyebabkan gangguan hati sehingga disarankan untuk diganti dengan Cotrimoxazole
(kombinasi trimetropin dan sulfametoxazole) sebagai first line terapi untuk ISK (UMHS Urinary Tract
Infection Guideline, May 2011)
Gastridin dan ondansentron disarankan untuk tidak diberikan lagi karena pasien tidak mengalami
gangguan pada saluran gastrointestinal
Alprazolam disarankan untuk tidak digunakan lagi karena pasien tidak bisa tidur karena nyeri yang
dialaminya. Sehingga jika nyeri ISK telah ditangani maka gangguan tidur pasien dapat diatasi
Ibuprofen disarankan tidak diberikan lagi karena nyeri sudah dapat diatasi dengan pemberian antalgin
dan hyosin
Non Farmakologi
Usahakan untuk buang air seni pada waktu bangun di pagi hari. Buang air seni dapat membantu
mengeluarkan bakteri dari kandung kemih yang akan keluar bersama urin dan Buang air seni sesering
mungkin (setiap 3 jam).
Minum air putih minimal 8 gelas atau 2,5 liter setiap hari.
Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kencing.
Setiap buang air seni, bersihkanlah dari depan ke belakang. Hal ini akan mengurangi kemungkinan
bakteri masuk ke saluran urin dari rectum.
Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung asam folat yang cukup tinggi
diantaranya sayuran berdaun seperti bayam dan brokoli, asparagus, buah-buahan seperti pisang, kacang,
ragi, jamur, hati dan ginjal sapi, dan tomat. Selain itu asam folat juga bisa diperoleh dari sereal yang
difortifikasi seperti pada produk gandum dan sereal untuk sarapan.
Monitoring
Monitoring suhu tubuh, hematuria, angka leukosit, kreatinin serum, BUN, dan gula darah
Monitoring dan evaluasi efek samping penggunaan obat.