Anda di halaman 1dari 12

Catatan Kuliahku..Belajar & Terus Belajar!

Maret 17, 2010


HIPOTESIS
Filed under: Uncategorized Dinul Islam Jamilah @ 1:44 pm

HASIL RINGKASAN MATERI PERTEMUAN KE-4


BAB IV HIPOTESIS
Disusun oleh Dinul Islam Jamilah Semester VI-A
NIM 2007.1096
A. Pengertian Hipotesis
Secara bahasa hipotesis berasal dari dua kata, yaitu hypo artinya sebelum
dan thesis artinya pernyataan atau pendapat. Secara istilah hipotesis adalah suatu pernyataan yang pada
waktu diungkapkan belum diketahui kebenarannya, tetapi memungkinkan untuk diuji dalam kenyataan
empiris. Karena hipotesis merupakan pernyataan sementara yang masih lemah kebenarannya.
Kemudian para ahli menafsirkan arti hipotesis adalah sebagai dugaan terhadap hubungan antara dua
variabel atau lebih (Kerlinger,1973:18 dan Tuckman,1982:5). Selanjutnya Sudjana (1992:219)
mengartikan hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan
hal itu yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya. Atas dasar defenisi diatas, sehingga dapat
diartikan bahwa hipotesis adalah jawaban atau dugaan sementara yang harus diuji lagi kebenarannya.
Adapun definisi lain, hipotesis merupakan proposisi keilmuan yang dilandasi oleh kerangka
konseptual penelitian dengan penalaran deduksi dan merupakan jawaban sementara secara teoritis
terhadap permasalahan yang dihadapi, yang dapat diuji kebenarannya berdasarkan fakta empiris.
Hipotesis merupakan dugaan sementara yang selanjutnya diuji kebenarannya sesuai dengan model dan
analisis yang cocok. Hipotesis penelitian dirumuskan atas dasar kerangka pikir yang merupakan jawaban
sementara atas masalah yang dirumuskan.

Hipotesis penelitian adalah hipotesis kerja (Hipotesis Alternatif Ha atau H 1) yaitu hipotesis yang
dirumuskan untuk menjawab permasalahan dengan menggunakan teori-teori yang ada hubungannya
(relevan) dengan masalah penelitian dan belum berdasarkan fakta serta dukungan data yang nyata di
lapangan. Hipotesis memungkinkan kita menghubungkan teori dengan pengamatan, atau pengamatan
dengan teori. Hipotesis mengemukakan pernyataan tentang harapan peneliti mengenai hubuganhubungan antara variabel-variabel di dalam persoalan.
Menyusun landasan teori juga merupakan langkah penting untuk membangun suatu hipotesis.
Landasan teori yang dipilih haruslah sesuai dengan ruang lingkup permasalahan. Landasan teoritis ini
akan menjadi suatu asumsi dasar peneliti dan sangat berguna pada saat menentukan suatu hipotesis
penelitian.
Peneliti harus selalu bersikap terbuka terhadap fakta dan kesimpulan terdahulu baik yang
memperkuat maupun yang bertentangan dengan prediksinya. Jadi, dalam hal ini telaah teoritik dan
temuan penelitian yang relevan berfungsi menjelaskan permasalahan dan menegakkan prediksi akan
jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa hipotesis penelitian dapat dirumuskan melalui jalur:
1. Membaca dan menelaah ulang (review) teori dan konsep-konsep yang membahas variabel-variabel
penelitian dan hubungannya dengan proses berfikir deduktif.
2. Membaca dan mengembangkan temuan-temuan penelitian terdahulu yang relevan dengan
permasalahan penelitian lewat berfikir induktif.
B.

Manfaat Hipotesis

Penetapan hipotesis dalam sebuah penelitian memberikan manfaat sebagai berikut:


1. Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
2. Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu
saja dari perhatian peneliti.
3. Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke
dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.
Oleh karena itu kualitas manfaat dari hipotesis tersebut akan sangat tergantung pada:

1. Pengamatan yang tajam dari si peneliti terhadap fakta-fakta yang ada.


2. Imajinasi dan pemikiran kreatif dari peneliti.
3. Kerangka analisa yang digunakan oleh peneliti.
4. Metode dan desain penelitian yang dipilih oleh peneliti.
Hipotesis ini memberikan arah pada penelitian yang harus dilakukan oleh peneliti. Fungsi hipotesis
menurut Ary Donald adalah:
1. Memberi penjelasan tentang gejala-gejala serta memudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu
bidang.
2. Mengemukakan pernyataan tentang hubungan dua konsep yang secara langsung dapat diuji dalam
penelitian.
3. Memberi kerangka pada penyusunan kesimpulan penelitian.
C.

Ciri Hipotesis Yang Baik

Perumusan hipotesis yang baik dan benar harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
1. Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
2. Hipotesis berisi penyataan mengenai hubungan antar paling sedikit dua variabel penelitian.
3. Hipotesis harus sesuai dengan fakta dan dapat menerangkan fakta.
4. Hipotesis harus dapat diuji (testable). Hipotesis dapat duji secara spesifik menunjukkan bagaimana
variabel-variabel penelitian itu diukur dan bagaimana prediksi hubungan atau pengaruh antar
variabel termaksud.
5. Hipotesis harus sederhana (spesifik) dan terbatas, agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian.
Beberapa contoh hipotesis penelitian yang memenuhi kriteria yang tersebut di atas:
1. Olahraga teratur dengan dosis rendah selama 2 bulan dapat menurunkan kadar gula darah secara
signifikan pada pasien IDDM.
2. Pemberian tambahan susu sebanyak 3 gelas per hari pada bayi umur 3 bulan meningkatkan berat
badan secara signifikan.

Adapun faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam mengefektifkan fungsi-fungsi hipotesis adalah:
1. Hipotesis disusun dalam kalimat deklaratif. Kalimat itu bersifat positif dan tidak normatif. Istilah-istilah
seharusnya atau sebaliknya tidak terdapat dalam kalimat hipotesis. Contoh: Anak-anak harus
hormat kepada orang tua. Kalimat ini bukan hipotesis. Lain halnya jika dikatakan demikian:
Kepatuhan anak-anak kepada orang tua mereka makin menurun.
2. Variabel (variabel-variabel) yang dinyatakan dalam hipotesis adalah variabel yang opersional, dalam
arti dapat diamati dan diukur.
3. Hipotesis menunjukkan hubungan tertentu di antara variabel-variabel.
D.

Menggali Hipotesis

Didasarkan pada paparan di atas, maka tentu saja merumuskan hipotesis bukan pekerjaan mudah bagi
peneliti. Oleh karena itu seorang peneliti dituntut untuk dapat menggali sumber-sumber hipotesis. Untuk
itu dipersyaratkan bagi peneliti harus:
1. Memiliki banyak informasi tentang masalah yang akan dipecahkan dengan cara banyak membaca
literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.
2. Memiliki kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat, objek, dan hal-hal yang
berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki.
3. Memiliki kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan yang lain yang sesuai
dengan kerangka teori dan bidang ilmu yang bersangkutan.
Dari beberapa pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa penggalian sumber-sumber hipotesis dapat
berasal dari:
1. Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam yang berkaitan dengan fenomena.
2. Wawasan dan pengertian yang mendalam tentang suatu fenomena.
3. Materi bacaan dan literatur yang valid.
4. Pengalaman individu sebagai suatu reaksi terhadap fenomena.
5. Data empiris yang tersedia.
6. Analogi atau kesamaan dan adakalanya menggunakan imajinasi yang berdasar pada fenomena.
Hambatan atau kesulitan dalam merumuskan hipotesis lebih banyak disebabkan karena hal-hal:

1. Tidak adanya kerangka teori atau tidak ada pengetahuan tentang kerangka teori yang jelas.
2. Kurangnya kemampuan peneliti untuk menggunakan kerangka teori yang ada.
3. Gagal berkenalan dengan teknik-teknik penelitian yang ada untuk merumuskan kata-kata dalam
membuat hipotesis secara benar.
E.

Jenis-Jenis Hipotesis

Penetapan hipotesis tentu didasarkan pada luas dan dalamnya serta mempertimbangkan sifat dari
masalah penelitian. Oleh karena itu, hipotesispun bermacam-macam, ada yang didekati dengan cara
pandang: sifat, analisis, dan tingkat kesenjangan yang mungkin muncul pada saat penetapan hipotesis.
a.

Hipotesis dua-arah dan hipotesis satu-arah

Hipotesis penelitian dapat berupa hipotesis dua-arah dan dapat pula berupa hipotesis satu-arah. Kedua
macam tersebut dapat berisi pernyataan mengenai adanya perbedaan atau adanya hubungan.
Contoh hipotesis dua arah:
1. Ada perbedaan tingkat peningkatan berat badan bayi antara bayi yang memperoleh susu tambah 3
gelas dari ibu yang berperan ganda dan tidak berperan ganda.
2. Ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan prestasi belajar siswa.
Hipotesis dua-arah memang kurang spesifik, oleh karena itu perlu diformulasikan dalam hipotesis
satu-arah. Contoh:
1. Terdapat perbedaan peningkatan berat badan bayi yang signifikan antara bayi yang memperoleh susu
tambah 3 gelas dari ibu yang berperan ganda dan tidak berperan ganda.
2. Ada hubungan yang cukup kuat antara tingkat kecemasan siswa dengan prestasi belajar siswa.
b.

Hipotesis Statistik
Rumusan hipotesis penelitian, pada saatnya akan diuji dengan menggunakan metode statistik,

perlu diterjemahkan dalam bentuk simbolik. Simbol-simbol yang digunakan dalam rumusan hipotesis
statistik adalah simbol-simbol parameter. Parameter adalah besaran-besaran yang apa pada populasi.

Sebagai contoh, hipotesis penelitian yang menyatakan adanya perbedaan usia menarche yang
berarti antara siswi SMU I dan SMU II. Hal ini mengandung arti bahwa terdapat perbedaan rata-rata usia
menarche antara siswi dari kedua sekolah tersebut. Dalam statistika, rata-rata berarti mean yang
mempunyai simbol M, sedangkan parameter mean bagi populasi adalah . Oleh karena itu, simbolisasi
hipotesis tersebut adalah:
Ha; 1 2 (Hipotesis dua-arah) (kurang spesifik)
Ha: 1 > 2 (Hipotesis satu-arah) (tepat dan spesifik)
Atau
Ha; 1- 2 0 (Hipotesis dua-arah)
Ha: 1 2 > 0 (Hipotesis satu-arah) IDM
Dengan demikian simbol Ha berarti hipotesis alternatif, yaitu penerjemahan hipotesis penelitian secara
operasional. Hipotesis alternatif disebut juga hipotesis kerja. Jadi, statistik sendiri digunakan tidak untuk
langsung menguji hipotesis alternatif, akan tetapi digunakan untuk menolak atau menerima hipotesis nihil
(nol). Penerimaan atau penolakan hipotesis alternatif merupakan konsekuensi dari penolakan atau
penerimaan hipotesis nihil.
Hipotesis nihil atau null hypothesis atau Ho adalah hipotesis yang meniadakan perbedaan antar
kelompok atau meniadakan hubungan sebab akibat antar variabel. Hipotesis nihil berisi deklarasi yang
meniadakan perbedaan atau hubungan antar variabel. Contoh dari hipotesis nol secara statistik adalah:
Ho; 1- 2 = 0 (Hipotesis dua-arah)
Ho: 1= 2= 0 (Hipotesis satu-arah)
Pada akhirnya penolakan terhadap hipotesis nihil akan membawa kepada penerimaan hipotesis
alternatif, sedangkan penerimaan terhadap hipotesis nihil akan meniadakan hipotesis alternatif.
Pembuktian hipotesis dilakukan dengan mengumpulkan data yang relevan dengan variabel-variabel yang
bersangkutan. Proses pengujian hipotesis itu dapat disamakan dengan pengadilan suatu perkara pidana.
Di sana ada jaksa sebagai penuntut umum yang membawa terdakwa ke depan hakim dengan bukti-bukti
berupa data yang telah dikumpulkannya. Data tersebut dikumpulkan dengan bertitik tolak pada
hipotesisnya bahwa orang yang bersangkutan bersalah. Hipotesis jaksa inilah yang mirip dengan
hipotesis yang disusun oleh peneliti, tetapi data tersebut harus diuji oleh hakim. Untuk itu harus bertolak

dari sikap praduga tak bersalah. Artinya, hakim tidak memihak kepada jaksa atau pun terdakwa. Sikap
seperti ini juga merupakan syarat bagi wasit dalam memimpin suatu pertandingan. Asas praduga tak
bersalah inilah yang dimaksud dengan hipotesis nol dalam penelitian ilmiah.
Terdapat dua macam hipotesis, yaitu hipotesis operasional yang diharapkan oleh peneliti dan hipotesis
nol. Hipotesis operasional disebut juga hipotesis alternatif dari hipotesis nol. Dalam proses pengujian
hipotesis, yang akan diuji adalah hipotesis nol. Kalu hipotesis nol itu diterima, maka hipotesis alternatif
harus ditolak. Sebaliknya, jika hipotesis nol itu ditolak, maka hipotesis alternatif harus diterima. Hipotesis
nol diberi notasi H0 dan hipotesis alternatif diberi notasi H1.
Pada hakikatnya ada dua jenis hipotesis statistika. Jenis pertama adalah apabila data kita berupa
populasi yang kita peroleh melalui sensus. Dengan data populasi, hipotesis statistika cukup berbentuk H.
Tidak diperlukan hipotesis H0. Misalnya dalam hal rerata, hipotesis statistika itu berbentuk H: X > 6. Jika
data populasi memiliki rerata di atas 6 maka hipotesis diterima dan jika tidak maka hipotesis ditolak.
Karena seluruh populasi sudah dilihat maka keputusan ini menjadi kepastian.
Jenis kedua adalah apabila data kita berupa sampel yang kita peroleh melalui penarikan sampel.
Biasanya sampel itu berupa sampel acak, baik dengan cara pengembalian maupun dengan cara tanpa
pengembalian. Dengan data sampel, hipotesis statistika menjadi H 0 dan H1. Misalnya dalam rerata,
hipotesis statistika itu berbentuk H0: X = 6 dan H1: X > 6. Syaratnya adalah tiadanya pilihan ketiga.
Dalam hal data sampel, sering terjadi bahwa hipotesis penelitian dirumuskan kembali menjadi H 1.
Pengujian hipotesis dilakukan melalui penolakan H 0. Selanjutnya dengan syarat tidak ada pilihan ketiga
pada hipotesis, maka penolakan H0 dapat diartikan sebagai penerimaan H 1. Jadi pengujian hipotesis
penelitian dilakukan melalui cara tak langsung yakni melalui penolakan H 0 dan melalui tiadanya pilihan
ketiga pada hipotesis.
Kini muncul pertanyaan apakah hipotesis penelitian dapat dirumuskan kembali menjadi H 0? Karena
jarang terjadi, sejumlah orang merasa ragu. Sekalipun jarang, hal demikian pernah terjadi sementara
beberapa penulis menyatakan boleh. Kerlinger (1979) melaporkan hasil penelitian yang menggunakan
H0. Myers and Pohlman (1979) mempresentasikan makalah berjudul Null Hypothesis as a Research
Hypothesis. Selain itu, Wiersma (1995) mencantumkan contoh hipotesis nol sebagai hipotesis penelitian.
Gay (1990) menunjukkan walaupun tidak terlalu sering hipotesis berupa tidak beda itu memang ada.
Lock, cs (1993) mengatakan bahwa hipotesis dapat ditulis, baik sebagai pernyataan nol (mudahnya
disebut hipotesis nol), Tiada beda di antara maupun sebagai pernyataan terarah menunjukkan jenis
hubungan yang diantisipasi.

Kebanyakan penelitian dirumuskan ke hipotesis statistika H 1. Tetapi hal ini tidak menutup kemungkinan
hipotesis penelitian dirumuskan ke hipotesis statistika H 0. Adalah pada tempatnya kalau di sini kita melihat
alasan mengapa hipotesis penelitian dapat dirumuskan dalam bentuk H 0. Untuk itu kita perlu melihat apa
sebenarnya fungsi dan peranan H 0 di dalam pengujian hipotesis statistika. Adanya hipotesis H 0 lebih
merupakan urusan teknik statistika yang menggunakan data sampel daripada urusan hipotesis penelitian.
Kita mulai dengan melihat peristiwa kekeliruan sampel.
F. Menyusun Hipotesis
Hipotesis dapat disusun dengan dua pendekatan, yang pertama secara
deduktif, dan yang kedua secara induktif. Penyusunan hipotesis secara deduktif ditarik dari teori. Suatu
teori terdiri atas proposisi-proposisi, sedangkan proposisi menunjukkan hubungan antara dua konsep.
Proposisi ini merupakan postulat-postula yang dari padanya disusun hipotesis. Penyusunan hipotesis
secara induktif bertolak belakang dari pengamatan empiris.
Pada model Wallace tentang proses penelitian ilmiah telah dijelaskan penjabaran hipotesis dari
teori dengan metode deduksi logis. Teori terdiri atas seperangkat proposisi, sedangkan proposisi
menunjukkan hubungan di antara dua konsep misalnya proposisi X-Y. Bertitik tolak dari proposisi itu
diturunkan hipotesis secara deduksi. Konsep-konsep yang terdapat dalam proposisi
diturunkan dalam pengamatan menjadi variabel-variabel.
Sehubungan dengan penyusunan hipotesis ini, Deobold B. Van Dallen mengemukakan postulatpostulat yang diturunkan dari dua jenis asumsi, yaitu postulat-postulat yang disusun berdasarkan asumsi
dari alam, dan postulat-postulat berdasarkan asumsi proses psikologis. Postulat-postulat yang bersumber
dari kenyataan-kenyataan alam adalah:
1. Postulat Jenis (Natural Kinds)
Ada kemiripan di antara obyek-obyek individual tertentu yang memungkinkan mereka untuk
dikelompokkan ke dalam satu kelas tertentu.
Ada orang berkulit putih, ada kelompok orang berkulit hitam, dan ada kelompok orang berkulit
warna lain. Ada juga kelompok binatang melata, kelompok binatang berkaki empat, kelompok
binatang berkaki dua, dan sebagainya. Dengan postulat ini kita dapat menyusun hipotesis terhadap
obyek pengamatan tertentu, apakah ia termasuk dalam kelompok x atau y.
2. Postulat Keajekan (Constancy)
Di alam ini ada hal-hal yang menurut pengamatan kita selalu berulang dengan pola yang sama.
Misalnya, pada waktu-waktu yang lalu kita menyaksikan bahwa matahari selalu terbit di senelah
timur dan terbenam di sebelah barat. Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman ini kita
mempunyai alasan untuk menduga bahwa besok matahari terbit di sebelah timur.
3. Postulat Determinisme
Suatu kejadian tidak terjadi secara kebetulan, tetapi ada penyebabnya. Sebuah benda jatuh ke
bawah kalau dilepaskan dari suatu ketinggian karena ia ditarik oleh gravitasi bum. Gunung meletus
bukanlah suatu kebetulan, tetapi merupakan akaibat dari suatu proses geologis yang bekerja di

dalam bumi. Demiklian juga kecelakaan lalu lintas di jalan raya tidak terjadi suatu kebetulan, tetapi
ada penyebabnya. Ada postulat sebab akibat yang menyatakan bahwa suatu peristiwa terjadi
karena sesuatu atau beberapa sebab. Postulat ini dipakai untuk menyusun suatu hipotesis untuk
menerangkan persitiwa tertentu.
G. Kerangka Hipotesis
Jumlah variabel yang tercakup dalam suatu hipotesis dan bentuk hubungan di antara variabelvariabel itu sangat menentukan dalam menentukan alat uji hipotesis. Hipotesis yang hanya terdiri atas
satu variabel akan diuji dengan univariate analysis. Contoh-contoh hipotesis seperti itu adalah:
1. Persepsi remaja terhadap kepemimpinan yang demokratis cukup tinggi.
2. Prestasi studi mahasiswa di tahun pertama cukup rendah.
Variabel persepsi remaja pada contoh pertama adalah variabel ordinal, sedangkan variabel
prestasi studi pada contoh kedua adalah variabel interval. Pengukuran variabel ini mementukan
pemilihan alat uji hipotesis.
Ada juga hipotesis yang mencakup dua variabel, yang akan diuji melalui bivariate analysis. Contoh:
1. Ada hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap kepemimpinan dengan pola asuh dalam
keluarga di kalangan remaja.
2. Ada hubungan positif antara motivasi belajar dan prestasi studi di kalangan mahasiswa.
Contoh pertama menghubungkan dua variabel yang sama-sama diukur pada skala nominal,
sedangkan contoh kedua menghubungkan dua variabel di mana variabel yang satu diukur pada skala
interval dan yang satunya pada skala ordinal.
Salah satu variabel pada hipotesis dengan bivariate analysis itu berfungsi sebagai variabel yang
dijelaskan atau variabel tidak bebas, dan yang satunya berfungsi sebagai variabel yang menerangkan
atau variabel bebas. Satu variabel dapat dijelaskan oleh seperangkat variabel bebas secara bivariate.
Misalkan variabel y dapat diterangkan oleh variabel x 1, tetapi juga dapat diterangkan oleh x2 terlepas dari
x1 dan x2. Ketiga variabel bebas yang menerangkan variabel tidak bebas (y) itu terdiri atas 3 hipotesis,
yaitu:
Hipotesis 1: Ada hubungan antara x1 dan y.
Hipotesis 2: Ada hubungan antara x2 dan y.
Hipotesis 3: Ada hubungan antara x3 dan y.
Hipotesis dengan analisis bivariate didasarkan pada asumsi cateris paribus, yaitu asumsi bahwa tidak
ada faktor lain yang mempengaruhi y kecuali variabel yang bersangkutan. Karena itu tidak dilihat
hubungan di antara x1-x2-x3. Kalau ketiga variabel itu secara bersama-sama dilihat sebagai variabelvariabel yang menjelaskan y, maka hipotesis itu mencakup lebih dari dua variabel dan akan diuji melalui

multivariate analysis. Hubungan itu secara matematis dapat ditulis y = F (x 1,x2,x3). Pola hubungan itu
berbeda-beda.
H. Model Relasi
Hubungan variabel dengan variable dalam suatu hipotesis mempunyai model yang berbeda-beda.
Hubungan di sini diartikan sebagai relasi, yaitu himpunan dengan elemen yang terdiri dari pasangan urut.
Hubungan yang demikian dibentuk dari dua himpunan yang berbeda.
Hubungan variabel-variabel pada hipotesis dapat digolongkan dalam 3 model, yaitu:
1. Model Kontingensi
Hubungan dengan model kontingensi dinyatakan dalam bentuk tabel silang. Misalnya hubungan di antara
variabel agama dan variabel partai politik pada pemilu 1997. Kita ingin mengetahui hubungan antara
agama dan politik pada 500 orang memilih pada tahun 1997 di daerah tertentu.
Variabel partai politik dengan ketiga kategorinya adalah variabel nominal, dan variabel agama dengan
kelima kategorinya juga nominal. Dengan menyilangkan kedua variabel, maka didapat 35 = 15
kontingen dalam hubungan itu. Isi masing-masing kontingen dapat juga dibuat dalam bentuk persentase
atau proporsi. Model kontingensi ini mempunyai bentuk umum: b x k (baris x kolom). Tabel 32 misalnya
adalah tabel yang terdiri atas 3 baris dan 2 kolom.
2. Model Asosiatif
Model ini terdapat di antara dua variabel yang sama-sama ordinal, atau sama-sama interval, atau samasama ratio, atau salah satu adalah ordinal atau interval. Variabel-variabel itu mempunyai pola monoton
linier. Artinya, perubahan dari variabel yang bersangkutan bergerak naik terus tanpa turun kembali, atau
sebaliknya turun terus tanpa naik kembali.
Hubungan kedua variabel tersebut disebut juga hubungan kovariasional, artinya berubah bersama. Jika
variabel x berubah menjadi makin naik, maka variabel y juga berubah makin naik atau makin turun. Jika
kedua variabel berubah kea rah yang sama, maka hubungan itu disebut hubungan positif. Keduanya bisa
sama-sama naik, artinya jika x naik, bersamaan denagn itu y juga naik; atau keduanya sama-sama turun,
jika x turun, y juga turun. Hubungan itu dikatakan negatif jika kedua variabel berubah pada arah yang
berlawanan. Jika x naik, y turun; atau sebaliknya, jika x turun, y naik.
Hubungan asosiatif atau kovariasional atau hubungan korelasi bukanlah hubungan sebab akibat, tetapi
hanya menunnjukkan bahwa keduanya sama-sama berubah. Misalnya hubungan antara kodok ngorek

dan hujan turun. Kalau hujan turun kodok ngorek. Tetapi, bukan turunnya hujan yang menyebabkan
hujan turun. Kedua variabel itu hanya terjadi bersamaan.
3. Model Fungsional
Hubungan fungsional adalah hubungan antara suatu variabel yang berfungsi di dalam variabel lain.
Misalnya hubungan antara obat dan penyakit. Obat dikatakan fungsional jika ia bisa menyembuhkan
penyakit. Berbeda dengan hubungan asosiatif di mana kedua variabel berdampingan satu dengan yang
lain, pada hubungan fungsional variabel yang satu (independent) berfungsi di dalam variabel yang lain
(dependent), sehingga variabel dependent itu mengalami perubahan. Misalnya hubungan antara
produktivitas kerja dan usia. Variabel usia mempunyai pola monoton linier, tetapi tidak demikian halnya
dengan produktivitas kerja. Katakanlah sampai usia 40 tahun, produktivitas kerja itu naik,
tetapi sesudah 40 tahun mulai menurun.
Hubungan fungsional adalah hubungan korelasional, tetapi hubungan kolerasional belum tentu hubungan
fungsional. Jika hubungan korelasi itu cukup tinggi (erat), maka dapat diduga bahwa ada hubungan
fungsional di antara kedua variabel.
J.

Kesalahan Dalam Perumusan hipotesis Dan Pengujian Hipotesis


Dalam perumusan hipotesis dapat saja terjadi kesalahan. Macam kesalahan dalam perumusan

hipotesis ada dua macam yaitu:


a. Menolak hipotesis nihil yang seharusnya diterima, maka disebut kesalahan alpha dan diberi simbol
atau dikenal dengan taraf signifikansi pengukuran.
b. Menerima hipotesis nihil yang seharusnya ditolak, maka disebut kesalahan beta dan diberi simbol .
Pada umumnya penelitian di bidang pendidikan digunakan taraf signifikansi 0.05 atau 0.01, sedangkan
untuk penelitian kedokteran dan farmasi yang resikonya berkaitan dengan nyawa manusia, diambil taraf
signifikansi 0.005 atau 0.001 bahkan mungkin 0.0001. Misalnya saja ditentukan taraf signifikansi 5%
maka apabila kesimpulan yang diperoleh diterapkan pada populasi 100 orang, maka akan tepat untuk 95
orang dan 5 orang lainnya terjadi penyimpangan.
Cara pengujian hipotesis didekati dengan penggunaan kurva normal. Penentuan harga untuk uji hipotesis
dapat berasal dari Z-score ataupun T-score. Apabila harga Z-score atau T-score terletak di daerah
penerimaan Ho, maka Ha yang dirumuskan tidak diterima dan sebaliknya