Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL

SURVEY DAN PEMETAAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Ilmu ukur tanah didefinisikan ilmu yang mengajarkan tentang teknikteknik/cara-cara pengukuran di permukaan bumi dan bawah tanah dalam areal
yang terbatas. Ilmu ukur tanah bagian dari geodesi (geodetic surveying).
Ilmu geodesi mempunyai dua maksud :
1. Maksud ilmiah

: yaitu yang mempelajari bentuk dan besar bulatan

bumi.
2. Maksud praktis

: yaitu ilmu yang mempelajari penggambaran

permukaan bumi yang dinamakan peta (gambar).


Definisi sederhana dari ukur tanah adalah menentukan posisi atau letak
titik di atas atau pada permukaan bumi. Definisi yang lebih berkembang adalah
pekerjaan untuk menggambarkan keadaan fisik sebagian permukaan bumi
menyerupai keadaan sebenarnya dilapangan. Produk yang sesuai dengan definisi
terakhir adalah peta topografi, sedangkan jenis-jenis pekerjaan yang sederhana
antara lain mengukur jarak antara dua titik, mengukur panjang dan lebar atau sisisisi sebidang lahan, mengukur lereng dan penggambaran bentuk sebidang lahan.
Dalam pembuatan peta yang dikenal dengan istilah pemetaan dapat dicapai
dengan melakukan pengukuran-pengukuran di atas permukaan bumi yang
mempunyai bentuk tidak beraturan. Pengukuran-pengukuran dibagi dalam
pengukuran yang mendatar untuk mendapat hubungan titik-titik yang diukur di
atas permukaan bumi (Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal) dan pengukuranpengukuran tegak guna mendapat hubungan tegak antara titik-titik yang diukur
(Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal) serta pengukuran titik-titik detail.

Ulfah Fauziyyah | 1200223

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

1.2.

Rumusan Masalah
-

Pengertian dari Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal


Tujuan dari Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal
Metode Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal
Mengolah data hasil Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal

1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam proses praktikum Kerangka
Dasar Vertikal ini, diantaranya:
a. Mahasiswa dapat melakukan pengukuran situasi tinggi dan kemiringan tanah
di suatu area dengan menggunakan metode sipat datar.
b. Mahasiswa mampu dan terampil dalam menggunakan pesawat penyipat datar
atau waterpass.
c. Mahasiswa dapat melakukan perhitungan, dan mengolah data dari hasil
pengukuran dilapangan serta dapat menggambar peta situasi dan gambar profil
memanjang hasil pengukuran dengan cara koordinat.

BAB II
Ulfah Fauziyyah | 1200223

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian
Kerangka Dasar Vertikal merupakan teknik dan cara pengukuran
kumpulan titik-titik yang telah diketahui atau ditentukan posisi vertikalnya berupa
ketinggiannya terhadap bidang rujukan ketinggian tertentu. Bidang rujukan ini
biasanya berupa ketinggian muka air laut rata-rata (Mean Sea Level) atau
ditentukan lokal.
Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal adalah proses penentuan
ketinggian dari sejumlah titik atau pengukuran perbedaan elevasi, untuk
pengikatan ketinggian titik-titik lain yang lebih detail dan banyak. Metode Sipat
dasar ini prinsipnya adalah mengukur tinggi bidik alat sipat datar optis di
lapangan menggunakan rambu ukur.
2.2 Tujuan Pengukuran Sipat Datar
Pengukuran sipat datar KDV bertujuan untuk menentukan beda tinggi antara
dua titik yang diukur sehingga informasi tinggi pada daerah yang tercakup layak
untuk diolah sebagai informasi yang lebih kompleks.
2.3

Jenis jenis Pengukuran Sipat Datar


Terdapat empat jenis pengukuran yang umumnya dilakukan dengan masing-

masing tujuan berbeda. Keempat jenis pengukuran tersebut akan diuraikan di


bawah ini :
A. Sipat Datar Memanjang
Digunakan apabila jarak antara dua stasiun yang akan ditentukan beda
tingginya sangat berjauhan. Jarak antara kedua stasiun tersebut dibagi
dengan jarak pendek yang disebut seksi atau slag yang jumlah tiap slag
akan menghasilkan beda tinggi dengan kedua stasion tersebut,
B. Sipat Datar Resiprokal
Kelainan dari sipat datar ini adalah pemanfaatan konstruksi serta tugas
nivo yang dilengkapi dengan skala pembaca bagi pengungkitan yang
Ulfah Fauziyyah | 1200223

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

dilakukan terhadap nivo tersebut sehingga dapat dilakukan pengukuran


beda tinggi antara kedua titik yang dilewati pengukuran seperti halnya
sipat datar memanjang maka hasil akhirnya adalah ketinggian dari kedua
titik tersebut.
C. Sipat Datar Profil
Tujuan dari pengukuran ini umumnya adalah untuk mengetahui profil dari
suatu trace baik jalan ataupun saluran sehingga selanjutnya dapat
diperhitungkan banyaknya galian dan timbunan yang dapat dilakukan pada
konstruksi.
D. Sipat Datar Luas
Pada pengukuran sipat datar ini yang paling diperlukan adalah
penggambaran profil dari suatu daerah pemetaan yang dilakukan dengan
mengambil ketinggian sehingga dengan melakukan interpolasi di antara
ketinggian yang ada, maka dapat ditarik garis kontur diatas daerah peta
pengukuran tersebut.
2.4

Kesalahan kesalahan pada Pengukuran KDV


Pada saat pengukuran, akan selalu ada hambatan hambatan. Berikut adalah
kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi pada saat pengukuran :
A. Kesalahan Sistematis
Kesalahan sistematis yaitu kesalahan yang disebabkan oleh alam.
Eliminasi kesalahan sistematis alat sipat datar dengan mengoreksi KGB
(Kesalahan Garis Bidik). Metode pengukuran rambu muka dan belakang
dengan dua stand. Setelah diketahui KGB maka kita dapat menghitung
kesalahan sistematis. Langkah-langkah dalam menghitung kesalahan
sistematis adalah sebagai berikut :
a. koreksi bacaan BTb dan BTm

BT

(BTb-kgb).db

BT m

(BTm-kgb).db

b. hitung beda tinggi yang telah dikoreksi kesalahan sistematis (-kgb)

Ulfah Fauziyyah | 1200223

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

h =

BT b BT m

c. h = 0 (syarat untuk kurva tertutup)


d. koreksi beda tinggi setiap slag yang sudah dieliminasi kesalahan acak.

db dm

H ab BT b BT m k .H
d I d II d III d IV

kontrol =

H ab H bc H cd

e. jika diketahui TA= +700.000 m MSL maka TB= TA+

H
AB

B. Kesalahan Acak
Kesalahan acak yaitu kesalahan yang disebabkan oleh keadaan alam.
Eliminasi untuk kesalahan ini dapat dilakukan dengan cara jumlah slag
harus genap dan dm (jarak muka) dan db (jarak belakang) dibuat sama.
C. Kesalahan Besar
Jika terjadi kesalahan besar maka pengukuran harus diulangi kembali.

2.5

Syarat-syarat Alat Ukur Penyipat Datar


1. Syarat utama : garis bidik teropong harus sejajar dengan garis arah
nivo
2. Syarat kedua
3. Syarat ketiga

: garis arah nivo harus tegak lurus pada sumbu kesatu


: garis mendatar diafragma harus tegak lurus pada

sumbu kesatu

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Ulfah Fauziyyah | 1200223

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

3.1 Waktu dan Lokasi Pengukuran


1. Hari / Tanggal : Rabu / 11 September 2013
Kegiatan
: Pematokan
Waktu
: 15.00 s.d Selesai
Lokasi
: Gedung FPBS UPI
Anggota
: - Adi Hamdani
- Fahmi Firmansyah
- Tria Fajri Jauhari
- Ulfah Fauziyyah
2. Hari / Tanggal : Jum,at / 13 September 2013
Kegiatan
: Pengukuran Sipat Datar
Waktu
: 07.00 s.d selesai
Lokasi
: Gedung FPBS UPI
Anggota
: - Adi Hamdani
- Fahmi Firmansyah
- Tria Fajri Jauhari
- Ulfah Fauziyyah
3. Hari / Tanggal : Rabu / 18 September 2013
Kegiatan
: Pengukuran Sipat Datar (melanjutkan hasil praktikum
sebelumnya)
Waktu
: 08.00 s.d selesai
Lokasi
: Gedung FPBS UPI
Anggota
: - Adi Hamdani
- Fahmi Firmansyah
- Tria Fajri Jauhari
- Ulfah Fauziyyah

3.2 Peralatan yang digunakan


Adapun peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Alat Sipat Datar Optis (Wild NK10-172313)

Ulfah Fauziyyah | 1200223

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Gambar 1. Alat Sipat Datar Optis

2. Statif

Gambar 2. Statif

3. Rambu Ukur

Ulfah Fauziyyah | 1200223

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Gambar 3. Rambu Ukur

4. Pita Ukur

Gambar 4. Pita Ukur

5. Unting-unting

Ulfah Fauziyyah | 1200223

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Gambar 5. Unting unting

6. Payung

Gambar 6. Payung
7. Cat dan Kuas

Gambar 7. Cat dan Kuas

8. Peta Wilayah Pengukuran

Ulfah Fauziyyah | 1200223

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Ulfah Fauziyyah | 1200223

10

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Gambar 8. Peta Wilayah Pengukuran

3.3 Prosedur Pengukuran


1. Para surveyor harus mengenakan kostum untuk survey lapangan,
2. Ketua tim mencatat semua peralatan yang dibutuhkan pada formulir
peminjaman alat,
3. Para anggota tim mengisi kehadiran praktikum,
4. Ketua tim menyerahkan formulir peminjaman alat kepada laboran,
5. Ketua tim memeriksa kelengkapan alat dan mencatat no serinya,
6. Para anggota tim membawa peralatan ke lapangan,
7. Mempersiapkan pengukuran kesalahan garis bidik (cukup disekitar lab),
8. Dirikan statif pada posisi stand satu dan pasang alat di atas stand tsb,
9. Mengetengahkan gelembung nivo dengan prinsip dua putaran sekrup kaki
kiap keluar atau kedalam saja dan satu sekrup ke kanan dan ke kiri,
10. Memasang unting-unting dan dua rambu ukur di arah belakang dan muka,
11. Menghimpitkan gelembung nivo tabung,

Ulfah Fauziyyah | 1200223

11

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

12. Membidik rambu ukur belakang dan visir,


13. Memperjelas benang diafragma sekrup pada teropong,
14. Memperjelas obyek rambu ukur dengan memutar skrup focus di atas
teropong,
15. Menggerak-gerakan skrup gerakan halus horizontal sehingga benang
vertical diafragma berhimpit dengan bagian tengah rambu,
16. Lakukan pembacaan benang atas (BA), benang tengah (BT), dan benang
bawah (BB),

17. Periksa syarat

B A BB

BT 0.001
2

, jika sesuai teruskan dengan

langkah berikutnya, jika tidak ulangi pembacaan,


18. Hitung jarak optis dari alat ke rambu

( B A BB ) x100

19. Lakukan hal yang sama untuk rambu belakang,


20. Hitung koreksi garis bidik (Kgb),
21. Bawa semua peralatan ke titik awal pengukuran pertama (patok pertama),
22. Berdasarkan batas pengukuran dari peta wilayah studi, tentukan lokasi
patok-patok pada jalur ukuran,
23. Anggota regu melakukan pematokan di jalur pengukuran dengan patok
yang telah tersedia (buat slagnya genap),
24. Dirikan alat pada slag pertama, lakukan pembacaan benang atas (BA),
benang bawah (BB), dan benang tengah (BT) ke rambu belakang dan rambu
muka,
25. Mengukur jarak belakang (db) dan muka (dm) (jarak mendatar)
menggunakan pita ukur,
26. Memindahkan alat ke slag dua, lakukan hal yang sama seperti pada slag
satu
27. Lakukan hal yang sama sampai slag terakhir

Ulfah Fauziyyah | 1200223

12

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

NB :

Pencatatan data formulir ukuran yang menggunakan pensil dan

penghapus/tipe x. jika salah angka dicoret nilai yang benar ditulis diatas atau
sebelahnya.

3.4 Prosedur Pengolahan Data


1. Menyiapkan tabel pengolahan data sipat datar KDV.
2. Masukan nilai kesalahan garis bidik kedalam tabel
3. Masukan nilai BA, BT,BB, d belakang d muka ke dalam tabel
4. Hitung BT koreksi di setiap slag (BTbk = BTb (kgb . db)) (BTmk =
BTm (kgb . dm))
5. Hitung beda tinggi di setiap slag dari bacaan benang tengah koreksi
belakang dan muka (H = BTbk BTmk)
6. Hitung nilai kesalahan beda tinggi dengan menggunakan beda tinggi
setiap slag (H = H1 + H2 + H3 + + Hn)
7. Hitung jarak pita ukur setiap slag dengan menjumlahkan jarak
belakang dan jarak muka (d = db + dm)
8. Menghitung total jarak jalur pengukuran dengan menggunakan semua
jarak slag ((d) + d1 + d2 + d3 + + dn)
9. Hitung bobot koreksi setiap slag dengan membagi jarak slag dengan

total jarak pengukuran (Bobot =

d
(d ) )

10. Menghitung beda tinggi koreksi dengan cara menjumlahkan beda


tinggi awal ( BTbk BTmk ) dengan perkalian (Hk = H (H .
Bobot))
11. Kontrol beda tinggi hasil koreksi (Hk = 0)
12. Menghitung tinggi titik titik pengukuran dengan cara menjumlahkan
tinggi titik sebelumnya dengan beda tinggi koreksi (T1 = Ta + Hk)
13. Control bobot ( Bobot = 1)
14. Kontrol tinggi, tinggi awal harus sama dengan tinggi akhir (T1 = T1)

Ulfah Fauziyyah | 1200223

13

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

3.5 Prosedur Penggambaran


1. Mengetahui jarak total pengukuran dan selisih beda tinggi terbesar
2. Prinsip skala vertical berbeda dengan skala horizontal ( skala horizontal
kurang dari skala vertical )
3. Tetapkan ukuran kertas ( lebih baik menggunakan kertas millimeter )
Contoh skala horizontal 1:100 dan skala vertical 1:2
4. Design / rancang tata letak penggambaran yang meliputi muka gambar,
legenda, notasi dan skala gambar ( sebaiknya di grafis )

BAB IV
HASIL PENGUKURAN
4.1 Data Hasil Pengukuran
Tabel 1. Data Hasil Pengukuran
SLA
G
1
2
3
4
5
6
7

BELAKANG
BA
BT
0.452
0.396
1.322
1.262
1.11
1.05
1.471
1.41
2.179
2.128
2.25
2.2
2.31
2.26

db
BB
0.341
1.204
0.988
1.349
2.079
2.15
2.21

optis
11.1
11.8
12.2
12.2
10
10
10

BA
2.05
1.33
1.7
0.844
0.74
0.76
0.78

MUKA
BT
1.991
1.27
1.638
0.781
0.691
0.711
0.73

BB
1.93
1.21
1.574
0.72
0.64
0.661
0.68

db
11.5
12
12.5
12.5
10
10
10

Ulfah Fauziyyah | 1200223

dm
12.5
12
12.5
12.5
10
10
10
14

d
24
24
25
25
20
20
20

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22

2.107
2.273
2.03
1.931
1.669
1.498
1.622
0.586
1.211
1.194
1.065
0.62
0.573
0.43
0.64

2.053
2.223
1.98
1.881
1.606
1.445
1.571
0.542
1.149
1.13
1.021
0.58
0.528
0.375
0.592

1.998
2.173
1.93
1.831
1.544
1.391
1.522
0.496
1.088
1.066
0.976
0.54
0.484
0.32
0.546

10.9
10
10
10
12.5
10.7
10
9
12.3
12.8
8.9
8
8.9
11
9.4

0.669
0.628
0.79
0.64
1.1
1.22
1.226
2.164
1.516
1.682
1.992
2.195
2.173
2.305
2.099

0.615
0.579
0.74
0.59
1.039
1.165
1.179
2.119
1.455
1.618
1.947
2.157
2.128
2.245
2.05

0.56
0.529
0.69
0.54
0.976
1.11
1.13
2.075
1.394
1.554
1.903
2.118
2.083
2.185
2.001

11
10
10
10
12.5
11
10
9
12.5
13
9
8
9
11
9.6

11
10
10
10
12.5
11
10
9
12.5
13
9
8
9
12
9.6
(d)

Sebelum di lakukan perhitungan, dilakukan control terhadap hasil


pembacaan di lapangan. Rumus :
BA+ BB
BT

0,001
2
Slag
1

Belakang

Muka

0,452+ 0,341
0,396=0,0005
2

2,050+ 1,930
1,991=0,001
2

1,322+1,204
1,262=0,001
2

1,330+1,210
1,270=0
2

Ulfah Fauziyyah | 1200223

15

22
20
20
20
25
22
20
18
25
26
18
16
18
23
19.2
470.2

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

1,110 +0,988
1,050=0,001
2

1,700+1,574
1,638=0,001
2
1,471+1,349
1,410=0
2

0,844+0,720
0,781=0,001
2
2,179+ 2,079
2,128=0,001
2

0,740+ 0,640
0,691=0,001
2
2,250+ 2,150
2,200=0
2

0,760+ 0,661
0,711=0,0005
2

2,310+ 2,210
2,260=0
2

0,780+ 0,680
0,730=0
2

Ulfah Fauziyyah | 1200223

16

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

2,107 +1,998
2,053=0,0005
2

0,669+ 0,560
0,615=0,0005
2
2,273+ 2,173
2,223=0
2

0,628+ 0,529
0,579=0,0005
2
2,030+ 1,930
1,980=0
2

10

0,790+ 0,690
0,740=0
2

11

1,931+1,831
1,881=0
2

0,640+ 0,540
0,590=0
2

12

1,669+1,544
1,606=0,0005
2

1,100+ 0,976
1,039=0
2

Ulfah Fauziyyah | 1200223

17

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

1,498+1,391
1,445=0,0005
2

13

1,220+1,110
1,165=0
2

14

1,662+1,522
1,571=0,001
2

1,226+ 1,130
1,179=0
2
0,586+0,496
0,542=0,001
2

15

2,164 +2,075
2,119=0,0005
2

16

1,211+ 1,088
1,149=0,0005
2

1,516+ 1,394
1,455
=
2

0
1,194 +1,066
1,130=0
2

17

1,682+1,554
1,618=0
2

18

1,065+ 0,976
1,021=0,0005
2

1,992+1,903
1,947=0,0005
2

Ulfah Fauziyyah | 1200223

18

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

0,620+ 0,540
0,580=0
2

19

2,195+ 2,118
2,157=0,0005
2
0,573+ 0,484
0,528=0
2

20

2,173+ 2,083
2,128=0
2

21

0,430+ 0,320
0,375=0
2

2,305+ 2,185
2,245=0
2

22

0,640+ 0,546
0,592=0,001
2

2,099+ 2,001
2,050=0
2

Jarak Optis
Rumus = (BA BB) x 100
Slag

Belakang

Muka

(0,452 0,341) x 100 = 11,1

(2,050 1,930) x 100 = 12

(1,322 1,204) x 100 = 11,8

(1,330 1,210) x 100 = 12

Ulfah Fauziyyah | 1200223

19

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

(1,110 0,988) x 100 = 12,2

(1,700 1,574) x 100 = 12,6

(1,471 1,349) x 100 = 12,2

(0,844 0,720) x 100 = 12,4

(2,179 2,079) x 100 = 10

(0,740 0,640) x 100 = 10

(2,250 2,150) x 100 = 10

(0,760 0,661) x 100 = 9,9

(2,310 2,210) x 100 = 10

(0,780 0,680) x 100 = 10

(2,107 1,998) x 100 = 10,9

(0,669 0,560) x 100 = 10,9

(2,273 2,173) x 100 = 10

(0,628 0,529) x 100 = 9,9

10

(2,030 1,930) x 100 = 10

(0,790 0,690) x 100 = 10

11

(1,931 1,831) x 100 = 10

(0,640 0,540) x 100 = 10

12

(1,669 1,544) x 100 = 12,5

(1,100 0,976) x 100 = 12,4

13

(1,498 1,391) x 100 = 10,7

(1,220 1,110) x 100 = 11

14

(1,622 1,522) x 100 = 10

(1,226 1,130) x 100 = 9,6

15

(0,586 0,496) x 100 = 9

(2,164 2,075) x 100 = 8,9

16

(1,211 1,088) x 100 = 12,3

(1,516 1,394) x 100 = 12,2

17

(1,194 1,066) x 100 = 12,8

(1,682 1,554) x 100 = 12,8

18

(1,065 0,976) x 100 = 8,9

(1,992 1,903) x 100 = 8,9

19

(0,620 0,540) x 100 = 8

(2,195 2,118) x 100 = 7,7

20

(0,573 0,484) x 100 =8,9

(2,173 2,083) x 100 = 9

21

(0,430 0,320) x 100 = 11

(2,305 2,185) x 100 = 12

22

(0,640 0,546) x 100 = 9,4

(2,099 2,001) x 100 = 9,8

Ulfah Fauziyyah | 1200223

20

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

4.2 Interpolasi Garis Kontur

Tb = 909 MSL
Ta = 908 MSL
8,2949
H
=
11,4410 TbTa

H=

8,29 49
x ( TbTa )
11,4410

H=

8,2949
x 1=0,7250
11,4410

Ulfah Fauziyyah | 1200223

21

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

T1 = Ta + H
= 908 + 0,7250
= 908,725 MSL

Dari perhitungan interpolasi garis kontur diatas maka didapat tinggi di titik
awal adalah 908,725 MSL
4.3 Perhitungan Kerangka Dasar Vertikal

Rumus yang digunakan

BTbk = BTb (kgb.db)


BTmk = BTm (kgb.dm)
H

= BTbk BTmk

Bobot =

d
(d)

Slag 1
BTbk = 0,396 (-0,000451 . 11,5)
= 0,3908
BTmk = 1,991 (-0,000451 . 12,5)
= 1,9854
H

= 0,3908 1,9854 = -1,5945

Slag 2

Ulfah Fauziyyah | 1200223

22

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

BTbk = 1,262 (-0,000451 . 12)


= 1,2566
BTmk = 1,27 (-0,000451 . 12)
= 1,2646
H

= 1,2566 1,2646 = -0,0080

Slag 3
BTbk = 1,05 (-0,000451 . 12,5)
= 1,0444
BTmk = 1,638 (-0,000451 . 12,5)
= 1,6324
H

= 1,0444 1,6324 = -0,588

Slag 4
BTbk = 1,41 (-0,000451 . 12,5)
= 1,4044
BTmk = 0,781 (-0,000451 . 12,5)
= 0,7754
H

= 1,4044 0,7754 = 0,6290

Slag 5
BTbk = 2,128 (-0,000451 . 10)

Ulfah Fauziyyah | 1200223

23

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

= 2,1235
BTmk = 0,691 (-0,000451 . 10)
= 0,6865
H

= 2,1235 0,6865 = 1,4370

Slag 6
BTbk = 2,2 (-0,000451 . 10)
= 2,1955
BTmk = 0,711 (-0,000451 . 10)
= 0,7065
H

= 2,1955 0,7065 = 1,489

Slag 7
BTbk = 2,26 (-0,000451 . 10)
= 2,2555
BTmk = 0,73 (-0,000451 . 10)
= 0,7255

= 2,2555 0,7255 = 1,5300

Ulfah Fauziyyah | 1200223

24

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Slag 8
BTbk = 2,053 (-0,000451 . 11)
= 2,0480
BTmk = 0,615 (-0,000451 . 11)
= 0,6100
H

= 2,0480 0,6100 = 1,4380

Slag 9
BTbk = 2,223 (-0,000451 . 10)
= 2,2185
BTmk = 0,579 (-0,000451 . 10)
= 0,5745
H

= 2,2185 0,5745 = 1,644

Slag 10
BTbk = 1,98 (-0,000451 . 10)
= 1,9755
BTmk = 0,74 (-0,000451 . 10)
= 0,7355
H

= 1,9755 0,7355 = 1,24

Ulfah Fauziyyah | 1200223

25

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Slag 11
BTbk = 1,881 (-0,000451 . 10)
= 1,8765
BTmk = 0,59 (-0,000451 . 10)
= 0,5855
H

= 1,8765 0,5855 = 1,291

Slag 12
BTbk = 1,606 (-0,000451 . 12,5)
= 1,6004
BTmk = 1,039 (-0,000451 . 12,5)
= 1,0334

= 1,6004 1,0334

= 0,567

Slag 13
BTbk = 1,445 (-0,000451 . 11)
= 1,4400
BTmk = 1,165 (-0,000451 . 11)
= 1,1600
H

= 1,4400 1,1600 = 0,28

Ulfah Fauziyyah | 1200223

26

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Slag 14
BTbk = 1,571 (-0,000451 . 10)
= 1,5665
BTmk = 1,179 (-0,000451 . 10)
= 1,1745
H

= 1,5665 1,1745 = 0,392

Slag 15
BTbk = 0,542 (-0,000451 . 9)
= 0,5379
BTmk = 2,119 (-0,000451 . 9)
= 2,1149
H

= 0,5379 2,1149 = -1,577

Slag 16
BTbk = 1,149 (-0,000451 . 12,5)
= 1,1434
BTmk = 1,455 (-0,000451 . 12,5)
= 1,4494
H

= 1,1434 1,4494 = -0,306

Ulfah Fauziyyah | 1200223

27

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Slag 17
BTbk = 1,13 (-0,000451 . 13)
= 1,1241
BTmk = 1,618 (-0,000451 . 13)
= 1,6121
H

= 1,1241 1,6121 = -0,488

Slag 18
BTbk = 1,021 (-0,000451 . 9)
= 1,0169
BTmk = 1,947 (-0,000451 . 9)
= 1,9429
H

= 1,0169 1,9429 = -0,926

Slag 19
BTbk = 0,58 (-0,000451 . 8)
= 0,5764
BTmk = 2,157 (-0,000451 . 8)
= 2,1534
H

= 0,5764 2,1534 = -1,577

Slag 20

Ulfah Fauziyyah | 1200223

28

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

BTbk = 0,528 (-0,000451 . 9)


= 0,5239
BTmk = 2,128 (-0,000451 . 9)
= 2,1239
H

= 0,5239 2,1239 = -1,6000

Slag 21
BTbk = 0,375 (-0,000451 . 11)
= 0,3700
BTmk = 2,345 (-0,000451 . 12)
= 2,2396
H

= 0,3700 2,2396 = -1,8695

Slag 22
BTbk = 0,592 (-0,000451 . 9,6)
= 0,5877
BTmk = 2,05 (-0,000451 . 9,6)
= 2,0457
H

= 0,5877 2,0457 = -1,4580

*H = -0.0551

Ulfah Fauziyyah | 1200223

29

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

MENCARI BOBOT
Mencari bobot dapat digunakan rumus :

Keterangan :
Bobot = hasil bagi dari jarak antara dua titik dengan jarak seluruhnya
d

= jarak antara dua titik

(d) = jarak keseluruhan

Berikut perhitungan bobot di setiap slag :


24
470,2

= 0,05104

24
Slag 2 = 470,2

= 0,05104

Slag 3 =

25
470.2

= 0,05317

Slag 4 =

25
470.2

= 0,05317

Slag 5 =

20
470.2

= 0,04254

20
Slag 6 = 470.2

= 0,04254

Slag 1 =

Ulfah Fauziyyah | 1200223

30

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

20
Slag 7 = 470.2

= 0,04254

22
470.2

= 0,04679

20
Slag 9 = 470.2

= 0,04254

20
Slag 10= 470.2

= 0,04254

Slag 11=

20
470.2

= 0,04254

Slag 12=

25
470.2

= 0,05317

22
Slag 13= 470.2

= 0,04679

Slag 14=

20
470.2

= 0,04254

Slag 15=

18
470.2

= 0.03828

Slag 16=

25
470.2

= 0,05317

Slag 17=

26
470.2

= 0,05530

Slag 8 =

Ulfah Fauziyyah | 1200223

31

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Slag 18=

18
470.2

= 0.03828

Slag 19=

16
470.2

= 0.03403

Slag 20=

18
470.2

= 0.03828

Slag 21=

23
470.2

= 0.04892

Slag 22=

19.2
470.2

= 0.04083

MENCARI BEDA TINGGI KOREKSI


Mencari beda tinggi koreksi dapat digunakan rumus:
Hk = H (H . Bobot)
Keterangan :
Hk

= beda tinggi koreksi

= beda tinggi antara dua titik

= jumlah dari beda tinggi antara dua titik

Bobot = hasil bagi dari jarak antara dua titik dengan jarak seluruhnya
Berikut perhitungan beda tinggi koreksi di setiap slag :
Slag 1 = -1,5945 - (-0,0551 x 0,05104)

= -1,5917

Slag 2 = -0,0080 - (-0,0551 x 0,05104)

= -0,0052

Ulfah Fauziyyah | 1200223

32

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Slag 3 = -0,5880 - (-0,0551 x 0,05317)

= -0,5851

Slag 4 = 0,6290 - (-0,0551 x 0,05317)

= 0,6319

Slag 5 = 1,4370 - (-0,0551 x 0,04254)

= 1,4393

Slag 6 = 1,4890 - (-0,0551 x 0,04254)

= 1,4913

Slag 7 = 1,5300 - (-0,0551 x 0,04254)

= 1,5323

Slag 8 = 1,4380 - (-0,0551 x 0,04679)

= 1,4406

Slag 9 = 1,6440 - (-0,0551 x 0,04254)

= 1,6463

Slag 10 =1,2400 - (-0,0551 x 0,04254)

= 1,2423

Slag 11 = 1,2910 - (-0,0551 x 0,04254)

= 1,2933

Slag 12 = 0,5670 - (-0,0551 x 0,05317)

= 0,5699

Slag 13 = 0,2800 - (-0,0551 x 0,04679)

= 0,2826

Slag 14 = 0,3920 - (-0,0551 x 0,04254)

= 0,3943

Slag 15 = -1,5570 - (-0,0551 x 0,03828)

= -1,5749

Slag 16 = -0,3060 - (-0,0551 x 0,05317)

= -0,3031

Slag 17 = -0,4880 - (-0,0551 x 0,05530)

= -0,4850

Slag 18 = -0,9260 - (-0,0551 x 0,03828)

= -0,9239

Slag 19 = -1,5770 - (-0,0551 x 0,03403)

= -1,5751

Slag 20 = -1,6000 - (-0,0551 x 0,03828)

= -1,5979

Slag 21 = -1,8695 - (-0,0551 x 0,04892)

= -1,8669

Slag 22 = -1,4580 - (-0,0551 x 0,04083)

= -1,4558

Ulfah Fauziyyah | 1200223

33

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

MENCARI TINGGI TITIK,DENGAN TITIK AWAL ADALAH 908,725


Mencari tinggi titik dapat digunakan rumus:
Ti Tisebelumn ya Hk

Keterangan:
Ti

= tinggi titik

Hk = beda tinggi koreksi

Berikut adalah perhitungan titik pada tiap titik:


Tinggi Titik 1

= 908,725 (tinggi titik awal)

Tinggi Titik 2

= 908,725 + (-1,5922) = 907,133

Tinggi Titik 3

= 907,133 + (-0,0051) = 907,128

Tinggi Titik 4

= 907,128 + (-0,5850)

= 906,543

Tinggi Titik 5

= 906,543 + 0,6320

= 907,175

Tinggi Titik 6

= 907,175 + 1,4394

= 908,614

Tinggi Titik 7

= 908,614 + 1,4914

= 910,106

Tinggi Titik 8

= 910,105 + 1,5324

= 911,638

Tinggi Titik 9

= 911,638 + 1,4406

= 913,079

Tinggi Titik 10

= 913,078 + 1,6464

= 914,725

Tinggi Titik 11

= 914,725 + 1,2424

= 915,967

Ulfah Fauziyyah | 1200223

34

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Tinggi Titik 12

= 915,967 + 1,2934

= 917,261

Tinggi Titik 13

= 917,261 + 0,5700

= 917,831

Tinggi Titik 14

= 917,831 + 0,2826

= 918,113

Tinggi Titik 15

= 918,113 + 0,3944

= 918,507

Tinggi Titik 16

= 918,508 + (-1,5748) = 916,933

Tinggi Titik 17

= 916,933 + (-0,3030) = 916,629

Tinggi Titik 18

= 916,630 + (-0,4849)

= 916,145

Tinggi Titik 19

= 916,145 + (-0,9238)

= 915,221

Tinggi Titik 20

= 915,221 + (-1,5751)

= 913,645

Tinggi Titik 21

= 913,646 + (-1,5978)

= 912,048

Tinggi Titik 19

= 912,048 + (-1,8674)

= 910,181

Tinggi Titik 1

= 910,181 + (-1,4557)

= 908,725

Mencari nilai Kemiringan (%)

Slag 1=

T 2T 1
X 100
d 1,2

Slag 1=

907,133908.725
X 100
24

Slag 1= -6.63224 %

Ulfah Fauziyyah | 1200223

35

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Slag 2=

T 3T 2
X 100
d 2,3

Slag 2=

907,128907.133
X 100
24

Slag 2= -0.02162 %

Slag 3=

T 4 T 3
X 100
d 3,4

Slag 3=

906.543907.128
X 100
25

Slag 3= -2.34028 %

Slag 4=

T 5T 4
X 100
d 4,5

Slag 4=

907,175906.543
X 100
25

Slag 4= 2.52772 %

Slag 5=

T 6T 5
X 100
d 5,6

Slag 5=

908,614907.175
X 100
20

Ulfah Fauziyyah | 1200223

36

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Slag 5= 7.19672 %

Slag 6=

T 7T 6
X 100
d 6,7

Slag 6=

910,105908.614
X 100
20

Slag 6= 7.45672 %

Slag 7=

T 8T 7
X 100
d 7,8

Slag 7=

911,638910,106
X 100
20

Slag 7= 7.66172 %

Slag 8=

T 9T 8
X 100
d 8,9

Slag 8=

913.079911.638
X 100
22

Slag 8= 6.54808 %

Slag 9=

T 10T 9
X 100
d 9,10

Ulfah Fauziyyah | 1200223

37

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Slag 9=

914,725913.079
X 100
20

Slag 9= 8.23172 %

Slag 10=

T 11 T 10
X 100
d 10,11

Slag 10=

915.967914.725
X 100
20

Slag 10= 6.21172%

Slag 11=

T 12T 11
X 100
d 11,12

Slag 11=

917,261915.967
X 100
20

Slag 11= 6.46672 %

Slag 12=

T 13T 12
X 100
d12,13

Slag 12=

917,831917.261
X 100
25

Slag 12= 2.27972%

Ulfah Fauziyyah | 1200223

38

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Slag 13=

T 14T 13
X 100
d 13,14

Slag 13=

918.113917.831
X 100
22

Slag 13= 1.28445 %

Slag 14=

T 15T 14
X 100
d 14,15

Slag 14=

918,507918.113
X 100
20

Slag 14= 1.97172 %

Slag 15=

T 16T 15
X 100
d 15,16

Slag 15=

916.933918.507
X 100
18

Slag 15= -8.74939%

Slag 16=

T 17T 16
X 100
d 16,17

Slag 16=

916,629916.933
X 100
25

Slag 16= -1.21228 %

Ulfah Fauziyyah | 1200223

39

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Slag 17=

T 18T 17
X 100
d 17,18

Slag 17=

916,145916,629
X 100
26

Slag 17= -1.86521 %

Slag 18=

T 19T 18
X 100
d 18,19

Slag 18=

915.221916.145
X 100
18

Slag 18= -5.13273 %

Slag 19=

T 20T 19
X 100
d 19,20

Slag 19=

913,645915.221
X 100
16

Slag 19= -9.84453 %

Slag 20=

T 21T 20
X 100
d 20,21

Ulfah Fauziyyah | 1200223

40

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

912,048913.645
X 100
18

Slag 20=

Slag 20= -8.87717%

Slag 21=

T 22T 21
X 100
d 21,22

Slag 21=

910,181912.048
X 100
23

Slag 21= -8.11676 %

Slag 22=

T '1T 22
X 100
d 22, 1

Slag 22=

908,725910.181
X 100
19.2

'

Slag 22= -7.58203 %


Kontrol
1.

'

T 1 =T 1
908.725 = 910.181 + (-1.4558)
908.725 = 908.725

2. Bobot = 1
Bobot = Bobot1+ Bobot2+Bobot3 +
Bobot4+Bobot5+Bobot6+Bobot7+Bobot8 +
Ulfah Fauziyyah | 1200223

41

LAPORAN PRAKTEK KERANGKA DASAR VERTIKAL


SURVEY DAN PEMETAAN

Bobot9+Bobot10+Bobot11+
Bobot12+Bobot13+Bobot14+Bobot15+Bobot16+Bobot16+Bobot17+B
obot18+Bobot19+Bobot20+Bobot21+ Bobot22
=0.05104+0.05104+0.05317+0.05317+0.04254+0.04254+0.0425
4+0.04679+0.04254+0.04254+0.04254+0.05317+0.04679+0.04
254+0.03828+0.05317+0.05530+0.03828+0.03403+0.03828+0.
04892+0.04083
Bobot=1

Ulfah Fauziyyah | 1200223

42

3. HK = 0
=HK1+HK2+HK3+HK4 +
HK5+HK6+HK7+HK8+HK9+HK10+HK11+H
K12+HK13+HK14+HK15 +HK16 +HK17 +HK18 +
HK19 +HK2 0+HK21 +HK22
= -1.5917 - 0.0052 -0.5851 + 0.6319 + 1.4393 + 1.4913 + 1.5323 +
1.4406 + 1.6463 + 1.2423 + 1.2933 + 0.5699 + 0.2826 + 0.3943 1.5749 - 0.3031 - 0.4850 - 0.9239 - 1.5751 - 1.5979 - 1.8669 1.4558
HK = 0

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan
Praktikum survey dan pemetaan atau ilmu ukur tanah adalah suatu

kegiatan dalam menganalisis suatu objek wilayah. Selain itu dalam Pengukuran
Kerangka Dasar Vertikal (KDV) dengan Metode Jarak Optis adalah kegiatan
praktikum yang menetukan beda tinggi suatau wilayah dengan mendapatkan hasil
pengukuran di lapangan adalah bacaan benang dari benang atas, tengah, dan
bawah, yang hal ini harus mengikuti syarat pengukuran dan juga pencapaian hasil
yang akurat dengan melakukan pengolahan. Lalu dalam hasilnya akan terbentuk
penggambaran profil memanjang dan terlihat kemiringan serta beda tingginya.
Dalam melakukan kegiatan memang banyak mengalami kendala mulai dari faktor
cuaca, pembacaan benang hingga dalam pengolahan data. Oleh karena itu perlu
adanya sikap sigap, siap, telaten, tepat, dan kompak.

5.2

Saran
Diperlukan kekompakan

surveyor yang tinggi agar pengukuran dapat

berjaan dengan lancar. Dalam suatu pengukuran, bukan tidak mungkin akan
terjadi kesalahan-kesalahan sistematis maupun kesalahan acak yang disebabkan
oleh faktor-faktor seperti faktor teknis dan non teknis. Selain itu diperlukan
pemahaman dalam mengolah data Kerangka Dasar Vertikal hingga akhir yang
diinginkan.

DAFTAR PUSTAKA

Purwaamijaya, I.M. 2008 . Teknik Survey dan Pemetaan Jilid 1 . Direktorat


Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan : Jakarta

Purwaamijaya, I.M. 2013. Petunjuk Survey dan Pemetaan. Laboratorium Survey


dan Pemetaan : UPI Bandung

Wongosotjitro, S. 1991. Ilmu Ukur Tanah. Kanisius : Yogyakarta